Skip to main content

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau! la bergidik dan diam-diam ia merasa tidak senang. Boleh saja mendesak dan me-nyerang musuh, akan tetapi tidak secara pengeeut dan menggunakan akal busuk. Melihat di depannya batu-batu karang yang sukar dilalui, dan tiga orang penge-jarnya masih terus mengejar dari be-lakang, Cui Sian terpaksa berhenti, mern» balikkan tubuh dan tersenyum mengejek "Kalian bertiga hendak mengeroyoKku yang bertangan kosong? Bagus, memang benar gagah orang-orang Ang-hwa-pai! Setelah merampas pedang, kini mengeroyok." Ouwyang Lam yang tadinya tertarik sekali akan kecantikan Cui Sian kini timbul kemarahannya. la telah dibikin malu, dan sekarang tiba saat baginya untuk menibalas. la memang pernah di-robohkan, akan tetapi hal itu terjadi karena dia memandang rendah dan ke-jadian itu hanya dapat dialami secara tidak tersangka-sangka. Sekarang mereka berhadapan dan dapat mengandalkan ilmu kepandaian mereka. la tidak percaya bahwa dia takkan dapat menangkan seorang gadis! Mendengar ejekan ini dia berkata, "Nio-nio, biarkan aku meng-hadapi gadis sombong ini!" la melompat maju dan dengan nada suaramengejek pula dia menjawab Cui Sian, "Perempuan sombong. Kaukira di dunia ini tidak ada yang dapat mengalah» kanmu? Kau bertangan kosong? Lihat, aku pun akan menghadapimu dengan ta-ngan kosong, kaukira aku tidak berani? Akan tetapi kalau nanti kau tidak berlutut dan minta-minta ampun tujuh kali kepadaku, aku takkan melepaskanmu!" Cui Sian menggigit bibirnya saking gemas dan marahnya. Baginya, ucapan ini pun mengandung arti yang kotor dan menghina. Tak sudi ia banyak cakap lagi, tubuhnya segera nnenerjang maju dengan seruan nyaring. "Lihat pukulan!" Seruan begini adalah lajim dilakukan oleh pen-dekar-pendekar yang pantang menyerang orang tanpa peringatan lebih dulu, ber--beda dengan sifat rendah tokoh-tokoh dunia hitam .yang selalu menyerang secara sembunyi, malah mempergunakan kesempatan selagi lawan lengah untuk merobohkan lawan itu. Ouwyang Lam cepat mengelak dan sambaran angin pukulan gadis ini cukup meyakinkan hatinya bahwa dia tidak boleh main-main menghadapinya. Maka dia pun lalu cepat menggerakkan kaki tangan, mainkan Ilmu Silat Bintang Terbang sambil mengerahkan tenaga Ang-tok-ciang sehingga dari kedua tangannya itu menyambar-nyambar sinar merah karena hawa beracun Ang-tok sudah taK menuhi pukulan-pukulan itu. Akan tetapi, Cui Sian bukanlah gadis sembarangan. la puteri Raja Pedang dan ketua Thai-san-pai yang sakti, yang semenjak kecil telah menggemblengnya de-ngan ilmu-ilmu kesaktian. Raja Pedang cukup mengenal ilmu-ilmu dari dun a hitam, maka pengertiannya tentang ini ia turunkan kepada puterinya semua sehing-ga kini, menghadapi pukulan-pukulan yang mengandung hawa beracun bersinar merah, Cui Sian sama sekali tidak rnenjadl gentar. Kalau tadi ia dapat ditangkap, hnl itu adalah karena ia tidak pandai berenang. Sekarang, sama-sama nieng-gunakan tangan kosong, jangan harap Ouwyang Lam akan dapat mengatasinya. Dengan jurus-jurus Im-yang-sin-kun yang luar biasa, Cui Sian dapat menolak Se-mua terjangan lawan, bahkan mulai men-desak dengan hebat. Ouwyang Lam terkejut setengah mati. Selama ia menjadi murid dan kekasih Ang-hwa Nio-nio dan telah mewarisi ilmu kesaktian wanita ini, belum pernah ia menemui tanding yang begini hebat di samping Siu Bi. la menjadi bingung oleh gerakan Cui Sian yang mengandung dua unsur tenaga yang berlawanan itu. Di suatu saat, pukulan Cui Sian bersifat keras, di lain detik merupakan pukulan lunak tapi berbahaya. Memang di sini letak kehebatan Im-yang-sin-kun, ilmu silat yang berbeda dengan ilmu silat lain. Ilmu-ilmu yang lain hanya mempunyai satu sifat, lembek atau keras, kalau lem-bek mengandalkan tenaga Iweekang, ka-lau keras mengandalkan gwakang. Akan tetapi gadis cantik ini mencampur-aduk Iweekang dan gwakang, mencampur aduk hawa Im dan Yang dalam terjangannya, pencampuradukan yang amat rapi karena memang menurut Ilmu Sakti Im-yang-sin-kun yang ia warisi dari ayahnya. Setelah lewat lima puluh jurus, Ouw-yang Lam tidak kuat lagi. Hendak men-cabut pedangnya, dia merasa malu ka-rena di situ terdapat Siu Bi yang ikut menonton. Masa melawan seorang gadis, setelah dia menyombong tadi, sama-sama dengan tangan kosong dia harus mencabut pedang? Memalukan sekali, lebih menialukan daripada kalau dia kalah dalam pertandingan ini. la mengerahkari tenaga mengumpulkan semangat dan me-nerjang dengan buas. Kini dia menggunakan jurus Bintang Terbang Terjang Bulan, tubuhnya melayang ke depan, kedua tangannya mencengkeram ke arah dada dan leher. Serangan hebat yang mematikan! Seketika wajah Cui Sian menjadi merah. Di samping kehebatannya, serangan ini pun tidak sopan. la membiarkan kedua tangan lawan itu menyambar dekat, memperlihatkan sikap gugup dan bingung. Ouwyang Lam girang sekali, akan ber-hasil agaknya dia kali ini. "Awas.,...!!" Ang-hwa Nio-nio berseru dan melompat ke depan. Terlambat su-'dah, tubuh Ouwyang Lam terbanting dari samping dan pemuda ini roboh berguling» an di atas tanah berbatu yang keras! Kiranya tadi sikap gugup dan bingung Cui Sian hanya merupakan pancingan belaka membiarkan lawan menjadi girang» berbesar hati dan karenanya lemah ke-dudukannya. Secepat kilat Cui Sian mem-buang diri ke kiri, hanya tubuh bagian atas saja yang meliuk ke kiri, sebatas lutut ke atas, namun kedua kakinya ma-sih memasang kuda-kuda yang kokoh kuat. Gerakan yang amat indah. Ketika kedua tangan Ouwyang Lam sudah me-nyambar lewat, Cui Sian menghantam dengan sampokan kedua lengannya dari samping, j'ari-jari tangannya terbuka dan kedua tangannya yang mengandung dua macarn tenaga. Yang kiri menggentak dengan tenaga Im sedangkan yang kanan mendorong dengan tenaga Yang. Tak kuat Ouwyang Lam mempertahankan diri dari serangan balasan yang mendadak dan tak terduga-duga ini sehingga dia ter-banting cukup hebat. Untung baginya bahwa pada saat itu, Ang-hwa Nio-nio sudah melompat datang dan menerjang Cui Sian tanpa banyak cakap lagi. Kalau tidak demikian halnya, dalam keadaan terbanting dan kepalanya masih pening tadi, dengan amat mudah Cui Sia? akan dapat menyusul serangan berikutnya yang membahayakan keselamatannya. Ouwyang Lam bangun dengan muka merah. Hatinya panas mendongkol, apalagi ketika dia menoleh ke arah Siu Bi dilihatnya gadis itu memandang ke arah Cui Sian dengan sinar mata penuh ke-kaguman. la merasa malu di depan Siu Bi. Terang bahwa dalam pertandingan tangan kosong tadi, dia kalah oleh gadis lihai puteri Raja Pedang ini. Dalam ma-rahnya, ingin dia mencabut pedang dan menyerang lagi bekas lawannya, biarpun Cui Sian pada saat itu sedang bertanding melawan Ang-hwa Nio-nio dengan hebatnya. Akan tetapi kehadiran Siu Bi di situ membuat Ouwyang Lam terpaksa me-nahan sabar dan tidak ada muka untuk melakukan pengeroyokan. Sementara itu, pertandingan antara Cui Sian dan .Ang-hwa Nio-nio -iudah berlangsung dengan hebatnya. Dibandingkan dengan tingkat kepandaian Ouwyang Lam, tentu saja Ang-hwa Nio-nio jauh lebih tinggi. Cui Sian maklum dan me-rasai hal ini, nannun gadis perkasa ini mengerahkan seluruh tenaga dan main-kan ilmu kesaktian Im-yang-sin-kun se-hingga biarpun ia tidak mampu melaku-kan desakan macam tadi terhadap ketua Ang-hwa-pai ini, namun pertahanannya kokoh kuat laksana benteng baja. Seperti juga Ouwyang Lam, ketua Ang-hwa-pai ini merasa malu untuk mempergunakan senjatanya, bukan malu terhadap lawan, melainkan tak enak hati terhadap Siu Bi yang dianggap sebagai tamu dan orang luar. Kalau tidak ada Siu Bi di situ, sudah tentu Cui Sian sejak tadi dikeroyok dan tak mungkin gadis perkasa itu dapat menyelamatkan dirinya. Di samping ini, juga Ang-hwa Nio-nio merasa pena-saran sekali. Ilmu silatnya sudah men-, capai tingkat yang tinggi, malah ia sudah mernatangkan kepandaiannya sehingga ia berpendapat bahwa tingkatnya sekarang tidak berbeda jauh dengan tingkat musuh besarnya, Pendekar Buta. Akari tetapi mengapa menghadapi seorang gadis muda saja ia tidak mampu mendesaknya? Memang ia telah tahu akan kesaktian Raja Pedang, akan tetapi puterinya ini baru dua puluh usianya betapapun juga baru berlatih belasan tahun, bagaimana dapat menahan dia yang telah melatih diri puluhan tahun? Inilah yang membuat hatinya penasaran dan ia menguras se-mua ilmunya untuk memecahkan per-tahanan Cui Sian.

Comments

Herbal Obat said…
wow panjang juga ini sebenarnya cerita tentang apa si gan aku lom ngerti. he he

Popular posts from this blog

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…