Skip to main content

Posts

Pendekar Buta 53 -> karya : kho ping hoo

Setelah tiga orang itu tidak tampak bayangannya lagi, kembali ke jurusan kota raja, dia lalu berjongkok dan dengan perasaan berat sekali dia lalu memondong jenazah kakaknya, mencarikan tempat yartg baik tanahnya di dalam hutan sebelah timur kota raja, lalu menguburnya dengan penuh hormat dan khidmat. Tubuh pendekar pedang ini tampak kurus dan agak pucat. Memang dia telah menderita tekanan batin yang hebat. Anaknya, Cui Sian, diculik orang, Thai-san-pai dirusak binasakan musuh, banyak anak murid yang tewas, isterinya marah-marah'"dan melarikan diri mencari Cui Sian. Dia sendiri sudah berkelana mencari jejak isteri dan menyelidiki tentang musuh- musuh yang telah menyerbu Thai san dan yang telah menculik anaknya. Dari beberapa orang kenalan di dunia kang-ouw, dia dapat mendengar bahwa tiga orang wanita yang berilmu tinggi itu sangat boleh jadi adalah Ang Hwa Sam-ci-moi yang belum pernah dia dengar namanya karena tiga orang tokoh ini baru beberapa tahun saja memasuki pedalaman, da...

Pendekar Buta 52 -> karya : kho ping hoo

Loan Ki mengerutkan kerungnya. Ia pun bukan seorang bodoh. Ia tahu bahwa Kun Hong mempertahankan mahkota itu bukan semata-mata karena emasnya, melainkan karena rahasia yang dikandungnya itulah. Susah payah mahkota itu hendak disampaikan kepada Raja Muda Yung Lo, tentu saja bukan karena benda itu terbuat daripada emas berharga, melainkan karena hendak menyampaikan surat rahasia itulah. Sekarang surat itu hendak diambil, habis untuk apa mahkota itu dibawa-bawa ke utara? Apa kepentingannya lagi kalau suratnya sudah diambil? "Siapa percaya omonganmu? Aku tidak mengenalmu!" jawabnya sambil memandang hwesio itu dengan sinar mata berapi, sedikit pun juga tidak memperlihatkan rasa takut. "Ha-ha-ha, betul-betul anak harimau! Nona, pinceng adalah sahabat baik ayahmu, masa kau tidak percaya?" kata hwesio itu. "Loan Ki, kau berikan mahkota itu untuk diperiksa oleh Bhok-losuhu." Loan Ki merengut dan menepuk-nepuk buntalan di punggungnya. "Ayah, aku mendapatkan ini...

Pendekar Buta 51 -> karya : kho ping hoo

Demikianlah, pada keesokan malamnya, kembali Loan Ki mengajak Nagai Ici menyelidiki sampai jauh malam. Kemudian secara kebetulan ia mendengar ribut-ribut pertempuran di pondok janda Yo karena ia dan Nagai Ici berada di dekat tempat itu. Cepat ia bersama pemuda Jepang itu lari mendekati dan alangkah terkejut hati Loan Ki ketika dia melihat bahwa orang yang dikeroyok benar-benar adalah Kun Hong sendiri. Lebih kaget lagi hatinya ketika ia melihat ayahnya adalah seorang di antara mereka yang mengeroyok Kun Hong. "Kita bantu dia,....... wah, dia hebat.......!" bisik Nagai Ici. "Sssttt...." Loan Ki menarik tangan pemuda itu dan mengajaknya menyelinap ke tempat gelap, "....... jangan......." Nagai Ici terheran-heran dan Loan Ki menjadi pucat wajahnya. Tentu saja tidak mungkin ia membantu Kun Hong kalau ayahnya pun berada di situ melawan Kun Hong. Mana mungkin ia melawan ayahnya sendiri? Pula, ia dapat melihat betapa orang-orang yang mengeroyok Kun Hong terdiri da...

Pendekar Buta 50 -> karya : kho ping hoo

Sementara itu, A Wan dan Cui Sian sudah kembali ke tempat ini dan dua orang bocah itu dengan bengong duduk di atas tanah sambil menonton Kun Hong bersilat. Cui Sian adalah puteri suami isteri pendekar besar sehingga semenjak kecil ia sudah sering kali melihat orang bersilat, maka tidak mengherankan apabila sekarang ia amat tertarik dan gembira menyaksikan Kun Hong bergerak-gerak seperti itu. Yang mengherankan adalah A Wan. Bocah ini tidak pernah melihat seorang bersilat, akan tetapi sekarang amat tertarik hatinya dan hal ini saja menunjukkan bahwa dia memang berbakat dan berminat. "Nah, sekarang kita harus berpisah, Kun Hong. Aku akan kembali ke Liong-thouw-san. A Wan akan kubawa serta karena selama kau melanjutkan usahamu menyelesaikan tugas-tugas yang amat penting dan berat itu, A Wan hanya akan menjadi penghalang bagimu. Pula, tidak baik kalau anak ini kau bawa menempuh bahaya-bahaya dan pertempuran, karena dia belum memiliki dasar batin yang kuat sehingga aku khawatir kalau-ka...