Skip to main content

raja-pedang-31-kho-ping-hoo

"Aku mengerti pendirianmu, Beng San. Tidak, pertolongan yang kubutuhkan dari-mu ini lebih bersifat pribadi. Ketahuilah, aku telah diserahi tligas yang amat pen-ting oleh pemimpin kami, Ciu Goan Ciang taihiap. Dan sekarang, selagi aku bingung bagaimana akan dapat melakukan tugas «ini dengan sempurna, aku bertemu dengan kau. Hatiku yakin bahwa hanya kau seoranglah yang tepat untuk melaksanakan tugas ini."



 



Berdebar hati Beng San. Tugas dari pemimpin besar Ciu Goan Ciang? Bukan main! la merasa terhormat dan bangga sekali. Akan tetapi mukanya yang tampan tidak membayangkan sesuatu.



 



"Pendekar besar Ciu Goan Ciang merasa amat menyesal dengan adanya gon tok-gontokan antara Hoa-san-pai dar Kun-lun-pai. la pun maklum apa yang menyebabkan permusuhan antara du golongan itu, bukan tain adalah karer siasat pemerintah Mongol yang mempe' gunakan Ngo-lian-kauw. Bulan depan Hoa-san-pai diadakan pesta perayaan har ulang tahun ke seratus dari Hoa-san pai. Tentu banyak sekali tokoh-tokoh besar dunia kang-ouw hadir. Menurut penyelidikan Pek-lian-pai, pada kesempat-an ini Kun-lun-pai akan datang lagi untuk membuat perhitungan. Karena permusuhan itu berlarut-larut, muncul sahabat-sahabat dan musuh-musuh baru bagi kedua fihak. Ada golongan-golongan yang membantu Hoa-san-pai, sebaliknya banyak pula yang pro kepada Kun-lun-pai. Dapat diramalkan bahwa akan terjadi sesuatu yang hebat di puncak Hoa-san nanti. Nah, pemimpin kami tidak setuju dengan adanya perpecahan di kalangan kita sendiri, maka dia mempercayakan kepadaku untuk berusaha mendamaikan mereka. Aku membawa surat bagi kedua ketua perkumpulan Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai. Akan tetapi, mudah saja diduga bahwa di dalam pertemuan besar itu, pasti di sana akan penuh dengan orang-orang fihak Ngo-lian-kauw dan fihak pemerintah pasti akan menyebar mata-matanya. Aku, sedikit banyak, sudah terkenal di antara mereka, maka pasti mereka itu akan menghalangiku sebelum aku sempat melakukan sesuatu untuk mendamaikan Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai. Juga orang-orangku sebagian besar sudah dikenal. Karena itu, Adik Beng San, kaulah orangnya yang paling tepat untuk mewakiliku melakukan tugas ini. Sanggupkah kau?"



 



Beng San mengangguk-angguk. Tugas itu adalah tugas mulia. Tugas mencegah perpecahan antara bangsa sendiri, antara kedua partai besar yang memiliki nama harum. Apalagi kalau diingat bahwa di li dalam Hoa-san-pai terdapat orang-orang yang di waktu kecil sudah dia kenal baik, terutama Kwa Hong. Adapun di fihak Kun-lun-pai terdapat cucu murid yang dia harus bela, yaitu Bun Lim Kwi putera mendiang Bun Si Teng yang sudah meninggalkan pesan terakhir kepadanya dan yang harus ia hormati.



"Baiklah, Twako. Aku akan berusaha melakukan tugasmu itu sebaiknya."



 



Tan Hok nampak girang sekali, akan tetapi tiba-tiba Beng San menggunakan kedua kakinya menginjak lampu merah yang diletakkan di tanah. Lampu seketika padam. Terdengar jerit kesakit'an dan robohnya tubuh orang-orang tak jauh dari siiu. Disusul pula mendesingnya senjata-senjata rahasia yang menghujani tempat perundingan ini.



 



Tan Hok sudah cepat memberi aba-aba kepada kawan-kawannya. Senjata dicabut dan mereka melesat ke kanan kiri mencari berkelebat bayangan putih yang makin lama makin banyak sekali. Kiranya tempat itu sudah dikurung, puluhan orang banyaknya yang mengurung. Beberapa orang anggauta Pek-lian-pai yang bertugas menjaga di ivaf tadi sudah dirobohkan musuh.



 



"Pemberontak-pemberontak Pek-lian-pai, lebih baik kalian menyerah!" terdengar bentakan kasar seorang yang ber-tubuh tinggi besar. Tan Hok melihat orang ini lalu meloncat dari tempat per-sembunyiannya dan di lain saat dua orang yang sama-sama tinggi besar tubuhnya telah berperang tanding dengan hebatnya. Bunga api muncrat berhamburan ketika pedang di tangan Tan Hok bertemu de-ngan golok law.annya itu. Agaknya ke-duanya adalah ahli-ahli gwakang yang memiliki tenaga seperti kerbau jantan kuatnya. Nyaring bunyi pertemuan senjata itu dan kedua orang raksasa inl merasa betapa telapak tangan mereka pedas dan sakit.



 



Beng San yang masih duduk di tempat tadi karena tiba-tiba semua anggauta Pek-lian-pai sudah menghilang, melihat empat orang lain maju dari belakang Tan Hok, siap dengan rantai-rantai besi dan rupa-rupanya hendak menawan Tan Hok dalam keadaan hidup. Sekali menggerak-kan kakinya pemuda ini telah melesat ke depan. Kaki tangannya bekerja seperti kilat dan tanpa mengerti mengapa, em-pat orang itu sudah terlempar dan terjengkang ke belakang tanpa dapat bangun lagi karena kaki tangan mereka patah tulangnya! Setelah melihat bahwa para penyerang yang datang menyerbu itu adalah pengemis-pengemis dibantu oleh serdadu Mongol, tahulah Beng San bahwa dia harus membantu para anggauta Pek-lian-pai. Tubuhnya bergerak ke sana ke mari untuk membantu teman-temannya yang terdesak. Untuk sementara ia meninggalkan Tan Hok karena dari gerakan raksasa itu menghadapi lawannya, dia maklum bahwa Tan Hok akan dapat menang. la lebih mementingkan membantu mereka yang terdesak.



 



Akan tetapi segera dia mendapat kenyataan betapa sla-sia kalau melakukan perlawanan secara nekat. Jumlah lawan amat banyak, ada puluhan orang, malah mungkin tidak kurang dari seratus orang. Sedangkan di fihak Pek-lian-pai hanya ada tujuh belas orang termasuk dia sen-diri. Dan pertandingan dilakukan di da-lam gelap, kacau-balau! Memang dengan amat mudahnya Beng San dapat me-robohkan belasan orang lawan tanpa membunuh mereka yang merupakan pantangan baginya, akan tetapi juga di antara para anggauta Pek-lian-pai, sedikitnya sudah roboh lima enam orang.



 



Sementara itu, tepat seperti yang di-duga oleh Beng San, Tan Hok dapat men-desak lawannya. Pada suatu saat, ketika lawannya sudah terdesak hebat, perwira Mongol itu secara nekat tanpa mem-pedulikan datangnya hantaman dari tangan kiri Tan Hok, membacok pundak Tan Hok sekuat tenaga dengan goloknya. Andaikata Tan Hok melanjutkan pukulan-nya yang pasti mengenai dada lawan, tak dapat dicegah lagi golok itu pasti akan membabat putus pundaknya. Tan Hok tentu saja tidak mau menukarkan pundaknya dengan sebuah pukulannya, cepat dia menarik tangan kiri dan menggerakkan pedang sekuat tenaga menangkis.



 



 



 



 



"Krakkk!" Dua senjata itu bertemu, api berbunga berhamburan dan kcdua senjata itu patah! Sambil menggeram marah kedua orang yang bertubuh rak-sasa ini melempar gagang senjata ke bawah, lalu melanjutkan perkelahian mereka mempergunakan sepasang kepalan tangan yang sebesar kepala orang beri-ku.ti sepasang kaki yang kokoh kuat. Hebat sekali pertandingan ini. Terdengar suara bak-bik-buk ketika kepalan-kepalan itu mengenai sasaran, namun keduanya ternyata amat kuat tubuhnya, tidak roboh oleh pukulan, hanya terengah-engah dan mendesis-desis, memaki-maki. Akhirnya, dengan sebuah tendangan yang tepat mengenai lambung lawan, disusul dua kali pukulan pada leher dan uiu hati, Tan Hok berhasil membuat lawannya roboh berdebuk scperti pohon tumbang.



 



Tiba-tiba berkelebat bayangan yang gesit sekali ke arah Tan Hok. Pernuda raksasa ini mengangkat tangan kanan menangkis datangnya pukulan yang amat kuat dan cepat, namun lebih cepat lagi pukulan itu ditarik kembali dan sebuah pukulan lain secara gelap telah meng-hantamnya dari samping, tepat mengenai rusuknya. Tan Hok mengeluh dan roboh tergelimpang, muntah-muntah darah!



 



Beng San mendengar keluhan Tan Hok, cepat melompat mendekati. Kaget melihat temannya itu sudah roboh terlentang. Segera dia mengempit tubuh yang tinggi besar itu dengan tangan kirinya.



 



"Saudara-saudara, lari.....!" serunya. Cepat dengan suara yang annat nyaring sehingga mengagetkan kedua fihak yang bertempur. Para anggauta Pek-lian-pai yang hanya tinggal beberapa orang dan mempertahankan diri dengan gigih datl nekat, melihat Tan Hok sudah roboh, men^atlt kendor semangatnya. Apalagit ketika mendengar seruan Beng San, me-reka lalu mencari kesempatan untuk ffipndur. Beng San sendiri mengamuk.



 



Dengan sebelah tangan menghadapi puluhan orang lawan, tangan kiri mengempit tubuh Tan Hok, dia menahan serbuan orang-orang itu yang hendak mengejar larinya sisa anggauta Pek-lian-pai. Tak lama kemudian setelah melihat bahwa di situ tidak ada lagi anggauta Pek-lian-pai, Beng San lalu meloncat ke belakang dan dengan beberapa loncatan lagi dia telah dapat meninggalkan semua pengeroyoknya. Cepat dia berlari ke da-lam hutan, menyelinap di antara pohon-pohon besar dan gelap.



 



Tiba-tiba dari balik pohon muncul bayangan orang yang bertubuh langsing. Tanpa berkata apa-apa orang itu melayangkan pukulan ke arah Beng San. Pukulan yang dilakukan perlahan saja, namun memiliki kecepatan dan kekuatan yang amat hebat. Terkejnt juga Beng San ketika merasa betapa angin pukulan ini tajam bagaikan mata pedang, maka maklumlah dia bahwa dia berhadapan dengan seorang lawan tangguh. Namun, dia merasa bukan waktunya untuk melakukan pertandingan. Luka Tan Hok harus diperiksa dan diobati, apalagi dengan mengempit tubuh Tan Hok, biarpun dia tidak takut menghadapi lawan itu, akan tetapi amat berbahaya bagi keselamatan Tan Hok sendiri. la mengerahkan tenaga di lengan kanan lalu menangkis pukulan itu.



 



 



 



Penyerang itu mengeluarkan seruan kaget, juga Beng San karena pemuda ini merasa betapa lengannya bertemu dengan tenaga yang lunak halus dan mengandung hawa rfiujijat, membuat lengannya ter-getar. Sementara itu, orang tadi sudah menyerang lagi dengan dua kali pukulan. Kembali Beng San menangkis, kini dia menggabung tenaga Im dan Yang di tu-buhnya sehingga keadaan lengannya dijalari tenaga yang tiada bandingnya. Penyerangnya terpental ke belakang, mengeluarkan seruan tertahan lalu me-lesat pergi, lenyap ditelan kegelapan malam. Beng San tidak peduli, hanya sedetik dia mengenal potongan tubuh orang itu. Tak salah lagi, penyerangnya adalah orang yang dia lihat bayangannya malam tadi ketika dia mencari tempat persembunyian Tan Hok. Dan lengan itu begitu halus dan lunak. Hanya ada dua macam keterangan untuk ini, pertama, pemilik lengan itu seorang laki-laki yang sudah memiliki Iweekang yang amat tinggi, ke dua, pemilik lengan itu adalah seorang wanita!



 



Menjelang fajar dia berhenti dan menurunkan tubuh Tan Hok diatas rumput. la memeriksa luka pada tulang rusuk setelah membuka baju pemuda raksasa itu. Beng San mengerutkan kening. "Ke-jam....." katanya perlahan. Dua batang tulang rusuk patah dan kulitnya menghitam. la maklum bahwa hawa pukulan yang melukai Tan Hok mengandung tenaga Yang. Cepat dia menempelkan telapak tangan kirinya ke tulang rusuk yang sebelah lagi, mengerahkan tenaga Im di tubuhnya dan dengan cara menyalurkan hawa di dalam tubuh, dia mengobati luka Tan Hok. Tentu saja tidak dapat sekaligus sembuh, akan tetapi sejam kemudian dia merasa yakin bahwa Tan Hok tertolong nyawanya. Racun hawa pukulan telah dia basmi dengan tenaga Im tadi.



 



Tan Hok menReluh, membuka mata. Ketika melihat Beng San di sisinya, dia tersenyum!



 



"Kau hebat, Adik Beng San..... sudah kuduga..... kau lihai sekali....."



 



"Kau yang hebat, Twako. Dua tulang rusukmu patah, masih bisa tersenyum," kata Beng San, benar-benar bangga dan kagum. Bangga karena Tan Hok adalah seorang yang sama nama keturunannya dengan dia. Bukankah dia, seingatnya, juga bernama keluarga Tan? Pantas saja dia dahulu begitu bertemu sudah merasa amat suka kepada Tan Hok dan sekarang dia merasa bangga mempunyai sahabat satu nama keturunan, yang demikian gagahnya.



 



Sambil meringis menahan rasa nyeri Tan Hok menggerakkan tangannya merogoh saku, mengeluarkan dua lipat kertas. "Inilah dua surat itu, satu untuk ketua Hoa-san-pai, satu untuk ketua Kun-lun-pai. Lekas, adikku, pergilah kau ke Hoa-san, hadiri perayaan itu dan beri-kan ini kepada mereka. Jaga agar jangan sampai terjadi pertandingan hebat....."



 



"Tapi kau...., Twako.....?"



 



"Aku tidak apa-apa, kurasa tidak terluka sebelah dalam. Tidak rrierasa apa-apa, hanya tulang rusuk, mudah..... yang penting adalah kehadiranmu di sana dan surat-surat ini."



 



"Baiklah, Twako," kata Beng San menerima surat-surat itu dan menyimpannya, "jaga baik-baik dirimu. Aku akan pergi ke Hoa-san, bukan sebagai seorang Pek-lian-pai, tapi....."



 



"Hal itu bukan soal yang penting asal kau bisa mencegah agar kedua partai itu tidak saling bermusuhan, dapat insyaf dan kalau mungkin membantu perjuangan kita."



 



Setelah memesan banyak-banyak, ke-dua orang sahabat itu berpisah. Tan Hok yang gagah perkasa itu biarpun menang-gung nyeri hebat, masih dapat berjalan ccpat untuk menjauhkan diri dari bahaya pengejaran pasukan Mongol. Adapun Beng San juga cepat menuju ke Hoa-san. la ingin datang di Hoa-san sebelum perayaan hari ulang tahun diadakan. Terus terang saja dia ingin sekali bertemu dengan "anak-anak" itu, terutama sekali si "kuntilanak"!


 



* * *

Comments

Popular posts from this blog

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…