Skip to main content

Raja Pedang 27 (Kho Ping Hoo)


"Kacung busuk! Mau apa kau berteriak-teriak? Hayo kembali ke tempat kerjamu'" Dua orang jago cilik ini lalu memukuli Beng San, diturut oleh beberapa oranjg tosu yang juga tidak suka kepada Beng San. Terjadi keanehan ketika dua orang anak dan beberapa orang tosu ini memukul Beng San. Kui Lok dan Thio Ki menjerit kesakitan dan tangan kanan mereka patah tulangnya ketika memukul tubuh Beng San. Para tosu yang rne-mukulnya kurang keras, juga berjingkrak kesakitan karena tangan mereka telah fnenjadi merah seperti terbakar, dan bengkak-bengkak!



Tanpa mempedulikan niereka ini, Beng San langsung berjalan meiiuju ke gelang-gang pertempuran. Dua orang saudara Bun itu sudah roboh mandi darah dan Beng San menubruk roereka sambil berseru.


"Mereka tidak bersalah..... ah, per-tumpahan darah terjadi hanya karena fitnah! Alangkah bodohnya, bermata seperti buta" Dengan sedih Beng San mengusapi darah yang mengucur keluar dari dada Bun Si Teng dan Bun Si Liong. "Dua orang pendekar gagah harus melepaskan nyawa hanya karena meiuirutkan nafsu belaka, hanya karena fitnah....."


Bun Si Teng dan Bun Si Liong belum tewas, akan tetapi mereka sudah terluka parah dan hanya jiwa mereka yang gagah perkasa saja yang membuat mereka ro-boh tanpa mengeluarkan keluhan sakit sedikit pun juga!


Melihat sikap dan kata-kata Beng San, Kwa Tin Siong kaget dan heran sekali. Apalagi ketika melihat betapa cucu-cucu murid Hoa-san, yaitu Kui Lok dan Thio Ki menderita patah tulang tangan sedangkan beberapa orang tosu lagi bengkak-bengkak tangannya. la makin curiga akan dugaannya bahwa Beng San bukanlah anak sembarangan dan mungkin sekali dari fihak musnh. Sekarang terbukti betapa Beng San menyedihi jatuhnya dua orang Kun-lun-pai dan kata-katanya yang tidak karuan.


"Beng San, apa maksud kata-katamu ini?" Kwa Tin Siong membentak sambil menghampiri dengan pedang di tangan.


Beng San yang melihat bahwa dua orang Kun-lun-pai itu tak mungkin dapat tertolong lagi, segera bangkit berdiri dengan tegak. Matanya bersinar tajam menakutkan dan mukanya menjadi merah kehitaman. la membanting kaki ke atas tanah dan berkata.


"Hoa-san Sie-eng, apakah kalian tidak melihat bahwa kalian telah membunuh orang-orang tidak berdosa? Kalian telah kena fitnah. Kwee Sin bukan orang yang berdosa, dia tidak membunuh ayah Nona Llem Sian Hwa. Semua ini memang diatur oleh pemerintah Mongol dengan bantuan Ngo-lian-kauw! Kwee Sin hanya mempunyai kesalahan kecil yaitu dia roboh oleh kecantikan ketua Ngo-lian-kauw. Yang membunuh ayah Nona Liem adalah kaki tangan Ngo-lian-kauwcu yang menyamar sebagai Kwee Sin dan sebagai orang-orang Pek-lian-pai. Ah, sayang orang-orang gagah sampai mudah tertipu!"


"Bohong! Kau anak kecil tahu apa? Kau berfihak kepada Pek-lian-pai dan Kun-lun!" Kwa Tin Siong membentak marah.


Tiba-tiba Bun Si Teng dah Bun Si Liong bergerak, Bun Si Liong tertawa terbahak-bahak lalu..... berhenti bernapas, mukanya masih tersenyum. Bun Si Teng dengan terengah-engah mengulurkan ta-ngan, merangkul Beng San.


"Aku puas..... kau benar anak..... kau benar. Siapa namamu...?


"Aku Beng San," kata Beng San yang sudah berlutut di dekat Bun Si Teng.


"Kau telah membersihkan nama Kwee-sute dan Kun-lun-pai. Terima kasih. Alangkah bodohku..... ha-ha-ha, bukan hanya Kun-lun Sam-hengte yang bodoh..... malah Hoa-san Sie-eng goblok, hanya menurutkan nafsu belaka..... Beng San, anak baik, kau anak luar biasa..... kau berjanjilah bahwa kelak kau akan mengamat-amati putera tunggalku..... Bun Lim..... Kwi....." Orang gagah itu menjadfe lemas dan irohnya menyusul roh adiknya.


Hoa-san Sie-eng berdirl terlongong. Mereka masih terpukul oleh keterangan Beng San, merasa ragu-ragu. Pada saat itu tampak bayangan orang berkelebat dan Lian Bu Tojin sudah berdiri di situ. "Ah, dia hebat..... tak terkejar olehku....." Tiba-tiba kakek ini mengeluarkan seruan kaget melihat tubuh Bun Si Teng dan Bun Si Liong rebah mandi darah dalam keadaan tak bernyawa pula.


"Apa..... apa yang telah terjadi.....?" tanyanya, memandang kepada empat orang muridnya.


Hoa-san Sie-eng tak dapat menjawab, masih bingung dan amat khawatir, kalau-kalau keterangan Beng San itu benar. Berarti mereka membunuh orang-orang yang tidak berdosa!


"Beng San, kau lagi di sini? Apa yang kaulakukan di sini?" Lian Bu Tojin membentak lagi ketika melihat Beng San berlutut di depan mayat kedua orang saudara Bun itu.


"Locianpwe, dua orang gagah dari Kun-lun-pai yang tidak berdosa ini telah dikeroyok dan dibunuh oleh murid-muridmu yang gagah!" kata Beng San dengan suara keras. Kemudian dia mengulangi lagi penuturannya yang tadi di depan ketua Hoa-san-pai. Kakek ini berubah air mukanya mendengar keterangan itu, akan tetapi dengan bengis dia lalu bertanya.


"Bocah, dari mana kau tahu semua itu?"


"Saya bertemu dengan orang-orang Pek-lian-pai dan merekalah yang menceritakan semua itu kepadaku."


"Bohong kalau begitu'. Orang-orang Pek-lian-pai itu jahat dan bohong!" seru Kwa Tin Siong penuh harap. Tentu saja dia tidak mengharapkan kebenaran keterangan Beng San, karena kalau benar terjadi hal demikian, berarti fihak Hoa-san-pai telah melakukan perbuatan yang kurang patut terhadap Kun-lun-pai.


Lian Bu Tojin meraba-raba jenggotnya yang panjang. "Urusan ini amat berbelit- belit dan amat penuh rahasia. Keterang-., an bocah ini mungkin sekali benar, akan 1 tetapi juga bukan mustahil dia diperguna-kan oleh Pek-lian-pai untuk mengacau kita. Betapapun juga, kalian sudah ter-buru nafsu membunuh dua orang Kun-lun-pai ini. Keadaan sudah terlanjur be-gini, sungguh tidak menyenangkan sekali. Pinto sendiri masih ragu-ragu siapakah yang benar siapa yang salah. Kwee Sin ditolong dan dibawa pergi oleh seorang iblis wanita jahat, Hek-hwa Kui-bo. Te-rang bahwa ada fihak yang bersekongkol dengan Kwee Sin, tapi....." Tiba-tiba kakek itu berseru, "He, bocah, kau hen-dak lari ke mana?" Tubuhnya berkelebat ke depan dan di iain saat kakek ini su-dah memegang lengan tangan Beng San yang hendak lari.


"Aku mau pergi saja. Selain Hoa-san-pai tidak baik membunuh orang tak berdosa, Hek-hwa Kui-bo sudah datang, aku bisa celaka....." bantah Beng San.


"Kau dicari Hek-hwa Kui-bo?" Lian Bu Tojin bertanya heran.


"Semua orang jahat mencariku"


"Kenapa?" Ketua Hoa-san-pai ini sudah menduga bahwa pasti ada rahasia aneh pada diri anak yang mencurigakan ini, maka dia takkan melepaskannya sebelum dapat mengetahui rahasianya.


Tentu saja Beng San tidak mau men-ceritakan tentang dirinya, apalagi ten-tang Im-yang Sin-kiam-sut. Tapi dia anak yang cerdik, dapat menghubung-hubungkan persoalan, maka dengan suara ber-bisik dia berkata.


"Tosu tua, apa kau lupa akan Souw tong Souw Lee? Siapa yang takkan mencari tempat persembunyiannya? Hek-hwa Kui-bo tentu akan senang mendengar bahwa aku dan Totiang mengetahui teni-pat tinggal kakek tua she Souw itu!"


Lian Bu Tojin cepat melepaskan tangan yang dicekatnya. "Hush, gila kau Siapa tahu tempat sembunyi orang itu?" Orang tua ini celingukan ke kanan kiri, nampaknya berkhawatir sekali. Siapa tidak khawatir kalau dikatakan mengetahui tempat sembunyi Lo-tong Souw Lee? Semua orang jahat di dunia mencari-cari tempat sembunyi pencuri pedang Liong-cu Siang-kiam itu, dan kalau dia disangka mengetahui tempat sembunyinya, bukan mustahil kalau dimusuhi semua tokoh kang-ouw!


Beng San tersenyum. "Totiang, aku hanya membawakan suratnya kepada Totiang, kiranya tidak aneh kalau orang yang sudah bersurat-suratan saling mengetahui tempat tinggalnya, bukan?"


"Hush, jangan main gila kau! Pinto tidak tahu tempat sembunyinya!"


"Kalau begitu biarkanlah aku pergi mencarinya, Totiang. Aku sudah tidak suka tinggal di Hoa-san."


"Pergilah, pergilah cepat!" Kakek itu kini malah mendesak agar supaya anak itu pergi, karena kalau dibiarkan saja di situ bicara tentang Lo-tong Souw Lee, jangan-jangan dia bisa terbawa-bawa dalam urusan perebutan Liong-cu Siang-kiam.


Beng San menoleh ke arah anak-anak yang melihat semua itu dari jauh, ke-mudian dia melambaikan tangan dan ber-kata, "Nona Hong, Nona Bwee, selamat tinggal!" la lalu membalikkan tubuh dan lari menuruni puncak Hoa-san-pai. Semua brang memandang bayangan anak aneh Ini sampai lenyap di balik batu-batu besar. Lian Bu Tojin menghela napas panjang.


"Ah, sungguh celaka terjadi hal seperti ini. Lekas kalian kubur baik-baik jenazah dua orang murid Kun-lun-pai ini. Pinto harus berani mempertanggungjawabkannya terhadap pertanyaan Pek Gan Siansu....." la menarik napas panjartg berkali-kali sambil menggeleng kepala, penasaran sekali bahwa dalam usia setua itu harus menghadapi urusan pertumpahan darah yang terjadi antara murid-muridnya dan murid-murid Kun-lun-pai. Kemudian dia meninggalkan murid-muridnya, memasuki pondoknya untuk bersamadhi. Begitu memasuki pondok, dia mendapatkan kekecewaan lain dengan tidak adanya Beng San. Bocah itu begitu rajin dan amat cerdik dalam mempelajari filsafat-filsafat To. Bocah yang aneh, dan sepak terjang bocah tadi diam-diam membangkitkan keheranan dan kekagumannya. Seorang anak kecil yang bekerja sebagai kacung, dahulu sudah berani mempertaruhkan nyawa untuk menolong Kwa Hong dan Thio Bwee. Tadi sudah berani mencela Hoa-an-pai dan mengeluarkan kata-kata yang gagah. Kalau kelak anak itu menjadi seorang yang pandai, dia takkan merasa heran.



* * *



Beng San berjalan cepat siang malam. Hanya kalau sudah hampir tak kuat lagi saking lelahnya maka dia mengaso. la bermaksud pergi ke Shan-si, untuk bersembunyi di Kelenteng Hok-thian-tong dimana dahulu dia pernah bekerja sebagai kacung. la harus dapat menyembunyikan dirinya untuk beberapa tahun lamanya, demikian kata pesan Lo-tong Souw Lee. Setelah tubuhnya kuat betul dan ilmu-ilmu silat itu sudah dia latih sebaiknya, baru dia .boleh memperlihafkan dirinya. Dan ucapan pesanan kakek buta itu be-nar-benar tepat. Buktinya setiap kali dia memperlihatkan diri, pasti timbul hal-hal yang hebat. Lebih baik dia kembali ke daerah Sungai Huang-ho dan bersem-bunyi di kelenteng Hok-thian-tong. Terbayang olehnya para hwesio kelenteng itufe yang rata-rata amat sabar dan baik.


Kurang lebih sebulan kemudian sampailah dia di tepi Sungai Huang-ho. Dari tepi sungai itu ke utara, kurang lebih tiga puluh li lagi adalah Shan-si di mana terdapat kelenteng yang ditujunya. la sudah lelah sekali dan hari sudah menjelang senja. Beng San mencari tempat yang enak di tepi sungai, di bawah sebatang pohon. la mengumpulkan daun-aun dan ranting-ranting kering untuk membuat api unggun malam nanti apabila hawa udara dingin dan apabila banyak nyamuk akan mengganggunya. Sebagian daripada daun-daun kering dia jadikan tilam tempat dia tidur.


Perutnya lapar tidak dipedulikannya. Beng San sudah terlentang di bawah pohon, mengenangkan pengalaman-pengalamannya selama dalam perjalanan ini. Ada hal yang amat berkesan di hatinya, yaitu ke mana saja dia berjalan, dia selalu melihat para petani bersikap penuh semangat menentang pemerintah Mongol yang sudah banyak membikin sengsara rakyat. la mulai mendengar nama besar pemimpin-pemimpin rakyat disebut-sebut orang. Yang paling terkenal dan sering kali dia dengar adalah nama besar Ciu Goan Ciang yang menurut para petani itu mempunyai kepandaian seperti dewa, malah memiliki ilmu kesaktian yang ajaib-ajaib. Diam-diam Beng San mengenang semua itu dan mengingat-ingat kembali apa yang dia dengar dari Tan Hok, meng-hubung-hubungkan semua peristiwa antara Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai berhubung dengan suasana pemberontakan terhadap pemerintah Mongol ini. Beng San adalah seorang anak kecil yang semenjak dahulu hanya mempelajari ilmu filsafat dan kebatinan, malah akhir-akhir ini mempelajari ilmu silat. Akan tetapi tentang politik dia sama sekali tidak mengerti.


"Aku takkan pusing-pusing dengan segala urusan itu kalau akil sudah berada di dalam bangunan Kelenteng Hok-thian-tong yang luas," pikirnya dan dia mengenang kembali masa dia kecil bekerja sebagai kacung di kelenteng itu. Suasana di dalam kelenteng hanya tenteram, aman dan damai. Apabila melihat orang luar, tentu hanya orang-orang yang datang hendak bersembahyang, yaitu orang-orang yang datang dengan maksud baik, dengan hati bersih dan maksud-maksud memohon belas kasihan Yang Maha Kuasa melalui para dewa yang dipuja masing-masing pendatang. Alangkah senangnya, pikirnya hidupnya. akan tenteram dan dia dapat meneruskan latihan-latihannya dengan aman


Saking lelah dan laparriya, be|iitu matahari terbenam Beng San sudah tertidur. Enak sekali dia tidur, tidak tahu bahwa dia telah tidur setengah malam, bahwa bulan hampir purnama sudah naik tinggi dan bahwa dia lupa membuat api unggun. Tidak tahu dia betapa bahayanya „ dia tertidur tanpa api unggun di tempat terbuka seperti itu, di dekat Sungai Huang-ho lagi yang daerahnya masih liar dekat dengan hutan-hutan besar.


la bangun sambil menepuk pahanya. Di bagian celana yang robek, nyamuk menggigit pahanya dan mengisap darah sepuasnya. "Nyamuk keparat!" Beng San bangun duduk ketika mendengar suara nyamuk berngiung-ngiung di sekeliling kepalanya. Teringat dia bahwa dia belum membuat api unggun. la menoleh ke arah tumpukan kayu dan daun yang kelihatan jelas di bawah sinar bulan purnama yang menerobos di antara celah-celah daun pohon. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika selain tumpukan kayu ini dia me-lihat barang lain lagi yang membuat jantungnya serasa berhenti berdetak. Sepasang barang berkilauan seperti lampu. Sepasang mata..... dan segera terlihat olehnya bahwa mata yang mencorong itu adalah mata seekor binatang yang se-besar lembu rnuda, berkulit loreng-loreng! Harimau yang besar sekali!


Beng San menggigil. Biarpun anak ini sudah memiliki kepandaian yang tinggi dalam tubuhnya, namun dia masih belum menyadari betul akan hal ini. Tentu saja dengan kepandaiannya, dia takkan sukar melawan harimau ini atau setidaknya, akan mudah dia menyelamatkan diri de-ngan meloncat ke atas pohon. Kepandai-annya memungkinkan dia melakukan hal-hal ini. Akan tetapi dia sudah lumpuh, ketenangannya lenyap. Tak boleh terlalu disalahkan dia, siapa orangnya takkan menggigil kebingungan dan ketakutan kalau begitu bangun dari tidur sudah menghadapi seekor harimau sebesar ini yang berdiri hanya dalam jarak tiga meter di depannya!


Harimau itu memang sejak tadi sudah mengintainya. Kini melihat bocah itu bergerak, dia segera mengaum dan me-loncat, menerkam ke arah Beng San. Beng San terkesirna dan tak dapat bergerak, terpukau seperti kena sihir. Hanya matanya yang lebar itu terbuka melotot memandang, merasa ngeri karena seakan-akan sudah tampak olehnya gigi bertaring yang runcing serta kuku yang melengkung mengerikan.


Akan tetapi tiba-tiba tubuh harimau itu terhenti di tengah udara, malah terjengkang ke belakang, berkelojotan ! dan. maridi darah. Tepat di dadanya tertancap sebatang kayu hampir tembus ke pung-gungnya. Siapakah yang "menyate" harimau ini? Beng San menengok ke kanan kiri, ke belakang dan alangkah herannya ketika dia melihat munculnya bayangan merah. Dara cilik berpakaian merah, si gagu bernama Bi Goat itu telah berada di depannya. Beng San sampai bengong terlongong, akan tetapi dia segera tersenyum ramah. Tak mungkin dia tidak akan gembira kalau bertemu dengan bo-cah ini, dara cilik cantik manis yang gagu, yang menimbulkan rasa sayang, rasa kasihan dan terharu, yang membuat dia timbul rasa hendak melindungi, hendak membelanya.


"Kau.....?" tegurnya sambij berdiri. Akan tetapi kalau dulu Bi Goat terse-nyum-senyum gembira dan mengajak dia bermain-main, kini sikapnya jauh berbeda. Gadis cilik ini nampak penuh ke-takutan dan kekhawatiran, wajahnya yang biasanya hampir selalu kemerahan itu kini agak pucat. la menudingkan telunjuk kiri ke arah bangkai harimau, telunjuk , kanan ke arah belakangnya agak ke atas, kemudian dia menuding ke dada Beng San. Lalu dia meloncat dan menendangi i bangkai harimau yang sudah tewas itu. Beng San memandang bingung, juga kagum betapa setiap kaki kecil itu menendang harimau, bangkai harimau yang besar itu pasti tersepak ke depan. Sungguh dahsyat tenaga kaki kecil ini» pikirnya.


"Adik Bi Goat, kau hendak bilang; apakah? Aku berterima kasih sekali atas pertolonganmu. Kau telah membunuh harimau itu, hebat sekali kepandaianmu!"


Akan tetapi Bi Goat nampak tidak sabar karena Beng San tidak mengerti maksud gerak tangannya tadi. la membanting-banting kakinya, memegang dengan tangan Beng San dan ditarik, diajak pergi.

Comments

Popular posts from this blog

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…