Skip to main content

Raja Pedang 24 (Kho Ping Hoo)


"He, Souw-kongcu. Tosu tua ini sudah berjanji takkan bersekongkol dengan Pek lian-pai, bukankah itu sudah cukup? Hayo lekas keluarkan dua orang bocah perempuan itu," kata Tai-lek-sin dengan suara keras. Memang sesungguhnya inilah yang dikehendaki oleh para pimpinan Mongol. Mereka amat khawatir kalau-kalau para partai persilatan besar mengadakan kerja sama dengan Pek-lian-pai. Mereka berusaha sekuatnya untuk memisahkah partai-partai ini dari Pek-lian-pai agar kedudukan Pek-lian-pai kurang kuat, malah kalau mungkin memecah-mecah para partai itu agar saling serang sendiri. Kalau sekarang ketua Hoa-san-pai ber-janji takkan bersekongkol dengan Pek-lian-pai, hal ini sudah merupakan sebuah kemenangan bagi pemerintah.


 



Souw Kian Bi bukan seorang bodoh, Bukan maksud pemerintah untuk memusuhi setiap partai persilatan, apalagi partai sebesar Hoa-san-pai yang kuat. Seorang musuh saja, Pek-lian-pai sudah cukup memusingkan, jangan sampai di-tambah musuh ke dua. la harus mengor-bankan perasaannya sendiri, biarpun dia ingin sekali kalau bisa menukar k'edua orang tawanannya itu dengan nona Sian Hwa yang menggetarkan hatinya, atau Setidaknya dia pun akan suka mendapatkan dua orang nona cilik itu untuk meng-hibur hatinya, namun kepentingan tugas-nya harus dia dahulukan. Apalagi, kiranya bodoh sekali kalau main-main dengan Hoa-san-pai! Sambil tertawa dia memberi perintah kepada seorang di antara para komandan pasukan.



 



"Bawalah dua orang nona cilik itu ke sini."



 



Komandan itu pergi dengan cepat, masuk ke perkemahan belakang. Tak lama kemudian dia sudah kembali dengan muka pucat dan suaranya gugup.



 



"Celaka, Kongcu. Dua ekor burung itu sudah terbang!"



 



Souw Kian Bi membanting-banting kaki. "Apa kau bilang?" Cepat tubuhnya berkelebat dan lari memburu ke tempat ditahannya dua orang anak itu. Yang lain, termasuk orang-orang Hoa-san-pai, ikut pula mengejar ke belakang.



 



Ke manakah perginya Kwa Hong dan Thio Bwee? Betulkah dua orang anak perempuan yang sudah ditotok tak berdaya dan dikurung dalam kamar tahanan' itu dapat melarikan diri? Memang kenyataannya betul demikian. Akan tetapi tentu saja ada orang menolongnya. Penolong ini bukan lain adalah Beng San yang diam-diam terus mengikuti larinya Souw Kian Bi sampai memasuki perkemahan pasukan Mongol. Menggunakan, kecepatan dan keringanan tubuhnya, di-lindungi pula oleh gelapnya malam, Beng San berhasil membobol pagar yang mengelilingi perkemahan tanpa dilihat oleh para penjaga. la berhasil pula mendengarkan pesan Souw Kian Bi kepada para penjaga. Mendengar bahwa bagian bela-kang perkemahan itu tidak terjaga kuat, dia mendapat pikiran untuk menolong dua orang nona kecil itu melarikan diri melalui belakang perkemahan.



 



Dapat dibayangkan betapa herannya hati Kwa Hong dan Thio Bwee ketika mereka berada di dalam kamar tanpa dapat bergerak itu, tiba-tiba mereka melihat munculnya Beng San! Anak ini memberi tanda agar supaya Kwa Hong dan Thio Bwee jangan mengeluarkan suara. Alangkah lucunya. Tak usah di-larang sekalipun memang dua orang nona cilik itu tak dapat bersuara lagi. Lalu Beng San memberi isyarat supaya me-reka ikut, akan tetapi bagairnana mereka bisa ikut kalau mereka tidak mampu bergerak?



 



Melihat keadaan mereka, Beng San cunga. la sudah menipelajari secara. teliti tentang perjalanan darah ini, dahulu diajar oleh Lo-tong Souw Lee. Karena keadaan mendesak, tanpa ragu-ragu, dia mendekati Kwa Hong dan meraba lehernya. Benar saja dugaannya, Kwa Hong telah terkena totokan yang luar biasa. Beng San mengeluh. Biarpun dia sudah mempelajari tentang jalan darah, namun dia sendiri belum bisa menotok, apalagi membebaskan. Di luar kemah terdengar suara serdadu-serdadu tertawa. Beng San gugup dan tanpa berpikir panjang lagi dia lalu menangkap dua orang nona cilik itu dan memanggul tubuh mereka di afas pundaknya, satu di kanan dan satu di kiri! Dengan beban ini dia menyelinap keluar melalui jalan belakang. Tanpa ia sadari sendiri, Beng San telah me-miliki tenaga yang luar biasa sehingga memanggul dua orang anak perempuan itu seperti tidak terasa sama sekali oleh-nya, begitu ringan!



 



Benar sekali seperti yang diperintah-kan oleh Souw Kian Bi tadi, jalan bela-kang ini sama sekali tidak terjaga. Mula-mula Beng San merasa girang sekali dad juga heran mengapa serdadu-serdadu itu begitu bodoh. Akan tetapi baru saja dia lari sejauh satu li, dia kaget sekali kare-na di depannya terbentang rawa yang amat luas la mencari jalan agar jangan melalui rawa, akan tetapi setelah berlari ke sana ke nnari, dia tidak dapat me-nemukan jalan yang lebih baik. Selain melalui rawa, dia terhadang oleh jurang yang tak mungkin dapat dilewati sakine lebarnya, juga menghadapi dinding karane yang menjulang tinggi. Tanpa membawa . beban SBJB belum tentu dia akan dapat mendaki dinding karang ini dengan selamat, apalagi memanggul dya orang anak itu. Sungguh berbahaya.



 



"Celaka....." pikir Beng San. la men-jadi serba salah. Kembali tak mungkin. terus juga bagaimana? Akhirnya dia men-Jadi nekat. Hati-hati dia memasukl rawa yang gelap dan mengerikan itu, denean airnya yang diam bercampur tanah dan rumput. Hanya suara katak yane me-menuhi rawa itu terdengar amat me-nyeramkan. Ia menjadi lega ketika kaki-nya menginjak tempat dangkaj, hanya seJutut dalamnya. Ia melangkah maju, hati-hati sekali karena dasar rawa itu penuh batu licin. Sampai sepuluh Jangkah lebih dia selamat karena tempat itu dangkal. Tiba-tiba dia tergelincir batu yang jicin. Beng San mengerahkan tenaga dan mengatur keseimbangan tubuh. Ia selamat tidak sampai roboh, akan tetapi dua orang anak perempuan yang dia panggul menjadi basah dan kotor oleh lumpur. la berjalan terus, maju bermaksud me-nyeberangi rawa. Akan tetapi segera dia mendapat kenyataan mengapa para ser-dadu sengaja tidak menjaga tempat itu. Memang bukan main sukar dan berbahaya-nya jalan ini. Segera dia tiba di bagian air yang berlumpur dan tempat pun tidak sedangkal tadi, sudah mencapai ping-gangnya. Sukar sekali •untuk maju me-lalui lumpur yang ditumbuhi rumput ini, apalagi di bawah amat licinnya. Yang paling mengerikan adalah kalau memikir-kan apa isi rawa-rawa itu, binatang me-ngerikan apa yang berada di bawah rum-put dan di dalam lumpur itu.' Akan te-tapi Beng San tidak ingat akan ini semua, melainkan melangkah terus maju dengan tabah.



 



"Lepaskan aku! Aku bisa ber)alan sendiri!" Tiba-tiba Kwa Hong yang dipanggul di pundak kanannya bergerak dan berseru. 3uga Thio Bwee di atas pundak kirinya mulai bergerak-gerak.



 



"Syukur kalian sudah bisa bergerak lagi," kata Beng San sambil menurunkan Kwa Hong dari pundaknya. Akan tetapi karena tak dapat bergerak, tubuh Kwa Hong masih lemas dan ketika ia diturun-kan berdiri di dalam air berjumpur, hampir saja ia terguling roboh kalau tidak cepat-cepat disambar pinggangnya oleh Beng San. Thio Bwee juga minta turun ; dan diturunkan dengan hati-hati.



 



"Beng San, kau hendak membawa karhi ke mana?" Kwa Hong bertanya, suaranya agak marah karena tadi ia dengan jengkel dan mendongkol sekali melihat tanpa berdaya betapa tubuhnya dirangkul dan dipanggul oleh bocah ini. Tentu saja ia sudah marah dan memaki-makinya kalau saja tidak sedang berada dalam keadaan seperti ini. Malah diam-diam ia merasa bersyukur bahwa Beng San datang untuk menolongnya. Mengapa bukan bibi gurunya atau kakek gurunya, atau setidaknya mengapa bukan Kui Lok dan Thio Ki?



 



"Ke mana? Tentu saja pulang ke puncak Hoa-san. Kalau saja kita bisa melewati rawa-rawa yang berbahaya ini. Heee...... hati-hati, Nona Bwee.,...!". Thio Bwee tergelincir dan lenyap dari permukaan air. Ternyata ia telah menginjak bagian yang amat dalam sehingga tak dapat dicegah lagi ia tenggelam ke dalam air berlumpur itu!



 



"Celaka!" Beng San cepat menubruk maju dan dia pun kena injak tempat yang dalam itu sehingga dia pun lenyap dari permukaan air. Kwa Hong meng-gigil ketakutan dan ingin dia menjerit-jerit kalau saja tidak teringat bahwa dia sedang melarikan diri dari musuh. la tidak berani sembarangan bergerak, takut mengalami nasib seperti Beng San dan Thio Bwee, akan tetapi hatinya takut bukan main, gelisah melihat hilangnya dua orang teman itu tanpa dapat me-nolongnya sama sekali. Keadaan amat gelap dan Kwa Hong sudah mulai me nangis. Tiba-tiba air di depannya ber-gerak dan muncullah kepala Beng San. Anak ini berenang ke tempat dangkal di dekat Kwa Hong sambil menyeret Thio Bwee yang sudah pingsan. Cepat-cepa Kwa Hong menyusuti muka Thio Bwee yw»g penuh lumpur itu. Setelah dipijat-pijat pundaknya dan digoyang-goyang akhirnya Thio Bwee siuman kembal Anak ini menangis dan berkata ketakutan.



 



Bawa aku ke darat..,,. bawa aku pulang....." la menangis ketakutan. Selama hidupnya, baru kali ini ia mengalami kejadian yang begini menakutkan. Siapa orangnya yang tidak takut kalau melihat sekeliiingnya hanya air lumpur ditumbuhi rumput, gelap pekat dan di sekeliling situ, tak diketahui dengan pasti di mana terdapat lubang-lubang jebakan yang amat dalam?



 



”Lebih baik kalian kupanggul seperti tadi. Biarlah aku yang mencari jalan keluar dari rawa ini....." kata Beng San setelah berhasil membersihkan lumpur dan mulut, hidung dan matanya.



 



Saking takutnya dan mengharapkan pertolongan, Thio Bwee tanpa ragu-ragu lagi laju merangkul Beng San sambil berkata, "Tolonglah, Beng San..... tolong keluarkan aku dari tempat neraka ini..."' , la menurut saja ketika dipanggul oleh Beng San, tidak seperti tadi, sekarang disuruh duduk di atas pundak kirinya. Thio Bwee agak besar hatinya setelah duduk di pundak itu, duduk sambil merangkul kepala Beng San, masih menggigil ketakutan.



 



"Jangan khawatir, Nona Bwee. Me-mang aku datang untuk menolong kalian," katanya, suaranya dibikin setenang mung-kin, akan tetapi sebetulnya dia sendiri masih sangsi apakah dia akan berhasil menyeberangi rawa-rawa yang amat ber-bahaya ini. "Nona Hong, kau pun sebaik» nya duduklah di pundakku yang sebelah ini." la pikir, lebih baik dua nona muda itu duduk di pundaknya agar jangan sam-pai tergelincir dan masuk ke dalam lubang dalam seperti yang dialami Thio Bwee tadi. Kalau terjadi demikian, amat berbahaya. Tadi secara kebetulan saja di' dalam air keruh itu dia dapat menangkap tubuh Thio Bwee, kalau tidak, bukankaH nyawa nona Thio itu akan terancam tea-haya maut?



 



"Apa...??" Tidak sudi aku!" bentak Kwa Hong yang sudah kumat lagi kegalakannya. Akan tetapi agaknya ia segera teringat bahwa Beng San berusaha menolongnya, maka segera disambungnya dengan suara yang tidak galak lagi, "Aku bisa jalan sendiri dan pula ... memanggul Enci Bwee saja sudah berat, aku tidak mau memberatkan engkau lagi ...”.



 



Di dalam gelap Beng san tersenyum. la tidak marah karena memang dia sudah mulai mengenal watak Kwa Hong, malah watak semua yang berada di puncak Hoa-san. Biarpun Kwa Hong tidak mau dipanggul, malah tidak mau digandeng tangannya, namun dia selalu siap menjaga dan melindungi gadis galak ini.



 



Baiklah sesukamu, Nona Hong. Mari kita maju lagi. Hati-hatilah....." katanva sambil melangkah perlahan, meraba-raba dengan ujung kakinya sebelum menginjak agar tidak terjeblos ke dalam lubang dalam. Thio Bwee masih menangis kecil di atas pundaknya sambil memeluk lehernya, amat ketakutan dan kedingilnan karena ia tadi basah kuyup dari kaki sampai kepala.



 



Langit bersih dari awan."Bintang-bintang penuh bertaburan di langit biru, mendatangkan cahaya yang lumayan sehingga keadaan tidak segelap tadi. Tiga orang anak itu dapat melihat ke depan, sungguhpun tidak amat jauh, namun cu-kuplah untuk mengurangi keseraman. Tiba-tiba Kwa Hong mengeluh.



 



"Aduh kakiku..... apa ini gatal-gatal?" la mengangkat kaki kirinya ke atas sampai melewati permukaan air dan..... da-lam cuaca yang remang-remang itu terlihatan seekor lintah menempel pada betis kakinya, mengisap darahnya melalui kain celana yang tipis. Lintah itu gemuk bulat, agaknya sudah banyak juga darah Kwa Hong diisapnya.



 



"Hiiui..... apa itu.....? Hiiiii!" Kwa Hong menggigil saking jijiknya dan ia menubruk Beng San, merangkul lehernya dengan ketakutan.



 



Beng San tahu apa adanya binatang itu. "Tenanglah, Nona Hong. Itu adalah lintah, binatang penghisap darah. Dia sudah penuh darah, kalau sudah kenyang akan terlepas sendiri....."



 



Hampir pingsan Kwa Hong oleh ke-ngerian dan kejijikan. "Buanglah..... lepas-kan dari betisku..... huiii....."



 



"Kalau diambil secara paksa, kulit betismu akan terluka, Nona. Biarkan sebentar." Tanpa ragu-ragu Beng San memegang kaki Kwa Hong yang diangkat itu, melihat lintah dari dekat. Betul saja dugaannya, lintah itu segera melepaskan kaki Kwa Hong karena sudah kekenyang-an, jatuh ke dalam air dan lenyap. Kwa Hong meremang bulu tengkuknya, ia ketakutan sekali dan tanpa diminta lagi ia segera meloncat ke pundak Beng San, duduk di atas pundak kanan, tangannya memegangi leher.



 



"Binatang celaka, binatang menjijik-, kan, terkutuk....." ia memaki-maki, tapi ia masih menggigil ketakutan.



 



Beng San merangkul kaki dua orang nona itu agar tidak jatuh dari atas pun-daknya, kemudian dia melangkah maju lagi. Setelah dua orang nona itu duduk di atas pundaknya, dia lebih lancar bergerak maju, tidak usah nnenjaga orang lain di sisinya seperti tadi. Air sekarang sudah mencapai dadanya. Celaka, pikir Beng San. Kalau air itu makin dalam, bagai-mana? Tentu saja dia dapat berenang, akan tetapi bagaimana dengan dua orang nona ini? Dengan berenang sukar kiranya membawa mereka itu. la memutar-mutar otak mencari akal untuk menghadapi kemungkinan ini. Begini saja, pikirnya, untuk sementara kutinggalkan dulu mere-ka di tempat yang tidak dalam, kemudi-an aku berenang melalui tempat dalam mencari tempat berpijak lain yang dang-kal. Kemudian kubawa mereka seorang demi seorang menyeberangi ke tempat itu. Lalu pergi mencari lagi. Kukira de-ngan demikian akhirnya kita akan sampai juga ke seberang. la berbesar hati dan melanjutkan langkahnya, hati-hati agar jangan sampai tergelincir ke dalam lubang dalam.



 



”Hong-jiiiii.....!"



 



"Bwe-jiiiii.....!"



 



Suara panggilan ini terdengar keras, bergema sampai ke tengah rawa.



 



"Ayah memanggilku!" seru Kwa Hong gembira.



 



"Itu suara ayahku!" Thio Bwee juga berseru.



 



"Hong-ji! Bwee-ji! Kembalilah kesini, ayah kalian menanti di sini!" terdengar suara Sian Hwa yang tinggi nyaring.



 



"Ah, semua orang sudah menyusul di sana Beng San, hayo kita kembali saja. Ayah dan bibi sudah di sana, kita sudah aman sekarang," Kwa Hong mendesak.



 



"Betul, hayo antar aku ke sana, Beng San. Ayah menanti di sana," kata pula Thio Bwee dengan gembira. Hilangiah kekhawatiran dan ketakutan dua orang anak perempuan itu setelah mereka men-dengar suara ayah mereka.



Beng San ragu-ragu. "Tapi..... apakah tldak lebih baik terus saja mendahului dan menanti di rumah ? Jalan kembali lebih jauh....."



 



"Eh, kau berani membantah? Kalau tidak mau antar, biar aku jalan sendiri!" Kwa Hong merosot turun dari atas pundak Beng San, juga Thio Bwee. Dua orang anak ini mendadak timbul keberaniannya. Beng San menarik napas panjang. Sebetulnya dia keberatan untuk kembali karena takut kalau-kalau dia akan men-dapat marah. Akan tetapi, tidak tega pula kalau harus membiarkan dua orang nona ini kembali berdua saja. Bagaimana nanti kaiau Thio Bwee tergelincir seperti tadi? Bagaimana kalau kaki Kwa Hong digigit lintah seperti tadi? Kalau sampai sebrang diantara dua orang nona ini terkena celaka, bukankah tanggung jawabnya akan lebih besar pula dan lebih berat?

Comments

Popular posts from this blog

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…