Skip to main content

Raja Pedang 7 (Kho Ping Hoo)

Kwa Tin Siong yang kaget mendengar jerit sumoinya, juga menjadi lengah dan sebuah babatan golok kearah pinggangnya hampir saja membuat tubuhnya putus menjadi dua. Baiknya dia telah mengelak dan meloncat sehingga hanya paha kirinya saja yang terluka, cukup parah namun tidak cukup untuk merobohkannya. Betapapun juga, keadaan Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa sudah amat terancam dan sewaktu-waktu dapat dipastikan bahwa mereka tentu akan menjadi korban keganasan musuh-musuh mereka ini.



Pada saat itu terdengar orang tertawa dan bernyanyi-nyanyi. “Ha, ha, ha, ho, ho,” orang itu tertawa-tawa ketika tiba di dekat tempat pertempuran, “ada anjing-anjing berebut tulang! Anjing-anjing penjilat Mongol mengeroyok.... heh he heh, aku tak dapat tinggal diam saja. Heiiii! Biarkan aku ikut main-main, waah, gembira benar nih!” muncullah seorang laki-laki tinggi besar yang pakaiannya tidak karuan, berkembang-kembang seperti pakaian wanita dengan potongan pakaian bocah. Sikapnya juga seperti seorang anak kecil padahal wajahnya menunjukkan bahwa usianya tentu empat puluhan. Koai Atong, memang tokoh yang sudah kita kenal inilah yang muncul. Dengan anak panah di tangannya dia menyerbu pertempuran. Pertama-tama dia menyerbu dua orang yang mengeroyok Sian Hwa. Begitu anak panah di tangannya ditangkis dua golok orang yang mencoba untuk membabat patah pedang Sian Hwa, dua orang itu mengeluarkan seruan kaget karena hampir saja golok mereka terlepas.



“Heh, heh, heh, terimalah pukulanku, kau dua hidung kerbau!” tangan kirinya lalu diputar-putar secara aneh dan mendorong ke depan. Dua orang itu merasa ada angin menyambar yang berbau seperti daun busuk. Mereka adalah orang-orang yang sudah banyak pengalaman, maka cepat mereka menghindar, namun tetap saja angin pukulan orang aneh itu membuat mereka terhuyung ke belakang sampai empat lima langkah! Akan tetapi Koai Atong tidak mendesak terus. Melihat dua orang lawannya itu mundur-mundur ketakutan, sambil bernyanyi-nyanyi dia melangkah lebar menghampiri medan pertempuran Kwa Tin Siong. Juga disini dia memutar anak panahnya beberapa kali menangkis golok tiga orang itu, lalu tangan kirinya mendorong-dorong dan robohlah seorang diantara mereka, yaitu si penculik tadi. Yang dua terhuyung-huyung ke belakang dengan muka pucat karena merasa isi perut hendak muntah keluar. Melihat gelagat buruk, empat orang itu lalu menceplak kuda dan kabur dari situ sambil membawa tubuh si penculik yang pingsan dengan mata mendelik dan muka kehijauan. Terdengar suara mereka dari jauh, “Koai Atong.... Koai Atong....!”



Kwa Tin Siong menarik napas lega. Luka di pahanya tidak dipedulikannya. Ia terlampau tegang mendengar nama “Koai Atong” tadi. Nama ini sudah tentu saja pernah didengarnya sebagai nama seorang diantara iblis dunia persilatan. Ia segera menjura dengan hormat kepada orang aneh itu dan berkata, “Nama besar.... Koai... enghiong... sudah lama siauwte mendengarnya. Hari ini enghiong menolong nyawa siauwte berdua dengan sumoi dan anakku, sungguh budi besar sekali....” Kwa Tin Siong tidak berani menyebut orang itu Koai Atong yang berarti anak setan, maka diubahnya menjadi Koai enghiong (orang gagah Koai). Akan tetapi Koai Atong yang diberi hormat itu longang-longong, memandang ke kanan kiri dan berbalik dia bertanya.



“Eh, kau ini bicara kepada siapa?”



Kwa Tin Siong melengak. “Kepadamu Koai enghiong....”



“namaku Koai Atong, mana ada enghiong-enghiong segala, enghiong itu apa sih? Sayang, main-main sedang ramai-ramainya, mereka pergi. Licik benar. Eh, dia apamu? Anakmu?” ia menuding kearah Sian Hwa yang masih duduk bersimpuh dan sedang berusaha membetulkan sambungan lututnya yang kena tendang tadi.



“Bukan, dia sumoiku, dan anakku....” tiba-tiba muncul Kwa Hong berlari-lari. Anak ini gembira sekali nampaknya.



“Aku anaknya! Orang aneh, kau jempol sekali!” Kwa Hong memandang kagum dan mengacungkan jempol tangannya keatas. “Hanya dengan memutar tangan kiri dan menggertak sudah bisa mengusir anjing-anjing itu. Jempol!” ia lalu meniru-niru gerakan tangan kiri Koai Atong tadi yang diputar-putar dan dipakai mendorong-dorong.



“Ha, ha, ha, ha,!” Koai Atong tertawa terpingkal-pingkal “kau pintar menari, ya? Bagus, ya?” ia pun lalu menari-nari dan memutar-mutar tangannya sambil melirik-lirik dan tersenyum-senyum hingga seperti seorang yang sedang pandai melagak dan manja. Tentu saja ini hanya sikapnya dan melihat keadaannya dia lebih pantas disebut orang gila yang segila-gilanya.



Melihat orang itu menari-nari lucu, Kwa Hong tertawa mengikik sambil menutupi mulutnya. Sian Hwa dan Kwa Tin Siong tidak berani tertawa karena mereka maklum akan kelihaian dan keanehan orang kang ouw ini. Koai Atong juga berhenti menari.



“Orang aneh, kau benar-benar hebat. Kau telah menolong Bibiku dan ayahku. Terima kasih ya?” kata Kwa Hong.



“Aku tidak senang kepada mereka,” kata Koai Atong merengut. “Mereka itu anjing-anjing Mongol.”



“Koai enghiong....” bantah Kwa Tin Siong. “mereka itu adalah orang Pek lian pai, apa betul penjilat Mongol?”



“Tak peduli Pek lian pai atau Hek lian pai penjilat-penjilat Mongol aku tak suka.”



“Koai Atong, kau betul!” Kwa Hong berseru girang. “Aku pun tidak suka kepada mereka.”



Koai Atong kelihatan girang sekali, seperti seorang anak-anak yang bertemu dengan kawan baik. “Bagus, kita cocok. Mari ikut aku pergi main-main. Aku banyak mengenal tempat yang bagus-bagus!” Koai Atong menyambar tangan Kwa Hong dan sebelum Kwa Tin Siong dan Sian Hwa sempat mencegah, orang aneh itu sudah berlari cepat sekali dengan langkah-langkah yang lebar sambil menggandeng Kwa Hong.



“Koai enghiong tunggu....! jangan bawa pergi anakku!” Kwa Tin Siong berseru sambil mengejar. Juga Sian Hwa ikut mengejar, akan tetapi karena paha Kwa Tin Siong sudah terluka sedangkan lutut Sian Hwa masih membengkak, keduanya tak dapat berlari cepat dan sebentar saja sudah tidak kelihatan lagi bayangan orang tinggi besar itu bersama Kwa Hong.



“Celaka....!” Kwa Tin Siong membanting-banting kakinya dan nampak berduka sekali.



“Jangan berduka, twa suheng. Biarpun amat aneh, kurasa orang itu takkan mengganggu Hong ji. Dia seperti seorang anak-anak mendapatkan teman dan mengajak Hong ji bermain-main. Dia lihai sekali, pasti mampu menjaga Hong ji baik-baik.”



Kwa Tin Siong menarik napas panjang. “Aku tidak mengkhawatirkan dia mengganggu Hong ji, juga tentang penjagaan, kiranya dia akan lebih baik dari padaku karena kepandaiannya lebih tinggi. Sudah banyak aku mendengar tentang Ban tok sim Giam Kong dan muridnya itu, Koai Atong. Siapa yang tidak ngeri mendengar nama mereka? Mereka itu benar bukan tergolong orang-orang jahat akan tetapi mereka aneh sekali dan kadang-kadang melakukan perbuatan yang tak terduga-duga. Bagaimana hatiku tidak akan khawatir? Kapan aku dapat bertemu kembali dengan anakku?” Ketika mengucapkan kalimat terakhir ini, wajah Kwa Tin Siong nampak berduka sekali, membuat sumoinya terharu.



“Suheng, kalau begitu, mari kutemani kau mengejarnya. Mustahil takkan tersusul, dia kan sering kali berhenti untuk bermain-main. Kalau kita membujuknya tak berhasil, kita bisa menggunakan kekerasan.”



Kwa Tin Siong menggeleng kepala. “Percuma sumoi. Kita masih menderita luka. Pula agaknya Hong ji juga senang bermain-main dengan orang itu. Buktinya ketika dibawa pergi tadi diam saja. Sudahlah biar hitung-hitung menambah pengalaman anak itu. Kita mempunyai persoalan yang amat penting sekarang. Aku merasa ragu-ragu dan kecewa sekali menyaksikan sepak terjang orang-orang Pek lian pai.”



Sian Hwa yang tadi pikirannya penuh oleh keadaan Kwa Tin Siong, sekarang teringat akan urusannya sendiri. Ia mengertak gigi.



“Memang betul, suheng. Hampir saja kita sendiri pun menjadi korban keganasan Pek lian pai. Sudah jelas sekarang bahwa Pek lian pai sengaja memusuhi aku dan suheng, pendeknya memusuhi Hoa san pai.”



Kwa Tin Siong mengangguk-angguk. “Kupikir juga begitu. Tak mungkin secara kebetulan saja mereka mengganggu kau dan aku. Hemmmm, anehnya, mereka itu beranggota banyak sekali, mempunyai banyak mata-mata, apakah tidak tahu bahwa murid Hoa san pai tadinya bersimpati kepada mereka dan berniat membantu? Sumoi, kita tidak boleh berlaku secara sembrono. Lebih baik kita berunding dua orang suhengmu, kemudian kita minta nasehat suhu.”



Sian Hwa setuju. “Kalau begitu, mari kita kembali ke Hoa san, suheng, aku pun tidak betah tinggal di rumah, ingin bertemu para suheng dan minta bantuan membalaskan sakit hatiku.”



Kakak beradik seperguruan itu lalu meninggalkan tempat tadi dan langsung mereka berdua melakukan perjalanan ke Hoa san. Andaikata mereka itu bukan kakak beradik seperguruan, juga tidak sedang berada dalam keadaan berduka berhubung dengan urusan masing-masing, tentu mereka akan merasa sungkan juga melakukan perjalanan berdua saja. Seorang laki-laki dan seorang gadis, biarpun yang pria sudah berusia empat puluh tahun sedangkan yang wanita baru dua puluh tahun, namun si pria cukup tampan sehingga mereka merupakan pasangan yang cocok. Tentu saja bagi mereka sendiri tidak apa-apa karena memang semenjak Sian Hwa masih kecil, baru berusia sepuluh tahun, dia sudah menjadi adik seperguruan Kwa Tin Siong. Mereka melakukan perjalanan cepat karena ingin segera sampai di Hoa san.



**********



“Aduh.... Aduh, berhenti..... berhenti aku tidak bisa bernapas.... Kui bo, berhenti....!” Beng San berteriak teriak dengan napas tersengal-sengal. Bukan main cepatnya tubuhnya dibawa pergi sampai angin menyesakkan pernapasannya dan tangannya yang terbelit ujung saputangan juga amat sakitnya.



Tiba-tiba Hek Hwa Kui bo berhenti dan begitu melepas saputangannya ia menangkap tangan kanan Beng San dan membentak. “Kau pernah belajar silat kepada siapa?” Aneh sekali, kalau tadi ia bersikap manis dan genit di depan Beng San, kini dia berubah menjadi galak dan suara serta pandang matanya penuh ancaman.



Beng San seorang bocah tabah dan ndugal (nakal) mana ia kenal takut? Ia mengerahkan tenaga dan berusaha menarik tangannya, akan tetapi tak berhasil, malah cekalan wanita itu makin erat.



“Aku tak pernah belajar silat” jawab Beng San akhirnya karena tangannya yang dipegang terasa sakit.



“Bohong! Kalau tidak mengaku akan kupatahkan tanganmu!” ia memijat makin keras sehingga terdengar bunyi “Kretekk....” pada tangan Beng San. Anak itu meringis kesakitan. Baiknya wanita itu tidak sampai mematahkan tulang-tulang tangannya, akan tetapi tangannya terasa sakit sekali. Anehnya wanita itu nampak terheran-heran dan memandang tajam.



“Iblis cilik, kalau tak pernah belajar silat, kau tentu sudah mampus. Di tubuhmu ada hawa panas darimana kau peroleh?”



Diam-diam Beng San terheran-heran. Wanita ini aneh sekali, juga kepandaiannya seperti iblis. Mungkin betul-betul kuntilanak, bukan manusia. Kalau manusia, bagaimana agaknya bisa tahu segala?



“Aku pernah disiksa makan sebuah pil oleh seorang tosu bau bernama Siok Tin Cu....”



Wanita itu melepaskan pegangannya dan dengan terheran-heran ia menatap wajah Beng San, lalu kembali ia memegang tangan yang tadi dicengkeram dan kini tangan itu diperiksanya baik-baik. “Aneh.... aneh.... kau dipaksa makan pil oleh Siok Tin Cu? Lalu bagaimana?”



“Badanku terasa panas seperti dibakar, selanjutnya aku pingsan dan ketika sadar kembali, aku merasa tubuhku dingin sekali seperti direndam dalam es!”



“Bohong....!” Hek Hwa Kui bo menampar dan Beng San terjungkal. Akan tetapi anak itu bangun lagi, membuat Hek hwa Kui bo makin heran. Kenapa anak ini memiliki daya tahan yang begini luar biasa? “Kau bilang badanmu panas sampai pingsan, bagaimana setelah sadar menjadi dingin?”



Kini Beng San marah-marah. Perempuan atau siluman ini keterlaluan sekali. Dengan metenteng dia berdiri dan membentak, “Kau ini jahat benar! Mau bertanya atau mau tak percaya? Kalau tidak percaya, jangan bertanya. Pukul boleh pukul, mau bunuh boleh bunuh, kenapa membuat capai mulut tanya-tanya segala, kalau tidak percaya!”



Hek Hwa Kui bo makin terheran dan kagum. Belum pernah ia bertemu dengan seorang bocah seaneh ini. dia sendiri seorang tokoh besar yang sering kali diherani dan dikagumi orang, akan tetapi sekarang ia malah heran dan kagum kepada seorang bocah! Hal ini memang ada sebab-sebabnya. Hek Hwa Kui bo adalah seorang tokoh besar yang jarang mau berurusan dengan dunia ramai, apalagi memperdulikan seorang bocah seperti Beng San ini. hanya saja, ketika tadi ia melihat Beng san, ia menyaksikan hawa kemerahan yang terang sekali terbit dari hawa Yang kang yang amat kuat dari tubuh bocah ini, maka ia mengerti bahwa anak ini adalah seorang ahli Yang kang atau setidaknya di dalam tubuhnya terkandung sesuatu yang mengeluarkan hawa itu. Karena sudah menjadi wataknya tidak suka melihat orang-orang lihai di dunia ini disamping dia sendiri dan muridnya, maka timbul maksud hatinya untuk membunuh Beng San. Maka tadi ia sengaja membawa lari Beng San dengan cepat untuk membunuhnya, karena pegangannya tadi mengandung saluran tenaga mematikan. Alangkah herannya ketika melihat Beng San hanya tersengal-sengal saja dan tidak mati. Lebih-lebih lagi herannya ketika ia meremas tangan Beng San, ada daya tahan yang luar biasa yang mencegah tulang-tulang anak itu remuk. Inilah luar biasa! Dia sendiri seorang ahli Yang kang, masa tak dapat menguasai hawa di tubuh anak ini? Demikianlah, maka Hek Hwa Kui bo jadi ingin sekali mengetahui keadaan Beng San.



Disamping ini, ada juga rasa sukanya kepada bocah ini. Bocah aneh yang amat pemberani, bahkan yang suara cegahannya sudah membuat ia menurut, yaitu ketika ia hendak membunuh Kwa Tin Siong dan puterinya. Ada pengaruh yang amat ganjil dalam suara anak ini ketika mencegahnya tadi.



“Anak baik, mau bunuh kau apa sukarnya? Akan tetapi aku ingin tahu lebih dulu kau ini murid siapa?”



“Aku bukan murid siapa-siapa,” jawab Beng San tak acuh.



“Siapa namamu?”



“Beng San.”



“Siapa orang tuamu?”



“Orang tuaku....? Orang tuaku adalah.... Huang ho (sungai Kuning).”



Kembali Hek Hwa Kui bo melengak. Siapa takkan heran mendengar jawaban aneh ini. “jangan main-main! Dimana kedua orang tuamu? She apa?”



“Orang tuaku dimakan banjir Huang ho, siapa she-nya aku tak tahu. Eh, kuntilanak, mau apa kau main tanya-tanya terus? pergilah!”



Makin kagum Hek Hwa Kui bo. Ia melihat muka Beng San kotor sekali sehingga agak sukar baginya untuk melihat cahaya muka anak ini yang agak kehijauan dan agak kemerahan. “Kau kotor sekali. Pergilah mencuci muka.”



“Tidak mau”.



Akan tetapi, kembali ujung saputangan panjang di tangan Hek Hwa Kui bo bergerak dan tahu-tahu tubuh Beng San terlempar jauh dan.... jatuh kedalam sebuah anak sungai tak jauh dari situ. Beng San gelagapan dan meronta-ronta. Akan tetapi kemudian dia mendapat kenyataan bahwa air anak sungai itu amat jernih, maka timbul kegembiraannya dan dia malah mandi tanpa membuka pakaian! Dia tidak memperdulikan lagi kepada Hek Hwa Kui bo. Tak lama kemudian ia merasa tubuhnya dingin bukan main. Beng San menjadi ketakutan, khawatir kalau-kalau penyakit kedinginan seperti kemarin menyerangnya lagi. Cepat-cepat dia merayap naik dari anak sungai itu. Ternyata Kui bo masih menunggu disitu sambil memandang kepadanya dengan mata tak berkedip.



Setelah muka dan tubuh Beng San bersih dari debu dan kotoran, apalagi akibat dinginnya air membuat hawa Im kang menyerangnya lagi dan kulit mukanya menjadi kehijauan, Hek Hwa Kui bo menjadi bengong. Sama sekali itu bukan tanda bahwa di dalam tubuh anak ini terkandung hawa Yang, melainkan sebaliknya, kini penuh hawa Im yang aneh! Bukan main, luar biasa sekali ini! Hek Hwa Kui bo tanpa terasa lagi menggaruk-garuk rambut di kepalanya.



Beng San masih mendongkol. Tubuhnya dingin betul dan pakaiannya semua basah kuyup. Semua ini adalah karena perbuatan kuntilanak itu. Maka dia lalu menghampiri dan memaki.



“Kuntilanak galak, kau pun harus mandi!”



Merah muka Hek Hwa Kui bo, merah karena malu! Memang orang aneh, disuruh mandi begitu saja timbul pikiran bahwa alangkah memalukan kalau ia harus mandi di depan anak laki-laki ini.



“Kurang ajar, aku sudah cukup bersih. Tak perlu mandi.”



Tiba-tiba Beng San tertawa bergelak. Ia mendapat kesempatan utnuk membalas menghina orang atau siluman ini. “Bersih katamu? Ha, ha , ha! rambutmu penuh kutu busuk, masih berani bilang bersih?”



Merupakan pantangan bagi Hek Hwa Kui bo kalau ia dicela orang, apalagi tentang kebersihan atau kecantikannya. Entah sudah berapa banyaknya orang mati di tangannya hanya karena kesalahan mulut menyatakan bahwa ia sudah tua, tidak cantik dan lain celaan lagi. Sekarang ia pun amat marah, akan tetapi karena pribadi Beng San menimbulkan keheranan dan kekaguman, ia tidak segera turun tangan, hanya bertanya dengan suara dingin.



“Kau bilang rambutku penuh kutu busuk? Apa buktinya?”



Beng San masih tertawa-tawa. “Kau tadi menggaruk-garuk kepalamu, itulah tanda bahwa rambutmu banyak mengandung kutu busuk! Aku berani bertaruh bahwa disitu bersarang banyak kutu busuk dengan telur-telurnya....”



Saputangan di tangan Hek Hwa Kui bo bergerak dan tahu-tahu ujungnya telah melibat leher Beng San! Baiknya wanita aneh ini hanya menakut-nakuti saja, kalau ia menggunakan tenaga, dalam sedetik leher itu akan putus! Namun Beng San maklum bahwa nyawanya terancam, maka cepat dia mengerahkan tenaga dan berseru.



“Membunuh anak kecil, huh, mana bisa dibilang gagah? Mengalahkan musuh tangguh baru bisa dibilang gagah, akan tetapi mengalahkan diri sendiri lebih gagah lagi!” Saking takutnya, dia mengeluarkan ujar-ujar Khong Hu Cu yang dicampur dengan kata-katanya sendiri.



Ujung saputangan itu mengendur dan Hek Hwa Kui bo tertawa. “Siapa sudi mengambil nyawa tikusmu? Hayo buktikan omonganmu, kau carilah kutu busuk itu di rambutku. Kalau tidak ada seekor pun hidungmu akan kupotong, tak perlu kuambil nyawamu!”



Bukan main kagetnya hati Beng San. Dipotong hidungnya lebih celaka daripada diambil nyawanya. Apa nanti jadinya kalau dia seterusnya harus hidup tanpa hidung, menjadi manusia yang menakutkan dan menjijikkan? Dan biarpun dia masih kecil, dia tahu bahwa wanita kuntilanak ini pasti akan membuktikan omongannya.



“Hayo cepat!” Hek hwa Kui bo membentak sambil duduk diatas rumput. Terpaksa Beng San lalu berlutut di belakangnya dan mulai mencari kutu busuk diantara rambut yang hitam, halus dan bersih serta berbau harum kembang itu. Mana ada kutu busuk diantara rambut yang begitu terpelihara rapi dan bersih?

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…