Skip to main content

Raja Pedang 13 (Kho Ping Hoo)

Kata-kata ini seperti halilintar menyambar bagi dua orang saudara Bun itu. Bun Si Teng yang lebih sabar menekan dada dan mukanya agak pucat, adapun Bun Si Liong sudah meraba gagang pe-dang dan goloknya sambil mengeluarkan suara gerengan seperti harimau terluka, matanya tajam menyapu keempat orang tamu itu. Baiknya Bun Si Teng memberi isyarat kepada adiknya supaya beissabar dan dia sendiri lalu berkata.


"Segala urusan dapat diurus, segala penasaran dapat diadili, akan tetapi harus diberi penjelasan lebih dulu apa sebabnya Sie-wi (Tuan Berempat) seperti marah-marah. Sute kami, Kwee Sin, bukan kami hendak menyombong, akan tetapi Kwee-sute sudah terkenal di empat penjuru langit sebagai seorang gagah yang tak pernah meninggalkan sifat-sifat satria. Siapakah yang tak pernah men-dengar nama Pek-lek-jiu Kwee Sin murid termuda dari Kun-lun-pai yang selalu menjunjung tinggi keadilan dan membela kebenaran? Sekarang Sie-wi datang-datang menyatakan sute kami itu melakukan perbuatan yang amat tidak patut dan keji. Hemmm, tentu saja sukar bagi kami untuk dapat mempercayai. Tidak ada perbuatan Kwee-sute yang tidak patut!"

Liem Sian Hwa tak dapat menahan kemarahannya. "Seorang yang bergaul dengan siluman betina dari Pek-lian-pai, setelah terlihat oleh ayahku lalu ber-sama siluman itu datang membunuh ayahku yang tua dan tidak berdaya, apakah hal ini kauanggap patut dan tidak keji?"

Bun Si Teng melengak, lalu saling pandang dengan adiknya. Bun Si Liong marah sekali, mulutnya sudah bergerak-gerak hendak membantah dan memaki. Akan tetapi orang gagah ini mempunyai sifat yang amat lucu, yaitu dia amat takut kalau berhadapan dengan wanita. Andaikata yang mengeluarkan tuduhan itu bukan Sian Hwa melainkan orang di an-tara suheng-suheng nona itu, tentu Si Liong sudah memaki dan marah. Sekarang dia hanya berdiri dengan kedua tangan terkepal, kedua mata melotot, akan te-tapi tidak melotot kepada Sian Hwa, melainkan kepada Kwa Tin Siong bertiga! Bun Si Teng sudah dapat menguasai hatinya pula. la kini menghadapi Kwa Tin Siong yang sejak tadi diam saja hanya memandang dengan mata tajam penuh selidik.

"Hoa-san It-kiam, namamu di dunia kang-ouw sudah tersohor sebagai seorang pendekar gagah dan adil. Kuharap saja sekarang kau pun akan bersikap seperti seorang yang adil. Adikku Kwee Sin ter-timpa tuduhan yang amat berat. Setiap tuduhan harus disertai bukti-bukti dan dasar. Tanpa dasar dan bukti maka tuduhan itu adalah fitnah yang amat jahat. Apakah bukti dan dasarnya tuduhan terhadap Kwee-sute itu?"

Hoa-san It-kiam Kwa Tin Siong me-narik napas panjang sebelum menjawab.

"Saudara Bun, aku pun merasa amat menyesal dengan terjadinya hal yang me-nimpa sumoiku. Kalau kalian merasa penasaran karena sute kalian tertimpa tuduhan berat, bagaimana dengan kami? Sumoi kami tertimpa malapetaka yang lebih berat dan hebat lagi. Oleh karena itu, kita harus berani mempertanggung-jawabkan secara adil. Harus berani membela yang benar dan menghukum yang salah. Sikap begini sudah menjadi tugas kita sebagai orang gagah, bukan? Siapa saja yang salah harus dihukum, baik dia itu orang iain maupun adik sendiri. Sebaliknya, siapa saja orangnya asal dia itu Derada di fihak kebenaran, haruslah kita bela. Bukankah begitu juga pelajaran yang kalian terima dari suhu kalian?"

Bun Si Teng mengangguk-angguk. "Kau betul. Hoa-san It-kiam.Kami pun takkan membela sute kami sendiri kalau dia betul-betul bersalah. Hanya kami amat sangsikan apakah sute kami bersalah, karena kami percaya, bahkan yakin bahwa Kwee-sute bukanlah seorang yang demikian jahat dan keji. Dia pun sudah membuat nama besar di dunia kang-ouw. Oleh karena itu, tuduhan berat tadi harap kaujelaskan dan kauberi dasar-dasar atau bukti-bukti."

Kwa Tin Siong tersenyum pahit. "Se-orang yang sudah memiliki kepandaian setingkat dengan kiTa, kalau sudah melakukan sesuatu, bagaimana bisa dicari buktinya? Kadang-kadang kejadian tanpa bukti pun sudah jelas, cukup jelas untuk ditarik kesimpulan dan diambil keputusan siapa yang bersalah. Nah, kaudengarlah baik-baik. Pada suatu hari, beberapa pekan yang lalu, ayah dari Liem-sumoi yaitu Liem Ta lopek, pulang ke rumah sambil marah-marah dan menyatakan kepada Liem-sumoi bahwa dia melihat Kwee Sin berpelesir bersama seorang perempuan cabul dari Pek-lian-pai, dan Liem-lopek menyatakan hendak memu-tuskan tali perjodohan antara Liem-sumoi dan Kwee Sin. Liem-sumoi merasa pena-saran dan diam-diam ia pergi ke Telaga Pok-yang di mana Kwee Sin terlihat oleh ayahnya. Sayang ia tidak dapat melihat dengan mata kepala sendiri, akan tetapi dari keterangari tukang-tukang perahu disana ia mendapat keterangan bahwa memang betul Kwee Sin dan seorang perempuan berada di situ beberapa hari lamanya. Dengan hati berat Liem-sumoi pulang ke rumahnya dan didapatinya ayahnya telah luka-luka hebat. Sebelum meninggal dunia, Liem-lopek masih sempat menyatakan bahwa yang nnenyerangnya adalah Kwee Sin dibantu seorang perempuan cantik.

"Penasaran...... penasaran.....!" Bun Si Liong berteriak-teriak. "Tak mungkin dia itu Kwee-sute. Tak mungkin! Mana buktinya bahwa yang melakukan pembunuhan itu adalah Kwee-sute?"

"Twa-suheng!" Kui Keng meloncat maju. "Kenapa Suheng masih simpan-simpan keterangan? Jelaskan saja sekalian. Eh, Kun-lun Sam-hengte, jangan coba-coba menutupi. Kesalahannya sudah jelas karena menurut kesalahan sute kalian, keterangan Liem-sumoi, di tubuh Liem-lopek itu terdapat paku-paku Pek-lian-ting dan bekas pukulan Pek-lek-jiu! Nah, mau bilang apa lagi? Paku-paku Pek-lian-ting tentulah paku-paku yang dilepas oleh perempuan siluman dari Pek-lian-pai itu dan pukulan Pek-lek-jiu..... hemmm, bukankah julukan Kwee Sin adalah Pek-lek-jiu?"

"Bohong! Bukan bukti itu" Bun Sin Liong membanting-banting kakinya. "Siapa saja yang pernah mempelajari Pek-lek-jiu tentu dapat mempergunakannya. Apakah hanya sute? Tentang paku-paku Pek-lian-ting, aku mau percaya kalau Pek-lian-pai memusuhi kalian, karena Pek-lian-pai juga memusuhi kami. Akan tetapi tentang Kwee-sute, tetap aku tidak mau menerima kalau dia dituduh!"

"Ha-ha-ha, rupanya Kun-lun Sam-heng-te mau menang sendiri saja! Agaknya hanya mengandalkan kegagahan sendiri dan tak memandang kepada orang lain. Suheng, Sute, dan Sumoi, agaknya urusan ini hanya bisa dibereskan di ujung pedang!" kata Thio Wan It mengejek sambil meraba gagang pedangnya.

"Boleh sekali!" Bun Si Liong bertenak sambil nnencabut sepasang senjatanya, yaitu sebatang pedang dan sebatang golok. Apakah Hoa-san Sie-eng berempat datang hendak mengeroyok kami berdua? Jangan kira kami takut! Kun-lun Sam-hengte tak pernah mundur setapak pun menghadapi pengeroyokan siapa saja!"

"0-ho sombongnya! Kami Hoa-san Sie-eng bukanlah tukang keroyok! Untuk menghadapi kalian berdua saja cukup dengan pedangku. Orang she Bun, kalau kau ada kepandaian, keluarlah!" Thio Wan It berkata mengejek dan begitu kakinya bergerak, tubuhnya melesat keluar.

"Baik, hendak kukenal kelihaian Bu-eng-kiam!" seru Bun Si Liong yang meloncat keluar pula.

Semua orang mengejar keluar dan ternyata bahwa dua orang jago itu sudah bertanding dengan hebat. Suara beradu-nya senjata tajam berdenting-denting nyaring disusul bunga api berpijar-pijar, gerakan dua orang jago ini gesit dan tangkas dan amat kuat. Di antara debu yang berhamburan berkelebat ujung pedang dan golok mencari nyawa.

Thio Wan It, sesuai dengan julukan-nya, Bu-eng-kiam (Pedang Tanpa Bayangan) amat cepat gerak-geriknya. Pedangnya diputar sedemikian cepatnya sehingga lenyap dari pandangan mata dan bagi lawan yang tinggi ilmunya, pedang ini hanya bisa diduga dari mana datangnya dengan mendengar suara anginnya saja. Gerakan-gerakan Thio Wan It yang main-kan Ilmu Pedang Hoa-san Kiam-hoat, boleh diumpamakan seekor burung walet yang menyambar-nyambar ke sana kemari amat sukar diduga perubahan-perubahan gerakannya.

Di lain fihak, Bun Si Liong murid ke dua dari Kun-lun-pai. Tentu saja kepandaiannya sudah mencapai ting-kat yang tinggi pula. Seperti juga dengan Hoa-san-pai, Kun-lun-pai juga amat terkenal dengan ilmu pedangnya. Maka yang berhadapan dan bertanding sekarang ini adalah dua orang jago pedang dari dua partai yang mewakili Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai. Thio Wan It hanya mempergunakan sebuah pedang saja, pedang panjang tipis yang dapat melengkung ketika digerakkan secara cepat dan ktiat. Adapun Bun Si Liong bersenjata pasangan, yaitu sebatang pedang dan sebatang golok. Inilah keistimewaan Bun Si Liong. Dua buah senjata yang berlainan itu akan membuat lawan menjadi bingung, seakan-akan dikeroyok oleh dua orang yang tidak sama senjatanya.

Thio Wan It itu cepat dan lincah, pedangnya menyambar-nyambar. Bun Si Liong tenang dan kokoh kuat kedudukannya seperti seekor banteng sakti yang ... siap menanti serangan lawan untuk di-tangkis dan dibalas dengan serangan-serangan yang tak kalah ampuhnya. Pedang di tangan Thio Wan It nnengancanT' semua bagian tubuh. Namun sepasang senjata Bun Si Liong yang jarang ber-gerak itu selalu dapat menangkis, kemudian kalau ada saat baik membalas dengan tusukan atau bacokan. Dilihat sekelebat-an, Thio Wan It seperti menari-nari me-ngelilingi Bun Si Liong yang berdiri teguh dan menggeser-geser kakinya untuk mengikuti pergerakan lawan yang amat lincahnya itu.

Pertempuran yang sengit dan seru itu ditonton oleh semua orang dengan hati berdebar. Pertempuran seimbang seperti ini tak mungkin berakhir tanpa membawa korban di satu fihak, hanya dapat di-putuskan dengan menggeletaknya salah seorang. Padahal dalam urusan ini, baik Thio Wan It maupun Bun Si Liong tidak ada sangkutan apa-apa, tidak ada ke-salahan apa-apa. Orang yang langsung, tersangkut, Kwee Sin, belum diajak bicara, tapi keduanya sudah main hantam sendiri. Hal ini tidak betul. Demikianlah jalan pikiran Kwa Tin Siong dan juga Bun Si Teng.

"Urusan gelap belum dibikin terang, tidak perlu ditambah keruh dengan lain pertumpahan darah," kata Kwa Tin Siong sambil memandang kepada Bun Si Teng.

Orang tertua Kun-lun Sam-heng-te ini mengangguk. "Betul. Urusan ini harus diselidiki, takkan beres kalau menurutkan nafsu dan sakit hati."

Dua orang itu seperti telah bermufakat, meloncat maju dan menahan adik masing-masing. Dua orang jago yang sedang bertanding itu terpaksa mundur dengan dada turun naik, mata melotot lebar dan sikap menantang.

"Aku masih belum kalah!" Thio Wan It berkata penasaran.

”Aku juga belum kalah," kata Bun Si Liong.

"Kalau begitu hayo teruskan sampai salah seorang di antara kita mampus!". kata pula Thio Wan It.

"Hayo, majulah!" tantang Bun Si Liongi

Kwa Tin Siong dan Bun Si Teng sibuk mencegah dua orang jago yang sudah panas perutnya itu bertanding lagi. "Yang menjadi pokok persoalan ini adalah Kwee Sin, sebelum dia ditemukan dan ditanya, amatlah jelek kalau kita menyerang orang-orang lain," kata Kwa Tin Siong kepada sutenya sambil menyabarkan dan memaksa sutenya menyimpan kembali pedangnya.

"Liong-te, sabarlah," kata Bun St Teng kepada adiknya. "Simpan kembali senjatanya. Urusan ini tidak bisa diberes-kan hanya dengan mengangkat senjata Diri Kwee-sute ternyata telah terkena fitnah yang hebat dan hal ini harus kita bersihkan." la lalu membalik dan meng-hadapi Kwa Tin Siong.

"Hoa-san It-kiam, terus terang saja, aku tidak akan meragukan semua cerita-mu tadi. Hanya yang kuragukan bahkan tak dapat kuterima adalah bahwa suteku melakukan semua perbuatan itu. Hal itu tidak mungkin sekali."

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…