Skip to main content

Pendekar Buta 14 -> karya : kho ping hoo

"Paman buta ini baik sekali!" berteriak seorang anak kecil.

"Hari ini hari baik!" kata yang lain. "Kita bertemu dengan kakek tua hampir mati di kuil rusak, kemudian dengan paman buta ini. Kalau banyak orang seperti mereka berdua, alangkah senangnya hidup kita!"

Kun Hong tertarik lalu mendekat. "Anak-anak yang baik, siapakah kakek tua hampir mati?"

"Dia seorang kakek tua, tinggi besar seperti raksasa, tapi dia menderita sakit dan hampir mati. Biarpun hampir mati, dia amat baik, membagi-bagikan barang dan uangnya kepada kami!" kata seorang anak.
"Apakah dia tidak punya keluarga? Kenapa tinggal di kuil rusak?" Kun Hong mendesak, hatinya terharu.

"Dia bilang tidak punya keluarga, sebatangkara dan kuil rusak itu memang tidak digunakan lagi. Dia luka-luka, yang paling hebat luka di tengkuknya, ihhh banyak sekali darahnya keluar."

Kun Hong segera memegang tangan anak itu, begitu cepat sehingga bocah itu kaget. Tak seorang pun di antara mereka ingat betapa anehnya seorang buta dapat menangkap tangan anak itu seperti dapat melihat saja.

"Anak baik, hayo kau antarkan aku ke kuil itu," katanya.

"Mau apa kau ke sana? Dia berpesan supaya orang jangan mengganggunya," anak itu ragu-ragu.

"Aku bisa mengobati luka-lukanya, siapa tahu bisa menyembuhkannya."

"Wah, baik sekali ini!" Anak-anak itu bersorak. "Bawa dia ke sana, dua orang yang baik hati bertemu dan berkumpul. Paman buta kalau betul bisa menyembuhkannya, tentu dia senang hati!" Beramai-ramai tujuh orang anak itu mengantarkan Kun Hong ke sebuah kuil rusak yang berada di luar dusun, sunyi dan tak pernah didatangi orang kecuali anak yang suka bermain-main di tempat sunyi seperti itu.

Anak-anak itu mengajak Kun Hong memasuki kuil, akan tetapi mereka menjadi kecewa ketika tiba di dalam. "Ah, dia sudah pergi.......!" kata anak-anak itu setelah mencari ke sana ke mari tidak melihat kakek yang mereka ceritakan tadi. Akan tetapi Kun Hong dengan pendengarannya dapat menangkap adanya orang itu yang bersembunyi di atas! Hemm, mengapa orang itu bersembunyi? Agaknya dia tidak suka bertemu dengan orang lain, pikir Kun Hong.

"Anak-anak, kakek itu sudah pergi. Biarlah, dan sekarang tempat ini untuk sementara akan kupergunakan untuk mengaso. Kalian pergilah sana main-main, jangan ganggu aku yang hendak mengaso di sini. Tentang kakek itu, seperti yang dia sudah pesan kepada kalian, jangan kalian ceritakan kepada siapa pun juga, ya?"

Seperti burung-burung di waktu pagi anak-anak itu menjawab, lalu berserabutan mereka lari keluar dari kuil itu. Kun Hong lalu meraba dengan tangannya membersihkan lantai yang penuh debu, kemudian duduk bersandar dinding yang retak-retak saking tua dan tak terpelihara. Dengan pendengarannya yang luar biasa Kun Hong dapat menangkap tarikan napas yang berat, tanda bahwa orang itu terluka parah. Namun masih dapat bersembunyi di atas membuktikan bahwa orang itu, bukanlah orang sembarangan.

"Bertemu seorang buta tidak ada bahayanya karena dia tidak pandai mengenal muka orang. Lo-enghiong (orang tua gagah) silakan turun, siapa tahu siauw-te (aku yang muda) dapat membantu luka-lukamu," katanya perlahan.

Terdengar napas ditahan, agaknya orang itu terkejut. Lalu menyambar turun tubuh seseorang, akan tetapi kakinya menimbulkan suara berat ketika dia sudah meloncat turun ke bawah, terang bahwa selain ilmu ginkangnya kurang hebat, mungkin juga dikarenakan luka-lukanya yang berat. Kun Hong tahu bahwa orang itu sudah berdiri di depannya, maka dia bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.

"Kau....... kau....... bukankah kau Kwa Kun Hong dari Hoa-san-pai?" tiba-tiba orang itu berkata, suaranya besar.

Kun Hong cepat bangkit berdiri, lalu menjura penuh penghormatan. "Ah, kiranya Tan-taijin(pembesar Tan) yang berada di sini, cocok dengan dugaanku. Benar, Tan-taijin, aku si buta adalah Kwa Kun Hong......."

Belum habis Kun Hong bicara, orang itu sudah menubruk dan memeluknya sambil berkata dengan suara terharu.

"Ah, anakku....... kasihan sekali kau....... siapa kira kau akan menjadi begini."

Kun Hong menggigit bibirnya dan dia maklum akan keharuan kakek gagah perkasa ini.
Dahulu dia bertemu dengan Tan Hok ini ketika Tan Hok masih menjadi pembesar kepercayaan kaisar di kota raja, kemudian untuk kedua kalinya bertemu di puncak Thai-san, malah kakek ini menjadi saksi pula akan peristiwa hebat di puncak Thai-san yang mengakibatkan kematian Cui Bi dan kebutaan matanya (baca Raja Pedang dan Rajawali Emas). Sekarang, agaknya karena teringat akan peristiwa itu dan melihat keadaan dirinya seperti seorang pengemis buta ini, maka kakek itu mengeluarkan ucapan seperti itu. Dia memaksa diri tersenyum dan balas memeluk.

"Tan-taijin....... kau benar-benar seorang yang berbudi mulia. Dirimu sendiri terluka parah, menderita karena menjadi korban perampokan, akan tetapi kau masih bisa menaruh kasihan kepada seorang seperti aku......."

Tan Hok melepaskan pelukannya, agaknya terkejut dan heran.

"Kun Hong....... bagaimana kau bisa tahu akan keadaanku?"

"Tan-taijin......."

"Hushh, jangan sebut aku taijin lagi aku bukan pembesar. Aku lebih patut menjadi pamanmu!" tukas bekas pembesar itu,

"Maaf, Paman Tan Hok, memang betul ucapanmu itu. Mari duduklah dan sebelum kita bicara biarlah aku memeriksa dan berusaha mengobati luka-lukamu."

Kakek tinggi besar itu memang Tan Hok adanya. Dia adalah bekas pejuang yang dahulu namanya amat terkenal sebagai seorang diantara pemimpin pasukan Pek-lian-pai, berjuang bahu membahu dengan para patriot lain dalam usaha mereka menumbangkan kekuasaan Mongol. Setelah usaha ini berhasil dan Ciu Goan Ciang mendirikan Kerajaan Beng dan menjadi kaisar, karena jasanya yang amat besar, Tan Hok lalu diangkat menjadi pembesar di kota raja. Di dalam perjuangannya itu, Tan Hok malah mengangkat tali persaudaraan dengan Si Raja Pedang Tan Beng San, sekarang ketua Thai-san-pai. Sekarang bekas pembesar itu malah menjadi buronan, tinggal di dalam sebuah kuil rusak dalam keadaan terluka parah. Benar-benar nasib manusia tak dapat disangka sebelumnya.

Cepat Kun Hong melakukan pemeriksaan. Tan Hok menderita banyak luka-luka, akan tetapi yang paling hebat adalah luka di tengkuk dan di punggung bekas bacokan senjata tajam. Karena tidak segera mendapat pengobatan, luka-luka itu keracunan dan membengkak, mendatangkan demam hebat. Kun Hong segera mengeluarkan sebatang jarum perak, membuka luka-luka membengkak itu, mengeluarkan darah yang menghitam, lalu menaruh obat bubuk yang selalu tersedia di dalam buntalannya, malah memberi sebungkus untuk diminum.
"Syukur keadaan luka-lukamu belum terlalu lama," katanya menghibur. "Setelah minum obat dalam tiga hari tentu akan pulih kembali tenaga paman. Biarlah aku mencari seorang anak untuk disuruh membeli obat."

"Tidak usah, hiante. Di dusun ini mana ada toko obat? Kau katakan saja namanya obat-obat itu, aku akan mencarinya di kota. Sekarangpun rasanya sudah banyak enakan, terima kasih. Kwa-hiante, sekarang kau ceritakanlah bagaimana kau tahu bahwa aku mengalami perampokan?"

Kun Hong tersenyum. "Aku malah sudah pernah memegang mahkota kuno yang dirampas perampok-perampok Hui-houw-pang dari tanganmu, Paman Tan Hok." Dengan tangan gemetar Tan Hok tiba-tiba memegang lengan Kun Hong.

"Betulkah itu? Kun Hong, betul-betul kau pernah melihat mahkota itu......."

"Melihat sih tak mungkin Paman......"

"Ah, maafkan, sampai lupa aku....... tapi, tahukah kau di mana sekarang mahkota itu?" Suara yang penuh gairah ini menimbulkan keheranan di hati Kun Hong. Masa orang yang sudah dia ketahui sebagai seorang gagah yang berbudi ini sekarang begini serakah, begini loba akan harta benda? Pula, kalau betul apa yang dia dengar, bukankah semua harta itu termasuk mahkota kuno adalah benda simpanan kerajaan yang dicuri dan dilarikan oleh Tan Hok? Dan kenapa dia melarikan diri membawa harta curian, bagaimana pula keadaan keluarganya? Mengapa dia tidak menceritakan keadaannya, tidak menyusahkan keadaannya malah seperti tidak perduli akan luka-lukanya sebaliknya serta merta menanyakan mahkota itu? Kun Hong merasa tidak puas dan tidak ingin menceritakan apa yang dia ketahui tentang mahkota itu sebelum dia mendengar jelas duduknya perkara. "Paman Tan Hok, mengapa agaknya amat penting benda itu untukmu. Milik Pamankah benda itu?"

Mendengar nada suara kecewa dari pemuda ini Tan Hok menarik napas panjang. Memang kedengarannya bodoh pertanyaanku tadi, seakan akan tidak ada yang lebih penting daripada benda berharga itu. Memang sesungguhnya demikian, Kwa-hiante. Keluargaku binasa, isteriku tewas, hampir aku sendiri tewas, namun bagiku mahkota itu lebih penting. Kau dengarkan baik-baik penuturanku."

Tan Hok lalu bercerita. Seperti telah diketahui, semenjak kaisar pertarna Kerajaan Beng-tiauw sudah tua dan berpenyakitan, maka terjadilah perebutan kekuasaan di kota raja. Namun karena para pangeran atau mereka yang sudah berjasa dalam menumbangkan Kerajaan Mongol merasa segan dan takut kepada kaisar sebagai pendiri Kerajaan Beng, sewaktu kaisar masih hidup, mereka tidak berani berterang. Diam-diam terjadi persaingan hebat, malah didesas-desuskan bahwa putera mahkota kaisar juga diam-diam terbunuh oleh seorang di antara saingannya, terbunuh dengan racun. Kemudian cucu kaisar, putera pangeran mahkota yang meninggal, yaitu Pangeran Kian Bun Ti, diangkat menjadi calon kaisar.

Hal ini tentu saja mendatangkan rasa iri hati dan dendam yang disembunyikan. Sebaliknya, Pangeran Kian Bun Ti yang pandai mengambil hati kakeknya, memperkuat kedudukan dan pengaruhnya. Bahkan akhirnya ketika kaisar yang tua itu berpenyakitan dan makin lemah, boleh dibilang segala keputusannya tergantung dari pengaruh Pangeran Kian Bun Ti inilah. Sayang sekali bahwa pangeran ini terkenal sebagai seorang pemuda pemogoran, pemuda hidung belang. dan pemuda yang mudah sekali dipermainkan dan dipengaruhi oleh para penjilat. Pendeknya, seorang muda yang dangkal sekali pikirannya dan tidak bijaksana. Orang-orang yang mengelilinginya adalah orang orang dari golongan hitam. Hal ini amat mengkhawatirkan hati para pembesar yang setia kepada kaisar tua dan Pemerintah Beng yang baru. Di antaranya terdapat Tan Hok yang menjadi orang kepercayaan Kaisar Thai Cu, yaitu pejuang Ciu Goan Ciang yang berhasil merobohkan kekuasaan Mongol. Diam-diam mereka ini memberi ingat kepada kaisar, akan tetapi ternyata kaisar itu selain sudah terkena pengaruh dan amat mencinta cucunya, juga karena kekuasaan Pangeran Kian Bun Ti sudah amat kuat, tidak mempercayainya.

Akan tetapi Kaisar Thai Cu akhirnya terbuka juga pikirannya dan melihat gejala tidak baik dalam watak cucunya. Namun segala sesuatu telah terlambat, dia telah menjadi lemah berpenyakitan, sedangkan pembesar-pembesar tinggi dan berkuasa sudah jatuh di bawah pengaruh pangeran mahkota. Andaikata kaisar tua ini akan mengambil tindakan, dia khawatir kalau-kalau terjadi pemberontakan dan alangkah akan malu hatinya kalau dalam keadaan tua menghadapi kematian itu dia harus menghadapi pemberontakan cucunya sendiri. Dia tidak berdaya dan kesehatannya makin mundur karena hatinya tertekan.

"Demikianlah, Kwa-hiante, keadaan akan kota raja. Keadaannya panas seperti api dalam sekam. Para setiawan terhadap kaisar tua merasa hidup di atas ujung pedang dan kami maklum bahwa setiap saat kaisar tiada, tentu kami akan dihalau, bahkan nyawa kami terancam. Kalau pangeran mahkota belum berani terang-terangan memusuhi kami adalah karena dia masih sungkan terhadap kaisar." Tan Hok mengaso sebentar untuk bernapas panjang, nampaknya patriot tua ini merasa berduka sekali akan keadaan negaranya.

"Beberapa pekan sebelum kaisar meninggal dunia, aku dipanggil menghadap dan kaisar mengusir semua orang ke luar dari kamarnya. Kemudian kaisar menyerahkan sebuah surat perintah di mana kaisar memerintahkan puteranya yang menjadi raja muda di utara, yaitu Pangeran Yung Lo, untuk bertindak dan menggantikan kedudukan kaisar apabila kelak ternyata Pangeran Kian Bun Ti tidak benar dalam menjalankan tugas sebagai kaisar baru. Pendeknya, dalam surat perintah itu, mendiang kaisar memberi kekuasaan kepada puteranya itu untuk menjadi penghukum atas diri keponakannya, yaitu Pangeran Kian Bun Ti. Surat itu dipercayakan kepadaku untuk kelak disampaikan kepada Pangeran Yung Lo di waktu keadaan memerlukannya."

Kun Hong sebetulnya tidak perduli akan keadaan pemerintah, karena memang dia tidak menaruh perhatian atas kehidupan kaisar dan pembesar. Akan tetapi mendengar penuturan ini, dia tertarik.

"Kemudian bagaimana, Paman Tan?"

Tan Hok menarik napas panjang. "Tugasku itu berat sekali karena aku termasuk orang yang dianggap musuh oleh Kian Bun Ti. Banyak hal yang membikin dia tidak senang kepadaku, di antaranya peristiwa dengan dua orang keponakanmu dahulu itu dan peristiwa di puncak Thai-san (baca Rajawali Emas). Karena tahu akan ancaman bahaya, surat penting itu lalu kusembunyikan, tidak di dalam rumahku. Kemudian kekhawatiranku menjadi kenyataan, beberapa bulan setelah kaisar wafat. Kian Bun Ti yang mengangkat diri menjadi kaisar itu melakukan pembersihan terhadap pembesar-pembesar setiawan, di antaranya termasuk aku. Rumahku disita, isteriku sampai tewas dalam keributan, aku dapat melawan dan melarikan diri dengan pertolongan anak buahku yang setia dan tidak lupa aku membawa surat rahasia itu bersamaku. Celaka sekali, nasib sedang buruk, di dalam perjalananku melarikan diri itu, aku diserang oleh perampok-perampok Hui houw-pang dan menderita luka-luka. Ini masih belum apa-apa, yang membuat aku putus asa adalah surat itu kena terampas juga sungguhpun tidak ada orang yang mengetahui di mana tempatnya."

"Hemm, agaknya surat itu Paman sembunyikan di dalam mahkota kuno itu, bukan?"

"Betul, Hiante! Inilah sebabnya mengapa aku ingin tahu di mana adanya mahkota itu sekarang. Benda itu jauh lebih berharga daripada nyawaku!"

Mendengar ucapan yang bersemangat ini, Kun Hong mengerutkan keningnya.

"Paman Tan Hok, surat itu hanya surat yang menyangkut urusan perebutan warisan mahkota dan kedudukan kaisar, urusan keluarga kaisar belaka. Bagaimana kau anggap lebih berharga daripada nyawamu? Keadaanmu sendiri amat sengsara, isteri meninggal, rumah tangga berantakan, bahkan diri sendiri menderita begini hebat. Mengapa kau lebih mementingkan urusan kaisar? Apakah karena Paman mempunyai harapan bahwa kelak kalau Pangeran Yung Lo berhasil merebut kekuasaan, lalu Paman akan diberi kedudukan tinggi?"

Sejenak Tan Hok tidak berkata apa-apa. Kun Hong tidak tahu betapa orang tua tinggi besar itu memandang kepadanya dengan mata mendelik alis berdiri, bukan main marahnya!

Comments

Popular posts from this blog

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…