Skip to main content

raja-pedang-46-kho-ping-hoo

Sebetulnya dugaan-dugaan mereka bahwa yang menolong mereka adalah dua orang rahasia dari pimpinan pejuang, adalah keliru. Penolong mereka pada waktu itu bukan lain adalah Beng San sendiri. Seperti diketahui, pemuda ini, juga ikut mengintai di ruangan itu dan melihat semua apa yang telah ter.adi. Diam-diam Beng San siap sedia 'untuk membantu kedua orang saudara Phang itu, akan tetapi melihat bahwa keduanya cukup tangguh untuk melawan Kwee Sln dan Kim-thouw Thian-li, dia merasa tidak enak juga untuk membantu. Ketika Kim-thouw Thian-li bersuit memanggil anak buahnya, Beng San cepat berkelebat menghadang dan dua belas orang anak buah Ngo-lian-kauw itu semua dia roboh-kan dengan totokannya yang lihai se-belum orang-orang itu sempat melihatnya! Ketika kembali mengintai, Beng San terkejut melihat dua orang saudara Phang sudah roboh pingsan. Cepat dia meng-ambil dua buah kerikil dan disambitkan ke arah lampu penerangan sehingga pa-dam. Di dalam geiap itulah Beng San cepat melompat masuk, merobohkan Kim-thouw Thian-li dan Kwee Sin, kemudfan sekaligus dia membawa keluar tubuh Kwee Sin dan dua orang saudara Phang! Kepandaian pemuda ini sudah demikian tingginya, tenaganya luar biasa besarnya sehingga dengan fTtiidah saja dia dapat membawa tubuh tiga orang itu sainbil berlari-lari dan berlompatan.

Setelah meletakkan tubuh dua orang saudara Phang ke atas nimput di kebun kelenteng, Beng San lalu cepat niembawa Kwee S(n keluar dari kota raja dengan "kecepatan luar biasa. Setengah malam suntuk dia berlari terus dengan cepat, tidak berani berhenti karena makluni bahwa kehilangan Kwee Sin pasti akan menggegerkan kota raja dan sudah pasti Kim-thouw Thian-li akan mengerahkan anak buahnya melakukan pengejaran

Setelah malam berganti pagi dia sudah berada jauh sekali dari kotci raja dan barulah dia berhenti di dalam sebuah hutan. Kwee Sin diturunkan dan segera dibebaskan dari totokan. Tapi Kwee Sin merasa tubuhnya lemas dan belum kuat berdiri. Dengan amat terheran-heran Kwee Sin melihat bahwa orang yang menculiknya hanyalah seorang pemuda yang berpakaian seperti seorang pelajap. Bukan main kagum dan herannya, apalagi ketika pemuda itu menjura di depannya sambil berkata.

"Harap Kwee-enghiong suka memaaf-kan aku yang secara paksa telah mein^ bawa kau keluar dari kota raja."

"Siapakah kau? Dan apa maksudmu membawaku ke tempat ini?"

Beng San tersenyum. "Agaknya Kwee-enghiong takkan mengenal aku, biarpun aku menyebutkan nama. Aku membawa Kwee-enghiong keluar dari kota raja tak lain dengan maksud membawamu ke Hoa-san-pai. Ketahuilah bahwa hampir saja Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai mengadakan pertempuran hebat di antara ketua mereka, baiknya aku masih sempat mencegah mereka dan aku berjanji akan membawamu ke Hoa-san-pai. Urusan permusuhan antara kedua partai itu semua adalah kau yang menjadi biang ke-ladinya, maka apabila kau dapat mengaku terus terang tentang semua kejadian yang lalu, kukira permusuhan itu dapat dilenyapkan dan akan ternyatalah bahwa sebetulnya bukan kau yang melakukan pembunuhan-pembunuhan terhadap orang-orang Hoa-san-pai."

Kwee Sin makin terheran. "Bagaimana kau bisa tahu akan semua itu? Fihak Hoa-san-pai sudah yakin bahwa aku yang membunuh ayah nona Liem, aku pula yang menyebabkan kematian dua orang dari Hoa-san Sie-eng, kenapa kau bisa katakan bahwa bukan aku yang melaku-kan pembunuhan-pembunuhan?"

"Aku mempunyai teman-teman di Pek-lian-pai dan dari mereka inilah aku mendengar kejadian yang sebenarnya."

"Ah..... jadi kau..... kau ini juga seorang peju..... eh, seorang pemberontak?" tanyanya gagap.

Beng San tersenyum mendengar kata-kata pejuang itu segera diganti pemberontak. "Itulah kesalahanmu, Kwee-enghiong. Kau terpikat oleh Kim-thouw Thian-li dan jatuh di bawah pengaruhnya sehingga kau membantu Kerajaan Mongol, memusuhi para pejuang yang kauanggap pemberontak. Sayang sekali..... sayang seorang gagah seperti kau dapat ter-jerumus sedemikian dalam. Aku bukan seorang anggauta Pek-lian-pai biarpun aku kagum akan perjuangan mereka. Aku melakukan penculikan atas dirimu ini hanya untuk mencegah agar Kun-lun-pai tidak saling serang dengan Hoa-san-pai."

Kwee Sin sudah pulih tenaganya datv» dengan gagah dia berdiri lalu berkata, "Baiklah. Seorang laki-laki harus berani mempertanggungjawabkan kesalahan dan perbuatannya. Marilah, bawa aku ke Hoa-san-pai, biar aku akan menanggung se-mua hukuman yang akan di^atuhkan ke-padaku."

Dua orang ini lalu berjalan menuju ke Hoa-san-pai. Diam-diam Beng San masih mengagumi sikap Kwee Sin dan makin menyesallah dia kalau teringat betapa pendekar Kun-lun-pai ini roboh karena pengaruh kecantikan seorang wanita jahat seperti Ngo-lian-kauw itu.

Di lain fihak, Kwee Sin tiada habis terheran-heran kalau melihat Beng San. Seorang pemuda yang masih hijau, kelihatannya lemah-lembut dan seperti seorang ahli sastra, bagaimana dapat memiliki kepandaian sehebat itu? Apalagi sekarang setelah mereka melakukan perjalanan biasa, pemuda itu sama sekali tidak kelihatan memiliki kepandaian tinggi. Benar-benarkah pemuda ini yang telah menculiknya? Hampir dia tak dapat mempercayainya.

Pada malam ke dua, ketika keduanya bermalam di sebuah hutan, Kwee Sin rnenggunakan kepandaiannya meloncat ke atas pohon besar. "Hiante, hutan ini kelihatannya penuh binatang liar, lebih baik kita bermalam di atas pohon ini Sa|a agar tidak terancam keselamatan kita. Kau naiklah ke sini." la sengaja hendak mencoba kepandaian pemuda yang dia sangsikan itu. Andaikata dugaannya keliru dan ternyata pemuda ini tidak memiliki kepandaian, untuk apa dia harus mengalah dan menerima begitu saja bawa ke Hoa-san?

Beng San tersenyum dan menggeleng kepalanya. "Lebih enak tidur di bawah sini. Kalau Kwee-enghiong ingin tidur di atas pohon, silakan." Setelah berkata demikian, Beng San merebahkan diri bersandar pohon dan tak lama kemudian saking lelahnya, dia sudah tidur pulas.

Kwee Sin penasaran. Benarkah boca^ seperti ini memiliki kepandaian? 3angan-jangan hanya pandai lari cepat saja. Setelah dia mengaso dan mengumpulkan tenaga menjelang fajar dilihatnya Beng San masih tidur enak dl bawah pohon. Kwee Sin lalu mengerahkan tenaganya, menggunakan ginkangnya yang sudah tinggi tingkatnya itu meloncat dari atas " pohoh, jauh ke cabang pohon lain yang berdekatan, lalu dengan cepat tanpa mengeluarkan suara dia berlari terus kembali ke kota raja!

Kurang lebih dua li dia berlari. Tiba-tiba dia berhenti dan memandang terbelalak ke depan. Kiranya di depannya, di tengah jalan itu, Beng San sudah berdiri sambil tersenyum dan menjura.

"Kwee-enghiong, seorang laki-laki sudah berjanji kenapa hendak ditariknya kembali?

Merah muka Kwee Sin. Teranglah tehwa ilmu ginkang pemuda ini jauh lyielebihi tingkatnya sampai-sampai dia tidak tahu bagaimana pemuda itu bisa berada di situ, padahal tadi dia tinggal-kah dalam keadaan pulas! Akan tetapi karena dia merasa penasaran dan me-mang maksud hati yang sesungguhnya untuk Innenguji apakah orang muda ini cukup berharga untuk memaksanya pergi ke Hoa-san, Kwee Sin lalu berseru keras.

"Orang muda, kau memaksaku pergi ke Hoa-san, apakah yang kauandalkan? Sebagai seorang gagah, tentu saja aku takkan menarik kembali kata-kataku bahwa aku berani mempertanggungjawabkan perbuatanku. Akan tetapi aku tidak berjanji untuk menuruti kehendakmu, kecuali kalau kau mampu mengalahkan aku!" Setelah berkata demikian, Kwee Sin mengeluarkan pedangnya yang ternyata masih berada di sarung pedangnya, entah siapa yang menyarungkannya kembali ketika dia dibawa lari oleh pemuda itu.

Beng San agak kaget, tapi lalu maklum. Tentu saja sebagai seorang pendekar, Kwee Sin merasa malu kalau berkunjung ke Hoa-san-pai di bawah paksaan seseorang yang tidak diketahui sampai di mana kepandaiannya.

"Ah, Kwee-enghiong mengapa berkata demikian? Aku memang seorang yang tidak mempunyai kepandaian, akan tetapi demi menjaga keutuhan Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai, aku sudah berjanji akan mencari dan membawamu ke Hoa-san-pai untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu. Andaikata kau hendak menggunakan kekerasan membangkang, terpaksa aku pun melupakan kebodohan sendiri!"

"Bagus! Aku memang hendak nnencoba sampai di mana kepandaianmu maka kau berani hendak memaksa Pek-lek-jiu Kwee Sin sesuka hatimu." Kwee Sin menggerakkan pedang hendak menyerang.

Pada saat itu terdengar suara seorang laki-laki, "Nona, aku tidak ingin bertempur denganmu......" Suara itu diikuti munculnya seorang pemuda yang berlari cepat ke tempat itu. Ketika pemuda im melihat Beng San, segera dia berhenti berlari dan berkata girang.

"Saudara Beng San.....!" Akan tetapi alangkah kagetnya dan girangnya ketika pemuda itu menoleh kearah Kwee Sin. Sejenak dia tertegun, lalu berseru gagap, "Kau..... kau..... Kwee-susiok (paman guru Kwee).....'"

Kwee Sin menunda serangannya dan menoleh. "Eh, bukankah kau Lim Kwi?" Di dalam suara pendekar Kun-lun ini terkandung keharuan dan kedukaan besar. Paman guru dan keponakan ini saling pandang penuh pertanyaan, penuh perasaan haru campur duka bingung tak tahu harus berkata apa. Pada saat itu terdenear seruan seorang wanita.

"Jahanam Bun, hendak lari kemana kau?" Dan muncullah Thio Eng, gadis baju hijau yang berlari cepat me-Sejar Bun Lim Kwi. Begitu sampai disitu. tanpa menoleh lagi kepada orang-orang lain, Thio Eng segera menusukkan pedangnya ke arah dada Bun Lim Kwi. Pemuda ini masih tertegun dalam petemuannya dengan paman gurunya, juga memang dia sudah merasa sedih sekali oleh kejaran Thio Eng, maka agaknya tusukan pedang itu tidak dihiraukannya lagi dan tentu akan mengenai sasaran.

"Traaanggg'." Pedang Thio Eng terpental oleh tangkisan Kwee Sin yang tidak membiarkan murid keponakannya yang dia cinta itu ditikam begitu saja oleh seorang gadis. Berkilat mata Thio Eng ketika dia memandang kepada Kwee Sin, kemudian dia mengerling ke arah Beng San. Kaget dan heran wajah gadis ini ketika mengenal Beng San, akan tetapi hatinya sudah terlalu panas dan marah sehingga dia tidak mempunyai kesempatan lagi untuk menegur Beng San.

"Siapakah kau? Mengapa kau mencampuri urusanku dengan musuhku ini?" Kwee Sin tersenyum mengejek. "Nona cilik, ada urusan boleh diurus, kenapa kau begini galak hendak merenggut nyawa Lim Kwi? Ketahuilah, aku adalah paman gurunya, tak mungkin aku mendiamkannya saja melihat kau hendak membunuh dia."

Sejenak gadis itu tertegun mendengar orang ini mengaku paman guru Bun Lim Kwi, lalu matanya bersinar-sinar. "Bagus.....!" la menoleh kepada Beng San lalu berkata, "Tan-koko (kakak Tan), bukankah dia ini Kwee Sin? Dan mengapa kau berada di sini pula?"

"Adik Eng, aku..... aku hendak mengundang dia ke Hoa-san-pai."

Gadis itu teringat akan janji Beng San kepada ketua Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai, lalu katanya gemas, "Kurasa tidak baik kau berdekatan dengan paman dan keponakan jahat ini. Mereka bukanlah orang baik. Kwee Sin ini pun bukan manusia baik-baik. Lebih baik kubinasakan sekalian!" Kembali pedangnya ber-kelebat dan sebuah serangan yang amat |g cepat dan ganas nienyambar ke arah Kwee Sin dan Lim Kwi secara beruntun. Hebat sekali serangan ini sehingga Kwee Sin terpaksa mundur sambil menangkis keras. Kembali pedang Thio Eng terpental.

"Adik Eng yang baik, jangan.....'. Jangan terburu nafsu, segala urusan dapat dirunding! Urusanmu dengan saudara Bu Lim Kwi tentu diketahui baik oleh Kwee-enghiong ini, lebih baik kita mendengarkan keterangannya."

"Benar," kata Kwee Sin. "Nona, kata-kanlah dulu mengapa kau mati-matian berusaha hendak membunuh keponakanku Lim Kwi? Apakah dosanya? Coba kau jelaskan, tentu aku akan mempertimbankan baik-baik. Kalau memang ada yang bersalah, dia harus siap menerima hukuman."

Thio Eng tersenyum dingin mengejek, seakan-akan sinar matanya berkata, "Seorang seperti kau mana memiliki pertimbangan yang adil?" Akan tetapi mulutnya berkata, "Hemmm, ingin benar aku mendengar bagaimana pertimbangan kali-an yang sudah mencelakakan hidupku. Ayahku dibunuh oleh duaorang saudarai Bun murid Kun-lun-pai, yaitu ayah dan paman jahanam Bun Lim Kwi ini, apakah sudah tidak adil kalau akii sekarang hendak membalas dendam kepadanya untuk menebus dosa ayah dan pamannya itu? Kau sebagai paman gurunya, tentu akan membelanya, akan tetapi aku Thio Eng tidak takut mati dci.lam usaha membalas dendam ayahku!'

Kwee Sin mengerutkan kening. "Kau she Thio? Siapakah .nama ayahmu? Apakah Thio San?"

Di dalam kemarahannya, makin yakinlah Thio Eng bahwa musuh-musuhnya memang dua orang yang berdiri di depannya ini. "Betul, Thio San ayahku yang terbunuh oleh dua orang saudara keparat Bun dari Kun-lun-pai dalam sebuah hutan." Kwee Sin tiba-tiba menjadi muram wajahnya. Teringat dia akan peristiwa itu, kurang lebih sepuluh tahun yang lat ketika dia bertempur melawan Thio San, kemudian tiba-tiba muncul Coa Kim Li yang menurunkan tangan jahat membunuh Thio San. "Ah, salah..... kau keliru me-nyangka, Nona..... kau begitu yakin bahwa ayah Lim Kwi yang membunuh ayahmu, apakah kau melihatnya sendiri pembunuhan itu?"

Dalam pandang mata Thio Eng mulai tampak sinar keraguan. "Aku..... aku mendapatkan ayah telah menggeletak mati dalam hutan, aku menangisi dan..... dan aku melihat pula dua orang saudara Bun di hutan itu, kukira..... siapa lagi yang membunuh ayah? Orang she Kwee, aku takkan percaya begitu saja pembelaanmu terhadap para suhengmu, ke-cuali kalau kau mengatakan siapa pembunuh ayahku. Apakah kau tahu siapa orangnya yang membunuh ayahku?"

Kwee Sin mengangguk. "Tentu saja aku tahu....." la menarik napas dan wajahnya kelihatan berduka sekali. "Semua salahku..... ah, betapa besar dosaku, semua gara-garaku....."

Wajah Thio Eng yang cantlk itu nam-pak beringas. "Bagus, jadi kau yang me-nyebabkan kematian ayahku? Nah, terimalah pembalasanku!" Thio Eng menyerang lagi. Kali ini Kwee Sin tidak menangkis hanya mengelak ke kanan.

"Adik Eng, jangan begitu. Biarkan dia memberi penjelasan dulu." Beng San ber-lari mendekati Thio Eng dan memegang lengan gadis itu. Thio Eng hanya mendengus, akan tetapi tidak melanjutkan serangannya dan menanti Kwee Sin memberi penjelasan.

"Dengarlah baik-baik ceritaku» sembilan sepuluh tahun yang la!u.....".

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…