Skip to main content

raja-pedang-30-kho-ping-hoo

Beng San memang takut, takut bukan main, malah takut yang tidak sewajarnya, mungkin karena dulu di waktu kecil dia pernah mengalami pula ketakutan sehebat ini ketika dia hanyut oleh air bah Sungai Huang-ho. Akan tetapi jiwa satria masih bersemayam di tubuhnya. la tidak suka melanggar janjinya, janji terhadap Phoa Ti dan The Bok Nam yang sudah mati, bahwa dia akan memegang teguh rahasia Im-yang Sin-kiam-sut, juga janjinya terhadap Lo-tong Souw Lee tak-kan menceritakan tempat sembunyi kakek itu. Lebih baik mati daripada melanggar janji sendiri. Demikianlah pendirian se-orang satria, seorang pendekar. Beng San tidak takut mati, akan tetapi sekarang dia benar-benar takut. Setiap pucuk om-bak air merupakan cakar iblis yang hendak mencekik dan mencengkeramnya.



 



"Song-bun-kwi, kau boleh minta apa saja, tapi yang dua itu tidak mungkin!" jawabnya di antara suara air.



 



Song-bun-kwi marah, mengangkat tambang dan melepaskannya kembali sampai tubuh Beng San tenggelam ke dalam air, mengangkat lagi, .melepaskan lagi. Berkali-kali tubnh Beng San timbul tenggelam di antara deru suara air yang mengalir deras. la takut setengah niati, takut dan juga gelagapan sukar bernapas. Entah bagaimana, sekarang baginya tidak ada Song-bun-kwi lagi, tidak ada siapa-siapa, yang teringat olehnya hanyalah air, air, air! la merasa dihanyutkan air yang luar biasa kerasnya, merasa takut dan tiba-tiba dia teringat akan ayahnya, akan ibunya, akan kakaknya!



 



"Ayahhh.....!" la berteriak-teriak ipglft-, bayangkan wajah ayahnya.



 



"Ibuuu.....!" Kembali dia berteriak-teriak ketika mendapat kesempatan, yaitu ketika Song-bun-kwi menarik tambane ke atas.



 



"Kakak....,,;Kakak Kui....” Ia menjerit lagi.



 



Pada saat itu, Bi Goat juga berteriak-tenak rnenangis, berusaha mencegah Song-bun-kwi menyiksa Beng San. Akan tetapi Song-bun-kwi malah memaki dan menendangnya. Bi Goat berkali-kali me-nengok ke bawah dan ketika dia melihat betapa Beng San menjerit-jerit dengan muka ketakutan setiap kali tubuhnya timbul di permukaan air, dia mengeluarkan teriakan melengking tinggi lalu..... Bi Goat melompat ke bawah Air sungai muncrat tinggj ketika tubuh Bi Goat menimpanya dan tertelan air yane men-didih itu.



 



Biarpun tadinya memaki-maki dan menendang Bi Goat, namun begitu melihat anak itu dengan nekat terjun ke bawah, Song-bun-kwi menjadi bingung dan kaget sekali. Keselamatan anaknya ber-bahaya sekali, terancam maut yang mengerikan. Cepat dia menggerakkan tam-bang yang dipegangnya dan ujung yang melibat tubuh Beng San segera terlepas. Kemudian dengan gerakan yang. aneh tambang itu meluncur ke arah jatuhnya Bi Goat. Tepat setelah tubuh anak baju merah ini timbul di permuk-aan air, me-Jibat pinggangnya dan sekali sendal saja tubuh Bi Goat melayang kembali ke darat!



 



Akah tetapi ketika Song-bun-kwi menjenguk ke bawah, tubuh Beng San sudah lenyap. Tentu anak itu setelah tidak terikat oleh tambang lagi, sudah terbawa hanyut oleh air yang amat derasnya. Bi Goat menangis, menggosok-gosok kedua matanya dengan punggung tangan, pakaiannya basah kuyup.



 



"Sudah, diamlah. Dia anak jahat, ka-lau tidak dilenyapkan dari muka bumi kelak hanya akan menimbulkan geger saja. Sakitkah badanmu? Apakah tidak terluka?" Song-bun-kwi yang tiba-tiba merasa kasihan kepada anaknya, men-dekati Bi Goat lalu memondongnya, me-rangkulnya. Bi Goat hanya rrienangis di pundak ayahnya yang aneh itu. Perlahan-lahan Song-bun-kwi yang memondong anaknya pergi darl 'situ, seperti orang melamun. Ia merasa lega karena mengira bahwa Beng San, anak yang menjadiA-orang ke dua setelah dia yang mengerti' akan Ilmu Silat Yang-sin Kiam-sut, sekarang tentu telah mati tenggelam di dasar Sungai Huang-ho.



 



Betulkah Beng San sudah mati sepertt yang diharapkan dan diduga oleh Song-bun-kwi? Agaknya kakek yang sakti ini lupa bahwa mati hidup seseorang ter-gantung sepenuhnya kepada kehendak Yang Maha Kuasa. ApabiJa Tuhan belum menghendaki matinya seseorang, jangankan baru dia terancam bahaya maut seperti Beng San, biarpun orang itu di-ancam bahaya maiit dengan hujan api sekalipun, dia akan selamat dan terluput daripada bahaya maut yang mengancam-nya itu. Sebaliknya, apabila Tuhan sudah menghendaki kematian seseorang, biarpun dia akan berlari ke ujnng dunia atau berlindung ke dalam gedung baja, maut tetap akan mencabut nyawanya tanpa dapat ditawar-tawar atau diperpanjane sedikit pun lagi.



 



Kelihatannya memang Beng San sudah tak berdaya, dan memang anak ini sudah kehabisan akal. Bagaikan seorang yang sudah berubah ingatannya, Beng San terbawa hanyut oleh air dan setiap kali kepalanya tersembul di permukaan air, jauh dari tempat dia hanyut tadi, dia memekik-mekik memanggil ayahnya, ibunya, dan seorang yang dia panggil Kui-ko (kakak Kui). Akhirnya saking lelah dan banyak minum air sungai, Beng San tak ingat diri lagi dan tahu-tahu ketika dia siuman kembali, dia mendapatkan dirinya sudah menggeletak di dalam sebuah perahu kecil. Tubuhnya sudah ter-baring di situ, telanjang bulat dan ter-bungkus selimut hangat. Ketika dia me-lirik, dia mendapatkan pakaian bututnya sedang dijemur di pinggir perahu dan di kepala perahu kecil itu duduk berjongkok seorang laki-laki tua bertopi lebar, mukanya kurus penuh gurat-gurat hidup tanda banyak menderita. Laki-laki itu duduk tak bergerak, matanya sayu melamun ke permukaan air, melihat tali pancingnya yang bergerak-gerak perlahan, terbawa aliran air yang tenang di bagian itu. Di dekatnya kelihatan tiga ekor ikan sebesar betis yang sudah mati, tapi masih segar.



 



Beng San diam saja, mengingat-ingat. Mula-mula dia teringat akan air besar yang menghanyutkan, yang mengerikan dan sekaligus dia membayangkan kembali wajah seorang laki-laki tua yang ber-pakaian sebagai petani, yang bermata tajam dan bermulut selalu tersenyum, wajah yang amat disayangnya, wajah ayahnya. Lalu menyusul wajah yang me-nimbulkan rasa mesra di hatinya, wajah seorang wanita yang agung, berkulit hi» tam manis, berambut hitam panjang di-gelung di belakang leher, wajah yang bermata sayu dan lembut, yang selalu bicara halus penuh kasih sayang kepada-nya, wajah ibunya! Dan terbayang olehnya wajah seorang anak laki-laki yang nakal, yang sering kali menggodanya akan tetapi yang menjadi temannya bermain semenjak kecil, wajah kakaknya yang bernama Tan Beng Kui. Dan dia sendiri bernama Tan Beng San! Kini dia teringat semua, malah dusunnya dia ingat pula bentuk dan macamnya, ada telaga keeil di dekat sungai, telaga yarig banyak ikannya, sering kali dia dan kakaknya diajak mancing ikan di telaga itu oleh ayahnya. Hanya nama ayah ibunya dan nama dusun itu dia tidak tahu.



 



Berdebar hati Beng San teringat akan ini semua. la tidak tahu bahwa dia kehilangan ingatan oleh air Sungai Huang-ho dan sekarang dia rriendapatkan kembali ingatannya, oleh air Sungai Huang-ho pula. Yang membuat Beng San ber-ebar-debur adalah karena sekarang dia teringat akan Ouw Kiu dan Bhe Kit Nio yang mengaku menjadi ayah bundanya! Bagaimana bisa terjadi demikian? Betul-kah mereka itu kedua orang tuanya? Ataukah bayangan laki-laki petani dan wanita berwajah agung itu orang tuanya yang sesungguhnya? Dan Tan Beng Kui?



 



Beng San masih bingung, lalu kepala-nya membayarigkari Bi Goat. Gadis cilik yang gagu itu, yang rnenangis dan ber-usaha menolongnya, malah yang kemudian secara nekat nieloncat ke air untuk menolongnya, tanpa mempedulikan keselamatan diri sendiri. Teringat akan ini, membayangkan wajah Bi Goat menangis untuk dirinya, berganti-ganti dengan wa-j jah ayahnya, wajah ibunya, dan wajah kakaknya, tak terasa lagi Beng San me-ngeluh dan dua titik air mata yang panas mengalir keluar membasahi pipinya.



 



"He, kau sudah bangun?" Tukang pan-cing itu mendengar keluhannya, berdiri lalu menghampiri. Perahu kecil itu goyang-goyang ketika si tukang pancing berjalan. Ternyata dia seorang kakek yang berusia lima puluh tahunan, ber-tubiah kurus, wajahnya kering terbakar matahari dan penuh guratan, matanya sayu tapi kadang-kadang lincah berseri, mulutnya yang ompong membayangkan ketenangan batin seorang yang sudah banyak makan asam garam dunia.



Beng San segera bangkit dari tidurnya, mengusap air matanya dan menjatuhkan diri berlutut, "Kakek yang baik, agaknya kau yang telah menolongku dari dalam air."



 



Kakek itu memegang pundak Beng San. "Kukira ,tadi, kau ikan besar, tersangkut di pancingku. Aku sudah girang sekali, mengira mendapat ikan yang be-sar sekali, ketika kutarik....."



 



"Kau kecewa karena hanya aku...” sambung Beng San tak dapat menahan kata-katanya ini karena melihat sikap tukang pancing itu lucu dan jenaka.



 



"Ha-ha-ha, tidak demikian. Aku malah i lebih gembira, pertama karena tanpa kusengaja aku dapat menolong seseorang dari kematian, ke dua, aku bakal mendapatkan kawan baik untuk bekerja sama mencari ikan. Eh, anak nakal, siapa namamu dan kenapa kau hendak menyaingi ikan-ikan di air, berkeliaran di dalam air Sungai Huang-ho?"



 



Melihat sikap kakek itu dan mendengar kata-katanya yang jenaka, sebuah plkiran baik menyelinap ke dalam otak Beng San. Mengapa tidak? Akan aman dia kalau berada di dekat kakek ini, me-nyamar sebagai tukang ikan, setiap hari di perahu mencari ikan. la bisa menyembunyikan diri dari Song-bun-kwi dan yang lain-lain. Tentu mereka itu tidak ada yang mengira bahwa Beng San, anak yang mewarisi Im-yang Sin-kiam dan yang mengetahui tempat sembunyi Lo-tong Souw Lee telah menjadi nelayan



 



"Kakek yang baik hati, namaku Sihuw-kui (Setan Kecil), sebatangkara di dunia ini. Kalau kau mau mengambil aku se-bagai pembantumu, ah, kakek yang baik, setiap malam aku akan bersembahyang kepada dewa-dewa sungai agar kau diberi umur panjang dan banyak rejeki."



 



Kakek itu tertawa bergelak, terlihat mulutnya yang tak bergigi. "Ha-ha-ha, siapa butuh umur panjang? Tentang rejeki, asal kau mau benar-benar membantuku, tentu banyak ikan dapat diangkat ke perahu."



 



Kakek itu adalah seorang nelayah tua bernama Gan Kai, seorang duda tua yang juga hidup sebatangkara, malah tidak mempunyai rumah tinggal, rumahnya ya perahu kecil itulah! Maka sungguh tepat sekali bagi Beng San untuk tinggal bersama kakek Gan ini, karena selain terjamin hidupnya, dia pun dapat bersem-bunyi dan setiap saat dapat berlatih ilmu silat dengan amat tekunnya, la mengambil keputusan untuk melatih dengan giat, setelah sempurna kepandaiannya, dia akan mengunjungi Lo-tong Souw Lee, kemudian dia akan mencari ayah bunda-nya, dan juga kakaknya. la tidak tahu , lagi nama orang tuanya, juga dia tidak tahu lagi nama dusunnya, akan tetapi asal dia menjelajahi di dusun-dusun tepi sungai di sekitar Kelenteng Hok-thian-tong, masa tidak akan dapat dia temukan?



 



* * *



 



Setiap orang yang mengingat-ingat masa lampau, mengenang kembali masa lampau beberapa tahun yang lalu, akan 'rnendapat kesan betapa cepatnya jalannya sang waktu. Penulis sendiri setiap kali mengenangkan masa kahak-kanaknya yang sudah puluhan tahun yang lalu, selalu merasa seakan-akan masa itu baru ter-'jadi kemarin-kemarin ini, serasa masih membayang di pelupuk mata ketika dia bermain-main dengan anak-anak lain, mencari ikan-ikan kecil di sungai, ata^ bertiduran di punggung kerbau, atau ber% main-main di bawah air hujan!



 



Memang waktu berlalu amat cepatnya, sampai-sampai tidak terasa oleh manusia di dunia. Demikian pula dengan jalannya cerita ini. Baru saja kita me-ngikuti pengalaman-pengalaman Beng San. sebentar kita tinggalkan, eh, tahu-tahu' delapan tahun sudah lewat dengan amat pesatnya!



 



Selama itu, Tlongkok mengalami ke-kacauan terus-menerus. Bahkan kekacau-an ini mempengaruhi keadaan penghidupan di dalam istana. Pangeran-pangeran yang berkuasa saling memperebutkan ke-kuasaan, saling berkomplot dengan pembesar-pembesar bu (militer), saling ja'tuh-menjatuhkan sehingga dalam jangka wak-tu kurang lebih dua puluh lima tahun (1307-1332) saja pemerintah Goan (Mo-ngol) ini sudah berganti raja sebanyak delapan kali! Ketika cerita ini terjadi, raja terakhir yang menduduki tahta adalah Kaisar Sun Ti. Di bawah tekanan Kaisar San.Ti inilah penghidupan rakyat pribumi (Han) amat tertindas dan tak tertahankan lagi. Dan mulailah timbul pemberontakan di sana-sini. Yang terbesar dan terkenal adalah Partai Teratai Putih (Pek-lian-pai) yang pada mulanya hanyalah merupakan pemberontakan dari para petani di utara yang sudah tidak kuat lagi menderita penindasan para hartawan dan bangsawan setempat. Lama S kelamaan partai ini menjadi makin kuat bahkan diikuti atau dimasuki oleh orang- re orang gagah di dunia kang-ouw sehingga merupakan kesatuan yang amat ditakuti oleh bangsawan-bangsawan Mongol. Pemberontakan-pemberontakan kecil di sana sini pecah, satu dihancurkan timbul dua, dan semenjak Kaisar Sun Ti naik tahta, kaisar ini tak pernah mengenal apa yang disebut aman dan damai di Tiongkok. Banyak pendekar-pendekar dan pahlawah-pahlawan tercatat namanya dengan tinta emas di lembaran sejarah, misalnya Liu , Hok Tung, Kok - Ci Seng, Thio Se Cheng, Tan Yu Liang, dan masih banyak lagi orang-orang gagah yang memimpin rakyat untuk menghalau penjajah Mongol dari tanah air mereka. Tiga puluh tahun lebih pemberontakan-pemberontakan ini berjalan, makin hari makin hebat sehingga akhirnya, seperti tercatat dalam sejarah pemberontakan pemberontakan inilah yang akhirnya menumbangkan kekuasaan Mongol yang menJarah daratan Tiongkok hampir seratus tahun lamanya.



 



Seperti telah disebut di atas, waktu t delapan tahun berjalan dengan amat ce» patnya dan waktu itu keadaan rnasih penuh kekacauan yang diakibatkan oleh pemberontakan-pemberontakan terhadap pemerintah Goan-tiauw.



 



Pada suatu pagi yarig cerah, di sebuah di antara puncak-puncak Pegunungan Cin-lin-san, di depan sebuah gua yane dinamai Gua Ular, nampak seoran pe-muda tengah berlutut di depan seorang kakek yang sudah tua sekali. Kalau baru melihat saja orang tentu mengira bahwa kakek ini bermata lebar, akan tetapi setelah lama memandang dan melihat bahwa mata kakek itu melotot tak per-nah berkedip, akan tahulah orang bahwa dia adalah seorang kakek yang buta matanya. Rambutnya yang putih panjang riap-riapan di kedua pundaknya, muka dan tubuhnya hanya tinggal kulit membungkus tulang belaka. Adapun pemuda yang ber-lutut itu nampaknya terharu sekali.



 



"Mohon Locianpwe sudi memberi maaf sebesarnya bahwa teecu telah meninggalkan Locianpwe bertahun-tahun. Ternyata Locianpwe masih berada di sini dan dalam keadaan menderita," terdengar pemuda itu berkata sambil memandang p tubuh yang kurus kering itu dengan perasaan kasihan.



 



Kakek itu bergoyang-goyang tubuhnya, seperti jerami kering tertiup angin. Mulutnya bergerak-gerak beberapa lama, baru terdengar dia berkata perlahan.



 



"Ah, anak baik, alarigkah bahagia rasa hatiku akhirnya dapat mendengar suara-mu. ' Akhirnya kau datang juga, hampir aku tak kuat lagi menahan....." Kakek itu lalu duduk bersila dan meraba-raba pun-dak pemuda tadi. Beberapa kali meraba-raba kemudian kakek itu berkata penuh kekaguman, "Hebat...,., aku pun dahulu tidak sekuat engkau sekarangkan main, ah, kalau saja aku mendapat kesempatan melihat..... eh, maksudku mendengar kau main Liong-cu Siang-kiam dalam Ilmu Pedang Im-yang Sin-kiam-sut, mati pun aku akan puas. Mainkanlah, mainkanlah sekali ini saja, untuk mengantar perjalananku yang amat jauh.....'' Kakek itu lalu mengeluarkan sepasang pedang yang berkilau cahayanya, memberikan sepasang pedang itu kepada pemuda tadi.



 



Sepasang mata pemuda itu berkilat-kilat tajam ketika dia melihat sepasang pedang ini. la menerima sepasang pedang itu, memeriksanya dengan teliti lalu bertanya, "Locianpwe, benarkah sepasang pedang ini yang bernama Liong-cu Siang-kiam, sepasang pedang yang selama pu-luhan tahun diperebutkan orang-orang gagah di dunia kang-ouw?"



 



Kakek buta itu tersenyum. "Beng San, apakah kau sudah lupa lagi? Bukankah dahulu kau pernah melihatnya, bahkan pernah menggunakannya ketika kau berhadapan dengan Song-bun-kwi dan Hek-hwa Kui-bo? Inilah Liong-cu Siang-kiam, pedang peninggalkan sepasapg pendekar yang sakti, yaitu pendekar sakti Sie Cin Hai pada ratusan tahun yang lalu. Pe-dang ini asalnya milik seorang pendekar terkenal sebagai seorang raja pedang. Oleh karena itu, pada jaman sekarang ini hanya kaulah, Beng San, orang yang berhak mempergunakannya, karena hanya kau yang menjadi ahli waris Im-yang Sin-, kiam-sut. Hayo, berdirilah, dan kaumain-kan Im-yang Sin-kiam-sut untukku..!" Kakek itu terengah-engah, nampaknya tegang dan gembira sekali, perasaan yang :memberi pukulan hebat pada tubuhnya yang memang sudah amat lemah..



 



Orang muda itu setelah menimang-nimang kedua pedang tadi, yang panjang di tangan kanan sedangkan yang pendek di tangan kiri, lalu bangkit berdiri, meloncat agak jauh ke tempat yang luas di depan gua itu, kemudian dia bersilat dengan amat cepat dan sigapnya. Sepasang pedang itu berkelebat menyambar-nyambar ke kanan kiri, depan belakang, dan atas bawah seperti dua ekor naga yang sedang bermain-main di angkasa!,



 



Tiba-tiba muka Lo-tong Souw Lee? yang amat kurus itu menjadi pucat pasi. Kedua lengannya dikembangkan, kedua., tangan seperti hendak mencengkeram depan dan dia berteriak, penuh kepahitan, "Heeeiii, itu bukan Im-yang Sin-kiam..... itu..... itu..... ah, kau bukan Beng San..... aduhai celaka, kau bukan Beng San.....!"



 



Terdengar suara ketawa, angin sam-baran pedang terhenti dan Lo-tong Souw Lee tidak mendengar apa-apa lagi, tanda bahwa orang muda itu sudah pergi jauh. "Beng San..... sia-sia aku menanti sampai tahunan...... aduh, mataku yang buta...... celaka....." Kakek ini terhuyung-huyung, wajahnya makin pucat, dia mendekap dadanya lalu roboh tertelungkup di depan gua itu. Dari puncak Cin-lin-san itu, bayangan pemuda tadi dengan amat cepatnya dan ringannya seperti melayang-layang turun dari jurusan ntara. Sepasang pedang tadi tidak kelihatan dia bawa lagi karena sudah dia sembunyikan di balik jubah luarnya yang panjang.



 



Kurang lebih tiga jam. Berikutnya seorang pemuda lain, yang berpakaian sederhana, rambutnya yang panjang diikat ke atas, mukanya putih sehingga alisnya yang hitam gompyok berbentuk I golok itu nampak lebih hitam lagi, sepasang matanya tajam sinarnya melebihi sinar pedang dan mempunyai wibawa yang aneh, tubuhnya tegap dadanya bidang, sepatunya sudah bolong-bolong saking tuanya, kelihatan mendaki puncak dengan tenang. Dari gerak kakinya yang tetap dan tidak tergesa-gesa dapat diketahui bahwa pemuda yang baru datang mendaki puncak Cin-ling-san ini adalah se-orang yang memiliki ketenangan lahir batin. Dilihat sepintas lalu, dia seorang pemuda biasa saja, tidak kelihatan mem-bawa senjata tajam, jadi tidak seperti seorang pemuda kang-ouw, juga tidak membawa kipas atau tanda lair yang menunjukkan bahwa dia seorang pemuda ahli sastra. Lebih patut dia disangka seorang pemuda tani.



 



Akhirnya, dengan langkah yang tak pernah mengendur akan tetapi tidak pula tergesa-gesa, pemuda ini tiba di depan Gua Ular. Ketika pandang matanya bertemu dengan tubuh kakek yang meng-geletak tertelungkup di depan gua, kedua kakinya bergerak dan tubuhnya berkelebat. Tahu-tahu dia telah berlutut di dekat tubuh kakek itu dan mengangkatnya, menyangga leher dan punggungnya di atas lengan kiri sedangkan tangan kananhya membersihkan debu dan tanah dari muka yang pucat dan kurns itu.



 



"Kakek Souw...... Kakek Souw..... kau kenapakah?"



 



Kakek itu menggerak-gerakkan biji matanya yang melotot, bibirnya bergerak-gerak dan akhirnya dia berkata dengan suara terisak, "Ah..... Beng San..... sekarang benar kau Beng San..... kenapa aku begini bodoh....?” Kakek itu terisak-isak!



 



Beng San kaget sekali. Ketika tadi mengangkat tubuh kakek ini, dia melihat bahwa Lo-tong Souw Lee tidak terluka "Ada apakah, Kakek Souw? Apa yang telah terjadi...,.?"



 



"Ah, Beng San. Aku bodoh..... orang pengecut mempergunakan mataku yang buta untuk menipuku..... pedang Liong-Siang-kiam telah diambil orarig yang mengaku sebagai kau...... dia juga memiliki ilmu tinggi..... masih muda..... sayang aku tidak tahu bagaimana bentuknya, hanya ketika kupegang pundaknya......dia..... dia memiliki tenaga dalam yang hebat....."



 



Beng San dapat menguasai hatinya. ”Sudahlah, harap kau tenang dan jangan berduka, Kakek Souw. Apa sih artinya sepasang pedang saja? Aku tidak begitu mengingininya....."



 



"Apa.....?", Tiba-tiba kakek itu berkata keras. "Sepasang pedang itu adalah punyamu! Mengerti kau? Aku sengaja bersembunyi bertahun-tahun, sengaja menahan-nahan nyawa yang sudah tak kerasan di tubuh tua dan bobrok ini, sengaja menanti-nanti datangmu untuk menyerahkan sepasang pedang itu. Sekarang pedang dicuri orang dan kau... ,, kau bilang tidak mengingininya? Lepaskan aku, lepaskan.....!" Kakek itu meronta-ronta dan terpaksa Beng San menurunkan-nya lagi keatas tanah.



 



Beng San merasa menyesal sekali. Ia merasa telah bicara seenaknya dan lancang. "Aduh, ampunkan aku, Kakek Souw. Bukan maksudku untuk menyakiti hati dan perasaanmu. Maksudku tadi hendak menghiburmu agar jangan terlalu berduka kehilangan Liong-cu Siang-kiam."



Tapi kakek itu masih marah dan kecewa. Matanya yang terbelalak itu dipejam-pejamkan, hidungnya kembang-kempis dan mulutnya meringis seperti orang menangis. Menyedihkan sekali muka yang tua itu. "Biarlah..... biar aku mampus...... aku tua bangka mampus karena sikap orang muda yang tak kenal sayang orang..... biar aku mampus karena kau ...”.



 



Beng San menjatuhkan diri berlutut. "Kakek Souw, ampunkanlah aku..... ampunkan, aku sama sekali tidak bermaksud mengecewakan hatimu. Katakanlah, apa yang harus kulakukan, aku bersumpah akan memenuhi permintaanmu."



 



”Betul kata-katamu itu?" Kakek itu menegas dengan napas terengah-engah.



 



"Betul, Kakek Souw."



 



"Kau berani bersumpah?”



 



Tanpa ragu-ragu lagi Beng San bersumpah, "Aku bersumpah, disaksikan langit dan bumi, biarlah Thian menghukum seberat-beratnya kepada aku apabila aku tidak memenuhi permintaan Kakek Souw"



 



Kakek itu nampak lega dan bangun duduk dengan payah, dibafitu oleh Beng San. "Aku tidak minta kau becbuat yang melanggar kebenaran dan keadilan, anak baik. Pertama-tama, aku minta supaya kau berusaha mencari pencuri pedang Liong-cu Siang-kiam, setelah dapat kau-temukan, kalau dia taki-laki kau harus membunuhnya. Kalau dia wanita....." Kakek itu berhenti, batuk-batuk dan agak-nya sungkan melanjutkan kata-katanya.



 



"Ya.....? Kalau dia wanita bagaimana, Kakek Souw?"



 



"Kalau dia itu wanita, kau harus menjadi suaminya"



 



"Apa.....??" Beng San melompat tinggi seperti orang yang kaget karena diserang ular. Sepasang matanya terbelalak lebar, dia merasa bulu tengkuknya berdiri. "Kakek Souw yang mulia, apa kau bicara dengan pikiran waras?



 



”Tentu saja aku waras" bentak kakek tua itumarah "Kalau pencuri pedang itu pria, dia adalah orang jahat yang berbahaya, karenanya perlu kaubunuh. Kalau dia itu wanita tentu wanita yang memiliki kepandaian tinggi, nah..... tak patut seorang gagah seperti kau membunuh wartita, maka kupikir lebih baik kau kawin saja dengannya agar Liong-cu Siang-kiam tidak terjatuh kepada orang lain."



 



"Mana ada aturan begini?" Beng San membantah. "Kalau perampas pedang itu ternyata pria, tentu akan kulihat dulu orang macam apa dia ini dan apa alasannya dia merampas pedang. Kalau dia bukan orang jahat, bagaimana aku akan dapat membunuhnya? Soal kedua, kalau dia itu wanita..... dan seorang wanita tua, atau sudah bersuarm, atau juga se-orang wanita yang aku tidak suka, bagaimana aku bisa mengawimnya? Ah, Kakek Souw, akui hanya bisa memenuhi permintaanmu, yaitu mencari sampai dapat kembali pedang Liong-cu. Siang-kiam."



 



"Jadi kau hendak melanggar sumpah?"



 



”Kakek Souw, aku takkan melanggar sumpah. Akan tetapi, aku tidak bisa melakukan hal-hal yang bertentangan dengan perikebenaran, yang bertentangan dengan suara hatiku. Kalau kauanggap penolakanku tentang membunuh orang baik-baik dan mengawini wanita secara serampangan saja kauanggap salah dan melanggar janji, nah, ini aku masih di sini. Aku menyerahkan nyawa dan raga untuk menebus pelanggaran sumpah!"



 



Tiba-tiba kakek itu tertawa bergelak, keadaannya yang tadi lemah itu mendadak seperti segar kembali. "Begitulah seharusnya seorang laki-laki!" katanya gembira. "Rela mengorbankan nyawa Sendiri daripada melakukan sesuatu yang tidak patut. Beng San, aku girang sekali telah memilih kau sebagaipewaris Liong-cu Siang-kiam!" kembali kakek itu ter-tawa-tawa. Beng San diam saja akan tetapi dia tersenyum pahit. Menerima warisan saja warisan yang tercuri orang dan harus dicari dulu. Dapat dibayangkan betapa sukarnya mencari seorang pencuri yang tidak diketahui laki-laki atau wanita, tidak diketahui rupanya, hanya di-ketahui bahwa dia masih muda dan bertenaga dalam cukup lihai.



 



"Jangan kira aku sudah gila, Beng San. Tadi pun sudah kujelaskan bahwa aku takkan minta kau melakukan hal-hal yang tidak baik. Kau pun tentu sudah dapat menyelami watakku, kalau tidak demikian, mana kau berani mengucapkan sumpah tadi? Nah, sekarang permintaanku ke dua. Kau harus mempergunakan Liong-cu Siang-kiam untuk membantu pergerakan rakyat menumbangkan pemerintah Mongol....." Kakek ini kembali kelihatan berduka dan menarik napas panjang. "Aku sendiri masih ada keturunan darah Mongol, tapi aku tidak suka melihat sepak terjang kaisar dan para pembesar bangsaku. Karena itu aku mencuri pedang. Tapi sekarang kembali kepada tugasmu. Kau harus membantu perjuangan rakyat yang hendak memperjuangkan kemerdekaannya, dengan syarat bahwa kaulakukan itu bukan untuk mencari pangkat, harta, dan kemuliaan. Setelah berhasil perjuangan, kau harus meninggalkan kedudukan dan tidak men-campurinya lagi. Bagaimaina?"



 



"Aku akan berusaha memenuhi permintaan ke dua ini, Kakek Souw, Memang aku sendiri merasa suka kalau teringat akan orang-orang gagah seperti Tan-twako yang memimpin serombongan pejuang Pek-lian pai”.



 



"Sekarang permintaan ke tiga," kata kakek itu dengan suara seperti tergesa-gesa. ”kau harus mempergunakan Liong-cu Siang-kiam untuk memainkan Im-yang Sin-kiam-sut dan merebut sebutan Raja Pedang”.



 



Beng San tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh kakek itu, maka dia memandang heran. Kakek itu yang napasnya sudah sengal-sengal! menarlk napas untuk menenangkan dadanya yang sesak, kemudian memaksa diri berkata, "Setiap dua puluh lima tahun sekali di puncak Thai-san diadaikan perebutan kejuaraan ilnu pedang yang dihadiri oleh semua tokoh persilatan. Sudah dua kali aku berusaha merebut gelar Raja Pedang, tapi selalu gagal Itulah yang menjadi sebab kedua mengapa aku mencuri Liong cu Siang-kiann. Kurang lebih dua tahun lagi akan diadakan perebutan itu, tepat dua puluh lima tahun semenjak gelar Raja Pedang dimenangkan oleh pendekar Cia Hui Gan dari selatan. Cia Hui Gan ini kabarnya masih keturunan dari pen-dekar wanita Ang-i Niocu. Semenjak itu dia mendapat julukan Bu-tek Kiam-ong (Raja Pedang Tiada Lawan). Sayang aku sudah terlalu tua, tidak kuat menghadiri perebutan itu lagi..... kau..... kau harus mewakili aku, merebut gelar itu....."



 



"Kakek Souw.....!" Beng San merang-kulnya akan tetapi ternyata napas kakek itu sudah berhenti! Beng San terharu sekali, dia merebahkan tubuh yang sudah tak bernyawa lagi itu di atas tanah, berlutut dan mulutnya bergerak dalam bisikan.



 



"Kakek Souw, mengasolah dengan tenang. Aku bersumpah akan berusaha me-menuhi pengharapanmu, aku pasti akan melakukan semua pesanmu. Mudah-mudahan saja semua akan terlaksana sebagaimana pesanmu yang terakhir."



 



Dengan sedih dan penuh hormat pe-muda ini lalu mengurus jenazah kakek Souw, menguburknya di bekas tempat pertapaannya, di Ban-seng-kok yang ter-letak di puncak Cin-ling-san. Sesudah itu dia lalu turun dari puncak, meninggaikan Cin-ling-san sebagai seorang peniuda sebatangkara yang memikul tugas yang g dipesankan oleh kakek Souw Lee, tugas yang amat berat. Namun dengan pe-nuh kepercayaan kepada diri sendiri bahwa dia pasti akan dapat memenuhi semua pesan kakek itu.



 



* * *



 



 



Manusia boleh berdaya upaya, namun Tuhanlah yang berkuasa. Sudah menjadi hak, bahkan menjadi kewajiban manusia untuk berusaha dan berdaya upaya ke arah kemajuan, ke arah perbaikan dan ke arah keadaan sebagaimana yang ia ke-fc hendaki dan inginkan. Namun tak dapat ' disangkal pula bahwa pada akhirnya, kekuasaan Tuhan yang akan menentukan bagaimana jadinya dengan segala daya upaya itu. Oleh karena itulah maka para bijaksana, para ahli pikir dan ahli filsa-fat menganjurkan agar dalam setiap ge-rak, setiap langkah dan daya upaya, se-yogianya manusia menyerahkan penentuan terakhir kepada Yang Maha Kuasa. Apa-bila hati sudah betul-betul dapat me-nyerah terhadap segala keputusan Tuhan Yang Maha Kuasa, apabila hati sudah betul-betul sadar penuh keyakinan bahwa-sanya segala apa ini, baik maupun buruk dalam penilaiannya, terjadi karena ke-hendak Yang Maha Penentu, maka ia takkan terlalu merasa sengsara apabila yang dikehendaki dan diinginkannya tidak terkabul.



 



Sudah terlalu banyak sebetulnya con-toh-contoh untuk kebenaran di atas tadi terjadi di dunia sepanjang masa. Tak usah kita mencari contoh jauh-jauh, kita kenangkan kembali pengalaman hidup diri kita sendiri. Sudah betapa seringnya ter-jadi dalam hidup kita hal-hal yang sama sekali berlawanan dengan apa yang kita inginkan? Berlawanan sama sekali dengan . apa yang kita kehendaki? Padahal sudah mati-matian kita berusaha untuk men-juruskan hal itu agar terjadi seperti keinginan kita? Tidakkah sudah terlalu sering kita merasa kecewa? Ini keliru, ini salah! Kita harus dapat menerima segala kejadian sebagai hal yang sudah semestinya begitu, betapapun pahit bagi kita. Sedapat mungkin, kita harus me-nerima pahit getir sebagai gernblengan batin, dan mencari-cari dalam diri sen-diri kesalahan apakah yang kita lakukan tanpa kita sadari sehingga hal yang tidak j kita kehendaki itu terjadi. Karena, segala akibat itu pasti bersebab dan sebab-sebab ini kalau tidak terlihat di luar, harus kita cari mendalam, mencari tak usah jauh-jauh, tapi dalam diri kita sendiri. Apabila kita benar-benar sudah menyerah-kan diri sebulatnya kepada kekuasaan Yang Maha Esa, sudah dapat dipastikan bahwa kita akan mampu nnencari kesalahan sendiri itu, kesalahan yang di-iakukan tanpa kita sendiri menyadari bahwa kita telah bertindak salah.



 



Semua manusia, baik dia itu orang biasa maupun orang besar dalam arti kata besar kekuasaannya, tinggi keduduk-annya, tetap saja harus tunduk kepada kekuasaan Tertinggi. Kaisar Dinasti Goan yang terakhir, yaitu Kaisar Sun Ti, boleh menyombongkan diri sebagai manusia besar, pewaris Kerajaan Goan yang di-bangun oleh Jenghis Khan, kerajaan yang meliputi seluruh Tiongkok, bahkan makin meluas ke barat dan ke selatan. Akan tetapi, menghadapi keadaan yang me-mang sudah ditentukan oleh Tuhan, dia berikut bala tentaranya yang besar tak berdaya. Pemberontakan tumbuh bagaikan cendawan di musim hujan. Tentu saja kelemahan Dinasti Goan ini tentu ada sebabnya seperti juga semua akibat tentu bersebab. Dinasti yang tadinya berkem-bang dan mencapai masa jaya dan masa keemasannya di waktu Kaisar Kubilai Khan bertahta itu, mulai goyah keduduk-an dan keangkerannya setelah kaisar Ini j meninggal dunia.



 



Setelah Kubilai Khan meninggal dunia, mulailah terjadi perebutan kekuasaan di antara para raja muda dan pangeran. Apabila seorang raja muda atau pangeran dapat merebut singgasana, yang lain melakukan pemberontakan dan merebut kekuasaan sehingga terjadi ganti-mengganti kaisar yang hanya menduduki tahta selama beberapa tahun saja. Apalagi di antara tahun 1307 sampai tahun 1333, H selama dua puluh enam tahun ini terjadi penobatan kaisar sebanyak delapan kali! Karena selalu ribut-ribut di dalam istana kaisar, para pembesar menumpahkan perhatiannya akan perebutan kursi, sedangkan para pejabat yang berada di luar ji istana mempergunakan kesempatan selagi orang-orang besar itu tidak memperhatikan mereka, berpesta pora mengeduk harta kekayaan untuk mengisi gudangnya sendiri-sendiri. Pemerasan terjadi dimana-mana dan akibatnya selalu rakyat yang tergencet. Semua ini ditambah dengan bertcana musim kering yang menimbulkan kekurangan bahan makan dan tak dapat dicegah lagi rakyat menderita bencana kelaparan yang hebat.



 



”Inilah yang menyebabkan terjadinya pemberontakan-pemberontakan, baik di daerah selatan maupun di utara. Memang harus diakui bahwa pemerintah Mongol itu mulai menginsyafi akan adanya ba-haya pemberontakan dan segera dapat menindih dan membasmi para pemberon-tak yang terjadi di sana-sini secara kecil-kecilan, namun mulai tahun 1351 kembali rakyat memberontak, malah kali ini amat hebat karena mereka mendapatkan pemimpin-pemimpin yang pandai. Di antara para pemimpin pemberontak ini tentu saja yang paling terkenal adalah Cu Goan Ciang yang kelak akan menjadi raja pertama dari Dinasti Beng. Adapun perkumpulan rahasia dari para pemberontak yang paling terkenal adalah perkumpulan Pek-lian-pai.



 



Belasan tahun telah lewat dan keada-an pemerintah Mongol menjadi makin lemah. Perang terjadi di mana-mana, terutama sekali di sepanjang lembah Sungai Yang-ce-kiang, Sungai Huai dan Sungai Huang-ho. Daerah ini menjadi pusat para pemberontak. Memang di antara para pemberontak ini terpecah menjadi banyak golongan yang bekerja



sendiri-sendiri atau tidak terikat satu kepada yang lain, akan tetapi dalam menghadapi pemerintah penjajah, mereka ini dapat bersatu dan saling membantu. Ada kalanya apabila tidak sedang rneng-hadapi barisan musuh, terjadi bentrokan antara dua golohgan pemberontak, akan tetapi begitu musuh datang menyerang, dua golongan yang tadinya bentrok ini segera bersatu bahu rnembahu melawan serdadu-serdadu Mongol!



Demikianlah sedikit catatan mengenai keadaan Tiongkok di masa Dinasti Goan yang dipimpin oleh Kaisar Sun Ti, Kaisar |g Mongol yang terakhir. Kpadaan di seluruh negeri kacau dan penduduk merasa selalu tidak aman. Memang demikian selalu dirasakan rakyat apabila negara' dilanda perang.



 



Perubahan besar ini amat terasa oleh Beng San yang selama delapan tahun lebih seakan-akan mengasingkan diri. Selama delapan tahun ini Beng San se-tiap hari hanya berhadapan dengan air sungai dan ikan yang dipancing atau dijaringnya bersama kakek nelayan. Tak pernah dia mendengar tentang keadaan di lain tempat, hanya mendengar bahwa pemberontakan makin menghebat.



 



Maka dapat dibayangkan betapa heran-nya melihat kesengsaraan rakyat jelata ketika dia turun dari Pegunungan Cin-ling-san. la menyaksikan para petani yang kurus-kurus dengan wajah penuh ke-bencian berbondong-bondong menggabung-kan diri dengan para pemberontak yang bersembunyi di hutan-hutan. Ketika me-masuki sebuah dusun di mana justeru sedang terjadi perang, dia menghadapi kesukaran pertama. Puluhan orang ser-dadu Goan mengepungnya dan hendak menangkapnya karena dia dituduh ang-gauta pemberontak. Beng San tidak mau melayani mereka, merobohkan beberapa orang tanpa membunuhnya, lalu lari me-ninggalkan para serdadu yang melongo terheran-heran karena melihat betapa pemuda seperti petani yang hendak me-reka tangkap itu tahu-tahu telah lenyap dari depan mata! Semenjak mengalami hal ini, Beng San berlaku hati-hati dan selalu menjauhkan diri dari para serdadu Goan yang berkeliaran di mana-mana dalam usaha mereka membasmi pemberontak.



 



Betapapun juga, kesukaran ke dua segera menyusul setelah dia tiba di kota I-kiang yang terletak di pantai Sungai Yang-ce di Propinsi Ho-pak. Kota ini masih ramai dan terjaga kuat oleh pa-sukan pemerintah. Penjagaan ketat me-ngepung tembok kota dan di dalam kota sendiri, di antara para pedagang, para penduduk dan pendatang, banyak berke-liaran mata-mata yang mengawasi gerak-gerik setiap orang secara rahasia. Beng San tentu saja .sama sekali tidak tahu akan hal ini. la memasuki kota I-kiang dan agak bergembira melihat keadaan , kota yang ramai yang sama sekali tidak menunjukkan bahwa keadaan dalam negeri sedang kacau oleh perang. la melihat adanya losmen-losmen besar kecil dan warung-warung arak berikut nasi dan bakmi. Akan tetapi karena selama hidup-nya belum pernah dia bermalam di losmen atau makan di warung, ditambah pula tidak ada sepeser pun uang di saku, dia hanya melihat-lihat dari luar saja. Kemudlan baru terasa lapar perutnya ketika hidungnya mencium bau masakan dan arak.



 



"Aku harus mencari tempat penginap-an, hari sudah mulai gelap dan perutku amat lapar," pikirnya. Seperti dulu di waktu dia masih kecil, setiap kali memasuki dusun atau kota dia mencari tempat penginapan di dalam sebuah kelenteng, maka sekarang juga dia mulai mencari-cari kelenteng untuk dijadikan tempat beristirahat.



 



Akhirnya di pinggir kota dia inen-dapatkan sebuah kelenteng besar. Akan tetapi kelenteng ini sudah kosong, hanya tinggal bangunannya yang kokoh kuat dan tiang-tiangnya yang terukir. Meja sem-bahyang tidak tampak, juga tidak ada toapekongnya. Malah patung-patung yang menghias sekeliling kelenteng sudah rusak semua dan tempat itu kotor sekali. Tidak kelihatan seorang pun hwesio di situ, sebagai gantinya, halaman depan kelen-tertg itu penuh dengan orang-orang yang pakaiannya compang-comping, terang bahwa mereka adalah golongan jembel atau orang minta-minta. Tanpa ragu-ragu Beng San memasuki halaman itu dan dia segera disambut oleh pandang rnata be-lasan orang jembel yang duduk dan tidur- g an malang-melintang di tempat itu. Seorang pengemis yang masih muda segera berkata kepadanya.



 



"Kau pengungsi dan dusun? Hendak mencari tempat menginap di sini? Silakan, banyak tempat..... banyak tempat. ? Belum makan? Mariiah, bantu habiskan hidangan raja ini'" Pengemis itu usianya takkan lebih dari empat puluh tahun, tubuhnya tinggi. kurus, mukanya kotor, cambangnya tidak terpelihara, pakaiannya dari kain tebal yang sudah kotor. Yang disebnt "hidangan raja" itu adalah bebe-rapa potong roti kering yang kelihatan-nya keras dan sudah lama, kekuning-kuningan.



 



Melihat keramahan orang, Beng San merasa tidak enak kalau menolak. Dan memang perutnya sudah lapar. la lalu duduk di sebelah orang itu, di atas lantai kelenteng.



 



"Kau baik sekali, Saudara. Terima kasih."



 



"Hayo, jangan sungkan-sungkan. Makanlah."



Beng San mengambil sepotong roti kering dan memakannya. Memang keras dan apek, akan tetapi cukup asin dan sesudah . dikunyah enak juga rasanya. Agaknya, memang roti yang baik, sayang sudah terlalu lama. Orang itu meman-dang sejenak, lalu mengeluarkan sebotol arak yang bercampur air tawar.



 



"Arak selatan ini baik sekali, sudah tua, hanya..... eh, terpaksa diperbanyak dengan air." la tersenyum dan memberi-kan botol itu kepada Beng San. Pemuda ini tersenyum pula lalu minum. la me-rasa tubuhnya segar' kembali setelah perutnya diisi.



 



"Sekarang jaman sukar, sampai seorang petani lari ke kota bercampuran dengan kaum jembel....." Orang itu menarik napas panJang dan memandang kepada Beng San. Pemuda ini tidak menjawab menoleh ke kanan kiri dan bertanya.



 



"Kenapa kelenteng ini terlantar? Melihat bangunannya, agaknya dahulu se-buah kelenteng yang besar juga."



 



"Betul dugaanmu itu," jawab pengemis, "memang kelenteng ini besar. Tapi sayang semua hwesionya telah dibasmi ? habis, sebagian terbunuh, sebagian lagi dijebloskan penjara."



 



"Kenapa?" Beng San bertanya kaget. Baru sekarang dia mendengar ada hwesio-hwesio dibunuh dan dipenjara,”.



 



"Mereka membantu pemberontak," kemudian pengemis itu bisik-bisik, "Sobat, kau petani, kenapa kau tidak ikut kawan-kawanmu? Apakah kedatanganmu ini pun hendak mengadakan pertemuan rahasia dengan anggauta pemberontak? Atau barangkali dengan anggauta Pek-lian-pai?"



 



Beng San menggeleng kepala, termenung memikirkan nasib para hwesio yang celaka itu.



 



"Kalau kau hendak mengadakan pertemuan dengan Pek-lian-pai, katakan terus terang saja, barangkali aku dapat membantumu....." Kembali orang itu berbisik.



 



"Tidak..... tidak..... aku hanya pelancong yang kemalaman di kota ini. Tenma kasih atas kebaikanmu dan terima kasih atas pemberian roti dan arak." Beng San bangkit berdiri dan mencari tempat un-tuk mengaso di sebelah dalam. la segera membersihkan lantai di sudut yang sunyi, lalu duduk bersandar dinding. Pengemis tadi hanya tersenyum dan mengikuti eerak-geriknya dengan pandang mata tajam, lalu mengangkat bahu dan membaringkan tubuhnya di lantai.



 



Sambil duduk mengaso Beng San melamun, mengenangkan semua pengalaman-nya di masa lalu. Tanpa disengaja, se-perti sudah ribuan kali dia mengalami, dia terbayang akan wajah-wajah orang yang pernah dia kenal. Wajah orang-orang yang ganti-berganti terbayang di depan matanya, yang membuat dia kadang-kadang merasa marah, girang, terharu. la tersenyum geli kalau mengenangkan wajah Kwa Hong, bocah yang galak dan cantik manis, yang selalu memakinya bunglon itu. la menjadi gemas kalau mengenangkan wajah orang-orang yang pernah mengganggunya, yang pernah berbuat jahat kepadanya. Akan tetapi semua bayangan ini lenyap tak membekas apa-bila muncul wajah seorang anak perem-puan yang berpakaian merah, yang memandang kepadanya dengan mulut mungil tersenyum-senyum, dengan sepasang mata yang lebar dan bening, dengan tangan bergerak-gerak memberi isyarat. Wajah Bi Goat, si bocah gagu! Segera dia menjadi termenung, matanya sayu memandang jauh, hatinya penuh keharuan. Di manakah dia sekarang? Apakah masih ikut Song-bun-kwi si kakek iblis itu?



 



Beng San sudah hampir pulas ketika tiba-tiba dia mendengar suara bisik-bisik yang cukup jelas dan mencurigakan. Segera dia membuka mata dan memasang pendengaran. Ternyata bahwa para pengemis yang tadinya malang-melintang di halaman kelenteng itu hanya tinggal beberapa orang saja lagi. Yang lain sudah tidak ada, termasuk orang yang tadi memberinya makan dan minum. Adapun suara-suara bisikan itu terdengar dari sebelah dalam kelenteng, agak jauh dari tempat dia mengaso. Namun berkat ke-pandaiannya Beng San dapat menangkap suara bisik-bisik itu. Alangkah herannya ketika dia mendengar suara pengemis yang baik hati tadi berbisik.



 



"Betulkah penyelidikanmu itu? Kalau begitu tak bisa salah lagi, mereka itu tentulah kaum Pek-lian-pai yang mengadakan hubungan dengan hartawan Ong! Hayo siap semua, seorang melapor kepada Kui-ciangkun supaya menyiapkan barisan mengepung gedung Ong-wangwe (hartawan Ong). Kau dan dua orang teman lagi menjaga baik-baik di sini. Awas, pemuda tani yang tampan itu juga mencurigakan. Ringkus saja dia sebelum dapat melakukan hal-hat yang tidak menguntungkan. Kalau dia melawan, bunuh saja!"



 



Suara kaki terdengar bergerak-gerak dan keadaan sunyi kembali. Beng San menanti dengan hati penuh curiga, tapi dia masih belum dapat menduga siapakah adanya pengemis yang aneh itu dan siapa pula teman-temannya yang diajak berunding tadi. Kemudian di dalam gelap dia melihat bayangan tiga orang itu pan-dai ilmu silat, malah memiliki ilmu me-1 ringankan tubuh yang baik sekal. lal masih belum yakin betul apakah yang dimaksudkan dengan ”pemuda tani yang tampan" tadi dia orangnya. Baru dia merasa yakin setelah tiga orang itu di^ dalam gelap menubruk dan meringkusnya!



 



"Eh, eh..... mengapa kalian menangkap aku?" Beng San memprotes, penuh keheranan, akan tetapi juga marah.



 



"Diam kau, petani busuk! Kau kaki tangan pemberontak!"



 



"Bohong! Aku- bukan petani, juga bukan pemberontak."



 



"Semua petani adalah pemberontak, jangan melawan kaiau tidak ingin mampus!" Seorang di antara mereka meng— ayun tangan ke arah muka Beng San.



 



Biarpun di dalam gelap, pemuda ini dapat rnengetahui datangnya pukulan. la mengelak, kedua lengannya bergerak dan di lain saat tiga orang peringkusnya itu telah terlempar cerai-berai ke belakang dan ketika mereka mengaduh-aduh dan bangun, ternyata pemuda yang tadi me-reka ringkus itu telah lenyap tak ber-bekas lagi!



 



Dengan penuh kegemasan Beng San meloncat keluar, terus naik ke atas genteng. Di dalam gelap dia masih melihat sesosok bayangan beberapa orang berlari menuju ke dalam kota. Cepat dia meng-ikuti setelah mendapat kenyataan bahwa peorang dj antara mereka adalah pengemis .tinggi kurus yang ramah, yang tadi ber-bisik menyuruh kawan-kawannya meringkusnya. la mengikuti dengan diam- | diam, ingin tahu apa yang hendak mere.ka lakukan. Disuatu tikungan jalan, para pengemis ini bertemu dengan sepasukan tentara pemerintah. Segera mereka ber-bisik-bisik dan bergabung menjadi satu, kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke sebuah gedung besar yang berdiri di tengah kota. Dengan cepat tapi teratur sekali mereka yang terdiri dari tiga pu-luh orang lebih ini merayap dan me- i ngurung rumah gedung itu.



 



Beng San tetap mengikuti mereka dan dia dapat menduga bahwa ini tentulah gedung hartawan Ong seperti yang di-rundingkan oleh para pengemis tadi. Ia bersiap sedia menolong karena maklum t bahwa keluarga hartawan Ong itu pasti berada dalam ancaman malapetaka. Akan tetapi para pengurung itu segera men-dapat kenyataan bahwa rnereka keliru. Dengan tanda suitan para pengurung 'te menyerbu ke dalam dan..... rumah gedung itu telah kosong! Tak seorang pun manu" sia tinggal di situ, agaknya burung-burung yang hendak mereka tangkap sudah terbang jauh sebelumnya.



 



Untuk melampiaskan kemarahan dan kekecewaan mereka, para tentara dan mata-mata yang berpakaian pengemis stu menggeledah gedung, tentu saja tifJak lupa untuk mengantongi barang-bardng berharga- yang kecil-kecil dan merusak yang besar karena tak dapat mereka bawa. Beng San menyaksikan ini semua dan menarik napas panjang. Baru pertama kali setelah dia turun gunung dia menyaksikan kelakuan para tentara pemerintah yang tiada ubahnya seperti perampok-perampok itu. Dan diam-diam dia kagum kepada Pek-lian-pai yang se-kali lagi telah dapat menipu mereka. Sambil tertawa kecil Beng San teringat kepada Tan Hok. Orang tinggi besar seperti raksasa itu juga pernah menipu pasukan pemerintah penjajah. Agaknya yang memimpin rombongan orang Pek-lian-pai' di kota ini juga bukan seorang bodoh.



 



Dengan hati puas melihat para kaki tangan pemerintah penjajah itu marah-marah dan tertipu, Beng San diam-diam meninggalkan tempat pengintaiannya dan | di dalam gelap dia melihat seorang pe-B ngemis tua terbongkok-bongkok dari de-pan menghampirinya.



 



"Kasihanilah orang tua' kelaparan, Kongcu (Tuan Muda)....." pengemis tua itu mengeluh.



 



Beng San menghela napas panjang. "Maafkan, Lopek. Aku sendiri tidak pu-nya apa-apa, uang sepeser pun tidak punya, foti sekerat pun, tidak ada. Apa yang harus kuberikan kepadamu?"



 



"Kasihan, orang muda sengsara. Kalau begitu aku yang harus memberikan sesuatu kepadamu." la mengulur tangan dan memberikan sebuah benda kecil kepada Beng San. Sebelum hilang herannya, Beng San sudah menerima benda itu dan pengemis tua tadi sudah terbongkok-bongkok lagi pergi dari situ. Benda itu ternyata hanyalah selipat kertas. Dibawanya benda 1 itu ke bawah lampu penerangan di pojok sebuah rumah dan dibacanya tulisan di atas kertas.



 



Adik Beng San,



 



Aku dan kawan-kawan berada di perahu-perahu nelayan sebelah selatan kota. Datanglah, kami mengharapkan bantuanmu.



 



Tertanda: TAN HOK



 



Tan Hok di sini? Beng San tersenyum girang. Pantas saja serdadu-serdadu itu tertipu, kiranya pemuda raksasa yang kelihatan bodoh tapi ternyata cerdik sekali itu berada di sini memimpin para pejuang! Isi: menjadi makin kagum akan kecerdikan Tan Hok dan kawan-kawannya yang ternyata segera dapat mengenalnya setelah berpisahan selama delapan tahun. Surat itu diremasnya hancur lalu dia me-nyelinap di antara kegelapan malam menuju ke arah selatan. Setelah dia tiba di 1 sebelah selatan kota yang sunyi, dia melihat banyak perahu nelayan di pinggir sungai dan tak seorang pun manusia tam-pak. Selagi dia kebingungan, tak tahu di mana adanya Tan Hok dan kawan-kawannya, dia melihat bayangan orang yang dengan cepatnya berkelebat di dekat kumpulan perahu. Biarpun bayangan itu berkelebat cepat luar biasa, namun mata Beng San yang tajam masih dapat melihat jelas bahwa bayangan itu adalah tubuh seorang yang langsing seperti tu-buh seorang wanita, dan bahwa orang itu memiliki ilmu yang tinggi. la segera berjalan seperti biasa agar orang itu tidak akan tahu bahwa dia pun tadi mempergunakan ilmu lari cepat. Di tempat seperti ini yang penuh rahasia, penuh pertentangan dan dalam keadaan perang, dia harus berlaku hati-hati agar jangan sampai menimbulkan kecurigaan dan ka-renanya tanpa disengaja merugikan Tan Hok dan kawan-kawannya. Bayangan itu dalam sekejap mata saja lenyap.



 



Tak lama kemudian, muncul bayangan orang bongkok dari kumpulan perahu, yang berjalan menghampirinya.



 



"Kasihanilah orang tua kelaparan, Kongcu....." bayangan ini berkata.



 



Beng San berdebar jantungnya. Ini!ah „ pengemis tua yang tadi memberi surat kepadanya. Tanpa ragu-ragu lagi mendekati, "Lopek, di mana Tan-twako?" ia bertanya langsung.



"Kakek pengemis" itu memberi isyarat dengan tangan supaya Beng San mengikutinya dan..... ternyata kakek ini sama sekali tidak bongkok, malah kini dapat berjalan cepat dan tangkas. Kakek itu tidak membawanya ke tempat di mana perahu-perahu berkumpul, melainkan se-baliknya, menuju ke sebuah hutan kecil di tepi sungai! Dan di tengah-tengah hutan itulah Tan Hok dan belasan orang temannya berkelompok, duduk bercakap-cakap dengan suara bisik-bisik. Mereka bersikap amat hati-hati, bahkan api ung-gun saja mereka tidak berani bikin, pada-hal malam itu dingin sekali dan di hutan itu banyak nyamuknya. Hanya sebuah lampu yang dikerodong kertas merah dinyalakan orang, cukup menerangi wajah mereka yang duduk di dekat lampu. Di antara orang-orang itu, Beng San melihat wajah Tan Hok. Masih seperti dulu, de-lapan tahun yang lalu. Masih tampan, gagah, dan tinggi besar seperti raksasa. Tubuhnya yang tinggi besar itu menjulang satu kaki lebih di atas kepala teman-temannya.



 



"Tan-twako.....!" Beng San segera maju memberi hormat.



 



"Ha-ha-ha, Adik Beng San, kau sudah dewasa sekarang!" Tan Hok melompat bangun dan memeluknya, menepuk-nepuk pundaknya. Dua pasang tangan saling berpegang erat dan keduanya tersenyum girang.



 



"Tan-twako, harap kau dan teman-teman yang lain hati-hati. Tadi aku melihat bayangan orang menyelinap di an-tara perahu-perahu," bisik Beng San.



 



Tan Hok menoleh kepada kakek yang tadi menyambut Beng San. "Betulkah itu» Ciu-siok (Paman Ciu)?"



 



Kakek itu berkata dengan suara menghibur, "Aku hanya melihat kedatangan saudara Beng San seorang. Tidak ada bayangan orang lain. Kalau pun ada dan aku sendiri tidak melihat, dia takkan dapat terlepas dari penjagaan teman-teman kita."



 



Tan Hok keiribali menghadapi Beng San. "Jangan kau khawatir, Adik Beng San. Kami sudah menaruh penjaga-penjaga di setiap sudut daerah ini. Apabila betul ada orang mengintai tempat ini, pasti akan diketahui oleh para penjaga kami itu." la tertawa lagi dan memandang kepada Beng San dengan kagum.



 



Diam-diarn Beng San tidak membenarkan pendapat ini. Orang tadi terlalu cepat gerak-geriknya, mungkin sekali t takkan dapat terlihat oleh para penjaga pikirnya. Akan tetapi, tentu saja dia merasa tidak enak kalau menyatakan ' pikiran ini dengan kata-kata, , khawatir kalau-kalau disangka meremehkan para penjaga. Maka dia diam saja.



 



"Adik Beng San. Perbuatanmu di dalam kelenteng tadi hebat. Ternyata kepandaianmu sudah maju pesat. Sayang kau tidak membalas anjing-anjing Mongol yang hendak menangkapmu itu dengan pukulan mematikan."



 



Beng San kaget. Kiranya Tan Hok sudah memasang mata-mata di mana-mana sampai tahu pula tentang kejadian di dalam kelenteng tua di mana dia hen- i dak ditangkap oleh para serdadu Mongol yang menyamar sebagai kaum jembel. Akan tetapi hatinya lega mendengar kata-kata Tan Hok yang menyatakan bahwa orang raksasa ini masih belum tahu bahwa dia telah memiliki kepandat-an yang tinggi.



 



"Ah, Tan-twako, kiranya kau sudah mengetahui pula hal itu. Aku hanya me-rasa kaget dan juga penasaran mengapa aku yang tidak punya kesalahan hendak ditangkap. Maka setelah berhasil melolos-kan diri, aku lalu lari pergi. Kau me-nyuruh or;ang memanggilku dan mengirim surat mengharapkan bantuanku, sebetulnya bantuan apakah yang dapat kulakukan untukmu?"



 



"Sebelum kau mendengar tentang ban-tuan yang dapat kaulakukan untuk kami, lebih dulu akan kujelaskan kepadamu tentang keadaan-keadaan selama ini. Adik Beng San, selama bertahun-tahun ini, ke mana saja kau pergi dan apakah kau sudah mengetahui tentang keadaan perjuangan?"



 



Beng San menggeleng kepala, wajah-nya berubah sedikit karena dia merasa jengah dan malu. "Aku..... aku bekei-ja membantu seorang nelayan, dan baru sasa aku memasuki dunia ramai, aku tidaK tahu apa-apa, Twako."



 



"Nah, kaudengar baik-baik penuturan-ku." Dengan panjang lebar Tan Hok lalu menceritakan keadaan pemberontakan yang makin lama makin hebat itu. Men-ceritakan pula betapa rakyat yang di-pimpin oleh pendekar-pendekar besar melakukan perlawanan terhadap pemerin-tah Mongol dan sedikit demi sedikit su-dah memperoleh kernajuan dan kemenang-an. Tan Hok sendiri dengan teman-temannya, para anggauta Pek-lian-pai yang dia pimpin, sekarang bekerja langsung di . bawah pemimpin besar pemberontak, Ciu Goan Ciang! Malah pemuda raksasa ini mendapat kepercayaan dari Ciu Goan Ciang dan melatihnya dengan beberapa macam ilmu silat tinggi. Kemudian Tan Hok menceritakan tentang keadaan para partai -besar persilatan. Ketika dia ber-cerita -tentang Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai, Beng San mendengarkan penuh gai-rah. Di antara para partai persilatan, hanya dua partai besar ini pernah dia ketahui, bahkan secara langsung dia per-nah berhubungan dengan kedua partai itu. la pernah berdiam di Hoa-san, mengenal ketuanya, mengenal pula murid-muridnya, yaitu Hoa-san Sie-eng dan cucu-cucu muridnya, Kwa Hong, Thio Ki, Thio Bwee, dan Kui Lok. Adapun tentang Kun-lun pai, biar dia tidak mempunyai hubungan langsung, namun dia pernah membela murid Kun-lun yang bernama Pek-lek-jiu Kwee Sin. Pernah pula dia melihat dua orang Kun-lun, Bun Si Teng dan Bun Si Liong, tewas di depan kakinya dan menerima pesan Bun Si Teng agar dia membela dan melindungi anak jago Kun-lun ini yang bernama Bun Lim Kwi. Semua ini masih terbayang di depan matanya seakan-akan baru terjadi kemarin hari. Maka, tidak aneh kalau sekarang dia mendengarkan penuturan Tan Hok dengan penuh perhatian.



 



Tan Hok menarik napas panjang. ”Sayang" ia melanjutkan ceritanya, karena yang dilancarkan oleh Ngo-lian-kauw siasat liclk dan penuh Kecurangan dari ketua Ngo-lian-kauw, dua partai besar itu. Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai, dapat diadu domba dan terpecah-belah, menjadi dua partai yang selalu bermusuh-an Padahal dulu partai itu kalau dapat membantu perjuangan rakyat menumbang-kan kekuas'aan penjajah, kedudukan para pejuang akan menjadi lebih kuat lagi. Semua ini adalah gara-gara ,kelemahan hati jago muda Kwee Sin....." Kembah Tan Hok menarik napas panjang.



 



"Bagaimana dengan dia? setelah dia dulu dilarikan oleh Hek-hwa Kui-bo I Beng San tak sabar lagi bertanya.



 



 



"Kau tahu tentang itu?" Tan Hok bertanya heran, tapi lalu disambungnya, "Kau memang anak aneh, ini sudah ku-ketahui semenjak pertemuan kita yang pertama. Kau tanya tentang Kwee Sin? 3usteru dia itulah yang menjadi biang keladi semua pertentangan, karena hati-nya yang lemah, mudah roboh menghadapi bujuk rayu dan kecantikan ketua Ngo-lian-pai. Pek-lek-jiu Kwee Sin, jago yang berkepandaian tinggi itu setelah dilarikan fihak Ngo-lian-pai, menjadi makin binal dan tergila-gila kepada ketua Ngo-lian-pai yang berjuluk Kim-thouw Thian-li. Hanya beberapa bulan setelah dua orang suhengnya, yaitu dua saudara Bun tewas dalam pertempuran di Hoa-san meng-hadapi murid-murid Hoa-san-pai, Kwee i Sin bersama kekasihnya, ketua Ngo-lian-pai dan beberapa orang tokoh Ngo-lian-kauw, bahkan diam-diam dibantu oleh Hek-hwa Kui-bo, menyerbu Hoa-san, berhasil melukai Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa, malah berhasil membunuh Thio Wan It dan Kui Keng. Mereka meninggalkan yang luka dan menyatakan bahwa mereka membunuh dua orang tokoh Hoa-san itu untuk menebus kematian dua saudara Bun dari Kun-lun-pai."



 



Beng San membelalakkan matanya "Hebat.....!" Dan hatinya terasa perih penuh kasihan ketika dia teringat kepada Thio Ki, Thio Bwee, dan Kui Lok yang kematian ayah mereka. "Bagaimana de-ngan ketua Hoa-san-pai, apakah dia tidak membantu murid-muridnya?"



 



"Tentu saja Lian Bu Tojin turun ta-ngan, akan tetapi dengan adanya Hek-hwa Kui-bo, dia tidak berdaya banyak. Semenjak itu, permusuhan selalu terjadi antara Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai."



 



"Kenapa Kun-lun-pai terbawa-bawa dalam hal ini? Bukankah Kwee Sin me-nyerbu Hoa-san-pai atas kehendaknya sendiri dan bersama orang-orang Ngo-lian-kauw, tidak atas kehendak Kun-lun-pai?"



 



"Hoa-san-pai rupa-rupanya tidak mau tahu akan hal ini, karena ke mana mere-ka harus mencari Kwee Sin? Kwee Sin semenjak itu lenyap bersama Ngo-lian-kauw dan celakanya, secara rahasia Kwee Sin membantii Ngo-lian-kauw memusuhi partai-partai yang membantu para pe-juang! Kalau dulu kedua partai besar itu, baik Hoa-san-pai maupun Kun-lun-pai, hidup tenang dan darnai, sekarang kedua-nya mengumpulkan bekas-bekas murid mereka dan membentuk kekuatan yang terdiri dari murid-murid yang pandai, selalu siap untuk saling gempur."



 



Beng San mendengarkan dengan ke-ning berkerut. "Sayang sekali....." hanya demikian komentarnya. la benar-benar merasa menyesal sekali mengapa per-musuhan yang terang-terangan disebabkan oleh Ngo-lian-kauw itu bisa sampai demikian berlarut-larut. Akhirnya, rasa penasaran membuat dia berkata, "Kalau kedua partai sudah tahu bahwa permusuhan itu disebabkan oleh tipu muslihat ketua Ngo-lian-kauw, kenapa mereka tidak memusuhi Ngo-lian-kauw saja?"



 



"Mereka pun kedua fihak sudah mulai melakukan permusuhan dengan Ngo-lian-kauw, akan tetapi dendam di antara Hoa-san dan Kun-lun agaknya lebih parah dan mendalam."



 



 



Dengan panjang lebar Tan Hok menuturkan semua kejadian yang diketahuinya dan diam-diam Beng San girang sekali bahwa dia bertemu dengan raksasa ini karena ternyata pengetahuan Tan Hok , tentang dunia kang-ouw dan scmua peristiwa yang terjadi, amat luas. Sekarang j menjadi jelas bagi Beng San apa yang telah terjadi selania dia pergi menyem» bunyikan diri sebagai nelayan. Betapapuh luas pengetahuan Tan Hok tentang dunia kang-ouw, ketika ditanya tentang Song-bun-kwi, Hek-hwa Kui-bo dan lain-lain tokoh sakti itu, Tan Hok menggeleng-geleng kepalanya. "Orang-orang seperti mereka itu bukan manusia biasa lagi. Tentu saja mereka tidak peduli tentang perjuangan, karena mereka termasuk orang-orang aneh yang selalu berbeda de-ngan manusia biasa. Bagaimana bisa mengikuti jejak mereka? Andaikata me-reka ikut pula mencairpuri urusan perjuangan, baik yang membela pejuang maupun yang membela Kerajaan Goan, tentu mereka lakukan dengan sembunyi-sembunyi."



 



Agak kecewa hati Beng San karena sebenarnya maksud pertanyaannya ten-tang orang-orang sakti itu ditujukan untuk mengetahui berita tentang seorang anak perempuan gagu!



 



"Twako, setelah kauceritakan semua itu kepadaku, agaknya fidak ada sesuatu yang mendorong kau membutuhkan bantu-anku. Kalau yang kaumaksudkan dengan bantuan itu adalah permintaari seperti dahulu agar aku masuk menggabungkan diri dengan Pek-lian-pai, terpaksa aku tak dapat memenuhi permintaanmu. Aku suka membantu perjuangan Pek-lian-pai, akan tetapi tidak suka terikat oleh se-suatu perkumpulan kemudian terlibat ke dalam permusuhan-permusuhan yang saling mendendam."

Comments

Popular posts from this blog

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…