Skip to main content

Raja Pedang 15 (Kho Ping Hoo)

Akan tetapi, setelah mereka tt&a di tempat yang lebih tinggi, Beng San kaget melihat betapa pasukan besar di belakang itu pun kini sudah turun dari kuda dan mengejar mereka sambil berJoncat-loncat-an dan berlarian. Dilihat dari atas, enam puluh orang itu seperti semut yang me-rayap-rayap naik!


"Tan-twako, mereRa mi&ifr mengejar tanpa kuda! kata Beng San khawatir sekali.

Tan Hok hanya tersenyum. "Jangan i khawatir, Adik Beng San. Kita kaum Pek-lian-pai sudah biasa menghadapi rnusuh banyak. Musuh yang mengejar itu tidak ada seratus dan kita..... bersama kau dan kita ada tiga belas orang. Takut apa?

Diam-diam Beng San menghitung. Tiga belas orang melawan enam puluh orang lebih. Berarti seorang melawan lima orang musuh! Bagaimana raksasa ini masih bicara begitu enak? Beng San me-rasa heran, dan juga kagum.

"Aku jangan dihitung, T^ako. Melawan satu orang saja belum tentu aku menang, bagaimana harus melawan lima orang?"

Tan Hok hanya tertawa. "Kaulihat saja nanti. Lihat dan pelajarilah cara-cara kaum Pek-lian-pai mengganyang musuh-musuhnya."

"Srrrt! Srrrt!" Beberapa buah anak E panah meluncur dari belakang. Sebuah anak panah hampir saja mengenai tubuh Tan Hok, baiknya raksasa muda ini cepat menangkisnya dengan golok. la nampak kaget ketika merasa telapak tangannya tergetar.

"Teman-teman, cepat! Dan awas, pelepas panah lihai sekali. Lari sambil mencari perlindungan. Cepat!" la menarik tangan Beng San dan mendahului rombongannya. Mereka sudah hampir tiba di puncak bukit. Tadinya anak panah dari belakang masih gencar menyerang, akan tetapi karena perjalanan itu berliku-liku, J musuh dari belakang tak dapat melepas anak panah secara ngawur lagi.

Mereka tiba di daerah batu-batu 'be-sar yang banyak guanya. Tan Hok mem-bawa teman-temannya memasuk gua besar yang ternyata merupakan terowongan batu dan alangkah herannya hati Beng San ketika ternyata olehnya bahwa rom-bongan itu jalannya menuju..... ketnbali turun! Di tengah-tengah terowongan terdapat lubang-lubang di antara batu dan dari lubang-lubang ini mereka dapat mengintai musuh yang berada di luar.

"Ah, benar pasukan itu berhenti, tidak mengejar terus," kata Tan Hok setelah mengintai. "Tentu dipimpin oleh orang pandai yang berpengalaman. Kita harus memancing mereka sampai di Pek-tiok-kok. Mari, teman-teman, cepat. Kita menggunakan kecerdikan musuh untuk menipu mereka." Sambil berlari Tan Hok menggandeng tangan Beng San memasuki terowongan yang gelap itu, diikuti teman-temannya. Tak lama kemudian mereka tiba di tempat terbuka, keluar dari terowongan yang merupakan gua besar.

"Serbu mereka sambil berteriak-teriak, kalau mereka melawan pura-pura kalah biar mereka mengejar kita," bisik Tan Hok kepada teman-temannya. "Mungkin di fihak kita jatuh korban, akan tetapi 4ngat, apa artinya pengorbanan kita kalau akhirnya kita dapat menghancurkan mereka.

Semua orang mengangguk menyatakan setuju dan rombongan ini kembali me-rayap naik karena mereka sekeluarnya dari terowongan itu ternyata telah ber-ada di sebelah bawah kedudukan musuh. Mereka melihat barisan musuh memasang kedudukan di lereng, tidak mengejar terus. Inilah kecerdikan pimpinan barisan itu, karena kalau tadi mereka terus me-ngejar, tentu mereka itu akan menjadi korban hujan Pek-lian-ting (Paku-paku Teratai Putih) yang tentu akan dilakukan oleh rombongan Tan Hok. Enak saja me-nyikat mereka itu dari terowongan, menyerang tanpa dapat diserang kembali dan karena jalanan sempit pasti musuh akan kacau-balau dan banyak jatuh korban. Pimpinan tentara Mongol itu agaknya menaruh hati curiga, maka menyuruh pasukannya berhenti dan dia hanya me-nyuruh beberapa orang pengintai untuk merayap mendekati daerah berbatu-batu itu untuk melakukan penyelidikan. Ketika mendengar bahwa tidak ada jejak orang-orang yang mereka kejar, pimpinar baris-an itu berkata, "Kita tunggu saja, pasti mereka itu menggunakan siasat. Kita lihat saja apa siasat mereka. Denean menanti di tempat terbuka ini sambil siap siaga, tak mungkin mereka dapat menipu."

Tiba-tiba mereka mendengar suara sorak-sorai dan paku-paku Pek-lian-ting terbang menyambar dari belakang! Kaget sekali barisan itu. Pemimpinnya sendiri juga kaget, karena apa pun yang akan dilakukan oleh rombongan pemberontak Pek-lian-pai yang dikejar tadi sama se-kali dia tak pernah menduga bahwa yang dikejar itu tahu-tahu sudah muncul di belakangnya!

Tak sempat lagi menggunakan panah, maka pemimpin ini berteriak-teriak mem-beri komando supaya melawan. Apalagi ketika dilihatnya bahwa yang muncul hanya belasan orang lawan saja. "Serbu! Bunuh habis para pemberontak!" teriak-nya keras.

Tan Hok dan teman-temannya meng-amuk. Pemuda raksasa ini sedikitnya sudah merobohkan lima orang dan per-tempuran yang berat sebelah ini hanya berjalan seperempat jam. Beng San oleh Tan Hok disuruh bersembunyi agak jauh agar jangan tertimpa bencana. Tiba-tiba Tan Hok memberi aba-aba, "Mundur! Lari...... musuh terlampau kuat!"

Teman-teman Tan Hok rari' cerai-berai, nampaknya kacau-balau ketakutan. Pemimpin bansan Mongol tertawa ber-geiak-gelak, "Ha-ha-ha-ha-ha, tikus-tikus Pek Lian pai, mampus kalian semua. Hayo kejar”.

Biarpun kelihatannya kacau-balau, sebetulnya rombongan teman-teman Tan Hok ini mejankan diri secara teratur. Mereka cerai-berai sehingga musuh menjadi kacau pula da;a, pengejaran mereka. Dan apabila ada seorang dua orang musuh terpencil, tiba-tiba yang dikejar muncul dari tempat sembunyinyaan merobohkan satu dua orang musuh dengan Pek-lian-ting. Dan akhirnya, karena memang sudah diatur lebih dulu, semua orang yang lari kacau-balau dan sebetulnya siasat untuk mengacau musuh, telah berkumpul lagi dan melarikan diri ke selatan.

Pimpinan barisan marah bukan main melihat betapa anak buahnya dipermainkan. Seorang anggauta Pek-lian-pai yang dapat dirobohkan, dia cincang dengan golok besarnya, kemudian dia memberi aba-aba kepada semua barisannya supaya mengejar terus dan membasmi habis rombongan Pek-lian-pai yang hanya ter-diri dari belasan orang itu.

Beng San menyaksikan semua ini de-ngan kagum. la ikut lari pula di samping Tan Hok ketika rombongan ini lari ke selatan, dikejar dan dihujani anak panah. Tiga orang temannya roboh pula terkena anak panah. Mereka tidak mati, hanya terluka parah. Beng San ingin nnenolong mereka, akan tetapi Tan Hok mencegah-nya, malah menghampiri tiga orang itu dan berkata.

"Saudara-saudara, teruskan siasat kita!"

Tiga orang itu tersenyum lebar, de-ngan muka pucat mereka mengangguk dan dengan tubuh mandi darah mereka diam-diam mempersiapkan Pek-lian-ting dan golok di tangan. Sambil berlari-lari Beng San tak dapat menahan keinginan-nya untuk menengok ke belakang me-lihat ke arah tiga orang teman yang ! sudah terluka itu. Dua orang terluka dadanya tertancap anak panah, yang se- r orang terluka parah pahanya karena anak panah menancap dan menembus pahanya.

"Adik Beng San, tak usah menengok. Mereka akan tewas sebagai satria sejati, mereka akan gugur sebagai bunga bangsa, sebagai patriot pahlawan tanah air."

"Apa? Mereka akan mati? Dan kau-diamkan saja.....?" Beng San tak dapat ' menahan teriakannya dan dia sekarang mogok betul-betul» tidak mau lari lagi» Tan Hok tersenyum dan memberi isyarat kepada teman-temannya supaya lari te-rus. la sendiri berkata, "Kau mau (ne-nyaksikan kegagahan mereka? Baik, mari kita intai dari sini." la membawa Beng San ke beiakang sebuah batu besar dan berlutut di situ, mengintai ke arah tiga orang yang menggeletak tadi.

"Lihat, Adik Beng San. Lihat dan ingatlah selaju akan kegagahan 'kaum Pek-lian-pai, patriot-patriot sejati bisik Tan Hok.

Barisan itu sudah tiba di tempat di mana tiga orang anggauta Pek-lian pai itu menggeletak. Tiba-tiba tiga orang itu meloncat bangun dan menyambit dengan , Pek-lian-ting. Terdengar pekik kesakitan dan beberapa orang pengejar terjengang roboh. Komandan barisan itu marah se-kali. Anak panahnya menyambar dan seorang di antara tiga orang Pek-lian-pai roboh dengan leher tertembus anak panah. Yang dua mengamuk, dikeroyok dan biarpun mereka berhasil melukai dua orang lawan, namun mereka sendiri ro-boh dengan tubuh hancur dihujani senjata para pengeroyoknya. Beng San menutupi mukanya, ngeri.

"Twako, mengapa mereka tadi tidak dibawa lari saja? Kenapa kau begitu tega membiarkan teman-teiria.n sendiri mati seperti itu?"

Tan Hok menarik tangan Beng San, diajak berlari pergi menyusul kawan-kawan yang sudah lari terlebih dulu. Di belakang mereka, serdadu-serdadu itu bersorak dan pengejaran dilanjutkan.

"Kaudengar itu, Beng San? Kematian tiga orang teman kita tadi selain tidak rugi karena mereka dapat merobohkan beberapa orang musuh, juga merupakan kelanjutan siasat pancingan kita. Karena kita meninggalkan teman-teman yang terluka, tentu para serdadu mengira bah-wa kita ketakutan betul-betul dan me-larikan diri kacau-balau, bukan sedang menjalankan siasat. Dalam siasat pe-rang, pengorbanan tiga orang teman bu-kan apa-apa, bahkan kalau perju, pengor-banan tiga ribu orang pahjawan masih belum terhitung mahal demi tanah air dan bangsa. Kau dengar? Mereka menge-jar terus. Hayo cepat, sudah dekat Pek-tiok-kok."

Yang disebut Pek-tiok-kok atau Lem-bah Gunung Bambu Putih itu adalah lem-bah gunung yang penuh jurang-jurang berbahaya dan di sana-sini terdapat rum-pun bambu yang berwarna keputihan. Jalan di daerah ini berbahaya sekali, kadang-kadang amat sempit, hanyadapat dilalui seorang saja dengan jurang-jurang daJam di kanan kiri yang juga penuh dengan rumpun bambu-bambu putih. Me-mang amat indah, akan tetapi juga amat berbahaya. Menyambung jalan sen'pit diapit-apit ju'rang itu adalah jalan sempit diapit-apit batu karang yang tinggi di kanan kiri. Tan Hok membawa Beng San lari cepat melalui jalan sempit dan tiap kali terdengar suara-suara suitan di kanan kiri jalan, suara dari dalam jurang. Itulah suara teman-teman mereka yang sudah lebih dulu sampai di tempat itu dan memasang barisah pendam! Tan Hok dan Beng San lalu mendaki batu karang, mempergunakan sehelai tambang besar yang memang sudah dipasang oleh teman-teman mereka. Di atas batu-batu itu, di kanan kiri, slidah menjaga pula beberapa orang teman.

Karena para anggauta Pek-lian-pai itu pun sambil berlari membuang senjata golok mereka di sepanjang jalan, maka barisan pengejar makin bernafsu. Mereka merasa yakin bahwa orang-orang Pek-lian-pai yang mereka kejar sudah ke-takutan setengah mati bahkan sudah lelah, buktinya senjata-senjata golok mereka berserakan di jalan. Dengan ber-semangat mereka memasuki Lembah Gunung Bambu Putih, didahului oleh ko-mandan mereka yang memegang golok besar. Barisan itu merupakan iring-iringan panjang sekali ketika memasuki lereng ini, karena jalan sempit. Setelah semua serdadu memasuki Jembah gunung, tepat seperti yang diperhitungkan oleh para pejuang yang berpengalaman itu, tiba-tiba terdengar suara keras dan dar' atas batu-batu karang yang mengapit-aph jalan sempit, menggeludung turun batu-baty besar yang setibanya di jalan itu menge-luarkan suara hiruk-pikuk. Debu mengebul - Han jalan itu tertutup!

"Celaka, kita terjebak! Mundur!" Komandan itu berseru dengan wajah pucat. Barisan itu menjadi kacau. Takut kalau-kalau mendapat serangan gelap di jalan yang sempit itu, mereka saling tabrakan lari jatuh bangun untuk kembali melalui jalan sempit. Akan tetapi tiba-tiba di depan tampak asap bergulung-gulung ke atas dan..... rumpun-rumpun bambu di kanan kiri jurang ternyata telah dibakar orang! Api menjilat-jilat tinggi sampai di jalan sempit sehingga tak mungkin lagi orang dapat melalui-nya. Barisan itu sudah terkurung, di de-pan dihalangi batu-batu besar, di belakang dihalang-halangi api.

Selagi mereka kebingungan, tiba-tiba menyambar paku-paku Pek-lian-ting, juga batu-batu besar menggelundung dari atas karang. Teriakan-teriakan kesakitan ter-dengar, serdadu-serdadu itu mulai roboh dan keadaan menjadi makin panik. Komandan mencoba untuk memberi perintah supaya semua bersikap tenang dan meng-hujani anak panah ke arah lawan. Akan tetapi karena lawan tidak kelihatan se-dangkan mereka berada di tempat terbuka tanpa perJindungan sama sekali, serdadu-serdadu itu menjadi bingung. Lebih lagi ketika hujan api menyerang mereka, yaitu kayu-kayu terbakar yang diJemparkan ke arah mereka. Serumpun bambu yang terbakar dilemparkan dari atas, tepat mengenai tubuh komandah pasukan itu. la berteriak-teriak dan meloncat-loncat ke sana kemari, bajunya terbakar, demikian pula rambut dan jeng-gotnya. Akhirnya dia menggelundung ke dalam jurang disambut api yang berkobar!

Beng San yang mengintai dari atas batu karang merasa kagum bukan rnain. Benar-benar, hebat. Hanya sembilan orang saja mampu membasmi puluhan musuh. Akan tetapi di sarnping kekagumannya, juga dia merasa ngeri dan bergidik. Ba-gaimana sesama manusia dapat melaku-kan pembunuhan besar-besaran seperti ini? Beng San cukup tahu bahwa serdadu-serdadu Mongol itu mempunyai kebiasaan yang jahat terhadap rakyat, seperti yang pernah dilihatnya baru-baru ini. Akan tetapi menghadapi perang bunuh-bunuhan seperti itu, melihat manusia terpanggang anak panah, orang terbakar hidup-hidup, dan melihat orang ketakutan setengah mati, dia tak kuasa melihat lebih larna lagi dan Beng San membuang muka.

Hanya sebentar saja perang ini. Siasat gerilya yang dilakukan oleh para ang-gauta Pek-lian-pai benar hebat dan tak seorang pun di antara serdadu Mongol dapat meloloskan diri dari maut. Di fihak Pek-lian-pai, hanya tujuh orang termasuk Tan Hok dan Beng San yang masih hidup. Yang lain tewas terkena anak panah, bahkan ada yang ikut terbakar ketika dia sibuk membakari bambu untuk menjebak musuh. Tan Hok dan teman-temannya lalu berpencaran meninggalkan tempat itu.

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…