Skip to main content

Pendekar Buta 49 -> karya : kho ping hoo

Pada saat itu, selagi Kun Hong berlutut penuh keharuan karena tidak mengira bahwa yang menyuruh rajawali emas menolongnya ternyata adalah susioknya sendiri ini, terdengar kaki-kaki kecil berlari mendekati dan suara yang amat dikenalnya berseru, "Suhu.......!"

"A Wan, kau di sini?" Kun Hong memeluk anak itu, girang dan juga heran. "Dan anak ini....... siapakah?" Dia menoleh ke kiri karena telinganya dapat menangkap gerakan seorang anak kecil lagi yang agaknya tadi digandeng oleh A Wan dan sekarang duduk pula di dekatnya.

"Suhu, dia adalah Cui Sian, adik kecil yang baik dan lucu......"

"Cui San? Anak paman Beng San.......??" Kun Hong sampai berteriak keras saking heran dan kagetnya sehingga A Wan yang tidak tahu apa-apa menjadi bingung. Dengan penuh keharuan tangannya meraih dan di lain saat anak perempuan berusia empat tahun itu telah dipeluknya.

Terdengar suara anak perempuan itu, nyaring dan jelas suaranya, tidak seperti anak-anak kecil lain yang sebaya. "Paman buta, kau ini menangis ataukah tertawa? Karena aku tidak dapat membedakannya."

Kun Hong tertawa, pertanyaan kanak-kanak yang bodoh tetapi mengandung makna demikian dalamnya, sedalam lautan, meliputi rahasia hidup karena kehidupan di dunia ini memang hanya berisi dua hal, tangis dan tawa!

"Anak baik....... anak baik....... aku menangis dan juga tertawa saking girangku mendengar kau selamat......." Tiba-tiba dia teringat dan setelah melepaskan Cui Sian dari pelukan, dia bangkit berdiri, menoleh ke arah Sin-eng-cu Lui Bok. Keningnya berkerut kerut ketika dia berkata,

"Susiok....... Cui Sian di sini bersama Susiok.......? Bagaimanakah ini? Bukankah Cui Sian diculik orang dari Thai-san? Apakah Susiok......." dia tidak berani melanjutkan kata-katanya sungguhpun hatinya penuh kecurigaan yang bukan-bukan.

Kakek itu tertawa lembut. "Kenapa tidak kau lanjutkan, Kun Hong? Tak baik mengandung curiga di dalam hati, karena kecurigaan yang dipendam dapat menimbulkan fitnah tanpa disengaja. Kecurigaanmu keliru, Kun Hong. Aku bersama kim-tiauw ingin menjengukmu di Thai-san dan kulihat Thai-san diserang banyak orang. Di puncak kulihat nyonya ketua Thai-san yang gagah perkasa dikeroyok dan bangunan dibakar. Karena anak ini terancam bahaya, maka aku berlancang tangan membawanya pergi dari sana."

Mendengar ini, merah muka Kun Hong. Tak dapat disangkal lagi, sebelum mendengar penjelasan ini, tadi dia telah menaruh curiga kepada susioknya. Dia segera menjatuhkan diri berlutut lagi sambil berkata, nada suaranya penuh permohonan dan juga penuh dendam,

"Siapakah mereka itu, Susiok? Si...siapakah mereka yang menyerang Thai-san?"

Kembali kakek itu tertawa geli seakan-akan mendengar sesuatu yang amat lucu.

"Susiok, kenapa Susiok mentertawakan teecu (murid)?" Kun Hong merasa heran dan penasaran. Apakah pertanyaannya itu dianggap lucu? Tak mengerti dia mengapa dalam urusan yang demikian pentingnya, orang tua itu malah tertawa-tawa dan seakan-akan mentertawakannya.

"Kau hendak apakah menanyakan mereka yang menyerang Thai-san?"

"Keparat-keparat itu telah berlaku keji terhadap paman Beng San, tentu saja teecu harus membalas dendam sakit hati ini!"

"Ha-ha-ha, sudah kuduga! Sudah kukhawatirkan akan beginilah jadinya. Sayang......." Kakek itu tertawa lagi.

"Balas-membalas, dendam-mendendam, roda karma berputar tiada hentinya...."

Kun Hong terkejut, lalu cepat bertanya, "Susiok, salahkah sikap teecu ini?" Setelah berpikir sebentar dia melanjutkan, "Susiok sudah sampai di Thai-san dan melihat semua itu, sudah berhasil menyelamatkan adik Cui Sian, kenapa Susiok tidak membantu paman Beng San membasmi orang-orang jahat itu?"

"Hemmm, aku tidak mempunyai urusan dengan mereka, sudah terlalu lama aku membebaskan diri daripada libatan karma, Anakku. Sikapmu ini tidaklah salah, hanya aku menjadi geli hatiku mendengar kata-kata dan melihat sikapmu ini. Agaknya kau sudah lupa sama sekali beberapa tahun yang lalu ketika kau menasehati seorang kakek seperti aku ini ketika aku hendak mencari dan membunuh Sin-chio The Kok atau Hwa I Lokai. Ha-ha-ha!"

Kun Hong tertegun dan seketika dia termenung. Terbayanglah sekarang semua pengalamannya dahulu, ketika dia masih belum buta. Pertemuannya pertama dengan Sin-eng-cu Lui Bok terjadi amat aneh, yaitu kakek itu menyatakan hendak mencari dan membunuh musuh besarnya, Sin-chio The Kok yang menyembunyikan diri dan mengubah nama menjadi Hwa I Lokai. Dialah yang menasehati orang tua ini agar jangan membalas dan membunuh, agar jangan terikat oleh tali-temali yang amat kusut dan sulit, yaitu tali dendam-mendendam. Dan sekarang, persis seperti beberapa tahun yang lalu (baca Rajawali Emas), sekarang di depan kakek itu dia bersikeras hendak membalas dendam Thai-san-pai kepada orang-orang yang menyerbu Thai-san. Seketika mukanya menjadi merah dan dia tidak dapat berkata sesuatu.

Kakek itu menarik napas panjang, maklum akan isi hati Kun Hong. "Kau masih ingatkah, Kun Hong, betapa dahulu aku pernah datang ke Thai-san dan membujuk kau supaya ikut dengan aku menjadi pertapa, hidup bahagia membebaskan diri daripada ikatan karma? Kau tidak mau dan aku hanya dapat tunduk akan kehendak Thian (baca Rajawali Emas). Aku tidak menyalahkan engkau. Pengertianmu tentang rahasia hidup memang sudah cukup, akan tetapi pengertian itu hanya menjadi pengetahuan dari teori buku-buku lama, namun kau belum dapat menguasai ilmu yang kau ketahui teorinya itu. Betapapun juga, teori yang kau nasehatkan kepadaku dahulu itu telah menolongku, sebaliknya tak mampu menolong dirimu sendiri. Ini tidak aneh karena kau memang masih muda, masih suka melibatkan diri dengan dunia beserta sekalian isi dan peristiwanya, kau masih belum mampu menguasai perasaan muda."

Kun Hong menunduk dan diam-diam dia dapat menangkap kebenaran kata-kata kakek ini.

"Kau masih terlalu muda untuk dapat menyelami semua teori tentang filsafat dan rahasia kehidupan, Anakku. Karena jiwamu belum masak, belum cukup kuat menghadapi gejolak perasaan sehingga mudah terpengaruh keadaan dan hawa nafsu. Sekarangpun karena bertemu dengan anak pamanmu, seluruh perasaanmu terpenuhi oleh urusan Thai-san-pai sehingga kau lupa akan tugas yang kau ikatkan dengan dirimu, mengenai mahkota......." Kakek itu tertawa lagi. Suara ketawanya lebih keras ketika tiba-tiba Kun Hong seperti orang tersentak kaget meraih A Wan dan serta merta bertanya,

"A Wan, di mana adanya mahkota itu? Sudah dapat kau ambilkah?" Suaranya penuh harapan dan seperti yang tadi dikatakan oleh Sin-eng cu Lui Bok, kini seluruh perhatiannya terpusat kepada benda rahasia itulah sehingga boleh dibilang dia lupa sama sekali akan urusan Thai-san-pai!

Sambil berlutut anak itu berkata, suaranya takut-takut, "....... ampun, Suhu, mahkota itu....... benda itu....... telah dirampas orang......."

"Apa katamu??" Kun Hong marah dan kecewa sekali, kemudian sambungnya agak tenang setelah dia ingat bahwa seorang anak kecil seperti A Wan, mana sanggup melindungi mahkota itu? "Siapakah yang merampasnya?"

Dengan suara mengandung takut kalau-kalau gurunya akan marah kepadanya, A Wan menuturkan pengalamannya. "Tadinya benda itu teecu sembunyikan dan kubur di belakang rumah dekat sumur. Ketika Suhu menyuruh teecu mengambilnya, teecu segera pergi ke tempat itu dan menggalinya. Akan tetapi baru saja teecu mengambil benda itu dan teecu bersihkan dari tanah lumpur yang masuk ke dalam mahkota, teecu dibentak orang dan mahkota itu hendak dirampas."

''Hemmm, siapa dia? Laki-laki atau wanita?" tanya Kun Hong,

"Seorang laki-laki, akan tetapi karena keadaan gelap, teecu tidak mengenal wajahnya. Teecu mempertahankan mahkota itu, akan tetapi dia menggunakan kekerasan, teecu didorong dan benda itu dapat dirampas. Pada saat itu muncul pula seorang wanita muda dan seorang laki-laki gagah dan masih muda pula. Serta merta orang muda itu menyerang orang yang tadi merampas mahkota tadi, adapun wanita muda itu menolong teecu. Akan tetapi segera teecu ditinggalkan seorang diri ketika wanita itu melihat teecu tidak apa-apa, kemudian wanita itu membantu temannya mengeroyok laki-laki yang merampas mahkota. Entah bagaimana jadinya karena mereka bertempur sambil berlari dan berkejaran. Teecu ikut mengejar sambil berteriak-teriak minta dikembalikan benda itu. Tiba-tiba muncul banyak orang yang galak-galak. Teecu ditangkap dan dipaksa menyerahkan mahkota. Untung segera datang Kakek perkasa (Locianpwe) ini yang menolong teecu dan membawa teecu pergi seperti terbang cepatnya."

Kun Hong termenung mendengar ini. Kembali paman gurunya yang menolong A Wan, akan tetapi kenapa tidak sekalian merampas mahkota itu? Dia menjadi amat kecewa.

"Jadi mahkota itu dirampas orang?" katanya lambat-lambat dengan nada sedih.

"Suhu, apa sih gunanya benda mengkilap itu? Kalau memang amat perlu dan amat berharga bagi Suhu, biarlah teecu menyelundup masuk kota raja lagi dan pergi menyelidikinya." A Wan berkata dengan suara sedih pula melihat suhunya demikian kecewa.

Kata-kata ini menyadarkan Kun Hong dan seketika mukanya berubah biasa lagi. "Ah, kau mana tahu, A Wan? Bukan benda emas itu yang berharga, melainkan surat yang tersembunyi di dalamnya..."

"Surat? Bertulis? Wahhh, kebetulan sekali Suhu! Teecu sudah menduga-duga surat apa ini. Surat yang disembunyikan di dalam mahkota ada pada teecu." Sambil berkata demikian A Wan mengeluarkan segulung surat kekuning-kuningan dari dalam saku bajunya. Kun Hong cepat menyambar surat itu dan meraba-raba dengan jari-jari tangannya, wajahnya berseri gembira dan bibirnya tersenyum.

"Bagaimana kau bisa mendapatkan ini? Di dalam mahkota katamu?"

"Benar, Suhu, Ketika teecu membersihkan mahkota itu, teecu menggosok-gosok sebelah dalamnya yang kotor. Tiba-tiba terdengar bunyi berdetak dan tersembullah kertas di sudut dalam mah-kota. Kemudian ketika mahkota itu hendak dirampas orang dan teecu pertahankan, tanpa sengaja teecu yang memegangi mahkota dengan sebelah tangan di dalamnya, mencengkeram keluar kertas ini. Baru teecu ketahui bahwa kertas ini berada dalam genggaman teecu setelah mahkota itu dibawa lari orang."

Kun Hong mengangguk-angguk, meraba-raba kertas bergulung yang kecil itu, kemudian dia menoleh ke arah Sin-eng-cu Lui Bok yang semenjak tadi hanya berdiri sambil membelai leher burung rajawali, sama sekali tidak memperdulikan percakapan antara Kun Hong dan A Wan.

"Susiok, tolonglah Susiok periksa gulungan kertas ini. Betulkah ini berisi perintah rahasia mendiang kaisar?"

Terdengar kakek itu tertawa lirih, lalu bergumam, "Terlalu dalam kau terjerumus ke dalam persoalan dunia." Akan tetapi diterimanya juga gulungan kertas kecil itu, dibukanya dan dibacanya sebentar, lalu digulung kembali dan diangkatnya tinggi-tinggi surat itu di atas kepala sambil berkata, "Memang betul dan mendiang kaisar adalah seorang manusia yang telah berbuat banyak jasa selama hidupnya untuk bangsa. Seorang pejuang perkasa, seorang manusia berjiwa besar." Dia mengembalikan gulungan kertas itu kepada Kun Hong yang segera menyimpannya di saku baju sebelah dalam. Lenyap semua kekecewaannya. Mahkota kuno itu sendiri baginya tidak mempunyai harga, yang penting adalah surat rahasia inilah.

"A Wan, kau anak baik! Kau telah berjasa besar......."

Akan tetapi A Wan yang dipuji gurunya hanya sebentar saja merasa girang karena dia teringat akan ibunya dan bertanya. "Suhu, bagaimana dengan....... Ibu? Siapa yang merawat jenazahnya?"

Atas pertanyaan ini Kun Hong tidak mampu menjawab. Terang tidak mungkin baginya untuk ke rumah mendiang janda Yo yang menjadi pusat perhatian para pengawal istana. Akan tetapi dia percaya bahwa Hui Kauw tidak akan membiarkan jenazah janda itu terlantar. Dia percaya bahwa Hui Kauw yang dapat bergerak leluasa di kota raja akan dapat mengatur sehingga jenazah itu dapat dikubur baik-baik.

"Jangan khawatir, A Wan. Cici Hui Kauw tentu akan mengatur penguburan jenazah ibumu."

"Teecu hendak ke sana, Suhu! Teecu harus menunggu Ibu....." Dan sekarang anak itu mulai menangis. Kun Hong mengerutkan keningnya dan menggeleng-gelengkan kepala.

"Tidak bisa, A Wan. Kau sudah dikenal, kau terlibat dalam urusan perebutan surat rahasia, kalau kau muncul pasti kau akan ditangkap."

"Biar teecu ditangkap, biar teecu dibunuh, teecu tidak takut. Teecu harus merawat jenazah Ibu.......!"

Kun Hong amat bingung mendengar tangis muridnya yang amat menyedihkan itu. Karena tidak tahu bagaimana harus menghiburnya, dia membentak keras. "Diam kau, A Wan! Muridku tidak boleh berhati lemah seperti ini! Pantang laki-laki menangis!"

Seketika A Wan berhenti menangis, air matanya masih bercucuran ke luar dari sepasang matanya, akan tetapi mata itu kini dibuka terbelalak lebar memandang gurunya dan dia menggigit bibirnya menahan tangis. Hanya pundaknya saja yang digoyang-goyang oleh isak tangis yang tak mungkin ditahan itu. Kalau saja Kun Hong dapat melihat sikap muridnya ini, tentu dia akan menjadi terharu dan bangga. Ketaatan bocah itu bukan sekali-kali karena takut, Semenjak kecil A Wan mendapatkan cinta kasih dari ibunya yang berwatak halus, tidak pernah dia mendapat perlakuan kasar sehingga dia tidak mempunyai sifat takut-takut. Ketaatannya kepada Kun Hong berdasarkan keseganan dan kepercayaan bahwa segala apa yang diperintahkan oleh gurunya yang dicintanya sebagai ibunya sendiri itu, pastilah benar dan baik serta harus ditaatinya.

"A Wan, muridku yang baik. Pergilah kau ke sana, ajaklah adikmu Cui Sian itu mencari kembang, aku hendak bicara dengan Susiok couwmu (Paman kakek gurumu)," kata Kun Hong, kemudian A Wan segera berdiri, menuntun tangan Cui Sian dan pergilah mereka menjauh dan hanya terdengar suara ketawa Cui Sian yang nyaring ketika A Wan mengajaknya menangkap kupu-kupu yang bersayap indah.

Kini kakek itu berhadapan dengan Kun Hong. Pendekar Buta ini merasa lemah seluruh anggauta tubuhnya, terbawa oleh derita batin yang ditanggungnya selama ini. Semua tugasnya belum terpenuhi dan dia menjadi bingung menghadapinya. Bagaimana dia akan dapat menunaikan semua tugas itu dengan sempurna?

"Susiok, bagaimanakah pendapat Su-siok? teecu merasa bingung....... teecu yang buta ini benar-benar kehabisan akal, mohon petunjuk, Susiok."

Kembali Sin-eng-cu Lui Bok tertawa geli. "Duduklah, Kun Hong, dan mari kita bercakap-cakap." Kun Hong lalu duduk di atas tanah, bersila di depan kakek itu yang sudah duduk bersila di atas rumput tebal.

"Kun Hong, kalau aku dahulu membujukmu supaya ikut denganku ke puncak gunung dan bertapa, sekarang tidak mungkin lagi. Kau telah mengikatkan dirimu dengan pelbagai urusan dunia dan sebagai seorang yang menjunjung tinggi kegagahan kau harus melanjutkan semua tugasmu sampai selesai. Selama ini aku selalu mengikuti sepak terjangmu, dan jurus yang kau mainkan untuk membunuhi lawan-lawanmu itu sungguh-sungguh keji!"

Kun Hong terkejut sekali, mengeluh dan menutupi mukanya dengan kedua tangannya. "Ah, Susiok........... berilah petunjuk ..........." Diam-diam dia merasa malu kepada diri sendiri. Kiranya susioknya ini sekarang sudah menjadi seorang yang demikian saktinya sehingga dapat mengikuti semua pengalamannya. Benar-benar hebat. "Dahulu teecu pernah berlancang mulut memberi nasehat kepada Susiok agar jangan membunuh Hwa I Lokai, sekarang teecu sendiri malah telah banyak membunuh orang."

"Kun Hong, aku tidak menyalahkan kau, karena perbuatanmu itu semata-mata hanya dalam tugas membela diri, sama sekali tidak ada niat sebelumnya dalam hatimu untuk membunuh. Kau masih muda, banyak kali hatimu terluka, terutama oleh peristiwa di puncak Thai-san di mana kau kehilangan kekasih dan sekaligus kehilangan sepasang mata. Semua itu terjadi karena kau terlalu diperhamba oleh perasaan dan sekarang pun masih menjadi hamba perasaanmu sendiri sehingga tanpa kau sengaja kau telah menghancurkan pengharapan dan kebahagiaan seorang wanita mulia seperti nona muka hitam itu." Kakek itu menarik napas panjang dan Kun Hong tiba-tiba menjadi merah mukanya. Bukan main kakek ini. Sampai urusannya dengan Hui Kauw sekalipun sudah diketahuinya.

"Susiok, mohon petunjuk..........." dia hanya dapat mengulang kata-kata ini.

"Sudah menjadi kehendak alam agaknya bahwa manusia ini hidupnya dipengaruhi dan dibimbing oleh rasa. Rasa menimbulkan kehendak dan kehendak melahirkan perbuatan. Jadi setiap perbuatan adalah pelaksanaan daripada kehendak yang akan menuruti dorongan rasa. Rasa ini halus sekali dan karenanya sering sekali dipermainkan oleh nafsu. Nafsu inilah pokok-pangkal segala peristiwa di dunia, karena nafsulah yang mendorong segala sesuatu di dunia ini sehingga dapat berputar. Nafsu ini besar kecilnya tergantung kepada fihak ke"aku"an yang ada pada diri setiap manusia. Orang yang selalu memikirkan diri sendiri, orang yang selalu mementingkan diri pribadi, dialah seorang hamba nafsu dan sering sekali melakukan perbuatan yang menyeleweng daripada kebenaran."

Kun Hong adalah seorang pemuda yang semenjak kecil banyak membaca filsafat, dan filsafat di atas sudah pula diketahuinya. Akan tetapi, selama ini tidak pernah dia mendapatkan seorang teman untuk diajak berdebat tentang kebenaran filsafat-filsafat itu, maka saat ini berhadapan dengan seorang sakti, dia sengaja hendak memperdalam arti pengetahuannya dan minta petunjuk agar tidak terlalu risau hatinya.

"Susiok, kalau begitu, apakah sebaiknya kita membunuh saja nafsu diri sendiri sehingga terhindar daripada penyelewengan dalam hidup?"

Sin-eng-cu Lui Bok tertawa. "Aku tahu bahwa kau sudah mengerti akan hal ini akan tetapi agaknya menghendaki keyakinan. Baiklah, akan kucoba untuk menjelaskan. Ada orang-orang bertapa dan sengaja berusaha untuk membunuh nafsunya sendiri. Sudah tentu bagi orang-orang yang melakukan hal demikian usaha ini benar. Akan tetapi bagi aku pribadi, usaha seperti itu bukanlah merupakan jalan untuk mencapai kesempurnaan. Nafsu tidak boleh dibunuh. karena seperti telah kukatakan tadi, nafsu adalah pendorong hidup, pendorong segala di dunia ini sehingga dapat berputar dan berjalan sebagaimana mestinya menurut hukum alam. Tanpa adanya nafsu, dunia akan sunyi, akhirnya segala akan mati dan diam tidak berputar lagi. Karena itulah maka kuanggap keliru ada yang berusaha mencari kesempurnaan dengan jalan membunuh nafsu-nafsunya sendiri."
Kun Hong mengangguk-angguk. Dia pun pernah membaca tentang orang-orang yang berkeyakinan bahwa jalan ke arah keutamaan dan kesempurnaan adalah membunuh nafsunya sendiri. Dan dia dapat menerima pendapat paman gurunya ini. "Kalau begitu, bagaimana seyogyanya menghadapi nafsu-nafsu sendiri yang kadangkala menyeret kita dalam perbuatan-perbuatan maksiat itu, Susiok?"

"Nafsu adalah pelengkap yang lahir bersama hidup itu sendiri. Tubuh manusia kalau boleh diumpamakan sebuah kereta yang lengkap, maka nafsu adalah kuda-kudanya yang dipasang di depan kereta. Si kereta tidak akan dapat bergerak maju sendiri tanpa tarikan tenaga kuda-kuda nafsu itu. Kuda-kuda nafsunya memang liar dan binal, kalau dibiarkan saja kuda-kuda itu tentu meliar dan membedal semauaya sendiri, tentu ada bahayanya kuda-kuda itu, akan menjerumuskan keretanya ke dalam jurang kesengsaraan hidup, mungkin berikut kusirnya sekali karena kereta itu juga ada kusirnya, yaitu si aku yang sejati, jiwa yang menguasai seluruh kereta. Kalau kusir itu pandai mengendalikan kuda-kuda liar itu dengan tali-temali berupa kesadaran, maka kuda-kuda nafsu yang liar dan binal itu dapat dipergunakan tenaganya untuk menarik maju si kereta menuju ke jalan yang benar, sesuai dengan kehendak alam, segala sesuatu harus bergerak maju, namun kemajuan yang lurus dan benar, karena siapa yang maju dalam keadaan menyeleweng pasti akan hancur ke dalam jurang kesengsaraan. Mengertikah kau, Kun Hong?"

Kun Hong mengangguk-angguk. "Teecu mengerti, Susiok. Sungguh tidak teecu sangka bahwa Susiok tahu akan segala kejadian yang menimpa teecu, malah Susiok secara kebetulan menyaksikan pula diserbunya Thai-san-pai oleh orang-orang jahat sehingga Susiok berhasil menyelamatkan Cui Sian. Akan tetapi, Susiok, bolehkah teecu bertanya mengapa Susiok tidak membantu paman Beng San menghadapi orang orang jahat yang merusak Thai-san-pai?"

"Aku tidak perlu mencampuri urusan pertempuran-pertempuran orang lain, hal itu bukan urusanku. Akan tetapi aku tidak dapat membiarkan seorang anak kecil seperti Cui Sian menjadi korban pertentangan orang-orang tua itu."

Kun Hong merasa tidak puas, mengerutkan keningnya. "Maaf, Susiok, terpaksa teecu harus membantah. Sungguhpun pertempuran itu bukan urusan Susiok, namun kiranya Susiok dapat membela kebenaran. Bukankah sikap seorang gagah harus selalu membela kebenaran dan keadilan di dunia ini?"

Sin-eng-cu Lui Bok tertawa bergelak. "Ha-ha-ha-ha-ha, Kun Hong, kau bilang kebenaran dan keadilan, akan tetapi kebenaran yang mana dan keadilan yang mana? Kebenaran untuk siapa dan keadilan untuk siapa? Anakku, tahukah kau bahwa dunia ini menjadi kacau, manusia saling bermusuhan, tak lain dan tak bukan hanya karena mereka itu saling memperebutkan kebenaran? Kebenaran itu hanya SATU, akan tetapi menjadi banyak sekali sifatnya karena setiap orang mempunyai kebenarannya sendiri-sendiri! Benar dan adil bagi yang satu, belum tentu benar dan adil bagi yang lain. Kalau ada dua orang saling bermusuhan untuk memperebutkan kebenaran, katanya, maka jelaslah bahwa keduanya sudah menyeleweng daripada kebenaran sejati dan yang mereka perebutkan itu adalah kebenaran palsu, karena kebenaran untuk dirinya sendiri, kebenaran dan keadilan demi kepentingan masing-masing. Kalau di waktu itu aku membantu Thai-san pai, apa kau kira mereka yang memusuhi Thai-san-pai menganggap aku benar dan adil? Ha-ha-ha, kurasa tidak, muridku."

Tentu saja Kun Kong dapat menerima ini karena dia pun sudah tahu akan filsafat tentang kebenaran ini. Akan tetapi dia masih penasaran karena dia yakin bahwa kebenaran berada di fihak pamannya. "Maaf, Sosiok. Memang tepat apa yang Susiok uraikan itu, akan tetapi, Susiok, teecu yang bodoh berpendapat bahwa dengan melihat watak orangnya, mudah ditarik kesimpulan siapa yang benar di antara dua orang yang bermusuhan. Juga dengan akal dan pertimbangan, dapat pula kita menilai dari urusan-urusannya, siapa yang patut disebut berada di fihak kebenaran. Saya kira, tak mungkin kalau paman Tan Beng San yang terkenal sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa dan luhur budi pekertinya, tidak berada di fihak benar."

"Belum tentu, Kun Hong. Yang datang menyerbu adalah orang-orang yang hendak membalas dendam atas kematian orang-orang yang mereka kasihi dan dalam hal ini, isi hati mereka sama sekali tiada bedanya dengan isi hatimu sekarang yang hendak membalas dendam Thai-san pai terhadap mereka yang telah merusaknya."

"Ah........ begitukah kiranya.......??" Kun Hong tercengang. "Bagaimana, Susiok apakah yang teecu harus lakukan? Harap beri petunjuk."

"Kau masih muda, Kun Hong. Kau sudah melibatkan dirimu dalam tali-temali karma, tak mungkin kau membebaskan dirimu sekarang. Akan tetapi, jalan satu-satunya untuk mendapatkan karma yang baik, adalah bertindak selaras dengan kebajikan. Dengan dasar kebajikan dan kesadaran, kau boleh menentukan sendiri yang mana harus kau bela. Engkau berbeda dengan aku, engkau seorang pendekar muda, harus melangkah atas dasar jejak satria. Aku seorang pertapa yang sudah mencuci tangan, sudah bebas daripada ikatan duniawi, atau setidaknya, yang sedang berusaha untuk pembebasan itu. Kau lanjutkan pelaksanaan tugas-tugasmu karena semua itu tidak menyeleweng daripada kebenaran. Kalau kau menimbang bahwa menyampaikan surat rahasia itu kepada raja muda yang berhak menerimanya itu sudah benar dan patut, kau lakukanlah itu. Kalau kau merasa bahwa orang-orang yang menyerbu Thai-san-pai itu berada di fihak keliru, kau boleh mencari dan mengajar mereka. Mereka adalah orang-orang Ching-coa-to bersama teman- temannya, hampir semua mempunyai dendam kepada Thai-san-paicu (ketua Thai-san-pai). Adapun tentang diri nona muka hitam itu, dialah wanita satu-satunya yang tepat untuk menggantikan kedudukan mendiang nona Tan Cui Bi di sampingmu."
Muka Kun Hong menjadi merah mendengar kata-kata ini dan hatinya berdebar tidak karuan. Disinggung-singgungnya Hui Kauw dalam percakapan ini membuat dia tak dapat membuka mulut lagi.

"Sekarang perhatikan nasehatku yang terakhir, Kun Hong. Aku sudah melihat sebuah jurusmu yang hebat dan keji itu, jurus perkawinan antara Im-yang-sin-hoat dan Kim-tiauw-kun. Dua macam ilmu kesaktian yang amat lurus dan bersih, mengapa dapat dicipta menjadi sebuah jurus yang demikian keji? Siapa yang memberi petunjuk kepadamu?"

"Locianpwe Song-bun-kwi "Ha-ha-ha, pantas, pantas saja kalau dia, si tua bangka dimabuk nafsunya sendiri itu! Kun Hong, seandainya gurumu, Bu Beng Cu masih hidup dan dapat melihat jurusmu itu, sudah pasti beliau akan merasa sedih dan malu sekali. Juga kalau pamanmu Tan Beng San melihatnya, kau tentu akan mendapat marah. Jurus apa itu namanya?"

Dengan perasaan sungkan dan malu Kun Hong menjawab lirih, "Locianpwe Song-bun-kwi yang memberi nama....... eh, jurus Sakit Hati......."

"Ha-ha-ha, namanya sama jahatnya dengan jurusnya. Tepat, tepat!" dia terkekeh-kekeh geli. "Tahukah engkau untuk apa gunanya, orang mempelajari ilmu silat?"

"Untuk membela diri, menjaga diri daripada serangan dari luar, dan untuk membela fihak yang tertindas, kaum lemah yang membutuhkan pertolongan, juga untuk menundukkan fihak yang mempergunakan kekuatan untuk berbuat sewenang-wenang, untuk membela kebenaran dan keadilan."

"Hemm, kalau sudah tahu ini, mengapa menciptakan jurus yang khusus hanya untuk membunuh orang?"

Suara kakek ini demikian bengis sehingga buru-buru Kun Hong berkata, "Teecu salah........... selanjutnya tidak akan berani menggunakan jurus sesat itu lagi......."

Suara kakek itu lunak kembali ketika berkata, "Bukan begitu maksudku. Kau berhak menggabungkan Im-yang-sin-hoat dengan Kim-tiauw kun, apalagi kalau diingat bahwa kedua ilmu silat itu sumbernya sama, yaitu peninggalan dari Sucouw Bu Pun Su. Tanpa dasar dendam dan sakit hati kau akan dapat menciptakan jurus-jurus sakti dari kedua ilmu itu, malah tidak terbatas hanya satu jurus saja. Biarlah aku menggunakan kesempatan sekarang ini untuk memberi petunjuk kepadamu. Nah, kau bersilatlah dengan Im-yang-sin-kiam-sut kemudiun Kim-tiauw-kun agar dapat kulihat kemungkinan dan letak rahasia penggabungannya nanti."

Dengan girang Kun Hong lalu bersilat, mainkan tongkatnya dengan Ilmu Pedang Im-yan-sin-kiam-sut yang dia pelajari dari Tan Beng San. Kemudian dia bersilat lagi dengan Kim-tiauw-kun dengan langkah-langkahnya yang ajaib dan gerakan-gerakarnnya yang aneh. Berkali-kali Sin-eng-cu Lui Bok berseru menyatakan kekagumannya dan pada akhirnya dia berkata, "Hebat sekali! Aku tua bangka Lui Bok benar-benar berbahagia sekali, mata tua ini dapat menyaksikan kedua ilmu silat sakti dimainkan olehmu begitu baiknya. Gurumu, mendiang Suheng Bu Beng Cu tentu akan bangga kalau dapat melihatmu, malah Sucouw Bu Pun Su sendiri tentu tidak pernah mengira bahwa ilmu ciptaannya akan dapat dimainkan sehebat ini oleh seorang cucu murid yang buta."

Selanjutnya kakek yang sakti ini, yang selama berdiam di puncak Gunung Liong-thouw-san telah memperdalam ilmunya, memberi petunjuk petunjuk kepada Kun Hong bagaimana caranya menggabungkan kedua ilmu kesaktian itu menjadi sebuah ilmu silat gabungan yang luar biasa, hebatnya ilmu ini masih menggunakan tenaga yang bertentangan, yaitu tenaga Im dan tenaga Yang seperti dalam ilmu sakti Im yang-sin-hoat, akan tetapi gerakan-gerakannya dicampur dengan Kim-tiauw-kun sehingga boleh dikatakan bahwa kalau tangan kanan yang memegang tongkat pengganti pedang mainkan Im-yang-sin-kiam-sut, adalah kedua kaki mainkan langkah ajaib dari Kim-tiauw-kun dan tangan kiri juga mainkan jurus-jurus serangan Kim-tiauw-kun. Malah jurus yang disebut jurus Sakit Hati dapat dimasukkan dalam ilmu silat gabungan ini, hanya sekarang lain sifatnya, tidak seganas tadinya yang sekali bergerak tentu merupakan jurus maut. Biarpun daya serangannya masih hebat, namun sekarang gerakannya dilakukan dengan penuh kesadaran sehingga dapat dipergunakan menurut ukuran, tidak seperti tadinya yang gerakannya dipengaruhi perasaan sakit hati dan kemarahan sehingga dilakukan secara membuta dengan tujuan membunuh untuk memuaskan nafsu belaka.

Dengan amat tekun Kun Hong menerima petunjuk teori penggabungan itu dan diam-diam dia mencatat kesemuanya dalam ingatan. Malah dia lalu bersilat dengan gerakan gabungan ini, disaksikan oleh Sin-eng-cu Lui Bok yang memberi petunjuk-petunjuk di bagian yang kurang tepat.

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…