Skip to main content

Raja Pedang 19 (Kho Ping Hoo)


"Kalian pulanglah, akan tetapi anak- I anak itu biarkan di sini saja. Bukankah lima bulan lagi kalian datang? Aku ingin melihat sendiri kemajuan mereka, terutama membimbing watak mereka. Tin Siong dan kau, Wan It dan Kui Keng, tentu rela meninggalkan anak-anak kalian di sini untuk lima bulan lagi, bukan?"



"Tentu saja, Suhu. Malah teecu meng- 'l haturkan banyak terima kasih bahwa Suhu sendiri berkenan membimbing me- 'l reka," jawab tiga orang murid itu serempak.

"Suheng sekalian, jangan khawatir, aku berada di sini menemani rnereka," kata Sian Hwa. Makin gembira hati mereka, juga Lian Bu Tojin girang sekali mendengar bahwa Sian Hwa yang sudah tidak ada keluarga lagi itu hendak ikut menanti di Hoa-san selama lima bulan.

Demikianlah, Kwa Tin Siong, Thio Wan It, dan Kui Keng turun dar Hoa-san untuk pulang ke rumah masing-masing sedangkan Sian Hwa tinggal di Hoa-san bersama murid-murid keppnakannya. Gadis yang sedang menderita tekanan batin ini menghibur hatinya dengan melatih silat kepada keponakan-keponakannya. Agak terhiburlah hatinya melihat anak-anak yang gembira dan lincah itu. Apa-lagi terhadap Kwa Hong, Sian Hwa amat menyayangnya.

* * *

Pada waktu terjadi perang kecil antara serombongan orang Pek-lian-pai yang dipirnpin oleh Tan Hok melawan pasukan Mongol yang mengakibatkan musnahnya pasukan Mongol di kaki Gunung Hoa-san, beberapa orang tosu Hoa-san-pai melaporkan hal itu kepada Sian Hwa. Memang gadis ini dianggap orang yang paling pandai di antara para tosu. Lian Bu Tojin sendiri sedang bersamadhi dan sama sekali tidak boleh diganggu, maka kepada Sian Hwa mereka itu me-nuturkan tentang perang di kaki gunung. Mendengar ini, dengan dikawani lima orang tosu kepala yang sudah tinggi ke-pandaiannya, Sian Hwa lalu berlari turun dari puncak. Kepada anak-anak kepona-kannya ia berpesan agar supaya jangan meninggalkan taman dan bermain-main di dalam taman saja.

Kedatangan Sian Hwa dan lima orang tosu di tempat pertempuran sudah ter-lambat. Tan Hok dan teman-temannya, termasuk Beng San, sudah lama meninggalkan tempat itu dikejar pasukan Mo-ngol lain yang lebih besar jumlahnya dan yang seperti kita telah ketahui, dipancing untuk mengalami kehancurar» di Pek-tiok- . kok.

Liem Sian Hwa hanya mendapatkan tanah yang baru digali, yaitu tempat dimana mayat-mayat serdadu Mongol dikubur oleh Beng San dan yang kemudian dibantu oleh Tan Hok dan teman-temannya. Melihat adanya sebuah bendera Pek-lian-pai di pohon, timbul kemarahan di hati Sian Hwa. Betapapun juga, Pek-lian-pai sekarang sudah menjadi musuh besarnya. Bukankah, ayahnya terbunuh oleh orang Pek-lian-pai dah Kwee Sin? Saking marahnya, ia merenggutkan bendera itu dari pohon dan merobek-robeknya, Seorang tosu mendekati dan berkata.

"Sumoi, kenapa kau merobek-robek bendera Pek-lian-pai itu? Bukankah itu bendera orang-orang yang melawan pa-sukan Mongol?"

"Pek-lian-pai perkumpulan orang-orang jahat! Kalau aku melihat mereka tadi di sini, akan kulawan dan kubasmi semua!” seru Sian Hwa dengan suara marah. "Suheng sekalian apakah tidak ingat bahwa ayahku terbunuh oleh paku Pek-lian-ting. milik Pek-lian-pai? Bagaimana aku tidak akan memusuhinya?"

"Bagus, bagus! Memang Pek-llan-pai jahat sekali, patut dibasmi! tiba-tiba terdengar suara orang dan ketika Sian Hwa menengok, ternyata yang bicara adalah seorang laki-laki muda yang tampan, selalu tersenyum dan pakaiannya indah sekali. Muka gadis itu seketika menjadi merah karena sinar mata pemuda ini amat tajam, bersinar-sinar tidak menyembunyikan kekagumannya ke-tika menatap kepadanya. Orang muda itu lalu memberi hormat, menjura sambil mengangkat kedua tangan dengan sikap yang halus sekali sehingga tiada kesempatan bagi Sian Hwa untuk marah.

"Maafkan saya, Nona. Saya Souw Kian Bi dan saya merasa sangat cocok dengan pendapat Nona tadi. Memang Pek-lian-pai adalah perkumpulan orang-orang jahat”.

Liem Sian Hwa tak mungkin dapat marah terhadap orang yang bersikap manis dan hormat sungguhpun hatinya tidak senang melihat kelancangan orang ini. Terpaksa oleh sopan santun ia balas menjura dan berkata singkat.

"Saya tidak ada urusan dengan Tuan, i1 tfe .uga tidak mengenal Tuan. Maafkan bahwa saya tidak sempat bercakap-cakap lebih lama lagi." Nona ini membalikkan tubuh hendak pergi.

Souw Kian Bi melangkah maju. "Perlahan dulu, Nona. Apa salahnya kalau kita sekarang berkenalan? Apakah Nona anak murid Hoa-san-pai?"

Lima orang tosu yang mengawani Sian Hwa merasa tidak senang melihat ada seorang muda berani menegur sumoi mereka. Dianggapnya pemuda itu kurang ajar. Seorang di antar,a para tosu itu mencela.

"Sumoi tidak ada urusan denganmu, orang muda. Harap jangan mengganggu lebih jauh." Sambil berkata demikian, tosu itu menggerakkan tangan bajunya untuk mendorong orang muda itu minggir karena orang itu menghalangi jalan. Tentu saja dia mengerahkan tenaga untuk memperlihatkan kepandaian dan untuk menakut-nakuti orang muda itu. Orang muda itu sama sekali tidak menangkis atau mengelak, akan tetapi ketika lengan baju itu mengenai dadanya, bukan pemuda itu yang terdorong, melainkan tosu tadilah yang terpelanting. Tosu itu bereeru kaget dan menjadi marah.

"Eh, kau mau main-main?" bentaknya sambil mencengkeram ke arah pundak.

"Suheng, jangan.....!" Sian Hwa memperingatkan tosu itu karena gadis ini melihat bahwa pemuda ini bukan orang sembarangan, terbukti dari gerakan kaki-nya ketika terdorong tadi. Namun terlambat, tangan tosu itu terpelanting. Hanya kali ini terpelanting keras sampai terbentur batu daR mengeluarkan darah.

Empat orang tosu yang lain menjadi marah sekali. "Keparat, berani kau me-robohkan saudara kami?" Serentak empat orang tosu ini menerjang pemuda tadi dengari pukulan-pukulan tangan. Souw , Kian Bi, pemuda aneh itu, hanya tersenyum saja tanpa menangkis, hanya rnenundukkan kepala untuk rnenghindarkan pukulan yang mengancam mukanya. Terjadi hal yang aneh sekali. Kepalan ta-ngan empat orang tosu itu dengan jelas kelihatan mengenai tubuh pemuda itu sampai terdengar suara bak-bik-buk, akan tetapi tosu-tosu itu berteriak kesakitan sambil memegangi tangan mereka yang sudah menjadi bengkak-bengkak. Mereka merasa seperti memukul baja, bukan badan orang!

Sian Hwa tak dapat menahan kesabarannya lagi, karena di samping merasa heran sekali. Biarpun kepandaian empat orang suhengnya belum tinggi benar, namun menerima pukulan dengan badan dari empat orang sekaligus seperti pemuda itu dan rnenibuat si pemukul sendiri bengkak-bengkak tangannya, benar membuktikan bahwa pemuda itu berilmu tinggi. Tanpa ragu-ragu ia. lalu mencabut pedangnya, meloncat dekat dan membentak.

"Manusia sombong, berarii kau bermain gila di depanku?" la melintangkan pedang di dada lalu menantang. "Hayo keluarkan senjatamu, hendak kulihat sampai di mana kelihaianmu!"


Orang muda yang mengaku bernama Souw Kian Bi itu tersenyum dan pandang matanya makin membayangkan kekaguman? "Kau hebat, Nona, hebat sekali. Patut menjadi sahabat baikku. Cantik dan gagah perkasa, hemmm.....",

Tentu saja muka Sian Hwa menjadi makin merah. Tidak ada wanita di dunia ini yang tidak senang dipuji seorang laki-laki, terutama sekali dipuji akan kecan-tikannya. Demikian pula Sian Hwa. Akan tetapi di samping rasa senangnya ini, terdapat pula perasaan marah karena dianggapnya laki-laki itu kurang ajar.

"Siapa sudi menjadi sahabatmu? Hayo keluarkan senjatamu, kalau tidak, jangan salahkan aku kalau habis kesabaranku ....”.

Souw Kian Bi tertawa, tampak barisan giginya yang putih dan rapi. "Kau hendak main-main dengan pedang? Oho, bagus sekali. Memang kurang mesra per-kenalan kita kalau tidak melalui ujung senjata. Nah, aku sudah siap, kau perlihatkanlah ilmu pedangmu, Nona Manis." Pemuda itu sekarang sudah memegang sebuah pedang yang amat indah karena gagang pedang itu dihias dengan batu-batu kumala. Selain indah bentuknya pedang itu pun nampak amat tajam sam- j pai berkilauan ter.timpa cahaya matahari.

Melihat lawannya sudah bersenjata, tanpa mengeluarkan kata-kata lagi Sian Hwa segera menerjang maju dengan ge-rakannya yang amat lincah dan cepat. Sepasang pedang di kedua tangannya . mengeluarkan suara mengaung ketika ia menghujani Souw Kian Bi dengah serangan-serangan maut. Sepasang pedang itu lenyap berubah menjadi dua gulung sinar _ yang membungkus tubuhnya, amat luar biasa dipandang.

Souw Kian Bi mengeluarkan seruan terkejut menyaksikan kehebatan ilmu pedang gadis itu. Cepat-cepat dia memutar senjatanya melindungi diri sehing-ga berkali-kali terdengar suar'a pedang bertemu pedang. Lima menit sudah Souw Kian Bi hanya menangkis dan melindungi diri saja, kemudian tiba-tiba dia me-loncat ke belakang sambil berseru.

"Jadi Nona ini Kiam-eng-cu Liem Sian Hwa, orang termuda dari Hoa-san Sie-eng? Pantas begini lihai dan cantik!" la tersenyum-senyum lagi, senyum memikat dengan sinar mata kagum.

Kembali wajah Sian Hwa menjadi merah "Tak usah banyak cakap, kau sudah 'merobohkan lima orang suhengku. Kau boleh coba merobohkan aku, baru patut menyombongkan diri!" Kembali gadis ini menubruk maju sambil mainkan sepasang pedangnya.

Souw Kian Bu cepat menangkis lagi sambil tertawa. "Alangkah akan senangnya andaikata aku dapar merobohkanmu, Nona, merobohkan hatimu terutama sekali. Alangkah senangnya....."

"Keparat kurang ajar!" Sian Hwa memperhebat serangannya dan kali ini Souw Kian Bi terpaksa mengeluarkan kepandai-annya untuk melindungi dirinya dari ancaman maut. Gadis itu merasa heran , sekali ketika mendapat kenyataan bahwa orang muda yang mengaku bernama Souw Kian Bi ini ternyata memiliki ilmu pedang yang amat aneh gerakannya, akan tetapi juga amat lihai. Semua serangan-nya dapat ditangkis dengan mudah, malah setiap kali pedangnya beradu dengan pedang lawannya, ia merasa telapak tangannya tergetar tanda bahwa tenaga dalam pemuda itu juga tidak kalah olehnya. Diam-diam ia mengeluh dan mencurahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya. la akan rnerasa malu sekali kalau sampai kalah oleh pemuda ceriwis ini'.

Di lain fihak, Souw Kian Bi juga amat kagum menyaksikan ilrnu pedang gadis lawannya. Tidak percuma gadis ini dijuluki Kiam-eng-cu (Bayangan Pedang) dan menjadi orang termuda dari Hoa-san Sie-eng yang ternama. Kesayangannya terhadap gadis ini yang tadinya tim-bul karena kecantikan Sian Hwa, menjadi bertambah-tambah. Kesayangan inilah , yang membuat Souw Kian Bi tidak rnau mempergunakan kepandaiannya untuk merobohkan Sian Hwa. Dia sengaja hendak membuat gadis ini roboh sendiri karena lelah dan di samping ini dia pun hendak memamerkan kepandaiannya agar betul-betul dapat merebut hati gadis cantik dan gagah ini.

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…