Sunday, July 15, 2012

Jaka Lola 27 -> karya : kho ping hoo

"Marah-marah tidak karuan? Pandai memutarbalikkan fakta!" Siu Bi membentak marah sekali, pedangnya yang terhunus itu ia acung-acungkan. "Kalian yang mengumbar mulut jahat menggoyang lidah membicarakan orang semaunya dan tidak karuan! Hayo mau bilang apa sekarang, apakah kfclian kira aku tidak mendengarkan kasak-kusuk kalian yang busuk? Apakah ini sikap orang-orang gagah, lelaki dan wanita kasak-kusuk di tempat sunyi, membicarakan orang lain?"
Seketika wajah Cui Sian menjadi merah. Tadinya ia kagum dan suka kepada Siu Bi, apalagi dara remaja itu telah menolongnya di Ching-coa-to. Akan tetapi ucapan yang galak ini benar-benar menyinggung hatinya, karena rnengandung sindiran tentang dia berdua Yo Wan.
"Nanti dulu, adik yahg baik. Kami memang telah bicara tentang dirimu, akan tetapi bukan membicarakan hal yang buruk....."
"Cih! Bicarakan hal buruk atau pun baik, aku melarang kalian bicara tentang diriku! Apa peduli kalian kalau aku rusak atau tidak apa sangkutannya dengan kali-an apa yang kulakukan, dengan siapa aku bergaul? Huh, sekarang aku sudah rusak, nah, kalian mau apa? Puteri Raja Pedang, hayo cabut pedangmu, kita bertanding sampai selaksa jurus, yang kalah boleh mampus!"
"Siu Bi.....!" dalam kagetnya Yo Wan lupa rnenyebut nona. la takut gadis aneh ini akan kumat (kambuh) lagi penyakitnya, tiada hujan tiada angin menantang orang bertanding. "Sungguh mati, Sian-moi (adik Sian) sama sekali tidak bicar buruk tentang....."
"Diam kau" Atau..... kau hendak rnembela moi-moimu yang manis ini? Boleh, boleh, kau boleh maju sekalian mengeroyokku. Aku tidak takut!"
Celaka, pikir Yo Wan kewalahan dan tanpa sengaja dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Melihat ini, Cui Sian menahan senyumnya. la sudah cukup berpengalaman, cukup bijaksana sehingga ia tidak terseret ke dalam ge-lombang kemarahan oleh sikap gadis muda yang liar ini. Akan tetapi hatinya terasa perih. Harus ia aku bahwa dalam pertemuan yang tidak terduga-duga dengan Yo Wan ini, hatinya yang selama ini tegak, kini menunduk, runtuh oleh kesederhanaan, kegagahan dan wajah Yo Wan. Akan tetapi berbareng ia pun dapat menduga bahwa pemuda yang menjatuhkan hatinya ini agaknya mencinta Siu Bi, dan kini, melihat sikap Siu Bi ia dapat menduga bahwa gadis remaja ini menjadi marah-marah seperti itu karena cemburu dan cemburu adalah sahabat cinta!
Dengan suara lembut ia berkata, "Bertanding sih mudah, memang bermain pedang merupakan kesenanganku. Akan tetapi, aku selamanya tidak sudi bertanding tanpa alasan tepat. Di pulau tadi, kau tidak mau mengeroyokku, malah kau membantuku dengan mengembalikan pedang ini. Sekarang kau menantangku, apa alasannya?"
"Peduli apa dengan alasan. Kalau memang kau berani, hayo lawan aku!"
"Berani sih berani, adik yang manis. Akan tetapi tanpa alasan, aku tidak mau . bertempur dengan kau atau pun dengan siapa juga."
Panas hati Siu Bi. Gadis ini demikian tenang, demikian sabar. Tentu akan kelihatan amat baik hati dalam pandang mata Yo Wan! Atau agaknya karena di depan pemuda itulah maka gadis ini bersikap begitu sabar dan tenang, biar dipuji!
"Kau mau tahu alasannya? Karena kau puteri Raja Pedang, maka kutantang kau”.
"Itu bukan alasan, Biar ayahku berjuluk Raja Pedang, tapi kau tidak kenal dengan ayah, tak mungkin bermusuhan dengan ayah, mana bisa dijadikan alasan?"
"Aku memusuhi ayahmu!"
"Ihhh, kenapa?"
"Karena ayahmu sahabat baik, bahkan guru Pendekar Buta!"
"Ahhh.....!" Yo Wan yang mengeluarkan suara ini dan makin panas hati Siu Bi. Apakah nama Pendekar Buta demikian besar dan hebat sehingga Yo Wan juga kaget mendengar ia memusuhi Pendekar Buta? Karena panasnya hati, ia melanjutkan, suaranya lantang dan ketus.
"Aku sudah bersumpah, akan kubuntungi lengan Pendekar Buta, isterinya, dan keturunannya, dan tentu saja semua sahabat baiknya adalah musuhku. Ayahmu Raja Pedang sahabat Pendekar Buta, kau pun tentu sahabatnya, maka kau musuhku. Hayo, berani tidak? Tak sudi aku bicara lagi!"
Wajah Yo Wan seketika menjadi pucat mendengar ini. Cui Sian maklum akan hal ini dan dapat merasakan juga pukulan hebat yang diterima pemuda itu. la maklum bahwa Pendekar Buta adalah penolong dan guru Yo Wan yang amat dikasihi, dan agaknya baru sekarang pemuda itu mendengar kenyataan yang amat menusuk perasaan, yaitu kenyataan bahwa gadis lincah dan liar ini adalah musuh besar Pendekar Buta. Oleh karena itu, Cui Sian hanya tersenyum masam dan memberi kesempatan kepada Yo Wan untuk menguasai perasaannya yang tertikam. la tidak ingin menambah penderitaan Yo Wan dengan melayani kenekatan Siu Bi. Yo Wan segera melangkah maju setelah berhasil menekan perasaannya yang kacau balau, matanya memandang tajam kepada Siu Bi ketika dia berkata,
"Nona, kau..... kau benar-benar tersesat jauh sekali! Harap kausingkirkan jauh-jauh pikiranmu yang bukan-bukan itu, tak mungkin. Beliau adalah seorang pendekar yang berbudi, seorang gagah perkasa dan bijaksana yang tiada kedua-nya di dunia ini. Aku tidak percaya bah-wa kau pernah dibikin sakit hati oleh Pendekar Buta. Mana mungkin kau bersumpah hendak membuntungi lengannya dan fengan keluarganya? Tak mungkin ini!'
"Hemmm, begitukah pendapatmu? Kiranya kau berpura-pura berlaku baik terhadapku karena hendak mengubah keinginanku? Tak mungkin ini, aku sudah mempertaruhkan
nyawaku. Biar Pendekar Buta seorang yang memiliki tiga buatl kepala dan enam buah
"lengan, aku tak-kan mundur setapak pun. Boleh jadi dia pendekar besar, boleh jadi dia berbudi dan bijaksana terhadap orang lain, akan tetapi terhadap mendiang kakek Hek Lojin, sama sekali tidak! Kakek Hek Lojin menjadi buntung lengannya oleh Pendekar Buta, karena itu, aku bersum-pah hendak membalaskan sakit hati ini, aku sudah bersumpah akan membuntungi lengan....."
"Jangan..... jangan berkata begitu...,. Yo Wan melompat dan seperti seorang gila dia menggunakan tangannya mendekap mulut Siu Bi!
"Ahhh..... aku..... uppp, lepaskan. lepaskan.....!" Siu Bi tentu saja meronta ronta, berusaha memukulkan gagang pedangnya, bahkan ia lalu membalikkan pedangnya hendak menusuk, akan tetapi Yo Wan sudah memegangi lengannya dan ia sama sekali tidak dapat melepaskan diri.
Diam-diam Cui Sian menjadi terharu sekali, berseru nyaring, "Yo-twako, aku pergi dulu ke Liong-thouw-san." la melompat dan berlari cepat meninggalkan tempat itu. la memang seorang gadis yang luas dan tajam pikirannya, dapat menggunakan pikiran mengatasi perasaan hati. Cui Sian maklum bahwa dalam keadaan seperti itu, lebih baik kalau ia pergi meninggalkan dua orang itu. Siu Bi dikuasai rasa cemburu dan tentu akan makin menggila dan menantangnya, se-hingga ia khawatir kalau-kalau ia akhir-nya tidak kuat menahan kesabarannya. Juga, tak mungkin ia dapat memukul Siu Bi, pertama karena gadis liar itu pernah menolongnya, kedua kalinya karena ia tidak mempunyai permusuhan dengannya. la pernah mendengar nama Hek Lojin dari ayah ibunya, dan. maklum bahwa Hek Lojin adalah seorang tokoh hitam yang amat jahat seperti iblis, juga berilmu tinggi. Siapa duga, gadis yang tadinya ia sangka seorang gadis gagah perkasa itu, kiranya cucu murid Hek Lojin. Pantas demikian aneh dan liar seperti setan!
Yo Wan sedang gugup, bingung, dan duka kecewa. Karena itulah maka dia hanya menyesal sebentar bahwa Cui Sian pergi dalam keadaan seperti itu. Baru setelah Siu Bi mengeluarkan suara seperti orang menangis terisak, dia sadar akan perbuatannya yang luar biasa ini. la merangkul Siu, Bi, mendekap mulutnya dan memegang lengannya. Setelah sadar, dengan tersipu-sipu ia melepaskan pegangannya. Mukanya sebentar merah sebentar pucat.
"Kau..... kau..... mau kurang ajaran, ya? Kau mengandalkan kepandaianmu? Karena kau sudah bisa nnenangkan aku, kau lalu mengira bo^eh berbuat sesukamu kepadaku? Kau laki-laki kurang ajar, kau laki-laki sombong, kau..... kau..... jangan kira aku takut, kau harus mampus.....!" Serta merta Siu Bi menerjang dengan pedangnya. Tentu saja Yo Wan cepat mengelak dan berkata,
"Siu Bi..... eh, Nona.,... tunggu dulu ....”.
"Tunggu apa lagi? Tunggu kau kurang ajar lagi? Kau merangkul-rangkul aku, mendekap mulutku, siapa beri ijin? Kurang ajar! kau kira aku sama seperti Cui Sian, kaukira aku akan tergila-gila kepadamu, karena kau tampan, karena kau gagah, karena kau lihai? Cih, tak ber-malu!" Pedangnya menusuk leher dan kembali Yo Wan mengelak.
"Sabar.....!" la sempat berkata tapi cepat mengelak lagi karena sinar pedang hitam itu sudah menyambar, "Siu Bi, jauh-jauh aku mengejarmu, di sepanjang jalan penuh gelisah setelah menemukan saputanganmu ini....." la mencabut sapu-tangan kuning dari sakunya. "Kukira kau terancam bahaya maut..... kiranya kau menyambutku dengan serangan nekat begini. Aku takut kau terancam bahaya, kau malah ingin aku mati....."
"Makan ini!" kembali pedang Siu Bi menyambar, kini menyabet ke arah hidung. Cepat Yo Wan meloncat dan menggerakkan kedua kakinya daiani langkah ajaib karena penyerangan
gadis itu benar-benar tak boleh dipandang rendah. "Kau mau menggunakan lidah tak bertulang? Jangan coba bujuk aku, he Jaka Lola tak tahu diri. Kau bilang gelisah memikirkan aku, tapi kenyataannya, dengan menyolok kau hanya datang untuk membantu Cui Sian.
Wah, kau gendong-gendong dia Mesra, ya? Cih, tak bermalu! Sekarang kau hendak membela Pendekar Buta lagi? 'Nah, matilah!"
Mau tidak mau Yo Wan tersenyum geli. Gadis ini memang aneh sekali. Ta-pi..... tapi..... karena agaknya marah-marah karena dia menolong Cui Sian? Hatinya berdebar. Benarkah dugaannya ini? Benarkah Siu Bi tak senang dia me-nolong gadis lain? Cemburu? Susah berurusan dengan gadis yang begini galak, pikirnya.
"Nanti dulu, Siu Bi, berhenti dulu.....
"Berhenti kalau kau sudah mati!" teriak Siu Bi dan mengirim tusukan cepat dan kuat sekli. Kalau terkena lambung Yo Wan, tentu pemuda itu akan di "sate" hidup-hidup. Akan tetapi langkah ajaib menolong Yo Wan dan pedang itu meluncur lewat belakang puriggungnya, cepat dia memutar tubuh ke kiri dan tangan berikut gagang pedang itu sudah dikempit di bawah lengannya. Siu Bi tak dapat bergerak!
"Nanti dulu, dengarkan dulu omonganku. Kalau sudah dengar dan tetap meng-anggap aku salah, boleh kausembelih aku dan aku Yo Wan takkan mengelak lagi!"
Tangan kiri Siu Bi tadinya sudah ber-gerak hendak mengirim pukulan. Men-dengar ucapan ini ia tampak ragu-ragu dan bertanya. "Betulkah itu? Kau takkan mengelak lagi kalau nanti kuserang?"
"Tidak, tapi kau harus dengarkan dulu omonganku, bersabar dulu jangan terlalu galak."
"Sumpah?"
"Sumpah.....?? Sumpah apa?"
"Sumpah bahwa kau takkan melanggar janji?"
"Pakai sumpah segala?" Yo Wan me-lepaskan kempitannya dan menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. "Aku....."
"Tak usah bersumpah pun percuma, mana bisa dipegang sumpah laki-laki? Sebagai gantinya sumpah, hayo bersihkan tanganku ini!" la mengasurkan tangannya ke depan.
Yo Wan melongo. "Bersihkan tanganmu? Kenapa?" la mengerutkan alisnya. Tak sudi dia demikian direndahkan, apakah dia akan diperlakukan sebagai se-orang bujang? Siu Bi merengut, marah lagi, tef-bayang pada matanya yang bersinar-sinar seperti akan mengeluarkan api. "Memang kau tak bertanggung jawab, berani ber-buat tak berani menanggung akibatnya. Kau tadi mengempit tanganku di ketiak-mu, apa tidak kotor??"
Hannpir saja Yo Wan meledak ketawa-nya, begitu geli hatinya sehingga terasa perutnya mengkal dan mengeras. Gadis ini benar-benar..... ah, gemas dia, kalau berani tentu sudah dicubitnya pipi dara itu. Tapi maklum bahwa gadis ini tidak berpura-pura, memang betul-betul ber-sikap wajar, sikap kanak-kanak yang nakal dan manja. Ia alu menggunakan ujung baju untuk menyusuti (angah yang berjari dan berkulit halus itu. Makin berdebar jantungnya dan jari-jari tangan-nya agak gemetar ketika bersentuhan de-ngan jari tangan Siu Bi yang "dibersihkan".
Tiba-tiba Siu Bi merenggutkan tangannya terlepas dari peganganYo Wan. "Sudahlah.....!
Lama-lama amat mem-bersihkan saja, agaknya memang kau se-nang pegang-pegang tanganku, ya?" Tentu saja kedua pipi Yo Wan seketika menjadi merah sekali saking malu dan jengah mendengar teguran yang benar-benar tidak mengenal sungkan lagi ini akan tetapi yang langsung menusuk hati dengan tepatnya.
"Nah, sekarang kau omonglah! Awas, kalau dari omonganmu ternyata kau masih bersalah terhadapku, pedangku akan menyembelih lehermu!" Mata Siu Bi me-mandang ke arah leher Yo Wan, penuh ancaman, akan tetapi Yo Wan sama sekali tidak merasa ngeri. Biarpun gadis ini merupakan kenalan baru, akan tetapi dia seperti telah mengenal luar dalam, sudah hafal akan wataknya yang memang aneh itu. la yakin bahwa Siu Bi sampai mati takkan sudi melakukan hal itu, menyem-belih orang yang tidak rnelawan seperti orang menyembelih ayam saja! la ter-senyum dan duduk di atas rumput. Ke-tika Siu Bi juga menjatuhkan diri duduk di depannya, dia merasa gembira dan lega hatinya, timbul kembali rasa aneh yang amat bahagia di hatinya seperti ketika dia bersama gadis itu makan ber-dua menghadapi api unggun.
"Aku tidak berbohong, tak pernah membohong dan juga takkan suka rnem-bohong kalau dengan perbuatan itu aku merugikan orang lain." Yo Wan mulai dengan kata-kata memutar karena dia maklum bahwa menghadapi seorang se-perti Siu Bi, ada perlunya sekali-kali membohong, maka dia tadi menambahi kata-kata "kalau dalam membohong itu akan merugikan lain orang"! "Ketika kau lari itu, pedangmu tertinggal. Aku me-nyesal sekali telah membikin kau marah dan kecewa, maka aku mengambil pe-dangmu dan mengejar. Celaka, kiranya ilmu lari cepatmu luar biasa sekali. Ma^ na aku mampu mengejar? Aku tidak dapat mengejarmu dan ketika kulihat saputangan ini...... ada darah di situ..... aku menjadi gelisah bukan main. Aku khawatir kalau-kalau kau terjatuh ke ta». ngan orang jahat.....
"Memang aku j-atuh ke tangan orang jahat, anak buah Ang-hwa-pai yang men-culikku setelah membuat aku pingsan dengan bubuk racun merah yang harum."
"Ahhh.....! Sudah kukhawatirkan ter-jadi hal seperti itu.....! Kemudian bagaimana?"
Siu Bi meruneingkan bibirnya. Yb Wan terpaksa meramkan kedua matanya melihat mulut yang kecil itu meruncing seperti hendak menusuk ulu hatinya. "Huh, yang mau omong ini engkau atau aku? Kaulah yang harus meneruskan omonganmu. Hayp, lalu bagaimanat"
READ MORE - Jaka Lola 27 -> karya : kho ping hoo

Friday, July 13, 2012

Jaka Lola 26 -> karya : kho ping hoo

Setelah kedua orang muda pelarian itu melompat ke darat dengan selamat, barulah Cui Sian sempat berhadapan dengan Yo Wan. Gadis ini dengan perasaan kagum lalu menjura memberi hormat yang dibalas cepat-cepat oleh Yo Wan.
"Hari ini saya, Tan Cui Sian, menerima bantuan yang amat berharga dari sahabat yang gagah perkasa. Saya amat berterima kasih dan bolehkah saya me-ngetahui nama dan julukan sahabat yang mulia?"
Akan tetapi orang yang ditanya membelalakkan kedua matanya, lalu menatap wajah Cui Sian penuh selidik, kadang-kadang kepala pemuda itu miring ke kanan kadang-kadang ke kiri wajahnya membayangkam keheranan dan kegirang-an yang besar. Cui Sian mengerutkan alisnya, dan kecewalah hatinya. Apakah pemuda yang tadinya ia anggap luar biasa, gagah perkasa dan sederhana ini sebenarnya seorang laki-laki yang kurang ajar? Kedua pipinya mulai merah, pan-dang matanya yang penuh kagum dan hormat mulai berapi-api. Akan tetapi semua ini buyar seketika berubah men-jadi keheranan ketika pemuda itu ter-tawa bergelak dengan amat gembira, lalu seperti orang gila hendak memegang tangannya sambil berseru,
"Ya Tuhan.....! Benar sekali, tak salah lagi..... ah, kau Cui San..... eh, maksudku, kau..... eh, Tan-siocia (nona Tan). Ha-ha-ha, sungguh hal yang tak tersangka-sangka sama sekali. Serasa mimpi!"
Tentu saja, Cui.Sian tidak membolehkan tangannya dipegang. la mengelak dan dengan suara ketus ia bertanya, "Apa artinya ini? Siapa kau dan apa kehendakmu?"
"Ha-ha-ha, tidak aneh kalau anda lupa, sudah lewat dua puluh tahun! Nona Tan, saya adalah Yo Wan!"
"..... Yo Wan. ,? Yang mana... siapa.....?" Cui Sian mengingat-ingat.
"Wah, sudah lupa benar-benar? Saya A Wan, masa lupa kepada A Wan yang dulu pernah..... ha-ha-ha, pernah menggendongmu, bermain-main di Liong-thouw-san bersama kakek Sin-eng-cu Lui Bok?"
Tiba-tiba wajah yang ayu itu berseri, matanya bersinar-sinar dan kini Cui Sian yang melangkah maju dan memegang kedua tangan pemuda itu, "A Wan!! Tentu saja aku ingat.....! A Wan, kau..... kau A Wan? Ah, siapa duga....." Sejenak jari-jari tangannya menggenggam tangan pemuda itu, tapi segera dilepasnya kembali dan kedua pipinya menjadi merah. "..... ah..... eh, sungguh tidak sangka..... siapa kira kau sendiri yang akan menolongku? Tentu saja aku tak dapat mengenalmu, kau sekarang menjadi begini..... begini, gagah perkasa dan lihai. Benar-benar aku kagum sekali!"
Wajah Yo Wan juga menjadi merah karena jengah dan malu, biarpun hatinya berdebar girang dengan pujian itu. "Kaulah yang hebat, Nona..... tidak mengecewakan kau menjadi puteri Raja Pedang Tan-locianpwe ketua Thai-san-pai"'
"A Wan, di antara kita tak perlu pujian-pujian kosong itu, dan apa artinya kau menyebut nona kepadaku? Namaku Cui Sian, kau tahu akan ini. Aku mendengar dari ayah bahwa Pendekar Buta hanya mempunyai seorang murid yaitu engkau, akan tetapi mengapa gerakan pedangmu tadi..... serasa asing bagiku?"
Yo Wan menarik napas panjang, "Memang sebetulnyalah, aku murid suhu Kwa Kun Hong, akan tetapi..... aneh memang, aku menerima pelajaran ilmu dari orang lain, yaitu dari mendiang Sin-eng-cu locianpwe dan mendiang Bhewakala locianpwe."
Sejenak kedua orang muda ini berdiri saling pandang. Yo Wan kagum, sama sekall tidak mengira bahwa bocah perempuan yang dahulu itu, yang sering digodanya akan tetapi juga sering dia ajak bermain-main di Pegunungan Liong-thouw-san, dia carikan kembang atau dia tangkapkan kupu-kupu, pernah ketika jatuh dia gendong di belakang, bocah yang dulu itu sekarang telah menjadi seorang gadis yang begini hebat. Berkepandaian tinggi, berpemandangan luas, bersikap gagah perkasa, wajahnya cantik sekali, bentuk tubuhnya langsing dan luwes. Pendeknya, seorang dara yang hebat'.
Cui Sian segera menundukkan muka. Kedua pipinya makin merah, jantungnya berdegupan secara aneh. Mengapa dadanya bergelora, jalan darahnya berdenyar dan kepalanya menjadi pening? Mengapa ia yang tadinya berani menghadapi siapapun juga dengan hati terbuka, tabah dan tidak pemalu, sekarang tiba-tiba merasa amat canggung dan inalu kepada pemuda ini, yang sama sekali bukanlah seorang asing baginya? Benar-benar ia merasa bingung dan tidak mengerti. Belum pernah Cui Sian merasakan hal seperti ini.
Biasanya ia amat pandai membawa diri, pandai bicara dan tidak canggung biarpun berhadapan dengan siapapun juga. Akan tetapi sekarang, berhadapan dengan A Wan yang kini telah berubah menjadi seorang laki-laki yang berpakaian sederhana, wajah yang membayangkan kematangan jiwa, dengan kepandaian yang sudah terbukti amat tinggi, ia benar-benar kehilangan akal!
"Non..... eh, adik Cui Sian. Bagai-manakah kau bisa tersesat ke pulau yang menjadi sarang orang-orang jahat ber-bahaya itu? Bukankah kau masih tetap tinggal di Thai-san bersama orang tua-mu?" Di dalam hatinya Yo Wan meng-hitung-hitung dan dapat menduga bahwa usia Cui Sian tentu sekitar dua puluh tiga tahun dan dalam usia sedemikian, sudah semestinya kalau puteri ketua Thai-san-pai ini telah menjadi isteri orang. Mungkin suaminya tinggal tak jauh dari tempat ini, pikirnya. Akan tetapi tentu saja dia tidak berani bertanye secara langsung dan karenanya dia bertanya dengan cara memutar.
Cui Sian amat cerdik. la setengah dapat menduga isi hati Yo Wan, maka cepat-cepat ia menjawab, "Aku masih tinggal dengan ayah bundaku di Thai-san dan saat ini..... aku memang sedang merantau, turun gunung. Kebetulan aku bertemu di telaga ini dengan dua orang tosu Kun-lun-pai dihina orang-orang Ang-hwa-pai. Karena Kun-lun-pai adalah sebuah partai besar dan kenalan baik ayahku, maka aku tidak tinggal diam dan membantu mereka. Siapa kira, dengan amat curang Ang-hwa-pai menawanku....." selanjutnya dengan singkat ia menceritakan pengalamannya di telaga itu.
"Baiknya seperti dari langit turunnya, muncul engkau sehingga aku terbebas daripada maut. Kau sendiri, bagaimana bisa kebetulan berada di sini? Apakah tempat tihggalmu sekarang dekat-dekat sini...... eh, Twako? Kau lebih tua dari padaku, sepatutnya kusebut twako, Yo-twako!"
Yo Wan tersenyum. "Memang sebaiknya begitulah, Sian-moi (adik Sian). Kau tanya tentang tempat tinggalku? Ah, aku tiada tempat tinggal, tiada sanak kadang, hidup sebatangkara dan merantau tanpa tujuan."
"Oohhh....."' Cui Sian menghela napas dan hatinya berbisik, "la masih..... sendiri, seperti aku, dia kesepian, seperti aku pula." Dengan kepala tunduk mendengarkan cerita Yo Wan.
"Datangku ke Ching-coa-to hanya kebetulan saja, gara-gara..... seorang gadis yang aneh. Dia lihai, wataknya aneh, akan tetapi sebetulnya berjiwa gagah." Secara singkat Yo Wan bercerita tentang pertemuannya dengan Siu Bi, betapa gadis lincah galak itu karena menolong para petani yang tertindas, dimasukkan dalam tahanan, kemudian dia bantu membebaskannya.
"Dia aneh sekali," Yo Wan menutup ceritanya, "tanpa sebab dia menguji kepandaian denganku, tapi kemudian setelah terdesak, ia melarikan diri, meninggalkan pedangnya. Aku mengejarnya untuk mengembalikan pedang, ternyata jejaknya membawaku ke Ching-coa-to dan agaknya bukan dia yang membutuhkan pertolongan, melainkan kau yang sama sekali tak pernah kuduga!"
Cui Sian mengangguk. "Dia memang seorang gadis gagah, sayang dia bergaul dengan orang-orang jahat dari Ang-hwa-pai. Betapapun juga, dia telah menolong-ku dengan mengeinbalikan pedangku ke-tika aku dikeroyok ular."
"Aku pun heran sekali, sepak terjang-nya gagah. Akan tetapi bagaimana dia bisa berada di sana? Ah, agaknya dia memang mempunyai hubungan dengan Ang-hwa-pai...... sungguh tak kuduga sama sekali!" Wajah Yo Wan membayangkan kekecewaan besar dan diam-diam Cui Sian yang menaruh perhatian, pe-rasaannya tertusuk. Menurut cerita Yo Wan tadi, pemuda ini baru saja bertemu dengan Siu Bi, akan tetapi agaknya telah begitu tertarik dan amat mernperhatikan keadaannya. Cui Sian mencoba untuk membayangkan wajah Siu Bi. Gadis yang masih muda sekali, cantik jelita, akan tetapi memiliki sifat-sifat keras dan ganas.
"Agaknya dia hanya seorang tamu disana, dan sepanjang dugaanku ketika aku dikeroyok di sana, dia tidak sudi melakukan pengeroyokan biarpun mereka Delum juga berhasil merobohkan aku. Ini saja menjadi tanda bahwa dia berbeda dengan orang-orang pulau itu. Akan tetapi, jika selalu ia berdekatan dengan mereka, akhirnya ia pun mungkin akan rusak....." Tiba-tiba Cui Sian dan Yo Wan bergerak berbareng, melompat ke arah gerombolan pohon di sebelah kiri.
Siu Bi muncul dari balik pohon, pedang Cui-beng-kiam di tangan, wajahnya keruh dan matanya berapi-api memandang Cui Sian yang menjadi tercengang setelah mengenal siapa orangnya yang bersembunyi di balik pohon-pohon itu. Juga Yo Wan tercengang, sama sekali tidak disangkanya bahwa Siu Bi sudah menyusul. Sebetulnya bukan menyusul, malah Siu Bi lebih dulu meninggalkan Ching-coa-to. Ketika melihat Yo Wan menolong Cui Sian dan memondongnya pergi, hatinya menjadi panas dan tak senang. la marah-marah, dia sendiri tidak tahu marah kepada siapa, pendeknya ia marah, kepada siapa saja. Kepada Ouwyang Lam, kepada Ang-hwa Nio-nio dan kepada semua penghuni Ching-coa-to! Diam-diam ia lalu pergi dari situ, meng-gunakan sebuah perahu dan mendayung-nya cepat ke darat.
Tidak ada seorang pun anggauta Ang-hwa-pai melihatnya karena mereka sedang bingung dan ber-siap-siap melakukan pengepungan ter-hadap musuh apabila diperintah. Andaikata ada yang melihatnya pun, mereka tentu takkan berani mengganggu. Bu-kankah gadis ini sudah menjadi "orang sendiri" dan sahabat baik kongcu? Setibanya di darat, Siu Bi duduk termenung dan ketika ia melihat munculnya perahu yang didayung cepat oleh Cui Sian dan Yo Wan, ia cepat bersembunyi di balik pepohonan dan sempat mendengarkan percakapan mereka. Ucapan-ucapan terakhir yang menyinggung dirinya inembuat ia tak dapat tenang, sehingga gerakannya segera dapat, ditangkap oleh pendengaran Cui Sian dan Yo Wan yang amat tajam dan terlatih.
"Kalian berdua adalah orang-orang tak tahu malu! Kalau memang berani, hayo kita bermain pedang, kalau perlu boleh aku kalian keroyok dua. Apa perlunya bermain mulut, menggoyang lidah tak bertulang?"
"Eh-eh-eh, Nona. Datang-datang kau marah besar tidak karuan, ada apakah?" Yo Wan mengangkat kedua alisnya, ber-tanya. Cui Sian juga memandang heran dan diam-diam ia harus akui akar kebenaran kata-kata Yo Wan tadi betapa aneh watak dara remaja itu, dan diam-diam ia harus mengakui juga betapa cantik moleknya Siu Bi.
READ MORE - Jaka Lola 26 -> karya : kho ping hoo

Wednesday, July 11, 2012

Jaka Lola 25 -> karya : kho ping hoo

Betapapun juga, keroyokan ular-ular itu membuat Cui Sian repot. Menghadapi Ang-hwa-Nio-nio saja ia sudah mengerahkan seluruh perhatiannya karena memang wanita itu amat ganas dan berbahaya, apalagi sekarang dibantu oleh Ouwyang Lam yang tidak rendah kepandaiannya. Maka sambaran ular-ular dari belakang dan kanan kiri, benar-benar membuat ia sibuk sekali dan ngeri. la maklum bahwa sekali saja tergigit ular hijau, nyawanya takkan tertolong lagi. Sudah puluhan ekor ular terbabat mati oleh pedangnya, dan bangkai ular itu bertumpuk dan berserakan di sekelilingnya, menyiarkan bau yang amis dan memuakkan, bau yang mengandung racun pula.
Cui Sian terkejut dan berusaha sedapat mungkin untuk menahan napas mengerahkan sinkang melawan bau yang memuakkan itu. Akan tetapi karena di lain fihak ia diserang hebat oleh Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam dan di-ancam pula semburan ular-ular beracim, berkali-kali perhatiannya terpecah dan tappasengaja ia menyedot dan terserang bau amis itu. Kepalanya mulai pening, pandang matanya berputaran. Pedangnya masih ia gerakkan dengan cepat, diputar-putar melindungi tubuhnya, akan tetapi karena Tnataiiya makin lama makin gelap, akhirnya ia terkena tusukan ujung pe~ dang Ouwyang Lam yang melukai pundaknya.
Dengan hati merasa muak Siu Bi memandang dan hatinya merasa ngeri juga karena sebentar lagi ia akan menyaksikan gadis perkasa itu roboh mandi darah dan dikeroyok ular-ular hijau. Untuk menolong, ia tidak sudi karena bu-kankah gadis perkasa itu masih sahabat bahkan saudara seperguruan dengan musuh besarnya? la harus membenci gadis itu, biarpun perasaan hatinya tak memungkinkannya menaruh rasa itu, bahkan ada rasa kagum di lubuk hatinya. Namun, ia harus meinbenci semua yang "berbau" Pendekar Buta! Betapapun juga, rasa bencinya yang dipaksakan ini tidak melebihi rasa tidak senangnya kepada Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam yang dianggapnya berjiwa pengecut dan curang, sama sekali tidak mempunyai sifat-sifat gagah sedikit pun juga.
"Tranggg!! Tranggg!!" Bunga api berpijar dan Ang-hwa Nio-nio, juga Ouwyang Lam, melompat ke belakang, kaget se-kali karena pedang mereka tersambar sinar hitam, telapak tangan mereka menjadi sakit dan hampir mereka terpaksa melepaskan pedang. Sinar hitam masih berkelebatan dan matilah ular-ular yang berada di sekeliling Cui Sian dalam jarak dua meter!
Siu Bi melompat kaget ketika melihat laki-laki yang memegang pedang bersinar hitam itu. Itulah pedangnya dan laki-laki itu bukan lain adalah Yo Wan!
"Kau.....?!?" serunya, kaget dan heran.
Yo Wan cepat merangkul pundak Cui Sian yang terhuyung dan tak ingat diri dengan Liong-cu-kiam masih tergenggam erat-erat. Kemudian Yo Wan menoleh ke arah Siu Bi, tersenyum getir dan melemparkan Cui-beng-kiam. "Nona, ini pedangmu kukembalikan. Terimalah!"
Pedang itu melayang dengan gagang di depan ke arah Siu Bi yang menangkapnya dengan mudah. Mata gadis ini terbelalak memandang. Entah bagaimana ia sendiri tidak tahu, melihat Yo Wan memondong tubuh Cui Sian yang pingsan itu dan melangkah pergi dengan cepat, hati-nya menjadi panas dan marah!
Sementara itu, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam sejenak tercengang. Heran mereka mengapa hari ini, setelah Siu Bi muncul pula orang-orang muda yang amat lihai, padahal orang-orang muda ini sama sekali tidak terkenal di dunia kang-ouw.
Namun, melihat betapa pemuda sederhana berpakaian putih itu memondong tubuh Cui Sian yang pingsan, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam menjadi marah. Sambil berseru keras Ang-hwa Nio-nio melompat diikuti oleh Ouwyang Lam.
"Jahanam, jangan harap dapat keluar dari Ching-coa-to dalam keadaan bernyawa!" seru Ang-hwa Nio-nio. Tangannya bergerak dan sinar kemerahan me-luncur ke arah punggung Yo Wan. Itulah Ang-tok-ciam (Jarum Racun Merah) yang ampuh serta jahatnya tidak kalah dengan Ching-tok-ciam (Jarum Racun Hijau) yang dahulu dimiliki oleh majikan pulau itu.
Kedua-duanya memang merupakan senjata rahasia yang ampuh dan sekali menyentuh kulit dan menimbulkan luka, korban itu takkan tertolong lagi nyawa-nya. Akan tetapi, tentu saja Ang-hwa Nio-nio lebih lihai dalam penggunaan senjata halus ini karena memang tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi daripada mendiang Ching-toanio, maka pelepasan jarum-jarum itu amat berbahaya.
Bagi si penyannbit dan orang lain, agaknya jarum-jarum yang sudah berubah menjadi segulung sinar merah itu pasti akan mengenai punggung Yo Wan yang lari memondong tubuh Cui Sian. Akan tetapi, aneh bin ajaib akan tetapi nyata terjadi, pemuda itu masih berlari-iari dan jarum-jarum itu melayang ke depan, hilang di antara pepohonan, sama sekali tidak menyentuh baju Yo Wan! Hal ini sebetulnya tidaklah mengherankan oleh karena dalam larinya, Yo Wan yang selalu berhati-hati, apalagi maklum bahwa dia dikejar orang-orang pandai, telah menggunakan, langkah ajaib Si-cap-it Sin-po. Tentu saja dengan langkah-langkah ajaib ini, apalagi ditambah pendengarannya yang amat tajam karena terlatih sehingga dia dapat mendengar angin sambaran senjata rahasia, dengan mudah dia
dapat menghindarkan serangan gelap dari belakang.
Betapapun lihainya Yo Wan, dia adalah seorang asing di pulau itu, same sekali tidak mengenal jalan, hartya berlari dengan tujuan ke pantai telaga, maka dalam kejar-mengejar ini sebentar saja Ouwyang Lam dan Ang-hwa Nio-nio yang mengambil jalan memotong, dapat menyusulnya. Malah dua orang ini tahu-tahu muncul di depan menghadang larinya Yo Wan!
Yo Wan mengeluh dalam hatinya. Tadinya dia tidak ingin bertempur, apalagi dengan tubuh gadis itu dalam pondongannya. Akan tetapi agaknya dia tidak dapat menghindarkan pertempuran kalau menghendaki selamat. Cepat dia meraih pedang di tangan gadis itu yang biarpun dalam keadaan pingsan masih memegang erat-erat. Sekali renggut dia dapat merampas pedang ini dan tepat di saat itu, pedang Ang-hwa Nio-nio dan pedang Ouwyang Lam sudah menyerangnya dengan ganas. Yo Wan memondong tubuh Cui Sian dengan lengan kiri, tangan ka-nannya memutar pedang dan sekali ber-gerak dia berhasil menangkis dua pedang lawannya. Pertempuran hebat segera terjadi dan karena tiga batang pedang itu kesemuanya adalah pedang-pedang pusaka, maka berhamburanlah bunga api tiap kali ada pedang beradu.
”Uuhhh....." Cui Sian mengeluh meronta. Yo Wan yang memondongnya cepat melepaskan nona itu sambil menariknya ke belakang agar menjauh daripada sinar pedang dua orang pengeroyoknya.
"Nona, kau sudah kuat betul?"
Cui Sian adalah seorang gadis yang sudah digembleng oleh ayah bundanya sejak kecil. Sinkang di tubuhnya sudah amat kuat, maka pengaruh racun tadi tidak lama menguasai dirinya. Sejenak ia nanar setelah siuman, akan tetapi segera teringat akan segala pengalamannya dan seketika ia maklum bahwa pemuda yang dikeroyok oleh Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam dengan menggunakan pedangpya secara aneh itu adalah penolongnya.
"Sudah, terima kasih. Tolong kau kembalikan pedangku dan biarkan aku melawan mereka yang curang ini!"
Yo Wan menggunakan tenaganya menangkis dan sekaligus menerjang. ganas sehingga kedua orang lawannya terpaksa menghindar ke belakang. Kesempatan ini dia pergunakan untuk mengembalikan pedang Liong-cu-kiam kepada pemiliknya. Cui Sian dengan hati gemas lalu memutar pedang itu dan menerjang kedua orang lawannya.
"Nona, tidak baik mengacau tempat orang lain lebih baik lari selagi ada kesempatan," kata Yo Wan sambil mencabut pedang kayu dari balik jubahnya. Pemuda ini sebetulnya mempunyai sebatang pedang pusaka pula yaitu pedang pusaka pemberian isteri Pendekar Buta. Akan tetapi dia tidak pernah mempergunakan pedang ini dan hanya mempergunakan pedang kayu cendana yang dibuatnya sendiri di Pegunungan Himalaya. Ilmu batin yang dalam dipelajarinya dari Bhewakala dan hal ini membuat hatinya dingin terhadap pertempuran dan permusuhan, maka dia tidak akan menggunakan senjata tajam untuk menyerang orang kalau kesela;,atannya sudah cukup dilindungi dengan pedang kayunya.
Serangan Cui Sian yang dahsyat diterima Ouwyang Lam. Ang-hwa Nio-mo menghadapi Yo Wan yang ia tahu malah lebih lihai daripada puteri Raja Pedang itu. Bukan main kaget, heran, dan kagumnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa pedang kayu di tangan pemuda itu dapat menahan senjata pusakanya, Ang-hwa-kiam! Maklumlah ia bahwa ia ber-hadapan dengan seorang lawan muda yang tingkat kepandaiannya sudah amat tinggi, merupakan lawan yang amat berat. Adapun Ouwyang Lam yang kini menghadapi Cui Sian sendirian saja, dalam beberapa gebrakan sudah tampak terdesak hebat. Untung baginya, Cui Sian dapat me-nangkap kata-kata Yo Wan. Gadis ini diam-diam membenarkan bahwa tiada gunanya melanjutkan pertempuran. Biarpun ia akan dapat menangkan pemuda ini, akan tetapi tempat itu merupakan sebuah pulau yang terkurung air, dan anak buah Ang-hwa-pai amat banyak. Selain ini, pulau itu amat berbahaya dengan, ular-ularnya, juga Ang-hwa Nio-nio dan anak buahnya pandai mempergunakan racun-racun jahat. Melanjutkan pertempuran berarti mengundang bahaya bagi diri sendiri. la pribadi tidak mempunyai urusan, apalagi permusuhan dengan orang-orang ini, apa perlunya bertempur mati-matian?
"Kau benar, Sahabat. katanya. Mari kita pergi!”. katanya.
Yo Wan kagum dan girang. Gadis ini ternyata seorang yang berpengalaman dan berpemandangan jauh, alangkah bedanya dengan Siu Bi yang tindakannya sem-brono.
Mereka berdua lalu melompat jauh ke belakang, lari meninggalkan ,§elang-gang pertempuran menuju ke pantai. Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam mak-lum bahwa
mereka berdua takkan rnampu menangkan dua orang itu, maka mereka tidak mengejar. Ang-hwa Nio-nio dengan muka keruh memberi tanda rahasia dengan suitan nyaring kepada anak buahnya menghalangi kedua orang musuh itu, dan berusaha menangkap mereka dalam air.
Akan tetapi, Yo Wan dan Cul Sian sudah melompat ke sebuah perahu kecil dan begitu mereka menggerakkan dayung di kanan kiri perahu, tak mungkin ada anak buah Ang-hwa-pai yang akan mampu mengejar mereka. Perahu itu meluncur dengan kecepatan luar biasa karena digerakkan oleh tangan-tangan saktl, maka gagallah harapan terakhir Ang-hwa Nio-nio untuk menangkap mereka dengan cara menggulingkan perahu. Ketika kedua orang ini kembali ke tengah pulau, ternyata Siu Bi sudah lenyap, tidak berada di situ lagi. Ouwyang Lam kelabakan dan mencari-cari, memanggil-manggil, namun gadis yang dicarinya tidak ada, karena memang dalam keributan tadi, diam-diam Siu Bi sudah lari meninggalkan pulau itu.
READ MORE - Jaka Lola 25 -> karya : kho ping hoo

Monday, July 9, 2012

Jaka Lola 24 -> karya : kho ping hoo

Namun, Im-yang-sin-kun adalah ilmu yang bersumber kepada Im-yang-bu tek-cin-keng, merupakan rajanya ilmu silat dan telah mencakup inti sari daripada semua gerakan silat. Ilmu silat yang di-miliki Pendekar Buta sendiri pun bersumber pada ilmusilat ini, demikian pula ilmu-ilmu silat dari semua partai bersih. Andaikata masa latihan Cui Sian sedemi-kian lamanya seperti Ang-hwa Nio-nio, jangan harap ketua Ang-hwa-pai itu akan dapat menang. Sekarang pun, karena kalah matang dalam latihan, biar tak dapat mendesak lawan, namun Cui Sian niasih dapat mempertahankan diri dengan baik. Memang kalau dilanjutkan, akhirnya ia akan kalah juga karena terus-menerus mempertahankan diri tanpa mampu membalas, akan tetapi akan memakaif waktu lama sekali. Siu Bi menonton pertempuran Itu dengan hati tegang. Matanya yang sudah terlatih akan ilmu-ilmu silat tinggi dapat membedakan sifat kepandaian dua orang yang sedang bertanding itu. Terjangan-terjangan Ang-hwa Nio-nio bersifat ganas dan kasar, didorong oleh hawa pukulan bersinar merah yang menyelubungi seluruh tubuh berpakaian merah itu. Se3 baliknya, Cui Sian bersilat dengan gerak-an yang sifatnya tenang dan kokoh kuat, indah dalam setiap gerakan dan hawa pukulan dari kedua tangannya mengandung sinar jernih tak berwarna namure cukup kuat sehingga menolak bayangan sinar merah. lawan. Saking tegang dan memandang penuh perhatian, Siu Bi tidak" melihat lagi kepada Ouwyang Lam. Pemuda ini diam-diam mengeluarkan sebungkus bubuk berwarna putih, menye-' barkannya di ^sekeliling tempat mereka, kemudian memberi tanda kepada para anak buah Ang-hwa-pai. Tak lama ke-mudian terdengarlah suara melengking tinggi seperti suling, tiada putus-putusnya datang dari empat penjuru. Beberapa menit kemudian, Siu Bi mengeluarkan seruan kaget. Beratus ekor ular men-desis-desis dan bergerak cepat dari semua jurusan, menuju ke pertempuran itu. Seekor ular hijau yang besar dan pan-jang, paling cepat sampai di situ dan serta merta binatang ini mengangkat kepala dan meloncat dengan mulut' ter-buka ke arah Cui Sian! Gadis sakti ini pun sudah melihat adanya ular-ular hijau yang datang me-nyerbu, maka begitu mendengar desis keras dari arah kiri, cepat ia melangkah mundur dan tangan kirinya dengan jarit, terbuka menyabet miring, tepat mengenai' leher ular, "Trakkk!!" Ular sebesar pang-kal lengan itu terpukul keras sehingga terlepas sambungan tulangnya, tak berdaya lagi, terbanting dan hanya ekornya saja yang masih menggeliat-geliat, ke-palanye tak dapat digerakkan lagi! Akan tetapi, Cui Sian harus men-jatuhkan diri ke belakang dan bergulingan karena pada saat ia menghadapi penyerangan ular tadi, Ang-hwa Nio-nio sudah melakukan serangan hebat sekali yang aroat berbahaya. Segulung sinar merah menerjang ke arah dada dan lehernya, dan ternyata Ang-hwa Nio-nio sudah mencabut pedangnya dan rnenyerangnya pada saat gadis itu tidak kuat kedudukan-nya. Hanya dengan cara membuang diri ke belakang dan bergulingan inilah Cui Sian dapat nnenyelamatkan diri. la cepat melompat bangun dan wajahnya merah sepasang matanya berapi-api saking ma-rahnya. Biarpun lawan sudah memegang pedang dan di sekelilingnya sudah ber-kumpul ular-ular hijau, namun dara per-kasa ini sama sekali tidak menjadi gen-tar! la maklum bahwa tak mungkin me-larikan diri setelah ular-ular itu men-datangi dari segala jurusan, jalan lari selain terhalang ular-ular berbisa dan gunung-gunungan batu karang, juga di bagian lain berdiri Ang-hwa Nio-nio dap anak buahnya yang amat banyak. Cui Sian maklum bahwa keadaannya amat berbahaya, dan besar kemungkinan ia akan tewas di sini, namun ia mengambil keputusan untuk melawan dengan nekat dan sampai titik darah terakhir, tewas sebagaimana layaknya puteri pendekar besar dan ketua Thai-san-pai! "Ang-hwa-pai tak tahu malu! Meng-andalkan pengeroyokan dan bantuan ular-ular berbisa! Ang-hwa Nio-nio, majulah, jangan kira aku takut menghadapi ke-curanganmu!" Ang-hwa Nio-nio merasa penasaran, malu dan inarah sekali. Memang amat memalukan kalau ia tidak mampu me-ngalahkan gadis ini, gadis muda tak ber-senjata, dan ia masih dibantu ular-ular-hya. Benar-benar sekali ini kalau ia tidak mampu membunuh Cui Sian, akan rusak nama besarnya. "Iblis cilik, siaplah untuk mampus!'' "Nanti dulu, Nio-nio!"Tiba-tiba Siu Bi berseru dan melompat ke depan. Ang-hwa Nio-nio kaget dan heran, lebih-lebih herannya ketika Siu Bi berkata lantang, "Aku tidak suka melihat ini! Aku pun benci dia karena dia adalah sahabat baik Pendekar Buta musuh besarku, akan te-tapi aku tidak suka melihat pertandingan yang berat sebelah ini. Ang-hwa Nio-nio, karena aku dan kau bersahabat, aku tidak mau sahabatku melakukan hal yang tidak pantas." ”Dia ini boleh saja dibunuh, tapi sedikitnya harus memberi kesempatan melawan, itulah haknya. Ayah..... ayahku selain menekankan bahwa dalam keadaan bagaimanapun juga, aku harus bersikap gagah dan sama sekali tidak boleh curang. Heee, Cui Sian, ini pedangmu, kukembalikan. Sebelum mampus, kau boleh melawan dan jangan bilang bahwa aku menyernbunyikan pedangmu. Tapi berjanjilah, kalau nanti kau sudah mati, relakan pedangmu ini menjadi milikku!" Sambil berkata demikian Siu Bi melemparkan Liong-cu-kiam kepada Cui Sian. Sejenak Cui Sian tertegun sambil memegangi Liong-cu-kiam di tangannya. Tentu saja hatinya menjadi sebesar Gunung Thai-san sendiri setelah pedang pusakanya kembali di tangannya. Akan tetapi dia menjadi terheran-heran melihat sikap dan mendengar kata-kata gadis cilik itu. Tahulah dia bahwa gadis cilik itu sama sekali bukan anak buah Ang-hwa-pai!Seorang tamu agaknya, dan tentu gadis cilik yang juga lihai itu anak seorang tokoh hitam pula. la tersenyum dan menatap mesra ke arah Siu Bi. "Adik manis, kau adalah batu kumala terbenam lumpur, biar sekelilingmu kotor kau tetap ceinerlang! Tentu saja, aku berjanji, rohku akan rela kalau setelah aku mati, pedang ini menjadi rmlikmu. Tapi sayangnya, aku takkan mati, Adik manis. Dan kelak akan tiba saatnya aku membalas kebaikanmu ini!" Sernentara itu, Ang-hwa Nio-nio ma-rah sekali; "Siu Bi, kau..... kau lancang dan tolol! Setelah berkata demikian ketua Ang-hwa-pai ini menerjang dengan pedangnya. Sinar merah berkelebat ketika pedangnya, pedang pusaka ampuh yang sudah direndam racun kembang merah dan diberi nama sesuai pula, yaitu Ang-hwa-kiam, digerakkan menusuk ke depan. Pada saat yang sama, eropat ekor ular juga sudah menerjang dari belakang, menggigit ke arah kaki Cui Sian. Akan tetapi, setelah kini Liong-cu-kiam berada di tangannya, Cui Sian seakan-akan menjadi seekor harimau betina yang tumbuh sayap. Sinar putih berkiiat-kilat menyilaukan mata ketika Liong-cu-kiam di tangannya beraksi. Pedang pusaka ampuh ini sudah menangkis Ang-hwa-kiam dan tenaga bentucan itu ia manfaatkan dengan cara mengaypn pedang ke belakang sambil mengubah kedudukan kaki dari kuda-kuda melintang menjadi kuda-kuda membujur. Tenaga benturan membuat Liong-cu-kiam bergerak cepat mengeluarkan suara. "Cring!" dan..... empat ekor ular yang menyerang dari belakang tubuhnya itu telah terbabat buntung menjadi delapan potong! "Hebat.....!" Siu Bi bengong-bengong kagum tiada habisnya. Indah sekali gerakan itu dan ia maklum bahwa dengan pedang pusaka di tangannya, Cui Sian benar-benar merupakan lawan berat dan ia sendiri rnasih sangsi apakah ia dengan Cui-beng-kiam akan dapat mengimbangi kesaktian nona cantik langsing ini. "Kenapa kau membantunya.....?" Siu Bi menengok dan alisnya berkerut melihat bahwa yang mengeluarkan pertanyaan dengan suara ketus itu bukan lain adalah Ouwyang Lam. Pemuda itu berdiri dengan pedang terhunus, sikapnya mengancam, Siu Bi mengedikkan kepalanya. "Siapa membantunya? Aku tidak sudi membantu sahabat baik musuh besarku, akan tetapi aku pun tidak sudi membantu kecurangan, biarpun yang curang adalah teman sendiri. Kau mau apa?" "Mari kita keroyok dia. Dia lihai sekali dan kalau sampai dia terlepas, tentu hanya akan menimbulkan kesulitan di belakang hari." "Kau mau keroyok, terserah. Twako, apakah kau tidak malu? Lihat, ketua Ang-hwa-pai sudah melawannya dengan bantuan ular-ular mengerikan itu. Hal itu saja sudah tidak adil, masa kau mau ajak aku mengeroyok lagi? Aku tidak sudi mengambil kemenangan secara rendah begitu!" "Tapi, Moi-moi, dia itu musuh kita. Ayahnya adalah ketua Thai-san-pai, bukan saja sahabat baik Pendekar Buta, malah masih terhitung gurunya!" "Ahhh....." Ouwyang Lam mengira bahwa seruan ini menyatakan perubahan di hati Siu Bi. Akan tetapi sebetulnya bukan demikian, Siu Bi terkejut memang, akan tetapi la terkejut karena teringat bahwa gadis itu saja sudah begitu lihai, apalagi Pendekar Buta! "Lihat, Moi-moi, dia begitu lihai." Kalau kita tidak turun tangan, bisa berbahaya!" Setelah berkata demikian, Ouwyang Lam dengan pedang terhunus lalu menerjang ke medan pertempuran. Ia telah menyebar bubuk anti ular pada sepatu dan celananya sehingga seperti halnya Ang-hwa Nio-nio, dia takkan diganggu lagi oleh ular-ular itu. Memang Cui Sian hebat sekali setelah Liong-cu-kiam berada di tangannya. Bo-leh jadi dalam hal keuletan, pengalaman, dan keahlian, ia masih belum dapat me-nandingi Ang-hwa Nio-nio. Akan tetapi biarpun belum matang betul karena usianya masih muda, namun ilmu pedang yang ia mainkan adalah raja sekalian ilmu pedang yaitu Im-yang Sin-kiam. ilmu pedang inilah yang dahulu nnembuat ayahnya, Si Raja Pedang Tan Beng San, menjagoi di dunia persilatan dan mem-buat Raja Pedang itu berhasil mengalahkan semua lawannya yang sakti (baca cerita Raja Pedang). Kini, dengan ilmu pedang sakti itu, ditambah lagi dengan pedang pusaka Liong-cu-kiam yang amat ampuh di tangannya, Cui Sian benar-benar merupakan seorang lawan yang sukar dikalahkan.
READ MORE - Jaka Lola 24 -> karya : kho ping hoo

Saturday, July 7, 2012

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau! la bergidik dan diam-diam ia merasa tidak senang. Boleh saja mendesak dan me-nyerang musuh, akan tetapi tidak secara pengeeut dan menggunakan akal busuk. Melihat di depannya batu-batu karang yang sukar dilalui, dan tiga orang penge-jarnya masih terus mengejar dari be-lakang, Cui Sian terpaksa berhenti, mern» balikkan tubuh dan tersenyum mengejek "Kalian bertiga hendak mengeroyoKku yang bertangan kosong? Bagus, memang benar gagah orang-orang Ang-hwa-pai! Setelah merampas pedang, kini mengeroyok." Ouwyang Lam yang tadinya tertarik sekali akan kecantikan Cui Sian kini timbul kemarahannya. la telah dibikin malu, dan sekarang tiba saat baginya untuk menibalas. la memang pernah di-robohkan, akan tetapi hal itu terjadi karena dia memandang rendah dan ke-jadian itu hanya dapat dialami secara tidak tersangka-sangka. Sekarang mereka berhadapan dan dapat mengandalkan ilmu kepandaian mereka. la tidak percaya bahwa dia takkan dapat menangkan seorang gadis! Mendengar ejekan ini dia berkata, "Nio-nio, biarkan aku meng-hadapi gadis sombong ini!" la melompat maju dan dengan nada suaramengejek pula dia menjawab Cui Sian, "Perempuan sombong. Kaukira di dunia ini tidak ada yang dapat mengalah» kanmu? Kau bertangan kosong? Lihat, aku pun akan menghadapimu dengan ta-ngan kosong, kaukira aku tidak berani? Akan tetapi kalau nanti kau tidak berlutut dan minta-minta ampun tujuh kali kepadaku, aku takkan melepaskanmu!" Cui Sian menggigit bibirnya saking gemas dan marahnya. Baginya, ucapan ini pun mengandung arti yang kotor dan menghina. Tak sudi ia banyak cakap lagi, tubuhnya segera nnenerjang maju dengan seruan nyaring. "Lihat pukulan!" Seruan begini adalah lajim dilakukan oleh pen-dekar-pendekar yang pantang menyerang orang tanpa peringatan lebih dulu, ber--beda dengan sifat rendah tokoh-tokoh dunia hitam .yang selalu menyerang secara sembunyi, malah mempergunakan kesempatan selagi lawan lengah untuk merobohkan lawan itu. Ouwyang Lam cepat mengelak dan sambaran angin pukulan gadis ini cukup meyakinkan hatinya bahwa dia tidak boleh main-main menghadapinya. Maka dia pun lalu cepat menggerakkan kaki tangan, mainkan Ilmu Silat Bintang Terbang sambil mengerahkan tenaga Ang-tok-ciang sehingga dari kedua tangannya itu menyambar-nyambar sinar merah karena hawa beracun Ang-tok sudah taK menuhi pukulan-pukulan itu. Akan tetapi, Cui Sian bukanlah gadis sembarangan. la puteri Raja Pedang dan ketua Thai-san-pai yang sakti, yang semenjak kecil telah menggemblengnya de-ngan ilmu-ilmu kesaktian. Raja Pedang cukup mengenal ilmu-ilmu dari dun a hitam, maka pengertiannya tentang ini ia turunkan kepada puterinya semua sehing-ga kini, menghadapi pukulan-pukulan yang mengandung hawa beracun bersinar merah, Cui Sian sama sekali tidak rnenjadl gentar. Kalau tadi ia dapat ditangkap, hnl itu adalah karena ia tidak pandai berenang. Sekarang, sama-sama nieng-gunakan tangan kosong, jangan harap Ouwyang Lam akan dapat mengatasinya. Dengan jurus-jurus Im-yang-sin-kun yang luar biasa, Cui Sian dapat menolak Se-mua terjangan lawan, bahkan mulai men-desak dengan hebat. Ouwyang Lam terkejut setengah mati. Selama ia menjadi murid dan kekasih Ang-hwa Nio-nio dan telah mewarisi ilmu kesaktian wanita ini, belum pernah ia menemui tanding yang begini hebat di samping Siu Bi. la menjadi bingung oleh gerakan Cui Sian yang mengandung dua unsur tenaga yang berlawanan itu. Di suatu saat, pukulan Cui Sian bersifat keras, di lain detik merupakan pukulan lunak tapi berbahaya. Memang di sini letak kehebatan Im-yang-sin-kun, ilmu silat yang berbeda dengan ilmu silat lain. Ilmu-ilmu yang lain hanya mempunyai satu sifat, lembek atau keras, kalau lem-bek mengandalkan tenaga Iweekang, ka-lau keras mengandalkan gwakang. Akan tetapi gadis cantik ini mencampur-aduk Iweekang dan gwakang, mencampur aduk hawa Im dan Yang dalam terjangannya, pencampuradukan yang amat rapi karena memang menurut Ilmu Sakti Im-yang-sin-kun yang ia warisi dari ayahnya. Setelah lewat lima puluh jurus, Ouw-yang Lam tidak kuat lagi. Hendak men-cabut pedangnya, dia merasa malu ka-rena di situ terdapat Siu Bi yang ikut menonton. Masa melawan seorang gadis, setelah dia menyombong tadi, sama-sama dengan tangan kosong dia harus mencabut pedang? Memalukan sekali, lebih menialukan daripada kalau dia kalah dalam pertandingan ini. la mengerahkari tenaga mengumpulkan semangat dan me-nerjang dengan buas. Kini dia menggunakan jurus Bintang Terbang Terjang Bulan, tubuhnya melayang ke depan, kedua tangannya mencengkeram ke arah dada dan leher. Serangan hebat yang mematikan! Seketika wajah Cui Sian menjadi merah. Di samping kehebatannya, serangan ini pun tidak sopan. la membiarkan kedua tangan lawan itu menyambar dekat, memperlihatkan sikap gugup dan bingung. Ouwyang Lam girang sekali, akan ber-hasil agaknya dia kali ini. "Awas.,...!!" Ang-hwa Nio-nio berseru dan melompat ke depan. Terlambat su-'dah, tubuh Ouwyang Lam terbanting dari samping dan pemuda ini roboh berguling» an di atas tanah berbatu yang keras! Kiranya tadi sikap gugup dan bingung Cui Sian hanya merupakan pancingan belaka membiarkan lawan menjadi girang» berbesar hati dan karenanya lemah ke-dudukannya. Secepat kilat Cui Sian mem-buang diri ke kiri, hanya tubuh bagian atas saja yang meliuk ke kiri, sebatas lutut ke atas, namun kedua kakinya ma-sih memasang kuda-kuda yang kokoh kuat. Gerakan yang amat indah. Ketika kedua tangan Ouwyang Lam sudah me-nyambar lewat, Cui Sian menghantam dengan sampokan kedua lengannya dari samping, j'ari-jari tangannya terbuka dan kedua tangannya yang mengandung dua macarn tenaga. Yang kiri menggentak dengan tenaga Im sedangkan yang kanan mendorong dengan tenaga Yang. Tak kuat Ouwyang Lam mempertahankan diri dari serangan balasan yang mendadak dan tak terduga-duga ini sehingga dia ter-banting cukup hebat. Untung baginya bahwa pada saat itu, Ang-hwa Nio-nio sudah melompat datang dan menerjang Cui Sian tanpa banyak cakap lagi. Kalau tidak demikian halnya, dalam keadaan terbanting dan kepalanya masih pening tadi, dengan amat mudah Cui Sia? akan dapat menyusul serangan berikutnya yang membahayakan keselamatannya. Ouwyang Lam bangun dengan muka merah. Hatinya panas mendongkol, apalagi ketika dia menoleh ke arah Siu Bi dilihatnya gadis itu memandang ke arah Cui Sian dengan sinar mata penuh ke-kaguman. la merasa malu di depan Siu Bi. Terang bahwa dalam pertandingan tangan kosong tadi, dia kalah oleh gadis lihai puteri Raja Pedang ini. Dalam ma-rahnya, ingin dia mencabut pedang dan menyerang lagi bekas lawannya, biarpun Cui Sian pada saat itu sedang bertanding melawan Ang-hwa Nio-nio dengan hebatnya. Akan tetapi kehadiran Siu Bi di situ membuat Ouwyang Lam terpaksa me-nahan sabar dan tidak ada muka untuk melakukan pengeroyokan. Sementara itu, pertandingan antara Cui Sian dan .Ang-hwa Nio-nio -iudah berlangsung dengan hebatnya. Dibandingkan dengan tingkat kepandaian Ouwyang Lam, tentu saja Ang-hwa Nio-nio jauh lebih tinggi. Cui Sian maklum dan me-rasai hal ini, nannun gadis perkasa ini mengerahkan seluruh tenaga dan main-kan ilmu kesaktian Im-yang-sin-kun se-hingga biarpun ia tidak mampu melaku-kan desakan macam tadi terhadap ketua Ang-hwa-pai ini, namun pertahanannya kokoh kuat laksana benteng baja. Seperti juga Ouwyang Lam, ketua Ang-hwa-pai ini merasa malu untuk mempergunakan senjatanya, bukan malu terhadap lawan, melainkan tak enak hati terhadap Siu Bi yang dianggap sebagai tamu dan orang luar. Kalau tidak ada Siu Bi di situ, sudah tentu Cui Sian sejak tadi dikeroyok dan tak mungkin gadis perkasa itu dapat menyelamatkan dirinya. Di samping ini, juga Ang-hwa Nio-nio merasa pena-saran sekali. Ilmu silatnya sudah men-, capai tingkat yang tinggi, malah ia sudah mernatangkan kepandaiannya sehingga ia berpendapat bahwa tingkatnya sekarang tidak berbeda jauh dengan tingkat musuh besarnya, Pendekar Buta. Akari tetapi mengapa menghadapi seorang gadis muda saja ia tidak mampu mendesaknya? Memang ia telah tahu akan kesaktian Raja Pedang, akan tetapi puterinya ini baru dua puluh usianya betapapun juga baru berlatih belasan tahun, bagaimana dapat menahan dia yang telah melatih diri puluhan tahun? Inilah yang membuat hatinya penasaran dan ia menguras se-mua ilmunya untuk memecahkan per-tahanan Cui Sian.
READ MORE - Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

Monday, July 2, 2012

Jaka Lola 22 -> karya : kho ping hoo

Cui Sian menoleh dan tersenyum mengejek. "Julukannya saja Cui-beng (Pengejar Roh), biarpun cantik seperti Kwan Im, tetap saja jahat. Bocah masih ingusan, siapa takut padamu? Kutunggu kau di darat dan aku tanggung kau akan kulempar sekali lagi ke dalam air!" Siu Bi memaki-maki, akan tetapi apa dayanya? Mengejar perahu itu yang tak mungkin. Lain dengan Ouwyang Lam biarpun amat mendongkol dan malu, namun segera bersuit nyaring memberi aba-aba kepada anak buahnya. Beberapa buah perahu hitami meluncur cepat dari balik alang-alang, menghampiri Ouwyang Lam dan Siu Bi yang kini sudah berhasil membalikkan perahu dan melompat ke dalam perahu dengan pakaian basah ku-yup. "Kejar iblis betina itu, gulingkan pe-rahunya dan tangkap dia. Ingat, harus gulingkan perahunya lebih dulu!" perintah Ouwyang Lam ini segera ditaati oleh tiga buah perahu yang masing-masing berpenumpang tiga orang. Sembilan orang ahli air Ang-hwa-pai melakukan penge-jaran. Ouwyang Lam dan Siu Bi meng-ikuti dari belakang setelah Ouwyang Lam terjun dan berenang mengambil dayung-dayung mereka yang tadi terlempar. Cui Sian yang sama sekali tidak men-duga bahwa la akan dikejar, dengan hati puas mendayung perahunya ke tengah telaga, tidak tergesa-gesa pergi men-darat karena ia ingin melihat-lihat pulau itu dari dekat. Tak lama kemudian baru-lah ia melihat tiga buah perahu hitam meluncur cepat mendekati perahunya. la dapat menduga bahwa mereka itu tentu-lah orang-orang Ang-hwa-pai, apalagi setelah dekat ia melihat bunga merah tersulam di baju mereka. Akan tetapi tentu saja ia tidak takut, malah me-nanti kedatangan mereka dengan dayung di tangan, siap menghantam dan meng-hajar mereka yang berani mengganggunya. Akan tetapi, ia mulai terkejut me-lihat sembilan orang di dalam tiga buah perahu itu semua melompat ke dalarp air dan tidak muncul lagi. Mereka menyelatn! Cui Sian dapat menduga apa yang akan mereka lakukan. Cepat ia mendayung perahunya meluncur pergi, namun terlambat. Perahunya berguncang hebat. la berdiri mempergunakan ginkangnya, meng-atur keseimbangan tubuh agar jangan sampai terjungkal ke dalam air. Malah dayungnya berhasil mengemplang pung-gung seorang penyelam yang segere me-nyelam dan berenang- pergi sambil me-rintih-rintih. Akan tetapi akhirnya perahu-nya terguling! Namun dengan gerakan yang amat indah, tubuh Cui Sian mencelat ke atas dan dengan berjungkir balik beberapa kali, tubuhnya cukup lama ber-ada di atas sehingga ketika ia meluncur turun, perahunya sudah terbalik dan ter-apung lagi. la mendarat di atas perahu-nya yang terbalik itu, siap dengan da-yungnya. Para penyelam melihat ini men-jadi kagum sekali, juga penasaran. Mere-ka menyelam lagi mendekati dan berusaha menggulingkan perahu yang sudah terbalik agar nona itu ikut tenggelam. Akan tetapi Cui Sian dengan dayungnya nnempertahankan perahunya. Dua orang penyelam kena dihaJ'ar tangan mereka sehingga tulangnya patah, seorang penye-lam lagi terpaksa dibawa pergi temannya karena kemplangan pada kepalanya mem-buat dia pingsan. Ouwyang Lam dan Siu Bi sudah tiba di situ. Melihat betapa gadis kosen itu masih belum dapat ditangkap, malah mengamuk menipertahankan perahu yang sudah terbalik itu, melukai beberapa orang penyelam, dia menjadi marah dan diam-diam kaget juga. Gadis itu benar-benar lihai. Hatinya tidak enak sekali. Kemudian dia bersuit memberi tanda kepada ternan-temannya yang sudah mun-cul di permukaan air, tidak berani men-dekati perahu terbalik itu. Kini hanya tinggal empat orang penyelam yang belum terluka, akan tetapi mereka jerih, tidak berani mendekat. Setelah Ouwyang Lam bersuit, nnereka menyelam lagi. Ouwyang Lam mendayung perahunya yang meluncur cepat mendekati perahu Cui Sian yang terbalik. "Adik Siu Bi, kesempatan kita untuk membalas!" kata-nya, Siu Bi sudah bersiap dengan dayungnya. Ketika perahu mereka sudah det-at, Ouwyang Lam dan Siu Bi menggerakkan dayung. Kali ini mereka berlaku hati-hati, dayung mereka menerjang hebat dengan pengerahan tenaga. Sebaliknya, Cui Sian berada dalam keadaan yang amat buruk. Berdiri di atas perahu terbalik amat licin dan terlalu sempit, sedangkan dua buah dayung yang menye-rangnya itu pun tak boleh dibuat main-main. Tadi pun ia sudah dapat kenyataan bahwa kedua orang muda ini memiliki kepandaian tinggi, hanya karena tadi memandang rendah kepadanya maka dalam segebrakan saja ia berhasil melempar mereka ke air. la maklum bahwa ke-adaannya berbahaya sekali. Namun, Cui Sian memiliki sifat yang amat tenang, juga tabah. la tidak menjadi gentar, malah mengejek, "Beginikah cara orang gagah? Menge-royok dengan cara yang licik?" Merah muka Siu Bi. Sesungguhnya ia benci akan cara dennikian ini, akan tetapi semua itu yang mengatur adalah Ouwyang Lam, ia sebagai tamu tak da-pat berbuat lain. Untuk diam saja tidak ikut mengeroyok juga tidak enak, apalagi ia tadi sudah' dibikin basah kuyup dan merasa amat marah kepada gadis ber-nama Cui Sian itu. Dengan tenaga dalamnya yang murni dan amat kuat serta gerakan dayungnya yang hebat, Cui Sian masih dapat mem-pertahankan diri daripada desakan kedua buah dayung lawannya. Akan tetapi tiba-tiba perahu yang diinjaknya berguncang hebat. Kini ia tidak mungkin dapat melawan orang-orang yang berada di dalam air karena dua batang dayung yang meng-aneamnya dari depan sudah cukup berbahaya. la berusaha mempertahankan diri, akan tetapi ketika tiba-tiba perahu " yang diinjaknya itu tenggelem, tak mung-kin lagi ia mempertahankan diri. la ikut tenggelam dan di lain saat ia gelagapan karena seperti juga Siu Bi, ia adalah seorang puteri gunung dan tak pandai berenang! Sungguhpun demikian, ketika dua orang penyelam berusaha menangkap dan memeluknya, mereka itu memekik kesakitan dan pingsan terkena sampokan tangannya! Melihat ini, Ouwyang Lam terjuft ke air. Cui Sian sudah gelagapan dan me-helan air, tentu saja bukan lawan Ouw-yang Lam yang selain berkepandaian tinggi, juga ahli bermain di air. Sebelum Cui Sian sempat mempertahankan diri, sebuah saputangan merah yang diambil pemuda itu dari saku bajunya, telah me-nutup mukanya. la mencium bau harum dan..... tak ingat iiri lagi. Ouwyang Lam menyeretnya san Jil berenang dan memondongnya naik ke perahu, melempar tubuh yang pingsan dan basah kuyup itu ke dalam perahu. Siu Bi mengerutkan keningnya. "Mau diapakan ia ini, Ouwyang-twako?" Mendengar pertanyaan ini dan me-lihat pandang mata Siu Bi yang tajam penuh selidik, Ouwyang Lam menjadi agak gagap ketika menjawab. "Diapakan? Dia..... eh, tentu saja ditawan. Hal ini harus dilaporkan kepada Nio-nio. Gadis ini mencurigakan sekali, Siauw-moi (Adik Kecil). Kepandaiannya tinggi dan andai-kata dia benar-benar bukan orang Kun-lun-pai, mengapa ia memusuhi kita? Dan mengapa pula ia berperahu di sini?" "Kan ia sudah bilang bahwa ia se-orang pelancong....." bantah Siu Bi, tidak setuju melihat gadis ini ditawan secara begitu. Ouwyang Lam tersenyum, maklum bahwa gadis ini mulai menaruh curiga. la harus berhati-hati, pikirnya. "Jangan kau khawatir, Moi-moi. Dia ini ditawan ha-nya untuk ditanyai kelak. Kalau ternyata benar dia itu hanya seorang pelancong yang iseng dan gatal tangah, tentu saja kami akan membebaskannya. Biarlah dia ditawan beberapa hari hitung-hitung membalas penghinaannya atas diri kita berdua." Puas hati Siu Bi dengan jawaban ini. Sambil mendayung perahu kembali ke pulau, diam-diam Siu Bi mengagumi ke-cantikan gadis yang telentang di depan-nya. Benar-benar cantik jelita dan manis sekali. Sayang dia sombong, pikirnya, dan pernah menghinaku. Kalau tidak, hemmm, senang juga mempunyai kawan yang. juga memiliki kepandaian tinggi ini. la melihat benda mengganjal di atas pinggang belakang. Dirabanya, ternyata gagang pedang. Dengan perlahan disingkapnya baju luar itu dan ditariknya pedang itu. Sebuah pedang pendek akan tetapi begitU Siu Bi mencabutnya dari sarung, mata-nya silau oleh sinar yang putih gemerlapan. "Wahhh, peaang yang hebat, pusaka ampuh!" seru Ouwyang Lam. "Moi-nioi, kau benar. Pedang itu harus dirampas, kalau ,tidak dia bisa mernbikin kacau setelah siuman." Ucapan ini membikin muka Siu Bi makin merah. Sama sekali ia tidak mem-punyai niat untuk merampas pedang orang, hanya ingin melihat. Akan tetapi tiba-tiba ia berpikir. Pedang pusakanya sen-diri ia tinggalkan kepada Jaka Lola. la tidak bersenjata. Tiada salahnya ia me-nyimpan dulu pedang ini, dan mudah kalau segala sesuatu beres, ia kembalikan kepada yang punya. Dari pada dirampas oleh Ouwyang Lam. Ia belum percaya. penuh kepada pemuda ini atau kepada "bibi Kui Ciauw". Dalam keadaan masih pirigsan, Cui Sian dibawa ke daratan pulau, dihadapkan kepada Ang-hwa Nio-nio. Nenek ini me-ngerutkan alisnya ketika mendengar la-poran Ouwyang Lam. la memeriksa bun-talan pakaian Cui Sian yang juga dibawa ke situ oleh anak buah yang menemukan-nya dari perahu yang terbalik. Akan tetapi isinya hanya beberapa potong pakaian dan sekantung uang emas. Tidak terdapat sesuatu yang membuka rahasia tentang diri gadis aneh itu. Ang-hwa Nio-nio lalu mengeluarkan sehelai saputangan berwarna biru, mengebutkan saputangan itu ke arah hidung Cui Sian, kemudian dengan saputangan itu pula ia menotok belakang leher. Ujung saputangan dapat dipergunakan untuk menotok jalan darah, hal ini saja membuktikan kelihaian ne' ek ini. Kiranya saputangan biru itu mengin-dung obat pemunah racun merah. Tak lama kemudian Cui Sian menggerakkan pelupuk matanya dan pada saat matanya terbuka, gadis ini sudah melompat ba-ngun dan berada dalam keadaan siap siaga! la memandang ke sekelilingnya, melihat muda-mudi bekas lawannya tadi berada di situ bersama seorang nenek berpakaian serba merah dan beberapa orang lak-laki setengah tua yang me-makai tanda bunga merah di dada. Di pinggir berdiri pelayan-pelayan wanita. Maklum bahwa dirinya dikepung musuh, Cui Sian meraba pinggangnya. Pedangnya tidak ada! Akan tetapi gadis ini tenang-tenang saja, sama sekali tidak menjadi gentar atau gugup. la malah tersenyum inengejek dan berkata, "Bagus! Kiranya Ang-hwa-pai penuh tipu muslihat. Kalian secara curang ber-hasil menawan aku, mau apa?" Ang-hwa Nio-nio membentak ketus, "Bocah sombong, berani berlagak di de-panku! Sudah diampuni jiwanya masih sombong. Kalau tadi kami turun tangan membunuhmu, kau akan bisa apa?" Cui Sian memandang nenek itu, pan-dang matanya tajam sekali membuat si nenek diam-diam tercengang dan menduga-duga, siapa gerangan gadis yang bernyali besar dan penuh wibawa ini. "Agaknya kau adalah ketua Ang-hwa-pai. Nah, katakan kehendakmu. Soal mati hidup, kau membunuhku pun aku tidak takut, kau membebaskan aku pun tidak merasa berhutang budi." "Bocah, lebih baik larutkan keangkuh-anmu ini dan lekas kau mengaku, siapa yang menyuruh kau datang memata-matai Ang-hwa-pai' dan membikin kacau? Kalau tidak ada yang menyuruh, apa maksud kedatanganmu? Jawab sebenarnya, jangan membikin aku habis sabar. Apa hubungan-niu dengan Kun-lun-pai?" "Tidak ada yang menyuruhku, Kun-iun-pai tiada sangkut-pautnya denganku. Aku seorang pelancong, kebetulan lewat dan pesiar di telaga, bertemu dengan dua orang tosu Kun-lun-pai. Kuanggap dua orang bocah ini keterlaluan, maka aku sengaja hendak memberi hajaran. Dengan curang mereka berhasil menawan aku, terserah kalian mau apa sekarang. Mau bertanding sampai seribu jurus, hayo!" Kembali Ang-hwa Nio-nio tercengang dan diam-diam harus ia akui bahwft gadis 'seperti ini tentu tak boleh dipandcmg ri-hgan. "Siapakah kau dan dari mana kau datang?" "Sudah kukatakan kepada dua orang 1 bocah ini, namaku Tan Cui Sian dan aku bukan orang Kun-lun-pai, sungguhpun Kun-lun-pai merupakan partai segolongan dengan Thai-san-pai." Berubah wajah Ang-hwa Nio-nio. "Kau anak murid Thai-san-pai? Kau..... kau she Tan, apamukah Bu-tek Kiam-ong Tan Beng San si kakek ketua Thai-san-pai?" "Dia ayahku....." "Keparat! Kiranya kau menyerahkan nyawa anakmu kepadaku, manusia she Tan?" Sambil berseru keras Ang-hwa Nio-nio sudah menerjang maju, tangannya menghantam dan sinar merah membayang pada pukulannya ini. Cui Sian sudah siap sejak tadi. la maklum bahwa nenek ini tentulah se-orang sakti dan alangkah kecewanya bahwa ia tadi telah mengaku dan me-nyebut nama ayahnya dan Thai-san-pai. Ternyata pengakuan itu hanya mendatang-kan bahaya bagi dirinya karena ternyata bahwa nenek ini kiranya adalah musuh ayahnya. Ayahnya, Si Raja Pedang Tan Beng San, memang mempunyai banyak sekali musuh, terutama dari golongan hitam (baca cerita Raja Pedang dan Rajawali Emas). Setelah terlanjur membuat pengakuan, ia sekarang harus menghadapi bahaya dengan tabah. Cui Sian bukan seorang gadis nekat seperti Siu Bi. Dia seorang yang berpemandangan luas, cer-dik dan dapat melihat gelagat. Tentu saja ia maklum bahwa seorang diri, amat-lah berbahaya baginya untuk menghadapi orang-orang Ang-hwa-pai di tempat mereka sendiri. Apalagi ia bertarigah ko-song, kalau ada Liong-cu-kiam di tangan-nya masih boleh diandalkan. Maka, me-lihat datangnya pukulan maut yang me-ngandung sinar merah, ia cepat miring-kan tubuh dan mainkan jurus Im-yang-kun-hoat yang ia warisi dari ayahnya. Kedua tangannya dengan pengerahan dua macam tenaga Im dan Yang, menangkis sambaran tangan Ang-hwa Nio-nio yang tak mungkin dapat dielakkan lagi itu. "Dukkk!" Tubuh Cui Sian terlempar sampai ke luar dari pintu ruangan, sedangkan ketua Ang-hwa-pai itu kelihatan meringis kesakitan. Terlemparnya tu-buh Cui Sian memang disengaja oleh gadis itu sendiri karena pertemuan tenaga mujijat itu memberi kesempatan kepadanya untuk melarikan diri, atau setidaknya keluar dari ruangan yangsem-pit itu agar kalau dikeroyok, ia dapat melawan lebih leluasa di tempat yang luas di luar rumah.
READ MORE - Jaka Lola 22 -> karya : kho ping hoo

Tuesday, June 26, 2012

Jaka Lola 21 -> karya : kho ping hoo

Sementara itu, Ouwyang Lam dan Siu Bi tertawa-tawa di pulau setelah berhasil nnelernparkan kedua orang tosu ke dalam air. "Jangan ganggu, biarkan mereka pergi!" teriak Ouwyang Lam kepada para anggauta Ang-hwa-pai sehingga beberapa orang yang tadinya sudah berinaksud melepas anak panah,terpaksa membatal-kan niatnya.. Siu Bi juga merasa gembira. Ia Sudah membuktikan bahwa ia suka membantu Ang-hwa-pai dan sikap Ouwyang Lam benar-benar menarik hatinya. Pemuda ini sudah pula membuktikan kelihaiannya, maka tentu dapat menjadi teman yang baik dan berguna dalam mepghadapi mu-suh besarnya. "Adik Siu Bi, bagarmana kalau kita berperahu mengelilingi pulauku yang in-dah ini? Akan kuperlihatkan kepadamu keindahan pulau dipandang dari telaga, dan ada taman-taman air di sebelah selatan sana. Mari!" Siu Bi mengangguk dan mengikuti Ouwyang Lam yang berlari-larian meng-hampiri sebuah perahu kecil yang berada di sebelah kiri, diikat pada sebatang pohon. Bagaikan dua orang anak-anak sedang bermain-main, mereka dengan gembira melepaskan perahu dan naik ke dalam perahu kecil ini. Ouwyang -iam mengambil dua buah dayung, lalu kedlua-nya mendayung perahu itu ke terigah, diikuti pandang mata penuh maklum oleh para anak buah Ang-hwa-pai. "Wah, kongcu mendapatkan seorang kekasih baru," kata seorang anggauta yang kurus kering tubuhnya, jelas dalam suaranya bahwa dia mengiri. "Hemmm, tapi yang satu ini sungguh tak boleh dibuat main-main. Ilmu kepan-daiannya hebat. Saingan berat bagi paicu..,.." kata temannya yang gendut. "Sssttttt..... apa kau bosan hidup?" i cela si kurus sambil pergi ketakutan. Ouwyang Lam dan Siu Bi tertawa-tawa gembira ketika mendayung perahu sekuat tenaga sehingga perahu itu me-luncur seperti anak panah cepatnya. Pe-muda itu menerangkan keadaan pulau dan Siu Bi beberapa kali berseru kagum. Memang bagus pulau ini biarpun tidak berapa besar namun mempunyai bagian-bagian yang menarik. Ada bagian yang penuh bukit karang, ada bagian yang nnerupakan taman bunga amat indahnya. "Lihat, di sana itu adalah pusat ular-ular hijau. Tidak ada musuh yang berani menyerbu Ching-coa-to, karena sekali karni melepaskan ular-ular itu, mereka akan menghadapi barisan ular yang lebih hebat daripada barisan manusia bersenjata." Siu Bi bergidik. la melihat banyak sekali ular-ular besar kecil berwarna hi-jau, keluar masuk di lubang-lubang batu karang. "Apakah binatang-binatang itu tidak berkeliaran di seluruh pulau dan membahayakan kalian sendiri?" tanyanya. Ouwyang Lam tersenyum. "Kami mempunyai minyak bunga yang ditakuti ular-ular hijau itu. Sekeliling daerah batu karang telah kami sirami minyak dan para penjaga selalu siap menyiram roi-nyak baru jika yang lama sudah hilang pengaruhnya. Dengan pagar minyak itu, ular hijau tidak berani berkeliaran." "Tapi..... apa perlunya memelihara ular sebanyak itu?" "Sebetulnya tenaga mereka tidak te-rapa kami butuhkan. Hanya racunnya...... racun mereka karni anibil dan Nio-nio artiat pandai membuat obat dan senjata dari racun-racun itu." "Ahhh..... hebat kalau begitu'" Siu Bi berseru kagum. Perahu digerakkan lagi. "Lihat, di sana itu adalah taman bunga kami. Bukan main senangnya beris-tirahat di sana, hav'anya nyaman, baunya , harum dan keadae di situ benar-benar menenteramkan perasaan orang." "Aduh, bagusnya..... mari kita men-darat ke sana..... wah, indahnya seruni-seruni di ujung sana rtu. Beraneka warna dan sedang mekar.....!" Ouwyang Lam melirik dengah hati gembira ke arah nona cantik di sebelah-nya ini. Alangkah akan bahagianya kalau tiba saatnya dia dapat bersenang-senang dengan gadis ini di taman, sebagai ke-kasihnya! "Nanti, Moi-moi, kita keliling dulu dengan perahu. Karena kau menjadi orang sendiri, seluruh pulau dan isinya ini ang-gaplah tempatmu sendiri. Akan tetapi untuk dapat menikmati tempat kita ini, kau harus lebih dulu mengenal bagian-bagian yang indah, yang berbahaya dan lain-lain. Jangan khawatir, masih banyak waktu untuk kau bermain sepuasmu di dalam taman itu. Di sana terdapat be-berapa pondok kecil yang nyaman dan aku akan minta kepada Nio-nio agar kau diperbolehkan menempati sebuah di an-tara pondok-pondok di taman itu. Aku juga tinggal di sebuah di antara pondok-pondok kecil di sana." Sambil berkata demikian, Ouwyang Lam melirik dengan tajam, ingin raelihat bagaimana reaksi dari gadis itu. Akan tetapi, Siu Bi bersikap biasa saja, hanya ia amat gembira mendengar ini, akan tetapi sama sekali tidak memperlihatkan tanda bahwa ia mengerti akan isyarat dalam ucapan Ouwyang Lam. Memang, ia seorang gadis remaja yang masih hijau, mana ia mengerti akan kata-kata menyimpang itu? Perahu didayung lagi. "Mari ktla se- 1 karang melihat taman air....." ucapan Ouwyang Lam terhenti karena pada saat itu mereka berdua melihat sebuah perahu kecil yang meluncur laju dari depan. Seorang gadis mendayung perahu itu sambil berdiri di tengah perahu, meman-dang kepada mereka dengan mata me-lotot. Heran benar dia mengapa hari ini begitu baik untungnya sehingga matanya sempat melihat lagi seorang gadis yang begini cantik jelita setelah bertemu de-ngan Siu Bi. Adapun Siu Bi sendiri juga kagum karena dalam pandang matanya gadis yang sendirian di perahu itu mem-bayangkan sifat yang gagah sekali dalam kesederhanaan pakaiannya. Perahu mereka kini berhadapan dan kedua fihak menahan perahu dengan ge-rakan dayung. Sejenak tiga orang ini saling pandang, penuh selidik. Ouwyang Lam yang selalu tidak mau melewatkan kesempatan untuk mencari muka dan bermanis-manis terhadap gadis cantik, segera mengangkat kedua tangan ke depan dada memberi hormat sambil tersenyum dan menegur. "Nona, aku Ouwyang Lam tidak per-nah berternu muka denganmu. Agaknya Nona adalah seorang tamu yang hendak mengunjungi Ang-hwa-pai. Kalau memang demikian halnya, dapat Nona bicara de-ngan aku yang mewakili ketua Ang-hwa-pai." Cui Sian .sudah menduga bahwa tentu dua orang ini yang tadi menghina tosu-tosu Kun-lun-pai, sekarang mendengar pemuda itu memperkenalkan nama, ia tidak ragu-ragu lagi. "Aku.seorang pelan-cong, sama sekali tidak ada urusan dengan Ang-hwa-pai atau perkumpulan ja-hat manapun juga!" Sengaja ia menjawab ketus karena memang ia hendak mencari perkara dan memberi hajaran kepada orang-orang muda yang dianggapnya jahat itu. Siu Bi mendengar ini, tak dapat me-nahan tawanya. Memang Siu Bi wataknya aneh. Senang ia melihat gadis itu berani menghina Ang-hwa-pai secara begitu terang-terangan di depan Auwyang Lam, maka ia tertawa, tentu saja mentertawa" kan pemuda itu. Mendengar suara ketawa ditahan ini, Ouwyang Lam mendongkoLi Alisnya yang tebal berkerut dan matanyai memandang galak kepada Cui Sian, akan tetapi karena benar-benar gadis di de-pannya itu cantik jelita, tidak kalah oleh Siu Bi sendiri, dia masih menahan kemarahannya dan mempermainkan senyum pada bibirnya. "Nona yang baik, ketahuilah bahwa telaga ini termasuk wilayah Ang-hwa-pai, jadi kau kini telah berada di dalarn wilayah kami. Karena itu berarti kau sudah menjadi tamu kami, maka tadi aku sengaja bertanya. Andaikata kau hanya pelancong biasa dan tidak mempunyai urusan dengan Ang-hwa-pai, akan tetapi karena tanpa kausadari kau telah men-jadi tamuku, tiada buruknya kalau kita menjadi sahabat." Kembali Siu Bi tersenyum dan meng-ejek, "Wah, kau benar-benar amat sabar dan ramah, Ouwyang-twako!" Kalau Siu Bi mengejek karena me-ngira Ouwyang Lam takut-takut dan jerih, adalah Cui Sian yang menjadi mu-ak perutnya. la lebih berpengalaman atau setidaknya lebih mengenal watak pria daripada Siu Bi yang hijau maka ia dapat menangkap nada suara kurang ajar dalam ucapan Ouwyang Lam. Dengan ketus ia menjawab, "Kau manusia sombong. Kurasa telaga ini adalah buatan alam, bagaimana Ang-hwa-pai berani mengaku sebagai hak dan wilayahnya? 'Eh, bocah, apakah kau yang berani menghina bahkan membunuh tosu dari Kun-lun-pai?" Ouwyang Lam terkejut dan hilang keramahannya. Juga Siu Bi hilang senyumnya. Mereka berdua bangkit berdiri dan memandang Cui Sian dengan curiga. Ka-lau gadis ini datang membela Kun-lun-pai, berarti dia itu musuh! "Kalau betul begitu, kau mau apakah?" teriak Ouwyang Lam. "Apakah kau anak nuirid Kun-lun-pai yang hendak menuntut balas?" ”Aku bukan anak murid Kun-lun-pal juga tidak tahu-menahu tentang permusuh-an kalian dengan Kun-lun-pai. Akan te-tapi kebetulan sekali aku bertemu de-ngan dua orang tosu Kun-lun-pai yang telah kalian hina. Tosu-tosu Kun-lun-pai bukanlah orang-orang jahat, maka kalau kalian sudah berani menghina mereka, kalian benar-benar merupakan orang-orang kurang ajar dan mengandalkan kepandaian. Kalau bicara tentang kegagahan, agaknya aku lebih condong menganggap kalianlah yang bersalah dan jahat." "Heeei, orang liar dari mana datang-datang membuka mulut asal bunyi saja?" Siu Bi berseru marah. "Dua orang tosu bau itu memang kami berdua yang melempar ke dalam air, habis kau mau apa ?”. "Hemmm, aku tidak akan mencampuri urusan orang lain. Akan tetapi aku pun tidak biasa membiarkan orang berlaku sewenang-wenang. Kau menghina dan melempar orang ke air, sekarang aku pun hendak melempar kalian ke dalam air!" "Sombong! Twako, mari kita lempar bocah sombong ini dari perahunya!" Siu Bi menggerakkan dayungnya, diikuti oleh Ouwyang Lam yang bermaksud meroboh-kan dan menawan gadis cantik yang som-bong itu. "Plakkk-plakkkkk!" Siu Bi dan Ouwyang Lam berseru kaget sekali karena dayung mereka ter-tangkis oleh dayung di tangan Cui Sian. Demikian kuat dan hebatnya tangkisan itu sehingga hampir saja Siu Bi dan Ouw-yang Lam tak dapat menahan dan me-lepaskan dayung. Telapak tangan mereka terasa panas dan sakit-sakit. Hal ini sama sekali tak pernah mereka duga karena tadi mereka memandang rendah sekali, dan sesaat mereka kaget dan bingung. Sebelum mereka dapat memperbaiki kedudukan, perahu mereka tertum-buk oleh perahu Cui Sian dan dayung di , tangan Cui Sian secara dahsyat sekali telfih menerjang mereka. Perahu miring, dua orang muda itu hampir terjengkang ,ke belakang dan oleh karena kedudukan yang buruk sekali dan lemah ini, sampaidayung di tangan Cui Sian tak dapat mereka tangkis lagi dan jalan satu-satunya bagi mereka untuk menyelamat-kan diri hanya melempar diri ke bela-kang. Terdengar suara keras dan air memercik tinggi ketika dua orang itu ^terlempar ke dalam air juga perahu mereka telah terbalik! Ouwyang Lam yang pandai berenang itu cepat menyambar lengan tangan Siu Bi yang gelagapan dan menarik gadis itu ke arah perahu mereka lyang terbalik. Karena dayung mereka terlempar dan mereka berada di bawah ancaman dayung Cui Sian, mereka tak dapat berbuat sesuatu kecuali memegangi perahu yang terbalik dengan muka dan kepala yang basah kuyup! "Ketahuilah, aku bernama Tan Cui Sian, bukan anak murid Kun-lun-pai, hanya seorang pelancong yang kebetulan' lewat dan tidak senang melihat kekurang-ajaranmu. Harap kali ini kalian mengang-gap sebagai pelajaran agar lain kali ja-ngan kurang ajar dan sombong lagi." Setelah berkata demikian Cui Sian men-dayung perahunya pergi meninggalkan dua orang yang tak berdaya dan memegangi perahu terbalik itu. "He, manusia curang!" Siu Bi berteriak marah, memaki-maki. "Tunggu aku di darat kalau kau memang gagah dan kita bertanding sampai sepuluh ribu jurus! Tidak bisa kau menghina Cui-beng Kwan Im dan pergi enak-enak begitu saja!"
READ MORE - Jaka Lola 21 -> karya : kho ping hoo