Skip to main content

Rajawali Emas 7 - Kho Ping Hoo

Berbeda dengan belasan tahun yang lalu ketika Hoa-san-pai masih diketuai oleh Lian Bu Tojin sekarang Hoa-san-pai tidak lagi mempunyai murid-murid muda yang bukan tojin. Orang-orang kelihatan berlatih ilmu silat di situ semua adalah tosu-tosu Hoa-san-pa

belaka. Para tosu amatlah maju kalau dibandingkan dengan dahulu. Dahulu para tosu Hoa-san-pai kurang memperhatikan pelajaran ilmu silat yang agaknya "diborong" oleh murid-murid yang bukan tosu. Akan tetapi sekarang para tosu itu lekas kelihatan amat maju dalam pelajaran ini. Ilmu silat yang mereka mainkan amat baik dan gerakan mereka menunjukkan latihan matang.

Tujuh belas tahun bukanlah waktu singkat untuk mematangkan ilmu silat bagi para murid Hoa-san-pai yang tadinya memang sudah memiliki kepandaian dasar. Apalagi yang melatih mereka adalah Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa, suami isteri yang sudah mewarisi ilmu silat Hoa-san-pai, terutama sekali ilmu pedangnya. Juga Thio Ki yang sekarang sudah menjadi tosu itu amatlah maju, merupakan murid kepala dan kini bahkan seringkali mewakili Ketua Hoa-san-pai untuk melatih para tosu di pelataran belakang kuil.

Thio Ki yang sudah menjadi tosu mempunyai nama pendeta Thian Beng Tosu dan ia merupakan tosu yang amat tekun mempelajari ilmu kebatinan untuk menghibur hatinya yang tertekan hebat.

Patut dikasihani nasib Thio Ki. Kalau ia terkenang kepada isterinya, Lee Giok yang menurut anggapannya sudah terbunuh oleh Kwa Hong, hatinya menjadi perih dan hanya dengan membaca kitab-kitab Agama To yang kedukaannya dapat terhibur. Berbeda dengan Thio Ki yang sudah menjadi tosu, Kwa Tin Siong tidak masuk menjadi tosu. Hal ini adalah karena ia mempunyai isteri, maka biarpun ia sudah menjadi Ketua Hoa-san- pai, namun ia tetap menjadi "orang biasa" dan bukan pendeta. Oleh karena itu pula, sebagai ketua umum Hoa-san-pai, ia mengangkat Thian Beng Tosu (Thio Ki) menjadi ketua bagian Agama To, dibantu oleh beberapa orang tosu tua yang menjadi ahli dalam keagamaan ini. Kwa Tin Siong sendiri hidup rukun damai dengan isterinya dan puteranya, pekerjaannya sehari-hari selain memimpin para tosu Hoa-san-pai dalam ilmu silat, juga sering kali tampak ketua ini bekerja di sawah ladang bersama para tosu lainnya.

Seperti juga halnya dengan keadaan apa saja di jagat ini, bahwa segala sesuatu takkan kekal adanya, takkan ada hujan atau terang tiada akhir, takkan pula ada kedukaan ataupun kesenangan tiada akhir. Selama Kwa Tin Siong menjadi Ketua Hoa-san-pai, memang keadaan di puncak bukit itu tampak aman tenteram, penuh damai yang menyamankan hati. Pada hari yang amat sejuk hawa udaranya, amat nyaman cahaya matahari pagi menembusi halimun gunung, amatlah tak tersangka-sangka akan datang hal-hal yang mengganggu ketenteraman Hoa-san-pai.

Gangguan itu mula-mula terjadi di malam hari tanpa ada seorang pun anggauta Hoa-san- pai yang tahu. Ketika pagi-pagi hari para tosu mulai dengan pekerjaan mereka sehari- hari, tiba-tiba seorang tosu berseru heran sambil menuding ke arah atas kuil. Seperti biasa, di puncak kuil itu berkibar bendera Hoa-san-pai yang berdasar kuning dengan tuiisan biru, tanda dari perkumpulan Hoa-san-pai. Akan tetapi sekarang bendera itu agak turun dan di puncak tiang bendera berkibar sebuah bendera kecil yang asing. Akan tetapi dari bawah jelas terlihat bahwa bendera itu adalah sebuah bendera berdasar warna merah

dengan sulaman macan hitam. Menaruh bendera di atas bendera Hoa-san-pai hanya mempunyai satu arti, yaitu orang hendak menghina dan merendahkan Hoa-san-pai. Ribut-ribut di luar kuil ini menarik hati Thian Beng Tosu yang segera berlari keluar. Melihat bendera kecil itu, wajahnya segera berubah merah dan ia mengepal tinjunya menahan marah.

Tak lama kemudian Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa juga berlari keluar diikuti oleh seorang pemuda berusia delapan belas tahun yang berwajah tampan dan bersikap halus. Dia ini bukan lain adalah Kwa Kun Hong. Mereka diberi iaporan oleh seorang tosu tentang peristiwa itu, maka tergesa-gesa keluar untuk menyaksikan.

Kwa Tin Siong sendiri, juga isterinya, tidak mengenal bendera merah dengan gambar harimau hitam itu. Akan tetapi ketika Kwa Tin Siong melihat sikap Thian Beng Tosu (Thio Ki) yang nampak marah, ia segera bertanya,

"Apakah kau mengenal bendera itu? Apa artinya ini?"

Thian Beng Tosu segera menjawab pertanyaan supeknya, "Teecu mengenal baik, tak nyana sama sekaii bahwa kumpulan bangsat itu berani mengejar teecu (murid) ke sini, malah, berani menghina Hoa-san-pai!" Ia menarik napas panjang. "Hemmm, tentu mereka telah mempunyai pimpinan orang pandai sehingga pada malam hari tanpa kita ketahui sama sekali dapat memasangkan bendera itu."

Liem Sian Hwa adalah seorang tokoh Hoa-san-pai yang semenjak dulu berwatak keras

dan gagah. Kedua telinganya sudah merah ketika ia menyaksikan penghinaan bendera itu, sekarang mendengar kata-kata murid keponakannya ia menjadi makin panas hatinya. "Huh, memasang bendera begitu saja apa sih hebatnya?" Baru saja ia berkata demikian, tubuhnya sudah melesat ke atas dengan gerakan ringan sekali dan tahu-tahu ia sudah meloncat tinggi di puncak tiang bendera. Tangan kirinya bergerak menyambar tiang bendera sehingga tubuhnya berjungkir-balik dengan lurus, kemudian tangan kanannya membetot bendera kecil itu terlepas dari tiang. Kemudian dengan sebelah tangan pula ia menaikkan bendera Hoa-san-pai di puncak tiang seperti semula. Setelah semua ini ia lakukan dengan berjungkir balik dan dengan tangan kiri menahan tubuh di puncak tiang itu, ia menekan tiang dan tubuhnya melayang turun lagi, hinggap di atas tanah tanpa mengeluarkan suara dan mukanya sedikitpun tidak menunjukkan tanda bahwa ia telah mempergunakan banyak tenaga.

Para tosu berseru kagum dan memuji Sang Nyonya Ketua yang memang patut dipuji. Tidak percuma Liem Sian Hwa mendapat julukan Kiam-eng-cu (Bayangan Pedang) karena memang gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang dimilikinya sudah mencapai tingkat tinggi sekali. Kun Hong bersorak memuji, "Hebat

....! Ibu seperti burung saja, ah... bukan main indahnya gerakan Hui-liong Cai-thian (Naga Terbang ke Langit) tadi!"

Seketika wajah Liem Sian Hwa dan Kwa Tin Siong berubah terheran-heran. Mereka saling pandang, kemudian keduanya memandang kepada putera mereka dengan mata penuh selidik dan penuh pertanyaan. Tentu saja mereka terheran-heran karena bagaimana

pemuda itu bisa tahu bahwa gerakan tadi adalah gerakan Hui-liong Cai-thian? Padahal di antara para tosu, kiranya hanya Thian Beng Tosu seorang yang tahu akan ilmu meloncat Hoa-san-pai yang sukar ini, sedangkan Kun Hong sama sekali tidak pernah belajar silat semenjak kecilnya. Hampir saja Kwa Tin Siong mengajukan pertanyaan, akan tetapi perhatian mereka tertarik oleh seruan Thian Beng Tosu, "Ah, surat apakah yang tertempel di bendera itu?"

Semua orang melihat. Benar saja. Pada bendera kecil itu terdapat sehelai surat yang ditempel dengan tusukan jarum. Liem Sian Hwa menyerahkan bendera, berikut surat kepada suaminya yang segera mengambil surat itu dan membacanya. Setelah membaca, keningnya berkerut dan berkatalah Ketua Hoa-sanpai ini kepada semua tosu yang mengerumuni tempat itu.

"Gerombolan penjahat bermaksud buruk terhadap kita. Mulai saat ini kalian semua boleh terus bekerja seperti biasa, akan tetapi jangan berpisahan, harus berkelompok sedikitnya lima orang. Kalau ada orang asing naik ke gunung, jangan sembrono dan jangan mencari perkara. Langsung laporkan kepada kami."

Sambil berbisik-bisik dengan hati tegang para tosu itu ialu melanjutkan pekerjaan mereka. Kwa Tin Siong seanak isteri lalu masuk ke dalam mengajak Thian Beng Tosu.

"Ki-ji (Anak Ki)," Kata Kwa Tin Siong. Memang sudah biasa ia memanggil Thio Ki dengan sebutan anak Ki, maka sampai Thio Ki menjadi tosu pun masih disebut demikian. "Apakah kau mengenal penulis surat ini?" Ia menyerahkan surat kecil itu kepada Thian Beng Tosu yang segera membacanya.

Kalau dalam waktu dua belas jam Thio Ki tidak turun mengantarkan nyawanya ke Im- kan-kok, terpaksa kami tidak melihat muka Ketua Hoa-san-pai lagi dan menyerbu Hoa- san-pai. untuk mengambil nyawa Thio Ki.

Surat itu ditandai gambar harimau hitam dan tulisannya kasar lagi buruk, bukan tulisan seorang ahli. Membaca ini, seketika wajah Thio Ki atau sekarang bernama Thian Beng Tosu ini menjadi pucat, giginya beradu dan tangannya mengepal, surat itu diremasnya.

"Keparat betul Bhe Lam Si Macan Hitam itu!" katanya.

Thio Ki atau Thian Beng Tosu lalu bercerita. Dahulu sebelum ia menjadi tosu Hoa-san-

pai dan masih menjadi seorang piauwsu (pengawal barang) di Sin-yang, pernah pada suatu hari barang kawalannya dirampok oleh segerombolan perampok yang dipimpin oleh Hek-houw Bhe Lam. Seorang pembantunya tewas dan barang kawalan itu dirampas. Thio Beng Tosu atau dahulu masih bernama Thio Ki lalu bersama isterinya, Lee Giok, mendatangi sarang perampok itu dan setelah bertempur hebat, akhirnya mereka dapat mengalahkan Bhe Lam dan merampas kembali barang kawalannya. Bhe Lam berhasil melarikan diri setelah menderita luka berat.

'"Demikianlah, Supek. Agaknya Bhe Lam itu tidak melupakan urusan lama dan biarpun

teecu sudah menjadi tosu di sini, dia masih mencari dan hendak membalas dendam. Perkenankan teecu pergi menemuinya dan sekali ini teecu takkan tanggung-tanggung membasminya agar ia tidak mengacau ketenteraman dunia." Setelah berkata demikiah Thian Beng Tosu lalu bergerak hendak pergi mencari musuh besarnya,

Kwa tin Siong menggerakkan tangan mencegah. "Nanti dulu, jangan kau terlalu sembrono dan tergesa-gesa. Kalau dahulu dia pernah kaukalahkan dan sekarang berani datang menantang, sudah tentu ia mempunyai andalan yang kuat. Kalau tidak demikian, tak mungkin ia bersikap menantang. Pula, kalau hendak menuntut balas, mengapa harus sampai belasan tahun lamanya? Kita harus hati-hati dan jangan gegabah. Dengan mendatangi Hoa-san-pai, memasang bendera menghina bendera kita, itu saja menunjukkan bahwa ia memandang rendah kepada Hoa-san-pai. Setelah ia berbuat demikian jauh, bagaimana aku bisa tinggal diam saja?"

"Yang amat mengherankan adalah tempat ia menanti di Im-kan-kok," kata Liem Sian Hwa sambil mengerutkan keningnya. "Im-kan-kok adalah tempat suci yang juga menjadi tempat larangan bagi kita, kenapa musuh justeru menanti di sana? Thio Ki, kau harus berhati-hati, benar pendapat supekmu, kita semua harus menghadapi urusan ini bersama."

Tiba-tiba Kun Hong tertawa, "Orang itu tak tahu diri sekali berani mengganggu Hoa-san- pai. Twa-suko jangan takut, orang itu memberi waktu dua belas jam, tentu nanti tenga hari dia datang. Biarkan dia datang, hendak kita lihat bagaimana macamnya. Untuk mendatangi undangannya ke Im-kan-kok hanya akan membuat dia leluasa mengatur jebakan."

"Hush, kau tahu apa tentang urusan ini?" ibunya membentak.

Kwa Tin Siong teringat akan sesuatu dan ia lalu bertanya dengan suara bengis,

"Kun Hong, kau tadi tahu akan gerakan ibumu, dari mana kau tahu? Hayo bicara, jangan kau sembunyikan sesuatu dariku."

Leher Kun Hong mengkeret ketika ia dibentak ayahnya, wajahnya menjadi merah dan ia menjawab gugup, "Ah, tidak sekali-kali aku melanggar larangan Ayah. Aku tak pernah mempelajari ilmu silat, hanya aku telah membaca catatan Ayah dan Ibu tentang ilmu silat Hoa-san-pai. Mempelajari tidak boleh, kalau membaca kan tidak ada larangan, bukan? Aku memang suka membaca apa saja, Ayah."

Diam-diam Ketua Hoa-san-pai ini tertegun. Membaca begitu saja tanpa mempelajari prakteknya, namun sudah dapat melihat gerakan orang, benar-benar hal ini amat luar biasa dan membutuhkan kecerdikan yang jarang bandingannya. Ia kagum dan juga bangga sekali, akan tetapi mulutnya berkata, "Hemm, lain kali kau tidak boleh membaca segala macam kitab pelajaran ilmu silat"

"Baik, Ayah," kata Kun Hong sambil tunduk.

Karena menguatirkan keselamatan puteranya yang tidak pandai ilmu silat, Kwa Tin Siong hendak menyuruh puteranya itu tinggal saja di kamarnya, akan tetapi sebelum ia sempat mengeluarkan perintah, tiba-tiba seorang tosu masuk dan melaporkan bahwa ada tiga orang tosu tua yaitu Pak-thian Sam-lojin datang berkunjung. Wajah Kwa Tin Siong menunjukkan perasaan girang dan heran akan kunjungan yang tak tersangka-sangka ini. Tiga Orang Tua dari Utara itu adalah sahabat-sahabat baik mendiang gurunya, Lian Bu Tojin. Tentu saja kunjungan ini amat menyenangkan hatinya, apalagi di waktu Hoa-san- pai sedang menghadapi ancaman musuh. Dari tiga orang kakek yang berkepandaian tinggi itu dapat diharapkan bantuannya.

"Persilakan mereka masuk," katanya, lalu ia bersama isterinya, juga Thian Beng Tosu yang masih ingat akan nama tiga orang kakek itu segera menyambut di pintu ruangan.

Tak lama kemudian masuklah tiga orang kakek itu. Usia mereka sudah tua sekali, akan tetapi sikap mereka masih gagah. Tiga orang tosu yahg mengenakan pakaian longgar, dengan wajah keren dan tindakan kaki ringan, tanda bahwa mereka memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Melihat mereka, Kwa Tin Siong, isterinya dan Thian Beng Tosu segera menjura dengan hormat. Tiga orang kakek itu mengelus jenggot dan seorang di antara mereka yang tertua dan yang berjenggot panjang sekali segera berkata,

"Sudah lama kami mendengar bahwa Hoa-san-pai sudah berganti ketua. Menyesal kami tidak dapat datang ketika terjadi malapetaka di Hoa-san. Mula-mula memang kami ingin datang dan membalaskan sakit hati sahabat kami Lian Bu Tojin, akan tetapi kemudian kami mendengar bahwa Sicu telah menggantikan kedudukan mendiang sahabat kami itu. Betapapun juga, kami ingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa Hoa-san-pai sudah bangun kembali. Siapa kira di tengah perjalanan kami melihat adanya gerombolan orang jahat yang mengancam Hoa-san-pai. Apakah Sicu sudah mengetahuinya?"

Kwa Tin Siong mempersilakan para tamunya duduk lalu menghaturkan terima kasih. "Sam-wi Locianpwe benar-benar telah mencapaikan diri untuk memperhatikan keadaan Hoa-san-pai. Untuk budi kecintaan itu kami menghaturkan banyak terirna kasih. Memang benar seperti yang Locianpwe katakan tadi, ada segerombolan penjahat datang mengganggu, akan tetapi kiranya hal ini tak patut untuk membikin Sam-wi capai hati. Hanya urusan kecil saja."

Kui Tosu, yaitu tosu tertua daripada tiga kakek itu, mengerutkan alisnya yang sudah putih. Ia memang berwatak berangasan. "Hemm, Sicu sebagai murid dari Lian Bu Tojin sudah tentu telah mewarisi ilmu yang hebat dari Hoa-san-pai. Akan tetapi harap diketahui bahwa kepandaian tidak ada batasnya dan kiraku hari ini belum tentu kepandaian Hoa- san-pai akan dapat diandalkan untuk mengalahkan musuh. Tahukah Sicu siapa yang datang mengganggu?"

Diam-diam Kwa Tin Siong tidak senang mendengar ucapan ini. Dia adalah seorang gagah yang tak pernah takut menghadapi lawan, akan tetapi oleh karena tiga orang kakek ini datang sebagai tamu dan adalah sahabat-sahabat mendiang gurunya, ia menahan kesabaran dan bertanya,

"Yang saya ketahui hanya bahwa orang yang memimpin gerombolan pengacau itu bernama Bhe Lam, seorang penjahat Sin-yang berjuluk Hek-houw (Harimau Hitam). Penjahat cilik macam itu perlu apa diributkan?"

Tosu termuda dari tiga orang kakek itu yang bernama Lai Tosu tertawa bergelak, "Ha-ha- ha-ha! Kalau hanya harimau hitam saja apa artinya? Besar atau kecil kalau hanya Hek- houw saja tidak lebih daripada seekor kucing hitam. Ketahuilah, Kwa-sicu, di belakang si Harimau Hitam itu masih ada dua mahluk yang lebih menakutkan lagi. Kau tahu siapa mereka? Yang seorang adalah Kim-thouw Thian-li Ketua Ngo-lian-kauw dan yang ke dua adalah Toat-beng Yok-mo (Setan Obat Pencabut Nyawa)."

Kwa Tin Siong kaget bukan main mendengar nama-nama ini. Tentu saja ia sudah mengenal Kim-thouw Thian-li yang sudah berkali-kali membikin keruh keadaan Hoa- san-pai, malah wanita inilah yang mula-mula merusak Hoa-san-pai sehingga terjadi hal yang berlarut-larut dan permusuhan yang menjadi-jadi (baca cerita Ra|a Pedang). Kim- thouw Thian-li merupakan musuh besar Hoa-san-pai, berarti musuh besarnya. Kepandaian wanita itu memang hebat sekali, akan tetapi ia sama sekali tidak merasa gentar untuk menghadapinya. Yang membikin Ketua Hoa-san-pai ini kaget sekali adalah disebutnya nama Toat-beng Yok-mo. Kakek iblis itu sudah belasan tahun menghilang dari dunia kang-ouw, kenapa sekarang bisa muncul bersama Kim-thouw Thian-li membantu Hek-houw Bhe Lam?

Melihat kekuatiran di wajah tuan rumah, Bu Tosu orang ke tiga dari Pak-khia Sam-lojin dengan sombong berkata,

"Kwa-sicu tak usah kuatir, Kim-thouw Sian-li dan Toat-beng Yok-mo boleh menakuti orang lain, akan tetapi lihat saja, ada pinto bertiga di sini yang siap untuk meghancurkannya."

Kwa Tin Siong belum hilang kagetnya dan ia berkata, "Terima kasih atas janji Sam-wi untuk membantu kami. Akan tetapi benar-benar saya tidak mengerti mengapa Toat-beng Yok-mo dapat berada dengan mereka?"

"Ha-ha-ha, Kwa-sicu masih belum mendengar? Agaknya karena belasan tahun sibuk mengurus Hoa-san-pai, tidak tahu akan kejadian di dunia luar. Kakek tua bangka tukang obat itu tergila-gila kepada Kim-thouw Thian-li dan kabarnya ia telah memperisteri Ketua Ngo-lian-kauw itu. Ha-ha, benar-benar tua bangka tak tahu malu." kata Lai Tosu.

"Akan tetapi Sicu tak perlu merasa kuatir," sambung Kui Tosu tenang. "Biarkan mereka datang, kita atur jebakan untuk mereka. Para tosu supaya mengatur bai-hok (barisan terpendam) di sekeliling puncak, siap dengan senjata lengkap. Kami sudah melihat bahwa

gerombolan mereka hanya terdiri dari tiga puluh orang lebih. Kita menang banyak. Kita biarkan mereka masuk dan Sicu boleh menghadapi Bhe Lam sedangkan kami bertiga akan menggempur Toat-beng Yok-mo. Tentang Kim-thouw Thian-li, kami rasa cukup kalau dihadapi oleh isterimu dan murid-muridmu. Sementara itu, para tosu datang mengurung dan mengeroyok anak buah mereka yang tidak banyak jumlahnya itu. Dengan cara ini, kami rasa kita akan dapat membunuh mereka semua, jangan ada yang bisa lolos agar kelak mereka tidak mendatangkan bencana pula."

Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa mengangguk-angguk, setuju dengan rencana siatsat ini. Akan tetapi tiba-tiba Kun Hong berseru marah, "Tidak boleh

....! Tidak boleh, jahat sekali itu. Masa kita Hoa-San-pai harus membunuhi orang-orang itu? Tidak boleh, mana ada aturan manusia membunuh manusia lain? Ini perbuatan terkutuk, oleh Thian."

Semua orang kaget, apalagi Pak-thian Sam-lojin. Mereka menengok memandang kepada pemuda itu dengan heran.

"Kwa-sicu, siapakah orang muda ini?" tanya Kui Tosu.

"Dia adalah Kun Hong, anak kami yang bodoh," jawab Kwa Tin Siong dan ia sudah melototkan matanya untuk menegur anaknya. Akan tetapi Kui Tosu sudah mendahuluinya, bertanya dengan keren.

"Orang muda, kalau kau menganggap rencana kami, itu tidak boleh dijalankan, habis kalau menurut pikiranmu bagaimana baiknya menghadapi musuh-musuh yang akan menyerbu?"

"Ha-ha, bocah berlagak pintar!" kata Lui Tosu. "Apakah kau ingin agar mereka itu datang menyerbu dan membunuh kita semua?"

"Tidak demikian maksudku. Harap Sam-wi Totiang tidak salah sangka," jawab Kun Hong, suaranya tetap dan tegas. "Kalau ada seorang gila memaki-maki seorang waras, lalu si waras itu balas memaki-maki si gila, lalu bagaimana perbedaan antara mereka? Mana si waras dan mana si gila? Demikian pula, kalau ada orang jahat berencana hendak membunuh kita, lalu kita berencana pula untuk membunuh mereka, bukankah watak kita tiada bedanya dengan orang jahat itu? Mereka hendak membunuh kita, kita pun hendak membunuh mereka. Siapa di antara kita yang jahat? Siapa benar siapa salah?"

Kwa Tin Siong sendiri melengak mendengar omongan puteranya ini. Memang ia tahu bahwa watak puteranya amat keras dan juga amat berani dalam mengemukakan pendapatnya, akan tetapi tidak disangkanya akan seberani ini. Tiga orang kakek itu saling pandang dengan terheran-heran. Kui Tosu lalu membantah

"Tentu ada perbedaannya! Kita hendak membunuh mereka dengan dasar hendak membasmi orang-orang jahat."

"Apa Totiang mengira bahwa mereka pun tidak mempunyai dasar dengan kehendak

mereka membunuh kita? Setiap perbuatan tentu ada dasarnya, yaitu dasar untuk kemenangan sendiri, untuk kebaikan sendiri. Pendapat seorang takkan sama, dasar yang dipakai orang tidak sama pula. Semua orang memperebutkan kebenaran, kebenaran sendiri tentu."

"Habis, kalau menurut pendapatmu, bagaimana?" Kui Tosu mulai marah. Karena bocah ini adalah putera Ketua Hoa-san-pai, maka ia mau melayaninya, kalau bukan putera Kwa tin Siong, tentu tidak sudi bicara dengannya.

"Maaf, Totiang. Harap Totiang, juga Ayah dan Ibu dan para susiok dan suheng suka menjawab dulu pertanyaanku. Kalau kukatakan bahwa yang berhak atas sesuatu benda adalah pembuatnya, apakah salah kata-kataku ini?"

"Tentu saja begitu," jawab Thian Beng Tosu karena yang lain-lain tidak menjawab.

"Nah, Suheng sudah menjawab dan membetulkan kata-kataku. Yang berhak atas sesuatu adalah pembuatnya. Lalu, siapakah yang membuat manusia ini hidup di dunia? Salahkah kalau kukatakan bahwa Tuhan yang memberi hidup?" Kembali pemuda ini berhenti dan memandangi mereka dengan sepasang matanya yang bersinar tajam.

"Benar pula, Kun Hong," jawab Thian Beng Tosu.

"Nah, kalau kita semua mengakui bahwa yang memberi hidup adalah Tuhan, berarti hidup kita ini millk Tuhan. Oleh karena itu pula, hanya Tuhanlah yang berhak untuk mengakhiri hidup kita, jadi hanya Tuhan pula yang berhak membunuh manusia. Kalau kita sudah tahu akan hal ini, mudah saja bagi kita menjawab. Perbuatan membunuh itu baik atau jahat?"

Tidak ada yang menjawab, Kun Hong penasaran dan menghadapi ayahnya.

"Ayah selalu mengajar agar supaya aku hanya mengatakan apa yang menjadi isi hatiku. Mengapa sekarang pertanyaanku tidak ada yang menjawab? Ayah, bukankah menurut sebab-sebab tadi, membunuh itu baik ataukah jahat?"

"Memang, membunuh adalah perbuatan yang tidak baik," akhirnya ayahnya berkata perlahan.

Mata Kun Hong berseri-seri dan bersinar-sinar. "Nah, kalau perbuatan membunuh ini termasuk perbuatan jahat, mengapa kita merencanakan hendak membunuh orang malah? Mengapa kita hendak membalas kejahatan dengan kejahatan pula? Kalau orang lain yang hendak membunuh termasuk golongan penjahat, habis kita ini apa kalau juga meniru perbuatan mereka? Membalas perbuatan baik dengan kebaikan pula adalah sikap seorang budiman. Membalas kejahatan dengan kebaikan hanya mungkin dapat dilakukan oleh alam, hanya mungkin dapat dilakukan oleh Tuhan. Hanya manusia yang sudah dapat menyatukan diri dengan alam saja yang akan mencapai kebajikan ini, yaitu membalas kejahatan dengan kebaikan. Akan tetapi seorang manusia bijaksana, seorang budiman

biarpun belum dapat membalas kejahatan dengan kebaikan, sedikitnya harus dapat membalas kejahatan dengan keadilan." Semua orang di sini maklum bahwa yang dikemukakan oleh pemuda itu adalah ajaran-ajaran dalam agama dan filsafat yang memang telah dipelajarinya semenjak ia kecil.

"Semua orang telah mempelajari kebenaran, akan tetapi tidak berani membela dan mempertahankan kebenaran yang dipelajarinya itu. Ayah, dan ibu, dan semua susiok dan suheng. Hoa-san pai takkan bernama kalau dibangun dengan darah dan pembunuhan. Hoa-san-pai adalah perkumpulan untuk menuntun orang-orang mempelajari Agama Tao agar manusia dapat membersihkan diri daripada kejahatan, bagaimana mungkin mengajar orang membersihkan diri dari kejahatan dengan jalan terjun ke dalam kejahatan itu sendiri?"

Melihat pemuda ini makin bersemangat, Kwa Tin Siong merasa tidak enak hati dan ia lalu membentak, "Kun Hong, kau ini anak kecil hendak memberi pelajaran kepada orang- orang tua? Soal begitu saja, kita semua sudah tahu, apalagi Sam-wi Locianpwe ini. Yang kau kemukakan itu adalah pelajaran-pelajaran yang masih rendah dan semua juga sudah mengetahuinya."

Tahu tidak sama dengan mengerti, malah mengerti pun tidak sama dengan sadar, Ayah. Tahu saja tanpa mengerti isinya percuma. Mengerti sekalipun tanpa kesadaran takkan ada gunanya. Yang penting tahu, lalu mengerti akan isinya, sadar untuk menerapkan pengertian ini dengan batinnya, kemudian disusul dengan ketaatan bulat terhadap pengertian ini. Apa gunanya kalau kita hanya tahu dan mengerti bahwa membunuh itu jahat, akan tetapi kita malah nekat melakukannya? Pendeknya, anak tidak setuju kalau Hoa-san-pai mempunyai orang-orang yang suka menjadi pembunuh sesama manusia."

"Hemm, hemmm, aneh sekali anakmu, Kwa-sicu!" kata Kui Tosu dengan muka merah. Tosu tua yang berangasan ini tak dapat menahan lagi kesabarannya. "Eh, kongcu cilik, habis kalau menurut pendapatmu, bagaimarna kita akan, menghadapi gerombolan Harimau Hitam itu?"

"Alam mempunyai hukum yang diatur oleh Tuhan. Manusia pun mempunyai hukum yang diatur oleh pemerintahan negara. Kita sebagai manusia harus tunduk kepada hukum pula. Masyarakat telah diatur dengan adanya petugas-petugas yang berkewajiban mengatur hukum-hukum itu. Kalau ada hal yang tidak beres dan melanggar hukum, merekalah yang wajib mengurusnya. Sekarang gerombolan itu kalau sudah datang ke sini, kita ajak bicara secara aturan. Kalau mereka tidak mau terima uluran dan hendak melanggar hukum, biar kita laporkan kepada lurah dan para petugas di dusun, tak jauh di kaki gunung sana."

Meledak suara ketawa tiga orang tosu tua itu. ketika mendengar omongan ini. Kwa Tin Siong menjadi amat merah mukanya karena sikap Kun Hong ini jelas membuka kenyataan bahwa puteranya itu tidak tahu-menahu tentang dunia persilatan, di mana hukum yang dipakai adalah hukum persilatan yang jauh bedanya dengan hukum pemerintah.

"Kwa-sicu, kau benar-benar aneh sekali mendidik anakmu seperti ini! Ha-ha-ha, tidak nyana mendiang Lian Bu Tojin mempunyai cucu murid seperti ini." Kun Tosu tertawa- tawa sambil memegangi perutnya saking geli.

"Locianpwe, harap maafkan puteraku, memang semenjak kecil tak pernah diberi pendidikan ilmu silat, melainkan ilmu surat dan filsafat. Betapapun juga, menurut pendapatku yang bodoh, jauh lebih baik tidak tahu akan ilmu silat sehingga jauh daripada bermusuh-musuhan seperti dalam penghidupan kita orang-orang persilatan."

Pada saat itu terdengar suara nyaring di luar pintu, suara wanita yang berteriak-teriak, "Hayo, mana dia si orang she Kwa? Suruh dia lekas keluar menyerahkan pedang Hoa-san Po-kiam dan kepalanya."

Semua orang kaget sekali. Bagaimana bisa ada seorang musuh datang begitu saja tanpa diketahui oleh para penjaga yang sudah diatur serapi-rapinya? Kwa Tin Siong menyangka bahwa yang datang tentulah Kim-thouw Thian-li, maka ia lalu melangkah keluar, diikuti semua orang termasuk Pak-thian Sam-lojin.

Setelah mereka tiba di luar, semua orang ini dibikin bengong saking herannya. Bukan Kim-thouw Thian-li yang berdiri di situ, melainkan seorang gadis tanggung berusia sekitar tujuh belas tahun, yang berdiri dengan tegak di tengah pelataran depan kuil. Gadis ini cantik sekali, sepasang matanya tajam bergerak-gerak cepat memandang ke kanan kiri, mulut kecil yang berbibir merah itu manis tersenyum-senyum setengah mengejek. Pakaiannya sederhana sekali, dari kain kasar dan dengan jahitan sederhana seperti biasanya pakaian gadis-gadis gunung, juga tidak kelihatan membawa senjata apa-apa sehingga benar-benar seperti seorang dara gunung yang cantik manis sekali. Karena ia tidak bersenjata, maka ia mirip seorang gadis yang kurang waras pikirannya. Kalau tidak demikian, bagaimana seorang gadis seperti dia berani bicara tidak karuan di Hoa-san-pai? Berbeda kiranya kalau dia membawa senjata, tentu dia merupakan seorang gadis kang- ouw yang berkepandaian silat maka berani membuka suara besar.

Melihat banyak orang keluar dari kuil dan sikap mereka rata-rata gagah, gadis itu kembali berteriak, suaranya nyaring, biarpun merdu dan halus namun jelas bernada keras mengancam, "Mana Ketua Hoa-san-pai she Kwa?"

Dengan tenang dan sabar Kwa Tin Siong melangkah maju dan balas bertanya, "Nona siapakah dan dari mana? Ada keperluan apakah kau mencari Ketua Hoa-san-pai she Kwa?"

Dengan pandang matanya yang tajam gadis itu memandang Kwa Tin Siong penuh selidik, lalu berkata, "Sudah kukatakan tadi, dia harus menyerahkan Hoa-san Po-kiam kepadaku, juga kepalanya. Pedang dan kepalanya harus kubawa pergi." Jawaban ini demikian sewajarnya sehingga para pendengarnya menjadi bengong. Banyak tosu menganggap bahwa gadis ini tentu miring otaknya, kalau tidak demikian, masa mengajukan permintaan yang begitu gila?

Kwa Kun Hong menjadi marah. Dengan mata melotot ia melangkah maju dan berdiri dekat sekali di depan gadis itu. Lagaknya seperti seorang guru memarahi muridnya yang goblok. Telunjuknya menuding ke arah muka yang cantik.

"Nona cilik, apakah kau tidak pernah diajar orang tuamu? Ucapan apa yang kaukeluarkan itu? Sungguh tidak patut. Mana ada aturan orang seperti kau ini hendak membunuh orang dan minta kepalanya? Ah, dosa... dosa..., benar-benar kau berdosa besar sekali. Apa kau tidak takut ditangkap oleh yang berwajib dan dijebloskan dalam penjara? Kalau terjadi demikian, aduh kasihan sekali kau yang masih begini muda."

Gadis muda itu nampak bingung dan memandang kepada Kun Hong dengan tertarik. "Penjara? Apa itu? Yang berwajib itu siapa? Kenapa aku hendak ditangkap?"

Kun Hong mengira bahwa gadis itu tentu takut dengan gertakannya, maka hatinya menjadi girang. "Nah, belum apa-apa sudah takut, kau. Maka jangan sembarangan bicara. Yang berwajib itu tentu saja petugas pemerintah yang menjadi penegak hukum. Penjara itu adalah tempat orang-orang jahat dihukum. Kau masih muda, seorang gadis yang semestinya bersikap lemah lembut dan membantu pekerjaan ibu di rumah. Aku kasihan sekali kepadamu dan sungguh mati aku tidak ingin melihat kau sampai ditangkap dan dimasukkan penjara." Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa hanya menarik napas panjang menyaksikan sikap putera mereka yang tentu dianggap tolol oleh semua orang itu, akan tetapi karena gadis itu pun kelihatannya bodoh, maka mereka itu mendiamkannya saja.

Tiba-tiba gadis muda itu kelihatan marah. "Siapa berani menangkap aku? Aku tidak takut. Kau ini... kau menakut-nakuti aku. Apakah kau she Kwa?"

Kun Hong tersenyum lebar. "Eh, eh, kiranya kau sudah mengenal aku? Di mana kita pernah bertemu? Bagiku, mimpi pun belum pernah bertemu dengan kau yang lucu ini."

"Siapa pernah bertemu dengan engkau? Apakah kau she Kwa?"

"Kalau belum pernah bertemu, bagaimana kau mengenalku dan mengerti bahwa aku she Kwa? Aneh sekali, aku memang betul she Kwa."

Secepat kilat tangan gadis itu bergerak dan tahu-tahu leher baju Kun Hong telah ditangkapnya dan sekali tarik Kun Hong sudah berada dalam kekuasaannya. Semua orang kaget, Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa sudah bersiap menolong puteranya. Akan tetapi gadis itu hanya mengancam.

"Apakah kau Ketua Hoa-san-pai?"

Kun Hong kaget bukan main, lalu berkata gemas, "Kau ini wanita apa laki-laki? Tenagamu amat besar dan kau tarik-tarik aku mau apa sih?"

"Kalau kau Ketua Hoa-san-pai akan kupenggal kepalamu!"

Kun Hong meleletkan lidahnya mengejek. "Kaukira aku takut dengan ancamanmu? Andaikata aku benar-benar Ketua Hoa-san-pai, tentu aku akan mengaku dan tidak takut kausembelih seperti ayam. Sayangnya aku bukan Ketua Hoa-san-pai."

Gadis itu melepaskan leher bajunya dan mendorongnya perlahan, akan tetapi dorongan

ini cukup membuat Kun Hong terlempar dan terguling dan berkata, "Benar-benar kau jahat sekali, tak tahu dikasihani orang!"

Gadis itu mengomel, "Syukur kau bukan Ketua Hoa-san-pai, aku tidak senang kalau harus membunuh orang lemah seperti kau. Tak mungkin lagi kalau kau Ketua Hoa-san- pai, menurut keterangan ibu Ketua Hoa-san-pai jahat. Kau... tak mungkin jahat, kau laki- laki lemah tak berguna."

Kun Hong hendak membantah lagi akan tetapi Kwa Tin Siong menariknya ke belakang lalu menghadapi gadis itu. Suaranya keren ketika ia bertanya, "Nona, sebenarnya kau ini siapa dan apa kehendakmu mengacau di Hoa-san-pai?"

"Apakah kau she Kwa? Dan siapa Ketua Hoa-san-pai?"





"Betul, akulah Kwa Tin Siong Ketua Hoa-san-pai."

Gadis itu memandang tajam, tampaknya ragu-ragu. "Kau pun tidak pantas menjadi orang amat jahat. Jangan kau membohong. Kalau benar kau orang she Kwa Ketua Hoa-san-pai, mana pedang pusaka Hoa-san Po-kiam?"

Kwa Tin Siong tersenyum. Sikap gadis cilik itu amat menarik hatinya, biarpun aneh dan agak sombong, namun lucu dan banyak memiliki sifat-sifat menimbulkan " rasa sayang. Ia mencabut Hoa-san Po-kiam sambil berkata, "Inilah Hoa-san Po-kiam. Nah, percayakah kau sekarang bahwa aku adalah Ketua Hoa-san-pai? Sekarang katakanlah, kau ini bernama siapa dan sebetulnya apa yang menyebabkan kau bersikap begini aneh?"

Mendadak gadis itu menggerakkan kedua tangannya dan menyerang Ketua Hoa-san-pai

itu dengan pukulan-pukulan yang cepat bertubi-rtubi. Kwa Tin Siong kaget bukan main. Bukan kaget karena diserang, baginya sudah terlalu biasa menghadapi serangan-serangan mendadak. Akan tetapi ia kaget dan heran sekali melihat cara menyerang dari gadis itu. Melihat gerakan lengan kiri yang pertama-tama memukul dadanya, tak salah lagi itu adalah gerak tipu Burung Hong Mematuk Hati dari ilmu silat Hoa-san-pai. Akan tetapi digerakkan amat aneh dan dengan kecepatan luar biasa sehingga hampir saja dadanya kena pukul. Sebelum ia kehilangan kagetnya setelah berhasil mengelak, serangan ke dua sudah tiba pula. Kali ini juga sebuah gerak tipu dari ilmu silat Hoa-san-pai yang disebut Sepasang Naga Mengejar Awan. Lagi-lagi ia melengak dan repot sekali menggunakan tangan kirinya menangkis sambil membuang diri ke belakang karena sepasang kepalan gadis itu bergerak terlalu cepat dan juga aneh sekali. Dia adalah Ketua Hoa-san-pai, semenjak kecil sudah melatih diri dengan ilmu silat Hoa-san-pai dan sudah hafal, malah

ilmu silat ini sudah mendarah daging dalam dirinya. Akan tetapi mengapa diserang dua kali dengan tipu dari ilmu silat ini ia menjadi repot sekali? Yang hebat adalah perubahan- perubahan yang susul-menyusul dari serangan gadis itu. Karena begitu Kwa Tin Siong membuang diri ke belakang, tahu-tahu gadis itu sudah menyerangnya lagi, kini dengan gerak tipu yang amat dahsyat, yaitu yang disebut Harimau Sakti Menerkam Kuda. Dengan kedua tangan terbuka gadis itu sudah meloncat dan menyambar ke arah punggungnya dengan jari-jari tangan terbuka.

Tentu saja Kwa Tin Siong merasa tidak enak untuk balas menyerang seorang gadis cilik seperti itu. Apalagi gadis itu ternyata selalu mempergunakan jurus-jurus dari ilmu silat Hoa-san-pai dalam menyerangnya. Akan tetapi karena diam-diam ia mengakui bahwa gerakan gadis ini agak berbeda dengan ilmu silatnya sendiri walaupun jurus-jurus itu sama benar, malah diam-diam ia terkejut karena daya penyerangan gadis cilik ini amat dahsyat, ia lalu mengambil keputusan untuk memberi hukuman sedikit kepadanya. Melihat gadis itu menerjangnya dengan gerakan Harimau Sakti Menerkam Kuda, ia membiarkan gadis itu sudah melayang dekat, lalu tiba-tiba ia menggerakkan tangan kiri menangkis ke depan dengan pengerahan tenaga Iwee-kangnya.

Terdengar seruan kaget dari kedua pihak. Gadis itu kaget sekali ketika tangan kanannya tergetar dalam pertemuan dengan tangkisan Ketua Hoa-san-pai itu sampai seluruh tubuhnya ikut tergetar, akan tetapi, Kwan Tin Siong kaget bukan main ketika dalam keadaan seperti itu, tak tersangka-sangka sama sekali tangan kiri gadis itu sudah menotok ke arah pergelangan tangan kanannya yang mememegang pedang dan sekaligus dapat merampas pedang itu dari tangannya.

Merah kini wajah Kwa Tin Siong. Pedang pusaka Hoa-san-pai dapat terampas dari tangan Ketua Hoa-san-pai, benar-benar hal ini merupakan hal yang amat memalukan. Ia harus mengakui bahwa gerakan-gerakan gadis ini dalam ilmu silat Hoa-san-pai amat mahir dan juga amat aneh, akan tetapi perampasan pedang tadi terjadi karena ia tidak menyangka sama sekali dan karena ia sudah banyak mengalah terhadap gadis muda itu.

"Bocah tak tahu diri! Kau benar-benar makin kurang ajar. Hayo kau kembalikan pedangku." katanya keren.

Gadis muda itu menjebirkan bibirnya yang merah. "Pedang ini aku yang berhak. Karena aku merasa bahwa bukan kau orang yang kumaksudkan, maka kau tidak kubunuh.. Orang yang kumaksudkan itu biarpun she Kwa juga, akan tetapi jauh lebih jahat dari padamu."

Diam-diam hati Kwa Tin Siong berdebar. Tak salah lagi, tentu yang dimaksudkan oleh gadis ini adalah Kwa Hong.

"Kau siapakah? Siapa namamu dan siapa orang tuamu?"

"Namaku Li Eng, orang tuaku... hemmm, mereka tidak ada sangkut-pautnya dengan urusanku ini, kau tak usah mengenal mereka." Setelah berkata demikian, gadis itu menengok ke belakang dan agaknya takut-takut.

"Ha, kau bocah nakal!" tiba-tiba Kun Hong berseru sambil tertawa. "Aku tahu sekarang! Kau tentu minggat di luar tahunya orang tuamu, maka kau tidak berani menyebut nama mereka karena takut kami memberi tahu orang tuamu."

Gadis ini nampak makin ketakutan "Jangan .... " katanya seperti anak kecil ditakut-takuti.

"Jangan katakan kepada orang tuaku...!"

Kun Hong tertawa menggoda. "Nah, begitu baru anak baik, takut kepada orang tua. Hayo lekas kau kembalikan pedang ayah kalau kau tidak mau kelak dijewer telingamu oleh ibumu."

Gadis itu ragu-ragu. "Tapi... tapi... kata ibu... pedang ini adalah hak ayah ibu dan... dan .... "

"Berikan, kalau tidak awas, kelak kuberitahukan ayah ibumu." Kun Hong mengancam. "Tidak boleh mempergunakan pedang untuk membunuh orang."

"Aku tidak membunuh... boleh kau bawa dulu pedang ini, tapi aku harus mencoba dulu sampai di mana hebatnya kepandaian Ketua Hoa-san-pai, mengapa dia berani menghina orang lain. Bawalah, tapi jangan kauberikan kepada siapapun juga."

"Nah, begitu baru gagah. Memang sudah sepantasnya kalau kau hendak mencoba kepandaianmu. Tanpa pedang ini mana kau mampu mengalahkan ayahku? Baik, kubawa pedang ini dan kau boleh coba-coba dengan ayah. Kalau kau kalah, kau harus mengaku semuanya dan minta ampun atas kekurangajaranmu."

"Huh, enak saja. Mana aku bisa kalah? Kalau aku menang, pedang itu harus kaukembalikan kepadaku dan Ketua Hoa-san-pai harus meninggalkan Hoa-san."

"Ha-ha, boleh, boleh..,." kata Kun Hong yang tidak mau percaya kalau ayahnya akan kalah oleh gadis ini. "Gerakanmu ketiga-tiganya tadi salah semua. Agaknya kaupun mempelajari ilmu silat Hoa-san-pai, mana bisa menandingi ayah dalam ilmu silat ini? Gerakanmu pertama Burung Hong Mematuk Hati, kemudian disusul Sepasang Naga Mengejar Awan lalu yang terakhir tadi Harimau Sakti Menerkam Kuda semuanya salah dan aneh, jelas bukan ilmu silat Hoa-san-pai yang aseli, sama sekali tidak cocok dengan catatan ayah."

Lagi-lagi Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa melengak heran karena sekali lagi putera mereka membuktikan bahwa hanya dengan melihat catatan anak itu sudah dapat mengenal ilmu yang dimainkan oleh gadis aneh ini. Juga gadis itu terheran, tapi makin penasaran. Ia memberikan pedang Hoa-san Po-kiam kepada Kun Hong, lalu memasang kuda-kuda menghadapi Kwa Tin Siong.

"Kalau benar kau Ketua Hoa-san-pai, majulah hendak kulihat sampai di mana kepandaianmu," tantangnya.

Semenjak tadi Kwa Tin Siong sudah menaruh curiga kepada anak perempuan itu. Tak salah lagi bahwa gerakan-gerakannya tadi adalah Hoa-san Kun-hoat, akan tetapi bagaimana gerakannya demikian aneh? Memang betul Kun Hong, gerakan-gerakan itu agak berbeda dan menurut pandangannya sendiri adalah dilakukan dengan keliru, akan tetapi harus ia akui bahwa kekeliruan itu justeru agaknya memperhebat daya penyerangannya. Ia menjadi ragu-ragu. Siapakah gadis ini dan apa maksud kedatangannya? Siapa yang menyuruhnya?

"Hayo, apakah kau takut kepadaku?" gadis itu menantang lagi melihat keraguan Kwa Tin Siong.

"Bocah tak tahu diri!" Liem Sian Hwa yang berwatak keras tak dapat menahan kemarahannya lagi. "Sudah jelas bahwa ilmu silatmu adalah ilmu silat Hoa-san-pai biarpun kurang matang. Bagaimana kau sekarang datang menantang Ketua Hoa-san-pai? Kau terhitung murid Hoa-san-pai juga, biarpun entah dari mana kau mencuri ilmu silat kami. Pergilah, kami tidak sudi berurusan dengan anak kecil."

Gadis itu memandang Sian Hwa dengan matanya yang jeli. "Hemm, kau cantik, seperti ibu. Apakah kau juga she Kwa? Kalau kau she Kwa, kau majulah."

"Hush, jangan kau kurang ajar kepada ibuku Kun Hong membentak dari samping.

"Aha, jadi dia ini ibumu? Kalau begitu juga tidak becus apa-apa seperti kau?"

Kui Tosu, orang pertama dari Pak-thian Sam-lojin, biarpun usianya sudah hampir tujuh puluh tahun, wataknya amat berangasan. Sebagai tamu terhormat dia menjadi marah sekali menyaksikan lagak bocah itu, maka sekarang sambil mengebutkan ujung lengan bajunya, ia melangkah maju dan berkata,

"Siancai... siancai... alangkah buruk Hoa-san-pai. Saudara Lian Bu Tojin tewas di tangan murid jahat, sekarang agaknya ada lagi murid Hoa-san-pai yang jahat dan datang-datang hendak mengacau perguruannya sendiri. Eh, bocah, kau minggatlah dari sini. Kami bersama Kwa-sicu sedang menghadapi urusan penting, tak perlu meladeni anak-anak macam kau ini."

Gadis itu memandang lucu, tertawa-tawa geli ketika melihat jenggot yang panjang dari Kui Tosu. "He-he, kau ini seperti kambing tua mengembik saja. Baru menghadapi penjahat kecil yang berkumpul di Im-kan-kok sudah ribut-ribut. Aku datang untuk berurusan dengan Ketua Hoa-san-pai she Kwa, kau ini kambing tua datang-datang menjual lagak mau apa sih?"

"Bocah kurang ajar!" Kui Tosu tak dapat menahan kemarahannya lagi, lalu tangan kirinya bergerak dan ujung lengan baju yang lebar itu menyambar merupakan tamparan keras ke arah kepala gadis itu.

"Eh-eh, kambing tua keluar tanduknya? Suruh dua ekor kambing tua temanmu itu maju semual" Gadis yang mengaku bernama Li Eng itu mengejek dan serangan yang hebat itu dapat ia elakkan hanya dengan penggeseran kaki ke belakang dan miringkan kepala saja. Hebatnya sambil mengelak ini kakinya yang kiri menyambar ke depan, ke arah lambung kakek itu.

Kui Tosu kaget sekali melihat tendangan yang amat cepat dan hebat ini. Ia sudah lama mengenal Lian Bu Tojin, maka ia pun sudah mengenal ilmu silat Hoa-san-pai. Jelas bahwa tendangan dan gerakan gadis ini adalah dari ilmu silat Hoa-san-pai. Andaikata yang mainkan ilmu silat itu adalah Lian Bu Tojin sendiri atau setidaknya Kwa Tin Siong, ia tidak akan merasa aneh kalau melihat kehebatan ilmu silat itu. Akan tetapi sekarang yang memainkannya hanya seorang gadis belasan tahun usianya, bagaimana bisa demikian cepat dan juga aneh? Serangan balasan dengan tendangan ini sebetulnya bukan pada tempatnya untuk melayani tamparan tadi, malah membahayakan si penendang sendiri.

Maka Kui Tosu juga tidak menyia-nyiakan kesempatan baik ini untuk memberi hajaran dan membikin malu gadis nekat ini. Tangan kirinya menyambar dari bawah dengan maksud menangkap kaki yang menendang untuk kemudian didorong supaya gadis itu jatuh.

Akan tetapi begitu tangan kakek ini menyentuh sepatu Li Eng, dengan kaget ia terhuyung mundur karena pada saat itu tanpa disangka-sangka sama sekali Li Eng dapat memutar kakinya yang langsung menendang ke pundak Kui Tosu. Serangan ini sama sekali tidak tersangka-sangka olehnya karena amat aneh, maka tanpa dapat ia hindarkan, pundaknya telah didorong ujung sepatu, biarpun tidak mengakibatkan luka parah, namun cukup membuat ia terhuyung-huyung dan kehilangan muka. Marah sekali kakek ini, tanpa berkata apa-apa ia lalu menerjang lagi sekarang mengeluarkan serangan yang hebat, Malah kakek ke dua Bu To-su, juga membentak sambil menyerang.

"Heh-heh, kambing tua yang satu lagi kenapa tidak maju?" Li Eng mengejek dan tahu-

tahu tubuhnya sudah berkelebatan ke sana ke mari, menyelinap di antara serangan kedua orang kakek dari utara itu. Bagaikan seekor burung walet yang amat gesit, tubuhnya berloncatan, menyelundup, mengelak dan semua itu digerakkan dengan langkah-langkah ilmu silat Hoa-san-pai yang amat sempurna sehingga Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa dua orang ahli Hoa-san-pai yang melihat itu, jadi saling pandang dengan penuh keheranan. Apalagi ketika Lie Eng menggunakan langkah-langkah Hoa-san Pat-kwa- pouw, tak terasa lagi Kwa Tin Siong berbisik kepada isterinya, "Dari mana dia mempelajari ini?"

Sementara itu, Kui Tosu dan Bu Tosu menjadi makin penasaran karena sudah beberapa belas jurus mereka menyerang, belum juga dapat mengalahkan gadis aneh itu. Jangankan mengalahkan, menyentuh ujung bajunya saja tak mampu, Melihat ini, Lai Tosu tiba-tiba teringat akan sesuatu dan ia maju pula sambil membentak,

"Siluman cilik, apakah kau anggauta rombongan di Im-kan-kok yang hendak mengacau Hoa-san-pai?"

"Hi-hik, kambing tua, kau majulah sekalian, mengapa banyak bertanya? Kalau benar aku anggauta rombongan, apakah kau takut?"

"Bagus, kalau begitu kami akan menangkapmu lebih dulu." Lai Tosu segera menyerbu

dan pertandingan menjadi makin ramai karena sekarang Lie Eng di keroyok tiga oleh Pak-thian Sam-lojin. Sungguh pemandangan yang amat lucu kalau melihat betapa seorang gadis belasan tahun dikeroyok tiga oleh tokoh-tokoh ternama seperti Pak-thian Sam-lojin.

Kwa Tin Siong mengerutkan keningnya. Dua macam perasaan mengaduk dan menguatirkan hatiriya. Pertama-tama, sungguhpun Pak-thian Sam-lojin adalah tamunya dan bertindak untuk membantu Hoa-san-pai, namun sungguh amat tidak layak kalau tiga orang tokoh persilatan mengeroyok seorang gadis cilik. Kedua kalinya, kalau betul gadis ini adalah anggauta rombongan yang menyerbu Im-kan-kok, benar-benar berbahaya sekali. Baru gadis cilik ini saja sudah begini lihai, apalagi yang lain-lain? Heran dia, bagaimana seorang seperti Hek-houw Bhe lam dapat mengajak seorang gadis selihai ini? Dan lebih aneh lagi, sekarang jelas baginya bahwa gadis ini benar-benar orang ahli silat Hoa-san Kun-hoat, sungguhpun gerakan-gerakannya amat aneh dan malah lebih cepat dan lebih lebat daripada ilmu silat Hoa-san-pai yang aseli.

Selagi ia hendak turun tangan mencegah dilanjutkannya pertempuran yang seimbang itu, tiba-tiba gadis itu mengeluarkan suara suitan panjang yang mengagetkan semua orang, apalagi setelah melihat betapa tubuh gadis itu lenyap berubah bayangan yang amat cepatnya. Tiga orang kakek itu mengeluarkan suara kaget, apalagi Kui Tosu dan Bu Tosu karena entah bagaimana, tahu-tahu gadis itu telah dapat menyambar jenggot mereka yang panjang, lalu melilitnya menjadi satu, dan menarik-narik jenggot itu sehingga dengan gerakan kacau-balau dua orang tosu ini terpaksa berjingkrakan. Mereka merasa kesakitan, apalagi sekarang Li Eng lari berputaran dan dalam keadaan kacau itu dia malah memutari tubuh Lai Tosu sehingga tosu ke tiga ini terbelit jenggot-jenggot itul Tiga orang tosu itu saling bertabrakan dengan kacau dan dua orang tosu yang dipegangi jenggotnya berteriak-teriak, "Lepaskan jenggot! Lepaskan jenggot!"

Keadaan benar-benar lucu dan terdengarlah suara ketawa Kun Hong, "Ha-ha-ha, lucu sekali"

"Apakah yang lucu?" Kwa Tin Siong membentak marah. "Bocah itu kurang ajar sekali." Ia melompat maju dan mencengkeram ke arah lengan tangan gadis itu sambil membentak, "Bocah kurang ajar, pergilah!"

Serangan Kwa Tin Siong ini hebat bukan main karena ia telah menggunakan jurus Dewa Menangkap Geledek. Akan tetapi ternyata bocah itu lebih lihai lagi karena dengan kecepatan luar biasa ia mencengkeram jenggot-jenggot itu sambil berseru keras. Seketika

itu jenggot-jenggot itu putus di tengah-tengah dan sebelum tangan Kwa Tin Siong menyentuhnya ia telah menyambitkan rambut jenggot dalam genggamannya itu ke arah muka Ketua Hoa-san-pai.

"Aiiih!" Kwa Tin Siong cepat membuang diri ke samping dan rambut jenggot itu meluncur cepat di samping kepalanya. Bukan main hebatnya tenaga dalam gadis itu yang mampu menyambitkan rambut menjadi senjata rahasia yang ampuh.

Sementara itu, Pak-thian Sam-lojin benar-benar marah. Hinaan ini membuat mereka seperti kebakaran jenggot dan mencak-mencak saking marahnya. Juga Lai Tosu yang tidak putus jenggotnya yang tadi tubuhnya terbelit jenggot kedua saudaranya sampai pakaiannya robek-robek, menjadi marah sekali. Seperti dikomando saja ketiganya menggerakkan tangan dan tahu-tahu tangan mereka telah memegang sebatang pedang. Dengan muka merah mata melotot dan sikap mengancam, ketiganya menghadapi Li Eng yang tersenyum-senyum mengejek.

Kwa Tin Siong hendak membuka mulut mencegah tiga orang tamunya itu mengeroyok gadis aneh tadi dengan pedang di tangan. Akan tetapi pada saat itu terdengar suara keras, "Aih, tiga orang tua bangka mengeroyok seorang bocah? Ha-ha, benar-benar tak tahu malu Pak-thian Sam-lojin menghadapi lawan yang patut menjadi cucunya!" Ucapan ini keras dan parau, lalu disusul melayangnya sesosok tubuh ke tengah pelataran itu. Ketika tubuh ini jatuh berdebuk di atas tanah kiranya itu adalah tubuh seorang tosu Hoa-san-pai yang sudah mati dan tubuhnya hitam hangus seperti terbakar.

Li Eng gadis aneh itu tertawa lalu sekali mengenjot tubuhnya ia telah meloncat ke atas sebuah pohon, duduk "nongkrong" di atas cabang pohon itu, duduk dengan enak seperti orang hendak menonton pertunjukan yang menarik hati. Sementara itu, dari luar pelataran datang beberapa orang aneh. Yang paling depan adalah seorang kakek tua yang bongkok, giginya sudah ompong dan matanya besar sebelah, pakaiannya tambal-tambalan dan tangan kanannya memegang sebatang tongkat hitam. Di sampingnya berjalan seorang wanita yang biarpun usianya sudah lima puluh tahun lebih namun pakaiannya masih mewah dan wajahnya masih cantik. Kwa Tin Siong dan isterinya, juga Pak-thian Sam- lojin segera mengenal dua orang ini yang bukan lain adalah Toat-beng Yok-mo dan Kim- thouw Thian-li, dua orang kang-ouw yang sudah tersohor karena kejahatan dan kelihaiannya. Toat-beng Yok-mo, sesuai dengan nama julukannya Yok-mo (Setan Obat), adalah ahli pengobatan yang tiada keduanya di dunia kang-ouw, kepandaiannya mengobati luar biasa sekali sehingga boleh dibilang segala macam penyakit ia sanggup mengobatinya sampai sembuh. Akan tetapi hebatnya, setelah orang yang diobati sembuh, ia tentu akan turun tangan membunuhnya. Inilah sebabnya mengapa ia mendapat julukan Toat-beng Yok-mo (Setan Obat Pencabut Nyawa). Adapun Kim-thouw Thian-li adalah Ketua Ngo-lian-kauw yang terkenal jahat, kejam, dan curang sekali.

Di belakang dua orang tokoh ini kelihatan seorang laki-laki tinggi besar dengan mata bundar, di punggungnya terlihat sebatang golok yang mengkilap dan besar. Kwa Tin Siong dan yang lain-lain tidak mengenal orang ini, akan tetapi Thio Ki atau Thian Beng Tosu segera mengenalnya. Itulah musuh lamanya, Hek-houw Bhe Lam. Di belakang tiga

orang ini masih terdapat sekelompok orang berjumlah tiga puluh dan rata-rata mempunyai air muka yang kasar dan kejam.

Dengan keberanian luar biasa, sebelum orang lain bergerak, Kun Hong sudah melangkah lebar menyambut kedatangan rombongan yang dikepalai oleh kakek bongkok seperti iblis itu. Dengan nada suara marah Kun Hong berkata,

"Apakah kalian ini yang menulis surat dan hendak mengacau Hoa-san-pai?"

Kim-thouw Thian-li yang semenjak dahulu berwatak genit dan gila laki-laki, melihat pemuda yang tampan ini menjadi tertarik hatinya dan memandang kagum. Ia selamanya kagum sekali melihat pemuda tampan yang memiliki keberanian besar seperti Kun Hong ini. Diam-diam ia mengira bahwa pemuda ini tentu seorang pendekar muda yang berkepandaian tinggi. Sementara itu, Toat-beng Yok-mo tertawa ha-ha-he-he lalu menjawab,

"Yang menulis surat adalah Bhe-sicu ini, aku hanya turut datang saja. Orang muda, kau mau apakah? Orang tidak memiliki ilmu silat seperti kau ini tak perlu maju. Heh-heh!" Sekali pandang dapat melihat bahwa Kun Hong tidak mengerti ilmu silat, hal ini saja sudah membuktikan ketajaman mata kakek ini.

"Aku tidak akan bicara tentang ilmu silat, juga tentang maksud kedatangan kalian biar kita bicarakan belakangan. Yang penting sekarang kita bicarakan tentang ini." Kun Hong makin marah ketika menudingkan telunjuknya ke arah muka tosu yang menggeletak di atas tanah dalam keadaan mengerikan itu. "Apakah kalian yang membunuh seorang saudara kami ini?"

" Toat-beng Yok-mo terkekeh geli dan bertukar pandang dengan Kim- thouw Thian-li yang makin kagum saja menyaksikan ketabahan pemuda tampan itu dan diam-diam ia masih tidak percaya akan kata-kata Toat-beng Yok-mo yang tadi menganggap pemuda ini tiada kepandaian. Seorang tanpa kepandaian silat mana seberani ini? "Pemuda tolol, kalau betul kami yang membunuh kau mau apa?" Kakek ompong itu kembali tertawa sehingga tampak mulutnya yang tak bergigi lagi. "Heh-heh-heh ....

Kun Hong makin marah. "Mana ada aturan ini? Kalian ini benar-benar jahat sekali, apa kalian tidak patut dihukum? Mana bisa kalian membunuh begitu saja? Aku tidak terima!"

"Habis, kau mau apa?" Hek-houw Bhe Lam melangkah maju menantang.

"Apa kau yang bernama Hek-houw?" Kun Hong bertanya.

"Betul Kau siapa dan apa maksudmu lagak?" jawab kepala rampok ini betul-betul tidak kenal aturan.

Datang-datang membunuh orang. Kalau kulaporkan kau tentu ditangkap dan dihukum mati. Kalau kau dan teman-temanmu datang hendak mengadu kepandaian, itu sih masih

mendingan. Tapi kalian datang-datang melakukan pembunuhan, benar-benar penasaran. Tunggu saja aku akan menyuruh seorang saudara melaporkan kepada kepala kampung di kaki gunung, kau tentu akan ditangkap dan diseret ke pengadilan."

Hek-Houw Bhe Lam melengak heran dan terdengarlah suara ketawa ramai di antara para pendatang itu. Bhe Lam akhirnya tertawa juga, tertawa bergelak, "Ha-ha-ha-ha, kiranya di Hoa-san-pai ada orang gila. berotak miring, jangan banyak mulut, pergilah!" Tangannya bergerak memukul dada Kun Hong.

Kwa Tin Siong kaget sekali dan melompat hendak menolong puteranya, akan tetapi pada saat itu Bhe Lam berseru kesakitan dan menarik kembali tangannya dan ternyata bahwa tangannya itu tersambit sebutir buah mentah yang dilempar dari atas. Tiba-tiba dari atas pohon meluncur benda panjang hitam yang secara kilat telah membelit pinggang Kun Hong dan... pemuda itu seperti terbang melayang ke atas pohon. Kun Hong berteriak-teriak kaget dan tahu-tahu ia telah duduk di atas cabang pohon dekat Li Eng yang tertawa-tawa mengomel.

"Kenapa kau begini tolol, membiarkan dirimu jadi buah tertawaan orang dan menjadi bahan pukulan? Lebih baik duduk di sini menonton, kan enak?"

Kun Hong berpegangan kuat-kuat pada batang pohon yang didudukinya, masih kaget dan terheran-heran. Ketika ia melihat, ternyata bahwa gadis itu tadi telah mengereknya naik dengan sehelai sabuk sutera yang hitam dan panjang sekali. Diam-diam ia merasa kagum dan juga heran. Akan tetapi wajahnya segera berubah pucat karena tubuhnya bergoyang, ia merasa ngeri duduk di tempat yang begitu tinggi.

"Apa kau takut jatuh?"

"Ti...tidak!" Kun Hong dapat menetapkan hatinya dan ia merasa malu kepada gadis cilik ini kalau duduk di atas cabang pohon saja ketakutan. Ia memandang ke bawah dan semua orang memandang ke atas. Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa tadinya terkejut sekali, akan tetapi setelah melihat putera mereka duduk dengan aman di dekat gadis bernama Li Eng itu dan mendengar percakapan mereka, keduanya merasa lega dan juga geli. Di atas pohon itu putera mereka akan aman, apalagi gadis aneh itu agaknya melindunginya. Karena ada urusan yang lebih penting dihadapi maka mereka lalu menujukan perhatian kepada Hek-houw Bhe Lam dan teman-temannya. Sekarang Kwa Tin Siong dapat menduga dengan hati lega bahwa gadis yang amat lihai itu kiranya bukan teman rombongan musuh ini, buktinya tadi menyambit tangan Bhe Lam untuk menolong Kun Hong.

Li Eng berbisik di dekat telinga Kun Hong, "Kakek ompong itu lihai sekali. Ia membunuh tosu itu dengan racun ular laut hitam yang amat berbahaya. Hemmm, hendak kulihat siapa yang berani menjamah mayat itu..."

Kun Hong bergidik, "Dia pembunuh keji, harus ditangkap, harus diseret ke pengadilan." Gadis itu terkikik tertawa lalu menutup telinga Kun Hong seperti anak kecil bermain-

main menggoda temannya. "Kau ini orang aneh... hi-hi, mengerikan sekali Bagaimana bisa menangkap dia?"

"Tak peduli dia lihai, dia harus tunduk kepada hukum!"

"Ssttt, jangan ribut-ribut, kaulihat saja" gadis itu berbisik lagi. Kun Hong merasa tidak enak sekali, gadis itu duduk terlalu dekat dengannya, tidak hanya berendeng melainkan berhimpitan sehingga pundaknya menyentuh pundak gadis itu dan ketika gadis itu berbisik, lehernya tertiup napas hangat dan hidungnya mencium bau harum yang keluar dari rambut gadis itu yang berkibar tertiup angin mengenai leher dan mukanya. Ingin ia menjauhkan diri, akan tetapi ia tidak berani bergerak karena cabang itu demikian kecil dan bergoyang-goyang terus. Mengerikan. Terpaksa ia alihkan perhatiannya dan memandang ke bawah. ....

Pak-thian Sam-lojin baru saja menderita penghinaan dari Li Eng. Oleh gadis cilik itu mereka seakan-akan dipermainkan di depan anggauta Hoa-san-pai. Benar-benar amat memalukan betapa tiga orang tokoh besar seperti mereka telah dipermainkan sedemikian rupa oleh gadis yang sama sekali tidak terkenal di dunia kang-ouw, malah yang mempergunakan ilmu silat Hoa-san-pai untuk mempermainkan mereka itu. Mereka bertiga dapat menduga bahwa biarpun di luarnya Ketua Hoa-san-pai tidak senang melihat gadis itu mempermainkan mereka, namun karena gadis itu mainkan ilmu silat Hoa-san- pai, sudah barang tentu para tosu Hoa-san-pai sedikit banyak merasa bangga dan senang. Hati mereka masih penuh dendam dan amarah, maka kedatangan rombongan musuh- musuh Hoa-san-pai ini hendak mereka pergunakan untuk "mencaci muka" mereka dan memperlihatkan kegagahan.

Orang pertama yang melangkah maju adalah Bu Tosu yang jenggotnya tinggal sepotong, hanya sebatas leher sekarang panjangnya karena tadi telah direnggut putus oleh Li Eng yang nakal. Begitu melangkah maju ia membuka mulut dan berkata dengan nyaring, "Yok-mo, keadaan negara sedang aman dan damai, kenapa kau orang tua mencari perkara di Hoa-san-pai? Kau lihat, kami bertiga orang-orang tua dari Pak-thian sengaja datang, ke Hoa-san untuk bertemu dan beramah-tamah dengan Ketua Hoa-san- pai, Kwa- sicu yang gagah. Setelah melihat kami bertiga, apakah kau tidak dapat mengingat perhubungan lama dan menjadi tamu yang terhormat agar kita dapat minum arak bersama?"

"Heh-heh-heh, Pak-thian Sam-lojin benar-benar seperti bunglon, plin-plan!" kata Yok-mo sambil tertawa terkokeh-kekeh, "Dahulu kau menjadi begundal Kaisar, diam-diam dahulu menganggap Hoa-san-pai sebagai musuh, biarpun di luarnya kalian pura-pura baik. Sekarang, kalian mendekati Hoa-san-pai, heh-heh-heh, bukankah karena tertarik oleh kedudukan Ketua Hoa-san-pai? Memang bagus sekali, bagus untuk kalian tentu, kalau kalian bisa memimpin para tosu di Hoa-san."

Wajah tiga orang tosu itu menjadi merah sekali dan diam-diam Kwa Tin Siong heran mendengar ini dan memandang ke arah tiga orang tamunya dengan tajam penuh selidik.

"Isteriku yang manis, katakanlah, bukankah tiga orang keledai tua ini teman seperjuanganmu membantu Kaisar Mongol? Heh-heh-heh."

Kim-thouw Thian-li menjebirkan bibirnya yang masih digincu merah sekali. "Memang betul, tapi mereka ini hanya mendesak-desak kalau ada rejeki untuk dibagikan, sebaliknya segera kabur kalau ada bahaya mengancam. Siapa sudi mengaku mereka sebagai teman?"

Makin merah wajah tiga orang kakek itu. "Jangan buka mulut seenaknyal" kata Kui Tosu sambil mencabut pedang. "Apakah kalian kira kami Pak-thian Sam-lojin takut kepada kalian?"

Bu Tosu segera menyambung. Yok-mo, aku bicara baik padamu tapi kau malah menghina. Sebetulnya menurut pendapat kami, tidak ada perlunya kalian memusuhi Hoa- san-pai. Apalagi datang-datang kalian sudah membunuh seorang tosu Hoa-san-pai, benar- benar ini keterlaluan. Kalau kau mau bicara tunggulah aku menyingkirkan mayat ini, kasihan sekali saudara ini menggeletak di sini."

Dari atas pohon Kun Hong bicara perlahan, "Hemmm, aneh sekali. Tadinya tiga orang kakek itu sombong dan keras, kenapa sekarang tosu itu begitu baik hatinya?"

"Hi-hik, baik apanya. Sebentar lagi ia akan mampus." jawab Li Eng.

?" Kun Hong kaget bukan main. Memang ia merasa paling ngeri kalau mendengar orang bicara tentang mati begitu gampangnya. "Apa maksudmu ....

"Begitu ia menyentuh mayat ia akan mati .... " kata pula Li Eng tak pedulikan.

Kun Hong terkejut dan cepat memandang ke bawah. Pada saat itu, dengan lagak gagah, dan hal ini terutama sekali untuk mencuci muka dari semua hinaan dan untuk memamerkan di depan para tosu Hoa-san-pai bahwa dia adalah seorang yang berhati penuh welas asih, Bu Tosu berlutut dan mengangkat mayat itu dengan kedua tangannya. Akan tetapi tiba-tiba ia berteriak kaget dan disusul suara ketawa terkekeh-kekeh dari Yok-mo, Bu Tosu melepaskan lagi mayat itu dan ia cepat meloncat berdiri, akan tetapi terhuyung-huyung ke belakang.

"Kenapakah, Suheng .... ?" tanya Lai Tosu dan hendak memegang kakak seperguruannya.

"Mundur dan jangan sentuh!" seru Kui Tosu sambil mendorong pergi Lai Tosu. Keadaan Bu Tosu amat mengerikan. Kedua tangannya menjadi kehitaman dan ia menjerit-jerit kesakitan.

"Ji-sute, terpaksa untuk menolong nyawamu!" Kui Tosu berseru dan menggerakkan pedangnya membacok. "Crokk!" Kedua lengan Bu Tosu terbabat putus sebatas

pergelangan tangan. Dua buah tangan itu yang sudah hitam sekali jatuh ke atas tanah dan sedikit pun tidak ada darah keluar. Mengerikan sekali.

"Bagaimana, Ji-sute?" Kui Tosu melihat penuh perhatian.

Bu Tosu masih menjerit-jerit dan ternyata warna kehitaman sudah menjalar di lengannya yang kanan, adapun lengan kirinya yang buntung mulai mengeluarkan darah. Hal ini berarti bahwa racun itu sudah menjalar terus ke lengannya yang kanan. Melihat ini, dengan muka sedih sekali Kui Tosu menggerakkan pedangnya lagi dan... lengan kanan Bu Tosu sebatas pundak terbabat putus. Dan dari luka di pundak itu mengucur darah merah, berarti bahwa racun itu sudah tidak berada di tubuhnya.

"Tertolong jiwamu, Ji-sute" kata Kui Tosu dengan lega. Akan tetapi tiba-tiba Bu Tosu mengeluarkan suara serak yang amat keras dan tubuhnya yang sudah tak bertangan lagi itu menerjang maju, kepalanya menyeruduk ke arah perut Yok-mo. Kakek iblis ini terkekeh-kekeh lagi, tangan kanannya bergerak dan ujung tongkat hitamnya menotok ubun-ubun kepala lawannya. Tanpa mengeluarkan suara lagi Bu Tosu roboh dan... tubuhnya berubah menjadi hitam. Kiranya ujung tongkat itu mengeluarkan racun yang amat hebatnya. ....

"Keparat keji!" teriak Kui Tosu dan Lai Tosu yang pepat mengerjakan pedang mereka mengempur Yok-mo. Karena urusan Hoa-san-pai belum disinggung-singgung dan pertempuran antara tiga orang tamunya melawan pihak musuh ini terjadi karena pembunuhan atas diri Bu Tosu, maka Kwa Tin Siong ragu-ragu dan belum mau turun tangan, hanya melihat betapa dua orang tosu itu mengeroyok Yok-mo. Juga dari pihak Yok-mo, hanya iblis tua ini saja yang bergerak dan menghadapi pengeroyokan itu. Kim- thouw Thian-li, Bhe Lam yang lain-lain hanya menonton. Malah Kim-thouw Thian-li hanya tersenyum mengejek saja, seakan-akan pertempuran yang terjadi antara suaminya dan dua orang tosu itu hanya main-main saja.

Di atas pohon terjadi keributan. Dengan muka pucat Kun Hong melihat semua itu. Hatinya ngeri bukan main, tubuhnya menggigil, tapi ia masih dapat memandang kepada Li Eng dengan mata melotot marah. "Kau... kau gadis berhati kejam. Jadi kau sudah tahu bahwa siapa yang memegang mayat itu akan mati?"

Li Eng balas memandang, masih tersenyum lalu mengangguk lucu. Bibirnya tertutup tapi mulutnya bergerak-gerak seakan-akan giginya menggigit-gigit sesuatu dan kebiasaan ini membuat ia nampak makin manis saja.

Bukan kepalang kemarahan Kun Hong. "Kau... kau patut dihajar!" Tangannya diangkat

lalu digerakkan menampar pipi gadis itu. Li Eng dengan enaknya menundukkan kepalanya sehingga tamparan itu mengenai angin saja dan... tubuh Kun Hong terguling dari atas cabang. Dalam kemarahannya tadi ia sampai lupa kalau ia duduk di atas cabang pohon, maka ia berani menampar sekuat tenaga. Karena tamparannya tidak mengenai sasaran, maka ia terpelanting dan jatuh.

Tubuh Kun Hong tiba-tiba terhenti di tengah udara, dan ia merasa pinggangnya dilibat sutera hitam, lalu perlahan-lahan ia dikerek naik, bukan di cabang yang tadi, melainkan di sebuah cabang yang berada paling tinggi di pohon itu. Di situlah ia didudukkan, di atas cabang yang kecil sehingga cabang itu melengkung dan bergoyang-goyang ketika ia duduk diatasnya. Li Eng sambil tertawa turun lagi dan duduk di atas cabang besar yang tadi, jauh di bawah Kun Hong.

!" Kun Hong berteriak-teriak sambil memeluk ranting-ranting di dekatnya. Bukan main ngerinya melihat ke bawah, begitu tinggi tempatnya dan cabang itu bergoyang-goyang keras. "Hee..., turunkan aku ....

Li Eng menoleh ke atas, tersenyum mengejek. "Diamlah jangan berteriak-teriak, dan lebih baik nonton pertunjukan hebat di bawah. Kalau kali ini kau banyak bergerak dan jatuh, aku malas untuk menolongmu lagi."

Menghadapi gadis yang nakal itu, Kun Hong yang biasanya pandai berdebat dan tak mau kalah, menjadi diam dan memeluk cabang kuat-kuat sambil memandang ke bawah. Apa yang dilihatnya di bawah membuat ia makin ngeri. Ia melihat betapa kedua pihak, yaitu pihak Hoa-san-pai dan pihak Bhe Lam dan teman-temannya, sudah mulai bertempur merupakan perang kecil.

Ternyata bahwa Kui Tosu dan Lai Tosu tak dapat menandingi permainan tongkat Yok-

mo yang luar biasa dan amat ganas itu. Kakek ompong bongkok ini biarpun dikeroyok dua oleh Kui Tosu dan Lai Tosu yang memiliki tingkat ilmu pedang yang tinggi, tidak menjadi gugup. Terutama sekali ia mengandalkan kepada tongkat hitamnya yang benar- benar membuat dua orang tosu itu agak jerih dan ngeri mengingat akan keampuhan racun yang berada dalam tongkat itu. Makin lama makin terdesaklah Kui Tosu dan Lai Tosu. Melihat keadaan demikian itu, hati Kwa Tin Siong menjadi tidak enak sekali. Memang harus diakui bahwa dua orang tosu ini bertempur untuk membalas kematian saudara mereka, dan tidak ada hubungannya dengan Hoa-san-pai. Akan tetapi maksud kedatangan mereka mula-mula adalah untuk membantu Hoa-san-pai sungguhpun tadi ia meragukan akan maksud-maksud tersembunyi lain yang masih belum terbukti. Andai kata tiga orang tosu tua itu tidak datang ke Hoa-san-pai di saat Hoa-san-pai didatangi musuh-musuh, sudah pasti mereka takkan menemui kesulitan, Bu Tosu tak akan tewas dan kedua orang tosu itu tidak akan bertempur melawan Yok-mo yang lihai itu. Namun, Kwa Tin Siong tetap merasa enggan untuk mencampuri pertempuran ini. Dia adalah seorang Ketua Hoa- san-pai, maka untuk menjaga nama baik Hoa-san-pai, segala sepak terjangnya ia perhitungkan betul.

Pada saat ia meragu, tiba-tiba Hek-houw Bhe Lam sambil tertawa melangkah, maju menghadapi Thian Beng Tosu dan berkata, "Thio Ki, biarpun kau sudah menyamar sebagai tosu, jangan kira kau akan terlepas dari tanganku."

"Bhe Lam, sungguh sayang sekali bahwa selama belasan tahun ini kau masih belum mau kembali ke jalan benar. Pinto tidak menyamar, memang pinto sekarang bukan Thio Ki

lagi melainkan Thian Beng Tosu dan kalau kau masih saja menaruh dendam atas hukuman yang jatuh kepadamu ketika kau melakukan kejahatan dahulu, majulah. Kali ini pinto takkan memberi ampun lagi kepadamu."

"Ha-ha-ha, keledai busuk yang sombong. Kematian sudah di depan mata masih hendak berlagak lagi?" Hek-houw Bhe Lam meloloskan golok besarnya dan segera maju menerjang. Thian Beng Tosu juga sudah mencabut pedangnya dan dua orang musuh lama ini segera bertanding.

Melihat betapa pihak lawan sudah mulai menyerang, Kwa Tin Siong membuang keraguannya dan segera ia berseru keras, "'Toat-beng Yok-mo, sebagai seorang tokoh besar tidak seharusnya kau mengacau Hoa-san-pai. Aku yang bertanggung jawab di sini, tidak bisa membiarkan kau menyebar kematian!" Dengan Hoa-san Po-kiam di tangannya ia lalu melompat ke gelanggang pertempuran, membantu Kui Tosu dan Lai Tosu yang sudah terdesak hebat oleh tongkat hitam di tangan Yok-mo itu. Makin hebatlah pertandingan itu dan Toat-beng Yok-mo tetap melayani tiga orang lawannya sambil terkekeh-kekeh.

Kim-thouw Thian-li sudah mencabut pedangnya dan di lain saat ia sudah dihadapi oleh Liem Sian Hwa yang juga sudah memegang pedang telanjang. Dua orang musuh besar ini saling berhadapan dan saling memandang penuh kebencian.

Memang semenjak dahulu Sian Hwa amat membenci Ketua Ngo-lian-kauw ini. Wanita inilah yang mendatangkan segala penderitaan bagi dia dan Hoa-san-pai, yaitu Kwee Sin murid Kun-lun-pai (baca cerita Raja Pedang). Gara-gara wanita ini pula maka ia dan suaminya yaitu Kwa Tin Siong bekas suhengnya, lari dari Hoa-san-pai dan suaminya itu sampai terbabat putus tangan kirinya. Sekarang wanita ini berani datang lagi mengacau Hoa-san-pai, mengacau penghidupannya yang sudah belasan tahun dalam ketenteraman. Dapat dibayangkan betapa kemarahan dan kebenciannya memuncak.

"Siluman betina dari Ngo-lian-kauw, hari ini aku Liem Sian Hwa harus mengadu nyawa denganmu!"

"Hemmm, perempuan tak tahu malu, kebetulan sekali kalau kau sudah bosan hidup. Majulah, aku akan mengantarmu ke neraka!" Kim-thouw Thian-li mengejek. Sian Hwa berseru keras dan pedangnya berkelebat menyerang ditangkis oleh Kim-thouw Thian-li. Mereka pun segera terlibat dalam pertempuran dahsyat yang mati-matian.

Sementara itu, tanpa dikomando lagi, para tosu Hoa-san-pai sudah maju menyerang tiga puluh orang pengikut Bhe Lam dan terjadilah perang kecil yang diikuti teriakan-teriakan sehingga keadaan di puncak Hoa-san-pai yang biasanya tenang dan damai itu sekarang menjadi kacau dan gaduh. Dalam hal ini Hek-houw Bhe Lam salah hitung. Ia masih mengira bahwa tosu Hoa-san-pai adalah tosu-tosu yang hanya pandai membaca kitab saja. Ia tidak tahu akan perubahan di Hoa-san-pai semenjak Kwa Tin Siong menjadi ketua. Sekarang, jauh berbeda dengan dahulu, setiap orang tosu Hoa-san-pai adalah ahli- ahli silat yang tekun melatih diri sehingga rata-rata mereka memiliki kepandaian yang

lumayan. Apalagi jumlah mereka jauh lebih banyak daripada anak buah Bhe Lam sehingga anak buahnya itu setiap orang harus melawan sedikitnya tiga orang tosu. Memang, kalau melihat para pemimpinnya, Bhe Lam sudah memperhitungkan masak- masak bahwa tokoh-tokoh yang menyertainya akan mampu mengalahkan para pimpinan Hoa-san-pai. Akan tetapi, dalam hal anak buahnya, benar-benar ia salah hitung. Anak buahnya memang para perampok yang kejam dan yang sudah biasa menghadapi pertempuran, akan tetapi berhadapan dengan jumlah banyak, apalagi yang memiliki ilmu silat Hoa-san-pai aseli, anak buahnya tak dapat berkutik. Sebentar saja korban di pihaknya bergelimpangan.

Toat-beng Yok-mo tidak saja hebat sekali dalam ilmu pengobatan, juga ilmu silatnya bukan main tingginya. Hal ini tidaklah aneh kalau diingat bahwa ia masih keturunan langsung daripada Yok-ong (Raja Obat) yang pernah menggemparkan dunia kang-ouw ratusan tahun yang lalu. Biarpun dikeroyok tiga, ia masih dapat mengimbangi permainan tiga orang lawannya, malah dengan tongkatnya ia mampu mendesak Kui Tosu dan Lai Tosu. Baiknya Kwa Tin Siong tadi segera maju dan terhadap pedang Ketua Hoa-san-pai ini ia tidak berani main-main. Ilmu pedang Hoa-san-pai yang dimainkan Kwa Tin Siong benar-benar telah mencapai tingkat tinggi sehingga mengganggu pergerakannya. Apalagi pedang itu adalah pedang Hoa-san Po-kiam yang ampuh.

Pertandingan antara Thian Beng Tosu dan Hek-houw Bhe Lam juga ramai sekali. Boleh dibilang kepandaian dua orang ini berimbang karena selama ini Bhe Lam sudah memperdalam ilmu kepandaiannya. Si Macan Hitam itu mainkan goloknya dengan ilmu golok dari utara yang mengandalkan tenaga, maka sekarang dilayani dengan ilmu pedang Hoa-san-pai yang mengandalkan tenaga halus dan kecepatan, pertempuran ini ramai sekali dan seimbang. Sinar golok pedang bergulung-gulung menyilaukan mata dan di antara siutan desing kedua senjata ini terdengar seruan-seruan dan bentakan Hek-houw Bhe Lam.

Sementara itu, di lain bagian, Kim-thouw Thian-li mendesak Liem Sian Hwa dengan hebat. Ketua Ngo-lian-kauw ini seperti biasa bersenjatakan sebatang golok dan sehelai selampai merah. Ilmu pedang Liem Sian Hwa cepat dan ganas, gerakan tubuhnya ringan bagaikan burung menyambar-nyambar. Memang tidak mengecewakan nyonya ini mempunyai julukan Kiam-eng-cu (Bayangan Pedang) karena permainan pedangnya demikian cepat sehingga sinar pedang itu bergulung-gulung menelan lenyap bayangannya sendiri. Akan tetapi menghadapi Kim-thouw Thian-li, ia menemukan tandingan yang berat, Tingkat kepandaian Ketua Ngo-lian-kauw ini memang lebih tinggi dari padanya, apalagi setelah Kim-thouw Thian-li mewarisi ilmu pedang Im-sin Kiam- sut, biarpun hanya beberapa jurus dari gurunya, Hek-hwa Kui-bo. Di samping ini, ilmu pedangnya Ngo-lian Kiam-sut yang dibantu dengan sambaran-sambaran selampai merahnya, benar-benar amat lihai dan berbahaya. Setelah mengerahkan seluruh kepandaiannya, baru Sian Hwa dapat mengimbanginya, namun tetap saja pihak lawan lebih sering melancarkan serangan daripadanya.

Pada suatu saat, secara aneh selampai merah itu menyambar dan melibat pedang Sian Hwa. Terjadilah tarik menarik dan dalam saat berbahaya ini, golok di tangan kanan Kim-

thouw Thian-li menyambar ke arah leher Sian Hwa. Bingung sekali Sian Hwa menghadapi ini. Pedangnya belum dapat ia lepaskan dari libatan selampai dan serangan golok itu tak mungkin ia elakkan tanpa meloncat mundur. Apakah ia harus melepaskan pedangnya? Selagi ia kebingungan, tiba-tiba Kim-thouw Thian-li menjerit, "Keparat curang." Dan Ketua Ngo-lian-kauw ini menarik kembali golok dan selampainya sambil melangkah mundur. Ternyata dari atas pohon menyambar sebutir buah mentah yang tepat menghantam jalan darah di dekat sikunya sehingga ia merasa tangannya lumpuh. Itulah perbuatan Li Eng yang tertawa-tawa di atas pohon sambil menonton jalannya pertandingan. Tadi ketika ia melihat keadaan Sian Hwa terancam bahaya, ia segera turun tangan dan membantu.

Baik Sian Hwa maupun Kim-thouw Thian-li tahu akan campur tangan gadis di atas pohon itu, karena tadi pun mereka sudah melihat kelihaian gadis aneh itu yang menolong Kun Hong dari serangan Bhe Lam menggunakan sambitan serupa.

"Siluman cilik, apa kau sudah bosan hidup?" Kim-thouw Thian-li memaki sambil mengacung-acungkan goloknya ke arah Li Eng di atas pohon.

"Hi-hi, siluman besar, kau sudah tua tentu kau akan mati lebih dulu daripadaku!" jawab

Li Eng dan sekaligus kedua tangannya diayun ke depan, maka puluhan butir buah mentah itu menyambar ke arah delapan belas jalan darah di tubuh Kim-thouw. Ketua Ngo-lian- kauw ini kaget sekali dan cepat memutar goloknya menangkis, namun masih ada tiga butir "senjata rahasia" ini mengenai tubuhnya. Baiknya buah itu biarpun masih mentah tidak berapa keras dan Iwee-kangnya sendiri sudah amat kuat maka ia tidak terluka parah, hanya merasa gemetar dan lumpuh di bagian yang kena sambit.

Pada saat itu, Sian Hwa tidak mau menyia-nyiakan waktu dan kesempatan ini, bagaikan seekor burung walet ia menerjang maju, pedangnya berkelebatan menyilaukan mata. Kim-thouw Thian-li berusaha menangkis, namun meleset tangkisannya karena pada saat itu ia masih belum dapat menguasai dirinya karena sambitan Li Eng tadi. Pedang di tangan Sian Hwa bagaikan kilat menyambar menusuk lehernya. Ia membuang diri ke belakang sambil miringkan tubuhnya bagian atas sehingga pedang itu tidak mengenai leher melainkan menyambar pundaknya. Kim-thouw Thian-li menjerit kesakitan, pundaknya tertusuk pedang. Cepat ia melompat berjungkir-balik ke belakang lalu... melarikan diri secepatnya dengan pundak bercucuran darah.

Lim Sian Hwa hendak mengejar, akan tetapi pada saat itu ia mendengar pekik mengerikan dan ketika ia menengok ke arah gelanggang pertempuran, ternyata Kui Tosu terkena tusukan tongkat Toat-beng Yok-mo sehingga tubuhnya menjadi hangus, sedangkan di saat berikutnya Lai Tosu terkena hantaman tangan kiri kakek bongkok yang lihai itu sehingga pecah kepalanya dan tewas pula di saat itu juga. Bukan main hebatnya kepandaian Yok-mo yang merobohkan dua orang lawannya dalam keadaan tertawa-tawa.

Terkejut hati Liem Sian-Hwa. Ia membatalkan niatnya mengejar Kim-thouw Thian-li dan cepat ia melompat dekat suaminya lalu langsung mengeroyok Yok-mo. Kalau tadi dibantu dua orang tosu tua itu saja suaminya tidak mampu mengalahkan Yok-mo, apalagi

sekarang seorang diri. Karena inilah maka Sian Hwa lalu membantu suaminya dan suami isteri ini dengan mati-matian lalu mengeroyok Yok-mo yang masih saja tertawa-tawa melayani mereka.

Baru setelah melihat Sian Hwa menerjangnya, kakek bongkok itu nampak kaget."Eh, eh... mana isteriku?"

"Sudah terluka pundaknya dan kabur. Sekarang giliranmu untuk mampus!" bentak Sian Hwa. Ucapan ini membuat Yok-mo marah sekali. Dengan seruan seram seperti teriakan binatang buas ia menerjang dengan tongkatnya yang hebat, kini ia tidak tertawa-tawa lagi, dan gerakan tongkatnya benar-benar luar biasa sekali membuat suami isteri itu terdesak hebat. Pertempuran antara anak buah Hek-houw Bhe Lam dan para tosu Hoa- san-pai tidak berlangsung lama. Karena kalah banyak dan juga para tosu Hoa-san-pai sekarang rata-rata pandai ilmu silat, sebentar saja tiga puluh orang pengikut Bhe Lam itu roboh semua, tewas atau terluka, Tak seorang pun berhasil melarikan diri. Melihat keadaan ini, apalagi tadi melihat Kim-thouw Thian-li sudah melarikan diri, hati Bhe Lam menjadi keder juga dan karena itu permainan goloknya menjadi kacau-balau. Kesempatan ini dipergunakan oleh Thian Beng Tosu untuk mempercepat permainan pedangnya dan dengan serangan miring dari samping kiri setelah memancing dengan sebuah tendangan, ia berhasil melukai lengan kanan Bhe Lam. Kepala rampok ini terluka parah, berteriak marah dan menyambitnya piauw dengan tangan kirinya ke depan. Thian Beng Tosu cepat membuang diri ke kanan dan dua buah senjata rahasia piauw meluncur lewat dekat lehernya. Ketika ia memperbaiki kembali posisinya, ternyata lawannya sudah lari jauh.

"Hek-houw, kau hendak lari ke mana?" Thian Beng Tosu cepat melompat dan mengejar musuh besarnya itu.

Adapun Kun Hong yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri pembunuhan besar- besaran yang terjadi dalam pertempuran ini, mukanya menjadi pucat, napasnya sesak dan matanya melotot lebar. "Celaka... celaka... bagaimana Hoa-san-pai bisa menjadi begini

....?" Berulang-ulang ia berseru dengan ngeri dan panik. Sekarang yang bertempur

di bawah hanya tinggal kedua orang tuanya yang mengeroyok Toat-beng Yok-mo. Melihat betapa semua teman kakek bongkok itu tewas atau terluka dan ada yang lari, Kun Hong menjadi kasihan sekali. Peristiwa hebat yang ia saksikan di bawah itu sama sekali tak pernah terduga dapat terjadi. Ia yang selalu belajar tentang kebajikan, tentang Ketuhanan dan perikemanusiaan, tentu saja mimpi pun belum pernah melihat manusia saling bunuh seperti ini. Semua ini membuat ia lupa akan ketakutan berada di atas cabang kecil di tempat begitu tinggi. Ia melihat gadis nakal itu masih saja duduk dengan kedua kaki tergantung dan tertawa-tawa.

Ia teringat bahwa gadis itu memiliki kepandaian yang aneh. Maka cepat Kun Hong melorot turun dari cabang yang didudukinya dan tanpa takut sedikit pun ia melalui cabang-cabang mendekati Li Eng. Gadis itu sampai kaget ketika tahu-tahu pemuda itu berada di dekatnya.

"Eh, kau berani turun?" tanyanya heran.

"Kau... kautolonglah aku... kau turunlah dan pergunakan kepandaianmu untuk melerai mereka. Jangan biarkan ayah ibu membunuh orang atau terbunuh .... "

Gadis itu tersenyum lebar sehingga kelihatan deretan giginya putih mengkilap dan teratur rapi seperti mutiara berderet. "Jadi kau ini anak mereka? Anak Ketua Hoa-san-pai? Kok aneh benar, orang-orang Hoa-san-pai itu biarpun kepandaiannya tidak tinggi tapi cukup bersemangat dan gagah, kenapa anaknya keluar tikus seperti kau?"

"Kau mau menolong tidak?" tanya Kun Hong gemas.

Gadis itu menggeleng kepala. "Ketua Hoa-san-pai she Kwa adalah orang yang harus kubunuh juga kakek bongkok itu aku tidak suka, kenapa aku harus melerai mereka? Biarlah mereka saling bunuh. Hi-hik!"

Kun Hong tahu bahwa dia tidak dapat memaksa gadis itu, maka ia lalu melorot turun dengan susah payah dari pohon itu, ditertawai oleh gadis yang menggodanya. "Hi-hik, kau seperti anak monyet menuruni pohon."

Kun Hong tidak pedulikan lagi padanya, setelah tiba di bawah ia lalu lari menghampiri medan pertempuran. Ia bergidik ketika ia berlari melalui mayat-mayat manusia yang menggeletak di kanan kiri, ngerinya bukan main.

!" teriaknya berulang-ulang sambil mendekati pertempuran yang sedang hebat-hebatnya itu. "Ayah... Ibu... sudahlah, jangan berkelahi lagi... sudah terlalu banyak korban ....

"Kun Hong, pergi...!!" ibunya berteriak kaget melihat puteranya berani mendekati tempat itu.

Akan tetapi. Kun Hong nekat dan makin dekat. "Jangan bunuh orang lagi, Ibu... ah, celaka sekali

....bagaimana Hoa-san menjadi tempat penyembelihan manusia...?" Kun Hong hampir menangis. Akan tetapi pada saat itu ayahnya berseru,

!" Dan sebuah tendangan membuat Kun Hong terpelanting sejauh lima meter lebih. Ayahnya telah menendangnya. Biarpun ia tidak merasa sakit, tapi Kun Hong merangkak bangun dengan mata terpentang lebar. Bagaimana ayahnya sudah berubah begitu ganas? Dia sendiri malah ditendangnya. Tentu saja pemuda ini sama sekali tidak tahu bahwa dengan mendekati tempat pertempuran itu, nyawanya berada di dalam bahaya karena gerakan tongkat Yok-mo dan pedang ayah serta ibunya mengandung tenaga Iwee- kang yang hawa pukulannya saja akan, cukup membuat Kun Hong tewas. Tidak tahu pula ia bahwa tendangan ayahnya tadi adalah usaha untuk menjauhkan dia dari tempat berbahaya itu. "Pergi kau ....

Kebetulan sekali Kun Hong terpelanting dekat tumpukan mayat para anak buah

perampok. Ia melihat mayat-mayat itu dalam keadaan luka hebat, malah ada di antaranya yang belum mati, terluka parah dan mengaduh-aduh. Darah berceceran di mana-mana. Kun Hong merasa hendak muntah melihat itu semua. Ia lalu bangkit berdiri, memegangi kepalanya sambil mengeluh, "Keji... kejam sekali... ah, tak sudi aku melihatnya .... ," Ia

lalu lari tersaruk meninggalkan Puncak Hoa-san.

Sementara itu, Toat-beng Yok-mo terus mendesak suami isteri itu dengan tongkat hitamnya. Makin lama makin beratlah bagi Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa. Ternyata baik dalam tenaga Iwee-kang, apalagi dalam ilmu silat, kakek bongkok itu masih setingkat lebih tinggi daripada mereka. Apalagi setelah Toat-beng Yok-mo mendengar tentang terluka nya Kim-thouw Thian-li, ia menjadi marah bukan main sehingga gerakan- gerakan tongkatnya mengandung ancaman maut karena digerakkan dengan penuh nafsu membalas dendam dan membunuh.

Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa repot sekali menghadapi amukan kakek bongkok itu. Mereka maklum bahwa jika pertandingan ini dilanjutkan, mereka tentu akan celaka. Anak buah Hoa-san-pai tidak ada yang berani mencoba untuk membantu tanpa menerima perintah ketua mereka. Selain ini, mereka juga tidak berani sembarangan mendekati pertempuran yang demikian dahsyatnya, karena maklum bahwa kepandaian mereka masih jauh di bawah tingkat mereka yang sedang bertanding. Namun demikian, jika Kwa Tin Siong mau mengeluarkan perintah, para murid Hoa-san-pai tentu tidak akan ragu- ragu dan takut-takut untuk menyerbu dan biarpun di antara mereka tentu banyak yang roboh binasa, kakek bongkok itu sendiri sudah pasti takkan kuat menghadapi pengeroyokan demikian banyak orang. Akan tetapi, Kwa Tin Siong adalah seorang yang berjiwa gagah. Mana mungkin ia mau mengeluarkan perintah kepada para murid-nya untuk melakukan pengeroyokan? Di dalam hukum persilatan, mengandalkan banyak teman untuk mengeroyok adalah perbuatan hina yang akan menjatuhkan nama baik. Sedangkan nama baik bagi seorang gagah lebih berharga daripada selembar nyawa. Karena inilah maka baik Kwa Tin Siong maupun isterinya, biarpun sudah terdesak hebat dan berada dalam ancaman maut, mereka tidak mau membuka mulut minta bantuan para murid Hoa-san-pai dan melawan mati-matian.

Pada saat itu terdengar teriakan dari atas pohon, "He, kakek bongkok buruk! Ketua Hoa- san-pai masih ada urusan dengan aku, tak boleh kau membunuhnya!" Suara ini adalah suara Li Eng yang segera dapat mengetahui bahwa suami isteri Ketua Hoa-san-pai itu tidak akan menang melawan Si Kakek Bongkok yang mengerikan dan amat lihai itu. Kedua langannya segera bekerja, menyambit-nyambitkan buah mentah dari pohon yang ia duduki cabangnya itu. Sambitan gadis ini bukan main-main, tak boleh dipandang ringan karena dilakukan dengan pengerahan tenaga Iwee-kang yang luar biasa. Sambitannya susul-menyusul dan biarpun kakek bongkok itu dikeroyok dua oleh suami isieri Hoa-san-pai sehingga tubuh ketiga orang itu berkelebatan dan berloncatan ke sana ke mari, namun sambitan-sambitan Li Eng selalu tepat menuju sasarannya, yaitu bagian- bagian lemah dan jalan-jalan darah di tubuh Toat-beng Yok-mo.

Akan tetapi alangkah kaget hati Li Eng ketika melihat bahwa semua buah mentah yang ia sambitkan itu, jatuh runtuh berserakan begitu mengenai tubuh Toat-beng Yok-mo.

"Siluman cilik, tunggu saja kau, akan datang giliranmu nanti!" Yok-mo membentak dengan nada mengejek sambil memperhebat tekanan tongkat hitamnya kepada suami isteri yang sudah mandi keringat dan sudah mulai kehabisan tenaga itu.

Li Eng memutar otaknya. Ia dapat menduga bahwa tentu kakek itu memiliki daya kekebalan yang dapat menutup jalan darah yang terkena sambitan maka tidak terluka oleh sambitannya. Ia segera berseru nyaring mentertawakan,

"Hee, kakek ompong! Kau hendak menyombongkan kepandaianmu, ya? Baiklah, matamu yang besar sebelah itu amat tidak menyenangkan hatiku, hendak ku bikin meram semua." Kembali kedua tangan Li Eng bergerak dan bagaikan peluru-peluru besi buah- buah mentah itu meluncur susul-menyusul, kini yang dijadikan sasaran adalah mata yang besar sebelah di muka Toat-beng Yok-mo.

Kali ini terdengar Tok-mo berseru marah sekali. Betapapun saktinya, tak mungkin manusia dapat membikin sepasang biji matanya kebal. Dan ia maklum bahwa satu kali saja matanya terkena sambitan itu, ia akan menjadi buta. Repot juga tangan kirinya bergerak-gerak menyampok runtuh "senjata-senjata rahasia" yang tiada habisnya menyerang matanya itu. Tentu saja perhatiannya menjadi terpecah, malah boleh dibilang sebagian besar ditujukan untuk menyelamatkan kedua matanya dari serangan hebat dari atas pohon itu. Oleh karena inilah maka Kwa Tin Siong dan isterinya mendapatkan "angin baru", melihat kekosongan-kekosongan dan kelemahan-kelemahan pada lawan, maka mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan baik ini dan segera menghujankan serangan-serangan maut.

"Ceppp!" Ujung pedang di tangan Liem Sian Hwa menancap di pundak kiri Yok-mo. Terdengar raungan mengerikan, tangan kiri Yok-mo mencengkeram ke depan dan... ujung pedang Sian Hwa patah. Akan tetapi, sekali lagi Yok-mo meraung hebat ketika pedang Kwa Tin Siong menusuk lambungnya. Cepat ia miringkan tubuh dan tongkat hitamnya menghantam pedang itu.

Bukan main kagetnya Kwa Tin Siong dan Sian Hwa. Tangkisan tongkat hitam itu hampir saja membuat pedang Hoa-san Po-kiam terlempar dari tangannya. Kwa Tin Siong melompat mundur dan terhuyung-huyung, sedangkan Sian Hwa melompat mundur sambil melihat pedangnya yang sudah buntung. Bukan main hebatnya kakek tua itu, biarpun terluka di pundak dan lambung, namun masih demikian hebatnya sehingga hampir Kwa Tin Siong suami isteri celaka. "Aduh, keparat .... !" Yok-mo menjerit ketika

pinggir mata kirinya tersambar buah mentah.

"Hi-hi-hik, siluman tua, sekarang matanya keduanya sipit, tidak besar sebelah lagi, tapi lebih menjijikkan .... !" Li Eng menggoda.

Kemarahan Yok-mo tak tertahankan lagi. Ia telah menderita dua luka tusukan oleh suami isteri Hoa-san-pai, dan luka di pinggir mata oleh gadis nakal di atas pohon itu. Semua ini

adalah gara-gara gadis di pohon itu, maka kemarahannya segera tertumpah kepada Li Eng.

"Siluman cilik, kau harus mampus sekarang!" Tubuhnya dienjot dan dengan cepat sekali ia telah melayang naik ke atas pohon sambil memutar tongkatnya karena ia hendak membunuh gadis itu dengah sekali serang untuk melampiaskan kemarahan hatinya.

" kata Kwa Tin Siong kepada Sian Hwa. Isterinya mengangguk menyetujui karena kedua suami isteri ini maklum bahwa tadi mereka telah ditolong dan dibantu oleh sambitan-sambitan gadis itu. Bagaikan sepasang burung garuda, kedua suami isteri ini meloncat dan menerjang Yok-mo dari belakang. "Celaka... kita harus bantu dia ....

"Krakkk... bruuuukk!" Cabang yang tadi dipakai duduk Li Eng menjadi patah dan tumbang oleh pukulan tongkat hitam Yok-mo. Akan tetapi Li Eng tidak ikut jatuh karena gadis itu tanpa diketahui penyerangnya telah berada di cabang yang lebih tinggi lagi.

"Hi-hik, kakek bongkok ompong, aku di sini!" Akan tetapi Yok-mo terpaksa sekarang melayani suami isteri yang ternyata sudah mengejar dan menyerangnya.

"Hei, kakek bongkok tak tahu malu, apa kau sudah menyerah dan tidak berani mengejarku? Hi-hik, beranimu hanya terhadap suami isteri yang tiada guna itu. Dan kalian, suami isteri Ketua Hoa-san-pai she Kwa, jangan begitu tak tahu malu. Aku tidak minta bantuan kalian, tahu?"

Mendengar ini, Yok-mo mengeluarkan Seruan marah dan kembali ia meloncat keatas dengan tongkat hitam diputar. Li Eng sudah siap menanti malah sempat berteriak, "Manusia she Kwa jangan bantu aku, aku tidak sudi!" Ucapan ini tentu saja membuat Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa membatalkan niat mereka membantu dan membuat mereka marah juga malu. Terpaksa mereka lalu berdiri di tengah lapangan sambil menonton.

Kembali terdengar suara hiruk-pikuk dan cabang-cabang serta ranting-ranting pohon besar itu susul-menyusul patah dan tumbang karena hantaman tongkat Yok-mo. Akan tetapi, cepat dan ringan seperti seekor burung Li Eng sudah berpindah-pindah cabang sehingga dalam waktu yang tidak begitu lama pohon itu sudah menjadi pohon gundul, tinggal batangnya. Kemana perginya Li Eng? Gadis yang lihai ini ternyata sudah melompat jauh dan telah berada di sebuah pohon lain yang lebih besar dan tinggi.

"Hi-hi-hik, Toat-beng Yok-mo. Benar-benarkah engkau hendak mencabut nyawaku? Aku berani mempertaruhkan kepalamu bahwa kau takkan mampu?"

Digoda seperti ini, Yok-mo kehilangan kewaspadaannya, menjadi makin marah dan dengan ketekadan bulat untuk membunuh Li Eng, ia melompat juga mengejar ke arah pohon itu. Akan tetapi, bukan main kagetnya ketika tiba-tiba ada sinar hitam meluncur memapaki tubuh yang masih terapung di udara dalam lompatannya tadi. Benda itu bagaikan seekor ular hidup yang besar dan panjang, telah mematuk ke arah leher, dada

dan pusarnya dengan gerakan bertubi-tubi dan berganti-ganti. Kalau dia tidak sedang meloncat tentu dengan mudah ia akan menghadapi serangan macam itu, akan tetapi celakanya tubuhnya sedang di udara. Ia memutar tongkatnya untuk menangkis, akan tetapi tiba-tiba sinar hitam yang ternyata adalah sehelai sutera itu telah melibat-libat tongkat di tangannya.

Yang hebat, sutera itu seperti hidup saja karena dengan tenaga terbagi-bagi sekarang membetot-betot tongkat hitamnya dengan kekuatan yang mengagetkan.

Karena Yok-mo memaksa diri mempertahankan tongkatnya agar jangan sampai dirampas lawan, maka kekuatan lompatannya menjadi patah setengah jalan dan sekarang tubuhnya mulai jatuh ke bawah. Ia masih memegangi tongkatnya. yang terlibat sutera, maka sekarang ia jadi menggantung pada tongkatnya.

"He-he, Yok-mo, kau seperti seekor laba-laba besar hendak bertelur." Li Eng mengejek sambil menarik-narik suteranya sehingga tubuh kakek itu pun ikut "menari-nari" di bawah gantungan.

"Siluman cilik, akan kubetot jantungmu, akan kukorek otakmu, kujadikan bahan obat jin- sin-tan!" Yok-mo memaki-maki dan mengancam, kemudian ia merambat ke atas melalui tongkatnya. Sebentar kemudian ia telah berhasil menyambar sabuk hitam itu, melepaskan tongkatnya dan dengan sikap liar mengerikan ia mulai merayap naik melalui sabuk hitam, makin mendekati tempat Li Eng duduk, yaitu di sebuah cabang besar.

"Hemmm, bocah liar itu mencari penyakit!" gumam Kwa Tin Siong. Ia sebetulnya tidak ingin melihat gadis yang aneh dan pandai ilmu silat Hoa-san-pai itu celaka di tangan Yok-mo, akan tetapi karena bocah itu sendiri melarang ia membantu, tentu saja ia malu untuk turun tangan.

"Melihat sikapnya, ia pun tentu bukan murid orang baik," kata Liem Sian Hwa. "Akan tetapi dia demikian cantik dan muda, kasihan kalau sampai mengorbankan nyawa di tangan Yok-mo. Apalagi disengaja maupun tidak dia tadi telah menolong kita. Tunggu saja, kalau dia terancam, tidak peduli dia tidak suka dibantu, kita turun tangan."

Kwa Tin Siong menyetujui usui isterinya ini, maka mereka lalu siap-siap di bawah pohon untuk membantu sewaktu-waktu gadis itu terancam bahaya di tangan Yok-mo yang mukanya sudah merah hitam saking marahnya itu.

"Monyet tua, kau mau buah mentah? Nih, makan!" Dan menghujanlah buah-buah mentah ke arah tubuh dan muka Yok-mo. Karena sambaran buah-buah itu sebagian besar ditujukan ke arah kedua matanya, terpaksa Yok-mo menundukkan muka, meramkan mata dan menutup jalan-jalan darah yang berbahaya agar jangan sampai tertotok oleh sambitan-sambitan itu. Sementara itu ia merambat terus ke atas, makin mendekati Li Eng. Ia merasa betapa luka-luka di pundak dan lambungnya mengucurkan darah dan merasa sakit sekali, akan tetapi dengan mengeraskan hati kakek yang sudah marah karena dipermainkan Li Eng ini terus mengerahkan tenaga merayap ke atas.

Hampir ia mencapai tempat Li Eng dan ia sudah mengangkat tongkat hitamnya untuk menyerang gadis itu. Tiba-tiba tubuh Yok-mo meluncur ke bawah dan baru berhenti setelah ia hampir menyentuh tanah. Yok-mo memaki-maki kiranya sutera hitam itu diulur oleh Li Eng. Sambil memaki-maki Yok-mo merayap lagi, merambat ke atas dengan cepat sekali. Sebaliknya, Li Eng juga memaki-maki, mengejek sambil menyambit muka kakek itu dengan buah-buah mentah. Biarpun kakek itu kebal dan tidak terluka oleh sambitan- sambitan itu, namun ia sedikitnya merasa mukanya sakit dan pedas. Ia mempercepat rambatannya ke atas dan sebentar saja ia sudah mendekati Li Eng lagi. Akan tetapi... tiba- tiba tubuhnya meluncur turun lagi sampai dekat tanah. Sambil memutar tongkatnya melindungi muka dari sambitan buah. Yok-mo memandang dan dengan girang ia melihat bahwa kini gadis itu memegangi ujung sutera hitam. Hal ini berarti bahwa sutera yang panjang itu sudah habis dan takkan dapat diulur lagi.

"Keparat cilik, kau hendak lari ke mana sekarang?" teriaknya sambil merambat lagi ke atas dengan cepat.

"Keparat gede!" Li Eng balas memaki. "Aku tidak lari ke mana-mana, kaulah yang jangan lari." Dan begitu tubuh kakek itu sudah sampai di atas, gadis yang nakal ini sekaligus melepaskan sutera yang dipegangnya. Tak dapat dihindarkan lagi tubuh kakek itu jatuh ke bawah. Baiknya ia memang lihai sekali sehingga jatuhnya enak saja dengan kedua kaki di atas tanah. Akan tetapi, bukan main herannya Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa ketika melihat betapa tiba-tiba kakek itu berteriak-teriak kesakitan, melepaskan tongkatnya, memandang kepada kedua tangannya yang sudah menjadi hitam dan... sambil menjerit-jerit kakek itu lalu lari secepatnya meninggalkan puncak Hoa-san-pai, diiringi suara ketawa nyaring gadis itu yang cepat-cepat melompat ke bawah.

"Hi-hi-hik, termakan racunmu sendiri kau sekarang!" katanya puas sambil menggulung kembali sabuk suteranya. Tahulah sekarang Kwa Tin Siong dan istarinya bahwa tadi ketika sabuk melibat tongkat, sabuk itu telah terkena racun yang keluar dari ujung tongkat dan ketika kakek itu merambat melalui sabuk otomatis kedua tangannya terkena racun hebat dari tongkat itu. Tidak mengherankan jika , kedua tangannya itu menjadi hangus dan kakek itu melarikan diri ketakutan.

Mengingat bahwa gadis itu telah menyelamatkan nyawanya, Kwa Tin Siong lalu berkata dengan nada menghormat, "Gadis yang gagah perkasa, telah kau sengaja atau tidak, akan tetapi kau tadi telah menyelamatkan nyawa kami suami isteri. Terimalah ucapan terima kasihku kepadamu."

Gadis itu menjebirkan bibirnya. "Siapa menyelamatkan siapa? Kakek itu sudah berani mengotori Im-kan-kok, tidak kubunuh juga sudah untung. Kau ini orang she Kwa yang menjadi Ketua Hoa-san-pai, sekarang juga kau harus menyerahkan pedang Hoa-san Po- kiam itu kepadaku berikut kepalamu." Sambil berkata demikian ia melangkah maju dengan sikap tenang.

Kwa Tin Siong yang lebih merasa heran daripada marah. Sudah tentu ada sebab-sebab yang aneh kalau anak ini sampai memusuhinya, tak mungkin memusuhi tanpa sebab.

"Nanti dulu, kalau kau betul-betul datang hendak memusuhiku, hal itu adalah wajar asal ada alasannya yang kuat. Kaujelaskanlah mengapa kau hendak merampas Hoa-san Po- kiam dan hendak membunuhku? Apa sebabnya?"

"Apa sebabnya kau tak perlu tahu. Pendeknya aku harus merampas kembali hoa-san Po- kiam dan membunuh Ketua hoa-san-pai she Kwa! Hayo majulah dan serahkan pedang dan kepalamu, aku sudah hilang sabar!"

Kwa Tin Siong orangnya memang berwatak sabar, akan tetapi tidak demikian dengan Liem Sian Hwa. Nyonya ini menjadi marah bukan main, tak dapat ia menahan perasaan hatinya yang terbakar ketika ia mendengar orang menghina suaminya. Cepat ia mencabut pedangnya yang sudah buntung ujungnya tadi dan membentak,

"Siluman cilik, enak saja kau bicara. Siluman macam kau tidak bisa diajak bicara baik- baik. Kalau memang kedatanganmu hendak memusuhi kami, kau matilah dan lawan pedangku."

Li Eng tertawa mengejek dan memandang pedang buntung itu. "Hi-hik, dengan pedang

itu kau hendak melawanku? Ah sedangkan ilmu pedangmu Hoa-san Kiam-sut saja baru kau pelajari setengah-setengah, matang tidak mentah tidak, bagaimana kau hendak melawanku mempergunakan pedang buntung? Bibi yang cantik, aku hanya ingin mengambil kepala orang she Kwa. Kalau kau ingin mencoba kepandaianmu yang masih setengah matang, kau .... majulah!"

Sampai pucat wajah Liem Sian mendengar ejekan ini. Dia adalah seorang tokoh Hoa-san- pai, boleh dibilang menjadi orang ke dua sesudah suaminya, Ia sudah mempelajari ilmu silat Hoa-san-pai semenjak ia kecil dan untuk kehebatan ilmu pedangnya ia malah sudah menggemparkan dunia kang-ouw dan mendapat julukan Kiam-eng-cu (Bayangan Pedang). Masa sekarang ia dihina oleh seorang bocah cilik yang menyatakan bahwa ilmu pedangnya Hoa-san Kiam-sut matang tidak mentah pun tidak? Biarpun ia hanya berpedang buntung, namun ia masih sanggup untuk menghadapi lawan yang tangguh.

"Bocah setan, kau benar-benar terlalu sombong. Keluarkan senjatamu dan mari kau boleh merasakan ilmu pedangku yang mentah tidak matang pun tidak ini." tantangnya.

"Untuk menghadapi kau dan pedang buntungmu cukup dengan tangan kosong."

"Sombong, lihat pedang!" Sian Hwa tidak dapat menahan kemarahannya lagi dan pedangnya segera bergerak menyerang. Dengan gerakan cepat sekali sehingga sinar pedangnya bergulung-gulung, ia mengirim tiga kali tikaman berantai dengan jurus Lian- cu Sam-kiam.

"Hemmm Lian-cu Sam-kiam yang baik sekali. Sayang tidak ada isinya!" Li Eng mengejek dan cepat mengelak. Karena ia tahu benar agaknya akan perubahan gerak dari jurus ini, maka dengan mudah ia dapat menyelamatkan diri.

Sian Hwa merubah gerakannya, mengirim bacokan dari kanan kiri sambil mempergunakan kecepatannya.

"Aha, Hun-in Toan-san (Awan Melintang Putuskan Gunung). Juga tidak mengandung inti sari, masih mentahl" Lagi-lagi Li Eng mengelak dan mengejek. Sian Hwa makin marah, juga diam terkejut sekali karana semua serangannya selalu dikenal oleh lawan. Dalam penyerangan-penyerangan berikutnya baru saja ia bergerak gadis cilik itu sudah menyebutkan jurus dan malah mengelak dengan gerakan-gerakan dan langkah-langkah dari ilmu silat Hoa-san-pai aseli.

"Tahan dulu!" tiba-tiba Kwa Tin Siong maju, melerai yang sedang bertempur setelah pertempuran itu berjalan puluhan jurus. Ketua Hoa-san-pai , ini menjadi curiga karena tadi ia melihat dengan jelas betapa ilmu silat gadis itu betul-betul aseli Hoa-san Kun-hoat, akan tetapi dimainkannya demikian aneh dan hebat. "Nona kau sebetulnya murid siapakah?"

Juga Sian Hwa di samping kemarahan dan kegemasan karena penasaran, merasa heran sekali. Belum pernah selama hidup nya ia bertemu dengan lawan yang begini muda tapi begini hebat ilmu silatnya, apalagi ilmu silat dari Hoa-san-pai pula.

Li Eng tersenyum mengejek. "Murid siapa juga kau peduli apakah? Pendeknya, kau harus menyerahkan Po-kiam dari Hoa-san-pai berikut kepalamu. Kau tidak berhak menjadi Ketua Hoa-san-pai."

Kwa Tin Siong mencabut pedangnya, pedang Hoa-san Po-kiam, lalu melangkah maju. "Nah, ini pedangnya dan ini kepalaku, kau boleh ambil kalau kau bisa." Ia menjadi marah juga melihat sikap gadis yang bandel dan nekat ini dan ia ingin mencoba sendiri kepandaian gadis itu. Setelah suhunya meninggal, yaitu Lian Bu Tojin, kiranya tidak berlebihan kalau dia menganggap bahwa ahli silat Hoa-san-pai yang paling tinggi ilmunya pada saat itu adalah dia sendiri. Kalau gadis ini pun ahli ilmu silat Hoa-san-pai, mana mungkin lebih tinggi tingkatnya daripada dia sendiri.

"Bagus, kau kehendaki kekerasan? Awas!" Li Eng menggerakkan tangannya mencengkeram ke arah pedang dan kakinya menyapu dengan kecepatan kilat.

Namun Kwa Tin Siong melangkah mundur dan pedang berkelebat membacok tangan gadis itu. Li Eng menarik tangannya, meloncat ke kiri dan kembali menyerang dengan maksud hendak merampas pedang. Kini tubuhnya bergerak-gerak cepat, kadang-kadang melakukan pukulan yang amat cepat dan berbahaya, lain saat ia berusaha merampas pedang dari tangan Kwa Tin Siong. Akan tetapi, kali ini ia betul-betul menghadapi seorang ahli silat yang sudah matang oleh pengalaman, juga yang memiliki tenaga dalam

kuat sekali. Sampai lima puluh jurus belum juga ia berhasil merampas pedang. Di lain pihak, diam-diam Kwa Tin Siong makin terheran-heran. Harus ia akui bahwa ilmu silatnya sendiri kalau dibandingkan dengan ilmu silat gadis itu, ia jauh lebih ahli, juga lebih matang. Akan tetapi ada sesuatu yang aneh pada ilmu silat yang dimainkan gadis cilik ini, gerakan-gerakannya mengandung daya serang yang hebat sekali, yang tak ada pada ilmu silat aseli Hoa-san Kim-hoat.

"He, Nona kecil, apakah kau pernah belajar pada Supek Lian Ti Tojin?" Tiba-tiba Kwa Tin Siong bertanya karena ia mendapat dugaan yang aneh,

"Aku adalah murid ayah ibu sendiri, sudahlah jangan banyak cakap, lihat dalam beberapa jurus aku akan merampas pedangmu!" Tiba-tiba benda hitam panjang seperti ular hidup menyambar ke arah muka Kwa Tin Siong yang menjadi kaget bukan main. Cepat Ketua Hoa-san-pai ini menyabet dengan pedangnya sambil mengerahkan tenaga untuk membabat putus benda itu. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika benda itu tiba-tiba malah melibat pedangnya dan tak dapat dllepaskan lagi. Ia mengerahkan tenaga menarik dan gadis itu pun menahan sehingga keduanya saling betot. Kiranya benda itu adalah sutera hitam yang dipakai mengerek tubuh Yok-mo dan Sekarang sudah berada lagi di tangan gadis aneh itu.

Melihat keadaan suaminya dalam bahaya, Sian Hwa tidak dapat tinggal diam saja. Sambil berseru keras ia menggerakkan pedang buntungnya dan menerjang Li Eng. Gadis ini tertawa. "Bagus, kalian boleh maju bersama-sama!" Sabuk sutera hitam terlepas dan ia lalu bersilat dengan senjata aneh ini, sekarang dikeroyok dua.

Pada waktu itu, tingkat kepandaian suami isteri ini sudah amat tinggi dan kiranya tidak sembarang lawan dapat mengalahkan mereka. Mereka merupakan pasangan yang amat hebat dengan ilmu pedang mereka. Akan tetapi ternyata keduanya tidak mampu mendesak Li Eng, sungguhpun gadis ini harus mengaku bahwa kini ia menghadapi dua lawan yang amat tangguh. Gadis itu mainkan senjatanya yang aneh secara cepat dan yang hebat sekali adalah bahwa ilmu silatnya tak salah lagi adalah ilmu silat Hoa-san Kun- hoat. Benar-benar amat penasaran bagi Kwa Tin Siong dan isterinya yang merupakan tokoh-tokoh pertama dari Hoa-san-pai, sekarang tak berdaya menghadapi seorang gadis yang juga mainkan ilmu silat Hoa-san-pai, padahal gadis itu hanya bersenjatakan sehelai sabuk sutera.

Makin lama pertempuran itu berjalan makin seru dan akhirnya menjadi pertandingan mati-matian. Pada suatu saat, Kwa Tin Siong dan Sian Hwa menerjang sedemikian hebatnya, dan dalam waktu yang sama sehingga tak mungkin dapat dielakkan lagi oleh gadis itu. Li Eng kaget dan berseru keras, tubuhnya mencelat ke belakang dan sabuk suteranya berkibar, seperti kilat menyambar cepat sekali dan seperti kupu-kupu melayang indahnya, kedua ujung sabuk itu tahu-taul telah membelit kedua pedang di tangan Kwa Tin Siong dan Sian Hwa yang mengancamnya. Gadis ini memegangi sabuk di tengah- tengah dan berada agak jauh sehingga suami isteri itu tak dapat menyerangnya lagi dengan tangan kiri karena mereka tidak suka mengambil risiko pedang mereka terampas.

Ketiganya berdiri memasang kuda-kuda, mengerahkan tenaga dan terjadilah adu tenaga memperebutkan pedang.

Li Eng mulai berpeluh. Tak kuat ia dikeroyok, dua dalam adu tenaga ini. Wajahnya agak pucat. Kalau ia melepaskan libatan sabuknya, ia dapat terluka di dalam tubuhnya. Ia bertekad, akan tetapi kedudukannya mulai bergerak dan terseret ke depan sedikit demi sedikit. Keringat dingin mulai membasahi jidat yang halus itu. Akan tetapi sepasang mata yang jeli dan bening itu sama sekali tidak memperlihatkan rasa takut sedikitpun juga.

"Li Eng, jangan kurang ajar!" terdengar bentakan suara wanita.

"Kwa-supek, maafkan anakku yang nakal!" terdengar pula suara seorang laki-laki.

Dua suara ini disusul dengan berkelebatnya dua sosok bayangan yang tahu-tahu sudah tiba di tempat pertempuran dan langsung bayangan laki-laki itu maju menengah. Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa merasa betapa tenaga mereka yang tadi dipersatukan untuk mempertahankan pedang masing-masing itu seperti terlolos dan mencair, lenyap tak tentu sebabnya dan tahu-tahu pedang mereka telah terlepas dari libatan sabuk sutera yang juga sudah ditarik kembali oleh Li Eng.

Ketika suami isteri ini memandang, dapat dibayangkan betapa heran, kaget dan girangnya hati mereka karena yang sekarang berdiri di depan mereka ini bukan lain adalah Kui Lok dan Thio Bwee, dua orang anak murid Hoa-san-pai yang dahulu lenyap setelah terusir oleh Kwa Hong.

Kui Lok segera menjatuhkan diri berlutut di depan paman guru dan bibi gurunya, sedangkan Thio Bwee juga cepat menyeret tangan Li Eng kemudian ia sendiri bersama gadis itu pun berlutut di depan suami isteri Ketua Hoa-san-pai. Para tosu Hoa-san-pai yang juga mengenal Kui Lok dan Thio Bwee, menjadi gempar dan terdengar seruan- seruan gembira serta isak tertahan.

Memang mengharukan sekali pertemuan itu. Kwa Tin Siong segera memeluk Kui Lok sedangkan Liem Sian Hwa merangkul Thio Bwee. Mereka bertangisan. Hanya Li Eng gadis nakal itu yang sekarang berdiri bingung memandang kedua orang tuanya yang berpelukan sambil bertangisan dengan dua orang Ketua Hoa-san-pai yang baru saja bertanding mati-matian dengannya.

"Ayah, Ibu... dia ini adalah Ketua Hoa-san-pai she Kwa!" akhirnya ia tak dapat menahan lagi hatinya, menegur ayah bundanya.

Ibunya, Thio Bwee telah dapat menetapkan hatinya dan melepaskan pelukan Liem Sian Hwa, bibi gurunya. Ia memandang kepada puterinya dengan mata penuh teguran lalu berkata, "Li Eng, tanpa perkenan Ayahmu, mengapa kau berani lancang sampai ke sini dan mengacau Hoa-san-pai?" kemudian nyonya ini memandang ke sekeliling, ke arah mayat-mayat manusia yang amat banyak, lalu suaranya makin bengis, "Kau telah mengacau dan membunuh orang-orang ini?"

"Aku... tidak, tidak, Ibu. Aku tidak membunuh siapa-siapa!" Li Eng menjawab cepat dan ketakutan, apalagi ketika melihat ayahnya pun memandangnya dengan wajah bengis. "Aku... aku keluar dari tempat kita dan aku melihat serombongan orang-orang di Im-kan- kok yang bicara tentang maksud mereka menyerbu Hoa-san-pai. Karena mereka bicara tentang Ketua Hoa-san-pai pula, hatiku jadi tertarik dan aku lalu datang ke sini untuk merampas kembali Hoa-san Po-kiam dari Ketua Hoa-san-pai dan membunuh orang she Kwa ini. Bukankah orang she Kwa ini yang ayah ibu katakan jahat dan merusak Hoa-san- pai?" "Anak tolol, sama sekali bukan. Dia ini adalah paman guruku, dan yang itu adalah bibi guruku, juga paman guru dan bibi guru ibumu. Jadi kau masih terhitung cucu murid mereka. Hayo lekas berlutut dan minta ampun!" kata Kui Lok.

Li Eng kaget sekali dan cepat ia menjatuhkan diri berlutut. "Kakek dan Nenek guru, aku Kui Li Eng mohon ampun .... "

Liem Sian Hwa menubruk cucu muridnya itu dan memeluknya. "Tak kusangka aku mempunyai cucu murid begini hebat .... " katanya girang.

Kwa Tin Siong menarik napas panjang "Sudahlah... sekarang aku tahu siapa yangia maksudkan orang she Kwa itu. Tentu Kwa Hong bukan?"

Kui Lok dan Thio Bwee hanya mengangguk. Pada saat itu terdengar suara berseru, suara wanita, "Supek

....!" orang memandang dan melihat orang berlari cepat ke puncak itu. Mereka ini bukan lain adaiah Thian-Beng Tosu bersama dua orang wanita, yang seorang setengah tua dan yang kedua seorang gadis yang cantik dan berpakaian sederhana. Melihat wanita setengah tua itu, Liem Sian Hwa segera lari memapaki dan mereka berangkulan.

"Lee Giok... kau benar-benar telah membuat suamimu hidup menderita!"

Memang benar, wanita itu bukan lain adalah Lee Giok, isteri dari Thio Ki atau Thian Beng Tosu. Dan gadis cantik sederhana itu adalah puterinya. Bagaimana mereka bisa muncul di saat itu bersama Thian Beng Tosu? Untuk mengetahui hal ini mari kita mengikuti perjalanan Thian Beng Tosu beberapa saat yang lalu.

Telah diceritakan bagaimana Thian Beng Tosu berhasil mendesak musuh lamanya, yaitu Hek-houw Bhe Lam. Kepala rampok ini melarikan diri dikejar oleh Thian Beng Tosu dan kejar-mengejar ini membawa mereka turun dari puncak, tiba di hutan tak jauh dari Im- kan-kok. Bhe Lam sudah terluka pangkal lengannya, tapi larinya masih cepat sekali. Betapapun juga, karena Thian Beng Tosu lebih biasa di tempat itu, setibanya di dalam hutan ini ia tersusul dan tosu Hoa-san-pai ini membentak,

"Hek-houw, percuma saja kau lari. Kejahatanmu sudah melampaui takaran, hari ini kau harus tewas di tanganku!"

Hek-houw Bhe Lam yang tahu bahwa tak mungkin ia dapat lari lagi mendadak membalikkan tubuhnya dan tangan kirinya bergerak. Belasan buah senjata piauw melayang ke arah lawannya. Namun Thian Beng Tosu sudah menduga akan hal ini, cepat memutar pedangnya menangkis. Pada saat itu Hek-houw Bhe Lam bersuit ketika ia mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk menghadapi lawannya. Dengan perlahan tapi tentu Tian Beng Tosu mendesak penjahat itu. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suitan dari dalam hutan dan tak lama kemudian muncullah tiga orang tinggi besar yang segera menerjangnya dengan golok di tangan. Mereka ini adalah orang-orang yang sengaja disuruh menjaga di situ oleh kepala rampok ini dan tadi ia memang sengaja memancing Thian Beng Tosu memasuki hutan ini agar ia bisa mendapatkan bantuan tiga orang temannya.

Setelah tiga orang itu mengeroyok, keadaan menjadi terbalik. Kini tosu inilah yang terdesak dan dihujani serangan dari kanan kiri, depan dan belakang. Ia mulai sibuk dan terpaksa hanya dapat mempertahankan dirinya tanpa mampu balas menyerang. Keadaannya benar-benar berbahaya sekali dan Hek-houw Bhe Lam mulai mengejek dan mentertawakan.

Akan tetapi tiba-tlba terdengar bentakan nyaring dan seorang gadis muda yang cantik manis dengan sederhana, diikuti oleh seorang wanita setengah tua yang berpakaian seperti seorang pertapa tahu-tahu muocul dari balik pepohonan dan langwng kedua orang wanita itu menerjang empat orang penjahat tadi. Hebat sekali permainan pedang gadis sederhana itu, akan tetapi lebih hebat permainan silat wanita pertapa yang hanya memegang sebatang ranting kecil. Dalam beberapa gebrakan saja empat orang penjahat itu telah terjungkal dalam keadaan terluka.

Gadis itu dengan gemas menggerakkan pedang hendak membunuh Hek-houw Bhe Lam, akan tetapi tiba-tiba Thian Beng Tosu berseru, "Jangan bunuh!" Gadis itu menahan pedangnya dan memandang kepada tosu Hoa-san-pai ini dengan sinar mata penuh keharuan. Sebaliknya Thian Beng Tosu dan wanita pertapa ini berdiri seperti patung dan saling pandang seperti terkena pesona.

"Lee Giok... kau Lee Giok .... " bibir Thian Beng Tosu bergerak-gerak mengeluarkan

bisikan.

Wanita pertapa itu meramkan kedua.. matanya dan menitiklah air mata di atas kedua pipinya yang masih segar kemerahan. Memang benar dia adalah Lee Giok, isteri Thian Beng tosu.

"Dan dia ini...?" lagi-lagi Thian Beng Tosu berkata perlahan sekali menoleh ke arah gadis yang cantik gagah perkasa itu.

"... dia Hui Cu... anak kita..." terdengar wanita pertapa itu berkata.

Mendengar ini, gadis itu yang bernama Thio Hui Cu, segera menjatuhkan diri berlutut di depan Thian Beng Tosu sambil berkata, "Ayah .... !"

Tosu ini membungkuk dan meraba kepala anaknya, air matanya bercucuran, kemudian ia menarik bangun anaknya, memandangi sampai lama sekali lalu berdongak ke atas dan berkata, "Siancai... Tuhan Maha Adil... siapa sangka aku akan dapat bertemu dengan kalian dalam keadaan selamat? Ya Tuhan, terima kasih atas kemurahan-Mu .... "

Setelah keharuan mereka mereda, Lee Giok berkata, "Dia ini... bukankah dia penjahat Bhe Lam yang dahulu itu?"

Baru sekarang Thian Beng Tosu teringat akan empat orang penjahat yang masih berada

di situ karena tidak berani melarikan diri. "Betul, dan mereka inilah yang menjadi lantaran pertemuan kita. Karena itu, biarlah kita ampunkan mereka. "Bhe Lam, sekali lagi kami mengampunimu, harap saja kau dapat sadar dan insyaf bahwa menyimpang dari jalan kebenaran bukanlah hal yang akan dapat menyelamatkan dirimu. Nah, pergilah dan semoga Thian akan memberi bimbingan kepada jiwamu."

Dengan malu sekali, juga bersyukur karena kembali dia diampuni, Bhe Lam dan teman- temannya pergi terpincang-pincang. Setelah mereka pergi, suami isteri dan anak mereka ini saling berpandangan, penuh kebahagiaan dan penuh keharuan.

"Kau... selama ini di manakah? Kenapa tidak kembali ke Hoa-san mencariku?" Dalam pertanyaan yang halus ini sama sekali tidak terkandung suara penyesalan, namun cukup membuat Lee Giok kembali mengucurkan air mata.

"Bagaimana aku berani? Aku... aku... telah ternoda oleh si jahat Giam Kin. Baiknya ada Adik Hong yang menolongku

....dan aku lari ke sini, aku... aku bersembunyi dalam hutan, bertapa... dan mendidik anak kita ini... aku telah mengambil keputusan tidak akan menggangumu kecuali kau yang mendapatkan aku. Siapa duga... kau bertempur dengan mereka itu dan... dan... ah, kenapa kau sekarang telah menjadi tosu?"

Thian Beng Tosu tersenyum, lalu dengan penuh kebahagiaan ia memegang tangan isterinya di tangan kanan, tangan Hui Ci di tangan kiri. "Dan kau sendiri? Kau pun menjadi seorang tokouw (pendeta perempuan). Bagus sekali! Ternyata bukan aku saja yang sudah menemukan jalan benar, juga kau, isteriku Lee Giok, sekarang tinggal kita mendoakan saja demi kebahagiaan hidup anak kita. Marilah ikut aku ke puncak menemui Supek. Tahukah kau bahwa sekarang yang menjadi ketua adalah Supek Kwa Tin Siong?"

Dengan penuh kegembiraan Thian Beng Tosu bersama anak dan isterinya lalu menuju ke Puncak Hoa-san dan di tengah perjalanan mereka saling menceritakan pengalaman mereka yang pahit dan penuh penderitaan. Dapat dibayangkan betapa kebahagiaan ini menjadi makin berlimpah ketika mereka tiba di tempat pertempuran tadi melihat bahwa Kui Lok dan Thio Bwee berada pula di situ, malah Li Eng gadis nakal yang lihai itu ternyata adalah puteri mereka.

Hujan tangis terjadi ketika Thian Beng Tosu muncul bersama Lee Giok dan Hui Cu. Segera Kwa Tin Siong memerintahkan para murid untuk mengurus mayat-mayat

itu dan merawat mereka yang terluka. Dia sendiri dengan perasaan duka bercampur suka ria mengajak para murid Hoa-san-pai itu masuk ke dalam kuil. Akan tetapi tiba-tiba Liem Sian Hwa berkata dengan kaget,

"Eh, di mana Kun Hong?"

Beberapa orang tosu menjawab bahwa mereka tadi melihat Kun Hong lari pergi dari tempat itu, turun dari puncak. Ketika para tosu hendak mencegah dan memberi tahu bahwa mungkin ada orang jahat di lereng gunung, Kun Hong malah marah-marah dan membentak mereka, "Jangan bicara padaku, kalian semua juga jahat, pembunuh- pembunuh kejam. Aku tidak sudi lagi tinggal di sini!"

Tentu saja Liem Sian Hwa berkuatir sekali, akan tetapi Kwa Tin Siong yang sekarang merasa betapa puteranya itu amat lemah dan tak dapat dibandingkan dengan Li Eng atau Hui Cu yang biarpun merupakan anak-anak perempuan namun memiliki kegagahan, segera berkata,

"Biarkanlah, memang sudah tiba waktunya bagi dia untuk meluaskan pengalaman ke bawah gunung. Kalau sudah banyak menghadapi kesukaran, baru ia menjadi dewasa dan dia tentu akan kembali ke sini." Ia pun mencegah dan menghibur isterinya yang tadinya bermaksyd untuk mengejar dan mencari puteranya. Sian Hwa sendiri karena merasa malu kalau harus memperlihatkan kelemahan puteranya dan juga kelemahannya sendiri yang terlalu menguatirkan seorang anak laki-laki, terpaksa menurut walaupun hatinya penuh kegelisahan. Mereka semua lalu masuk ke dalam kuil dan menceritakan pengalaman masing-masing. Yang membuat Ketua Hoa-san-pai ini girang dan bangga sekali adalah ketika ia mendengar bahwa Kui Lok dan Thio Bwee kini telah mewarisi ilmu kepandaian yang ditinggalkan oleh Lian Ti Tojin sehingga tingkat kepandaian dua orang murid keponakan ini jauh melampaui tingkatnya sendiri. Hal ini berarti memperkuat kedudukan Hoa-san-pai. Keluarga besar keturunan Lian Bu Tojin ini sekarang telah berkumpul di Hoa-san-pai dan dengan adanya mereka, kiranya tidak akan ada sembarang orang berani mengacau Hoa-san-pai lagi.

Hati Kun Hong penuh kedukaan dan kemarahan. Sama sekali di luar dugaannya bahwa ayah bundanya, juga para tosu Hoa-san-pai yang setiap hari belajar tentang kebajikan, sekarang berubah menjadi pembunuh-pembunuh yang amat kejam menurut pendapatnya. Puluhan orang manusia dibunuh di puncak Hoa-san.

"Aku tidak mau melihat mereka lagi, aku tidak sudi lagi kembali ke Hoa-san-pai!" demikian hatinya menjerit penuh kengerian ketika terbayang di depan matanya mayat- mayat manusia menggeletak tumpang-tindih itu. Celaka, pikirnya, ibunya dan semua tosu Hoa-san-pai tentu akan ditangkap dan dimasukkan penjara. Biarpun ia, tidak pernah belajar ilmu silat, namun Kun Hong memang pada dasarnya memiliki tubuh yang sehat kuat dan berkat kemauannya yang luar biasa kokoh kuatnya, ia tidak merasakan kelelahan kedua kakinya. Ia berlari terus menuruni puncak. Maksudnya hendak mencari dusun terdekat untuk menemui kepala dusun dan melaporkan tentang pertempuran di

puncak itu, Biarlah yang berwajib yang mengurusnya, tapi ia tidak akan kembali ke sana, pikirnya.

Tiba-tiba ia melihat orang berjalan terhuyung-huyung, mengeluh lalu roboh tak jauh dari tempat ia berdiri. Cepat Kun Hong lari menghampiri dan kagetlah ia ketika melihat bahwa orang itu bukah lain adalah Toat-beng Yok-mo, kakek bongkok yang tadi ia lihat mengamuk di Puncak Hoa-san. Hatinya memang penuh welas asih, melihat kakek itu luka-luka di pundak dan lambung, mengucurkan darah, ia segera berlutut dan bertanya, "Toat-beng Yok-mo, kau kenapakah?" Kakek itu mengeluh dan membuka matanya, kelihatan kesakitan sekali. Ketika ia melihat Kun Hong, sekejap ia kelihatan kaget, akan tetapi kemudian terheran-heran.

"Lekas... tolong kauambilkan bumbung (tabung bambu) dalam buntalanku di punggung ini... lekas... dan hati-hati, jangan menyentuh tanganku .... " katanya dengan suara

terengah-engah.

Kun Hong melihat ke arah kedua tangan kakek itu dan bergidik ngeri. Kedua tangan kakek itu telah hitam seperti hangus terbakar dan teringatlah ia akan racun hebat yang mengakibatkan kematian tosu Hoa-san-pai dan kemudian karena dipegang oleh Bu Tosu mengakibatkan hal yang amat mengerikan. Ingin ia lari pergi menjauhi kakek yang seperti iblis ini, akan tetapi melihat orang tua itu terluka dan berada dalam keadaan payah sekali, hatinya tidak tega. Ia lalu menurunkan bungkusan dari punggung kakek itu dan membukanya. Di antara bungkusan-bungkusan obat dan pakaian, ia mengambil sebatang bambu besar dan pendek yang disumbat kayu dan tabung itu diberi lubang untuk hawa, seperti tempat jengkerik akan tetapi tabung itu besar.

"Inikah bumbung itu?" tanyanya.

"Betul, buka sumbatnya dan keluarkan isinya. Hati-hati, katak putih hijau ini jangan sampai terlepas. Kaupeganglah erat-erat!" Toat-beng Yok-mo berkata tergesa-gesa dan sinar kegembiraan terpancar keluar dari sepasang matanya yang tadi sayu dan penuh kegelisahan

"Katak?" Kun Hong terheran-heran sambil membuka sumbatnya dan tiba-tiba seekor katak yang besar dan berkulit seperti salju meloncat keluar dari tabung itu.

"Wah, terlepas .... !" kata Kun Hong.

"Goblok kau! Celaka..., lekas tangkap jangan sampai hilang. Kalau dia hilang aku mati

....!" Mendengar ucapan ini Kun Hong menjadi pucat, lalu ia mengejar katak itu sampai jatuh bangun. Ini urusan nyawa orang, pikirnya. Katak itu tidak begitu cepat gerakannya, akan tetapi selambat-lambatnya katak, pandai melompat sehingga tiap kali Kun Hong menubruk, katak itu melompat membuat pemuda itu terpaksa mengejar lagi dan menubruk lagi sampai jatuh bangun dan pakaiannya kotor semua. Akan tetapi akhirnya dapat juga ia menangkap katak itu. Biarpun pakaiannya kotor semua dan kedua

lengannya babak-belur tertusuk duri, namun Kun Hong girang sekali karena dapat menangkap kembali katak itu yang segera dibawanya lari kepada Toat-beng Yok-mo.

"Sudah dapat kutangkap kembali, Yok-mo," katanya girang.

Keadaan Toat-beng Yok-mo makin payah, napasnya terengah-engah. "Lekas... dekatkan mulutku katak itu

...." Kedua tangan yang hangus itu dapat digerakkan lagi. Kun Hong mendekatkan katak itu ke mulut Yok-mo dengan heran karena tidak tahu apa yang dimaksudkan, akan tetapi alangkah herannya ketika ia melihat kakek itu membuka mulut dan... menggigit kaki belakang katak itu sampai mengucurkan darah yang lalu dihisap.

"Eh..., eh, kau makan katak hidup ini?" teriaknya heran dan mencoba untuk menarik katak itu. Akan tetapi tiba-tiba kaki Yok-mo bergerak menendang dan tubuh Kun Hong mencelat jauh. Pemuda ini merayap bangun dan bersungut-sungut.

"Kau memang jahat! Katak tidak berdosa kaugigit dan kau menendangku!" Akan tetapi ia melihat keanehan setelah kakek itu minum darah katak. Kedua tangannya yang tadinya hangus itu cepat sekali pulih kembali dan lenyaplah warna hitam tadi. Tak lama kemudian kakek itu mengambil katak dari mulutnya, memasukkannya kembali ke dalam tabung dan... tertidurlah kakek itu mengorok enak sekali.

Kun Hong adalah seorang yang cerdik. Melihat ini tahulah ia bahwa darah katak itu adalah obat yang amat mujarab bagi racun hitam. Ia ingin sekali bertanya karena merasa tertarik bukan main. Akan tetapi karena kakek itu tertidur nyenyak, ia tidak mau mengganggunya dan perhatiannya segera tertarik oleh tiga jilid kitab yang terletak di dalam bungkusan kakek itu yang masih terbuka.

Segera ia mendekati lalu mengambil buku-buku itu. Ternyata adalah kitab-kitab pengobatan. Kitab pertama berjudul “SELAKSA MACAM OBAT”, kitab ke dua berjudul "SELAKSA MACAM CARA PENGOBATAN" dan yang ke tiga berjudul "RAHASIA PEREDARAN DARAH DALAM TUBUH" Kun Hong adalah seorang kutu buku. Melihat kitab sama dengan seorang kelaparan melihat roti. Dengan lahapnya ia lalu membuka kitab-kitab itu dan membacanya. Yang dibukanya adalah kitab rahasia tentang peredaran darah dalam tubuh. Biarpun pusing kepalanya membaca huruf-huruf kuno dengan gambar tentang perjalanan darah disertai ribuan macam istilah yang asing baginya namun karena nafsunya membaca amat luar biasa, ia memaksa diri membaca terus.

Setengah hari Yok-mo tidur nyenyak dan setengah hari pula Kun Hong membaca kitab

itu. Sekarang ia mengerti bahwa peredaran darah erat sekali hubungannya dengan pernapasan dan bahwa pernapasan menjadi sumber dari tenaga dalam di tubuh manusia. Asyik sekali ia membaca dan mulai banyaklah hal-hal menarik dalam kitab itu terutama yang mengenai pengertian tentang keadaan tubuh yang berhubungan dengan cara pengobatan.

"Aduh... keparat .... pundak dan lambungku panas sekali .... " Tiba-tiba suara ini

membangunkannya dari alam mimpi yang amat menarik hati. Akan tetapi ia segera mengerti bahwa yang mengeluh itu adalah Toat-beng Yok-mo, maka ia tidak mempedulikan dan melanjutkan bacaannya.

"Uh... uhh... sakit dan panas... heee! Jangan baca kitab-kitabku!

Kun Hong menutup buku itu dan meletakkannya dalam bungkusan, lalu menoleh. Kakek itu masih rebah telentang nampak lemah dan kesakitan. Ia cepat menghampiri.

"Bagaimana, Yok-mo? Sudah sembuhkah tanganmu?"

Tiba-tiba tangan kakek itu bergerak dan tahu-tahu pergelangan tangan Kun Hong sudah dicengkeram erat-erat. Pemuda ini merasa tangannya kesakitan, mencoba untuk melepaskan cengkeraman itu namun tak berhasil.

"Eh, kau ini ada apakah? Lepaskan tanganku!"

"Tak boleh kau membaca kitab-kltabku!"

"Baca saja apa salahnya, sih? Kalau kau tidak membolehkannya, aku pun tidak memaksa. Hemm, tanganmu panas sekali, lepaskan aku."

Yok-mo melepaskan pegangannya, mengeluh lagi dan berkata dengan napas sesak, "Luka-lukaku... mengakibatkan demam panas... lekas kau carikan daun pohon sari darah, akar buah ular dan cacing hitam .... "

Kun Hong menjadi bingung. "Ke mana aku mencari? Dan yang bagaimanakah macamnya daun dan akar serta cacing yang kausebutkan itu?"

"Ah... benar juga... kau mana tahu? Celaka..., selain demam aku pun... banyak kehilangan darah... ah, kautolonglah aku, orang muda .... "

Kun Hong merasa kasihan sekali. Ia meraba jidat kakek itu dan ternyata panas sekali. "Ah, Yok-mo, aku benar-benar ingin sekali menolongmu. Akan tetapi bagaimana caranya? Mencarikan obat-obat yang kausebutkan tadi aku tentu mau, akan tetapi aku tidak tahu..."

"Tak usah mencari... kauantarkan saja aku... ke tempat tinggalku... di sana terdapat segala obat yang kubutuhkan .... "

" jawab Kun Hong cepat. Tentu saja pemuda yang berwatak jujur ini tidak tahu akan maksud kakek itu sebenarnya. Toat-beng Yok-mo maklum bahwa dalam keadaan terluka seperti sekarang ini, kalau sampai ia bertemu dengan musuh-musuhnya, dalam hal ini orang-orang Hoa-san-pai, tentu ia akan celaka dan tidak dapat melakukan perlawanan. "Mengantar kau kembali ke tempat tinggalmu? Tentu, boleh saja. Mari kuantar kau ....

Dengan membawa Kun Hong di dekatnya, ia dapat rnempergunakan pemuda ini sebagai jaminan untuk keselamatannya.

"Kau baik sekali... uhhh... uhhh .... " Ia mencoba berdiri akan tetapi merasa pusing dan

terguling kembali.

"Bagaimana? Apakah kau tidak bisa jalan .... ?" tanya Kun Hong kuatir dan penuh

perasaan iba.

Sebagai seorang cerdik yang sudah banyak pengalaman, Toat-beng Yok-mo sudah dapat menyelami watak Kun Hong, maka kembali ia sengaja mengeluh dan mengaduh untuk memperdalam perasaan iba di hati pemuda itu. Kemudian dengan suara bisik-bisik seperti orang yang amat payah keadaannya ia berkata, "Aku... aku tidak bisa jalan... berdiri pun tidak kuat... ah, anak yang baik... kalau kau kasihan kepada aku orang tua... kau gendonglah aku .... "

Kun Hong benar-benar sudah tergerak hatinya dan merasa amat kasihan kepada kakek itu. "Baiklah, Yok-mo, kau akan kugendong." Ia lalu membungkus kembali bawaan kakek itu, mengikatnya di punggung Toat-beng Yok-mo, setelah itu lalu menggendong kakek ini di punggungnya sendiri dan berjalan ke arah yang ditunjuk oleh Toat-beng Yok-mo. Kun Hong bertubuh kuat dan bertenaga besar, maka menggendong tubuh yang kecil kering dan tua itu tidaklah sukar baginya. Akan tetapi karena ia tidak terlatih dan tidak biasa bekerja berat, perjalanan mereka ini berlangsung lambat sekali dan sering kali terpaksa beristirahat.

Diam-diam Toat-beng Yok-mo terheran-heran mengapa Ketua Hoa-san-pai yang gagah

itu mempunyai seorang putera yang begini tidak ada gunanya. Karena ia membutuhkan bantuan Kun Hong untuk menggendongnya dan dijadikan jaminan akan keselamatannya, maka di waktu istirahat ini ia mengajar Kun Hong cara berduduk diam (bersamadhi), mengatur pernapasan untuk memperkuat daya tahan tubuhnya sehingga membuat pemuda ini lebih tahan berjalan jauh.

"Toat-beng Yok-mo, aku sudah membaca kitab-kitabmu biarpun hanya sedikit dan aku tertarik sekali. Baik sekali memiliki kepandaian untuk mengobati orang sakit. Kalau kau suka mengajarku dalam ilmu pengobatan, aku suka menjadi muridmu."

Diam-diam kakek ini menyeringai. Ia sudah mengambil keputusan untuk membawa kepandaiannya sampai mati, tidak akan ia turunkan kepada siapapun juga. Kecuali kalau ada murid yang suka berjanji bahwa murid itu akan membunuh setiap orang yang sudah diobatinya. Akan tetapi ia tahu pula bahwa pemuda ini tak mungkin mau menerima syarat itu, maka ia berpura-pura.

"Kau anak baik sekali, tentu saja aku suka menerima kau menjadi muridku. Dan kau tahu, pelajaran samadhi dan mengatur napas yang kuajarkan ini adalah tingkat pertama dari ilmu pengobatan. Maka kau berlatihlah baik-baik setiap kali kita beristirahat."

Karena kurang pengalaman, Kun Hong mempercayai omongan ini dan betul saja ia berlatih giat sekali di waktu beristirahat dan di waktu malam, Ia sama sekali tidak tahu bahwa kakek itu melatih ia samadhi dan mengatur pernapasan agar badannya kuat dan tahan lebih lama melakukan perjalanan jauh itu sambil menggendong. Baiknya kakek itu ternyata mempunyai simpanan banyak emas dalam buntalan sehingga untuk makan dan menyewa rumah penginapan bukan soal yang sulit lagi bagi mereka. Sebetulnya, dengan makan obat yang dibeli di kota yang mereka lalui, kakek itu sudah banyak mendingan sakitnya dan sudah kuat berjalan lagi. Akan tetapi, kesehatannya belum pulih semua dan andaikata ia bertemu lawan tangguh, ia masih belum sanggup melawan. Maka untuk membuat Kun Hong sungkan meninggalkannya, ia berpura-pura masih tidak kuat jalan dan membiarkan pemuda itu terus menggendongnya sepanjang jalan.

Pada suatu hari, menjelang tenga hari yang panas terik, Kun Hong dan Yok-mo beristirahat di sebuah hutan yang amat liar. Mereka sudah tiba di daerah lembah Sungai Huai di mana banyak sekali terdapat hutan-hutan lebat dan gunung-gunung yang masih liar. Daerah ini sudah dekat dengan tempat tinggal Toat-beng Yok-mo, yaitu di pusat gerombolan Ngo-lian-kauw yang dikepalai oleh Kim-thouw Thian-li. Karena merasa bahwa ia sudah berada dl daerah sendiri dan kiranya sekarang tak mungkin orang-orang Hoa-san-pai dapat mengejarnya, Yok-mo mengambil keputusan untuk mencabut nyawa pemuda yang selama ini mengantar dan menggendongnya. Ia tidak memerlukan lagi pemuda ini, baik sebagai pengantar maupun sebagai jaminan. Sesungguhnya dalam beberapa hari ini ia sudah merasa bosan sekali digendong oleh pemuda yang tidak dapat berjalan cepat itu. Andaikata ia melakukan perjalanan sendiri, dengan ilmunya berlari cepat, kiranya ia sudah sampai di rumahnya. Semata-mata untuk menjamin keselamatannya belaka ia terpaksa membiarkan dirinya digendong oleh Kun Hong.

Melihat betapa pemuda ini sekarang tekun duduk bersila, mengumpulkan panca inderanya dan mengatur pernapasan, kakek ini tersenyum menyeringai. Diam-diam ia harus mengakui bahwa pemuda ini sesungguhnya memiliki tulang bersih dan bakat yang amat baik, pula amat cerdas sehingga sekali membaca atau mendengar sudah hafal dan takkan melupakannya lagi.

"He, Kun Hong... bangunlah jangan tidur saja!" ia menegur. Kun Hong membuka matanya dan terheran-heran melihat kakek itu duduk bersandar pohon seperti biasanya sambii tensenyum-senyum aneh,

"Yok-mo, aku tidak tidur, melainkan melatih samadhi seperti biasa. Latihan ini baik sekali, aku merasa sehat dan kuat semenjak berlatih. Kitabmu itu benar-benar mengandung pelajaran pengobatan yang luar biasa."

"Heh-heh-heh, apa kau ingin membaca lagi?"

Wajah Kun Hong nampak kecewa. "Semenjak pertemuan kita dahulu kau sudah tahu jelas bahwa tidak ada keinginan lain padaku kecuali membaca tiga kitabmu itu. Tapi kau selalu melarang."

"Heh-heh-heh, kau benar-benar ingin membacanya? Kun Hong, kau sudah melepas budi kepadaku, merawat dan mengantarkan, aku sampai di sini. Kalau sekarang aku membolehkan kau membaca ketiga kitabku, apakah aku boleh menganggap budimu itu sudah terbalas dan sudah lunas?"

Kun Hong memang seorang yang berwatak polos dan bersih. Ia menolong kakek itu tanpa pamrih apa-apa, tanpa mengharap balasan malah sama sekali tidak ada ingatan dalam hatinya bahwa ia telah melepas budi kepada orang. Mendengar kakek itu membolehkan ia membaca kitab-kitab itu, ia menjadi girang sekali dan berkata, "Terima kasih, Yok-mo, kau baik sekali!" Tanpa mempedulikan yang lain-lain lagi ia lalu membuka buntalan yang ditaruh di bawah pohon, mengeluarkan tiga kitab itu dan segera ia mulai membaca.

Belum lama ia membaca, tiba-tiba terdengar suara melengking tinggi yang menggetarkan isi hutan itu. Kun Hong terkejut sekali dan lebih-lebih herannya ketika ia melihat kakek bongkok itu sudah berdiri dengan tongkat di tangan, memandang ke depan dengan mata terbelalak. Keheranannya ini bercampur rasa girang karena kalau kakek itu sudah dapat berdiri, berarti kesehatannya sudah

mulai pulih. Akan tetapi segera ia kaget sekali melihat cahaya kuning emas menyambar turun dari atas, tak jauh dari tempat itu. Seekor burung yang amat besar meluncur turun untuk menyusup ke dalam semak-semak, Akan tetapi burung itu cepat sekali gerakannya, dan tahu-tahu kelinci itu sudah dapat dicengkeramnya. Akan tetapi sebelum burung itu dapat terbang kembali, dengan satu kali melompat saja Toat-beng Yok-mo sudah berada di dekatnya.

"Rajawali emas! Bagus sekali... aku harus menangkap burung ini!" sambil berkata demikian kakek itu menerjang dengan kedua tangan terpentang, siap menangkap burung besar itu. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika burung itu tiba-tiba menggerakkan sayap kanannya menghantam ke arah kepalanya. Yok-mo cepat mengelak akan tetapi tahu-tahu tubuhnya sudah terpukul oleh sayap kiri burung itu yang ternyata menggunakan cara penyerangan aneh sehingga kelihatannya sayap kanan yang menampar, tidak tahunya sayap kiri yang betul betul bergerak.

Akan tetapi Yok-mo adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi. Pukulan itu membuat tubuhnya terpental akan tetapi tidak melukainya. Ia cepat meloncat bangun dan sepasang matanya bersinar-sinar.

! Inilah kim-tiauw (rajawali emas) yang jarang bandingannya! Jantung dan otaknya akan menjadi bahan obat kuat yang mujijat!" Ia melompat lagi dan kembali ia menyerang. Burung itu agaknya marah dan anehnya, ia tidak mau terbang pergi. Malah kini ia melepaskan bangkai kelinci tadi dan tegak, seperti seorang pendekar siap menghadapi datangnya penyerangan lawan. "Hebat ....

Toat-beng Yok-mo dengan hati-hati sekali menerjang maju, siap untuk mencengkeram

leher burung itu sambil memperhatikan gerakan binatang ini, agar jangan tertipu seperti tadi. Ia sengaja memukul ke arah dada burung dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya mencengkeram ke arah leher. Hebat sekali serangannya ini. Akan tetapi kembali ia melengak ketika melihat betapa dengan langkah-langkah kaki yang amat aneh, diikuti gerakan kedua sayapnya, burung itu telah dapat mengelakkan kedua serangannya ini dengan amat mudahnya. Malah bukan hanya mengelak, burung itu dengan kecepatan yang luar biasa telah menggerakkan kepala mematuk mata kiri Toat-beng Yok-mo.

!" Yok-mo cepat melompat ke kanan. Gerakannya belum cepat karena kesehatannya memang belum pulih benar-benar. Kagetnya bukan kepalang melihat penyerangan yang lebih dahsyat daripada tusukan pedang itu. Akan tetapi, sekali lagi ia tertipu karena begitu ia melompat ke kanan, burung itu menarik kembali kepalanya dan kaki kirinya bergerak ke depan menendang. Sekali lagi tubuh kakek itu terlempar, malah bergulingan seperti seekor trenggiling. Hebatnya, gerakan kaki burung itu persis tendangan kaki manusia, dan digerakkan dengan cepat dan mengandung tenaga amat kuat. "Celaka ....

Yok-mo mengeluh dan merangkak bangun, bermacam perasaan mengaduk di hatinya ketika ia memandang kepada burung itu dengan mata terbelalak. Heran, kaget dan marah sekali. Sudah bertahun-tahun ia ingin mendapatkan seekor burung seperti ini, burung rajawali emas yang jarang sekali terdapat di dunia ini dan hanya muncul dalam dongeng- dongeng kuno. Menurut pengetahuannya tentang ilmu pengobatan, jantung burung rajawali emas dapat dibuat menjadi obat penguat tubuh yang luar biasa sedangkan otak burung itu dapat dibuat menjadi bahan obat terhadap bermacam-macam luka berbisa. Sekarang, tak terduga-duga olehnya, ia bertemu burung ini, akan tetapi siapa sangka bahwa burung Ini ternyata bukanlah burung biasa, gerakan-gerakannya hebat sekali seperti seorang ahli silat kelas tinggi. Betapapun juga, Yok-mo menjadi penasaran. Ia masih belum mau kalah. Mungkin karena tubuhnya belum pulih benar maka tenaganya berkurang dan kecepatannya pun tidak seperti biasa sehingga dua kali ia dibikin roboh oleh burung itu. Sekarang ia telah mengeluarkan tongkatnya, tongkat hitam yang selama ini ia sembunyikan saja di balik bajunya.

Dengan kemarahan meluap kakek ini lalu melompat maju dan menyerang burung itu dengan tongkat hitamnya. Aneh sekali, burung itu agaknya tahu akan keampuhan tongkat hitam itu. Ia mengeluarkan bunyi melengking lalu terbang dan dari atas ia menyambar kepala Toat-beng Yok-mo. Kakek ini sudah siap sedia, cepat mengelak dan membalas dengan tusukan tongkatnya. Burung itu ternyata gentar menghadapi tongkat sehingga serangannya selalu gagal karena ia harus mengelak dari sambaran tongkat yang ampuh itu. Pertempuran itu menjadi seru sekali, burung itu menang gesit akan tetapi dengan mengandalkan tongkatnya yang ditakuti lawannya, Yok-mo dapat mempertahankan dirinya malah dapat balas menyerang dengan hebat.

Sementara itu, semenjak tadi Kun Hong melongo. Kagumnya bukan main melihat burung yang indah sekali, dengan bulu berwarna mengkilap kuning keemasan itu. Segera ia merasa suka dan sayang kepada binatang itu. Lebih-lebih kagumnya ketika ia melihat betapa burung itu dengan mudahnya dapat membuat Toat-beng Yok-mo yang

berkepandaian tinggi itu terguling-guling. Pemuda ini sebetulnya mempunyai rasa kagum dan suka akan kegagahan sungguhpun ia benci sekali akan pembunuhan dan penyiksaan. Baginya, kegagahan seharusnya dipergunakan untuk menegakkan keadilan tanpa melakukan pembunuhan, cukup dengan mengalahkan yang jahat dan memaksanya kembali ke jalan benar. Melihat burung indah itu mengalahkan Yok-mo, ia kagum sekali. Akan tetapi kekagumannya itu berubah menjadi kekuatiran besar ketika Yok-mo mengeluarkan tongkatnya yang mengerikan dan terjadi pertempuran seru antara dua lawan yang memiliki gerakan cepat membuat ia bingung memandangnya itu.

Karena tadi terpesona oleh keindahan burung dan sekarang menjadi bingung menyaksikan pertempuran mati-matian itu, tanpa disengaja tiga jilid kitab yang dipegangnya itu ia masukkan daiam saku bajunya yang lebar. Ia lalu berdiri dan menyambar tabung bambu terisi katak putih. Hanya itulah yang akan dapat mengobati luka mengerikan yang diakibatkan oleh tongkat hitam itu, pikirnya. Sambil membawa tabung itu ia berlari sambil berteriak,

"Jangan bunuh burung itu! Yok-mo, sayang sekali kalau sampai ia terluka .... !"

Setelah dekat dengan tempat pertempuran, Kun Hong makin suka dan kagum melihat burung itu yang memang amat indah. Juga ia melihat adanya sebuah kalung mutiara tergantung di leher burung itu. Maka tahulah ia bahwa burung ini tentulah ada yang punya, tentu burung peliharaan orang.

"Yok-mo, jangan bunuh dia, tentu ada pemiliknya. Lihat kalung itu!"

Tentu saja Toat-beng Yok-mo juga sudah melihat kalung mutiara besar-besar yang tergantung di leher burung itu. Akan tetapi sudah tentu saja ia tidak ambil peduli. Ada yang punya atau tidak, burung ini harus ia tangkap, ia bunuh untuk diambil jantung dan otaknya. Ia memperhebat permainan tongkatnya dan makin lama ia bersilat, ia merasa bahwa kekuatannya mulai pulih kembali.

Burung itu pun mulai menjadi marah sekali. Apalagi ketika ia meiihat Kun Hong datang berlari-lari, dianggapnya bahwa tentu ia akan dikeroyok. Ia memekik keras dan menerjang Yok-mo dengan serbuan yang dahsyat sekali. Yok-mo juga kaget, tak menduga bahwa burung itu dapat melakukan serangan demikian hebatnya. Dalam kegugupannya melihat sepasang sayap berikut sepasang cakar dan sebuah paruh yang kuat dan runcing itu sekaligus menyerangnya, Yok-mo memutar tongkatnya, melindungi diri. Namun secara aneh sekali cakar kiri burung itu dapat menyelinap di antara gulungan sinar tongkatnya dan mencengkeram ke arah muka Yok-mo.

!" Yok-mo berteriak kaget dan ia menjadi nekat. Ia menarik tongkatnya itu

lalu ia tusukkan ke arah kaki berkuku runcing mengerikan yang hendak mencengkeram mukanya. Tepat sekali ujung tongkatnya menusuk telapak kaki burung itu, akan tetapi pada saat itu sayap kanan burung itu menghantam kepala dan pundaknya. "Mati aku ....

"Blukkk!" Tubuh Toat-beng Yok-mo terlempar jauh dan kakek ini roboh pingsan. Bukan

main hebatnya hantaman sayap tadi yang akan dapat menghancurkan kepala seekor harimau. Burung itu menjerit-jerit kesakitan dan anehnya, kaki kirinya menjadi putih sekali seperti kaki mati. Dalam kesakitan itu ia menjadi makin marah dan segera ia melompat ke arah tubuh Yok-mo.

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…