Skip to main content

Jaka Lola 26 -> karya : kho ping hoo

Setelah kedua orang muda pelarian itu melompat ke darat dengan selamat, barulah Cui Sian sempat berhadapan dengan Yo Wan. Gadis ini dengan perasaan kagum lalu menjura memberi hormat yang dibalas cepat-cepat oleh Yo Wan.
"Hari ini saya, Tan Cui Sian, menerima bantuan yang amat berharga dari sahabat yang gagah perkasa. Saya amat berterima kasih dan bolehkah saya me-ngetahui nama dan julukan sahabat yang mulia?"
Akan tetapi orang yang ditanya membelalakkan kedua matanya, lalu menatap wajah Cui Sian penuh selidik, kadang-kadang kepala pemuda itu miring ke kanan kadang-kadang ke kiri wajahnya membayangkam keheranan dan kegirang-an yang besar. Cui Sian mengerutkan alisnya, dan kecewalah hatinya. Apakah pemuda yang tadinya ia anggap luar biasa, gagah perkasa dan sederhana ini sebenarnya seorang laki-laki yang kurang ajar? Kedua pipinya mulai merah, pan-dang matanya yang penuh kagum dan hormat mulai berapi-api. Akan tetapi semua ini buyar seketika berubah men-jadi keheranan ketika pemuda itu ter-tawa bergelak dengan amat gembira, lalu seperti orang gila hendak memegang tangannya sambil berseru,
"Ya Tuhan.....! Benar sekali, tak salah lagi..... ah, kau Cui San..... eh, maksudku, kau..... eh, Tan-siocia (nona Tan). Ha-ha-ha, sungguh hal yang tak tersangka-sangka sama sekali. Serasa mimpi!"
Tentu saja, Cui.Sian tidak membolehkan tangannya dipegang. la mengelak dan dengan suara ketus ia bertanya, "Apa artinya ini? Siapa kau dan apa kehendakmu?"
"Ha-ha-ha, tidak aneh kalau anda lupa, sudah lewat dua puluh tahun! Nona Tan, saya adalah Yo Wan!"
"..... Yo Wan. ,? Yang mana... siapa.....?" Cui Sian mengingat-ingat.
"Wah, sudah lupa benar-benar? Saya A Wan, masa lupa kepada A Wan yang dulu pernah..... ha-ha-ha, pernah menggendongmu, bermain-main di Liong-thouw-san bersama kakek Sin-eng-cu Lui Bok?"
Tiba-tiba wajah yang ayu itu berseri, matanya bersinar-sinar dan kini Cui Sian yang melangkah maju dan memegang kedua tangan pemuda itu, "A Wan!! Tentu saja aku ingat.....! A Wan, kau..... kau A Wan? Ah, siapa duga....." Sejenak jari-jari tangannya menggenggam tangan pemuda itu, tapi segera dilepasnya kembali dan kedua pipinya menjadi merah. "..... ah..... eh, sungguh tidak sangka..... siapa kira kau sendiri yang akan menolongku? Tentu saja aku tak dapat mengenalmu, kau sekarang menjadi begini..... begini, gagah perkasa dan lihai. Benar-benar aku kagum sekali!"
Wajah Yo Wan juga menjadi merah karena jengah dan malu, biarpun hatinya berdebar girang dengan pujian itu. "Kaulah yang hebat, Nona..... tidak mengecewakan kau menjadi puteri Raja Pedang Tan-locianpwe ketua Thai-san-pai"'
"A Wan, di antara kita tak perlu pujian-pujian kosong itu, dan apa artinya kau menyebut nona kepadaku? Namaku Cui Sian, kau tahu akan ini. Aku mendengar dari ayah bahwa Pendekar Buta hanya mempunyai seorang murid yaitu engkau, akan tetapi mengapa gerakan pedangmu tadi..... serasa asing bagiku?"
Yo Wan menarik napas panjang, "Memang sebetulnyalah, aku murid suhu Kwa Kun Hong, akan tetapi..... aneh memang, aku menerima pelajaran ilmu dari orang lain, yaitu dari mendiang Sin-eng-cu locianpwe dan mendiang Bhewakala locianpwe."
Sejenak kedua orang muda ini berdiri saling pandang. Yo Wan kagum, sama sekall tidak mengira bahwa bocah perempuan yang dahulu itu, yang sering digodanya akan tetapi juga sering dia ajak bermain-main di Pegunungan Liong-thouw-san, dia carikan kembang atau dia tangkapkan kupu-kupu, pernah ketika jatuh dia gendong di belakang, bocah yang dulu itu sekarang telah menjadi seorang gadis yang begini hebat. Berkepandaian tinggi, berpemandangan luas, bersikap gagah perkasa, wajahnya cantik sekali, bentuk tubuhnya langsing dan luwes. Pendeknya, seorang dara yang hebat'.
Cui Sian segera menundukkan muka. Kedua pipinya makin merah, jantungnya berdegupan secara aneh. Mengapa dadanya bergelora, jalan darahnya berdenyar dan kepalanya menjadi pening? Mengapa ia yang tadinya berani menghadapi siapapun juga dengan hati terbuka, tabah dan tidak pemalu, sekarang tiba-tiba merasa amat canggung dan inalu kepada pemuda ini, yang sama sekali bukanlah seorang asing baginya? Benar-benar ia merasa bingung dan tidak mengerti. Belum pernah Cui Sian merasakan hal seperti ini.
Biasanya ia amat pandai membawa diri, pandai bicara dan tidak canggung biarpun berhadapan dengan siapapun juga. Akan tetapi sekarang, berhadapan dengan A Wan yang kini telah berubah menjadi seorang laki-laki yang berpakaian sederhana, wajah yang membayangkan kematangan jiwa, dengan kepandaian yang sudah terbukti amat tinggi, ia benar-benar kehilangan akal!
"Non..... eh, adik Cui Sian. Bagai-manakah kau bisa tersesat ke pulau yang menjadi sarang orang-orang jahat ber-bahaya itu? Bukankah kau masih tetap tinggal di Thai-san bersama orang tua-mu?" Di dalam hatinya Yo Wan meng-hitung-hitung dan dapat menduga bahwa usia Cui Sian tentu sekitar dua puluh tiga tahun dan dalam usia sedemikian, sudah semestinya kalau puteri ketua Thai-san-pai ini telah menjadi isteri orang. Mungkin suaminya tinggal tak jauh dari tempat ini, pikirnya. Akan tetapi tentu saja dia tidak berani bertanye secara langsung dan karenanya dia bertanya dengan cara memutar.
Cui Sian amat cerdik. la setengah dapat menduga isi hati Yo Wan, maka cepat-cepat ia menjawab, "Aku masih tinggal dengan ayah bundaku di Thai-san dan saat ini..... aku memang sedang merantau, turun gunung. Kebetulan aku bertemu di telaga ini dengan dua orang tosu Kun-lun-pai dihina orang-orang Ang-hwa-pai. Karena Kun-lun-pai adalah sebuah partai besar dan kenalan baik ayahku, maka aku tidak tinggal diam dan membantu mereka. Siapa kira, dengan amat curang Ang-hwa-pai menawanku....." selanjutnya dengan singkat ia menceritakan pengalamannya di telaga itu.
"Baiknya seperti dari langit turunnya, muncul engkau sehingga aku terbebas daripada maut. Kau sendiri, bagaimana bisa kebetulan berada di sini? Apakah tempat tihggalmu sekarang dekat-dekat sini...... eh, Twako? Kau lebih tua dari padaku, sepatutnya kusebut twako, Yo-twako!"
Yo Wan tersenyum. "Memang sebaiknya begitulah, Sian-moi (adik Sian). Kau tanya tentang tempat tinggalku? Ah, aku tiada tempat tinggal, tiada sanak kadang, hidup sebatangkara dan merantau tanpa tujuan."
"Oohhh....."' Cui Sian menghela napas dan hatinya berbisik, "la masih..... sendiri, seperti aku, dia kesepian, seperti aku pula." Dengan kepala tunduk mendengarkan cerita Yo Wan.
"Datangku ke Ching-coa-to hanya kebetulan saja, gara-gara..... seorang gadis yang aneh. Dia lihai, wataknya aneh, akan tetapi sebetulnya berjiwa gagah." Secara singkat Yo Wan bercerita tentang pertemuannya dengan Siu Bi, betapa gadis lincah galak itu karena menolong para petani yang tertindas, dimasukkan dalam tahanan, kemudian dia bantu membebaskannya.
"Dia aneh sekali," Yo Wan menutup ceritanya, "tanpa sebab dia menguji kepandaian denganku, tapi kemudian setelah terdesak, ia melarikan diri, meninggalkan pedangnya. Aku mengejarnya untuk mengembalikan pedang, ternyata jejaknya membawaku ke Ching-coa-to dan agaknya bukan dia yang membutuhkan pertolongan, melainkan kau yang sama sekali tak pernah kuduga!"
Cui Sian mengangguk. "Dia memang seorang gadis gagah, sayang dia bergaul dengan orang-orang jahat dari Ang-hwa-pai. Betapapun juga, dia telah menolong-ku dengan mengeinbalikan pedangku ke-tika aku dikeroyok ular."
"Aku pun heran sekali, sepak terjang-nya gagah. Akan tetapi bagaimana dia bisa berada di sana? Ah, agaknya dia memang mempunyai hubungan dengan Ang-hwa-pai...... sungguh tak kuduga sama sekali!" Wajah Yo Wan membayangkan kekecewaan besar dan diam-diam Cui Sian yang menaruh perhatian, pe-rasaannya tertusuk. Menurut cerita Yo Wan tadi, pemuda ini baru saja bertemu dengan Siu Bi, akan tetapi agaknya telah begitu tertarik dan amat mernperhatikan keadaannya. Cui Sian mencoba untuk membayangkan wajah Siu Bi. Gadis yang masih muda sekali, cantik jelita, akan tetapi memiliki sifat-sifat keras dan ganas.
"Agaknya dia hanya seorang tamu disana, dan sepanjang dugaanku ketika aku dikeroyok di sana, dia tidak sudi melakukan pengeroyokan biarpun mereka Delum juga berhasil merobohkan aku. Ini saja menjadi tanda bahwa dia berbeda dengan orang-orang pulau itu. Akan tetapi, jika selalu ia berdekatan dengan mereka, akhirnya ia pun mungkin akan rusak....." Tiba-tiba Cui Sian dan Yo Wan bergerak berbareng, melompat ke arah gerombolan pohon di sebelah kiri.
Siu Bi muncul dari balik pohon, pedang Cui-beng-kiam di tangan, wajahnya keruh dan matanya berapi-api memandang Cui Sian yang menjadi tercengang setelah mengenal siapa orangnya yang bersembunyi di balik pohon-pohon itu. Juga Yo Wan tercengang, sama sekali tidak disangkanya bahwa Siu Bi sudah menyusul. Sebetulnya bukan menyusul, malah Siu Bi lebih dulu meninggalkan Ching-coa-to. Ketika melihat Yo Wan menolong Cui Sian dan memondongnya pergi, hatinya menjadi panas dan tak senang. la marah-marah, dia sendiri tidak tahu marah kepada siapa, pendeknya ia marah, kepada siapa saja. Kepada Ouwyang Lam, kepada Ang-hwa Nio-nio dan kepada semua penghuni Ching-coa-to! Diam-diam ia lalu pergi dari situ, meng-gunakan sebuah perahu dan mendayung-nya cepat ke darat.
Tidak ada seorang pun anggauta Ang-hwa-pai melihatnya karena mereka sedang bingung dan ber-siap-siap melakukan pengepungan ter-hadap musuh apabila diperintah. Andaikata ada yang melihatnya pun, mereka tentu takkan berani mengganggu. Bu-kankah gadis ini sudah menjadi "orang sendiri" dan sahabat baik kongcu? Setibanya di darat, Siu Bi duduk termenung dan ketika ia melihat munculnya perahu yang didayung cepat oleh Cui Sian dan Yo Wan, ia cepat bersembunyi di balik pepohonan dan sempat mendengarkan percakapan mereka. Ucapan-ucapan terakhir yang menyinggung dirinya inembuat ia tak dapat tenang, sehingga gerakannya segera dapat, ditangkap oleh pendengaran Cui Sian dan Yo Wan yang amat tajam dan terlatih.
"Kalian berdua adalah orang-orang tak tahu malu! Kalau memang berani, hayo kita bermain pedang, kalau perlu boleh aku kalian keroyok dua. Apa perlunya bermain mulut, menggoyang lidah tak bertulang?"
"Eh-eh-eh, Nona. Datang-datang kau marah besar tidak karuan, ada apakah?" Yo Wan mengangkat kedua alisnya, ber-tanya. Cui Sian juga memandang heran dan diam-diam ia harus akui akar kebenaran kata-kata Yo Wan tadi betapa aneh watak dara remaja itu, dan diam-diam ia harus mengakui juga betapa cantik moleknya Siu Bi.

Comments

kho ping hoo rajin dan ulet banget ya, bikin cerita yang bagus-bagus begitu, kasih tahu saya donk tipsnya bagaimana?

Popular posts from this blog

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…