Skip to main content

Raja Pedang 11 (Kho Ping Hoo)

Kakek yang bernama Tan Sam itu tertawa lagi. "Heh-heh-heh, tukang pancing.... ya betul, kami tukang pancing. Kalau bukan tukang pancing, mana dapat menikmati ikan gemuk?"


Berubah wajah Ang-bin Piauw-to yang merah, kini menjadi agak pucat. Timbul dugaannya bahwa mungkin sekali kakek dan pembantunya ini adalah tokoh bajak sungai yang terkenal. Siapa tahu? Akan tetapi dia ragu-ragu, karena andaikata betul bajak sungai, tak mungkin Phang Kwi tidak mengenalnya. Akan tetapi kalau betul seorang bajak sungai, mau apakah dia beraksi di darat?

"Tan-lopek, kalau begitu, kau mencari rejeki sepanjang Sungai Yang-ce?" Ia mencoba untuk menyelidik.



Kakek itu mengangguk-angguk. "Tidak hanya di Yang-ce, di Huang-ho, atau pun di lautan, di darat, dimana saja ada ikan besar tentu akan kudatangi untuk kupancing. Bukankah begitu, Hok-ji (anak Hok)?" Kakek itu menepuk pundak pembantunya sambil terkekeh-kekeh. Tan Hok, pemuda raksasa itu, hanya mengangguk diam.



"Kalau begitu," sambung Ang-bin Piauw-to dengan bernafsu sedangkan para anak buahnya mendengarkan penuh perhatian karena maklum apa yang dipikirkan oleh kepala mereka, "tentu kau sudah kenal baik dengan Lui Cai Si Bajul Besi, dengan Kiang Hun Si Naga Sungai, dan Thio Ek Sui Si Cucut Mata Merah?" Tiga nama kepala bajak yang paling terkenal disebut oleh kepala rampok ini.



Akan tetapi kakek itu memandangnya dengan matanya yang sipit berseri seakan-akan mendengarkan orang melawak. "Mereka itu betul-betul manusia ataukah badut-badut? Kok namanya aneh sekali. Bajul Besi? Wah, belum pernah aku melihatnya, mendengar pun belum. Kalau bajul biasa yang panjangnya tiga kali orang saja aku pernah melihatnya, malah bajul buntung (buaya tak berekor = penjahat) sering kali aku melihat, tapi bajul besi? Belum, belum pernah setua ini aku melihatnya. Lalu yang ke dua Naga Sungai? Heran sekali, tentang naga-naga ini kiranya belum pernah ada orang melihat aselinya. Pernah aku melihat gambar-gambarnya dan patung-patungnya, akan tetapi kalau bertemu kiranya hanya dalam.... mimpi! Sepanjang pendengaranku, naga itu adanya hanya di laut, kalau ada naga sungai, agaknya hanya.... belut saja!" Kakek itu tertawa-tawa, akan tetapi para perampok itu mana berani rnentertawakan Kiang Hun Si Naga Sungai?



"Kemudian apalagi tadi? Cucut Mata Merah? Ha-ha-ha tentu ikan itu tak pernah mendapatkan mangsa, terlalu lapar dan menangis sehingga matanya merah. Atau boleh jadi semalam suntuk dia pelesir di rumahnya naga sungai, tidak tidur maka matanya merah. Heh-heh-heh.... eh, Hok-ji, apakah kau pernah mendengar pula tentang bajul besi dan lain-lain itu?"



Tan Hok, yang semenjak datangnya belum pernah mengeluarkan kata-kata itu, kini memandang ke langit-langit ruangan dan menuding sambil berkata, "Itu.... buaya kecil."



Semua orang memandang dan meledaklah ketawa mereka. Yang disebut buaya kecil itu bukan lain adalah seekor cecak yang merayap di atas. Tiba-tiba cecak itu, mungkin karena kaget mendengar orang-orang tertawa riuh, melepaskan kotoran dan.... kebetulan sekali tahi cecak jatuh ke dalam cawan arak Ang-bin Piauw-to!



"Keparat....!" Ang-bin Piauw-to memaki marah.



"Ha-ha-ha-heh-heh, sobat muka merah, buaya kecil memberi hadiah kepadamu. Heh-heh-heh!” Tan Sam tertawa terpingkal-pingkal sampai' keluar air matanya.



Tiba-tiba terdengar suara ketawa keras sekali, suara ketawa Tan Hok yang sejak tadi muram saja. Ketawanya keras dan mendadak, akan tetapi matanya tetap sayu. "Yang kecil memberi hadiah yang besar, aneh''



Ang-bin Piauw-to dengan marah mengambil sebatang senjata piauw. Senjata ini kecil sa|a, panjangnya satu dim, ujungnya runcing, kepalanya bundar dengan ronce-ronce merah. Begitu tangannya digerakkan, senjata ini melayang ke atas ke arah cecak.



“Aduh bagusnya, apa yang melayang itu." Si kakek menunjuk dengan jarinya ke arah piauw yang melayang menyambar cecak. "Cappp" Senjata runcing itu menancap, bukan di badan cecak melainkan di pian, beberapa sentimeter jauhnya dan binatang yang amat ketakutan dan kaget



"Ha-ha-ha, tidak kena.... tidak kena....!"



Semua orang terheran, lebih lagi Ang-bin Piauw-to. Jarak antara tempat dia duduk dan cecak itu takkan lebih dari pada lima meter, mengapa sambitannya tidak kena? Biasanya, dalam jarak seratus langkah, tak pernah piauwnya tidak rnengenai sasaran, apalagi sasaran tak bergerak seperti cecak itu. Kawan-kawannya mengira bahwa dia terlalu banyak minum. Akan tetapi Ang-bin Piauw-to sendiri tidak merasa demikian. Mungkin aku terlalu marah, pikirnya. la mengambil piauw ke dua dan "serrrrr.... capppi" kembali piauwnya menancap pian dan kali ini ekor cecak itu terbawa piauw tertancap pada papan, sedangkan cecaknya sendiri yang sudah buntung lari dan lenyap.



"Ha-ha-ha!" Tan Sam tertawa sambil tiada hentinya sejak tadi dia menudingi cecak. "Buaya kecil menjadi bajul buntung kecil, ha-ha-ha, cocok benar. Sayangnya dia masih berlari dengan empat kaki, kalau dengan dua kaki lebih lucu lagi!"



"Buaya kecil dicaplok buntutnya oleh yang besar, sudah biasa!" kata Tan Hok seperti bicara pada diri sendiri, wajahnya tetap bodoh dan matanya sayu.



Dua orang perampok marah bukan main. Terang bahwa si kakek itu mengejek, dan bocah itu malahan menghina. Seorang perampok yang bertubuh pendek kecil mencengkeram ke arah pundak Tan Sam, sedangkan perampok lain yang bertubuh tinggi besar, tapi tidak sebesar tubuh Tan Hok raksasa muda itu, mengangkat kepalan tangannya yang besar untuk memukul kepala Tan Hok. Kakek dan pemuda itu agaknya tidak berdaya dan tentu akan celaka kalau terkena serangan-serangan tadi, akan tetapi Ang-bin Piauw-to membentak.



"Mundur kalian'".



Ketika dua orang anak buahnya mundur, dengan senyum mengejek ia berkata, "Dua orang ini tamu agung kita, jangan diganggu dulu."



Dalam kata-kata ini terkandung ejekan atau sindiran bahwa belum tiba saatnya untuk "turun tangan". Kemudian dia berpaling kepada Tan Hok sambil bertanya.



"Orang muda, kau tadi mau maksudkan bahwa aku adalah buaya besar? Begitukah?"



Hening sejenak, para kawanan perampok mendelik ke arah Tan Hok yang memandang bodoh, sedangkan Tan Sam hanya tersenyum-senyum sambil mainkan matanya. Jawaban Tan Hok benar tak disangka-sangka orang yang tentu saja mengharapkan jawaban "ya" atau "tidak". Akan tetapi dengan suaranya yang lantang pemuda raksasa itu menjawab.



"Tuan bermuka merah, kau ini merasa menjadi buaya ataukah bukan?"



"Tentu saja bukan!"



"Kalau bukan ya sudah, kenapa masih ribut-ribut lagi?"



Phang Kwi si pemilik warung tak dapat menahan ledakan ketawanya, akan tetapi seketika dia berhenti tertawa seperti jangkerik terinjak ketika Ang-bin Piauw-to melotot kepadanya. Kepala perampok ini menoleh ke arah Tan Sam dan berkata.



"Kakek Tan Sam, kau mentertawakan perbuatanku menyambit cecak dengan piauw, mengapa?"



Tan Sam tertawa lagi, tertawa bebas lepas. "Selain cecak itu menjadi lucu kehilangan buntutnya, juga aku heran mengapa kau tidak mengarah kepalanya, melainkan buntutnya!"



Diam-diam Ang-bin Piauw-to menjadi malu sekali sampai mukanya menjadi makin merah. Orang lain tidak ada yang tahu bahwa sambitannya yang kedua kalinya tadi sebenarnya memang gagal. Tadi dia mengarah kepala binatang itu, aneh sekali entah mengapa kali ini dia selalu gagal. Bukan kepala yang terkena melainkan buntutnya.



"Orang tua she Tan, apakah kau juga pandai menyambit dengan piauw?"



Kakek itu longak-longok, nampak bingung. "Piauw itu apa sih?"



Semua perampok tertawa besar Ang-bin Piauw-fo mengeluarkan dua batang piauwnya dari kantong. "Inilah yang disebut piauw. Ketahuilah, nama julukanku adalah Ang-bin Piauw-to, karena aku pandai menyambit piauw dan main silat dengan golok."



Kakek dan pemuda itu mengambil piauw tadi seorang satu, melihat-lihat dan nampaknya kagum. "Hok-ji, apa kau bisa menyambitkan piauw ini?" tanya kakek itu kepada pembantunya.



"Apa sukarnya menyambit? melempar saja!" katanya.



Kembali perampok tertawa lebar.



"Bertaruh.... bertaruh....” kata beberapa orang serentak.



“Boleh sekali....!" Tan Sam terkekeh. ”Mari bertaruh menyambit dengan piauw ini. Berapa taruhannya?"



Ang-bin Piauw-to hendak mempermainkan dua orang itu, maka sambil tersenyum dia lalu mengeluarkan seadanya perak yang disimpan di kantongnya, menaruh di atas meja. "Hanya ini milikku, hayo keluarkan perakmu. Biar aku kalian keroyok berdua."



"Baik." Kakek itu mengeluarkan sejumlah perak yang sama banyaknya, menaruh di atas meja, lalu memandang kepala rampok itu. "Mengeroyok bagaimana maksudmu?"



"Kita pasang sehelai daun pada dinding itu, dalam jarak lima puluh langkah kita masing-masing melempar sebatang piauw ke arah daun yang dijadikan sasaran. Kau dan pembantumu masing-masing menyambit satu kali, andaikata ada seorang di antara kalian yang bisa mengenai daun, dianggap kena, biarpun yang seorang lagi menyeleweng sambitannya. Aku hanya menyambit satu kali saja."



"Akur!" Kakek itu nampak gembira dan mengedip-hgedipkah matanya kepada pemuda raksasa dengan muka yang jelas memperlihatkan keyakinan untuk memenangkan pertandingan ini. "Kau sambitlah lebih dulu."



Daun sebesar telapak tangan ditempelkan pada dinding warung itu dan jarak lima puluh langkah diukur. Para perampok dan pemilik warung dengan gembira berdiri di kanan kiri, agak jauh dari tempat sasaran. Setelah mengeluarkan piauwnya, kepala rampok itu sambil tersenyum-senyum lalu berkata."Lihat sambitanku!"



Tangan kanannya bergerak dan piauw itu lalu meluncur seperti anak panah, cepat sekali sampai hampir tidak kelihatan, tahu-tahu telah menancap di tengah daun. Tepuk tangan kawan-kawannya menyambut keahlian ini dan Tan Sam mulai plonga-plongo, saling pandang dengan pembantunya.



"Waaah, kok bisa kebetutan kena di tengah-tengahnya...." ia mengeluh.



Para perampok tertawa. "Kakek bodoh, mana ada ucapan kebetulan? Memang Twako berjuluk Ang-bin Piauw-to, seratus kali sambit pasti seratus kali kena!" kata seorang anggauta perampok.



"Hayo lekas kausambitkan piauwmu, dan kau juga, badut muda!"



Tan Sam memandang kepada pembantunya. "Wah, cialat (celaka). Sambitannya kebetulan sekali kena tengah-tengahnya. Hok-ji, mari kita menyambit berbareng saja, untung-untungan, tidak kena daun juga asal bisa kena kaki bajul buntung!" Kakek ini tertawa lagi, lalu menghitung, "Satu.... dua...." Sikapnya lucu sekali, menyambit dengan tangan kanan tapi kaki kanan di depan, demikian pula orang muda raksasa itu.



".... tiga....!"



Dua buah piauw meluncur ke depan, akan tetapi terdengar gelak terbahak ketika para perampok melihat dua buah piauw itu meluncur dengan berputar, tidak lurus dan mengenai dinding jauh di kanan kiri daun.



"Aduh....!"



"Aaauuuuuhhh....!"



Dua orang yang berdiri di kanan kiri tempat itu mengaduh-aduh dan keduanya meloncat-loncat dengan sebelah kaki karena kaki yang sebelah lagi ternyata terkena hantarnan piauw yang membalik! Untungnya hanya terkena kepala piauw sehingga hanya menjendul saja, namun cukup mendatangkan rasa nyeri. Dan anehnya, yang terkena hantaman piauw ini adalah dua orang yang tadi hendak menyerang Tan Sam dan Tan Hok!



Dua orang itu marah-marah, akan tetapi karena teman-temannya mentertawakannya dan menganggap bahwa kejadian itu hanya karena kebodohan Tan Sam dan pembantunya yang tidak becus melempar piauw, mereka terpaksa menahan kesakitan dan menahan kemarahan.



Ang-bin Piauw-to tertawa terpingkal pingkal sambil menyimpan uang di atas meja.



"Nanti dulu!" kata kakek Tan Sam "Mari kita bertaruh lagi. Penasaran hatiku kalau belum bisa menang!"



Kepala perampok itu memandangnya dengan heran. Sudah miringkah otak kakek ini, pikirnya, "Boleh, berapa taruhannya?”



"Semua perak di atas meja itu” tantang Tan Sam.



"Bagus, perlu ditambah?"



"Sesukamu, kalau masih ada padamu, keluarkan semua."



Sekarang para perampok itu sibuk mengeluarkan perak dari saku masing-masing karena mereka ingin mendapat bagian dalam pertaruhan ini sehingga sebentar saja di atas meja terkumpul banyak perak. Malah Phang Kwi juga menguras semua peraknya. Melihat perak yang banyak itu, Tan Sam terpaksa mengeluapkan sebagian potongan emasnya karena peraknya sendiri tidak cukup banyak.



"Bagaimana cara pertandingan?" tanya Tan Sam. "Apakah masih seperti tadi!"



“Boleh saja” jawab Ang-bin Piauw-to yang merasa yakin akan kemenangannya. "Akan tetapi, orang tua, apakah kau tidak akan menyesal? Kau sama sekali tak pandai menyambitkan piauw."



"Siapa biJang? Piauwmu yang buruk sekali, tapi aku sudah tahu rahasianya sekarang. Disambitkan ke arah sasaran, menyeleweng ke kiri. Kalau mau mengenai sasaran dengan tepat, tinggal menyambit ke arah kirinya dengan ukuran jarak tertentu, masa tidak akan kena?" Para perampok tertawa lagi mendengar teori yang aneh ini.



"Nah, kaulihat. Aku mulai!" kata Ang-bin Piauw-to sambil mengayun tangannya.



"Nanti dulu!" Tan Sam mencegahnya. "Aku mau melihat dulu piauwmu, apakah sama dengan piauw yang kauberikan padaku ini."



"Tentu saja sama!" jawab kepala rampok itu marah sambil memperlihatkan piauwnya yang beronce merah.



"Ah, tidak boleh sama, nanti kau bisa akui sambitanku sebagai piauwmu kan celaka." Sambil berkata dernikian kakek itu mencabuti ronce-ronce benang merah pada piauwnya sehingga piauw itu berubah gundul dan buruk. Tentu saja para perampok terheran-heran dan tertawa geli. Piauw yang dipergunakan kepala rampok itu tidak mempunyai sirip, maka untuk meluruskan jalannya diberi ronce-ronce itu sebagai irnbangan. Sekarang kakek itu mencopoti ronce-roncenya, bagaimana bisa menyambit dengan baik?



"Bagus, kau pintar, orang tua," kata Ang-bin Piauw-to mengejek. "Sekarang sudah jeias, piauw yang beronce punyaku yang gundul punyamu. Nah, siapa menyambit lebih dulu? Dan apakah pembantumu juga ikut”



"Tak usah, cukup aku sendiri. Menyambitnya harus berbareng, kau dan aku baru adil namanya."



Karena yakin akan kemenangannya dan mengira bahwa dia berhadapan dengan seorang tua goblok yang berkepala batu, Ang-bin Piauw-to tidak banyak membantah. "Berbareng pun baik," katanya mengejek sambil bersiap-siap. Daun baru sudah dipasang pada dinding dan kedua orang itu sudah siap. Anehnya, kalau Ang-bin Piauw-to mengincar sasaran daun, adalah kakek itu tidak menghadapi daun, bahkan tidak melihatnya sama sekali, melainkan sebelah kanan daun yang diincar. Sambil tertawa-tawa para perampok rnenyingkirkan diri jauh-jauh agar jangan terkena piauw kakek yang kesasar lagi.



"Aku menghitung sampai tiga, baru lepas," kata kakek itu. Lawannya mengangguk sambil tersenyum mengejek.



"Satu..... dua..... tiga.....!!"



”Serrr!" Piauw meluncur dari tangah Ang-bin Piauw-to, cepat dan lurus ke arah daun yang menempel pada dinding. Di samping ini, juga piauw di tangan kakek itu telah dilemparkan, berputaran dan berjungkir-balik seperti lagak badut di panggung. Piauw ini berjungkir-balik dan berputar-putar, mula-mula meiaju ke arah kanan akan tetapi piauw yang tidak ada ronce-roncenya ini makin mengacau jalannya, tiba-tiba membelok ke kanan dan makin cepat saja jalannya. Di dekat daun, kedua piauw itu bersilang, terdengar suara nyaring dan dua piauw itu menancap pada dinding, sebuah tepat di tengah-tengah daun dan yang sebuah lagi jauh dari daun! Semua orang bersorak tertawa, akan tetapi wajah Ang-bin Piauw-to yang merah, tiba-tiba menjadi pucat dan semua temannya juga serentak menghentikan suara ketawa mereka setelah memandang jelas ke arah daun yang kini terpaku oleh piauw ttu. Apa yang mereka lihat?



Ternyata piauw yang menancap pada dinding menembus daun itu adalah piauw yang tidak beronce merah, sedangkan piauw yang menyeleweng ke sisi adalah piauw beronce! Tegasnya, yang tepat mengenai daun adalah yang terlepas dari tangan kakek Tan Sam!



"Ha, bagus sekali! Sambitan yang bagus dan tepat. Kita menang!" Tan Hok memuji dan tangannya yang besar segera diulur untuk mengambil tumpukan perak di atas meja yang tadi dipertaruhkan. Para perampok hanya berdiri bengong, bingung tak tahu harus berbuat atau berkata apa.



"Sraaattt!" Tiba-tiba nampak sinar berkilauan dan tahu-tahu Ang-bin Piauw-to sudah mencabut golok besar dari pinggangnya. Golok ini amat tajam sehingga sinarnya berkilauan ketika dikelebatkan.



"Jangan ambil!" seru kepala rampok itu dan sinar goloknya menyambar ke arah tangan Tan Hok yang diulur untuk mengambil perak tadi. Nampaknya pemuda raksasa itu kaget dan menarik tangannya. Untung baginya, karena golok itu meluncur terus dan "crak!" rneja itu terbabat putus menjadi dua, tumpukan perak berserakan jatuh ke atas lantai.



Tan Hok dan Tan Sam berdiri bengong, akan tetapi para perampok tertawa bergelak. "Twako, untuk bereskan budak ini, cukup serahkan padaku," kata anggauta perarnpok yang tadi hendak menyerang Tan Sam. "Aku harus membalasnya untuk kakiku."



"Betul, Twako, anjing tua ini pun bagianku!" kata perampok yang kakinya terkena hantaman piauw Tan Sam tadi. Ang-bin Piauw-to hanya tersenyum dan melangkah mundur, lalu mengambil perak yang tersebar di lantai.



"Ah, jangan.... jangan bunuh mereka di sini. Warungku takkan laku lagi” Phang Kwi mencegah khawatir.



"Diam!" bentak kepala perampok dan Phang Kwi mundur ketakutan.



Dua orang perampok itu dengan mulut menyeringai sudah menghampiri Tan Sam dan Tan Hok dengan sikap mengancam sekali. Tan Hok nampak tenang saja, karena kebodohannya agaknya tidak mengerti bahwa dirinya terancam. Akan tetapi Tan Sam nampak ketakutan.



"He, kalian ini mau apa? Dan perak-perak itu.... aku yang menang mengapa diambil....?"



"Kau dan pembantumu akan kami bunuh." bentak perampok yang menghadapinya.



"Aduh.... kenapa begitu? jangan...." si tua mengeluh, lalu menengok kepada Tan Hok. "Celaka, Hok-ji, belum sampai ke neraka sudah bertemu setan-setan pencabut nyawa di bumi...."



Melihat sikap ketakutan ini, dua orang itu makin gembira dan sombong.



“Kau takut? Hayo lekas minta ampun'"



Tan Sam melirik ke arah pembantunya. "Hok-ji, tidak ada lain jalan, biarlah kita memberi hormat minta ampun." Ia lalu menjura dan mengangkat kedua kepalan tangan ke depan dada, diikuti oleh Tan Hok.



Terjadi hal aneh. Dua orang perampok yang menghadapi kakek dan pembantunya ini tiba-tiba terhuyung mundur seakan-akan tubuh mereka ditiup angin keras dari depan! Semua orang terheran-heran dan dua orang perampok itu makin marah. Memang, di dunia ini hanya orang-orang bodoh saja berani bersikap sombong dan membanggakan kepandaiannya sendiri. Makin sombong dia, makin bodohlah dia sesungguhnya, bodoh karena mengira bahwa di dunia ini hanya merekalah orang-orang pandai. Andaikata dua orang ini tidak begitu sombong, agaknya kebodohan mereka tidak akan membutakan mata mereka.



"Keparat, jangan main-main. Sekali tangan kami bergerak, pecah kepala kalian!" bentak perampok yang mengancam Tan Hok. "Hayo kalian berlutut minta ampun, baru kami akan pikir-pikir untuk meringankan hukuman kalian!"



Kembali Tan Sam melirik ke arah Tan Hok. "Apa boleh buat, Hok-ji, mari berlutut." Keduanya lalu berlutut di depan dua orang itu dan menyoja.



"Aduhhh....!"



'Ahhhhh.....!"'



Dua orang perampok itu seperti disodok toya baja rasa ulu hati mereka. Mereka terjengkang ke belakang, roboh dan muntah darah segar.



"Celaka!!" Ang-bin Piauw-to baru sadar bahwa dua orang aneh itu sebetulnya memiliki kepandaian dan cara mereka menjura kemudian berlutut sambil mengirim serangan itu merupakan bukti bahwa mereka memiliki sinkang dan Iweekang yang tinggi! Akan tetapi, juga karena kesombongannya, kepala perampok ini mengandalkan jumlah kawan yang banyak, dicabutnya goloknya sambil memberi aba-aba.



"Keroyok! Bunuh dua ekor anjing ini!"



Kawan-kawannya, juga dibantu oleh Phang Kwi, mencabut senjata masing-masing dan dikepunglah kakek dan pembantunya itu. Kini Tan Sam tidak mau berpura-pura lagi. la tertawa dan berseru.



"Perampok-perampok jahat pengganggu rakyat, kalau bukan anggauta Pek-lian-pai seperti aku, siapa lagi yang akan membasminya?" Kedua tangannya bergerak dan sinar-sinar putih berkelebatan. Terdengar jerit-jerit kesakitan ketika para perampok itu, kecuali Ang-bin Piauw-to dan Phang Kwi yang dapat mengelak, terkena oleh sambaran Pek-lian-ting (Paku Teratai Putih).



Makin terkejut hati Ang-bin Piauw-to mendengar disebutnya perkumpulan Pek-lian-pai yang sedang memberontak untuk meruntuhkan pemerintah penjajah Mongol itu. Namun dia mengandalkan kepandaian sendiri, goloknya diputar cepat dan dia menyerang kakek Tan Sam. Adapun Phang Kwi maju dengan ruyungnya menyerbu Tan Hok.



Benar amat mengagumkan dan mengherankan keadaan pemuda itu. Gerakan-gerakannya tidak seperti orang pandai silat, hanya memiliki langkah-langkah kaki berdasarkan ilmu silat rendahan saja. Akan tetapi tenaga pemuda ini luar biasa sekali, baik tenaga luar maupun tenaga dalamnya. Ruyung di tangan Phang Kwi yang menyambarnya, dia tangkis dengan tangan kiri sekuat tenaga dan..... ruyung itu patah!



Saking kaget dan herannya, Phang Kwi yang lebih tinggi ilmu silatnya itu kurang cepat mengelak sehingga pukulan tangan Tan Hok yang keras seperti serudukan gajah itu menyerempet pundaknya sampai patah-patah tulangnya. Phang Kwi terlempar dan mengaduh-aduh, meringis-ringis kesakitan.



Berbeda dengan Tan Hok, kakek itu ternyata memiliki gerakan yang luar biasa gesitnya. Lebih cepat daripada sambaran golok. Sampai lenyap bayangan kakek itu dikejar sinar golok. Baru berlangsung dua puluh jurus penyerangan kepala perampok itu, terdengar suara keras, golok terlempar menancap dinding dan tubuh kepala perampok terjengkang ke belakang, mukanya pucat karena dia sudah menderita luka pada dadanya oleh tamparan kakek yang lihai ini.



Pada saat itu, tiba-tiba bertiup angin dari luar warung dan berkelebatlah bayangan yang nnembawa bau yang amat harum dan di lain saat Tan Sam dan Tan Hok telah berhadapan dengan seorang perempuan yang amat cantik. Mukanya putih halus dengan sepasang pipi kemerahan, mata yang mengeluarkan cahaya bening tajam membayangkan pengertian yang mendalam, bibir yang merah kadang-kadang membayangkan kekerasan penuh wibawa, akan tetapi lebih sering tersenyum penuh pikatan, pendeknya seorang wanita cantik dengan bentuk tubuh yang indah. Sukar menaksir berapa usianya. Melihat wajahnya yang segar dan bentuk tubuhnya yang padat, kiranya patut kalau ia ini berusia delapan belas tahun. Akan tetapi melihat sinar matanya, agaknya ia jauh lebih tua daripada itu. Pakaian yang menutup tubuhnya terbuat daripada sutera halus berwarna merah kuning hijau biru diselang-seling indah sekali. Sepatunya yang amat kecil berwarna merah dengan dasar dilapis besi. Sebatang golok kecil tipis tergantung di punggungnya, dari depan hanya tampak gagangnyo tersembul di belakang pundak kanan, sedangkan tangan kirinya niemegang sehelai selendang merah dari sutera pula.



Kedatangan wanita ini amat cepatnya dan ini saja sudah menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang berkepandaian tinggi. Tan Hok dan Tan Sam bengong terheran-heran ketika tiba-tiba wanita cantik itu menudingkan telunjuknya yang runcing halus ke muka mereka sambil membentak.



”Orang-orang Pek-lian-pai benar sombong, mengandalkan kepandaian sendiri menghina golongan lain. Hemmrn, kalau tidak diberi hajaran akan menjadi makin besar kepala!" Baru saja suaranya yang halus rnerdu berhenti, tubuhnya yang langsing sudah berkelebat ke arah Tan Sam. Dalam sejurus saja ia telah mengirim tiga macam serangan kepada kakek itu, yakni tusukan ke arah mata dengan dua jari tangan kiri disusul totokan dengan tangan kanan ke arah dada dan tendangan kaki kiri melayang pula!



Tan Sam tidak berani main-main seperti ketika menghadapi para perampok kasar tadi. Dari gerakan wanita ini maklumlah bahwa dia bertemu dengan lawan tangguh yang memiliki jurus-jurus ilmu silat yang aneh dan keji. Cepat dia bergerak mengelak dan menangkis, membuyarkan tiga macam serangan itu. Alangkah kagetnya ketika dia merasa lengan tangannya terasa pedas dan gatal ketika dia menangkis totokan tangan kanan wanita itu. Di lain fihak, wanita cantik itu sendiri pun kaget dan terheran-heran melihat tiga serangannya dapat dibuyarkan kakek ini.



"Nona, tahan dulu. Mengapa kau memusuhi orang Pek-lian-pai?" tanya Tan Sam yang merasa penasaran. Akan tetapi mukanya berubah pucat ketika melihat wanita itu sudah mengeluarkan sebuah benda yang ternyata adalah lima bunga teratai dengan lima warna di atas satu tangkai. Lima macam teratai ini terbuat dari logam yang keras dan tangkainya merupakan gagang senjata.



"Eh.... kiranya.... Ngo-lian-kauwcu (ketua Agama Lima Teratai)...."



Hanya sampai di sini Tan Sam dapat berkata karena senjata aneh berupa lima teratai itu telah digerakkan ke arahnya. Tan Sam mencoba untuk mengelak, akan tetapi tiba-tiba kepalanya menjadi pening, matanya silau dan pundaknya terpukul sebuah diantara lima teratai itu. Kakek ini mengeluh dan roboh terlentang, mukanya berubah hitam dan napasnya berhenti.



Melihat gurunya tewas, Tan Hok pemuda tinggi besar itu menjadi kaget sekali. “Siluman betina.... Kau bunuh-bunuh orang?”



Wanita itu tersenyum dan berkilatlah deretan giginya yang putih seperti mutiara teratur. Matanya yang bening tajam itu mengerling dan bergerak cepat menjelajahi tubuh Tan Hok yang tinggi besar dan kuat berotot, kelihatan membayangkan kekaguman.



"Eh bocah raksasa, siapa namamu?” pertanyaan ini diajukan dengan, suara halus dan sikap genit.



"Namaku Tan Hok dan aku harus membalas kematian...."



"Sudahlah, kau ikut aku saja menjadi muridku. Tentu kelak kau akan menjadi jagoan besar yang tak ada bandingannya”



“Siluman kau." Tan Hok menerjang dengan marah, kepalan tangannya yang besar itu menghantam ke arah kepala wanita itu. Akan tetapi dengan sikap tenang wanita cantik itu mengangkat tangan kiri menangkis. Sepasang lengan bertemu. Aneh sekali kalau dilihat, lengan wanita itu kecil dan berkulit tipis halus, akan tetapi begitu bertemu dengan Tan Hok yang besar dan kuat berotot seakan-akan terus menempel. Tan Hok merasa tenaganya lenyap, dia mencoba untuk menarik kembali lengannya, namun tanpa hasil. Sebaliknya tangan wanita itu meraba dagunya yang keras, lemudian tangan kanan ini meluncur terus ke bawah. Di lain saat tubuh Tan Hok sudah roboh lemas karena jalan darahnya tertotok secara halus akan tetapi luar biasa akibatnya. Tan Hok berusaha menggerakkan tubuh namun semua urat di tubuhnya tidak mau menuruti kehendaknya, dia tetap lemas tak berdaya. Akan tetapi mata dan mulutnya dapat dia gerakkan maka dia lalu memaki-maki tidak karuan.



Adapun para perampok ketika tadi mendengar kakek Tan Sam menyebut nama Ngo-lian-kauwcu, menjadi kaget dan juga girang. Ang-bin Piauw-to segera memimpin anak buahnya yang sudah terluka untuk berlutut di depan wanita cantik itu.



"Ah, kiranya Kim-thouw Thian-li (Bidadari Kepala Emas) yang menolong nyawa kami yang rendah dan bodoh. Siauwte bertujuh menghaturkan terima kasih kepada Thian-li...."



"Sudah, cukup, jangan banyak mcngobrol," wanita itu mencegah sambil melambaikan tangan. Dia ini memang Kim-thouw Thian-li, ketua dari perkumpulan Ngo-lian-kauw, seorang wanita yang berkepandaian tinggi. Usianya sudah tiga puluhan, akan tetapi ia masih narnpak seperti seorang gadis remaja. Sebagai murid tunggal dari Hek-hwa Kui-bo, tentu saja kepandaiannya amat hebat.



"Lebih baik kau merangket si mulut kasar ini agar dia jangan memaki-maki seperti itu," katanya sambil menuding ke arah Tan Hok yang masih memaki-maki kepadanya.



"Baik Thian-li. Biar kubunuh si keparat ini!" kata Ang-bin Piauw-to yang cepat mencabut goloknya yang menancap pada dinding.



"Tak usah dibunuh, dirangket saja biar tidak memaki lagi. Paksa dia supaya mau menjadi muridku."



Ang-bin Piauw-to terheran, akan tetapi tentu saja dia tak berani membantah. Diambilnya sebatang cambuk dan mulailah dia mencambuki tubuh tinggi besar yang rebah miring itu. Sementara itu, Kim-thouw Thian-li lalu mengambili paku-paku itu, tidak ada yang ketinggalan, malah ia merampas kantong paku Pek-lian-ting dari mayat Tan Sam. Sambil tersenyum puas ia menyimpan paku-paku dalam kantong itu di balik bajunya, lalu ia kembali kepada Tan Hok yang sedang digebuki. Makin kagumlah ketua Ngo-lian-kauw ketika melihat kepala perampok itu terengah-engah mengeluarkan keringat sedangkan cambuk itu sudah hancur, akan tetapi tubuh yang itu tidak terluka sama sekali, hanya bajunya yang hancur rusak memperlihatkan tubuh yang amat kuat.



"Hemmm, tebal kulitnya, ya? Coba biarkan aku yang mencambukinya!"



Ia menerima cambuk yang tinggal gagangnya itu dari tangan Ang-bin Piauw-to, lalu memukulkan gagang itu perlahan ke arah punggung Tan Hok. Kali ini pemuda tinggi besar itu mengaduh-aduh kesakitan.



"Kalau kau tidak mau menerima menjadi rnuridku, kau akan kupukul lagi sampai tidak tahan lagi sakitnya," kata Kim-thouw Thian-li, sedangkan para perampok itu melihat dengan heran.



"Lebih baik kaubunuh. Mau bunuh lekas bunuh, kenapa masih cerewet lagi?" Tan Hok memaki dengan suara lemah karena dia merasakan nyeri yang hebat, akan tetapi matanya masih melotot berani.



"Kurang ajar kau, minta dibunuh apa susahnya?" Ang-bin Piauw-to yang sudah menjadi marah sekali, mengangkat goloknya hendak dibacokkan ke leher Tan Hok. Akan tetapi Kim-thouw mengibaskan selendangnya dan.... golok itu terlempar dari tangan kepala rampok.



"Jangan lancang!" Kim-thouw Thian-li membentak, matanya yang bening mengeluarkan cahaya berkilat. Kagetlah kepala rampok itu dan cepat dia berlutut.



"Kau dan teman-temanmu harus mentaati perintahku.”



"Kami mentaati, Thian-li," jawab kepala rampok itu. "Mulai sekarang, anggaplah kami sebagai anak buah Thian-li.”



Kim-thouw Thian-ii tertawa manis. "Baik, aku ingin melihat apakah kalian cukup setia. Tak jauh dari sini, di puncak Gunung Hek-niauw-san, terdapat sebuah kelenteng. Hwesio-hwesio di kelenteng itu adalah anak murid Siauw-lim-pai. Kau ke sanalah dan lakukan ini...." Wanita ini lalu mengajak kepala rampok menjauhi Tan Hok dan berbisik-bisik sambil menyerahkan beberapa buah Pek-lian-ting yang tadi ia kumpulkan. Kepala rampok mengangguk-angguk, kemudian bersama kawan-kawannya dia meninggalkan warung itu. Phang Kwi tidak ikut karena dia memang bukan anak buah Ang-bin Piauw-to lagi.



Kim-thouw Thian-li melirik ke arah tukang warung itu. "Kenapa kau masih belum pergi ikut yang lain?"



Phang Kwi cepat memberi hormat "Maaf, Thian-li, saya adalah pemilik warung ini, bukan anak buah Ang-bin-twako...."



"Hemmm, kalau begitu lekas bawa mayat kakek itu. Kubur dia jauh-jauh."



Phang Kwi mendongkol sekali, akan tetapi dia tidak berani membantah. Baiknya mayat kakek itu tidak besar dan tidak berapa berat, maka dia segera memanggulnya dibawa ke belakang. Setelah Phang Kwi pergi wanita itu berlutut mendekati Tan Hok. Senyumnya makin manis dan matanya bersinar-sinar aneh. Dirabanya dada Tan Hok yang bidang dan kuat.



"Orang yang kuat dan gagah," katanya perlahan setengah berbisik." Tan Hok, kenapa kau berkeras kepala? Kau ikutlah aku dan kau akan hidup penuh kesenangan. Aku kasihan kepadamu...."



Tan Hok adalah seorang pemuda yang selain masih hijau, juga jujur dan bodoh. la tidak dapat mengerti akan maksud tersembunyi dalam kata-kata dan sikap wanita itu, dianggapnya bahwa betul-betul orang itu kasihan kepadanya. Hal ini mengingatkan keadaannya, bahwa gurunya, satu-satunya orang di dunia ini yang ada hubungannya dengan dia telah mati, maka matanya lalu basah dan dia menangis!



Kim-thouw Thian-li mengusap-usap pipi pemuda itu dan berkata, "Jangan berduka, anak manis. Biar kusembuhkan kau dan kau ikutlah aku."



Jari tangannya yang haius itu menotok pundak dan punggung dan di lain saat Tan Hok sudah pulih kembali tenaganya dan dapat bergerak seperti biasa. Akan tetapi ketika dia melihat wanita itu merangkulnya dan hendak membantunya berdiri dengan sikap yang mesra, dia merasa juga bahwa hal ini tidak sewajarnya dan bukan sepatutnya. Maka dia meronta dan melepaskan diri.



"Tan Hok, mari kau ikut pergi ketempatku. Mulai detik ini kau selain menjadi muridku, juga menjadi.... teman.... baikku," kata Kim-thouw Thian-ii dengan senyum dan lirikan mata yang genit memikat.



Tan Hok tidak mengerti maksudnya, "Aku tidak bisa ikut denganmu, juga aku tidak mau ikut. Kau sudah membunuh guruku, mana bisa aku menjadi muridmu? Apalagi menjadi teman baik. Mulai sekarang, kau adalah musuhku."



Kim-thouw Thian-li kaget dan kecewa. "Orang goblok! Aku kasihan dan suka kepadamu, ingin menolongmu. Masa kau tidak mau terima?"



Tan Hok berulang-ulang menggeleng-geleng kepalanya. "Tidak bisa.... tidak bisa.... sekarang aku kalah olehmu, lain kali mungkin aku bisa menang untuk membalas perbuatanmu terhadap suhu....”



Dari kecewa wanita itu menjadi marah. "Keparat, kau memang lebih suka mampus. Kalau kau memberatkan gurumu, nah, kau ikutlah dia ke neraka!" Setelah berkata demikian, Kim-thouw Thian-li menyerang dengan totokan maut. Tan Hok yang menganggap wanita ini musuh besarnya, sudah bersiap-siap dan cepat menangkis. Kim-thouw Thian-li penasaran dan melakukan serangan bertubi-tubi. Tingkat kepandaian wanita ini sudah lebih tinggi daripada Tan Sam, mana bisa Tan Hok melawannya? Baru tiga jurus saja, pemuda ini sudah terjungkal oleh sebuah tendangan. Kim-thouw Thian-li melangkah maju, menggerakkan selendangnya hendak memukul ke arah kepala Tan Hok.



"Kim Li, tahan....! Jangan bunuh orang....!" tiba-tiba terdengar suara keras dari luar warung dan seorang pemuda yang tampan dan gagah melompat masuk. Kim-thouw Thian-li menahan serangannya dan cepat sekali muka yang beringas itu kembali penuh senyum dan lirikan manis. la segera berpaling dan menyambut kedatangan pemuda itu dengan girang.



"Kwee-koko (Kakak Kwee), kau sudah menyusul ke sini? Ah, aku sedang menghajar seorang jahat!" Dengan langkah terayun menarik wanita itu menghampiri pemuda muka putih itu sambil tersenyum-senyum, lalu memegang lengannya.



Pemuda itu menoleh ke arah Tan Hok, mukanya mernperlihatkan rasa malu karena sikap mencinta wanita itu diperlihatkan di depan orang lain.



"Pergilah dan ubah jalan hidupmu, jadilah orang baik-baik," katanya kepada Tan Hok.



Dengan mata masih melotot penuh kemarahan Tan Hok pergi meninggalkan warung. Hatinya panas dan mendongkol sekali kepada wanita itu yang selain sudah membunuh gurunya, melukainya juga melakukan fitnah kepada dirinya terhadap pemuda muka putih yang menolongnya itu. Sebaliknya, biarpun dia menganggap pemuda tampan itu pun bukan orang baik-baik, namun Tan Hok seorang yang jujur dan tahu akan budi orang, maka dia merasa berhutang nyawa kepada pemuda yang dia tahu bernama keturunan Kwee itu.



Setelah Tan Hok pergi, Kim-thouw Thian-li menggandeng tangan pemuda itu sambil menyandarkan tubuhnya. Diajaknya pemuda itu duduk menghadapi meja.



"Kwee-koko, kenapa kau menyusul kesini? Dan janganlah muram selalu, bukankah ada Siauw-moi (Adinda) di sisimu? He, tukang -warung! Lekas sediakah arak terbaik dan masaklah daging apa saja yang ada. Cepat!"



Pemuda itu seperti orang kehilangan semangat menurut saja ditarik dan diajak duduk bersanding di atas kursi menghadapi meja. Wajahnya yang tampan nampak muram, akan tetapi matanya agak bersinar ketika dia menghadapi pelayanan Kim-thouw Thian-li yang ramah dan penuh cinta kasih mesra.



Siapakah pemuda yang bermuka putih tampan ini? Bukan lain orang, dia ini adalah orang termuda dari Kun-lun Sam-hengte yang bernama Kwee Sin berjuluk Pek-lek-jiu (Tangan Geledek)! Dia inilah tunangan Kim-eng-cu Liem Sian Hwa anak murid Hoa-san itu.



Biarpun yang termuda di antara murid Pek Gan Siansu, ketua Kun-lun-pai, namun Kwee Sin memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, telah mewarisi ilmu pedang Kun-lun yang terkenal di dunia persilatan. Usianya baru dua puluh dua tahun dan semenjak kecilnya Kwee Sin yang sudah tak berayah ibu itu tinggal di puncak Kun-lun melayani suhunya. Karena inilah maka dia menjadi murid terkasih dari ketua Kun-lun-pai. Hanya kadang-kadang gurunya yang sudah tua dan menganggap Kwee Sin seperti putera sendiri itu memberi kesempatan kepada Kwee Sin untuk turun gunung dan meluaskan pengalaman di dunia ramai.



Perkenalan Kwee Sin dengan ketua Ngo-lian-kauw itu belum lama. Terjadi beberapa bulan yang lalu ketika Kwee Sin sedang turun gunung memenuhi tugas yang diserahkan kepadanya oleh suhunya, yaitu mencari tahu keadaan dunia ramai tentang pemberontakan-pemberontakan terhadap pemerintah Mongol. Pek Gan Siansu, ketua Kun-lun-pai, di waktu mudanya juga seorang pejuang, seorang patriot. Maka sekarang mendengar tentang pergerakan orang-orang gagah yang menentang kekuasaan pemerintahan penjajah, semangatnya terbangun, dia menjadi gembira sekali. Akan tetapi dia sudah terlalu tua untuk turun gunung sendiri, usianya sudah tujuh puluh tahun lebih, maka dia lalu menyuruh muridnya itu untuk turun gunung melakukan penyelidikan.



"Setelah kau turun gunung melakukan penyelidikan, jangan lupa untuk singgah di rumah calon mertuamu di Lam-bi-chung." pesan ketua Kun-lun-pai ini kepada muridnya. "Aku sudah tua, ingin melihat kau menikah tahun ini juga."



Kwee Sin menjadi merah mukanya. Selalu mukanya yang putih tampan itu menjadi merah sekali setiap kali orang bicara atau mengingatkan dia akan tunangannya, Liem Sian Hwa. Merah karena jengah, jengah karena bahagia setiap kali dia terbayang akan wajah tunangannya itu, yang cantik sederhana, bersemangat dan gagah perkasa. Dia sendiri seorang yang berjiwa pendekar, maka mempunyai tunangan yang amat terkenal namanya sebagai seorang lihiap (pendekar wanita), orang termuda dari Hoa-san Sie-eng yang dikagumi dan disegani, tentu saja dia merasa amat bahagia. la sudah membayangkan betapa kelak dengan Sian Hwa di sampingnya, mereka akan merupakan sepasang pendekar yang akan menjadi pembela kebenaran dan keadilan serta menjunjung tinggi nama baik Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai. Anak-anak mereka tentu akan menjadi pendekar-pendekar besar pula.



Setelah bersiap-siap, tidak lupa membawa pedangnya yang selama mi membuat dia terkenal, pemuda ini turun gunung dengan penuh kegembiraan. la menuju terus ke selatan dan timur, menjelajahi kota-kota besar, mendengar dengar dan mencari keterangan.



Banyak dia mendengar tentang pergerakan patriotik dari perkumpulan-perkumpulan rahasia yang timbul seperti jamur di musim hujan, terutama sekali tentang sepak terjang Pek-lian-pai yang paling gigih melakukan perlawanan terhadap pemerintah penjajah. Maka tidak mengherankan apabila dia merasa simpati terhadap perkumpulan itu dan ingin dia mengadakan hubungan. Namun, perkumpulan Pek-lian-pai ini ternyata amat rahasia, tidak mudah diketahui siapa pemimpinnya dan di mana dia dapat menemui anggautanya.



Pada suatu hari Kwe Sin tiba di Sin yang dan dia mengunjungi tempat tinggal kedua suhengnya, yaitu Bun Si Teng dan Bun Si Liong, orang pertama dan ke dua dari Kun-lun Sam-hengte. Selagi dia enak-enak berjalan dan tiba di jalan perempatan di luar kampung tempat tinggal suheng-suhengnya, dari jauh dia melihat seekor kuda hitam yang ditunggangi seorang laki-laki setengah tua berbaju putih datang membalap dari jurusan timur. Pada saat itu juga, dari sebelah utara datang pula berlari cepat seekor kuda yang ditunggangi seorang anak laki-laki berusia belasan tahun, antara tiga belas atau empat belas tahun yang bertubuh kekar dan gagah. Kwee Sin terkejut sekali melihat datangnya dua ekor kuda yang berlari seperti terbang ini pada saat yang sama. Tikungan jalan perempatan dari timur dan utara itu tertutup oleh segerombolan pohon sehingga kedua penunggang kuda itu tentu saja tidak dapat melihat kedatangan masing-masing, dan mungkin juga tidak dapat mendengar derap kaki kuda yang lain karena berisik oleh derap kaki kuda sendiri. Kwee Sin yang datang dari selatan melihat dengan jelas akan hal ini dan timbul kekhawatiran hatinya kalau-kalau dua ekor kuda itu akan bertemu dan beradu di perempatan.



Hal yang dia khawatirkan terjadi. Dua ekor kuda itu berlari cepat sekali dan sebentar saja sudah mendekati perempatan. Setelah berada dalam jarak dekat sekali, Kwee Sin berseru, "Awas....“



Dua ekor kuda itu sudah dekat dan tak mungkin dapat dicegah lagi terjadinya tabrakan yang mengerikan. Dua orang penunggang kuda itu, laki-laki setengah tua berpakaian putih dan pemuda remaja yang berkuda putih, melihat pula akan ancaman bahaya ini.



"Ouw-ma (kuda hitam), naik.....!” Laki- laki setengah tua itu berseru dan mendadak kudanya mengeluarkan ringkikan keras dan tubuhnya melompat tinggi melangkahi kuda putih yang berlari cepat. Namun setinggi-tingginya lompatan kuda yang mendadak itu, biarpun dapat melangkahi seekor kuda, agaknya diantara empat kakinya tentu akan rnenendang penunggang kuda putih, anak laki-laki tadi.



Kwee Sin merasa ngeri dan tak berdaya untuk menolong, matanya terbuka lebar dan jantungnya berdebar.



Hanya sedetik kejadian itu. Kuda hitam melompati kuda putih, keempat kakinya hampir menyentuh punggung kuda putih dan selamat melompati kuda yang menerobos bawahnya. Debu mengebul tinggi dan.... Kwee Sin tidak melihat lagi anak laki-laki tadi di atas punggung kuda putihl



"Celaka....!" serunya, mengira bahwa anak tadi tentu telah terkena tendangan kuda dan terlempar dalam keadaan tewas atau sedikitnya terluka hebat. Akan tetapi dia segera melongo saking kagum dan herannya setelah melihat bahwa anak itu ternyata secara lihai sekali pada saat kudanya dilompati kuda lain, telah menggantungkan diri di bawah perut kuda dan sekarang dalam keadaan selamat dia telah membalikkan tubuhnya duduk kembali di atas punggung kuda. Namun anak itu agaknya kaget juga. la menahan kendali kudanya dan menghentikan kuda itu, wajahnya agak pucat. Akan tetapi laki-laki setengah tua itu hanya menoleh sambil tertawa bergelak, terus mencambuk kudanya, membalap makin cepat.



"Kurang ajar, berhenti kau!" Kwee Sin melompat hendak mengejar penunggang kuda hitam.



"Kwee-susiok (Paman Guru Kwee), jangan kejar dia." Tiba-tiba anak laki-laki tadi berseru. Kwee Sin kaget dan menghentikan larinya. la menoleh dan memandang anak itu lebih teliti.



"Eh, kiranya kaukah ini, Lim Kwi?" la berlari menghampiri dengan girang. "Pantas saja begini lihai menunggang kuda, kiranya kau'"



Anak itu melompat turun dan memberi hormat. Dia memang Bun Lim Kwi, putera tunggal Bun Si Teng, jago pertama dari Kun-lun Sam-hengte! Sebagai seorang pedagang kuda, tentu saja Bun Si Teng dan adiknya Bun Si Liong, selain memiliki ilmu silat tinggi sebagai keturunan Kun-lun-pai, juga telah mempelajari ilmu memelihara kuda dan ilmu menunggang kuda. Bun Lirn kwi tentu saja |uga mempelajari ilmu ini, maka tadi berkat ilmunya menunggang kuda, dia terluput daripada maut yang mengerikan.



"Lim Kwi, kau dari mana dan mengapa kau nampak berduka? Pula, kenapa kau tadi mencegah aku mengejar bangsat itu?" Kwee Sin mengajukan pertanyaan bertubi-tubi.



"Kwee-susiok, memang ada pertaliannya antara pertanyaan-pertanyaanmu tadi. Paman Bun Si Liong terluka parah oleh seorang anggauta Pek-lian-pai, saya pergi ke Twi-ciu membeli obat untuk paman. Dan orang tadi.... dia itu melihat kepandaian dan pakaiannya yang serba putih, agaknya juga seorang anggauta Pek-lian-pai yang memusuhi kami...."



"Ahhh...." Kwee Sin berkata penasaran. "Kalau betul dia itu memusuhi, keluargamu, kenapa kau malah mencegah aku mengejar dan memberi hajaran kepadanya? Apakah luka ji-suheng (kakak seperguruan ke dua) amat parah?"



"Kwee-susiok, anggauta-anggauta Pek-Lian-pai lihai sekali dan selagi pamanku terluka, kiranya tidak baik memperluas permusuhan dengan mereka." Jawaban anak berusia belasan tahun ini diam-diam membuat Kwee Sin amat kagum. Benar-benar seoramg anak yang sudah memiliki pandangan luas, pikirnya.



"Bagaimana lukanya ji-suheng?"



Bun Lim Kwi menarik napas parjang.



"Berat juga, syukur dapat tertolong oleh tabib yang pandai. Biarlah nanti Susiok mendengar sendiri tentang persoalannya dari ayah...."



"Benar juga kau, hayo kita lekas pergi ke rumahmu, ingin aku menengok Ji-suheng."



Keduanya lalu cepat memasuki kampung di mana Bun Lim Kwi dan ayahnya tinggal.



Rumah keluarga Bun cukup besar, malah memiliki pekarangan belakang yang amat luas, karena di situ dibangun kandang-kandang besar untuk binatang peliharaan dan dagangan mereka, yaitu kuda. Sebagai seorang pedagang kuda, Bun Si Teng telah berhasil dan makin lama kudanya makin banyak. Hampir semua orang gagah yang membutuhkan kuda, atau para saudagar kuda dari lain daerah, selalu datang menemuinya karena selain keluarga Bun jujur dan tidak pernah menghargai kuda mereka terlalu tinggi, juga kuda mereka selalu adalah kuda-kuda pilihan saking pandainya Bun Si Teng memilih kuda. Di depan gedung yang cukup besar itu terdapat beberapa batang pohon yang rindang, mendatangkan suasana yang teduh dan enak di halaman rumah itu. Beberapa ekor ayam yang gemuk-gemuk sibuk mematuki gabah dan dedak yang berceceran di halaman sehingga suasana di tempat yang teduh itu aman dah damai, tidak membayangkan sesuatu yang menyedihkan. Hanya sejenak Kwee Sin dapat merasai ketenteraman suasana ini karena dia segera tergesa-gesa memasuki gedung ketika teringat akan keadaan ji-suhengnya seperti yang dia dengar dari Lim Kwi.



Kedatangan Kwee Sin dan Lim Kwi disambut oleh nyonya Bun Si Teng, ibu Lim Kwi yang tergesa-gesa bertanya, "Bagaimana Kwi-ji (anak Kwi), sudah dapatkah obatnya?"



Lim Kwi mengangguk dan nyonya itu baru melihat munculnya Kwee Sin di belakang anaknya. la segera menyambutnya dengan muka sedih dan Kwee Sin langsung menyatakan keinginannya untuk menengok Bun Si Liong yang terluka. Beramai-ramai mereka bertiga masuk ke ruangan dalam dan di dalam kamar Bun Si Liong, orang gagah ini rebah telentang dengan muka pucat sedangkan Bun Si Teng, kakaknya, duduk di dekat pembaringan dengan wajah muram.



"Ah, kau datang, Kwee-sute? Kebetulan sekali!" kata Bun Si Teng, agak berseri wajahnya seperti mendapat pengharapan baru.



"Siauwte mendengar tentang terlukanya Ji-suheng, bagaimana keadaannya?"



Kwee Sin menghampiri pembaringan. Bun Si Liong membuka mata dan memandang kepada Kwee Sin, tersenyum duka.



"Kita kecewa, Sute.... ternyata Pek-lian-pai bukan orang-orang baik...."



"Biarlah nanti kita berhitungan dengan mereka, Ji-suheng. Yang perlu sekarang kau berobatlah dulu agar segera sembuh," menghibur adik seperguruan ini. Ia mendapat kenyataan bahwa selain menderita pukulan yang melukai sebelah dalam dada, suhengnya ini pun menderita luka parah pada pundak dan lambungnya akibat senjata rahasia paku yang terkenal dipergunakan oleh perkumpulan Pek-lian-pai, yaitu Pek-lian-ting.



Nyonya Bun Si Teng sibuk memasak obat untuk adik iparnya dan Bun Si Teng lalu menceritakan dengan singkat kepada Kwee Sin tentang terjadinya peristiwa itu.



"Beberapa pekan yang lalu di sini datang seorang yang mengaku sebagai utusan Pek-lian-pai yang membutuhkan dua puluh ekor kuda yang baik. Aku dan Liong-te (adik Liong) karena merasa simpati mendengar nama baik Pek-lian-pai sebagai perkumpulan para patriot, dengan senang hati memilihkan dua puluh ekor kuda dengan harga serendah-rendahnya. Malah ketika orang itu, yang mengaku bernama Thio Sian, menyatakan kagum melihat kuda tungganganku sendiri, aku dengan rela hati menyerahkan kuda itu kepadanya sebagai tanda persahabatan. Orang she Thio itu minta kepada kami berdua supaya suka mengantarkan kuda ke dalam hutan yang tiga puluh li jauhnya dari sini. Karena ingin berkenalan dengan tokoh-tokoh Pek-lian-pai, aku sendiri bersama Liong-te berangkat pada tiga hari yang lalu untuk mengantar kuda-kuda itu ke sana. Celaka sekali...." Bun Si Teng yang bertubuh tinggi besar seperti pahlawan Kwan In Tiong di jaman dahulu ini mengepalkan tinjunya yang besar dan mengertak gigi. Kwee Sin mendengarkan penuh perhatian.



"Baru saja kami memasuki hutan menggiring dua puluh ekor kuda, tiba-tiba muncul lima orang berpakaian putih-putih dan mereka menyerang kami dengan paku-paku Pek-lian-ting. Tentu saja kami dapat menyelamatkan diri dari serangan gelap ini dan sebelum kami dapat bertanya mengapa mereka melakukan hal itu, mereka telah maju mengeroyok. Terpaksa aku dan Liong-te melakukan perlawanan. Lima orang itu bersenjata golok dan ilmu silat mereka cukup lihai. Akan tetapi aku dan Liong-te tidak gentar dan dapat melayani mereka dengan baik, malah dengan gabungan ilmu pedang, kami dapat mendesak mereka."



Kwee Sin mengepal tinju dan amat tertarik. la cukup maklum akan kelihaian kedua orang suhengnya, apalagi kalau mereka menggabungkan ilmu pedang mereka, kiranya takkan mudah dikalahkan orang, biarpun dengan pengeroyokan.



Twa-suhengnya, Bun Si Teng, amat pandai bersilat pedang dan ditambah lagi dengan permainan sebatang busur besar di tangan kiri merupakan seorang gagah yang sukar dicari bandingnya. Adapun Bun Si Liong yang bertubuh tegap bermuka hitam itu, di tangan kanan memegang pedang sedangkan tangan kiri memegang golok. Ilmu pedangnya dicampur dengan ilmu golok sehingga gerakan-gerakannya amat sukar diduga lawan. Kalau dua orang ini bergabung menjadi satu, bukan main kuatnya.



"Lalu bagaimana, Twa-suheng? Bagaimana Ji-suheng sampai bisa terluka?" tanya Kwee Sin penasaran.



"Menyakitkan hati benar!" Bun Si Teng menggebrak meja. "Orang-orang Pek-lian-pai memang pengecut dan jahat. Setelah kami mulai mendesak, tiba-tiba terdengar suara ketawa seorang wanita, ketawanya nyaring dan merdu, akan tetapi tidak kelihatan orangnya. Kau tahu sendiri, Ji-suhengmu biarpun gagah perkasa, selalu amat takut dan gugup kalau berhadapan dengan wanita. Mendengar suara ketawa ini, agaknya dia gugup sekali, maka ketika dari tempat yang tidak diketahui datang menyambar paku-paku Pek-lian-ting, dia kurang cepat dan terluka oleh sebatang paku."



"Ahhh....!" Kwee Sin berseru, penasaran dan juga heran.



"Paku-paku yang menyambar kali ini dilepas oleh orang yang berilmu tinggi," kata Bun Si Teng menjelaskan. "Ketika aku menangkis paku-paku itu dengan pedangku, telapak tanganku sampai tergetar. Melihat adikku terluka, aku memutar senjata dan mengamuk dengan nekat. Untuk sementara mereka itu tak dapat mengganggu Liong-te. Akan tetapi.... lagi-lagi suara wanita itu yang berseru agar lima orang pengeroyok itu mendesak aku, kemudian wanita yang bersembunyi itu menyuruh para pengeroyok itu mendesak dari satu jurusan, dari depan saja supaya jangan mengepung. Kemudian agaknya dia sendiri menghujankan paku-paku Pek-lian-ting kepadaku. Aku menjadi terdesak hebat, malah berada dalam keadaan berbahaya. Seorang di antara para pengeroyok mendapat kesempatan untuk menyerang adik Liong yang sudah terluka. Liong-te masih dapat melawan, akan tetapi lagi-lagi sebatang paku melukainya, klni di bagian lambungnya dan yang pertama tadi melukai pundaknya. Luka-luka ini yang ternyata kemudian mengandung racun, membuat dia seperti lumpuh sehingga dia kena pukulan pada dadanya."



"Keparat....!" Kwee Sln berkata gemas



"Melihat keadaan adikku terancam, aku menyerbu ke arah adikku dan berhasil merobohkan penyerangnya itu dengan busurku. Entah dia mampus atau tidak, akan tetapi setidaknya kepalanya tentu retak!" Bun Si Teng gemas. "Kemudian aku mengambil keputusan untuk menyelamatkan Liong-te, karena musuh terlampau kuat. Aku berhasil menyambar tubuh Liong-te dan kubawa lari pulang. Kuda-kuda itu mereka rampas dan ketika pada keesokan harinya aku membawa beberapa orang murid mengunjungi hutan, di situ sudah tidak ada seorang pun anggauta Pek-lian-pai."



Kwee Sin menepuk pahanya dengan marah. "Ah, kalau tahu begitu, si kurang ajar tadi takkan kulepaskan begitu saja!"



Bun Si Teng memandang heran. "Siapa yang kaumaksudkan, Sute?"



Kwee Sin lalu menceritakan tentang penunggang kuda yang tadi hampir saja mencelakai Bun Lim Kwi. Mendengar ini berkerut alis Bun Si Teng.



"Hemmm, kalau begitu mereka itu selain bermaksud merampas kuda, juga sengaja hendak memusuhi keluargaku. Ah, kebetulan kau datang, Sute. Aku sudah melakukan penyelidikan dan mendengar bahwa manusia bernama Thio Sian itu berada di dusun Hek-siong-san tak jauh dari sini. Aku tadinya hendak mencarinya di sana untuk membuat perhitungan. Sekarang kebetulan kau datang sehingga hatiku agak lega meninggalkan rumah. Siapa tahu selagi aku pergi, mereka datang membikin kacau sedangkan Liong-te masih belum sembuh. Kau bisa mewakili aku menjaga di rumah."



"Twa-suheng, kurasa Twa-suheng saja yang menjaga rumah, biar aku yang mewakili Suheng mencari jahanam Thio Sian itu di Hek-siong-san. Sudah terang bahwa Pek-lian-pai arnat curang, kalau Suheng sendiri yang pergi ke sana, jangan-jangan mereka akan mengatur jebakan karena mereka sudah mengenalmu. Akan tetapi kalau aku yang pergi, mereka belum mengenalku, maka kiranya akan lebih leluasa bagiku untuk bergerak. Hanya saja, harap Suheng memberi gambaran yang jelas tentang rupa orang she Thio itu."



Mendengar kata-kata Kwee Sin ini, Bun Si Teng mengangguk-angguk. Tak dapat disangkal pula, ucapan Kwee Sin ini memang benar sekali. Selain itu, dia sudah percaya akan kepandaian sutenya ini yang tidak berbeda jauh dengan kepandaiannya sendiri. Betapapun juga, menjaga di rumah kiranya merupakan kewajiban yang tidak kalah pentingnya, pula amat berbahaya karena selain harus melindungi anak isterinya, dia harus pula melindungi adiknya yang sedang sakit.



"Baiklah, Kwee-sute. Akan tetapi kau harus hati-hati benar karena biarpun mengenai kepandaian silat kiranya kau tak usah khawatir menghadapi mereka, namun mereka itu licik dan curang sekali. Untuk mengenal orang she Thio itu mudah saja. Perawakannya kurus tinggi, kumisnya kecil panjang dan di atas pipi kanannya terdapat sebuah tahi lalat merah. la bicara dengan lidah utara."



Setelah mendapat penjelasan dari suhengnya, Kwee Sin lalu pergi melakukan tugasnya, mencari musuh besar suhengnya itu ke dusun Hek-siong-san. Dusun itu kecil saja, akan tetapi ternyata tidak mudah bagi Kwee Sin untuk mencari Thio Sian. Agaknya tidak ada yang mengenal orang ini di Hek-siong-san.



Akhirnya dia mendapat keterangan tentang orang ini dari seorang pemilik warung arak. "Orang tinggi kurus berkumis kecil dan ada tahi lalatnya merah di pipi kanan? Ah, benar, dia pernah membeli arak di sini, malah tadi aku lihat dia lewat di sini menuju ke timur."



Mendengar keterangan ini, Kwee Sin mengucapkan terima kasihnya dan cepat dia melakukan pengejaran ke timur. Di sebelah timur dusun ini terdapat sebuah hutan kecil. Tanpa ragu-ragu Kwee Sin memasuki hutan ini, biarpun hari sudah mulai senja. Hutan pohon siong yang menghitam kulitnya itu nampak gelap. Ia melihat hutan itu sunyi saja, bahkan tidak nampak seekor binatang hutanpun.



Tiba-tiba dia mencium bau asap dan melihat asap membumbung tinggi dari sebelah kiri. Berindap-indap dia mendekati dan dengan girang dia melihat seorang laki-laki menghadapi api unggun. Laki-laki ini cocok dengan gambaran diri Thio Sian dan lebih girang lagi hatinya karena melihat laki-laki ini seorang diri saja, tidak ada orang lain di situ. Dengan berani dan gagah Kwee Sin lalu meloncat mendekati dan berdiri dengan tangan bertolak pinggang.



"Orang she Thio, bersiaplah membuat perhitungan atas perbuatanmu yang pengecut dan curang!" bentaknya sambil mencabut keluar pedangnya.



Orang tinggi kurus itu tersenyum, lalu bangkit berdiri dengan tenang.



"Payah kau mencari-cari aku di Hek-siong-san, lalu mengejar ke sini atas keterangan tukang penjual arak. Dapat bertemu setelah aku membakar daun-daun kering ini. Eh, orang muda yang gagah, apa perlunya kau mencari aku Thio Sian?"



Kwee Sin kaget sekali. Kiranya orang yang dicari-carinya ini telah lebih dulu tahu akan kedatangannya. Benar berbahaya. Diam-diam dia mengerling ke kanan kiri untuk mencari kalau-kalau orang ini sudah memasang jebakan. Ia merasa gentar juga, namun sebagai seorang pendekar dia tidak mau memperlihatkan ini.



"Jangan kau bersikap pura-pura," katanya mengejek. "Kau sudah berani menipu Kun-lun Sam-hengte, menipu kedua suhengku, malah melukai ji-suhengku dengan pengeroyokan pengecut. Ketahuilah, aku Kwee Sin takkan membiarkan orang macam engkau menghina ji-suheng begitu saja!"



Orang itu sambil tersenyum lalu menjura. "Eh, kiranya Pek-lek-jiu Kwee-enghiong yang datang. Sudah lama mendengar nama besar Kwee-enghiong, dan aku yang bodoh Thio Sian juga sudah beruntung sekali berkenalan dengan kedua saudara Bun yang gagah...."



Mendongkol sekali hati Kwee Sin. "Orang she Thio, jangan berpura-pura menjual mulut manis. Awas pedangku!" la merasa dipermainkan dan khawatir kalau-kalau dijebak maka cepat dia mengirim serangan.



"Eh, eh, benar-benar berdarah panas!" Orang itu dengan mudahnya mengelak. Kwee Sin mendesak lagi dengan pedangnya sehingga mau tidak mau Thio Sian mencabut golok dan menangkis.



"Kau hendak menguji kepandaian? Baiklah, tiada halangannya di tempat sunyi kita bermain-main, biar kita penuhi syarat perkenalan dengan bertanding lebih dulu.”



Di lain saat kedua orang itu sudah bertanding seru. Diam-diam Kwee Sin harus mengakui kehebatan lawannya yang memiliki golok yang amat cepat dan kuat. Payah dia mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, namun tetap saja dia tidak mampu mendesak lawannya. Dia mulai gelisah. Kalau ada seorang lagi saja teman lawannya, dia tentu celaka dan takkan dapat menang. Oleh karena itu dia mulai melakukan pukulan-pukulan tangan kiri, yaitu pukulan Pek-lek-jiu yang amat ampuh.



"Ayaaa.... kau benar-benar hendak mengambil nyawa orang tak berdosa?" Thio Sian nampak terkejut dan cepat mengelak. "Mari kita bicara dulu."



Tapi Kwee Sin mana mau berhenti? Malah menyerang makin gencar dengan pedang dan pukulan-pukulannya. Tiba-tiba Thio Sian juga melakukan penyerangan dengan tangan kirinya, melakukan pukulan-pukulan jarak jauh untuk menan-dingi Pek-lek-jiu dari jago muda Kun-jun-pai itu.



Pada saat itu cuaca sudah mulai gelap. Pertempuran sudah berlangsung hampir seratus jurus. Berkali-kali Thio Sian minta dihentikan, namun Kwee Sin tidak mau peduli. Tiba-tiba berkelebat bayangan kecil berwarna merah ke arah Thio Sian. Orang ini terkejut menangkis dengan goloknya. Bayangan itu ternyata sehelai saputangan dan Thio Sian mengeluarkan seruan kaget, tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang.



"Aaahhhhh.... kau.... kau bersekutu dengan dia....?" la mengeluh dan tiba-tiba tangan kirinya melayangkan beberapa buah Pek-lian-ting ke arah Kwee Sin. Penyerangan ini tiba-tiba datangnya. Kwee Sin sudah berusaha menghindarkan diri, namun sebatang paku Pek-lian-tin dengan tepat sekali menancap di jalan darah dekat lehernya. Pandang matanya gelap dan Kwee Sin mengeluh perlahan lalu roboh pingsan!



Ketika Kwee Sin membuka matanya sambil mengeluh kesakitan, dia menjadi heran dan kaget karena mendapatkan dirinya sudah rebah di atas pernbaringan dalam sebuah kamar yang berbau harum. Lehernya terasa panas dan sakit sekali, sampai berdenyut kepalanya. Namun dia memaksa diri bangun duduk. Terdengar pintu kamar berderit terbuka, lalu tertutup lagi. Kwee Sin menoleh dan.... matanya terbelalak lebar ketika dia melihat seorang wanita muda cantik sekali memasuki karnar itu sambil tersenyum manis.



"Kau.... kau siapakah....?" Kwee Sin hendak melompat turun. Wanita itu melangkah ringan dan cepat, tahu-tahu sudah berada di pinggir pembaringan, lalu menjura dan berkata dengan kata-kata yang sopan dan merdu.



"Harap Taihiap tenang dan jangan kaget, biarlah Siauw-moi rnemberi penjelasan....”



''Tapi.... tapi tak pantas sekali kita.... berada di sini...."



"Sssssttt...." Manis sekali ketika wanita itu menaruh telunjuk di depan mulut dan bibirnya mengeluarkan suara ini untuk mencegah pemuda itu mem-buat berisik. "Taihiap, jangan ribut-ribut, kalau terdengar para pelayan losmen dan para tamu, kita malah akan mendapat malu. Dengarlah Siauw-moi bicara...." Wanita itu dengan sikap sopan tapi amat manis menarik lalu duduk di atas bangku depan pembaringan sambil memberi isyarat dengan tangannya agar Kwee Sin berbaring kembali. "Kau berbaringlah, lukamu masih belum sembuh dan perlu beristirahat."



Karena memang kepalanya berdenyut-denyut dan pening, Kwee Sin terpaksa menurut dan membaringkan badan, biarpun hatinya merasa tidak enak sekali. Dia seorang gagah, bagaimana sekarang bisa berada sekamar dengan seorang gadis cantik jelita? Benar-benar memalukan dan mencemarkan namanya!



"Taihiap, secara terpaksa sekali aku membawamu ke dalam losmen ini. Kau terluka hebat oleh paku Pek-lian-ting. Kau pingsan, lukamu parah, tepat mengenai jalan darah besar di leher. Tanpa mendapat pengobatan yang cepat dan tepat, keadaanmu akan berbahaya sekali. Di dalam hutan yang sunyi, bagaimana aku dapat menolongmu? Karena itu secara terpaksa sekali aku membawamu ke losmen ini, menyewa sebuah kamar."



"Tapi.... tapi....," Kwee Sin memprotes, "mengapa hanya sekamar? Padahal kau dan aku.... laki-laki dan wanita, sungguh tak patut...."



Wajah wanita itu menjadi merah sekali, terutama di kedua pipinya, membuat ia nampak makin jelita. "Maaf, Taihiap. Aku.... aku terpaksa mengaku bahwa kita.... kita ini suami isteri...."



"Ahhh!" Kwee Sin terkejut dan hendak bangun, tapi lehernya sakit sekali dan dia rebah kembali.



"Terpaksa, Taihiap. Kalau aku tidak mengaku demikian, tentu akan menimbulkan kecurigaan. Aku mengaku suami isteri yang berpesiar, laiu kau mendapat kecelakaan jatuh dari kuda. Setelah aku mengaku bahwa kita adalah suami isteri, tidak ada seorang pun yang memperhatikan atau menaruh curiga.”



Kwee Sin diam saja. la merasai kebenaran omongan wanita ini. la melirik dan melihat wanita itu menyusuti dahi dengan sehelai saputangan merah. Tiba-tiba dia teringat dan dia memaksa diri duduk.



“Kau.... kaukah yang menyerang dan merobohkan Thio Sian dan yang rnenolongku?" la memandang tajam, ragu-ragu.



Wanita itu rnerah lagi kedua pipinya ketika mengangguk, tersenyum dan berkata perlahan, "Sudah sepatutnya kita saling tolong-menolong, apalagi menghadapi seorang penjahat besar seperti tokoh Pek-lian-pai itu. Ketika aku melihat seorang Pek-lian-pai bertempur melawanmu, tanpa ragu-ragu aku memihak kepadamu, Taihiap. Tidak tahu, siapakah nama Taihiap yang mulia?"



Sambil duduk Kwee Sin cepat-cepat mengangkat kedua tangan memberi hormat.



"Ah, kiranya Nona .adalah penolongku. Terima kasih banyak, Nona sudah menolong dan menyelamatkan nyawaku. Aku yang bodoh bernama Kwee Sin dan bolehkah aku mengetahui nama besar Taihiap (Nona Pendekar)?"



"Aku bernama.... Kim Li, she (nama keluarga) Coa. Kwee-taihiap, karena aku sudah terlanjur mengaku suami isteri, untuk melenyapkan kecurigaan orang, kuharap kau jangan menyebut lihiap.... sebut saja namaku, dan.... dan kalau boleh aku lebih suka menyebutmu Kwee-koko (Kakanda Kwee)...."



Berdebar jantung Kwee Sin, akan tetapi pada saat itu juga lehernya terasa nyeri bukan main sampai kepalanya berdenyut-denyut. la meramkan matanya dan mengeluh perlahan. Wanita itu yang bukan lain adalah Kim-thouw Thian-li atau Ngo-lian-kauwcu ketua Ngo-lian-pai, segera menghampiri. Dengan mesra dan halus ia menaruh telapak tangannya di atas kening Kwee Sin dan berkata merdu.



"Kau mulai terserang demam, Kwee-koko. Akan tetapi tidak apa, kau tidurlah, biarlah kumasakkan obat untukmu."



Dengan amat teliti wanita ini merawat Kwee Sin. Sikapnya penuh kasih dan mesra, selama dua hari dua malam tak pernah meninggalkan kamar itu, tak pernah tidur.



Biarpun sedang menderita demam, Kwee Sin masih ingat akan semua ini dan diam-diam dia merasa amat terharu dan berterima kasih. Belum pernah selama hidupnya dia mempunyai seorang yang begini baik terhadap dirinya, bahkan tunangannya sendiri, nona Liem Sian Hwa, belum pernah bersikap sedemikian manis dan penuh kasih. Kwee Sin adalah seorang pemuda yang masih hijau dalam menghadapi godaan wanita. la belum mampu membedakan antara kasih sayang yang murni dengan kasih sayang seperti yang dikandung dalam hati seorang wanita seperti Kim-thouw Thian li. Tak dapat disangkal bahwa biarpun masih muda, Kwee Sin sudah banyak sekali pengalamannya dalam dunia kangouw, namun tentang cinta kasih, dia benar-benar masih hijau dan hatinya masih bersih sehingga dia menganggap sikap wanita itu sebagai cinta yang benar-benar murni.



Betapapun juga, Kim-thouw Thian-li benar-benar jatuh hati kepada pemuda jago Kun-lun-pai ini. Melihat sikap Kwee Sin yang bersih dan jujur, yang selalu sopan dan tidak sekali-kali mau melanggar kesusilaan, wanita ini merasa malu dan takut sendiri untuk bersikap terlalu genit. Namun dengan kepandaiannya membujuk rayu, ia berhasil juga mendatangkan rasa haru dalam hati Kwee Sin dan mulailah dalam hati pemuda ini timbul penyesalan mengapa dia tidak diikatkan jodoh dengan seorang gadis seperti Coa Kim Li ini!



Pada hari ke tiga, Kwee Sin sudah sembuh kembali. la lalu menghaturkan terima kasih kepada Coa Kim Li atau yang sesungguhnya berjuluk Kim-thouw thian-li itu.



"Adik Kim Li," katanyaa terharu, "aku merasa berhutang budi kepadamu. Kalau aku Kwee Sin tak mampu membalas budimu, biarlah Thian yang akan membalasnya. Sekarang kita harus berpisah, aku akan rnelanjutkan perjalananku dan aku tidak berani mengganggu kau lagi."



Kim-thouw Thian-li tersenyum manis, akan tetapi sinar matanya memperlihatkan kedukaan hatinya, "Kwee-koko, mengapa kita harus berpisah? Apakah salahnya kalau kita melakukan perjalanan bersama? Koko, aku.... entah mengapa, selama hidupku belum pernah aku mempunyai seorang.... sahabat seperti kau. Aku.... agaknya akan sukar sekali bagiku untuk berpisah dari sampingmu."



Kwee Sin makin terharu, apalagi ketika dia melihat dua butir air mata jernih turun dari sepasang mata yang indah itu. Dipegangnya kedua tangan Kim Li dan suaranya menggetar, "Kim Li, percayalah, aku pun mempunyai perasaan seperti yang kaurasai itu. Kau satu-satunya wanita yang selama hidupku amat baik kepadaku. Akan tetapi.... kurasa tidak sepatutnya kalau kau seorang gadis gagah perkasa melakukan perjalanan bersama seorang laki-laki. Akan tercemar nama baikmu. Ke dua...."



"Kwee-koko, peduli apa sama anggapan umum? Kita orang-orang gagah tidak perlu mendengarkan gonggongan anjing-anjing di tepi jalan!"



Kwee Sin tersenyum pahit. "Betul kata-katamu, akan tetapi nriau tidak mau kita harus menghindarkan dugaan yang bukan-bukan. Selain itu, yang ke dua.... aku harus berterus terang kepadamu Kim Li moi-moi, aku.... aku sebenarnya sudah.... sudah bertunangan...."



Aneh, sama sekali wanita itu, tidak nampak kaget atau pun kecewa. Memang, bagi seorang seperti Kim-thouw Thian-li, laki-laki yang disukainya tetap laki-laki, tak peduli dia itu belum bertunangan maupun sudah beristeri atau sudah menjadi ayah. Akan tetapi dengan kepandaiannya, ia bisa membuat kedua pipinya menjadi kemerahan.



"Siapa.... siapa dia itu, Koko? Tentu gadis yang cantik jelita dan gagah perkasa?"



"Tentang kecantikannya, aku tak dapat bilang ia amat cantik, setidaknya.... eh, tidak secantik engkau. Tentang kepandaiannya, tentu saja ia lihai karena dia itu adalah orang termuda dari Hoa-san Sie-eng."



"Ahhh, dia Kim-eng-cu Liem Sian Hwa....?"



"Kau sudah mengenalnya, Kim Li"



"Siapa yang tidak tahu bahwa orang termuda dari Hoa-san Sie-eng adalah Kiam-eng-cu?" Bibir yang merah itu berjebi. "Hemmm, kukira bidadari dari kahyangan yang sakti!"



Merah muka Kwee Sin. la teringat bahwa Kim Li memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, mungkin tidak kalah oleh Liem Sian Hwa dan yang sudah jelas tidak kalah olehnya sendiri. Buktinya, Thio Sian yang lihai itu juga roboh oleh wanita ini. Menurut pengakuan Kim Li, Thio Sian dapat dibunuhnya di dalam hutan itu dan ditinggalkan begitu saja.



"Dia memang gadis sederhana saja...." akhirnya dia berkata untuk mengusir rasa jengahnya.



“Jadi kau sekarang hendak pergi kesana? Di mana sih rumah tunanganmu itu, Koko?"



"Di Lam-bi-chung. Terpaksa aku harus singgah di sana memenuhi pesan suhu, setelah singgah sebentar aku akan kembali ke Kun-lun."



"Bagus! Tujuan perjalananku juga melalui Lam-bi-chung. Kita bisa melakukan perjalanan bersama, Koko? Dekat sana ada Telaga Pok-yang, amat indah apalagi pada awal musim chun (semi) seperti sekarang ini. Kwee-koko, kalau begitu, marilah kita berangkat. Aku takkan mengganggumu, jika kau singgah di Lam-bi chung, aku akan menjauhkan diri!"



Sikap yang amat gembira dari Kim Li ini rnembuat Kwee Sin tak dapat menolak lagi. Apalagi kalau diingat bahwa dia memang akan senang sekali melakukan perjalanan bersama gadis ini. Kalau tadi dia mengajukan keberatan, itu hanya karena dia hendak menjaga nama baik gadis itu, maka sekarang mendengar bahwa gadis itu pun hendak melakukan perjalanan sejurusan dengannya, dia menjadi girang bukan main.



"Li-moi, kau sebetulnya hendak pergi ke manakah?" tanyanya serius.



Akan tetapi gadis itu hanya tertawa saja, tertawa manis sambil menampar lengan Kwee Sin. "Banyak tanya mau apa sih? Lebih baik lekas berkemas dan segera berangkat'."



Kwee Sin tertawa senang melihat gadis itu berlari-lari ke belakang untuk mencari pelayan dan memberi tahu bahwa mereka hendak pergi meninggalkan losmen.



Dan memang benar dugaan Kwee Sin. Perjalanan yang dia lakukan bersama Coa Kim Li benar-benar amat menggembirakan hatinya. Alangkah jauh bedanya dengan perjalanan yang dia lakukan seorang diri sebelum dia bertemu dengan gadis ini. Sebelum mereka meninggalkan dusun itu, lebih dulu Kwee Sin singgah di Sin-yang, ke rumah Bun Si Teng dan Bun Si Liong. Kim Li tidak mau turut dan menanti di luar kampung. Hal ini malah dianggap kebetulan oleh Kwee Sin, karena dia sendiri juga merasa sungkan dan malu terhadap kedua suhengnya kalau mereka ini tahu bahwa dia hendak melanjutkan perjalanan bersanna seorang gadis cantik.



Bun Si Teng dan Bun Sin Liong yang sudah sernbuh, merasa girang dan lega melihat munculnya Kwee Sin. Tadinya dua orang suheng ini merasa amat khawatir karena beberapa hari sute ini tidak muncul. Bun Si Teng malah sudah menyusul ke dalam hutan dan dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya ketika di tengah hutan itu dia mendapatkan mayat Thio Sian ditangisi oleh seorang anak perempuan berusia sembilan atau sepuluh tahun! Selagi dia terlongong dan heran karena tidak melihat sutenya di dekat tempat itu, terdengar suara keras, disusul berkelebatnya bayangan tinggi besar dan di lain saat mayat itu bersama gadis cilik telah lenyap dari situ. Bun Sin Teng kaget dan lari mengejar ke arah berkelebatnya bayangan, akan tetapi dia hanya melihat dari jauh seorang hwesio tinggi besar memondong gadis kecil itu sambil mengempit mayat Thio Sian, berjalan dengan langkah lebar akan tetap cepat seperti terbang! Melihat tangan kiri hwesio itu memanggul sebatang dayung, Bu Si Teng menjadi pucat karena dia pernah rnendengar tentang seorang sakti yang menjadi orang nomor satu di dunia timur, yaitu Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang. Apa betul pertapa yang puluhan tahun tak pernah turun gunung itu sekarang tiba-tiba muncul di situ?



Setelah mendengar cerita Kwee Sin yang telah berhasil merobohkan Thio Sian dengan pertolongan seorang nona pendekar yang bernama Coa Kim Li, dua orang saudara Bun itu menarik napas lega.



"Sungguh sayang sekali bahwa kita dihadapkan kenyataan yang amat pahit dan mengecewakan. Pek-lian-pai yang tadinya kita anggap sebagai perkumpulan orang-orang gagah yang berjiwa patriotik, ternyata sekarang hanyalah merupakan perkumpulan orang-orang jahat belaka. Sute, kau harus memberi laporan yang jelas kepada suhu, agar orang tua itu tenang hatinya dan tidak akan menyalahkan kita kalau kita tidak mernbantu Pek-lian-pai," kata Bun Si Teng kepada sutenya



Setelah menyatakan bahwa dia hendak lekas-lekas kembali Kun-lun-pai dan singgah di Lam-bi-chung seperti yang dipesankan suhunya, Kwee Sin meninggalkan dusun Sin-yang, berjalan cepat sekali keluar kampung untuk menjumpai sahabat barunya, nona Coa Kim Li. Akan tetapi dia menjadi kaget dan kecewa, juga gelisah karena tidak melihat nona itu yang tadi duduk menantinya di bawah sebatang pohon.



"Aduh, celaka. Ke mana dia. Jangan-jangan aku ditinggalkan. Jangan-jangan dia kesal karena aku tadi terlalu lama di rumah suheng...." la duduk di bawah pohon itu dengan kening berkerut. Tiba-tiba terdengar suara ketawa dari belakang pohon. Kwee Sin cepat melompat dan menengok, wajahnya berseri matanya bersinar-sinar.



“Kim Li.....!"



Saking girangnya melihat nona itu ternyata tidak pergi meninggalkannya, Kwee Sin memegang kedua lengannya dan hampir saja dia merangkulnya. Kim Li tersenyum dan matanya bersinar-sinar.



"Kwee-koko, kenapa kau tadi bermuram di bawah pohon?" Kim Li menggoda.



"Kukira kau telah pergi meninggalkan aku."



“Eh, jadi kau sedih kalau kutinggalkan ?”



"Sedih....? Tentu saja.... eh, aku.... aku...."



Kwee Sin baru merasa bahwa tanpa disadarinya dia telah kena umpan, dipancing keluar perasaan hatinya.



Kim Li tertawa, menarik lengan Kwee Sin sambil berkata, "Sudahlah, hayo kita melanjutkan perjalanan."



Kwee Sin tersenyum-senyum, membiarkan saja tangannya digandeng sehingga mereka berdua sambil berjalan, bergandengan tangan seperti sepasang kekasih. Tanpa dia sadari, Kwee Sin sudah mulai roboh, masuk dalam perangkap yang dipasang gadis cantik itu. Terlalu pandai Kim-thouw Thian-li memikat dengan wajahnya yang cantik ataukah terlalu hijau Kwee Sin dalam menghadapi kelihaian siasat wanita cantik?



Dengan melalui perjalanan yang penuh kegembiraan bagi Kwee Sin, kegembiraan hidup yang baru kali ini dia rasakan, akhirnya mereka tiba di Telaga Pok-yang dan mereka berdua, seperti sepasang pengantin baru, berpesiar naik perahu di telaga ini. Sering kali Kwee Sin terheran-heran melihat bahwa gadis ini ternyata mempunyai pengaruh besar di mana-mana. Ketika hendak memasuki daerah telaga, tampak serombongan tentara yang mencegat para pelancong, lalu memeriksa dengan teliti. Memang daerah ini terkenal sebagai daerah para tokoh pemberontak, maka pemerintah Mongol mengadakan penjagaan yang teliti. Akan tetapi ketika mereka ini melihat Coa Kim Li, mereka memberi hormat dan tidak mengganggu gadis itu bersama Kwee Sin. Dalam keheranannya Kwee Sin bertanya apa sebabnya gadis ini seakan-akan memiliki kekuasaan, akan tetapi Kim Li hanya tersenyum dan berkata, "Cacing-cacing tanah macam mereka masih dapat mengenal orang baik-baik, itu masih untung. Andaikata mereka berani mengganggu kita berdua, apakah mereka akan dapat hidup terus dengan kepala menempel di leher?"



Karena pandainya Kim Li menjawab dan menyimpan pertanyaan, pandainya merayu, Kwee Sin tidak mendesak terlebih jauh. Mereka berpesiar sampai puas di Telaga Pok-yang yang amat indah itu. Sama sekali Kwee Sin tidak tahu bahwa gerak-geriknya di telaga ini diketahui oleh calon mertuanya, Liem Ta ayah Liem Sian Hwa! Dan seperti telah dituturkan di bagian depan, Liem Ta pulang sambil marah-marah dan menyatakan di depan puterinya bahwa pertunangan dengan Kwee Sin diputuskan!



Ketika Kwee Sin menyatakan keinginannya kepada Kim Li untuk menengok ke dusun Lam-bi-chung,. ke rumah calon isterinya, Kim Li tersenyum pahit dan berkata



"Guru adalah setingkat dengan ayah, kata-katanya harus ditaati. Kau hendak mentaati pesan gurumu, pergilah kau singgah ke rumah keluarga Liem. Akan tetapi aku tidak bisa ikut pergi ke sana. Selamat berpisah, Kwee-koko. Harap kau tidak melupakan Coa Kim Li!" Setelah berkata demikian, sekali meloncat gadis itu lenyap dari depan Kwee Sin. Pemuda ini menyesal sekali dan hendak mengejar, akan tetapi dia maklum bahwa tak mungkin dia mengejar Coa Kim Li yang berkepandaian lebih tinggi daripadanya. Dengan kecewa, kehilangan kegembiraan dan malas-malasan, dia lalu pergi seorang diri ke Lam-bi-chung. Karena masih mengharapkan untuk dapat melihat Kim Li kembali ke Po-yang, dia tidak meninggalkan telaga itu sebelum menanti sampai tiga hari. Barulah dia pergi ke Lam-bi-chung setelah pada hari ke empat dia masih belum melihat kembali Kim Li. Dengan hati berat dia berjalan ke dusun Lam-bi-chung untuk menengok rumah Liem Sian Hwa.



Akan tetapi, apa yang dia dapatkan di rumah itu? Rumah yang tertutup dan tidak ada penghuninya. Masih ada tanda-tanda berkabung di depan pintu rumah kosong itu. Dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika dia mendapat keterangan dari para tetangga bahwa calon mertuanya, Liem Ta, telah didatangi penjahat dan terbunuh ketika Liem Sian Hwa sedang pergi!



Sudah dituturkan di bagian depan bahwa Liem Sian Hwa menyusul ke Pok-yang untuk membuktikan dengan mata kepala sendiri penuturan ayahnya tentang Kwee Sin dan seorang wanita. Sayang bahwa ia tidak bertemu dengan dua orang itu dan ketika ia pulang, ayahnya sudah terluka dan tewas.



Kita kembali kepada Kwee Sin yang menjadi kaget dan berduka sekali. Ia mendapat keterangan lagi bahwa Liem Sian Hwa setelah kematian ayahnya lalu pergi bersama seorang laki-laki gagah perkasa yang disebut suhengnya. Kwee Sin dapat menduga bahwa Liem Sian Hwa tentulah pergi bersama seorang di antara tiga orang suhengnya, yakni orang-orang dari Hoa-san Sie-eng.



"Betapapun juga, aku harus mencarinya," pikir Kwee Sin. "Kasihan sekali Sian Hwa, aku harus rnenyatakan penyesalanku dan menghiburnya." Dalam berpikir demikian ini dia membayangkan wajah Sian Hwa. Akan tetapi heran sekali wajah gadis itu berangsur-angsur berubah menjadi wajah Kim Li yang tersenyum-senyum dan membujuk rayu! Cepat dia mengerahkan tenaga mengusir wajah Kim Li dan pipinya menjadi kemerahan. Ah, kalau saja tidak berlambat-lambat dengan Kim Li dalam perjalanan, kalau aku dapat datang di Lam-bi-chung beberapa pekan lebih dulu, kiranya aku akan dapat mencegah terjadinya pembunuhan atas diri calon mertuaku!



Makin berat rasa hati Kwee Sin ketika dia melanjutkan perjalanan meninggalkan Lam-bi-chung. Tadinya dia sudah merasa kecewa dan murung karena Kim Li meninggalkannya secara demikian saja tanpa memberi tahu di mana dan kapan dia dapat bertemu kembali dengan gadis itu. Sekarang di tambah lagi dengan peristiwa menyedihkan yang menimpa keluarga calon isterinya, hati Kwee Sin menjadi sedih dan dia lalu mengambil keputusan untuk kembali saja ke Kun-lun-san.



Pada suatu senja dia tiba di luar kota Leng-ki. Di jalan itu sunyi sekali tidak tampak seorang pun manusia. Kwee Sin berjalan dengan kepala tunduk. Dalam beberapa hari ini wajahnya nampak kurus dan agak pucat. Tiba-tiba dia mendengar benda menyambar ke arahnya. Sebagai seorang jago muda yang berkepandaian tinggi, keadaan tubuh pemuda ini selalu dalam keadaan siap siaga. Cepat dia miringkan tubuh dan tangannya otomatis menangkis, menyampok sambaran benda itu. Sebelum melihat ke arah benda yang dapat dia pukul jatuh, dia trengginas melompat ke arah dari mana benda tadi menyambar, matanya ta|am mencari-cari. Akan tetapi tidak terlihat seorangpun manusia di sekitar tempat itu yang sudah mulai gelap itu. Kini perhatiannya ditujukan ke arah benda yang menyambarnya tadi.



Benda itu segumpal kertas. Ketika dia memungutnya, ternyata kertas yang digumpal-gumpal itu berisi tulisan singkat, tulisan tangan yang halus berbunyi: PERGILAH KE LOSMEN KECIL MALAM INI. Tidak ada tanda-tanda yang dapat dia kenal pada kertas itu, entah siapa yang menulisnya. Akan tetapi ketika hidungnya mencium bau harum pada kertas itu, hatinya berdebar penuh harapan. Harum kertas itu mengingatkan dia akan diri Coa Kim Li! Pergi ke losmen kecil? Losmen manakah? Kwee Sin memandang ke depan. Di depan itu terdapat sebuah kota kecil, tentu di situlah yang dimaksudkan adanya losmen kecil. Mengapa ke situ? Menemui siapa? Timbul harapannya. Tentu Coa Kim Li berada di losmen itu. Akan tetapi kenapa meninggalkan pesan supaya dia malam ini pergi ke sana? Kalau gadis itu betul-betul berada di sini, kenapa tidak langsung menemuinya?



Akan tetapi, jawaban semua pertanyaan ini yang rnerupakan kenyataan apa yang dia dapatkan di losmen kecil dalam kota Leng-ki, benar-benar di luar daripada dugaanya semula. la mendengar bahwa tunangannya, Liem Sian Hwa, bersama Kwa Tin Siong orang tertua dari Hoa-san Sie-eng berada di losmen itu! Timbul juga kegembiraannya untuk menjumpai tunangannya dan pendekar Hoa-san-pai ini, akan tetapi diam-diam dia menaruh hati curiga. Apa maksudnya surat yang dia terima secara aneh di tengah jalan tadi? Siapakah si pengirim surat itu? Apakah Kwa Tin Siorig dan Liem Sian Hwa? Kalau memang mereka ini, tidak aneh karena dia maklum bahwa jago-jago Hoa-san-pai memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi apa maksudnya? Dengan cara yang penuh rahasia itu tentu mereka bermaksud supaya dia mengunjungi mereka secara diam-diam dan rahasia pula.



Oleh karena pikiran ini, Kwee Sin menanti sampai datangnya malam yang sunyi dan secara rahasia dia mendatangi losmen, langsung mencari jalan melalui taman bunganya. Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kaget, heran, marah dan malunya ketika dia menyaksikan adegan yang membuat darahnya mendidih. la melihat Liem Sian Hwa terisak-isak berada dalam pelukan Kwa Tin Siong. Api cemburu membakar jantung Kwee Sin. Tanpa berpikir panjang lagi dia lalu mengeluarkan sisir perak yang menjadi tanda pengikat perjodohannya dengan Liem Sian Hwa, dilemparkannya sisir perak itu ke arah dua orang yang sedang berpelukan di taman. Kemudian dia meloncat dan pergi menghilang di dalaim gelap.



Dengan hati makin berat dan penuh kedukaan, penuh kekecewaan, Kwee Sin pada saat itu juga menlnggalkan kota Leng-ki, melanjutkan perjalanannya menuju ke Kun-lun-san. la tidak beristirahat malam itu, semalam penuh dia terus saja berjalan, hatinya penuh penyesalan.



Selagi dia berjalan sambil melamun di atas jalan raya yang sunyi, di waktu malam mulai berganti fajar, dia mendengar suara kaki banyak kuda berlari cepat dari arah belakang. la cepat minggir dan berdiri memandang. Tujuh ekor kuda dengan para penunggangnya berlari cepat dan sebentar saja sudah melewatinya. Mereka ini adalah orang-orang yang kelihatan gagah, yang tiga orang berbaju putih. Seorang yang melarikan kuda paling depan adalah seorang wanita cantik dan gagah. Hanya sekejap saja mereka melewati jalan itu, namun di dalam cuaca yang remang-remang itu Kwee Sin masih dapat mengenal wanita tadi.



"Kim Li....!" teriaknya. Akan tetapi teriakannya tertelan oleh derap kaki kuda. Betapapun juga dia masih sempat melihat wanita itu menoleh dan tersenyum ke arahnya, lalu makin membalapkan kudanya tanpa mernberi isyarat sesuatu.



Kwee Sin penasaran. Tidak bisa salah lagi, wanita itu tentulah Kim Li. Tidak saja dia mengenal wajah yang cantik itu, mata yang tajam bersinar, akan tetapi ia pun mengenal baik-baik senyum manis Kim Li, senyum yang selama ini menjatuhkan hatinya. la melupakan kelelahan dan kesedihannya, rnempercepat larinya mengejar ke arah para penunggang kuda yang makin lama makin jauh itu.



Sepertl telah dituturkan di bagian depan Kwee Sin akhirnya memasuki dusun Kui-lin di tepi Sungai Yang-ce, dan dia sempat mencegah Coa Kim Li atau Kim-thouw Thian-li yang hendak membunuh Tan Hok. Demikianlah keadaan Kwee Sin, jago termuda dari Kun-lun Sam-hengte, dan bagaimana dia sampai dapat berkenalan dengan Kim-thouw Thian-li yang dia kenal sebagai gadis Coa Kim Li yang gagah perkasa, cantik jelita, dan menarik hatinya.



Kita kembali ke warung arak Phang Kwi di mana Kwee Sin bertemu kembali dengan Kim Li. Setelah mencegah Kim Li membunuh Tan Hok, Kwee Si seperti seekor kerbau menurut saja dituntun oleh Kim Li duduk menghadapi meja dan menerima hidangan dari Phang Kwi yang nampaknya takut sekali terhadap Kim Li.



"Minumlah, Koko, minumlah arak ini dan bergembiralah. Setelah aku berada di sampingmu, tak perlu kau bermuram durja lagi. Wanita tidak setia seperti dia itu lebih baik kaulupakan saja." Kim Li membujuk sambil mengisi penuh cawan arak di depan Kwee Sin, lalu mengangkat cawan itu diberikannya kepada Kwee Sin. Sikapnya amat menarik, matanya memandang penuh kasih dan mulutnya tersenyum-senyum manis.



Kwee Sin melengak. ”Kau Sudah tahu....?”



Kim Li mengangguk dan baru ia melihat bahwa gadis itu sekarang membawa golok tipis kecil yang terselip di punggungnya, selendang merah yang harum indah itu tergantung di ikat pinggang. Bajunya berkembang sutera mahal yang indah dan mencetak tubuhnya. Rambutnya yang panjang hitam digelung rapi, dihias setangkai bunga teratai yang amat aneh warnanya, karena ada merahnya, ada putihnya, ada biru, kuning dan kehijauan, terbuat dari mutiara-mutiara pilihan. Cantik jelita nampaknya dengan pipinya yang merah.



"Kalau begitu.... kau pula agaknya yang mengirim surat kepadaku....?"



Kembali Kim Li mengangguk. "Melihat wanita pilihan gurumu itu tidak patut menjadi pendampingmu selama hidup, aku tidak tega mendiamkan begitu saja. Kau perlu mengetahui dengan mata kepala sendiri."



"Kenapa kau berlaku secara rahasia, tidak langsung menjumpai aku?".



Kim Li memegang lengan Kwee Sin dengan sentuhan mesra. "Aku khawatir kalau aku muncul, kau mengira aku cemburu."



Kwee Sin menarik napas panjang dan Kim Li kembali membujuk, "Sudahlah, Koko, lupakan saja dia. Setelah kita berkumpul lagi, mengapa susah-susah? Mari minum!"



Karena hiburan dan sikap manis dari gadis ini, Kwee Sin terhibur juga dan tak lama kemudian dua orang itu sudah minum sepuas-puasnya sambil bertukar pandang penuh cinta kasih, malah Kwee Sin sudah bangkit kembali kegembiraannya, mau melayani sendau gurau wanita itu.



Baik Kwee Sin maupun Kim Li sama sekali tidak pernah mengira bahwa semua perbuatan mereka semenjak tadi telah diintai orang. Tan Hok setelah mendapat pertolongan dari Kwee Sin, biarpun kelihatannya tadi sudah pergi, akan tetapi diam-diam dia merayap datang kembali secara diam-diam. la amat sakit hati terhadap Kim-thouw Thian-li yang telah membunuh Tan Sam, akan tetapi ia juga amat berterima kasih kepada Kwee Sin yang telah menolongnya. Alangkah kecewa, marah, dan menyesalnya ketika dia melihat betapa Kwee Sin yang sekarang dia tahu dari namanya ternyata seorang jago muda gagah perkasa dari Kun-lun-pai itu, jatuh hati kepada Kim-thouw Thian-li. Pemandangan yang dia lihat di dalam warung arak itu membuat hatinya jemu dan kesedihannya timbul. la tadinya hendak mengharap bantuan dari Kwee Sin, kiranya pemuda Kun-lun-pai itu sudah bertekuk lutut di bawah kaki Kim-thouw Thian-li, tak kuasa menentang kecantikan wanita berbahaya itu! Dengan hati sedih Tan Hok malam-malam pergi dari tempat itu. Matanya yang biasanya sayu itu kini menjadi basah air mata.



Semenjak kecil Tan Hok tidak pernah mengenal orang tuanya, hidup sebatangkara. Setelah Tan Sam memungutnya, barulah dia mengenal sedikit kesenangan hidup. Sekarang Tan Sam tewas dan dia tidak berdaya membalas dendam. Tan Hok biarpun menjadi murid dan kawan Tan Sam yang menjadi tokoh Pek-lian-pai dan luas pengalamannya, namun pemuda ini memang pada dasarnya bodoh dan jujur, malah hatinya penuh oleh kedukaan yang dideritanya semenjak kecil.



Bagaikan sebuah layangan putus talinya, tanpa pegangan tanpa tujuan, Tan Hok berjalan ke mana saja kakinya bergerak. Kadang-kadang dia menangis tanpa suara, kadang-kadang dia menangis menggerung-gerung seperti anak kecil.



**********



Kehidupan rakyat jelata pada masa itu di Tiongkok amat sengsara. Keadaan pemerintahan kacau-balau, para pembesar hanya mementingkan isi sakunya sendiri tanpa mempedulikan keadaan rakyat sama sekali. Pembesar-pembesar saling memperebutkan kekuasaan dan kedudukan dalam kehausan rnereka akan pangkat dan kemuliaan duniawi. Pemerintah penjajah kurang memperhatikan keadaan rakyat. Yang kuat menindas yang lemah, yang kaya raya mempergunakan harta kekayaannya untuk menghisap yang miskin, yang berkuasa mempergunakan kedudukannya untuk mencekik si kecil.



Rakyat yang terkekang oleh belenggu penjajahan bangsa Mongol mulai berteriak dan melakukan perlawanan. Di mana-mana timbul pemberontakan dan rakyat kecil pulalah yang menderita. Semua ini ditambah lagi dengan datangnya musim kering yang amat hebat sehingga kelaparan merajalela.



Di sebelah utara Propinsi Shen-si rakyat amat menderita oleh musim kering. Sawah-sawah kering merekah, pecah-pecah tak mungkin dapat ditanami. Sungai-sungai kecil kehilangan sumbernya, teiaga-telaga kelihatar» dasarnya, pohon-pohon kehilangan daunnya. Manusia dan binatang kurus-kurus kekurangan makanan, setiap hari banyak orang dan binatang mati kelaparan. Rakyat menjerit, ratap tangisnya membubung ke angkasa, bersambat kepada Tuhan. Setiap hari orang bersembahyang, minta hujan minta perlindungan, minta-minta dengan ratap tangis yang tak berdaya. Di lain tempat, nun .df kota-kota besar, para pembesar dan hartawan 'berpesta pora, berlumba mehghamburkan arak dan gandum, berlebih-lebihan sampai membusuk gandum mereka di gudang, bersenang-senang, seujung-rambut pun tak pernah teringat kepada Tuhan! Sayang, Tuhan hanya dijadikan tempat pelarian bagi mereka yang menderita. Sayang, Tuhan hanya diingat oleh manusia setelah mereka itu membutuhkan pertolongan daripada kesengsaraan duniawi. Lebih patut disayangkan pula, di dalam keadaan menderita, orang mengeluh mengapa Tuhan meninggalkannya, lupa sama sekali bahwa Tuhan tak pernah meninggalkan manusia, sebaliknya manusia jualah yang meninggalkan Tuhan sampai jauh, sampai tersesat dan akhirnya mereka kehilangan Tuhan.



Bagaikan seorang yang menyia-nyiakan obor dan membuang-buangnya di waktu hari masih terang, lalu kebingungan meraba-raba, mencari-cari obor di kala Jmalam gelap tiba.



Penduduk daerah kering ini banyak yang sudah meninggalkan kampung halamanan, berbondong-bondong mengungsi ke selatan di mana daerahnya lebih mendingan apabila dibandingkan dengan daerah utara. Akan tetapi sungguh patut dikasihani para petaru miskin ini. Di daerah baru mereka dianggap sebagai pengganggu, dan baru mereka itu bisa mendapatkan sekedar pengisi perut setelah tenaga mereka diperas melebihi tenaga kuda. Dusun-dusun di Utara ini banyak yang kosong ditinggalkan penduduknya sehingga merupakan daerah mati.



Pada suatu pagi, seorang pemuda yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa memasuki sebuah dusun yang cukup besar la merasa heran sekali melihat dusun ini sunyi senyap, banyak rumah-rumah kosong ditinggalkan penduduknya.



Ia sudah merasa lapar sekali, akan tetapi tidak melihat sebuah pun rumah makan. Pemuda ini bukan lain adalah Tan Hok. Dipikirnya bahwa penduduk sepagi itu aeaknya sudah pergi ke sawah, maka dia lalu keluar lagi dari dusun itu menuju ke sawah untuk menemui penduduk dan minta diberi makan. Akan tetapi apa yang dia lihat' di sawah membuat dia bergidik. Sawah mengering, sunyi senyap. Tiba-tiba dia melihat benda-benda yang mem-



buat dia makin bergidik. Benda-benda yane menggeletak di sepanjang jalan dusun itu bukan lain adalah mayat orang orang mati kelaparan, ada yang sudah berbau busuk. Dengan hati cemas ketakutan Tan Hok menjauhkan diri. la segera berlari menuju ke tengah sawah dimana dia mendengar suara orang berteriak-teriak. Ketika sudah dekat, pemuda ini berdiri seperti patung, matanya terbelalak memandarig penglihatan di tengah sawah yang tanahnya mengering itu.



Di sana, di tengah sawah, dia melihat seorang kakek berlutut, menangis dan I ^tertawa-tawa tidak karuan. jelas bahwa orang itu sudah berubah ingatannya. Kakek ini kurus sekali, rambutnya awut-awutan dan pakaiannya compang-camping, wajahnya seperti tengkorak hidup. Dengan kedua tangannya kakek ini menggenggam tanah kering dan berteriak-teriak.



"Thian (Tuhan), kepada siapa aku harus mengeluh? Kepada siapa lagi aku dapat minta tolong kalau Kau sendiri sudah menutup telinga, menutup mata terhadap penderitaanku?" la menangis terguguk-guguk, kemudian matanya menjadi beringas dan tiba-tiba dia tertawa-tawa terkekeh-kekeh. "Ha-ha-ha-ha-ha! Ibu tanah...... kau yang memberi kehidupan. Kau yang menghasilkan makanan, kau yang mengeluarkan air. Sekarang kau tidak mau memberi air dan makanan, apa salahnya memakan kau? Ha-ha-ha, semua bahart rnakanan datangnya dari tanah, mustahil tanah tidak mengenyangkan perut?" Sambil tertawa-tawa orang itu lalu makan tanah kering yang dia kepal tadi! Sungguh menyayat hati melihat orang ini. Makan tanah kering sambil tertawa dan kadang-kadang menangis tanpa mengeluarkan air mata. Karena mulutnya sudah mengering, dijejali tanah



kering yang dimakan secara lahap itu membuat dia tercekik, terengah-engah, megap-megap seperti ikan dilempar ke darat. la memegangi leher, memekik-mekik, berputaran lalu jatuh berkelo|otan!



Tan Hok cepat lari menghampiri dan...... dia melihat kakek itu sudah putus nyawanya. Kakek itu mati dengan mata melotot lebar dan mulut yang penuh tanah kering itu ternganga menyeringai. Tan Hok merasa ngeri dan menutupi mukanya, tak terasa air mata mengalir di antara celah-celah jari tangannya.



"Thian Yang Maha Kuasa, mengapa aku yang sudah banyak menderita ini harus menyaksikan ini semua.....?" la berlutut di dekat mayat kakek itu dan menangis.



Kemudian dia dapat menguasai hatinya, lalu digalinya lubang di sawah itu dan dikuburnya mayat kakek tadi. "Kakek, mudah-mudahan tubuhmu akan menyuburkan tanah ini....." doanya. Kemudian pemuda raksasa ini mengubur pula empat mayat yang menggeletak di tepi jalan.



Selagi dia mengubur mayat terakhir, tiba-tiba dia mendengar suara keras dan belasan orang dusun datang berlari-lari ke arartnya. Mereka itu membawa segala macam senjata tajam alat-alat pertanian. Dengan muka mengancam mereka datang menyerbu sambil berteriak-teriak.



"Siluman pemakan bangkai!"



"Bikin mampus iblis jahat ini!"



Belasan batang senjata seperti hujan menghantam ke arah Tan Hok yang menjadi terheran-heran. Akan tetapi sekali , sampok dengan lengannya yang besar dan penuh tenaga itu, semua senjata terpental dan terlempar disusul teriakan-teriakan kaget dan kesakitan. Tan Hok tidak tega menggunakan kekerasan terhadap orang-orang ini yang ternyata adalah orang-orang kurus pucat yang mirip setan-setan kelaparan.



"Kalian tni setan-setan gila datang-datang menyerangku apa sebabnya?" Tan Hok bertanya dengan suaranya yang menggeledek.



"Kaulah setan pemakan bangkai!" seorang di antara mereka memberanikan diri memaki. ,. "Aku tak pernah makah bangkai!" jawab Tan Hok.



Orang-orang itu memandang penuh perhatian, ragu-ragu. "Habis kauapakan mayat-mayat tadi?"



"Aku kubur mereka. Kalian lihat,yang ini terakhir." la menuding ke arah lubang yang dia gali di mana mayat terakhir telah dia masukkan.



Orang-orang itu melongok ke dalam lubang. "Apa tubuhnya masih utuh? Apa tidak ada bagian yang dimakannya?" Demikianlah mereka bertanya-tanya. Ketika melihat bahwa mayat itu memang maslh utuh badannya, mereka lalu men-jatuhkan diri berlutut, ada yang menangis ada yang minta ampun. Seorang kakek yang mengepalai mereka berkata.



"Orang muda yang gagah, harap am-punkan kami sekalian. Kami telah salah sangka....."



”Kasihtan kami orang-orang kelaparan....." kata orang ke dua.



Tan Hok menggeleng-geleng kepalanya, lalu mengomel, "Kalian orang-orang gendeng, mengganggu saja!" la lalu lanjutkan pekerjaannya, menguruk lubang dengan tanah galian. Orang-orang itu tanpa diperintah membantu. Akan tetapi tubuh mereka yang lemah itu memang tidak kuat untuk dipakai bekerja berat.



Kakek yang memimpin rombongan ini berkata, "Sudah banyak teman kanni mati kelaparan dan sepekan yang lalu ada orang kelaparan gila yang suka makan bangkai saking tak kuat menahan laparnya. Kami klra kau itulah orangnya....."



Tergerak juga hati Tan Hok mendengar ini, biarpun dia tidak dapat mengerti mengapa orang-orang itu sampai kelaparan dan mengapa ada orang sampai makan bangkai orang dan bahkan tadi dia melihat sendiri ada orang makan tanah.



"Kalau kalian kelaparan, kenapa tidak makan?”



Orang-orang itu saling pandang, lalu mereka semua memandang kepada Tan Hok dengan heran. Melihat wajah Tan Hok membayangkan kebodohan, kakek tua itu menarik napas panjang dan berkata, "Orang muda, kau menyuruh kami makan, apakah yang dimakan? Musim kering terlalu hebat, tanah kering, tanaman habis. Yang mempunyai simpanan gandum hanyalah pembesar-pembesar dan orang-orang kaya. Orang-orang seperti kami ini nnana ada simpanan? Semua orang ter-paksa mengungsi ke selatan, hapya kami yang tidak punya apa-apa terpaksa ting-gal di sini."



"Jadi ada pembesar dan orang kaya di sini?"



"Pembesar sih tidak ada, orang-orang kaya juga tidak banyak. Yang paling kaya dan paling kikir adalah Kwi-wangwe (hartawan Kwi), tuan tanah terkaya di sini."



"Kenapa tidak minta makan padanya?"



"Uuuhhhy minta makan? Orang muda, dia itu amat kikir, jangankan dimintai, dipinjami saja tidak mau memberi. Kami malah diusir dan dikeroyok oleh anjing-anjingnya, anjing kaki empat dan kaki dua."



"Ada anjing kaki dua?" Tan Hok be-nar-benar terheran.



Kembali orang-orang itu sallng pan-dang, agaknya makin jelas bagi mereka bahwa orang muda yang tinggi besar se-perti raksasa ini kelebihan tenaga akan tetapi kekurangan otak.



"Orang muda, Kwi-wangwe selain memelihara anjing-anjing kaki -empat, juga dia dilindungi oleh tukang-tukang pukulnya, malah pembesar di kota-kota yang berdekatan semua melindunginya. Siapa berani terhadapnya?"



"Hemmm, aku berani! Kalian lapar? Aku pun lapar. Hayo kita pergi ke rumah anjing she Kwi itu. Aku akan paksa dia keluarkan makanan untuk kita."



Bangkit semangat orang-orang itu. Mereka tahu bahwa pemuda raksasa ini adalah seorang yang kuat dan pandai ilmu silat, hanya sayang wataknya aneh dan agak bodoh. "Orang muda, penjagaan di rumah Kwi-wangwe kuat sekali. Apa kau tidak takut?" Kakek itu masih mencoba untuk menakutinya.



"Aku Tan Hok tak kenal takut. Men-diang suhu bilang bahwa orang tak perlu takut jika membela si lemah dan menegakkan keadilan. Orang she Kwi itu gandumnya berlebihan, kalian sebaliknya kelaparan, ini tidak adil namanya. "Mari, antarkan aku!"



Sikap dan ucapan Tan Hok membangkitkan semangat orang-orang yang kelaparan itu dan rombongan ini lalu menuju ke rumah Kwi-wangwe. Di sepan-jang jalan yang sunyi rombongan ini bertambah besar dan akhirnya semua sisa penduduk dusun itu yang berjumlah dua puluh orang lebih ikut dalam rombongan. Orang-orang yang tadinya berputus harapan ini timbul keberaniannya setelah mereka dibela oleh pendekar muda Tan Hok. Betapapun juga, setelah mereka tiba di depan gedung besar milik Kwi-wangwe, gedung dan pagar tembok tinggi tebal dan melihat empat orang tukang pukul menjaga di depan pintu pagar tem-bok, keberanian mereka lenyap dan orang-orang ini bersembunyi di belakang Tan Hok.



Melihat sikap pengecut ini, lenyap kesabaran Tan Hok. "Hayo kalian maju dan nyatakan kehendak hati kalian. Takut apa?" serunya. Kakek tadi bersama dua orang temannya memberanikan diri mendekati pintu pagar tembok.



"Anjing-anjing kelaparan, kalian mau apa ribut-ribut di sini?" seorang tukang pukul membentak sambil melintangkan toyanya, sikapnya mengancam dan sombong sekali



"Kami hampir mati kelaparan....." kata kakek itu merendah, "Kami hendak mohon belas kasihan Kwi-wangwe, mohon bantuan sedikit gandum untuk penyambung nyawa....."



"Pengemis-pengemis kelaparan, pergi kalian! Kwi-wangwe mana ada waktu untuk melayani kalian? Sedang ada tamu agung dan sibuk. Pergi'."



"Kasihanilah kami..... biarlah kami diberi pinjaman gandum, kelak tentu kami bayar, dwgwi tenaga....."



Kakek itu mendesak. "Setan, tidak lekas pergi?" empat orang tukang pukul itu menjadi marah sekali dan serentak mereka menggerakkan toya menerjang maju. Segera terdengar suara bak-bik-buk disusul pekik kesakitan ketika para petani itu dipukul. Percuma saja mereka mencoba melawan karena mereka yang di waktu sehat saja tidak mampu melawan tukang-tukang pukul ini, apalagi sekarang dalam keadaan hampir mati kelaparan.



"Kejam sekali! Anjing-anjing penjaga, jangan gigit orang." Tan Hok melompat ke depan dan sekali dia menggerakkan kedua kaki tangannya, empat orang tukang pukul itu roboh, toya mereka ada yang patah ada yang terlempar jauh. Bukan main kaget hati mereka. Apalagi ketika mereka melihat bahwa yang me-robohkan mereka begitu mudahnya hanyalah seorang pemuda yang tubuhnya seperti raksasa.



"Tolong..... ada pengacau.....!" Mereka berteriak-teriak ke dalam sambil me rayap bangun.



Berbondong-bondong dari dalam gedung keluar belasan orang tukang pukul, malah diantara mereka ada yang berpakaian seperti serdadu pemerintah Goan. Mereka ini ada yang membawa golok, toya, atau pedang dan dengan sikap mengancam mereka menyerbu keluar. Para petani yang tadinya berbesar hati melihat betapa dengan mudah Tan Hok merobohkan empat orang tukang pukul yang melabrak mereka tadi, sekarang berbalik menjadi ketakutan dan menjauhkan diri.



Tan Hok sendiri sama sekali tidak merasa takut. Malah dia menyambut mereka dengan suaranya yang keras, "Kalau tidak mau memberi gandum kepada mereka yang kelaparan, kupukul mampus kalian anjing-anjing penjaga!"



Tentu saja para tukang pukul dan serdadu penjaga itu memandang rendah kepada Tan Hok. Sambil berteriak-teriak memaki mereka menerjang. Hujan sen-jata menyambar ke arah tubuh tinggi besar itu, Namun segera terdengar teriakan-teriakan mengaduh-aduh dan ke-adaan menjadi kacau-balau. Para pengeroyoknya sibuk menyerangnya dari empat penjuru, namun pemuda gagah perkasa ini selalu dapat melindungi tubuhnya daripada ancaman senjata dengan jalan menangkis atau mengelak. Malah dia cepat secara kontan mengirim pukulan-pukulan balasan yang membuat beberapa orang menggeletak pingsan. Melihat makin banyak tukang pukul berlarian dari dalam, Tan Hok merampas sebatang toya dan mengamuk dengan senjata ini. Makin ramailah pei-tempuran di depan gedung, Kwi-wangwe itu.



"Saudara-saudara, Tan-enghiong itu dikeroyok dalam pembelaannya terhadap kita. Bagaimana kita bisa tinggal diam saja? Hayo bantu!" Kakek petani berseru keras. Memang para petani itu mulai timbul keberanian mereka melihat betapa gagahnya Tan Hok melawan tukang pukul.



"Betul..... betul..... hayo bantu Tan-enghiong.....!"



Puluhan orang petani yang kurus-kurus itu dengan semangat menyala lalu menyerbu para tukang pukul yang mengeroyok Tan Hok. Mereka tidak peduli lagi akan keselamatan diri sendiri. Yang dipukul jatuh, bangkit lagi dan melawan penuh kenekatan. Tentu saja mendapat bantuan ini, Tan Hok menjadi makin bersemangat. Toyanya mengamuk dan demi satu para tukang pukul dapat robohkan.



Pada saat itu, dari sebelah dalam gedung terdengar suara orang berseru, "Mundur semua, biarkan Giam-siauwya (Tuan Muda Giam) mengusir para pengacau!"



Itulah suaranya Kwi-wangwe. Mendengar perintah ini, para tukang pukul lalu mengundurkan diri sambil menyereti tubuh teman-teman mereka yang terluka. Semua orang termasuk Tan Hok memandang ke dalam. Mereka melihat Kwi-wangwe yang sudah setengah tua, seorang bertubuh tinggi kecil yang berpakaian mewah sekali, tangan kiri mengisap huncwe berujung emas, berdiri di anak tangga sambil memandang ke luar. Di sebelahnya berdiri seorang pemuda yang aneh. Muka pemuda ini pucat putih, matanya liar tajam, hidungnya mancung. Akan tetapi wajah yang tampan ini nam-paknya aneh dan mengandung sesuatu yang mengerikan, terutama pada mata-nya. Pakaiannya serba kuning dan tangan kanannya mernegang sebuah suling ular. Pada saat itu, pemuda yang usianya antara dua belas tahun ini berkata sambil tertawa.



"Kwi-wangwe, biarlah aku mengadakan sedikit pertunjukan yang menarik hati."



Bocah laki-taki belasan tahun itu lalu mengangkat sulingnya, ditiupnya suling itu. Terdengar suara melengking yang aneh, naik turun seperti gelombang sa-mudera, makin lama makin tinggi dan nyaring menusuk anak telinga. Tan Hok yang sudah mempelajari ilmu silat tinggi, kaget sekali karena tahu bahwa suling itu ditiup dengan kekuatan khikang yang hebat!



"Ular.....! Ular.....!" Para petani berteriak-teriak ketakutan. Tan Hok kaget dan cepat memutar tubuh memandang. La bergidik melihat banyak sekali ular merayap cepat menuju ke tempat itu, besar kecil dan datang dari semua jurusan. Tadinya hanya beberapa ekor saja, mungkin ular-ular yang terdekat di tempat itu, akan tetapi sebentar kemudian menjadi puluhan dan akhirnya ratusan ekor ular datang dan dari jauh masih kelihatan banyak lagi mendatangi.



Ketika ular-ular yang amat banyak itu sudah berkumpul dan menggeliat-geliat sambil menujukan mata ke arah si penyuling cilik yang sudah berjalan keluar dari pintu pagar tembok, suara suling tiba-tiba berubah nnenjadi kacau" balau dan..... secara tiba-tiba ular-ular itu mendesis-desis dan nampak marah lalu menyerang para petani! Segera terdengar jerit-jerit kesakitan bercampur dengan teriakan ketakutan. Para petani mencoba melawan, namun sia-sia karena ular terlampau banyak. Melihat ini Tan Hok marah sekali. Sambil mengeluarkan gerengan seperti harimau terluka orang muda ini menyambar sebatang toya dan menerjang rombongan ular itu. la, menggebuk dan memukul, menghancurkan banyak kepala ular. Akan tetapi ular itu terlampau banyak dan tak mungkin dia dapat melindungi dua puluh lebih orang bernasib malang yang diserbu ular-ular itu. Apalagi di antara ular-ular itu, banyak terdapat ular-ular kecil berbisa yang amat gesit. Sekali pagut saja ular ular seperti ini mematikan korbannya.



Melihat betapa para petani itu roboh binasa, Tan Hok menjadi ngeri dan dengan amarah meluap-luap dia melihat betapa makin banyak dia membunuh ular, makin ganaslah ular-ular yang lain dan dalam sekejap mata saja para petani itu sudah roboh semua. Tak seorang pun tinggal hidup lagi.



"Iblis kecil berhati keji!" Tan Hok membalik dan melompat dengan foya di tangan, menyerang bocah kecil penyuling yang aneh itu. Sama sekali dia tidak tahu bahwa bocah itu bukanlah sembarang bocah. Dia ini bukan lain adalah Giam Kin, murid Siauw-ong-kwi tokoh besar dari utara yang amat jahat.



Serangan dengan toya yang dilakukan oleh Tan Hok amat dahsyat. Akan tetapi tiba-tiba Giam Kin menggerakkan tangan kirinya dan sinar keemasan menyambar ke arah muka Tan Hok. Terkejut raksasa muda ini. Cepat dia menggunakan tangan kiri menyampok sinar keemasan tanpa membatalkan serangannya dengan toya yang dipegang tangan kanan. Akan tetapi sebelum toyanya mendekati tubuh Giam Kin, dia menjerit kesakitan dan toyanya dilempar, kemudian tangan kanannya merenggut ular kuning emas yang sudah menggigit tangan kirinya. Rasa sakit, panas dan gatal-gatal menyerang seluruh tubuhnya. Sekali remas saja hancur lu-luhlah kepala dan tubuh ular kecil itu, akan tetapi rasa sakit yang menguasai tubuhnya tak tertahankan lagi. Sambii memekik-mekik Tan Hok memutar tubuh dan pergi secepatnya dari tempat itu.



"Ha-ha-ha-ha-ha, orang sombong itu takkan waras lagi otaknya, terkena racun Kim-tok-coa (Ular Racun Emas)!" Giam Kin tertawa bergelak sambil meniup sulingnya lagi. Ular-ular yang tadinya berpesta-pora menggigiti mayat parapetani itu sekarang lari ketakutan men-dengar suara suling sehingga sebentar saja di situ tidak ada seekor pun ular, kecuali bangkai-bangkai ular yang di-bunuh Tan Hok tadi dan mayat para petani yang malang melintang. Kwi-wangwe dan kaki tangannya yang sudah kerap kali menyaksikan pembunuhan ter-hadap orang-orang miskin itu, sekarang bergidik juga menyaksikan kejadian yang menyeramkan ini. Dengan penuh hormat Kwi-wangwe mempersilakan Giam Kin masuk ke dalam gedungnya lagi dan memerintahkan kepada orang-orangnya un-tuk membersihan halaman itu, membawa pergi bangkai-bangkai ular dan mayat para petani.



Tan Hok berlari-lari terus secepatnya. Tubuhnya memang luar biasa kuatnya sehingga biarpun dia sudah terkena gigitan ular berbisa yang amat berbahaya, dia masih dapat berlari cepat sampai puluhan jauhnya. Akan tetapi akhirnya dia terguling roboh di tengah sawah yang tanahnya kering merekah, pingsan. Matahari dengan cahayanya yang penuh menyinari tubuh Tan Hok yang menggeletak tak berdaya itu seakan-akan hendak mem-bakarnya. Tprnyata bahwa racun uiar kuning keemasan itu mengandung hawa yang amat panas sehingga seluruh tubuh Tan Hok menjadi merah kehitaman, apalagi di bagian tangan yang tergigit sampai menjadi hitam seperti hangus terbakar.



Pada saat itu, dari jurusan selatan, di atas jalan kecil yang kering kerontang dan sunyi, terdengar suara orang ber.nyanyi! Benar-benar amat ganjil mendengar orang bernyanyi di tempat yang diliputi hawa maut kering ini. Setelah kelihatan orangnya, dia itu adalah se-orang anak laki-laki yang baru belasan tahun usianya. Pakaiannya compang-camping, lebih patut pakaian seorang jembel yang terlantar. Akan tetapi lengan dan kakinya berkulit bersih. Betapapun juga, jelas bahwa dia itu bukan bocah biasa. Hal ini terlihat dari mukanya yang berkulit aneh, yaitu kulitnya kehijauan seperti hijaunya daun muda. Sepasang matanya juga bukan mata manusia biasa karena mengandung sinar yang amat tajam, malah terlalu tajam sehingga seperti tidak normal lagi. Wajah yang berwarna kehijauan dengan mata setajam itu benar-benar akan membikin orang bergidik ketakutan dan mengira bahwa dia ini tentu bukan manusia. Apalagi kalau mendengar kata-kata dalam nyanyiannya. Aneh. Nyanyiannya saja sudah tidak karuan iramanya bukan nyanyian, lebih pantas disebut gila atau orang mengigau akibat sakit demam. Dan kata-katanya, dengarkan saja dia bernyanyi.



"Heh perut berhentilah merengek!



Tidak malukah kau kepada kaki?



Yang bekerja keras tak pernah mengeluh



Kau tiada guna, tak pernah bekerja,



Kerjamu hanya merengek minta diisi”



Kata-kata aneh ini dia nyanyikan sepanjang jalan sambil saling memukulkan dua batang kayu yang dipegang di kedua tangan untuk membuat irama nyanyiannya yang tidak karuan. Selain warna mukanya yang kehijauan dan sepasang matanya yang luar biasa tajamnya, selebihnya anak ini boleh dibilang tampan, tubuhnya pun padat berisi dan kuat.



Bocah ini bukan lain adalah Beng San Seperti telah diceritakan dalam bagian terdahulu dari cerita ini, secara kebetulan sekali Beng San bocah korban banjir Sungai Huang-ho yang tidak tahu akan nama keturunannya sendiri ini, telah bertemu dengan Hek-hwa Kui-bo dan mendapat Ilmu Thai-hwee, Siu-hwee, dan Ci-hwee yang oleh Hek-hwa Kui-bo dimaksudkan untuk memperbesar daya hawa "Yang" dalam tubuh anak ini dan membunuhnya. Akan tetapi tanpa disadari ia malah memberi tambahan tenaga kepada anak ini dan malah menyelamatkan nyawa Beng San daripada hawa pukulan , Jeng-tok-ciang dari Koai Atong. Kemudian secara kebetulan pula Beng San bertemu dua orang kakek aneh, yaitu Phoa Ti dan The Bok Nam yang mengangkatnya sebagai murid dan kedua orang kakek aneh ini menurunkan atau mewariskan dua macam ilmu silat yang hebat padanya. Dari Phoa Ti, dia mewarisi Khong-ji-ciang dan Inn-sin-kiam, sedangkan dari The Bok Nam, dia mewarisi Pat-hong-ciang dan Yang-sin-kiam. Ada-pun Im-sin-kiam dan Yang-sin-kiam ini adalah dua bagian yang berlawanan dari Ilmu Im-yang-sin-kiam yang irierupakan pecahan daripada Im-yang Bu-tek-cin-keng, Umu silat tertinggi di dunia persilatan yang dahulu dimiliki oleh Pendekar Sakti Bu Pun Su di jaman pemberon-takan An Lu Shan (f tahun 755), kira-kira lima ratus tahun yang lalu.



Ilmu Im-yang-sin-kiam diingini oleh semua tokoh persilatan dari empat penjuru, siapa kira secara tak disengaja telah terjatuh ke dalam tubuh Beng San! Lucunya, Beng San yang sudah mem-pelajari ilmu ini dan melatihnya setiap hari sampai hafal betul, sama sekali tak pernah tahu bahwa dia sekarang telah memiliki ilmu yang hebat. Hanya anak ini tahu bahwa berkat latihan-latihan itu tubuhnya menjadi kuat dan ringan, malah dia sekarang tidak pernah menderita gangguan lagi dan perasaan panas atau dingin di tubuhnya. Setiap kali dia menderita panas dari teriknya matahari, secara otomatis tubuhnya mengeluarkan hawa dingin untuk melawannya dan pe-ngerahan hawa "Im" secara otomatis ini hanya dapat diketahui dari wajahnya yang berubah menjadi kehijauan. Sebalik-nya, di waktu dingin secara otomatis pula wajahnya berubah merah kehitaman, tanda bahwa tenaga dari hawa "Yang" di tubuhnya bekerja. Hanya kalau hawa udara biasa, wajahnya berubah putih seperti biasa pula. Selain ini, tanpa dia sadari apabila dia terserang nafsu amarah, wajahnya juga otomatis berubah merah kehitaman, sebaliknya apabila dia me-rasa gembira, wajahnya menjadi hijau!



Pada saat itu hawa udara amat panas-nya maka tidak heran kalau muka anak ini menjadi kehijauan, tanda bahwa hawa "Im" otomatis bekerja di tubuhnya. Perutnya terasa lapar sekali, semenjak kemarin tidak kemasukan apa-apa. Dusun-dusun kosong sunyi, pohon-pohon gundul kering. Untuk menahan rasa lapar perutnya, dia berjalan sambil bernyanyi-nyanyi mencela perutnya yang selalu merengek-rengek minta isi.



"Eh, mata yang sial. Di mana-mana melihat mayat orang. Sudah enam belas mayat kukubur, sekarang ada lagi di tengah sawah. Sialan benar!" Beng San mengomel ketika dia melihat tubuh Tan Hok menggeletak di tengah sawah. Me-mang, seperti halnya Tan Hok, bocah ini pun semenjak kemarin hari melihat banyak mayat menggeletak di pinggir jalan, mayat mereka yang kelaparan. Sejak kecil Beng San sudah dijejali pelajaran filsafat-fiisafat kuno tentang peri-kebajikan dan perikemanusiaan, maka melihat mayat-mayat menggeletak ter-lantar itu, tidak tega hatinya dan dia mengubur setiap mayat yang dijumpainya, dikubur secara sederhana.



Dengan hati agak kesal karena perutnya lapar, dan selalu bertemu mayat, Beng San menyimpang dari jalan kecil memasuki sawah kering menghampiri tubuh Tan Hok yang tak bergerak seperti sudah mati itu. Setelah memandang wajah dan tubuh Tan Hok, anak itu menarik napas panjang dan berkata, "Sa-yang...... sayang sekali orang begini gagah dan bertubuh tinggi besar seperti raksasa mati di sini. Anehnya, orang mati kelaparan kenapa badannya masih tegap dan besar seperti ini? Aneh.....aneh....." Namun Beng San lalu mulai bekerja, menggali tanah kering di sawah itu. Pekerjaan ini dia lakukan dengan dua batang kayu kecil yang dipegangnya tadi. Benar-benar hebat. Orang tentu takkan percaya kalau tidak menyaksikannya sendiri. Dua batang kayu ranting kecil itu ketika dia pakai mendongkel tanah, ternyata berubah seperti dua batang linggis besi yang kuat. Sebentar saja dia meng-gali tanah sampai satu rneter lebih da-lamnya. Melihat tubuh tinggi besar yang masih baik itu, Beng San merasa kasihan kalau menguburnya kurang dalam, maka dia sengaja menggali sampai dalarn. Ternyata tanah itu bawahnya rnerupakan tanah lempung yang kering, akan tetapi halus dan berwarna kemerahan.



Setelah menggali cukup, dia meletakkan sepasang rantingnya dan membungkuk, mengangkat tubuh itu. Badan Tar Hok besar sekali, beratnya takkan kurang dari seratus kilo, namun benar-benar mengherankan betapa anak kecil itu dapat memondongnya dengan mudah. Beng San kaget ketika merasa betapa kulil, tubuh Tan Hok amat panas. la masih kecil, belum dapat mengerti betul bagaimana keadaan orang mati. Karena tubut itu kaku dan diam tak bernapas, dia menganggapnya sudah mati. Panas tubut Tan Hok dianggapnya karena terik sinap matahari.



Dengan perlahan dan hati-hati Ben[ San meletakkan tubuh tinggi besar itu kf dalam lubang. Mulutnya berbisik-bisik "Kembalilah kau ke asalmu, tenteran dan damai." Kata-kata ini dahulu pernat dia dengar dari seorang hwesio ketiki melakukan upacara mengubur mayat.



Tiba-tiba dia kaget dan melompal mundur, matanya terbelalak. Kalau saja Beng San bukannya seorang anak luar biasa yang tidak mengenal rasa takui tentu dia akan lari terbirit-birit menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu. "'Mayat" tadi bergerak-gerak dan dengai gerakan liar lalu bangun duduk, matanya 'melotot merah, mulutnya berteriak-teriak.



"Lapar..... lapar.....! Tanah menghasilkan segala macam tetumbuhan yang dapat dimakan, masa tanah sendiri tak 1 boleh dimakan?" Dan "mayat" itu lalu mencengkeram tanah lempung merah dan..... dimakannya dengan amat lahapnya.



Untuk sejenak Beng San berdiri seperti. patung, matanya terbelalak heran. Mula-mula dia merasa ngeri juga. Akan tetapi ketika melihat betapa "mayat" itu makan tanah lempung merah dengan enaknya seperti orang makan daging panggang, air liurnya memenuhi mulutnya. Perutnya memang amat lapar sekarang melihat orang makan demikian enaknya, biarpun yang dimakan hanya tanah lempung, timbul seleranya. la mulai menengok ke bawah, ke arah tanah lempung yang tadi dia gali dan sekarang bertimbun di luar lubang. Otomatis dia berjongkok, tangannya mengambil segumpal tanah lempung merah dan.... membawa tanah itu ke mulutnya terus digigit.



"Wah, enak....." Dengan terheran-heran Beng San terus makan tanah lempung itu. Rasanya sih tidak bisa dibilang enak, akan tetapi juga bukan tidak enak, karena halus dan baunya harum. Setelah memasuki perut mendatangkan rasa kenyang juga. Sampai empat gumpal tanah memasuki perut Beng San yang menjadi girang sekali karena dia sekarang dapat mengisi perutnya yang tadi merengek-rengek. Sama sekali dia tidak tahu bahwa memang tanah lempung itu sejenis tanah lempung yang halus dan memang tidak berbahaya kalau dimakan, malah mengandung khasiat menguatkan badan.



"Mayat" itu lalu makan tanah lem-pung banyak sekali, kemudian mayat itu yang duduk di dalam lubang kubur mendongak, memandang ke arah Beng San dengan sepasang mata rnerah. Beng San tersenyum kepadanya dan mengangguk.



"Twako, jadi kau sebetulnya belum matikah? Syukur kalau begitu!"



Tiba-tiba Tan Hok mengeluarkan suara menggereng, lalu tubuhnya meloncat keluar lubang sambil berteriak geram, Aku tidak mati, kaulah yang akan mampus!" Serta merta pemuda raksasa ini mengirim serangan memukul ke arah kepala Beng San dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah muka Beng San yang kehijauan.



Semenjak mewarisi ilmu-ilmu silat tinggi dari kedua orang suhunya, yaitu kedua kakek Phoa Ti dan The Bok Nam, belum pernah Beng San mempergunakan kepandaian ini dalam pertempuran. Memang tak dapat disangkal lagi bahwa dia amat tekun melatih diri, mempelajar semua ilmu itu dengan teliti, namur tanpa diketahui apa khasiatnya semua ilmu itu. Sekarang menghadapi serangan bertubi-tubi dari pemuda raksasa yang seperti tidak waras otaknya ini, dia kaget juga. Namun otomatis gerak silat yang sudah mendarah dagipg di tubuhnya bekerja.



"Hisss, nanti dulu, Twako. Hidup atau mati bukan urusan kita. Bagaimana kau bisa tentukan?" Sambil mengeluarkan jawaban yang mengandung filsafat kebatinan ini, Beng San miringkan kepalanya menghindarkan pukulan tangan kanan Tan Hok, sedangkan tangan kanannya dia angkat untuk menangkis cengkeraman tangan kiri lawannya yang tinggi besar itu.



"Plakkk!" tangan kiri Tan Hok yang berjari panjang besar itu berhasil men-cengkeram tangan Beng San yang kecil sehingga linna pasang jari tangan saling genggam. Beng San merasa betapa dari, tangan Tan Hok mengalir hawa panas melebihi api. Otomatis tubuhnya me-nyambut hawa ini dengan hawa "Im" yang luar biasa kuatnya, sehingga tangan-1 nya yang dicengkeram kini terasa dingin sejuk.



Hebat sekali akibatnya,. Tan Hok seketika menjadi kaku tubuhnya. la masih tetap berdiri dengan tangan kiri mencengkeram tangan kanan Beng San, matanya melotot kemerahan dan kini sekujur tubuhnya menggigil seperti orang terserang demam. Tangannya yang mencengkeram tangan kanan Beng San seperti lengket dan tak dapat ditarik kembali, sedangkan dari tangan anak kecil itu mengalir hawa yang dinginnya melebihi bukit es'. Makin lama tubuh Tan Hok, makin menggigil, mukanya yang merah itu mulai berkurang warnanya dan tiba-tiba dia muntahkan darah menghitan, juga dari luka di tangan kirinya yang kini menempel pada tangan kanan Beng San keluar darah hitam. Tiga kali dia muntahkan darah hitam dan tubuh yang tadinya panas itu berubah dingin sekarang. Matanya yang kemerahan dan liar berubah tenang.



"Aduh..... aduh..... dingin.....!" Tan Hok yang tadinya kaku tubuhnya itu sekarang dapat melompat mundur. Beng San juga melompat nnundur sambil me-lepaskan tangannya. Mereka kini berdiri berhadapan dalam jarak tiga empat meter, saling pandang. Setelah tangannva terlepas dari tangan Beng San, lenyap rasa dingin yang menusuk jantung. Diam-diam Tan Hok merasa terheran-heran, lapalagi baru sekarang dia teringat mengapa dirinya bisa berada di situ. Tiba-tiba dia celingukan memandang ke kanan kiri dengan rasa takut karena dia teringat akan ular-ular yang tadinya mengeroyoknya. Melihat bahwa dia berada di sawah, berhadapan dengan seorang bocah bermuka hijau bermata tajam yang mempunyai tangan mengandung hawa dingin luar biasa, Tan Hok kembali memandang Beng San, lalu melirik ke arah lubang kuburan di dekat situ.



"Adik kecil, kau siapakah?" Setan atau manusia?"



Beng San tertawa, matanya yang tajam itu berkilat-kilat. "Ha-ha-ha, Twako, kalau satu diantara kita ini bukan manusia, kiranya kaulah orangnya. Aku manusia biasa, akan tetapi kau..... apakah kau bukan siluman?"



Tan Hok yang mengerti akan ilmu silat tinggi, tadi mendapat kenyataan bahwa anak ini bukanlah anak biasai tangannya mengandung tenaga Im yang luar biasa kuatnya. Akan tetapi dia tidak tahu bahwa tenaga inilah yang telah menolong nyawanya, yang mengusir racun hawa panas yang tadinya menyerang tubuhnya akibat gigitan ular Kim-tok-coa. Tentu saja di fihak Beng San sama sekali tidak tahu akan hal ini, jangankan tentang penyembuhan yang tanpa sengaja dia lakukan, bahkan tentang tenaga-tenaga yang berada dalam dirinya saja i dia tidak tahu apa artinya.



"Adik yang aneh, kenapa kau menyangka aku seorang siluman?"



"Kau aneh sekali sih! Aku semenjak kemarin mengubur mayat-mayat orang mati kelaparan yang bergelimpangan di pinggir jalan. Tadi aku mendapatkan kau menggeletak mati di sini, tidak bernapas lagi. Aku menggali lubang untuk menguburmu. Eh, tahu-tahu di dalam lubang kuburan. kau hidup lagi, makan tanah, lalu meloncat dan menyerangku. Dan sekarang, setelah muntah-muntah, kau bicara seperti orang waras. Orang dengan tubuh raksasa seperti kau, bisa mati dan hidup lagi, benar-benar bukan seperti manusia."



Mendengar ini, Tan Hok bengong, lalu menjatuhkan diri duduk di atas tarah. Melihat pemuda raksasa itu bengong terlongong mengurut-urut dagu, Beng Sai' juga ikut duduk di depannya. Dua orang ini duduk tak berkata-kata seperti dua buah patung batu. Akhirnya Tan Hok yang menoleh dan bertanya.



"Adik yang baik, siapa namamu? Kau anak siapa, murid siapa dan kenapa bisa sampai di sini?"



Diberondong pertanyaan-pertanyaan ini Beng San tersenyum nakal, lalu menjawab secara memberondong pula. "Namaku Beng San, bukan anak siapa-siapa guru-guruku sudah meninggal dan bisa sampai ke sini karena kedua kakiku berjalan."



Akan tetapi agaknya Tan Hok tidak melayani sendau-guraunya, malah dengar sungguh-sungguh bertanya, "Kau tidak punya orang tua dan guru-gurumu sudali mati? jadi kau hidup sebatangkara di dunia ini?"



Beng San mengangguk. "Sejak dulu aku hidup sebatangkara."



"Tidak punya tempat tinggal?"



Beng San menggeleng kepala



"Ah, adikku yang baik..... sama benar .nasib kita....." Tan Hok menubruk dan merangkul Beng San sambil menangis. .Beng San bingung, lalu karena tidak tahu harus berbuat apa, ia pun ikut-ikut menangis! Dua orang ini bertangis-tangisan di tengah sawah kering kerontang dan . tetes-tetesan air mata mereka diisap cepat oleh tanah yang kehausan.



"Adik Beng San, aku Tan Hok, baru saja ditinggal mati guruku....." Tan Hok {menangis sambil merangkul, "dan aku,.... eh, celaka! Kau terkena racun!" Tiba-tiba dia memegang tangan Beng San dan pnemandang tajam. "Mukamu kehijauan, badanmu mengeluarkan hawa dingin sekali. Kau terkena hawa pukulan yang mengandung racun dingin..... celaka....."' Beng San tersenyum. "Tidak, Tan-twako (Kakak Tan). Aku tidak apa-apa."



"Betulkah? Kau tidak merasa sakit?"



"Tidak."



"Aneh..... aneh...... kukira kau terkena racun, semacam racun ular atau....."



Tiba-tiba dia melompat dan mukanya berubah. "Ular! Ah, sekarang aku ingat. Bocah siluman ular itu yang melukaiku. Dia harus dibunuh! Celaka para petani malang itu....."



Beng San benar-benar tidak mengerti s dan terheran-heran melihat sikap raksasa yang berubah-ubah dan aneh ini. "Siluman ular? Di mana dia?"



“Dia seorang anak sebaya denganmu. Aku sedang memimpin para petani yang kelaparan untuk minta bantuan makanan dari hartawan Kwe yang kaya raya. Akan tetapi para petani malah diserang oleh kaki tangannya. Aku membantu dan muncullah siluman ular, mendatangkan ratusaan ekor ular mengeroyok para petani, Banyak yang mati. Aku menyerang dan..... aku terluka oleh seekor ular kuning emas. Hayo, kita harus pergi ke sana. Aku harus bunuh siluman itu!"



"Ratusan ekor ular! liihhhhh, menakutkan sekali!" Beng San bergidik dan kelihatan ngeri, lalu memandang ke kanan kiri, takut kalau-kalau ratusan ekor ular itu datang ke situ.



"Jangan takut, ada aku di sini. Aku hapus basmi ular-ular itu dan silumannya. Hayo, Adik Beng San, kau ikut atau tidak?" Tan Hok berdiri. "Kalau kau takut, kau tinggal saja di sini, aku harus segera kembali ke dusun itu."



Tan Hok sudah mulai lari. "Nanti dulu, Twako. Aku ikut!" Beng San segera mengambil dua batang ranting yang tadi dia gunakan untuk menggali tanah, lalu ikut berlari di belakang Tan Hok.



Karena amat bernafsu untuk segera kembali ke dusun membantu para petani yang dikeroyok ular, Tan Hok mengerahkan kepandaiannya dan berlari cepat sekali. la sampai lupa bahwa di belakangnya ada Beng San, lupa bahwa kalau dia berlari secepat itu tentulah seorang anak kecil seperti Beng San akan tertinggal jauh. Setelah berlari sampai di luar dusun barulah dia teringat dan cepat dia menengok. Alangkah herannya melihat anak itu berlari-lari kecil, seenaknya saja tapi masih berada di belakangnya.



“Eh, kau masih di belakangku?" "Tentu saja, bukankah kau mengajakku?"



Tan Hok penuh ketegangan akan bertemu dengan siluman ular, maka dia kurang memperhatikan Beng San dan terus melanjutkan larinya memasuki dusun menuju ke gedung tempat tinggal Kwi-wangwe.



Di depan gedung Kwi-wangwe paratukang pukul sedang duduk dan sibuk membicarakan amukan para petani yang dibantu pemuda raksasa. Tentu saja mereka menjadi amat kaget ketika melihat pemuda raksasa yang kemarin telah dilukai dan diusir pergi oleh "Giam-kongcu" itu kini tiba-tiba muncul di depan mereka bersama seorang anak laki-laki bermuka hijau.



"Anjing-anjing keparat hayo lekas suruh keluar Kwi-wangwe dan siluman ular itu!" Tan Hok memaki sambil me-rnegang dua orang tukang pukul dan sekali lempar dua orang itu jatuh bergulingan tiga meter lebih jauhnya. Yang lain-lain cepat mencabut senjata dan sebagian melapor ke dalam.



Sementara itu, ketika melihat para tukang pukul mencabut senjata, Tan Hok sudah bangkit amarahnya. "Di mana paman-paman tani semua? Kalian bunuh, ya? Awas, rasakan pembalasanku!" Tan Hok lalu mengamuk, menerjang para tukang pukul yang kini hanya membela diri, tidak berani menyerang karena maklum akan kelihaian Tan Hok. Sebentar saja Tan Hok sudah dikeroyok belasan orang tukang pukul dan di dalam gedung terdengar ramai-ramai karena semua orang tidak tahu bahwa pemuda raksasa itu telah datang lagi mengamuk.



Mendadak terdengar tiupan suara hsuling yang melengking. Suling yang ditiup oleh Giam Kin, melengking tinggi dan mengalun dengan irama yang amat luar biasa. Tan Hok berdebar jantungnya, maklum apa artinya tiupan suling itu. Betul saja dugaannya, tak lama kemudian terdengar bunyi mendesis-desis dan banyak sekali ular menggeleser datang. Tan Hok biarpun tidak begitu cerdik, namun karena dia merasa jijik juga melihat banyak ular, lalu berkelahi dengan menyerbu ke tengah-tengah para tukang pukul. Perbuatannya ini bukan berdasarkan kecerdikan, melainkan karena takut kepada ular-ular itu» akan tetapi untur baginya. Giam Kin bingung untuk memimpin ular-ularnya karena bagaiman Ular-ularnya itu bisa disuruh menyerang seorang saja yang berada di tengah-tengal dan dikurung para tukang pukul? Baiknya setelah terjadi keributan, yaitu serbuan para petani, Kwi-wangwe mendatangkai lebih banyak tukang pukul yang panda sehingga untuk sementara amukan Tai Hok dapat dibendung.



Sementara itu, melihat ular yang amat banyak datang melenggang-Jenggok mendekatinya, Beng San menjadi jijik dai takut bukan main. la tidak takut kala menghadapi crang, akan tetapi menghadapi ular yang banyak dan amat menjijikkan dan mengerikan itu, dia takut juga.Ketika ular-ular itu dengan mata merah dan lidah menjilat-jilat keluar menyerbu ke arahnya, sambil berteriak teriak, "Ular.....! Ular.....!" tiba-tiba tubuhnya mencelat ke atas, ke tengah tengah orang yang sedang berkelahi Bagaikan seekor burung terbang, kakinya menginjak kepala orang-orang yang sedang mengeroyok Tan Hok, dan begitu kakinya menginjak kepala orang, dia mencolot lagi ke sana ke mari, melalui kepala-kepala orang itu akhirnya dia bisa meloncat ke atas genteng. Di situ dia berjongkok dengan tubuh gemetaran sambil memandang ke bawah.



Semua orang, terutama sekali Tan Hok, kaget dan heran bukan main melihat perbuatan Begg San ini. Melihat cara anak itu meloncat tidak terasa, jelas bahwa dia tidak mengerti ilmu meloncat tinggi. Akan tetapi mengapa tubuhnya begitu ringan sehingga seakan-akan dia dapat beterbangan di atas pala orang-orang?



Tan Hok tidak sempat lagi memperhatikan Beng San karena pengeroyokan para tukang pukul sudah cukup membuat dia repot juga. Kali ini pun Tan Hok berhasil merampas sebatang toya dan mengamuk. Sudah ada beberapa orang tukang pukul roboh oleh kemplangan toyanya.



Melihat ini, Giam Kin menjadi penasaran dan khawatir juga. Tak mungkin dia dapat menyuruh ular-ularnya menyerbu, karena sekali ular-ular itu menyerbu tentu para tukang pukul Kwi-wangwe akan digigit pula. la lalu berseru.



"Paman-paman mundur semua, biar ular-ularku menghabiskannya!"



Tukang-tukang pukul itu memang kewalahan menghadapi Tan Hok. Buka ilmu silatnya yang hebat, melainkan tenaganya yang benar-benar sukar dihadap. Setiap kali toya di tangan pemuda rak sasa itu menangkis, tentu banyak senjata terpental atau rusak. Mendengar perintah ini, mereka lalu meloncat mundur meninggalkan Tan Hok. Tan Hok maklum bahwa dia akan dikeroyok ular maka dia hendak mendahului menyerang Giam Kin. Celakanya, anak aneh ini sudah meniup sulingnya melengking tinggi dan ular-ular itu sudah mulai menyerbu. Di lain saat Tan Hok sudah dikelilingi ular-ular yang amat marah, mendesis desis dan siap menyerangnya. Tan Hok bergidik, melintangkan toyanya, bingur harus menyerang yang mana dulu karena dia telah dikurung dalam pagar ular.



"Ha-ha-ha-ha-ha, manusia sombong. Ternyata kau masih belum mampus! Sekarang aku akan melihat. Ha-ha-ha!" kata Giam Kin setelah melepaskan sulingnya. Kemudian dia mulai menyuling lagi, suara sulingnya melengking-lengking ;tinggi dan menyakitkan telinga.



Beng San yang berada di atas genteng melihat semua kejadian ini dialah yang paling sakit telinganya mendengar suara suling itu. Saking marahnya dier berteriak-teriak, "Siluman jahat, siluman busuk. Suara sulingmu tidak enak. Dengar, aku lebih pandai menyuling daripada suara sulingmu seperti angin kotor itu'" Beng San meniru-niru bunyi suling dengan suaranya. Tanpa dia sadari, khi-kang di tubuhnya sudah kuat sekali maka ketika dia meniru bunyi melengking, suara suling itu kalah kuat dan kalah nyaring! Terdengar sekarang bunyi yang luar biasa dan aneh, suara suling bercampuran dengan suara mulut Beng San yang meniru-niru suara suling. Ketika dia mendapat kenyataan betapa setelah dia menjerit-jerit telinganya tidak terganggu lagi oleh suara suling yang kalah nyaring, dia makin bersemangat dan teriakan-teriakannya rnakin kuat.



Kasihan sekali ular-ular Itu. Suara suling merupakan perintah atau dorongan bagi mereka, dorongan yang tak mungkin terlawan lagi. Sekarang binatang-binatang buas ini mendengar suara suling yang tidak karuan, campur aduk bising bukan main. Mereka kacau, tidak tahu harus bagaimaha, apalagi perasaan mereka tidak karuan. dengan "perintah" yang. kacau-balau ini. Makin lama makin kacau, saling terjang dan akhirnya ular ular itu menjadi marah lalu saling ter-i kam! Mereka sama sekali tidak mau| peduli lagi kepada Tan Hok, sibuk meng-1 gigit kawan-kawan sendiri yang lebihdekat.



Melihat hal iini, Giam Kin marali sekali. Dibantu oleh Kwi-wangwe sendiri, dia memberi perintah kepada para tukang pukul untuk mengeroyok lagi Tan Hok, sementara itu Giam Kin sudah melangkah maju untuk melihat bocah yang telah meniru bunyi sulingnya dan telah menga cau komandonya atas ular-ular itu. Akan tetapi Tan Hok yang sudah marah sekali, melihat adanya hartawan Kwi di situ, memberontak dan cepat meloncat ke arah hartawan itu dengan toya di tangannya.



"Kau hartawan pelit, rasakan ini!" Toyanya mengemplang kepala hartawan itu yang mundur ketakutan. Baiknya ada beberapa orang pengawal pribadinya yang menangkis toya sehingga toya itu menyeleweng, tidak mengenai kepalanya hanya menggebuk pundaknya. Namun gebukan ini cukup keras untuk membuat Kwi-wangwe meringis dan mengaduh-aduh. Sekejap kemudian Tan Hok sudah dikeroyok lagi oleh para tukang pukul.



Giam Kin sekarang dapat melihat. adanya Beng San di atas genteng. Marahnya bukan main. "Eh, bocah dusun busuk, kau berani main-main di depan kongcumu?" la memaki sambil menuding dengan sulingnya ke arah Beng San.



Beng San pada waktu itu sudah tidakj. hijau lagi mukanya, sudah biasa putih dan tampan karena hawa udara tidak begitu panas lagi. Sekarang dia cengar-cengir mentertawakan Giam Kin. "Aku tidak main-main di depanmu, melainkan di atasmu. Kau mau apa sih?" la tidak takut kepada Giam Kin. Anak bermuka pucat itu, apanya yang harus ditakuti?



"Jembel busuk, kaumakanlah ini!" Giam Kin menggerakkan tangannya dan sinar kuning emas menyambar ke atas, ke arah Beng San yang nongkrong di atas genteng. Beng San yang sudah menyelipkan dua batang kayu ranting di ikat pinggangnya, sambil tertawa-tawa menerima sinar kuning emas ini dengan tangan kanan. Sinar itu mengenai tangannya dan Beng San merasa ibu jari tangan kanannya agak sakit seperti tertusuk jarum. Ketika dia melihatnya ternyata bahwa yang tadi dilemparkan adalah se-ekor ular kecil berwarna kuning keemasan yang sekarang menggigit ibu jarinya dan tubuh ular itu membelit tangannya. Diam-diam dia kaget, akan tetapi dasar dia nakal dan tidak sudi memperlihatkan rasa takut atau sakit di depan Giam Kin dia tertawa terbahak-bahak dan teringatlah dia akan pengalamannya dahulu ketika bertemu dengan Kwa Tin Siong dan Kwa Hong yang dia maki "kuntilanak", teringat dia betapa dia ikut makan daging ular bersama ayah dan anak itu. Sekarang, melihat tangannya dibelit ular kuning emas bersih, untuk menggoda Giam Kin, Beng San tanpa ragu-ragu lagi lalu..... menggigit leher ular itu. Sekali gigit saja putuslah leher ular.



”Kau kira aku tidak berani memakannya? Ha-ha-ha!" Beng San mentertawakan Giam Kin yang berdiri terlongong heran menyaksikan betapa bocah jembel itu benar-benar menggigit mati ularnya. Akan tetapi dia pun segera men-jadi girang karena tiba-tiba muka Beng San berubah menjadi kehijauan. Beng San sendiri tidak tahu akan hal ini, hanya dia merasa betapa bekas gigitan ular itu amat panasnya maka otomatis tubuhnya mengerahkan daya "Im" yarig kuat, se-hingga membuat wajahnya yang putih berubah hijau. Hal ini disalahartikan oleh Giam Kin. Biarpun anak ini maklum bahwa siapa tergigit Kim-tok-coa itu, tentu akan mati dengan tubuh hangus kemerahan seperti terbakar, namun dia anggap bahwa tanda kehijauan pada wajah anak jembel itu cukup membuktikan bahwa racun ularnya telah menjalar di tubuh anak aneh itu.



"Hi-hi-hi, kau sudah mau mampus masih banyak tingkah. Biarlah aku mempercepat kematianmu!" Setelah berkata demikian, Giam Kin menggenjot kedua kakinya dan tubuhnya meloncat ke atas genteng. Suling ular di tangannya ber-gerak menyerang ke arah Beng San, memukul kepalanya.



Beng San mencabut sepasang ranting kayu dari ikat pinggangnya, dengan masih berjongkok dia menangkis dari kanan kiri. Sepasang ranting di tangannya membuat gerakan seperti menggunting ke arah suling.



"Krakkk!", Suling di tangan Giam Kin patah menjadi dua dan tubuh anak ini terlempar kembali ke bawah! Tanpa di-sadari, dalam kegemasannya ketika menangkis tadi Beng San menggunakan dua macam tenaga pada sepasang rantingnya, dengan pergerakan gabungan dari Im-sin-kiam dan Yang-sin-kiam. Jangankan baru suling di tangan seorang anak seperti Giam Kin, andaikata yang menyerangnya tadi seorang ahli silat yang menggunakan pedang atau toya, kiranya akan patah juga.



"Jembel busuk, pengemis bau, kau mematahkan sulingku! Awas kau..... suhu, suling teecu patah.....!" Giam Kin lari sambil menangis.



Karena dimaki-maki Beng San menjadi marah. Apalagi dia melihat bahwa anak itu ternyata tidak becus apa-apa, demikian pikirnya, baru ditangkis satu kali saja suling itu sudah patah. Tanpa pikir panjang dia lalu meloncat turun dan mengejar Giam Kin. Giam Kin memiliki kepandaian ilmu berlari berdasarkan ginkang yang tinggi maka larinya cepat sekali. Beng San yang belum pernah mempelajari ilmu berlari cepat, akan tetapi karena di luar kesadarannya dia telah diteropati tenaga Im dan Yang, tenaga yang amat besar mujijat, maka otomatis dia memiliki keringanan tubuh dan larinya pun cepat sekali. Maka kejar-kejaran ini terjadi ramai sekali dan sebentar saja dua orang anak itu telah jauh meninggalkan dusun tadi. Beberapa kali Giam Kin yang marah dan penasaran sengaja berhenti dan menyerang dengan tiba-tiba, akan tetapi setiap serangannya selalu dapat ditangkis oleh Beng San dan setiap kali lengan tangan mereka beradu, Giam Kin mengaduh dan kedua lengannya sudah bengkak-bengkak! la menjadi ketakutan dan lari makin cepat, dikejar terus oleh Beng San yang berteriak-teriak.



"Kau berlutut dulu minta ampun baru kulepas!"



"Jembel busuk, siapa sudi minta ampun? Guruku akan bikin remuk kepala-mu!" jawab Giam Kin yang berlari terus.



Sampai dua puluh li mereka berkejaran, akhirnya Giam Kin tidak kuat lagi dan dia kena dipegang pundaknya oleh Beng San dari belakang. "Hendak lari ke mana engkau, siluman ular?"



Giam Kin melawan dan memukul, akan tetapi pukulannya ditangkis dan Beng San menampar pipinya. "Plakkk!" Giam Kin roboh terguling, merasa betapa tamparan itu membuat matanya berkunang dan kepalanya pening.



"Hayo kau minta ampun dan berjanji lain kali tidak akan bermain-main dengan» ular-ular jahat'." bentak Beng San sambil bertolak pinggang.



"Tidak sudi'."



"Kau memang layak dipukul!" Beng San marah dan memukuli kepala dan badan Giam Kin. Anak itu menjerit-jerit dan menangis.



"Suhu, tolong...... suhu, tolong.....!"Tiba-tiba dia mengeluarkan suara bersuit nyaring sekali. Beng San tidak peduli dan memukuli terus.



"Kau siluman kejam! Dengan ular-ularmu kau telah membunuh banyak orang. Lekas berjanji takkan main-main lagi dengan ular, atau..... kupukul kepala-mu sampai reniukl" Beng San membentak-bentaknya.



"Heh, bocah kasar, jangan main pukul pada muridku! Suara ini terdengar dari tempat jauh. Beng San menengok ke kanan kiri tapi tidak melihat orangnya yang berbicara. "Setan," pikirnya. "Bocah siluman ular gurunya juga iblis dan se-tan." Tapi dia tidak takut dan hendak memukul pula.



Angin bertiup di belakanghya dan ketika Beng San menoleh, tahu-tahu disitu telah berdiri seorang jaki-laki ber-usia lima puluh tahun lebih. Laki-lakt ini tubuhnya sedang saja, pakaiannya ter-lampau besar sehingga nampak lucu. Apalagl lengan bajunya amat panjang menutupi kedua tangannya. Mukanya nampak sabar, alisnya tebal dan sepasang matanya tajam. Beng San yang menduga bahwa orang ini tentulah guru lawannya, segera melangkah maju dan memukul. Tapi orang itu menggerakkan lengan kirinya dan tahu-tahu kedua tangan Beng San sudah terlibat ujung lengan, seperti dibelenggu tak dapat terlepas pula.



Kakek yang luar biasa ini adalah seorang sakti, seorang di antara beberapa tokoh yang dianggap merajai dunia per-silatan, disebut orang Siauw-ong-kwi (Raja Iblis Kecil). Untuk daerah utara nama ini amat ditakuti orang. Memang kepandaian Raja Iblis Kecil ini hebat sekali, terutama ilmunya yang menggunakan ujung tangan bajunya yang dapat menangkap, menusuk, menyabet lebih ampuh daripada senjata-senjata pilihan. Beng San yang masih kanak-kanak, biarpun di dalam dirinya terkan-dung tenaga dahsyat dan ilmu silat ting-gi sekali, namun dia memiliki semua itu di luar kesadarannya sehingga dia belum dapat mengatur dan mempergunakan sebagaimana mestinya. Bagaikan sebuah intan cemerlang, Beng San adalah intan yang masih mentah, belum digosok. Maka tentu saja berhadapan dengan seorang tokoh besar seperti Siauw-ong-kwi ini, dia tidak berdaya sama sekali.



Siauw-ong-kwi menoleh kepada murid-nya dan ketika mendapat kenyataan bah-wa Giam Kin tidak terluka apa-apa ha-nya benjut-benjut saja dan benjol-benjol saja, dia bernapas lega. Dipandangnya Beng San sekali lagi dengan mata se-karang membayangkan kekaguman dan keheranan. Sudah sepatutnya kalau di dalam hati tokoh besar ini timbul ke-kaguman kepada bocah yang sekarang mukanya menjadi merah hangus kehitam-an ini akibat kemarahan dalam hati Beng San sehingga mukanya merah hitam. Muridnya, Giam Kin, kalau dibandingkan dengan bocah-bocah sepantarnya, sudah , merupakan seorang anak yang luar biasa cerdik dan pandainya. Apalagi sudah memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi kalau dibandingkan dengan anak-anak sepantarnya. Mengapa sekarang Giam Kin kalah dan dipukuli oleh bocah muka hitam ini?



"Kau siapa?" tanyanya tanpa melepaskan ujung tangan baju yang mengikat dua pergelangan tangan Beng San. Akan tetapi ikatan itu tidak terlalu erat sehingga Beng San juga tidak mengalami rasa sakit, hanya bocah ini amat marah saja.



"Beng San!" jawabnya berani sambil menatap muka kakek itu dengan mata melotot. Memang menakutkan juga muka bocah ini kalau begitu. Biarpun raut wajahnya tampan, matanya lebar dan alisnya hitam berbentuk pedang, akan tetapi kalau wajah itu merah kehitaman dan matanya yang lebar dipelototkan, tentu mukanya ini akan membikin takut setiap orang di waktu malam gelap!



"Mukamu seperti iblis!" Siauw-ong-kwi tertawa mengejek.



"Memang aku iblis!" jawab Beng San, kini sambil menyeringai karena dia tidak mengucapkan kata-kata itu dengan marah, melainkan bermaksud menggoda kakek itu. Akan tetapi Siauw-ong-kwi tidak marah, malah tertawa bergelak dan makin kagum kepada anak ini.



"Kau anak siapa?"



Tanpa ragu-ragu Beng San menjawab, "Aku anak Iblis Huang-ho." . Siauw-ong-kwi menggeleng-geleng kepalanya. Benar-benar bocah- ini aneh sekali dan luar biasa keberaniannya.



"Siapa gurumu? Tentu bukan iblis juga, kan?" tanyanya.



Beng San memang belum pernah membohong, kecuali kalau sedang main-main. Sekarang dia menghadapi kakek guru Giam Kin yang lihai ini dengan main-main. la diam-diam marah kepada kakek ini yang masih saja membelenggu kedua tangannya dengan ujung lengan baju. la menganggap kakek ini jahat, dan apa salahnya membohongi dan mempermainkan seorang jahat? Ketika dia dididik di kelenteng dahulu dia memang selalu diajar supaya jangan membohong, jangan menipu dan merugikan orang lain. Se-karang dia, andaikata benar membohong, toh tidak akan merugikan kakek ini, se-baliknya dia yang dibikin rugi, dibe-lenggu tanpa dapat melepaskan diri.



"Guruku lihai sekali, kalau dia datang, sekali ketok kepalamu akan benjut-benjut!" Siauw-ong-kwi tertawa bergelak. Ten-tu saja dia berani mengejek karena di dunia ini, siapakah orangnya yang akan mampu sekali ketok membikin kepalanya benjut? Sedangkan yang kepandaiannya boleh ditingkatkan sejajar dengan dia pun hanya beberapa gelintir saja manusia.



"Ha-ha-ha, kenapa kau bisa pastikan dia akan menang daripada aku?"



"Guruku biarpun iblis, tapi amat lihai dan gagah, tidak seperti kau ini kakek tua beraninya hanya menyerang dan mem-belenggu seorang anak kecil!"



Merah wajah Siauw-ong-kwi disindir begini. Di dunia ini, jarang sekali ada orang berani membantah kata-katanya, apalagi mengeluarkan ejekan dan sindiran seperti bocah ini!



"Bocah edan, siapa sih gurumu itu?"



"Kakek pikun'." Beng San balas memaki. "Lepaskan dulu kedua tanganku, baru aku mau memberi tahu."



"Kalau tidak kulepas?"



"Biar kaubunuh aku, takkan sudi aku memperkenalkan nama besar guruku ke-pada seorang kakek pengecut yang be-raninya hanya kepada anak-anak kecil."



"Suhu, kenapa layani monyet gila itu? Gasak saja kepalanya, habis perkara!" tiba-tiba Giam Kin berseru melihat suhu-> nya bercakap-cakap dengan Beng San.



Beng San tertawa mengejek. "Guru-nya pengecut, muridnya lebih pengecut lagi. Kalau memang berani, hayo kita bocah sama bocah mengadu kepalan ta-ngan, biar gurumu menandingi guruku."



Siauw-ong-kwi adalah seorang tokoh besar dunia persilatan, tentu saja selain ilmunya tinggi, juga batinnya sudah amat kuat. Akan tetapi sekarang menghadapi Beng San dan mendengar sindiran-sindiran dan ejekan-ejekannya, perutnya terasa panas juga. Beberapa kali dia disebut pengecut. Kalau yang mengucapkan kata-kata ini seorang tokoh kang-ouw, tentu dia takkan mau mengampuninya lagi. Terhadap Beng San dia kewalahan. Makin dia turun tangan, tentu makin rendah pandangan bocah ini terhadapnya. Me-mang kalau dipikir memalukan sekali bahwa dia, seorang tokoh besar, mem-belenggu seorang bocah yang masih ingusan.



"Bocah keparat, siapa pengecut?" la menggerakkan tangannya dan sekaligus terlepaslah kedua tangan Beng San dari libatan ujung tangan baju. "Nah, kau sudah terlepas, hayo sekarang datangkan itu gurumu yang berbau tai anjing! Siapa cecunguk yang menjadi gurumu itu?"



Beng San sejak tadi sudah berpikir tentang ini. Sebetulnya dia mempunyai banyak guru, pikirnya. Pertama-tama tentu saja para hwesio di Kelenteng Hok-thian-si di Propinsi Shan-si yang menjadi gurunya karena telah mengajar-kan tentang membaca menulis. Kemudi-an dia pernah belajar tiga macam ilmu dari Hek-hwa Kui-bo sehingga nenek itu boleh juga disebut gurunya. Setelah itu, yang terakhir dan yang telah mengakuinya sebagai murid, adalah kedua orang suhunya yaitu Phoa Ti dan The Bok Nam. Akan tetapi Beng San adalah seorang ' bocah yang cerdik. la tidak mau me-nyebut nama kedua orang gurunya ini karena maklum bahwa keduanya mem-punyai rahasia, yaitu menyimpan sepasang kitab Im-yang-sin-kiam yang telah terampas oleh Hek-hwa Kui-bo dan Song-bun-kwi. Kalau dia menyebut nama Phoa Ti dan The Bok Nam, jangan-jangan ka-kek aneh ini akan memaksa membawa-nya kepada dua orang yang sudah mati itu dan buntutnya akan menjadi panjang. Maka dia rnengambil keputusan dan menjawab.



"Guruku yang kauanggap berbau tai anjing itu berjuluk Song-bun-kwi!"



Berubah wajah Siauw-ong-kwi mendengar disebutnya nama ini. Akan tetapi hanya sebentar saja karena dia segera tertawa bergelak. "Kakek tua bangka baju putih itu gurumu? Hah, jangan kau bohong. Dia yang hampir gila karena T anaknya yang goblok, mana punya murid lagi? Andaikata benar, akupun tidak takut pada....."



"Siauw-ong-kwi, dia tidak bohong, dia benar muridku!" Tiba-tiba terdengar suara dari jauh. Suara ini seperti suara guntur terdengar dari jauh sekali, akan tetapi tiba-tiba bertiup angin dan se-belunn gema suara lenyap, orang yang bicara tadi sudah berdiri di situ. Inilah Song-bun-kwi, kakek baju putih yang mukanya masih merah segar padahal usianya sudah tujuh puluh tahun itu. Inilah si Setan Berkabung, tokoh besar dari dunia barat yang amat ditakuti orang, bukan hanya karena kepandaiannya yang tinggi, terutama sekali karena hati-nya yang kejam tak kenal ampun.



Cepat sekali tangan Siauw-ong-kwi bergerak dan tahu-tahu kedua lengan tangan Beng San sudah dicengkeramnya. "Song-bun-kwi, mau apa kau muncul di dunia? Kalau niatmu buruk, muridmu akan kubunuh lebih dulu, baru kau akan kukirim ke neraka!" kata Siauw-ong-kwi mengancam.



Song-bun-kwi mengeluarkan suara yang mirip suara wanita menangis seperti yang pernah didengar oleh Beng San ketika manusia aneh ini dulu datang merampas Yang-sin-kiam dari The Bok Nam kemudian bertempur melawan Hek-hwa Kui-bo. Tiba-tiba saja tubuh kakek itu melayang ke arah Giam Kin. Anak ini yang sudah banyak juga pengalamannya di dunia kang-ouw tahu bahwa kakek yang menangis ini adalah seorang lawan, maka dia memapaki dengan pukulan tangan kanannya.



"Kin-ji (Anak Kin), jangan!" teriak Siauw-ong-kwi, akan tetapi terlambat. Pukulan tangan kanan Giam Kin sudah bersarang ke dalam perut Song-bun-kwi dan..... tangan kecil itu seperti telah menancap ke dalam perut, tak dapat dicabut pula! Giam Kin berdiri dengan mata mendelik dan tubuhnya kaku tak dapat bergerak. Ternyata dia telah "di-tangkap" oleh perut manusia aneh itu.



"Heh-heh-heh, Siauw-ong-kwi. Dulu di puncak salju Gunung Altai-san kita sudah bertanding dua hari dua malam, sedikitnya sehari penuh aku baru akan dapat mengalahkanmu. Aku tidak ada waktu untuk melayani kau orang buruk. Bocah setan bernama Beng San itu bukan muridku, akan tetapi aku membutuhkannya. Hayo kaulempar dia kepadaku, kutukar dengan muridmu yang tidak becus apa-apa ini. Satu...... dua..... tiga.....!"



Siauw-ong-kw.i yang maklum bahwa manusia Seperti Song-bun-kwi tidak pernah main-main dan ucapannya harus dianggap sebagai keputusan terakhir, cepat dia melemparkan tubuh Beng San ke arah kakek itu. Berbareng pada saat itu juga, perut Song-bun-kwi melembung dan terlemparlah tubuh Giam Kin ke arah Siauw-ong-kwi.



Beng San melayang ke arah Song-bun-kwi dan dengan mudahnya kakek ini menangkap lengannya, terus sambil mengeluarkan suara menangis kakek ini membawanya lari seperti terbang cepatnya pergi dari tempat itu. Adapun Siauw-ong-kwi ketika menerima tubuh Giam Kin, terkejut dan mengutuk.



Song-bun-kwi iblis jahat!" la melihat bahwa tubuh Giam Kin mati separoh yaitu bagian kanan. Ternyata bahwa ketika melemparkan anak ini, dari perut. kakek itu mengalir hawa pukulan melalui tangan kanan Giam Kin dan yang membuat tubuh Giam Kin bagian kanan menjadi lumpuh dan mati! Inilah kejamnya hati Song-bun-kwi yang memang luar biasa. Siauw-ong-kwi biarpun termasuk orang aneh yang tidak peduli akan kejahatan, masih tidak mau melukai Beng San' ketika dia melemparkan anak itu.



Melihat keadaan muridnya, cepat 'Siauw-ong-kwi menempelkan telapak ta-ngannya pada telapak tangan kiri murid-nya dan dengan pengerahan Iweekangnya dia "mendorong" keluar hawa pukulan Song-bun-kwi dari sebelah kanan tadi, keluar dari tubuh muridnya. Setelah ber-usaha kurang lebih lima menit barulah dia berhasil. Keadaan Giam Kin normal kembali dan sambil menggeleng kepala menyusuti peluh di keningnya Siauw-ong-kwi mengeluh.



"Berbahaya Sekali setan tua bangka itu....." Kemudian tanpa banyak cakap dia lalu mengajak muridnya pergi dari situ. Tua bangka itu sekarang lihai sekali, pikirnya, jangan-jangan dia telah mendapatkan sumber Im-yang. la merasa berkhawatir dan berjanji akan menyelidiki akan hal ini dan kalau ternyata dugaan-nya betul, dia harus berusaha merampasnya.



* * *



Di puncak Tai-hang-san terdapat se-buah dataran yang luas. Tanahnya subur akan tetapi seperti dibuat oleh manusia, daratan itu tidak ditumbuhi pohon, me-lainkan diselimuti rumput-rumput pendek yang hijau dan segar. Di atas rumput inilah Beng San diturunkan oleh Song-bun-kwi setelah melalui perjalanan ratusan li jauhnya.



"Kakek Song-bun-kwi, aku bukan mu-ridmu dan aku mengaku di depan Siauw-ong-kwi hanya untuk menakut-nakuti dia. Apakah kesalahan begitu saja membuat kau bingung tidak tahu harus berbuat apa terhadap diriku?" Beng San mencela ka-kek itu dengan suara kesal. Memang hatinya mengkal dan dia kesal melihat kakek itu di sepanjang jalan diam saja dan tidak memberi tahu mengapa dia dibawa ke tempat sejauh itu.



Untuk beberapa lamanya kakek baju putih itu memandangnya dengan mata liar berputaran, mata orang yang tidak waras otaknya. Tiba-tiba dia tertawa derngan suara menangis. "Hi-hi-hi, kau takut aku membunuhmu?"



Dengan suara tetap Beng San menjawab,"Tidak! Mengapa aku harus takut? Kau takkan membunuhku!"



Mata Song-bun-kwi melotot lebar penuh ancaman. "Bocah! Jangan kau masn-main di depan Song-bun-kwi. Nyawa manusia bagiku tidak ada bedanya dengan nyawa semut, apalagi nyawamu.....!"



"Hanya nyawa seekor semut kecil, bukan? Terima kasih!" ejek Beng San dehgan berani. "Akan tetapi aku tidak main-main. Kau sendiri yang memberitahu bahwa kau takkan membunuhku."



"Apa? Aku yang memberi tahu? Setan, bilanglah dengan jelas, jangan main teka-teki."



Beng San tetap tertawa menggoda. "Ini bukan teka-teki. Kau mau mencoba menebaknya? Tak mungkin bisa. Hayo tebak, ada orang yang segala-galanya besar sendiri, siapa itu?"



Karena terbawa hanyut oleh kegembiraan Beng San, atau mungkin karena Song-bun-kwi sudah terlalu tua sehingga cocok dengan kata-kata orang bahwa orang yang sudah terlalu tua kembali seperti kanak-kanak, Song-bun-kwi ber-sorak, "Ah, gampang saja itu. Orang yang besar sendiri adalah raksasa. Hayo, betul tidak?"



Beng San meruncingkan bibirnya. "Uuuhhh, salah sama sekali! Bukan begitu jawabnya."



"Ah, kalau begitu orang utara. Tubuh-nya besar-besar melebihi orang selatan."



Beng San tetap menggeleng kepalanya.



"Orang dari .Shan-tung! Tinggi-tinggi!" kata pula Song-bun-kwi. Akan tetap Beng San menggeleng lagi.



"Habis orang apa? Terima kalah aku.”



"Orang yang besar sendiri?" kata Beng San. "Kau inilah, atau aku, pendek nya setiap orang!"



Song-bun-kwi melongo, lalu marah "Jangan main-main kau, jangan tipu aku.”



"Siapa main-main? Kaulah orang yang besar sendiri, juga aku dan setiap orang tentu besar sendiri. Kalau kau tidak besar sendiri, siapa yang membesarkanmu? Apa ada yang meniup lubang hidungmu sambil menyumpal lain lubang di tubuhmu supaya kau melembung dan membesar?" Beng San tertawa terkekeh-kekeh dan Song-bun-kwi tiba-tiba tertawa pula sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.



"Sekarang lain lagi. Thian (Tuhan) membuat seluruh anggauta tubuh kita lengan sempurna. Akan tetapi mengapa rhian membuat hidung kita dengan dua ubangnya menghadap ke bawah. Hayo kalau kau memang pintar, jawablah!



Song-bun-kwi mengerutkan keningnya. Wah, soal pelik nih, pikirnya. Sampai membawa-bawa nama Thian. Setelah memutar otak, akhirnya dia menjawab dengan suara sungguh-sungguh. "Hidung mempunyai dua lubang, kiranya Thian berkehendak demikian untuk membuat keseimbangan, ada yang kiri tentu ada yang kanan sebagai wakil daripada Im dan Yang. Dengan menghadap ke bawah lubangnya, maka manusia dapat memper-gunakannya lebih baik untuk mencium, karena kalau lubangnya tidak di bawah, tentu sukar dipergunakan untuk memper-bedakan bau." la berhenti dan berpikir lagi, tapi tak dapat melanjutkan.



"Hanya begitu?" Beng San mendesak, senyumnya tidak rnembesarkan hati si penebak.



"Ya, habis apa lagi? Tebakanku kan betul kali ini, bukan?" tanya Song-bun-kwi penuh harap.



"Betul apanya? Kau ngawur!"



Song-bun-kwi melengak, kecewa. "Jadi salah lagi? Habis, bagaimana jawabannya?"



"Dengarlah baik-baik," kata Beng San dengan lagak seorang dewasa memberi tahu seorang anak-anak. "Thlan memberi hidung dengan dua lubangnya menghadap ke bawah dengan maksud yang amat baik. jika hidungmu diberi lubang yang menghadap ke atas, di waktu hari hujan dan kau kehujanan, bukankah air hujan akan membanjiri lubang hidungmu membuat kau tersedak berbangkis dan pilek terus-terusan? Nah, itulah sebabnya maka,,;, lubang hidungmu dihadapkan ke bawah.



Beng San tertawa dan Song-bun-kwi setelah membayangkan orang dengan lubang hidung menghadap ke atas ke-hujanan, lalu tertawa juga terkekeh-kekeh sambil berkata, "Kau benar..... kau,^ benar....."



"Sekarang sebuah lagi yang amat gawat," kata Beng San, wajahnya bersungguh-sungguh, wajahnya yang kini sudah putih lagi itu berseru, sepasang matanya memancarkan kenakalan tapi keningnya berkerut. "Sebuah teka-teki yang menyangkut rahasia Thian!"



Song-bun-kwi terkejut dan memandang heran, tak percaya, "Bocah, anak manusia bernama Beng San, jangan kau keluarkan , omongan gila. Aku sendiri tidak berani mengutik-utik rahasia Thian."



"Aku bersungguh-sungguh, Song-bun-kwi. Kalau kau bisa menjawab teka-teki yang satu ini berarti kau telah bertemu dengan rahasia Thian!"



"Eh, bocah aneh. Lekas keluarkan teka-tekimu yang hebat itu."



"Kakek Song-bun-kwi, kau sendiri sudah tua bangka dan tak lama lagi ten-tu akan mengalami hal yang sama, yaitu kematian. Sebagai Song-bun-kwi (Setan Berkabung), kau tentu sudah tahu apa artinya orang mati, dan sudah sering kali melihat keluarga yang kematian. Nah, sekarang teka-tekinya begini. Apa sebab-nya orang mati sebelum dimasukkan peti mati selalu dimandikan lebih dahulu! Nah, pikirlah baik-baik, karena kau sendiri kelak juga akan mati dan dimandikan orang."



Song-bun-kwi sekarang betul-betul mengerahkan otaknya untuk mencar jawaban teka-teki yang terdengar amat pelik. la menghubung-hubungkan jawaban dan teka-teki ini dengan Agama Buddha, dengan ajaran Nabi Locu dan Nabi Khong-cu. Setelah mengumpulkan bahan-bahan yang dia ingat, dia lalu menjawab.



"Pertama, badan manusia yang mati ditinggalkan rohnya dan agar roh itu dapat memasuki nirwana dengan baik, badannya harus pula dibersihkan dari segala kotoran. Kedua, badan manusia kalau mati berarti kembali ke asalnya, karena ketika dilahirkan dari tempat asal badan manusia bersih maka kembalinya harus pula bersih. Ketiga, badan manusia mati dimandikan sampai, bersih se-bagai tanda bahwa si mati dibersihkan daripada segala dosa dan kesalahan. Keempat, mayat manusia dimandikan sampai bersih untuk memberi penghormatan kepada Dewa Bumi yang akan menerima mayat itu. Ke lima, mayat dimandikan sampai bersih untuk mengusir semua hawa busuk dan penyakit agar tidak sam-pai menular kepada orang-orang yang masih hidup. Keenam, mayat itu dimandikan untuk menyatakan bahwa betul-, betul dia telah mati, karena kalau belum, terkena siraman air tentu akan siuman kembali. Ke tujuh, memang se-menjak dahulu mayat dimandikan sampai bersih sebelum dimasukkan peti dan dikubur, oleh karena itu sampai sekarang orang harus melanjutkan kebiasaan itu dan inilah yang dinamakan mentaati peraturan." Sampai di sini Song-bun-kwi berhenti karena sudah habis semua pengertiannya, dikuras untuk menjawab teka-teki itu.



Mendengarkan jawaban ini, makin lama makin bersinar mata Beng San, nampaknya girang sekali. Ketika kakek itu berhenti, dia mendesak. "Hanya tujuh jawabnya? Apakah masih ada lagi? Boleh tambah kalau masih ada!"



"Sudah habis. Tentu salah satu dari tujuh jawabanku itu benar. Hayo, katakan apakah jawaban-jawaban itu ada yang cocok!"



Beng San tertawa. "Benar kata kitab kuno bahwa mencari sesuatu haruslah dicari di tempat yang dekat-dekat dulu, baru mencari ke tempat yang jauh. Kalau tidak demikian dan langsung mencari di tempat jauh padahal yang dicari itu dekat saja, kau akan tersasar makin jauh daripada yang kaucari. Nah, kau juga begitu, Kakek Song-bun-kwi. Jawaban itu dekat dan sederhana, akan tetapi kau melantur sampai jauh dan memberi jawaban bertele-tele."



"Apa tidak ada yang cocok?" tanya Song-bun-kwi cemas.



"Bukan tidak cocok saja, malah menyeleweng jauh daripada jawaban teka-teki yang dimaksudkan. Semua salah!" .



Agak berubah wajah Song-bun-kwi, kini penuh penasaran. "Betulkah semua salah? Bocah siluman, kalau begitu hayo katakan apa jawabnya yang betul. Kalau kau menipu, sekali tampar otakmu akan hancur cerai-berai!"



"Siapa sudi menipumu? Dengarkan baik-baik, Song-bun-kwi. Teka-teki itu bunyinya begini: Apa sebabnya orang mati sebelum dimasukkan peti mati selalu di-mandikan lebih dulu? Nah, sekarang jawabannya, sederhana saja, begini: Orang mati. sebelum dimasukkan petl mati selalu dimandikan lebih dahulu karena DIA TIDAK BISA MANDI SENDIRI! Kalau dia bisa mandi sendiri, tentu tidak dimandikan orang, dan dengan begitu dia belum mati. Nah, betul tidak?"



Song-bun-kwi menjadi pucat mukanya yang merah itu, tangannya diangkat hen-dak menampar kepala Beng San, akan tetapi tiba-tiba tangannya itu dia se-lewengkan, tidak memukul kepala Beng i San, melainkan memukul sebuah batu di dekat Beng San. Batu itu meledak dan hancur. Beng San tidak takut, hanya kaget dan kagum.



"Anak setan, anak iblis, anak siluman'" Song-bun-kwi memaki, lalu tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perut-nya. "Beng San, kau tadi bilang bahwa kau tahu aku takkan membunuhmu. Ma-lah kau bilang aku sendiri yang mem-beritahumu. Nah, sekarang teka-teki dariku, kaujawablah. Mengapa kau ku-bawa ke sini? Hayo jawab, taruhannya kepalamu!"



"Kau menculikku sampai ke sini karena kau menghendaki sesuatu dari aku, menghendaki sesuatu yang ada hubungannya dengan kitab Yang-sin-kiam yang kaurampas dari suhu The Bok Nam."



Mendengar jawaban ini, Song-bun-kwi mencelat sampai beberapa meter jauhnya saking herannya. Kemudian dia mendekat lagi, wajahnya membayangkan keheranannya. "Bocah siluman, bagaimana kau bisa tahu?"



"Kau sendiri yang memberi tahu, Kakek, bukan melalui mulutmu akan tetapi melalui perbuatanmu. Orang ma-cam kau ini, kalau mau membunuhku mengapa harus susah payah, jauh-jauh membawaku ke sini? Kalau mau mem-bunuhku tentu aku sudah kaubunuh begitu saling bertemu. Nah, karena kau belum juga membunuhku, malah membawaku jauh-jauh ke tempat ini, sama saja de-ngan kau memberi tahu kepadaku bahwa kau takkan membunuhku, akan tetapi menghendaki sesuatu dari aku. Meng-ingat bahwa aku Beng San selama hirlup-ku tidak pernah ada urusan denganmu, kecuali perteniuan kita ketika kau me-rampas kitab Yang-sin-kiam dulu, sudah tentu sekali bahwa kau membawaku ini ada hubungannya dengan kitab itu."



Song-bun-kwi memandang kagum. "Kau bocah luar biasa. Kau cerdik sekali. Bicara dengan kau sama saja dengan bicara kepada orang tua. Baiklah aku berterus terang kepadamu. Di dalam dunia kang-ouw terkenal adanya sepasang ilmu pedang yang disebut Im-yang Sin-kiam. Ilmu pedang Im dan Yang ini adalah ciptaan Pendekar Sakti Bu Pun Su ratusan tahun yang lalu sebagai pecahan dari Ilmu Im-yang Bu-tek Cin-keng. Sudah tentu saja Im-yang Sin-kiam menarik perhatian semua tokoh persilatan yang berusaha mendapatkannya. Akhirnya aku mengetahui bahwa sepasang kitab itu berada di tangan Phoa Ti dan The Bok Nam yang terkenal dengan julukan Thian-te Siang-hiap. Aku tahu bahwa pada akhir-akhir ini mereka saling berlawanan sendiri, maka aku mempergunakan kesempatan itu untuk mencari mereka. Akhirnya aku berhasil merampas Yang-sin-kiam dari The Bok Nam seperti yang telah kausaksikan pada waktu itu. Celakanya sebelum aku sempat mendapatkan Im-sin-kiam dari tangan Phoa Ti, aku telah didahului oleh Hek-hwa Kui-bo yang telah memukul Phoa Ti dan me-rampas kitabnya." Sampai di sini Song-bun-kwi menarik napas panjang, nampak kecewa dan menyesal.



Beng San mengangguk-angguk. "Sayang aku masih belum mampu mengalahkannya sehingga dia dapat lari membawa kitab Im-sin-kiam. Mencoba untuk merampas kitab itu dari tangannya bukan hal yang mudah, pula dia tidak bodoh dan takkan mau memperlihatkan diri. Nah, aku lalu ingat kepadamu, Beng San. Kau yang berada di sana bersama Phoa Ti dan The Bok Nam. Kau tentu mendapat warisan ilmu silat dari mereka. Siapa tahu Im-sin-kiam telah kauwarisi dari Phoa Ti. Sekarang kau harus buka rahasia Im-sin-kiam itu kepadaku, Beng San."



Beng San mengerutkan keningnya. Biarpun baru belasan tahun usianya, namun dia cerdik dan sudah sering kali berhadapan dengan orang-orang jahat. pada akhir-akhir ini sehingga membuat dia waspada dan hati-hati. "Kakek tua mengapa kau begitu serakah? Kau sudah mendapatkan Yang-sin-kiam, kenapa ma^ sih ingin mendapatkan Im-sin-kiam pula?



"Bocah bodoh, masa kau tidak tahu? Yang-sin-kiam memang hebat dan sukar ada tokoh lain yang akan dapat me-nealahkan aku. Akan tetapi celakanya, Yan-sin-kiam tidak berdaya kalau ber-temu dengan Im-sin-kiam, sebaliknya Im-sin-kiam takkan berdaya menghadapi Yane-sin-kiam. Ibarat api dan air, baru bereuna kalau keduanya disatukan dan bekerja sama. Hayo, Beng San anak baik, kaukeberitahukan kepadaku bagaimana pelajaran Im-sin-kiam yang kau terima dari Phoa Ti."



Beng San menggelengkan kepala. bayang, Kakek Song-bun-kwi. Aku tidat bisa." la tidak mau menjawab berteranj karena anak ini memang agak sukar kalau disuruh membohong. Dengan jawaban "aku tidak bisa" di dalam hatinya dii maksudkan bahwa dia tidak bisa mem buka rahasia itu, bukannya tidak bis menceritakan isi Im-sin-kiam!



Song-bun-kwi memandangnya dengan mata liar dan amat tajam menusuk,- se-perti hendak menjenguk isi hati Beng San. Tiba-tiba dia membentak, "Berdiri!"



Beng San bangkit berdiri dan tiba-tiba kakek itu menyerangnya dengan pukulan tangan kanan dikepal keras .me-numbuk ke arah dadanya. Penyerangan ini dilakukan sungguh-sungguh akan tetapi gerakannya sengaja diperlambat sehingga mudah diikuti. Namun demikian, andaikata dibiarkan saja, dada Beng San tentu akan pecah berantakan kalau terkena pukulan itu.



Beng San sudah mempelajari Yang-sin-kiam dengan tekun. Tubuhnya sudah memiliki daya tahan dan daya gerak yang otomatis. Apalagi setelah matanya melihat bahwa serangan itu adalah "se-buah jurus dari Yang-sin-kiam, dengan amat mudahnya dia tahu bagaimana ha-rus melawan dan melayaninya. Untuk melayani serangan Yang-sin-kiam, paling tepat memang menggunakan jurus Im-sin-kiam, karena dengan demikian segala daya serangan itu selalu lumpuh, juga akan membuka kelemahan-kelemahan. Akan tetapi Beng San tidak mau berlaku bodoh. Dengan mengumpulkan semangat dia "menutup" pikiran dan ingatannya akan Im-sin-kiam, dan mencurahkan ingat-annya kepada Yang-sin-kiam sehingga menghadapi penyerangan ini, dia meng-gunakan jurus Yang-sin-kiam yang sesuai untuk menghindarkan diri. Karena dia sudah hafal benar akan seluruh gerakan Yang-sin-kiam, maka tidaklah terlalu sukar bagi Beng San untuk menghindar-kan serangan itu karena dia sudah tahu ke mana serahgan itu akan menuju dan bagaimana perkembangan selanjutnya. Tentu saja andaikata kakek itu memper-gunakan kecepatan, amat sukar bagi Beng San yang masih belum berpengala-man dan belum terlatih itu untuk menghadapinya.



Setelah menyerang sebanyak tiga jurus semuanya dapat dihindarkan oleh Beng San dengan mudahnya, Song-bun-kwi menjadi makin kagum dan juga pena-saran. Tiga macam jurus yang dia per-gunakan tadi, biarpun dia lakukan dengan lambat yang memang dia. sengaja, namun belum tentu ada tokoh persilatan yang akan mampu memecahkannya. Hanya orang yang sudah mengenal betul Ilmu Silat Yang-sin-kiam baru dapat memecah-kan semudah yang dilakukan Beng San. Dari kagum dan heran dia menjadi pena-saran sekali lalu dia melanjutkan pe-nyerangannya secara bertubi-tubi, me-ngeluarkan seluruh jurus Yang-sin-kiam yang kesemuanya hanya mempunyai delapan belas jurus pokok. Sebetulnya, baik Yang-sin-kiam maupun Im-sin-kiam setiap jurus pokoknya dapat dipecah pula menj'adi tiga sehingga jumlah ,seluruhnya adalah lima puluh empat jurus. Akan tetapi oleh karena hanya ingin melihat apakah betul-betul bocah itu sudah hafal akan jurus-jurus Yang-sin-kiam, kakek ini hanya mengeluarkan jurus-jurus pokok saja. Hebatnya, delapan belas jurus pokok itu dengan amat mudahnya dapat dihin-darkan dan dipecahkan oleh Beng San!



Penyerangan-penyerangan yang dilakukan oleh Song-bun-kwi ini bukan semata-mata hendak melihat apakah Beng San betul-betul sudah hafal akan Yang-sin-kiam, akan tetapi maksudnya yang tersembunyi adalah hendak memancing agar supaya bocah ini dalam keadaan terdesak mau menggunakan Im-sin-kiam. Setelah dia melihat bahwa semua gerakan Beng San untuk menghindarkan serangan-serang-an itu adalah jurus-jurus Yang-sin-kiam pula, dia baru percaya akan keterangan anak itu tadi bahwa Beng San hanya mewarisi Yang-sin-kiam saja.



Hatinya mengkal sekali. Tiba-tiba dia tertawa bergelak, lalu menangis.



"Ha-ha-ha-hi-hi-hi! Tebakanmu tadi keliru, Beng San. Aku membawamu ke sini memang hendak membunuhmu. Kau hafal akan Yang-sin-kiam, ini tidak baik. Hanya aku seorang yang tahu akan Yang-sin-kiam, maka kau harus mati sekarang juga! Sayang kau tidak becus Im-sin-kiam....." Kakek ini meng-angkat tangannya ke atas dan Beng San sudah siap sedia hendak menyelamatkan diri sedapat mungkin. Tiba-tiba berkelebat bayangan merah dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang bocah perempuan berusia kurang lebih sepuluh tahun Beng San sampai bengong terlongong melihat bocah ini. Tidak karena bocah baju merah itu cantik manis dan mungil sekali, dengan sepasang mata seperti bintang dengan rambut hitam panjang bergantung di pundak, akan tetapi dia bengong saking kagum menyaksikan gerakan yang bukan main cepatnya itu. Bocah itu berdiri memandang kepadanya dan tersenyum! Senyumnya membuat matahari seakan-akan bersinar makin . terang. Tidak hanya bibir dan gigi yang mengambil peran dalam senyum ini, bah-kan mata dan hidungnya juga tersenyum. Beng San tak dapat menahan hatinya untuk tidak membalas dengan senyum lebar.



Song-bun-kwi menurunkan tangannya dan menghela napas. "Bocah edan, mengganggu orang tua saja." la lalu menoleh dan memandang kepada anak perempuan baju merah itu, lalu menggerak-gerakkan kedua tangannya, sepuluh jari tangan itu bergerak-gerak pula. Anak perempuan itu tersenyum lagi, melirik ke arah Beng San, mengangguk kepada Song-bun-kwi lalu meloncat pergi, cepat dan cekatan laksana burung walet.



"Kurang ajar, tentu anak penggembala1 itu yang mengajaknya main-main sampai ke sini!" Song-bun-kwi bersungut-sungutl dan betul saja dari jauh terdengar bunyij kerbau menguak. "Keparat, harus mampus semua!" Sekali Song-bun-kwi berkelebat kakek ini sudah lenyap dari situ.



Semua kejadian ini membuat Beng San duduk terlongong. Bocah perempuan| yang aneh dan ternyata gagu itu, yang begitu cepat gerakan-gerakannya, laki kakek yang aneh ini. Benar-benar dia terheran-heran dan amat kagum sampai lupa bahwa dia belum lolos daripada an-caman bahaya besar dari si kakek yang seperti gila itu. la hanya mendengar suara kerbau-kerbau menguak beberapa kali disusul jerit menyeramkan, lalu sunyi. Tiba-tiba dia mencium bau harum dan..... ketika menengok, di belakangnya sudah berdiri Hek-hwa Kui-bo, wanita tua yang masih cantik itu, dengan sapu-tangan suteranya yang beraneka warna dibuat main-main di tangan kiri.



"Kui-bo.....!" tak terasa lagi Beng San berseru untuk menyembunyikan rasa kagetnya.



Wanita itu tersenyum manis. "Bagus, anak baik. Kau masih ingat kepadaku yang menjadi gurumu?"



"Kau bukan guruku," jawab Bene San. , suaranya dingin.



Hek-hwa Kui-bo memandang tajam. Di dalam hatinya wanita ini sudah amat heran meJihat bocah ini rnasih belum mati ketika ia sengaja memberi pelajaran tiga macam ilmu menguasai tenaea Yane-kang dahulu itu.



"Hei bocah tak kenal budi. Bukankah aku dulu pernah memberi pelajaran ilmu kepadamu?"



"Memang betul, kau memberi pelajaran Thai-hwee, Siu-hwee dan Ci-hwee kepadaku. Akan tetapi itu bukan berarti bahwa kau guruku karena aku tidak pernah mengangkat kau sebagai guru. Pula aku tidak tahu apa gunanya pelajaran-pelajaran itu." .



Sepasang mata Hek-hwa Kui-bo bersinar dan senyumnya melebar. Hatinya girang sekali karena sekarang ia merasaj yakin bahwa anak ini tidak tahu akan maksud buruknya ketika menurunkan tiga macam ilmu itu. "Anak baik, kau tidakl tahu bahwa pelajaran yang kuturunkan! kepadamu itu adalah pelajaran yang menjadi dasar ilmu silat tinggi. Aku suka kepadamu, Beng San, dan aku suka punya murid seperti kau ini. Kalau aku tidak| suka kepadamu, masa aku turunkan ilmu-ilmu itu kepadamu? Justeru kedatanganku ini juga karena perasaan sukaku kepada-j mu itulah. Kau terancam bahaya, kalaul Song-bun-kwi iblis itu kembali, kau tentu akan dibunuhnya. Karena itu, hayo kau ikut aku pergi sekarang juga."



Tanpa menanti jawaban Beng San, Hek-hwa Kui-bo menangkap tangan bocah itu dan di lain saat Beng San rnerasa dirinya melayang seperti ketika dia di-bawa pergi Song-bun-kwi. la tidak me-lawan dan menyerahkan diri saja, mak-i lum bahwa melawan pun takkan ada gunanya. Lagi pula, dia belum tahu apa maksud sebenarnya wanita ini, sungguhpun dia merasa pula bahwa memang dia terancam oleh Song-bun-kwi. Kiranya dibawa pergi Hek-hwa Kui-bo belum tentu sebesar bahayanya kalau dia berada bersama Song-bun-kwi.



Mendadak Hek-hwa Kui-bo menarik tangan Beng San sambil meloncat ke belakang sebuah batu besar yang berada di pinggir jalan. Nenek ini bersembunyi di belakang batu sambil memegang te-ngan Beng San erat-erat.



"Kui-bo, ada apa.....?" Suara Beng San terhenti ketika tangan nenek itu yang sebtelah lagi menotok lehernya dari bela-kang. Beng San marah dan mendongkol sekali hatinya. la tak dapat bergerak, tak dapat membuka suara, hanya mampu mendengar dan melihat. Pada saat itu dia mendengar suara melengking dari jauh, suara tangis memilukan. Segera dia mengenal suara ini ketika makin lama suara itu makin mendekat. Bukan lain suara yang aneh dari Song-bun-kwi! Se-bentar saja kakek aneh ini sudah lewat jalan itu, dekat batu tanpa menoleh ke kanan kiri. Wajahnya muram, mukanya tunduk dan tubuhnya yang kecil kurus itu seperti bongkok. Setelah kakek ini lewat ? jauh tak kelihatan lagi, Hek-hwa Kui-bo menarik lagi tangan Beng San sambil menepuk belakang lehernya rnembebaskan totokan.



"Kui-bo, kenapa kau takut kepada Song-bun-kwi?" Beng San mengejek untuk melampiaskan kemendongkolan hatinya. la maklum sudah akan watak nenek ini yang tidak mau dikatakan takut, maka dia sengaja berkata demikian.



"Bodoh, siapa takut? Aku tidak ada waktu bernnain-main dengan tua bangka itu. Hayo ikut!" Hek-hwa Kui-bo lalu membawa lari lagi anak itu, kini ia sengaja menuju ke arah dari mana Song-bun-kwi tadi datang. Jelas bahwa ia memang sengaja hendak menjauhkan diri dari Song-bun-kwi.



"Kui-bo, apa itu?" Beng San menuding ke arah lereng gunung yang mereka lalui.



"Apalagi kalau bukan bekas tangan si tua bangka?" jawab Hek-hwa Kui-bo dingin, malah ia lalu terkekeh dan berkata. "Tua bangka mau mampus masih suka main-main bunuh orang. Heh-heh-heh!"



Ketika melihat lebih dekat dan lebih jelas, Beng San bergidik. Yang tadi dia lihat bertumpuk-tumpuk dan disambari burung-burung hitam di lereng itu bukan lain adalah bangkai belasan ekor kerbau dan mayat tiga orang anak penggembala yang baru berusia belasan tahun seperti dia. Tak salah lagi, tentu dalam kemarah-annya tadi Song-bun-kwi telah pergi me-ninggalkannya sebentar untuk membunuhi tiga orang penggembala dengan kerbau-kerbau mereka ini. Alangkah kejamnya hati si Setan Berkabung itu'.



"Tua bangka keji si Song-bun-kwi!" Beng San tak terasa memaki.



Hek-hwa Kui-bo tertawa, giginya yang masih kuat itu putih berkilat sebentar. "Apa kau bilang? Keji? Hi-hi-hi, tidak ada artinya itu. Dulu, puluhan tahun yang lalu, untuk merampas seorang mem-pelai wanita dia membunuh mempelai pria, seluruh keluarga dan semua tamu yang hadir pada malam pesta pernikahan itu."



Beng San melototkan matanya, Ngeri dia membayangkan. ”Kenapa para tamu dibunuh semua."



”Goblok kau! Song-bun-kwi tidak sebodoh kau. Tentu saja untuk menutup mulut mereka."



Beng San bergidik. Dua orang ini, kakek Song-bun-kwi dan nenek Hek-hwa Kui bo, selain setingkat ilmu kepandaian-nya, agaknya setingkat pula kekejamannya. Mulailah dia berpikir tentang diri Hek-hwa Kui-bo. Mengapa wanita iblis ini membawanya pergi? Betulkah hanya untuk menolongnya dari ancaman Song-bun-kwi? Mustahil! Orang sekeji ini hatinya mana bisa mempunyai maksud baik?



Beng San terkejut ketika dia teringat bahwa yang mencuri kitab Ilmu Im-sin-kiam adalah Hek-hwa Kul-bo ini! Celaka, pikirnya. Manusia jahat ini tentu tidak akan jauh bedanya dengan Song-bun-kwi. Tentu akan mencoba untuk mendapatkan isi kitab yang satu lagi darinya.



Benar saja dugaannya. Ketika mereka tiba di tempat yang sunyi, di tengah sebuah hutan yang penuh dengan pohon-pohon tua, Hek-hwa Kui-bo melepaskan tangannya, tersenyum-senyum dan me-mandang kepada Beng San.



"Beng San, aku tahu bahwa kau telah menjadi ahli waris dari Phoa Ti dan The Bok Nam, telah mempelajari dua macam ilmu silat, Yang-sin-kiam dan Im-sin-kiam. Kau memang anak baik dan patut menjadi murid orang yang pandai. Karena itu aku ingin sekali memimpinmu lebih lanjut agar kelak kau menjadi seorang jagoan yang tak terlawan di dunia ini. Nah, sekarang coba kau hadapi serangan-seranganku ini dengan Yang-sin-kiam yang sudah kaupelajari dari The Bok Nam!" Tanpa menanti jawaban Beng San, Hek-hwa Kui-bo yang amat bernafsu untuk segera melihat Ilmu Silat Yang-sin-kiam, segera menyerartg anak itu dengan jurus-jurus dari Ilmu Silat Im-sin-kiam, yang kitabnya ia rampas dari Phoa Ti.



Biarpun amat terdesak, Beng San yang memang cerdik itu maklum bahwa dia hendak dipancing. la cepat nrieng-hadapi serangan-serangan itu dengan ilmu yang sama, yaitu Im-sin-kiam, dan se-ngaja menutup semua ingatannya akan Ilmu Silat Yang-sin-kiam, juga sebaliknya daripada yang dia lakukan ketika dia berhadapan dengan Song-bun-kwi.



Akan tetapi Hek-hwa Kui-bo tidak kecewa, malah tersenyum manis dant berkata, "Ahai, kau hendak menggunakan| Im-sin-kiam lebih dulu? Baik lakukanlah dengan sempurna agar aku dapat mem-bimbingmu kalau keliru."



Setelah berkata demikian, ia menyerang terus dengan Im-sin-kiam sampai delapan belas pokok jurus Im-sin-kiam ia mainkan seluruhnya. Diam-diam Hek-hwa Kui-bo kagum sekali melihat gerak-an-gerakan Beng San yang biarpun kurang terlatih namun amat sempurna.



"Hayo sekarang kaugunakan Yang-sin-kiam, hendak kulihat apakah juga sebaik Im-sin-kiam yang kaupelajari!" serunya sambil mendesak lagi dengan Im-sin-kiam.



Tetapi Beng San tetap menghadapinya dengan ilmu silat yang sama. Beberapa kali Hek-hwa Kui-bo membentaknya, akan tetapi dia tetap tidak mau mengubah ilmu silatnya. Akhirnya Hek-hwa Kui bo menjadi jengkel dan berhenti menyerang.



”Eh, bocah kepala batu Kenapa kau tetap tldak mentaati perintahku?"



”Kau ini aneh saja? Kui bo. Bisaku ya Cuma itu tadi”.



”Apa kau tidak mempelajari Yang sin-kiam dari The Bok Nam”.



Beng San tidak mau menjawab pertanyaan ini, malah jawabannya menyimpang, "Aku hanya bisa melayanimu dengan yanag tadi, yang lain-lain tidak bisa”.



Keparat, pikir Hek hwa Kui-bo. Kalau begitu anak ini hanya mempelajari Im-sin-kiam. Ah, untung dia kurampas tadi dari Song-bun-kwi, kalau tidak, tentu Song-bun-kwi akan dapat menguras Im sin kiam dari anak ini. Di dunia ini mana boleh ada orang lain kecuali dia sendiri mengenaj Im-sin-kiam?



”Setan kecil, kalau begitu kau harus mampus di depan mataku”. Hek-hwa Kui-bo lalu mengangkat tangan memukul kepala Beng San. Bocah ini mana mau menerima mati begitu saja. Ia cepat menjatuhkan diri ke belakang lalu meloncat dan lari. Hek-hwa Kui-bo mengeluarkan suara ketawa terkekeh dan mengejarnya. Beberapa loncatan saja sudah cukup bagi Hek-hwa Kui-bo untuk menyusul Beng San. Sekali lagi ia memukul kini menggunakan saputangan suteranya yang menyambar ke arah belakang kepala Beng San. Ujung saputangan itu meng-ancam jalan darah maut. Dalam detik-detik selanjutnya tentu Beng San takkan dapat terlepas dari cengkeraman mautj kalau saja pada saat itu tidak terdengar seruan keras.



"Tahan!" Ujung saputangan itu ter-tangkis oleh sebatang suling dan keduanya terhuyung mundur. Hek-hwa KuH bo kaget sekali melihat kelihaian lawait akan tetapi ia menjadi lebih kaget ketika melihat bahwa yang menangkis saput tangannya dengan suling tadi adalah Song bun-kwi! Celaka, pikirnya. Kalau anak ini terampas lagi oleh kakek ini, berarti Im-sin-kiam akan terjatuh ke dalam tangan Song-bun-kwi dan kalau terjadi hal demikian, takkan berarti pulalah Im-sin-kiam di tangannya. Dengan penuh kemarahan la menerjang lagi, menggerakkan saputangannya hendak menghancurkan kepala Beng San yang berdiri bengong melihat tahu-tahu Song-bun-kwi sudah berada disitu menolongnya.



"Plak! Plakkk!" Dua kali ujung sapu-tangan bertemu dengan ujung suling.



Ketika keduanya terhuyung lagi mun-dur karena dorongan tenaga dahsyat dari masing-masing lawan, Song-bun-kwi meloncat ke depan dan sulingnya menusuk ke arah leher Beng San. Bocah ini tak dapat mempertahankan dirinya lagi, demikian cepatnya tusukan itu.



"Aihhh, tahan!" Hek-hwa Kui-bo menp-gerakkan saputangannya yang panjang dan kembah nyawa Beng San tertolong, kali mi oleh saputangan Hek-hwa Kui-bo. Dan keduanya bertanding lagi. Memang aneh pertandingan itu. Mungkin orang takkan Percaya kalau tidak melihat sendiri. Mana di dunia ini ada orang bertanding karena seorang anak kecil, bukan memperebutkan anak itu melainkan berdulu-duluan.... membunuhnya!



Beberapa kali Hek-hwa Kui-bo dan Song-bun-kwi kaget dan heran melihat betapa masing-masing selalu hendak menyerang Beng San, akan tetapi karena salah sangka dan curiga, mengira bahwa masing-masing itu hendak menjadikan Beng San pembuka rahasia masing-masing,| mereka dengan sungguh-sungguh dan sengit saling serang sehingga terjadilah pertempuran yang amat hebatnya. Pertempuran ini merupakan kelanjutan dari-pada pertempuran ketika mereka memperebutkan kitab yang masing-masing dapat merampasnya dari dua orang kakek Phoa Ti dan The Bok Nam.



Sementara itu, melihat betapa dua orang tua yang aneh dan kejam itu saling serang, Beng San mempergunakan kesempatan ini untuk melarikan diri. Baru saja dia lari belum jauh, Song-bun-1 kwi sudah membentak.



"Anak iblis, kau hendak lari ke mana?" Secepat kilat tubuhnya melayang dan sulingnya menyerang dari belakang.



Akan tetapi kembali ujung saputangan di tangan Hek-hwa Kui-bo menggagalkan, serangan ini. "Bukan orang lain, akulah yang akan membunuhnya!" bentak Hek-hwa Kui-bo sambil memandang kepada Song-bun-kwi dengan mata melotot.



"Kau?? Membunuhnya? Apakah sebabnya kau hendak membunuhnya?" seakan-akan baru terbuka pikiran kakek ini dan dia bertanya heran.



"Dia tidak boleh hidup di bawah satu kolong langit denganku. Mungkin bagimu berguna, bagiku tidak!" jawab Hek-hwa Kui-bo marah. Akan tetapi nenek ini pun bertanya heran, "Dan kau..... mengapa pula hendak membunuhnya?"



Song-bun-kwi tersenyum gemas, merasa diejek. Dikiranya nenek ini sudah tahu bahwa Beng San hanya mempelajari Ilmu Silat Yang-sin-kiam saja dan sudah mencuri ilmu ini. "Bocah setan itu tidak boleh hidup di atas satu permukaan bumi denganku, tiada gunanya bagiku dibiarkan hidup!"



Heran dan kagetlah Hek-hwa Kui-bo mendengar ini. la pun sebaliknya mengira bahwa Beng San hanyalah mempelajari Im-sin-kiam saja dan ilmu ini sudah dioper oleh Song-bun-kwi, mengapa sekarang kakek ini bicara sebaliknya? Dia memang cerdik, maka tiba-tiba ia tertawa terkekeh-kekeh.



"Bocah iblis, dia memperdayakan kita!" Sambil berkata demikian tubuhnya melesat ke depan untuk mengejar Beng San.



Song-bun-kwi juga bukan seorang bo-doh. Sekilas saja dia seperti disadarkan. Kalau Hek-hwa Kul-bo tadinya tidak membutuhkan anak itu dan hendak mem-bunuhnya, tentu anak itu mengaku hanya mempelajari Im-sin-kiam saja dan ke-padanya membohong hanya mempelajari Yang-sin-kiam. Celaka, anak itu harus dia tangkap! la pun melesat ke depan dan kini dua orang sakti itu berlumba untuk memperebutkan Beng San, bukan untuk membunuhnya seperti tadi!



Kasihan sekali Beng San. Biarpun dia tanpa disengaja dan disadarinya telah mewarisi sepasang ilmu silat pedang yang luar biasa hebatnya, namun sebagai seorang anak kecil menghadapi dua orang sakti itu, apakah dayanya? la melarikan diri secepatnya, menyelinap di antara pohon-pohon raksasa yang amat tua.



Tiba-tiba kakinya tersandung akar pohon dan tubuhnya terguling. Beng San merasa terjatuh di atas sesuatu vang lunak dan ketika dia dengan terengah-engah memandang, ternyata dia jatuh keatas pangkuan seorang kakek yang duduk bersila dengan kedua mata meram. Ka-kek ini berpakaian serba hitam maka tadi hampir tidak kelihatan dan di punggungnya nampak gagang sepasang pedang tipis. Jenggot kakek ini luar biasa, pan-jang sekali sampai ke perutnya, telinganya lebar seperti telinga gajah, tubuhnya kurus dan mulutnya sudah ompong sama sekali, tidak ada sebuah pun giginya, Nampaknya sudah tua sekali.



Selagi Beng San bengong dan lupa bahwa dua orang pengejarnya sudah amat dekat di belakangnya, kakek itu berksia, suaranya halus Jirih seperti berbisik.



"Anak, kaupegang sepasang pedang ini, dengan tangan kiri mainkan Im-sin-kiam dan tangan kanan mainkan Yang-sm-kiam, tentu kau dapat menahan mereka".



Beng San sudah putus asa menghadapi dua orang sakti yang mengejarnya. Melawan dengan nekat pun dia tidak punya harapan. Akan tetapi sekarang setelah mendengar bisikan kakek ini dan tangan-nya tahu-tahu telah memegang sepasang pedang, hatinya menjadi berani dan be-sar. Apalagi ketika dia melihat bahwa sepasang pedang yang tidak sama panjang-nya itu berkilau-kilauan seperti mengeluarkan api.



Pada saat itu, hampir berbareng, Hek-hwa Kui-bo dan Song-bun-kwi tiba di depan Beng San. Baiknya mereka itu sekarang bukan berlumba untuk mem-bunuhnya, melainkan berlumba untuk menangkapnya, maka keduanya tidak mau mempergunakan senjata masing-masingj yang ampuh.



Melihat dua orang itu sudah datang dan tangan mereka diulur untuk mencengkeramnya, Beng San meioncat. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika tubuhnya tak dapat terlepas dari tubuh kakek tua renta itu. Terdengar bisikan di belakang kepalanya, "Lawan mereka dengan tenang, pergunakan Im-yang Sin-kiam, aku yang mendorongmu dengan tenaga dan mengatur kecepatan gerakan-gerakanmu."



Sudah terlalu sering Beng San ber-temu dengan tokoh-tokoh besar yang berwatak aneh dan berkepandaian tinggi, maka keadaan kakek tua renta ini oiar-pun amat aneh, tidak amat mengheran-kan Beng San dan serta-merta bocah cerdik ini dapat menduga bahwa kakek )ni pun seorang sakti maka dia pun mentaati semua petunjuknya. Begitu ia men-dengar bisikan ini dia ialu mempersiap-kan sepasang pedangnya, dan dengan ge-rakan-gerakan Im-sln-kiam di tangan kiri dan Yang-sin-kiam di tangan kanan, dia mainkan ilmu silat pedang yang sudah dihafalkannya benar-benar itu dengan kedua tangan. Hasilnya luar biasa sekali karena terdengar seruan-seruan kagetan Hek-hwa Kui-bo bersama Song-bun-kwi meloncat mundur. Hampir saja tangan mereka terbabat oleh pedang-pedang yang berkilauan dan mendatangkan hawa panas dan dingin sekali itu.



Beng San merasa betapa kedua pun-daknya ditempel oleh kedua telapak ta-ngan kakek itu tadi dan betapa di dalam kedua lengannya seperti ada tenaga lembut yang menjalar sampai ke tangannya. Semangatnya menjadi besar dan dia tersenyum mengejek ketika melihat dua orang lawannya itu sudah menggerakkan suling dan saputangan. Kedua pedangnya bergerak dengan jurus-jurus terlihai dari Im-yang Sin-kiam, pedang kiri bertemu dengan suling Song-bun-kwi sedangkan pedang tangan kanan beradu dengan ujung Saputangan Hek-hwa Kui-bo. Terdengar suara keras dan Hek-hwa Kui-bo me-mekik kaget sedangkan Song-bun-kwi melompat ke belakang. Ternyata bahwa ujung saputangan Hek-hwa Kui-bo dan ujung suling Song-bun-kwi telah terbabat oleh pedang-pedang itu.



"Liong-cu Siang-kiam (Sepasang Pedang Mustika Naga).....!" Hek-hwa Kui-bo berseru.



"Ayaaaaa! Kalau begitu dia ini Lo-tong (Bocah Tua) Souw Lee.....!" Song-bun-kwi berteriak kaget sambil memandang kepada kakek tua renta yang berdiri di belakang Beng San.



Hek-hwa Kui-bo mengeluarkan suara ketawa menyeramkan lalu berkata.



"Betul sekali! Eh, Song-bun-kwi, agak-nya kita berdua yang selalu mujur. Hayo kita gempur dia dan segala yang kita dapat nanti kita bagi rata dan adil."



"Bagus! Kui-bo, dengan Liong-cu Siang-kiam dan Im-yang Sin-kiam-sutkita akan menjagoi dunia. Ha-ha-ha!"



Dua orang itu lalu menggerakkan suling dan saputangan, menerjang maju dengan gerakan-gerakan yang luar biasa cepatnya. Saputangan itu mengeluarkan bunyi berdetar-detar seperti sebuah ce-meti sedangkan suling itu mengeluarkan suara tangisan yang mengerikan. Ter-getar juga hati Beng San menghadapi kedahsyatan dua orang itu. Sepasang pedang di tangannya hampir saja ter-lepas kalau tidak ada tenaga mujijat mengalir masuk melalui pundaknya yang, dipegang oleh kakek tua renta itu.



"Anak baik, ingat....." bisik kakek itu di belakangnya, "kita harus dapat mengusir mereka..... bukan hanya demi keselamatanmu, apalagi keselamatanku, akan tetapi demi..... demi keamanan dunia..... Jangan terjatuh ke tangan dua iblis ini....." Terpaksa kakek itu menghentikan kata-katanya karena dua orang itu sudah mulai dengan terjangan mereka yang dahsyat.



Beng San menggerakkan kedua pedang di tangannya. la belum pernah bertempur, juga limu Silat Pedang Im-yang Sin-kiam-sut yang dia miliki hanya dia latih dan hafalkan secara teorinya saja, tak prrnah dipergunakan untuk bertempur. Memang tak dapat disangkal bahwa anak ini ba-katnya baik sekali dan gerakan-gerakan-nya dalam mainkan semua jurus Im-yang Sin-kiam yang digabungkan itu luar biasa dan tepat. Namun menghadapi dua orang kawakan seperti Song-bun-kwi dan Hek-hwa Kui-bo, tentu saja dia merupakan sebuah timun melawan dua buah duren! Andaikata dia sendiri harus melawan mereka, biarpun dia diberi sepasang pedang Liong-cu-kiam, dalam satu jurus saja dia pasti akan terjungkal tanpa nyawa lagi.



Baiknya dalam pertandingan ini Beng $an tidak maju sendiri, atau dapat di-katakan bahwa dia "dipakai" oleh kakek tua renta itu, dipergunakan pengetahuan-nya tentang Im-yang Sin-kiam-sut. Beng San hanya mempergunakan Ini-yang Sin-kiam dan tentu saja tanpa disadarinya sendiri, dia pun menggunakan tenaga Im dan Yang, dua tenaga yang nriemang sudah bersarang di dalam tubuhnya. Dua hal yang dimilikinya ini, Ilmu Silat Im-yang Sin-kiam dan tenaga Im Yang, se-, karang dengan hebat dipergunakan oleh kakek itu yang mendorongnya sehingga sepasang pedang di tangan Beng San berkeredepan dan menyambar-nyambar bagaikan dua ekor naga sakti yang ber-main-main di angkasa raya. Berkali-kali saputangan dan suling di tangan Hek-hwa Kui-bo dan Song-bun-kwi membalik ketika bertemu dengan pedang. Dua orang itu kaget bukan main. Mereka maklum bahwa anak ini "dipergunakan" oleh ka-kek itu, akan tetapi sama sekali mereka tidak pernah mengira bahwa anak itu dapat mainkan Im-sin-kiam dan Yang-sin-kiam digabung menjadi satu sehingga mereka yang hanya mengerti sebagian-sebagian saja dari ilmu pedang pasangan itu menjadi sibuk dan kewalahan. Mereka maklum bahwa tentu saja dalam hal ini bukan Beng San yang berjasa, melainkan kakek tua renta itu. Memang kakek tua renta itu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi. Namun andaikata di situ tidak ada Beng San yang menambah ke-hebatan kakek itu dengan Im-yang Sin-kiam, dua orang sakti tadi yakin bahwa mereka berdua pasti akan dapat menga-larikannya.



Beng San betul-betul bingung ketika melihat bahwa gerakan-gerakan yang dilakukan oleh dua orang tua itu berubah-ubah, bahkan kemudian sama sekali dia tidak mengenal gerakan-gerakan itu. Hal ini memang betul demikian, karena dua orang itu sengaja tidak mainkan Ilmu Silat Im-sin-kiam dan Yang-sin-kiam yang dikena baik oleh Beng San. Andaikata dia sendiri harus menghadapi jurus-jurus yang sama sekali asing baginya itu, tentu dia akan terjungkal dengan sendirinyall karena pusingnya. Baiknya dengan "tuntunan" kakek itu melalui penyaluran ha-wa pada kedua pundaknya, dia masih dapat dengan cepat dan tepat mainkan Im-yang Sin-kiam untuk menghadapi se-mua serangan lawan, bahkan balas me-nyerang dengan tak kurang dahsyatnya



Pertempuran itu berjalan seru dan hebat. Kalau Beng San terdesak, tiba-tiba kakek di belakangnya berseru nyaring dan..... jenggotnya yang panjang melambai sampai ke perut itu bergerak menyambar-nyambar ke depan mengeluar-kap suara angin bersiutan dan rambut ini yang tadinya halus sekali seakan-akan telah berubah menjadi cemeti baja yang menyambar ke arah kedua lawannya! Setelah hari mulai menjadi gelap, Beng San melihat dua orang lawannya berpeluh dan uap keputihan mengebul di atas kepala mereka. la pun mendengar kakek di belakangnya terengah-engah napasnya, kedua tangan yang mencengkeram pundaknya mulai menggetar. Napas kakek itu mulai meniup-niup kepalanya, terasa panas sekali. Dia sendiri belum lelah, maklum karena semenjak pertempurah dimulai, dia seakan-akan selalu "menggunakan" tenaga kakek itu dan peranannya sendiri hanya sebagai orang yang mengeluarkan Im-yang Sin-kiam saja.



Song-bun-kwi mulai tertawa-tawa mengejek. "Heh-heh-heh, Lo-tong, napasmu sudah empas-empis, jangan-jangan akan putus nanti."



"Souw Lee, kau sudah tua bangka mau mampus, lebih baik menyerah dan mati dengan tubuh utuh daripada harus mati dengan kepaia remuk." kata Hek-hwa Kui-bo.



Dua .orang tokoh ini mau mengajak bicara dan membujuknya, bukan karena mereka merasa amat kagum kepada kakek tua renta yang ternyata masih amat lihai ini. Memang, betapapun jahat dan kejam hati seorang tokoh kang-ouw yang sakti dan aneh, namun ciri khas orang-orang kang-ouw masih ada kepadanya, yaitu mengagumi dan menghargai kegagahan dan kelihaian orang.



"Song-bun-kwi! Hek-hwa Kui-bo:....! Kakek ini terengah-engah. "Sebelum leherku patah, jangan harap kau akan mendapatkan Liong-cu Siang-kiam dan Im yang Sin-kiam-sut. Tanpa yang dua kalian sudah cukup jahat dan sudah ter-lalu banyak menyebar kekejaman di dunia."



Song-bun-kwi mengeluarkan bentakari marah dan sulingnya mendesak niakin hebat. 3uga Hek-hwa Kui-bo mernutar saputangannya yang mengeluarkan be-berapa macam warna yang bersinar-sinar, mengurung diri Beng San dan kake» itu. Tiba-tiba Beng San merasa betapa kedua tangan kakek di pundaknya itu menjadi 'dingin sekali. la tidak mengerti apa se-babnya, tidak tahu bahwa dalam kelihai-annya kakek tua renta itu berlaku cerdik, menggunakan tenaga Im untuk me-narik keuntungan dari pertempuran itu.



Beng San mulai mengerti akan mak-sud kakek itu ketika meminta ke-padanya supaya jangan mengalah. la se-karang tahu bahwa Ilmu Silat Im-yang Sin-kiam-sut yang dia pelajari dari dua orang gurunya yang sudah meninggal dunia, ternyata amat dirindukan oleh tokoh-tokoh kang-ouw, seperti halnya j sepasang pedang ini. la mengerti bahwa dua orang tua yang kini mengeroyoknya itu adalah orang-orang jahat yang kalau sampai dapat merampas ilmu dan pedang, akan menjadi makin ganas dan jahat lagi. Sekarang saja sudah dapat membayangkan kekejian hati mereka dua orang tokoh besar dalam dunia persilatan yang tidak segan-segan dan tidak malu-malu untuk mengeroyok dan mendesak seorang anak-anak dan seorang kakek tua!



"Song-bun-kwi dan Hek-hwa Kui-bo, kalian benar-benar keji dan jahat!" Baru saja Beng San mengeluarkan kata-kata ini, kakek di belakangnya mengeluarkan teriakan keras lalu roboh telentang, mu-lutnya mengeluarkan darah, matanya mendelik dan tak sadarkan diri.



Beng San menjadi merah kehitaman mukanya. la kaget dan menoleh, menpdi makin hitam mukanya saking marah. la meneira bahwa kakek itu tentu telah iatuh karena pukulan dua orang lawannya. Sama sekali dia tidak tahu bahwa se-betulnya kakek sakti di belakangnya itu roboh oleh karena dia! Ketika tadi dia memaki Song-bun-kwi dan Hek-hwa Kui- bo, tanpa dia sadari Beng San yang marahnya memuncak itu telah menyalurkan hawa "Yang" di tubuhnya, membuat mukanya menjadi merah hitam. Tenaga Yang di tubuhnya memang hebat sekali, tidak sewajarnya. Tenaga inilah yang memukul kakek itu melalui kedua tangan yang diletakkan di pundaknya. Kakek itu sedang menggunakan tenaga Im, maka pukulan tenaga Yang dari tubuh Beng San yang amat kuat itu tak tertahankan olehnya, membuat dia terjungkal dan pingsan. Andaikata tenaga dahsyat dari tubuh Beng San ini tadi keluar di waktu kakek itu mempergunakan tenaga Yang, tentu kehebatan kakek ini akan bertambah dan mungkin sekali mereka berdua dapat mengusir Song-bun-kwi dan Hek-hwa Kui-bo. Tapi, apa hendak dikata, anak itu memang belum mengerti akan keadaan dirinya sendiri dan belum tahu bagaimana caranya untuk memanfaatkan kekuatan dan kepandaian yang dia miliki secara kebetulan itu.



Untung baginya bahwa dua orang sakti di depannya itu memang tidak mem-punyai maksud untuk membunuhnya pada saat itu, karena keduanya membutuhkan-nya. Hek-hwa Kui-bo dengan suara ke-tawanya yang menyeramkan sudah maju menubruknya.



"Kui-bo, perlahan dulu'" Song-bun kwi berseru dan juga menubruk ke depan, mendorong tubuh Hek-hwa Kui-bo. Wa-nita tua itu marah sekali, dengan bentakan keras ia membalikkan tubuh dan menyerang Song-bun-kwi dengan sapu-tangannya. Tentu saja Song-bun-kwi tidak rela kepalanya diancam kehancuran oleh ujung saputangan yang amat ampuh itu. Cepat sulingnya digerakkan menangkis dan di lain saat dua orang ini sudah saling gempur'. Kalau tadi mereka bersatu dalam menghadapi sepasang pedang di tangan Beng San yang dibantu oleh kakek Lo-tong Souw Lee, sekarang mere-ka bertempur satu kepada yang lain. Untuk memperebutkan Beng San berikut sepasang pedang Liong-cu Siang-kiam.



Pertandingan itu makin lama makin seru dah dasyat, sedangkan cuaca makin lama makin menjadi gelap. Song-bun-kwi dan Hek-hwa Kui-bo memang me-miliki ilmu kepandaian yang setingkat, apalagi masing-masing telah mendapatkan kitab Im-sin-kiam dan Yang-sin-kiam. Berulangkali mereka menukar ilmu untuk merobohkan lawan, namun selalu sia-sia. Yang terheran-heran adalah Beng San. Kadang-kadang dia tak dapat melihat dua orang itu yang lenyap ditelan gulungan sinar senjata mereka, akan tetapi ada kalanya dia melihat mereka dengan jelas karena mereka itu berkelahi dengan gerakan-gerakan yang luar biasa, amat lambat seperti orang main-main saja. Akhirnya dia tidak dapat melihat mereka sama sekali ketika matahari sudah bersembunyi dan cuaca sudah men-jadi hitam gelap. Hanya desir angin pu-kulan mereka saja yang masih terdengar , dan terasa.



Tiba-tiba Beng San rnerasa tangannya dipegang orang dari belakang, lalu dia ditarik perlahan ke belakang. Ketika dia menengok, di dalam gelap itu dia masih rnelihat tubuh kakek tua renta yang sekarang telah bercUri dan meng-ajak dia pergi dari tempat itu. Beng San maklum akan maksud hati kakek .ini. Tentu melihat dua orang sakti itu sedang saling gempur sendiri, kakek itu meng-ajaknya menggunakan kesempatan ini untuk melarikan dirji di dalam gelap. Benar saja dugaannya, tak lama kemudi-an dia merasa tubuhnya seperti terbang sedangkan tangannya masih digandeng oleh kakek itu. Diam-diam dia kagum sekali. Ternyata bahwa kakek tua ini dalam berlari cepat tidak kalah oleh Song-bun-kwi maupun Hek-hwa Kui-bo.



Beng San mendengar teriakan-teriakan marah dari Song-bun-kwi dan Hek-hwa Kui-bo. Lapat-lapat dla mendengar me-reka memaki-maki dan menyuruh dia berhenti. Akan tetapi suara dua orang yang mengejarnya itu makin lama makin jauh, agaknya mereka sesat jalan, tidak tahu ke mana larinya Beng San bersama kakek tua itu. Barulah lega hati Beng San setelah suara mereka tidak terdengar lagi. Juga kakek tua itu kini tidak berlari terlalu cepat lagi, hanya mehgajafe Beng San berjalan melalui hutan-hutan yang besar.



"Sudah keluarkah bulan, anak yang baik?" tanya kakek itu, berhenti dan berdongak ke atas.



Beng San terheran. Apakah tak dapat melihat sendiri? Mengapa harus bertaya? "Belum, hanya langit penuh bintang."



"Hernmm, coba kaulihat baik-baik di mana letaknya Bintang Kak-seng (Bintang Terompet)?"



"Aku tidak tahu yang mana itu bintang Kak-seng," jawab Beng San.



"Kalau begitu, di mana letaknya Bi-seng (Bintang Ekor)?"



Beng San makin bingung. Matanya menatap bintang-bintang di langit yang tiada terhitung banyaknya. "Yang mana Bi-seng aku pun tidak tahu."



Kakek itu menundukkan mukanya dan menarik napas panjang. "Kiranya kau, memang belum tahu apa-apa. Ah, sudahlah. Katakan saja bintang apa yang kauketahui?"



Beng San segera menuding ke atas dan berkata, "Bintang-bintang Gu-seng (Bintang Kerbau) itu aku kenal!" Memang dahulu pernah dia mendengar dari seorang hwesio di Kelenteng Hek-thian-tong tentang Bintang Kerbau ini, se-kumpulan bintang terdiri dari enam buah menyerupai kepala kerbau dengan tanduknya.



Kakek itu nampak girang. "Bagus! Coba kautunjukkan, di mana Gu-seng itu?"



"Tuh, di sana!"



"Huh, aku tak dapat melihat. Kau-pegang tanganku dan tunjukkan di mana arah letaknya."



Berdebar jantung Beng San.. Kiranya kakek ini buta! la menatap wajah kakek itu. Tadinya dia menyangka bahwa kakek itu bermata sipit sekali, tidak tahunya memang selalu meram tak dapat dibuka, seorang buta! Timbul rasa kasihan di dalam hatinya, akan tetapi juga kekagum-annya makin membesar. Seorang kakek tua renta lagi buta, akan tetapi bukan main lihainya! la lalu memegang tangan kanan kakek itu dan menudingkan tangan itu ke arah kumpulan Bintang Gu-seng.



"Hemmm, kalau begitu kita harus ke kanan," kata kakek itu sambil menggandeng tangan Beng San dan berlari lagi. "Beng San, kauikutlah aku. Biarkan aku menggosok intan yang masih mentah , ini!" Beng San tidak mengerti maksudnya dan hendak bertanya, akan tetapi kakek itu sudah lari lagi dengan amat cepatnya. Karena maklum bahwa kakek ini tidak jahat seperti Song-bun-kw atau Hek-hwa Kui-bo, maka dia tidak banyak membantah dan menurut saja dibawa lari secepatnya.



* * *



"Beng San, entah apa dosa-dosamu dahulu terhadap Thian maka sekecil ini kau sudah bernasib malang, menjadi pe-rebutan tokoh-tokoh kang-ouw. Hemmm, aku si kecil dan aku si tua bangka benar tak ada bedanya, dibenci dan dican oleh mereka yang selalu kurang puas....." demikianlah kakek tua yang buta itu berkata kepada Beng San.



Mereka duduk berhadapan di atas Batu-batu hitam yang halus di atas pun-cak yang tinggi, sedemikian tingginya sehingga seolah-olah dengan tangannya orang akan dapat menyentuh bintang-bintang di langit. Inilah tempat sembunyi kakek itu yang disebut Ban-seng-kok (Puncak Selaksa Bintang), sebuah di antara puncak-puncak di Pegunungan Cin- ling-san. Namun puncak Ban-seng-kok ini ! adalah puncak yang tersembunyi karena di kelilingi jurang-jurang yang tak mungkin, dilintasi manusia. Hanya Lo-tong Souw Lee si anak tua itulah yang telah mendapatkan jalan rahasianya dengan merayap melalui jurang-jurang yang amat dalam. Tidak mengherankan apabila orang tua ini mempergunakan Ban-seng-kok se-bagai tempat bersembunyi atau tempat bertapa. Puncak ini indah bukan main, penuh dengan pohon-pohon liar, bunga-bunga beraneka macam, hawanya sedang dan udaranya bersih. Setelah melakukan perjalanan lima hari lima malam lamanya, Beng San dan kakek itu tiba di tempat ini pada senja hari tadi dan malam ini mereka duduk di luar pondok kecil tempat tinggal Souw Lee. Beng San kagum bukan main menyaksikan pemandangan yang amat indah di waktu Tialam i ini. Angkasa sedemikian bersihnva sehingga dia dapat melihat bintang-bintang yang memenuhi langit. Ketika mendengar ucapan kakek itu Beng San sadar daripada lamunannya.



"Kakek Souw Lee, orang memperebutkan sepasarag pedangmu yang hebat itu, tak perlu diherankan lagi. Hanya anehnya mengapa agaknya mereka hendak membunuhmu. Adapun aku...... ah tak tahu aku mengapa mereka mati-matian hendak memperebutkan pelajaran-pelajaran yang tidak ada artinya itu?"



"Tidak ada artinya kaubilang Heh-heh-heh, Beng San. Dalam hal ini kau lebih buta daripada mataku. Aku mengikuti ketika kau berhadapan clengar Song-bun-kwi, kemudian kau menghadapi Hek-i hwa Kui-bo. Kau cerdik sekali telah menipu mereka. Kecerdikanmu .itu me-narik hatiku. Memang, tak salah kalau Phoa Ti dan The Bok Nam mewariskan Im-yang Sin-kiam-sut kepadamu." Kakek ttu mengangguk-angguk dan Beng San membelalakkan matanya saking herannya.



"Kakek Souw, kenapa kau bisa me-ngetahui semua itu?"



Kakek buta itu tertawa lagi. "Siapa yang tidak tahu bahwa Im-sin-kiam dan Yang-sin-kiam terjatuh ke dalam tangan Thian-te Siang-hiap? Hanya tak pernah kusangka sekarang sudah terjatuh ke dalam tangan sepasang iblis itu! Kebetul-an sekali aku mendengar ketika kau di-serang oleh Song-bun-kwi. Angin gerakan-nya dan angin gerakan tanganmu biarpun lemah dapat terdengar olehku dan tahulah aku bahwa kalian mainkan ilmu silat yang belum pernah kudengar sebelumnya. Setelah kalian bicara baru aku tahu bah-wa itulah Yang-sin Kiam-sut. Pantas begitu hebat." Kembali dia mengangguk-angguk. "Kemudian kau dibawa pergi Hek-hwa Kui-bo. Aku diam-diam meng-ikuti dan setelah melihat sikap iblis wanita itu kepadamu, baru aku dapat mengetahui bahwa dua orang itu ternyata telah merampas kitab-kitab itu, seorang satu."



"Betul sekali," Beng San menarik napas panjang. "Mereka merampas kitab dan membunuh dua orang kakek Phoa Ti dan The Bok Nam. Bagiku, dua ilmu itu apa sih gunanya? Kalau lapar tidak bisa mengenyangkan perut, kalau haus tidak bisa memuaskan kerongkongan. Paling-paling bisa digunakan untuk menipu orang dan main gebuk!"



Kakek buta itu tertawa bergelak. "Hah-hah-hah! Ketahuilah Beng San. Dua atau tiga puluh tahun yang lalu, aku sendiri pun akan memaksa kau mengeluarkan dua ilmu itu kepadaku. Mungkin sekali aku pun akan memaksamu, kalau perlu menyiksa malah membunuhmu."



Beng San menjadi marah. Ternyata dia salah kira. Disangkanya kakek ini baik, tidak seperti Song-bun-kwi atai» Hek-hwa Kui-bo, kiranya begini bicaranya!



"Huh, Kakek Souw. Kukira hatimu melek, tidak tahunya sama butanya de-ngan kedua matamu. Kau yang sudah berilmu tinggi itu dan belum kauketahui apa semua itu kegunaannya, masih saja menginginkan ilmu yang lain dengan cara memaksa orang lain? Hemmm, sebetulnya apa sih artinya memiliki ilmu silat setinggi langit?"



"Ho-ho-ho, anak bodoh. Kalau aku tidak memiliki ilmu silat tinggi, apakah tadi tidak mampus di tangan Song-bun-kwi dan Hek-hwa Kui-bo? Kalau aku tidak memiliki ilmu silat lumayan, apa-kah dulu-dulu tidak sudah mampus? Kepandaian silat tinggi menjamin keselamat-an kita, Beng San. Di dunia kang-ouw, ilmu kepandaian yang paling penting dimiliki, karena hanya dengan kepandaian tinggi kita bisa terhindar daripada ke-matian di tangan orang lain."



"Uhhh'." Beng San mencela. "Mana bisa ada aturan demikian? Kakek tua, mati atau hidup bagaimana bisa tergan-tung daripada ilmu silat? Kau yang pan-dai ilmu silat tinggi, kalau sebentar lagi mati karena tua, apakah bisa bertukar kulit menjadi muda kembali? Salah, kakek Souw. Menurut kitab-kitab kuno yang pernah kubaca dan kupelajari, mati hidup bukanlah urusan kita untuk menentukan. Kalau Thian menghendaki kematian kita, biarpun kita memiliki nyawa rangkap selaksa, toh akan mati juga tak usah menanti orang lain membunuh kita. Se-baliknya, apabila Thian menghendaki kita masih harus hidup, biar ada selaksa orang berusaha membunuh kita, kiranya takkan berhasil.



"Ya Tuhan.....!" Kakek itu rnenangkap tangan Beng San dengan kedua tangannya menggigil. "Anak baik..... kau mengetahui semua itu dari mana?"



Ucapan yang penuh keheranan dan kekaguman ini membuat Beng San men-jadi malu. "Dari hwesio-hwesio di Kelenteng Hong-thian-tong. Sejak kecil aku menjadi pelayan di kelenteng itu dan menerima jejalan pelajaran filsafat dari kitab-kitab kuno."



Kakek itu menarik napas parjang sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Alangkah ganjilnya. Seorang anak kecil mempelajari ilmu batin dan mendapatkan inti sarinya untuk dipakai dalam hidup. Manusia-manusia tua bangka seperti aku dan yang lain-lain, mempelajari ilmu | t>atin untuk mendapatkan kekuatan mem-pertinggi kepandaian silat. Benar-benar menyeleweng..... benar-benar tersesat....." la lalu merangkul Beng San dan,me-nangis terisak-isak!



Tentu saja anak sekecil Beng Saa'» I belum mengerti betul apa sebetulnya yang dipikirkan dan apa artinya kata-kata kakek ini. la mengira bahwa kakek itu telah melakukan perbuatan keliru dan kini merasa menyesal, maka untuk meng-hiburnya dia mengutib ujar-ujar kuno lagi, "Kakek Souw, pernah para suhu mengatakan kepadaku bahwa insyaf dan menyesal akan kesesatan diri sendiri ter-masuk kebajikan. 3auh, lebih baik insyaf dan menyesal daripada bangga dan me-nyombongkan diri sendiri."



Kakek itu makin terharu lalu meng-usap-usap kepala Beng San. "Anak baik..... anak baik..... kuharap dalam beberapa pekan ini kau suka mengulang semua pelajaran yang pernah kaupelajari darl para suhu (guru) di Kelenteng Hok-thian-tong itu. Phoa Ti dan The Bok Nam benar ketika memilih kau sebagai ahli waris. Sayang mereka tidak ada .vaktu untuk menurunkan dasar-dasar ilmu silat. Beng San, kau harus menurut kata-kataku, kau harus tekun bersiulian (samadhi). Semua itu untuk memperkuat tubuh dalammu dan mengimbangi ilmu-ilmu tinggi yang sudah kaumiliki. Kalau tidak demikian, kau akan celaka, sebelah dalanri .tubuhmu akan rusak binasa."



Tadinya Beng San tidak, 'begitu tarik, akan tetapi oleh karena kakek itu bermaksud baik dan memang di dunia ini dia sebatangkara, untuk menyenangkan hati kakek buta itu dia menyanggupi. Demikianlah, mulai malam hari itu juga, Beng San mengeluarkan semua hafalannya tentang kitab suci di jaman dahulu, sebaliknya dia menerima petunjuk-petunjuk dari kakek sakti itu tentang samadhi, latihan napas, Iweekang, khikang, dan lain-lain yang berhubungan dengan ilmy m silat.



Terjadi perubahan besar pada diri kakek buta itu setelah setiap hari dia mendengar kata-kata filsafat dari kitab-kitab kuno yang diucapkan oleh Beng San. la nampak lebih tenang, wajahnya selalu berseri dan berkali-kali dia me-nyatakan bahwa sekarang dia rela mati, tidak takut mati lagi. Beng San memang banyak menghafal kitab-kitab yang per-nah dia baca di Kelenteng Hok-thian-tong. Selain kitab-kitab Agama Buddha seperti Dhammapada dan lain-lain, dia , juga membaca dan menghafal isi kitab Upanisad dan kitab-kitab Su-si-ngo-keng pelajaran Nabi Khong Cu.



Kurang lebih seratus hari kemudian, Beng San sudah mempelajari semua ilmu yang diturunkan oleh kakek buta itu kepadanya. Tentu saja yang dia pelajari dan hafalkan hanya teorinya, adapun tentang prakteknya, baru sedikit-sedikit dia latih di bawah petunjuk kakek Souw Lee. Pagi hari itu kakek Souw Lee berkata.



"Beng San anak baik. Semua pengerti-anku tentang ilmu batin yang dihubungkan dengan ilmu silat, tentang s!u!ian|l Iweekang dan khikang, semua telah ku-ajarkan kepadamu. Hanya tinggal kau tekun melatih diri saja. Berkat hawa Im-Yang di dalam tubuhmu yang amat luar biasa, ditambah bakat dan ketekunan,kau tentu akan mendapat kemajuan pesat dan besar, jauh lebih besar daripada aku sendiri. Mulai hari ini, kau harus perei tinggalkan aku."



Beng San kaget. la sudah mulai betah tinggal di tempat sunyi itu bersama kakek Souw Lee. Kenapa sekarang disuruh per-gi? Hampir Beng San menangis ketika dia berkata.



"Kakek Souw, kenapa kau mengusirku? Apa salahku? Kakek yang baik, biarkan-lah aku berada di sini mengawanimu....."



Kakek Souw Lee mengelus-elus kepala Beng San. "Anak baik, banyak persamaan nasib antara kita. Kau harus meninggalkan aku, demi untuk kebaikanmu senairi, juga untuk kemajuanku. Aku hendak ber-tapa menebus semua penyelewenganku yang dahulu, membersihkan pikiran clan hati. Dan kau, kau masih muda, kau harus mencari kemajuan dalam hidupmu. Kalau kau tinggal di sini, amat berba-haya. Kau tahu, banyak tokoh jahat yang amat lihai mencari aku.



"Kenapakah, Kakek Souw Lee? Kenapa mereka mencarimu?"



Souw Lee mengeluarkan sepasang pedangnya. "Karena inilah, sepasang Liong-cu Siang-kiam inilah. Untuk jaman ini, sepasang pedang ini termasuk pedang s keramat yang ampuh dan jarang men-dapatkan tandingnya. Pedang ini dahulu pusaka dari seorang pendekar besar ber-nama Sie Cin Han yang dijuluki Pendekar Bodoh. Kaulihat yang panjang ini dan pada gagangnya terdapat huruf JANTAN, nah, inilah yang dipakai oleh pendekar itu. Adapun yang pendek dan berhuruf BETINA ini dahulu dipakai oleh pendekar wanita yang terkenal berjuluk Ang 1 Niocu (Nona Baju Merah). Akan tetapi, hal itu sudah terjadi ratusan tahun yang lalu. Kemudian, setelah beberapa ke-turunan, sepasang pedang ini lenyap. Ba-nyak tokoh kang-ouw mencari, akan te-tapi tak seorang pun tahu di mana lenyapnya pedang itu. Akhirnya akulah yang mendapatkannya, kucari dari gudiang istana kaisar!"



"Ah.....!" Beng San berseru kaget dan kagum.



"Semenjak itulah aku selalu dicari-cari oleh para tokoh kang-ouw. Yang lain-iain tidak ada artinya bagiku, akan tetapi orang-orang seperti Song-bun-kwi, Hek-frwa Kui-bo, Siauw-ong-kwi dan Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang, mereka itu amat berbahaya. Karena itu akhirnya aku menyembunyikan diri di sini. Aku pun sudah mendengar tentang Thian-te Siang-hiap yang sudah mendapatkan Im-yang Sin-kiam dan ingin aku mencari mereka untuk merampasnya. Akan tetapi Thian menghukum aku, agaknya dosaku ter-lalu banyak. Aku sudah terlalu tua sam-pai kedua mataku buta, namun belum juga aku dibebaskan dari dunia ini." Ka-kek itu menarik napas panjang dan dia berdongak ke atas seakan-akan dengan matanya yang buta dia mencari-cari Thian di atas!



"Kakek Souw, biarlah aku menemanimu di sini. Aku suka tinggal disini dan aku suka melayanimu."



Kembali Souw Lee mengelus-elus kepala Beng San. "Tidak bisa, Beng San. Akan berbahaya sekali. Setelah aku di-lihat oleh Song-bun-kwi dan Hek-hwa i Kui-bo yang tadinya menyangka aku su-dah mampus karena tua, apakah mereka dan yang lain-lain akan sudah begitu saja i sebelum merampas Liong-cu Siang-kiam . ini? Ah, mereka tentu akan muncul dan aku tidak mau melihat kau terbawa-bawa, apalagi nnemang kau piup dikehendaki mereka."



”Pergi ke manakah? Aku sebatang-kara....." Suara Beng San terdengar sedih dan bingung.



"Tak perlu gelisah. Bukankah sebelunn kau bertemu denganku, kau pun sudah sebatangkara? Aku akan memberi surat, kauberikan suratku ini kepada seorang sahabat baikku, yaitu Lian Bu Tojin ketua Hoa-san-pai. Kau tentu akan mendapat perlindungan di sana dan kau akan aman. Akan tetapi ingat, biarpun terhadap seorang sahabat lama seperti Lian Bu Tojin, aku tidak percaya kepadanya nnengenai persoalan Im-yang Sin-kiam-sut dan tentang Liong-cu Siang-kiam. Ingat, semua pelajaran yang sudah kuturunkan kepadamu itu merupakan kunci untuk membuka pintu gerbang persilatan bagimu. Kau harus melatih siulian dan . pernapasan. Dengan latihan yang tekun , kau akan dapat menguasai tenaga dalam Im dan Yang di dalam tubuhmi yang . amat kuat itu. Kau akan dapat mengatur , tenaga itu menurut sesukamu dan disesuaikan dengan Ilmu Silat Im-yang Sin-kiam-sut. Akan tetapi, jangan sekali-kali kau perlihatkan kepada orang lain, kau simpan rahasia itu. Sekali-kali tak boleh diketahui orang lain sebelum sem-purna latihanmu. Kalau kau melanggar pesanku ini dan sampai rahasiamu di-ketahui orang, ah..... kau akan meng-hadapi seribu satu macam bencana."

Beng San ragu-ragu. "Kakek Souw, aku tidak mengenal ketua Hoa-san-pai itu. Bagaimana kalau aku tidak betah tinggal di sana? Bagaimana kalau dia tidak mau menerimaku?"

Comments

Popular posts from this blog

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…