Skip to main content

raja-pedang-36-kho-ping-hoo

Sementara itu, Thio Ki tergesa-gesa menuju ke tempat duduk Kwa Hong, se-telah menengok ke kanan kiri dengan hati-hati, pemuda ini segera menjatuhkan diri berlutut di depan Kwa Hong! Gadis itu membelalakkan kedua matanya me-mandang pemuda yang tak mengucapkan sepatah pun kata di depannya itu.



 



"Eh, eh...... apa-apa kau in». Ki-ko (Kakak Ki)?"



 



"Kwa Hong-moi, jangan kau menyiksa hati kami kakak beradik yang sudah tak berayah lagi."



 



Kwa .Hong mengerutkan keningnya. Aihhh..... apa maksudmu, Ki-ko? Apakah kesalahanku terhadap kau atau terhadap enci Bwee?"



 



Dengan niuka rnembayangkan kekeras-an hatinya, biarpun dia sedang berlutut, Thio Ki memandang tajam kepada gadis itu. "Kau tahu betapa aku mencintamu dan bahwa Kwa-supek juga sudah setuju akan pei-jodohan antara kan dan aku. Dan kau pun tahu bahwa adikku Bwee-moi mencinta Lok-te (adik Lok)."



 



Kwa Hong tersenyum mengejek, keningnya masih berkerut. "Hemmm, habis mengapa? Suaranya penuh tantangan.



 



"Janganlah kau merusak hatiku dafl hati adikku dengan bermain cinta dengan Kui Lok."



 



Kwa Hong menjadi marah, berdiri dan membanting kakinya. Agaknya kebiasaan di waktu kecil ini, yaitu membanting kaki kalau marah, masih melekat pada diri Kwa Hong. "Ah, enci Bwee setelah tak tahu malu mengintai orang, lalu lari merengek-rengek kepadamu minta bantuan?"



 



''Thio Ki juga bangun berdiri, meng-hadapi gadis itu. Sikapnya keras akan tetapi suaranya menganduhg kasih sayang, "Hong-moi, adikku sudah tak berayah lagi, aku sebagai kakaknya menjadi peng-ganti ayah."



 



"Hemmm, apa saja yang ia ceritakan padamu?"



 



"la melihat Kui Lok menyatakan cinta-nya kepadamu di sini. Betulkah itu? Ingatlah, Hong-moi. Aku mencintamu sepenuh jiwaku dan adikku mencinta Kui Lok dengan sepenuh hatinya pula. Bukan-kah sudah tepat sekali kalau di antara kita cucu murid Hoa-san-pai terjalin ikatan ini? Kau dengan aku dan Kui Lok dengan adik Bwee? Bukankah ikatan ini akan mefnperkuat kedudukan Hoa-san-pai yang selalu diganggu musuh?"



 



"Ki-ko! Enak saja kau bicara. Urusan perjodohan mana ada aturannya main paksa? Kalian semua goblok dan yang dipikir hanya urusan asmara saja. Aku..... seujung rambut pun tak pernah memikir-kan urusan itu. Aku lebih suka menrukir-kan pembasmian musuh-musuh besar kita. Cih, sungguh tidak tahu pribudr kalian bertiga!"



"Hong-moi..... katakanlah sejujurnya..... apakah kau mencinta Lok-te?"



"Kalau aku mencinta siapapun juga, kau dan semua orang peduli apa?" Kwa Hong membentak dengan kedua pipi nie-rah dan dua titik air mata membasahi pipinya itu. "Akan tetapi aku tidak men-cinta siapa-siapa! Lok-ko boleh datang di sini seperti gila menyatakan cinta, apa-kah itu salahku? Aku sendiri tidak men-cinta siapa-siapa, kau pun tidak, Lok-ko pun tidak. Nah, jelaskah sekarang?"



Thio Ki menjadi agak pucat mukanya. "Begitukah? jadi kalau begitu, Kui Lok yang merusakkan semua ini. Aku harus mencarinya memberi hajaran kepadanya!" Dengan sigap Thio Ki membalikkan tubuh dan pergi dari situ meninggalkan Kwa Hong.



 



Untuk beberapa saat Kwa Hong ber-diri melongo, matanya bergerak liar dan mukanya menjadi agak pucat, kemudian gadis ini pun berlari meninggalkan taman bunga. Tinggal Beng San yang kini ter-menung seorang diri di atas pohon. la masih merasakan ketegangan semua yang telah dia dengar dan lihat dari tempat persembunyiannya. Hebat, pikirnya. Urus-an orang-orang muda ini bisa mengakibat-kan hal yang amat heba-t! Mengingat akan sikap Thio Ki yang keras hati itu, mudah diduga bahwa tentu akan terjadi pertempuran antara saudara seperguruan sendirl, antara Thio Ki dan Kui Lok yang secara kasarnya memperebutkan Kwa Hong! Masih ada kemungkinan buruk lagi, yaitu bukan hal yang aneh kalau Thio Bwee memusuhi Kwa Hong pula karena dianggap merampas laki-laki yang di-cintainya. Berkali-kali Beng San menarik napas panjang dan berkata kepada diri sendiri.



 



"Nah, kau tahu sekarang? Hatimu mudah tertarik wajah cantik. Baru saja turun gunung sudah terpikat oleh gadis yang bernama Eng itu, sekarang melihat Kwa Hong dan Thio Bwee hatimu ber-debar dan amat tertarik. Kaulihat ke-sengsaraan mereka itu? Lihat Thio Ki dan Kui Lok, dua orang muda gagah perkasa, tidak kekurangan sesuatu, se-karang sebagai saudara seperguruan rrien-jadi saling bermusuhan. Gara-gara hati lemah menghadapi wajah cantik."



 



Akan tetapi perhatiannya segera ter-tarik oleh bergeraknya daun-daun di pohon-pohon. Pergerakan bukan oleh me-niupnya angin biasa, melainkan tiupan angin yang ditimbulkan oleh kepandaian seseorang yang bergerak cepat sekalj, nnelintas tak jauh dari depannya. Sekali lagi dia dikejutkan oleh kepandaian yang tinggi dari orang baru ini. Ah, sudah banyak dia melihat orang-orang muda berkepandaian tinggi. Pertama kali nona Eng, kedua kalinya orang muda yang sekarang lewat ini. la juga karena me-rasa pernah melihat orang muda ini, entah di mana. Seorang pemuda yang bertubuh kecil berwajah tampan sekali, kulit mukanya pucat putih, pakaiannya kuning. Muka yang pucat itu, mata yang selalu memandang rendah, mulnt yang tak pernah berhenti tersenyum lebar, angkuh dan sombong. Di rriana dia pernah melihat orang ini?



 



Dengan hati penuh kecurigaan, Beng San lalu melesat, diam-diani mengikuti bayangan orang itu yang berlari cepat ke depan. la nnengikuti terus orang muda yang berjalan cepat itu, setelah keluar dari taman lalu membelok ke kanan dan menuju ke sebuah lereng yang sunyi. Lereng ini indah sekali, penuh dengan padang rumput menghijau dan di sana-sini terdapat pohon yang kembangnya berwarna kuning dan merah. Inilah sebuah taman alam yang luas dan sunyi, bagi Beng San bahkan lebih indah dari-pada taman bunga yang baru ditinggal-kannya tadi. Dengan hati-hati dia terus mengikuti orang itu. Di tempat yang agak terbuka ini ia harus berhati-hati karena yang diikuti adalah orang yang berkepandaian tinggi. Ia mengikuti dari jauh dan terpaksa berhenti untuk menyelinap di belakang pohon apabila yang dnkutinya itu melintasi tempat yang terbuka. Akhirnya dia melihat orang itu ber-hentidi tempat yang penuh pohon kembang dan orang itu mengintai. Beng San cepat menyelinap mendekati dan kini dia pun dapat melihat apa yang diintai oleh pe-muda yang di depannya itu.



 



Ternyata bahwa Thio Bwee, gadis yang tadi mendengarkan percakapan an-tara Kui Lok dan Kwa Hong, duduk di atas sebuah batu besar hitam di tempat sunyi itu da.i menangis terisak-isak de-ngan amat sedihnya. Beng San menjadi terharu juga. la telah mengenal thio Bwee ketika kecil, malah pernah dia menggendong Thio Bwee dan Kwa Hong ketika terculik oleh orang jahat. la mak-lum sedalamnya apa yang dirisaukan oleh hati gadis muda itu. Siapa orangnya tak-kan merasa sedih dan malu kalau me-lihat laki-laki yang dicintainya berlutut memoho'n cinta kasih seorang gadis lain?



 



"Nona yang baik, harap kau jangan menangis, jangan bersedih. Dunia bukan hanya setelapak tangan lebarnya dan .tidak kurang banyaknya pria yang baik dan setia, lebih baik dari orang she Ku itu....."



 



Mendengar suara ini, tangis Thio Bwee makin menjadi, akan tetapi tiba-tiba gadis itu mengangkat muka dengan ka-get, memandang pemuda yang sudah muncul di depannya. Ia meloncat berdiri dan menudingkan telunjuknya ke muka orang sannbil membentak.



 



"Siapa kau.....? Kurang ajar, berani lancang mulut? Pergi dari sini!" la mengusir pemuda tampan yang bermuka pucat dan tersenyum-senyum itu.



 



"Kita orang segolongan, Nona Thio, jangan kau menyangka yang bukan-bukan. Aku pun bukan orang sembarangan. Kalau kau adalah cucu murid Hoa-san-pai, aku pun murid seorang sakti. Namaku Giam Kin, dan nama guruku kiranya tak kalah besarnya oleh nama kakek gurumu, Lian Bu Tojin." Pemuda tampan pucat itu berkata sambil tersenyum memikat. "Aku datang dengan hati suci, tidak bermaksud jahat, hanya kasihan melihat nasibmu dan ingin menghibur hatimu, nona rnanis. Percayalah, aku akan men-jadi sahabat yang lebih baik dan lebih setia dalam cinta daripada Kui Lok....."



 



"Tutup mulut! Pergi kau dari sini, kalau tidak jangan anggap aku keterlaluan. Daerah ini termasuk wilayah ke-kuasaan kami dari Hoa-san-pai, kau masuk tanpa ijin. Pergilah sebelum pedangku bicara!" Mendadak Thio Bwee ber-sikap gagah dan dengan gerakan yang sebat sekali tahu-tahu pedangnya telah terhunus dan berada di tangan kanannya, sikapnya angkuh dan galak, namun gagah berani.



 



Adapun Beng San yang sejak tadi diam saja, tercengang ketika mendengar pemuda itu menyebutkan namanya. Giam Kin? Pernah dia mendengar nama ini dan pernah pula dia melihat muka yang pucat itu, tapi bila dan di mana? la memandang terus, siap untuk menolong Thio Bwee yang dia duga tentu berada dalam bahaya 'berhadapan dengan pemuda seperti itu. Akan tetapi dia pun ingin me-nyaksikan sampai di mana kepandaian Thio Bwee dan terutama kepandaian pemuda aneh itu.



 



Melihat Thio Bwee menghunus pedang, Giam Kin tertawa mengejek. "Bagus sekali! Memang betapapun cantik jelita-nya seorang dara, dia tidak berharga menjadi sahabat baikku kalau tidak pan-dai mainkan pedang. Nona Thio yang manis, biarlah kita main-main sebentar. Hendak kulihat sampai di mana kelincah-anmu bermain pedang, apakah cocok dengan keindahan wajahmu yang manis itu....."



 



"Keparat, lihat pedang!" Begitu teriak-i keluar dari mulut Thio Bwee segulung sinar putih menyambar ke arah gg dada Giam Kin. Diam-diam Beng San kaget dan kagum juga. Ilmu pedang Hoa-san Kiam-hoat yang dimainkan oleh nona ini betul-betul tak boleh dipandang ringan. Demikian pula agaknya pendapat Giam Kin karena penriuda ini cepat melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik beberapa kali. Setelah terhindar dari ancaman pedang dan dapat berdiri tegak, wajah yang pucat itu kelihatan makin pucat.



.



"Bagus! Kau benar-benar nona manis berkepandaian lihai. Pantas kulayani de-ngan senjata pula!" Sambil berkata demikian pemuda itu meraba pinggangnya dan mengeluarkan sebatang benda yang aneh. Benda ini tak salah lagi tentu sebuah suling karena ada lubang-lubangnya, juga ada tempat peniupnya, akan tetapi bentuknya seperti ular! Giam Kin meniegang di bagian yang runcing, yaitu bagian ekor,,,,,,;.,, ular dengan cara memegang gagang pedang.



 



"Ah, diakah.....??" Beng San tiba-tiba teringat. Terbayanglah dia akan ratusan ekor ular yang datang mengeroyok dia dan Tan Hok ketika seorang bocah bermuka pucat meniup sulingnya. Inilah dia, Giam Kin bocah yang dulu pernah dia pukul, bocah yang mengerikan, pandai memanggil datang ratusan ekor ular ber-bisa. Seketika kebenciannya timbul. Inilah musuh besarnya! Di waktu kecil pun sudah amat jahat, dengan ular-ularnya membunuh para petani kelaparan secara kejam sekali. Apalagi sekarang. Orang macam ini harus menjadi musuhnya. Akan tetapi Beng San tidak mau lancang tu-run tangan. la melihat bahwa Thio Bwee bukanlah seorang yang lemah. Berarti memandang rendah kalau dia turun ta-ngan sekarang. Apalagi, bukankah dia berusaha menyembunyikan kepandaiannya? la dengan tenang menonton pertandingan antara Thio Bwee dan Giann Kin itu, | akan tetapi selalu siap menolong apabila gadis itu terancam bahaya. Betapapun juga dia merasa yakin bahwa tak mung-kin Giam Kin mau mencelakai gadis ini, apalagi membunuhnya. Dari sikapnya tadi 1 jelas bahwa Giam Kin tergila-gila akan kecantikan Thio Bwee, mana dia mau melukai atau membunuhnya?



 



Pedang di tangan Thio Bwee lihai sekali. Gerakannya cepat dan ganas dan 'teringatlah Beng San ketika dia melihat gadis ini di waktu kecilnya sudah mem-perlihatkan bakat ilmu pedangnya. Akan tetapi kalau gadis itu lihai, ternyata Giam Kin lebih lihai lagi. Suling berbentuk ular yang dimainkan sebagai pedang itu benar-benar hebat dan aneh gerakan-gerakannya, penuh dengar gerak tipu yang sukar dijaga. Tidak mengherankan apabila Thio Bwee perlahan-lahan terdesak hebat, terkurung oleh gulungan sinar yang diakibatkan oleh gerakan suling ular. Betul saja dugaan Beng San. Giam Kin tidak bermaksud merobohkan Thio Bwee. Kalau dia kehendaki, kiranya sydah sejak tadi dia dapat merobohkan gadis itu. Sebaliknya, dia hanya main-main dan mulutnya tiada hentinya ter-senyum sambi! mengeluarkan ucapan-ucapan menggoda.



 



"Kaulihat, nona manis. Bukankah aku cukup lihai untuk menjadi sahabat baikmu. Simpanlah pedangmu dan aku Giam Kin bersedia mengaku kalah, bahkan aku suka berlutut asal kau mau menjadi' sa-habat baikku....." Mendengar ini, Beng San diam-diam merasa geli. Alangkah lucunya kalau laki-laki sudah jatuh oleh kecantikan wajah seorang wanita. Lucu dan tidak waras lagi otaknya, patut di-sebut edan! Beng San masih terlalu hijau untuk mengenal watak laki-laki seperti Giam Kin. Dikiranya bahwa Giam Kin juga jatuh hati dan mencinta Thio Bwee, sama sekali tidak tahu bahwa memang pemuda muka pucat itu berwatak mata keranjang dan tentu akan "mencinta" setiap orang wanita yang cantik dan manis, apalagi seperti Thio Bwee!



 



Kalau ucapan Giam Kin itu meng-gelikan hati Beng San, sebaliknya amat memanaskan hati Thio Bwee. Biarpun ia terdesak hebat, gadis ini mengertak gigi-nya, menggenggam gagang pedang dengan lebih erat lalu menyerang nekat sambil membentak.



 



"Murid Hoa-san-pai pantang mengaku kalah sebelum putus lehernya!"



 



Pedang di tangannya meluncur cepat ke depan, tergetar sukar diketahui bagian tubuh lawan yang mana hendak ditusuk-nya, dada ataukah leher. Terkesiap juga Giam Kin menghadapi jurus ini. Inilah jurus Poa-san Kiam-hoat yang disebut jurus Kwan-kong-sia-ciok (Kwan Kong Menahan Batu). Ujung pedang di tangan Thio Bwee tergetar dan agaknya kali ini ia akan berhasil kalau saja tidak meng-hadapi lawan yang demikian lihainya seperti Giam Kin. Sebagaimana telah kita ketahui, Giam Kin adalah murid dari Siauw-ong-kwi, itu orang sakti dan jago-an nomor satu dari daerah utara. Tidak-lah mengherankan apabila Giam Kin rne-miliki iJmu silat yang amat tinggi. Meng-hadapi serangan jurus Kwan-kong-sia-ciok tadi, hanya sedetik dia terkesiap dan kaget, akan tetapi ia segera dapat menenangkan' hatinya dan sempat meng-gulingkan tubuh ke belakang. Tubuhnya menggelundung terus ke sana ke mari seperti seekor binatang trenggiling dan dengan akal seperti ini, jurus Kwan-kong-sia-ciok yang dimainkan Thio Bwee menjadi gagal sama sekali. Tiba-tiba tubuh Giam Kin itu menggelundung ke arah lawannya dan suling ularnya bergerak menyambar-nyambar dari bawah meng-arah kaki Thio Bwee. Serangan dari ba-wah ini berbahaya sekali, terpaksa Thio Bwee harus meloncat-loncat ke atas. Giam Kin tertawa-tawa dan menyerang terus, kadang-kadang menyerang kaki, kadang-kadang meloncat ke atas menyerang pundak. Thio Bwee menjadi ma-kin terdesak dan kewalahan. Jalan satu-satunya baginya hanya mengeluarkan jurus ilmu pedangnya yang khusus untufc, mempertahankan diri, yaitu jurus Tian-mo-po-in (Payung Kilat Sapu Awan). Dengan jurus ini sinar pedangnya ber-kelebatan merupakan segulungan cahaya yang melindungi seluruh tubuhnya.



 



"Ha-ha-ha, nona manis. Mana aku tega memutuskan lehermu? Memutuskan sehelai rambut pun aku tidak mau, apa-lagi lehermu. Lebih baik kita sudahi saja main-main ini dan kau suka menerima aku menjadi sahabatmu, bukanlah itu baik sekali?" Sambil berkata demikian, dengan gerakan aneh sekali suling itu dapat menahan pedang Thio Bwee, dan kedua buah senjata ini saling tempel tak dapat terlepas lagi! Thio Bwee mengerah-kan tenaga dan berusaha membetot pe-dangnya, namun sia-sia, pedangnya se-perti berakar pada senjata lawan. Diam-diam Beng San yang menonton pertempuran ini mengangguk-angguk maklum dan kagum akan kehebatan Iweekang dari pemuda pucat itu.



 



"Ha, nona jelita. Kaulihat, sedangkan senjata-senjata kita begini rukun, saling melekat tak mau lepas. Bukankah baik |g sekali kalau kita meniru mereka......?" kata pula Giam Kin dengan nada suara ceriwis sekali. Tangan kirinya bergerak dari secara kurang ajar dia mengelus-elus lengan kanan Thio Bwee yang berkulit halus!



 



Gadis itu marah, membentak keras dan memukulkan tangan kirinya. Namun ia memang sudah kalah tenaga, begitu mengeluarkan bentakan tiba-tiba pedang-nya terbetot oteh lawan dan terlepas dari tangannya. Betapapun juga, murid Hoa-san-pai ini tidak mau menyerah begitu saja. la menubruk maju mengirim pukulan-pukulan dengan tangan kiri se-dangkan tangan kanannya merampas pe-dangnya kembali. Memang hebat Thio Bwee, dalam keadaan demikian ia masih mampu memperbaiki kedudukannya yang sudah hampir kalah. Kenekatannya ini sama s'ekali tak pernah terduga oleh Giam Kin yang memandang rendah, maka begitu melihat datangnya pukulan-pukulan yang amat berbahaya, terpaksa ia me-langkah mundur dan pedang rampasannya dapat dirampas kembali oleh Thio Bwee.



 



"Pada saat itu berkelebat dua sosok bayangan dan terdengar bentakan.



 



"Siapa berani bermain gila di Hoa-san?"



 



Giam Kin melangkah mundur dua tindak dan mengangkat kepala, tersenyum nakal memandang kepada dua orang yang baru datang. Yang seorang adalah se-orang laki-laki yang gagah perkasa, si-kapnya keren sekali, biarpun sudah lebih empat puluh tahun usianya, namun masih nampak muda dan gagah. Yang seorang wanita, belum tiga puluh tahun, cantik berpakaian sederhana, juga wajah yang cantik ini keren dan berpengaruh. Sekali pandang saja Beng San dengan girang mengenal bahwa laki-laki itu adalah Hoa-san It-kiam Kwa Tin Siong sedangkan yang wanita adalah Kiam-eng-cu Liem Sian Hwa, dua orang dari Hoa-san Sie-eng yang tersohor.



 



Yang tadi membentak adalah Liem Sian Hwa yang terkenal keras wataknya. Sebaliknya Kwa Tin Siong bermata ta-)am, dapat melihat bahwa orang muda itu biarpun mukanya pucat dan terse-nyum-senyum selalu, bukanlah orang sem-barangan.



 



Di lain fihak Giam Kin memperhati-kan dua orang itu, lalu tertawa dan ber-kata seenaknya, "Siapa berani main gila? Tidak ada yang bermain gila kecuali orang-orang Hoa-san-pai sendiri. Suheng-nya gagah perkasa dan tampan, sumoinya cantik jelita dan lihai, benar-benar mengagumkan....." Ia tertawa lagi dan aneh sekali, wajah Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa menjadi merah ketika mereka saling lirik. Kwa Tin Siong maju menghampiri Giam Kin dan berkata.



 



"Sahabat di depan siapakah, dari partai mana dan apa alasannya bermain-main senjata dengan murid keponakanku?"



Kini Giam Kin mengangkat kedua tangan menghormat, namun sikapnya masih penuh sifat main-main dan mengejek. "Aku yang muda bernama Giam. Aku memenuhi pesanan suhu untuk menghadiri ulang tahun Hoa-san-pai dan melihat-lihat. Siapa tahu sampai ci sini belum ada apa-apa. Kebetulan bertemu dengan nona cilik murid Hoa-san-pai, ingin berkenalan secara baik-baik....."



 



Liem Sian Hwa sudah marah sekalt, akan tetapi Kwa Tin Siong memberi tanda dengan kedipan mata, lalu berkata lagi, "Orang muda she Giam, siapakah nama gurumu yang mulia?"



 



"Ha-ha-ha, orang-orang Hoa-san-pai, kalian bermata tajam. Memang guruku orang mulia, kecil-kecil dia masih raja di utara..... ha-ha-ha....."



 



Kalau Liem Sian Hwa menjadi makin mendongkol, adalah Kwa Tin Siong yang menjadi kaget betul. Cepat dia menjura, memberi hormat sambil berkata, "Apakah yang dijuluki orang Siauw-ong-kwi.....?"



 



Giam Kin tersenyum lagi sambil memutar-mutar biji matanya. "Kau juga berani menyebut suhuku Setan Kecil? Awas kau, Hoa-san It-kiam, kalau guruku mendengar kau takkan berkepala lagi!"



 



Kwa Tin Siong tersenyum masam. "Kurasa Siauw-ong-kwi locianpwe takkan berpemandangan sesingkat kau, orang muda. Kau datang terlampau pagi, pe-rayaan akan diadakan sepekan lagi. Ha-rap kau datang pada waktunya dan se-mentara itu harap jangan main-main dan bikin takut kepada anak-anak murid Hoa-san-pai. Bukankah kau datang dengan maksud baik?"



 



"Baik sekali, tentu, maksudku baik sekali. Sayang terlampau pagi, biarlah sepekan kemudian aku datang lagi. Sam-pai berjumpa kembali, nona manis." Giam Kin lalu membalikkan tubuhnya, meniup sulingnya secara aneh. Tiba-tiba Kwa Tin Siong, Liem Sian Hwa, dan Thio Bwee membelalakkan mata saking kagetnya ketika dari mana-mana datang ular-ular besar kecil mengikuti di belakang pemuda aneh itu. Makin lama makin banyak sehingga Giam Kin diikuti puluhan ekor ular seperti bebek-bebek mengikut penggembalanya!



 



"Hebat..... berbahaya sekali dia ....” terpaksa Sian Hwa mengakui.



 



Kwa Tin Siong menarik napas panjang. "Sudah lama aku mendengar nama gurunya, Siauw-ong-kwi. Baru muridnya saja sudah demikian lihai, apalagi guru-nya. Apa sih kehendak Setan Raja Kecil dari utara itu dengan mengirim mundnya ke sini?" Kemudian dia menoleh kepada Thio Bwee yang berdiri dengan muka pucat. "Bwee-ji, kau seorang diri di sini sedang mengerjakan apa? Bagaimana bisa bertempur dengan dia?" Di dalam suara Kwa Tin Siong terkandung kasih sayang dan perhatian, biarpun terdengarnya keren dan galak.



 



"Aku..... aku sedang berlatih, Supek. Dia datang dan bicaranya kurarig ajar, ingin belajar kenal. Aku..... aku lalu menyerangnya."



 



Hemmm, pikir Beng San yang men-dengar jawaban ini. Urusan asmara me-mang runyam! Sampai-sampai Thio Bwee berani membohong kepada supeknya. Se-telah berpikir demikian tubuhnya melesat pergi mengejar Giam Kin yang sudah tidak kelihatan lagi, hanya suara suiing-nya yang aneh itu masih terdengar sayup sampai.



 



Giam Kin berjalan seenaknya sambil meniup suling. Hatinya senang. la telah melihat Kwa Hong dan Thio Bwee. Cantik-cantik dan manis-manis cucu murid Hoa-san-pai, pikirnya. Apalagi Kwa Hong! Tidak rugi aku mewakili suhu ke Hoa-san. Seorang di antara mereka harus ku-dapatkan. Tiba-tiba pemuda ini menunda sulingnya, lalu menari-nari dan berloncat-loncatan di antara ular-ular yang kini menjadi bingung dan lari ke sana ke mari. Anehnya, ular-ular itu yang ter-injak-injak, bahkan ada yang terinjak sampai mati sekalipun, tidak ada yang» berani wnenggigit Giam Kin. Seperti orang gila pemuda tampan bermuka pucat ini nenari-nari dan tertawa-tawa, pasti akan menimbulkan serem dan ngeri pada yang melihatnya. Siapa takkan merasa serem melihat seorang pemuda yang mukanya pucat seperti muka mayat itu menan-nari di antara ular-ular yang buas dan tertawa-tawa seperti setan?



"Giam Kin, kau benar-benar sudah gila!" terdengar suara teguran, suara yang besar dan bergema di seluruh tempat itu.



 



Giam Kin terkejut, menghentikan tariannya dan menengok ke arah suara. Matanya terbelalak kaget dan mulutnya ternganga ketika dia melihat seorang laki-laki berdiri tak jauh dari situ dengan kedua kaki terpentang lebar dan kedua tangan bertolak pinggang, Yang membuat dia kaget setengah mati adalah muka orang itu, muka yang hitam seperti pantat kwali, tidak kelihatan apa-apanya kecuali sepasang matanya yang tajam seperti mata iblis!



 



"Ssseeeee.... tan,,,, kau, setan....." Giam Kin tergagap.



 



Laki-laki itu tertawa. "Kau dan perkatanmu yang patut disebut setan!"



 



Dalam kaget dan gugupnya, Giam Kin lalu meniup sulingnya. Ular-ular yang tadinya kacau-balau, mendadak menjadi marah dan menyerbu ke arah laki-laki bermuka hitam itu. Ular besar kecil, sebagian besar ular-ular berbisa yang amat berbahaya, mendesis-desis dan berlenggak-lenggok menyerbu. Laki-laki muka hitam itu menggerak-gerakkan kedua tangannya ke depan dan..... seperti daun-daun kering disapu ular-ular itu bergulung-gulung menjadi satu dan terlempar ke belakang, seekor pun tidak ada yang dapat mendekatinya! Giam Kin mengeluarkan pekik mengerikan dan tubuhnya melayang ke depan, sekaligus pemuda murid Siauw-ong-kwi ini mengirim serangan maut dengan suling ularnya, berturut-turut menikam leher dan menotok ulu hati.



 



"Heh-heh-heh, bocah nakal dan gila, jangan kau berani lagi mengacau disini." Orang itu berkata perlahan, dengan sekali tangkis saja dia inembuat suling itu menyeleweng dan tubuh Giam Kin terhuyung-huyung. Sebelum Giam sempat mempertahankan diri, tangan kira orang itu melayang dan "plak'." pipi kanan Giam Kin sudah dltamparnya. Giam Kin menjerit, merasa pipinya seperti terbakar dan pada pipi itu tampak jelas membayang bekas jari tangan menghitam! Sambil memaki-maki dan menjerit-jerit Giam Kin lalu meloncat dan lari pergi dari tempat itu tanpa menoleh lagi, diikuti suara ketawa orang bermuka hitam yang menyeramkan tadi.



 



Setelah Giam Kin pergi jauh, muka yang tadinya hitam seperti pantat kwali itu perlahan-lahan berubah menjadi putih dan biasa kembal. Beng San tersenyum seorang diri. la tadi memang sengaja menggunakan hawa dalam tubuhnya yang mengandung Yang-kang untuk mendatangkan warna hitam pada mukanya agar tidak dikenal oleh Giam Kin dan sengaja dia menakut-nakuti pemuda edan itu agar tidak berani lagi mengganggu Thio Bwee. Setelah melihat Giam Kin pergi, diapun meloncat dan tubuhnya melesat ke arah puncak Hoa-san.



 



Di lain bagian dari puncak itu,dua orang pemuda saling berhadapan dengan muka merah. Mereka ini adalah Thio Ki dan Kui Lok. Thio Ki yang memiliki wa-tak keras hati itu setelah pertemuannya dengan Kwa Hong di dalam taman, lang-sung mengejar dan mencari Kui Lok. Dua orang jago muda Hoa-san-pai ini sekarang berhadapan muka di tempat sunyi, sikap mereka mengancam.



 



"Thio-heng (kakak Thio), apakah ke-.perluanmu mencari aku ke sini hanya untuk menegur yang bukan-bukan itu?" Kui Lok bertanya dengan nada suara penuh ejekan.



 



"Sudah tentu!" jawab thio Ki marah. "Kui-te (adik Kui), kita masih terhitung saudara seperguruan dan karena aku lebih tua, maka sudah sepatutnya kalau aku yang memberi peringatan apabila kau menyeleweng daripada kebenaran! Sung-guh tak patut apabila kau mencoba un-tuk membujuk dan menggoda hati Hong-moi, tak pantas sekali hal ini dilakukan oleh seorang murid Hoa-san-pai!"



 



Kui Lok tersenyum mengejek, sengaja tertawa masam. "Heh-heh-heh, bagus sekali ucapanmu, Suhengl Di dunia mi, mana ada orang berhak melarangku ber-sikap manis kepada Hong-moi? Ha-ha-ha, kau sendiri pun selalu bermuka-muka dan bersikap manis bukan main terhadap Kwa Hong. Mengapa aku tidak boleh' ^ Kui Lok menantang.



 



"Aku lain?" bentak Thio Ki. "Aku cinta kepadanya dan..... dan..... Kwa" supek agaknya setuju kalau aku beriodoh dengan Hong-moi'"



 



Kui Lok tertawa mengejek. Apa hanya engkau seorang di dunia .ini yang boleh mencinta? Tentang persetujuan Kwa-supek, hemmm..... kita lihat dulu nanti, Suheng. Kurasa Hong-moi sendiri belum tentu setuju, dan kau belum bertunangan secara resmi."



 



Thio Ki yang berwatak keras itu tak dapat lagi mengendalikan kemarahan hatinya yang dibangkitkan oleh rasa cemburu, "Kui Lok! Pendeknya mulai sekorang aku melarang kau mengaku mencinta Hong-moi, kularang kau bersikap terlalu manis!"



 



Kui Lok adalah seorang anak yang biasanya nakal dan gembira. Akan tetapi dalam persoalan ini dia pun tidak mau mengalah dan sudah menjadi marah. "Thio-heng, kau keterlaluan sekali. Ada hak apakah kau melarang aku? Kau ada-lah suheng dari Hong-moi, aku pun demi-kian. Harapan kita masih setengah-setengah. Marilah kita berlumba secara jujur, siapa yang akhirnya bisa menjatuhkan hati Hong-moi, dialah yang ber-untung. Kenapa kau bersikap begini kasar dan hendak main menang sendiri?"

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…