Skip to main content

Raja Pedang 21 (Kho Ping Hoo)


Dua orang anak laki-laki itu saling pandang. Mereka ingin memperlihatkan di depan Kwa Hong bahwa mereka gagah dan tidak kalah oleh yang lain. Sekarang Kwa Hong tidak mau melihat mereka mengadu kepandaian, untuk apa mereka lanjutkan? Akar tetapi kalau tidak pergi mencari tempat lain, juga dapat dianggap takut atau pengecut.






Kwa Hong yang melihat keraguan mereka lalu tertawa. "Sudahlah, simpan pedang kalian. Kalau mau menentukar» siapa yang lebih unggul, mudah saja. Kalian pergunakan ranting yang tidak berbahaya, aku akan menyediakan tinta. Ujung ranting diberi tinta dan ranting itu dimainkan seperti ujung pedang. Siapa yang lebih dulu terkena tinta bajunya dialah yang kalah."



Usul ini didukung oleh Thio Bwee yang tentu saja juga tidak menghendaki pertempuran sungguh-sungguh antara kakaknya dan Kui Lok. Dua orang anak itu pun setuju dan masing-masing men-cari sebatang ranting yang lembek. Segera mereka membasahi ujung ranting masing-masing dengan tinta dan mulailah mereka bertanding, disaksikan oleh Kwa Hong dan Thio Bwee. Kwa Hong ber-tindak sebagai wasitnya. Tak-tok-tak-tok bunyi dua batang ranting itu beradu dan kedua orang jago muda itu bergerak cepat untuk mendahului lawan mengirim tusukan untuk menodai baju lawan de-ngan tinta di ujung ranting.




"He, Ki-ko! Tidak boleh menyerang mata!" Kwa Hong berseru. Sebagai wasit, ia harus berlaku adil. Menurut perjanjian tadi, masing-masing hanya boleh me-nyerang baju untuk memberi tanda de-ngan tinta.




"Lok-ko, tidak boleh menendang!" Ia berseru.




Mula-mula hanya jarang ia berseru melarang, akan tetapi kedua orang jago muda itu makin lama menjadi makin penasaran dan panas karena belum juga marapu mengalahkan lawan. Makin sering mereka melakukan pelanggaran-pelanggar-an dan makin sering pula Kwa Hong berteriak-teriak melarang. Malah seka-rang Thio Bwee juga ikut berteriak-teriak karena khawatir melihat dua orang jago muda itu mulai menggunakan serangan sungguh-sungguh yang membahayakan lawan. Pertandingan untuk mengadu ke-pandaian itu menjadi perkelahian yang sungguh-sungguh. Kwa Hong marah dan membanting-barrting kakinya.




"Kalian curang! Kalian tidak memegang janji. Sudah, jangan berkelahi lagi'" Akan tetapi mana dua orang jago muda yang sudah panas perutnya itu mau ber-henti? Mereka malah menyerang lebih hebat. Kwa Hong berteriak-teriak marah.




Tiba-tiba terlihat bayangan orang berkelebat dan tahu-tahu dua orang jago muda itu robph terguling. Mereka tidak terluka karena tadi hanya. terdorong saja ke samping, dengan heran mereka merayap bangun. Juga Kwa Hong dan Thio Bwee terheran-heran memandang..... ternyata bahwa Koai Atong sudah berdiri di situ, cengar-cengir dan berkata.




"Kalian tidak boleh bikin marah Enci Hong!" Lalu dia berpaling kepada Kwa Hong dan berkata, "Enci Hong, aku datang kembali untuk mengajak kau ber-| main-main seperti dulu. Hayo ikut aku j ke hutan sebelah sana itu, tadi aku melihat seekor kijang muda yang amat in-dah. Akan kutangkap binatang itu untukmu." la melangkah maju hendak meng-gandeng tangan Kwa Hong.




"Tidak, Koai Atong. Aku tidak mau pergi. Sukong akan marah nanti." Kwa Hong mengelak.



"Tidak marah, biar kalau marah aku yang tanggung jawab." Koai Atong hen-dak memaksa, sekali tangannya menyam-bar dia sudah dapat memegang pergelangan tangan Kwa Hong.



"Tidak, tidak, aku tidak mau.....'. Mereka berkutetan. Agaknya Koai Atong tidak mau mempergunakan kekerasan te&hadap Kwa Hong yang disayanginya sebagai sahabat baik itu, maka mereka berkutetan saling tarik. Kalau Koai Atong mau mempergunakan kekerasan, tentu saja dengan mudah dia akan dapat membawa lari Kwa Hong.



Pada saat itu, dari luar taman ber-jalan masuk seorang anak laki-laki. Jauh dibelakang nampak beberapa orang tosu berlari-lari sambil berteriak-teriak.



"Anak setan, tak boleh masuk kesana!" Agaknya anak yang masuk itu tadi dapat meninggalkan para tosu yang sekarang mengejarnya.



Anak ini bukan lain adalah Beng San! Seperti sudah diceritakan di bagian depan, Beng San sampai di kaki gunung Hoa-san dan bertemu dengan Tan Hok dan teman-temannya, para anggauta Pek-lian-pai. Setelah berpisah dari Tan Hok, dia segera mendaki gunung itu menuju ke puncak. Beberapa orang tosu melarangnya naik, akan tetapi Beng San berkeras hendak bertemu dengan ketua Hoa-san pai. Anak ini ketika dihalangi lalu berlari menyelinap cepat sampai. para tosu itu a tertinggal jauh dan mengejar terus. Akhir-nya dia memasuki taman bunga itu.



Melihat betapa seorang gadis cilik ditarik-tarik seorang laki-laki tinggi besar, hati Beng San menjadi penasaran dan marah sekali. Ia tidak mengenal Kwa Hong, juga tidak mengenal Koai Atong sungguhpun pernah dia bertemu dengan kedua orang ini. Dengan langkah lebar dia menghampiri Koai Atong yang masih berkutetan dengan Kwa Hong, memegang lengan Koai Atong sambil berkata keras.



"Seorang laki-laki dewasa menyeret-nyeret seorang anak perempuan kecil, sungguh tak patut. Memalukan sekali!"



Suara Beng San amat nyaring sampai terngiang di telinga. Tidak hanya Koai Atong yang kaget, juga Kwa Hong, Thio Ki, Thio Bwee, dan Kui Lok terkejut, menoleh dan memandang.



Tiba-tiba Koai Atong melepaskan pegangannya pada lengan Kwa Hong, tubuhnya menggigil, wajahnya yang merah berubah pucat sekali, matanya melotot lebar, mulutnya ternganga dan dia bepdiri seperti orang terserang demam. Tangan kanannya dengan telunjuk meng-gigil menuding ke arah Beng San, mulutnya mengeluarkan suara tidak karuan, akan tetapi masih dapat ditangkap oleh anak-anak itu.



"Ssseeeee..... sssssetannn..... setan.....!" Tiba-tiba dia meloncat jauh dari situ, lalu lari sekerasnya sambil memekik-mekik, "Setan! Dia roh jahat..... hidup lagi..... aduh setan..... ampunkan aku.....!" Sebentar saja Koai Atong sudah tidak tampak lagi bayang-bayangnya.



Tentu saja Beng San terlongong keheranan. la tidak tahu bahwa dahulu dalam keadaan tidak sadar karena menelan pil buatan Siok Tin Cii, dia dipukul dan dilukai oleh Koai Atong yang menggunakan Jing-tok-ciang dan anak tua itu menyangka bahwa dia sudah tewas. Tentu saja sekarang tiba-tiba Beng San dengan mukanya merah kehitaman berdiri dt depan kakek yang berwatak anak-anak im membuat Koai Atong ketakutan setengah mati dan membuat dia lari tunggang-langgang, tak berani lagi kembali ke Hoa-san!



Kwa Hong dan teman-temannya juga terkejut ketika melihat seorang anak laki-laki berdiri di situ, pakaiannya com-pang-camping, kakinya tidak bersepatu, rambutnya kusut dan mukanya merah kehitaman. Muka Beng San menjadi me-rah karena dia tadi marah melihat Koai Atong menarik-narik tangan Kwa Hong. Mukanya merah hitam, matanya tajam seperti mata harimau, benar-benar me-rupakan seorang anak yang aoeh dan patut kalau dianggap setan.



Akan tetapi Kwa Hong segera mengenal Beng San. la melangkah maju dan memperhatikan muka Beng San sementara itu telah mulai berubah, lenyap warna merah hitam menjadi putih bersih kembali akan tetapi perlahan-lahan berubah pula menjadi kehijauan. Hal ini adalah karena sepasang mata Kwa Hong sudah mengenalnya, dan ia merasa agak malu berhadapan dengan empat orang anak-anak yang berpakaian indah-indah dan bersikap gagah ini.



"Eh, kaukah ini? Kau..... bunglon?" Kwa Hong menegur sambil tertawa geli. Setelah mendengar suara Kwa Hong, baru Beng San teringat bahwa gadis cilik baju merah inilah yang dulu pernah ber-cekcok dengannya di dalam hutan. la pun tersenyum dan berkata.



"Kiranya kau di sini..... kuntilanak!" Kui Lok dan Thio Ki menjadi merah mukanya. Mereka memandang kepada Beng San dengan mata melotot, marah sekali mereka mendengar betapa anak jembel ini memaki Kwa Hong kuntilanak. Benar-benar kurang ajar sekali! Pada saat itu para tosu yang mengejar Beng San, empat orang jumlahnya, sudah.tiba di situ dan mereku berteriak-teriak.



"Penjahat cilik itu jangan sampai terlepas! Di larang masuk ke sini!"



"Aku mau berjumpa dengan Lian Bu Tojin," bantah Beng San.



Akan tetapi Kui Lok dan Thio yang sudah marah sekali, melihat para tosu marah-marah kepada anak jembel itu, menjadi makin berani. Keduanya lalu melangkah maju dan memaki, "Jembel busuk hayo pergi dari sini!"



Beng San tenang-tenang saja, memandang kepada Kui Lok dan Thio Ki yang berdiri angkuh di depannya. "Aku tidak mau pergi kalau belum bertemu dengan Lian Bu Tojin."



"Keparat! Kau minta dipukul?" bentak Thio Ki marah.



Beng San tertawa dan menggeleng kepalanya. "Siapa yang minta dipukul? Aku tidak! Aku mau bertemu dengan Lian Bu Tojin."



"Macammu ini mau bertemu dengan sukong? Sukong terlalu mulia untuk ber temu dengan segala jembel busuk. Kalau kau tidak lekas' minggat dari sini, akan kupukul!" kata Kui Lok galak, •



Beng San melengak heran. "Kalian ini Hl cucu murid Lian Bu Tojin? Ah, kalau begitu aku salah alamat. Orang bilang Lian Bu Tojin ketua Hoa-san-pai seorang, mulia hatinya, dan bahwa orang-orang Hoa-san-pai adalah orang-orang gagah. Kiranya murid kecilnya begini galak."



Kui Lok dan Thio Ki adalah keturunan orang-orang gagah, maka ucapan merupakan tamparan bagi mereka. "Kau yang kurang ajar!" bantah Thio Ki membela diri. "Kau berani memaki kuntilanak kepada Hong-moi. Kurang ajar kau!"



Beng San menoleh kepada Kwa Hong sambil tertawa kecil. "Dia memang kuntilanak. Tanyakan saja kepadanya, kami berkenalan sebagai bunglon dan kuntilanak. Betul tidak begitu, kuntilanak?"



Kwa Hong membanting kakinya yang kecil. "Bunglon! Kadal monyet kau! Aku bukan kuntilanak!'.



"Aku juga bukan bunglon, kadal atau monyet!" bantah Beng San marah.



"Tapi mukamu berubah-ubah seperti bunglon, kau masuk selongsong ular seperti kadal, rupamu buruk cengar-cengir seperti monyet!" maki Kwa Hong dengan muka merah saking marahnya.



"Kau pun galak dan mukamu buruk seperti kuntilanak....."



"Plakkk!" tangan Kwa Hong melayang dan pipi kiri Beng San telah ditamparnya. Beng San terhuyung mundur. Pada saat itu, Kui Lok dan Thio Ki sudah menubruk maju dan menghujani tubuh Beng San dengan pukulan-pukulan keras. Beng San terhuyung-huyung dan roboh. Anak ini memang selama meninggalkan tempat persembunyian Lo-tong Souw Lee, mentaati perintah kakek itu dan tidak pernah mau mempergunakan kepandaiannya. Maka ketika ditampar kemudian dipukuli dia diam saja, "menyimpan" tenaga dalam tubuhnya dan membiarkan dirinya dipukuJi. la merasa kulit dada dan mukanya sakit-sakit.



”Aku mau bertemu dengan Lian Bu Tojin, jangan pukul aku....." ia berkata.



Akan tetapi dua orang jago muda itu tidak mau memberi ampun lagi kepada-nya. Thio Ki memukul lagi ketika Beng San rnencoba untyk berdiri, pukulan keras mengenai leher Beng San membuat anak itu terpelanting roboh. Kui Lok lalu menubruknya, menduduki dadanya dan memukuli muka Beng San dengan kedua tangan. Kedua pipi Beng San sampai bengkak-bengkak terkena pukulan ini.



"Hayo, kau minta ampun dan berjanji mau pergi dari sini!" kata Kui Lok terengah-engah, menghentikan pukulannya.



Beng San hanya menggeleng kepala-nya. "Aku mau bertemu dengan Lian Bu....." Tak dapat dia melanjutkan kata-katanya karena hidungnya dipukul Kui Lok sampai keluar darahnya.



"Lok-te, biar kugantikan engkau!" Thio Ki menarik Kui Lok pergi dan menjambak rambut Beng Sang, menarik anak ini berdiri lalu memukul ke arah dada.



"Blukkk!" Tubuh Beng San terlempar sampai dua meter lebih. Thio Ki mengejar, menjambak rambut lagi mendirikan Beng San lalu dipukul lagi lebih keras. Pakaian Beng San yang sudah cobak-cabik itu makin rusak, koyak-koyak disana-sini.



"Sudah, Ki-ko, Lok-ko, jangan pukul lagi!" Kwa Hong maju mencegah. Tak tega ia melihat Beng San dipukuli seperti itu. Juuga Thio Bwee maju mencegah kakaknya. Akan tetapi para tosu dengan tertawa lebar memuji-muji kepandaian dua orang kongcu muda itu dan berkata menganjurkan.



"Pukul terus! Pukul sampai dia mau minta ampun."



"Hayo lekas berlutut mihta ampun teriak Kui Lok dan Thio Ki berganti-ganti sambil memukul terus.



Sesabar-sabarnya orang, apalagi seorang anak kecil seperti Beng San, kalau didesak terus seperti itu dan disiksa, akhirnya tak kuat juga menahan. Sakit pada tubuhnya bukan apa-apa baginya karena dia sudah sering kali menderita sakit. Akan tetapi sakit pada hatinya yang lebih berat ditanggung. Mukanya yang tadinya kehijauan sekarang sudah mulai menjadi merah kehitaman, tanda bahwa dia tak dapat lagi menahan kemarahannya. Pada waktu itu, Kui Lok memeeane tanean kirinya, sedangkan Thio Ki memegang tangan kanannya, keduanya memukul dari kanan kiri sambil membentak-bentak memaksa dia berlutut minta ampun. Karena tak dapat , menahan lagi kemarahannya, tenaga mu-jijat dalam tubuh Beng San bekerja, hawa Yang di tubuhnya membuat mukanya kehitanrian itu menolak pukulan-pukulan dari kanan kiri. Tiba-tiba terdengar pekik kesakitan, Kui Lok sehabis memukul terguling roboh, disusul Thio Ki yang juga roboh setelah memukul leher Beng San. Kedua orang anak itu roboh dan pingsan dengan mata mendelik dan naulut berbusa!



Bukan main kagetnya Kwa Hong dan Thio Bwee. Mereka melihat jelas betapa dua orang jago muda itu yang memukull, kenapa tahu-tahu roboh pingsan dengan mata mendelik? Para tosu juga melihat ini dan mereka yang percaya akan tahyul menjadi ketakutan.



"Dia benar setan...... dia iblis jahat..... celaka.....!" Para tosu itu cepat mengeluarkan senjata, masing-masing dan siap hendak mengeroyok Beng San.



”Supek sekalian, jangan turun tangan!" Kwa Hong meloncat mencegah. "Biar sukong nanti yang memutuskan urusan ini."



Para tosu masih bersikap mengancam. Beng San diam-diam mencatat pembelaan Kwa Hong atas dirinya ini di dalam hatinya. Betapapun juga, kuntilanak cilik ini tidak jahat, pikirnya. la diam saja, hanya menyusuti darah yang tadi mengalir dari lubang hidungnya dan nriernbereskan pakaiannya yang koyak-koyak. Kebetulan sekali pada aaat itu, Lian Bu Tojin dan Sian Hwa datang memasuki taman. Mereka kaget melihat ribut-ribut di taman.



Sian Hwa mengeluarkan seruan kaget dan cepat memeriksa dua orang anak keponakannya yang pingsan dengan mata mendelik. Lian Bu Tojin juga memandang heran. Setelah memeriksa sebentar, kakek ini bertanya dengan suara terheran-heran.



"Mereka pingsan karena terluka hawa pukulan sendiri yang membalik," lalu menoleh kepada Kwa Hong dan Thio Bwee. "Apa yang telah terjadi di sini?



Beramai-rarnai para tosu yang tadi menghalangi Beng San masuk dan Kwa Hong menceritakan asal mula kejadian j itu. Bahwa Beng San memaksa naik ke puncak sampai memasuki taman dan betapa Koai Atong yang hendak membawa pergi Kwa Hong kaget dan lari ketakutan ketika melihat kedatahgan Beng San. Kemudian Kwa Hong menceritakan betapa Thio Ki dan Kui Lok marah karena Beng San tidak mau pergi memukulinya.



"Bunglon..... eh, anak ini tidak lawan, Sukong. Teecu sudah mencegah kedua suheng memukulinya, akan tetapi mereka terus saja memukul. Akhirnya, entah bagaimana, keduanya malah roboh sendiri seperti itu." Setelah berkata demikian, Kwa Hong menoleh kepada Beng San yahg kini berdiri menundukkan mukanya yang sudah berubah putih kembalt, pulih bersih dengan alisnya yang hitam lebat dan matanya yang seperti mata harimau.



Lian Bu Tojin menghampiri dua orang muridnya. Dengan beberapa kali mengurut punggung mereka, dua orang anak itu waras kembali, bangun dengan muka kemerahan. Lian Bu Tojin memandang mereka dengan muka keren, mem-buat dua orang anak itu tunduk ketakutan. Kemudian Lian Bu Tojin menghampiri Beng San, untuk beberapa menit lamanya dia menatap wajah anak itu dan amat terheran-heran menyaksikan sinar mata yang luar biasa dari anak jembel yang berdiri di depannya.



"Kau siapakah, anak muda?" Pertanyaan kakek ini halus akan tetapi berpenga--,ruh sedangkan pandang matanya tajam menembus jantung. Hal ini dirasakan oleh Beng San ketika dia mengangkat muka. Cepat-cepat dia menundukkan pandang matanya agar jangan sampai kakek itu dapat membaca rahasia hatinya.



"Nama teecu Beng San," Jawabnya sederhana.



"Apa nama keturunanmu?"



"..... nama keturunan? Hemmm, she (nama keturunan) teecu (aku) adalah..... Huang-ho (Sungai Kuning)."



”Apa?” Lian Bu Tojin mengerutkan keningnya. "Di dunia ini, mana ada orang bernama keturunan Huang-ho?"



"Teecu hanya tahu bahwa teecu terbawa hanyut Sungai Huang-ho, karena itu teecu tidak tahu lagi siapa orang tua dan siapa pula she, teecu mengambil keputusan untuk memakai nama keturunan Huang-ho saja. Jadi nama teecu Huang-ho Beng San."



Lian Bu Tojin mengangguk-angguk, mengelus-elus jenggot dan diam-diam diamemuji sikap anak ini yang dari kata-katanya menunjukkan bahwa dia seorang anak yang tahu akan sopan santun.



"Kenapa Koai Atong lari, tunggang- ;, langgang melihatmu?"



"Siapa ,itu Koai Atong, Totiang? Teecu ^ tidak mengenalnya»"



"Orang tinggi besar yang tadi lari ketakutan melihatmu. Apakah kau tidak pernah bertemu dengannya?"



Beng San menggelengkan kepala. "Teecu tidak merasa pernah bertemu dengan orang tadi."



Kembali Lian Bu Tojin mengelus jenggot, sedangkan Sian Hwa, Kwa Hong dan tiga orang temannya, juga para tosu yang berada di situ, mendengarkan dengan heran. Bocah ini benar-benar aneh.



”Ketika kau dipukuli dua orang anak nakal ini, dengan cara bagaimana kau bisa mengembalikan tenaga dan hawa pukulan mereka? Pernahkah kau belajar silat?"



Kembali Beng San menggelengkan kepala. "Teecu tidak tahu, tidak bisa silat"



Lian Bu Tojin menoleh kepada Kui Lok dan Thio Ki yang berdiri sambil tunduk. Kening kakek ini berkerut. "Kali-an ini anak-anak nakal sungguh tak tahu malu. Mengeroyok dan memukuli seorang anak yang tidak pandai silat? Apakah hal itu termasuk perbuatan gagah? Sungguh memalukan kalian ini. Dan katakanlah, apa sebabnya kalian tadi roboh pingsan?"



Kui Lok tidak berani menjawab, Thio Ki juga hanya melirik kepadanya. Setelah Lian Bu Tojin membentak dan mendesak, baru Thio Ki menjawab lirih.



"Tidak tahu, Sukong. Tahu-tahu teecu sudah sadar tadi. Entah apa sebabnya teecu bisa pingsan.



Sian Hwa merasa kasihan melihat murid-murid keponakannya, maka ia berkata.



"Suhu, apakah tidak bisa jadi karena terlampau marah, mereka tidak mengatur tenaga dan hawa kemarahan menyesak ke dada sehingga ketika mereka memukul, tenaga pukulan terpental oleh hawa yang menyesak di dada sendiri itu?"



Lian Bu Tojin mengangguk-angguk. "Mungkin begitu. Tapi hal ini termasuk hal yang luar biasa sekali." Ia menoleh kepada Beng San. "Apakah badanmu sakit-sakit dipukul tadi? Coba kuperiksa, barangkali kau terluka parah, kalau begitu akan kuobati sampai sembuh." tanpa menanti jawaban Lian Bu Tojin menyodorkan tangannya dan meraba pundak Beng San. Anak ini merasa betapa dari telapak tangan yang halus lunak itu keluar semacam tenaga dahsyat yang menyerang pundaknya. la kaget sekali dan hampir saja dia mengerahkan tenaga. Baiknya dia seorang yang cerdik. Biarpun dia belum perpengalaman, namun pengertiannya dalam ilmu silat tinggi yang dia pelajari dari Lo-tong Souw Lee sudah cukup. la mengerti bahwa dirinya diuji, maka segera dia mengumpulkan semangatnya, memaksa diri diam agar hawa di tubuhnya jangan bergerak.

Comments

Popular posts from this blog

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…