Skip to main content

Rajawali Emas 5 - Kho Ping Hoo

"Ssttt, dengar.. baik-baik .... " bisiknya rnemperingatkan suaminya.

"Srrtt-srttt!" Suami isteri itu menghunus pedang, digenggam erat-erat dan berdiri siap siaga. Mereka mendengar langkah kaki yang amat ringan datang dari depan.

" bisik lagi Lee Giok. Thio Ki maklum akan maksud isterinya

dan ia lalu berdiri di sebelah kiri pintu sedangkan isterinya menjaga di sebelah kanan. Menurut rencana Lee Giok, musuh itu biar mendobrak pintu kalau bisa melalui lantai penuh paku, kemudian menerima sambaran anak panah dan diterjang oleh mereka berdua dari kanan kiri. Biarpun musuh lebih pandai, kiranya takkan dapat menyelamatkan diri kalau dihujani serangan seperti ini. "Jaga kanan kiri pintu ....

Suara langkah kaki yang ringan itu makin lama makin dekat, berhenti di depan pintu di mana telah disebar paku-paku oleh Lee Giok. Keadaan makin tegang dan makin sunyi setelah langkah kaki itu berhenti dan tak terdengar lagi. Lee Giok yang biasanya tabah dan sudah biasa menghadapi saat-saat tegang ketika ia masih menjadi pejuang dahulu, kini mau tidak mau mengeluarkan keringat dingin. Apalagi Thio Ki yang memang sudah merasa gelisah sekali. Tubuhnya menggigil dan setiap saat ia bisa kalap, meloncat dan menerjang siapa saja yang muncul di saat itu. Senjata-senjata rahasia sudah siap di tangan kedua orahg ini.

Tiba-tiba terdengar suara perlahan di luar pintu, suara wanita yang bicara seorang diri setengah berbisik, "Aneh sekali... di luar terang mengapa di dalam gelap dan sunyi? Pergikah orang-orangnya? Dan paku-paku ini .... " Suara itu berhenti sebentar lalu

terdengar ia memanggil,

"Enci Lee Giok .... ! Enci Lee !" Lega bukan main hati Lee Giok setelah mengenal suara ini, seakan-akan ia merasa batu besar yang menindih dadanya dilepaskan. Giok! Suci (Kakak Seperguruan) ....

"Sumoi (Adik Seperguruan)... kaukah itu, Sumoi .... ??" tanpa disadari, suaranya

mengandung isak.

"Suci Lee Giok, kau kenapakah? Ah, tentu terjadi sesuatu yang hebat... jangan takut, Suci, aku datang .... " Terdengar orang bergerak di luar pintu.

"Nanti dulu, Sumoi... jangan masuk...!" teriak Lee Giok akan tetapi terlambat. Pintu telah didorong dari luar sehingga terbuka dan palangnya patah. Pada saat itu anak panah rahasia yang dipasang Lee Giok melesat ke depan, tiga batang banyaknya.

"Sumoi .... !" Lee Giok menjerit.

Dari luar berkelebat bayangan merah, bukan main cepatnya dan gesitnya gerakannya dan bagaikan seekor burung walet menyambar kupu-kupu, bayangan itu menyambar tiga batang anak panah itu dan di lain saat ia telah meloncat masuk ke dalam ruangan, tiga batang anak panah sudah berada di tangannya. Dari sinar lampu yang menyorot masuk ke dalam ruangan melalui pintu yang terbuka, tampaklah orang itu. la seorang gadis cantik

jelita berpakaian merah. Pakaian nya yang merah warhanya itu berpotongan ringkas dan membuat ia selain nampak cantik juga gagah sekali. Di belakang punggungnya tergantung sebatang pedang yang gagangnya dihias ronce-ronce dari benang kuning. Juga pengikai rambut, ikat pinggang, dan sepatunya berwarna seperti warna ronce-ronce pedangnya. Kulit mukanya putih halus dari manis bentuknya, rambutnya hitam panjang, sepasang mata, yang indah bentuknya itu bersinar-sinar dan bening seperti mata "burung hong", hidung dan mulutnya bagaikan bunga-bunga yang memperindah taman sari wajahnya. Kesemuanya itu menjadikan dia seorang gadis berwajah ayu..

Siapakah gadis jelita ini? Dia bukan lain adalah puteri tunggal dari Bu-tek Kiam-ong (Raja Pedang Tiada Bandingan) Cia Hui Gan, benama Cia Li Cu. la telah mewarisi ilmu silat ayahnya Bahkan telah mewarisi Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut (Ilmu Pedang Bidadari) yang bukan main indah dan lihainya. Karena kepandaiannya dan kecantikannya inilah maka akhir-akhir ini Cia Li Cu mendapat julukan Thai-San Sian-li (Dewi Gunung Thai-san) karena memang ayahnya tinggal di Gunung Thai-san. Seperti pernah kita ketahui, apalagi sudah jelas diceritakan dalam Raja Pedang, gadis jelita ini dipertunangkan dengan suhengnya`sendiri, yaitu Tan Beng Kui, Kakak dari Tan Beng San.

Dapat dibayangkan betapa lega dan girangnya hati Lee Giok melihat kedatangan sumoinya yang rnemiliki kepandaian amat tinggi itu. Saking girang dah terharunya ia segera menubruk, memeluk dan menciumi sumoinya sambil menangis.

?" tanyanya berganti- ganti kepada Lee Giok dan Thio Ki. "Dan kenapa gelap amat di sini? Pasanglah pelita"Eh-eh-eh... ada apakah Suci? Ci-hu (Kakak Ipar), ada apakah ....

.... "

Thio Ki ragu-ragu, belum berani menyalakan lampu, akan tetapi Lee Giok di antara isaknya berkata, "Setelah Sumoi berada di sini, kita takut apa lagi? Hayo pasang lampunya."

Thio Ki segera menyalakan lampu dan sebentar saja ruangan itu menjadi terang. Li Cu makin heran melihat keadaan suci dan cihunya begitu tegang, malah di dalam rumah telah melakukan persiapan seperti itu seakan-akan sedang menghadapi musuh yang amat hebat. la sudah berpengalaman dan tentu saja tanpa diceritakan lagi ia sudah dapat menduga bahwa sucinya menghadapi ancaman musuh. Sebetulnya Li Cu sendiri ketika datang, membawa hati yang sakit oleh urusan pribadinya, akan tetapi begitu melihat keadaan Lee Giok, urusan sendiri dilupakan dan ia menjadi marah sekali.

"Suci, katakan siapa yang berani kurang ajar mengancam keselamatanmu, katakan! Aku yang akan menghadapinya."

Lee Giok menarik napas panjang, lalu menuntun tangan Li Cu diajak ke dalam kamar. Thio Ki maklum bahwa isterinya hendak memperlihatkan tulisan darah anjing itu, maka ia pun ikut masuk. Tanpa berkata apa-apa Lee Giok menuding ke arah coretan merah di tembok itu, Li Cu memandang dan sepasang matanya yang indah berkilat.

"Keparat betul! Alangkah sombongnya. Binatang mana yang berani berbuat begini? la menghinamu, berarti menghinaku dan menghina ayah. Biarkan dia datang, Suci, kita lawan dan bikin mampus Si Sombong!" Li Cu menjadi merah kedua pipinya saking marahnya.

"Memang aku pun tadi siap hendak melawannya, Sumoi. Dan alangkah senang hatiku melihat kau datang, kau tahu... mereka itu lihai sekali." Lee Giok lalu menceritakan apa yang telah terjadi dan juga dugaannya bahwa penjahat itu tentu lebih dari seorang, Juga dugaannya bahwa agaknya yang akan mengganggu Itu tentulah Kim-thouw Thian-li dan mungkin juga bersama gurunya, Hek-hwa Kui-bo. Li Cu mengangguk-angguk, mengerti mengapa sucinya menduga demikian. Ia tahu bahwa dahulu sucinya ini mencinta mendiang Kwee Sin, adapun Kim-touw Thian-li adalah kekasih Kwee Sin. Selain permusuhan karena cemburu ini, juga memang Kim-thouw Thian-li dahulunya adalah kaki tangan pemerintah Mongol, sebaliknya Lee Giok adalah seorang pejuang,

"Kalau betul mereka yang datang, kau dan cihu bersama sama hadapilah Ngo-lian- kauwcu (Ketua Ngo-lian-kauw) itu, biar aku yang menghadapji Hek-hwa Kui-bo." kata Li.Cu dengan gagah dan bersemangat.

Kembali mereka melakukan penjagaan.

Akan tetapi sekarang keadaan suami isteri itu tidak sekuatir tadi, biarpun ketegangan masih tetap ada didalam hati mereka. Juga ruangan dimana mereka berjaga itu tidak digelapkan. Dalam keadaan sunyi ini teringatlah Li Cu kembali akan keadaan dirinya sendiri dan wajahnya yang ayu itu menjadi murung. Baiknya Lee Giok terlalu tegang hatinya sehingga tidak melihat keadaan sumoinya ini.

Menjelang tengah malam. Keadaan amat sunyi. Tiba-tiba terdengar suara ayam berkeok lalu sunyi lagi. Lee Giok bangkit dari tempat duduknya wajahnya tegang. Ia saling pandang dengan suaminya dan dapat menduga bahwa tentu ada orang mengganggu binatang peliharaan mereka itu. Lee Giok memandang Li Cu dan pandang matanya mengisyaratkan bahwa agaknya musuh yang ditunggu-tunggu sudah datang.

Lee Giok dan Thio Ki sudah berdiri dengan tangan di gagang pedang masing-masing. Hanya Li Cu yang masih duduk, sikapnya tenang. Tiba-tiba terdengar lagi suara ayam berkeok beberapa kali, lalu sunyi. Suami isteri itu menggerakkan tangan kanan mencabut pedang, tangan kiri siap di kantong piauw dan mata mereka memandang ke arah pintu yang sudah ditutup lagi. Li Cu masih seperti tadi, duduk dengan tenang seperti orang melamun. Agaknya ia masih tenggelam dalam lamunan duka tentang dirinya sendiri.

Ketegangan suami isteri itu memuncak ketika di dalam kesunyian itu tiba-tiba terdengar suara ketawa dari jauh, setelah suara ketawa berhenti lalu terdengar suara suling ditiup perlahan. Mendengar suara suling ini, Lee Giok memegang tangan sumoinya yang masih duduk dan berbisik,

"Sumoi, bukankah itu si iblis Giam Kin?"

Li Cu berdiri dan berkata, "Hemmm, makin banyak iblis makin baik, biar kita basmi mereka agar dunia terbebas dari genggaman mereka."

Suara ketawa makin lama makin dekat dan jelas terdengar bahwa suara itu adalah suara ketawa wanita, kemudian setibanya di depan rumah suara itu berhenti. Suara suling juga berhenti, keadaan sunyi sebentar lalu terdengar suara berisik mendesis-desis. Tiga orang yang berada di dalam rumah siap siaga, hanya Li Cu yang belum juga mencabut pedang. Memang bagi seorang ahli pedang seperti dia tidak mau sembarangan mencabut pedang kalau tidak perlu.

"Brakkkk!" Tiba-tiba pintu depan pecah terbuka dan dari luar terdengar lagi suara suling lapat-lapat. Yang membuat tiga orang muda itu kaget adalah ratusan ekor ular besar kecil yang masuk ke rumah seperti banjir. Belasan ekor sudah memasuki ruangan itu melalui pintu.

Lee Giok dan Thio Ki kaget sekali, akan tetapi tiba-tiba berkelebat sinar menyilaukan dan belasan ular itu sudah putus menjadi dua potong oleh sambaran pedang di tangan Li Cu. Sungguh hebat gerakan ini dan mengerikan sekali ular-ular yang sudah putus menjadi dua masih berkelojotan itu. Dari luar masih membanjir terus ular-ular besar kecil, merayap melalui bangkai ular-ular yang sudah sekarat. Kini Lee Giok dan Thio Ki sudah hilang kagetnya. Semangat mereka bangkit oleh gerakan Li Cu tadi, maka mereka pun menyerbu ke depan dan membabati ular-ular dengan pedang mereka.

Akan tetapi ular-ular itu masih saja membanjir masuk, malah kini merayap dari celah- celah jendela dan pintu belakang, dan baunya yang amat amis tak kuat tertahankan oleh tiga orang muda itu lebih lama lagi.

!" kata Li Cu mendahului melompat ke jendela. Sekali tendang jendea terbentang lebar, pedangnya berkeredepan diputar di depan tubuh ketika tubuhnya melayang keluar, tangan kiri menyambar langkan lalu tubuhnya diayun terus ke atas ke arah genteng. Perbuatannnya ini disusul oleh Lee Giok dan Thio Ki. Baiknya Li Cu yang berada di depan karena segera tampak sinar hijau dan putih menyambar ke arah mereka. Namun sinar-sinar senjata rahasia ini dapat ditangkis runtuh semua oleh pedang di tangan Li Cu. "Keluar melalui jendela terus ke atas genteng ....

Ketika mereka tiba di atas genteng dalam keadaan selamat, ternyata di situ telah berdiri dua orang wanita dan seorang laki-laki menghadapi mereka sambil tertawa mengejek. Tepat seperti yang diduga oleh Lee Giok, dua orang wanita itu bukan lain adalah Ngo- lian-kauwcu yang berjuluk Kim-thouw Thian-li bersama gurunya, Hek-hwa Kui-bo. Kim-thouw Thian-li yang sudah berusia empat puluh tahun itu masih nampak cantik jelita seperti gadis remaja saja, sikapnya genit dan angkuh. Ini masih tidak aneh, malah gurunya, Hek-hwa Kui-bo yang usianya sudah enam puluhan tahun, masih nampak cantik, memegang saputangan sutera beraneka warna. Adapun laki-laki itu adalah

seorang pemuda ganteng, mukanya pucat, pakaiannya serba kuning dan di tangannya terdapat sebatang suling. Pembaca Raja Pedang tentu mengenal siapa orang ini. Bukan lain adalah Giam Kin yang berjuluk Siauw-coa-ong (Raja Ular Kecil), murid iblis dari utara Siauw-ong-kwi. Selain berilmu tinggi, Giam Kin ini juga memiliki kepandaian hebat, yaitu dengan sulingnya ia dapat memanggil ratusan ekor ular yang dapat ia perintah untuk menyerang musuhnya. Juga ia pandai sekali dalam hal penggunaan racun ular yang berbahaya.

"Eh, kiranya ada Thai-san Sian-li di sini." kata Kim-thouw Thian-li. "Pantas saja tuan dan nyonya rumah begini tabah."

Giam Kin memandang dengan mata melongo, penuh kekaguman kepada wajah yang disinari bulan yang sudah muncul sepenuhnya di langit, kemudian ia berseru sambil menarik napas panjang berkali-kali, "Aduh... aduh... bidadari baju merah dari Thai-san... hemmm, makin cantik jelita saja. Bidadari kahyangan tidak menang

....." Kemudian ia menoleh kepada Hek-hwa Kui-bo. "Locianpwe, kalau kali ini dapat menangkapkan bidadari merah ini untukku, aku berjanji akan menyembah seratus kali kepadamu."

Hek-hwa Kui-bo mengibaskan tangannya. "Huh, laki-laki mata keranjang benar kau ini!" Tentu saja hati Li Cu mendongkol bukan main mendengar omongan-omongan kotor itu. Akan tetapi ia memandang rendah kepada Giam Kin dan Kim-thouw Thian-li, maka ia tidak pedulikan mereka dan langsung ia menghadapi Hek-hwa Kui-bo sambil menudingkan jarinya.

"Hek-hwa Kui-bo, kau tergolong tingkatan tua yang sudah mendapat nama besar sebagai tokoh utama dari selatan. Kenapa kau melakukan tindakan yang amat rendah, mengancam enciku dan suaminya dan sekarang datang membawa dua orang manusia hina dina ini?"

Hek-hwa Kui-bo tersenyum mengejek lalu berkata, suaranya mengandung sikap memandang rendah, "Kau bocah masih ingusan berani bicara begini kepadaku. Ayahmu sendiri kiranya tidak sekurang ajar engkau. Muridku masih teringat akan permusuhan lama, bersama Giam-kongcu hendak membikin perhitungan dan pelunasan hutang-hutang lama. Aku hanya menonton kalau-kalau ada bocah ingusan lancang dan ikut-ikut campur."

"Siluman betina tua bangka! Kau dan antek-antekmu hendak menghina Suci dan cihuku? Hemmm, selama di sini masih ada Cia Li Cu, jangan harap kalian akan dapat berlaku sewenang-wenang." bentak Li Cu sambil melintangkan pedangnya.

"Locianpwe, kenapa layani dia bicara? Pegang saja, ringkus dan berikan kepadaku habis perkara." kata pula Giam Kin Sambil tersenyum-senyum dan matanya yang sipit itu memandang kepada Li Cu dengan kurang ajar.

"Giam-ko, daripada banyak cerewet lebih baik turun tangan. Kaubereskan yang laki-laki, biar aku mampuskan budak she Lee ini." kata Kim-thouw Thian-li yang tidak suka

melihat Giam Kin tergila-gila kepada Li Cu. Giam Kin tertawa mengejek ketika ia mendekati Thio Ki.

Suami isteri ini maklum bahwa mereka menghadapi lawan tangguh, akan tetapi mereka tidak takut dan dengan kemarahan meluap mereka lalu menerjang maju, Thio Ki menyerang Giam Kin sedangkan Lee Giok memutar pedang menyerang Kim-thouw Thian-li. Juga Cia Li Cu yang maklum bahwa menghadapi tiga orang jahat itu tidak perlu banyak bicara lagi, lalu menggerakkan pedang di tangannya menerjang Hek-hwa Kui-bo.

Sambil tertawa-tawa Giam Kin menyambut serangan Thio Ki. Si Raja Ular Kecil ini memang amat tinggi kepandaiannya. Serangan pedang dari Thio Ki ia hadapi dengan permainan suling ularnya yang aneh gerakan-gerakannya. Tenaga Iwee-kangnya jauh lebih kuat daripada Thio Ki sehingga setiap kali pedang bertemu suling, tangan Thio Ki tergetar dan pedangnya hampir terlepas. Namun Thio Ki bermodal kenekatan dan menerjang terus sambil mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Betapapun juga dia adalah seorang murid Hoa-san-pai yang baik, pernah mendapat bimbingan dari Lian Bu Tojin sendiri maka setelah ia bertempur dengan nekat Giam Kin tidak berani main-main lagi.

Juga Kim-thouw Thian-li menghadapi perlawanan sengit dan nekat dari Lee Giok. Seperti halnya suaminya, Lee Giok mendapat lawan yang lebih lihai darinya. Kim-thouw Thian-li benar-benar hebat kepandaiannya. Dengan ilmu silatnya dari golongan hitam yang penuh muslihat dan keji, ditambah Ilmu Pedang Im-sin Kiam-sut yang sebagian telah ia warisi pula dari Hek-hwa Kui-bo, Ketua Ngo-lian-kauw ini benar-benar membuat Lee Giok tak berdaya. Senjata di tangan Kim-thouw Thian-li adalah sebatang golok ditangan kanan dan sehelai selampai merah di tangan kiri. Saputangan atau selampai merah inilah yang amat berbahaya karena mengandung pelbagai racun jahat. Akan tetapi karena ilmu pedang Lee Goat juga bukan ilmu pedang sembarangan, melainkan ilmu pedang yang ia warisi dari gurunya, Si Raja Pedang tentu saja ia tidak mau menyerah mentah-mentah dan bagi Kim-thouw Thian-li juga tidak begitu mudah untuk mendapatkan kemenangan dalam waktu singkat.

Yang paling ramai adalah pertandingan antara Hek-hwa Kui-bo dan Cia Li Cu. Harus diketahui bahwa nama Hek-hwa Kui-bo untuk daerah selatan adalah nama seorang jagoan kelas satu yang tak pernah terkalahkan, Ilmu silatnya tinggi sekali dan sebetulnya dahulu ilmu kepandaiannya bersumber kepada keahlian tenaga Thai-yang, sehingga setelah kepandaiannya rnenurun kepada Kim-thow Thian-li yang menjadi Ketua Ngo- lian-kauw perkumpulan ini pun terkenal dengan keahlian mereka tentang Thai-yang. Ilmu silat aliran selatan sudah dikuasai Hek-hwa Kui-bo, ditambah lagi pengalamannya yang puluhan tahun dan belum lama ini ia telah dapat merampas kitab Im-sin Kiam-sut dan telah menguasainya, maka kehebatannya bukan main. Sayang, tenaganya bersumber kepada Yang-kang, sedangkan Im-sin Kiam-sut bersumber kepada Im-kang, maka ilmu pedangnya yang paling akhir dan paling hebat ini pun tidak bisa mencapai puncaknya. Di lain pihak, lawannya adalah Cia Li Cu, puteri tunggal Raja Pedang Tanpa Tan-ding Cia Hui Gan yang memiliki ilmu pedang keturunan dari pendekar wanita Ang I Niocu ratusan tahun yang lalu. Harus diketahui bahwa ilmu pedang keturunan dari Ang I Niocu disebut Sian-li Kiam-sut sesungguhnya masih satu sumber dengan Ilmu Pedang Im-sin Kiam-sut

dan Yang-sin Kiam-sut, karena kesemuanya itu asalnya adalah ilmu-ilmu ciptaan dari Pendekar Sakti Bu Pun Su. Sebagai puteri tunggalnya, tentu saja Cia Li Cu telah mewarisi kepandaian ayahnya, maka biarpun usianya masih amat muda, namun ilmu pedangnya sudah hebat sekali. Kini menghadapi permainan pedang Im-sim Kiam-sut dari Hek-hwa Kui-bo, ia dapat melayani dengan baik. Hebat sekali pertandingan antara nenek dan gadis remaja ini. Hek-hwa Kui-bo mempergunakan sebatang pedang dan dibantu dengan saputangan suteranya yang beraneka warna itu, yang kehebatannya tidak kalah oleh pedang di tangan kanannya. Akan tetapi Cia Li Cu justeru mempergunakan sebatang pedang pusaka yang ampuh, yakni pedang pusaka Liong-cu-kiam yang pendek.

Di dalam cerita Raja Pedang telah diceritakan bahwa Liong-cu Siang-kiam sebetulnya merupakan sepasang pedang, yang sebatang panjang dan ada ukiran huruf Jantan, sedangkan yang ke dua pendek dengan ukiran huruf Betina. Tadinya sepasang pedang itu berada di tangan mendiang Lo-tong Souw Lee, seorang pendekar tua yang pernah diangkat guru oleh Tan Beng San, akan tetapi kemudian terjatuh ke dalam tangan Cia Li Cu. Pada pertemuan puncak di Thai-san, sepasang pedang itu dapat dirampas kembali oleh Tan Beng San, akan tetapi kemudian oleh kakak kandungnya, Tan Beng Kui, pedang-pedang itu diminta atau dipinjam karena sepasang pedang itu menjadi larnbang perjodohan antara dia dan Li Cu. Beng San memberikan pedang-pedang itu dan memberi pinjam selama tiga tahun.

Sekarang yang berada di tangan Cia Li Cu dalam menghadapi Hek-hwa Kui-bo adalah pedang yang pendek, yaitu yang Betina. Pedang ini dahulu adalah pedang pusaka pegangan Pendekar Bodoh, maka hebatnya bukan kepalang. Selain tajam, juga keras dan dapat mematahkan segala macam baja, lagi pula ampuhnya bukan kepalang.

Dua orang ini yang termasuk orang-orang pemilik ilmu silat tinggi, bertempur sampai tidak kelihatan lagi orangnya. Sinar pedang mereka bergulung-gulung membungkus bayangan tubuh mereka sehingga yang tampak hanyalah gulungan sinar pedang di antara bayangan merah dari pakaian Li Cu diseling bayangan pelangi beraneka warna yang ditimbulkan oleh gerakan saputangan sutera di tangan Hek-hwa Kui-bo.

Setelah ratusan jurus berlangsung cepat sekali antara Hek-hwa Kui-bo dan Cia Li Cu, keduanya merubah permainan, kini tidak secepat tadi, bahkan amat lambat. Gerakan mereka seperti orang berlatih saja, lannbat-lambat sekali sehingga mudah diikuti pandang mata siapa pun juga. Akan tetapi jangan salah sangka, pertempuran yang berjalan lambat ini sesungguhnya malah merupakan pertandingan yang jauh lebih hebat daripada tadi ketika mereka lenyap dibungkus gulungan sinar senjata mereka. Pertempuran lambat- lambat ini justeru merupakan pertandingan mati-matian di mana keduanya mengeluarkan seluruh kepandaian aseli mereka disertai tenaga dalam yang paling kuat untuk merobohkan lawan. Beberapa kali senjata mereka hampir mengenai tubuh lawan dan setiap kali pedang Li Cu bertemu dengan saputangan sutera, terjadi getaran hebat dan dua macam senjata itu seakan-akan menempel dan saling sedot.

Setelah bertempur seperti ini keduanya mengakui keunggulan masing-masing, Li Cu ternyata memiliki ilmu silat yang lebih murni, sebaliknya dalam hal tenaga dalam, ia

kalah kuat oleh nenek tokoh persilatan dari selatan itu. Karena merasa penasaran, tiba-

tiba Li Cu melakukan tekanan dengan pedang Liong-cu-kiam, menggores ke arah ulu hati lawannya sambil mengeluarkan suara dari perut. Pedangnya perlahan-lahan sekali melakukan gerakan goresan dari kiri ke kanan, sedikit memutar ke atas. Bukan main hebatnya serangan ini karena dilakukan dengan tenaga sepenuhnya. Jangan kira bahwa serangan yang amat lambat ini akan dapat dihindarkan dengan mengelak, karena yang berbuat demikian dan mengira bahwa serangan itu amat lambat, akan celakalah. Pukulan yang penuh mengandung hawa karena daya tenaga dalam itu biarpun lambat namun angin pukulannya saja sudah cukup untuk mencelakakan musuh, apalagi mempunyai perubahan yang bukan main banyak lagi berbahaya. Ujung pedang di tangan Li Cu kelihatannya meluncur lambat, namun ujungnya tergetar menyilaukan dan sukar dilihat bagaimana perkembangan selanjutnya.

Hek-hwa Kui-bo tentu saja maklum akan kehebatan serangan ini sungguhpun itu tidak tahu bahwa gerak tipu ini adalah jurus Sian-li-hut-si (Sang Dewi Mengebutkan Kipas) dan tidak tahu pula apa pecahannya. Ia hanya tahu bahwa kali ini lawannya yang muda itu mengeluarkan gerak tipu yang amat berbahaya. Ia tidak berani menangkis dengan pedangnya, takut kalau-kalau pedangnya biarpun juga pedang yang ampuh, tidak akan kuat menandingi keampuhan Liong-cu-kiam. Maka ia lalu menggerakkan senjatanya di tangan kiri yaitu saputangan suteranya yang beraneka warna itu. Jangan memandang rendah saputangan sutera yang halus lembek dan lebar ini. Biarpun kelihatannya beraneka warna dan indah seperti pelangi serta harum pula baunya, entah sudah berapa banyak nyawa diantarkan pulang oleh saputangari ini. Biarpun demikian halus dan lembek, namun sekali menotok jalan darah dengan ujung saputangan, atau sekali rnengebut kepala orang, Hek-hwa Kui-bo sanggup membunuh orang itu.

Pedang Liong-Cu-kiam terlibat oleh saputangan itu, tak dapat ditarik kembali sedangkan pedang di tangan Hek-hwa Kui-bo secara tiba-tiba sekali menyambar dari kanan ke kiri menyerimpung sepasang kaki Li Cu. Kalau terkena sambaran ini, kiranya kedua kaki Li Cu sebatas lutut akan menjadi buntung. Pedang di tangan Li Cu masih terlibat saputangan sedangkan sekarang lawannya mcnyerangnya deugan pedang, sungguh keadaan yang amat sulit. Namun, gadis ini biarpun masih muda belia, kepandaiannya sudah hebat sekali. Melihat gerakan lawan sebelum pedang bergerak ia sudah tahu bahwa ia akan diserang bagian kakinya. Li Cu maklum bahwa dalam menggerakkan pedang menyerangnya, tentu tenaga tangan kiri Hek-hwa Kui-bo yang memegang saputangan itu berkurang, maka ia mengerahkan tenaga dikumpulkan di tangan kanan, dan pada saat pedang lawan menyambar ke arah kedua lututnya, gadis perkasa ini mengenjot kakinya meloncat ke atas sambil membetot pedangnya. Gerakan ini selain cepat tidak terduga, juga amat kuatnya.

"Brettt!" Saputangan yang melibat pedang itu terputus menjadi dua dan kedua kaki Li Cu selamat terluput dari pada ancaman pedang yang ganas tadi.

"Kurang ajar, kau merusak saputanganku?" Hek-hwa Kui-bo membentak marah akan tetapi Li Cu tidak memberi kesempatan lagi kepadanya. Gadis ini segera mengerahkan ginkangnya dan melakukan serangan bertubi-tubi mengandalkan kegesitan dan kelihaian

Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut. Pedang tunggal di tangannya itu seakan-akan berubah menjadi puluhan batang, sinarnya berkeredepan dan bergulung-gulung mengeroyok Hek- hwa Kui-bo. Nenek ini juga marah sekali, biarpun saputangannya tinggal sepotong, namun tidak dibuangnya dan masih ia pergunakan untuk membantu pedangnya melakukan serangan-serangan balasan.

Tiba-tiba Li Cu terkejut mendengar keluhan Thio Ki dan melihat orang muda itu terhuyung-huyung. Ternyata ia telah kena dihantam dadanya oleh suling di tangan Giam Kin sehingga pedang yang dipegangnya terlepas dan ia terhuyung-huyung ke belakang. Sambil tertawa-tawa Giam Kin menendang lututnya maka robohlah Thio Ki.

"Bunuh dia, bikin mampus saja!" seru Kim-thouw Thian-li girang, Giam Kin masih tertawa-tawa ketika ia meloncat maju dan menusukkan sulingnya ke arah kepala Thio Ki. Pasti akan berlubang kepala orang muda itu kalau terkena tusukan ini. Akan tetapi tiba- tiba berkelebat sinar putih diikuti bayangan merah.

"Trangggg!" Ujung suling Giam Kin patah terbabat pedang Liong-cu-kiam yang tadi cepat digerakkan oleh Li Cu dalam usahanya menolong nyawa Thio Ki. Giam Kin terkejut dan meloncat mundur dan segera Hek-hwa Kui-bo yang tadi ditinggalkan Li Cu sudah mengejar pula lalu saling serang dengan gadis perkasa itu. Thio Ki yang sudah terluka parah tubuhnya bergulingan di atas genteng, terus terguling ke bawah dan baiknya tidak sampai terjatuh dari atas, melainkan terhenti oleh wuwungan sebelah bawah.

"Enci Kim Li, jangan kaubunuh Si Manis itu!, biar kauberikan kepadaku...ha-ha-ha!" Giam Kin tertawa-tawa untuk menutupi malu dan kagetnya ketika sulingnya terbabat ujungnya oleh Li Cu tadi. Mendengar ini, Li Cu gelisah sekali, apalagi ketika ia mengerling, ia melihat betapa sucinya sekarang dikeroyok dua, payah sekali keadaannya.

Memang demikianlah. Menghadapi Kim-thouw Thian-li seorang saja sudah berat sekali bagi Lee Giok, sungguhpun ia selama itu masih dapat melindungi diri dan mempertahankan, namun sama sekali ia sudah tidak mampu untuk balas menyerang. Sekarang melihat suaminya terluka dan roboh, hatinya makin risau dan bingung, apalagi setelah Giam Kin maju mengeroyoknya sambil nyengar nyengir dan mengeluarkan kata- kata memuakkan.

!!" Pedang di tangan Lee Giok terlepas dan jatuh ke atas genteng dengan bunyi berisik ketika pedang itu digempur dari kanan kiri oleh golok Kim-thouw thian-li dan suling buntung Giam Kin. Nyonya muda itu kini sudah tidak bersenjata lagi. "Trangg... tranggg .....

"Ha-ha, Enci Kim Li, kurasa lebih baik kau membantu gurumu mengalahkan bidadari Thai-san itu, biarlah janda muda ini aku yang melayaninya .... "

Kim-thouw Thian-li memang sudah menguatirkan gurunya maka ia lalu meloncat dan mengeroyok Li Cu. Adapun Lee Giok dengan muka merah dan dada panas hampir terbakar menghadapi Giam Kin. Suaminya terluka dan kini ia dihina, disebut janda muda. Hati siapa takkan sakit?

"Manusia berwatak iblis! Binatang, hari ini aku Lee Giok akan mengadu nyawa denganmu." teriak Lee Giok yang cepat menubruk maju sambil menyerang dengan pukulan dahsyat ke arah ulu hati lawan disusul tendangan yang ditujukan kepada pusar. Kedua serangan susul menyusul ini merupakan serangan maut yang nekat karena dengan melakukannya, Lee Giok sebetulnya juga telah "membuka" beberapa bagian tubuhnya tidak terlindung lagi. Namun dia sudah tidak peduli lagi karena saking marah dan putus asanya, nyonya muda ini betul-betul sudah berlaku nekat dan ingin membunuh lawannya.

Namun sayang sekali bagi Lee Giok, lawannya terlampau kuat baginya. Tingkat kepandaiannya kalah jauh kalau dibandingkan dengan Giam Kin, murid tunggal dari Siauw-ong-kwi tokoh pertama dari utara itu. Dengan tertawa mengejek Giam Kin menangkap pergelangan tangan Lee Giok yang memukul sambil menggeser kaki mengelakkan tendangan, kemudian sebelum nyonya muda itu sempat meronta, Giam Kin telah menotok jalan darahnya membuat ia tak dapat berkutik lagi.

" katanya sambil memondong tubuh Lee Giok dan membawanya lari pergi dari tempat itu. "Ha-ha-ha, Enci Kim Li dan Hek-hwa Locianpwe, aku akan pergi lebih dahulu saja .....

"Bangsat Giam Kin, lepaskan suciku!" bentak Cia Li Cu marah sekali melihat Lee Giok hendak diculik, akan tetapi Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li menghadangnya dan tidak memberi kesempatan kepadanya untuk melakukan pengejaran kepada Giam Kin. Bukan main marahnya Li Cu ketika melihat betapa Giam Kin telah menghilang di dalam gelap membawa pergi Lee Giok. Akan tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa kerena dia sendiri sedang didesak hebat oleh Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li. Ternyata bahwa selama ini Kim-thouw Thian-li telah menerima latihan-latihan dari gurunya sehingga kepandaiannya sudah meningkat cepat. Maka agak repot juga Li Cu dikeroyok dua oleh guru dan murid ini.

"Lepaskan Hwa-tok-ciam (Jarum Racun Kembang)!" tiba-tiba Hek-hwa Kui-bo berseru kepada muridnya. Dua orang guru dan murid itu gemas juga ketika menghadapi kenyataan bahwa biarpun mereka mengeroyok, tetap saja ilmu pedang yang dimainkan Cia Li Cu tak dapat mereka gempur dan pecahkan, maka sekarang tiba-tiba mereka menggerakkan tangan kiri berulang-ulang.

Li Cu kaget sekali. Gadis ini cukup maklum akan bahayanya senjata rahasia yang keji dari dua orang lawannya ini. Ia maklum bahwa Kim-thouw Thian-li sudah amat terkenal dengan racun kembang yang menjadi keistimewaan Ngo-lian-kauw. Maka ia pun segera menutar pedangnya dengan gerakan yang disebut Sian-li-thouw-so (Sang Dewi Menenun), Runtuhlah belasan batang jarum halus yang dilepas oleh dua orang lawannya itu. Akan tetapi sekarang kedudukan Li Cu lemah sekali karena ia harus menghadapi serangan dan desakan dua orarig lawannya itu sambil menjaga kalau-kalau ada pelepasan senjata rahasia lagi. Ia mulai terdesak dari mulai mundur.

Pada saat yang amat berbahaya bagi diri Li Cu itu, tiba-tiba dari bawah berkelebat bayangan orang. Gerakannya demikian ringan seperti seekor burung terbang saja dan begitu tiba di atas genteng, orang ini berseru,

“Kim-thouw Thian-li dan gurunya, di mana-mana mengacau saja.”

Hek-hwa Kui-bo dan muridnya tidak dapat melihat jelas siapa adanya orang yang datang ini, akan tetapi Cia Li Cu biarpun selama hidupnya baru dua kali bertemu dengan orang ini, masih mengenal suara dan diam-diam ia menjadi girang sekali. Wajahnya tiba-tiba berubah merah dan dadanya berdebar, akan tetapi ia tidak mau mengeluarkan suara apa- apa melainkan terus mendesak dua orang lawannya seakan-akan tidak tahu akan datangnya bala bantuan. Hek-hwa Kui-bo marah sekali karena tadinya dia dan muridnya sudah mulai mendesak hebat kepada Li Cu. Datangnya orang ini merupakan gangguan, maka cepat ia mengggerakan pedangnya membacok kepala orang yang baru datang sedangkan saputangannya yang tinggal sepotong itu pun diarahkan ke arah perut orang.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika potongnya hanya mengenai angin dan tlba-tiba saputangannya terbetot oleh orang itu dan terlepas dari pegangannya. Dengan tangan kosong orang itu dapat merampas saputangannya dan menghindarkan serangan pedangnya.

“Siapa kau?” bentaknya marah.

“Hek-hwa Locianpwe, lupakah kau kepadaku? Aku tidak saja belum lupa kepada Locianpwe, malah tiga macam ilmu Thai-hwee, Siu-hwee dan Ci-hwee yang kau ajarkan dulu pun masih teringat baik olehku.”

Bukan main kagetnya Hek-hwa Kui-bo. Sekarang ia mengenal laki-laki muda ini. “Beng san... Kau

....? Kim Li, hayo kita pergi” Hek-hwa Kui-bo menarik tangan muridnya dan dua orang wanita itu maloncat lenyap di malam gelap.

Mengapa Hek-hwa Kui-bo nampaknya begitu takut kepada orang muda yang ternyata adalah Tan Beng San itu? Sebetulnya, Hek-hwa Kui-bo sudah mengenal Beng San semenjak jago pedang ini masih kecil. Dalam cerita Raja Pedang sudah diceritakan dengan jelas betapa di waktu kecilnya saja Beng San sudah “menerima kebaikan” dari Hek-hwa Kui-bo, yaitu diberi latihan Thai-hwee (Api Besar), Siu-hwee (Simpan Api) dan Ci-hwe (Keluarkan api), padahal tiga macam ilmu diberikan sebetulnya dengan niat celakakan Beng San yang pada waktu itu tubuhnya sudah penuh dengan tenaga Yang- kang sehingga ilmu ini bisa menewaskannya. Kemudian setelah Beng San dewasa dan memiliki ilmu tinggi, Hek-hwa Kui-bo sudah pula melihat kepandaiannya ketika diadakan pertemuan memperebutkan gelar Raja pedang di Puncak Thai-san. Maka, kedatangan pemuda yang memiliki ilmu tinggi ini tentu saja membuat ia maklum bahwa melawan terus takkan ada gunanya sehingga ia segera mengajak muridnya lari saja.

Cia Li Cu baru dua kali selama hidupnya bertemu dengan adik dari suhengnya ini, yaitu adik dari Tang Beng Kui. Akan tetapi dalam dua kali pertemuan itu ia mendapat kesan

hebat akan diri Beng San, maka ketika tadi ia mengenai suaranya, hatinya menjadi girang sekali. Anehnya, entah mengapa, ia merasa malu juga bertemu dengan Beng San. Hal ini mungkin sekali karena ayahnya pernah menyatakan bahwa Beng San adalah "lebih baik" daripada Beng Kui yang menjadi tunangannya, atau mungkin ia merasa malu karena Beng San adalah adik Beng Kui. Entahlah, sesungguhnya bagaimana ia sendiri tidak tahu sebabnya. Pokoknya ia merasa malu bertemu dengan Beng San. Maka melihat dua orang lawannya kabur, Li Cu segera mengejar. Bukan hanya karena tidak ingin bertemu lama- lama dengan Beng San, akan tetapi terutama sekali karena ia hendak menolong sucinya, Lee Giok yang sudah terculik oleh Giam Kin.

Orang muda yang baru datang dan dalam segebrakan saja sudah dapat mengusir orang- orang yang memusuhi keluarga Thio Ki itu, memang benar adalah Beng San Si Raja Pedang. Seperti kita ketahui, orang muda ini dari Hoa-san-pai melakukan perjalanan secepatnya menuju ke Sin-yang untuk mencari Thio Ki dan memberitahukan tentang keadaan Hoa-san-pai yang dirusak oleh Kwa Hong. Hati orang muda ini masih perih dan bukan main sedihnya setelah pertemuannya yang mengharukan dengan Kwa Hong di Hoa-san-pai itu. Pedih dan sakit rasa hatinya kalau ia teringat betapa perbuatannya dengan Kwa Hong dahulu itu telah mengakibatkan terjadinya hal-hal yang demikian hebatnya. Kwa Hong telah mengandung dan hati wanita itu rusak binasa, membuatnya seperti gila dan berubah menjadi manusia yang ganas karena kepatahan hatinya. Dan semua itu karena dia.

Beng San melakukan perjalanan siang malam, maka ketika ia tiba di Sin-yang pada waktu malam, ia tidak berhenti dan langsung ia mencari rumah Thio Ki dan mengunjunginya. Memang segala hal yang terjadi di dunia ini sudah ditentukan dan diatur oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan manusia hanya memandangnya sebagai hal yang "kebetulan" saja. Demikian pula dengan munculnya Beng San malam-malam di rumah Thio Ki. Sungguh kebetulan sekali. Begitu melihat keadaan yang tidak sewajarnya Beng San mencari tahu dan terlihatlah olehnya pertempuran yang terjadi di atas genteng. Sayang ia agak terlambat sehingga tidak terlihat olehnya ketika Lee Giok terculik oleh Giam Kin.

Sekarang melihat bahwa Li Cu yang tadinya terdesak hebat oleh pengeroyokan guru dan murid itu dengan nekat mengejar, hatinya menjadi gelisah. la sudah mengenal baik kelihaian Hek-hwa Kui-bo dan muridnya yang curang dan amat licin itu, pcnuh tipu daya dan muslihat busuk. Maka ia berkuatir kalau-kalau Cia Li Cu yang biarpun amat lihai namun tentu kalah licin itu akan terjebak. Segera Beng San menggerakkan kaki hendak mengejar pula. Akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara mengeluh kesakitan tak jauh dari tempat ia berdiri. Ketika ia menghampiri, ia melihat Thio Ki rebah dalam keadaan terluka. Segera Beng San memondongnya dan membawanya turun ke bawah.

Di ruangan dalam, di bawah penerangan lampu, Beng San memeriksa luka Thio Ki. Memang hebat, akan tetapi tidak amat berbahaya. Di Puncak Min-san, sedikit banyak Beng San mempelajari ilmu pengobatan dari mertuanya, yaitu Song-bun-kwi Kwee Lun, maka di dalam perjalanannya ia pun membawa obat-obat manjur untuk mengobati luka-

luka pukulan dan racun. Setelah ia menotok jalan darah, mengurut dan memberi obat, Thio Ki dapat bangun dan duduk kembali.

"Saudara Beng San .... " katanya mengeluh, "baiknya engkau datang .... tapi bagaimana

dengan isteriku .... ? Bagaimana dengan Adik Cia Li Cu?"

"Isterimu? Aku tidak melihatnya tadi.

Ketika aku datang, Nona Cia sedang bertempur, dikeroyok dua oleh Hek-hwa Kui-bo dan muridnya."

Thio Ki meloncat berdiri. "Celaka! Dan kau tidak melihat isteriku? Tidak pula melihat Giam Kin?"

Beng San menggeleng kepala dan Thio Ki segera menjatuhkan diri di atas pembaringan. "Celaka ..... celaka sekali... tentu Lee Giok telah diculik oleh penjahat iblis itu .... "

Beng San adalah seorang yang amat cerdik. Sekilas saja ia sudah dapat menduga apa yang telah terjadi. Tentu Giam Kin menawan Lee Giok. Pantas saja tadi Li Cu sama sekali tidak rnenghiraukannya dan terus mengejar. Kiranya gadis Thai-san itu hendak menolong sucinya. la mengambil keputusan cepat.

"Dengar, Thio-twako. Kedatanganku ini pun membawa berita penting sekali. Sekarang kita harus bertindak tegas dan cepat. Ketahuilah, Hoa-san-pai telah dirusak oleh sumoimu, Kwa Hong. Gurumu terbunuh, Kwa Hong menduduki Hoa-san-pai. Sekarang sudah pergi dan Hoa-san-pai dalam keadaan kacau tidak ada yang mengurus. Sutemu Kui Lok dan adikmu Thio Bwee juga diusir oleh Kwa Hong. Maka, biarpun kau terluka, kau sekarang juga harus ke Hoa-san-pai, kau urus Hoa-san-pai baik-baik sambil beristirahat dan menyembuhkan lukamu. Obat ini kau bawa, kau minum sehari sebungkus. Tentang isterimu dan Nona Li Cu, biarlah aku mewakilimu melakukan pengejaran. Sudah mengertikah kau?"

Wajah Thio Ki sebentar pucat sebentar merah. Tak disangkanya bahwa akan terjadi hal yang demikian hebat, tidak saja yang menimpa keluarganya sendiri, malah Hoa-san-pai tertimpa malapetaka lebih parah lagi. Ia hanya bisa mengangguk-angguk, karena selain Beng San, siapakah yang akan dapat menolong isterinya?

"Sudah, aku pergi!" kata Beng San dan sekali berkelebat orang muda itu sudah lenyap

dari depan Thio Ki, membuat orang ini kagum bukan main. Thio Ki juga tidak mau berlama-lama di rumah, pada keesokan harinya pagi-pagi ia sudah pergi memaksa diri menuju ke Hoa-san-pai.

Cia Li Cu yang melakukan pengejaran, tidak melihat lagi adanya Giam Kin dan tidak tahu ke mana sucinya dibawa lari oleh manusia iblis itu. Maka karena yang lari di depannya hanyalah Hek-hwa Kui-bo dan muridnya, mau tidak mau ia hanya bisa mengikuti dua orang itu. Dia tidak mau turun tangan terhadap Hek-hwa Kui-bo dan

muridnya karena tujuan utamanya adalah untuk menolong sucinya, maka diam-diam ia hanya mengikuti dari jauh karena ia mengira bahwa dua orang itu tentu akan membawanya ke tempat Giam Kin yang menculik Lee Giok. Sungguh di luar dugaan Li Cu sama sekali bahwa tujuan perjalanan dua orang guru dan murid itu sama sekali berlawanan dengan jalan yang ditempuh oleh Giam Kin yang menculik Lee Giok. Hek- hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li berlari menuju ke selatan, ke tempat tinggal Kim- thouw Thian-li, yaitu di Propinsi An-hui, di lembah Sungai Huai. Semenjak para pejuang berhasil merobohkan pemerintah Mongol, ibu kota lalu dlpindahkan ke Nan-king. Diam- diam Kim-thouw Thian-li juga lalu memindahkan pusat perkumpulannya, yaitu Ngo-lian- kauw, ke lembah Sungai Huai, tidak jauh dari kota raja baru ini, di sebelah baratnya. Perkumpulannya berpusat di sebelah utara kota Ho-pei. Guru dan murid ini memang tadinya hanya bermaksud membunuh Lee Giok dan Thio Ki, dibantu oleh Giam Kin. Sekarang mereka sudah berhasil melukai Thio Ki dan juga Lee Giok telah diculik oleh Giam Kin, bcrarti usaha mereka itu sudah berhasil baik sekali biarpun mendapat tantangan dari orang-orang pandai seperti Cia Li Cu dan Tan Beng San.

Setelah mengikuti perjalanan Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li selama lima hari, mulailah hati Li Cu menjadi gelisah dan curiga. Apalagl ketika ia mendapat kenyataan bahwa guru dan murid itu sekarang tidak lari lagi dan agaknya melakukan perjalanan dengan tidak tergesa-gesa. Ia merasa amat kuatir tentang diri sucinya. Ia mengambil keputusan bahwa kalau hari itu dua orang yang diikutinya tidak membawanya kepada Giam Kin, ia akan menerjang dengan nekat dan memaksa mereka mengaku ke mana sucinya itu dibawa pergi.

Akan tetapi, lewat tengah hari itu. Hek-hwa Kui-bo dan muridnya tiba di sebuah dusun kecil di pinggir Sungai Huang-ho (Sungai Kuning). Alangkah mendongkolnya hati Li Cu ketika ia mendengar dua orang itu hendak menyewa perahu untuk pergi ke pantai Kui- feng. Jelas bahwa dua orang ini hendak terus melakukan perjalanan ke selatan. Diam- diam ia menyelidiki dusun itu dan bertanya-tanya kepada para tukang perahu kalau-kalau dalam beberapa hari ini di situ lewat seorang laki-laki muda muka pucat membawa seorang wanita muda. Ia mendapat jawaban bahwa tidak ada orang-orang yang ditanyakannya itu. Maka mulailah Li Cu mengerti bahwa ia telah salah kira. Agaknya dua orang yang diikutinya ini sama sekali tidak menuju ke tempat Giam Kin.

"Hek-hwa Kui-bo, tunggu dulu!" begitu bentaknya sambil berlari mendekati ketika ia melihat dua orang guru dan murid itu hendak naik ke dalam perahu.

Nenek itu menoleh dan tersenyum mengejek, "Bocah bandel! Kau mengikuti kami selama lima hari terus-menerus, mau apa sih?"

Bukan main mendongkol dan kagetnya hati Li Cu. Nenek ini benar-benar lihai dan bermata tajam. Akan tetapi Kim-thouw Thian-li yang menoleh dengan terheran-heran agaknya tidak tahu akan perbuatannya mengikuti mereka siang malam itu.

"Hek-hwa Kui-bo, sahabatmu Giam Kin si iblis busuk itu telah menculik Enci Lee Giok. Aku mengikutimu untuk menanyakan di mana suciku itu dibawa pergi."

Hek-hwa Kui-bo tersenyum mengejek, "Kalau kau ada kemampuan, carilah sendiri, peduli apa aku dengan nasib sucimu?"

"Kalau begitu, sebelum kubunuh iblis she Giam itu, lebih dulu kau dan muridmu akan kubasmi." bentak lagi Li Cu sambil mencabut pedangnya. Pada saat itu, mendadak terdengar suara bersuit keras sekali datangnya dari tengah sungai yang lebar itu. Para tukang perahu dan nelayan yang berada di darat segera rnenjatuhkan diri berlutut menghadap ke arah sungai. Keadaan sunyi senyap, sampai-sampai tiga orang yang tadinya akan bertempur itu ikut pula menengok ke arah suara tadi. Li Cu juga menunda penyerangannya dan memandang ke tengah sungai.

Sebuah perahu besar sekali dan mewah berada ditengah sungai dan dari kejauhan tampak beberapa orang di atas perahu itu memandang ke darat. Kemudian terdengar suara yang nyaring bergema, suara yang penuh dengan tenaga khi-kang, sehingga bisa sampai di darat dengan jelas.

"Ho-hai Sam-ong (Tiga Raja Sungai dan Laut) mengundang Hek-hwa Kui-bo dan Kim- thouw Thian-li untuk berkunjung ke tempat kediamannya." Suara ini bergema di permukaan air sungai.

Li Cu tidak pernah mendengar nama Tiga Raja Sungai dan Laut ini, rmaka ia tidak ambil peduli. Akan tetapi tidak demikian dengan Hek-hwa Kui-bo dari Kim-thouw Thian-li. Hek-Hwa Kui-bo adalah seorang tokoh besar di selatan, maka sudah tentu saja ia mengenal nama besar Ho-hai Sam-ong. Kalau dia boleh dibilang merupakan tokoh nomor satu di dunia persilatan bagian daratan sebelah selatan, kiranya nama Ho-hai Sam-ong adalah nama tokoh nomor satu pula di bagian sungai dan laut. Demikian pula Kim-thouw Thian-li sudah mengenal nama besar ini yang sudah amat terkenal dan amat berpengaruh, karena Ho-hai Sam-ong dianggap sebagai pemimpin dari sekalian bajak sungai dan bajak laut di daerah selatan ini.

Sebuah perahu kecil meluncur cepat sekali ke pinggir sungai dan di ujungnya berkibar sebuah bendera dengan gambar tiga macam binatang air yang menyerupai buaya, naga dan ikan cucut. Pendayungnya hanya dua orang akan tetapi melihat betapa perahu itu cepat bukan main meluncurnya, dapat diketahui bahwa dua orang itu adalah orang-orang ahli.

"Tamu-tamu yang diundang silakan turun ke perahu." seorang di antara dua pendayung itu berkata. Mereka adalah dua orang laki-laki yang usianya mendekati empat puluh tahun, bertubuh tegap dan bermuka keras.

Hek-hwa Kui-bo berpaling kepada muridnya, dan berkata sambil tersenyum,

"Sam-ong sudah begitu baik hati mengundang kita, tak baik kalau kita menolaknya." Setelah berkata demikian ia meloncat dengan gerakan ringan sekali ke atas perahu kecil itu, diikuti oleh Kim-thouw Thian-li. Perahu itu sama sekali tidak bcrgoyang ketika kedua

kaki Hek-hwa Kui-bo tiba di situ, dan hanya bergoyang sedikit ketika Kim-thouw Thian- li menyusul gurunya.

"Hek-hwa Kui-bo, jangan harap bisa pergi sebelum memberi tahu di mana adanya Giam Kin." Li Cu membentak marah dan ikut pula melompat dengan gerakan indah dan cepat.

"Kau sudah bosan hidup!" Hek-hwa Kui-bo menyambut dengan serangan pedangnya ketika tubuh Li Cu masih berada di udara. Akan tetapi Li Cu memang sudah siap sedia, pedang Liong-cu-kiam sudah di tangannya dan pedang ini ia putar sedemikian rupa mendahului tubuhnya sehingga serangan Hek-hwa Kui-bo tertangkis dengan suara nyaring dan... ujung pedang Hek-hwa Kui-bo telah patah. Sementara itu, Li Cu sudah mendarat di atas perahu, siap menghadapi pengeroyokan Hek-hwa Kui-bo dan Kim- thouw Thian-li.

Pada saat itu, kembali terdengar suitan keras dari perahu besar di tengah sungai. Dua orang pendayung perahu kecil yang sudah menggerakkan perahu itu meluncur ke tengah, segera berhenti mendayung dan berkata,

"Nona muda ini pun menjadi tamu undangan yang terhormat. Sam-wi (kalian bertiga) tidak boleh bertempur."

Akan tetapi, mana Li Cu sudi mendengarkan omongan ini? Sekarang bukan guru dan murid itu yang menyerangnya, sebaliknya dia yang cepat menggerakan pedang menyerang. Gadis ini sudah nekad sekali dalam usahanya untuk memaksa mereka memberi tahu di mana adanya Giam Kin yang menculik Lee Giok, Padahal perahu itu amat kecil dan kiranya akan terguling kalau dipakai untuk bertempur.

Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li yang berdiri berdampingan, terpaksa menyambut serangan ini dan dua orang tukang perahu itu menjadi bingung dan marah. "Sam-wi tidak boleh bertempur!" berkali-kali mereka berseru dan perahu itu mulai terombang-ambing. Namun yang bertempur tetap nekat. ..

"Kalau tidak mau berhenti, kami akan gulingkan perahu." kata dua orang pendayung. Sementara itu, para nelayan dan tukang perahu yang berada di pinggir sungai menonton kejadian yang menarik ini tanpa berani mengeluarkan suara.

Akan tetapi Li Cu tetap tidak mau berhenti menyerang. Dua orang tukang pendayung itu lalu meloncat ke dalam air dan sekali mereka bergerak, perahu kecil itu sudah terguling. Hebat sekali kegesitan tiga orang wanita ini dan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) mereka memang sudah mencapai tingkat tinggi sekali. Sambil berseru keras ketiganya meloncat ke atas. Perahu membalik dan tiga orang itu sudah turun kembali, kini berdiri di atas perahu yang terbalik. Dari pinggir sungai terdengar seruan-seruan memuji. Memang indah dan hebat gerakan mereka, seperti tiga ekor burung saja. Akan tetapi sekarang tiga orang wanita ini tidak berani sembarangan bergerak menyerang lagi karena perahu yang terbalik itu sudah bergoyang-goyang hebat, dan pasti mereka akan celaka kalau terjatuh ke dalam air. Li Cu berdiri di satu ujung dengan pedang siap di tangan, sedangkan di

ujung yang lain berdiri guru dan murid itu, juga siap dengan senjata di tangan. Adapun dua orang tukang perahu itu sambil menyelam lalu berenang dan menarik perahu kecil itu menuju ke perahu besar. Benar-benar keadaan yang amat lucu dan aneh kedatangan tiga orang tamu yang diundang ini.

Li Cu maklum bahwa keadaannya berbahaya sekali. Ia tidak mengenal siapa itu Ho-hai Sam-ong dan karena tiga raja itu mengenal Hek-hwa Kui-bo, sudah tentu sekali orang- orang jahat dan ia tentu akan menghadapi pengeroyokan hebat. Oleh karena inilah maka ia berlaku nekat. Begitu perahu kecil sudah mendekat dengan perahu besar, Li Cu mengenjot tubuhnya dan bagaikan seekor burung kepinis tubuhnya melayang ke atas perahu besar dan di depannya bergulung-gulung sinar pedang yang ia putar-putar untuk menjaga diri.

Tiga orang laki-laki yang berpakaian gagah sudah berada di depannya sambil tertawa dan mengangkat tangan memberi hormat. Seorang di antara mereka yang paling tua tersenyum lalu berkata,

kagum sekali. Atas desakan Kiang-te (Adik Kiang) yang benar-benar kagum terhadap Nona, kami sengaja mengundang Nona dengan baik-baik. Harap Nona sudi menyimpan kembali pedang pusaka itu." "Nona muda berkepandaian hebat sekali. Kami kagum sekali .....

Li Cu hanya berdiri tegak, tidak mau menyimpan pedangnya, tetap dalam keadaan siap siaga. Sementara itu, tiga orang itu pun berpaling kepada Hek-hwa Kui-bo dan Kim- thouw Thian-li yang sudah meloncat pula ke atas perahu lalu memberi hormat dan berkata,

"Sudah lama mendengar nama besar Hek-hwa kui-bo dan Kim-thouw Thian li, maka hari ini kami sengaja mengundang Ji-wi. Nona ini juga menjadi tamu kami, maka harap Ji-wi tidak memusuhinya selama dia menjadi tamu undangan kami."

Hek-hwa Kui-bo membalas penghormatan mereka sambil berkata, "Sudah lama mendengar nama besar Sam-ong. Hari ini menerima kehormatan dan undangan, hal ini berarti tidak melupakan hubungan dunia kang-ouw di daerah selatan. Tentu saja aku dan muridku tidak akan mengacaukan tempat Sam-ong, kecuali kalau Nona muda galak ini menyerang kami, terpaksa kami mempertahankan diri."

"Hek-hwa Kui-bo, apakah kau begini pengecut?" Li Cu membentak marah. "Mengapa kau berlindung di tempat orang? Kalau kau gagah, mari kita mendarat dan kita melanjutkan pertempuran."

Orang tertua dari ketiga Sam-ong itu segera menghadapi Li Cu dan berkata, suaranya tetap halus, "Nona, harap kau suka memandang muka kami dan tidak memusuhi dua orang tamu kami ini. Kelak kalau kau sudah tidak bersama kami terserah."

"Aku tidak mengenal kalian, akan tetapi aku pun tahu akan peraturan kang-ouw dan tidak

akan mengacaukan tempat kalian ini. Biarlah aku mendarat saja dan menanti sampai dua orang pengecut ini berani mendarat pula."

"Ha-ha-ha, Nona muda besar sekali nyalimu. Hek-hwa Kui-bo sebagai tokoh terkenal di dunia selatan, masih sungkan menolak undangan kami. Sekarang kami mengundang kau dengan maksud baik, "bagaimana kau bisa menolaknya?"

Pedang di tangan Li Cu menggetar. Memang dia adalah seorang gadis muda yang amat berani, apalagi ilmu silatnya memang tinggi sekali dan waktu itu ia memang sedang berada dalam keadaan marah. Sama sekali ia tidak gentar biarpun ia berada di tempat orang lain.

"Mana ada aturan mengundang orang dengan cara memaksa? Aku merdeka, untuk menerima atau menolak tiap undangan dan kali ini aku tidak ingin menerima undangan siapapun juga. Lekas sediakan perahu agar aku dapat mendarat kembali."

Kini orang ke tiga dari tiga orang itu melangkah rnaju. Suaranya tinggi kecil dan matanya yang sipit itu bercahaya tajam. Hebat adalah warna rnatanya yang sipit itu, karena warnanya merah seperti orang yang sakit mata.

"Nona, apakah kau belum pernah mendengar nama Ho-hai Sam-ong maka kau berani menolak undangan kami?"

Li Cu balas memandang, tidak berani lama-lama menentang mata yang merah itu karena sebentar saja ia merasa matanya sakit. Tapi ia masih tabah dan tersenyum mengejek. Belum pernah mendengar sama sekali, akan tetapi andaikata pernah mendengar juga, jangankan baru Ho-hai Sam-ong (Tiga Raja Sungai dan Lautan), biarpun Thian-te Sam- ong (Tiga Raja Bumi Langit) yang mengundang, sekali aku bilang tidak mau tetap tidak mau."

Orang ke dua melangkah maju dan tertawa bergelak. Seperti dua orang yang lain, orang

ke dua ini pun usianya sudah lima puluh tahun, akan tetapi ia adalah seorang laki-laki yang tampan dan gagah. "Ha-ha-ha-ha, masih begini muda hebat kepandaiannya, dan ketabahannya luar biasa. Eh, Nona manis, kau ini puteri siapakah dan siapa pula namamu?"

Kini Li Cu mendapat kesempatan untuk membanggakan keadaannya. Dengan senyum mengejek dan suara nyaring ia berkata, "Aku dari Thai-san. Ayahku adalah Bu-tek Kiam- ong (Raja Pedang Tanpa Tanding) Cia Hui Gan, namaku sendiri Cia Li Cu. Hayo lekas antar aku mendarat."

Tiga orang itu saling pandang lalu tertawa bergelak-gelak. Li Cu menjadi heran dan ia mulai memperhatikan mereka. Orang pertama bertubuh tinggi besar dan mukanya buruk sekali, kehitaman dan bopeng. Orang ke dua adalah yang tampan dan gagah itu, sedangkan orang ke tiga amat mengerikan dengan matanya yang merah. Belum pernah ia. mendengar nama Ho-hai Sam-ong dan diam-diam ia menduga-duga sampai di mana

kelihaian mereka sehingga Hek-hwa kui-bo yang terkenal sebagai iblis itu kelihatan sungkan bermusuhan.

"Ha-ha-ha, bagus sekali! Mata Kiang-te memang tajam, sudah dapat menduga ilmu pedang baik dan pedang pusaka. Nona, bukankah pedangmu itu yang disebut Liong-cu- kiam? Ke mana yang sebuah lagi? Ha-ha-ha, Nona, kau berhadapan dengan Ho-hai Sam- ong. Aku sendiri dijuluki orang Lui Cai Si Bajul Besi, dia ini adalah adikku Kiang Hun Si Naga Sungai dan Thio Ek Sui Si Cucut Mata Merah. Ayahmu Cia Hui Gan sudah pasti pernah mendengar nama kami. Nona, setelah ternyata kau puteri Cia Hui Gan, lebih-lebih lagi kami mengundang kau untuk berkunjung ke tempat kami. Ada sesuatu yang amat penting harus kami bicarakan dengan kau. Bukankah kau ini adik seperguruan dari Tan Beng Kui dan sudah menjadi tunangannya pula? Ha-ha, kebetulan sekali, kebetulan sekali. Kesempatan begini bagus mana kami mau lewatkan begitu saja?"

Li Cu terkejut juga. Agaknya ada sesuatu di antara mereka ini dengan Beng Kui. Akan tetapi ia tidak peduli lagi. Jawabnya marah, "Tidak peduli kalian siapa dan ada urusan apa dengan suhengku, aku tetap tidak mau menjadi tamu kalian dan minta turun mendarat."

"Kalau kami melarang?" tanya Si Naga Sungai Kiang Hon yang tampan itu.

"Kalian sudah tahu akan nama pedangku, kalau kalian melarang, berarti kalian akan berkenalan dengan tajamnya Liong-cu-kiam."

Tiga orang tua itu tertawa bergelak. "Ha-ha-ha," kata Thio Ek Si Cucut Mata Merah, "Kau belum mengenal kelihaian Ho-hai Sam-ong. Di darat kau boleh mengaku puteri Si Raja Pedang, akan tetapi disungai jangan harap kau akan dapat menjagoi."

"Tidak peduli, aku tidak takut!" jawab Li Cu marah.

Si Cucut Mata Merah itu lalu tertawa-tawa dan mengeluarkan senjatanya yang aneh, yaitu sebuah ruyung meruncing yang bentuknya seperti kikir, berduri-duri banyak sekali. Senjata ini mirip dengan senjata ikan cucut, tapi lebih hebat lagi.

"Kita boleh main-main sebentar dengan Nona ini." kata pula Kiang Hun Si Naga Sungai sambil mengeluarkan senjatanya yang juga aneh, yaitu semacam tambang lemas dan kuat, tambang yang biasanya untuk mengikat perahu di waktu berlabuh.

"Bagus, memang aku pun ingin merasai kelihaian Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut yang sudah menggegerkan dunia persilatan," kata Lui Cai Si Bajul Besi sambil menerima senjatanya dari anak buahnya yang sudah siap, yaitu sebatang dayung baja yang panjang dan berat.

Melihat betapa tiga Sam-ong ini sudah siap dengan senjata mereka yang hebat, Li Cu cepat bergerak. Nona ini maklum bahwa ia tidak mempunyai harapan untuk membujuk dengan omongan halus, terpaksa harus mengadu kepandaian untuk memaksa mereka.

Nyalinya memang besar sekali, biarpun ia sudah dapat menduga bahwa mereka ini terdiri dari orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, namun ia tidak takut.

"Lihat pedang!" teriaknya dah tubuhnya berkelebat, lenyap terbungkus gulungan sinar pedangnya yang luar biasa itu.

"Kiam-hoat (ilmu pedang) bagus!" tiga orang kakek itu berseru sambil menggerak- gerakkan senjata masing-masing menangkis. Terdengar bunyi trang-trang dua kali ketika pedang Liong-cu-kiam di tangan Li Cu bertemu dengan ruyung dan dayung. Ujung ruyung dan dayung itu terbabat sedikit, tapi tangan Li Cu juga tergetar oleh pertemuan senjata itu dan ketika tambang di tangan Kiang Hun membelit pedangnya, hampir saja pedang itu dapat dirampas kalau Li Cu tidak cepat-cepat menarik kembali pedangnya dan melompat mundur dengan cepat.

"Pedang bagus!" Lui Cai dan Thio Ek Sui yang terusak ujung senjatanya berseru sambil memeriksa senjata mereka. Juga Li Cu diam-diam kaget bukan main karena dalam gebrakan pertama tadi hampir saja pedangnya terlepas oleh Kiang Hui Si Naga Sungai yang bersenjata tambang itu. Di samping ini ia cukup maklum bahwa para lawannya memiliki tenaga yang bukan main besarnya sehingga selanjutnya ia harus berlaku hati- hati sekali. Di lain pihak tiga orang Sam-ong itu kini tidak berani memandang rendah kepada nona muda itu dengan pedangnya yang ampuh. Sejenak saling pandang mereka sudah mengambil keputusan untuk mengerahkan kepandaian agar jangan sarmpai kalah oleh seorang gadis muda.

Kiang Hun Si Naga Sungai memutar-mutar tambangnya, makin lama ia ulur makin panjang. Tambang itu mendesing di udara, mengeluarkan bunyi mengerikan dibarengi angin sambarannya yang dahsyat. Lui Cai juga menggerakkan dayung bajanya yang panjang dan berat berubah menjadi lingkaran sinar kehitaman yang bersiutan. Adapun Thio Ek Sui memainkan ruyungnya, merubah ruyung yang hanya sebuah itu menjadi belasan buah nampaknya dan setiap bayangan ruyung mempunyai gerakan sendiri seakan-akan ada belasan orang yang main ruyung. Hebat sekali tiga orang ini sehingga diam-diam Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li menjadi kagum dan diam-diam bersyukur bahwa mereka tadi tidak memusuhi tiga orang raja bajak itu.

Li Cu sendiri ketika menyaksikan ini maklum bahwa seorang diri saja ia tidak akan menang menghadapi tiga lawan berat ini. Apalagi di situ masih ada Hek-hwa Kui-bo dan muridnya yang kalau setiap waktu maju pula, tentu dia akan celaka. Maka ia segera mengeluarkan suara ejekan, Ho-hai Sarri-ong? Tiga orang tua yang menyebut diri raja- raja menghadapi seorang gadis muda dengan mengeroyok?"

"Ha-ha-ha, Nona, apakah kau takut?" kata Lui Cai.

Pertanyaan macam inilah yang menjadi pantangan bagi Li Cu. Semenjak kecil ia dididik berjiwa satria yang tidak pernah mengenal artinya takut, apalagi kalau hal itu dikemukakan oleh orang lain. Ia mengertak gigi dan membentak,

"Siapa takut? Biarlah hari ini aku Cia Li Cu mengadu nyawa dengan kalian tiga orang tua bangka tak tahu malu!" Setelah berkata demikian, cepat ia mainkan jurus-jurus Sian-li Kiam-sut yang amat indah dan hebat dan sengaja ia mainkan jurus pertahanan saja untuk menyelamatkan dirinya.

"Ha-ha-ha, Nona Cia yang gagah, kami sama.sekali tidak menghendaki nyawamu, hanya terpaksa menahanmu disini," demikianlah kata Lui Cai. "Ji-wi-sute, mari kita tangkap dia tanpa melukainya, kalau kita tidak bisa melakukan itu percuma kita menjadi Ho-hai Sam- ong."

Hal ini memang jauh lebih mudah diucapkan daripada dilaksanakan. Mengalahkan Li Cu tanpa melukainya merupakan hal yang bukan main sukarnya, seperti orang hendak menangkap burung walet tanpa memanahnya roboh. Gerakan Li Cu selain gesit dan ringan juga ilmu pedangnya amat sukar diikuti, gerakannya aneh dan sinar pedangnya bergulung-gulung melindungi seluruh tubuhnya sehingga andaikata turun hujan, takkan ada setetes pun air hujan dapat membasahi tubuhnya.

Namun harus diakui bahwa Li Cu terdesak hebat. Gadis ini merasa seakan-akan menghadapi benteng baja yang amat kokoh kuat dan dari benteng baja itu bertubi-tubi datang penyerangan yang amat berbahaya. Dia sama sekali tidak diberi kesempatan menyerang dan dipaksa untuk terus-menerus mempertahankan dirinya. Delapan puluh jurus lebih telah lewat dan perlahan-lahan Li Cu merasa kepalanya pening. Dia harus memperhatikan gerakan tiga macam senjata lawan dan hal ini membuat ia pening dan ber "Huh, hanya begini sajakah kegagahan kunang matanya.

"Lepas senjata!" Lui Cai dan Thio Ek Sui membentak keras dan berbareng senjata mereka, dayung baja dan ruyung yang berat itu menyambar dari kanan kiri untuk memukul runtuh pedang Li Cu yang agak terlambat gerakannya karena matanya berkunang-kunang.

!" Ruyung dan dayung patah menjadi dua terkena Liong-cu-kiam, akan tetapi pedang itu sendiri terlepas dari pegangan Li Cu karena telapak tangannya pecah oleh benturan senjata tadi dan kini, Liong-cu-kiam meluncur dan menancap ke atas dek perahu. Pada saat itu juga, tambang yang digerakkan oleh Kiang Hun secara hebat itu telah datang membelit-belit tubuh Li Cu sehingga gadis itu tak dapat berkutik lagi. Namun, gadis itu biarpun seluruh tubuhnya terlibat tambang yang amat kuat, ia masih terus berdiri tegak dengan kepala dikedikkan dan sepasang mata bintangnya memancarkan cahaya berapi-api. "Tranggg... tranggg ....

"Kalian tua bangka-tua bangka dengan pengeroyokan telah dapat mengalahkan aku. Sekarang aku telah tertangkap, mau bunuh boleh lekas bunuh!" bentaknya gagah.

"Ha-ha, kau benar-benar gagah perkasa Nona. Tapi kami tidak bermaksud membunuhmu, hanya ingin menahanmu untuk memaksa tunanganmu berunding dengan kami." kata Lui Cai Si Bajul Besar.

"Sam-ong harap jangan gegabah. Lebih baik bocah liar ini dibunuh dan mayatnya dilempar ke sungai. Kalau ditahan dan sampai tersusul oleh bocah siluman Tan Beng San, bisa-bisa kalian mengalami hari naas." kata Hek-hwa Kui-bo.

Tiga orang itu mengerutkan keningnya ketika menoleh ke arah pembicara ini. "Kui-bo, siapa itu Tan Beng San yang kaupakai menakut-nakuti kami?"

Hek-hwa Kui-bo tersenyum mengejek. "Hemm, kalian boleh tidak takut terhadap bocah liar ini atau terhadap ayahnya sekalipun. Akan tetapi jangan main-main kalau menghadapi Tan Beng San adik Tan Beng Kui itu, dialah sesungguhnya Raja Pedang di dunia ini yang memiliki Ilmu Pedang Im-yang Sin-kiam-sut."

Tiga orang itu saling pandang, kemudian tertawa bersama. "Adik Tan Beng Kui? Masih adakah orang muda begitu hebat? Boleh

....boleh, kebetulan sekali, biarkan dia datang pula agar lebih enak kita bicara dengan Tan Beng Kui kelak. Ha-ha-ha!" Setelah berkata demikian. Lui Cai memberi perintah kepada sutenya, yaitu Kiang Hun untuk melepaskan ikatan tambang pada tubuh Li Cu. Dia sendiri mengambil pedang Liong-cu-kiam dan disimpannya.Tiga orang yang berani melepaskan kembali Li Cu begitu saja terang memandang rendah kepada gadis ini setelah terampas pedangnya. Li Cu sendiri juga tidak gegabah untuk mengamuk lagi setelah Liong-cu-kiam terampas. Ia cukup cerdik untuk tidak berlaku sembrono.

"Asal kau tidak memberontak, kami tidak merasa perlu untuk mengikat atau menotok jalan darahmu," kata Lui Cai. "Juga kami harap selama kau menjadi tamu, kau tidak akan membikin ribut dan bertengkar dengan Hek-hwa Kui-bo dan muridnya."

Li Cu menjatuhkan diri duduk di atas bangku. Ia merasa tidak berdaya dan jengkel sekali. Baru kali ini ia dibikin tidak berdaya oleh orang lain tanpa mampu melampiaskan kemendongkolan hatinya.

"Ho-hai Sam-ong, jangan berlaku rahasia. Kalian menahanku sebetulnya dengan maksud apakah?" tanyanya berani.

"Sama sekali bukan dengan maksud buruk," kata Lui Cai sambil menggeleng-geleng kepala. "Nanti kita bicarakan sambil kita makan."

Ia lalu memberi perintah kepada para anak buah bajak yang berada di perahu itu untuk menyiapkan hidangan. Meja besar diatur penuh hidangan untuk enam orang, yaitu pihak tuan rumah tiga orang dan para tamu tiga orang pula. Baik Hek-hwa Kui-bo dan muridnya maupun Li cu diperlakukan dengan sikap hormat dan baik sehingga bagi mereka ini tidak ada kesempatan untuk merasa kurang senang. Sementara itu, tanpa terasa karena besarnya, perahu itu sejak tadi meluncur mengikuti aliran air, ditambah kecepatannya dengan layar yang berkembang.

Tanpa sungkan-sungkan Li Cu makan dan minum hidangan yang serba lezat itu sambil

mendengarkan penuturan Lui Cai Si Bajul Besi yang menjadi orang tertua di antara Ho- hai Sam-ong.

"Kalau dibicarakan membikin orang menjadi tak enak makan tak nyenyak tidur saking penasaran," demikian Si Baju Besi mulai penuturannya. Selanjutnya ia bercerita demikian. Ketika rakyat memberontak terhadap Pemerintah Mongol tidak hanya para orang gagah di dunia kang-ouw yang ikut berjuang di samping rakyat kecil. Akan tetapi juga banyak di antara mereka yang tergolong tokoh-tokoh dunia hitam (penjahat) juga bangkit semangat patriotnya dan ikut pula berjuang mati-matian. Di antara mereka ini yang paling hebat dan gigih perjuangannya adalah Ho-hai Sam-ong inilah. Merekalah yang banyak berjasa dalam penyeberangan para pejuang, dengan pengiriman ransum bagi para pejuang dan banyak pula pihak musuh mereka hancurkan di sepanjang lembah Sungai Huang-ho. Malah dalam perjuangannya ini, tidak hanya Ho-hai Sam-ong kehilangan banyak anak buah yang gugur, bahkan Lui Cai dan Thio Ek Sui kehillangan putera mereka yang ikut gugur dalam perjuangan itu.

Akan tetapi, setelah perjuangan berhasil, mereka menjadi kecewa. Memang, tak dapat disangkal lagi bahwa manusia-manusia yang bukan patriot sejati, ikut berjuang karena mempunyai pamrih (ambisi) mempunyai pengharapan agar kalau perjuangan itu berhasil, dia tidak dilupakan dan diberi jasa sebanyaknya. Demikian pula dengan Ho-hai Sam-ong. Mereka seakan-akan dilupakan, malah ketika mereka menonjolkan jasa, para pembesar baru di kota raja tidak mau menerima, malah mencurigai mereka yang berasal dari golongan bajak.

"Ciu Goan Ciang seorang serakah tak kenal kawan seperjuangan." demikianlah Lui Cai menutup ceritanya. "Setelah perjuangan berhasil dan dia menduduki singgasana menjadi kaisar, ia lupa bahwa tanpa bantuan orang-orang lain tak mungkin ia dapat mengalahkan orang-orang Mongol. Dia tidak menghargai jasa orang lain, malah berusaha melenyapkan semua tokoh pejuang yang ia anggap saingannya dalam memperebutkan kedudukan tinggi. Siapakah tidak penasaran?"

Li Cu yang mendengarkan cerita ini sebenarnya tidak merasa aneh karena dia sendiri sering kali berada di kota raja dan cerita tentang perebutan pahala antara para tokoh pejuang ini sudah dia ketahui. Memang banyak bekas pejuang tidak puas dengan sikap Goan Ciang dan banyak yang iri hati sehingga setelah mereka semua berhasil menumbangkan kekuasaan Mongol dari tanah air, sekarang di antara mereka sendiri timbul perebutan dan permusuhan.

"Kalau kalian merasa penasaran kepada kaisar baru, mengapa menahan aku? Apa hubunganku dengan segala macam perebutan kekuasaan dan saling menonjolkan pahala itu?" tanya Li Cu heran, juga penasaran.

Lui Cai menarik napas panjang. "Sudah kukatakan tadi bahwa yang merasa tidak puas terhadap Ciu Goan Ciang adalah banyak sekali. Sayangnya, perasaan mereka ini membangkitkan pemberontakan menyendiri sehingga terjadi permusuhan dan perpecahan. Di antara saingan kami itu adalah Pangeran Lu Siauw Ong yang

kelihatannya paling besar keinginan hatinya untuk merampas singgasana dari tangan kaisar baru. Bagi kami, sama sekali tidak mempunyai keinginan menjadi kaisar, kami hanya ingin menghukum Ciu Goan Ciang yang tidak menghargai jasa orang. Nah, kau tahu sekarang. Suhengmu itu adalah orang kepercayaan Lu Siauw Ong, malah kini menjadi tangan kanannya. Sudah beberapa kali kami hendak mengajak Lu Siauw Ong bekerja sama untuk menggulingkan Ciu Goan Ciang akan tetapi mereka itu, terutama suhengmu, memandang rendah kepada kami. Sekarang, kebetulan kau menjadi tamu kami, hendak kami lihat apakah Tan Beng Kui masih hendak berkeras kepala dan terlaiu angkuh."

Mendengar ini, hati Li Cu serasa tertusuk karena ia segera terkenang akan nasibnya. Agaknya tiga orang kepala bajak ini juga masih belum tahu betul apa yang baru-baru ini terjadi. Ia masih dianggap tunangan Beng Kui sehingga kini ia dijadikan tawanan untuk memancing datangnya Beng Kui agar suka diajak bersekutu oleh Sam-ong ini. Teringatlah ia betapa Beng Kui telah mengkhianatinya dalam ikatan jodoh mereka. Tan Beng Kui tidak saja menjadi pembantu dan tangan kanan Lu Siauw Ong, malah sekarang telah menjadi mantunya. Ya, Tan Beng Kui suhengnya dan tunangannya itu setelah selesai perjuangan juga terserang demam ambisi, setelah dekat dengan Pangeran Lu Siauw Ong dan diberi janji-janji kedudukan tinggi, menjadi mabok. Malah akhirnya, demi untuk mencapai cita-cita ambisinya, Beng Kui meninggalkannya, memutuskan ikatan jodoh dengannya dan suka dikawinkan dengan Lu-siocia, puteri Lu Siauw Ong. Inilah yang membuat hati Li Cu hancur dan gadis ini lalu minggat dari kota raja, tidak mau pulang ke Thai-san dan merantau dengan hati hancur sehingga ia tiba di tempat tinggal sucinya, Lee Giok. Tadinya ia hendak mengeluh dan mengadukan nasibnya yang buruk kepada Lee Giok itu, siapa kira Lee Giok sendiri sedang ditimpa malapetaka sekeluarga sehingga dia yang ingin menolong sekarang akibatnya malah tertawan oleh Ho-hai Sam-ong dan dipergunakan untuk memancing datangnya Tan Beng Kui. Ah, kalau nasib sedang mempermainkan orang.

Ia pun tidak mau banyak cakap lagi, malah diam-diam ia hendak melihat apa yang akan menjadi reaksi dari pihak Tan Beng Kui kalau mendengar bahwa dia menjadi tawanan Ho-hai Sam-ong. Sementara itu ia mendengar betapa tiga orang kepala bajak itu membujuk-bujuk Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li untuk membantu usaha mereka dan betapa guru dan murid itu menyanggupi. Tapi ia tidak pedulikan itu semua dan perahu terus meluncur cepat.

Seperti juga halnya dengan Li Cu, Beng San mengejar ke selatan, sama sekali tidak mengira bahwa Giam Kin yang menculik Lee Giok itu lari menuju ke utara. Mudah saja bagi Beng San untuk mengikuti jejak tiga orang wanita yang saling berkejaran itu karena di sepanjang perjalanan ia selalu bisa mendapat keterangan tentang mereka. Akhirnya ia sampai juga di dusun kecil di tepi Sungai Huang-ho di mana terjadi pertempuran antara Li Cu dan Ho-hai Sam-ong. Tentu saja ia segera mendengar dari para nelayan bahwa gadis baju merah yang dicarinya itu telah datang ke tempat itu pada dua hari yang lalu, malah ia mendengar cerita yang amat menarik akan tetapi mendebarkan jantungnya tentang peristiwa di perahu Ho-hai Sam-ong. Beng San sendiri belum pernah mendengar

nama ini, akan tetapi mendengar penuturan para nelayan, ia tahu bahwa tiga orang itu adalah kepala-kepala bajak yang berkepandaian tinggi dan amat berpengaruh.

la pun, mendengar bahwa Ho-hai Sam-ong mempunyai sarang di dekat kota Cin-an, yaitu

di sebuah perkampungan bajak di pinggir Sungai Huang-ho tak jauh dari kota itu, dan mendengar bahwa anak buah bajak laut dan bajak sungai yang menjadi anak buah tiga raja bajak itu ratusan orang jumlahnya, semua dipusatkan di perkampungan itu. Karena sama sekali tidak bisa mendapat keterangan tentang Giam Kin yang membawa Lee Giok, Beng San merasa ragu-ragu, akan tetapi ia melanjutkan perjalanan maksud menolong Li Cu yang jatuh ke dalam kekuasaan para bajak.

Tak seorang pun nelayan berani ke sarang bajak di dekat Cin-an terpaksa Beng San melakukan perjalanan melalui darat mengikuti sepanjang pantai Huang-ho terus ke timur. Ia melakukan perjalanan cepat karena ia menguatirkan keselamatan Li Cu, juga ingin lekas-lekas bertemu dengan gadis itu untuk bertanya tentang nasib Lee Giok yang masih belum ia ketahui.

Sama sekali orang muda itu tidak ta hu bahwa di dusun kecil itu, seperti juga di semua tempat di sepanjang Sungai Huang-ho, terdapat beberapa orang anggauta bajak sungai yang bertugas sebagai penyelidik. Para penyelidik inilah yang selalu memberitahukan kawan-kawannya tentang perahu-perahu pedagang atau perahu-perahu pembesar yang hendak lewat, malah mereka bertugas pula untuk mencari keterangan perahu mana yang membawa barang berharga sehingga semua pekerjaan yang dilakukan Ho-hai Sam-ong selalu berhasil baik. Beberapa orang penyelidik ini sudah diberi tahu tentang keadaan Beng San yang mereka dengar dari Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li, maka begitu orang muda ini muncul, mereka segera mengenalnya dan cepat-cepat mereka mengirim berita ke tempat tinggal Ho-hai Sam-ong.

Inilah sebabnya mengapa Beng San menjadi terheran-heran dan kagum sekali ketika ia

tiba di luar perkampungan bajak di tepi Sungai Huang-ho pada keesokan harinya di waktu senja, ia menghadapi barisan bajak di luar kampung yang sudah menanti kedatangannya. Barisan bajak itu terdiri dari seratus orang, dibagi menjadi empat lapisan dan di tiap lapis dipimpin oleh seorang kepala bajak yang gagah. Lapis pertama adalah barisan bersenjata tombak, ke dua barisan bersenjata golok, ke tiga barisan ruyung dan ke empat barisan pedang.

"Orang muda, apakah kau yang bernama Tan Beng San dan datang hendak membebaskan Nona Cia Li Cu?" demikian kepala bajak di barisan terdepan membentak dengan suaranya yang keras parau.

Beng San dalam keheranan dan kekagumannya hanya tersenyum tenang. "Memang betul dugaanmu, harap kau suka minta kepada Ho-hai Sam-ong supaya keluar dan bicara denganku."

Kepala bajak itu tertawa sombong. "Ho-hai Sam-ong sudah tahu akan kedatanganmu dan mempersilakan kau menerjang maju kalau kau memang gagah."

Beng San mengukur dengan sudut matanya. Agaknya biarpun tidak mudah, ia masih sanggup menerjang masuk. Akan tetapi, di luar kampung saja penjagaan sudah begini ketat, apalagi di dalam kampung, tentu lebih diperkuat dan kiranya tidak mudah baginya untuk menolong Li Cu.

"Hemmm, tadinya kusangka nama besar Ho-hai Sam-ong mewakili tiga orang yang perkasa. Tidak tahunya hanya pengecut-pengecut yang mengandalkan pengeroyokan anak buahnya untuk menakut-nakuti aku."

Para bajak menjadi marah. "Orang muda, jangan lancang membuka mulut." demikian kepala bajak membentak dan memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mengeroyok Beng San. Tombak-tombak sudah bergerak mengerikan. Akan tetapi pada saat itu terdengar suara keras bergema dari dalam kampung.

"Orang muda she Tan, Ho-hai Sam-ong tidak takut kepadamu. Anak buah menjaga di luar kampung dan melarang setiap orang asing masuk adalah menjadi kebiasaan kami. Kalau ada keberanian, malam ini kami menanti di ruangan rumah kami dan kau boleh coba-coba membebaskan Nona Cia dari tangan kami bertiga. Ha-ha-ha!" Mendengar ini, barisan bajak yang mengenal suara Kiang Hun, tidak berani sembarangan bergerak. Beng San juga dapat mengetahui bahwa itu tentulah suara seorang di antara ketiga Sam-ong, maka diam-diam ia maklum bahwa orang itu memiliki khi-kang yang kuat dan merupakan lawan berat. Ia pun berkata perlahan,

"Baik Ho-hai Sam-ong, malam nanti aku datang untuk mengagumi kepandaian kalian." Bagi barisan di depan Beng San, orang muda ini hanya menggerakkan bibir terus membalikkan tubuh dan pergi. Akan tetapi bagi Ho-hai Sam-ong di dalam kampung, mereka bertiga mendengar suara ini dengan jelas biarpun perlahan-lahan. Diam-diam mereka kagum sekali karena khi-kang yang dipergunakan oleh orang muda itu untuk "mengirim suara" merupakan kepandaian yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali, Maka mereka lalu bersiap-siap untuk menghadapi kedatangan pemuda yang oleh Hek- hwa Kui-bo dipuji-puji kepandaiannya itu.

Malam itu gelap gulita. Hal ini amat menguntungkan Beng San karena biarpun penjagaan

di luar kampung diperketat, namun berkat kepandaiannya ia dapat juga menerobos untuk dilindungi oleh kegelapan malam. Sebelum para penjaga mengetahui, ia sudah berada di atas genteng rumah terbesar di kampung itu. Ketika ia melihat, ternyata pihak tuan rumah sudah siap sedia. Ruangan yang amat luas di situ telah dipasangi lampu penerangan yang banyak dan terang sekali. Ia melihat pula Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li berpakaian indah sekali dan nampak cantik menarik. Wanita ini sedang bercakap-cakap dengan seorang laki-laki setengah tua yang tampan. Dia tidak tahu bahwa laki-laki itu adalah Kiang Hun Si Naga Sungai yang selain lihai dan tampan, juga terkenal mata keranjang, maka tidak membuang kesempatan untuk beramah tamah dengan Kim-thouw Thian-li yang juga "tua-tua kelapa" itu. Di dekat Kiang Hun duduk Lui Cai Si Bajul Besi dan Thio Ek Sui Si Cucut Mata Merah. Di ujung kiri duduk seorang gadis tanggung berusia paling banyak lima belas tahun, mukanya cantik dan bentuk wajahnya seperti

Kiang Hun. Memang dia ini adalah puteri tunggal dari Kiang Hun bernama Kiang Bi Hwa. Semua orang yang duduk di sini agaknya telah siap karena semua, kecuali gadis tanggung itu, membawa senjata masing-masing. Kiang Bi Hwa tidak bersenjata, hanya memegang sebuah kipas bergagang gading dan tersulam indah sekali. Semua tampak tenang, hanya gadis tanggung ini yang agaknya gelisah, ataukah memang ia merasa hawanya panas? Ia mengebut-ngebutkan kipasnya tiada hentinya di depan leher.

Yang membuat darah Beng San menjadi panas adalah ketika ia melihat ke tengah ruangan yang kosong itu. Di situ ia melihat Cia Li Cu duduk di atas sebuah kursi dengan kaki tangan terbelenggu. Gadis itu tidak dapat bergerak sama sekali, namun duduknya masih kaku tegak, kepala dikedikkan dan sepasang matanya berapi-api. Sedikit pun tidak kelihatan takut, hanya kemarahan dan perlawanan yang tampak di muka yang cantik jelita namun kelihatan lesu dan lelah serta pucat itu. Hal ini tidak mengherankan oleh karena gadis ini dalam kemarahannya yang meluap-luap karena dirinya dijadikan "umpan" ini, telah menolak untuk makan dan tidak dapat tidur sama sekali. Ia malah melakukan perlawanan sehingga terpaksa ia dikeroyok, ditotok tidak berdaya lalu dibelenggu. Pedang Liong-cu-kiam malam itu sengaja diletakkan di lantai, di depan gadis tawanan itu.

Melihat Liong-cu-kiam yang pendek itu, Beng San mengilar sekali. Kalau saja pedang itu berada di tangannya, akan lebih mudah ia membebaskan Li Cu. Akan tetapi ia pun bukan, orang bodoh, Kalau pihak lawan sudah sengaja menaruh pedang itu di sana, tentu di balik perbuatan ini ada maksud tersembunyi yang amat berbahaya. Ia tidak boleh gegabah, tidak boleh sembrono dan harus berlaku hati-hati dan bersikap waspada.

Tiba-tiba telinganya yang tajam men dengar sesuatu dan matanya melihat bayangan orang berkelebat di sebelah depan, Cepat ia menyelinap ke belakang wuwungan dan mengintai. Hampir ia tidak dapat menahan ketawanya ketika melihat ada tiga orang lain juga mengintai dari atas genteng ke bawah. Hatinya berdebar, Siapakah mereka? Dan apakah mereka juga datang untuk membebaskan Li Cu? Mungkin sekali. Cia Li Cu adalah puteri tunggal dari Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan, maka sekali terkena bencana tentu akan menarik hati orang-orang gagah untuk turun tangan menolongnya. Beng San bersikap menanti, hendak rnelihat apakah yang akan dilakukan oleh tiga orang itu yang melihat gerak-geriknya adalah ahli-ahli silat tingkat tinggi.

Kalau tiga orang yang datang mengintai itu merupakan orang-orahg lihai kiranya yang berada di bawah juga tidak kalah lihainya. Tiba-tiba Lui Cai Si Bajul Besi berdongak ke arah tiga orang "'tamu malam" itu dan berkata, suaranya keras,

"Sudah berani datang kenapa tidak terus masuk? Ada maksud lebih baik dibicarakan di dalam, kami sudah lama menanti."

Seorang di antara tiga tamu malam itu mengeluarkan suara tertawa, suara ketawanya halus dan ringan. "Ha-ha-ha, Ho-hai Sam-ong benar-benar hebat. Kami turun." Dan melayanglah tiga sosok bayangan orang ke dalam ruangan itu. Kaki mereka amat

ringannya menyentuh lantai tanda bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki ginkang cukup tinggi.

Beng San terkejut dan berdebar hatinya ketika melihat bahwa seorang di antara mereka adalah kakak kandungnya, Tan Beng Kui. Pemuda ini sekarang agak kurus kalau dibandingkan dengan beberapa bulan yang lalu ketika bertemu dengannya di Puncak Thai-san. Pedang Liong-cu-kiam yang panjang tergantung di punggungnya. Dua orang yang lain adalah seorang kakek berpakaian seperti tosu dan yang seorang lagi seorang laki-laki setengah tua yang gerak-geriknya gagah, dan angkuh. Juga mereka ini membawa pedang di punggung masing-masing.

Melihat tiga orang ini, Lui Cai Si Bajul Besi tertawa bergelak lalu berkata, "Selain Tan- ciangkun, juga datang Koai-sin-kiam (Pedang Sakti Aneh) Oh Tojin dan Ji Lu-enghiong yang ternama. Ha-ha-ha, benar-benar merupakan kehormatan besar bagi kami. Selamat datang... selamat datang ..... "

Adapun Beng Kui ketika melihat sumoinya (adik seperguruannya) duduk terbelenggu di tengah ruangan dalam keadaan tak berdaya, segera melompat hendak menolong. "Ciangkun, awas perangkap!" tiba-tiba Koai-sin-kiam Oh Tojin berseru keras sambil melompat pula ke tengah ruangan. Adapun orang ke dua yang tadi disebut Ji Lu- enghiong (Pendekar ke dua she Lu) dengan tenang melompat pula, gerakannya ringan dan cepat mengejar Beng Kui.

Namun peringatan dari Oh Tojin itu terlambat karena Beng Kui sudah sampai di tengah ruangan. Sekali melompat saja ia tadi sudah sampai di dekat kursi yang diduduki Li Cu. Tiba-tiba terdengar bunyi berderit keras dan kursi yang diduduki Li Cu itu bergerak mundur sampai dua meter, kemudian lantai di tengah ruangan itu terbuka dan meluncurkan anak-anak panah menuju ke tubuh Beng Kui. Kalau saja Beng Kui bukan murid nomor satu dari Raja Pedang Cia Hui Gan, pasti ia akan roboh dan tewas oleh anak-anak panah yang ujungnya sudah diberi racun jahat itu. Belasan batang anak panah itu menyambar cepat sekali, Beng Kui berseru keras dan tahu-tahu tubuhnya sudah mencelat ke kiri sejauh lima meter lebih dan terbebaslah ia dari ancaman anak-anak panah yang kini meluncur ke atas dan menancap ke langit-langit rumah itu.

Dengan muka merah dan pedang Liong-cu-kiam di tangan, Beng Kui bersama dua orang temannya yang juga sudah mencabut pedang kini menghadapi tuan rumah. Beng Kui berseru marah.

"Ho-hai Sam-ong! Beginikah kalian menerima datangnya tamu yang kalian undang untuk berunding dan bersekutu?

Beginikah sikap orang-orang gagah? Kalian menawan.sumoiku.Apa artinya ini?" Lui. Cai tertawa bergelak. "Tan-ciang kun, kau benar-benar gagah perkasa, tidak kecewa menjadi murid utama Bu-tek Kiam-ong. Harap jangan kau salah duga dan mengira kami memperlakukan tamu-tamu kurang hormat. Sesungguhnya adalah kau sendiri yang sebagai tamu kurang menghormati tuan rumah sehingga tanpa bertanya kau lancang

hendak turun tangan. Ketahuilah, kami tidak mengganggu sumoimu dan seperti telah disebut dalam surat kami, sumoimu hanya menjadi tamu sementara saja sampai kau datang. Akan tetapi tidak tahunya yaitu... ha-ha-ha, adik kandungmu sendiri yang bernama Tan Beng San dan kabarnya lihai bukan main. Karena dia itu akan datang malam ini untuk membebaskan sumoimu, maka kami sengaja mengatur demikian untuk menghadapinya. Sumoimu tidak apa-apa, kami tanggung. Nah, Sam-wi, silakan duduk. Mari kita berunding sambil menanti kedatangan adikmu yang lihai itu. Eh, benarkah berita yang sampai kepadaku bahwa adikmu itu sebenarnya adalah Raja Pedang yang tulen, yang lebih lihai daripada gurumu?"

Merah muka Beng Kui ketika mendengar penjelasan panjang lebar ini, apa lagi mendengar ucapan pertanyaan terakhir itu. Beng San di sini? Dan hendak membebaskan Li Cu? Apa artinya ini? Di mana Li Cu bertemu dengan Beng San dan mengapa mereka bersama? Diam-diam timbul iri hati dan cemburu besar dalam hatinya. Memang betul bahwa dia telah menikah dengan putri Pangeran Lu, akan tetapi hatinya tidak puas mendengar Li Cu bergaul dengan Beng San. Juga tidak enak sekali hatinya melihat sumoinya terbelenggu di kursi itu, akan tetapi sekarang ia tidak berani bertindak sembrono apalagi pada saat itu Lu Khek Jin, yaitu orang tua yang datang bersamanya itu, berkata,

"Betul sekali. Kedatangan kita untuk berunding. Soal yang lain boleh dibicarakan nanti. Sumoimu itu melakukan kesalahaan terhadap Ho-hai Sam-ong maka ia ditawan. Kalau urusan kita dengan Ho-hai Sam-ong selesai dan berakhir baik, apakah Ho-hai Sam-ong tidak akan melepaskan sumoimu dan minta maaf kepada kita?" Ucapan ini ditujukan kepada Beng Kui dan orang muda ini tidak berani membantah lagi. Lu Khek Jin adalah kakak dari ayah mertuanya, yaitu Lu Siauw Ong. Ilmu silatnya tinggi dan dia adalah seorang bekas jenderal, seperti juga Lu Siauw Ong, dan berjasa besar dalam menumbangkan pemerintah Mongol.

"Ha-ha-ha, betul sekali ucapan Ji Lu-enghiong yang mulia. Di antara teman sendiri mana perlu banyak menyembunyikan urusan? Mari, mari, silakan duduk." kata Lui Cai yang segera menyambung kepada adik seperguruannya, Thio Ek Sui Si Cucut Mata Merah. "Kaubereskan lagi anak-anak panah itu untuk menyambut kedatangan Tan Beng San."

Tanpa banyak cakap Thio Ek Sui Si Cucut Mata Merah menggerakkan tubuhnya dan sekali meloncat ia telah melayang ke atas dan kedua tangannya digerakkan. Dalam keadaan melayang itu sekaligus kedua tangannya sudah dapat menarik keluar belasan anak panah tadi dari langit-langit, kemudian ia berjumpalitan turun dengan kedua kaki sama sekali tidak mengeluarkan bunyi ketika menginjak lantai. Dengan cepat ia memasangkan kembali anak-anak panah itu, dan memulihkan pesawat rahasia yang menggerakkan kursi dan membuka lantai dengan peluncuran anak-anak panah itu.

Diam-diam Beng Kui kagum dan juga kaget sekali. Baiknya ia tidak keburu nafsu tadi ketika melihat sumoinya, tidak menurutkan panas hati dan tidak menyerang pihak tuan rumah. Kiranya nama besar Ho-hai Sam-ong bukan kosong belaka dan melihat cara orang termuda dari Ho-hai Sam-ong itu bergerak, terbukti bahwa mereka merupakan

lawan-lawan kuat. Akan tetapi ketika mereka mengambil tempat duduk dan Beng Kui melihat Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li hadir pula di situ, keningnya berkerut.

"Ho-hai Sam-ong, urusan yang akan kita rundingkan adalah urusan rahasia di antara kita. Kuharap jangan ada orang orang luar mendengarkan perundingan kita," katanya dengan kening masih berkerut dan mata mengerling ke arah Hek-hwa Kui-bo.

Lui Cai Si Bajul Besi tertawa bergelak, lalu berkata sambil memandang dua orang wanita yang menjadi tamunya itu. "Kau maksudkan Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li inikah? Ha-ha, jangan salah kira kawan. Mereka ini adalah pembantu-pembantu kami dan mereka itu seribu prosen boleh dipercaya."

Suara Beng Kui dingin sekali ia menjawab, "Ho-hai Sam-ong, terus terang saja biarpun Sam-wi (kalian bertiga) termasuk golongan hek-to (jalan hitam atau penjahat), namun aku masih menganggap Sam-wi setingkat oleh karena aku tahu betul betapa hebat perjuangan Sam-wi pada waktu yang lalu. Sam-wi termasuk orang-orang gagah perkasa, patriot-patriot sejati. Akan tetapi, siapakah dua orang wanita ini? Mereka dahulu membantu penjajah Mongol, mereka adalah pengkhianat-pengkhianat yang tidak patut duduk bersama dengan kita, apalagi merundingkan urusan negara yang amat penting."

Kim-thouw Thian-li hanya mesem saja, akan tetapi tangan kirinya yang mene-kan ujung meja membuat ujung meja itu hancur dalam genggamannya. Ini menandakan bahwa Ketua Ngo-lian-kauw ini marah sekali. Adapun Hek-hwa Kui-bo tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang berderet putih dan rapi, lalu berkata halus,

"Tan-ciangkun, apa sih bedanya antara kedudukan dan nama besar? Apa bedanya antara kemuliaan dan harta? Orang boleh saja berganti haluan demi cita-citanya. Kau dahulu saja membantu Ciu Goan Ciang, sekarang kau berbalik memusuhinya. Sebaliknya sejak dahulu sampai sekarang aku memusuhi Cu Goan Ciang,biar pun jalannya berbeda, dahulu membantu Kerajaan Goan sekarang membantu Ho-hai Sam-ong, namun tetap aku memusuhi Ciu Goan Ciang. Nah, katakan siapa sebetulnya yang berkhianat?"

Menghadapi serangan ini Beng Kui menjadi bingung dan tak dapat menjawab. Sementara itu, Lu Khek Jin segera maju menegah dan berkata kepada Beng Kui.

"Soal bantuan Hek-hwa Kui-bo dan murldnya adalah urusan Ho-hai Sam-ong, kita tidak berhak ikut campur. Nah, Ho-hai Sam-ong, silakan kalian mengajukan usul-usulmu dalam usaha bersama menghadapi keserakahan Ciu Goan Cian yang sama-sama kita benci." Mereka lalu berunding. Ruangan itu sunyi namun para penjaga dengan ketat menjaga di sekeliling rumah. Cia Li Cu masih duduk di kursi terbelenggu. Diam-diam gadis ini mendengarkan semua percakapan mereka. Sayangnya ia telah tertotok urat gagunya sehingga tidak dapat mengeluarkan suara. Kalau dapat, tentu saja ia telah rncndamprat mereka semua. Hatinya gelisah, bingung dan juga kecewa. Sekali lagi hancur hatinya menyaksikan sikap suhengnya, orang yang pernah mencuri hatinya, yang pernah ia jatuhi cinta kasihnya. Ternyata orang ini sekarang mengadakan persekutuan dengan bajak laut untuk menggulingkan Ciu Goan Ciang.

Pihak tuan rumah ada lima orang yaitu Ho-hai Sam-ong dan Hek-hwa Kui bo bersama muridnya, Kiang bi hwa tidak ikut berunding, hanya duduk menyendiri sambil kipas- kipas tubuhnya. Pihak tamu ada tiga orang dan mereka bicara dengan asyik sekali. Tidak hanya Cia Li Cu yang mendengarkan dengan teliti, juga tanpa diketahui oleh mereka semua, Beng San ikut pula mendengarkan. Maka tahulah ia akan segala persoalan yang terjadi semenjak pemerintah Mongol dirobohkan oleh perjuangan rakyat.

Dari percakapan itu ternyata bahwa setelah berhasil mengusir bangsa Mongol, Ciu Goan Ciang lalu mengangkat dirinya menjadi kaisar pertama dari Wangsa Beng dengan memakai gelar Thai Cu. Terjadilah perebutan kekuasaan antara para penggerak pemberontakan, antara para pimpinan yang tadinya berjuang bersama menumbangkan kekuasaan penjajah. Setelah musuh terusir pergi, kemuliaan membuat mereka yang tadinya merupakan patriot-patriot sejati itu menjadi mata gelap dan terjadilah perebutan. Kaisar Thai Cu atau Ciu Goan Ciang tentu saja tidak mau mengalah dan banyaklah bekas-bekas kawan seperjuangan dibunuh, para jenderal yang sudah berjasa dibunuh pula. Pendeknya Ciu Goan Ciang mulai mengadakan "pembersihan" agar kedudukannya tidak terancam.

Ho-hai Sam-ong termasuk orang-orang yang tidak puas dengan sikap Ciu Goan Ciang, karena permintaan mereka untuk menjadi "menteri negara" ditolak oleh kaisar baru ini yang menganggap bahwa tidak pantas. ia menggunakan bekas kepala bajak menjadi menteri. Juga Lu Siauw Ong dan kakaknya Lu Sin, diam-diam menaruh dendam karena mereka hanya diberi kedudukan rendahan saja, padahal mereka telah berjuang mati- matian. Demikian pula Tan Beng Kui yang merasa iri hati dan tidak puas akhirnya dapat dibujuk oleh Lu Siauw Ong menjadi pembantunya, malah dikawinkan dengan puteri pangeran muda ini.

Karena kekuasaan Kaisar Thai Cu atau Ciu Goan Ciang itu makin lama makin besar dan kedudukannya makin kuat, maka Ho-hai Sam-ong mempunyai rencana untuk bersekutu dengan Lu Siauw Ong dan mereka akan mengadakan pergerakan dari luar dan dalam. Dari dalam, secara diam-diam Lu Siauw Ong akan bergerak sedangkan dari luar, Ho-hai Sam-ong akan mengumpuikan tenaga dan akan menggempur dari luar. Untuk keperluan ini, secara kebetulan mereka bertemu dengan Cia Li Cu yang mereka pergunakan untuk setengah memaksa Tan Beng Kui memenuhi undangan mereka. Mereka ini tahu belaka bahwa tangan kanan Lu Siauw Ong adalah Tang Beng Kui, mantu Pangeran itu sendiri, maka sengaja mereka hendak membujuk murid Bu-tek Kiam-ong ini.

"Banyak pembesar yang masih bertugas. di utara dapat kita tarik di pihak kita, demikian antara lain Ho-hai Sam ong yang diwakili oieh Lu Cai terkata. "Kita akan mencari kesempatan selagi Keluar Thai Cu berkunjung ke utara, kita menyergapnya dan kalian yang bekerja di kota raja harus pula mempergunakan kesempatan ini untuk bergerak di kota raja selagi kaisar tidak ada."

Tan Beng Kui dan dua orng temannya menyatakan persetujuannya. Setelah perudingan berakhir, Kiang Hun berkata, "Tentang sumoimu itu, Tan-ciangkun, bagaimana baiknya?

Dia adalah puteri Bu-tek Kiam-ong dan seperti kita tahu gurumu itu tidak bisa diajak berunding dalam urusan ini. Sudah pasti kita akan ditentangnya dan kalau rahasia persekutuan kita ini bocor...,"

"Hemm, amat berbahaya bagi kami yang bertugas di kota raja." kata Lu Khek Jin sambil melirik ke arah Li Cu dengan kening dikerutkan. "Dia itu tidak boleh dibebaskan, sama sekali tidak boleh sebelum selesai rencana kita."

"Kiranya tidak enak terhadap Tan-ciangkun kalau kami terus menahannya," kata Lui Cai sambil mengerling ke arah Beng Kui.

Kim-thouw Thian-li tersenyum manis dan mengerling tajam sambil berkata, "Tadinya nona itu selain sumoi juga tunangan Tan-ciangkun. Sekarang Tan-ciangkun sudah meninggalkannya dan menikah dengan gadis lain. Sudah tentu ia sakit hati dan hendak menuntut pembalasan. Hemm, gadis ini memang berbahaya sekali."

"Habiskan saja dia, beres tidak perlu pusing-pusing lagi kita," kata Hek-hwa Kui-bo. "Tidak bisa!" Beng Kui membantah. "Betapa pun dia adalah sumoiku .... "

"Habis bagaimana?" Lu Khek Jin, paman isterinya bertanya sambil memandang tajam. "Bebaskan dia dan membiarkan dia mencelakai kita dengan membocorkan rahasia ini?"

"Bukan begitu maksudku... eh, dia itu sumoiku... bagaimana aku bisa melihat dia dicelakai orang? Aku... eh, maksudku, bagaimana kalau Ho-hai Sam-ong sementara Ini menahan dia tapi memperlakukan dengan baik-baik? Soal penahanan dia itu pun harus dirahasiakan, kalau sampai ayahnya tahu... bisa repot juga. Apabila gerakan kita sudah berhasil, dia harus segera dibebaskan."

"Kita menghadapi urusan negara, mengapa sibuk dengan urusan pribadi?" tiba-tiba Koai- sin-kiam Oh Tojin berkata dengan suaranya yang halus. "Nona ini adalah sumoimu, Tan- ciangkun. Apakah tidak bisa kaubujuk supaya dia membantu gerakan kita, atau setidaknya jangan mencampuri dan jangan membocorkannya? Dia keturunan orang gagah, kalau sudah mau bersumpah tidak akan membocorkan, pinto (aku) bisa percaya. Bukannya aku jerih terhadap ayahnya... hemm," ia meraba gagang pedang di punggungnya, "Malah sudah lama pinto ingin menjajal kepandaian Si Raja Pedang."

Melihat ada orang membantu sumoinya, dengan girang Beng Kui lalu berdiri sambil berkata, "Baik kucoba bicara dengan dia... Ho-hai Sam-ong, perkenankan aku bicara dengan sumoiku sekarang."

" kata Lui Cai dan Thio Ek Sui segera berdiri dan pergi mematikan pesawat-pesawatnya agar perangkap itu tidak bekerja. Dengan aman kini Beng Kui menghampiri Li Cu yang masih duduk dengan mata berapi-api memandang kepadanya. Gemetar kedua kaki Beng Kui ketika pandang matanya bertemu dengan sinar mata yang berapi-api Itu. Dengan membesarkan hati sendiri ia lalu melangkah maju dan menotok dua kali, Li Cu mengeluh perlahan, aliran darah di tubuhnya normal kembali. "Boleh, boleh ....

"Sumoi, harap kaumaafkan dan jangan kecil hati dengan adanya kejadian ini atas dirimu. Kau tahu, aku pun merasa menyesal sekali dan kelak apabila segala berjalan beres, aku akan minta maaf sekali lagi kepadamu dan mohon ampun kepada Suhu. Sekarang, kuharap kau suka bersumpah bahwa yang kaulihat dan dengar pada saat ini takkan kaubocorkan kepada siapapun juga meskipun kepada ayahmu sendiri. Dan .... "

!" Li Cu membentak dengan mata berapi-api sinarnya, akan tetapi dua butir air mata menuruni pipinya yang pucat. "Pengkhianat kau"Cukup ....

....! Aku bukan sumoimu lagi, aku tidak sudi berjanji apa-apa, tidak sudi bersumpah, kau mau bunuh aku boleh bunuh sekarang juga."

Beng Kui berubah air mukanya dan mundur dua langkah. Ia mendengar suara ketawa kecil, yaitu Kim-thouw Thian-li, yang agaknya sengaja mentertawakannya. Dengan tubuh lemas ia kembali ke meja perundingan tadi dan berkata,

"Ho-hai Sam-ong, sumoiku keras wataknya. Tidak ada jalan lain lagi agaknya kecuali kalian harus menahannya di sini dan memperlakukannya baik-baik sampai selesai pekerjaan kita bersama."

"Sukar untuk memenuhi permintaanmu ini Ciangkun," kata Lui Cai. "Kau sendiri tentu mengerti bahwa anak buah kami beribu orang banyaknya, terdiri dari laki-laki yang kasar, Sumoimu begitu muda dan cantik jelita . bagaimana kami dapat berjanji bahwa dia tidak akan menderita apa-apa di sini?"

Kim-thouw Thian-li menambah panas suasana.. "Baru pemimpinnya saja yang satu ini sudah memandang mengilar, apalagi anak buahnya. Hi-hi-hik!" berkata demikian wanita ini melirik kepada Kiang Hun Si Naga Sungai yang juga tersenyum-senyum jenaka. Merah telinga Beng Kui. "Kalau begitu, biarlah dia kubawa, untuk sementara menjadi tawananku."

Kim-thouw Thian-li tertawa lagi dan berkata, "Tan-ciangkun mengapa malu-malu? Memang dia sumoimu sendiri, juga bekas kekasihmu, kalau tidak kau yang menahannya, siapa lagi? Kalau dari tadi kau berkata demikian kan sudah beres, tidak usah susah- susah .... " Semua orang tertawa dan wajah Beng Kui makin merah.

Akan tetapi paman isterinya, Lu Khek Jin, mengerutkan kening. "Beng Kui, jangan kau main-main. Urusan pribadi hendaknya jangan dicampur adukkan dengan urusan negara."

Sementara itu, Beng San yang sejak tadi mendengarkan ini semua, menjadi pucat dan kehilangan mukanya. Ia merasa kecewa dan malu bukan main menyaksikan sikap kakak kandungnya. Dahulu ia memuja-muja kakak kandungnya itu sebagai seorang gagah perkasa, seorang pemuda tampan dan gagah yang berjiwa patriot, sudah berjasa besar bagi bangsa dan tanah air. Ia malah menganggap dirinya sendiri batu kali yang kasar kalau dibandingkan dengan kakaknya yang cemerlang seperti kumala tergosok. Tapi apa yang ia hadapi sekarang? Kakaknya menjadi pengkhianat. Bukan itu saja, malah kakak

kandungnya yang ia kagumi dan puja-puja itu ternyata telah tidak setia, telah memutuskan hubungan jodoh dengan Cia Li Cu. Telah menikah dengan puteri raja muda dah sekarang bersekongkol dengan orang-orang jahat untuk memberontak. Dan Li Cu. Ah, ia makin kagum kepada gadis jelita ini. Begitu gagah, begitu berani, juga begitu... buruk nasibnya.

"Aku harus menolongnya," demikian Beng San mengambil keputusan. Tak boleh dia ditahan oleh para bajak ini, juga tidak akan baik nasibnya kalau ia dijadikan tawanan suhengnya sendiri yang sudah tersesat itu. Kakak kandungnya tersesat? Pikiran ini mendatangkan kilatan halilintar dalam otaknya. Kakak kandungnya tersesat dan dia juga demikian. Dua orang kakak beradik, keduanya bukan manusia baik-baik. Ah, Ayah... Ibu... kenapa jadi begini kedua orang anakmu? Perih hati Beng San dan tak terasa lagi ia berlutut di atas genteng itu dan menangis. Menangis keras tanpa menahan suaranya.

Karuan saja semua orang di dalam ruangan itu melengak kaget dan heran. Malah Kiang Bi Hwa, yang tadinya kadang-kadang duduk berkipas badan kadang kadang berdlrl dan melihat-lihat keluar, segera bangkit dari tempat duduknya dan bertanya kaget.

"Eh, siapa yang menangis begitu sedihnya? Manusia atau setan?" Ucapan ini agaknya terlepas dari mulutnya tanpa disadarinya sehingga begitu mendengar suaranya sendiri, gadis tanggung ini dengan malu-malu lalu mempergunakan kipasnya yang indah untuk menutupi mukanya.

Agaknya suara gadis tanggung yang memecah kesunyian ini juga menyadarkan Beng San. Suara tangisan berhenti dan sesosok tubuh melayang turun ke dalam ruangan itu. Seorang pemuda dengan pakaian tidak karuan, rambutnya awut-awutan, kulit mukanya merah kehitaman dan pada muka yang mengerikan itu ada bekas-bekas air mata. Tapi sepasang matanya mencorong seperti mata harimau di dalam gelap.

Kebetulan sekali bahwa tadi Li Cu telah dibebaskan dari totokan oleh Beng Kui, maka

kini biarpun terbelenggu, dengan pengerahan tenaganya gadis ini dapat menggerakkan kursinya sehingga memutar dan ia dapat melihat apa yang terjadi di ruangan itu. Kaget, heran, kasihan dan terharu ketika ia melihat Beng San dalam keadaan seperti itu. Orang muda ini benar-benar seperti seorang yang telantar hidapnya, miskin dan rusak, jauh bedahya dengan Beng Kui yang ganteng dan gagah pakaiannya. Akan tetapi semenjak sikap bekas tunangannya itu, hanya kebencian dan kekecewaan yang ada pada hatinya terhadap Beng Kui dan ia merasa kasihan kepada Beng San. Ia tadi mendengar pula suara tangisan yang amat menyedihkan, suara tangisan dari hati yang hancur, biarpun hanya sebentar namun tangisan itu menyuarakan keluhan hati yang remuk-redam, seperti hatinya sendiri.

"Ho-hai Sam-ong, aku datang memenuhi janji. Lekas kalian bebaskan Nona Cia Li Cu." Suaranya parau, masih terkandung isak di dalamnya, suara yang sama sekali tidak berpengaruh dan tidak menakutkan, namun sinar matanya benar-benar membuat tiga orang raja bajak itu berpikir panjang dulu sebelum memandang rendah. Orang dengan

mata seperti itu tak mungkin lemah dan sudah pasti akan membuktikan semua omongannya.

Namun Lui Cai tidak mau memperlihatkan kegentaran didepan para tamunya. Betapapun juga orang yang dikabarkan lihai luar biasa itu ternyata hanyalah seorang muda sekali dan seorang yang keadaannya setengah jembel, bahkan sikapnya dan warna mukanya menandakan bahwa mungkin juga ia setengah gila.

"Orang muda, bukankah kau yang bernama Tan Beng San? Ha-ha-ha, kiranya begini saja. Dan kau adalah adik kandung Tan Beng Kui-ciangkun? Alangkah anehnya dunia ini. Ha- ha-ha!"

Ucapan ini sekaligus menyinggung perasaan Beng Kui, maka orang muda ini dengan marah lalu melompat maju menghadapi adik kandungnya. Telunjuknya ditudingkan dan suaranya gemas menegur,

"Beng San! Lagi-lagi kau hanya memalukan aku. Orang gila, setelah kau melakukan perbuatan yang tidak patut tempo hari, masihkah kau ada muka untuk muncul lagi di sini? Jangan mencampuri urusan sumoiku, hayo kau pergi kalau tidak ingin mendengar aku bicara terus."

Wajah yang tadinya hitam itu tiba-tiba berubah menjadi putih lalu hijau, kemudian hitam kembali, sementara matanya tidak pernah lepas memandang orang yang bicara di depannya. Beng Kui sampai merasa ngeri dan meremang bulu tengkuknya dipandang sedemikian rupa oleh Beng San. Beng San cukup mengerti bahwa kakak kandungnya itu memaksudkan perbuatannya dengan Kwa Hong tempo hari di markas tentara Mongol.

Tentu saja karena luka di hatinya oleh pengakuan Kwa Hong yang telah mengandung itu masih parah, ucapan ini seperti cuka disiramkan pada luka, perih sakit rasanya. Saking perihnya membuat Beng San tidak peduli lagi.

"Tan Beng Kui, kau boleh bicara sesuka hatimu. Kau boleh mengingkari sumoi sendiri

dan tidak menolongnya. Tapi aku tetap akan menolong seorang yang terjatuh ke dalam tangan orang-orang jahat. Nona Cia Li Cu adalah seorang gagah, kalau aku tidak melihat dia, sedikitnya aku mengingat akan ayahnya. Mundurlah, aku tidak berurusan dengan engkau."

"Bangsat keparat! Beng San, kaukira aku tidak tahu apa maksudmu menolong Li Cu? Kau penjahat pemetik bunga, engkau mata keranjang, pelanggar susila, perusak wanita. Kau sudah menodai Nona Kwa Hong, lalu kautinggalkan begitu saja untuk menikah dengan puteri Song-bun-kwi. Dan sekarang agaknya engkau sudah bosan dengan isterimu itu dan hendak mengganggu Li Cu dengan dalih menolongnya. Hemm .... , keparat

besar ..... "

Beng San mengeluarkan suara gerengan sedemikian hebatnya sehingga bangunan di ruangan itu seakan-akan bergoyang. Matanya mendelik berapi-api sehingga saking kaget dan gentarnya Beng Kui sampai melangkah mundur tiga tindak.

Sekali lagi Beng San menggereng dan muka yang sudah hitam hangus saking marah hatinya itu kini perlahan-lahan menjadi agak putih. Ternyata ia sudah berhasil mengekang kemarahannya dan tidak menjatuhkan tangan maut kepada kakak kandungnya sendiri. la menoleh ke arah Lui Cai dan membentak,

"Ho-hai Sam-ong, di mana kalian? Hayo jawab, maukah kalian membebaskan Nona Cia

Li Cu? Kalau tidak mau, mari kita mengadu kepandaian. Kalau aku kalah biarlah aku mampus di sini, akan tetapi kalau kalian kalah, kalian harus membebaskan dia. Ataukah kalian takut? Kalau kalian takut, boleh minta bantuan Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li atau siapapun juga."

Tiga orang bajak laut itu memang sudah siap sedia. Lui Cai Si Bajul Besi sudah mengeluarkan senjatanya berupa dayung besar yang berat itu. Kiang Hun Si Naga Sungai sudah mengeluarkan senjatanya yang hebat, yaitu tambang besar dan panjang, sedangkan Thio Ek Sui juga sudah mengeluarkan ruyungnya yang runcing berduri. Tapi mereka tidak menyerang dan Lui Cai yang melihat Beng San datang tanpa membekal senjata apa- apa itu berkata, rasa kasihan sekali kepada Beng San, akan tetapi ketika ia mendengar ucapan Beng Kui tentang perbuatan Beng San itu, ia kaget bukan main. Benarkah Beng San seorang yang demikian rendah martabatnya? Makin dipandang makin mengerikan muka pemuda yang menghitam itu, dan matanya lebih-lebih mengerikan dan menyeramkan lagi. Kalau tidak betul apa yang diucapkan oleh Beng Kui, mengapa Beng San tidak membantah? Karena kebimbangan inilah maka niatnya untuk memperingatkan Beng San tentang perangkap di sekitar itu ia urungkan. Ia hanya memandang dengan matanya yang indah bening itu terbelalak lebar ketika Beng San dengan langkah sembrono menghampiri kursinya untuk membebaskannya daripada belenggu.

Tiba-tiba, seperti tadi, terdengar suara keras berderit, lantai berlubang dan belasan batang anak panah menyambar ke arah Beng San, sedangkan kursi yang diduduki Li Cu bergerak sendiri ke pinggir. Beng San memang sudah siap sedia menghadapi ini. Andaikata tadi ia tidak melihat bekerjanya pesawat itu sekalipun, belum tentu ia akan mudah menjadi korban. Apalagi ia sudah tahu akan datangnya bahaya itu. Dengan kipas pinjamannya, ia menggerakkan tangan dan sekali mengibas, belasan batang anak panah itu runtuh dan menyambar kembali ke dalam lubang di lantai. Terdengar pekik kesakitan di bawah lantai yang segera tertutup kembali. Kiranya anak-anak panah yang di "retour" kembali itu tepat mengenai orang yang menjaga bekerjanya pesawat di bawah lantai. Ketika Beng San menoleh ke arah Li Cu, ternyata kursi yang diduduki nona ini sudah berpindah lagi sampai di belakang tiga orang kepala bajak itu yang ternyata sudah menghadang didepannya. Malah pedang Liong-cu-kiam yang tadi menggeletak di dekat Li Cu juga sudah lenyap dan ternyata telah dipegang oleh Beng Kui.

Beng San menghadapi para lawannya dengan sikap tenang, bibirnya mengejek dan pandang matanya yang bersinar-sinar itu penuh teguran.

"Nona Cia sudah berada di sini, tinggal membebaskan saja. Kalau kau mau membebaskan, silakan, boleh kaulakukan sendiri." Lui Cai tersenyum mengejek.

Beng San maklum bahwa tuan rumah hendak menjebaknya dengan perangkap seperti yang ia lihat hampir mencelakai Beng Kui tadi, akan tetapi ia tidak gentar dan dengan langkah tetap ia menghampiri Li Cu. Pada saat itu, Kiang Bi Hwa puteri Kiang Hun berjalan menghampiri Beng San dan bertanya dengan suaranya yang masih seperti suara anak kecil.

"Kaukah tadi yang menangis? Mengapa kau menangis begitu sedih?"

Beng San terkejut dan heran, lalu ia memaksa diri tersenyum namun senyumnya ini malah mendatangkan tarikan muka yang amat menyedihkan.

"Nona cilik, agaknya kau masih belum kehilangan perikemanusiaan seperti keadaan orang-orang di sekelilingmu. Nona, bolehkah kau memberi pinjam kipasmu Ini sebentar kepadaku?" Sambll berkata demikian Beng San menggerakkan tangan dan dengan halus sekali tahu-tahu kipas itu sudah berpindah tangan. Kiang Bi Hwa kaget tapi ia tersenyum dan berkata,

"Boleh, boleh, kauambillah kipas itu."

"Bi Hwa, mundur kaul" Ayahnya, Kiang Hun, membentak.

" Setelah berkata demikian, setengah berlari Kiang Bi Hwa mengundurkan diri. Sikap gadis ini berkesan dalam di hati Beng San dan ia mencatat di hatinya bahwa gadis ini adalah puteri Kiang Hun yang agaknya amat berbakti dan menyayang orang tuanya. "Baik, Ayah. Tapi, jangan membunuh dia, ya? Kasihan sekali orang ini ....

Kemudian ia melanjutkan langkahnya menghampiri tempat Li Cu dengan kipas indah itu di tangan. Li Cu memandang dengan mata terbelalak. Tadinya ia me"Eh, Ho-hai Sam- ong yang masyhur nama besarnya itu kiranya hanya penjahat-penjahat kecil yang curang. Hayo kalian bebaskan Nona Cia dan kembalikan pedangnya, baru aku suka memandang muka nona cilik yang baik hati itu untuk menghabiskan urusan ini sampai di sini saja. Sebaliknya kalau kalian berkeras, jangan kata bahwa aku orang muda tidak menghormati orang-orang tua yang menjadi tuan rumah.

Kiang Hun tak dapat menahan kemarahannya lagi. Tambang yang panjang dan besar dtangannya itu digerakkan dan seperti seekor ular, tambang itu menyambar ke arah tubuh Beng San. Pemuda ini dengan tenangnya melompat ke atas sehingga tambang itu lewat di bawah kakinya. Tapi tambang itu terayun terus datang kembali menyapu dan demikianlah berulang-ulang tambang itu terayun-ayun berputaran di sekeliling tubuh Beng San. Pemuda ini masih enak saja berloncatan sehingga kelihatan indah dan lucu, seperti anak bermain "loncat tali" (uding), Kalau tambang itu terlalu tinggi lewatnya, ia tidak meloncat melainkan merendahkan diri sehingga tambang itu lewat di atas kepala, akan

tetapi kalau menyambar agak rendah, ia meloncat dengan tenang dan enak. Benar-benar seperti anak main-main.

Melihat adiknya sudah turun tangan, Lui Cai lalu berseru keras dan dayung bajanya juga menyambar-nyambar, diikuti oleh Thio Ek Sui yang tidak mau ketinggalan dan menggerakkan ruyungnya yang dahsyat. Kini sekaligus Beng San menghadapi Ho-hai Sam-ong, dikeroyok tiga.

Cia Li Cu tadi sudah merasai kelihaian tiga orang kepala bajak ini, maka sekarang melihat Beng San yang bertangan kosong, hanya memegang kipas itu dlkeroyok tiga, diam-diam ia merasa ngeri juga. Namun Beng san tetap enak saja, malah menyindir,

"Waduh, Ho-hai Sam-ong hebat benar. Senjatanya dahsyat dan sekaligus maju mengeroyok bertiga."

Panas juga hati Lui Cai mendengar ini. Ho-hai Sam-ong terkenal sebagai tokoh-tokoh besar di dunia selatan, malah kalau dibandingkan dengan nama besar Hek-hwa Kui-bo, kiranya tidak kalah terkenal. Bagaimana boleh dipandang ringan begitu saja oleh seorang pemuda yang masih hijau?

"Keparat sombong! Kalau memang berkepandaian, keluarkan senjatamu dan cobalah kaulawan kami." bentaknya.

Inilah maksud Beng San. Membakar-bakar agar hati lawannya panas. Ia menambahkan, "Senjata? Untuk melawan kalian mengapa ribut mencari senjata? Nona cilik yang baik hati sudah meminjamkan senjata untukku." Ia mengangkat kipas itu tinggi sambil meloncat dan menghindarkan diri dari sabetan tambang dan sambaran ruyung.

Tentu saja makin panas perut tiga orang itu. Mereka hendak dilawan dengan senjata sebuah kipas permainan belaka? Benar-benar keterlaluan bocah ini.

"Sombong kau! Jie-sute dan Sam-sute, kita bunuh tikus sombong ini." bentak Lui Cai. Dua orang adiknya juga sudah marah, terutama sekali Kiang Hun karena senjata tambangnya yang hebat dan setiap kali bergerak biasanya tentu mengalahkan lawan itu sekarang hanya dianggap sebagai tali permainan loncat-loncatan saja oleh pemuda itu.

"Mampus kau, keparat!" Thio Ek Si Cucut Mata Merah membentak, ruyungnya menyambar hebat sekali dan sekaligus melakukan empat kali serangan ke arah empat jalan darah yang membinasakan di tubuh Beng San.

"Tak-tak-tak-tak!" Dan empat kali ruyungnya ditangkis oleh kipas. Terbelalak mata yang sipit merah itu. Bagaimana mungkin ini? Ruyungnya yang sedikitnya ada lima puluh kati beratnya, ditangkis dengan kipas? Biarpun gagangnya dari gading, kipas tetap kipas alat permainan yang kecil saja. Tapi benar-benar ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri, kipas itu sama sekali tidak robek dan patah, malah tangan kanannya terasa sakit-sakit tulangnya seakan-akan ia tadi telah menghantam benda baja dengan ruyungnya.

Pertempuran itu hebat bukan main. Tiga orang kepala bajak itu benar-benar memiliki kepandaian tinggi dan hal ini harus diakui oleh Beng San. Pantas saja Li Cu tidak berdaya menghadapi tiga orang ini. Ternyata masing-masing memiliki kepandaian istimewa dan amat tinggi. Baiknya di dalam dirinya terdapat dua aliran tenaga Im dan Yang, dan tenaga-tenaga ini sudah mendarah daging di tubuhnya maka ia dapat menghadapi tenaga lawan yang bagaimanapun juga. Mengenai tenaga, boleh dibilang ia berada di tingkat yang jauh lebih tinggi daripada tiga orang lawannya. Tapi ilmu serangan tiga orang itu benar-benar dahsyat sekali sehingga hanya dengan ilmu silatnya Im-yang-sin-kun saja ia mampu melindungi dirinya. Dan kipas kecil itu ternyata banyak sekali kegunaannya, karena kadang-kadang untuk membalas lawannya, ia dapat mempergunakannya sebagai senjata pedang dengan gerakan Ilmu Silat Im-yang Sin-kiam-sut yang belum ada bandingnya di kolong langit ini.

Tiga orang itu mengeroyok dengan gerakan cepat dan tenaga dahsyat sehingga ruangan

itu penuh dengan suara bersiutan dan angin pukulan menyambar ganas. Tubuh tiga orang itu sampai lenyap terbungkus gulungan senjata masing-masing. Akan tetapi anehnya, tubuh Beng San masih kelihatan, malah gerakannya kelihatan amat lambat dan seenaknya. Dilihat oleh mata bukan ahli silat, pemuda ini seperti sedang bertari kipas dihias gulungan sinar yang tiga macam di sekeliling tubuhnya.

Cia Li Cu yang menonton pertandingan itu sampai terbelalak dan ternganga saking heran dan kagumnya. Ia memang pernah menyaksikan kelihaian Beng San, akan tetapi baru sekarang ia betul-betul tunduk dan harus mengakui bahwa apa yang dikatakan ayahnya dahulu itu betul adanya, yaitu bahwa pemuda ini benar-benar hebat dan dalam hal kepandaian masih melebihi ayahnya sendiri. Juga dua orang teman Beng Kui, Koai-sin- kiam Oh Tojin dan Lu Khek Jin, memandang dengan penuh kekaguman dan gatal-gatal tangan mereka hendak menguji kepandaian sendiri dengan pemuda yang lihai itu.

Hek-kwa Kui-bo dan muridnya yang sudah merasai kelihaian Beng San, duduk saja tidak berani turun tangan, hanya mengharapkan supaya pemuda itu roboh di tangan Ho-hai Sam-ong. Di lain pihak, Beng Kui memandang dengan mata tajam. Ia mendongkol bukan main terhadap Beng San yang dianggapnya selalu merintangi perjuangannya dan merusak suasana. Yang paling lucu sikapnya adalah Kiang Bi Hwa, puteri dari Kiang Hun. Gadis cilik ini semenjak kecil memang tidak boleh belajar silat oleh ayahnya, maka sekarang menyaksikan pertempuran itu ia bertepuk-tepuk tangan gembira.

"Bagus benar .... ! Lucu dan bagus tarianmu itu, kakak yang baik. Kau harus ajarkan aku

tari kipas itu."'

Mau tidak mau Beng San tersenyum mendengar ini. Dikeroyok sedemikian hebatnya ia masih sempat. tersenyum-senyum, malah menoleh ke arah Kiang Bi Hwa sambil berkata,

"Nona cilik, kau benar-benar seperti bunga teratai di antara lumpur kotor." Memang Beng San kagum bukan main. Nona itu begitu polos, begitu jujur dan bersih seperti bunga teratai, namun terpaksa hidup di antara orang-orang jahat seperti lumpur itu.

Pertempuran berjalan makin lama makin seru dan akhirnya setelah lewat seratus jurus lebih, saking sering bertemu dengan tenaga Beng San yang dahsyat, makin lama tiga orang itu makin lelah. Permainan mereka makin kendor sehingga kini mulailah mereka kelihatan bayangannya dan pada muka masing-masing telah penuh dengan keringat. Di lain pihak, Beng San masih enak-enak dan tenang-tenang saja mainkan kipasnya menangkis sambil meloncat ke sana ke mari dan kadang-kadang membuat lawan repot dengan serangan-serangan balasannya dengan jurus Im-yang Sin-kiam-sut. Kalau dia sudah menyerang begini, ujung gagang kipas dari gading itu bisa tahu-tahu sudah berada di depan tenggorokan, mata, pusar, ulu hati atau lambung seorang lawan yang tentu saja setelah berhasil menyelamatkan diri mengeluarkan keringat dingin saking ngerinya. Serangan pemuda itu tidak dapat diketahui lebih dulu, benar-benar berbahaya sekali.

"Kupikir, kalau tidak sekarang kita memperlihatkan setia kawan kepada mereka, tunggu kapan lagi? Urusan dengan orang gila itu hanyalah urusan pribadi, sedangkan hubungan kita dengan mereka adalah urusan negara. Mana lebih penting? Bagaimanakah pendapat Ji-wi?"

Koai-sin-kiam Oh Tojin dan Lu Khek Jin memang sudah "gatal tangan" sejak tadi melihat kehebatan Beng San mempermainkan tiga orang pengeroyoknya itu. Akan tetapi mereka masih ragu-ragu untuk membantu karena bukankah pemuda lihai itu adik kandung Beng Kui sendiri? Sekarang Beng Kui telah mengeluarkan pernyataan demikian, lenyaplah keraguan mereka. Bayangan yang gesit berkelebat didahului sinar terang, inilah gerakan Koai-sin-kiam Oh Tojin dengan memutar pedang yang entah kapan telah dicabutnyau Lu Khek Jin dengan tenang juga mencabut pedang dan menghampiri pertempuran.

"Orang muda, kau sombong sekali mengacaukan tempat tinggal Ho-hai Sam-ong. Terimalah serangan Koai-sin-kiam." bentak Oh Tojin dan sekaligus pedangnya telah melakukan lima kali serangan bertubi-tubi dengan gerakan yang aneh. Tapi dengan heran dan penasaran sekali Oh Tojin hanya menusuk angin belaka, seolah-olah Beng San sudah tahu lebih dahulu akan perubahan-perubahan dari jurus-jurus yang dimainkannya. Sebaliknya Lu Khek Jin seorang bekas jenderal perang, mainkan pedangnya dengan gerakan-gerakan mematikan dan bertenaga, disertai bentakan-bentakan. Diam-diam Beng San kagum akan sifat ilmu pedang yang dimainkan oleh Lu Khek Jin, karena biarpun tidak sangat tinggi, tapi gerakan-gerakannya jujur tanpa berisi gerak tipu, melainkan secara langsung menyerang mengandalkan tenaga dan kecepatan. Gerakan orang seperti ini berbahaya, maka cepat ia mengelak dengan penggeseran kaki yang sekaligus merubah kedudukannya. Dalam detik-detik selanjutnya Beng San sudah dikeroyok lima orang.

Sungguh pun tingkat ilmu silat dua orang pengeroyok baru ini tidak berada di atas Ho-hai Sam-ong, namun mereka ini sudah merupakan tambahan tenaga yang lumayan. Betapapun juga, benar-benar Beng San kali ini memperlihatkan dirinya yang sesungguhnya dan sekaligus memperlihatkan bahwa ilmu Silat Im-yang Sin-kiam-sut yang menjadi ciptaan mendiang Pendekar Sakti Bu Pun Su benar-benar adalah ilmu yang luar biasa di dunia ini. Ilmu silat ini mendasarkan gerakan-gerakannya kepada dua puluh

tujuh puw (gerak kaki) yang diiihami oleh kedudukan ji-cit-seng (dua puluh tujuh bintang), luar biasa banyaknya dan setelah memiliki ilmu silat ini, dengan mudah orang akan menghadapi serangan lawan yang bagaimana lihai pun, karena mengandalkan pergerakan langkah kaki tentu akan dapat menyelamatkan diri.

Selain memiliki ilmu yang amat tinggi, juga Beng San adalah seorang yang pada dasarnya memang cerdik luar biasa dan sekali melihat saja ia sudah dapat mencatat apa yang dilihatnya di dalam otak. Biarpun ilmu silat pedang yang dimainkan oleh Koai-sin- kiam Oh Tojin adalah ilmu pedang selatan yang tak dikenalnya, apalagi ilmu pedang yang dimainkan Lu Khek Jin juga ilmu pedang peperangan yang asing baginya, namun sekali melihat ia sudah dapat menangkap intisari pergerakannya sehingga selanjutnya, biarpun dikeroyok lima, Beng San masih sempat membalas dengan serangan-serangan yang luar biasa menggunakan kipasnya.

Setelah mendapat kesempatan baik, ia . mendesak Ho-hai Sam-ong yang sudah berkunang-kunang pandangan matanya itu dan secepat kilat kipasnya mengebut disusul menotok dengan ujung gagang gading itu dua kali. Sekali tepat mengenai tulang lengan kanan Lui Cai Si Bajul Besi sehingga orang tertua dari Ho-hai Sam-ong ini memekik kesakitan, dayungnya terlepas dari pegangan lalu sambil menyumpah-nyumpah karena kesakitan ia terputar-putar menggunakan tangan kiri menggosok-gosok tempat yang tadi tertotok gagang kipas. Sakitnya bukan kepalang, kiut-miut rasanya seperti ribuan jarum menusuk-nusuk tulangnya. Gerakan Beng San yang ke dua tepat menyerempet ruyung Thio Ek Sui Si Cucut Mata Merah, lalu melejit dan menotok tulang kering di kaki kiri Si Cucut ini.

!" Thio Ek Sui adalah scorang yang sudah biasa bertempur dan terluka baginya bukan apa-apa. Akan tetapi rasa nyeri yang sekarang menyerangnya membuat ia berkaok-kaok kesakitan, berjingkrak-jingkrak seperti monyet belajar menari sambil memegangi kaki kirinya yang diangkat ke atas. "Aduh... aduh... kakiku ....

Pada saat itu, tambang di tangan Kiang Hun meluncur dan tahu-tahu sudah melibat tubuh Beng San. Terdengar jerit tertahan. Yang menjerit ini adalah Li Cu karena merasa ngeri melihat betapa pemuda yang hendak menolongnya itu akhirnya tertawan oleh tambang yang lihai dari Kiang Hun Si Naga Sungai Seperti juga yang telah ia alami ketika ia dikeroyok Ho-hai Sam-ong ini. Kiang Hun nampak girang, mengedut tambang nya dengan maksud mempererat libatan. Tapi mendadak Beng San mengeluarkan suara aneh dan... makin ditarik tambang itu makin terlepas dan akhirnya terlihat oleh pemiliknya bahwa tambang itu sudah terputus-putus menjadi beberapa potong. Agaknya karena mengingat akan kebaikan gadis yang mukanya sama dengan Kiang Hun ini maka Beng San mengampuni Kiang Hun dan tidak melukainya. Ia dapat menduga bahwa antara gadis cilik pemilik kipas itu dengan Kiang Hun pasti ada hubungan keluarga.

Comments

Popular posts from this blog

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…