Skip to main content

Rajawali Emas 8 - Kho Ping Hoo

"Hee... jangan... dia sudah kalah, jangan kauserang lagi!" Kun Hong berteriak mencegah sambil menghadang di antara Yok-mo dan burung itu. Kebetulan sekali tadi tubuh Yok- mo terlempar ke arahnya sehingga ia dapat mendahului burung itu dan menghadang di tengah jalan sambil mengacungkan tabung bambu untuk menakuti.

Akan tetapi burung itu mana takut terhadap Kun Hong? Ia memekik keras dan menerjang. Sebelum Kun Hong tahu apa yang terjadi, ia merasa tubuhnya melayang ke atas dan kiranya baju di punggungnya telah dicengkeram oleh kaki-kanan burung itu dan dibawa terbang tinggi.

Dulu, di waktu ia dikerek oleh Li Eng ke atas sebatang pohon tinggi, ia sudah ketakutan sekali, sekarang ia dibawa terbang jauh lebih tinggi lagi di atas pohon-pohon yang paling tinggi, bagaimana ia tidak akan ketakutan setengah mati? Melihat pohon-pohon di bawahnya makin lama makin kecil, Kun Hong berteriak-teriak.

"Heee... lepaskan aku... eh, jangan lepas jangan lepas! Kau... turunkanlah aku, burung yang baik .... "

Akan tetapi jawaban burung itu hanya memekik-mekik marah dan kesakitan. Mendengar ini, Kun Hong teringat bahwa burung itu terluka kaki kirinya. Ia memandang dan melihat betapa kaki kiri burung itu berubah putih semua, seputih kukunya. Ia teringat akan tabung yang masih dipegangnya. Cepat ia membuka sumbat tabung itu dan berkata,

"Kau terluka tongkat Yok-mo, lekas kau minumlah sedikit darah katak putih di dalam tabung ini .... "

Baru saja ia berkata demikian, ia melihat bayangan putih melompat keluar dari dalam tabung Kun Hong kaget sekali sampai tabung kosong itu terlepas dari tangannya.

"Celaka... ia terlepas lagi..."

Akan tetapi burung itu segera berbunyi nyaring dan tubuhnya menyambar ke depan sampai Kun Hong merasa matanya berkunang karena tubuhnya sendiri pun terbawa melayang cepat ke depan. Dengan paruhnya yang runcing dan terbuka lebar, burung itu mematuk katak yang melompat keluar dari dalam tabung tadi, kemudian langsung menelannya sehingga binatang kecil itu lenyap ke dalam perutnya. Kembali ia melengking girang sampai berkali-kali dan tiba-tiba ia melepaskan, cengkeramannya pada baju Kun Hong. Tentu saja setelah dilepaskan, tubuh pemuda ini melayang ke bawah dengan kecepatan yang membuat ia merasa makin ketakutan.

"Waah .... !" teriaknya ketika makin lama makin cepatlah tubuhnya meluncur ke bawah,

disambut pohon-pohon yang makin membesar dan kelihatan mengerikan sekali. Tiba-tiba Kun Hong yang sudah setengah pingsan itu merasa tubuhnya terapung lagi ke atas, tertahan luncurannya ke bawah tadi. Kiranya burung itu sudah menangkapnya lagi dan mencengkeram bajunya dengan tepat. Kemudian perlahan-lahan burung itu melayang turun dan sesampainya di atas tanah ia melepaskan Kun Hong.

Kun Hong yang tadinya sudah ketakutan dan tidak mengharapkan akan dapat hidup lagi, serta merta memeluk burung itu.

"Kim-tiauw-heng (Kakak Rajawali Emas) yang baik, kau telah menolong nyawaku. Terima kasih!" Ia menjura ke depan burung itu seakan-akan ia berhadapan dengan seorang manusia.

Aneh sekali, burung itu mengeluarkan bunyi mencicit dan... segera berlutut dan mendekam di depan Kun Hong. Ketika pemuda ini dengan terheran-heran melihat dengan teliti, ternyata bahwa kaki kiri burung itu sudah pulih menjadi merah seperti sediakala. Ia menengok ke kanan kiri mencari-cari, akan tetapi ternyata Toat-beng Yok-mo sudah lenyap bersama tongkat dan buntalan pakaiannya.

"Dia sudah dapat berjalan sendiri, kenapa selama ini menipu?" Gemas juga kalau ia teringat betapa setiap hari ia harus menggendong kakek itu yang sebetulnya malah lebih kuat dari padanya.

"Kim-tiauw-heng, kau datang dari manakah? Aku suka sekali kepadamu, kau baik dan mengenal budi orang, tidak seperti Toat-beng Yok-mo yang hati dan pikirannya penuh terisi kehendak jahat. Kim-tiauw-heng, kau tentu milik seorang gagah, siapakah pemilikmu dan di mana tempat tinggalmu?"

Burung itu mengeluarkan bunyi mencicit lagi, kemudian ia maju mendekati Kun Hong', dengan lehernya yang berbulu halus dan hangat itu ia membelai leher Kun Hong, kemudian ia berlutut dan menyelinapkan kepalanya di bawah kedua kaki pemuda itu dari belakang, Dengan begini Kun Hong duduk di atas punggungnya, lalu burung itu menggerakkan kedua sayapnya membawa Kun Hong terbang lagi.

! Kun Hong panik lagi dan ketakutan. Akan tetapi karena burung itu terbang perlahan dan tubuhnya sama sekali tidak bergoyang, Kun Hong akhirnya dapat duduk dengan enak dan ia mulai menyesuaikan malah ia segera berpegang kepada kalung yang melingkari leher burung itu. Makin lama burung itu terbang makin tinggi, berputaran di atas hutan itu dan makin memuncak pula ketakutan Kun Hong. Akan tetapi segera ia tertarik oleh pemandangan di bawah dan tak terasa lagi mulutnya berseru kegirangan. "Heee... bagaimana ini .... aduh, aku bisa jatuh ....

"Aduh... bagus sekali, alangkah indahnya pemandangan alam di bawah itu. Hee, hati-hati Kim-tiauw-heng, jangan sampai aku jatuh!" Demikianlah, diantara rasa takut dan rasa girang dan kagum melihat keindahan pemandangan di bawah. Kun Hong tak berdaya membiarkan dirinya dibawa terbang oleh burung rajawali emas yang aneh itu.

Mudah saja menduga burung apakah yang telah membawa terbang Kun Hong itu. Memang dugaan Toat-beng Yok-mo tidak keliru bahwa di dunia ini tidak ada dicari keduanya burung seperti itu. Burung itu bukan lain adalah burung rajawali emas sakti, yang pernah kita kenal sebagai burung tunggangan Kwa Hong, juga burung yang secara tidak langsung menjadi guru dari Kwa Hong.

Seperti telah kita ketahui bahwa tujuh belas tahun yang lalu ketika Kwa Hong untuk penghabisan kali mendatangi Hoa-san-pai dan hendak membunuh Thio Ki, dia bertemu muka dengan ayahnya, Kwa Tin Siong sehingga hampir saja ia tewas karena membiarkan dirinya diserang oleh ayahnya yang marah itu. Burung rajawali emas menolongnya dan membawanya pergi, kembali ke tempat ia semula tinggal, yaitu di puncak Pegunungan Lu-liang-san. Semenjak itu, ia tidak berani lagi memperlihatkan mukanya di dunia ramai. Ketika ia pergi ke Hoa-san itu, ia pun meninggalkan puteranya yang baru berusia setahun itu dalam asuhan seorang inang pengasuh yang ia dapatkan dari penduduk di kaki Gunung Lu-liang-san. Semenjak saat itu, Kwa Hong berdiam di Lu-liang-san, jauh dari keramaian dunia dan agaknya sudah tidak mau mengurus lagi persoalan duniawi.

Seluruh perhatiannya ia tumpahkan kepada puteranya yang ia beri nama Sin Lee. Betapapun juga, wanita ini belum juga dapat melupakan cinta kasih terhadap Beng San berikut perasaan iri hati dan cemburu terhadap wanita yang telah berhasil menjadi isteri kekasihnya itu. Oleh karena ini pula ia tekun mendidik puteranya itu yang semenjak kecil sudah ia latih dengan ilmu silat sehingga semenjak kecilnya Sin Lee menjadi seorang anak laki-laki yang bertubuh kuat dan bertenaga besar.

Sudah menjadi sifat pembawaan bahwa anak laki-laki lebih nakal daripada anak-anak perempuan karena anak laki-laki pada umumnya lebih bandel dan lebih berani. Kenakalan anak laki-laki dapat dikendalikan oleh perhatian orang tuanya yang mendidik dan menuntun agar kebandelan dan keberanian ini menjurus kepada kebenaran. Akan tetapi Kwa Hong yang seorang diri tanpa suami mendidik anaknya, hanya mencurahkan perhatian kepada ilmu silat saja, malah terlalu memanjakan puteranya. Hal inilah kiranya yang menjadi sebab sehingga Sin Lee menjadi seorang anak yang luar biasa nakalnya, luar biasa berani dan nekatnya. Tidak ada orang di dunia ini yang ditakutinya, dan satu- satunya orang yang kiranya akan ia takuti, yaitu ibunya, terlalu menyayangnya sehingga ia menjadi seorang anak yang tak kenal takut lagi.

Anak yang masih kecil ini kalau tidak bermain-main dengan burung rajawali emas, tentu pergi jauh ke bawah gunung dan bermain-main dengan anak-anak penduduk di situ. Dan sebentar saja semua anak takut kepadanya karena siapa yang tidak mau menuruti kehendaknya tentu dipukulnya. Bahkan setelah ia berusia sepuluh tahun, tak seorang pun laki-laki dewasa berani menentangnya. Kalau ada yang menentang, biar orang tua akan ia pukul. Mula-mula, ketika ia masih belum kuat benar, orang-orang itu takut mengganggunya karena takut kepada Toanio (Nyonya besar) yang tinggal di puncak. Setelah Sin Lee menjadi seorang anak yang benar-benar memiliki kepandaian silat yang hebat, orang-orang takut kepadanya karena memang takut dipukuli oleh anak yang luar biasa itu.

Sudah terlalu sering Sin Lee membuat gara-gara. Kalau tidak memukul orang tentu menyerang kampung lain yang belum dikenalnya, memaksa orang-orang kampung itu mengakui dia sebagai "jagoan cllik" yang tak terkalahkan. Pada suatu hari ia malah membikin ribut di sebuah kelenteng yang berada di kaki gunung sebelah timur. Kelenteng tua, ini hanya ditinggal oleh lima orang hwesio dan menjadi tempat sembahyang para penduduk kampung di sekitar kaki Gunung Lu-liang-san. Lima orang hwesio ini hidup dengan aman dan tenteram, setiap hari bekerja di ladang menanam sayur-sayuran untuk bahan makan mereka dan melayani setiap keperluan bersembahyang dari penduduk. Karena tidak ada pekerjaan lain, maka tanaman sayuran mereka terpelihara baik dan ladang sayuran hwesio-hwesio itu terkenal sebagai ladang sayuran yang paling subur dah menghasilkan sayur-sayuran pilihan.

Pada suatu hati yang cerah, seorang hwesio tinggi besar tengah bekerja di ladang sayur itu dengan wajah berseru gembira. Betapa tidak? Ladang itu ditumbuhi sayur bermacam- macam yang amat subur, juga buah labu yang sudah dekat masanya dipetik, besar-besar dan gemuk-gemuk menyenangkan. Hwesio itu bekerja mencabuti rumput liar yang mengganggu kesuburan tanaman.

Tiba-tiba serombongan anak-anak antara berusia sepuluh sampai tiga belas tahun, semua laki-laki, muncul dari lereng gunung. Jumlah mereka ada lima belas orang dan kelihatannya nakal-nakal. Setelah dekat dengan ladang itu, terdengar mereka berteriak- teriak, "Lo-suhu, minta labunya!" "Lo-suhu, berilah kami seorang satu!" Simpang siur anak-anak itu berteriak-teriak sambil tertawa-tawa. Hwesio tinggi besar itu bangkit berdiri menoleh dan dengan muka sabar ia tersenyum lalu menjawab,

"Belum waktunya, anak-anak. Labu-labu ini belum waktunya dipetik.. Nanti apabila pinceng panen labu, tentu selebihnya pinceng bagi-bagikan kepada orang tua kalian, sudahlah, main-main ke sana, jangan mengganggu pinceng sedang bekerja."

Seperti telah diatur sebelumnya, anak-anak itu segera berteriak-teriak,

"Hwesio pelit!"

"Hwesio medit, kikir!"

Hwesio itu diam saja, tidak ambil peduli dan bekerja lagi mencabuti rumput-rumput liar. Anak-anak itu makin berani, malah ada yang memaki-makinya.

"Kalau malam babi-babi hutan mengambil labu kau diam saja, tapi kalau kami yang minta tidak diberi. Dasar hwesio busuk!" terdengar suara seorang anak.

Hwesio itu kembali berdiri dan keningnya berkerut ketika ia memandang kumpulan anak- anak nakal itu. "Hemmm, karena mereka itu babi hutan termasuk golongan binatang maka mereka tidak mengenal aturan dan makan apa saja yang ada karena mereka lapar,

Akan tetapi kalian adalah anak manusia, mengerti aturan. Apakab kalian mau pinceng samakan dengan anak-anak babi hutan?"

"Ah.. hwesio pelit. Banyak alasan untuk menutupi kepelitannya!" anak-anak itu ribut- ribut lagi, mengejek dan memaki.

Sesabar-sabarnya orang, menghadapi ejekan dan makian anak-anak ini memang merupakan ujian berat dan jarang sekali ada orang mampu mempertahankan kesabarannya. Hwesio itu mulai membelalakkan kedua matanya. Akan tetapi ia masih ingat akan kesabaran, maka tanyanya,

"Anak-anak, kalian minta labu untuk apakah? Apakah kalian lapar dan hendak memakannya?"

"Aku mau yang bundar untuk main bola!"

"Aku yang panjang untuk bikin kereta!"

Hwesio itu menjadi marah. "Enak saja kalian bicara! Pinceng menanam sayur dan labu untuk bahan makan, bukan untuk main-main. Hayo kalian pergi, tidak boleh minta labu!"

Kembali anak-anak itu memaki-maki dan hwesio itu tidak mempedulikan lagi, malah melanjutkan pekerjaannya, sekarang ke ladang sayur-sayuran untuk memeriksa kalau- kalau sayur-sayurnya dihinggapi ulat. Kesempatan ini? dipergunakan oleh anak-anak nakal itu untuk menyerbu ladang dan mengambil labu yang besar-besar.

"Eh, anak-anak nakal, kalian tiada bedanya dengan babi hutan!" Hwesio itu melompat dan menampar anak-anak yang dekat dengannya. Anak-anak itu berteriak-teriak, ada yang menangis dan mereka berserabutan lari.

"Kalian perlu dihajar agar kelak tidak menjadi manusia-manusia berwatak babi hutan!" hwesio itu masih memaki sambil menempiling anak-anak yang terdekat.

Pada saat itu, sesosok bayangan berkelebat di belakangnya dibarengi bentakan suara anak-anak, "Hwesio gundul, berani kau memukuli teman-temanku?"

Hwesio itu kaget sekali akan tetapi ia tidak sempat membalikkan tubuhnya karena tiba- tiba bayangan yang ternyata adalah Sin Lee anak berusia sepuluh tahun itu sudah menampar kepalanya yang gundul. Biarpun hanya tamparan seorang anak kecil, namun karena, tamparan itu menggunakan gerakan ilmu silat dan tangan anak itu semenjak kecil sudah terlatih, hwesio ini menjadi pening dan terhuyung-huyung lalu roboh tertelungkup. Sin Lee berseru girang dan menindih tubuh hwesio yang tertelungkup di atas tanah itu dan memukulinya. Malah ia berteriak-teriak,

"Kawan-kawan, hayo kalian hajar hwesio ini!"

Anak-anak yang tadi lari berserabutan, sekarang dengan girang lalu datang dan dengan tangan-tangan kecil mereka anak-anak itu memukuli tubuh dan kepala hwesio tadi. Tentu saja hwesio yang bertubuh kuat dan memiliki kepandaian silat itu tidak merasakan pukulan anak-anak itu, akan tetapi pukulan yang jatuh oleh tangan Sin Lee benar-benar membuat ia luka-luka parah juga sehingga membuat ia pingsan.

"Omitohud... anak-anak, jangan nakal!" tiba-tiba terdengar bentakan halus dan seorang hwesio tua menggerakkan kedua lengan bajunya ke arah anak-anak yang memukuli hwesio tinggi besar tadi. Lima orang anak terlempar dan jatuh bergulingan. Mereka menangis, lalu semua orang anak itu berlari pergi. Hwesio tua itu terheran-heran melihat seorang anak kecil tidak bergeming oleh sambaran lengan bajunya tadi, malah sekarang sudah meloncat bangun dan berdiri tegak di depannya dengan mata bersinar-sinar marah.

"Hwesio tua! berani kau memukul teman-temanku? Tidak malukah kau? Aturan mana yang membolehkan orang tua seperti kau ini memukul anak-anak kecil?"

Diam-diam hwesio tua itu tertegun. Ucapan anak nakal berusia antara sepuluh tahun ini tidak patut keluar dari mulut seorang anak sekecil ini. Dan melihat keadaan muridnya yang pingsan itu sudah dapat diduga bahwa tentulah anak ini yang merobohkannya. Diam-diam ia heran dan kagum. Kalau anak sekecil ini dapat mengeluarkan kata-kata seperti itu, apalagi dapat merobohkan muridnya, sudah dapat dipastikan bahwa anak ini bukanlah anak sembarangan dan kalau bukan putera tentulah murid seorang pandai. Maka berhati-hatilah kakek itu dan sambil tersenyum sabar ia bertanya,

"Eh, anak yang baik, kalau kau bilang bahwa seorang kakek seperti pinceng memberi penghajaran kepada anak-anak nakal tidak menurut aturan, apakah kau dan teman- temanmu menyerang dan memukul seorang hwesio sampai pingsan ini juga termasuk aturan benar?"

"Tentu saja benar! Dia ini tidak mau memberi labu kepada anak-anak dan ketika anak- anak mengambil sendiri, dia pukul."

Kembali hwesio tua itu melengak. Memang amat tidak patut anak-anak kecil itu mengeroyok dan memukuli muridnya, akan tetapi lebih keterlaluan lagi kalau muridnya itu yang sudah menjadi hwesio, berurusan dengan anak-anak kecil saja tidak mampu menahan nafsu dan menggunakan tangan memukul ia menarik napas panjang memandang muridnya. Sebagai seorang ahli silat yang sudah matang kepandaiannya, ia mengerti bahwa biarpun mukanya matang biru dan kepalanya benjol-benjol, muridnya itu hanya terluka di luar saja dan tidak berbahaya.

"Sudahlah, kalau betul murid pinceng ini yang salah, pinceng yang memintakan maaf. Kau pergilah."

"Tidak bisa!" Sin Lee nembantah. "Kau pun tadi sudah menggunakan kepandaianmu memukul teman-temanku. Kau mengandalkan kegagahan sendiri, apa kaukira aku takut?"

Merah muka kakek itu. Anak ini benar-benar aneh dan liar silatnya.

"Hemm... hemmm .... kalau begitu kau mau apakah?"

"Aku harus balas memukulmu."

"Begitu? Kau benar-benar nekat. Nah, kau boleh coba pukul kalau bisa, anak bandel."

Sin Lee mengeluarkan pekik nyaring dan tubuhnya seperti seekor burung saja menerjang maju, kedua kepalannya yang kecil memukul bertubi-tubi dari kanan kiri, sukar diketahui yang mana yang betul-betul memukul dan sementara itu, kedua kakinya menendang- nendang.

" hwesio tua itu menyebut nama Buddha saking kagum dan heran serta kagetnya. Akan tetapi sekali mengibaskan ujung lengan bajunya saja tubuh Sin Lee terguling seperti tertiup angin puyuh. Sebentar Sin Lee nanar, tapi ia segera merangkak bangun dan kembali ia menyerang, malah lebih hebat daripada tadi. Akan tetapi kembali ia terguling, lebih hebat lagi. Beberapa kali ia bangun dan menyerang lagi, akan tetapi makin keras ia menyerang, makin keras pula ia roboh sehingga akhirnya ia menyerah. Ia maklum bahwa ia tidak mampu menandingi kakek tua itu, maka tanpa banyak cakap lagi ia bangun lagi setelah agak lama ia nanar, membalikkan tubuh dan pergi dari situ. "Omitohud ....

"Hee... anak yang aneh, kautunggu dulu, aku hendak bicara denganmu!" Hwesio tua itu mengejar.

Tiba-tiba Sin Lee membalikkan tubuh, sikapnya angkuh dan matanya berapi.

"Aku sudah kalah, kenapa kau banyak cerewet lagi?" Setelah berkata demikian ia mengeluarkan bunyi melengking keras. Pada saat itu juga dari udara terdengar bunyi lengking yang lebih nyaring lagi dan seekor burung menyambar turun seperti kilat menyambar. Sin Lee meloncat ke atas punggung burung itu yang segera terbang meninggi, meninggalkan kakek tua itu yang berdiri terlongong di bawah.

"Omitohud... apakah itu yang oleh orang-orang disebut kim-tiauw milik orang sakti yang dipanggil toanio dan anak itu, kiranya puteranya... benarkah di dunia ada hal seaneh dan sehebat ini...? Ia menarik nafas berulang-ulang dan diam-diam ia menguatirkan bahwa kelak di dunia kang-ouw pasti akan muncul seorang tokoh luar biasa, yaitu bocah tadi semoga ia tidak tersesat .... " demikian doanya.

Betapapun juga nakalnya, Sin Lee memiliki watak gagah yang jarang terdapat dalam diri anak kecil berusia sepuluh tahun, Contohnya, kekalahan terhadap hwesio tua itu sama sekali tidak ia beritahukan kepada ibunya. Ia tidak mendendam malah tidak ada dalam pikirannya sama sekali pada waktu itu untuk minta bantuan burungnya. Juga ia tidak mau minta ibunya supaya membalaskan kekalahannya.

Banyak sekali kenakalan dilakukan oleh Sin Lee, akan tetapi semenjak kekalahannya oleh kakek itu, ia mendapatkan pengalaman pahit sekali. Belum pernah ia mengalami kekalahan dalam perkelahian, maka semenjak ia kalah oleh kakek tua itu, ia makin tekun belajar ilmu silat dari ibunya. Tentu saja Kwa Hong yang tidak menyangka sesuatu, menjadi gembira sekali dan menurunkan seluruh kepandaiannya.

Watak keras yang dulu dimiliki Kwa Hong kiranya menurun pula kepada Sin Lee, malah lebih hebat lagi. Ketika ia berusia enam belas tahun, Sin Lee melakukan perbuatan yang amat merugikan dia sendiri dan ibunya. Sudah menjadi kebiasaan binatang peliharaan, sekali-kali tentu ingin bebas lepas tak terganggu. Demikian pula burung rajawali emas, biarpun kelihatan amat setia kepada Kwa Hong dan Sin Lee, namun adakalanya burung ini terbang pergi sampai beberapa hari tidak kembali. Mungkin burung ini terbang pergi mencari teman-temannya, atau mungkin juga mencari mangsa di tempat-tempat jauh. Ini hanya dugaan Kwa Hong dan Sin Lee saja. Padahal sebenarnya burung itu seringkali pergi ke tempat asalnya, yaitu di puncak sebuah gunung yang tak pernah didatangi manusia, tempat di mana ia tinggal sebelum ia bertemu dengan Kwa Hong dan kemudian dipeliharanya.

Pada suatu hari, seperti sudah sering kali tejadi, Sin Lee marah-marah karena rajawali itu tidak pulang. Sudah hampir sebulan rajawali itu tidak pulang dan telah payah Sin Lee mencari ke dalam hutan-hutan, bersuit-suit memanggil tanpa ada jawaban. Pemuda berusia enam belas tahun ini sampai tak enak makan tak enak tidur memikirkan burungnya. Dan ia menjadi marah bukan main ketika pada suatu pagi, burung itu datang.

"Keparat, kau benar-benar menggemaskan!" kata Sin Lee yang menyambut kedatangan burungnya. Tanpa banyak pikir lagi ia lalu... mencabuti bulu sayap burung itu. Bukan sekali-kali ia bermaksud untuk menyiksa, melainkan saking marahnya ia bermaksud untuk menghukum burung itu agar burung itu tidak mampu terbang lagi.

Burung adalah seekor binatang biasa, Kalau ia dibaiki tentu ia akan membalas kebaikan

itu dengan kesetiaan. Akan tetapi kalau ia disakiti, siapa pun yang melakukannya tentu akan dilawannya. Sekali dua kali bulunya dicabut ia diam saja hanya memekik-mekik, akan tetapi setelah Sin Lee terus saja mencabuti bulunya, ia menjadi marah dan menampar. Pemuda itu yang tidak menduga akan ditampar, terlempar tubuhnya.

"Setan, kau menantang berkelahi?” Bagi Sin Lee, siapa pun yang menantangnya berkelahi pasti akan ia layani. Kemarahannya memuncak ketika burung yang ia anggap bersalah dan hendak ia hukum itu malah menyerangnya. "Kita lihat siapa yang akan menang. Kalau aku kalah. aku tidak akan mencabuti bulumu, akan tetapi kalau kau yang kalah, tidak hanya sayapmu, malah ekormu akan kucabut habis untuk hukumanmu."

Kemudian ia menerjang maju, menyerang burungnya.

Sudah menjadi kebiasaan Kwa Hong di waktu Sin Lee masih kecil untuk melatih anaknya itu bertempur melawan rajawali akan tetapi dalam latihan ini rajawali emas tidak

bertempur sungguh-sungguh. Betapapun juga, makin besar anak itu, makin hebat kepandaiannya dan akhirnya dalam setiap latihan, akhirnya burung itulah yang kalah. Sin Lee pun tidak mau menyakitinya, apalagi membunuhnya, cukup ia dianggap menang kalau ia dapat menangkap leher burung dalam kempitannya membuat burung itu tak mampu bergerak lagi.

Akan tetapi sekarang keduanya berhadapan sebagai lawan yang sungguh-sungguh hendak bertempur, Sin Lee dalam kemarahannya hendak menghukum burung yang dianggapnya jahat itu, sebaliknya burung itu dengan nalurinya merasa bahwa pemuda ini hendak berbuat jahat kepadanya, hendak menyakitinya, maka ia pun tidak mau main-main lagi. Melihat penyerangan hebat dari Sin Lee, burung rajawali emas itu pun cepat mengelak dan mengibaskan sayapnya. Biarpun burung itu sudah termasuk berusia tua, namun tenaganya tidak berkurang semenjak dahulu. Kibasan sayapnya memiliki tenaga ratusan kati. Sin Lee yang melihat tamparan sayap ini pun maklum bahwa burungnya tidak main- main, maka ia menjadi makin marah, cepat tubuhnya berkelebat mengelak dan dengan keras ia memukul kepala binatang itu.

Gerakan rajawali emas tetap gesit, serangan itu dapat ia elakkan pula dan dibalasnya dengan tendangannya yang biasanya hebat sekali. Namun Sin Lee yang sudah hafal akan semua gerakan burungnya, dapat menghindar. Terjadilah pertandingan yang bukan main serunya. Tubuh burung dan manusia itu berkelebatan sampai tidak kelihatan lagi, hanya tampak gulungan sinar kuning emas dan bayangan-bayangan yang menjadi satu. Debu mengebul tinggi dan daun-daun pohon di dekat tempat pertandingan itu bergerak-gerak seperti tertiup angin, malah daun-daun yang sudah menguning pada rontok berhamburan.

Sejam lebih mereka bertempur akhirnya burung itu harus mengakui keunggulan Sin Lee. Dua kali dadanya terkena pukulan dan segenggam bulunya di leher telah copot oleh cengkeraman pemuda itu. Sambil mengeluarkan keluhan panjang burung itu lalu terbang pergi. Ia tidak mau turun kembali, biarpun dipanggil dan dimaki-maki oleh Sin Lee, Kwa Hong menyesal bukan main setelah mendengar tentang pertempuran ini dan mendapat kenyataan bahwa sekali ini burung rajawali itu benar-benar tidak mau pulang ke Lu- liang-san. Akan tetapi Sin Lee tidak pernah memperlihatkan rasa sesalnya.

"Kalau dia tidak mau lagi ikut kita, mengapa kita harus menyesal? Biarlah dia tidak kembali lagi, tidak apa."

"Lee-ji, kenapa kau berkata begini? Burung itu sudah belasan tahun ikut dengan aku, aku sayang padanya dan... ah, bukankah kalau ada dia mudah sekali kita hendak pergi ke mana-mana? Dia adalah seekor binatang tunggangan yang jarang ada keduanya di dunia ini."

"Aku masih memiliki kedua kakiku, kalau tidak ada dia, aku dapat pergi ke mana saja dengan jalan kaki. Ibu, bukankah ibu seringkali mengatakan bahwa hidup di dunia ini terutama sekali harus mengandalkan diri sendiri dan tidak boleh bersandar kepada orang lain?"

Kwa Hong telalu menyayang puteranya maka ia pun tidak tega untuk memarahinya. Diam-diam ia girang karena anaknya ini ternyata mendapatkan kemajuan pesat sehingga burung rajawali emas yang tidak mudah dikalahka, orang itu akhirnya kalah juga menghadapi puteranya. Maka ia lalu lebih tekun menggembleng Sin Lee sehingga akhirnya dia sendiri dengan pedang di tangan kanan dan cambuk anak panah di tangan kiri tidak mampu menandingi pedang puteranya, lebih dari lima puluh jurus.

Usia Sin Lee sudah delapan belas tahun ketika Kwa Hong membuka rahasia hatinya yang terpendam selama belasan tahun ini. "Lee-ji puteraku sayang, kau sekarang sudah mewarisi semua kepandaian ibumu, dan kau sudah terlalu besar untuk tinggal terus di puncak gunung ini. Sudah tiba waktunya kau harus turun gunung memperluas pengetahuan dan... mencari jodoh."

"Aku tidak inginkan jodoh!" Sin Lee memotong cepat dengan kedua pipinya kemerahan. Ibunya memandang penuh kasih dengan mata berseri-seri dan tersenyum. Alangkah tampan puteranya, melampaui Beng San. Teringat Beng San, jantungnya berdebaran dan terbayanglah semua peristiwa yang lalu dan perasaannya menjadi panas.

"Dengar, puteraku, Kau dulu sering kali menanyakan ayahmu dan kujawab bahwa ayahmu telah mati. Itu memang benar, akan tetapi baru sekarang hendak kuceritakan kepadamu sebab kematian ayahmu."

Sin Lee segera memandang ibunya dan mendengarkan penuh perhatian. Sejak kecil ia merasa berduka dan kecewa sekali mendengar bahwa ayahnya telah mati.

"Apakah sebab kematian ayahku, Ibu?" tanyanya mendesak, Kwa Hong menarik napas panjang berulang-ulang, agaknya berat ia hendak mengeluarkan kata-kata. Akhirnya ia bicara dengan suara serak, "Anakku..., ayahmu she Tan jadi namamu Tan Sin Lee. Adapun kematian ayahmu tidak sewajarnya, melainkan dibunuh orang."

Tldak ada reaksi apa-apa pada pemuda itu. Memang Sin Lee aneh orangnya. Ia tidak bisa menaruh hati dendam karena selama ia hidup di gunung itu ia tidak pernah menghadapi sesuatu dan segala peristiwa yang menimpa siapapun juga ia anggap sudah sewajarnya, pasti ada sebab menjadikan peristiwa itu, Umpamanya ketika ia kalah oleh hwesio tua, ia anggap hal itu terjadi karena ia memang kalah pandai dan habis perkara. Ia tidak menaruh dendam. Sekarang, mendengar ayahnya mati dibunuh orang, otomatis ia menganggap bahwa ayahnya dibunuh karena kalah dalam pertempuran, jadi menurut pendapatnya, ayahnya yang bersalah mengapa sampai kalah.

"Banyak orang yang membunuh ayahmu. Pertama-tama adalah seorang laki-laki bernama... Tan Beng San!" ia berhenti sebentar, dan menahan air matanya, memandang puteranya.

Sin Lee kelihatan mengerutkan keningnya terheran, "Dia pun she Tan, Ibu? Bukankah orang yang sama shenya itu berarti masih keluarga?"

"Tidak... tidak... banyak orang she nya sama tapi bukan apa-apa," jawab Kwa Hong cepat.

"Hemmm, lalu siapa lagi, Ibu?"

"Orang ke dua adalah seorang wanita bernama Cia Li Cu, isteri dari Tan Beng San itu."

Ia memang sudah mendengar bahwa Beng San telah menikah dengan Li Cu, maka ia menyebut nama wanita yang dibencinya karena iri hati dan cemburu ini.

"Adapun orang ke tiga... dia adalah Song-bun-kwi Kwee Lun. Nah, tiga orang itulah yang telah membunuh ayahmu dan yang membuat ibumu hidup menderita. Kau harus mencari mereka, kaubunuhlah Cia Li Cu dan Song-bun-kwi. Kwee Lun, tapi... kau jangan bunuh Tan Beng San, kautangkap saja dan kauseret dia ke sini!"

Sin Lee memandang ibunya dengan mata membelalaki, "Kenapa, Ibu? Kenapa aku harus membunuh mereka? Mereka tidak mempunyai urusan apa-apa denganku."

Kwa Hong balas memandang dengan marah. "Apa? Kau tidak mau mewakili ibumu membalas sakit hati? Percuma sajakah aku mempunyai seorang anak laki-laki seperti kau, hidup menderita untukmu dan menurunkan semua kepandaianku untukmu?"

Sin Lee cepat-cepat memeluk ibunya yang telah menangis. "Sudahlah, Ibu. Sama sekali bukan begitu maksudku. Aku hanya menyatakan isi hatiku bahwa aku tidak mempunyai permusuhan dengan mereka. Aten tetapi kalau Ibu memerintah anakmu ini, biarpun harus melawan naga berapi akan kujalani. Terangkanlah maksud Ibu bagaimana, anak akan segera melaksanakan semua kehendakmu."

Dengan terharu dan girang Kwa Hong memeluk puteranya, lalu berkata dengan sungguh- sungguh,

"Tugas yang kuserahkan kepadamu ini bukanlah tugas ringan, Anakku. Tiga orang yang kusebut-sebut tadi adalah orang-orang yang memiliki kepandaian luar biasa tingginya. Song-bun-kwi Kwee Lun adalah seorang kakek sakti yang kepandaiannya dahsyat, terkenal dengan ilmu pedangnya Yang-sin Kiam-sut dan suling tangisnya yang dapat melumpuhkan semangat lawan. Dahulu, Song-bun-kwi Kwee Lun ini adalah tokoh nomor satu dari barat. Nah, kau harus cari orang ini di puncak Min-san, bunuhlah dia karena dia telah menjadi sebab rusaknya kehidupan ibumu." sambil berkata demikian, dengan gemas Kwa Hong mengenangkan Bi Goat yang dianggap telah merampas cinta kasih Beng San. Sekarang Bi Goat sudah meninggal dunia, maka ia anggap sudah semestinya kalau ia menyuruh puteranya membunuh kakek itu. Padahal ia mempunyai maksud lain dengan perintah ini. Ia tahu bahwa putera Bi Goat diarnbil oleh Song-bun- kwi maka mencari kakek itu berarti mencari putera Bi Goat dan Beng San.

"Kalau kau sudah bertemu dengan kakek itu, selain dia kau harus pula membinasakan

seorang pemuda sebaya engkau yang menjadi cucunya atau putera seorang wanita bernama Bi Goat."

Sin Lee mengerutkan keningnya, di dalam hatinya sebetulnya ia tidak setuju dengan tugas membunuh-bunuhi orang yang sama sekali tak dikenalnya itu. Akan tetapi ia tidak mau mengecewakan hati ibunya, orang yang amat dikasihinya itu.

"Hemmm, jadi kakek itu tinggal di Min-san, Ibu? Lalu yang lain-lain itu tinggal di mana?"

"Orang yang harus kaubunuh lagi adalah Cia Li Cu. Kau harus berhati-hati kalau berhadapan dengan dia ini. Dia adalah murid mendiang Raja Pedang. Ilmu pedangnya hebat sekali. Dia tinggal di Thai-san bersama... orang ke tiga itu, yang bernama Tan Beng San."

"Jadi Cia Li Cu itu isteri dari Tan Beng San?" tanya Sin Lee.

eh, hem... betul. Cia Li Cu harus kaubunuh. Kemudian kauseret Tan Beng San itu ke sini, kauhadapkan padaku. " ....

Ingat betul, jangan kaubunuh dia itu, boleh kaulukai kalau dia melawan, akan tetapi jangan sekali-kali kaubunuh. Aku yang hendak membunuhnya, dengan kedua tanganku sendiri." Melihat pandang mata dan gerakan tangan ibunya, diam-diam Sin Lee terkejut sekali.

"Ibu, kenapa kau amat membenci Tan Beng San ini?"

Sampai lama Kwa Hong tak dapat menjawab dan mata yang tadinya bersinar ganas dan

liar itu perlahan-lahart melunak dan air matanya hampir menitik turun. Cepat-cepat ia mengusap kedua matanya dan berkata perlahan, "Dia itulah yang menghancurkan hidupku, memaksa ibumu ini hidup menyendiri di puncak gunung ini. Kau harus berhasil menangkap dia, tak peduli apa pun yang terjadi. Dia harus kau tangkap, kau seret ke sini, Anakku .... "

Suaranya ibunya yang penuh permohonan ini membanjirkan perasaan haru dan kasihan dalam dada Sin Lee. Diam-diam ia mengambil keputusan untuk memenuhi permintaan ibunya ini, apapun yang akan terjadi dengan dirinya.

"Ibu, agaknya aku akan berhasil menangkapnya dan menyeretnya ke depan kakimu. Tapi... dia itu orang macam apakah?"

Kwa Hong menarik napas panjang. "Kau tidak boleh memandang rendah Song-bun-kwi Kwee Lun, kau harus berhati-hati terhadap Cia Li Cu. Akan tetapi menghadapi orang ini, Anakku... aku benar-benar sangsi apakah kau akan dapat melawannya. Dia itulah sesungguhnya Raja Pedang, ilmu pedang dan ilmu silatnya luar biasa sekali, belum pernah aku melihat dia dikalahkan orang. Dia hebat... dia hebat .... " Kwa Hong merenung,

wajahnya agak berseri, bangkit kembali cinta kasihnya kalau ia merenungkan bekas kekasihnya itu.

"Dia laki-laki hebat .... " kembali ia berkata dan kali ini dengan keluhan.

Panas hati Sin Lee mendengar ini. Biasanya ibunya hanya menganggap bahwa dialah orang yang paling pandai di dunia ini, sekarang ibunya memuji seorang musuh! "Ibu, aku bersumpah akan menyeret Tan Beng San itu ke depan kakimu. Kalau belum terjadi hal ini, aku bersumpah takkan kembali ke sini." Sin Lee cepat berkemas, membawa pedang pusaka pemberian ibunya, membuntal pakaian dan membawa beberapa potong emas, lalu turun gunung. Kwa Hong mengantar puteranya sampai di lereng gunung dan membekalinya banyak nasihat dan memesannya agar berhati-hati.

Kun Hong dibawa terbang jauh sekali oleh rajawali emas, Burung ajaib ini semenjak meninggalkan Lu-liang-san tidak mau kembali lagi dan selama itu ia terbang dan tinggal di tempatnya yang lama, yaitu di puncak sebuah bukit yang tak pernah didatangi manusia. Kadang-kadang ia meninggalkan tempatnya ini dan tidak seperti dulu ketika masih dipelihara oleh Kwa Hong, sekarang ia bebas lepas dan pergi ke mana saja ia suka. Kebetulan sekali ia bertemu dengan Kun Hong. Binatang ini memang amat mengenal budi orang. Sekali saja orang melepas budi kepadanya, ia tentu akan membalasnya dengan penuh kesetiaan. Akan tetapi sebaliknya, kalau ia disakiti, ia pun akan membenci yang menyakitinya.

Tanpa disengaja Kun Hong telah memberi katak putih yang segera dikenal oleh burung ajaib ini dan ditelan, maka selamatlah ia dari racun hebat yang melukai kakinya. Pertolongan ini membuat ia amat suka dan setia kepada Kun Hong dan sekarang ia hendak membawa pemuda itu terbang ke tempat tinggalnya, di puncak sebuah bukit yang di jaman dahulu dikenal sebagai Bukit Kepala Naga. Puncak ini disebut Kepala Naga karena bentuknya dilihat dari barat memang menyerupai bentuk kepala naga.

Kun Hong tidak tahu ke mana ia akan dibawa oleh burung itu. Anehnya, pada waktu tengah hari dan malam, burung itu selalu berhenti di sebuah hutan dan tanpa diminta lagi lalu mencarikan buah-buahan yang segar dan enak untuk pemuda itu. Tentu saja Kun Hong girang sekali mendapatkan kawan yang baik, apalagi selamanya ia tidak pernah turun gunung, sekarang begitu turun gunung ia mengalami hal-hal yang amat aneh. Biarpun ayahnya adalah Kwa Tin Siong dan juga menjadi ayah Kwa Hong, namun Kun Hong belum pernah diceritakah tentang kakak perempuannya lain ibu itu, maka ia pun tidak pernah mendengar tentang adanya rajawali emas. Para tosu Hoa-san-pai yang sudah dipesan keras oleh Kwa Tin Siong, tidak ada yang pernah bercerita tentang peristiwa yang mencemarkan nama baik Ketua Hoa-san-pai itu. Andaikata ia pernah mendengar tentang Kwa Hong yang datang menyerbu Hoa-san-pai naik rajawali emas, kiranya pemuda ini akan dapat mengenal burung itu.

Setelah lewat lima hari, sampailah burung rajawali emas itu ke puncak gunung Kepala Naga. Ia menukik ke bawah dan Kun Hong merangkul leher burung, mencengkeram kalung mutiara itu sambil meramkan matanya. Ia merasa ngeri sekali melihat betapa dia

dan burung itu meluncur turun, seakan-akan hendak tertumbuk kepada jurang-jurang dan batu-batu yang menanti di bawah, jurang-jurang menganga seperti mulut harimau dan batu-batu meruncing seperti ujung pedang dan golok.

Setelah burung itu hinggap di atas tanah barulah ia berani membuka kedua matanya. Alangkah herannya ketika ia melihat bahwa burung rajawali itu telah berdiri di depan sebuah gua yang bentuknya seperti mulut naga. Gua batu itu amat lebar dan dalam, letaknya di depan jurang yang sangat terjal sehingga kalau bukan burung yang pandai terbang, manusia biasa kiranya tak mungkin dapat mendatangi tempat ini. Pemandangan alam dari tempat itu, dari depan gua, amat indahnya, seakan-akan dunia terletak di bawah kaki gua, Kun Hong segera melompat turun dari punggung rajawali. Ia mendekati gua, akan tetapi tidak berani masuk karena ia merasa seakan-akan ia berdiri di depan tempat tinggal seseorang sehingga ia tidak berani masuk begitu saja tanpa perkenan si pemilik tempat tinggal. Akan tetapi tiba-tiba burung itu mengeluarkan bunyi perlahan dan dari belakangnya burung itu mendorong punggungnya perlahan-lahan, seakan-akan hendak menyuruh pemuda itu memasuki gua.

Karena kemudian dapat menduga bahwa tak mungkin di dalam gua yang letaknya demikian sukar dapat didiami, manusia Kun Hong lalu memasukinya. Ia terheran-heran melihat bahwa di dalam gua itu terbagi menjadi tiga, yaitu bagian depan dan di sebelah dalam terdapat dua buah ruangan tertutup. Pintunya juga merupakan pintu batu akan tetapi bentuknya jelas adalah buatan manusia.

Dengan hati berdebar-debar ia mendorong pintu batu di sebelah kiri. Akan tetapi betapapun ia mengerahkan tenaga, pintu batu itu bergerak sedikit pun tidak. Tiba-tiba terdengar burung itu bersuara di belakangnya, kemudian dengan sayap kanannya burung itu mendorong perlahan dan... pintu batu itu terbuka.

"Tiauw-ko, kau benar-benar kuat sekali!" Kun Hong memuji dan makin berdebar hatinya ketika ia melangkah masuk.

"Locianpwe (sebutan untuk orang tua pandai) atau arwahnya yang mulia, harap sudi mengampuni kelancanganku ini." katanya dengan bisikan perlahan dan mulailah ia merasa serem karena di dalam kamar batu ini ia melihat sebuah meja sembahyang. Tempat lilin yang amat kuno terletak di kanan kiri ujung meja dan di atas dua tempat lilin ini masih tertancap dua batang lliin merah. Lilin-lilin itu tidak menyala, akan tetapi lilin yang meleleh bekas terbakar masih kelihatan seakan-akan baru saja dipadamkan. Ketika Kun Hong mendekati, tampak nyata olehnya bahwa lilin sudah lama sekali tidak dinyalakan orang, buktinya di atasnya terdapat banyak sarang laba-laba. Di tengah-tengah meja kelihatan sebuah kitab yang tebal dan sudah tua sekali. Melihat sebuah kitab kuno, bukan main girangnya hati Kun Hong. Ingin segera menyambar kitab itu untuk dibacanya, akan tetapi karena semenjak kecil ia dijejali pelajaran dan tata-susila, ia tidak berani melakukan hal itu.

Karena keinginannya melihat buku itu amat keras, ia segera menjatuhkan dirinya berlutut di depan meja sembahyang lalu berkata keras-keras,

"Locianpwe pemilik kitab di atas meja, harap sudi memberi perkenan kepada teecu untuk mengambilnya dan membaca isinya." Berkali-kali ia mengucapkan kata-kata ini sambil membentur-benturkan jidatnya kepada lantai untuk memberi hormat kepada pemilik kitab yang tidak diketahuinya siapa dan yang ia tidak tahu masih hidup ataukah sudah mati itu.

Ketika ia berlutut dan mengangguk-anggukkan kepalanya di atas lantai depan meja sembahyang itu, matanya melihat ukiran-ukiran huruf kecil-kecil di bawah meja. Ukiran huruf-huruf itu demikian kecilnya sehingga kalau orang tidak mengangguk-anggukkan kepala sampai jidatnya menyentuh lantai kiranya takkan dapat melihatnya. Tidak akan ada huruf-huruf yang terlewat begitu saja oleh sepasang mata Kun Hong yang selalu haus akan bacaan, apalagi kalau huruf-huruf itu berada di tempat yang begitu aneh dan goresan huruf-huruf itu amat indahnya. Ia segera membacanya,

Dapat masuk berarti jodoh. Dapat membaca berarti tahu sopan dan murid yang baik. Untuk ambil kitab singkirkan anak-anak panah di bawah meja. Setelab hafal kitab baru ambil pedang di kamar samadhi

Beberapa kali Kun Hong membaca tulisan kecil-kecil itu dan ia merasa seakan-akan surat itu ditujukan kepadanya. Setelah jelas akan pesan dalam surat berukir yang aneh itu, ia lalu melongok ke bawah meja dan betul saja, di bawah meja itu tersembunyi tiga batang anak panah yang dipasangi per sehingga kalau ada orang mengambil kitab di atas meja itu, per akan menggerakkan tiga batang anak panah tadi yang tentu akan tertendang dan menyerang orang yang berdiri di depan meja. Karena anak-anak panah itu akan menyerang dari bawah meja, kiranya tak mungkin orang akan dapat menghindarkan penyerangan gelap yang amat dekat ini. Kun Hong bergidik dan cepat-cepat ia mengulur tangan mengambil tiga batang anak panah itu. Tercium bau yang harum dan di ujung tiga batang anak panah itu berwarna hijau. Pemuda ini dapat menduga bahwa ujung anak panah itu tentu diberi racun yang amat berbahaya. Dengan jijik ia lalu menaruh tiga batang anak panah itu di atas meja, lalu ia memberi hormat lagi sambil berkata,

"Terima kasih atas kepercayaan dan petunjuk Locianpwe."

Ia lalu mengulur tangan mengambil kitab kuno itu dari tengah meja dan pada saat itu terdengarlah jepretan per di bawah meja. Biarpun sudah dapat menduga akan hal ini dan sudah yakin bahwa anak panah itu telah ia singkirkan, namun kaget jugalah Kun Hong mendengar jepretan ini. Dilihatnya bahwa di bawah kitab tadilah yang menghubungkan per-per itu sehingga apabila kitab diambil per-per itu bekerja di bawah meja. Ah, kalau tadi ia berlaku lancang dan terus saja mengambil kitab itu sudah dapat dipastikan bahwa berbareng pada saat terdengar suara menjepret, ia akan roboh telentang dengan tiga anak panah tertancap di perutnya. Dengan kitab di tangan, Kun Hong cepat-cepat memberi hormat lalu keluar dari kamar itu. Ternyata setibanya di ruangan depan, rajawali emas telah menantinya dan burung ini telah memperoleh banyak sekali buah-buahan, malah di antaranya terdapat seekor kelinci yang sudah mati.

"Aduh, kau mendapatkan kelinci gemuk? Sayang, Tiauw-ko, bagaimana kita akan dapat memakannya?"

Burung itu lalu mendorong Kun Hong ke pojok ruangan di mana terdapat sebuah batu

halus rata berbentuk meja. Di situ bertumpuk rumput-rumput kering dan dengan paruhnya burung luar biasa ini mengambil sedikit rumput kering, di taruhnya di atas meja. Kemudian ia menggerakkan kepalanya, paruhnya runcing dan keras seperti baja itu memukul pinggir meja dan... bunga api berpijar. Kun Hong girang sekali dan pemuda yang cerdik ini segera dapat menangkap maksud si burung. Ia cepat mengambil rumput kering lagi dan menaruh dekat pinggiran meja. Beberapa kali burung itu memukul batu itu dengan paruhnya dan akhirnya bunga api menyentuh rumput kering dan terbakarlah rumput itu. Dengan cara demikian Kun Hong dapat membuat api unggun dan dapat memanggang daging kelinci.

Setelah makan kenyang, pemuda itu mulai membuka-buka lembaran kitab kuno tadi. Pada lembar pertama terdapat tulisan dengan huruf-huruf besar yang berbunyi: SALINAN IM YANG BU TEK CIN KENG.

Karena ia tidak tahu apa itu artinya Im-yang Bu-tek Cin-keng. Kun Hong membuka lembaran ke dua dan segera ia amat tertarik membaca tulisan yang bersifat keluhan dan penjelasan. Tulisan itu berbunyi demikian,

"Telah bertumpuk dosaku. Ratusan orang telah kubunuh dengan anggapan bahwa perbuatan itu baik karena yang kubunuh adalah orang-orang yang kuanggap jahat, Anggapan yang sesat. Aku tidak bisa memberi kehidupan bagaimana aku berhak mengakhiri kehidupan? Aku berdosa. Mengandalkan kepandaian untuk membunuh sesama manusia, betapapun jahat si manusia itu, bukanlah perbuatan baik, melainkan perbuatan jahat pula."

Sampai di sini Kun Hong menarik napas panjang lalu mengangguk-angguk. Betul sekali Locianpwe ini, soal mati dan hidup manusia bukanlah urusan manusia, melainkan Yang Maha Kuasa. Membunuh orang lain, bukankah melancangi dan mendahului Tuhan itu namanya? Sayang, agaknya Locianpwe ini baru sadar setelah melakukan pembunuhan ratusan kali. Ia membaca terus tulisan yang merupakan permulaan isi kitab itu.

"Im-yang Bu-tek Cin-keng adalah kitab yang mengandung pelajaran ilmu silat sakti, tiada keduanya di dunia ini. Orang macam aku mana dapat menyalinnya? Pengertianku terbatas dan salinanku tentu banyak menyeleweng. Karena itu aku hanya menyalin apa yang kuketahui saja dan kucampur dengan gerakan-gerakan burungku rajawali emas. Karena itu maka ilmu dalam kitab ini kuberi nama Kim-tiauw-kun (Ilmu Silat Rajawali Emas). Muridku yang membaca kitab ini harus bersumpah dalam hatinya bahwa ke satu dia tidak boleh membunuh sesama manusia dengan alasan apapun juga. Ke dua dia tidak boleh mempergunakan ilmu ini untuk menyerang orang. Ke tiga ilmu Kim-tiauw-kun ini hanya untuk membela diri dari serangan orang, dan hanya terbatas untuk mengalahkan lawan saja"

Kun Hong makin tertarik. "Bagus", pikirnya. "Inilah ilmu yang baik sekali. Aku sendiri paling benci melihat pembunuhan antara sesama manusia. Kalau aku dapat mempelajari ilmu ini, kiranya aku akan mampu mencegah orang-orang berkepandaian main hakim sendiri membunuhi orang sesuka hati. Kalau ada orang jahat, gunakan kepandaian untuk mengalahkannya dan menangkapnya untuk diserahkan kepada yang berwajib agar dijatuhi hukuman. Bagus sekali! Locianpwe, teecu bersumpah akan memenuhi semua syarat itu."

Semenjak saat itu, dengan tekun Kun Hong membaca kitab yang berisi pelajaran ilmu silat sakti itu. Sama sekali ia tidak pernah menduga bahwa secara tak sengaja atau sadar ia telah mewarisi ilmu silat yang bukan main hebatnya, yang hanya setaraf dengan Im- yang Sin-hoat karena dari satu sumber. Ia tidak tahu pula siapa gurunya, siapa penulis kitab itu yang hanya menandai dengan tiga buah huruf berbunyi Bu Beng Cu yang artinya TIADA NAMA.

Di samping membaca kitab Kim-tiauw-kun ini, tidak lupa Kun Hong yang dengan girang mendapat kenyataan bahwa tiga buah kitab milik Yok-mo masih berada di saku jubahnya, membaca pula tiga buah kitab pengobatan itu. Pengetahuannya tentang perjalanan darah yang secara lengkap tertulis di dalam kitab Yok-mo, memperlancar pengertiannya terrhadap isi kitab Kim-tiauw-kun.

Kun Hong memang memiliki kecerdasan luar biasa. Dalam waktu setahun lebih saja ia sudah mampu membaca habis empat buah kitab itu, tidak hanya membaca habis, malah sudah dapat menghafalnya di luar kepala. Tentu saja, ilmu silat tidak dapat disamakan dengan ilmu pengobatan yang cukup dihafal, melainkan harus dilatih dalam praktek. Karena di dalam kitab Kim-tiauw-kun itu terdapat peringatan bahwa si murid harus betul- betul menyempurnakan latihan gerakan kaki, maka Kun Hong juga melatih dirinya dalam pergerakan ini, dalam langkah-langkah ajaib yang kadang-kadang membuat kepalanya pening dan mau muntah-muntah. Baiknya kalau ia sedang bergerak seperti itu, burung rajawali tentu dengan mengeluarkan suara girang mendekatinya dan bergerak-gerak persis seperti langkah-langkah dalam pelajaran itu, sengaja memberi contoh kepadanya. Bukan main girangnya hati Kun Hong dan mulai saat itu ia selalu berlatih bersama burung rajawali emas. Orang yang menamakan dirinya Bu Beng Cu dan yang menyalin ilmu silat itu, sebenarnya adalah seorang sakti yang menyembunyikan dirinya di tempat ini karena merasa menyesal sekali akan pembunuhan-pembunuhan terhadap orang-orang jahat yang banyak ia lakukan. Bu Beng Cu ini telah mewarisi sebagian dari ilmu silat yang terdapat dalam kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng. Setelah tua dan menyesali perbuatannya, Bu Beng Cu membawa burung peliharaannya ke puncak Gunung Kepala Naga ini, menyembunyikan diri dan menuliskan sari dan pokok dari semua ilmu yang ia punyai. Kemudian ia meninggal dunia di tempat itu, hanya ditemani burungnya yang setia.

Tentu saja setelah majikannya meninggal, burung itu merasa kesepian dan akhirnya ia terbang dari tempat itu sampai ia berjumpa dengan Kwa Hong dan dipelihara oleh Kwa Hong. Betapapun juga, burung ini mempunyai perasaan atau naluri ,yang tajam. Agaknya

ia maklum bahwa Kwa Hong dan kemudian puteranya Sin Lee, bukanlah orang yang memiliki budi luhur maka tidak ia bawa mengunjungi gua di puncak Gunung Kepala Naga itu. Baru setelah ia bertemu dengan Kun Hong, segera perasaan atau nalurinya menyatakan kepadanya bahwa pemuda inilah yang paling tepat untuk dihadapkan kepada peninggalan majikan tuanya.

Waktu setengah tahun bukanlah waktu lama untuk orang yang belajar. Akan tetapi, satu setengah tahun di dalam gua di puncak gunung yang tak pernah dikunjungi manusia, benar-benar membuat Kun Hong berubah menjadi manusia lain. Tidak saja dalam ilmu langkah ajaib itu ia sudah hafal benar sehingga dalam latihan-latihannya, burung rajawali itu betapapun menyerangnya dengan hebat tak pernah dapat menyentuh ujung bajunya, akan tetapi juga dalam pengertiannya tentang pengobatan, membuat ia seakan-akan terbuka mata batinnya akan diri manusia. Dari pelajaran ini ia seakan-akan lebih mengenal dirinya sendiri, lebih mengenal manusia pada umumnya, tidak hanya lahiriah, akan tetapi mendalam sampai ke jalan darahnya, sampai kepada alat-alat terkecil dalam tubuh. Semua pengertian baru ini ia gabungkan dengan pelajaran yang banyak ia dapatkan dahulu tentang kebatinan, tentang kehidupan, sehingga pemuda yang baru berusia dua puluh tahun ini sekarang memiliki pandangan yang amat tajam tentang diri manusia.

Setelah ia hafal benar akan isi kitab Kim-tiauw-kun, barulah Kun Hong berani menghampiri pintu kamar ke dua di dalam gua itu. Seperti pintu pertama, pintu ke dua ini pun terbuat dari batu yang tebal dan berat. Akan tetapi, alangkah jauh bedanya dengan satu setengah tahun yang lalu, dengan sekali dorong saja Kun Hong dapat membuka daun pintu yang tebal itu. Sama sekali ia tidak menjadi girang atau bangga dengan hal ini, karena sesungguhnya ia sudah tidak ingat lagi betapa dahulu tanpa bantuan rajawali emas, tak mungkin ia dapat membuka pintu ini. Semua ini adalah hasil dari latihannya dalam samadhi dan pernapasan, sesuai dengan petunjuk dalam kitab Kim-tiauw-kun itu. Tenaga dalamnya telah bangkit dan bergerak tanpa ia sadari. Hawa sakti dalam tubuh telah ada dalam diri tiap manusia, hanya saja hawa ini seakan-akan tertidur karena semenjak kecil sampai mati tua, sebagian besar manusia di dunia ini kerjanya hanya mengumbar hawa nafsunya belaka.

Kun Hong yang sudah mengangkat sebelah kaki untuk melangkah memasuki kamar ke

dua itu, tiba-tiba menahan kakinya karena mendengar burung rajawali yang berdiri di belakangnya mengeluarkan suara aneh sekali. Seakan-akan burung itu bersusah hati dan menangis. Ketika ia menengok ke belakang, burung itu menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali lalu mencoba untuk menggigit baju Kun Hong dan menariknya mundur.

"Jangan Tiauw-ko. Bagaimanapun juga aku harus memasuki kamar ini, sesuai dengan petunjuk Locianpwe bahwalah aku hafal akan isi kitab, aku boleh masuk dan mengambil pedang. Bukan sekali-kali karena aku ingin sekali memiliki pedang, ah, bukan, Tiauw-ko. Bagiku, sebatang pedang apa artinya? Untuk apa pula? Hanya karena Locianpwe sudah memesan, mana aku berani membangkang?"

Setelah berkata demikian dan menghindarkan diri dari gigitan patuk burung itu, dengan

tabah Kun Hong melangkah memasuki kamar yang agak gelap itu. Begitu masuk ia tertegun dan memandang dengan mata terbelalak ke depan. Di ujung kamar itu terdapat sebuah kursi batu dan di atas kursi batu ini duduk sebuah... kerangka manusia. Tengkorak manusia ini masih utuh dan sepasang lubang bekas mata itu seakan-akan sedang memandang kepadanya. Tangan kanan kerangka ini mencengkeram sebatang pedang yang bersinar kemerahan.

Dari kaget Kun Hong berbalik menjadi terharu. Inikah kiranya Bu Beng Cu, gurunya yang meninggalkan kitab itu? Tanpa ragu-ragu lagi Kun Hong melangkah maju lagi dan menjatuhkan dirinya berlutut di depan kerangka itu.

"Locianpwe, alangkah buruknya nasibmu, sampai meninggal pun tidak ada yang menguburmu .... "

Ia terpaksa menghentikan kata-katanya karena tiba-tiba lantai yang diinjaknya bergoyang-goyang keras. Cepat ia meloncat bangun dan tiba-tiba dari sebelah kanannya menyambar anak panah. Kun Hong cepat menggeser kakinya, menarik tubuh untuk menghindarkan diri dari ancaman maut itu. Akan tetapi terdengar lagi suara "ser-ser-ser!" dan banyak anak panah menyambarnya dari empat jurusan, sementara itu lantai masih bergoyang-goyang.

Kun Hong maklum bahwa keadaannya berbahaya sekali. Ia memusatkan pikiran dan kedua kakinya cepat bergerak-gerak dalam langkah ajaib, tubuhnya bergerak-gerak dalam Ilmu Silat Kim-tiauw-kun. Sedikitnya ada lima puluh batang anak panah yang terus- menerus menyambar, akan tetapi setelah pemuda ini melakukan gerak langkah ajaib, semua penyerangan itu sama sekali tidak menyentuhnya. Setelah anak panah habis menyambar, lantai berhenti sendiri dan yang terlihat hanyalah puluhan batang anak panah berserakan di atas lantai.

Kun Hong tidak mengerti apa maksudnya penyerangan itu, siapa yang menyerang dan mengapa lantai bergoyang-goyang, Akan tetapi karena ia memasuki kamar ini atas pesan Locianpwe untuk mengambil pedang, ia melangkah maju terus dengan hati-hati sekali. Dengan halus ia menarik pedang itu dari dalam tangan kerangka itu, akan tetapi alangkah kagetnya ketika tiba-tiba kerangka yang tadinya duduk itu menjadi runtuh dan terlepaslah tulang-tulang rangka itu ber jatuhan ke atas lantai pula. Tengkoraknya menggelinding sampai ke tengah kamar. Di antara tulang-tulang ini, melayang sehelai kain kuning yang ternyata ada tulisannya begini:

KALAU KAU TERLUKA ATAU MATI. TIDAK PATUT MENJADI PEWARIS KIM- TIAUW-KUN.

Setelah membawa tulisan itu, tersenyumlah Kun Hong. Kiranya semua itu merupakan ujian baginya. Locianpwe Bu Beng Cu yang aneh dan sakti ini telah mengatur sebelum tiba ajalnya, membuat semua alat rahasia itu agar setelah ia mati, ia masih dapat menguji calon muridnya, baik menguji pribudinya seperti yang terdapat di bawah meja sembahyang, juga menguji kepandaiannya setelah mempelajari ilmu silat itu. Benar-

benar seorang manusia hebat. Pantas saja burung rajawali tadi seakan-akan hendak mencegahnya memasuki kamar, agaknya burung itu sudah tahu akan bahaya ujian ini dan hendak mencegahnya memasuki, kamar itu.

Sebagai seorang yang memiliki pribudi luhur, tidak tegalah hati Kun Hong melihat kerangka orang sakti itu berserakan di dalam kamar. Ia lalu mengumpulkan kerangka itu dan dengan khidmat dibawanya kerangka itu keluar, lalu digalinya lubang di ruangan depan menggunakan pedang itu lalu dikuburnya kerangka tadi. Selama ia melakukan semua ini, burung rajawali emas mengeluarkan suara keluhan seperti orang berkabung dan menangis.

Kun Hong lalu berkata kepada burung itu, "Tiauw-ko, sekarang sudah tiba waktunya aku harus pergi dari tempat ini. Kitab ini kutinggalkan di tempat semula karena aku sudah membaca semua isinya. Adapun pedang yang indah ini, karena telah diberikan kepadaku oleh mendiang Locianpwe, akan kubawa dan kuserahkan kepada Ayah yang amat suka akan pedang-pedang pusaka."

Pemuda itu mengembalikan kitab Kim-tiauw-kun di atas meja sembahyang, sedangkan tiga buah kitab lain milik Yok-mo ia kantongi kembali karena ia hendak mengembalikan kitab itu kepada pemiliknya. Pedang indah itu ia masukkan ke dalam sarung pedang yang seder-hana dan yang ia temukan juga di kamar ke dua, lalu ia ikat di pinggang, ditutupi jubahnya. Pakaian pemuda ini sudah lapuk dan berlubang di sana-sini, maklum sudah setahun setengah ia tidak pernah berganti pakaian.

Kim-tiauw agaknya maklum bahwa pemuda itu hendak pergi. Ia kelihatan berduka akan tetapi karena tak dapat bicara, ia hanya mengeluarkan suara mencicit seperti burung kecil.

"Nah, Tiauw-ko, tolonglah kauantarkan aku turun dari puncak ini," kata Kun Hong setelah untuk penghabisan kali ia memberi hormat kepada kuburan kerangka Bu Beng Cu.

Burung itu lalu mendekam di depan Kun Hong. Pemuda ini segera meloncat ke atas punggungnya dan sekali lagi pemuda ini mengalami "terbang" di angkasa. Ia masih merasa ngeri seperti dulu, akan tetapi entah bagaimana, setelah satu setengah tahun ia melatih diri di gua itu, ia merasa hatinya lebih tenang dan tabah. Dengan gembira ia sekali lagi menyaksikan pemandangan alam yang amat luar biasa dilihat dari angkasa, dari atas punggung burung raksasa itu.

Akan tetapi, pengalaman hebat ini tidak lama ia rasakan karena burung itu segera melayang turun ke bawah kaki gunung, lalu hinggap di atas tanah. Ia mengeluarkan suara melengking yang tidak diketahui artinya oleh Kun Hong. Akan tetapi pemuda ini segera meloncat turun.

"Tiauw-ko, kenapa hanya sampai di sini? Kalau bisa, tolong antarkan aku kembaii ke Hoa-san."

Burung itu kembali mengeluarkan suara melengking tinggi, lalu burung itu mengangguk di depan Kun Hong tiga kali, setelah itu ia pentang kedua sayapnya dan... terbang naik lagi ke puncak.

"Ah, jadi dia tidak mau ikut dan hendak kembali ke sana? Baiklah, aku harus melanjutkan perjalanan ini dengan jalan kaki." Kun Hong tidak menjadi kecewa, malah ia berterima kasih sekali kepada burung itu. Sebetulnya kalau boleh ia tidak ingin berpisah dari sahabatnya yang baik itu.

"Kim-tiauw-ko, terima kasih atas semua kebaikanmu." ia berteriak ke arah burung yang sudah terbang meninggi. Ia kaget dan terheran sendiri ketika suaranya itu mendatangkan gema di empat penjuru, amat nyaring teriakannya. Semua ini adalah berkat kemajuannya dalam latihan-latihan sehingga tanpa disadarinya, ia telah memiliki tenaga khi-kang yang tinggi,

Setelah burung itu lenyap, baru Kun Hong melanjutkan perjalanannya. Ia tidak mengenal jalan, maka ia jalan ke mana saja yang ia rasa senang dengan harapan untuk tiba di sebuah dusun, berjumpa orang dan menanyakan jalan ke Hoa-san. Memang tadinya ia merasa tak senang kalau mengenang akan pembunuhan di Hoa-san dan tidak ada keinginan kembali, akan tetapi betapapun juga ia merasa rindu kepada orang tuanya dan ingin bertemu dengan mereka untuk menceritakan pengalamannya yang hebat.

Sudah menjadi kenyataan semenjak dunia berkembang, di dalam hidup menderita sengsara, manusia akan mencari Tuhan karena sudah kehabisan akal dan tidak berdaya untuk memperbaiki hidupnya yang penuh penderitaan itu. Berpalinglah manusia yang menderita sengsara, mencari-cari Kekuasaan Tertinggi yang tadinya terlupa olehnya dikala ia tidak berada dalam penderitaan hidup. Sebaliknya, diwaktu menikmati hidup penuh kesenangan dan kecukupan, manusia sama sekali lupa akan Tuhannya, lupa bahwa segala kesenangan yang dapat ia rasa pada hakekatnya adalah rahmat dari Tuhan. Manusia dalam mabuk kesenangan menjadi sombong, mabuk kemenangan dan kemuliaan duniawi, merasa seakan-akan semua hasil gemilang itu adalah hasil kepandaiannya sendiri. Manusia yang sedang ditimpa kesengsaraan suka mencari kesalahan sendiri yang menyebabkan ia menderita, suka mengakui kesalahannya dan bertobat, berjanji takkan mengulangi perbuatannya yang sesat. Sebaliknya, di dalam mabuk kemuliaan, manusia hanya bisa menyalahkan orang lain mengira bahwa dirinya sendiri yang benar dan karena kebenarannya itulah maka ia dapat hidup dalam kemuliaan.

Alangkah bodohnya manusia, alangkah pelupa dan mudah mabuk oleh kesenangan duniawi. Lupa sudah bahwa segala apa yang dipisah-pisahkan manusia dan diberi istilah kesenangan atau kesengsaraan itu adalah sesuatu yang sifatnya sementara belaka. Baik kesenangan dan kesengsaraan yang sebetulnya bukanlah merupakan sifat dari sesuatu keadaan, melainkan lebih merupakan pendapat menurut selera seorang, takkan abadi dan tidak merupakan hal yang sementara terasa, malahan umurnya amat pendek, sependek umur manusia di dunia ini.

Baik mereka yang mabuk kemenangan di waktu usahanya berhasil gemilang, maupun mereka yang putus asa dan nelangsa di waktu mengalami derita kekalahan, mereka ini adalah manusia-manusia yang bodoh dan, mau membiarkan dirinya diombang- ambingkan dan dipermainkan oleh perasaannya sendiri. Bahagialah orang yang selalu berpegang kepada kebenaran, yang selalu waspada akan langkah hidupnya sendiri agar tidak menyeleweng dari kebenaran, dan dalam pada itu selalu mendasarkan segala sesuatu yang menimpa dirinya, baik itu menyenangkan badan maupun sebaliknya, sebagai kehendak daripada Tuhan seru sekalian alam, Tuhan yang menentukan segalanya, yang tak dapat diubah oleh kekuasaan manapun juga di dunia ini.

Jika diadakan perbandingan, jauh lebih bahagia mereka yang tertimpa kesengsaraan hidup dan membuat mereka berpaling mencari Tuhannya, daripada mereka yang hidup bergelimang dalam kemewahan dan membuat mereka lupa akan Tuhannya.

Demikian pula dengan Kaisar dan para pembesar Kerajaan Beng. Pada mulanya, dalam perjuangan rnereka mengusir penjajahan Mongol dari tanah air, mereka berpegang kepada kebenaran jiwa, mereka penuh oleh sifat patriotisme, sepak terjang dalam perjuangan hanya didasarkan untuk membebaskan rakyat dari belenggu penjajahan. Dalam keadaan seperti itu mereka yakin sepenuhnya akan kebenaran mereka, dan yakin bahwa manusia dalam kebenaran sepak terjang hidupnya selalu akan diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun, sungguh menyedihkan, setelah usaha perjuangan mereka berhasil, terjadilah hal yang agaknya merupakan penyakit turunan bagi manusia. Terjadilah perebutan kemuliaan. Lebih menyedihkan lagi, setelah mereka yang berhasil dalam perebutan ini menduduki tempat tinggi dan mengenyam kemuliaan, mereka lalu mabuk.

Banyak di antara pembesar, sampai Kaisar sendiri, yang dahulunya terkenal sebagai pejuang-pejuang patriotik, setelah mendapat kemuliaan dan kebesaran, lalu lupa akan kebenaran. Mereka dirangsang oleh nafsu-nafsu mereka sendiri. Ada yang tamak akan harta benda, kerjanya hanya mengumpulkan harta dengan jalan yang tidak halal, melakukan korupsi besar-besaran tanpa menghiraukan sedikit pun nasib rakyat jelata yang dahulunya mereka bela dengan perjuangan mati-matian. Ada yang menurutkan nafsu binatang saja, tanpa mengenal malu mengumpulkan wanita-wanita muda dan cantik untuk mereka jadikan alat pengumbar nafsu. Banyaklah macamnya maksiat yang dilakukan oleh orang-orang mabuk kemulian duniawi ini.

Akibat dari semua ini, pemerintah yang dipimpin oleh bangsa sendiri tetap saja tidak dapat mengangkat rakyat jelata dari kemlskinan dan kesengsaraan hidup. Tetap saja rakyat yang dijadikan sapi perahan, diperas keringat dan darahnya oleh pemimpin- pemimpin kecil, di lain pihak pemimpin-pemimpin kecil ini diperas oleh atasan mereka, dan si atasan ini diperas lagi oleh atasannya yang lebih tinggi kedudukannya. Sogok dan fitnah merajalela dan kebenaran yang berlaku bukanlah kebenaran sejati karena siapa yang beruang, dialah yang menang.

Semenjak penjajah Mongol terusir dan Ciu Goan Ciang menjadi kaisar, rakyat tetap saja

masih menderita. Penyerbuan-penyerbuan yang dilakukan oleh bangsa Mongol dari utara, pemberontak-pemberontak dari suku bangsa kecil di barat dan utara, gangguan bajak- bajak laut bangsa Jepang, menambah beban hidup rakyat yang sudah menderita.

Seperti tercatat dalam sejarah, di mana tidak atau belum ada kemakmuran dalam kehidupan rakyat jelata, di situ tentulah muncul rasa penasaran, dan kembali yang kuat merajalela dan pada umumnya lalu berlakulah hukum rimba, siapa kuat dia menang. Orang-orang jahat bermunculan, mengganas sewenang-wenang karena pembesar- pembesar dan alat-alat pemerintah hanya rnengurus isi kantongnya sendiri. Karena banyaknya orang-orang jahat, maka di sana-sini timbullah kelompok-kelompok atau gerombolan-gerombolan yang rnempunyai wilayah sendiri-sendiri. Dan hal ini tentu saja mengakibatkan permusuhan dan persaingan di antara golongan ini.

Syukurlah bahwa masih banyak terdapat orang-orang gagah yang tidak sudi ikut memperebutkan kedudukan dan kemuliaan untuk diri sendiri. Banyak di antara para bekas pejuang yang masih terbuka mata batinnya, dapat melihat betapa tersesatnya mereka yang mabuk kemuliaan itu, dan mereka orang-orang gagah sejati ini tetap hidup di antara rakyat jelata, tidak segan-segan untuk mencari nafkah dengan pekerjaan kasar, bahkan ada yang hidup hanya mengandalkan belas kasihan orang. Makin lama makin banyaklah orang-orang yang hidupnya seperti pengemis. Sudah tentu saja sebagian besar di antara mereka ini adalah orang-orang malas dan karena makin lama jumlahnya makin banyak mulailah orang jahat mengincar mereka yang dianggap sebagai golongan tesendiri yang bukan tidak kuat. Dimasukinyalah kelompok ini dan didirikan perkumpulan-perkumpulan pengemis. Celakanya, kai-pang (perkumpulan pengemis) ini dibentuk atas prakarsa orang-orang yang memang jahat sehingga pendirian ini sama sekali bukan diadakan untuk usaha perbaikan nasib orang-orang gelandangan itu, sama sekali bukan. Memang, ada juga manfaatnya bagi keadaan hidup para pengemis ini, namun dengan cara yang tiada bedanya dengan penjahat. Dengan adanya perkumpulan- perkumpulan ini, para pengemis lalu diharuskan mentaati peraturan perkumpulan, hasil mengemis harus dikumpulkan dan tidak boleh dipakai sendiri, sebaliknya soal makan mereka dijamin oleh perkumpulan. Melihat para pengemis yang bergabung ini, tidak ada yang berani menolak permintaan mereka, karena hal ini bisa mengakibatkan si penolak itu celaka, dianiaya dan dirampok hartanya. Jadi tegasnya, cara para pengemis dari kai- pang-kai-pang itu bekerja hanya tampaknya saja mengulurkan tangan minta sedekah, akan tetapi pada hakekatnya sama dengan perampok yang datang mengacungkan golok.

Mula-mula memang penduduk setiap kota dan para pembesar dan petugas, berusaha membasmi kai-pang-kai-pang ini. Akan tetapi, karena para pengemis itu sudah bercampuran dengan para penjahat yang merasa lebih aman bersembunyi di antara kaum jembel itu, usaha ini sia-sia belaka. Apalagi setelah organisasi pengemis itu makin meluas sehingga di setiap tempat ada cabangnya, kemudian para pengurus pengemis terdiri dari ahli-ahli silat yang berkepandaian tinggi, petugas-petugas keamanan menjadi tak berdaya.

Seperti dikatakan tadi, syukur bahwa tidak semua manusia di dunia ini berpikiran cupat dan berwatak remeh. Orang-orang gagah yang melihat adanya gejala-gejala tak baik ini, yang berarti akan menambahi beban rakyat jelata karena pemerasan para perampok-

perampok berpakaian pengemis ini, segera turun tangan. Ada yang secara langsung mempergunakan kekerasan menentang para kai-pang ini. Namun akhirnya mereka itu dikeroyok dan kalah, malah ada yang tewas. Ada yang menentang secara diam-diam, menanti saat baik, kemudian mereka ini malah memasuki kai-pang-kai-pang itu, menjadi anggauta dengan maksud untuk membelokkan kejahatan para pengemis ke arah kebaikan. Demikianlah, jangan kira bahwa semua anggauta kai-pang itu jahat karena di dalamnya banyak terdapat orang-orang gagah yang senantiasa menanti saat baik untuk menggulingkan kedudukan ketua masing-masing sehingga jika pimpinan terjatuh ke dalam tangan orang-orang yang tidak jahat ini, sudah tentu perkumpulan itu akan dibawa ke jalan benar.

Karena hai ini terjadi selama penjajah jatuh, jadi dua puluh tahunan, maka sekarang sudah banyaklah perkumpulan pengemis yang dipimpin oleh ketua-ketua yang baik sehingga perkumpulan ini benar-benar merupakan perkumpulan untuk memperbaiki nasib para anggauta. Di dalam kai-pang yang bersih ini diadakan latihan-latihan semacam sekolah, di mana para anggautanya diajar untuk memiliki sesuatu kepandaian tertentu, misalnya pertukangan dan lain-lain. Sesudah itu mereka itu diharuskan mencari pekerjaan sebagai sumber nafkah dan setelah mendapatkan pekerjaan sudah tentu mereka ini tidak lagi diperbolehkan mengemis dan tidak lagi menjadi anggauta biarpun masih ada hubungan persaudaraan. Nah, demikianlah keadaan di waktu itu, di satu pihak kai-pang- kai-pang yang dipimpin oleh orang-orang jahat masih mengganas, di lain pihak ada kai- pang-kai-pang yang bersih sehingga terkenallah sebutan Pek-kai-pang (Perkumpulan Pengemis Putih) dan Hek-kai-pang (Perkumpulan Pengemis Hitam). Sudah tentu Pek- kai-pang adalah golongan yang baik sedangkan Hek-kai-pang golongan yang jahat. Dan karena ada dua golongan yang berlainan sifatnya, tak dapat dicegah lagi adanya persaingan dan permusuhan di antara dua golongan ini sehingga sering kali terjadi pertempuran-pertempuran dan pertumpahan-perturnpahan darah.

Di antara Pek-kai-pang, yang paling terkenal dan kuat adalah perkumpulan pengemis Hwa I Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang). Perkumpulan pengemis ini memiliki anak buah paling banyak dan karena ketuanya seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan pengurusnya juga mendapat latihan ilmu silat tinggi, maka banyak kai-pang lain yang tunduk kepada Hwa-i Kai-pang. Pusat perkumpulan ini di kaki Gunung Ta-pie-san, sebelah barat kota raja Nan-king. Adapun ketuanya adalah seorang kakek gagah perkasa yang usianya sudah tinggi sekali namun memiliki kepandaian yang hebat. Kakek pengemis ini tidak pernah memperkenalkan namanya, dan hanya mengaku berjuluk Hwa-i Lo-kai (Pengemis Tua Berbaju Kembang). Setelah para pengemis berkali-kali ditolong oleh kakek ini yang berkepandaian tinggi, maka ia lalu diangkat menjadi ketua dan perkumpulan yang dipimpinnya lalu diberi nama Hwa-i Kai-pang. Semua anggauta Hwa-i Kai-pang selalu memakai baju berkembang, biarpun sudah lapuk atau penuh tambalan.

Pada suatu hari terjadilah berita yang menggemparkan "dunia pengemis" itu. Pengemis mana yang takkan kaget mendengar berita bahwa Ketua Hwa-i Kai-pang hendak mengundurkan diri dan di pusat perkumpulan itu hendak diadakan pemilihan pengurus baru? Hal itu menjadi bahan percakapan yang ramai, tidak saja di antara para pengemis,

bahkan boleh dibilang juga di antara para orang gagah di dunia kang-ouw karena sebagai perkumpulan besar, Hwa-i Kai-pang mengundang para orang gagah untuk menjadi saksi dalam pemilihan ketua baru ini.

Menjelang datangnya hari pemilihan ketua, keadaan di sekitar kaki Gunung Ta-pie-san menjadi ramai. Banyak tokoh-tokoh perkumpulan pengemis dari daerah lain datang dengan pakaian mereka yang beraneka ragam dan macam. Kalau melihat banyak pengemis dari berbagai aliran berkumpul di tempat yang luas itu, benar-benar mereka itu seperti bukan pengemis-pengemis, melainkan anak buah dari pasukan-pasukan. Biarpun pakaian mereka itu tambal-tambalan, ada pula yang sudah lapuk, namun warnanya seragam. Ada yang serba hitam, ada yang serba merah, ada yang putih, hijau, biru dan banyak lagi macam warnanya. Para anggauta Hwa-i Kai-pang tentu saja berbaju kembang semua. Mereka yang sudah datang bertanya-tanya mengapa Hwa-i Lo-kai hendak mengundurkan diri dan mencari penggantinya. Akan tetapi tak seorang pun dapat menjawab pertanyaan ini, bahkan para anggauta Hwa-i Kai-pang sendirian tidak ada yang dapat memberi keterangan.

Hwa-i Kai-pang atau Perkumpulan Pengemis Baju Kembang pada waktu itu sudah merupakan perkumpulan yang besar, mungkin terbesar di antara perkumpulan pengemis yang ada di daerah itu. Malah dapat dikatakan bahwa perkumpulan ini paling makmur, memiliki rumah pertemuan yang besar dengan perabot-perabot rumah yang lengkap, mempunyai ruangan tempat para, pengemis cilik belajar sesuatu pekerjaan dan lain-lain. Hal ini adalah karena sepak terjang perkumpulan ini yang betul-betul merupakan perkumpulan sosial hendak memberi bimbingan kepada kaum gelandangan itu agar dapat hidup lebih baik dan terangkat nasibnya, telah menarik hati banyak dermawan yang banyak memberi sumbangan-sumbangan kepada Hwa-i Kai-pang.

Tidak hanya dalam soal usaha memperbaiki nasib para pengemis, juga dalam organisasi sendiri, makin lama perkumpulan ini menjadi makin kuat. Makin banyak saja pemuda yang tinggi ilmu silatnya dan ini boleh dibilang semua telah menjadi murid Hwa-i Lo-kai. Tentu saja para pengurus ini tadinya memang sudah memiliki kepandaian dari macam- macam aliran, akan tetapi setelah mereka menggabungkan diri di Hwa-i Kai-pang, dan menyaksikan sendiri betapa tingginya ilmu silat ketuanya, mereka lalu minta diberi pelajaran ilmu silat. Ketua Hwa-i Kai-pang ini selalu suka menurunkan kepandaiannya dan ia mengajarkan beberapa ilmu pukulan yang ia sesuaikan dengan watak dan keadaan jasmani si murid. Makin lama makin banyaklah anggauta Hwa-i Kai-pang yang mendapatkan kemajuan hebat dalam kepandaian ilmu silat mereka. Malah kemudian hampir tidak ada seorang pun anggauta pengurus yang tidak berilmu tinggi.

Hwa-i Lo-kai sendiri maklum bahwa di antara perkumpulan pengemis yang amat banyak itu, tidak jarang merupakan perkumpulan pengemis palsu yang sesungguhnya lebih patut disebut perkumpulan penjahat. Juga ia tahu betapa perkumpulan-perkumpulan jahat ini mengandalkan kekerasan, tidak hanya melakukan pemerasan terhadap penduduk, juga kadang-kadang berani menindas perkumpulan lain yang lebih lemah. Karena itu, kakek ini melihat betapa pentingnya bagi perkumpulan yang dipegangnya untuk memperkuat diri dengan pengurus-pengurus yang pandai ilmu silat. Ini pulalah yang membuat ia lalu

mulai mengadakan susunan dalam pengurusnya, membagi-bagi tugas sesuai dengan kemampuan dan kepandaian mereka. Untuk membedakan tingkat kepandaian ilmu silat, ia mengadakan percobaan lalu memberi tanda tingkat pada para muridnya itu. Tanda tingkat ini merupakan tali ikat pinggang berwarna putih dari serat biasa. Makin banyak tali ini mengikat pinggang seorang pengemis Hwa-i Kai-pang, makin tinggilah tingkat ilmu silatnya.

Di antara para pengurus dan pembantu ketua itu, rata-rata hanya memiliki empat helai ikat pinggang. Jumlahnya ada dua puluh orang lebih. Yang memiliki lebih dari empat helai amat jarang. Yang paling tinggi tingkatnya di antara mereka hanya tiga orang. Mereka ini telah mempunyai tujuh helai tali putih yang mengikat pinggang mereka. Tiga orang inilah yang dalam segala hal mewakili Hwa-i Lo-kai dan mereka boleh dibilang sudah memegang seluruh urusan perkumpulan itu sebagai wakil ketua. Mereka adalah Coa-lokai, Beng-lokai, dan Sun-lokai. Lokai artinya "pengemis tua" akan tetapi sebutan ini dalam perkumpulan itu berarti menghormat, karena yang berhak menyebut diri lokai hanyalah ketua mereka dan tiga orang tangan kanan inilah. Jadi panggilan lokai ini seakan-akan merupakan panggilan penghormatan seperti lajimnya sebutan "yang mulia" dan "paduka". Memang dalam perkumpulan yang aneh ini banyak terdapat aturan dan hal-hal aneh pula.

Sudah dapat dibayangkan bahwa kalau Hwa-I Lo-kai mengundurkan diri, calon penggantinya tentulah seorang di antara tiga kakek ini. Hal ini tidak hanya menjadi pendapat para anggauta, malah juga pendapat orang-orang luar dan juga demikianlah kata hati tiga orang itu sendiri. Oleh karena itu, diam-diam seperti ada persaingan di antara mereka dan secara diam-diam pula tiga orang pembantu ini mendekati para anggauta dan sedapat mungkin menarik sebanyak-banyaknya sahabat agar mendukungnya dalam "pemilihan umum" itu nanti. Sudah bukan hal aneh lagi apabila mereka ini menjanjikan hal-hal yang muluk-muluk kepada para anggauta yang suka memilihnya.

Pagi hari pada waktu pemilihan, di pekarangan yang amat luas di depan rumah pertemuan Hwa-i Kai-pang, para anggauta sudah berkumpul. Pengemis-pengemis berpakaian baju kembang yang tidak kurang dari seratus orang jumlahnya duduk di belakang ketua dan para pengurus mereka. Adapun para tamu merupakan kelompok-kelompok yang duduk di atas tanah juga, menghadap tuan rumah. Ada kelompok pengemis berpakaian hijau, merah, hitam, putih dan lain-lain yang dipimpin oleh ketua atau wakil masing-masing. Uniknya, pertemuan ini sama sekali tidak dilengkapi kursi, bangku ataupun meja dan semua yang hadir duduk begitu saja di atas tanah, ada yang bersila, ada yang berjongkok.

Hwa-i Lo-kai tampak duduk bersila sambil meramkan mata. Dia adalah seorang kakek

yang usianya sudah delapan puluh tahun lebih, bertubuh tinggi kurus, rambutnya yang panjang tidak terawat, pakaiannya berkembang sederhana, terdapat tiga tambalan di pundak dan dada. Pinggangnya diikat dengan tali putih terbuat dari sutera. Di pinggang kiri tergantung sebuah guci arak dari perak dan ia tidak kelihatan membawa senjata, Di sebelah kanannya duduklah tiga orang pembantunya yang terkenal, yaitu Coa-lokai yang bertubuh tinggi besar bermata lebar dan gerak-geriknya kasar. Beng-lokai orangnya gemuk pendek berkulit kuning bermata sipit, tersenyum-senyum gembira. Sun-lokai

orangnya kecil agak bongkok, matanya tajam bergerak ke sana ke mari. Tiga orang pembantu ini semua memakai baju berkembang dengan ikat pinggang tali putih tujuh helai membelit pinggang. Berbeda dengan Sang Ketua, ketiga orang ini masing-masing memanggul sebatang pedang di punggungnya. Para pembantu lain yang lebih rendah tingkatnya, yaitu yang bertali pinggang enam ada dua orang, yang bertali pinggang lima ada tujuh orang dan sebelas orang bertali pinggang empat duduk di sebelah kiri ketua ini dengan sikap menghormat.

Keadaan di situ cukup ramai. Biarpun semua orang sudah duduk di atas tanah tak seorang pun kelihatan berdiri, namun mereka saling bicara perlahan, ada yang berbisik-bisik sehingga tempat itu menjadi berisik juga. Akhirnya Hwa-i Lo-kai membuka kedua matanya, memandang ke kanan kiri lalu ia mengangkat tangan kanannya ke atas. Siraplah suara berisik dan semua orang memandangnya dengan penuh perhatian.

"Saudara para tamu sekalian dan saudara-saudaraku anggauta Hwa-i Kai-pang yang tercinta. Tak kepada seorang pun pernah kuberi tahu, bahkan para pembantuku juga tidak, mengapa secara mendadak aku hendak meninggalkan Hwa-i Kai-pang dan menyerahkan pimpinan kepada seorang saudara. Sekarang, terus terang saja untuk menghilangkan dugaan yang bukan-bukan, aku jelaskan bahwa aku mempunyai seorang musuh pribadi .... "

Kembali keadaan menjadi berisik, terutama di kalangan anggauta Hwa-i Kai-pang yang banyak mengeluarkan suara marah. Kalau ada musuh, mengapa harus meninggalkan kedudukan? Apakah takut? Hwa-i Kai-pang amat kuat, siapa berani mengganggu ketuanya?

Kembali Hwa-i Lo-kai mengangkat tangannya memberi isyarat supaya semua orang jangan berisik. "Urusan ini adalah urusan pribadiku, dan hari ini adalah hari janji kami berdua untuk membuat perhitungan terakhir. Aku tidak suka membawa-bawa perkumpulan ke dalam urusan pribadi, juga aku tidak mau menyeret musuh pribadiku menjadi musuh perkumpulan. Biarlah hal ini kuselesaikan sendiri sebagai urusan pribadi yang tak boleh orang lain mencampurinya. Nah, sekarang lega hatiku karena saudara semua sudah mendengar penjelasanku. Sekarang, marilah kita semua memilih seorang ketua baru yang tepat, yang kiranya akan dapat memimpin saudara-saudara sekalian lebih baik dari yang telah kulakukan."

Kembali para anggauta Hwa-i Kai-pang menjadi berisik karena mereka saling berbisik dan banyak terdengar suara-suara tidak setuju. Malah tiba-tiba terdengar suara yang nyaring dari Coa-lokai, yang bicara dengan sepasang mata lebar membelalak.

"Saya tidak setuju dengan uraian Lo-kai. Selama saya membantu Lo-kai, tidak pernah satu kali pun saya ragu-ragu dan membangkang terhadap perintah, akan tetapi sekali ini terpaksa saya tidak setuju. Lo-kai tidak saja menjadi ketua, bahkan menjadi pendiri dari Hwa-i Kai-pang. Oleh karena itu segaia urusan Hwa-i Kai-pang adalah urusan Lo-kai, sebaliknya urusan Lo-kai berarti juga urusan semua anggauta Hwa-i Kai-pang. Kita semua sudah bersumpah, susah sama dipikul, senang sama dinikmati. Mana ada aturan

sekarang Lo-kai hendak meniggalkan kita hanya karena ada urusan pribadi? Kalau ada musuh Lo-kai, katakan saja siapa dan di mana, saya Coa-lokai takkan mundur untuk mewakili Lo-kai, biarpun nyawaku yang tak berharga ini akan melayang karenanya." Setelah berkata demikian, pengemis tinggi besar yang usianya belum ada lima puluh itu meloncat berdiri, tegak siap sedia dengan mata memandang ke sana ke mari seolah-olah hendak mencari musuh pribadi ketuanya.

Hwa-i Lo-kai menarik napas panjang dan menggelengkan kepalanya. "Coa-lokai, terima kasih atas kesetiaanmu ini. Akan tetapi urusan ini benar-benar adalah urusan pribadiku dan kali ini terpaksa aku harus menebus sifatku yang pengecut, yang selalu kupertahankan belasan tahun lamanya. Ya... aku telah bersikap pengecut sehingga belasan tahun aku menyembunyikan nama dan paling akhir aku menggunakan nama Hwa-i Lo-kai. Dahulu

....hemmm, sekarang tiba saatnya aku meninggalkan sikap pengecut dan membuka rahasiaku sendiri, dahulu aku bernama Sin-chio (Tombak Sakti) The Kok."

Semua pengemis dan yang hadir di situ, terutama kaum tuanya tercengang mendengar nama ini. Belasan tahun yang lalu nama Sin-chio The Kok amatlah terkenal sebagai seorang perampok tunggal yang memiliki kepandaian tinggi. Kabarnya ilmu tombaknya belum pernah terkalahkan sehingga ia dijuluki orang Sin-chio (Tombak Sakti). Setelah mendengar siapa adanya Hwa-i Lo-kai, semua orang menjadi berisik, ada yang merasa kecewa bahwa Hwa-i Kai-pang ternyata dipimpin oleh seorang bekas perampok. Akan tetapi ada suara yang membantah dengan pernyataan bahwa biarpun seorang perampok, nama The Kok tetap bersih sebagai perampok budiman yang tidak sembarang merampok orang. Yang menjadi sasaran dan korbannya adalah pembesar-pembesar jahat dan hartawan-hartawan kikir, malah kabarnya hasil perampokannya selalu ia bagi-bagikan kepada rakyat yang miskin.

Hwa-I lo-kai atau Sin-chio The Kok mengangkat tangannya dan suara berisik segera sirap. "Nih, sekarang saudara sekalian tahu siapa saya dan saya sendiri merasa tidak pantas menjadi Ketua Hwa-i Kai-pang. Bukan karena saya bekas perampok, akan tetapi terutama sekali karena saya seorang pengecut yang karena takut menghadapi musuh lalu bersembunyi di balik nama palsu. Sekarang musuh besarku sudah mengetahui dan hendak menuntut balas, karena inilah aku akan meninggalkan Hwa-i Kai-pang untuk membereskan perhitungan dengan dia dan sebelum aku pergi, aku ingin melihat bahwa perkumpulan kita mendapatkan seorang ketua baru yang tepat."

Beng-lokai yang gemuk pendek segera berdiri dan dengan senyum yang tak pernah meninggalkan bibirnya ia berkata,

"Memang tepat sekali apa yang dikatakan oleh Pangcu (Ketua). Harap Pangcu segera tetapkan saja calon-calon pengganti Pangcu agar pemilihan dapat dilakukan segera."

"Siapa lagi yang kucalonkan kecuali kalian bertiga pembantu-pembantuku? Kalian bertigalah calon-calon ketua dan pemilihannya siapa di antara kalian bertiga terserah kepara para anggauta," jawab Ketua itu.

"Saya tidak setuju...!" Coa-lokai kembali berkata dengan suaranya yang nyaring. "Setetah kita ketahui bahwa ketua kita adalah Sin-chio The Kok, seharusnya kita bangga mempunyai seorang ketua yang gagah perkasa dan terkenal sebagai seorang yang budiman. Biarpun sekarang lokai menghadapi urusan itu dan saya percaya Lo-kai akan dapat mengatasinya dengan baik. Setelah itu, bukankah Lo-kai dapat kembali memimpin perkumpulan kita?"

"Heh, Coa-lokai banyak cerewet!" Terdengar suaranya yang parau dan seperti kaleng dipukul dan pembicara ini adalah Sun-lokai yang sudah berdiri dan memandang tajam. "Apakah kau hendak membangkang terhadap perintah Pangcu? Lupakah kau apa hukumannya apabila seorang anggauta membangkang terhadap perintah?"

Pengemis tinggi besar itu membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Sun-lokai dengan mata berapi. "Ho-ho, Sun-lokai, tak usah kau mengingatkan Aku sendiri tahu bahwa tugasku meneliti dan menghukum para anggauta yang menyeleweng, tentu aku maklum akan aturan-aturan di perkumpulan kita. Kalau ketua kita memerintah kepadaku untuk melaksanakan sebuah tugas, biarpun harus mempertaruhkah nyawa, aku tidak akan mundur. Akan tetapi sekarang ini lain lagi. Pangcu kita hendak pergi meninggalkan kita dan menunjuk seorang di antara kita untuk menjadi ketua. Aku tidak setuju sama sekali memilih ketua baru selama Lo-kai masih hidup. Sun-lokai, agaknya kau sudah terlalu mengilar untuk memperoleh kursi ketua?" Sepasang mata dari pengemis bongkok ini bersinar dan bercahaya. "Hemm, Pangcu mencalonkan kita bertiga, bukan hanya aku. Kau sendiri pun, kalau kau mampu membuktikan bahwa kau lebih gagah dan pandai dari aku dan Beng-lokai, kau boleh menjadi ketua."

"Aku tidak sudi selama Lo-kai masih ada, aku tidak sudi menjadi ketua dan tidak sudi membiarkan seorang di antara kamu menjadi Ketua Hwa-i Kai-pang. Apalagi seorang seperti kau!" Coa-lokai menudingkan telunjuknya ke arah muka Sun-lokai sehingga pengemis bongkok ini menjadi merah sekali.

"Berani kau menghinaku di depan banyak orang?"

"Aku tidak menghina, melainkan bicara sejujurnya. Kau tahu aku suka berterus terang dan aku pun terus terang saja menyatakan bahwa aku tidak suka melihat dan mendengar kau berhubungan erat dengan golongan merah dan hijau."

"Kau keparat, kau menuduh yang bukan-bukan. Apakah kau mengajak berkelahi?" Sun- lokai sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi.

"Berkelahi atau apa saja masa aku takut?" Coa-lokai juga marah. Dua orang ini sudah saling berhadapan dan saling mendekat, siap hendak menggunakan kekerasan.

"Coa-lokai, Sun-lokai, sudahlah. Tak perlu ribut-ribut!" Hwa-i Lo-kai berseru untuk melerai mereka.

"Biarlah, Lo-kai, biar kuberi hajaran kepada si Bongkok ini!" Coa-lokai berkata keras.

"Pengemis busuk, kaulah yang akan mampus di tanganku!" Sun-lokai yang tidak pandai bicara itu mendengus. Adapun para anggauta Hwa-i Kai-pang yang berada di situ memang sudah terpecah-pecah dalam pemilihan ketua, ada yang pro Coa-lokai, ada yang pro Sun-lokai. Melihat dua orang jagoan mereka itu sudah saling berhadapan, mereka menjadi tegang dan terdengar seruan-seruan kedua pihak untuk memberi semangat kepada jagoan mereka. Keadaan menjadi berisik sekali sehingga suara Hwa-i Lo-kai hendak mencegah pertarungan itu tidak terdengar nyata. Dua orang pengemis tua itu sekarang sudah saling serang. Mula-mula Sun-lokai yang membuka serangan. Dia seorang ahli Cu-see-ciang, yaitu kedua tangannya telah digembleng dan diperkeras dengan latihan mencacah pasir panas. Ia bersilat dengan kedua tangan terbuka, dengan jari-jari lurus dan ibu jari ditekuk ke dalam sehingga kedua tangannya itu seakan-akan sepasang golok yang diserangkan dengan bacokan atau tusukan maut, Di lain pihak, Coa- lokai adalah seorang ahli gwa-kang, tenaganya seperti gajah, gerakannya tenang. Kalau sambaran tangan Sun-lokai seperti sambaran golok yang tajam, adalah sambaran kepalan tangan Coa-lokai yang besar itu seperti sambaran toya baja yang keras dan berat.

Keduanya adalah ahli-ahli silat yang kemudian mendapat latihan dari Hwa-i Lo-kai, maka biarpun mereka memiliki keistimewaan masing-masing, boleh dibilang tingkat mereka seimbang. Para pengemis yang menonton pertempuran ini, menjadi, tegang dan gembira, dari sana sini terdengar seruan-seruan memihak.

Hwa-i Lo-kai menjadi bingung, Tentu saja mudah baginya untuk datang memisah, akan tetapi apa gunanya? Sekali mereka menanam bibit kebencian satu kepada yang lain, hal itu takkan mudah dipadamkan. Biarlah mereka menentukan siapa yang lebih kuat, malah ini merupakan saringan pula untuk memilih seorang ketua baru. Ia hanya berdiri dengan kedua lengan di belakang, namun siap setiap saat apabila seofang diantara kedua pembantunya itu terancam bahaya maut, tentu ia akan turun tangan mencegah.

Pada saat dua orang itu sedang saling gempur dengan ramainya, tiba-tiba dari jauh dengar orang berteriak-teriak, nyaring menusuk telinga semua orang. Heii... dua orang pengemis tua saling tempur memperebutkan apa sih?"

Karena suara ini hebat dan nyaring semua orang menengok, bahkan Coa-lokai dan Sun- lokai juga otomatis berhenti untuk melihat siapa orangnya yang berteriak demikian nyaringnya itu. Dari jauh tampak dua orang berjalan menuju ke tempat itu Yang di depan adalah seorang pemuda tampan yang pakaiannya sama lapuknya dengan pakaiannya para pengemis sungguhpun potongan pakaian itu seperti pakaian seorang pemuda terpelajar. Pemuda inilah yang berteriak sambil melambai-lambaikan tangannya tidak keruan seperti orang gendeng. Adapun orang yang berjalan di sampingnya, agak terbelakang, adalah seorang kakek tua sekali, terbongkok-bongkok jalannya, pakaiannya juga compang- camping, dengan tangan memegang tongkat yang diperlukannya untuk membantu ia berjalan.

Siapakah dua orang ini? Pemuda itu bukan lain orang adalah Kwa Kun Hong. Seperti kita ketahui, pemuda ini telah turun dari puncak Bukit Kepala Naga, kenapa dia bisa berada di sini dan datang bersama seorang kakek pengemis tua renta itu? Baiklah kita mengikuti perjalanannya sebentar semenjak pemuda ini meninggalkan Bukit Kepala Naga dan sampai ke tempat ini, yaitu di kaki Pegunungan Ta-pie-san, pusat dari perkumpulan Hwa- i Kai-pang.

Telah dituturkan di bagian depan betapa Kun Hong meninggalkan Bukit Kepala Naga dengan maksud mencari dusun untuk bertanya kepada orang ini di mana arah perjalanan menuju ke Hoa-san. Memang tak lama kemudian ia bertemu dengan penduduk dusun, akan tetapi penduduk dusun yang jarang meninggalkan kampung halaman itu, mana ada yang tahu tentang Hoa-san? Keterangan yang didapat oleh Kun Hong sama sekali tidak mendekatkannya dengan tempat tinggalnya, malah membuat ia tersesat makin jauh dari Hoa-san. Akhirnya ia mendengar bahwa ia sudah tiba di daerah kota raja selatan (Nan- king). Ia tertegun ketika mendengar dari orang yang mengetahui bahwa ia salah jalan dan malah menjauhi Hoa-san. Akan tetapi sebaliknya ia gembira ketika mendengar bahwa ia telah berada di kota raja. Setelah ia berada di tempat yang dekat dengan kota raja, apa salahnya untuk sekalian melihat-lihat keadaan kota raja? Sudah lama ia mendengar tentang kota raja yang hanya dapat ia lihat dalam alam mimpi saja. Sekarang, tanpa disengaja ia mendekati kota raja, sudah tentu ia tidak akan melewatkan kesempatan sebaik ini.

Ketika Kun Hong melanjutkan perjalanannya menuju ke kota raja, ia melalui Pegunungan Tapie-san. Setelah turun naik lereng bukit, ia merasa lelah dan mengaso di bawah sebatang pohon besar yang tumbuh di lereng gunung. Pemandangan indah, hawa amat nyaman. Kun Hong lalu menuruni jurang kecil di mana terdapat air terjun yang kecil akan tetapi amat jernih airnya. Dengan sedap dan segar ia minum air itu, lalu mencuci muka, tangan, dan kakinya. Setelah merasa tubuhnya segar kembali, perutnya menggeliat minta isi. Kun Hong kembali ke bawah pohon dan mengeluarkan bekalnya roti kering yang ia terima dari seorang hwesio sebuah kelenteng tua yang amat baik hati, di mana ia semalam menginap.

Terpaksa ia menunda tangannya yang sudah mengantar roti kering ke mulutnya, ia kaget dan terheran-heran mengapa di tempat sesunyi itu terdengar suara orang. Orang itu bicara dengan keras suaranya terbawa angin, sayup-sayup sampai tidak dapat ia tangkap artinya. Akan tetapi kenapa tidak pernah, ada suara lain yang menjawabnya? Biasanya orang bercakap-cakap tentu sedikitnya membutuhkan dua orang. Suara itu makin jelas dan kini tertangkap oleh telinga Kun Hong, suara orang mencari

sesuatu. "Ah, di manakah dia? Haaa, boleh jadi inilah! Ya betul, inilah agaknya yang kucari-cari puluhan tahun sampai sampai saat ini. Tak salah lagi..., tapi betulkah ini dia? Jangan- jangan aku salah duga kecele lagi .... "

Tergerak hati Kun Hong. Suara agak menggetar, dan dapat diduga pembicaranya tentu seorang yang sudah tua. Ia menyimpan kembali roti keringnya, berdiri dan berjalan menuju arah suara tadi. Setelah ia melalui sebuah gundukan batu karang, tampaklah

olehnya seorang kakek berpakaian compang-camping, berdiri dengan tongkat tertekan tangan seakan-akan tongkat itulah yang membantu ia berdiri, tangan kiri ditaruh melintang di kening untuk melindungi kedua mata tuanya dari sinar matahari, dan menoleh kian ke mari memandangi tamasya alam di bawah gunung. Ataukah sedang mencari sesuatu?

Segera timbul welas dalam hati Kun Hong melihat kakek yang amat tua ini. Tubuhnya kurus, tinggal kulit dan tulang, pakaiannya sudah tak patut disebut pakaian lagi, hanya robekan-robekan kain menutupi tubuh di sana-sini, sepatunya sudati bolong sehingga tampak beberapa buah jari kaki tersembul keluar dari pinggir sepatu. Aduh kasihan, pikir Kun Hong. Sudah begini tua mengapa pergi susah payah ke gunung yang tidak mudah dilalui jalannya? Begitu kurus, tentu sudah berhari-hari tidak makan.

"Kakek yang baik, kau sudah begini tua dan lemah mengapa sampai di tempat seperti ini? Kau sedang mencari apakah, Kek?" tanyanya sambil maju mendekat.

"Ya, aku memang mencari sesuatu," jawab kakek itu tanpa menoleh kepada Si Penanya.

"Mencari apakah yang hilang? Di mana hilangnya? Biarlah kubantu kau mencarinya," kata Kun Hong dengan ramah dan dengan suara mengandung hiburan yang membesarkan hati.

" tiba-tiba ia menoleh dan terkejutlah Kun Hong ketika bertemu pandang dengan sepasang mata yang luar biasa tajamnya seakan-akan menembus sampai ke dalam dadanya. Tak kuat Kun Hong menatap sepasang mata yang hebat itu, terpaksa ia menundukkan pandang matanya. "Heh... tidak ada yang hilang... tapi sudah puluhan tahun aku mencarinya ....

"Kaubilang kau hendak bantu aku mencarinya? Huh, betulkah itu? Aku yang sudah puluhan tahun mencari belum juga bertemu. Tapi... hemmm, mungkin sekali ini aku akan dapat bertemu dengannya!" Kata-kata ini penuh semangat dan kakek itu berdongak memandang ke atas.

Otomatis Kun Hong juga mendongakkan kepalanya, akan tetapi di atas sana tidak ada apa-apa, kecuali mega-mega putih berarak di angkasa. Celaka, pikirnya, kasihan benar kakek ini, agaknya dia sudah miring otaknya. Kun Hong menggeleng-geleng kepalanya, lalu memegang tangan kakek itu, menuntunnya perlahan menuju ke bawah pohon.

"Kakek yang baik, marilah kita beristirahat di tempat yang teduh sana, aku mempunyai beberapa potong roti kering, marilah kita makah bersama," bujuknya.

Kakek itu sejenak memandang kepadanya dengan heran tapi menurut saja ketika dituntun ke bawah pohon. Malah ia segera ikut Kun Hong duduk di bawah pohon itu dan menerima pemberian roti kering dari Kun Hong yang dimakannya lambat-lambat.

"Orang muda, jarang ada orang semacam kau ini di jaman yang sulit ini... hemm, senang juga bertemu dengan orang macam kau di tempat sunyi."

Kun Hong memadang penuh perhatian dan sekarang ia merasa yakin bahwa tak mungkin kakek ini miring otaknya. Mungkin hanya karena berwatak aneh saja maka kelihatan serti orang tidak waras pikirannya.

"Aku pun merasa gembira dapat berjumpa dengan kau di sini kakek yang baik. Sebetulnya, siapakah yang kaucari itu? Benda ataukah manusia? Aku akan merasa girang kalau kau segera dapat bertemu dengannya, Kek."

Kakek itu tiba-tiba tampak gembira dan wajahnya berseri-seri. "Ya, betul sekali, pasti aku akan dapat bertemu dengannya setelah aku membunuh manusia she The itu!" Ia nampak bersemangat dan gembira, tidak melihat betapa muka Kun Horng sekilas menjadi pucat dan kembali menjadi merah. "Waaahhh .... jangan, Kek. Tidak boleh kau membunuh

orang biar dia itu she The atau she apa pun."

Kini kakek itu menatap tajam wajah Kun Hong, agaknya marah. Roti kering yang baru dimakan separuh itu lalu dilemparkannya ke atas tanah.

"Siapa bilang tidak boleh? Dia itu musuh besarku, dia telah membunuh muridku yang tercinta. Belasan tahun aku mengejar-ngejarnya, mencari-carinya akhirnya aku tahu bahwa dia telah berganti nama... ha-ha-ha... berganti nama menjadi Hwa-i Lo-kai ketua perkumpulan Hwa-i Kai-pang. Ha-ha-ha, manusia she The, ke mana pun kau bersembunyi, pasti akan terpegang kau olehku."

"Kau salah, Kek. Betapapun juga, tidak boleh membunuh orang. Berdosa sekali perbuatan itu, dan manusia takkan terlepas dari hukum karma, kecuali kalau dengan budi kebaikan dia melepaskan diri dari hukum, karma yang lalu, barulah dia itu seorang manusia yang bebas dan mulia."

"Uahhh, kau anak kecil tahu apa? Aku hendak membunuh orang she The itu sekali-kali bukan hanya karena dia telah membunuh muridku. Aku membunuhnya karena aku hendak mencari kebahagiaan, kau tahu? Tak pernah aku dapat menemukan kebahagiaan, seluruh dunia kujelajahi, perbuatan apa pun kulakukan, samadhi, bertapa, menyiksa diri, tapi kebahagiaan belum pernah dapat kumiliki. Orang bilang harta benda mendatangkan kebahagiaan? Phuah! Omong kosongnya seorang kepala angin. Kaulihat ini? Emas murni. Bahhh, jemu aku melihatnya karena mengingatkan aku akan manusia kepala angin yang menyatakan bahwa kebahagiaan dapat dicapai kalau memiliki harta benda sebanyaknya!" Setelah berkata demikian kakek itu mengeluarkan sebongkah emas murni yang berkilauan, lalu ia melempar emas murni itu jauh ke dalam jurang yang tak mungkin dapat didatangi manusia.

Comments

perkawinan silang blog teknologi dengan cerita silat, unik nih! Sumber cerita2 ini darimana?
sumber cerita silat kebanyakan dari dimhad dan kang zusi, dan terus tulisan-tulisan komputer kebanyakan adalah pengalaman sendiri

Popular posts from this blog

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…