Skip to main content

Raja Pedang 8 (Kho Ping Hoo)

“Enak saja,” ia menggerutu, ”Taruhan yang tidak adil. Kalau tidak ada kutu busuknya, kau memotong hidungku. Bagaimana kalau ada kutu busuknya? Aku tidak punya apa-apa, hidungku adalah barang yang paling kusayang, kalau itu kutaruhkan, habis apa taruhanmu? Apakah kau juga mempertaruhkan hidungmu?”


Hek hwa Kui bo tak terasa lagi meraba hidungnya yang mancung. Tak mungkin ia mengorbankan hidungnya. Ia berpikir-pikir lalu berkata sambil tertawa mengejek, “Yang paling berharga padaku adalah kepandaianku. Aku pertaruhkan kepandaianku. Setiap kali kau memperoleh kutu busuk, kuhadiahkan sebuah ilmu silat kepadamu.”



“Hah, untuk apa ilmu silat?” Beng San berkata.



Perempuan aneh itu menengok dan matanya berapi. “Anak tolol! Kalau kau menerima satu macam saja ilmu silatku, apa kau kira orang-orang macam ayah anak Hoa san pai itu mampu mengganggu dan menghinamu?”



Beng San memutar otaknya. Betul juga. Wanita ini lihai bukan main. Alangkah baiknya kalau dia bisa memiliki kelihaian seperti wanita ini. Dia sebatang kara di dunia ini, sudah sering kali dihina orang. Jangan kata lagi orang-orang kota yang sering kali mengusirnya seperti anjing padahal dia tidak mengganggu mereka. Buktinya saja yang baru saja terjadi, tosu bau Siok Tin Cu itu menghinanya, kemudian Kwa Hong....



“Baik,” katanya, dan tak lama kemudian jari-jari tangannya mencabut sesuatu diantara rambut Hek hwa Kui bo.



“dapat seekor....!” katanya gembira setengah bersorak. Hek hwa Kui bo tersentak kaget, cepat memutar tubuh. Ia melihat di antara jari telunjuk dan ibu jari tangan Beng San terjepit seekor kutu hitam kemerahan yang menjijikkan. Kakinya banyak dan jalannya miring-miring. Meremang bulu tengkuk Hek hwa Kui bo. Seorang perempuan seperti dia, yang semenjak kecil jangan kata mempunyai kutu rambut, melihat pun belum, mana bisa membedakan antara kutu rambut dan kutu baju? Sama sekali dia tidak pernah mimpi bahwa ia kena ditipu oleh anak nakal ini. Beng San yang tadi merasa tak berdaya dan putus asa melihat rambut yang bersih itu, diam-diam mendapatkan akal. Pada bajunya banyak terdapat kutu, hal ini dia tahu betul, dan dia tahu pula dimana kutu-kutu itu paling senang bersembunyi. Karena bajunya memang hanya sebuah, tak pernah dicuci maka banyak kutunya dan karena kebiasaan, dengan amat mudahnya dia mengambil seekor kutu baju dan pura-pura mengambil itu dari rambut Hek hwa Kui bo. Biarpun perempuan ini seorang yang sakti dalam ilmu silatnya, karena dia duduk membelakangi Beng San dan tidak menduga sama sekali akan tipu muslihat ini, ia percaya penuh. Wajahnya agak pucat dan matanya melebar ketika ia melihat kutu kecil itu dijepit jari tangan Beng San.



“Celaka, darimana datangnya kutu busuk? Memalukan sekali. Hayo lekas bunuh dan cari lagi!”



Beng San tertawa dan memasukkan kutu busuk itu ke mulutnya. Ketika giginya menggigit terdengar suara “tesss!” dan dia meludahkan bangkai kutu busuk itu. Hek hwa Kui bo mengkirik penuh kengerian.



“Jahanam benar, darimana dia bisa datang ke rambutku?” tiba-tiba ia merasa kepalanya gatal-gatal sekali dan terpaksa ia menggaruk-garuk lagi, “Hayo cari terus, sampai bersih betul. Jahanam....”



“Eh, nanti dulu. jangan lupa taruhannya. Sudah dapat seekor.”



Hek hwa Kui bo melotot. “Siapa lupa? Cerewet benar. Aku hutang sebuah ilmu silat kepadamu. Hayo teruskan sampai bersih rambutku. Nanti berapa dapatnya tinggal hitung berapa hutangku kepadamu.”



Beng San mencari lagi dan seperti tadi, dia mengambil kutu baju dan berseru girang. Hek hwa Kui bo makin mengkirik. “Bagaimana bisa begini banyak? Celaka, jangan-jangan sudah bertelur!”



Beng San tertawa. Anak cerdik ini cepat berkata. “Aku tidak melihat telurnya, mungkin sudah menetas semua. Sudah dua ekor, Kui bo. Jangan lupa.”



“Siapa lupa? Hayo lekas cari lagi!”



“Kui bo, aku tidak khawatir kau lupa hanya khawatir kau melanggar janji. Ada yang bilang bahwa mengikat kerbau adalah pada hidungnya, akan tetapi manusia diikat pada bicaranya. Sekali mengeluarkan ludah takkan dijilat kembali, sekali mengeluarkan sepatah kata, sampai mati takkan dipungkiri. Itulah manusia gagah dan....!”



“Cerewet! Bocah ingusan macammu mau memberi pelajaran padaku? Aku takkan lupa, juga takkan melanggar janji. Hayo lekas habiskan kutu-kutu itu gatal semua kepalaku!” dan melihat kutu busuk kedua itu, terasa makin gatal kepala Hek hwa Kui bo.



Tadinya Beng San hendak mengeluarkan kutu sebanyak-banyaknya, akan tetapi ketika teringat bahwa belum tentu ilmu-ilmu silat yang akan diajarkan kepadanya itu menyenangkan, dia berbalik khawatir kalau-kalau malah akan menyusahkan saja. Maka setelah mendapatkan tiga ekor kutu busuk, dia berhenti dan berkata.



“Sudah habis, sudah bersih. Sekarang aku berani mempertaruhkan kepalaku bahwa di rambutmu sama sekali tidak ada kutunya seekorpun.”



Hek hwa Kui bo menarik napas lega, lalu membetulkan rambutnya yang tadi diawut-awut oleh anak itu. Kemudian ia memandang kepada Beng San dan tiba-tiba tertawa mengikik. Beng San sudah khawatir kalau-kalau perempuan kuntilanak ini hendak menipunya.



“Hi hi hi hi hi, aku berhutang tiga ilmu silat kepadamu? Bocah siapa namamu tadi?”



“Namaku Beng San.”



“Bocah, aku akan mengajarkan tiga macam ilmu silat kepadamu dan andaikata kau dapat mewarisi tiga ilmu silat ini, sepuluh orang anak murid Hoa san pai takkan mampu menangkan kau. Eh, kau bilang kau dijejali obat oleh seorang tosu yang membuat tubuhmu panas semua? Apa betul kau belum pernah belajar silat?”



“Belum pernah selama hidupku.”



“Coba kau pukul telapak tanganku ini, di waktu memukul meniupkan hawa dari mulut.”



Beng San menurut karena mengira bahwa demikian memang caranya belajar silat. Ia memukul telapak tangan wanita itu dengan tangan kanannya sambil meniupkan hawa dari mulutnya.



“Plakkk!” Hek hwa Kui bo merasa telapak tangannya dijalari hawa panas. Terang itulah tenaga Yang kang yang keluar dari kepalan Beng San.



“Hemmm, sekarang kau pukul lagi dengan tangan kiri sambil menahan napas.”



Beng San menurut, memukulkan kepalan tangan kiri kearah telapak tangan itu sambil menahan napas. Hek hwa Kui bo merasa telapak tangannya menerima hawa dingin yang lebih kuat daripada hawa panas tadi. Diam-diam ia terheran-heran. Bagaimana di dalam tubuh anak ini terdapat dua macam hawa Yang kang dan Im kang tanpa diketahui oleh anak itu sendiri. Dan kenapa seorang anak yang tidak pernah belajar silat bisa mempunyai dua macam hawa ini dan tidak mati karenanya? Di dalam tubuh setiap orang manusia memang pada dasarnya sudah terdapat dua macam hawa yang bertentangan itu, akan tetapi tidak sehebat ini.



“Dengar baik-baik. Kau akan kuberi pelajaran tiga macam ilmu silat. Akan tetapi ada syarat-syaratnya. Pertama, kau tidak boleh mengaku Hek hwa Kui bo sebagai gurumu.”



Beng San merenggut. “Siapa yang kepingin mengaku kau sebagai guru? Syarat ini cocok dengan pikiranku.”



“Kedua, kau harus berdiam terus di dalam hutan ini sebelum kau hafal benar tiga macam ilmu silat itu. Tergantung kepada otakmu. Kalau kau berotak udang dan beku, sampai sepuluh tahun belum hafal, kau tidak boleh keluar. Begitu keluar akan kubunuh kalau kau belum hafal.”



Beng San segera memprotes, “Aturan apa ini? aku tidak sudi. Kalau begitu, sudahlah, siapa yang kegilaan akan ilmu silat? Aku tidak usah belajar saja.”



Hek hwa Kui bo tertawa mengejek dan saputangannya bergerak-gerak. “Kau boleh tidak belajar, akan tetapi nyawamu kucabut. Kau kira aku seorang yang suka menjilat ludah sendiri? Aku sudah berjanji, kau harus menerima tiga macam pelajaran ilmu silat dan kau harus pula memenuhi syarat-syarat itu atau..... kau boleh mampus.”



Beng San memang bocah yang nakal dan berani, akan tetapi diapun amat cerdik. Sekarang sedikit banyak dia sudah mengenal watak kuntilanak ini yang selalu membuktikan omongannya, maka dia lalu berkata, “Baiklah, mempelajari ilmu silatmu atau tidak adalah sama saja! Apa sih gunanya? Kukira ilmu silatmu itu pun tidak akan ada artinya bagiku!”



Hek hwa Kui bo kena dibakar perutnya. “Tarrr!!” saputangannya berkelebat menyambar mengeluarkan suara keras, ujungnya melewati kepala Beng San dan menghantam sebuah batu di dekatnya. Alangkah kagetnya anak itu ketika melihat betapa pinggir batu itu gompal dan remuk seperti dihantam palu besar yang kuat dengan keras sekali.



“kau bilag tidak ada gunanya? Apa kepalamu lebih keras dari batu itu?” kata Hek hwa Kui bo mendelik.



Beng San kagum sekali dan mulailah timbul keinginan dalam hatinya untuk memiliki kepandaian seperti ini. Akan tetapi ia memperlihatkan sikap acuh tak acuh menyaksikan kehebatan wanita itu. Dia malah menarik napas panjang dan berkata,



“Apa artinya kelihaian ilmu silat kalau toh aku takkan mungkin dapat mempelajarinya? Aku tidak pernah belajar silat, bagaimana sekarang bisa mempelajari ilmu silatmu kalau tidak kau pimpin sendiri?”



hek hwa Kui bo tertawa mengikik, “Kau tentu bisa, pasti bisa. Aku memiliki tiga macam ilmu silat yang mudah dipelajari, biarpun oleh seorang tolol seperti kau. Pertama, adalah ilmu siulian (Samadhi) yang disebut Thai hwee (api besar) untuk mendatangkan kekuatan tenaga dalam berdasarkan Yang kang. Dalam menjalankan ilmu ini tubuhmu akan terasa panas sekali seperti terbakar, kau harus dapat menahan ini. Kedua, adalah ilmu pernapasan yang disebut Siu hwee (memelihara api) untuk membikin hawa Yang kang di badanmu memasuki semua pembuluh darah dan membikin badanmu kebal.”



“Apa artinya semua ini?” Beng San mencela. “Mana orang harus belajar supaya diri kuat dan tahan dipukul, apa selanjutnya aku hanya disuruh menjadi bahan pukulan? Aku ingin kau ajari cara memukul batu seperti tadi.”



Hek hwa Kui bo tertawa, “Tolol kau. Dua macam pelajaran itu adalah pokok daripada semua pelajaran silat. Yang ketiga, adalah ilmu pukulan yang kusebut Ci hwee (keluarkan api), terdiri dari tiga jurus pukulan yang mengandung hawa Yang kang. Nah, kau perhatikanlah sekarang semua petunjukku dan pelajari baik-baik. Aku hanya sudi memberi kesempatan belajar sehari semalam saja, setelah itu kau harus belajar sendiri.”



Demikianlah, wanita aneh ini sengaja menurunkan cara bersemedhi dan latihan pernapasan yang semata-mata hanya untuk memperbesar daya Yang kang di tubuh Beng San. Perbuatan ini sebetulnya amat licik dan jahat. Bagi orang lain, mungkin sekali ilmu-ilmu ini akan mendatangkan tenaga dalam tubuh yang luar biasa. Akan tetapi seperti telah diketahui di dalam tubuh Beng San pada waktu itu sedang mengalir hawa panas yang luar biasa, yang tentu akan menghanguskan jantungnya akibat ditelannya tiga butir pil buatan tosu Siok Tin Cu. Kalau saja dia tidak terkena pukulan Jing tok ciang dan terkena racun hijau akibat serangan Koai Atong. Hek hwa Kui bo tidak tahu akan serangan Koai Atong ini, akan tetapi wanita sakti ini cukup maklum bahwa tiga butir pil Yang Tan itu secara aneh sekali telah ditahan kekuatannya oleh semacam hawa Im yang berada di tubuh Beng San. Melihat ini, biarpun ia tidak mampu memaksa Beng San mengaku, wanita ini mempunyai dugaan bahwa tentulah Beng San ini murid seorang sakti lain. Hal ini amat tidak disukainya. Sudah menjadi watak Hek hwa Kui bo untuk tidak mau mengalah terhadap orang lain. Siok Tin Cu adalah cucu muridnya, karena guru tosu itu, ketua Ngo lian kauw, yaitu yang bernama Kim thouw Thian li (dewi kepala emas) adalah murid tunggalnya. Ketika mendengar bahwa Yang tan yang ditelan bocah ini tidak mematikannya, timbul perasaan di hati Hek hwa Kui bo maka ia sekarang sengaja mengajarkan dua macam ilmu itu untuk memperbesar dan memperkuat hawa Yang di tubuh anak ini agar pertahanan hawa Im di tubuhnya kalah.



Tentu saja Beng San yang tidak tahu apa-apa tidak mengandung hati curiga dan dengan penuh ketekunan dan ketelitian dia memperhatikan segala petunjuk wanita itu. Dasar bocah ini berotak cerdas dan terang sekali, menjelang senja, jadi baru saja setengah hari Hek hwa Kui bo memberi petunjuk, dia sudah mengerti baik bagaimana harus melakukan latihan Thai hwee, Siu hwee, dan Ci hwee.



Diam-diam hek hwa kui bo terkejut bukan main dan kagum sekali. Belum pernah ia melihat bocah secerdas ini otaknya. Akan tetapi memang Hek hwa Kui bo orang aneh. Hal ini bukan menimbulkan rasa sayang kepadanya, melainkan ia makin membenci dan iri hatinya. Dia sendiri dulu tidak memiliki kecerdasan seperti ini.



“Nah, kauboleh tekun melatih diri dengan tiga macam ilmu ini. Jangan sekali-kali berani keluar dari hutan kalau belum memiliki ilmu yang kuajarkan. Kalau kau melanggar, kau kubunuh!”



Setelah berkata demikian, sekali berkelebat wanita ini telah lenyap dari depan Beng San. Anak ini berhati lega. Mungkin ia akan menjaga di luar hutan, pikirnya. Akan tetapi kalau sampai dua tiga hari, apakah ia akan sabar menjaga terus? Pula hutan ini begini besar, kalau aku keluar dari lain jurusan, bagaimana mungkin dia bisa tahu? Dengan pikiran ini, dia enak-enak saja tidak mau melatih diri, malah segera memilih tempat untuk tidur yang aman dan enak, yaitu diatas sebatang pohon yang amat besar.



Pada keesokan harinya, dia juga tidak melatih diri, melainkan berjalan-jalan di dalam hutan, memilih tempat yang banyak ditumbuhi pohon-pohon berbuah agar tidak sukar lagi dia mencari kalau perutnya terasa lapar. Sampai dua hari Beng San hanya berkeliaran di dalam hutan tidak mau melatih diri. Dan pada malam ketiga, malam yang amat gelap, dia berjalan keluar dari hutan, mengambil jurusan yang berlawanan agar tidak diketahui oleh Hek hwa Kui bo. Hutan itu amat lebat sehingga menjelang fajar dia baru bisa keluar dari hutan.



Akan tetapi alangkah kagetnya ketika tiba-tiba ia mendengar suar ketawa nyaring dan cekikikan, suara ketawa kuntilanak! Dan sebelum dia sempat melihat darimana datangnya suara itu, tiba-tiba orangnya sendiri telah berkelebat dan berdiri di depannya dengan saputangan panjang itu diputar-putar dengan sikap mengancam sekali.



Beng San takut bukan main, akan tetapi dia cerdik. Cepat-cepat dia berkata “Hek hwa Kui bo, perutku lapar sekali, semalam penuh putar-putar di dalam hutan mencari makanan tidak ada. Aku tersesat sampai sini....”



Hek hwa Kui bo memandang tajam, “Kau bukannya hendak lari?”



“Tiga macam ilmu belum kuhafal sempurna, bagaimana aku berani mati meninggalkan tempat ini? seorang laki-laki sudah berjanji....” Ia tidak melanjutkan kata-katanya karena memang tadinya dia bermaksud hendak lari.



Hek hwa Kui bo tertawa ganjil, sepasang matanya bersinar-sinar. “Kau pelajari saja baik-baik, dalam beberapa hari takkan sukar menangkap binatang hutan untuk dimakan.”



Beng San memasuki hutan kembali dan dia mendengar dari jauh wanita itu menggerutu, “Anak tahan uji....”



Sekarang yakinlah hati Beng San bahwa tak mungkin dia dapat pergi tanpa diketahui wanita sakti yang aneh itu. Nyawanya terancam bahaya maut kalau dia berani pergi. Tidak ada lain pilihan lagi baginya, kecuali mulai mempelajari tiga macam ilmu itu. Mula-mula dia melakukan Samadhi untuk meyakinkan ilmu Thai hwee seperti yang dia pelajari dari wanita itu. Dan benar saja, baru setengah malam dia duduk semadhi, dia merasa ada hawa panas sekali berkumpul di perutnya, makin lama makin panas sampai dia tidak dapat menahan lagi dan terguling pingsan! Ketika dia siuman kembali, dia menderita hawa dingin yang luar biasa, membuat tubuhnya seakan-akan menjadi beku.



Teringatlah dia semua pengalamannya di dalam hutan ketika dia bertemu dengan Kwa Hong. Begini pula penderitaannya. Kenapa setelah sekarang mulai melatih diri dengan ilmu yang dia pelajari dari Hek hwa Kui bo, agaknya penyakit aneh itu timbul kembali?



Beng San memiliki ketabahan dan kenekatan, daya tahannya, lahir batin amat kuat. Biarpun dia menderita banyak siksaan dari latihan pertama ini, dia lanjutkan terus. Tiga empat hari pertama setiap kali siulian paling lama satu malam dia tentu roboh pingsan. Akan tetapi pada hari kelima dia tidak pingsan lagi, ia tidak tahu bahwa akibatnya, mukanya makin lama menjadi makin merah dan akhirnya menjadi hitam seperti pantat kuali. Namun dia yang tak pernah melihat bayangan mukanya sendiri, tidak tahu akan hal ini!



Sebulan kemudian dia mulai dengan pelajaran kedua. Ketika dia mulai melatih pernapasan menurut ilmu Siu hwee (simpan api), dia merasa bahwa hawa panas yang dia dapat dari ilmu pertama itu berkumpul di pusarnya, lalu berpindah-pindah ke dadanya dan terasalah dada kirinya sakit seperti di tusuki jarum. Ia nekat terus dan akhirnya rasa sakit hebat itu menghilang dan sebulan kemudian, dia hanya merasa seakan-akan dalam dadanya tertekan sesuatu.



Bulan ketiga dia pergunakan untuk melatih diri dengan ilmu pukulan yang disebut Ci hwee (mengeluarkan api). Ilmu pukulan ini terdiri dari tiga jurus gerakan. Gerakan pertama menghantam kedua tangan dengan jari-jari terbuka kearah tanah di depan kakinya, kemudian gerakan kedua menghantam ke depan dan gerakan ketiga menghantam keatas. Gerakan-gerakan ini dilakukan dengan pemindahan kaki kanan kiri, yang satu di depan yang lain di belakang. Sederhana sekali akan tetapi ternyata amat sukar dilakukannya.



Baiknya Beng San sudah memperhatikan dengan teliti sekali dan akhirnya dia dapat melakukan gerakan-gerakan ini dengan baik pula setelah berlatih siang dan malam selama satu bulan. Tiap kali dia melakukan pukulan-pukulan dengan jari tangan terbuka, dia merasa dadanya yang tertekan agak enakan, seakan-akan agak berkurang tekanannya. Ia tidak tahu bahwa itu disebabkan karena ada hawa Yang kang keluar sehingga mengurangi tekanan hawa mujijat itu yang kini berkumpul di dadanya dan mengancam pekerjaan isi dadanya.



Empat bulan lewat ketika Beng San memberanikan diri keluar dari hutan. Dia tidak tahu dimana batas kesempurnaan mempelajari ilmu-ilmu itu, maka dia main-main untung-untungan saja. Kalau nanti ketemu Hek hwa Kui bo dan dia diuji dia akan mainkan sebaik-baiknya. Andaikata dinyatakan belum sempurna, bagaimana nanti sajalah. Selama empat bulan dia sudah merasa seperti terhukum. Tubuhnya tak pernah terasa enak lagi, selalu dia diserang hawa panas yang kadang-kadang membuatnya seperti gila. Dengan latihan-latihan itu, Hek hwa Kui bo telah menambah hawa Yang kang di badannya dan kalau dulu Tenaga Im kang akibat serangan Koai Atong lebih kuat, sekarang setelah dia berlatih, tenaga Yang kang yang lebih kuat di tubuhnya maka tidak lagi dia terserang hawa dingin, melainkan selalu kepanasan. Ia seperti seorang yang selalu menderita demam panas, akan tetapi bukan panas biasa, melainkan panas yang takkan tertahankan orang biasa, dan dia tentu sudah mati dulu-dulu kalau di badannya tidak terkandung racun dari jeng tok yang mengandung hawa Im.



Agaknya memang nasib Beng San harus menderita hebat waktu kecilnya. Memang agak aneh apa yang dia alami semua ini. tiga butir pil buatan Siok Tin Cu itu sebetulnya cukup untuk membunuh nyawa tiga orang dan kekuatan hawa Yang kang dari tiga butir pil itu semua terkandung di dalam tubuh Beng San. Seharusnya dia mati karena ini, akan tetapi siapa kira secara kebetulan sekali dia diserang oleh Koai Atong yang berotak miring sehingga tubuhnya kemasukan hawa Im kang yang malah lebih kuat daripada hawa Yang kang itu. Dan sekarang, Hek hwa Kui bo yang tidak tahu tentang penyerangan Koai Atong dan bermaksud membunuhnya dengan memperkuat hawa Yang dengan latihan-latihan itu, ternyata hanya menambah hawa panas sehingga bisa mengimbangi hawa dingin dari racun hijau. Dan karenanya, biarpun mukanya menjadi gosong hitam dan dadanya seperti terbakar, biarpun keselamatan nyawanya tetap terancam, namun Beng San masih hidup dan dapat tahan sampai sekian lamanya!.



Alangkah girang hati Beng San ketika dia tidak melihat munculnya Hek hwa Kui bo. Setelah keluar dari hutan itu berdebar hatinya saking girangnya. Benar-benar dia tidak melihat bayangan wanita itu. Di samping kegirangannya, dia pun merasa mendongkol sekali.



“Siluman kuntilanak jahat,” gerutunya. “Aku telah ditiupunya. Disuruh mempelajari ilmu siluman selama berbulan-bulan dan dia ternyata tidak menjaga di sini. Dasar bodoh, kalau tahu begini, siapa sudi menjadi monyet didalam hutan berbulan-bulan?” sambil memaki-maki Hek hwa Kui bo di dalam hatinya, Beng San melanjutkan perjalanan. Karena dia berada di daerah pegunungan dan disitu tidak terlihat adanya dusun atau orang lewat, dia lalu berjalan kemana saja tanpa tujuan tertentu. Akan tetapi semua pengalamannya itu mendatangkan keinginan di dalam hatinya untuk mempelajari ilmu silat yang betul-betul dan yang tinggi agar dia dapat mencegah orang lain melakukan penghinaan atas dirinya. Kalau teringat kepada Kwa Hong, dia masih mendongkol sekali.



Pada hari ketiga, ketika dia merasa amat haus dan dia minum air, dia menjadi kaget setengah mati ketika melihat mukanya di dalam air. Aduh celaka, kenapa mukanya menjadi hitam seperti setan? Beng San tak percaya lalu pindah ke air yang lebih jernih untuk melihat mukanya sendiri. Akan tetapi tetap saja, mukanya jelas nampak hitam seperti pantat kuali.



“Celaka.... ah, mukaku jadi begini....” tak terasa lagi anak ini menangis tanpa mengeluarkan suara, hanya air matanya mengucur deras.



Setelah memutar otak, dia mencela diri sendiri. “Ah, kenapa aku harus menangis? Kenapa bersedih? Menilai orang bukan melihat warna mukanya, demikian kata para pujangga. Ada lagi yang bilang bahwa roman muka tidak mencerminkan keadaan hati dan watak. Aku boleh buruk, boleh hitam, mengapa pusing? Malu....? Malu kepada siapa? Huh....!” dan tiba-tiba dia mendengar suara cecowetan. Ketika dia memandang, dia melihat agak jauh, diatas pohon terdapat dua ekor lutung hitam, sepasang binatang itu duduk dan saling mencumbu, kelihatan akur dan saling mencinta.



Beng San tertawa, “Mukaku pun hitam seperti muka lutung. Siapa bilang muka jelek? Lihat itu, bagi mereka akan jeleklah andaikata muka kawannya itu putih tidak hitam. Hitam atau putih apakah perbedaannya? Baik dan buruk, dimana garis pemisahnya?” Beng San tanpa disengaja sudah mengeluarkan ujar-ujar dan filsafat-filsafat kuno yang pernah dibacanya di dalam kelenteng Hok thian tong ketika dia masih menjadi kacung kelenteng. Akan tetapi, biarpun ujar-ujar itu tentu saja belum dapat dimengerti oleh anak yang baru berusia sepuluh tahun ini, sedikitnya pada saat itu menjadi hiburan baginya, melenyapkan rasa duka dan kecewanya melihat bayangan mukanya yang hitam seperti muka lutung. Setelah puas minum dan mencuci muka, dia melanjutkan perjalanan.



Pada suatu pagi dia tiba di lereng sebuah gunung yang hijau. Ketika dia sedang berjalan hai-hati sekali di jalan kecil yang amat sunyi itu, tiba-tiba dia mendengar suara dua orang bercakap-cakap jelas di sebelah depannya. Ia mengangkat muka akan tetapi tidak melihat ada orang. Ia berjalan cepat dan tibalah dia di sebuah jalan kecil. Di kanan kiri jalan itu terdapat jurang yang panjang dan curam. Dan di tempat inilah dia mendengar suara dua orang bercakap-cakap dengan jelas sekali, akan tetapi tidak kelihatan orangnya! Biarpun hari sudah terang tanah,matahari sudah naik tinggi, namun bulu tengkuk Beng San berdiri juga saking seramnya. Bagaimana ada dua orang bercakap-cakap di depannya, seperti di kanan kirinya akan tetapi tidak melihat orangnya! Ia berdiri seperti patung dan mendengarkan dua suara orang yang saling jawab di kanan kirinya itu.



“Phoa Ti, kalau tidak keburu terjerumus disini, sekali mengenal pukulanku ilmu silat Pat hong ciang (ilmu silat delapan penjuru angin), kau tentu mampus!” demikian terdengar suara dari sebelah kiri Beng San, suara yang terbawa angin dari kiri tanpa kelihatan orangnya.



Segera suara dari kanan menjawab “Ha ha ha , orang she The, dari sini pun tercium mulutmu yang bau. Kalau tadi aku berlaku hati-hati sedikit dan tidak sampai terjerumus kesini, dengan ilmu silatku Khong ji ciang (ilmu silat hawa kosong) yang belum kukeluarkan, kau akan mampus lebih dulu.”



Beng San bingung sekali. Suara dari kiri terdengar kecil melengking, sedangkan yang dari kanan besar dan parau. Suara apalagi kalau bukan suara setan atau iblis? Masa kalau ada orangnya, tidak kelihatan sedangkan suaranya begitu jelas terdengar olehnya. Atau jangan-jangan semacam kuntilanak yang kejam itu, cuma kali ini pria. Beng San yang sudah mengalami hal-hal tidak enak dengan Hek hwa Kui bo, menjadi ketakutan dan segera dia berlari pergi.



Tiba-tiba dari sebelah kanan terdengar suara yang parau tadi, “eh siapa diatas?”



Beng San mempercepat larinya. Tiba-tiba dari sebelah kanannya menyambar semacam hawa yang amat kuat dan tak tertahankan lagi tubuh Beng San tergelincir kedalam jurang di sebelah kiri jalan! Tubuh anak itu bergulingan ke bawah. Untung baginya tidak ada batu-batu disitu dan jurang itu ternyata merupakan tanah lembek sehingga biarpun tubuhnya sakit-sakit, dia tidak menderita luka parah.



“Ha, ha, ha!” terdengar suara melengking tinggi tadi tertawa, kini dekat sekali. “Kau benar lihai, Phoa Ti, dalam keadaan luka parah masih mampu memukul roboh orang. Akan tetapi kau akan malu kalau melihat bahwa yang kau robohkan hanya seorang anak kecil berusia sepuluh tahunan. Ha, ha ha ha!”



Beng San cepat menengok dan terlihatlah olehnya seorang yang bertubuh tinggi besar bermuka merah duduk bersimpuh di dasar jurang. Benar-benar menggelikan melihat seorang bertubuh begini besar akan tetapi suaranya luar biasa tinggi dan kecil seperti suara perempuan. Orang itu sudah tua sekali mukanya penuh keriput daan agaknya terluka hebat, buktinya sukar menggerakkan kedua kakinya.



Tiba-tiba terdengar suara yang jelas, suara parau tadi tanpa kelihatan orangnya sehingga Beng San melupakan sakit-sakit pada tubuhnya dan mendengarkan dengan penuh perhatian.



“Orang she The, tak perlu kau mengejek. Kalau betul kau masih mempunyai ilmu silat cakar bebek yang disebut Pat hong ciang itu, kau datanglah kesini, biar aku melihatnya.”



Orang tinggi besar itu menjawab lantang, “Kau saja yang turun kesini kalau memang masih memiliki ilmu silat Khong ji ciang, siapa takut menghadapinya?”



Tidak terdengar jawabannya. Sampai lama tidak ada suara lagi dan Beng San hanya duduk sambil mengurut-urut kakinya yang terasa sakit ketika dia bergulingan tadi. Kemudian si tinggi besar itu berkata lagi.



“He, Phoa Ti, dimana kau?”



“Disini!” terdengar jawaban parau.



“Kenapa tidak turun kesini? Kau takut padaku?”



“Muka merah, jangan jual omongan busuk. Kau saja yang kesini, apakah kau tidak becus?”



Kali ini si tinggi besar yang duduk bersimpuh di dalam jurang itu tidak menjawab, sampai lama juga. Tiba-tiba dia melambaikan tangannya kepada Beng San. Anak itu segera menghampiri. Alangkah kagetnya ketika tiba-tiba tangannya dicengkeram oleh orang itu yang berbisik, “Kaulihat keadaannya bagaimana?” sebelum Beng San meklum apa maksudnya, tiba-tiba orang itu menggerakkan kedua tangannya sambil berteriak, “He, Phoa Ti, kau terimalah anak yang kau pukul roboh tadi.”



Hampir Beng San menjerit kaget ketika tiba-tiba tubuhnya melayang keatas seperti terbang cepatnya. Ternyata dia telah dilontarkan orang demikian kerasnya sehingga tubuhnya melewati jalan kecil diatas jurang tadi dan langsung tubuhnya melayang turun ke jurang sebelah kanan jalan tanpa dia dapat mencegahnya lagi. Beng San mengira bahwa tubuhnya tentu akan hancur, maka dia menutupkan kedua matanya, menerima nasib. Akan tetapi, tiba-tiba tubuhnya berhenti melayang dan ketika dia membuka matanya, ternyata dia telah ditahan oleh sebuah tangan yang amat kuat. Ia diturunkan dan ketika dia memandang, ternyata bahwa yang menahan jatuhnya tadi adalah seorang laki-laki tua sekali yang bertubuh tinggi kurus.



Seperti kakek besar tadi, kakek ini pun terluka hebat, buktinya tidak dapat menggerakkan kedua kakinya pula, malah kakek ini hanya merebahkan diri saja diatas dasar jurang yang penuh rumput hijau. Sekarang mengertilah Beng San bahwa dua orang kakek aneh ini saling bicara dari tempat masing-masing, yaitu yang seorang di dasar jurang sebelah kiri jalan sedangkan yang kedua di dasar jurang sebelah kanan jalan.



Benar-benar aneh bukan main, bagaimana dari tempat sejauh ini bisa saling bercakap-cakap dengan seorang di seberang sana? Apalagi kalau mengingat akan pengalamannya tadi ketika dilempar dari jurang sebelah dan diterima di jurang ini, dia bergidik. Celaka, pikirnya, iblis-iblis ini kiranya tidak kalah aneh dan hebatnya daripada Hek hwa Kui bo.



Ketika kakek itu menggerakkan tangan kanannya yang menyangga tubuh Beng San, anak ini terguling keatas rumput. Beng San mulai memperhatikan kakek ini. Kakek yang amat tua, sedikitnya enam puluh tahun usianya, tubuhnya kurus seperti cecak kering, kedua kakinya tak dapat bergerak, malah tangan kirinya buntung.



Si tangan buntung ini segera berbisik “Eh, bocah sial. Bagaimana keadaan si tinggi besar itu?”



Diam-diam Beng San merasa mendongkol juga. Betapapun lihainya dua orang aneh ini dia merasa sudah dipermainkan seperti sebuah bola, dilempar kesana kemari maka jawabnya merengut. “Tak lebih buruk daripada engkau. Duduk bersimpuh tak dapat berdiri.”



Tiba-tiba si tinggi kurus yang tangan kirinya buntung ini tertawa meledak dengan suaranya yang parau dan keras sampai terngiang dalam telinga Beng San. “Ha, ha, ha, ha, The Bok Nam! Kiranya pukulanku tadi membuat kau tak berdaya di dalam jurang situ. Ha ha ha ha!”



Dari seberang sana terdengar jawaban, “Tak usah banyak cerewet kalau anak itu sudah mengobrol yang bukan-bukan. Kalau kau memang masih punya ilmu kepandaian datanglah kesini, aku tidak takut!”



Mendengar ini, si tinggi kurus yang bernama Phoa Ti itu terdiam. Tiba-tiba matanya bersinar-sinar aneh ketika dia memandang Beng San. “Bagus,” katanya perlahan, matanya tidak pernah lepas dari tubuh Beng Sans, “Tulang dan darahmu cukup baik. Kau bisa menjadi penguji dan penentu kalah menang antara aku dan The Bok Nam.” Setelah berkata demikian dia berteriak lagi.



“He, orang she The. Seorang gagah tidak perlu berpura-pura. Kau terluka tak dapat keluar dari jurang, aku pun demikian. Akan tetapi kita masih seri, belum ada yang kalah atau menang. Sekarang ada saksi bocah tolol ini. Mari kita adu kepandaian melalui bocah ini!”



Dari sana sampai lama baru terdengar jawaban yang merupakan pertanyaan, “Apa maksudmu?”



“Ha, kau tolol seperti bocah ini. Aku akan ajarkan dia beberapa jurus Khong ji ciang, kemudian dia datang padamu, menyerangmu dengan jurus itu, hendak kulihat apakah kau mampu memecahkannya. Demikian pula kau boleh turunkan Pat hong ciang, ilmu cakar bebek itu kepadanya, hendak kupecahkan. Siapa tidak mampu memecahkan sejurus serangan, dia boleh mengaku kalah disaksikan setan-setan jurang. Bagaimana?”



Terdengar sorak gembira dari sebelah sana. “Bagus! Memang betul, burung yang mau mati suaranya paling indah. Kau pun yang sudah hampir mampus ternyata mampu mengeluarkan kata-kata bagus. Hayo lekas, kauturunkan ilmumu Khong ji ciang cakar ayam itu.”



Beng San yang mendengar ini pula tentu saja dapat menangkap maksud mereka. Sebetulnya di dalam hati, dia merasa girang juga karena hendak diajari dua macam ilmu yang pasti hebat ini, akan tetapi karena sebetulnya keinginannya belajar silat hanya karena marah kepada mereka yang sudah menghinanya, maka keinginan itu tidak berapa besar. Sekarang dalam keadaan marah kepada dua orang kakek yang mempermainkannya seperti bola dan sekarang hendak menggunakan dia untuk bertempur, dia menjadi makin dongkol lalu berkata keras.



“Aku tidak sudi mempelajari ilmu cakar bebek dan cakar ayam!” setelah berkata demikian, dia hendak keluar dari jurang itu, mendaki tebingnya yang licin oleh rumput basah. Akan tetapi baru setinggi semeter lebih, dia merasa tubuhnya seperti ditarik orang dan tanpa dapat ditahan lagi terpelantinglah dia kebawah. Ia menoleh, tidak melihat ada orang di dekatnya kecuali kakek buntung yang masih rebah miring tapi jatuhnya empat lima meter dari tempatnya. Ia mendaki lagi, kembali terpelanting malah lebih keras dari tadi. Tiga empat kali dia terpelanting tanpa mengetahui sebabnya. Kakek itu tertawa mengejek dan makin panas hati Beng San. Sekarang dia mendaki lagi, akan tetapi mukanya menoleh memandang kearah kakek itu. Sampai hampir dua meter dia memanjat dan terlihatlah kakek itu menggerakkan tangan kanannya kearahnya dan.... dia tertarik lalu terpelanting ke bawah.



Bukan main marahnya. Dihampirinya kakek itu dan dibentaknya. “Kau orang tua menghina anak-anak, apa tidak malu. Punya kepandaian hanya untuk mengganggu anak-anak, apa ini bisa dibilang gagah?”



Tiba-tiba kakek itu mengulur tangannya dan tahu-tahu leher Beng San sudah dijepitnya. “Anak bodoh, anak setan. Kalau kau tidak mau membantu kami mengadu, kau boleh tinggal disini menemani aku mampus.”



Beng San anak yang cerdik akan tetapi dia pun bandel bukan main. Diancam mati anak ini tidak takut malah menantang, “Kakek bau, kau mau bikin mampus aku? Hemmmm, mau bunuh boleh bunuh, kalau kalian ini dua orang kakek bau tidak takut mampus, apakah akupun takut mati? Kau sudah tua tidak mencari jalan terang, tua-tua mau memupuk dosa, rasakan saja nanti di neraka jahanam!”



Phoa Ti tercengang dan cengkeramannya pada leher anak itu mengendur. Matanya terbelalak kaget dan heran. “Apa? Kau anak masih begini kecil tidak takut mati? Hemmmm, agaknya lebih banyak kesengsaraan kauderita daripada kesenangan.”



“Senang apa? Hidup hanya menjadi permainan orang, malah sekarang menjadi korban kegilaan dua orang kakek yang sudah mau mati,” jawab Beng San.



Tiba-tiba Phoa Ti tertawa bergelak suara ketawanya begitu keras sampai bergema di atas jurang.



“He, orang she Phoa. Kau tertawa-tawa dan tidak lekas kirim anak itu kesini memamerkan ilmu cakar bebekmu apa sudah miring otakmu?”



“Ha, ha, ha, The Bok Nam. Anak ini sama sekali tidak tolol atau gila, malah dia lebih gila daripada yang gila. Anak yang aneh sekali, dan kau tidak ada sepersepuluh anak ini. he he hehe!”



Beng San hanya melongo menyaksikan kelakuan yang aneh itu dan lebih lagi keheranannya ketika dia melihat kakek buntung itu tiba-tiba menangis! Di dasar hati Beng San terpendam sifat welas asih yang besar, yang dulu dihidupkan oleh pelajaran-pelajaran di dalam kelenteng oleh para pendeta budha. Sekarang melihat kakek itu menangis, tak terasa lagi matanya menjadi merah dan dia menyentuh lengan yang tinggal sebelah itu.



“Orang tua, kenapa kau menangis sedih? Apa kau takut mati?”



“Sudah berani hidup kenapa takut mati? Yang kutakuti bukan matinya, akan tetapi.... ah, di seberang kematian yang penuh rahasia....”



Anak sekecil Beng San, mana tahu akan segala perasaan seperti ini? Ia hanya dapat merasa bahwa kakek ini benar-benar amat gelisah dan berduka. Makin tebal rasa kasihan di hatinya.



“Kakek, apa yang dapat kulakukan untuk menolongmu! Katakanlah barangkali aku dapat menolong....”



Akan tetapi Phoa Ti masih menangis terus dan Beng San sudah berlutut sambil menghibur. Tiba-tiba kakek itu menghentikan tangisnya dan wajahnya menperlihatkan harapan besar.



“Anak baik, kau bisa menolongku! Yang membuat aku takut menghadapi kematian adalah The Bok Nam. Dia juga terluka dan mau mati. Aku tidak ada muka bertemu dengan dia di seberang kematian kalau aku belum bisa mengalahkannya. Maka kau tolanglah aku, Nak, tolonglah supaya aku bisa menang dalam pertarungan ini dan mendapat muka terang.”



Beng San terheran-heran. Akan tetapi melihat sinar mata yang penuh permohonan itu dia tidak tega menolak, “Baiklah akan kucoba. Tapi bagaimana?”



Seketika itu kakek itu bangkit semangatnya. Biarpun dia sudah tidak dapat bangun lagi, namun tangan kanannya membuat gerakan-gerakan penuh gairah. “Kau perhatikan baik-baik. Aku akan menurunkan tiga jurus lihai dari ilmu silatku Khong ji ciang. Lihat ini, dua buah jariku ini adalah gerakan-gerakan kaki yang harus kau lakukan dalam jurus pertama.” Kakek itu lalu menekuk tiga jari tangannya dan mendirikan jari telunjuk dan tengah seperti sepasang kaki. Kedua jari itu, seperti sepasang kaki bergerak-gerak maju mundur secara teratur sekali.



“Nah, kau lakukan dulu gerakan kaki ini, jurus pertama yang disebut jurus Khong ji khai bun (dengan hawa kosong membuka pintu).”

Comments

mat cilik said…
halo pak met malem blog walking dulu he3x

Popular posts from this blog

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…