Skip to main content

Rajawali Emas 18 - Kho Ping Hoo

Tan Beng San adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, pewaris dari ilmu Silat Im-yang Sin-hoat adapun isterinya Li Cu, adalah puteri tunggal dari Bu-tek Kiam- ong Cia Hui Gan. Sudahlah tentu saja sepasang suami isteri ini mempunyai cita-cita untuk memperkembangkan kepandaian mereka, membentuk sebuah partai persilatan di Thai-san yang akan menyebar-luaskan ilmu dari mereka dan dijadikan modal untuk membantu usaha pembasmian kejahatan di dunia ini. Cita-cita inilah yang membuat mereka akhirnya bersepakat untuk mendirikan partai persilatan Thai-san-pai. Mereka memilih orang-orang atau lebih tepat anak-anak yang berbakat diambil dari dusun-dusun dan dipilih anak-anak yang telantar untuk dididik dan dijadikan murid.

Kebahagiaan hidup mereka meningkat ketika setahun kemudian terlahir seorang anak perempuan yang mereka beri nama Tan Cui Bi. Tentu saja anak kesayangannya ini mendapat gemblengan dari kedua orang tuanya sehingga setelah berusia tujuh belas tahun, Cui Bi menjadi seorang gadis yang selain cantik jelita, juga berkepandaian tinggi. Namun, sebagai anak tunggal, Cui Bi amat manja. Darah ayah bundanya, darah ksatria, mengalir dalam tubuhnya dan anak ini semenjak berusia lima belas tahun tak dapat ditahan lagi oleh kedua orang tuanya, kadang-kadang melakukan perantauan seorang diri dan melakukan perbuatan-perbuatan gagah berani yang menggemparkan dunia kang- ouw. Dan dalam setiap perjalanan ia selalu berpakaian sebagai laki-laki, hal ini adalah nasehat dari ayahnya yang maklum bahwa betapa pun tingginya kepandaian puterinya, namun dalam pakaian laki-laki ia akan dapat melakukan perjalanan lebih leluasa, daripada sebagai seorang gadis cantik dan muda.

Semestinya Tan Beng San dan isterinya akan merasa amat bahagia setelah mereka mendapatkan murid-murid yang cukup banyak untuk dapat dijadikan anggauta partai Thai-san-pai yang akan mereka resmikan pendiriannya. Akan tetapi, sebagaimana lajimnya kehidupan manusia di dunia ini, selalu tidak sempurna, tidak ada kebahagiaan sempurna selama manusia masih hidup, ada saja gangguan.

Hal yang amat menggelisahkan hati kedua orang ini adalah sikap Cui Bi dalam hal perjodohan. Telah banyak sekali datang pinangan-pinangan dari putera orang-orang berpangkat, putera tokoh-tokoh kenamaan di dunia kang-ouw, dari pendekar-pendekar muda yang benar-benar mengagumkan. Namun semua pinangan itu ditolak mentah- mentah oleh Cui Bi. Akhirnya datang pinangan dari Ketua Kun-lun-pai yang menjadi sahabat baik dari Tan Beng San sendiri.

Pembaca kiranya masih ingat kepada Bun Lim Kwi, pendekar Kun-lun-pai yang terjodoh dengan Thio Eng puteri tokoh Pek-lian-pai dan murid Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang. Setelah Ketua Kun-lun-pai yang sudah tua meninggal dunia, Bun Lim Kwi diangkat menjadi ketua baru dari Kun-lun-pai Bun-paicu ini mempunyai seorang putera tunggal dan diberi nama Bun Wan.

Bun Wan seorang pemuda yang ganteng dan gagah, bertubuh tinggi besar dan berwatak jujur, ilmu silatnya pun tinggi. Ketika dalam perantauan, Tan Beng San dan isterinya pernah singgah di Kun-lun dan pernah melihat Bun Wan ini yang mendatangkan kesan baik dalam hati mereka.

Oleh karena itulah, ketika tiba lamaran dari Kun-lun, serta-merta Tan Beng San dan isterinya setuju karena dalam pandangan mereka, sudah patut sekali kalau puteri mereka menjadi isteri pemuda Bun Wan itu. Bun Wan tampan dan gagah, keturunan orang-orang gagah, putera Ketua Kun-lun-pai yang besar dan terkenal, mau apalagi? Sukar kiranya mencari mantu yang melebihi Bun Wan ini. Maka, setelah bersepakat, suami isteri Thai-

san ini menerima pinangan itu, tanpa bertanya lagi kepada Cui Bi karena gadis ini sedang merantau. Bun Lim Kwi yang datang sendiri ke Thai-san, menjadi girang dan berterima kasih, lalu kembali ke Kun-lun-pai setelah mendapat keterangan dari suami isteri Thai- san bahwa persoalan itu selanjutkan akan ditentukan hari pernikahannya sehabis peresmian pendirian Thai-san-pai. Akan tetapi alangkah mengkal dan duka hati suami isteri ini ketika Cui Bi datang dan diberi tahu tentang ikatan jodoh ini gadis itu marah- marah, malah pada malam harinya lari pergi dari Thai-san tanpa memberitahukan ayah bundanya.

"Hemmm, anak itu terlalu manja!" Beng San membanting kaki dan mendongkol sekali. “Kali ini ia mau tidak mau harus menurut kehendak kita! Aku akan menyusul dan mencarinya."

Li Cu memegang tangan suaminya. "Jangan, terburu nafsu. Ingatlah bahwa Cui Bi baru berusia tujuh belas, mungkin perkawinan merupakan hal asing yang menakutkan hatinya. Tak perlu disusul dan dipaksa, jangan-jangan ia akan makin keras kepala dan nekat menolak. Tunggulah, aku yakin dia akan pulang menjelang pendirian Thai-san-pai dan perlahan-lahan nanti kita bujuk. Serahkan saja kepadaku untuk membujuknya."

Beng San mengerutkan keningnya. "Ah, kau selalu memanjakan dia, maka sekarang dia begitu keras kepala, selalu hendak membantah kehendak orang tua."

"Suamiku, bagaimana takkan begitu jadinya kalau Bi-ji itu merasa bahwa dia adalah anak tunggal, kesayangan kita? aku bersalah," ia menundukkan mukanya. "Aku terlalu memanjakan dia. Tapi... tapi kiraku kalau adiknya ini sudah terlahir, dia takkan begitu manja lagi .... " Li Cu meraba perutnya yang sudah mengandung empat bulan lebih itu.

Beng San berubah mukanya, cepat ia memegang kedua tangan isterinya dan dibawanya ke muka, diciuminya. "Ah, maafkan aku... Li Cu, kau tahu, aku tidak menyalahkan kau, bukan begitu maksudku... ah, aku hanya terlalu bingung dan gelisah memikirkan Cui Bi. Kita sudah menerima pinangan dari Kun-lun-pai, bagaimana kalau dia berkeras menolaknya?"

Li Cu menarik kedua tangannya, memandang kepada suaminya dengan penuh cinta kasih. "Kau selalu baik sekali. Percayalah, aku akan membujuk Bi-ji (Anak Bi)."

Suami isteri ini mengatur persiapan perayaan yang dilakukan oleh para anggauta Thai- san-pai. Murid Thai-san-pai ada tiga puluh orang lebih jumlahnya dan mereka ini rata- rata sudah berusia tiga puluh tahun lebih. Malah mereka yang sudah berumah tangga dan tinggal di luar, sekarang pada datang untuk membantu. Ramai dan gembira keadaan di puncak Thai-san ini dan di sana-sini, selain mengatur hiasan-hiasan, juga dibangun pondok-pondok darurat untuk para tamu yang diduga akan membajiri Thai-san-pai. Para murid ini telah menerima pelajaran ilmu silat yang tinggi juga, yaitu Ilmu Silat Thai-san Kun-hoat yang diciptakan oleh Tan Beng San dengan jalan menggabung ilmu silatnya dan ilmu silat isterinya yang mengutamakan keindahan, kecepatan dan cara yang praktis

untuk merobohkan lawan tanpa membunuhnya, sesuai dengan jiwa Beng San yang tidak suka membunuh orang.

Telah dituturkan di bagian depan cerita ini bahwa Beng San dan isterinya melanjutkan usaha Cia Hui Gan, yaitu membuat jalan rahasia yang menuju ke puncak tempat tinggal mereka. Hanya mereka berdua, anak mereka, dan para murid saja yang tahu akan jalan rahasia yang amat sulit ini, Dilihat dari jauh, agaknya tidak mungkin mendatangi puncak di mana terdapat tempat tinggal mereka atau yang menjadi pusat dari Thai-san-pai, karena puncak itu dikurung jurang-jurang yang amat terjal dan tak mungkin dilalui manusia, kecuali kalau manusia itu dapat terbang seperti burung. Bahkan anak murid yang belum tamat, tidak diberi tahu tentang jalan rahasia ini dan karenanya mereka tak dapat meninggalkan puncak sebelum pelajaran mereka tamat. Karena adanya jalan rahasia inilah maka musuh-musuh besar suami isteri itu, di antaranya Song-bun-kwi, tidak berdaya menyerbu Thai-san-pai.

Jalan rahasia ini dapat dirubah-rubah sehingga andaikata seorang musuh berhasil mendapatkan rahasia pada hari itu, pada lain harinya pengetahuannya itu akan sia-sia belaka karena setelah dirubah, rahasia itu jauh berlainan dengan yang sudah-sudah. Untuk menjaga rahasia gunungnya, Beng San sengaja hendak meengadakan perayaan pendirian Thai-san-pai itu di bawah puncak, sehingga ia tidak usah mendatangkan para tamu ke puncak dan karenanya tidak perlu ia membuka rahasia itu.

Para anak murid Thai-san-pai sudah siap siaga di bawah puncak. Sebelum hari ditetapkan tiba, kurang seminggu anak murid sudah siap menyambut para tamu, mewakili ketua mereka. Bqng San sendiri tidak mau turun dari puncak sebelum hari yang ditentukan tiba. Ia dan isterinya menanti datangnya para anak murid yang bertempat tinggal jauh, juga menanti datangnya puteri mereka, Tan Cui Bi.

Para tamu mulai mendatangi dan sibuklah anak murid Thai-san-pai menyambut, mereka. Yang mewakili Beng San mengadakan penyambutan dan menyampaikan maaf ketuanya karena sibuk sehingga baru akan muncul pada hari yang telah ditetapkan, adalah Oei Sun, murid tertua, seorang laki-laki bertubuh tinggi kurus berusia empat puluh tahun.

Macam-macam sikap para tamu ketika menerima penyambutan yang hanya dilakukan oleh murid tertua Thai-san-pai ini. Mereka ini kesemuanya amal menghormat dan mengagumi Raja Pedang Tan Beng San, namun apakah artinya murid Thai-san-pai yang baru saja berdiri ini? Ada yang menerima penyambutan dengan hormat, ada yang berterima kasih dan berdiam diri saja, akan tetapi ada pula yang bersungut-sungut, menganggap bahwa Ketua Thai-san-pai tidak memandang mata kepada mereka. Namun, karena sungkan mendatangkan keributan, mereka ini menerima saja dan mendiami temnat masing-masing, yaitu bangunan-bangunan darurat yang sudah disediakan untuk mereka.

Seorang di antara para tamu. Lai Tang yang berjuluk Cakar Naga, seorang guru silat dari kota raja yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa dan berwatak kasar pongah, ketika mendapat sambutan ini segera berkata sambil berjalan ke arah pondok yang ditunjuk

baginya, "Hemm, hemm, Thai-san-pai Ciangbunjin (Ketua) sedang sibuk dan tidak ada kesempatan menyambut kedatanganku? membikin kakiku terasa berat saja menaiki Thai- san." Semua tamu mendengar ini melihat dan beberapa orang di antaranya berseru kagum ketika melihat betapa jejak kaki guru silat tinggi besar ini memperlihatkan bekas sedalam sepuluh sentimeter lebih dalam tanah yang keras itu.

Demonstrasi yang diperlihatkan Lai Tang itu menunjukkan bahwa tenaga Iwee-kangnya cukup hebat, agaknya sengaja ia perlihatkan untuk mengejek bahwa seorang anak murid Thai-san-pai yang tidak ada nama itu tidak cukup berharga untuk menyambut seorang tamu yang berkepandaian selihai dia! terdengar Oei Sun tertawa ramah, lalu berkata,

"Maaf, maaf, Lai-kauwsu (Guru Silat Lai), Suhu telah memesan agar supaya menyampaikan maafnya dan memesan supaya siauwte melayani semua tamu dengan hormat. Biarlah siauwte yang meringankan kalau Kauwsu merasa berat kaki." Setelah berkata demikian, dengan tenang ia berjalan pula melangkah dekat jejak kaki guru silat itu dan... bekas kaki yang amblas sepuluh senti meter itu segera lenyap karena tanahnya sudah rata kembali! Semua tamu kembali berseru memuji dan guru silat Lai itu menengok, melihat apa yang dilakukan Oei Sun. Mukanya menjadi merah dan ia segera membalikkan tubuh mengangkat tangan memberi hormat kepada Oei Sun.

"Panglima yang pandai mempunyai perajurit yang hebat pula! Sahabat, dengan kepandaian seperti yang kau miliki, tentu saja aku sudah merasa cukup terhormat mendapat penyambutanmu!" Setelah berkata demikian, Lai Tang berjalan menuju ke pondoknya sambil tertawa. Senang hati Oei Sun karena biarpun pongah dan kasar, kiranya guru silat she Lai itu cukup jujur dan terbuka hatinya,

Di kaki puncak itu telah dibuat tanah datar yang amat luas dan di tengah dibangun teratak tinggi, setinggi dua meter dengan bentuk persegi empat berukuran lima meter. Di ujung teratak yang lantainya terbuat dari papan tebal dan tiang-tiangnya di bawah dari balok besar-besar ini dipasangi meja sembahyang. Teratak tanpa atap inilah yang akan menjadi tempat dilakukan upacara pendirian Thai-san-pai dan sengaja dibuat dalam bentuk seperti biasa orang membuat panggung lui-tai di mana orang akan dapat bermain silat cukup leluasa. Bukanlah hal aneh kalau setiap pertemuan di antara para jago silat atau dalam partai-partai persilatan, dibuat teratak semacam ini untuk memberi kesempatan orang bermain silat atau bertanding kepandaian silat.

Banyak juga tamu-tamu yang datang, sampai tidak kurang dari lima puluh orang yang mendapat istirahat di pondok-pondok darurat di kaki puncak. Akan tetapi rombongan- rombongan besar dari partai-partai terkenal seperti dari Kun-lun-pai, Bu-tong-pai, Siauw- lim-pai dan lain-lain, adalah partai-partai yang dipimpin oleh orang-orang terkenal. Mereka ini tahu diri dan tidak suka mendesak-desak, maka sebelum tiba hari yang ditentukan, mereka tidak mau naik ke kaki puncak, melainkan berhenti di lereng-lereng dan mencari tempat peristirahatan didalam hutan-hutan yang indah pemandangannya dan sejuk hawanya. Juga tokoh-tokoh besar perorangan belum ada yang muncul ke kaki puncak karena orang-orang seperti mereka ini pun tentu saja bersikap "jual mahal" dan tidak muncul sebelum Ketua Thai-san-pai keluar dari sarangnya. Pendeknya, biarpun

yang kelihatan berkumpul di kaki puncak hanya ada lima puluh orang, namun di lereng- lereng Thai-san telah datang banyak orang yang masih menyembunyikan diri di tempat peristirahatan masing-masing, di dalam hutan-hutan yang banyak terdapat di seluruh permukaan Pegunungan Thai-san itu.

Selama menanti datangnya hari penentuan itu, mereka yang datang ke Thai-san, baik yang sudah diterima oleh murid kepala maupun yang masih berdiam menanti di hutan- hutan, setiap hari berjalan-jalan menikmati pemandangan alam yang bukan main indahnya. Mereka yang dalang dari gunung-gunung lain, membandingkan pemandangan di situ dengan tamasya alam di tempat masing-masing. Mereka memuji akan keindahan Thai-san dan diam-diam menyatakan kagum kepada Raja Pedang Tan Beng San yang pandai memilih tempat untuk dijadikan pusat perkumpulannya, ada yang memuji nasib baik Raja Pedang itu karena telah menjadi mantu Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan yang dahulu merajai daerah pegunungan ini.

Banyak di antara tamu yang merasa penasaran melihat bahwa tempat upacara dan pertemuan tidak diadakan di puncak, melainkan di kaki puncak.

"Hemmm, Ketua Thai-san-pai benar-benar tidak memandang kepada kita!" beberapa orang di antara mereka berkata, "Apakah puncak tempat tinggal mereka itu terlalu bersih sehingga takut dikotori kaki kita?"

Ada pula yang mengomel, "Kabarnya jalan rahasia Thai-san-pai benar-benar amat hebat dan yang paling sulit dipecahkan di antara tempat-tempat rahasia di dunia ini. Aku ingin mendapat kesempatan ini untuk melihatnya. Siapa tahu, Ketua Thai-san-pai begini pelit tidak mau memperlihatkan puncak. Apakah ia takut kalau kita akan mencuri barang- barang yang berharga?"

Macam-macam pendapat orang, pada pokoknya banyak yang merasa penasaran. Malah perasaan ini mendatangkan kejadian bermacam-macam, dan ada yang hebat pula akibatnya, Beberapa kelompok malah berusaha untuk mencari sendiri jalan rahasia, bermaksud untuk mendaki puncak dan mencari jalannya. Akan tetapi akibatnya, mereka ini berkeliaran di hutan-hutan, sesat tidak karuan dan selama dua hari baru dapat keluar dari hutan-hutan yang sulit dilalui, dengan tubuh lemas dan perut lapar, malah ada yang hampir mati dikeroyok ular atau binatang lain.

Lebih celaka lagi, ada yang pergi seorang diri, diam-diam mempergunakan kepandaian menawan seorang anak murid Thai-san-pai, menyeretnya ke dalam hutan dan memaksanya untuk mengaku dan membuka rahasia jalan ke puncak. Orang ini terlalu memandang rendah anak murid Thai-san-pai. Biarpun murid yang ia lawan itu tidak sanggup melawannya karena kalah tinggi tingkat kepandaiannya, namun setiap orang murid Thai-san-pai adalah orang pilihan yang mempunyai kesetiaan luar biasa. Murid Thai-san-pai itu tidak mau membuka rahasia pertanyaannya, biarpun ia disiksa oleh Si Penawannya, malah kemudian sampai tewas dan ditinggalkan mayatnya begitu saja di dalam hutan itu. Si Penawan ternyata gagal mendapatkan rahasia Thai-san-pai dan dengan hati kecut ia meninggalkan orang tawanannya yang telah menjadi mayat, takut

kalau-kalau akan ketahuan rahasianya. Dengan wajah biasa dan sikap tenang orang ini kembali di antara para tamu.

Ributlah para anak murid Thai-san-pai ketika mereka mendapatkan seorang saudaranya tewas di dalam hutan. Namun mereka tidak memperlihatkan kegugupannya.

Dengan tenang Oei Sun yang mendengar tentang ini, menyuruh seorang murid melapor kepada suhunya yang membawa mayat saudara seperguruannya itu naik ke puncak pula untuk diperiksa ketua mereka. Kejadian ini berlangsung tanpa banyak menimbulkan keributan, namun tentu saja berita ini tersiar luar di antara para tamu sehingga mereka ini diam-diam menjadi tegang karena menduga bahwa tentu akan terjadi pertandingan hebat antara Thai-san-pai dengan orang-orang yang memusuhinya, di antaranya, orang-orang, yang telah membunuh anak murid Thai-san-pai itu.

Lima hari sebelum bulan pertama, yaitu hari pendirian Thai-san-pai, datanglah Tan Cui

Bi bersama Tan Kong Bu ke tempat penyambutan. Tentu saja para anak buah murid Thai-san-pai menyambut kedatangan Cui Bi dengan gembira, Akan tetapi Oei Sun memandang sumoinya (adik perempuan seperguruan) ini dengan mata diliputi kemuraman, lalu menarik tangan sumoinya masuk ke dalam pondok. Sambil tertawa ia memberi tanda kepada Kong Bu untuk ikut pula ke dalam. Ketika Oei San melihat ini, keningnya berkerut, akan tetapi Cui Bi berkata,

"Oei-suheng, dia ini bukan orang luar. Dia... hemm, belum waktunya kau mengetahui hal ini. Aku dan Kong Bu-koko ini tidak akan segera naik menemui Ayah Ibu, karena kami berdua hendak menanti datangnya tiga orang murid Hoa-san-pai. Aku sendiri yang harus menyambut mereka dan setelah mereka mendapat pondokan yang baik, barulah aku akan menghadap Ayah Ibu. Eh, Suheng, kenapa kau kelihatan tak senang dan gelisah? Apakah yang terjadi?"

Biarpun Cui Bi merupakan adik seperguruan namun tentu saja Oei Sun menganggap gadis muda ini seperti atasannya karena gadis ini adalah puteri gurunya dan ia maklum bahwa dalam hal kepandaian, ia tidak ada setengahnya sumoinya yang nakal ini. "Sumoi, aku merasa kecewa bahwa kau sama sekali tidak muncul lebih siang untuk membantu keperluan kita. Kau tahu, baru saja kemarin terjadi hal yang menggemaskan."

Lalu murid tertua ini bercerita tentang tewasnya seorang murid Thai-san-pai secara aneh itu.

"Ternyata di antara para tamu terdapat musuh-musuh curang dari Suhu sehingga mereka itu melakukan pembunuhan sebelum Suhu sendiri turun dari puncak. Bukankah ini amat menggemaskan?" kata Oei Sun sambil membanting-banting kaki. "Thai-san-pai belum diresmikan pendiriannya saja sudah harus menelan penghinaan ini. Hemm, ingin aku mengetahui siapa yang melakukan perbuatan ini dan ingin aku berhadapan dengan dia!"

Tentu saja Cui Bi juga marah mendengar ini. "Benar-benar jahat dan curang sekali! Kalau memang mau mencari perkara dengan kita, kenapa tidak terang-terangan saja?

Hemm, coba dia berani memperkenalkan diri, takkan mau sudah aku kalau belum kupenggal batang lehernya. Suheng, biarlah sambil menanti datangnya.teman-teman dari Hoa-san-pai, aku akan memasang mata. Kurasa, orang yang membunuh itu tentu telah menculik saudara kita itu untuk dipaksa memberi tahu tentang rahasia jalan ke puncak. Apakah di tubuh Suheng itu terdapat tanda luka-luka berat?"

Oei Sun memandang kagum. Memang harus ia akui bahwa sumoinya ini biarpun masih muda, namun memiliki kecerdikan luar biasa. "Kau betul, Sumoi. Memang begitulah agaknya, namun derita yang diderita oleh Sute itu hebat, seperti ditusuki benda panas, tentu sebelum meninggal dia menderita sekali."

Cui Bi lalu minta disediakan sebuah pondok yang berada menjauh dan tersembunyi karena ia hendak melakukan pengintaian selama menanti kedatangan Kun Hong dan Li Eng. Juga Ia mengharapkan kedatangan Hui Cu yang sampai sekarang belum ia ketahui bagaimana nasibnya itu. Sebentar saja kedukaan akan kematian seorang suhengnya telah tak berbekas pula. Di dalam pondok ia menggoda kakak tirinya.

"Bu-ko, hatimu tentu berdebar-debar, bukan?"

"Apa maksudmu? Kenapa kita harus menanti di sini? Bukankah lebih baik terus saja, ke puncak menemui... Ayah?" Kaku juga pemuda ini menyebut ayah yang selamanya tak pernah ia lihat itu.

"Hish, benarkah kau begitu terburu-buru? Ataukah kau diam-diam ingin segera melihat kedatangan... dia?"

"Bi-moi, kau selalu mengadaku tentang Nona Kui Li Eng itu. Hmmm, tahukah kau apa yang akan terjadi kalau aku dan dia bertemu? Kami berdua sudah saling menantang, kalau sekali bertemu akan mengadu pedang!"

Akan tetapi Cui Bi tidak heran malah tertawa manis. "Tentu saja, maksud dia itu hendak menjatuhkan hatimu, bukan pedangmu. Padahal, tanpa usaha itu pun kau sudah jatuh. Bukan begitu?"

Kong Bu benar-benar merasa bohwat (tak berdaya) menghadapi adik tirinya yang nakal ini. "Sudahlah... sudahlah, Moi-moi. Siapa tidak tahu, bahwa kaulah yang rindu kepada... kutu buku itu?"

Seketika wajah Cui Bi berubah, matanya membelalak. Seakan-akan hal ini merupakan hal baru baginya, atau sesuatu yang baru saja teringat olehnya. Hatinya berdebar keras, membuat wajahnya seketika menjadi merah sekali. Ia seorang gadis yang jujur, tak suka berpura-pura, apalagi terhadap kakak tirinya yang baginya sudah dianggap sebagai kakak kandungnya sendiri itu. Ia menunduk, termenung, tak dapat berkata-kata lagi, seakan- akan lupa bahwa kakak tirinya berada di situ.

Melihat adiknya tiba-tiba menunduk dan termenung itu, Kong Bu kuatir kalau ia

membuat adiknya tak senang. Ia menyentuh pundaknya dan berkata, "Kau kenapa? Aku hanya main-main, jangan marah. Kau tukang menggoda orang, kalau digoda sedikit saja, lalu ngambek!"

Akan tetapi ketika adiknya itu mengangkat muka memandangnya, hati Kong Bu tertegun. Adiknya ini tidak ngambek, tidak marah, kelihatan terharu dan bingung! "Bu-ko, apakah kau pikir betul-betul aku rindu kepadanya?"

"Lho, mengapa urusan begitu kau bertanya kepadaku? Habis, kau sendiri bagaimana?"

"Aku... aku tidak tahu, Bu-ko, aku tidak tahu. Hanya terus terang saja, aku memang... Ingin sekali melihatnya. Lucunya ia mengira aku seorang laki-laki.

Ah, Bu-ko, aku meragu. Apa yang harus kulakukan?"

Kong Bu terharu. Adik tirinya ini benar-benar seorang yang berhati polos, terhadap dia tidak mau menyimpan rahasia apa-apa, begitu jujur dan menaruh kepercayaan yang besar sekali. Hal ini membuatnya terharu dan makin mendalam rasa sayangnya kepada adik tiri ini. Aku harus membelanya, aku harus melindunginya, aku ingin melihat dia berbahagia, adikku sayang ini, pikirnya. "Bu-ko, kau lihat orang she Kwa itu orang bagaimana?" tanya pula Cui Bi dengan mendadak.

"Hemm, mana aku tahu? Hanya sebentar aku bertemu dengan dia. Dia memang orang aneh, semuda itu kata-katanya mengandung filsafat-filsafat tinggi. Kau... kau yang sudah cukup lama melakukan perjalanan bersama dia tentu kau lebih mengenal sifat-sifat. Tapi dia itu... kutu buku yang lemah, seperti kau katakan sendiri. Apakah sifat ini sesuai dengan kau... seorang gadis yang memiliki kepandaian tinggi dan jiwa gagah perkasa?"

Cui Bi menggeleng kepalanya berkali-kali. "Entahlah... entahlah... dia aneh, Koko. Ah, aku bingung .... "

Kedatangan dua orang itu tidak menarik perhatian para tamu. Siapa memperhatikan dua orang muda yang bersahaja itu? Hanya dua orang pemuda yang ganteng, tidak ada apa- apanya yang aneh. Tentu saja tidak ada di antara mereka yang tahu bahwa seorang di antara dua pemuda itu adalah puteri dari Ketua Thai-san-pai dan tidak ada yang tahu pula bahwa pemuda yang seorang lagi adalah cucu yang tergembleng dari Kakek Song-bun- kwi.

Alangkah girangnya hati Cui Bi, dan diam-diam juga hati Kong Bu, ketika pada keesokan harinya tiba tiga orang muda yang bukan lain adalah Kun Hong, Li Eng, dan Hui Cu di kaki puncak itu! Lebih besar kegirangan Cui Bi karena melihat bahwa Hui Cu juga sudah berada dengan pemuda itu dalam keadaan selamat. Berlari-larian ia menyambut kedatangan tiga orang itu, diikuti oleh Kong Bu yang agak meragu berjalan di belakangnya.

"Adik Cui Bi .... !" Kun Hong berseru dan tanpa ragu-ragu lagi memegang kedua tangan

sahabat ini. "Alangkah girangku melihat kau di sini! Ah, adik yang nakal, kenapa tempo hari kau pergi begitu saja tanpa pamit? Aku... aku ingin memperkenalkan kau dengan keponakan-keponakanku. Ini dia Li Eng yang seringkali kuceritakan kepadamu, dan ini Hui Cu. Anak-anak, inilah pemuda aneh murid Thai-san-pai yang seringkali kuceritakan kepada kalian. Dia hebat!"

Diam-diam Cui Bi yang mukanya menjadi merah sekali itu bertukar pandang dengan Kong Bu yang juga sudah sampai di situ. "Eh, kau juga di sini? Bersama-sama Bi-laote?" Kun Hong menegur kaget dan heran melihat Kong Bu berada pula di situ dengan sahabatnya itu. Namun yang ditegur hanya mengerling kepada Li Eng yang sebaliknya memandang kepadanya dengan mata merah! Panas rasa dada Li Eng. Tentu saja panas melihat pemuda yang dibencinya itu berada bersama Cui Bi! Hemm, dia tak sebodoh pamannya. Akan tetapi terpaksa ia menahan panas hatinya itu karena Cui Bi sudah merangkapkan kedua tangan memberi hormat kepadanya dan kepada Hui Cu.

"Syukur kalian sudah datang!" seru Cui Bi gembira. "Aku sudah menyediakan sebuah pondok besar untuk kalian. Mari, mari silakan ke pondok beristirahat sambil bercakap- cakap. Hong-ko kita masih banyak waktu, masih empat hari lagi hari yang ditentukan. Kalian bisa beristirahat sambil menikmati keindahan tempat kami." Ia lalu menggandeng tangan Kun Hong ke pondok besar yang agaknya menyendiri letaknya, berdekatan dengan pondok Cui Bi sendiri. Memang dia sengaja memilih dua pondok berjajar yang agak terpisah jauh dari pondok para tamu itu untuk sahabat-sahabatnya dari Hoa-san-pai.

Ketika melihat bahwa pondok itu tidak mempunyai kamar-kamar terpisah. Kun Hong menjadi agak bingung. "Ah, mengapa pondok ini tanpa kamar? Habis, bagaimaha kita bisa bermalam di sini? Ia memandang kepada dua orang keponakannya.

Li Eng tertawa, lalu berkata, "Mengapa bingung? Aku dan Enci Hui Cu tentu saja tidur sepondok dengan dia! Hayo, Saudara Cui Bi, kita mengobrol di pondok yang satunya." Tanpa ragu-ragu lagi Li Eng menggandeng tangan Cui, ditariknya memasuki pondok kedua diikuti oleh Hui Cu yang tersenyum-senyum.

??" Akan tetapi alangkah herannya ketika ia melihat Cui Bi tidak menjadi marah atau malu, malah tertawa-tawa dan merangkul Li Eng, juga Hui Cu lalu mendekat dan merangkul sehingga tiga orang itu, Cui Bi di tengah-tengah, dirangkul oleh dua orang gadis keponakannya, memasuki pondok sambil tertawa-tawa. Kun Hong melongo, kemudian membentak, "Eng-ji, apa kau gila ....

"Gila...mereka gila semua... atau aku yang gila .... ?" Kun Hong berkata seorang diri

dengan mata tetap terbelalak.

Diam-diam Kong Bu memperhatikan pemuda Hoa-san-pai itu dan ia menjadi geli hatinya. Pemuda Hoa-san-pai ini benar-benar tidak berpura-pura dan memang tidak pernah mengira bahwa Cui Bi adalah seorang wanita. Ia tidak terlalu menyalahkannya karena dia sendiri juga tadinya tertipu oleh adik tirinya yang nakal itu. Agaknya dua

orang gadis Hoa-san-pai itu, karena sama-sama wanita, begitu bertemu sudah dapat mengenal keadaan sesungguhnya dari Cui Bi.

"Saudara Kwa Kun Hong bukan mereka yang gila, juga kau tidak gila, hanya kau itu telah tertipu. Adik Cui Bi bukanlah seorang pria, melainkan seorang gadis, puteri tunggal Ketua Thai-san-pai."

" Kun Hong makin melongo, kemudian mukanya tiba-tiba berubah merah sekali karena ia teringat betapa tadi dalam pertemuan itu ia begitu girang dan, memegang kedua tangan "pemuda" itu begitu mesra. Kalau ia tahu ia seorang gadis! Kalau tahu mau apa? Ia pernah ditempiling, pernah dihina dimaki. Tapi, mengapa gadis itu mau melakukan perjalanan bersama dia? Mau membelanya? Ah, apa artinya semua ini? "Ohhh ....

Kong Bu tertawa dan menepuk-nepuk Kun Hong. "Tak usah heran, aku sendiri pun pernah tertipu olehnya. Sudahlah, kau kelihatan lelah sekali, kau mengasolah, malam ini aku mempunyai tugas penting, tak usah kau menunggu aku. Nanti akan ada anak murid Thai-san-pai yang mengantar hidangan untukmu. Sebelum Kun Hong sempat bicara, pemuda itu telah meninggalkannya, keluar dari pondok, Kun Hong tidak berani mencegah karena ia belum mengenal betul pemuda cucu Song-bun-kwi itu. Otaknya diputar, dan banyak hal menimbulkan keheranan dan kebingungannya. Banyak hal hendak ia tanyakan kepada pemuda itu, namun pemuda itu telah meninggalkannya dan betul-betul ia merasa lelah setelah melakukan perjalanan jauh itu.

Benar saja, menjelang malam, seorang anak murid Thai-san-pai yang gagah dengan sikap hormat sekali mengantarkan hidangan sederhana. Anak murid ini pendiam sekali dan penuh hormat sehingga Kun Hong merasa tidak enak bahwa sebagai seorang tamu ia banyak bertanya-tanya, apalagi mengenai diri putera Ketua Thai-san-pai. Ia makan seorang diri, lalu merebahkan diri di atas pembaringan kayu yang berada di dalam pondok. Mengapa Hui Cu atau Li Eng tidak muncul? Apakah mereka juga lelah? Ah, aku harus mencari mereka. Tidak enak sekali rasa hatinya. Kalau ia teringat akan pengalamannya dengan Cui Bi yang disangkanya seorang pria itu, ia merasa amat malu.

Bagaimana ia akan berani berhadapan dengan Paman Tan Beng San? Ke mana ia harus menaruh mukanya kalau nanti bertemu dengan Cui Bi? Malam itu terang bulan, akan tetapi banyak awan hitam di angkasa raya yang sebentar-sebentar menutupi bulan. Kun Kong keluar dari pondoknya. Memang pondok ini agak jauh dari pondok-pondok lain yang penuh tamu. Pondok-pondok lain itu tidak kelihatan dalam kegelapan malam, hanya sinar api penerangan yang berkelap-kelip nampak dari jauh. Siapa tahu kalau-kalau dua orang keponakannya itu berada di luar pondok mereka, pikirnya dan ia berjalan hati-hati menghampiri pondok yang hanya terpisah beberapa puluh meter itu dari pondoknya. Sunyi di pondok itu, malah api penerangannya juga sudah padam. Agaknya tiga orang itu sudah tidur. Kun Hong menghampiri hati-hati sekali dan ketika bulan menyinarkan cahayanya menembus awan tipis, hatinya girang melihat bayangan seorang gadis duduk di belakang pondok, di atas sebuah batu besar. Tak salah lagi, itulah Hui Cu, seorang diri melamun! Hui Cu duduk membelakanginya dan dengan hati-hati tapi cepat Kun Hong menghampirinya.

"Ssttt, Hui Cu, kau belum tidur?" bisiknya menghampiri.

Hui Cu diam saja, seakan-akan tidak mendengarnya.

"Cu-ji (Anak Cu), celaka sekali" Kun Hong kini mendekat dan berdiri di belakang gadis itu. "Kita harus lekas-lekas pergi meninggalkan tempat ini! Ah, celaka, tak mungkin aku dapat menghadap Paman Tan Beng San setelah semua kejadian ini. Tak dapat aku berhadapan dengan... dia. Ah, siapa tahu, kiranya ia seorang gadis ....

.... "

Terdengar Hui Cu tertawa perlahan, ditahan-tahan, tubuhnya bergerak sedikit akan tetapi mukanya tidak kelihatan jelas karena bulan tertutup awan hitam,

"Hui Cu, kau malah mentertawakan aku? Kau tidak tahu, betapa memalukan dan tak patut kelakuanku terhadap dia. Aku maki dia pemuda pesolek, aku menyatakan benci, aku marah dan dia agaknya benci kepadaku, dia menampar pipiku, memaki aku pemuda sombong. Ah, kau tidak tahu, Hui Cu, aku tidak ada muka untuk bertemu dengannya. Lekas kau beritahukan Li Eng, bangunkan perlahan-lahan dan kita pergi meninggalkan tempat ini. Kalau kau dan Li Eng tidak mau, terpaksa aku sendiri akan pergi, aku tidak berani bertemu dengan dia dan orang tuanya."

Hui Cu sudah turun dari batu dan berdiri di depannya. Melihat keponakannya ini diam

saja, Kun Hong memegang kedua tangannya diguncang-guncang dan ia berkata penuh permintaan, "Hui Cu, jangan anggap hal ini sebagai main-main.

Aku benar-benar malu, kenapa kau acuh tak acuh? Lekas masuk ke pondok dan beri tahu Li Eng, malam ini juga aku akan pergi."

Perlahan-lahan awan hitam tertiup angin meninggalkan bulan sehingga perlahan-lahan sinar bulan menerangi tempat itu.

"Hui Cu, kenapa kau diam saja? Kenapa... aihhhh, kau ini siapa... ahhh...," Kun Hong terbelalak dan mulutnya ternganga memandang wajah gadis yang disangkanya Hui Cu itu. Wajah yang seperti bulan purnama itu sendiri, gilang-gemilang dengan sepasang mata bening bersinar-sinar, hidungnya kecil mancung di atas sepasang bibir yang setengah tersenyum mengejek, yang manis sekali, yang pernah membuat ia kehilangan rasa bencinya... wajah seorang gadis cantik jelita melebihi bidadari kahyangan, wajah... Cui Bi!

" Kun Hong gagap-gugup akan tetapi lupa bahwa sejak tadi ia masih memegangi kedua tangan gadis itu. "Aduh, celaka... aduh... aku tolol... ah ....

" suara merdu yang sudah amat dikenalnya, terlalu dikenalnya, suara yang dahulu pun ketika gadis ini disangkanya pria, sering mendatangkan rasa nikmat dan nyaman di hatinya. "Hong-ko, kenalkah kau padaku?" "Hong-ko ....

"Hemm, eh, tentu saja, kau... eh, kau Bi-laote (adik laki-laki Bi)."

Cui Bi tertawa, suara ketawanya perlahan, ditahan-tahan menyatakan bahwa ia merasa geli sekali. "Bi-laote

....?" ia mengulang, matanya bersinar-sinar, wajahnya berseri tertimpa cahaya bulan keemasan. Bibirnya tersenyum lebar sehingga tampak gigi putih berkilau sebentar. "Eh... Oh... bagaimana aku ini

....? Kau... Nona Tan..." Kemudian Kun Hong yang hendak mengangkat tangan memberi hormat baru sadar bahwa sejak tadi ia memegangi kedua tangan orang! "Maaf... maaf sebanyak-banyaknya ....

" ia cepat melepaskan pegangannya dan menjura sambil membungkuk-bungkuk, "maafkan aku, Nona."

"Hong-ko, apa-apaan kau ini? mendadak sontak menyebut nona-nonaan segala? Kalau begitu lebih baik kau seterusnya menyebut aku laote (adik laki-laki)!" Suara Cui Bi terdengar merajuk dan manja. Juga sikap ini amat dikenal oleh Kun Hong dan suara inilah yang dahulu membuat ia memaki Cui Bi sebagai anak manja, anak pesolek!

"Maaf... habis, bagaimana .... ?"

"Kau lebih tua daripada aku. Kalau aku laki-laki, kau memanggil laote, kalau perempuan, masa kau tidak tahu Harus memanggil apa? Kau menyebut ayahku paman, bukankah aku ini adik perempuanmu adik misanmu?"

"Oh, ya... ya, baiklah Siauw-moi (Adik Perempuan Cilik)."

"He, aku sudah berusia tujuh belas kau masih menyebut siauw-moi? Apakah kau anggap aku ini masih bocah?"

"Bi-moi-moi .... " Kun Hong membetulkan kesalahannya.

Cui Bi nampak puas, lalu tiba-tiba ia menyambar tangan Kun Hong, dipegangnya seperti tadi Kun Hong memegang tangannya, seperti dulu sebagai "Cui Bi pria" ia memegang tangan sahabatnya.

"Hong-ko, marahkah kau kepadaku? Aku sudah menipumu."

"Tidak, tidak... kenapa mesti marah? Aku yang tolol."

"Tidak senangkah hatimu mendapat kenyataan bahwa, sahabat baikmu itu ternyata adalah seorang wanita?"

"Tentu, senang... senang sekali, eh, aku .... " Bingung Kun Hong teringat akan semua

ucapannya tadi.

"Kau... apa? Kau datang ini hendak ke manakah? Hendak mencari Enci Hui Cu? Atau Li Eng?" Cui Bi melihat kebingungan pemuda itu sengaja menggoda.

"Tidak. Aku... aku tadi hendak... eh, mencari tempat buang air .... "

Mendengar jawaban yang tak tersangka-sangka ini Cui Bi menahan gelak tawanya, membuat Kun Hong makin bingung. "Aiih, perutmu sakit, Hong-ko? Di sana itu, di belakang kelompok pohon kate itu, ada sebatang anak sungai, di sana kau bisa buang air. Hendak ke sanakah?"

"Ah, tidak... maksudku, eh, tidak jadi sakit Aku... aduh, Bi-moi, mengapa kau menggodaku? Bukankah kau sudah mendengar semua tadi? Aku malu, lebih-lebih sekarang aku malu sekali, Moi-moi .... "

Cui Bi mempererat genggaman tangannya. "Hong-ko, mengapa malu? Akulah yang seharusnya malu kepadamu, karena aku yang banyak berbuat tak baik terhadapmu."

"Tidak, tidak! Akulah yang bodoh, yang buta, bagaimana aku berani kurang ajar terhadap puteri Paman Tan Beng San?"

"Aku sudah pernah menampar pipimu. Hong-ko, kau sudah berjanji takkan melaporkan hal itu kepada ayahku, tapi aku masih merasa salah kepadamu. Kau boleh menampar aku sekarang sebagai pembalasan."

"Wah, mana bisa? Malah aku akan girang kalau kau mau mengulang tamparanmu itu, untuk semua ucapanku yang kurang patut."

Cui Bi melepaskan pegangannya, berkata lembut, "Hong-ko duduklah."

Kun Hong dengan kikuk duduk di atas batu, gadis itu duduk didepannya. Mereka saling pandang di antara cahaya bulan yang kadang-kadang terang kadang-kadang gelap. Kun Hong merasa seakan-akan kerongkongannya tersumbat, hatinya berdebar tidak karuan dan ia tidak tahu harus berkata apa. Kikuk sekali rasanya setelah berhadapan dengan sahabat baiknya yang ternyata seorang gadis itu.

"Hong-ko, sore tadi kau menyatakan amat girang bertemu denganku, Apakah kau sekarang juga masih merasa girang?"

"Aku girang sekali."

"Hong-ko, kau... sukakah kau kepadaku?"

Bukan main gadis ini, pikir Kun Hong. Pertanyaan yang seperti todongan pedang tajam

di depan ulu hatinya. Gadis yang jujur dan terbuka hatinya. Ia menggigit bibir lalu menekan debaran jantungnya dan menjawab, suaranya bersungguh-sungguh, "Bi-moi, aku suka kepadamu, aku suka sekali kepadamu. Entah mengapa, dahulu ketika kau menampar pipiku dan merampas pedangku, aku benci sekali kepadamu. Aku benci dan selalu mendongkol kepadamu, setelah itu aku terheran sendiri mengetahui bahwa

kebencian dan kemarahanku kepadamu itu bukan karena pribadimu, melainkan karena aku merasa bahwa kau tidak suka kepadaku! Aku tak senang karena kau tidak suka kepadaku, begitu perkiraanku dahulu. Setelah kita saling jumpa kembali, dan kau... kelihatan suka kepadaku, tidak membenciku, malah membelaku, aku... ah, sejak itu lenyap semua kebencianku kepadamu, menjadi suka sekali. Ketika kau pergi, ah... memalukan sekali, aku merasa rindu, ingin bertemu, ingin berdekatan. Kuanggap kau sebagai sahabat yang luar biasa, entah mengapa, rasa sayang memenuhi hatiku. Setelah sekarang ternyata kau seorang wanita, ah... tak tahu aku, aku bingung, Moi-moi."

Bulan bersembunyi di balik awan sehingga Kun Hong tidak melihat betapa mata gadis itu menjadi basah air mata, tapi mulut gadis itu tersenyum bahagia.

"Hong-ko, katakanlah terus terang, apakah kau sekarang, setelah melihat bahwa sahabatmu ini seorang wanita, masih sayang kepadaku?"

"Itu... itu... ah, mana aku berani begitu kurang ajar, Moi-moi? Mana aku berani menyatakan hal demikian kurang ajar? Kau puteri Paman Tan Beng San, kau berkepandaian tinggi, kau cantik jelita, sedangkan aku .... "

"Kau seorang pemuda luar biasa, Hong-ko, Belum pernah selama hidupku aku bertemu dengan seorang seperti kau. Kau hebat, kau mengagumkan hatiku dan aku... aku amat suka kepadamu, Hong-ko Sayang..."

"Sayang... apakah, Moi-moi?"

"Hong-ko, benar-benarkah kau tidak mengerti ilmu silat? Enci Hui Cu dan Enci Li Eng bercerita banyak tentang kau, katanya kau mengerti banyak teori ilmu silat, tapi tidak pernah melatihnya. Betulkah?"

"Hemm, agaknya betul begitu."

"Kalau begitu, mudah saja kau berlatih silat. Kau berbakat baik sekali, aku yakin, kalau kau sudah berlatih, aku sendiri pun takkan mampu melawanmu!" Cui Bi nampak gembira sekali.

!" Tiba-tiba Kun Hong berdiri dan menoleh, Cui Bi juga menoleh dan masih dapat melihat bayangan orang berkelebat cepat sekali, menghilang di dalam gelap. "Sstttt ....

" kata Cui Bi, terheran-heran mengapa ia kalah dulu oleh Kun Hong melihat orang itu tadi. Kun Hong juga sadar bahwa tanpa terasa ia telah memperlihatkan kelihaian matanya, maka cepat-cepat ia berkata, "Ada orang ....

"Aku kebetulan menengok dan melihat bayangannya. Adik Cui Bi, lebih baik kita berpisah, biarlah besok masih banyak waktu bercakap-cakap. Tak baik orang melihat kita bicara berdua di sini."

Cui Bi mengangguk. "Dan... Hong-ko, apakah kau masih bersikeras hendak pergi meninggalkan aku?"

"Tidak, tidak nanti!" kata Kun Hong.

"Selamanya?" desak Cui Bi. Makin berdebar hati Kun Hong, apalagi melihat gadis itu berdiri amat dekat. Tanpa serasa lagi ia memegang kedua tangan gadis itu, ditekannya erat-erat untuk beberapa detik sambil berkata,

" Lalu dilepaskannya pegangan tangannya dan gadis itu berdiri memasuki pondoknya, meninggalkan suara keluhan panjang, setengah tertawa setengah menangis. Untuk beberapa menit Kun Hong berdiri mematung di tempat itu, lalu perlahan berjalan pulang ke pondoknya dengan wajah berseri-seri. Wajahnya berubah dan menjadi merah ketika ia memasuki pondok, ia melihat Kong Bu sudah berbaring di atas dipan sambil memandang kepadanya dengan tersenyum, "Selamanya tidak akan kutinggalkan kau ....

?" tanyanya untuk menyembunyikan kegugupannya.

Kong Bu tersenyum lebar, "Sudah dari tadi. Aku menantimu, ke manakah kau pergi, Saudara Kun Hong?" "Kau sudah pulang ....

"Aku... aku pergi buang air ke anak sungai di sana .... "

"Oh, begitukah?"

Kun Hong tidak mau banyak bicara lagi dan segera merebahkan diri di atas dipan yang lain, lalu pura-pura tidur. Padahal sampai jauh tengah malam ia tidak dapat tidur, wajah yang cantik itu terbayang-bayang terus di depan matanya. Lewat tengah malam barulah dapat tidur.

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…