Skip to main content

Rajawali Emas 2 - Kho Ping Hoo

Wajah Koai Atong sampai menjadi pucat mendengar ini, mulutnya ternganga dan matanya terbelalak. Kiranya dia akan terus begini kalau saja tidak kebetulan sekali ada lalat terbang memasuki mulutnya, membuat ia mencak-mencak dan rnau muntah.

"Kau mau menolak lagi? Mau membantah lagi?" Kwa Hong benar-benar jengkel kali ini. Koai Atong ketakutan dan cepat ia menjatuhkan diri duduk lagi setelah dengan terpaksa menelan lalat yang nekat itu.

"Tidak, Enci Hong. Aku tidak membantah. Baiklah, anak itu anakku... eh, mana anak itu? Apa engkau mau melahirkan anak, Enci Hong?"

Sekarang Kwa Hong tersenyum, tersenyum sedih. Orang seperti Koai Atong ini bodohnya jauh lebih baik dan murni hatinya daripada orang-orang yang tampan dan pandai. "Koai Atong, beberapa bulan lagi aku akan melahirkan anak dan ingat baik-baik, anak itu harus kauanggap, anakmu sendiri. Aku isterimu dan anak itu anakmu, mengerti?"

"Baik... baik... aku mengerti."

"Andaikata gurumu sendiri datang dan marah, kau harus tetap mengakui aku isterimu dan anak itu anakmu, kau harus berani melawannya."

"Tapi .... "

"Apa tapi lagi? Ah, Koai Atong, jangan kaubikin aku kehabisan sabar dengan membantah."

"Tidak membantah... tidak membantah, Enci Hong yang baik. Tapi Suhu lihai sekali... mana aku kuat melawannya? Kau dan aku akan tewas semua kalau melawannya."

"Takut apa? Kepandaianmu tinggi, dan sedikit-sedikit aku pun berkepandaian. Kita bisa melatih diri memperdalam ilmu, kalau kelak ada yang datang mengganggu, dengan kepandaian kita, masa kita harus takut?"

Akan tetapi Koai Atong ragu-ragu, menggeleng-geleng kepala. Biarpun dalam persoalan umum ia bodoh dan seperti anak kecil, namun dalam perkara ilmu silat ia jauh di atas Kwa Hong tingkatnya dan tahu bahwa melawan suhunya merupakan hal yang mustahil sekali. Tiba-tiba ia teringat dan seperti orang gila ia meloncat dan menari-nari, lalu ia merangkul burung rajawali emas mendekam di belakang Kwa Hong, Burung itu kaget dan hendak menyerangnya, akan tetapi Kwa Hong membentak,

"Kim-tiauw, jangan serang dia!" Kemudian ia membentak Koai Atong. "Apa-apaan kau ini, kegirangan tidak karuan?"

"Ada jalan... ada jalan baik Enci Hong, Kim-tiauw-heng ini, kita bisa belajar ilmu silat dari dia. Wah, dia lihai sekali, kiranya suhuku sendiri takkan mampu melawannya."

"Kau gila! Mana ada burung lebih lihai ilmu silatnya dari gurumu? Sedangkan melawanmu saja ia sampai terluka sayap kirinya."

Koai Atong tertawa geli, "Memang ia agak bodoh, tapi lihai bukan main. Kalau aku tidak sengaja mengakalinya, membiarkannya diriku dihantam lalu membarengi menusuk sayapnya dengan anak panah, mana aku bisa melukainya? Seratus kali aku

menghantamnya, seratus kali luput dan setiap kali ia menyerangku, aku terguling-guling. Benar, gerakan-gerakannya adalah ilmu silat yang hebat, ilmu silat ajaib, ha-ha-ha!" Kemudian ia menghampiri burung itu dan berkata, "Enci Hong, kaulihat sendiri, ya? Aku akan menyerangnya dengan Jing-tok-ciang, ilmu pukulanku yang paling hebat. Tapi kalau dia nanti marah, kau harus menyabarkannya." Setelah berkata demikian ia memutar-mutar lengan kirinya dan siap menyerang burung itu. Burung itu pun cepat berdiri dan melirik ke arahnya dengan marah.

"Hati-hati Koai Atong. Pukulanmu itu hebat sekali, jangan kaubikin mati dia!" seru Kwa Hong yang sudah mengenal Jing-tok-ciang ini. Dia suka kepada burung yang bulunya seperti emas itu.

"Jangan kuatir, kau lihat saja." Tiba-tiba Koai Atong memukul, dan terus memukul secara bertubi-tubi sampai lima kali. Akan tetapi benar saja, dengan gerakan aneh sekali tapi mudah dan ajaib, burung itu melangkah ke sana ke mari dan... semua serangan itu tidak mengenai sasaran. Kemudian, entah bagaimana caranya tahu-tahu sayap kanannya bergerak dan... Koai Atong terdorong sampai terguling-guling. Burung itu mengejar dan dengan marahnya hendak mencengkeram. Koai Atong berteriak-teriak minta tolong.

"Kim-tiauw, jangan serang dia!" bentak Kwa Hong sambil meloncat maju. Aneh, burung itu benar-benar tunduk kepada Kwa Hong. la membatalkan niatnya dan kelihatan girang ketika Kwa Hong merangkul lehernya.

!" kata Kwa Hong yang sekarang percaya akan kelihaian burung itu. Koai Atong merayap bangun dan pada jidatnya bertambah sebuah benjolan sebesar telur. la menyumpah-nyumpah tapi segera tertawa melihat wajah Kwa Hong berseri gembira. "Hebat... kim-tiauw yang gagah. Kau benar-benar hebat ....

"Ha-ha, kau tidak menangis lagi, Enci Hong. Baik, bagus, aku senang melihat kau gembira sekarang. Jangan kuatir, kalau aku sudah mempelajari ilmu silat burung kim- tiauw ini, biar ada lima orang selihai Suhu, aku tidak takut!"

Kwa Hong masih tidak mengerti bagairnana harus mempelajari ilmu silat dari seekor burung, akan tetapi melihat kesungguhan Koai Atong, ia percaya, maka ia menjadi girang sekali. Diam-diam ia mengambil keputusan untuk mempelajari segala ilmu silat dari Koai Atong, kalau mungkin melalui Koai Atong mempelajari gerakan yang ajaib dari burung itu. Kalau dia sudah memiliki kepandaian tinggi, hemmm, akan tercapai maksudnya menghukum mereka yang membuat hidupnya merana.

Hoa-san-pai adalah partai persilatan yang besar dan sudah terkenal semenjak ratusan tahun. Sayang sekali partai besar ini menjelang berakhirnya pemerintahan Goan menjadi berantakan. Semenjak dahulu Hoa-san-pai menggembleng pendekar-pendekar budiman sehingga nama baiknya makin harum saja. Mungkin sudah kehendak Tuhan bahwasegala apa di dunia ini, sampai nama sekalipun, tidak akan kekal adanya. Adakalanya naik dan adakalanya turun, ada pasang surutnya.

Nasib yang menimpa Hoa-san-pai di bawah pimpinan Lian Bu Tojin memang amat menyedihkan. Karena kesalah pahaman disebabkan hal-hal yang amat berbelit-belit dalam masa perjuangan meruntuhkan Kerajaan Mongol dan mengusir penjajah itu dari tanah air, Ketua Hoa-san-pai ini kehilangan semua muridnya yang paling ia andalkan dan sayang. Empat orang muridnya yang dahulunya terkenal sebagai Hoa-san Sie-eng (Empat Pendekar Hoa-san) sekarang sudah tidak ada lagi. Yang pertama, Kwa Tin Siong, telah minggat entah ke mana setelah tangannya buntung oleh pedang gurunya, pergi bersama murid ke empat, Liem Sian Hwa. Dua yang lain, yaitu murid kedua dan ke tiga, telah tewas dalam permusuhan dengan Kun-lun-pai yang terjadi karena kesalahpahaman yang hebat.

Memang masih ada empat orang cucu muridnya, yaitu Kwa Hong yang entah ke mana perginya, kemudian yang didengar oleh kakek Ketua Hoa-san-pai itu bahwa Kwa Hong telah hidup bersama Koai Atong. Cucu murid yang lainnya adaiah Kui Lok yang sekarang menjaga Hoa-san-pai bersama Thio Bwee. Kakek ini sudah rnengambil keputusan untuk merangkapkan dua orang cucu muridnya ini yaitu Kui Lok dan Thio Bwee menjadi suami isteri. Cucu murid ke empat adalah Thio Ki kakak dari Thio Bwee yang sekarang sudah bekerja sebagai kepala perusahaan piauw-kiok (pengawal pengantar barang) di Sin-yang. Juga Thio Ki sudah ia jodohkan dengan murid Raja Pedang Cia Hui Gan, yaitu Nona Lee Giok yang patriotik.

Akan tetapi Lian Bu amat berduka kalau ia teringat akan muridnya yang terkasih, yaitu Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa. Ke manakah perginya dua orang itu? Pula, ia merasa sedih dan kecewa sekali kalau ia teringat akan Kwa Hong yang kabarnya tinggal di puncak Lu-Liang-san bersama Koai Atong. Kalau perbuatan Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa itu dapat dianggap merusak nama dan kehormatan Hoa-san-pai, maka yang merusak itu adalah dua orang murid Hoa-san-pai sendiri. Akan tetapi kalau sampai terdengar orang kang-ouw tentang Koai Atong dan Kwa Hong, bukankah itu berarti bahwa Koai Atong sengaja hendak menghina Hoa-san-pai dan memandang rendah dan ringan kepadanya? Pikiran inilah yang selalu mengganggu kakek ini dan membuat ia mengambil keputusan untuk rnencari Ban-tok-sim Giam Kong untuk diminta pertanggungan-jawabnya terhadap perbuatan Koai Atong dan kalau guru Tibet ini tidak mau mempertanggungjawabkannya, ia sendiri akan mencari Kwa Hong dan Koai Atong di Lu-liang-san.

Dan adalah keputusan ini yang membuat pada suatu hari Lian Bu Tojin berhadapan dengan Ban-tok-sim Giam Kong di tepi gurun pasir di luar tembok besar sebelah utara. Ban-tok-sim Giam Kong adalah seorang hwesio bertubuh tinggi besar berkulit hitam sekali, usianya sudah tujuh puluh tahun lebih namun masih nampak kuat dan tongkat hwesio yang selalu berada di tangannya juga berat tanda bahwa tenaga hwesio tua ini besar. Sepasang mata hwesio ini memancarkan sinar penuh semangat dan matanya sekarang juga bersinar-sinar ketika ia bertemu dengan Lian Bu Tojin di tempat yang tak disangka-sangkanya itu.

"Omitohud .... !" la mengeluarkan kata-kata pujian sambil merangkap kedua tangan ke

depan dada, menyembah sebagai tanda hormat. "Angin apakah yang meniupToyu datang ke tempat ini?"

Lian Bu Tojin merangkap kedua tangan lalu menjura, "Bagus sekali, agaknya memang Thian sudah menghendaki pertemuan kita. Losuhu, sengaja pinto mencarimu untuk membicarakan sesuatu urusan amat penting."

"Omitohud, pinceng tidak hendak mendahului kehendak Thian. Akan tetapi, bukankah Toyu mencari pinceng karena urusan muridmu dan muridku?"

"Siancai... siancai" Lian- Bu Tojin berkata heran. "Kiranya Losuhu sudah maklum pula akan hal itu. Losuhu, di antara kita ada pertalian persahabatan ketika kita bersama menghadapi bangsa Mongol. Oleh karena itu pula, pinto mohon Losuhu sudi mengingat hubungan baik itu dan suka meluruskan jalan yang bengkok." Kata-kata meluruskan jalan bengkok ini berarti membetulkan sesuatu yang salah atau yang tidak wajar. ....

Giam Kong Hwesio tertawa sambil berdongak, giginya yang masih lengkap dan kuat itu berkilat-kilat putih di ballk kulit mukanya yang hitam.

"Lian Bu-toyu memakai kata-kata halus tapi maksudnya hendak menyalahkan pinceng dalam hal ini, ha-ha-ha! Sebetulnya, pinceng sendiri pun amat heran mengapa muridmu yang muda dan cantik jelita itu suka kepada murid pin-ceng yang bodoh dan gila. Kalau muridmu suka, mengapa hendak menyalahkan pinceng?"

Wajah Lian Bu Tojin yang putih itu berubah agak merah. Benar-benar memalukan sekali sikap Kwa Hong itu, akan tetapi betapapun juga, ia harus menjaga nama dan kehormatan Hoa-san-pai.

"Pinto meragukan apakah Kwa Hong dengan sukarela ikut dengan muridmu. Harus diakui bahwa muridmu itu jauh lebih tinggi kepandaiannya daripada Kwa Hong. Andaikata muridmu hendak mengambil Kwa Hong sebagai jodohnya, itu pun harus melalui saluran-saluran yang terhormat. Maka dari itu, Losuhu, sudah jelas bahwa muridmu melanggar kesusilaan, menghina Hoa-san-pai. Kalau Losuhu tidak mau turun tangan sendiri, terpaksa untuk menjaga nama baik Hoa-san-pai, pinto yang akan mewakili Losuhu."

Kali ini Ban-tok-sim Giam Kong tidak tertawa lagi, menarik muka sungguh-sungguh dan berkata, "Lian Bu-toyu, kau enak saja bicara seperti orang yang bersih mulus!! Ketahuilah, dalam urusan antara muridmu dan muridku ini terdapat rahasia yang pinceng sendiri masih belum dapat pecahkan. Kau tahu, Atong selama hidupnya amat taat dan takut kepadaku, akan tetapi kali ini ia membangkang dan sama sekali tidak mau kembali kepada pinceng. Ini tidak sewajarnya dan agaknya muridmu itulah yang memaksanya, entah dengan pengaruh apa. Selain dari itu, supaya kau tahu saja, pinceng yang menjadi gurunya tahu betul bahwa diri Kaoi Atung itu tidak normal lagi, tak mungkin dia bisa menjadi suami karena pinceng sendiri yang dahulu sudah turun tangan mematikan pembangkit nafsunya. Dia akan tetap menjadi kanak-kanak sampai matinya kelak dan

tidak mungkin ia akan dapat melakukan hubungan dengan wanita sebagai suami isteri.

Nah, setelah keadaan seperti ini sekarang pinceng mendengar ia mati-matian mengaku sebagai suami muridmu, bukankah aneh sekali ini?"

Lian Bu Tojin mengerutkan alisnya. Orang seperti Ban-tok-sim Giam Kong ini tidak aneh kalau melakukan kekejian seperti yang dilakukan terhadap Koai Atong itu dan kata- katanya itu boleh dipercaya. la diam-diam merasa heran sekali. Bukan tak mungkin kalau sebaliknya Kwa Hong yang mempengaruhi bocah tua itu. la mengenal baik Kwa Hong yang keras hati dan tidak mau kalah dalam segala hal. Akan tetapi mengapa Kwa Hong melakukan hal itu?

"Giam Kong Losuhu, kalau begitu, karena hal ini menyangkut muridmu dan muridku, jadi menyangkut nama baik kedua pihak, maka marilah kita berdua pergi ke Lu-liang-san dan sama melihat sebetulnya apakah yang terjadi di sana dan siapa di antara keduanya itu yang bersalah harus kita hukum."

"Usulmu baik sekali, Toyu."

Berangkatlah dua orang kakek pendeta itu menuju ke Lu-liang-san. Keadaan dua orang kakek ini amat jauh berbeda. Giam Kong Hwesio adalah seorang kakek tinggi besar yang bermuka hitam dan tangannya menyeret sebuah tongkat yang besar dan berat, tongkat hwesio yang kepalanya diukir kepala binatang sakti kilin. Adapun Lian Bu Tojin yang beberapa tahun lebih muda daripada hwesio tua itu adalah seorang pendeta tosu yang tinggi kurus, jenggotnya panjang sampai ke perut, pakaiannya sederhana sekali dan tangannya membawa sebatang bambu yang ringan. .Di punggungnya tergantung pedang pusaka Hoa-san-pai.

Biarpun dua orang kakek ini sudah tua sekali, sudah lebih enam puluh tahun, namun berkat tingkat kepandaian rnereka yang tinggi, dengan ilmu lari cepat mereka, dalam beberapa hari saja mereka sudah mulai mendekati Bukit Lu-liang-san yang sunyi. Akan tetapi mencari dua orang di atas pegunungan yang banyak puncaknya dan kaya akan hutan-hutan lebat itu bukanlah pekerjaan mudah. Setelah berkeliaran beberapa hari barulah pada suatu pagi mereka berhasil menemukan Koai Atong. Ini pun kalau Koai Atong tidak sedang memanggang dagjng harimau kiranya masih belum akan dapat ditemukan oleh dua orang kakek itu. Asap yang bergulung-gulung itulah yang menarik dua orang kakek ini dan akhirnya mereka melihat Koai Atong sedang memanggang daging dalam sebuah hutan yang lebat. Koai Atong tertawa-dan menyanyi seorang diri, nampaknya gembira bukan main.

Giam Kong Hwesio yang menghampiri dengan diam-diam itu merasa terharu juga. Sudah terlalu kenal ia akan watak muridnya ini dan ia dapat melihat betapa muridnya itu betul- betul merasa bahagia hidupnya. Maka meragulah dia, apakah dia harus mengganggu penghidupan yang begitu tenteram dan bahagia dari Koai Atong? Akan tetapi karena ada urusan yang menyangkut diri Kwa Hong murid Hoa-san-pai, tentu saja ia pun tidak dapat mendiamkan saja.

"Koai Atong, sedang apa kau di sini seorang diri?" tegur Giam Kong Hwesio.

Koai Atong nampak kaget, apalagi setelah menengok ia melihat gurunya . bersama Lian Bu Tojin sudah berdiri di depannya. Saking gugupnya ia lalu mendekatkan daging yang dipanggangnya itu ke mulut, Lalu... digigitnya daging setengah matang yang masih panas sekali itu. la seperti lupa diri dan terus makan daging yang masih mengebul itu dengan enaknya sambil kedua matanya memandang kepada dua orang kakek itu, terbelalak.

"Koai Atong, suhumu bertanya kenapa tidak kaujawab?" kata Lian Bu Tojin, suaranya terdengar tenang dan penuh kesabaran. Ketua Hoa-san-pai ini memang tak pernah memperlihatkan kandungan hatinya sehingga dalam keadaan marah atau duka ia bisa tertawa.

"Aku... aku sedang makan..,." jawab Koai Atong gugup. "Suhu dan Totiang... apakah suka makan daging?"

Kalau saja pertanyaan ini bukan diajukan oleh Koai Atong yang sudah mereka kenal wataknya yang kekanak-kanakan, tentu akan merupakan pertanyaan yang sifatnya menghina. Masa dua orang pendeta yang pantang makan bernyawa ditawari daging?

"Atong, kedatangan pinceng dan Lian Bu-toyu ke sini bukan untuk makan daging, melainkan untuk mencari kau dan Nona Kwa Hong. Kabarnya kau dan Nona Kwa Hong berada disini, sekarang di rnana adanya nona itu?"

Mendengar pertanyaan gurunya, Koai Atong lalu berdiri, mulutnya masih bergerak-gerak makan daging panas.

"Ada keperluan apakah kau mencari isteriku?"

Terbelalak mata Giam Kong Hwesio mendengar kata-kata dan melihat sikap yang menantang ini, "Atong, apa kata mu? Sejak kapan kau memperisteri dia?"

"Sejak... sejak lama, entah berapa lama. Enci Hong adalah isteriku dan kelak kalau anaknya terlahir, anak itu adalah anakku." Otomatis Koai Atong meniru kata-kata yang harus ia janjikan kepada Kwa Hong dahulu.

Mendengar ini, dua orang kakek itu saling pandang dan keduanya melangkah heran. Keheranan itu perlahan-lahan berubah menjadi kemarahan karena mereka "Berdua menganggap bahwa hal ini benar-benar keterlaluan. Dua orang bersuami isteri sampai hampir punya anak dan semua itu terjadi di luar tahu guru masing-masing, terjadi begitu saja tanpa pengesahan. Benar-benar merupakan tamparan bagi orang yang menjadi gurunya.

"Atong, jangan kau main gila!" bentak Giam Kong Hwesio dengan muka makin

menghitam karena menahan kemarahannya. "Benar-benarkah kau menjadi suami Nona Kwa Hong? Jangan berdusta, jawab terus terang!"

Biasanya apabila gurunya sudah mem-beritaknya seperti itu, hati Koai Atong menjadi jerih dan takut, lalu serta-merta menjatuhkan diri berlutut. Akan tetapi kali ini ia tetap berdiri dan biarpun wajahnya berubah pucat dan tubuhnya menggigil, ia menjawab,

"Betul, Suhu. Enci Hong adaiah isteriku, aku suaminya dan anaknya kelak akan menjadi .... "

"Tutup mulut!" Giam Kong Hwesio membentak marah sekali. "Atong, lupakah kau bahwa dalam segala hal kau harus mendapat ijin lebih dulu dari pinceng? Diam-diam kau mengaku sebagai suami Nona Kwa Hong, siapakah yang memaksamu berbuat demikian?"

"Enci Hong yang meminta begitu, Suhu... dan aku... aku tidak bisa menolaknya, tidak mau aku membikin Enci Hong marah dan berduka."

Giam Kong Hwesio melirik ke arah Lian Bu Tojin, sinar matanya seakan-akan berkata, "Nah, semua adalah kesalahan muridmu." Akan tetapi Lian Bu Tojin tidak berkata apa- apa hanya memandang ke sana ke mari agaknya men-cari Kwa Hong.

"Atong, sekarang juga kau harus tinggalkan tempat ini dan ikut bersama pincengl"

? Tidak, Suhu. Aku tidak mau, aku tidak bisa berpisah dari Enci Hong. Aku tidak mau pergi ikut denganmu." Makin pucat wajah Koai Atong. "Apa .... ? Pergi meninggalkan Enci Hong ....

"Setan! Atong, apakah kau hendak melawan gurumu?"

"Siapapun juga tidak boleh memisahkan aku dengan Enci Hong." Koai Atong tetap membantah.

"Keparat, kalau begitu lebih baik pinceng rnelihat kau mati." Tiba-tiba tubuh yang tinggi besar dari Giam Kong Hwesio itu bergerak dan tahu-tahu ia sudah mengirim serangan maut ke arah kepala Koai Atong. la sudah maklum sampai di mana tingkat kepandaian muridnya ini, yaitu tidak selisih jauh dengan tingkatnya sendiri, maka begitu turun tangan ia segera mengirim pukulan dengan jurus yang mematikan dan yang kiranya takkan dapat dihindarkan oleh muridnya itu.

Akan tetapi, di luar dugaannya sama sekali, tubuh Koai Atong bergerak sedikit, kakinya menggeser dan kedua lengannya dikembangkan seperti sayap dan... serangan itu hanya mengenai tempat kosong Giam Kong Hwesio terkesiap, bukan karena dihindarkannya serangannya, melainkan cara muridnya itu bergerak menyelamatkan diri. Gerakan kaki dan kedua tangan muridnya itu sama sekali asing baginya.

"Murid murtad, kau sudah mempelajari ilmu silat lain pula? Nah, pergunakan llmu silat barumu untuk menghadapi ini." Kembali Giam Kong Hwesio menyerang, kini menyerang sambil mengerahkan tenaga Jing-tok-ciang yang luar biasa hebatnya.

Namun ia kembali kecele sampai berkali-kali. Serangannya susul-menyusul sampai dua puluh empat jurus tanpa berhenti, namun kesemuanya itu dapat dihindarkan dengan arnat mudahnya oleh Koai Atong. Melihat hal ini tadinya Lian Bu Tojin sendiri mengira bahwa Giam Kong Hwesio hanya menggertak muridnya dan masih merasa sayang untuk menghukumnya. Akan tetapi setelah melihat betapa Giam Kong Hwesio makin lama makin marah dan serangan-serangannya betul-betul amat berbahaya, ia mulai memperhatikan dan amat heranlah hati ia sendiri menyaksikan betapa aneh dan luar biasa gerakan-gerakan yang dilakukan oleh Koai Atong itu. Tubuh Koai Atong yang tinggi besar itu agak membungkuk, kakinya berloncatan ke sana-sini, kedua lengannya dikembangkan seperti burung hendak terbang. Dan setiap kali serangan datang selalu otomatis kaki dan tangannya bergerak secara aneh tapi selalu dapat menghindarkan semua pukulan.

"Kurang ajar, kau benar-benar hendak melawan gurumu sendiri? Atong, kalau begitu biar pinceng mengadu nyawa denganmu." seru Giam Kong Hwesio yang menjadi marah luar biasa.

Tiba-tiba terdengar suara merdu dari atas, "Koai Atong, hwesio buruk itu bukan gurumu lagi, balaslah dengan Jing-tok-ciang yang baru kita latih kemarin."

Wajah Koai Atong berseri-seri mendengar suara ini, lalu ia menjawab, "Baiklah, Enci Hong. Eh, hwesio buruk, kau bukan guruku lagi dan sekarang kau rebahlah." Sambil berkata demikian Koai Atong memutar-mutar lengan kiri hendak menggunakan pukulan Jing-tok-ciang. Tentu saja serangan ini dipandang ringan oleh Giam Kong Hwesio. Dialah yang menciptakan ilmu Pukulan Jing-tok-ciang ini, masa sekarang ia diancam dengan ilmu pukulan ciptaannya itu?. Hampir ia tertawa melihat bekas muridnya memutar-mutar tangan kirinya. Tepat seperti yang ia ajarkan dulu, tangan kiri Koai Atong mendorong dengan tenaga Jing-tok-ciang.

Tentu saja sebagai penciptanya, Giam Kong Hwesio tahu cara pemecahannya, malah tahu cara untuk membalas secara hebat. Diam-diam ia mengerahkan tenaga dan dengan Jing- tok-ciang pula tapi dengan tenaga "menyedot" ia menangkis dengan tangan kanannya kepada dorongan tangan kiri muridnya itu

Dua tangan bertemu dan saling menempel. Giarn Kong Hwesio sudah merasa girang karena kali ini ia pasti akan dapat merobohkan bekas muridnya itu. Siapa kira tiba-tiba tangan kanan Koai Atong bergerak mendorong dan... tangan kanan inilah yang mengandung tenaga Jing-tok-ciang sepenuhnya Sedangkan tangan kirinya tadi hanyalah gertak atau tipuan belaka.

"Bukk!!" Tubuh Giam Kong Hwesio terhuyung-huyung, matanya terbelalak melotot

memandang kepada Koai Atong, kemudian ia roboh terguling dengan mata masih melotot akan tetapi putus nyawanya. Hwesio Tibet ini telah tewas di tangan muridnya sendiri, oleh ilrnu pukulan yang dahulu ia ciptakan sendiri. Akan tetapi Jing-tok-ciang yang dipergunakan oleh Koai Atong ini telah berubah banyak, dan gerakannya telah dicampur dengan gerakan aneh yang ia pelajari bersama Kwa Hong dari burung rajawali emas.

Lian Bu Tojin sejak tadi memandang ke atas, ke arah suara. Ternyata Kwa Hong sedang duduk di atas punggung seekor burung rajawali yang berbulu kuning emas. Agaknya burung itu tadi terbang mendatang dengan gerakan sayap yang amat halus sehingga tidak menimbulkan suara dan telah hinggap di cabang dengan Kwa Hong di punggungnya. Hampir Lian Bu Tojin tidak mengenal muridnya ini lagi, Kwa Hong memakai pakaian serba putih, tidak merah seperti dulu lagi, dan ia duduk di punggung rajawali dengan lagak angkuh dan agung seperti seorang ratu duduk di atas singgasana dari emas. Sama sekali Kwa Hong tidak pernah melirik ke arah Lian Bu Tojin dan begitu melihat Giam Kong Hwesio roboh dan tewas Kwa Hong tertawa dengan suara yang membikin bulu tengkuk berdiri. Dalam pendengaran Lian Bu Tojin, suara itu setengah tertawa setengah menangis. Betapapun juga, melihat Koai Atong membunuh gurunya sendiri, Lian Bu Tojin menjadi marah sekali.

"Koai Atong benar-benar kau murid durhaka. Berani kau membunuh gurumu sendiri?"

Sementara itu, Koai Atong berdiri seperti patung memandangi tubuh suhunya yang telentang dengan mata mendelik dalam keadaan tidak bernyawa lagi itu. Sekarang, mendengar kata-kata Lian Bu Tojin, ia segera berlutut sambil menangis menggerung- gerung.

"Suhu... Suhu... kenapa kau diam saja? Suhu... apakah betul-betul kau mati? Ah, Suhu, jangan tinggalkan murid seorang diri di dunia ini. Suhu... jangan mati, Suhu...!"

Tiba-tiba berkelebat bayangan putih dari atas pohon dan tahu-tahu Kwa Hong sudah berdiri di dekat Koai Atong, memegang pundak Koai Atong dan diguncang-guncang keras. Lian Bu Tojin diam-diam kaget dan kagum menyaksikan gerakan Kwa Hong ketika melayang turun tadi, seperti seekor burung saja gerakannya dan demikian ringan. Dari mana gadis ini mempelajari semua itu?

"Koai Atong, apakah kau sudah gila? Hwesio buruk ini sudah mati, kenapa kau menangis segala macam?"

Koai Atong bangkit berdiri sambil menyusuti air matanya, "Dia adalah guruku, Enci Hong. Dia guruku yang baik... uhh-uhhhuu... kalau dia mati, bagaimana dengan diriku? Uhuhuu .... "

"Goblok! Apa kau lupa ada aku disini. Kau boleh pilih saja, mau ikut gurumu mampus atau mau hidup bersama aku di sini?"

Seketika berubah wajah Koai Atong. la nampak gugup dan cepat sekali tersenyum dan menyusut kering air matanya, "Oh, betul juga. Aku keliru tadi, Enci Hong. Biarkan dia mampus, hwesio buruk itu yang mau membawa aku pergi darimu. Ha-ha-ha!"

Mendengar dan melihat ini semua, Lian Bu Tojin tak dapat menahan kemarahannya lagi. Sekarang jelaslah baginya bahwa kesalahannya bukan terletak pada diri Koai Atong, melainkan sepenuhnya adalah karena perbuatan Kwa Hong, terang bahwa Koai Atong hanya menurut saja apa kehendak Kwa Hong. Yang ia tidak mengerti mengapa Kwa Hong melakukan ini semua? Mungkinkah Kwa Hong jatuh cinta kepada orang seperti Koai Atong? Ia menggeleng-geleng kepala, kalau ada kemungkinan ini tentu ada kemungkinan lain, yaitu bahwa Kwa Hong telah menjadi gila.

"Eh, tosu tua. Mau apa kau datang ke tempat kami ini?"

Lian Bu Tojin memandang kepada Kwa Hong dengan mata terpentang lebar sekali. Benarkah ini Kwa Hong gadis cucu muridnya yang dulu hanya takut kepadanya seorang?

"Hong Hong, benar-benarkah kau sudah lupa kepada pinto? Lupakah kau kepada kakek gurumu sendiri? Pinto adalah Lian Bu Tojin dari Hoa-san-pai, Hong Hong, setelah kakek gurumu datang, apakah kau tidak lekas berlutut memberi hormat?"

Koai Atong berkata, "Enci Hong, dia ini Ketua Hoa-san-pai, Lian Bu Tojin, kakek gurumu yang galak, Lekas berlutut, kau nanti mendapat marah bisa sulit."

Akan tetapi tiba-tiba Kwa Hong tertawa bergelak-gelak, lalu berkata dengan nada suara galak,

"Lian Bu Tojin, siapa tidak tahu bahwa kau adalah Ketua Hoa-san-pai yang mulia dan gagah perkasa, guru besar yang hendak membunuh murid sendiri kemudian membuntungi lengan kiri murid sendiri? Hah, kau menjemukan hatiku. Tosu tua bangka bau, lekaslah pergi dari sini sebelum timbul seleraku untuk membuntungi tanganmu atau lehermu."

Sesabar-sabarnya manusia, masih ada batasnya. Kalau yang memakinya itu seorang lain yang tidak ada hubungannya dengan dirinya, mungkin Lian Bu Tojin takkan melayaninya dan akan pergi begitu saja. Akan tetapi Kwa Hong adalah cucu muridnya. Seorang cucu murid berani memaki-maki kakek gurunya, hal ini benar-benar di luar batas kesabaran Lian Bu Tojin.

"Kwa Hong, kau benar-benar kurang ajar sekali. Kau sebagai anak murid Hoa-san-pai sudah mengotorkan dan mencemarkan nama Hoa-san-pai dengan perbuatanmu yang kotor tak tahu malu ini. Pinto menjadi Ketua Hoa-san-pai, percuma kalau tidak bisa memberi hukuman kepadamu."

Setelah berkata demikian, dengan amarah meluap-luap Lian Bu Tojin lalu menerjang

maju sambil memutar tongkat bambunya, melakukan serangan kepada. Kwa Hong. Dengan amat mudah Kwa Hong mengelak dan membalas dengan pukulan aneh sekali gerakannya, dari samping. Melihat betapa gerakan tangan itu ketika memukul agak diputar, tak salah lagi tentu ini sebuah pukulan Jing-tok-ciang, akan tetapi juga lain sekali gerakannya dengan Jing-tok-ciang dari Giam Kong Hwesio yang pernah dilihat Lian Bu Tojin. Betapapun juga Lian Bu Tojin tidak berlaku sembrono dan mengelak sambil menotokkan ujung tongkat bambunya ke arah jalan darah di pinggang bekas cucu muridnya itu. Lagi-lagi Kwa Hong mengelak dan diam-diam Lian Bu Tojin menjadi kagum. Gerakan Kwa Hong ini persis gerakan Koai Atong ketika mengelak dari serangan Giam Kong Hwesio tadi. Gerakannya sederhana tapi aneh dan cepat bukan main, sedikit saja pindahkan kaki dan kembangkan kedua lengan, serangan yang sulit-sulit sudah dapat dihindarkannya. Dilihat sepintas lalu seperti Ilmu Silat Ho-kun dari Siauw-lim-si, akan tetapi kedudukan kakinya berbeda, lagi pula gerakan ini mengandung kegagahan yang tak dapat disamakan dengan burung ho dari Ilmu Silat Ho-kun.

Karena tak dapat mengenal ilmu silat apa yang dipergunakan oleh Kwa Hong untuk menghadapi serangan-serangan tongkat bambunya, kakek Ketua Hoa-san-pai itu menjadi penasaran sekali. Apalagi kalau diingat bahwa ia menyerang dengan menggunakan senjata walaupun hanya sebatang tongkat bambu, sedangkan bekas cucu muridnya itu bertangan kosong. Alangkah akan malunya kalau ada orang mendengar bahwa dia, Ketua Hoa-san-pai, menggunakan senjata tongkatnya yang sudah terkenal, dalam belasan jurus tidak mampu merobohkan cucu muridnya sendiri yang bertangan kosong.

Mengingat ini, Lian Bu Tojin lalu berseru keras dan mengeluarkan ilmu silatnya yang paling tinggi, inti dari pada Ilmu Pedang Hoa-san Kiam-hoat yang karena sukarnya memang belum pernah ia turunkan kepada Kwa Hong. Hanya ayah Kwa Hong, murid pertama dari Hoa-san-pai, Hoa-san It-kiam Kwa Tin Siong saja yang pernah mempelajari ilmu pedang ini, tapi juga beJum sempurna betul. Bukan main hebatnya ilmu pedang ini. Biarpun dimainkan hanya dengan sebatang tongkat bambu, namun bahayanya bukan main. Tongkat bambu itu berubah menjadi segulung sinar yang menyambar-nyambar dan mengurung diri Kwa Hong dari segala jurusan.

Tadi Kwa Hong selalu dapat menghindarkan diri dari serangan bekas kakek gurunya karena ia memang sudah mengenal ilmu silat Hoa-san-pai dengan baik. Seperti juga Koai Atong, selama beberapa bulan di dalam hutan ia telah berhasil mempelajari banyak gerakan dari burung rajawali emas itu dan bersama-sama Koai Atong yang memang amat cerdas dalam hal ilmu silat, mereka telah dapat mengambil intisari daripada gerakan- gerakan burung aneh itu sehingga dapat mempergunakan dalam pertempuran. Akan tetapi yang dapat mereka petik dalam beberapa bulan ini hanya gerakan mengelak saja, itu pun belum sempurna betul sungguhpun memang sudah amat hebat kalau dipergunakan dalam pertempuran.

Sekarang setelah Lian Bu Tojin mengeluarkan ilmu pedang yang menjadi inti daripada Hoa-san Kiam-hoat. Kwa Hong menjadi kaget. Tongkat bambu itu mengeluarkan hawa dingin dan membuat matanya berkunang. Baru ia tahu sekarang bahwa kakek gurunya ini, Ketua Hoa-san-pai memang tidak mempunyai nama kosong belaka. la mengeluarkan

pekik menyeramkan dan kini menggunakan segala ingatannya untuk meniru gerakan- gerakan dari burung rajawali emas. Bukan hanya gerakan untuk mengelak dari bahaya, juga sedikit-sedikit ia mulai menggunakan gerakan menyerang dari burung itu. Kedua kakinya kadang-kadang melompat dan menerjang dalam tendangan-tendangan sebagai pengganti kedua kaki burung kalau mencakar dan menendang, kedua tangannya secara aneh dan tiba-tiba menghantam dari samping seperti gerakan sayap dan kadang-kadang menotok lurus dari depan seperti gerakan patuk burung. Betapapun juga, Kwa Hong menjadi girang karena ia dalam beberapa puluh jurus gerakannya mengelak masih berhasil menyelamatkan dirinya dari ancaman senjata kakek itu. Akan tetapi, makin lama makin terasa olehnya betapa gulungan sinar itu makin menekan dan mengurung makin rapat sehingga tak mungkin lagi baginya untuk membalas, Repot juga kalau harus mengelak terus dari sinar tongkat yang amat berbahaya itu.

"Koai Atong, bantu aku!" Akhirnya Kwa Hong tidak tahan dan minta bantuan temannya.

Koai Atong mengeluarkan suara melengking keras nneniru suara lengkingan burung rajawali, kemudian tubuhnya yatig tinggi besar itu menerjang maju Sambil mengirim pukulan Jing-tok-ciang ke arah tubuh kakek Ketua Hoa-san-pai. Lian Bu Tojin terkejut juga ketika merasa ada angin dingin menyambar dahsyat dari samping. Cepat ia mengelak dan memutar tongkatnya menotok sekaligus ke tiga tempat berbahaya di tubuh Koai Atong. Namun sambil terkekeh Koai Atong mengelak duakali dan menangkis sekali tongkat bambu itu dengan sabetan lengannya dari samping. Lian Bu Tojin kaget ketika merasa betapa sabetan itu mengandung tenaga yang amat dahsyat dan lebih-lebih lagi kagetnya ketika melihat bahwa ujung tongkat bambunya telah remuk.

"Keparat, hari ini pinto harus memberi hajaran kepada kalian berdua." Lian Bu Tojin berseru sambil mencabut keluar pedang pusakanya. Cahaya menyilaukan berkelebat ketika pedang pusaka itu tercabut. Inilah pedang pusaka Hoa-san-pai (Hoa-san Po-kiam) yang menjadi tanda kekuasaan. Semenjak Hoa-san-pai didirikan, pedang ini turun- temurun berada di tangan para ketua Hoa-san-pai. Biasanya pedang pusaka ini hanya dipergunakan untuk upacara-upacara peringatan untuk menghormati para. ketua Hoa-san- pai semenjak dahulu, dan jarang sekali dipakai untuk bertempur. Akan tetapi kali ini karena menghadapi lawan berat dan pula harus menjaga nama baik Hoa-san-pai, Lian Bu Tojin tidak ragu-ragu lagi untuk menghunusnya dan mempergunakannya.

Memang pada hakekatnya tingkat ilmu kepandaian dua orang itu, Koai Atong dan Kwa Hong masih jauh di bawah tingkat Lian Bu Tojin. Kalau tadi Koai Atong berhasil membunuh gurunya adalah karena Giam Kong Hwesio sama sekali tidak pernah mengira bahwa muridnya sudah mendapatkan kepandaian yang demikian anehnya, padahal menurut tingkat, tentu saja Koai Atong masih belum dapat menyamai gurunya. Biarpun Koai Atong dan Kwa Hong mendapatkan ilmu yang amat mujijat, yaitu dari gerakan burung rajawali emas itu, namun mereka baru berlatih beberapa bulan saja, pula hanya mempertahankan diri maka mereka pun hanya kuat sekali dalam hal ini. Untuk balas menyerang ternyata ilmu kepandaian mereka masih belum dapat menyamai tingkat Lian Bu Tojin. Apalagi sekarang mereka berdua bertangan kosong menghadapi Lian Bu Tojin yang marah dan yang bersenjatakan pedang pusaka Hoa-san-pai yang ampuh sekali itu.

Biarpun mereka dapat selalu menghindar daripada sambaran pedang, namun untuk membalas benar-benar merupakan hal yang amat sulit. Kalau dibiarkan saja terus menghadapi gulungan sinar pedang yang menyilaukan mata ini, akhirnya tentu seorang di antara mereka akan terluka terbunuh.

"Kim-tiauw-heng. Hayo bantu kamil" Tiba-tiba Kwa Hong berteriak dan mengeluarkan suara bersuit nyaring.

Lian Bu Tojin terkejut ketika tiba-tiba ia melihat sinar kuning emas berkelebat dari atas dan tahu-tahu ia sudah diserang bertubi-tubi oleh sepasang cakar, sebuah patuk dan sepasang sayap. Serangan ini hebat luar biasa, akan tetapi sebagai seorang ahli, ia tidak menjadi gugup, malah memusatkan gerakan pedangnya menjadi sebuah lingkaran menghantam ke arah burung rajawali itu. Hebatnya, biarpun tadinya menyerang dengan dahsyat, begitu menghadapi serangan maut dari pedang pusaka itu, burung rajawali ini dapat secara aneh dan cepat sekali merubah gerakannya dan sekali melejit ia dapat menyelinap di antara gulungan sinar pedang dan berhasil menyelamatkan diri lalu terbang berputaran di atas kepala Lian Bu Tojin, menanti kesempatan baik untuk menyerang lagi.

"Kim-tiauw-heng, berseru. Lian Bu Tojin mengira bahwa ucapan ini hanya gertakan saja. Ia tidak mengenal rajawali emas. Burung itu lain dengan burung-burung biasa. Agaknya dahulu pernah dipelihara orang sakti maka burung ini mudah sekali menangkap perintah manusia. Begitu mendengar seruan ini, ia lalu menyambar-nyambar dan sekarang ia benar-benar berusaha merampas pedang, memukulkan kedua sayapnya ke arah kepala Lian Bu Tojin disusul cengkeraman-cengkeraman kedua kakinya ke arah pedang pusaka Hoa-san-pai. kaurampas pedangnya!" kembali Kwa Hong

Barulah terkejut hati Lian Bu Tojin. Menghadapi dua orang murid murtad itu sudah merupakan hal yang bukan ringan karena mereka memiliki ilmu mengelak yang benar- benar membuat ia sukar merobohkan mereka. Sekarang ditambah lagi seekor burung yang demikian dahsyat serangannya, benar-benar ia mengeluh di dalam hatinya. Ketika dengan gerakan-gerakan aneh Kwa Hong dan Koai Atong maju mendesaknya sedangkan burung itu tiada hentinya menyambar-nyambar di atas kepalanya, mau tak mau Lian Bu Tojin berseru, "Celaka .... !"

Karena kemarahannya ditujukan kepada Kwa Hong, maka dengan nekat orang tua ini lalu mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk menyerang Kwa Hong. Biarlah aku mati asal aku dapat lebih dulu membunuhnya agar nama baik Hoa-san-pai dapat dipertahankan, pikir kakek ini. Serangannya hebat sekali. Biarpun Kwa Hong sudah rnempergunakan gerakan yang ia pelajari dari rajawali emas, dengan gesit menggeser ke sana ke mari, namun ke mana saja ia bergerak, ujung pedang pusaka itu selalu mengikutinya dan mengarah bagian-bagian tubuhnya yang paling berbahaya. Ketika mendapatkan kesennpatan baik Lian Bu Tojin mempercepat gerakannya, tanpa mempedulikan lagi bagian tubuhnya yang lain terbuka untuk masuknya serangan, ia menerjang dan maju menusuk leher Kwa Hong dengan sebuah tikaman maut.

Kwa Hong menjerit ngeri, namun masih ingat untuk menggerakkan kakinya secara aneh sambil melempar diri ke kiri. Namun ujung pedang di tangan Lian Bu Tojin masih terus mengejar lehernya. Pada saat itu Koai Atong menghantam dari samping dengan pukulan Jing-tok-ciang. Keras sekali pukulan ini dan tubuh Lian Bu Tojin sampai tergoyang- goyang, namun tetap saja pedangnya ditusukkan terus. Andaikata ia tidak terpukul oleh pasukan Jing-tok-ciang begitu kerasnya, tentu nyawa Kwa Hong tak dapat diselamatkan lagi. Sekarang karena pukulan yang hebat ini, tangannya tergetar dan tusukan pedangnya meleset dan hanya menancap di pundak Kwa Hong. Gadis itu menjetit kesakitan dan pada saat itu dari atas menyambar bayangan kuning emas, kemudian sebuah sayap besar menghantam kepala Lian Bu Tojin. Kakek ini biarpun sudah terluka parah oleh pukulan Koai Atong, masih dapat mengangkat tangan kiri menangkis. Hantaman sayap demikian hebatnya, sama sekali tidak terduga oleh Lian Bu Tojin sampai tubuhnya terlempar empat meter lebih dan tahu-tahu pedangnya yang ia pakai menusuk Kwa Hong tadi telah berpindah ke dalam paruh si Rajawali Emas.

Kwa Hong cepat mengambil pedang pusaka itu dari paruh burungnya, lalu ia terhuyung- huyung maju sambil mendekap pundaknya yang mengucurkan darah. Adapun Koai Atong ketika melihat Kwa Hong terluka dan berdarah, menjadi marah sekali. Sambil memekik keras ia menubruk maju hendak menyerang Lian Bu Tojin lagi. Namun kakek ini sudah duduk bersila mengatur napas karena luka di dadanya akibat pukulan Jing-tok- ciang amat hebatnya. Agaknya ia takkan dapat menghindarkan bahaya maut lagi kalau Koai Atorig menyerangnya.

"Jangan bunuh dia!" tiba-tiba Kwa Hong membentak, Koai Atong kaget dan menahan pukulannya, dengan heran ia mundur memandang Kwa Hong.

Kwa Hong yang kelihatan menyeramkan karena pundaknya mengucurkan darah yang membasahi bajunya itu, tersenyum dengan muka pucat, lalu berkata,

"Jangan bunuh dia, enak benar kalau dia mampus. Biar dia menderita, biar dia tahu rasanya bagaimana kalau orang terhina, bagaimana rasanya tangan dibikin buntung." Sambil berkata demikian tiba-tiba tangannya yang memegang pedang bergerak menyabet dan..., tangan kanan Lian Bu Tojin sebatas pergelangan nya terbabat buntung.

Kakek itu membuka matanya, menarik napas panjang lalu berdiri. Dengan tangan kirinya

ia memijat beberapa tempat di lengan kanannya untuk menghentikan jalan darah sehingga darahnya tidak mengucur terus. Kemudian ia memandang ke arah Kwa Hong dengan sinar mata , yang berubah seakan-akan kilat menyambar sehingga untuk sejenak Kwa Hong tertegun dan terkesima. Betapapun juga, pengaruh yang keluar dari sinar mata itu rnembangkitkan kenangan lama dan membayangkan pengaruh kakek itu atas dirinya bertahun-tahun yang lalu.

Koai Atong tertawa, "Heh-heh, tosu tua, kau datang bersama hwesio itu, kalau pergi jangan lupa membawa temanmu itu bersama." Maksud Koai Atong dengan kata-kata ini

bukan sekali-kali untuk mengejek atau menggoda, melainkan dengan maksud hati hendak menyenangkan Kwa Hong.

Lian Bu Tojin tidak berkata apa-apa dan ucapan Koai Atong ini menguntungkan Kwa Hong karena seketika sinar mata kakek itu menjadi biasa kembali. Lian Bu Tojin lalu memungut buntungan tangannya dari atas tanah, kemudian dengan lengan kiri ia memanggul tubuh Giam Kong Hwesio lalu berjalanlah ia cepat meninggalkan tempat itu. Benar-benar hebat sekali Ketua Hoa-san-pai ini. Lukanya akibat pukulan Jing-tok-ciang dari Koai Atong tadi hebat bukan main, ditambah lagi tangan kanannya buntung, namun sedikit pun la tidak pernah merintih, malah masih dapat pergi cepat sambil memondong jenazah Giam Kong Hwesio dan membawa buntungan tangannya. Kejadian ini cukup hebat sehingga untuk beberapa lama Kwa Hong termenung, baru kemudian ia merawat luka pada pundaknya. Diam-diam Kwa Hong girang sekali karena sekarang terbukti bahwa latihan-latihan yang mereka lakukan dengan ilmu silat yang gerakannya mengambil intisari gerakan rajawali emas itu benar-benar tadi telah memperlihatkan kehebatannya.

Beberapa hari kemudian di Puncak Hoa-san. Pemberontakan melawan Pemerintah Mongol yang sekarang telah runtuh masih mendatangkan bekas-bekasnya pada perkumpulan Hoa-san-pai yang bermarkas di puncak gunung ini. Dahulu-nya Hoa-san- pai di bawah pimpinan Lian Bu Tojin merupakan partai persilatan yang amat besar. Banyak sekali, lebih dari seratus orang, tosu (pendeta To) menjadi murid Lian Bu Tojin. Juga ketika itu Hoa-san-pai terkenal dengan nama Hoa-san Sie-eng (Empat Pendekar Hoa-san-pai) yang menjadi murid-murid utama Lian Bu Tojin.

Akan tetapi sekarang keadaan sudah banyak berubah, Hoa-san-pai tidak semegah dan sekuat dahulu lagi. Banyak sekali anggauta Hoa-san-pai yang gugur ketika mereka membantu kaum pejuang menumbangkan Pemerintah Kerajaan Mongol. Malah Hoa-san Sie-eng sudah tidak ada lagi. Yang dua telah tewas ketika terjadi kesalah-pahaman dan permusuhan antara Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai. Tinggal yang dua lagi, Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa, terjerumus ke dalam jalinan asmara yang membuat mereka lari pergi dari Hoa-san.

Cucu murid dari Lian Bu Tojin yang sekarang berada di Hoa-san hanya dua orang, yaitu Kui Lok dan Thio Bwee, dua orang saudara seperguruan yang sudah dijodohkan oleh Lian Bu Tojin. Oleh Lian Bu Tojin, dua orang yang ia anggap sebagai calon penggantinya ini digembleng dengan ilmu silat Hoa-san-pai yang paling tinggi dan ia berpesan supaya dua orang ini berlatih dengan giat.

Dalam cerita RAJA PEDANG telah dituturkan bahwa Thio Bwee memang sudah jatuh

hati kepada suhengnya itu, sebaliknya tadinya Kui Lok hendak merebut hati Kwa Hong. Akan tetapi usahanya ini tidak pernah berhasil dan kemudian setelah ia dijodohkan dengan Thio Bwee dan melihat cinta kasih hati gadis ini terhadap dirinya, terbukalah hatinya dan ia pun mulai menaruh hati kasih kepada Thio Bwee. Karena murid Hoa-san- pai yang lain yaitu Kwa Hong telah minggat dan memberontak terhadap Hoa-san-pai, sedangkan Thio Ki telah menikah dengan murid Thai-san, yaitu Lee Giok, murid Raja

Pedang Cia Hui Gan dan sekarang telah tinggal di Sin-yang menjadi piauwsu, maka mereka berdua dengan tekun memperdalam ilmu silat dan tinggal menemani guru besar mereka di Puncak Hoa-san.

Pada hari itu Kui Lok dan Thio Bwee sedang memberi petunjuk-petunjuk kepada para tosu yang juga dipesan supaya memperdalam ilmu silat untuk memperkuat kembali Hoa- san-pai. Mereka dengan gembira berlatih di halaman depan yang luas dan hawa udara amat sejuk dan indahnya di pagi hari itu. Tiba-tiba seorang tosu berseru,

"Suhu datang .... !"

Kui Lok dan Thio Bwee menengok dan cepat mereka lari menyambut dengan hati gelisah. Kakek Ketua Hoa-san-pai itu nampak pucat dan jalannya terhuyung-huyung, terang sudah menderita luka hebat sekali. Kui Lok adalah seorang pemuda yang usianya baru dua puluh tiga tahun, akan tetapi pandang matanya sudah tajam rnenandakan bahwa ia sudah memiliki kepandaian tinggi dan pengalaman luas. Wajahnya tampan dan ada sifat-sifat nakal gembira, akan tetapi tarikan mulutnya membayangkan keangkuhan hati. Adapun Thio Bwee yang hitam manis itu wataknya lebih pendiam, sinar matanya membayangkan kekerasan hatinya. Dua orang muda ini segera memberi hormat lalu menggandeng lengan suhunya untuk dituntun ke ruangan dalam.

"Suhu kenapakah .... ?" Kui Lok tak dapat menahan lagi hatinya bertanya.

Lian Bu Tojin tidak menjawab, malah segera menjatuhkan diri duduk bersila di atas lantai sambil meramkan mata. Melihat suhunya mengumpulkan tenaga dan mengatur pernapasan, para murid maklum bahwa suhu mereka itu sedang melawan serangan luka yang amat berbahaya, maka semua hanya duduk rnelihat dengan hati tidak karuan. Ketika Lian Bu Tojin sudah bergerak lagi dan mengeluarkan tangan yang tadi disembunyikan ke dalam saku jubahnya, Thio Bwee mengeluarkan jeritan ngeri melihat tangan kanan gurunya sudah buntung itu.

! Tangan Suhu kenapakah...?" Thio Bwee menubruk gurunya, berlutut dan menangis. "Suhu ....

"Suhu, siapa yang melakukan kekejian ini?" Kui bok juga menangis sambil bertanya, suaranya mengandung kemarahan dan sakit hati. Baru sekarang ia melihat pula bahwa pedang pusaka Hoa-san-pai yang tadinya dibawa oleh suhunya itu sekarang tidak kelihatan di punggung kakek ini, maka ia menjadi makin gelisah.

Lian Bu Tojin membuka matanya, menggeleng-geleng kepala perlahan sambil menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara yang amat lemah,

" Kembali ia meramkan mata agak lama, kemudian setelah membuka lagi matanya ia berkata, "Kui Lok... Thio Bwee... semua ini yang melakukan adalah Hong Hong... tapi kalian tidak usah menaruh dendam... pinto memang berdosa dan sudah sepatutnya menerima pembalasan ini. Hanya... pedang "Masih untung pinto kuat sampai di sini ....

pusaka harus kalian minta kembali. Mintalah bantuan pada... Beng San di Min-san, hanya dia yang dapat menandingi Hong Hong dan Koai Atong. Mereka lihai sekali... malah Giam Kong juga tewas... pinto... bukan lawan mereka .... "

!" Kui Lok sedih dan marah sekali. "Teecu pasti akan merampas kembali pedang pusaka!" "Suhu ....

"Teccu akan mengadu nyawa dengan perempuan rendah Kwa Hong." kata Thio Bwee sambil menangis.

Keadaan Lian Bu Tojin sudah payah sekali, napasnya memburu, akan tetapi ia masih sempat membuka mata dan bcrkata pula, "... selain Beng San... mungkin hanya... supekmu .... Lian Ti Tojin... kalian coba minta tolong dia .... , bilang pedang pusaka

" Tak dapat lagi Lian Bu Tojin melanjutkan kata-katanya karena tubuhnya roboh terguling dan nyawanya melayang pergi meninggalkan tubuhnya. Dari saku jubahnya jatuh keluar sebuah benda kecil yang ternyata „ adalah buntungan tangannya yang sudah mulai mengering karena memang sengaja tadinya ditaruh obat oleh Lian Bu Tojin agar jangan membusuk. dirampas orang... ahh ....

Kui Lok dan Thio Bwee, juga para tosu tak dapat berbuat lain kecuali menangis sedih. Thio Bwee sampai pingsan melihat kematian suhunya yang amat mengenaskan hati ini. Dengan penuh kedukaan dan dalam suasana berkabung para tosu segera mengurus jenazah Ketua Hoa-san-pai itu. Puncak Hoa-san diselimuti mendung tebal, mendung kemuraman hati para anggauta Hoa-san-pai yang kematian ketuanya secara demikian mengerikan.

Setelah upacara sembahyang dilakukan dan jenazah Ketua Hoa-san-pai itu di-masukkan dalam peti, penguburan ditunda untuk beberapa hari. Hal ini dilakukan karena para anggauta Hoa-san-pai hendak memberi kesempatan kepada para tamu yang hendak memberi penghormatan terakhir kepada Ketua Hoa-san-pai yang terkenal itu. Dan orang- orang kang-ouw memang memiliki pendengaran yang luar biasa tajamnya. Dalam beberapa hari itu, puncak Hoa-san didaki banyak orang kang-ouw yang hendak menjenguk dan memberi penghormatan terakhir kepada jenazah Lian Bu Tojin. Akan tetapi tak seorang pun diantara mereka ini tahu akan sebab daripada kematian kakek ini, karena semua murid Hoa-san-pai merahasiakannya dan bila ada pertanyaan hanya menjawab bahwa guru besar itu meninggal dunia sewajarnya, yaitu karena usia tua. Hal ini memang mereka sengaja karena yang menyebabkan kematian Lian Bu Tojin adalah Kwa Hong bekas murid Hoa-san-pai sendiri. Tentu saja hal ini amat memalukan kalau sampai terdengar oleh orang luar.

Sepekan kemudian jenazah Lian Bu Tojin dikebumikan dan Hoa-san-pai segera mengadakan rapat untuk membicarakan perkembangan dan keadaan perkumpulan mereka, juga untuk membicarakan tentang pesanan terakhir dari Lian Bu Tojin. Para tosu serentak mengusulkan agar Kui Lok menggantikan kedudukan gurunya, yaitu mengetuai Hoa-san-pai. Hal ini mereka usulkan oleh karena biarpun Kui Lok dapat dibilang murid yang amat muda, akan tetapi dalam hal ilmu silat Kui Lok telah mewarisi kepandaian

Lian Bu Tojin dan memiliki kepandaian paling tinggi di antara mereka. Mendengar ini, Kui Lok dengan gugup berkata sambil mengangkat kedua tangannya,

, para Suheng dan Susiok bagaimana bisa mengusulkan supaya siauwte yang masih muda dan bodoh menggantikan kedudukan mendiang Suhu? Bagaimana aku berani? Ah, aku sama sekali tidak berani menerima kedudukan itu, Hoa-san-pai adalah partai yang sudah ratusan tahun terkenal di dunia kang-ouw, dipimpin oleh orang-orang besar yang sakti. Bagaimana hari ini akan diletakkan di pundak seorang muda yang tidak berpengalaman seperti siauwte? Tidak, sekali lagi tidak, aku tidak berani menerima." "Ahhh ....

Seorang tosu yang sudah tua dan bermuka sabar sekali segera berkata,

"Kui-sute harap jangan berkata demi-kian. Sudah semenjak dulu Hoa-san-pai disegani kawan ditakuti lawan karena ilmu silat yang diajarkannya. Oleh karena itu, mengingat bahwa di antara kita semua, di antara murid-murid Hoa-san-pai kiranya hanya Sute yang memiliki kepandaian paling tinggi pada waktu sekarang ini, maka siapa lagi kalau bukan Kui-sute yang menjadi pemimpin? Tentang kurang pengalaman, hal ini kiranya tidak perlu dirisaukan benar karena kita sudah biasa bekerja secara gotong royong, ada sesuatu boleh Sute rundingkan dengan kita bersama. Bukankah hal ini baik sekali?"

Kui Lok masih menaruh keberatan dan terjadilah perdebatan antara Kui Lok dan beberapa orang tosu tua yang mendesaknya supaya menerima kedudukan itu. Akhirnya Thio Bwee bicara, suaranya lantang dan nyaring,

"Para Suheng dan Susiok sekalian, harap suka mendengarkan pertimbanganku yang adil. Memang kalau dipikir, pendapat kedua pihak semua benar. Akan tetapi, mengapa hal pengangkatan ketua ini diributkan benar? Sepanjang pengetahuanku yang bodoh, seorang Ketua Hoa-san-pai adalah orang yang berhak memegang pedang pusaka kita, yaitu Hoa- san Po-kiam. Sekarang pedang pusaka itu berada di tangan orang jahat. Daripada ribut- ribut bicara tentang kedudukan ketua, kurasa lebih baik urusan pengangkatan ketua ini ditunda dulu. Kita bersama, tanpa ketua, berusaha merampas kembali pedang pusaka dan membunuh musuh yang telah mencelakai Suhu. Nah, setelah itu barulah kita bicara tentang ketua."

Semua orang mengangguk-angguk setuju, karena memang kata-kata ini tepat sekali. Kui Lok juga girang mendengar ucapan ini, lalu ia berkata, "Usul yang diajukan Thio-sumoi memang benar-benar amat tepat. Marilah kita bicara tentang usaha merampas kembali pedang pusaka kita."

"Dan membunuh siluman betina Kwa Hong!" Sambung Thio Bwee sambil menatap wajah tunangannya dengan pandang mata tajam. Kui Lok menarik napas panjang dan maklum akan isi hati tunangannya itu. Cemburu, apalagi? Memang sedikit banyak ada rasa benci dalam hati Thio Bwee terhadap Kwa Hong, karena bukankah dahulu Kui Lok jatuh hati kepada Kwa Hong?

"Kui-sute, pinto (aku) bersedia untuk pergi ke Min-san dan mohon bantuan Tan Ben San

" kata seorang tosu. "Mengingat akan hubungan antara Tan-taihiap dengan Hoa-san-pai, pinto rasa dia takkan menolaktaihiap seperti yang dipesankan oleh mendiang Suhu ....

.... "

Kui Lok mengerutkan keningnya. Terbayang di depan matanya semua pengalamannya dahulu. Tan Beng San merupakan seorang yang selalu ia anggap sebagai perintang hidupnya. Cinta kasihnya terhadap Kwa Hong dahulu gagal oleh karena Kwa Hong mencinta Tan Beng san. Dan beberapa kali pemuda itu muncul sebagai seorang yang lebih gagah daripadanya. Dan sekarang dia harus minta bantuan Beng San. Ah, ia tidak sudi. Terhadap diri Beng San ia sudah menanam perasaan tidak senang yang mendalam.

"Tidak, Siauwte tidak setuju sama sekali karena kita harus minta bantuan orang luar. Para Susiok dan Suheng harap ingat bahwa urusan ini adalah urusan dalam Hoa-san-pai. Pedang Hoa-san-pai dirampas. oleh bekas murid Hoa-san-pai sendiri, mendiang Suhu dilukai oleh bekas murid Hoa-san-pai. Bagaimana kita ada muka untuk mencari bantuan orang luar? Bukankah dengan berbuat demikian nama besar Hoa-san-pai akan ter jerurnus ke dalam lumpur kehinaan?"

Para tosu itu menjadi kaget dan cepat-cepat menyatakan persetujuan mereka atas pandangan Kui Lok ini.

"Kau begitu, satu-satu jalan... kita harus ke Im-kan-kok .... "

Keadaan menjadi sunyi, semua orang di situ merasa serem dan bergidik ketika mendengar sebutan Im-kan-kok ini. Im-kan-kok berarti Lembah Akhirat. Semua murid Hoa-san-pai sudah mengenal Im-kan-kok ini, karena lembah ini merupakan lembah gunung yang dipandang keramat dan juga menakutkan. Ketika Ketua Hoa-san-pai masih hidup, yaitu Lian Bu Tojin, ketua ini berkali-kali memberi ingat kepada para murid agar sekali-kali jangan mendekati apalagi mencoba untuk memasuki Im-kan-kok, karena kalau ketahuan hukumannya adalah mati. Selain ancaman hukuman mati oleh tangan Lian Bu Tojin sendiri juga ketua ini pernah menceritakan bahwa di lembah ini merupakan tempat hukuman seorang Hoa-san-pai yang luar biasa tinggi kepandaiannya, jauh lebih tinggi daripada Lian Bu Tojin sendiri dan orang aneh luar biasa ini pasti akan membunuh setiap orang yang berani memasuki Im-kan-kok. Dan sekarang, mendiang Lian Bu Tojin sendiri yang meninggalkan pesan agar supaya mereka mencari orang aneh ini yang bukan lain adalah suheng sendiri dari ketua itu, bernama Lian Ti Tojin yang sudah empat puluh tahun lebih menghukum diri sendiri di dalam Lembah Akhirat ini. Tak seorang pun diberi tahu mengapa orang-orang aneh itu menghukum diri di Im-kan-kok. Kui Lok mengajukan usul untuk mencari manusia aneh ini di tempat yang merupakan ancaman maut itu.

"Benar, memang kita harus mencari Supek di Im-kan-kok. Supek Lian Ti Tojin adalah seorang tokoh Hoa-san-pai yang menurut mendiang Suhu dulu, kepandaiannya amat tinggi, beberapa kali lipat lebih tinggi daripada kepandaian Suhu sendiri. Kalau kita Hoa- san-pai memiliki orang berkepandaian demikian tinggi, memalukan sekali kalau untuk urusan ini kita harus mencari bantuan dari luar."

"Tapi... tapi...," kata seorang tosu setengah tua, "Supek itu sudah empat puluh tahun lebih menghilang. Apakah... apakah kiranya beliau masih berada di tempat itu? Dan... dan di antara kita siapakah pernah melihatnya?"

Semua orang saling pandang. Memang hampir semua tosu belum pernah melihat orang yang dimaksudkan itu. Kui Lok memandang kepada seorang tosu yang usianya sudah enam puluh tahun lebih, yang pekerjaannya memelihara kitab-kitab Hoa-san-pai. "Kwi Bun-susiok yang terhitung sute dari Suhu, tentunya pernah bertemu dan melihat wajah Supek Lian Ti Tojin, bukan?"

Mendadak tosu tua itu menjadi pucat, bergemetaran dan menutupi mukanya. "Tidak... pinto... eh, tidak... tidak pernah kenal..., tidak tahu ....

" la menjadi ketakutan sekali dan akhirnya mendekam berlutut dan membaca mantera dengan tubuh menggigil.

Kui Lok dan Thio Bwee saling pandang dengan bulu tengkuk meremang. Mengapa tosu

tua ini yang masih terhitung adik seperguruan Lian Ti Tojin sendiri kelihatan begitu ketakutan? Orang macam apakah Lian Ti Tojin itu? Dan rahasia apakah yang tersembunyi di balik Lembah Akhirat? Melihat sikap tosu itu, para murid Hoa-san-pai yang biasanya amat takut mendengar Im-kan-kok itu, sekarang menjadi semakin ketakutan dan merasa serem sekali. Mereka duduk dan bersunyi, seakan-akan takut kalau mereka kesalahan besar karena membicarakan orang rahasia di Im-kan-kok itu.

Tiba-tiba semua orang terkejut ketika mendengar suara melengking tinggi menusuk telinga, suara melengking yang datangnya dari atas, dari langit. Semua muka menjadi pucat, malah Kui Lok dan Thio Bwee yang biasanya berhati tabah, kali ini meraba gagang pedang dengan mulut terasa kering, Suara melengking makin lama makin tinggi dan nyaring sehingga orang-orang mulai merasa tidak kuat mendengarnya lagi lalu menutup telinga. Tiba-tiba meluncur sinar yang menyilaukan mata, sinar kehijauan dan tahu-tahu lima orang tosu roboh terguling dan ternyata dada mereka telah terluka dan mereka tewas seketika itu juga.

Comments

Popular posts from this blog

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…