Skip to main content

Pendekar Buta 3 -> karya : kho ping hoo

Pada saat rombongan lima belas orang anggauta Kui-houw-pang itu lari mengejarnya, Kun

Hong tengah berjalan perlahan-lahan menuruni puncak sambil berdendang dengan sajak

ciptaannya sendiri yang memuji-muji tentang keindahan alam, tentang burung-burung,

bunga, kupu-kupu dan anak sungai. Tiba-tiba dia miringkan kepala tanpa menghentikan

nyanyiannya. Telinganya yang kini menggantikan pekerjaan kedua matanya dalam banyak

hal, telah dapat menangkap derap kaki orang-orang yang mengejarnya dari belakang.

Karena penggunaan telinga sebagai pengganti mata inilah yang menyebabkan dia

mempunyai kebiasaan agak memiringkan kepalanya kalau telinganya memperhatikan

sesuatu.



Dia terus berjalan, terus menyanyi tanpa menghiraukan orang-orang yang makin mendekat

dari belakang itu.



"Hee, tuan muda yang buta, berhenti dulu!" Hek-twa-to berteriak, kini dia menggunakan

sebutan tuan muda, tidak berani lagi memaki-maki karena dia amat berterima kasih

kepada pemuda buta ini.



Kun Hong menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuh perlahan, mulutnya

tersenyum lebar namun kedua telinga tetap waspada mendengarkan dan mengikuti segala

gerak-gerik di sekitarnya. Tentu saja dia mengenal suara perampok kasar yang dia jumpai

pagi tadi, akan tetapi dia pura-pura tidak mengenalnya dan bertanya,



"Saudara siapa dan apa maksud saudara mengejar aku si buta ini?" Dia tahu bahwa orang

kasar itu kini menjura kepadanya, membungkuk-bungkuk beberapa kali tanda

penghormatan. Gerakan tubuh ini saja tak dapat terlepas daripada pendengarannya yang

amat tajam melebihi orang biasa yang tidak buta. Hal ini amat menggirangkan dan

melegakan hatinya karena dia dapat menduga bahwa kedatangan belasan orang ini kiranya

tidak mengandung niat jahat.



"Tuan muda, saya Hek-twa-to datang untuk minta maaf atas kelancangan saya pagi tadi

dan untuk mengembalikan bungkusan pakaianmu,"



Wajah itu makin berseri, senyuman makin melebar ketika dia mengulurkan tangan untuk

menyambut bungkusan. "Ah, terima kasih, twako. Sebetulnya aku tidak begitu

membutuhkan pakaian ini, akan tetapi kalau kau tidak memerlukan, baik kuterima untuk

pengganti kalau yang kupakai sudah kotor. Berada padaku atau padamu sama saja, pakaian

gunanya untuk dipakai, siapapun yang memakainya tidak menjadi soal. Terima kasih." Dia

menggantungkan buntalan pakaian itu di pundaknya.



Hek-twa-to menjura lagi. "Juga saya menghaturkan terima kasih atas pertolongan sinshe

(sebutan untuk tabib) yang telah menyembuhkan luka di dalam dadaku."



Kun Hong tertawa. "Tidak perlu berterima kasih. Yang menyembuhkan adalah kau sendiri,

Twako. Ketika kau menggunakan tenaga menghantam ke depan tadi, hawa pukulan

tertahan oleh jalan darah yang buntu merupakan kekuatan yang hebat. Aku hanya



membantu membuka jalan darah itu sehingga hawa itu menerobos dan sekaligus

menghalau hawa beracun yang mengeram di tubuhmu. Sama sekali tidak perlu berterima

kasih."



Hek-twa-to terkejut. Kiranya si buta ini yang menyentuh dadanya. Kenapa dia tidak

melihatnya sama sekali? Setelah saling pandang penuh keheranan dengan kawan-kawannya,

dia lalu menjura lagi dan berkata,



"Sekarang kami minta dengan hormat agar Sinshe suka ikut dengan kami ke tempat tinggal

kami di sebelah barat bukit ini..........."



"Sayang, tidak bisa..........." Kun Hong memotong, "aku adalah seorang manusia bebas,

tidak mau terikat oleh segala budi. Terima kasih, Twako, biarlah aku melanjutkan

perjalananku seenaknya dan harap kau dan teman-temanmu kembali."



Seorang kawan Hek-twa-to yang paling kasar wataknya di antara para perampok itu

menjadi marah dan berteriak, "Kita gusur saja tabib buta yang sombong ini!"



Kun Hong tersenyum sabar, maklum bahwa dia berhadapan dengan orang-orang kasar yang

berwatak keji. "Aku adalah seorang buta lagi miskin tidak memiliki apa-apa, juga aku akan

mengalah kalau kalian menghendaki barang-barangku kecuali bungkusan obat dan tongkat

ini. Akan tetapi jangan harap aku akan suka menuruti paksaan orang, sungguhpun paksaan

untuk menjamuku dengan hidangan-hidangan mahal."



"Tong-te, kau tutup mulutmu!" bentak Hek-twa-to kepada kawannya yang kasar itu,

kemudian dia menghadapi Kun Hong lagi. "Siauw-sinshe, harap kau maafkan temanku yang

lancang mulut ini. Sesungguhnya kami mengharap kau suka ikut dengan kami karena kami

perlu pertolonganmu untuk mengobati ketua kami dan dua puluh orang lebih teman-teman

kami yang menderita luka-luka berat. Harap kau suka menolong kami seperti kau telah

lakukan kepadaku tadi. Jangan khawatir, untuk biaya pengobatan ini, berapapun juga kau

minta, ketua kami sudah pasti akan memenuhinya."



Berkerut kening di muka yang tampan itu. Kun Hong maklum bahwa orang-orang ini bukan

orang-orang baik, tentu ketuanya juga bukan orang baik. Agaknya golongan hitam

pengacau rakyat. Sebetulnya mengingat keadaan mereka, tidak patut ditolong. Akan tetapi

dia dapat membayangkan betapa sengsaranya mereka yang menderita sakit itu dan hatinya

yang penuh welas asih tidak kuasa menahan hasratnya hendak menolong.



"Hemm, begitukah? Kalau kalian mengundangku untuk menolong orang-orang sakit, lain lagi

halnya. Tak usah bicara tentang upah, kalau aku berhasil dapat mengurangi rasa nyeri yang

mereka derita, sudah cukup bagus untukku. Mari kita berangkat."



Berangkatlah rombongan itu turun bukit. Akan tetapi biarpun tongkatnya dituntun Hek-

twa-to, seorang buta sebagai Kun Hong tentu saja tidak dapat berjalan cepat. Rombongan

itu tidak sabar dan ketika Hek-twa-to mengusulkan untuk menggendong tabib buta itu, Kun



Hong tidak menolak. Maka digendonglah pemuda itu oleh Hek-twa-to yang kuat dan

rombongan ini berlari-lari turun bukit dengan cepat.



Makin curiga hati Kun Hong. Di atas gendongan, dia dapat mengira-ngira tingkat

kepandaian mereka. Ilmu lari cepat mereka lumayan tanda bahwa mereka ini, terutama

Hek-twa-to, memiliki kepandaian silat. Ketua mereka tentu seorang kosen. Kalau sampai

ketua mereka terluka, juga dua puluh orang lebih anak buahnya, alangkah tangguhnya

musuh mereka. Dan mengingat sikap mereka yang jahat, agaknya yang menyebabkan

mereka luka-luka itu tentulah seorang pendekar. Berkali-kali dia menarik napas panjang di

atas gendongan Hek-twa-to. Pendekar itu merobohkan dan melukai orang-orang karena

tugasnya sebagai pendekar yang membasmi kejahatan. Akan tetapi dia pergi akan

menyembuhkan mereka, juga hal ini karena tugasnya sebagai seorang ahli pengobatan yang

tidak boleh memilih penderita, baik dia kaya atau miskin, jahat atau tidak.



Ketika ketua Hui-houw-pang dan para tamunya yang terdiri dari jagoan-jagoan di dunia

kang-ouw dan bu-lim itu melihat bahwa tabib buta itu ternyata hanya seorang laki-laki

yang masih amat muda, mereka terbelalak keheranan, saling pandang dan ragu-ragu. Para

tamu yang hadir di situ adalah undangan-undangan Lauw Teng, terkenal sebagai tokoh-

tokoh kang-ouw. Malah di antaranya terdapat seorang tosu muka bopeng (burik) yang

mempunyai sinar mata tajam berkilat dan di punggungnya tergantung sepasang pedang

tipis. Mereka ini banyak mengenal orang pandai, malah pernah mendengar tentang setan

obat Toat-beng Yok-mo, sudah banyak melihat tabib-tabib pandai. Akan tetapi belum

pernah mereka melihat seorang ahli pengobatan masih begini muda. Tidak mengherankan

apabila mereka memperdengarkan suara mencemooh dan memandang rendah.



Ketua Hui-houw-pang kecewa sekali. Diam-diam dia marah kepada Hek-twa-to yang

dianggapnya membohong dan menipu. Untuk menutupi kekecewaannya, dia bertanya

dengan nada suara keras memandang rendah.



"Heh, orang muda buta. Apakah kau yang telah menyembuhkan Hek-twa-to seorang

anggautaku?"



Kun Hong tidak tahu siapa yang bicara dengannya, akan tetapi terang bahwa dia ini adalah

ketua yang dimaksudkan oleh Hek-twa-to tadi, entah ketua apa. Dia tersenyum dan

menjawab, "Dia yang menyembuhkan dirinya sendiri, aku hanya membantu." Kata-katanya

halus, akan tetapi sama sekali tidak merendahkan diri atau menghormat. Ketua Hui-houw-

pang yang biasanya disembah-sembah oleh anak buahnya yang pandai menjilat, ditakuti

semua orang, mendongkol juga melihat dan mendengar sikap orang buta ini.







"Orang buta, jangan kau main-main di sini. Apakah benar kau pandai mengobati orang sakit

dan terluka?"



"Tidak ada orang pandai di dunia ini, sahabat. Yang pandai hanya Tuhan, Aku hanya diberi

pengertian tentang pengobatan, pengertian kecil tak berarti. Kalau Tuhan menghendaki,

tentu akan menyembuhkan orang sakit."



"Dengar, orang muda. Kami dua puluh orang lebih menderita luka-luka. Kalau kau bisa

menyembuhkan kami, berapa saja upah yang kau minta, akan kubayar. Akan tetapi kalau

ternyata kau tidak mampu menyembuhkan kami, hemm, jangan tanya akan dosamu, kau

tentu akan kubunuh mampus karena kau telah mengetahui keadaan kami. Sanggupkah

kau?"



Diam-diam Kun Hong mendongkol sekali. Tidak salah dugaannya tadi bahwa ketua ini

tentulah orang yang berwatak keji pula. Namun sesuai dengan wataknya yang sabar dan

bijaksana, wajahnya tetap tersenyum.



"Aku selalu siap mengobati orang sakit. Sembuh atau tidaknya terserah ke dalam tangan

Tuhan. Kalau dapat sembuh, aku tidak menentukan upahnya, terserah kepada penderita

sakit. Kalau tidak dapat sembuh, itu sudah nasibnya, mengapa kau hendak membunuhku?

Bukan kau yang memberi kehidupan pada tubuhku, bagaimana kau bisa bicara tentang

mengambilnya, sahabat?"



Tiba-tiba terdengar suara ketawa melengking tinggi disusul suara halus,

"Lauw-sicu, omongan bocah ini ada isinya, kau berhati-hatilah!"



Kun Hong tercengang, kiranya di tempat itu terdapat orang pandai, pikirnya. Pembicara ini

adalah seorang kakek berusia lima puluhan, memiliki Iweekang yang kuat dan pandang

mata yang tajam. Semua ini dapat dia mengerti dari pendengarannya, tentu saja dia tidak

tahu bahwa kakek yang bicara itu adalah seorang tosu yang bermuka burik, seorang di

antara para tamu undangan. Kun Hong agak miringkan kepalanya dan dia dapat mendengar

betapa tuan rumah bersama kakek yang bicara tadi kini menggerak-gerakkan tangan dan

jari, agaknya saling memberi isyarat agar apa yang mereka kehendaki tidak terdengar

olehnya.



"Sinshe muda," kata Lauw Teng suaranya agak berubah, tidak segalak tadi, "biarlah

kuanggap saja kau memang pandai mengobati. Nah, kau mulailah mengobati seorang anak

buahku yang menderita luka di dalam tubuhnya," Setelah berkata demikian, Lauw Teng

berteriak, "He, A Sam, kau yang paling berat lukamu, kau merangkaklah ke sini biar diobati

oleh Siauw-sinshe ini!"



Kun Hong terheran. Sejak tadi setelah bercakap-cakap dengan ketua ini, dia tahu atau

dapat menduga, bahwa ketua ini menderita luka yang amat parah di dalam tubuhnya yang

perlu segera diobati. Kenapa ketua ini sekarang menyuruh dia mengobati seorang anak

buahnya lebih dulu? Apakah ketua ini sengaja mengalah terhadap anak buahnya? Tak

mungkin, orang yang berhati keji selalu mementingkan diri sendiri. Ataukah masih belum

percaya kepadanya maka menyuruh anak buahnya maju untuk mencoba-coba?



Tapi Kun Hong tidak pedulikan ini semua. Dia lalu duduk di atas bangku yang disediakan

untuknya dan menurunkan buntalan obat. Dia tahu bahwa dari depan berjalan seseorang

dengan langkah perlahan, kemudian orang ini berjongkok di depannya sambil

mengeluarkan suara rintihan dan berkata lemah.



"Siauw-sinshe, tolonglah saya....... tak kuat lagi saya ....... sampai merangkakpun hampir

tidak kuat. Aku terkena pukulan beracun kakek Bhe jahanam ....."



Semenjak kecilnya, Kun Hong sudah memiliki kecerdikan yang luar biasa. Begitu

mendengar kata-kata ini, segeralah terbuka semua rahasia yang tak dapat dilihatnya.

Kiranya ketua she Lauw tadi bersama kakek itu bersekongkol untuk mempermainkan dan

menguji dia. Orang ini pura-pura menderita luka pukulan, disuruh datang minta tolong

sehingga mereka itu akan segera tahu tentang kepandaiannya mengobati. Hemm, mereka

tidak percaya dan hendak mempermainkan aku, pikir Kun Hong. Baiklah, aku akan

melayani sandiwara kalian.



Sambil membungkuk Kun Hong meraba nadi tangan dan dada dekat leher A Sam itu,

mengerutkan keningnya lalu berkata, "Aihh, kau benar-benar menderita penyakit

berbahaya sekali! Biang batuk sudah berkumpul di pintu paru-paru. Sekarang belum terasa

olehmu, akan tetapi begitu kau tertawa, akan meledaklah batukmu dan sukar ditolong lagi.

Kau sama sekali tidak terluka oleh pukulan orang she Bhe atau orang she Ma, melainkan

karena terlalu banyak keluar malam sehingga masuk angin jahat!" Tentu saja sambil

berkata demikian, jari-jari tangan Kun Hong yang dapat bergerak secara luar biasa dan

secepat kilat itu telah menekan beberapa jalan darah tertentu di dada dan leher.



Mendengar keterangan ini, meledaklah suara ketawa para perampok itu, termasuk

ketuanya, Lauw Teng dan para tamu undangan. Hanya tosu burik itu saja yang tidak

tertawa, melainkan memandang dengan mata tajam. Lauw Teng tidak marah karena

biarpun keterangan Kun Hong itu amat lucu, namun orang ini dapat mengetahui bahwa A

Sam tidak terluka oleh pukulan beracun. Lucunya, A Sam adalah seorang yang sehat dan

tidak pernah batuk, biarpun memang suka keluar malam akan tetapi lucu kiranya kalau

seorang gemblengan seperti A Sam itu mudah saja masuk angin!



A Sam juga tertawa terpingkal-pingkal, akan tetapi tiba-tiba semua orang yang tadi

tertawa geli itu menghentikan suara ketawa mereka. Kini hanya terdengar sebuah suara

saja, suara orang berbatuk-batuk amat hebatnya. Dan tidak aneh kalau semua orang kini

memandang terheran-heran karena yang batuk secara hebat itu bukan lain adalah A Sam!

Tadinya A Sam sendiri mengira bahwa batuknya ini adalah secara kebetulan saja, akan

tetapi dia mulai menjadi khawatir dan gugup setelah batuknya itu tidak juga mau berhenti,

malah makin hebat sampai dia tak dapat menahannya lagi. Di dalam leher dan dadanya

serasa dikitik-kitik, mendatangkan rasa gatal-gatal dan geli. Tak tertahankan lagi A Sam

terbatuk-batuk sambil memegangi perut dan dada, membungkuk-bungkuk dan akhirnya dia

sampai jatuh bergulingan. Bukan main hebat penderitaannya.



Tadinya orang-orang mengira bahwa A Sam yang suka berkelakar itu sengaja

mempermainkan si tabib buta, akan tetapi karena tidak juga A Sam berhenti batuk,

mereka mulai khawatir, mendekat dan dengan mata terbelalak melihat A Sam sampai

mendelik-delik matanya karena terbatuk-batuk terus.



"Aduh ....... uh uh uh ....... aduh ....... tolonglah .......uh-uh-uh, Siauw-sinshe ..... uk-uh-



uh ......." Sukar sekali A Sam mengeluarkan kata-kata ini karena batuk membuat napasnya

sesak dan suaranya hampir hilang.



"Hemmm, sudah kukatakan tadi, kau tidak boleh tertawa. Siapa kira kau masih tertawa

terbahak-bahak sehingga ledakan batukmu tak tertahankan lagi. Kalau didiamkan saja, kau

akan terus terbatuk-batuk sampai jantungmu pecah dan aku akan mendiamkan saja, A Sam

kecuali kalau kau suka berterus terang mengapa kau tadi pura-pura terluka parah."



"Ampun ....... uh-uh, ampun Sinshe....... uh-uh-uh, saya disuruh mencoba, uh-uh, main-

main ....... ampun ......."



Lauw Teng melangkah maju. "Siauw-sinshe, harap kau suka mengobatinya. Terus terang

saja, tadi kami meragukan kepandaianmu maka sengaja hendak mengujimu. Maafkanlah."



Kun Hong memang bukan seorang pendendam. Tentu saja dia memaafkan mereka yang tadi

hendak, main-main kepadanya. Malah perbuatannya terhadap A Sam ini pun hanya untuk

main-main belaka. Dia segera maju mendekat, beberapa kali dia membetot urat-urat di

leher dan di bawah pangkal lengan. Sebentar saja berhentilah A Sam berbatuk-batuk,

peluhnya keluar semua dan dia segera terduduk saking lelahhya.



"Siauw-sinshe, sekarang kuharap kau suka mengobati semua orangku, juga mengobati

lukaku sendiri. Ketahuilah bahwa aku adalah Hui-houw-pangcu (ketua Hui-houw-pang)

Lauw Teng. Tentu kau sudah mendengar tentang Hui-houw-pang, bukan? Ketua ini mengira

bahwa tentu sinshe buta yang masih muda ini akan terkejut sekali mengetahui bahwa dia

berada di dalam markas Hui-houw-pang yang, sudah amat terkenal di seluruh Propinsi

Santung. Akan tetapi dia terheran dan juga kecewa ketika orang muda buta itu menggeleng

kepalanya dan berkata tak acuh.



"Aku baru saja datang di pegunungan ini, Lauw-pangcu, maka tidak mengenal

perkumpulanmu. Akan kucoba mengobati kalian. Suruh orang-orangmu yang menderita luka

sama dengan Hek-twa-to, yang ada bintik merahnya pada tubuh mereka, maju dan berjajal

di depanku." Ada delapan orang yang menderita Hek-twa-to Lima belas orang lain

menderita luka senjata yang parah dan luka-luka itu membengkak dan keracunan. Ketika

mengetahui bahwa belasan orang ini terluka oleh macam-macam senjata, Kun Hong dapat

menduga tentu telah terjadi pertempuran hebat antara orang-orang Hui-houw-pang ini

melawan rombongan lain yang agaknya dikepalai oleh seorang she Bhe yang telah melukai

delapan orang itu dan tentu seorang yang berkepandaian tinggi juga. Cepat dia menuliskan

resep obat untuk orang-orang yang terluka. Tulisannya cepat dan tidak memperdulikan

seruan-seruan heran dari semua orang yang melihat betapa seorang buta dapat menulis

secepat dan seindah itu. Untuk luka-luka yang dapat dia obati dengan obat-obatan yang

tersedia dalam buntalannya, segera dia obati.



Akan tetapi ketika Kun Hong memeriksa tubuh Lauw Teng, diam-diam dia terkejut sekali.

Dengan rabaan tangannya dia mendapat kenyataan bahwa ketua ini memiliki tubuh yang

kuat dan Iweekang yang tinggi. Namun ternyata dia terkena pukulan beracun yang amat

keji. Pukulan yang mengenai pundak itu busuk menghitam sedangkan tulang pundaknya



remuk-remuk. Hebat sekali penderitaan ketua ini, namun dia tadi masih dapat

menahannya, membuktikan bahwa Lauw Teng adalah seorang yang amat kuat. Diam-diam

Kun Hong mengeluh. Agaknya dugaannya bahwa yang merobohkan orang-orang ini tentu

seorang pendekar kiranya tidak betul. Seorang pendekar gagah tidak mungkin memiliki

ilmu pukulan yang begini keji, atau andaikata memiliki juga, tidak akan sudi

mempergunakan. Kalau begini, agaknya fihak yang menjadi lawan Hui-houw-pang ini pun

bukan golongan baik-baik!



Kun Hong menarik napas panjang, menyesalkan dirinya yang tanpa disengaja telah

memasuki dunia golongan hitam. Akan tetapi dia berusaha juga menolong Lauw Teng,

menggunakan sebatang jarum perak untuk mengoperasi luka itu, mengurut beberapa jalan

darah dan menempelkan obat luka buatannya sendiri yang amat manjur. Kemudian dia

menulis sebuah resep obat untuk ketua Hui-houw-pang ini.



Begitu dia selesai mengobati Lauw Teng dan ketua ini mengucapkan terima kasihnya, tiba-

tiba terdengar suara keras dan tahu-tahu ada hawa menyambar ke arah Kun Hong. Pemuda

buta ini maklum bahwa ada orang menyerangnya, maka dia cepat menjatuhkan jarumnya

ke bawah dan membungkuk untuk memungut jarum itu. Hal ini dia lakukan untuk mengelak

dengan gerakan seperti tidak disengaja. Akan tetapi kiranya serangan itu bukan untuk

memukulnya, melainkan untuk menangkap pergelangan tangannya. Kun Hong tersenyum

dan membiarkan pergelangan tangan kanannya dicengkeram orang. Dia pura-pura kaget

dan berseru,



"Eh, siapa memegang lenganku? Kau mau apa?"



"Orang muda, katakan, apa hubunganmu dengan Toat-beng Yok-mo? Penanya ini adalah

kakek bersuara halus melengking tadi.



"Orang tua, beginikah caranya orang bertanya? Apakah harus mencengkeram lengan orang

yang ditanya? Pakaianmu seperti pendeta, kenapa sikapmu kasar seperti penjahat?"



Tosu itu cepat melepaskan cengkeraman tangannya, mukanya yang bopeng menjadi merah

sekali dan dia melangkah mundur tiga langkah. Heran sekali dia bagaimana orang buta ini

dapat mengenal pakaiannya? Tentu saja dia tidak tahu bahwa pendengaran Kun Hong yang

luar biasa dapat menggambarkan bentuk pakaian!



"Siauw-sinshe, tamuku yang terhormat ini adalah Ban Kwan Tojin yang berdiam di Kuil Pek-

kiok-si (Kuil Seruni Putih). Beliau seorang tokoh pantai timur yang terkenal, harap kau suka

menjawab pertanyaannya."



Kun Hong menjura ke arah Ban Kwan Tojin. "Maaf, kiranya seorang tosu. Ban Kwan Tojin

tadi bertanya tentang Toat-beng Yok-mo? Dia terhitung guruku karena aku mendapatkan

ilmu pengobatan ini dari kitab-kitabnya."



Tidak hanya Ban Kwan Tojin yang berseru kaget, bahkan Lauw Teng dan anak buahnya

menjadi kaget sekali, juga girang. Siapa tidak mengenal nama mendiang Toat-beng Yok-mo



yang bukan saja terkenal sebagai setan obat, akan tetapi juga sebagai seorang sakti yang

luar biasa? Di samping kekagetan, keheranan dan kegirangan ini, kembali timbul keraguan

dan tidak percaya. Apalagi Ban Kwan Tojin yang tahu betul bahwa belum pernah Toat-beng

Yok-mo mempunyai seorang murid buta.



"Siauw-sinshe, bolehkah pinto mengetahui namamu yang terhormat?" dia bertanya,

suaranya menghormat karena betapapun juga, pemuda buta ini sudah membuktikan

kepandaiannya tentang ilmu pengobatan.



"Namaku Kwa Kun Hong, Totiang."



"Hemm, serasa belum pernah mendengar nama ini ..........."



"Tentu saja belum, apa sih artinya nama seorang tabib buta?" Kun Hong tersenyum polos.



"Kwa-sinshe, kalau kau betul murid Toat-beng Yok-mo, tahukah kau di mana sekarang

gurumu itu berada?" Pertanyaan dari tosu ini terdengar oleh Kun Hong sebagai pancingan,

kata-kata penuh nafsu menyelidiki.



"Dia sudah meninggal dunia, tiga tahun yang lalu," jawabnya bersahaja.



"Ah, jadi kau tahu bahwa tiga tahun yang lalu dia tewas dalam pertempuran di puncak

Thai-san, ketika Thai-san-pai didirikan? Dan kau diam saja tidak berusaha membalas

dendam? Tahukah kau siapa yang membunuhnya, Sinshe?" Pertanyaan yang bertubi-tubi

dari tosu itu hanya diterima dengan senyum saja. Sudah tentu saja dia tahu bagaimana

tewasnya Toat-beng Yok-mo karena kakek iblis itu tewas ketika bertanding melawan dia

sendiri. Kakek berhati iblis yang amat jahat itu tewas karena bertindak curang kepadanya

dalam pertempuran itu dan boleh dibilang tewasnya adalah karena perbuatannya sendiri.



"Tentu saja aku tahu siapa yang membunuhya. Yang membunuhnya adalah dia sendiri, ya

....... dia membunuh diri sendiri."



Hati Kun Hong mulai tidak enak. Jangan-jangan tosu ini tiga tahun yang lalu hadir pula di

Thai-san dan melihat betapa Toat-beng Yok-mo tewas ketika berhadapan dengan dia

sebelum dia buta dan sekarang tosu ini sengaja memancing-mancing.



"Totiang, kalau tiga tahun yang lalu kau sendiri hadir di sana, mengapa mesti bertanya-

tanya?" jawabnya pendek.



Tosu itu tertawa. "Ha-ha-ha, kalau pinto hadir tidak nanti bertanya lagi. Sayangnya pinto

tidak hadir ketika itu, hanya mendengar berita dari kawan-kawan bahwa gurumu itu telah

tewas dalam pertempuran. Kau yang menjadi muridnya tentu tahu lebih jelas bukan?"



"Sudah kujelaskan bahwa dia mati karena perbuatannya sendiri."



"Jadi kau tidak ada niat untuk mencari musuh-musuh gurumu itu dan membalas dendam?



Hemm, murid yang baik kau itu, Kwa-sinshe." Ban Kwan Tojin mengejek.



"Toat-beng Yok-mo terkenal jahat. Biarpun dia guruku, hanya guru dalam ilmu pengobatan

saja. Dia boleh bermusuhan dengan orang lain, akan tetapi aku tidak berniat bermusuhan.

Kepandaianku menyembuhkan orang sakit supaya sehat, bukan menjadikan orang sehat

supaya sakit. Sudahlah, Lauw-pangcu, setelah selesai tugasku di sini, aku mohon diri

hendak melanjutkan perjalananku." Dia menjura ke depan ke kanan kiri, lalu membereskan

buntalan obatnya dan bersiap-siap untuk pergi. Ketika mengerjakan semua ini, juga ketika

tadi melakukan pengobatan, Kun Hong tidak lupa menyelipkan tongkatnya di punggung.

Bagi seorang buta seperti dia, tongkat merupakan pengganti mata dalam melakukan

perjalanan, apalagi kalau tongkat itu seperti tongkatnya, tongkat yang berisi pedang

pusaka Ang-hong-kiam, tongkat yang sengaja dibuat oleh kakek sakti Song-bun-kwi (Setan

Berkabung) untuknya (baca cerita Rajawali Emas).







Pada saat itu terdengar suara seorang wanita, "Ayah ...........!"



Lauw Teng menengok dan keningnya berkerut ketika dia melihat anaknya, seorang gadis

berusia dua puluh tahun, gadis yang berdandan secara mewah, muncul dari pintu samping.

Gadis ini perawakanya tinggi besar, cukup manis dan gerak-geriknya kasar dan genit,

pakaiannya serba indah dan di punggungnya tergantung sebatang pedang yang gagangnya

terhias ronce-ronce merah, berkibar di dekat rambutnya yang disanggul tinggi dan dihias

kupu-kupu emas bertabur mutiara.



"Swat-ji, ada keperluan apa kau datang ke sini?" tegur Lauw Teng marah. Seharusnya

anaknya itu berdiam bersama ibunya dan keluarga Hiu-houw-pang di perkampungan,

biarpun dia menjadi kepala para perampok namun dia tidak senang melihat anak

perempuannya bergaul dengan para perampok yang kasar dan biasa mengeluarkan ucapan-

ucapan kotor dan tak sopan. Memang beginilah watak orang seperti Lauw Teng, biarpun dia

sendiri sudah biasa tidak menghormati kaum wanita, namun dia tidak suka melihat wanita-

wanita keluarganya tidak dihormati orang!



Dengan lagak genit, tersenyum-senyum, dan melirik-lirik gadis itu menjawab, "Ayah, kau

dan semua orang sibuk berobat, kabarnya ada tabib pandai di sini, mengapa tidak

menyuruh tabib itu datang ke kampung? Ibu menderita batuk, bibi masuk angin dan aku

sendiri sering merasa dingin kalau malam. Suruh dia ke kampung Ayah." Mendengar ucapan

terakhir ini di sana-sini sudah terdengar suara orang terkekeh-kekeh, akan tetapi segera

berhenti ketika Lauw Teng dengan mata tajam menengok ke arah suara orang-orang

tertawa itu.



"Huh, dasar perempuan, baru sakit batuk dan masuk angin saja sudah ribut-ribut.

Pulanglah, biar nanti kumintakan obat kepada siauw-sinshe."



Akan tetapi ketika dia menengok, dia melihat anaknya itu berdiri di dekat, Kun Hong,

memandang bengong kepada pemuda buta yang sedang membereskan buntalannya.



"Swat-ji, lekas pulang!" tegur ayahnya.



Swat-ji, gadis itu, seperti baru sadar, menengok kepada ayahnya dan berkata. "Ayah, dia

inikah tabibnya? Masih muda benar dan....... dan agaknya dia....... dia buta, Ayah."



Mendengar gadis itu bicara dekat di depannya Kun Hong merasa tidak enak sekali. Akan

tetapi dia segera bangkit berdiri, menjura dan berkata sambil tersenyum ramah. "Bukan

agaknya lagi, Nona, memang aku seorang buta."



Sejenak Swat-ji berdiri bengong memandang wajah Kun Hong. Belum pernah ia melihat

seorang pemuda setampan ini, apalagi ketika tersenyum, benar-benar membuat Swat-ji

seperti kena pesona. Mata yang buta itu bahkan menambah rasa kasihan yang mendalam.



"Swat-ji, pulang kataku!" Lauw Teng membentak marah.



"Ayah, kulihat kau dan para paman sudah sembuh. Tentu sinshe buta ini yang menolong

kalian. Setelah ditolong, kenapa tidak berterima kasih? Sepatutnya kita membawanya ke

kampung, menjamunya dengan pesta tanda terima kasih. Ayah, kalau sekarang kau

membiarkan penolong pergi begitu saja, bukankah Hui-houw-pang akan ditertawai orang

dan dianggap tak kenal budi?"



"Ha-ha-ha, tepat sekali ucapan Nona! Lauw-sicu, benar-benar pinto tidak pernah mengira

bahwa kau mempunyai seorang anak perempuan yang begini cantik lahir batinnya. Benar-

benar pinto kagum dan terpaksa pinto berfihak kepada puterimu, Lauw-sicu."



Mendapat bantuan omongan tosu itu, Swat-ji tersenyum dan melirik. Kun Hong diam-diam

merasa muak mendengar ucapan si tosu, apalagi dia dapat menangkap getaran dalam suara

itu dan dapat menduga bahwa tosu ini biarpun tua tentulah seorang mata keranjang. Nona

bernama Swat-ji itu tentu seorang gadis yang cantik dan dia dapat tahu pula bahwa gadis

itu berwatak genit.



Cepat-cepat Kun Hong menjura. "Tidak usah....... tidak usah, aku tidak dapat tinggal lama,

Nona. Malah tadi aku sudah berpamit kepada ayahmu, aku harus segera pergi melanjutkan

perjalananku."



"Ah, mana bisa begitu? Sinshe, kau harus menerima pernyataan terima kasih kami,

terutama dari aku sendiri yang amat berterima kasih karena kau telah menyembuhkan

ayah. Mari, mari kuantar kau, Sinshe. Biar kutuntun tongkatmu."



Pada saat Kun Hong berdiri bingung menghadapi desakan gadis yang "nekat" ini, tiba-tiba

semua orang terkejut melihat datangnya seorang di antara mereka yang berlari-lari dalam

keadaan luka parah.



"Musuh........... musuh........... telah menyerbu ...........!" katanya dan dia roboh



terguling. Keadaan menjadi panik di situ, semua orang berlari-lari untuk melakukan

persiapan menyambut serbuan musuh.



Lauw Teng tidak perdulikan anaknya lagi, dia sibuk memberi perintah dan mengatur anak

buahnya dan enam puluh orang lebih banyaknya itu untuk melakukan penjagaan di sana-

sini. Hanya tosu itu yang kelihatan tenang-tenang saja.



"Lauw-sicu, jangan gugup. Biarlah kita menanti kedatangan mereka di sini, hendak pinto

lihat apakah orang she Bhe itu mempunyai tiga kepala dan enam lengan?"



Sementara itu, tiba-tiba Kun Hong merasa betapa telapak tangan yang halus telah

memegang tangannya dan terdengar bisikan gadis itu, "Sinshe, mari kita bersembunyi ke

sudut sana sambil menonton. Biar kuceritakan kepadamu nanti jalannya pertandingan,

sebentar lagi akan terjadi pertempuran hebat."



Sedianya Kun Hong akan menolak dan pergi. Akan tetapi karena dia amat tertarik ingin

mengetahui apakah sebenarnya yang telah terjadi dan siapakah pula musuh Hui-houw-pang

ini, pula dia ingin seberapa bisa mencegah terjadinya pertempuran dan bunuh-membunuh,

maka dia diam saja dan menurut ketika gadis itu menuntunnya pergi dari situ. Malah dia

mengharapkan untuk mendapatkan keterangan dari gadis ini tentang sebab-sebab

permusuhan.



Karena semua orang sedang sibuk mengatur penjagaan, Swat-ji mengajak Kun Hong duduk

di atas bangku panjang yang tersembunyi di sudut ruangan muka. Gadis itu tetap

menggandeng tangan Kun Hong dan baru setelah mereka duduk di atas bangku, Kun Hong

menarik tangannya dan bertanya,



"Nona, ada apakah ribut-ribut ini? Siapa yang menyerbu dan mengapa terjadi permusuhan?"



Gadis itu tertawa merdu dan genit. "Ah, biasa saja berebutan mangsa! Akan tetapi kali ini

yang diperebutkan adalah barang yang amat berharga sehingga ayah membelanya mati-

matian. Mereka yang datang menyerbu adalah orang-orang Kiang-liong-pang (Perkumpulan

Naga Sungai)."



"Kiang-liong-pang? Perkumpulan apakah itu dan perkumpulan ayahmu yang bernama Hui-

houw-pang ini pun perkumpulan apakah sebetulnya?"



"Iihh, kiranya kau tidak tahu apa-apa! Hui-houw-pang amat terkenal di Propinsi Santung,

setidaknya tidak kalah terkenal dengan Kiang-liong-pang. Semua perampok di wilayah ini

tunduk kepada Hui-houw-pang, dan ayah merupakan penarik pajak jalan yang paling adil di

dunia ini."



"Apa itu pekerjaan penarik pajak jalan? Kau maksudkan perampok?"



"Sebaliknya dari perampok! Anggauta-anggauta kami menjaga jalan-jalan sunyi di gunung

dan hutan, dan sama sekali tidak merampok rombongan pedagang atau pelancong yang



lewat, karena itu mereka harus memberi pajak jalan kepada kami. Bukankah itu adil? Kalau

mereka memberi pajak jalan, mereka takkan diganggu."



Kun Hong mengangguk-angguk, dalam hati dia mencela. Apa bedanya pemerasan dengan

perampokan?



"Adapun Kiang-liong-pang adalah perkumpulan para bajak air atau bajak sungai yang

menguasai semua bajak di Yang-ce dan Huang-ho sampai ke muara. Memang seringkali

terjadi perebutan kekuasaan antara darat dan sungai ini dan memang orang-orang Kiang-

liong-pang amat kurang ajar. Belum lama ini kami terpaksa menyita rombongan bekas

pembesar yang mengundurkan diri karena pembesar sombong itu tidak mau membayar

pajak jalan. Pertempuran terjadi dan kami berhasil melukai pembesar itu dan membunuh

orang-orangnya. Akan tetapi, tiba-tiba muncul orang-orang Kiang-liong-pang yang segera,

turun tangan pula, menyatakan bahwa pembesar itu sedang menawar perahu dan

karenanya menjadi mangsa mereka. Terjadi perang lebih hebat lagi memperebutkan harta

pusaka yang ternyata amat banyak. Banyak orang kami luka-luka termasuk ayah yang kau

obati tadi. Akan tetapi barang-barang pusaka yang paling berharga dapat kami bawa

pulang, di antaranya sebuah mahkota emas penuh permata yang tak ternilai harganya,

mahkota yang dibawa oleh bekas pembesar itu dari istana. Kabarnya itu adalah bekas

mahkota yang dipakai oleh permaisuri kaisar di jaman Kerajaan Tang dahulu."



Muak rasa hati Kun Hong mendengar penuturan ini. Tidak salah dugaannya yang

mengecewakan hatinya tadi bahwa baik perkumpulan Hui-houw-pang maupun lawannya,

yaitu Kiang-liong-pang, adalah perkumpulan golongan hitam. Kiranya mereka adalah

perampok-perampok yang sekarang sedang bertengkar dengan para bajak!



"Sebenarnya, biarpun saling bersaingan, kalau hanya untuk urusan harta benda biasa saja

tak mungkin kedua fihak sampai bertempur." gadis itu melanjutkan penuturannya. "Akan

tetapi untuk mahkota ini kami tidak mau mengalah begitu saja."



"Apakah karena terlalu berharga?" Kun Hong tertarik.



"Bukan, tapi karena mahkota itu dapat menjadi jalan agar kami dapat mendekati kaisar

baru, mengambil hatinya dan memperoleh kedudukan tinggi dalam kerajaan. Kabarnya

kaisar muda yang baru ini amat mudah diambil hatinya."



"Kaisar baru? Kaisar muda? Apa maksudmu?!" Kun Hong menahan gelora hatinya mendengar

kata-kata ini.



"Iihhh, kau benar-benar buta!" Gadis itu tertawa.



"Memang aku buta, siapa pernah membantah?" Kun Hong terpaksa melayani kelakar ini agar

si gadis suka melanjutkan ceritanya yang mulai menarik hatinya.



Dengan lagak genit Swat-ji mencubit lengan Kun Hong. "Kau memang buta, tapi kau

tampan dan pandai ....... eh, aku suka padamu, kau lucu ......."



Tentu saja Kun Hong tidak mau melayani kegenitan gadis itu, tapi dia pun tidak

mencelanya, hanya berkata halus. "Nona, aku ingin sekali mendengar penjelasanmu

tentang kaisar baru tadi."



"Kau benar-benar belum mendengarnya? Kaisar tua sudah meninggal tiga bulan yang lalu,

dan sekarang di kota raja terjadi keributan dalam menentukan siapa yang akan

menggantinya. Akan tetapi sudah tentu calon kaisar adalah Pangeran Kian Bun Ti, cucu

kaisar yang tercinta, sebagai anak dari pangeran sulung yang telah tiada. Nah, kau tahu

sekarang dan tentang mahkota itu, sebetulnya telah dilarikan oleh bekas pembesar dari

kota raja yang agaknya mempergunakan saat kota raja ribut-ribut, lalu lari membawa

mahkota kuno yang tak ternilai harganya itu. Sekarang mahkota itu berada di tangan kami,

dan tentu akan membawa ayah ke depan kaisar untuk menerima anugerah dan

kedudukan."



Diam-diam Kun Hong kaget juga. Selama tiga tahun ini dia merantau tidak pernah

memperhatikan persoalan dunia.



Kiranya Kaisar Thai-cu, yaitu pendiri Kerajaan Beng, seorang pahlawan yang sejak dahulu

sering dipuji-puji ayahnya, kini telah meninggal dunia dan singgasana kerajaan agaknya

dijadikan bahan perebutan oleh para pangeran. Mengingat bahwa Pangeran Kian Bun Ti

dicalonkan menjadi kaisar diam-diam Kun Hong menarik napas panjang. Dia sudah pernah

bertemu dengan pangeran ini (baca cerita Rajawali Emas), dan dia sudah mengenal watak

yang kurang baik dari pangeran itu yang dahulu tidak segan-segan untuk mencoba memaksa

dua orang keponakannya, yaitu Thio Hui Cu dan Kui Li Eng, untuk menjadi selir-selirnya!



Tiba-tiba dia sadar dari lamunannya ketika kembali lengannya dicubit dan suara gadis itu

terkekeh,



"Hi-hik, kenapa kau termenung setelah mendengar tentang kaisar? Apakah kau ingin

menjadi kaisar? Hi-hi-hi, alangkah lucu dan bagusnya, kaisar buta! Sinshe yang baik, kau

tidak usah melamun menjadi kaisar, biarlah kau menjadi tabib kami saja di sini, malam

nanti kau boleh memijati tubuhku yang lelah. Kau pandai memijatkan?" Gadis itu

menggeser duduknya, merapatkan tubuhnya yang hangat itu kepada Kun Hong.



Kun Hong tidak memperdulikan hal ini karena pikirannya sedang bekerja keras. Telinganya

sudah dapat menangkap derap kaki orang banyak menuju ke tempat itu. Berdebar dia

kalau teringat betapa sebentar lagi akan terjadi pertempuran, bunuh-membunuh di depan

matanya yang buta.



"Nona, sebentar lagi musuh-musuhmu menyerbu, melihat betapa ayahmu dan anak buahnya

terluka, tentu musuh itu amat kuat. Apakah kau tidak takut?"



"Ihh, mengapa takut? Dengan pedangku aku mampu menjaga diri. Malah aku ingin

mencobai kelihaian jahanam tua she Bhe itu dengan pedangku!"



"Tapi ....... tapi mereka datang untuk mahkota itu. Bagaimana kalau mereka menyerbu ke

rumah ayahmu dan merampas mahkota? Kupikir, mahkota itu harus disembunyikan dulu

......."



"Ah, kau pintar juga!" Tangan yang halus itu mengusap dagu Kun Hong, membuat pemuda

buta ini merasa dingin di belakang punggungnya. "Tapi ayah dan aku lebih pintar. Mahkota

itu tak pernah terpisah dari tubuhku." kata-kata ini dibisikkan di dekat telinga Kun Hong

sehingga pemuda buta ini dapat merasa betapa napas Swat-ji panas-panas meniup pipinya.



Cepat laksana kilat Kun Hong menggerakkan tangannya dan tahulah dia pada detik lain

bahwa mahkota yang dimaksudkan itu berada dalam buntalan yang digendong oleh gadis

ini.



Pada saat itu terdengar bentakan-bentakan nyaring dan Kun Hong mendengar suara kaki

beberapa orang yang menggunakan ilmu meringankan tubuh memasuki ruangan depan

tempat Swat-ji berbisik, "Mereka sudah datang, Bhe Ham Ko sendiri yang memimpin ......."



Gadis inipun tidak berani main-main lagi sekarang, ia mengalihkan perhatiannya dari tabib

buta yang menarik hatinya itu kepada para musuh yang telah berada di situ. Yang kelihatan

berada di luar halaman saja sedikitnya ada dua puluh orang Kiang-liong-pang.



Adapun yang sudah meloncat memasuki pekarangan adalah seorang tua tinggi kurus yang

memegang sebatang dayung kuningan. Swat-ji menduga bahwa tentu inilah orangnya yang

bernama Bhe Ham Ko, ketua dari Kiang-liong-pang yang telah melukai ayahnya. Di samping

kakek ini berdiri lima orang laki-laki tinggi besar yang menilik pakaiannya tentulah tokoh-

tokoh dalam perkumpulan bajak itu. Di belakang mereka, berdiri acuh tak acuh, tampak

seorang laki-laki tinggi besar bermuka hitam, berusia empat puluh tahun lebih. Berbeda

dengan Bhe Ham Ko dan lima orang pembantunya yang berdiri dengan senjata di tangan,

laki-laki ini membiarkan ruyung bajanya tergantung di pinggang dan tidak memperlihatkan

muka yang serius, malah menengok ke sana ke mari seperti seorang pelancong melihat-

lihat pemandangan indah.



"Hui-houw-pangcu Lauw Teng, kami dewan pengurus Kiang-liong-pang sudah datang

mengunjungimu. Keluarlah agar kita dapat merundingkan perkara sampai beres!" kakek she

Bhe itu mengeluarkan suaranya. "Kamipun membawa obat dan ahli untuk menyembuhkan

luka-luka para sahabat dari Hui-houw-pang!"



Jelas terdengar dalam suara ini bahwa ketua Kiang-liong-pang ini mengandung ancaman

dan bujukan. Membujuk untuk berbaik di samping mengingatkan bahwa pertempuran hanya

akan mendatangkan kerusakan dan kerugian pada fihak Hui-houw-pang!



"Kiang-liong-pangcu Bhe Ham Ko, luka-luka yang kecil tiada artinya itu tidak perlu

dibicarakan. Kami sudah siap menanti kedatanganmu!" Muncullah Lauw Teng diiringi tujuh

orang pembantunya dengan langkah gagah dan senjata siap ditangan kanan!



Berubah wajah Bhe Ham Ko melihat bekas lawannya itu kelihatan sehat benar, malah para

pembantunya yang tadinya terkena pukulannya yang mengandung hawa beracun kini sudah

muncul dalam keadaan sehat! Akan tetapi keheranannya lenyap ketika dia melirik dan

melihat seorang tosu berjalan keluar dari samping. Dia tertawa bergelak sambil mengelus

jenggotnya yang tipis.



"Ha-ha-ha, kiranya Lauw-pangcu mendapat bantuan orang pandai. Pantas saja tidak

membutuhkan obat-obatan dari kami lagi. Ataukah engkau hendak mempelajari kitab To-

tik-keng bersama anak buahmu, memang pantas kalau gedung ini diubah menjadi kuil."

Inilah ucapan menghina dan menyindir karena fihak Hui-houw-pang terdapat seorang tosu

tua.



Merah wajah Lauw Teng, juga dia menjadi heran sekali. Biasanya, seperti yang dia ketahui,

ketua Kiang-liong-pang ini adalah seorang yang amat hati-hati dan bukan seorang kasar

yang sembrono. Kenapa hari ini menjadi begini sombong, berani sekali menghinanya dan

malah berani mengejek Ban Kwan Tojin? Tentu ada sebabnya, pikirnya dan ketika dia

melihat sikap acuh tak acuh dari orang tinggi besar muka hitam di belakang rombongan

ketua Kiang-liong-pang itu, dapatlah dia menduga bahwa tentu orang itu yang dijadikan

andalan.



"Bhe-pangcu, tak perlu banyak bicara lagi kiranya. Kita sudah lama tahu apa maksudmu

datang mengunjungiku pada saat ini, lengkap dengan anak buah dan senjata. Nah,

keluarkan isi hatimu. Bagi kami, tetap kami tidak akan suka mengalah, oleh karena kami

merasa bahwa pembesar she Tan itu adalah mangsa kami di daratan. Barang-barang

bekalnya yang terampas oleh kami menjadi hak kami dan tak seekor setanpun boleh

mengambilnya begitu saja dari tangan kami!"



Bhe Ham Ko tertawa menyeringai dan menggerak-gerakkan dayungnya. "Aku tahu akan

kekerasan hati Lauw-pangcu, tahu pula bahwa benda pusaka itu kau kukuhi bukan karena

harganya, melainkan karena pentingnya guna membuka pintu kota raja. Bukankah begitu?"



Kembali wajah Lauw Teng menjadi merah. "Apapun yang akan kulakukan dengan benda

hakku itu, bukan menjadi urusanmu, Bhe-pangcu. Dan kiranya ....... setiap orang berhak

untuk mencari kemajuan dalam hidupnya ......." Dia merasa segan dan sungkan untuk

bicara terus terang dengan hasratnya mencari kedudukan di kota raja.



"Jadi kau berkukuh hendak memiliki mahkota pusaka kerajaan itu?" Bhe Ham Ko

membentak.



"Memang! Dan kami akan mempertahankannya dengan senjata kami!" jawab Lauw Teng

berani. Ketua Hui-houw-pang ini tentu saja menjadi besar hatinya karena dia

mengandalkan bantuan Ban Kwan Tojin dan tiga orang gagah lain yang menjadi tamu

undangannya, yang sekarangpun telah memasuki pekarangan dan berdiri dengan sikap

gagah di dekat Ban Kwan Tojin.



Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring. "Tua bangka she Bhe jangan menjual lagak di sini!"

Bayangan merah berkelebat dan ternyata Swat-ji sudah melompat ke depan rombongan

lawan dengan pedang di tangan, sikapnya gagah.



"Swat-ji.......!" Lauw Teng menegur kaget, bukan melihat puterinya hendak menentang

lawan, melainkan kaget karena tidak melihat buntalan di pungung Swat-ji, buntalan

mahkota yang sengaja dia suruh bawa anak gadisnya yang dia tahu memiliki ilmu pedang

yang cukup tinggi. Dalam hal ilmu silat, puteri ini tidak kalah lihai daripadanya sendiri.



"Ayah, biarkan aku mengusir anjjng tua ini agar jangan banyak menjual lagak di sini." Gadis

yang galak ini segera menggerakkan pedangnya menyerang Bhe Ham Ko.



Ketua Kiang-liong-pang tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, bapaknya harimau liar anaknyapun

sama juga. Biarlah aku orang tua menjinakkan macan betina liar ini!" Dengan tenang orang

she Bhe ini menggerakkan dayungnya menangkis, akan tetapi diam-diam dia mengerahkan

tenaga Iweekangnya untuk membuat pedang gadis itu terlempar dengan sekali tangkis.



Swat-ji tidak bodoh. Tentu saja ia sudah mendengar tentang tenaga Iwee-kang yang

tangguh dari kakek ini, maka dengan gerakan pergelangan tangannya ia menyelewengkan

pedangnya menghindarkan benturan senjata lawan lalu dengan cepat dari samping

pedangnya mengirim tusukan miring ke arah lambung.



"Aiiih, tidak jelek .......!" Bhe Ham Ko berseru dan cepat melompat mundur sambil

mengelebatkan dayungnya yang menyambar dari atas ke arah kepala Swat-ji. Namun gadis

itu dengan gerakan yang lincah dapat pula mengelak sambil meneruskan dengan serangan

berantai. Gerakannya memang cepat dan agaknya dengan kecepatan ini ia hendak

mencapai kemenangan. Pedangnya menyambar-nyambar dan sama sekali ia tidak memberi

kesempatan kepada lawannya untuk membentur senjatanya.



"Bagus! Lauw-pangcu, kepandaian anakmu bagus juga!" Bhe Ham Ko berseru dan terpaksa

kakek ini memutar dayungnya dengan cepat untuk melindungi tubuhnya daripada hujan

tusukan dan bacokan.



Dengan menggunakan ketajaman pendengarannya Kun Hong dapat menduga bahwa biarpun

Swat-ji memiliki gerakan yang amat cepat, namun ia takkan menang menghadapi lawannya

yang memiliki gerakan antep, bertenaga, dan tenang itu. Dia mengerutkan keningnya.

Pertandingan besar-besaran dan mati-matian tentu takkan dapat dicegah lagi. Sebetulnya

dia boleh tak usah ambil perduli karena kedua fihak yang akan bertanding bunuh-

membunuh adalah golongan hitam atau Orang-orang yang mempunyai pekerjaan merampok

dan membunuh. Mereka adalah orang-orang jahat. Akan tetapi, pemuda buta ini merasa

tidak tega untuk membiarkan sesama manusia saling bunuh, hanya untuk memperebutkan

sebuah benda mati yang oleh Swat-ji dititipkan kepadanya dan kini berada di buntalan

pakaiannya itu. Alangkah bodohnya manusia. Untuk mencari harta atau kedudukan, rela

mengorbankan nyawa, malah tega untuk membunuh sesama manusia. Kun Hong berpikir

keras, mencari akal untuk mencegah permusuhan antara kedua golongan itu.



Akan tetapi, baru saja dia bangkit berdiri untuk mencegah menghebatnya perkelahian,

mendadak di sana-sini terdengar seruan heran dan marah. Sesosok bayangan hitam

berkelebat dan tahu-tahu dayung di tangan Bhe Ham Ko terpental ke belakang, sedangkan

Swat-ji terhuyung-huyung. Ketika mereka memandang, di situ telah berdiri seorang gadis

cantik jelita masih muda sekali, berpakaian serba hitam yang ringkas dan sikapnya gagah,

sepasang matanya yang jeli memandang ke kanan-kiri. Alisnya yang hitam panjang itu

berkerut, mulut yang kecil dengan bibir merah segar membayangkan kekerasan hati dan

keangkuhan.



Dengan sekali gerakan saja dapat mengundurkan Bhe Ham Ko dan Swat-ji, dapat

dibayangkan bahwa gadis jelita ini memiliki kepandaian yang hebat. Swat-ji yang

terhuyung-huyung itu amat marah, akan tetapi sebelum ia sempat mengembalikan

keseimbangan tubuhnya, bagaikan seekor burung walet, gadis baju hitam itu bergerak,

tubuhnya menyambar dan tahu-tahu Swat-ji merasa dirinya diangkat ke atas. Kiranya

tengkuknya telah dicengkeram oleh gadis itu dan betapapun ia berusaha melepaskan diri,

ia tidak mampu bergerak, bahkan pedang yang masih dipegangnya itu tak dapat pula ia

gerakkan seakan-akan seluruh tubuhnya menjadi lumpuh!



"Kaum kotor dari Hui-houw-pang dan Kiang-liong-pang dengarlah! Hari ini nonamu datang

untuk mengambil mahkota pusaka, kalian tidak boleh ribut-ribut lagi dan harus mengalah

kepada nonamu!"



Sikap yang amat sombong ini menimbulkan kemarahan, juga kegelian. Apalagi Lauw Teng

yang melihat anaknya ditangkap seperti itu, kemarahannya memuncak dan dia

membentak,



"Gadis liar dari mana datang mengacau? Kau siapa berani membuka mulut besar di sini?"



Gadis muda itu tersenyum mengejek. Manis sekali ia kalau tersenyum sehingga banyak di

antara para anak buah kedua fihak itu terpesona melihat cahaya gigi gemerlapan di balik

bibir yang merah dan berbentuk indah itu.



"Kau ketua dari Hui-houw-pang, tak perlu banyak cakap. Aku tahu bahwa mahkota berada

di tanganmu, lekas serahkan kepada nonamu, kalau tidak, akan kubanting hancur anak

perempuanmu yang tak tahu malu ini!"



Hemmm, kiranya bocah ini hendak memaksaku dengan menangkap anakku, pikir Lauw Teng

yang segera menjawab dengan tersenyum mengejek. "Boleh kau banting anak tiada guna

itu, mana bisa aku memberikan mahkota pusaka kepadamu? Gadis liar, lebih baik lekas

mengaku kau siapa dan siapa menyuruhmu datang mencampuri urusan kami?"



Gadis pakaian hitam itu nampak kecewa, lalu melemparkan tubuh Swat-ji sambil

mengomel, "Gadis sialan, sampai ayah sendiri tidak sayang kepadamu!" Swat-ji terlempar

dan jatuh bergulingan, tapi ia cepat melompat lagi dengan mata berapi-api dan muka

merah sekali. Kalau saja ia tidak ingat bahwa tingkat kepandaian gadis baju hitam itu jauh



lebih tinggi darinya, tentu akan diserangnya mati-matian, bukan main marahnya pada saat

itu.



"Pangcu dari Hui-houw-pang, juga kalian orang-orang Kiang-liong-pang. Kalian mau tahu

siapa nonamu ini? Dunia kang-ouw menyebutku Bi-yan-cu (Si Walet Jelita). Nama aseliku

tak perlu kuberitahu, kalian kurang berharga untuk mengenalnya. Ayahku adalah Sin-kiam-

eng Tan Beng Kui."



Ketika nona muda itu memperkenalkan julukannya, para penjahat itu saling pandang

sambil tersenyum-senyum karena memang nama itu tidak terkenal. Akan tetapi ketika

gadis itu menyebut nama Sin-kiam-eng Tan Beng Kui sebagai ayahnya, berubah wajah

mereka. Bahkan kedua pangcu itu dan para tamu undangan nampak kaget sekali. Sin-kiam-

eng Tan Beng Kui memang jarang muncul di dunia Kang-ouw, namun namanya dikenal

sebagal seorang tokoh besar yang berilmu tinggi, yang sekarang hidup sebagai seorang "raja

kecil" di pantai Laut Pohai, di lembah muara Sungai Kuning. Karena kepandaiannya yang

tinggi tak seorang pun bajak laut atau perampok berani mengganggu perkampungan raja

kecil ini. Sekarang tahu-tahu seorang gadis jelita yang datang ini mengaku sebagai

puteranya dan bermaksud merampas mahkota pusaka yang sedang diperebutkan oleh

golongan itu.



Swat-ji yang masih merasa penasaran, ketika mendengar ini segera tahu bahwa gadis yang

dibencinya itu tentu akan dimusuhi oleh kedua fihak, maka keberaniannya timbul kembali.

Baginya yang belum banyak merantau, ia tidak mengenal siapa itu Sin-kiam-eng (Pendekar

Pedang Sakti) Tan Beng Kui.



"Budak liar jangan menjual lagak di sini!" Swat-ji memaki dan cepat menyerbu dengan

pedangnya, dari belakang langsung menyerang gadis yang berjuluk Bi-yan-cu itu.



Si Walet Jelita, gadis yang cantik itu, mengeluarkan suara mengejek dan ketika tubuhnya

bergerak dengan amat indahnya ternyata ia telah dapat mengelak tanpa mengubah

kedudukan kakinya dan selagi pedang lawannya menyambar lewat, tangan kirinya

mendorong. Tak dapat tertahankah lagi tubuh Swat-ji terdorong ke depan, apalagi dari

belakang ditambah sebuah tendangan ke tubuh belakang yang mengeluarkan bunyi "plok!"

membuat tubuh Swat-ji terperosok ke depan, pedangnya mencelat dan hidungnya yang

mencium tanah dengan keras itu mengeluarkan darah.



"Tangkap gadis liar ini!" terdengar Hui-houw-pangcu Lauw Teng memberi aba-aba.



"Bunuh saja dia!" terdengar ketua Kiang-liong-pang berseru. Dua fihak yang tadinya

bermusuhan, untuk sementara melupakan permusuhan mereka dan tanpa berunding sudah

bersekutu untuk mengalahkan gadis berbahaya itu.



Dengan pendengarannya yang tajam Kun Hong dapat mengikuti semua peristiwa itu.

Hatinya berdebar ketika dia mendengar pengakuan gadis yang baru datang itu. Nama Tan

Beng Kui tentu saja dikenalnya baik sungguhpun belum pernah dia bertemu muka dengan

orangnya. Dia sudah banyak mendengar dari ayah bundanya tentang Tan Beng Kui karena



orang ini dahulu juga seorang pejuang gagah, murid pertama dari Raja Pedang Cia Hui Gan.

Bukan itu saja, malah Tan Beng Kui ini adalah kakak kandung dari Tan Beng San yang

sekarang menjadi ketua Thai-san-pai. Kun Hong amat kagum dan takluk kepada Tan Beng

San, orang yang amat dia hormati karena kegagahannya, apalagi kalau dia ingat bahwa Tan

Beng San adalah ayah dari mendiang kekasihnya, Tan Cui Bi, Malah boleh dibilang dia

adalah murid langsung dari Tan Beng San Si Raja Pedang itu, yang ketika dia menjadi buta,

telah membisikkan rahasia dari Ilmu Sakti Im-yang-sin-kun-hoat (Baca cerita Raja Pedang

dan Rajawali Emas).



Sekarang gadis yang mengaku berjuluk Bi-yan-cu Si Walet Jelita ini, yang bukan lain adalah

keponakan dari Tan Beng San, berada di sini dan terancam bahaya pengeroyokan dua fihak

yang tadinya bertentangan. Angin gerakan gadis itu tadi membuktikan bahwa ia

berkepandaian tinggi, tentu telah mewarisi Ilmu Silat Sian-li-kun-hoat dari ayahnya. Akan

tetapi menghadapi pengeroyokan demikian banyaknya orang, tentu berbahaya juga.

Seorang gadis yang menurut suaranya takkan lebih dari delapan belas tahun usianya itu

mana boleh mati dikeroyok, juga amat tidak baik kalau mengamuk dan menjadi pembunuh

puluhan orang manusia. Dia harus segera turun tangan, demikian Kun Hong mengambil

keputusan.



Sudah terdengar olehnya suara senjata beradu disusul pekik kesakitan banyak orang. Ah,

jelas bahwa gadis lihai itu tentu sudah mengamuk, pikirnya. Cepat Kun Hong melompat

berdiri, tongkatnya siap di tangan kanan dan tangan kirinya mengeluarkan mahkota itu,

diangkatnya tinggi-tinggi lalu dia berseru nyaring,



"Heeii, kalian semua berhentilah bertempur dan lihat apa yang berada di tanganku ini!!"



Karena ketika berseru ini Kun Hong mengerahkan sedikit tenaga khikang dari dalam

perutnya, tentu saja suaranya nyaring sekali mengatasi semua kegaduhan dan mendadak

semua pertempuran berhenti ketika mereka melihat benda emas mengkilap terhias

permata berkilauan berada di tangan kiri pemuda buta itu.



"Mahkota pusaka .......!" terdengar teriakan di sana-sini.



"Kalian bertempur untuk memperebutkan benda ini, bukan? Benar-benar kalian tak tahu

malu. Benda ini bukanlah milik kalian, terang bahwa benda ini dirampok dari tangan

seorang pembesar. Sungguh tak baik kalian. Rakyat sudah cukup penderitaannya, kalian

orang-orang kuat dan memiliki kepandaian, mengapa justeru mempergunakan kekuatan itu

untuk menambah kekacauan dan memperberat penderitaan rakyat? Sekarang benda ini

sudah berada di tanganku, hendak kukembalikan kepada yang berhak. Siapa saja tidak

boleh merampas benda ini dan kalian tidak perlu saling bermusuhan lagi!"



Semua orang itu berdiri melongo. Siapa yang takkan terheran-heran menyaksikan aksi

orang buta itu? Dan akhirnya meledaklah suara ketawa saking geli di samping marah dan

mendongkol. Yang paling marah dan mendongkol adalah Lauw Teng. Dia marah sekali

kepada puterinya. Benda itu dia suruh simpan atau bawa puterinya agar tidak diketahui

orang, siapa duga oleh puterinya dititipkan kepada sinshe buta ini.



"Kwa-sinshe, apakah ....... apakah kau sudah gila?" bentaknya marah.



Yang lebih dulu bergerak adalah Swat-ji. Gadis ini kaget dan takut sekali akan kemarahan

ayahnya ketika melihat orang buta itu begitu saja memperlihatkan mahkota kepada semua

orang. Ia cepat meloncat ke depan dengan hidung masih berdarah, menyambar dengan

tangannya untuk merampas mahkota itu dari tangan Kun Hong.



"Sinshe, kau kembalikan titipanku!" katanya. Akan tetapi aneh sekali, sambarannya tidak

mengenai sasaran sehingga ia terhuyung-huyung ke depan. Ia membalik dan dengan suara

merayu ia membujuk, "Sinshe yang baik, kau kembalikan benda itu kepadaku."



"Nona Lauw mahkota ini bukan milikmu, menyesal sekali tak dapat kuberikan kepada

siapapun juga."



Swat-ji marah dan menyerbu untuk merampas mahkota, namun tiba-tiba ia terjungkal dan

untuk kedua kalinya ia mencium tanah. Kini hidung yang tadinya berdarah, berubah

menjadi bengkak.



"Aduh ......." ia mengeluh, "kau ....... keterlaluan....... kau kejam. Tadi kau begitu baik

....... sinshe, bukankah malam nanti kau mau memijati badanku? Kenapa sekarang

merampas mahkota?"



Kembali beberapa orang tertawa mendengar ini dan muka Kun Hong yang berkulit putih itu

menjadi kemerahan. "Nona, jangan keluarkan omongan bukan-bukan!, Seharusnya sebagai

seorang gadis kau tidak bertingkah seperti ini ......."



Tapi pada saat itu Lauw Teng sudah menerjang maju, tangan kanan menghantam dada Kun

Hong sedangkan tangan kiri berusaha merampas mahkota sambil berseru.



"Sinshe buta, kiranya kau hendak mengacau!"



Seperti halnya Swat-ji, pukulan ini tidak mengenai sasaran, juga mahkota tidak terampas,

sebaliknya entah mengapa dan cara bagaimana, tahu-tahu tubuh ketua Hui-houw-pang itu

terjungkal ke bawah! Inilah hebat! Ketua Hui-houw-pang ini terkenal seorang yang cukup

kosen, berkepandaian tinggi. Bagaimana ketika menyerang sinshe muda buta itu seperti

tersandung batu kakinya dan terjungkal begitu mudah? Orang-orang tidak ada yang dapat

mengikuti gerakan Kun Hong dan bagi mereka seakan-akan pemuda buta itu tidak bergerak

apa-apa kecuali mengangkat mahkota itu tinggi-tinggi seperti takut dirampas! Hanya

beberapa orang saja yang menjadi tertegun dan berubah air mukanya. Mereka ini adalah

Lauw Teng sendiri, ketua Kiang-liong-pang, Bhe Ham Ko, tosu dan Kwan Tojin, laki-laki

tinggi besar muka hitam, beberapa orang tamu undangan Lauw Teng, dan juga, nona baju

hitam yang baru datang. Mereka itu melihat betapa ketua Hui-houw-pang tadi roboh oleh

gerakan tangan yang perlahan dan hampir tidak kelihatan dari sinshe buta itu! Keadaan

menjadi gempar dan kini segala kemarahan dan perhatian ditumpahkan semua kepada si

buta! Lupalah semua orang akan urusan yang tadi, lupa akan pertengkaran antara Hui-



houw-pang dan Kiang-liong-pang, lupa pula akan si nona baju hitam yang tadinya hendak

mereka keroyok. Sekarang mahkota berada di tangan sinshe buta, tentu saja dia inilah

yang menjadi sasaran. Dan hal ini tepat seperti yang dikehendaki oleh Kun Hong.



Setelah menyaksikan betapa dengan aneh Lauw Teng roboh sendiri ketika hendak

merampas mahkota, orang-orang tidak berani bertindak sembrono. Mereka memandang

orang buta itu dengan heran dan ragu-ragu apa yang harus mereka lakukan. Kun Hong juga

berdiri tak bergerak, siap untuk membela diri dari setiap serangan.



Seorang anggauta Kiang-liong-pang maju perlahan. Tangan kanannya memegang sebuah

ruyung besi yang berat, Sejak tadi dia mengincar Kun Hong dan dia tidak percaya kalau

tidak mampu menjatuhkan si buta ini. Apa sih sukarnya mengalahkan orang buta? Sekali

pukul beres. Agaknya si buta ini pandai silat, pikirnya, maka harus digunakan akal. Dengan

amat hati-hati dia melangkah terus maju sampai dekat sekali dengan Kun Hong, dalam

jarak satu meter. Pemuda itu tetap tidak, bergerak seakan-akan tidak tahu bahwa dia,

didekati lawan dari depan yang kini sudah menggeletar seluruh urat di tubuhnya untuk

menghantamnya. Tanpa mengeluarkan kata-kata, orang itu kini mengangkat ruyungnya

tinggi-tinggi, menghimpun tenaga lalu "wherrrr!" ruyungnya menimpa ke arah kepala Kun

Hong yang agaknya akan pecah berantakan tertimpa ruyung besi yang berat itu. Seperti

tadi, tanpa menggeser kakinya Kun Hong miringkan kepala dan sekali jari tangannya

bergerak, lawan itu jatuh tersungkur, mengaduh-aduh kesakitan karena ruyungnya

mencium kepalanya sendiri sampai benjol sebesar telur angsa.



Seorang anak buah Hui-houw-pang dari belakang Kun Hong berindap-indap menghampiri

dengan tombak runcing di tangan. Setelah dekat tiba-tiba dia menusuk.



Tombak menusuk angin, terdengar suara keras, tombak patah menjadi tiga dan orang itu

terlempar ke belakang.



Sekarang barulah semua orang tahu atau menduga bahwa si buta itu kiranya bukanlah

seorang sembarangan, melainkan seorang yang memiliki kepandaian luar biasa! Akan tetapi

karena dialah yang kini memegang mahkota yang amat diinginkan itu, semua orang kini

mulai mendekat dengan sikap mengancam.



Dengan kepala dimiringkan Kun Hong dapat mendengar betapa orang-orang itu mendekat

dan mengepungnya, malah yang mengurungnya kini bukanlah orang-orang biasa seperti tadi

telah menyerangnya. Agakhya tokoh-tokoh penting dari kedua fihak mulai hendak turun

tangan secara mengeroyoknya, juga dari sebelah kirinya dia tahu bahwa gadis yang

berjuluk Bi-yan-cu itupun hendak menyerbu dan merampas mahkota. Kun Hong memegang

tongkatnya erat-erat di tangan kanannya.



Dia tidak menanti lama. Segera didengarnya angin menyambar, angin senjata yang

menyerang dari kanan-kiri, depan dan belakang. Cepat dia menggerakkan tongkatnya dan

terdengar suara "cring-cring-cring" berulang-ulang disusul dengan suara gaduh dan jerit

kesakitan. Orang-orang yang belum ikut menyerbu memandang dengan mata terbelalak

keheranan. Mereka tadi melihat orang-orang pilihan dari kedua fihak menyerbu dan hanya



tampak kilat berkelebatan, tapi........... tahu-tahu banyak pedang, golok dan tombak

beterbangan dalam keadaan patah menjadi dua sedangkan lima orang sekaligus roboh

bergulingan, menjerit-jerit karena tangan atau lengan mereka berdarah, luka tergores

benda tajam! Hebatnya, ketika mereka melihat lagi ke arah sasaran, si buta itu masih

berdiri seperti biasa, dengan tangan kiri memegang mahkota tinggi dan tangan kanan

membawa tongkat!



"Minggir ...........!" Bentakan ini keluar dari mulut ketua Kiang-liong-pang dan kakek ini

dengan dayungnya menerjang hebat.



Lauw Teng yang tidak ingin melihat ketua fihak saingan ini dapat merampas mahkota,

cepat mencabut golok besarnya dan hampir berbarengan menyerbu pula ke depan.

Gerakannya ini diikuti oleh Ban Kwan Tojin yang sudah mencabut sepasang pedangnya

karena tosu ini yang berpemandangan tajam sudah mengetahui bahwa pemuda buta ini

bukan orang sembarangan dan memiliki kepandaian yang hebat. Apalagi kalau diingat

keterangan pemuda ini yang mengaku sebagai murid Toat-beng Yok-mo, tentu saja patut

miliki ilmu silat yang luar biasa.



Sementara itu, gadis baju hitam berjuluk Bi-yan-cu, semenjak tadi menahan senjatanya. Ia

seorang gadis yang mewarisi ilmu kepandaian tinggi, pandang matanya awas dan tajam.

Melihat gerak-gerik si buta ini, jantungnya berdebar. Segera ia dapat mengenal dasar-dasar

gerakan yang aneh dan luar biasa, dasar ilmu silat yang sakti. Oleh karena itu, biarpun ia

ikut mendekat, namun ia tidak berani sembrono melakukan penyerangan. Ia masih belum

tahu apa kehendak orang buta yang aneh itu, tidak tahu apakah dia itu kawan atau lawan

dan apa pula yang hendak dilakukan dengan perampasan mahkota itu. Akan tetapi melihat

si buta menentang dua perkumpulan penjahat sekaligus, di dalam hati gadis itu sudah

menganggap Kun Hong sebagai kawan. Maka ia bersikap waspada, pedang di tangan untuk

siap membantu si buta kalau-kalau terancam bahaya pengeroyokan puluhan orang

banyaknya itu.



Dalam waktu hampir bersamaan pelbagai senjata yang digerakkan oleh tangan-tangan

terlatih itu menyambar ke arah tubuh Kun Hong. Yang terdahulu sekali adalah dayung di

tangan Bhe Ham Ko yang menyambar ke arah kepalanya, mengeluarkan suara mengiung

saking kerasnya. Dayung ini menyambar dari kanan ke kiri. Lalu disusul berkelebatnya

golok besar di tangan Lauw Teng. Sambaran golok ini mengarah leher, juga cepat dan

bertenaga sehingga mengeluarkan suara mendesing. Kemudian sepasang pedang di tangan

Ban Kwan Tojin pembantu Lauw Teng itu pun meluncur datang, yang kiri menusuk lambung

yang kanan menyerampang kaki. Gerakan ini dilakukan oleh tosu itu dengan menekuk

lutut, cepat dan berbahaya sekali datangnya pedang, hampir tak dapat diikuti pandangan

mata.







Diam-diam gadis jelita baju hitam mengeluarkan keringat dingin. Ia harus mengaku bahwa

tiga orang ini bukanlah merupakan lawan yang lunak dan andaikata ia sendiri yang diserang

secara berbareng seperti itu, hanya dengan meloncat jauh mengandalkan ginkang (ilmu

meringankan tubuh) saja agaknya akan dapat menyelamatkan dirinya. Akan tetapi orang



buta itu tidak kelihatan bergerak sama sekali, masih berdiri tegak dengan tangan kiri yang

memegang mahkota diangkat tinggi sedangkan tangan kanan memegangi tongkat melintang

di depan dada.



Akan tetapi tiba-tiba kelihatan sinar merah berkilat menyambar-nyambar, merupakan

gulungan sinar merah yang menyilaukan mata, disusul suara nyaring berdencingnya senjata

tajam saling bertemu dan........... tiga orang pengeroyok ini berseru kaget dan masing-

masing melompat mundur sampai tiga meter lebih.



Ketika semua orang yang tadi menjadi silau matanya oleh sinar merah yang bergulung-

gulung itu kini dapat memandang penuh perhatian, mereka melihat bahwa Bhe Ham Ko

bengong memandang dayungnya yang sudah patah menjadi dua potongan kecil di kedua

tangannya, Lauw Teng melongo menatap tangan kanannya yang hanya memegangi gagang

golok sedangkan Ban Kwan Tojin merah mukanya karena pedangnya yang kanan terbang

entah ke mana sedangkan yang kiri sudah semplok (patah) ujungnya!



Apabila semua orang memandang kepada pemuda buta itu, ternyata si buta ini masih saja

berdiri seperti tadi dengan tangan kiri tinggi-tinggi di atas kepala memegang mahkota

emas sedangkan tangan kanan masih memegang tongkat melintang! Apakah pemuda buta

ini main sihir? Demikian para anak buah kedua perkumpulan penjahat itu bertanya-tanya

dan merasa bingung, juga kaget, heran dan gentar. Akan tetapi tentu saja dugaan ini tidak

betul dan para pengeroyok tadi, juga si gadis baju hitam tahu belaka betapa secara hebat

pemuda buta itu tadi menggerakkan tongkatnya yang butut dan tampaklah sinar merah

bergulung-gulung yang menangkis dan merusak semua senjata itu. Yang membikin heran

mereka adalah kehebatan tongkat itu yang demikian ampuhnya sehingga dapat

mematahkan senjata-senjata tajam dan berat. Bukankah tongkat itu hanya tongkat kayu

belaka?



Tentu saja tidak demikian keadaan yang sesungguhnya. Biarpun hanya tongkat kayu, akan

tetapi di sebelah dalamnya adalah pedang Ang-hong-kiam, pedang pusaka yang ampuh

sekali. Apalagi digerakkan oleh tangan yang memiliki tenaga dan kepandaian sakti seperti

Kun Hong, sudah tentu para kepala penjahat itu bukanlah tandingannya!



Kun Hong tersenyum dan berkata, "Mahkota sudah berada di tanganku, akan kukembalikan

kepada yang berhak. Kalian tidak usah saling bermusuhan dan bunuh-membunuh. Lebih

tidak baik lagi kalau kalian meneruskan pekerjaan kalian yang hina dan kotor ini, pasti

kelak tidak akan membawa kalian kepada keselamatan hidup. Sudahlah, aku akan pergi

......."



Setelah berkata demikian dengan langkah perlahan pemuda buta itu berjalan maju

mendahului kedua kakinya dengan tongkat yang dipakai meraba-raba ke depan. Karena dia

buta, tentu saja dia tidak tahu bahwa dia telah salah mengambil jurusan sehingga dia

bukan hendak meninggalkan tempat itu, melainkan dia menuju ke arah kelompok pohon-

pohon besar yang memenuhi hutan kecil di lereng bukit. Kun Hong agak bingung ketika

tongkatnya bertemu dengan batang-batang pohon, dia meraba-raba dan berjalan di antara

pohon-pohon. Ketika dia melangkah maju, dia tidak melihat bahwa di atasnya ada sebuah



cabang pohon yang tergantung rendah. Tahu-tahu kepalanya tertumbuk kepada batang

pohon ini. Kagetnya bukan main karena kalau yang memukul kepala itu adalah serangan

lawan, tentu dia dapat mendengar angin pukulannya. Cepat dia miringkan kepala, akan

tetapi tak dapat dia mencegah keluarnya "telur kecil" menyendul di dahinya yang mencium

batang pohon tadi!



Semua orang yang berada di situ saling pandang dan tak terasa lagi muka tiga orang tokoh

yang keheranan tadi berubah menjadi merah sekali. Orang buta macam begitu saja tak

mampu mereka robohkan! Malah dalam satu kali gebrakan saja mereka telah kehilangan

senjata! Padahal si buta itu mencari jalanpun tidak becus!



"Serang dia!" Hampir berbareng Lauw Teng dan Bhe Ham Ko berseru. Ributlah para anak

buah bajak dan rampok berlari maju, menghujani tubuh Kun Hong dengan serbuan senjata

mereka. Akan tetapi kini Kun Hong tidak mau memberi hati lagi. Dia tadi turun tangan

dengan maksud untuk mencegah mereka saling bunuh dan sengaja dia menimpakan rasa

permusuhan mereka kepada dirinya karena dia yakin bahwa dia mampu menjaga diri

sendiri. Melihat dirinya dikepung dan diserbu, dia menggerakkan tongkatnya ke arah suara

senjata yang menyerangnyai Sinar merah bergulung-gulung dan segera terdengar suara

senjata beradu bertubi-tubi, disusul pekik kesakitan dan tampaklah senjata-senjata para

pengeroyok itu beterbangan seperti daun-daun kering rontok tertiup angin. Kali ini Kun

Hong sengaja menujukan tongkatnya kepada tangan-tangan yang memegang senjata

sehingga dalam sekejap mata saja belasan pengeroyok sudah terluka tangan mereka, luka

berdarah yang biarpun tidak membahayakan keselamatan mereka, namun cukup parah

sehingga membuat mereka tak berdaya dan tak dapat mengeroyok pula.



Serbuan gelombang ke dua juga mengakibatkan belasan orang pengeroyok lain mundur dan

memegangi tangan yang terluka, malah kali ini tidak ketinggalan tangan Lauw Teng, Bhe

Ham Ko dan tosu Ban Kwan Tojin juga terluka!



Melihat kehebatan pemuda buta ini, para pengeroyok menjadi gentar juga, apalagi ketika

Kun Hong yang kini berdiri tegak menghadapi mereka itu berkata, suaranya nyaring dan

penuh pengaruh,



"Jangan kira bahwa aku tidak mampu mengubah luka pada tangan dengan tabasan pada

leher atau tusukan pada ulu hati. Hemmm, orang-orang sesat, apakah kalian masih ingin

merampas mahkota ini yang bukan menjadi hak milik kalian? Sadarlah bahwa perbuatan

busuk takkan mendatangkan kebahagiaan dan keselamatan!"



Semua orang kini memandang betapa si buta itu melanjutkan perjalanannya, hati-hati

sekali berjalan didahului rabaan tongkatnya, malah kini agak membungkuk-bungkuk karena

takut kalau-kalau kepalanya bertumbukan dengan dahan pohon yang rendah lagi.



"Sinshe buta, berhenti kau!" tiba-tiba orang tinggi besar muka hitam yang tadi datang

bersama Bhe Ham Ko melompat ke depan dan menghadang di depan Kun Hong. Mendengar

angin lompatan ini, Kun Hong maklum bahwa orang yang baru datang menyusulnya ini

memiliki kepandaian yang lebih tinggi daripada tiga orang pengeroyoknya tadi.



"Sahabat siapakah dan ada keperluan apa menahanku?"







"Kau tinggalkan mahkota itu dan aku masih akan mengampuni perbuatanmu mengacau di

sini dan menghina kakak iparku, Kiang-liong-pangcu!"



"Hemm, kau siapakah berani bicara sesombong ini?" Kun Hong bertanya.



"Buka telingamu baik-baik. Tuan besarmu ini adalah Tiat-jin (Si Tangan Besi) Souw Ki,

seorang di antara tujuh pengawal kaisar. Mahkota itu adalah benda pusaka di dalam istana

yang dicuri dan dibawa lari oleh bekas pembesar Tan Hok yang berhenti dan mengundurkan

diri. Siapa yang merampas mahkota ini berarti dialah pencurinya dan patut dihukum

sebagai pengkhianat atau pemberontak. Nah, kau serahkan benda itu kepadaku!"



Fihak Hui-houw-pang terkejut sekali mendengar pengakuan orang tinggi besar ini dan

mereka, terutama Lauw Teng, memandang penuh perhatian. Kun Hong sendiri juga

terkejut. Tak disangkanya dia akan bertemu kembali dengan seorang di antara tujuh

pengawal Pangeran Mahkota Kian Bun Ti yang sekarang sudah menjadi calon kaisar karena

kematian kaisar tua, dan dengan sendirinya tujuh orang pengawalnya itu akan naik pangkat

menjadi pengawal kaisar pula. Setelah mendengar namanya, baru dia mengenal kembali

suara orang ini. Agaknya Tiat-jiu Souw Ki sendiri lupa kepadanya dan tidak mengenalnya.

Hal ini tidak aneh pula karena dia sudah menjadi buta dan di puncak Thai-san tiga tahun

yang lalu, ketika Tiat-jiu Souw Ki dan enam orang temannya datang pula mengacau, Kun

Hong belum buta (baca Rajawali Emas). Lebih besar lagi keheranan dan kekagetannya

ketika dia mendengar dari mulut pengawal itu bahwa pembesar yang telah dirampok, yang

katanya mengambil dan melarikan mahkota ini dari istana, bukan lain adalah Tan-taijin

yang merupakan kakak angkat dari Tan Beng San!



"Tidak boleh orang merampas dari tanganku," kata Kun Hong tenang dan suaranya keras.

"Kalau kalian tadinya merampas benda ini dari pembesar she Tan itu, aku harus

mengembalikan kepadanya juga."



"Keparat, berani kau melawan pengawal kaisar?" Tiat-jiu Souw Ki membentak dan tanpa

menanti jawaban Kun Hong dia sudah mengirim pukulan dengan tangan kanannya yang

disertai hawa pukulan dan tenaga dalam yang membuat kepalannya itu sekeras besi.

Memang Souw Ki ini waktu mudanya melatih tangannya dengan bubuk besi sehingga kini dia

memiliki Ilmu Tiat-see-ciang (Pukulan Pasir Besi) yang membuat kepalannya seperti besi

kerasnya dan karena ini pula dia mendapat julukan Tiat-jiu (Si Tangan Besi).



Sambaran pukulan tangan ini sudah cukup untuk diketahui Kun Hong tentang keahlian

lawan. Namun dia tidak gentar, malah mengempit tongkatnya dan menggunakan tangan

dan memapaki pukulan itu dengan dorongan telapak tangannya.



"Dukkk!" Kepalan yang besar dan keras itu bertemu dengan telapak tangan Kun Hong yang



putih dan halus seperti tangan wanita. Akibatnya luar biasa sekali. Souw Ki marasa betapa

kepalannya seperti bertemu dengan kapas, seakan-akan tenaganya tenggelam ke dalam air

dan sebelum dia sempat menarik tangannya, dari telapak tangan itu timbul hawa panas

yang membakar tangannya. Tubuhnya menggigil, dia jatuh berlutut dan lengan tangannya

serasa lumpuh. Kagetnya bukan main dan cepat dia menarik tangannya sambil

mengerahkan tenaga. Kun Hong melepaskan dan betapa kaget hati Souw Ki melihat

kepalan tangannya membengkak dan mulailah terasa nyeri menusuk-nusuk. Dia melompat

mundur dan menyeringai kesakitan.



"Tanganmu tidak apa-apa, besok akan lenyap rasa nyerinya." kata Kun Hong. "Salahmu

sendiri menggunakan tenaga beracun dan kini hawa pukulan menyerang tanganmu sendiri."

Setelah berkata demikian, Kun Hong melanjutkan langkahnya. Tak seorang pun akan

mencoba untuk menyerang lagi sekarang, setelah melihat betapa semua serangan dapat

dipatahkan sekali gebrak saja oleh pemuda buta. Melihat si buta itu berjalan dengan

tongkat di depan, kelihatannya begitu lemah, begitu tak berdaya, akan tetapi hampir

seratus orang banyaknya itu tidak dapat menghalanginya membawa pergi mahkota itu,

benar-benar amat mengherankan! Orang-orang itu hanya mengikutinya dari jauh tak

seorangpun mengeluarkan suara.



Diam-diam gadis jelita baju hitam itupun mengikuti dari jauh. Ia makin kagum kepada Kun

Hong, dan ia dapat melihat sikap para penjahat itu yang agaknya tidak akan mengalah

begitu saja. Siapakah pemuda buta ini? Lihai bukan main, dari mana datangnya. dan apa

maksud sebenarnya membawa pergi mahkota kuno? Demikian bermacam pikiran mengaduk

di hati Bi-yan-cu. Sengaja ia menyelinap di antara pepohonan dan menghilang dari

pandangan mata orang banyak, lalu diam-diam ia mengikuti semua kejadian atas diri Kun

Hong.



Setelah Kun Hong menembus hutan kecil penuh pepohonan itu, barulah si gadis jelita kaget

sekali dan maklum apa yang diharapkan oleh para penjahat itu. Kiranya, tanpa

diketahuinya, orang buta itu salah jalan, menuju ke sebuah tebing yang buntu karena

berujung jurang yang amat curam dan luas, tak mungkin dilalui manusia! Tanpa

diketahuinya, si buta itu berjalan perlahan-lahan, tongkatnya meraba-raba menuju ke

pinggir jurang, sedangkan di belakangnya, hampir seratus orang dari kedua perkumpulan

penjahat itu mengikutinya, siap dengan senjata di tangan malah ada yang sudah

mementang busur!



Melihat betapa orang buta itu menghadapi bahaya maut yang hebat, Bi-yan-cu ingin

berteriak memberi peringatan. Akan tetapi ia menahan hatinya. Mengapa ia harus berbuat

demikian? Ia tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan si buta, kecuali bahwa mahkota

itu berada pada si buta dan harus ia rampas. Si buta itu boleh mampus di tangan penjahat-

penjahat ini, apa sangkut pautnya dengannya? Pula, orang buta itu masih muda dan

tampan sekali, kalau ia seorang gadis tanpa alasan membelanya, bukankah orang akan

menyangka yang bukan-bukan terhadap dirinya? Apalagi kalau diingat betapa si buta tadi

demikian dekat dan baik dengan gadis pesolek genit anak Lauw Teng, dapat diduga bahwa

orang buta itu pun bukan orang baik-baik biarpun kepandaiannya benar-benar amat lihai.

Biarlah mereka saling gempur, dan ia mencari kesempatan baik merampas mahkota itu.



Inilah siasat membiarkan anjing-anjing merebutkan daging sambil menanti kesempatan

untuk menyambar daging itu!



Ketika akhirnya tongkatnya meraba tempat kosong, Kun Hong juga merasa kaget sekali.

Diraba-rabanya sekali lagi ke depan, kanan kiri sama saja. Jelas bahwa tongkatnya memang

meraba tempat kosong. Dia berjongkok, mencoba untuk mengukur dalamnya "lobang" di

depannya itu, siapa tahu hanya sungai kecil. Tapi, biarpun dia sudah mengulur lengan dan

tongkatnya, masih juga belum menyentuh dasarnya. Dan dia tidak mendengar suara air

sungai. Kemudian dia mundur dan melangkah dua tindak ke belakang, keningnya berkerut.

Telinganya mendengar suara burung jauh di bawah ketika dia berjongkok tadi. Tahulah dia

sekarang bahwa di depannya adalah jurang yang sangat curam, bahwa di "bawah" sana itu

adalah kaki gunung, dusun-dusun dan pohon-pohon di mana burung-burung beterbangan!



"Kwan-sinshe, kau masih tidak mau menyerahkan mahkota itu?" tiba-tiba dia mendengar

suara bentakan di belakangnya, suara Lauw Teng, juga dia mendengar kaki puluhan orang

banyaknya, bergerak berindap-indap ke arahnya dari belakang, kanan dan kiri. Dia maklum

bahwa dirinya sudah terkurung dari kanan kiri belakang oleh para lawannya, dari depan

dihalangi jurang yang tak mungkin dilalui. Dia membalik, tersenyum dan menjawab,



"Pangcu, kalau mahkota ini terjatuh ke dalam tanganmu, tentu orang-orang Kiang-liong-

pang takkan diam begitu saja dan akan merampasnya dari tanganmu, sebaliknya kalau

kuberikan kepada ketua Kiang-liong-pang, tentu kau dan anak buahmu juga tidak akan mau

menerima begitu saja. Karena itu, biarlah tetap di tanganku dan kalian tidak usah saling

bermusuhan." Kun Hong melangkah maju, ingin segera menjauhi pinggir jurang karena hal

ini amat berbahaya baginya.



Akan tetapi atas dorongan ketua kedua perkumpulan, para bajak dan perampok segera

menyerbu, didahului melayangnya puluhan batang anak panah ke arah Kun Hong! Pemuda

buta itu cepat memutar tongkatnya dan anak-anak panah itu runtuh semua, ada yang

melejit dan meluncur kembali menyerang tuannya sendiri. Biarpun Kun Hong dihujani anak

panah, namun tak sebuah pun dapat menyentuhnya. Tongkat yang dia gerakkan merupakan

perisai yang amat tangguh, juga gerakannya mengandung hawa sakti yang amat kuat

sehingga anginnya saja cukup untuk mengusir pergi anak panah yang mendekatinya.



Akan tetapi puluhan orang itu mendesak maju, kini menggunakan toya, tombak dan

scnjata-senjata panjang lain. Kun Hong menangkis, mematahkan banyak tombak dan toya,

merobohkan banyak pengeroyok dengan melukai mereka tanpa membahayakan

keselamatan nyawa. Karena menghadapi pengeroyokan berat, dia terpaksa harus bergerak

ke sana ke mari, mulai menendang untuk membantu tongkatnya. Dia tidak gentar

menghadapi pengeroyokan orang-orang yang baginya bukan merupakan lawan yang tangguh

itu... akan tetapi karena para penjahat itu mengeroyoknya sambil berteriak, hal ini amat,

membingungkan Kun Hong. Harus diketahui bahwa pemuda buta ini dalam setiap

pertempuran mengandalkan telinganya. Kini orang-orang itu mengeluarkan teriakan-

teriakan gaduh, tentu saja pendengarannya menjadi kacau-balau dan dia tak dapat

menangkap desir angin sambaran senjata lagi. Dalam keadaan begini terpaksa Kun Hong

hanya mainkan tongkat melindungi dirinya saja, dan terpaksa dia menggunakan kakinya



untuk menendang dan merobohkan lawan, karena untuk merobohkan lawan dengan

tongkatnya, dia khawatir kalau-kalau akan menewaskannya.



Mendadak di antara para pengeroyok itu ada yang mengeluarkan tambang panjang,

dipegang melintang dan dipasang di depan Kun Hong yang masih sibuk menghadapi

pengeroyokan. Secara tiba-tiba tambang ditarik dan dipergunakan untuk membetot kaki

orang buta itu. Kun Hong kaget dan cepat melompat ke sana ke mari. Akan tetapi

celakalah dia kalau sampai jatuh karena libatan tambang, Orang-orang yang

mengeroyoknya bersorak dan pengeroyokan menjadi makin ketat.



"Manusia-manusia curang!" Bi-yan-cu tak dapat menahan kemarahannya lagi dan sesosok

bayangan hitam berkelebat didahului sinar pedang yang menyilaukan mata. Pekik kesakitan

susul-menyusul, dan beberapa orang penjahat roboh oleh pedang si gadis yang ampuh.



"Heee........... jangan...........!" Kun Hong berteriak mendengar jeritan-jeritan itu, akan

tetapi pada saat itu dia lupa dan melompat agak jauh. Celaka baginya, dia justeru

melompat ke arah jurang, tepat di pinggirnya, kakinya terpeleset dan tanpa dapat dicegah

lagi tubuhnya terguling ke dalam jurang.



Para bajak dan perampok bersorak-sorai dan mereka kini membalik untuk mengeroyok

gadis jelita baju hitam yang mengamuk seperti seekor naga betina.



Sebetulnya, ketua dari dua perkumpulan penjahat itu tidak ada nafsu untuk mengeroyok

Bi-yan-cu, karena selain mereka tidak suka bermusuhan dengan puteri Sin-kiam-eng Tan

Beng Kui si raja kecil dari pantai Po-hai, juga mahkota kuno yang diperebutkan berada di

tangan si buta yang kini sudah terjungkal ke dalam jurang. Perlu apa ribut-ribut dengan

gadis liar itu? Akan tetapi, keadaannya lain sekarang. Bukan mereka yang sengaja

mengeroyok, adalah Bi-yan-cu yang sengaja mengamuk! Entah bagaimana, melihat betapa

pemuda buta itu dikeroyok sampai terjungkal ke dalam jurang, gadis ini menjadi marah

sekali dan mengamuk seperti ayam betina diganggu anaknya.



Karena amukan gadis ini merobohkan banyak anak buah bajak dan perampok, dua orang

ketua itu bersama para pembantunya menjadi marah dan mereka lalu menyerbu dan

dikeroyoklah Bi-yan-cu oleh banyak orang kosen. Ilmu pedang gadis itu benar-benar hebat,

tepat seperti yang diduga oleh Kun Hong tadi. Gerakannya lincah dan lemas, seperti sedang

menari-nari dengan indahnya, namun setiap gerakan pedang pasti mematahkan senjata

lawan atau melukainya.



Betapapun juga, menghadapi pengeroyokan Lauw Teng, Ban Kwan Tojin, Bhe Ham Ko, lima

orang tamu undangan termasuk Tiat-jiu Souw Ki yang tingkat kepandaiannya sudah tinggi

juga, gadis ini mulai terdesak. Ilmu pedangnya yang sakti, yaitu Ilmu Pedang Sian-li-kiam-

sut (Ilmu Pedang Bidadari) memang dapat menyelamatkan dirinya. Gerakannya masih tetap

lincah dan indah, akan tetapi lewat seratus jurus, ia mulai lelah.



"Ha-ha-ha, gadis liar, apakah engkau masih hendak mengamuk lagi? Hemmmm, melihat

muka ayahmu, asal kau melepaskan pedang dan berlutut minta maaf, biarlah kulepaskan



kau!" kata Lauw Teng yang bagaimanapun juga masih merasa khawatir kalau-kalau dia

menimbulkan bibit permusuhan dengan raja kecil pantai Po-hai yang amat terkenal itu.



"Lebih baik mampus daripada minta maaf kepada penjahat-penjahat keji macam kalian!"

sambil memutar pedangnya dengan cepat sehingga pedang itu berubah menjadi gundukan

sinar kemilauan, gadis itu memaki. "Manusia-manusia curang, kalau memang gagah jangan

main keroyokan!"



Sekali gulungan sinar pedang itu menyambar ke kiri, seorang pengeroyok menjerit dan

pundaknya terbabat pedang. Baiknya ia masih sempat melempar diri ke belakang sehingga

hanya kulit dan bagian daging pundaknya saja yang sapat oleh pedang. Namun cukup

mendatangkan rasa perih dan nyeri bukan main sehingga ia melompat mundur sambil

merintih-rintih. Lagi terdengar jeritan keras ketika pedang Bi-yan-cu yang dikelebatkan ke

belakangnya berhasil merobek kulit dan daging paha seorang pengeroyok lain, malah dalam

detik berikutnya pedang itu sudah menusuk ke arah leher Bhe Ham Ko dengan kecepatan

kilat. Orang she Bhe ini berseru kaget dan tak kuasa untuk menangkis atau mengelak lagi,

sudah meramkan mata menanti datangnya maut.



"Tranggg!" Ruyung di tangan Tiat-jiu Souw Ki menangkis pedang yang akan merenggut

nyawa kakak isterinya itu. Ujung ruyungnya terbabat putus akan tetapi gadis itu sendiri

terhuyung mundur, tangannya terasa sakit. Ia maklum bahwa tenaga Iweekang dari Si

Tangan Besi itu benar-benar kuat sekali. Sebelum ia dapat mengambil kedudukannya, ia

telah diserang gencar oleh senjata-senjata lawan secara bertubi-tubi.



Sekali putar pedangnya dapat menangkis semua senjata, dan ruyung yang sudah

menghantam pinggangnya telah ia tangkis dengan sebuah tendangan keras menggunakan

tumit kakinya. Pada saat itu, golok dan pedang lawan yang lain sudah menggempurnya, Bi-

yan-cu menggoyang pedangnya, tapi agaknya para pengeroyoknya yang terdiri dari orang-

orang pandai ini sudah bersepakat untuk mengalahkannya. Dari kanan kiri datang golok dan

pedang yang menjepit pedangnya. Bi-yan-cu kaget, mengerahkan tenaga untuk menarik

pulang pedangnya. Namun pada saat itu, sebatang pedang lain menyerampang kakinya.

Cepat ia meloncat ke atas dan tak dapat dicegah lagi ia harus menerima hantaman dayung

yang datang dari kanan, menggunakan pangkal lengan kanannya.



"Bukkk!" Hantaman itu membuat tubuhnya tergetar tangan kanannya lumpuh kaku dan

terpaksa ia melepaskan pedangnya untuk dapat meloncat ke atas, lalu membalik ke

belakang dan keluar dari kepungan.



"Hayo berlutut minta ampun kalau tidak mau mampus!" sekali lagi Hui-houw-pangcu Lauw

Teng membentaknya.



Gadis itu berdiri dengan tegak, matanya berapi-api, kepalanya dikedikkan dan mulutnya

tersenyum mengejek. Ia adalah puteri seorang gagah perkasa dan semenjak kecil ia sudah

digembleng tentang kegagahan. Mati bukan apa-apa bagi Bi-yan-cu. Sambil mengeluarkan

pekik nyaring gadis ini malah menerjang maju dengan tangan kosong, menggunakan

kepalan tangan dan tendangan kaki!



Para pengeroyoknya yang sudah menjadi marah itu menyambutnya dengan hujan bacokan.



"Cring-cring-cring ...........!" Sinar merah berkelebat dan senjata-senjata para pengeroyok

itu berpelantingan. Semua orang mundur penuh keheranan dan ........ kiranya si buta

sudah berada di situ. Si buta inilah yang tadi menangkis semua senjata itu, menolong

nyawa Bi-yan-cu. Dan tangan kiri yang diangkat tinggi-tinggi itu masih memegang mahkota

yang diperebutkan!



Ketika Kun Hong menginjak pinggir jurang yang mengakibatkan dia terperosok dan

terguling ke dalam jurang, pemuda ini tidak kehilangan akal. Dengan menahan napas dia

mengerahkan seluruh kekuatan ginkangnya, memutar tongkatnya menusuk-nusuk ke kanan

kiri. Akhirnya usahanya berhasil. Sebelum terlalu dalam dia terjatuh, ujung tongkat yang

ditusukkan telah menancap dinding jurang yang merupakan tanah keras.



Dia bergantung di situ. Mahkota itu dia selipkan dalam buntalan di punggungnya, lalu

tangan kirinya meraba-raba. Begitu mendapat pegangan, yaitu batu yang menonjol pada

dinding itu, dia mencabut pedang, menggunakan tangan kiri menarik tubuh ke atas dan

menancapkan pedangnya di sebelah atas. Demikianlah, biarpun lambat akhirnya dia

berhasil merambat ke atas kembali dan meloncat ke luar dari jurang yang merupakan

mulut maut yang akan menelannya. Dan tepat sekali dia masih keburu menyelamatkan Bi-

yan-cu dari bahaya maut di tangan para penjahat.



Lauw Teng dan kawan-kawannya melihat munculnya si buta ini menjadi kaget dan khawatir

sekali. Akan tetapi Tiat-jiu Souw Ki yang berpikiran cepat dan cerdik segera berkata,

"Tawan dulu gadis liar ini!" Dia mendahului menubruk ke arah Bi-yan-cu, disusul kawan-

kawannya. Gadis itu tadinya merasa heran, kaget dan juga girang melihat Kun Hong,

sekarang dengan cepat ia berusaha untuk melawan. Akan tetapi karena lengan kanannya

terasa kaku dan lumpuh, sia-sia saja ia melawan dan dapatlah ia diringkus dan diikat kaki

tangannya.



"Sinshe buta, jangan bergerak atau........... gadis ini akan kami bunuh lebih dulu!" teriak

Tiat-jiu Souw Ki dengan suara nyaring sambil menempelkan ruyungnya pada kepala Bi-yan-

cu.



Lemas seluruh tubuh Kun Hong mendengar ini. Karena matanya sudah buta, ilmu silatnya

hanya dapat dia pergunakan untuk menjaga diri, yaitu dia dapat menghadapi tiap serangan

dan sekalian merobohkan lawannya. Akan tetapi untuk menyerang orang, sungguh sukar

baginya, apalagi untuk menolong gadis yang dikeroyok itu. Tadi dia masih dapat

menggerakkan tongkat untuk menghalau semua senjata mengandalkan pendengarannya

terhadap angin pukulan senjata itu, sekarang tak mungkin dia secara mengawur dapat

mengamuk. Pula, bukan maksudnya untuk menyerang orang kalau dia sendiri tidak

diganggu. Maka sejenak dia menjadi bingung, tak tahu dengan cara bagaimana dia dapat

menolong puteri dari Sin-kiam-eng Tan Beng Kui.



"Sudahlah," akhirnya dia berkata dengan suara rendah. "Kalian menghendaki mahkota butut

ini? Nah, kalian boleh menerimanya asal gadis itu dibebaskan."



Lauw Teng, Ban Kwan Tojin, Souw Ki, dan Bhe Ham Ko saling pandang. Lalu Tiat-jiu Souw

Ki mewakili mereka semua bersuara,



"Sinshe buta, kami baru mau membebaskan gadis ini kalau kau suka menyerah menjadi

tawanan kami dan menyerahkan mahkota itu."



Kun Hong mengerutkan kening. Tentu saja berbahaya baginya kalau dia sampai menyerah

dan menjadi tawanan orang-orang kejam ini. Besar kemungkinan dia akan dibunuh mati.

Sebaliknya, kalau tidak menyerah dan mengamuk, sungguhpun dia mampu mengalahkan

mereka, namun gadis puteri Tan Beng Kui itupun terancam keselamatan nyawanya. Gadis

yang menurut suaranya baru belasan tahun usianya itu benar-benar amat sayang kalau

harus mati, apalagi ia puteri Tan Beng Kui, atau lebih tepat lagi, ia apalagi kemenakan Tan

Beng San Taihiap! Berbeda dengan dia, seorang buta yang tidak berharga, baik jiwa

maupun raganya. Mati baginya hanya berarti mempercepat persatuan kembali dengan

mendiang Tan Cui Bi, kekasihnya, matahari hidupnya!



"Baiklah, aku menyerah. Kalian bebaskan gadis itu!" katanya sambil menarik napas

panjang.



"Ha-ha, pengemis buta! Jangan kira kami begitu bodoh. Kau harus menyerah untuk

dibelenggu kedua tanganmu!" Bhe Ham Ko tertawa mengejek.



Kun Hong tersenyum masam, menahan kemarahannya, lalu mengulurkan kedua lengan

disejajarkan ke depan. "Boleh, kalian belenggulah." Seorang anak buah Kiang-liong-pang

yang diberi isyarat oleh ketuanya lalu melangkah maju, membawa tambang kulit kerbau

yang kuat sekali.



"Jangan mau menyerah! Kau akan dibunuh oleh penjahat-penjahat jahanam ini!" tiba-tiba

Bi-yan-cu berseru nyaring.



Kun Hong menggelengkan kepala. "Lebih baik aku yang dibunuh, apa sih artinya orang

seperti aku? Hayo, kalian belenggulah aku, tapi lepaskan dulu gadis itu!"



"Kau harus dibelanggu lebih dulu!" Kata Bhe Ham Ko. Tentu saja dia tidak menghendaki si

buta ini kemudian tidak memegang janjinya setelah si gadis dibebaskan.



"Hah, kalian tidak percaya kepadaku. Hemmm, sebaliknya bagaimana aku dapat percaya

kepada kalian?"



"Jangan mau diperdayai!" kembali gadis itu mencela nyaring. "Kalau mereka berani

menggangguku, ayah akan datang menghancurkan jiwa anjing mereka, tidak seekor pun

akan diampuni!"



Kun Hong tidak membantah ketika anak buah bajak itu membelenggu kedua pergelangan

tangannya dengan tali kulit yang amat kuat itu, Juga mahkota itu diambil dari buntalannya

dan diserahkan orang kepada Souw Ki yang lalu tertawa bergelak.



"Lepaskan gadis liar itu," kata Souw Ki. "Jangan sampai dunia kang-ouw mengatakan kita

tidak memegang janji. Nona, katakan kepada ayahmu bahwa bukan sekali-kali kami hendak

memusuhinya, akan tetapi karena kau sendiri yang memusuhi kami, terpaksa kami

bertindak. Kau harus tahu bahwa aku adalah pengawal kaisar dan karena benda ini adalah

milik istana, sudah menjadi kewajibanku untuk mengambilnya kembali."



Nona itu dibebaskan. Ia meloncat berdiri akan tetapi terhuyung-huyung. Kakinya terasa

kaku dan tangan kanannya tak dapat digerakkan, agaknya ada tulang yang patah. Ia pergi

menjemput pedangnya yang menggeletak di atas tanah, memegangnya dengan tangan kiri,

dipegangnya erat-erat sambil menggigit bibir. Ingin ia mengamuk dan membunuh semua

penjahat ini untuk merampas mahkota dan menolong si buta, akan tetapi ia tidak begitu

bodoh dan tahu-pula bahwa usahanya ini akan sia-sia dan hanya akan mengorbankan nyawa

dengan sia-sia belaka. Andaikata belum terluka lengan kanannya tentu ia takkan menyerah

mentah-mentah.



Ia berdiri seperti patung melihat betapa ujung belenggu yang masih panjang ditarik orang

dan si buta itu diseret seperti orang menuntun kerbau saja. Beberapa kali Kun Hong

tersandung batu dan terhuyung-huyung akan jatuh, ditertawai oleh anak buah bajak dan

rampok. Tanpa menggunakan tongkatnya untuk meraba jalan di depan kakinya, tentu saja

dia tak dapat berjalan dengan baik, tidak melihat adanya batu-batu yang menghalang

kedua kakinya, apalagi diseret seperti itu. Tongkat itu masih dipegangnya, akan tetapi

tidak dapat digunakan karena kedua tangannya harus diangkat agak tinggi ketika diseret.



"Kenapa .......... kenapa kau lakukan ini...........?" gadis itu berteriak, menahan isak.



Kun Hong mendengar ini, biarpun teriakan itu sebetulnya hanya nyaring di dalam hati gadis

itu, yang keluar dari bibirnya keluhan perlahan. Dia menengok dan tersenyum, berkata,

"Nona, mengingat pamanmu, Tan Beng San taihiap, aku rela melakukan ini..........."



Sementara itu, kesibukan nampak pada para pimpinan kedua perkumpulan yang tadinya

saling bermusuhan tapi sekarang telah berbaik kembali.



"Souw-ciangkun, dalam merampas kembali mahkota dari tangan bekas pembesar Tan, kami

pun mempunyai jasa, jangan lupakan ini!" terdengar Lauw Teng berkata.



Tiat-jiu Souw Ki tertawa. "Jangan khawatir, Lauw-pangcu. Aku akan membawa kembali

mahkota ini ke kota raja dan di depan sri baginda kaisar pasti akan kulaporkan tentang jasa

Hui-houw-pang dan Kiang-liong-pang. Tunggu saja, tak lama kalian semua akan

memperoleh anugerah dari kaisar."



Para anak buah bajak dan rampok bersorak gembira. Souw Ki lalu memilih sepuluh orang

dari Hui-houw-pang dan sepuluh orang lagi dari Kiang-liong-pang untuk mengawalnya ke

kota raja. Malah Ban Kwan Tojin yang hendak berpesiar ke kota raja pun menyertai

rombongan ini. Hui-houw-pang yang merasa berterima kasih bahwa adik ipar dari bekas

musuhnya ini ternyata tidak memusuhinya cepat menyediakan dua puluh dua ekor kuda

yang kuat-kuat untuk rombongan itu.



Berangkatlah dua puluh dua orang itu naik kuda. Anak buah yang berkuda paling belakang

memegang ujung tali belenggu tangan Kun Hong. Begitu kuda bergerak, tubuh Kun Hong

tersentak ke depan dan terpaksa pemuda buta ini lari pontang-panting, meloncat-loncat

agar jangan tersandung batu, dengan kedua tangan diacungkan ke depan. Dia terhuyung-

huyung ke depan dan agaknya penglihatan ini amat lucu bagi kedua golongan hitam

buktinya mereka tertawa bergelak-gelak dengan geli.



Bi-yan-cu menyelinap pergi di antara pepohonan, tangan kiri yang menggenggam gagang

pedang diusapkan ke depan muka untuk menghapus air mata yang berderai jatuh ke atas

kedua pipinya.



***



Tiat-jiu Souw Ki memang seorang yang amat cerdik. Ketika mendengar bahwa pemuda buta

ini pandai ilmu pengobatan, timbul niat hatinya untuk memaksa pemuda itu ikut ke kota

raja agar dapat dipergunakan kepandaiannya itu. Tentang kepandaiannya ilmu silat yang

demikian hebatnya, ah, tak usah dikhawatirkan karena betapapun pandainya seorang buta

tentu mudah ditipu.



Biarpun kuda-kuda itu berlari tidak terlalu cepat, namun keadaan Kun Hong yang diseret-

seret cukup sengsara. Berkali-kali dia terperosok ke dalam lubang di tanah, atau

tersandung batu sehingga dia terjungkal ke depan dan terseret oleh kuda. Baiknya pemuda

ini memang memiliki ginkang yang tinggi dan tubuhnya sudah memiliki hawa murni yang

membuat kulitnya kebal sehingga biarpun tampaknya dia tersiksa sedemikian hebatnya,

namun sesungguhnya dia tidak sampai menderita nyeri dan tidak terluka sama sekali. Tadi

memang dia menyerahkan diri untuk menggantikan gadis itu, dan dia sengaja menurut saja

diseret-seret sampai beberapa jam lamanya untuk memberi kesempatan kepada gadis itu

pergi menjauhkan diri. Selain itu, juga lebih mudah baginya untuk turun gunung dengan

cara "membonceng" seperti ini daripada harus mencari jalan sendiri di tempat yang asing

baginya. Memang cocok sekali harapannya, dia diseret turun gunung dan hari telah

menjelang senja ketika rombongan itu memasuki sebuah dusun di kaki gunung.



Bukan hal aneh pada masa itu bahwa rakyat amat takut terhadap setiap rombongan orang

yang bersenjata, baik rombongan ini merupakan pasukan tentara pemerintah atau bukan.

Ini terjadi akibat tekanan-tekanan dan gangguan yang selalu dilakukan oleh rombongan-

rombongan macam itu untuk menyenangkan diri sendiri tiap kali mereka melewati sebuah

dusun. Merampas makanan tanpa bayar, memaksa penduduk membawakan beban,

merampas kaum wanita dan sebagainya. Maka ketika pada sore hari itu rombongan Tiat-jiu



Souw Ki memasuki dusun di kaki gunung ini, penduduknya sudah pada lari menyembunyikan

diri, rumah-rumah sebagian besar ditutup pintunya.



Rombongan itu berhenti di tengah-tengah dusun, di depan sederetan rumah-rumah gubuk

kecil terbuat daripada bambu, rumah orang-orang miskin. Juga rumah-rumah ini biarpun

tidak ditutup pintunya, kelihatan sunyi tiada penghuninya. Memang perlu apa rumah-rumah

ini ditutup pintunya kalau di dalamnya tiada sesuatu yang cukup berharga untuk dicuri

orang?



Tiat-jiu Souw Ki yang merasa lapar dan haus, yang lelah setelah tadi mengalami

pertempuran, ingin beristirahat dan bermalam di kampung ini. Melihat kesunyian tempat

itu, dia mengerutkan kening dan mengomel.



"Sungguh tidak sopan penduduk dusun ini!" Ban Kwan Tojin menjawab. "Memang sebagian

besar dusun-dusun seperti ini selalu dikosongkan kalau ada rombongan orang-orang asing

lewat, Ciangkun. Karena itu, kalau pemerintah yang baru sekarang ini benar-benar sudah

lengkap, harus segera mengusahakan adanya penjabat-penjabat kecil di setiap dusun

sehingga segala sesuatu mengenai penghuni dusun-dusun dapat diatur sebaiknya."



Tiat-jiu melirik ke arah tosu itu dan diam-diam dia dapat menjeguk isi hati tosu ini yang

seperti juga orang-orang lain ternyata mempunyai ambisi untuk menjadi orang berpangkat.

Dia sedang hendak memerintahkan orang-orangnya untuk mencari tempat penginapan yang

baik baginya, tentu saja bukan rumah penginapan umum karena di dusun sekecil itu mana

ada losmen? Yang dia maksudkan adalah rumah terbaik, tak perduli tempat tinggal

siapapun, untuk dia mengaso malam itu. Akan tetapi tiba-tiba dari sebuah di antara rumah-

rumah gubuk itu keluarlah seorang anak laki-laki kecil. Usianya paling banyak lima tahun,

tubuhnya kurus kering dan setengah telanjang. Anak ini keluar setengah berlari, akan

tetapi tiba-tiba terhenyak di depan pintunya ketika dia melihat begitu banyak kuda-kuda

besar ditunggangi orang berkumpul di depan rumahnya. Sepasang matanya yang bening itu

berseri gembira dan mulutnya segera berseru,



"Kuda bagus....... kuda bagus.......!"



"........... A Wan .......... A Wan ........" tiba-tiba terdengar suara wanita memanggil dari

dalam gubuk itu, suaranya yang terdengar gemetar ketakutan.



Akan tetapi anak kecil itu berjalan tertatih-tatih menonton kuda sampai dia tiba di bagian

paling belakang rombongan itu. Sejenak dia tertegun memandang kepada Kun Hong.

Pemuda buta ini berdiri dalam keadaan terbelenggu kedua tangannya, ujung tambang

belenggu dipegang si penunggang kuda. Pakaian si buta itu di bagian punggung robek-robek

semua, di bagian lain sudah kotor oleh debu, juga mukanya berkeringat penuh debu,

membuat muka itu kotor dan hitam. Akan tetapi orang buta ini mulutnya tersenyum karena

sesungguhnya Kun Hong girang juga ketika mendapat kenyataan bahwa dia telah dapat

"membonceng" rombongan itu sampai ke sebuah dusun. Kalau dia sendiri yang turun dari

puncak tanpa penunjuk jalan, kiranya dia akan tersesat dan entah sampai kapan dapat

bertemu dengan dusun atau orang.



"Kasihan paman buta ........... lepaskan........... lepas...........!" Anak itu berteriak-teriak

sambil mendekati Kun Hong.



"Anak baik...........!" Kun Hong berkata halus, suara anak itu menggetarkan jantungnya.



"Anak haram, minggat!" seorang di antara para pengiring Souw Ki membentak dan "tar!

tar!" cambuknya menyambar ke tubuh anak itu.



Anak itu menjerit dan lari mundur sambil menangis. Dari dalam gubuk berlari ke luar

seorang wanita yang serta merta menubruk anaknya, lalu bersama anak itu ia berlutut.



"Ampun, Tai-ya........... ampunkan kami ..........." Wanita itu memohon sambil

mengangguk-anggukkan kepalanya sampai menyentuh tanah, wajahnya pucat dan ketika ia

melirik ke arah Kun Hong, melihat orang buta ini dibelenggu dan pakaiannya rompang-

ramping mukanya kotor penuh debu, ia menjadi makin ngeri dan ketakutan sampai

tubuhnya menggigil!



Kun Hong tidak tahu mengapa si kejam itu menahan cambuknya, lalu terdengar orang-

orang itu tertawa kecil, malah si pemegang cambuk berkata perlahan, "Aiihh,

cantik..........."







Lalu terdengar suara Tiat-jiu Souw Ki, "Suruh dia melayaniku nanti!"



Si pemegang cambuk mengajukan kudanya mendekati wanita yang berlutut bersama

anaknya yang masih terisak-isak itu dan berkata dengan suaranya yang parau.



"He, manis, kau dengar sendiri ucapan Souw-ciangkun tadi. Sebentar malam kau diajak

minum arak manis, ha-ha-ha! Hayo kau ikut sekarang juga."



"Tidak ..........." perempuan itu menangis.



"Apa katamu? Setan! Berani kau menolak?"



"Ampun, Tai-yin........... hamba........ hamba tidak bisa ..........."



"Tar! Tar!" Cambuk berbunyi mengerikan di udara, di atas kepala wanita itu. "Anakmu

berbuat kurang ajar, ciangkun masih mengampuni malah hendak mengajak kau minum

arak, tapi kau benar-benar kurang terima. Agaknya kau hendak melihat anakmu dibanting

mampus baru menurut!" Cambuk itu menyambar ke arah bocah tadi dan tahu-tahu telah

melibat tubuhnya terus dihentakkan ke atas.



Berbareng dengan jerit mengerikan dari ibu muda itu, terdengar suara menggereng hebat,

sesosok bayangan menyambar ke arah si pemegang cambuk dan pada detik lain si

pemegang cambuk itu telah terbanting jatuh dari kudanya dan anak kecil itu telah berada



dalam pondongan Kun Hong! Kiranya pendekar buta yang sakti ini tidak dapat menahan lagi

hatinya mendengar semua peristiwa yang tak dapat dilihatnya itu. Karena maklum bahwa

ibu dan anak itu terancam bahaya hebat, sekali renggut saja belenggu yang mengikat

pergelangan tangannya putus semua dan sekali mengenjot tubuh dia telah menerjang si

pemegang cambuk yang kejam, mendorongnya jatuh sambil merampas bocah tadi. Kini

dengan tangan kiri memondong A Wan dan tangan kanan memegang tongkat erat-erat Kun

Hong menggeser kakinya mendekati si wanita yang masih berlutut dan menangis.



"Tiat-jiu Souw Ki, kau sejak dahulu tak pernah mengubah watakmu yang jahat!" Kun Hong

memaki, berdiri dengan tegak dan gagah. "Kau dan enam orang kawanmu benar-benar

merupakan tujuh pengawai yang jahat. Dahulu Pangeran Kian Bun Ti yang hendak

menggangu keponakan-keponakanku, sekarang kau dan anak buahmu ternyata juga bukan

manusia baik-baik. Hemm, kalau tidak lekas-lekas membawa orang-orangmu ini pergi

meninggalkan dusun ini jangan bilang aku keterlaluan kalau aku membikin kalian semua

tidak dapat lagi meninggalkan tempat ini!" Sambil berkata demikian Kun Hong membuat

gerakan melintangkan tongkatnya di depan dada, gerakan yang sudah dikenal baik oleh

Souw Ki dan teman-temannya ketika Kun Hong mengamuk dikeroyok tadi.



Souw Ki kaget dan pucat wajahnya. Dia memandang penuh perhatian, serasa pernah

melihat orang muda yang bersikap begini tabah dan berani, malah yang sekarang berani

sekali menyebut-nyebut nama kaisar baru begitu saja.



"Kau........... kau siapakah? Siapa namamu ...........?"



"Namaku Kun Hong. Kau hendak laporkan kepada Kian Bun Ti yang sekarang telah menjadi

kaisar? Boleh, dia sudah mengenal baik nama ini, malah dia pernah makan minum semeja

dengan aku!"



Bukan main kaget dan herannya Tiat-jiu Souw Ki. Teringatlah ia sekarang. Tapi pemuda ini

dahulu adalah seorang pemuda pelajar yang lemah, sungguhpun tak dapat disangkal

memiliki keberanian yang sukar dicari bandingnya. Di dalam cerita Rajawali Emas memang

telah dituturkan betapa Kun Hong dan dua orang keponakan perempuan, yaitu Kui Eng dan

Thio Hui Cu, diundang dan dijamu oleh Pangeran Mahkota Kian Bun Ti. Pada waktu itu,

pengeran muda mata keranjang ini jatuh hati kepada dua orang nona Hoa-san-pai ini dan

hendak mengganggunya, malah mereka telah ditawan. Kemudian dua orang nona itu

dirampas oleh Song-bun-kwi, sedangkan Kun Hong dapat menyelamatkan diri

mempergunakan ilmu sihirnya (baca cerita Rajawali Emas).



"Kau........... kau anak Hoa-san-pai........... putera ketua Hoa-san-pai.........?" Dia

bertanya gagap.



Kun Hong tersenyum, menarik napas panjang. "Cukup kau ketahui namaku, siapa

menyebut-nyebut Hoa-san-pai segala? Hayo pergi!"



Tiat-jiu Souw Ki sudah maklum akan kehebatan kepandaian Kun Hong. Tadi ketika

dikeroyok puluhan orang saja pemuda ini dapat membuat semua orang tak berdaya,



apalagi sekarang dia hanya berkawan sebanyak dua puluh orang lebih. Selain itu, sekarang

mahkota sudah berada di tangannya dan kalau membawa tawanan macam pemuda buta

ini, tentu hanya akan menimbulkan kesulitan saja di tengah jalan. Adapun tentang wanita

itu, ah, dia hanya iseng-iseng saja, tidak ada harganya untuk diperebutkan.



"Pergi ...........!" Dia memberi aba-aba kepada para pengikutnya, lalu mengeprak kudanya.

Penunggang kuda yang tadi menyeret-nyeret Kun Hong dengan wajah pucat juga segera

membalapkan kuda pergi dari situ. Akan tetapi seorang perampok yang mendongkol

hatinya dan masih memandang rendah kepada seorang buta seperti Kun Hong, mengejek,



"Ho-ho, kiranya si buta juga mata keranjang! Kau hendak memiliki sendiri si manis ini, heh?

Hati-hati, manis, kau tuntun si buta ini baik-baik, ha-ha-ha!"



Kun Hong menggerakkan tangannya dan sebagian tambang yang tadi membelenggu

tangannya dan masih menempel di pergelangan tangan menyambar ke arah muka penjahat

itu. Terdengar suara keras dan si mulut kotor itu berteriak-teriak kesakitan,



"Aduhh........... aduh........... mulutku........... gigiku rontok semua........... aduh

........!" Dan dia membalapkan kudanya mengejar kawan-kawannya sambil mengaduh-

aduh.



Kun Hong masih berdiri tak bergerak, kedua kakinya terpentang, tangan kanan masih

memegang tongkat melintang di depan dada, sama sekali tak bergerak seperti patung

sampai suara derap kaki kuda tak terdengar lagi oleh telinganya. Pemuda buta ini merasa

betapa dada dan mukanya panas sekali, bukan main marahnya mendengar ucapan kotor

penjahat tadi. Dia menahan napas dan menekan perasaannya sampai perlahan-lahan hawa

panas dalam dadanya menurun dan akhirnya kembali dan timbul pulalah senyum yang

jarang meninggalkan bibirnya itu. Matanya yang berlubang itu tadi agak terbuka

pelupuknya ketika dia marah, kini tertutup lagi pelupuknya dan agak berkerut kulit di

antara kedua matanya.



"In-kong (tuan penolong)........... terima kasih atas budi In-kong yang telah

menyelamatkan nyawa kami ibu dan anak ..........." dengan suara tergetar penuh keharuan

wanita itu berlutut di depannya dan menyentuh kakinya yang tertutup sepatu rusak-rusak

dan penuh debu.



Kun Hong kaget mendengar suara ini dan cepat-cepat dia menarik kakinya lalu melangkah

mundur dua tindak. Dia mendengar suara seorang wanita yang masih amat muda, suara

wanita berusia dua puluh tahun lebih. Akan tetapi wanita ini adalah seorang ibu, seorang

ibu muda.



"Jangan berlutut ............ jangan berlebihan, yang menyelamatkan nyawa manusia

hanyalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Bangkitlah, Twa-so (kakak), aku tidak berani menerima

penghormatan seperti ini."



Wanita itu bangkit sambil menahan isaknya yang masih menyesakkan kerongkongannya.



"Ibu, orang-orang nakal itu sudah pergi?" anak kecil itu bertanya, timbul pula

keberaniannya setelah orang-orang berkuda itu pergi tidak tampak lagi.



"Sudah, A Wan, mereka sudah pergi. Lain kali kau jangan nakal, jangan keluar sendiri. Kau

anak bandel, ibu sudah melarang tadi kau nekat saja. Untung ada paman ini yang menolong

kita ..........."



"Ibu, paman buta ini jagoan, ya? Orang-orang nakal itu takut!" Anak itu lalu tertawa-tawa

senang dan menghampiri Kun Hong sambil meraba tangannya. "Paman buta, kenapa kau

tadi diikat?"



Kun Hong tersenyum, membungkuk dan memondong anak itu dengan penuh kasih sayang.

"Anak baik, kau sudah dapat membedakan orang jahat dan tidak, bagus. Kelak kau tidak

boleh menjadi orang seperti mereka itu, ya!"



"Tidak!" jawab anak itu keras sambil merangkul leher Kun Hong. "Aku kelak ingin menjadi

seperti Paman yang jagoan. Tapi.......... Paman buta ..........."



"Hush, A Wan, jangan lancang mulutmu!" bentak ibunya. "In-kong, mari silakan singgah di

dalam gubukku, biar kita bicara di dalam."



"Tak usahlah, Twa-so, terima kasih. Aku harus melanjutkan perjalananku." Kun Hong

mencegah, dia dapat menduga bahwa ibu dan anak ini tentu keluarga miskin, terbukti dari

pakaian anak itu yang kasar dan ada tambalannya, tidak bersepatu pula. Dia tidak mau

mengganggu orang yang memang keadaannya sudah amat kekurangan itu.



"Jangan, In-kong. Kau harus singgah dulu. Pakaianmu robek-robek semua, lagi kotor. Aku

mempunyai sestel pakaian, boleh kau pakai dan pakaianmu itu akan kucuci, kujahit.

Dan........... dan........... kau harus makan dulu ..........." suara itu tergetar penuh

keharuan dan belas kasihan. Melihat orang buta itu menggerak-gerakkan tangan seperti

hendak menolak, wanita itu cepat-cepat melanjutkan, suaranya penuh permohonan, "In-

kong, tak boleh kau menolak. Kau telah menyelamatkan nyawa kami, kau telah menanam

budi sebesar gunung sedalam lautan, aku........... aku tak mampu membalasnya.



Biarlah aku menjahitkan dan mencuci pakaianmu dan memberi hidangan sekedarnya

........... untuk menyatakan terima kasihku. Kalau kau menolak dan pergi begitu

saja........... ah, In-kong, selama hidupku aku akan merasa menyesal kepada diri sendiri. A

Wan, kau ajak pamanmu masuk ke dalam!"



Anak itu dengan suara merdu berkata, "Paman buta, mari kita masuk. Ibu tadi masak bubur

dan ubi merah ..........."



"A Wan ..........." Dengan suara perih ibu itu mencegah anaknya membuka rahasia

kemiskinan mereka. Kun Hong merasa hatinya tertusuk. Dipeluknya anak itu dan dia

berkata sambil tertawa,



"Anak baik, biarlah kubikin lega hatimu dan hati ibumu. Kalian manusia-manusia

baik.................."



"Paman buta, mari kutuntun kau masuk." Anak itu melorot turun dan menggandeng tangan

Kun Hong. Ibunya memandang dengan senyum lega menghias wajahnya karena tadinya ia

sudah merasa bingung apakah ia yang harus menuntun tamunya itu memasuki rumah.

Tentu saja ia tidak tahu bahwa dengan mudah tamunya ini akan dapat memasuki rumah

tanpa dituntun, asalkan ia berjalan lebih dulu karena tamunya itu dapat mengikutinya dari

pendengarannya yang tajam, yang dapat mendengar tindakan kakinya. Sambil tersenyum

Kun Hong membiarkan dirinya dituntun oleh anak itu memasuki rumah yang berlantai

tanah.



Baru saja melangkahi ambang pintu, anak itu sudah berhenti. Hal itu berarti bahwa rumah

itu benar-benar amat kecilnya. "Mari silakan duduk, In-kong. Maaf, tidak ada apa-apa,

hanya ada tikar rombeng.............." Kembali Kun Hong menangkap getaran suara yang

menusuk hatinya.



"Sini, Paman, sini duduklah......." Anak itu pun mempersilakannya. Kun Hong maju dua

langkah dan ternyata di situ terbentang sehelai tikar di alas tanah! Dia lalu duduk bersila di

atas tikar dan ketika tangannya meraba ternyata tikar itu rombeng dan di bawah tikar

ditilami rumput kering. Kerut di antara kedua mata yang buta itu makin mendalam.

Alangkah miskinnya keluarga ini.



"Silakan duduk dulu, In-kong. Aku hendak mengambil pakaian untukmu."



Kun Hong cepat menggoyang-goyang tangannya ke atas. "Tidak usah, Twa-so, tidak usah.

Kalau ada pakaian, biarlah dipakai oleh A Wan ini.............. aku....... aku tidak perlu

berganti pakaian."



Ibu muda itu mengeluarkan suara seperti orang tertawa kecil. "Pakaian yang kusimpan itu

adalah pakaian orang tua, mana bisa dipakai A Wan? Tunggulah sebentar."



"Itu pakaian ayah, Paman. Kau boleh pakai!" anak itu berkata. Hati Kun Hong tidak karuan

rasanya. Terang bahwa keluarga ini miskin, mungkin pakaian itu hanya satu-satunya yang

menjadi simpanan ayah anak ini, bagaimana dia boleh pakai? Ah, dia mendapat akal.

Perempuan ini mempunyai perasaan yang halus, terdorong oleh budinya yang baik. Tak

boleh dia mengecewakan hatinya. Biarlah dia berganti pakaian dan membiarkan dia

mencuci dan menambal pakaiannya sendiri yang robek-robek. Setelah itu dia boleh

memakai pakaiannya sendiri lagi dan mengembalikan pakaian yang dipakai untuk

sementara itu. Dengan demikian, tanpa merugikan keluarga ini banyak-banyak, ia dapat

memuaskan hati nyonya rumah.



Gemersik pakaian menandakan bahwa wanita itu sudah datang lagi. "Marilah kau berganti

dengan pakaian ini, In-kong, dan biarkan pakaianmu yang kotor dan robek-robek itu di sini,



sebentar kucuci dan kujahit. Aku permisi hendak menyiapkan makanan. A Wan, kau temani

pamanmu. Baik-baik jangan nakal, ya!"



"Tapi.......... tapi........" Kun Hong berusaha membantah.



"Harap In-kong jangan menolak, biarpun pakaian tua dan hidangan sederhana, kuharap In-

kong sudi menerima tanda terima kasihku yang mendalam ............"



Suara itu mengandung permohonan yang mutlak tak dapat dia bantah lagi.



"Tapi badanku kotor semua............. aku harus membersihkan badan dulu....... begini

kotor mana boleh memakai pakaian bersih dan makan?"



Mendengar ini, ibu muda itu tertawa. Kun Hong tertarik sekali mendengar suara ketawa ini.

Merdu dan sopan. Hanya orang dengan hati putih bersih dan jiwa murni yang dapat tertawa

seperti itu. Anak itupun tertawa karena menganggap ucapan Kun Hong ini sebagai kelakar

yang lucu. Memang sikap dan gerak-gerik seorang buta kadang-kadang nampak lucu, lucu

dan mengharukan hati. Mendengar ibu dan anak itu tertawa-tawa geli, mau tidak mau Kun

Hong tertawa pula sehingga di dalam rumah gubuk sepi miskin itu sekali ini penuh tawa

menggembirakan seperti cahaya matahari menyinari tempat gelap.



"A Wan, kau antarkan pamanmu ini ke anak sungai di belakang dusun!" kata wanita itu

sambil pergi ke belakang dengan suara ketawanya masih terdengar.



"Hayo, Paman buta!" Bocah itu menggandeng tangan Kun Hong dan pergilah keduanya ke

luar dari pondok, menuju ke anak sungai. Ketika ke luar dari pondok dan berjalan ke anak

sungai, Kun Hong mendengar bahwa di depan pondok berkumpul banyak orang, malah di

tengah perjalanan dia mendengar pula orang-orang berjalan.



"Siapa mereka, A Wan?" tanyanya.



"Paman-paman dan bibi-bibi tetangga, penduduk dusun ini, Paman," jawab anak itu dengan

singkat. Agaknya anak ini mempunyai rasa tidak senang kepada penduduk dusun dan

anehnya, tak seorang pun di antara mereka menegur anak ini!



Setelah mandi di sungai kecil yang airnya jernih dan segar itu, Kun Hong segera berganti

pakaian bersih dan dia malah mencuci pakaiannya sendiri, dibantu oleh A Wan. Ternyata

pakaian bersih yang terbuat daripada kain kasar itu, pas betul dengan tubuhnya. Agaknya

ayah anak ini sama perawakannya dengan dia.



Dalam perjalanan pulang, mereka juga bertemu dengan orang-orang dusun. Amat aneh

bagi pendengaran Kun Hong, orang-orang yang tengah bercakap-cakap tiba-tiba

menghentikan percakapan mereka di kala Kun Hong dan A Wan lewat. Ketika mereka

sampai di dekat pondok, tiba-tiba Kun Hong berkata kepada A Wan, "Kau diam saja, A Wan,

dan jangan mengeluarkan suara." Dia lalu bersama anak itu mendekati rumah dan

terdengarlah suara ibu anak itu, suaranya marah bercampur isak tertahan.



"............ perduli apa kau dengan urusan pribadiku? Kuberikan kepada siapa pun juga baju

suamiku, ada sangkut pautnya apakah denganmu? Kau............. kau selalu

mengganggu................ saudara misan yang durhaka!"



"Huh, dasar perempuan tak tahu malu! Semua orang memandangmu dengan hina, hanya

aku yang masih mau memperdulikan. Semua ini karena aku ingat bahwa di antara kita

masih ada hubungan keluarga, tahukah kau? Kalau tidak ada aku, apakah kau dan anakmu

tidak sudah kelaparan dan menjadi jembel pengemis? Awas kau, kulaporkan kepada Song-

wang-we (hartawan Song)!" Terdengar suara laki-laki memaki.



".............. pergi............! Pergi.......! Aku tidak sudi mendengar ocehanmu lagi.........!"

Wanita itu berseru marah.



"Ibu...............! Apakah paman Tiu mengganggumu lagi?" A Wan tak dapat menahan

suaranya dan merenggut tangannya lalu lari membuka pintu belakang.



"A Wan, kau sudah pulang?" Ibunya menegur dan Kun Hong mendengar betapa kaki seorang

laki-laki dengan cepat meninggalkan tempat itu lalu dia mendengar tindakan kaki ibu A

Wan dan anak itu sendiri menyambutnya.



Langkah kaki ibu anak itu secara tiba-tiba terhenti dan tidak terdengar suaranya bergerak

sedikitpun juga, sedangkan A Wan berlari menghampirinya dan memegang lagi tangannya.

Memang ibu A Wan kaget dan memandang ke wajah Kun Hong dengan mata terbuka lebar.

Setelah wajah pemuda buta itu tercuci bersih. alangkah jauh bedanya dengan tadi. Kalau

tidak datang bersama anaknya dan tidak mengenakan pakaian yang amat dikenalnya, tentu

ia pangling. Wajah si buta itu berkulit putih halus, wajah yang amat tampan, wajah

seorang kong-cu (tuan muda)! Kemudian ia melihat pakaian yang sudah dicuci, maka

serunya penuh penyesalan,



"Aiihh, In-kong, kenapa dicuci sendiri pakaiannya? Ah, mana bisa bersih? Berikan kepadaku,

biar sebentar kucuci lagi biar bersih. Syukur, kulihat pakaian itu pas benar dengan badan

In-kong."



"Terima kasih............... terima kasih............. aku menyusahkan saja," kata Kun Hong

dan tidak membantah ketika cucian itu diambil orang dari tangannya. Kun Hong memuji

bahwa ibu muda ini benar-benar seorang yang baik. Mengenal budi, peramah, dan pandai

menyimpan penderitaan hati. Dia berpura-pura tidak tahu akan persoalan yang baru saja

dia dengar tadi, dan mengambil keputusan bahwa dia akan segera pergi meninggalkan

tempat itu. setelah pakaiannya sendiri kering.



Tak lama kemudian nyonya rumah itu datang mengantar sebuah mangkok terisi bubur

hampir penuh. Dengan ujung-ujung jarinya Kun Hong dapat mengetahui bahwa mangkok itu

terbuat daripada tanah lempung dan sepasang supit dari bambu, alat-alat makan yang

paling sederhana dan murah yang dapat dipergunakan manusia.



"Waduh, enak, Paman buta. Buburnya pakai ubi merah! Hi-hik, kau tahu? Ubi merah ini

kucuri dari kebun paman Lui."



"A Wan!!" ibunya menegurnya.



"Paman, ibu selalu bilang bahwa mencuri adalah perbuatan jahat. Aku tidak pernah

mencuri. Tapi paman Lui ubinya begitu banyak dan aku............... aku dan ibu sudah lama

tak makan ubi merah."



Hampir Kun Hong tersedak karena keharuan membuat hawa dari dalam dada naik ke

kerongkongannya. "Ibu betul, A Wan, mencuri adalah perbuatan yang jahat. Lebih baik kau

minta saja kepada pemilik ubi ......................."



"Minta? Uhh, pernah aku minta, bukan mendapat ubi melainkan mendapat cambukan pada

pantatku. Tak sudi lagi aku minta. Tapi aku pun tidak akan men-curi lagi, ibu marah-

marah," kata anak itu dengan suara manja.



Bubur yang mereka makan itu sangat encer, terlalu banyak airnya dan ini pun

membuktikan betapa miskinnya keluarga itu. Setelah selesai makan, selesai sebelum

kenyang, nyonya rumah menyingkirkan mangkok-mangkok itu dan menyapu tikar dengan

kebutan. Senja telah lewat dan ibu anak itu menyalakan sebuah pelita kecil, dipasang di

sudut pondok. A Wan duduk di pangkuan Kun Hong dan agaknya anak ini masih menderita

oleh peristiwa sore tadi. Punggungnya yang kena sambaran cambuk diurut-urut oleh Kun

Hong dan sebentar saja anak itu tidur di pangkuannya.



"Dia sudah tidur, Twa-so. Di mana tempat tidurnya?" tanya Kun Hong perlahan.



Sampai lama baru terjawab lirih. "....... di sini juga.......... disini juga napas panjang,

tangannya mengelus-elus muka anak itu, meraba dahinya, alisnya, mata, hidung, mulut

dan dagu. Muka yang tampan, hidungnya mancung mulutnya kecil.



"In-kong, memang kami tidak mempunyai apa-apa. Dalam rumah ini kosong, hanya ada

tikar inilah................ tempat kami duduk, makan dan tidur............"

"Maaf, Twa-so, sejak tadi aku belum mendengar twa-ko (kakak) pulang. Ke manakah dia?"



Kembali sampai lama tiada jawaban, kemudian jawaban itu bercampur isak tertahan, "Dia

sudah.............. sudah tidak ada..................."



"Tidak ada? Ke mana ??" Kun Hong tidak menduga buruk.



"............. sudah meninggal dunia .......tiga bulan yang lalu .............."



"Ahhh.............!" Kerut di antara kedua mata yang buta itu mendalam. Ah, sekarang

tahulah Kun Hong akan sikap para penghuni dusun itu. Kiranya ibu muda ini seorang janda

muda. Dia tahu apa artinya menjadi janda di masa itu. Janda muda lagi. Betapa sukarnya



hidup bagi seorang janda yang miskin. Penghinaan akan menimpa dari segenap penjuru,

penghinaan lahir batin. Semua mata akan mengincarnya, penuh cemburu, setiap gerak

dapat menimbulkan fitnah. Sedang mata pria memandangnya lain lagi, pandangan yang

penuh nafsu mempermainkan. Seorang janda bagaikan sebuah biduk kehilangan layar dan

kemudi, terombang-ambing di tengah samudera hidup menjadi permainan gelombang.

Janda tua tentu saja lain lagi, yang pertama mengandalkan hartanya, yang belakangan

mengandalkan anak-anaknya.



Kembali jari-jari tangan Kun Hong meraba-raba muka A Wan. "Twa-so, apakah wajah A

Wan ini sama dengan wajahmu?"



Lama tak menjawab. Kun Hong tidak dapat melihat betapa wajah tanpa bedak yang amat

manis itu menunduk dan kedua pipi yang sehat itu memerah.



"Orang-orang bilang dia mirip dengan aku."



Hemmm, tak salah dugaanku, pikir Kun Hong. Janda muda lagi cantik. Makin berbahaya

kalau begini.



"Dan kau tentu belum ada dua puluh lima tahun usiamu," katanya pula.



"............... baru dua puluh tiga umurku.



Kun Hong merebahkan tubuh A Wan di atas tikar, lalu dia sendiri bangkit berlutut dan

berkata, "Twa-so, maaf. Tolong ambilkan pakaianku tadi, aku akan berganti pakaian dan

aku harus pergi sekarang juga."



"............ kenapa...........? In-kong, kenapa kau hendak pergi sekarang? Bajumu masih

belum kering benar, dan sedang kutambal punggungnya.............."



Kun Hong menggeleng kepala, mengulurkan kedua tangan untuk minta pakaian dan bangkit

berdiri. "Aku harus pergi. Twa-so, kau janda masih baru, kau berwajah cantik dan umurmu

baru dua puluh tiga tahun ............"



Wanita itu mengeluarkan jerit lirih dan sambit menangis ia menubruk kedua kaki Kun Hong!

Tentu saja Kun Hong menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.



"In-kong ............. engkau juga begitu............?? Ah, kalau begitu.............. kau

pukulkan tongkatmu itu kepadaku........ kau bunuh saja aku, In-kong ........... apa artinya

hidup kalau semua orang....... juga kau yang kumuliakan........... memandang serendah itu

kepadaku........? Kau bunuhlah aku............ kau bunuhlah."



Karena tangis ini, A Wan menjadi terbangun dan begitu melihat ibunya menangis sambil

merangkul kedua kaki Kun Hong yang berdiri seperti patung serta merta anak itu ikut

menangis sambil merangkul ibunya. "Ibu............. ibu."



"In-kong.................. kau bunuhlah kami.............. biar terbebas kami daripada

penderitaan ini ............."



Hancur perasaan hati Kun Hong mendengar ibu dan anak itu menangis dan memeluki kedua

kakinya.



"Kau salah sangka.............. kau salah mengerti........" katanya sambil duduk kembali.

"Aku sama sekali tidak memandang rendah atau menyangka yang bukan-bukan terhadapmu,

Twa-so..............."



"In-kong............." wanita itu tersedu-sedu dan sejenak menangis dengan muka di atas

dada Kun Hong. Pemuda buta itu membiarkannya saja, maklum betapa hancur hati wanita

itu, malah dia menepuk-nepuk bahunya dengan menghibur dan mengusap-usap rambut A

Wan yang menangis di atas pangkuannya.



"Tenanglah, duduklah Twa-so, dan mari kita bicara baik-baik."



Agaknya baru wanita itu sadar akan keadaan dirinya yang menangis sambil bersandar di

dada tamunya. "............. ohhh......... maafkan aku, In-kong ........."



Ia cepat-cepat mundur dan duduk menekuk lutut, membendung air mata yang bercucuran

dengan ujung lengan bajunya. A Wan diraihnya dan anak ini menidurkan kepala di atas

pangkuan ibunya sekarang.



"Twa-so, agaknya kau tadi salah duga. Aku hendak pergi sekali-kali bukan karena

memandang rendah kepadamu, sama sekali tidak. Malah sebaliknya. Aku sangat kagum

kepadamu dan menghormatimu, karena itu aku hendak pergi agar jangan sampai nama

baikmu dirusak orang dengan kehadiranku di sini semalam ini. Lebih baik aku tidur di

pinggir jalan daripada tidur menginap di sini dengan akibat merusak namamu, Twa-so!"



"Tidak ada bedanya, In-kong, sebelum kau datang, namaku sudah dirusak orang setiap hari.

Apa perduli dengan omongan orang asalkan kita benar-benar bersih? Dalam beberapa bulan

saja aku sudah kebal terhadap fitnah-fitnah dan omongan-omongan kotor mereka, In-kong.

Kalau mereka hendak melakukan fitnah dengan kehadiranmu malam ini di sini, biarlah

mereka lakukan. Aku tidak perduli karena aku yakin bahwa kau yang kuhormati dan

kumuliakan mengetahui akan kebersihanku."



Kun Hong menarik napas panjang, makin kagum. Wanita ini biarpun miskin dan janda yang

tak berdaya, ternyata seorang yang berpendirian.



"Twa-so, maafkan kata-kataku, akan tetapi kupikir............ akan lebih baik kiranya

bagimu dan bagi anakmu kalau kau........... menikah lagi."



"In-kong, siapakah di dunia ini mau secara jujur menikah dengan seorang janda miskin yang

mempunyai seorang anak? Kecuali laki-laki mata keranjang yang hanya bermaksud



mempermainkan saja. Semua laki-laki di sekitar tempat ini memandangku seperti itu,

tentu banyak yang mau memeliharaku, akan tetapi............... mereka hanya ingin

mempermainkan, In-kong. Aku tidak sudi....... apalagi Song-wangwe, aku tidak sudi, biar

dia boleh suruh tukang-tukang pukulnya memaksaku."



Kun Hong harus mengakui kebenaran kata-kata ini. Memang banyak laki-laki di dunia ini

yang seperti itu wataknya. Menganggap wanita hanya sebagai barang mainan, menarik

karena cantiknya, suka menikah dengan janda muda yang cantik hanya untuk dipermainkan

belaka. Sudah tentu saja tidak semua laki-laki demikian karena segala sesuatu di dunia ini

tentu ada pengecualiannya, akan tetapi sebagian besar laki-laki seperti itulah sifat dan

wataknya.



"Susah kalau begitu. Twa-so, apakah kau tidak mempunyai keluarga?"



"Ada seorang pamanku yang tinggal jauh di kota Cin-an, akan tetapi aku tidak tahu betul di

mana rumahnya. Satu-satunya orang yang tahu adalah saudara misanku yang jahat, si Tiu

yang keparat membantu cepatnya maut merenggut nyawa suamiku dan yang membujuk-

bujukku untuk menuruti kehendak hartawan Song!" Suara wanita itu memperdengarkan

kemarahan ketika menyebut-nyebut nama Tiu dan Song.



"Orang yang datang tadi? Hemm, sebetulnya, mengapa suamimu mati di waktu masih

muda? Dan apa maksud Tiu dan Song, Twa-so?"



Dengan suara menyedihkan janda muda itu lalu bercerita. Tadinya ia hidup bahagia dengan

suaminya, seorang petani muda she Yo. Biarpun keadaannya tidak dapat dikata berlebihan,

namun dengan milik mereka sebidang sawah, dapatlah mereka menutupi kebutuhan hidup

sederhana, bertiga dengan putera mereka, si kecil Yo Wan. Mereka sebenarnya adalah

suami isteri pendatang baru dari lain dusun di daerah banjir, mereka adalah korban-korban

yang lari mengungsi dan akhirnya menetap di dusun itu setelah menukar seluruh barang-

barang mereka dengan sebidang tanah.



Namun, malapetaka mulai mengintai mereka ketika di dusun itu datang pula Lao Tiu,

saudara misan Yo Kui, petani muda itu. Lao Tiu ini orangnya licik, curang dan kerjanya

hanya berjudi dan selalu terkenal sebagai seorang buaya petualang. Akhirnya si Lao Tiu ini

menjadi kaki tangan tuan tanah kaya raya yang menguasai sebagian besar tanah di sekitar

tempat itu dan yang pengaruh dan kekuasaannya dikenal di dusun-dusun sekitarnya. Tuan

tanah hartawan ini adalah Song-wangwe (hartawan she Song). Seorang laki-laki setengah

tua yang mata keranjang dan terkenal tak dapat tidur nyenyak sebelum mendapatkan

wanita yang dirindukan, baik wanita itu isteri orang lain atau bukan.



Karena kelicikan dan tipu muslihat Lao Tiu ini, akhirnya Yo Kui masuk perangkap si tuan

tanah. Mula-mula dia diberi hutang untuk membeli bibit padi dan kerbau, dan karena Yo

Kui seorang buta huruf, maka dia tidak tahu bahwa tuan tanah dan Lao Tiu yang "berbudi"

itu membuat surat perjanjian juai beli lalu menyuruh dia menanda-tangani dengan cap

jempol. Dengan ditandainya surat perjanjian yang tak diketahui isinya itu, Yo Kui berarti

telah menjual tanahnya, atau lebih tepat, menukar tanahnya hanya dengan kerbau seekor



dan bibit padi sekarung! Semenjak itu, mulailah Lao Tiu mengerjakan lidahnya yang

berbisa. Malah dengan berani mati dia membujuk Yo Kui supaya "menyerahkan" isteri yang

cantik manis itu menjadi "penghibur" tuan tanah Song, dan merelakan setiap kali hartawan

itu membutuhkannya.



Tentu saja Yo Kui menjadi marah sekali dan serta merta menghajar Lao Tiu saudara

misannya itu sampai jatuh bangun. Akan tetapi pada beberapa hari berikutnya, lima orang

tukang pukul tuan tanah itu datang kepada Yo Kui dan menagih pembayaran sewa tanah.

Yo Kui memaki-maki, bilang bahwa dia mengerjakan sawahnya sendiri, mengapa harus

bayar sewa? Kalau si hartawan menghendaki kembalinya kerbau dan bibit, boleh diambil

kembali kerbaunya dan bibitnya akan dikembalikan kelak kalau sudah panen. Terjadi

keributan dan Yo Kui disiksa oleh lima orang tukang pukul itu. Pemuda tani ini jatuh sakit,

muntah-muntah darah.



Namun dia masih belum mau menyerah. Setelah penyakitnya agak sembuh, dia pergi ke

kota melapor kepada pembesar setempat tentang perbuatan hartawan Song dengan kaki

tangannya. Apakah yang terjadi? Mudah diduga. Di dalam negara yang masih kacau seperti

Tiongkok di masa itu, jarang ada pembesar yang betul-betul memperhatikan kepentingan

rakyat, apalagi kepentingan rakyat kecil. Hukum diinjak-injak, peri kemanusiaan lenyap

dari lubuk hati manusia, agaknya orang malah lupa kepada Tuhan, mengumbar nafsu

sejadi-jadinya, mengandalkan setan yang pada waktu itu merubah diri di dalam tumpukan

harta dan tingginya kedudukan dan pangkat. Yang berharta dan berpangkat, merekalah

yang berkuasa, dialah yang menang, akhirnya siapa yang menang, dialah yang benar! Oleh

karena inilah maka tidak mengherankan apabila pembesar yang dilaporinya itu segera

turun tangan melakukan tindakan, periksa sana periksa sini, lalu keluarlah keputusan

"pengadilan", bahwa tanah itu telah menjadi milik Song-wang-we dengan sah, bahwa Yo Kui

harus membayar lunas uang sewa tanah dan mengembalikan tanah itu, dan bahwa Yo Kui

harus membayar biaya pengaduannya kepada pembesar itu!



Melihat dan mendengar keputusan pengadilan macam ini, kontan saja Yo Kui jatuh sakit!

Memang dia telah mendapat luka di dalam tubuhnya karena pengeroyokan para tukang

pukul, ditambah lagi tekanan batin hebat membuat dia tak dapat turun dari pembaringan,

isterinya menjadi gelisah sekali. Kerbau dan alat pertanian terpaksa dijual, sebagian untuk

membayar apa yang sudah diputuskan oleh pembesar itu, sebagian untuk pembeli obat dan

makan. Akan tetapi penyakit yang diderita Yo Kui makin payah. Dia sakit sampai berbulan-

bulan dan setelah semua barang yang ada di dalam rumah dijual oleh isterinya untuk obat

dan makan, akhirnya dia....... mati meninggalkan isterinya yang masih muda dan anaknya

yang masih kecil!



"Demikianlah, In-kong ............" Janda muda itu mengakhiri ceritanya sambil menghapus

air matanya yang bercucuran. "Penderitaanku tidak hanya sampai di situ saja...........

setelah suamiku meninggal, bermunculan setan-setan berupa orang-orang lelaki mata

keranjang yang seakan-akan bersaingan dan berebutan untuk membujukku

menjadi........... isteri muda atau piaraan. Terutama sekali si jahat Lao Tiu itu, dia setiap

hari membujuk-bujukku untuk menyerah kepada hartawan Song............."



Kun Hong menahan kemarahan yang seakan-akan hendak meledakkan dadanya mendengar

penuturan janda muda ini.



"........ tapi aku bukanlah wanita rendah seperti yang mereka inginkan ........." janda itu

melanjutkan, masih terisak, "bagiku, lebih baik aku mati daripada menuruti kehendak

mesum mereka, In-kong........... kalau saja aku tidak melihat A Wan......... ah ...........

agaknya sudah lama aku menyusul suamiku ........"



Ia menangis lagi, kini lebih menyedihkan, sambil mendekap kepala puteranya di pangkuan.



"Besarkan hatimu, Twa-so, dan percayalah bahwa Thian Maha Adil Selalu akan menolong

manusia yang sengsaja. Kau tidurlah sekarang dan besok masih ada waktu untuk kita

mencari jalan sebaiknya. Hanya satu hal ingin kuketahui. Pamanmu yang tinggal di Cin-an

itu, andaikata kau dan anakmu datang padanya, apakah kiranya dia mau menerima kalian?"



"Dia orang baik, In-kong, dia adik mendiang ibuku, agaknya dia tentu mau menerima kami,

biar aku bekerja sebagai bujang tidak mengapa ............"



Percakapan terhenti dan janda muda itu biarpun berkali-kali diminta oleh Kun Hong agar

supaya mengaso, tetap saja duduk di dekat lampu untuk menyelesaikan pekerjaannya

menambal dan menjahit pakaian Kun Hong. Beberapa kali ia menengok dan memandang ke

arah tua penolongnya, ternyata si buta itu duduk bersila tak bergerak seperti patung. "In-

kong........... kau tidurlah ........."



"Biarlah, Twa-so, aku biasa tidur sambil duduk. Kau mengasolah, kurasa sudah hampir

tengah malam sekarang."



"Aku hendak menyelesaikan ini dulu........" jawab janda muda itu. Akan tetapi setelah

selesai menambal pakaian itu, ia duduk termenung sambil menatap wajah yang tak dapat

balas memandangnya itu. Hatinya penuh ketrenyuhan, iba hatinya melihat wajah tampan

yang berkerut di antara kedua matanya itu. Aduh kasihan, muda belia yang malang, pikir

janda muda ini. Apa bedanya bagi dia siang dan malam? Ah, mengapa aku tadi menyuruh

dia tidur? Bukankah selamanya dia seperti orang tidur kedua matanya? Jantungnya serasa

diiris-iris kalau ia menatap kedua pelupuk mata yang tertutup rata itu, mulut yang

mengarah senyum namun membayangkan bekas penderitaan batin yang hebat. Muda belia

buta yang malang...........! Memang aneh, janda muda yang sebetulnya juga amat

menderita batin dalam hidupnya itu, kini duduk termenung memandang ke arah pemuda

buta dengan hati penuh belas kasihan.



Hawa malam mulai dingin. Janda itu menyelimutkan sehelai karung tipis di atas tubuh

puteranya, lalu menengok ke arah Kun Hong yang masih saja duduk seperti patung. Ia

memperhatikan pernapasan Kun Hong yang rata dan panjang. Benarkah si buta ini bisa

tidur sambil duduk? Orang aneh. Muda belia yang malang dan aneh.



"In-kong...............?" Ia berbisik untuk meyakinkan apakah dia benar-benar tidur. Ingin ia



menawarkan selimut, selimutnya sendiri, juga sehelai karung tipis. Akan tetapi Kun Hong

tidak bergerak, tidak menjawab. Ah, dia sudah tidur, tak boleh diganggu. Janda muda itu

meniup padam api penerangan dan merebahkan diri di dekat anaknya, mendekap anaknya,

meringkuk seperti udang di atas tikar rombeng yang dingin.



Kun Hong tidak tidur. Dia tengah bersamadhi. Dia mendengar suara janda itu tadi, akan

tetapi sengaja tidak menjawab. Baru lega hatinya ketika janda itu memadamkan api

penerangan yang baginya tiada bedanya itu, karena hal itu berarti si janda akan tidur dan

dia dapat bersamadhi dengan bebas.



Ayam telah berkokok menyambut datangnya fajar ketika Kun Hong sadar dari tidurnya. Dia

segera menggosok-gosokkan jari tangan kepada jalan darah di sekeliling kepalanya untuk

menyegarkan perasaan. Pernapasan ibu dan anak yang tidur di depannya itu membuktikan

bahwa mereka masih pulas. Kun Hong tersenyum merasai perbedaan keadaan mereka

berdua itu antara hari kemarin dan sekarang ini. Duka maupun suka sebetulnya hanya

bersifat sementara saja, seperti halnya hidup ini sendiri. Kedukaan yang betapapun

besarnya akan lenyap di kala tidur, seperti halnya ibu dan anak di saat itu, tentu sama

sekali lupa akan segala penderitaan hidup, lupa akan segala ancaman-ancaman bahaya,

lupa bahwa mereka hidup serba kekurangan, malah kalau dikaji (dipikirkan masak-masak)

benar, dalam keadan sepulas mereka itu, apa sih bedanya hidup kaya atau miskin, apa

bedanya tidur diranjang berkasur atau di atas tikar rombeng?



Kun Hong merasa segar badannya. Kokok ayam jantan saling sahut menyegarkan perasaan

dan membangkitkan semangatnya. Malam tadi sudah diambilnya keputusan. Dia harus

menolong ibu dan anak ini dan dia harus memberi hajaran kepada orang-orang jahat yang

menindas penghidupan orang-orang miskin di dusun itu.



Mendadak Kun Hong miringkan kepalanya. Dia mendengar derap banyak kaki orang menuju

ke rumah gubuk ini! Mencurigakan juga kalau sepagi itu ada serombongan orang laki-laki

mendatangi tempat itu, malah dari suara langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa itu

dapat diduga bahwa orang-orangnya sedang marah!



"Perempuan tak tahu malu! Kau benar-benar membikin kotor dusun kami!" terdengar

bentakan suara laki-laki yang segera dikenal oleh Kun Hong sebagai suara Lao Tiu yang

kemarin sore diusir oleh janda muda itu.



"Dung! Dung-dung!" Pintu gubuk itu digedor-gedor dari luar. Janda muda itu dan anaknya

terkejut dan bangun. A Wan segera menangis ketakutan. Janda muda itupun ketakutan,

akan tetapi amatlah terharu hati Kun Hong ketika janda itu berbisik.



"Celaka, In-kong............., mereka tentu akan mencelakakan kau dengan fitnah........"



Benar-benar seorang berpribudi, pikir Kun Hong. Jelas orang-orang itu beralamat tidak baik

bagi si janda itu sendiri, namun yang dikhawatirkan oleh janda itu adalah diri tamunya,

bukan dirinya sendiri!



"Tenanglah, Twa-so............. tenang dan jangan takut. Orang yang benar akan dilindungi

Thian. Nanti kalau aku berdiri dan keluar, kau gendonglah A Wan dan kau harus ikut di

belakangku, jangan terlalu jauh. Kau percayalah kepadaku, tak seorang pun akan berani

mengganggu kau atau A Wan."







"Dung-dung-brakk!" Pintu itu hampir roboh oleh pukulan-pukulan dari luar.



"Sundal! Perempuan hina! Keluarlah bersama pacarmu, laki-laki hina si jembel buta itu

............. kalau tidak rumah ini akan kurobohkan!" teriakan Lao Tiu terdengar pula.

"Dipelihara Song-wangwe tidak mau malah memasukkan jembel buta, benar-benar seperti

anjing menolak roti mencari tai!"



"Kreeeeettttt..............!" Pintu dibuka oleh Kun Hong dari dalam. Semua mata mereka

yang merubung depan pintu pondok itu memandang. Si buta itu berdiri tegak di ambang

pintu, tongkatnya melintang di depan dada, wajahnya tenang mulutnya tersenyum tapi

kerut merut di antara kedua matanya makin dalam. Di belakangnya tampak janda itu

berdiri sambil memondong anaknya, jelas bahwa janda itu amat ketakutan, rambutnya

awut-awutan mukanya pucat.



"Wah, tak tahu malu.............. tak tahu malu........... berjina dengan jembel

buta............ kawan-kawan, hayo hajar mampus si buta, seret perempuan hina ini ke

depan kaki Song-wangwe!" Sementara itu tanpa memperdulikan Lao Tiu mencak-mencak,

Kun Hong berbisik kepada janda tadi menanyakan siapa mereka itu.



Janda itu berbisik menjawab, "Lao Tiu dan lima orang tukang pukul Song-wangwe

..........."



Panas rasa seluruh tubuh Kun Hong. Apalagi setelah Lao Tiu memberi aba-aba kepada lima

orang kawannya untuk turun tangan dan lima orang itu bergerak menyerbu. Kun Hong tak

dapat menahan sabar lagi. Enam orang itu, Lao Tiu dan lima orang tukang pukul, hanya

melihat bayangan berkelebat, sinar hitam menyambar-nyambar ke sekitar diri mereka dan

tahu-tahu mereka mengalami rasa sakit yang hebat. Seorang demi seorang menjerit, roboh

bergulingan di atas tanah seperti cacing terkena abu panas, mengaduh-aduh kesakitan

tanpa dapat mengerti sebetulnya bagian mana dari tubuh mereka yang nyeri. Sungguh aneh

dan lucu mereka itu, kadang-kadang menekan perut, lalu kepala, pundak, dada dan lain-

lain seperti orang dikeroyok ribuan ekor semut. Adapun Lao Tiu sendiri tahu-tahu sudah

dicengkeram tengkuknya oleh tangan yang amat kuat. Dia berusaha memberontak, namun

tengkuknya serasa hendak hancur dan panas seperti terbakar.



"Aduh.......... a ......... a ............. aduhh........... lepaskan.........." dia menjerit-jerit

seperti seekor babi disembelih, mukanya menengadah dan dapat ditundukkan. Dia masih

belum dapat melihat siapa orangnya yang mencengkeram tengkuknya karena dia tidak

mampu menggerakkan lehernya, hanya matanya melirik ke sana ke mari penuh rasa takut

karena kini dia dapat menduga bahwa yang mencekik tengkuknya pasti si buta itu, juga



yang merobohkan lima orang kawan yang dia andalkan. Sementara itu, para penduduk

dusun yang tadi beramai-ramai mengikuti rombongan ini dan hendak menonton,

memandang dengan mata terbelalak, malah rumah-rumah gubuk itu sekarang terbuka

semua pintunya dan berbondong-bondong penghuninya keluar untuk menonton ramai-ramai

di waktu fajar ini.



"Manusia berhati iblis! Manusia bermulut kotor!" Berkali-kali Kun Hong berkata perlahan,

lalu memaksa Lao Tiu untuk membungkuk, terus membungkuk sampai mukanya menyentuh

tanah. Beberapa kali Kun Hong menggosok-gosok muka itu dengan mulut di depan kepada

tanah, memukul-mukulkannya perlahan. Lao Tiu hanya bisa bersuara ah-ah-uh saja dan

ketika Kun Hong mengangkat kembali, mukanya penuh tanah dan mulutnya berdarah,

beberapa buah giginya copot!



"Mulutmu harus dirobek biar lebih mudah kau buka lebar-lebar mencaci maki orang!" kata

pula Kun Hong yang masih diracuni kemarahan itu. Tongkatnya digerakkan ke arah mulut

Lao Tiu.



"In-kong, jangan......... kasihan dia........" janda itu berseru penuh kengerian.



Kun Hong makin gemas. Tongkatnya tidak jadi merobek mulut, melainkan menampar pipi

kanan kiri sehingga kedua pipi itu menggembung. "Manusia keparat! Dengarlah kau? Dia

yang kau caci maki, kau hina, kau fitnah, kau bikin sengsara hidupnya, dia malah mintakan

ampun untukmu! Ah, kalau kau masih ada sedikit saja sifat manusia, tak malukah engkau?

Manusia keji, ah, alangkah inginku merobek mulutmu dari telinga kiri sampai ke telinga

kanan!"



"M......M... ampun.......... ampun........" dengan seluruh tubuh menggigil ketakutan Lao

Tiu meratap.



Kun Hong menengok ke kanan kiri, bahwa orang-orang dusun itu berkumpul semua di situ,

menonton. "Dengarlah kalian, sahabat-sahabat penghuni dusun ini! Kalian adalah orang-

orang bernyali kecil yang karena sifat pengecut kalian itu memang sudah patut dijadikan

orang-orang tertindas! Kalian tahu betapa jahatnya manusia-manusia macam ini dan

gembongnya yang merupakan diri hartawan dan tuan tanah Song, akan tetapi kalian tidak

menaruh kasihan kepada Yo-twaso yang tertindas ini, malah ikut menghinanya hanya untuk

menyenangkan hati Song-wangwe dan kaki tangannya! Hemmm, hari ini kebetulan aku

lewat di sini dan mendengar urusan penasaran ini, harap kalian jadikan contoh agar lain

kali kalian dapat bersatu padu melawan penindas yang membuat sengsara hidup kalian!"



Kun Hong menjambak rambut Lao Tiu dan didorongnya orang itu untuk berjalan. "Hayo

antar aku ke rumah majikanmu!" Kepada para penduduk yang berdiri terpaku keheranan itu

Kun Hong berkata,



"Kubiarkan lima orang tukang pukul ini menderita sebentar di sini, biar mereka merasakan

betapa sakitnya orang disiksa sambil memberi kesempatan kepada mereka untuk

mengingat dan mengenangkan roh dari mendiang Yo Kui. Sahabat-sahabat semua tunggu



saja di sini jangan ikut aku ke rumah Song-wang-we. Aku hanya titip Yo-twaso dan

anaknya!"



Setelah berkata demikian, dia mendorong tubuh Lao Tiu yang karena ketakutan lalu

mengantarkannya ke rumah gedung keluarga Song yang amat megah dan besar. Di depan

pintu gerbang gedung itu, Kun Hong memaksa Lao Tiu untuk minta menghadap Song-

wangwe karena urusan yang sangat penting. Lao Tiu sudah mati kutunya, tidak berani

membantah dan minta kepada penjaga untuk , menyampaikan kepada Song-wangwe bahwa

dia minta bertemu untuk urusan "si janda Yo"!



Kiranya kalau bukan urusan ini yang diajukan oleh Lao Tiu, hartawan mata keranjang itu

belum tentu mau turun dari tempat tidurnya yang hangat. Sambil mengomel panjang

pendek mengapa si Lao Tiu itu begitu kurang ajar membangunkannya sepagi itu, dia keluar

juga karena memang sudah amat lama si bandot tua ini merindukan isteri Yo Kui yang

cantik manis yang seperti bandot mengilar ingin mendapatkan daun muda yang segar

kehijauan.



Akan tetapi kemarahannya lenyap seketika, terganti harapan dan kegembiraan ketika dia

melihat Lao Tiu di tempat yang agak gelap itu datang bersama seorang lain. Keadaan masih

remang-remang dan mata tuanya sudah agak lamur maka hartawan mata keranjang ini

menyangka bahwa Lao Tiu datang bersama si janda cantik!



"Aiih, Lao Tiu, kau pagi-pagi sudah memaksa aku meninggalkan ranjangku yang empuk. Eh,

kau datang dengan janda manis yang kurindukan? Heh-heh, mari masuk, manis, kebetulan

sekali."



Tiba-tiba kata-kata yang ramah itu terhenti, terganti seruan kaget yang hanya berbunyi

"eh-eh, ah-ah, oh-oh" saja karena seperti halnya Lao Tiu tadi, tengkuknya sudah dicekik

oleh Kun Hong yang bergerak cepat menyerbunya.



Kun Hong menyeret Song-wangwe dan Lao Tiu dengan kedua tangannya. Beberapa orang

penjaga datang memburu dan memaki, "Penjahat kurang ajar, apakah kau sudah gila?

Lepaskan Song-wangwe!"



Akan tetapi kata-kata makian ini hanya sampai di situ saja karena si pemakinya bersama

seorang kawannya yang lain sudah terlempar sejauh tiga meter lebih oleh tendangan kaki

Kun Hong. Penjaga-penjaga lain datang dengan senjata di tangan.



"Mundur semua!" Kun Hong membentak. "Kalau tidak, lebih dulu akan kupatahkan leher

majikanmu. Aku tidak akan membunuhnya, hanya akan membereskan urusan penasaran

janda Yo!" Setelah mengancam demikian, Kun Hong mendorong terus dua orang

tawanannya itu kembali ke tempat tinggal janda Yo Kui. Para penjaga menjadi bingung dan

tentu saja tidak berani turun tangan untuk menjaga keselamatan majikan mereka.

Penjaga-penjaga itu berkumpul dan hanya berani mengikuti di belakang Kun Hong, sambil

berunding bagaimana harus menyerang si buta yang menawan majikan mereka.



"Jangan serang................ uh-uhh....... jangan serang.............. goblok..............!"



Song-wangwe berkali-kali berteriak mencegah kaki tangannya karena dia betul-betul

ketakutan dan sama sekali tidak dapat berkutik dalam cengkeraman yang amat kuat dan

menyakitkan leher itu.



Para penduduk dusun berseru keheranan, penuh kekagetan dan kekaguman ketika mereka

melihat si buta itu datang lagi, kini menyeret Lao Tiu dan Song-wangwe sedangkan di

belakangnya berjalan banyak penjaga tanpa berani bergerak menyerang sehingga

dipandang sepintas lalu seakan-akan mereka ini malah menjadi anak buah Kun Hong si

buta!



Setibanya di depan pondok janda Yo, Kun Hong melemparkan tubuh Lao Tiu ke bawah. Lao

Tiu bergulingan saling tindih dengan lima orang tukang pukul yang masih merintih-rintih

seperti ikan dilempar ke darat. Lao Tiu terlampau takut dan terlampau sakit-sakit

mukanya, sehingga diapun tidak sanggup bangkit lagi. Kedua pipinya membengkak besar

membiru, matanya merah, mukanya kotor dan mulutnya berdarah, bibirnya bengkak-

bengkak tebal, giginya banyak yang copot.



"Song-wangwe, apakah kau tahu apa sebabnya aku menawanmu dan menyeretmu ke

tempat ini?" tanya Kun Hong, suaranya tegas berwibawa.



Hartawan itu diam saja. Kun Hong memperkeras cengkeramannya dan membentak, "Hayo

jawab!"



"Tidak............... ti........... tidak tahu........" suaranya gemetar tubuhnya menggigil.



"Hayo kau ceritakan tentang urusanmu dengan mendiang Yo Kui dan tentang kehendakmu

yang kotor terhadap nyonya janda Yo. Tentang Lao Tiu yang kau suruh membujuk-bujuk,

tentang penipuanmu menggunakan surat perjanjian tanah, tentang cara kotormu menyogok

pembesar yang melakukan pengadilan, tentang lima orangmu yang mengeroyok dan

memukul mendiang Yo Kui. Hayo ceritakan, kalau ada yang kau lewatkan satu

saja............ hemmm, aku benar-benar akan mematahkan batang lehermu yang lapuk ini!"



Karena nyawanya benar-benar terancam maut di tangan kuat pemuda buta itu, dengan

suara tersendat-sendat si tua Song terpaksa menceritakan semua tipu muslihatnya

terhadap mendiang Yo Kui, dan betapa dengan bantuan tukang pukulnya dan Lao Tiu, dia

berusaha keras untuk menarik diri janda Yo menjadi kekasihnya. Kata-katanya yang

terputus-putus ini didengar oleh semua orang tanpa ada yang berani mengeluarkan suara,

hanya terdengar isak tangis nyonya janda muda itu yang merasa terharu dan juga bangga

karena sekali ini selain ia dapat membalas sakit hati, membuat roh suaminya tidak

penasaran, juga sekaligus ia dapat mencuci bersih namanya di depan umum.



Sebetulnya, hal ini bukanlah rahasia bagi para penduduk dusun itu, karena mereka semua

sudah tahu macam apa adanya tuan tanah itu dengan sekalian kaki tangannya. Akan tetapi



baru kali ini mereka mendengar hal ini dibongkar dan diceritakan oleh si tuan tanah

sendiri. Benar-benar hal yang amat luar biasa!



Setelah selesai membuat pengakuan, dengan suara serak tuan tanah itu meratap,

"............. ampunkan saya, Tai-hiap (pendekar besar), ampunkan saya............ saya

berjanji......... tidak berani lagi..........."



Gatal-gatal tangan para penjaga dan kaki tangan tuan tanah itu, namun mereka tak

berdaya dan tidak berani bergerak karena maklum bahwa si buta itu tak boleh dipandang

ringan. Buktinya, lima orang tukang pukul yang pandai silat itupun sekarang masih

merintih-rintih tak dapat bangun. Pula, kalau mereka hendak mengeroyok, tentu tuan

tanah itu akan terbunuh lebih dulu.



"Mudah saja mengampunkan orang macam kamu, tapi bagaimana dengan orang-orang yang

sudah mati karena perbuatanmu? Bagaimana dengan wanita-wanita yang sudah kau hina?"

Kun Hong membentak.



"Ampun............ ampun..........."



"Hayo kau suruh seorang di antara kaki tanganmu untuk mengambil lima ratus tail perak

untuk mengganti kerugian nyonya Yo, sediakan sebuah gerobak berikut kudanya. Cepat!

Hanya itu yang akan menjadi pengganti nyawamu."



Tanpa ayal lagi tuan tanah itu menyuruh seorang kepercayaannya yang berdiri melongo di

tempat itu untuk segera memenuhi permintaan Kun Hong ini. Para penduduk ramai

membicarakan hal ini, ada yang terheran-heran, ada yang kagum, ada yang iri hati kepada

nyonya janda yang sekarang berdiri dengan muka pucat dan bingung, terlalu kaget

menghadapi semua kejadian yang sekaligus mengubah jalan hidupnya ini.



Dengan berdiri tegak Kun Hong menanti sampai pesuruh tuan tanah itu datang kembali

membawa sebuah gerobak berikut kudanya yang cukup baik, terisi lima ratus tail perak!

Semua penduduk memandang dengan melongo. Belum pernah mereka melihat uang perak

sebanyak itu, jangankan melihat, mimpi pun belum pcrnah!



"Twa-so, gerobak dan uang ini milikmu. Dengan gerobak ini kau dan anakmu bisa mencari

pamanmu ke Cin-an dan uang ini dapat kau pakai sebagai modal hidup.



"........... ah............. terlalu............. terlalu banyak untuk apa ......?" Janda itu

berkata gagap.



Kun Hong tersenyum. "Untuk apa, terserah kepadamu karena uang ini milikmu yang sah!"



Janda itu memandang ke kanan kiri, melihat betapa para penduduk memandangnya dengan

mata terbelalak, dengan wajah mereka yang kurus-kurus dan pakaian mereka yang tambal-

tambalan. Mendadak janda muda itu sambil memondong anaknya lari ke arah gerobak,



melihat lima kantong uang perak bertumpuk di situ, lalu berpaling kepada seorang dusun

yang sudah tua.



"Chi-lopek (uwak Chi), kau turunkan tiga karung dan kau bagi-bagikan rata kepada semua

saudara penduduk dusun kita,"



Hampir saja semua orang tak dapat percaya apa yang mereka dengar ini, kemudian setelah

janda itu mengulangi perkataannya, terdengar mereka bersorak sorai dan memuji-muji

nyonya Yo. Malah beberapa orang wanita lari menghampiri, memeluknya, menciuminya

sambil menangis. Yang lelaki pada tertawa lebar, wajah yang kurus-kurus itu berseri-seri

timbul harapan baru dengan adanya tambahan bantuan uang yang tidak sedikit itu.



Kun Hong mengangguk-angguk, diam-diam dia kagum sekali dan benar-benar dia puas telah

menolong seorang yang memiliki pribadi setinggi nyonya janda itu. Biarpun seorang dusun,

ternyata wanita ini benar-benar seorang bidadari, pikirnya dan terbayanglah wajah Cui Bi

di depan mukanya. Setelah selesai tiga karung diturunkan, Kun Hong lalu melepaskan tuan

tanah, dengan jari tangannya dia menotok punggung dan pangkal paha. Tuan tanah itu

berteriak dan roboh, dari mulutnya keluar darah.



"Kau tidak akan mati," kata Kun Hong "akan tetapi ingat, sekali lagi kau melakukan

gangguan kepada orang-orang tak bersalah, aku akan datang kembali dan membikin

perhitungan yang lebih hebat denganmu. Pulanglah!" Tuan tanah itu merangkak bangun,

segera dituntun dan diangkat oleh orang-orangnya, Dia tidak tahu bahwa, semenjak saat

itu dia takkan mampu lagi melakukan perbuatan hina, tidak akan dapat mengganggu

wanita lagi karena dengan kepandaiannya, Kun Hong telah membuatnya menjadi seorang

laki-laki lemah. Kemudian Kun Hong menyembuhkan lima orang tukang pukul tadi, akan

tetapi mereka inipun mendapat bagian. Dengan memijat urat darah terpenting Kun Hong

membuat mereka berlima itu kehilangan tenaga pada kedua lengannya, sehingga

selanjutnya mereka takkan dapat menjadi tukang pukul lagi!



"Karena kau masih saudara misan Yo-twaso, kau kuampuni. Akan tetapi kau harus

mengantar Yo-twaso ke Cin-an sampai bertemu dengan pamannya. Awas, jangan kau main-

main karena sekali kau menyeleweng, nyawamu takkan tertolong lagi," kata Kun Hong

kepada Lao Tiu sambil cepat-cepat dia menyentuh jalan darah di dadanya. Lao Tiu

merintih, merasa betapa jantungnya berdetak keras dan ada rasa nyeri dan perih di dekat

lehernya.



"Kau terancam maut oleh luka di dadamu," kata Kun Hong, "dan obatnya hanya akan

dimengerti oleh Yo-twaso. Kalau kau sudah mengantarkan ia dengan selamat sampai di Cin-

an dan bertemu dengan pamannya, baru dia akan memberi tahu kepadamu cara

pengobatannya sampai kau sembuh. Nah, dengan jaminan ini, sekali kau menyeleweng, kau

akan mampus dan tubuhmu akan menjadi busuk sebelum nyawamu melayang." Kun Hong

sengaja mengeluarkan ancaman ini, padahal yang dia lakukan itu hanyalah totokan biasa

saja dan sama sekali tidak ada bahayanya, dalam waktu sebulan rasa tak enak itu akan

hilang sendiri. Akan tetapi dia perlu mengancam dan menakut-nakuti orang berwatak buruk

seperti Lao Tiu.



"Yo-twaso, mari kita masuk pondok. Akan kuberi tahu rahasia pengobatan dia itu dan aku

akan menukar pakaianku."



Dengan tongkat meraba-raba ke depan Kun Hong memasuki pondok Nyonya Janda Yo

sambil menggandeng tangan A Wan berlari mengikuti. Sampai di dalam pondok, janda

muda ini tak dapat menahan lagi hatinya yang penuh perasaan haru, girang, dan bahagia.

Sambil terisak menangis ia menubruk Kun Hong dan merangkulnya, menangis tersedu-sedu.



"In-kong............. ah, In-kong........... kau telah menyelamatkan hidupku..........

menyelamatkan nama baikku.......... In-kong, budimu setinggi gunung...... dan..............

kau seorang buta ............! Ah, betapa inginku membalas budimu .......... In-kong,

andaikata dapat, aku rela memberikan kedua mataku untukmu!"



Dengan penuh perasaan nyonya muda itu menarik leher Kun Hong dan tanpa malu-malu

karena perasaan terima kasih yang meluap-luap ia lalu menciumi kedua mata yang buta

itu!



"Twa-so, jangan..............!" Suara Kun Hong tersedak karena dia menahan perasaannya

dan kedua tangannya memegang pundak wanita itu, didorong menjauh. Sejenak wanita itu

menatap wajahnya, melihat betapa mata yang buta itu bergerak-gerak, celah-celah

belahan pelupuk membasah, hidung yang mancung itu kembang-kemping, bibirnya

bergerak-gerak gemetar.



"In-kong...........!" wanita itu lalu menjatuhkan dirinya, kini memeluk kedua kaki Kun Hong

dan menciumi sepatu yang kotor, membasahi dengan air mata dan menggosok-gosoknya

dengan rambut.



"In-kong, selama hidupku takkan dapat aku bertemu dengan manusia seperti In-

kong............ apa artinya menempuh hidup baru di Cin-an kalau aku takkan dapat

bertemu dengan orang sepertimu lagi? In-kong, biarlah aku membalas budimu dengan

menghambakan diri............. biarlah aku menjadi bujangmu. A Wan juga..............

biarkan kami berdua merawatmu, biarkan aku menuntunmu ............"



"Yo-twaso, diam..............!" Kun Hong mengeluarkan suara bentakan dan sekali tarik dia

membuat wanita itu berdiri. "Kau wanita baik-baik, kau seorang suci dan mulia hatimu.

Thian pasti akan memberkatimu. Hayo kita keluar, kau harus berangkat sekarang juga.

Mana pakaianku?"



Dengan masih terisak wanita itu berkata sedih, "Tidak akan kukembalikan, In-kong. kalau

tak dapat berkumpul dengan orangnya, biarlah pakaiannya menjadi kenang-kenangan.

Kuganti dengan pakaian suamiku pula.............. pergi meninggalkan kami berdua

..............." ia terisak lagi.



Kun Hong maklum bahwa paling berat adalah mempertahankan nafsu hati, oleh karena itu

dia tidak mau banyak ribut tentang pakaian, segera dia menuntun tangan A Wan keluar



dari pintu, diikuti oleh janda itu. Sambil terisak janda itu minta diri dari semua

tetangganya, lalu ia naik gerobak bersama A Wan. Lao Tiu sudah duduk di depan, orang ini

sekarang taat benar.



"Aku akan mengantar sampai keluar dusun," kata Kun Hong dan berangkatlah mereka.

Gerobak ditarik kuda berjalan perlahan meninggalkan kampung, di belakang gerobak, Kun

Hong berjalan sambil memegang tongkat, Di belakangnya, orang-orang dusun mengantar

sampai ke pinggir dusun, melambaikan tangan kepada A Wan dan ibunya.



Setelah gerobak meninggalkan dusun itu sejauh sepuluh li dan tiba di jalan simpang empat,

Kun Hong berkata,



"Lao tiu, berhenti dulu." Gerobak berhenti dan dia berkata kepada janda Yo, "Yo-twaso,

nah, sampai di sini kita berpisah. Selamat jalan dan semoga kau bahagia. A Wan, jaga

ibumu baik-baik, ya? Sudah, Lao Tiu, sekarang kau balapkan kudamu."



"Nanti dulu ..........!" Nyonya janda itu melompat begitu saja turun dari gerobak, lari

menghampiri Kun Hong dan berlutut di depannya. "Sekali lagi, In-kong........... bolehkan

aku dan A Wan menghambakan diri padamu? Biar kami ikut ke mana kau pergi............."

Suaranya penuh permohonan.



"Bodoh, kau orang baik. Aku seorang buta, seorang pengemis................"



"Tidak apa, aku masih bermata. Mataku sama dengan matamu, dan aku.......... aku

sanggup bekerja untukmu........... andaikata mengemis sekalipun................ aku yang

akan mengemis, In-kong ..........."



"Cukup semua ini! Twa-so, jangan lemah, ingatlah anakmu. Aku berjanji, kelak akan kucari

kau dan A Wan di Cin-an."



"Betulkah?" Terdengar suara mengandung harapan. "In-kong, sampai kini belum kuketahui

namamu yang mulia,"



Kun Hong tersenyum pahit, "Apa artinya nama? Kenalilah aku sebagai sibuta......... dan eh,

jangan lupa .........." Ia mendekatkan mukanya sambil mengangkat janda itu bangun

berdiri.



"...... si Lao Tiu tidak kuapa-apakan, kelak bilang saja obatnya minum abu hio, sehari satu

sendok sampai sebulan. Nah, selamat jalan!" Kun Hong yang tak ingin wanita itu menunda-

nunda perjalanannya, tiba-tiba mengangkat tubuh wanita itu dan..............

melontarkannya ke depan.



Janda itu menjerit lirih, tubuhnya melayang dan............ jatuh dalam keadaan duduk di

atas gerobak, di dekat A Wan yang tertawa-tawa melihat ibunya "terbang" tadi.



Gerobak dijalankan cepat. Kun Hong berdiri tegak sampai lama menghadap ke arah



gerobak. Sudah lama gerobak itu menikung dan penumpangnya tidak melihatnya lagi,

namun telinganya masih dapat mendengar derap kaki kuda yang makin menjauh. Dia

menarik napas panjang, lega hatinya karena tadi dia benar-benar gelisah ketika

menghadapi bujukan dan permohonan janda muda itu.



"Berbahaya............ !" pikirnya, dia masih terharu kalau mengenangkan janda muda dan

puteranya itu. Akan tetapi dia segera mengusir perasaan ini dan melanjutkan

perjalanannya sambil bernyanyi.

Comments

Popular posts from this blog

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…