Skip to main content

Raja Pedang 23 (Kho Ping Hoo)


Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang adalah seorang cakti, akan tetapi dia amat jujur dan mudah sekali dihasut atau dibujuk orang. Akhirnya dia bertennu dengan putera pangeran yang bernama Souw Kian Bi ini. Souw Kian Bi yang amat licin dan cerdik segera dapat membujuk Swi Lek Hosiang untuk membantunya. Memang sebelumnya dia sudah mengenal Swi Lek Hosiang yang dahulu adalah seorang sahabat dari pamannya, yaitu Lo-tong Souw Lee. Tentu pembaca masih ingat kepada Lo-tong Souw Lee, pencuri pedang Liong-cu Siang-kiann itu. Memang, Souw Lee bukanlah orang biasa, melain-kan dia juga seorang bangsawan Mongol yang sakti dan yang tidak suka melihat kelakuan bangsanya menindas orang-orang Han. Oleh karena itu Souw Lee mencuri sepasang pedang Liong-cu Siang-kiam dan melarikan diri.







Dalam percakapan ketika keduanya bertemu, Souw Kian Bi dengan cerdik menjanjikan bantuan kepada Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang untuk mencari Souw Lee yang masih terhitung saudara kakek-nya, malah memberi janji bahwa kelak akan memberi kedudukan tinggi kepada Swi Lek Hosiang di depan kaisar. Hwesio yang jujur tetapi kurang cerdik ini masuk dalam perangkap, apalagi ketika dicerita-kan tentang adanya pemberontakan-pem-berontakan yang jahat dan yang mengacau rakyat, hwesio ini serta merta men^anji-kan bantuannya.



Demikianlah sebab-sebabnya mengapa orang sakti ini sekarang berada di dekat Souw Kian Bi untuk membantu pemerintah Mongol menindas para pemberontak. Untuk keperluan ini, Swi Lek Hosiang ikut pergi ke Hoa-san di mana banyak tentara Mongol telah menjadi korban gempuran orang-orang Pek-lian-pai. Thio Eng yang sudah rnenjadi muridnya dia titipkan pada sebuah kelenteng di kota Tiong Kwan.



"Yang berbahaya adalah Lian Bu Tojin," kata Souw Kian Bi sambil mengerling ke arah hwesio yang ma$ih lahap makan daging dan arak itu. "Hoa-san Sie-eng sih mudah untuk menghadapinya, Ketua Hoa-san-pai itulah yang nnembikin khawatir, dia lihai sekali....."



"Hemmm, berapa sih kuatnya Lian Bu Tojin? Tosu bau itu kalau betul memihak pemberontak dan mengacau, biar pinceng (aku) lawannya!" Suara Tai-lek-si Swi Lek Hosiang mengguntur.



"Saya bukan kurang percaya akan ke-pandaian Losuhu, akan tetapi tosu tua itu tak boleh dipandang sebelah mata. Pedang pusakaku sekali bertemu dengan tongkat bambunya patah menjadi dua. Wah, bukan main lihainya dia!" Souw Kian Bi berkata memperlihatkan sikap kekhawatiran besar. Dia cerdik sekali, kata-kata dan sikapnya ini sengaja nnem-bakar hati kakek yang jujur dan polos itu.



"Suruh dia datang! Suruh ketua Hoasan-pai datang! Pinceng hendak melihat sampai dimana kelihaiannya!" Suara hwesio itu makin keras.



Tiba-tiba terdengar suara dari luar kemah, "Tai-lek-sin, tak perlu kau ber-teriak-teriak, pinto (aku) sudah datang!" Suara ini lirih dan halus, akan tetapi terdengar dari dalam seolah-olah yang bicara berada di dalam ruangan itu.



"Nah, itu dia Hoa-san-pai ciangbujin (ketua)," bisik Souw Kian Bi, kini berar-benar dia ketakutan karena orang sudah bisa berada di luar kemah tanpa diketahui para penjaga, itu saja sudah membukti-kan betapa lihainya orang yang datang ini.



Tak-lek-sin Swi Lek Hosiang meng-gerakkan tangan kirinya ke depan, ke arah pintu tenda. Angin pukulan me-nyambar dan pintu itu terbuka dengan sendirinya. la berkata sambil tertawa.



"Ketua Hoa-san-paikah yang datang? Harap masuk, pintu terbuka lebar-lebar!"



Semua orang memandang ke pintu yang terbuka. Cuaca di luar remang-remang karena malam hanya diterangi bintang-bintang. Dengan tenang berjalanlah kakek ketua Hoa-san-pai, Lian Bu Tojin, masuk sambil bersandar pada tongkatnya. Di belakangnya bukan hanya Liem Sian Hwa yang mengikutinya, melainkan lengkap dengan Kwa Tin Siong, Thio Wan It, dan Kui Keng. Ternyata ? Hoa-san Sie-eng sudah lengkap datang ke situ di belakang guru mereka! Bagaimana tiga orang murid Hoa-san-pai itu dapat muncul di saat itu?



Hal ini adalah suatu kebetulan belaka. Ketika Liem Sian Hwa dan kemudian Lian Bu Tojin melakukan pengejaran terhadap penculik Kwa Hong dan Thio Bwee, berlari turun dari puncak, di tengah jalan Sian Hwa dapat disusul gurunya dan pada saat itulah munculnya Kwa Tin Siong, Thio Wan It, dan Kui Keng yang sedang nnenuju ke puncak. Tiga orang ini me-mang bersama datang untuk memenuhi janji dengan fihak Kun-lun-pai yang akan datang di Hoa-san. Dengan singkat me-reka mendengar dari Sian Hwa bahwa Kwa Hong dan Thio Bwee diculik orang, maka cepat-cepat mereka lalu beramai melakukan pengejaran. Demikianlah, sekarang Hoa-san Sie-eng lengkap empat orang mengiringkan guru mereka me-masuki perkemahan barisan Mongol yang bermarkas di tempat itu.



Melihat Sian Hwa, putera pangeran itu memandang penuh kasih sayangdan tersenyum sambil berkata, "Nona Sian Hwa, alangkah gembira hatiku bahwa kau sudah sudi datang menjenguk tempat kediamanku....."



Sian Hwa sudah gatal-gatal mulufttya i hendak memaki, akan tetapi oleh karena gurunya berada di situ, ia tidak berani membuka mulut mendahului suhunya, melainkan memandang dengan mata melotot penuh kemarahan. Adapun Lian Bu Tojin ketika menyaksikan bahwa Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang berada di situ, segera berkata.



"Siancai (seruan pendeta), kiranya Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang yang menjadi agul-agul di sini. Tidak heran jika manusia she Souw ini berani bersikap kurang ajar dan tidak memandang mata kepada Hoa-san-pai....." Setelah berkata demikian dia mendekat ke 'arah hwesio tinggi besar itu dan melanjutkan kata-katanya dengan suara berubah keren, "Tai-lek-sin, kalau kau dan teman-tennan-mu hendak memusuhi Hoa-san-pai, akulah orangnya yang bertanggung jawab. Ke-napa manusia she Souw itu kaubiarkan mengganggu dua orang cucu muridku?"



Tai-lek-sin tertawa bergeJak. "Ha-ha-ha, Lian Bu Tojin tosu tua bangka. Pernahkah kau mendengar Tai-lek-sin manusia tiada guna seperti aku ini mengotorkan tangan mencampuri dunia? Hanya karena penjahat-penjahat meraja-lela, pemberontak-pemberontak macam Pek-lian-pai mengotori suasana dan mengganggu rakyat dan pemerintah, terpaksa pinceng turun tangan. Hoa-san-pai selamanya memiliki nama bersih, sayang sekali sekarang bersekongkol dengan Pek-lian-pai, terpaksa pinceng tidak dapat menyalahkan Souw-kongcu mengganggu -cucu murid Hoa-san-pai!"



Lian Bu Tojin merasa dadanya panas sekali, akan tetapi kakek ini masih dapat menyabarkan hati, suaranya tetap lemah lembut ketika dia berkata.



"Bagus sekali sikapmu, hwesio! Sudah terang-terangan bahwa kau menjadi begundal pemerintah, hal itu bukanlah urusan pinto. Terserah siapa saja yang akan menjadi penjilat. Akan tetapi tuduhanmu' bahwa Hoa-san-pai bersekongkol dengan Pek-lian-pai, sungguh tak berdasar samat sekali. Selamanya Hoa-san-pai tak pernah' sudi bersekongkol dengan siapa saja, apalagi dengan Pek-lian-pai....."



"Fitnah bohong!" tiba-tiba Sian Hwa tak dapat menahan kemarahannya. "Pek-lian-pai bahkan memusuhiku, membunuh ayahku....."



"Sian Hwa, diamlah kau." Lian Bu Tojin mencela muridnya yang segera diam dengan muka merah.



"Pinceng tidak tahu urusannya, akan tetapi kalau hendak jelas biarlah Souw-kongcu yang menerangkan." Hwesio itu kembali menghadapi hidangan di atas meja, makan minum tanpa pedulikan lagi orang-orang lain yang berada di situ. Para tamu itu kini menghadapi Souw Kian Bi yang berdiri sambil tersenyum tenang.



"Totiang, aku hanya membawa dua orang anak cucu muridmu main-main di tempat kami yang indah ini dan kalian fihak Hoa-san-pai sudah menyerbu datang dan mengatakan aku jahat. Sebaliknya, Hoa-san-pai bersekongkol dengan Pek-lian-pai para pemberontak itu, membunuh puluhan bahkan ratusan orang tentara pemerintah yang bertugas menjaga ke-amanan. Manakah yang lebih jahat dan keji?"



"Orang she Souw, tutup mulutmu yangi , busuk sebelum aku paksa kau menutupnya!" tiba-tiba Thio Wan It yang terkenall berangasan membentak. "Kami dari Hoa-san-pai tak pernah bersekongkol dengair Pek-lian-pai!"



Souw, Kian- Bi memandang sambil tersenyum mengejek "Hemmm, kiranya tidak akan semudah kau membuka mulut attntuk dapat menutup mulutku, Sobat. Sekarang dengarlah dulu. Banyak pasukan tentara pemerintah terjebak dan tewas di kaki Gunung Hoa-sah, di sekitar daerah yang dikuasai Hoa-san-pai. Kalau bukan kalian orang-orang Hoa-san-pai bersekongkol dengan Pek-lian-pai, mana dapat terjadi hal itu?"



"Kau boleh mengoceh dan berkata apa saja, pokoknya kami tak pernah berhu-bungan dengan Pek-lian-pai. Pendeknya lekas kaubebaskan puteriku, kalau ti-dak....." kata Thio Wan It yang merasa khawatir sekali atas nasib anaknya, Thio Bwee.



"Betul, bebaskan anak-anak kamiy jangan bersikap pengecut. Urusan boleh diurus, kalau perlu di ujung pedang, tapi jangan mengganggu anak-anak kecil yang tidak tahu apa-apa!" Baru kali ini Kwa Tin Siong berkata, suaranya tenang man-tap dan matanya penuh ancaman.



Akan tetapi Lian Bu Tojin berpikir lain. Sekarang kakek ini mengerti bahwa orang she Souw itu ternyata adalah se-orang yang penting dalam pemerimah Mongol, maka amatlah tidak baik kaiau Hoa-san-pai tersangkut dalam urusan pemberontakan Pek-lian-pai. Andaikata Pek-lian-pai benar-benar merupakan perkumpulan patriotik yang bersih, tentu saja. Hoa-san-pai akan senang sekali menggabungkan diri. Akan tetapi pada waktu itu dia sendiri masih sangsi terhadap Pek-lian-pai yang seolah-olah se-dang memusuhi Hoa-san-pai, maka kurang baik kalau Hoa-san-pai dianggap ber-sekongkol dengan Perkumpulan Teratai Putih itu. la lalu melangkah maju, meng-halangi kedua fihak yang sudah panas. Kalau terjadi pertempuran, agaknya fihaknya akan mengalami kerugian, pikir ketua Hoa-san-pai ini. Dia sendiri mendapat lawan berat, yaitu Tai-lek-sin yang dia tahu tentu memiliki ilmu yang tak boleh dipandang ringan. Empat orang muridnya sungguhpun boleh diandalkan, akan tetapi bagaimana kalau mereka itu ,, dikurung dan dikeroyok oleh ratusan orang tentara Mongol? Apalagi selain Souw Kian Bi, empat orang komandan dan yang duduk di situ pun agaknya bukan orang-orang lemah.



"Tai-lek-sin, mengapa kau diam saja? Apakah sengaja kami dipancing datang hendak diajak bertanding? Ataukah berdamai? Apa maksud kalian memancing kami datang?"



"Aku tidak tahu apa-apa. Bicaralah dengan Souw-kongcu," jawab hwesio itu sambil tertawa-tawa.



Biarpun sungkan bicara dengan orang muda pesolek itu terpaksa ketua Hoa-san-pai menghadapinya. "Saudara Souw, katakanlah terang-terangan apa yang ter-sembunyi di balik segala perbuatanmu ini. Sudah jelas bahwa. kau menculik dua orang cucu muridku dengan maksud memancing kami datang. Nah, setelah kami datang, apa yang kaukehendaki?"



Souw Kian Bi tetap tersenyum-senyum. "Senang sekali bercakap-cakap dengan Totiang yang lebih sabar dah luas pandangan," katanya melirik ke arah Hoa-san Sie-eng yang marah-marah. "Ucapan seorang ketua Hoa-san-pai tentu saja kami dapat percaya penuh. Sesungguhnya bagaimanakah, Totiang, apakah tidak ada persekongkolan jahat antara Hoa-san-pai dan Pek-lian-pai?"



"Tidak ada sama sekali," jawab kakek itu mendongkol.



"Bagus, kalau begitu dugaan kami keliru dan kedua orang anak itu tentu saja harus dibebaskan sekarang juga. Akan tetapi, kami tetap akan ragu-ragu kalau Totiang tidak menyatakan janji lebih dulu. Yotiang berjanji dan kami melepaskan dua orang anak kecil itu dan ..... beres?"



Lian Bu Tojin mengerutkan alisnya. Bukan main licinnya orang muda ini, pikirnya. Licin berbahaya penuh tipu muslihat. "3anji apa yang kaukehendaki dari pinto?"



"Janji bahwa Hoa-san-pai tidak akan bersekongkol dengan Pek-lian-pai untuk memusuhi pemerintah."



LianBu Tojin tersenyum. "Baik. Pinto berjanji bahwa Hoa-san-pai takkan bersekongkol dengan Pek-lian-pai untuk me-musuhi pemerintah."



Souw Kian Bi mengerutkan kening. Mengapa begini mudah ketua ini berjanji? la memutar otak dan tiba-tiba dia berkata lagi, "Dan berjanji bahwa Hoa-san-pai takkan memusuhi pemerintah."



"Orang she Souw, kenapa kau begini cerewet? Hoa-san-pai sudah berjanji menuruti permintaanmu, berjanji takkatt bersekongkol dengan Pek-lian-pai untJk memusuhi pemerintah. Hanya sekian dan habis. Kalau kau terlalu mendesak, pinto tak sudi berjanji lagi."

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…