Skip to main content

Raja Pedang 6 (Kho Ping Hoo)

Mulai khawatir hati Sian Hwa, sepasang alisnya yang hitam bergerak-gerak.

“Ayah, apakah sebenarnya yang telah terjadi?” hatinya benar-benar mulai merasa tidak enak karena ia sudah menduga bahwa pasti terjadi sesuatu dengan diri tunangannya, Kwee Sin.




“Manusia she Kwee itu ternyata bukan orang baik-baik, Sian hwa. Biarpun dia itu murid Kun lun pai, biarpun dia seorang diantara Kun lun Sam hengte namun sekarang ia telah tersesat. Dia gulung-gulung dengan seorang wanita jahat, kalau tidak salah wanita itu seorang dari perkumpulan Ngo lian kauw yang dipimpin iblis. Mataku sendiri melihat dia bermain gila secara tak tahu malu dengan wanita genit dan cabul itu. Sudahlah, pendeknya aku tidak rela anakku menjadi istri seorang laki-laki yang bergulung-gulung dengan wanita cabul!”



Dapat dibayangkan betapa kaget dan sedihnya hati Sian Hwa. Akan tetapi ia masih menahan-nahan perasaan dan bertanya sambil lalu, “Aneh sekali kenapa orang bisa begitu tak tahu malu, ayah? Dimanakah ayah melihatnya.... eh mereka itu?”



“Dimana lagi kalau tidak di Telaga Pok yang! Bermain perahu, bernyanyi-nyanyi, minum-minum, uh...... pendeknya, terlalu!” ayah ini menyumpah-nyumpah dan kembali menyatakan besok akan berangkat ke Hoa san untuk minta ketua Hoa san membatalkan perjodohan Sian Hwa dengan Kwee Sin.



Akan tetapi pada keesokan harinya, Liem Ta membatalkan kepergiannya ke Hoa san karena melihat bahwa anak gadisnya telah pergi secara diam-diam malam hari itu. “Ah”, pikirnya dengan hati duka, “Kasihan kau, Sian Hwa, kau tentu pergi menyusul ke Pok yang untuk menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Lebih baik lagi, lebih baik kau menyaksikan sendiri agar tidak penasaran hatimu....”



Dugaan Liem ta memang benar. Karena tak dapat menahan panasnya hati, gadis itu malam-malam pergi dari rumahnya menuju ke telaga Pok yang yang tidak berapa jauh letaknya dari dusunnya, hanya perjalanan tiga hari. Akan tetapi ketika ia tiba di telaga itu, tidak terdapat tunangannya itu diantara sekian banyaknya para pelancong. Ia bertanya kesana kemari dan selagi ia mencari keterangan, tiba-tiba seorang tukang perahu yang berkumis panjang mendekatinya.



“Nona hendak mencari siapakah?”



Sian Hwa berterus terang. “Aku mencari seorang teman, wanita cantik yang berpesiar disini bersama seorang pemuda yang....” ia tak sudi menyebut tampan dan menambahkan, ”yang mukanya putih....”



Tiba-tiba tukang perahu itu nampak sungguh-sungguh dan berkata perlahan-lahan “Apakah wanitanya itu seorang anggota Pek lian pai (partai Teratai putih)....?”



Sian Hwa terkejut. Pada masa itu, di mana Negara sedang kacau dan banyak perkumpulan-perkumpulan rahasia bertujuan merobohkan pemerintah, nama Pek lian pai amat terkenal sebagai perkumpulan besar yang berpengaruh. Sebagai seorang pendekar tentu saja Sian Hwa bersimpati terhadap perkumpulan Pek lian pai ini maka dapat dibayangkan betapa kagetnya mendengar pertanyaan si tukang perahu.



“Hemmmmm....” ia meragu, “mungkin demikian. Apakah kau melihat mereka?”



“Yang laki-laki muda tampan bermuka putih, menggantung pedang di punggung seperti nona sekarang ini, bukan?”



“Ya.... ya....”



Tukang perahu itu tertawa. “Ah, pengantin baru seperti mereka itu kemana lagi kalau tidak berpesiar ke tempat-tempat indah? Kebetulan sekali ketika mereka berpesiar disini, mereka selalu mempergunakan perahuku, Nona. Aahhh, benat-benar pasangan yang cocok, mesra dan saling mencinta....”



“Ngaco!” Sian Hwa membentak marah sehingga tukang perahu itu nampak ketakutan. “Katakan saja, dimana mereka berada?”



“Nona yang pakai teratai putih di rambutnya itu..... dan pemuda tampan itu.... kemarin sudah pergi dari sini. Menurut yang kudengar dari percakapan mereka, si pemuda hendak mengajak nona itu pergi ke dusun Lam bi chung.... dan....”



Sian hwa tidak melanjutkan pendengarannya, ia berkelebat pergi dan lari cepat menyusul, kembali ke Lam bi chung. Ia tidak melihat betapa seperginya, tukang perahu berkumis panjang itu tertawa mengejek.



Alangkah mengkalnya hati Sian Hwa ketika ia tidak dapat menyusul dua orang itu, buktinya sampai di dusun Lam bi chung, ia tidak melihat dua orang itu dan dapat dibayangkan betapa marah dan kagetnya ketika ia melihat ayahnya sudah rebah dengan luka-luka parah pada tubuhnya! Ia datang tepat di pagi hari dan ternyata ayahnya malam tadi diserang orang.







**********



“Siapakah yang menyerangnya, sumoi? Dan apakah.... apakah ayahmu meninggal akibat penyerangan itu?” Tanya Kwa Tin Siong yang sejak tadi mendengarkan penuturan adik seperguruannya itu dengan sabar. Kwa Hong dia suruh main di luar rumah karena dia rasa kurang baik anak-anak mendengarkan urusan besar.



Liem Sian hwa menyusut air matanya. “Ayah hanya dapat bertahan sehari saja, twa suheng. Luka-lukanya berat dan.... dan itulah yang membuat hatiku amat sakit. Ayah menderita tiga macam luka, yang pertama adalah tusukan pedang dekat leher, kedua adalah luka karena sebatang paku berkepala bunga teratai putih....”



“Hemmmm, pek lian ting (paku teratai putih)....” diam-diam Kwa Tin Siong terheran-heran karena itulah paku tanda rahasia anggota perkumpulan pek lian pai! “Dan luka yang ketiga?”



Tiba-tiba wajah Sian Hwa pucat sekali. “Yang ketiga adalah akibat pukulan Pek lek jiu.... dari Kun lun pai....”



Kwa Tin Siong hampir melompat saking kagetnya. “Apa....?”



Sian Hwa berkata dengan sungguh-sungguh. “Aku sudah memeriksa dengan teliti sekali, suheng. Tentu kau masih ingat dahulu suhu pernah menuturkan secara jelas sekali tentang Pek lek jiu Kun lun pai itu termasuk tanda-tanda bekas pukulannya. Aku merasa yakin bahwa dada ayah telah dipukul orang dengan ilmu pukulan Pek lek jiu (Pukulan Geledek) dari Kun lun pai....”



“Dan murid Kun lun pai yang terpandai menggunakan Pek lek jiu adalah.... Kwee Sin....!” kata jago pertama dari Hoa san Sie eng ini sambil merenung.



“Betul, twa suheng.” Liem Sian Hwa menangis lagi. “Aku harus membalas dendam....! Si keparat she Kwee, kalau belum membalas kekejamanmu, aku Liem Sian Hwa takkan mau sudah....”



“Husshhh, nanti dulu, sumoi. Kau tenanglah. Tak baik menjatuhkan dakwaan kepada seseorang tanpa bukti. Apalagi saudara Kwee Sin sepanjang pendengaranku adalah seorang gagah. Sebagai seorang termuda dari Kun lun Sam hengte, agaknya tak masuk akal kalau dia melakukan pembunuhan ini. Andaikata buktinya kuat, habis apa alasannya dia mau melakukan hal ini?”



“Twa suheng masa tidak dapat menduganya? Dia.... manusia she Kwee keparat itu, setelah terlihat oleh ayah di Telaga Pok yang, agaknya merasa malu dan takut kalau-kalau rahasianya disiar-siarkan oleh ayah. Dia dan.... siluman dari Pek lian pai itu.... tentu mengejar kesini dan membunuh ayah....”



“Kenapa begitu yakin?”



“Ayah sendiri yang mengatakan demikian, twa suheng. Ayah masih dapat menceritakan hal ini, biarpun amat sukar dia bicara.” Sian Hwa menghapus air matanya yang bercucuran deras ketika ia bicara tentang ayahnya. “menurut ayah, malam itu ayah terkejut dan terbangun dari tidur karena suara keras pada jendela. Begitu ayah melompat turun, dia roboh karena tusukan pedang yang mengarah leher, dan masih menyerempet ketika dielakkan oleh ayah. Kemudian ia terpukul pada dadanya, keras sekali membuat ayah hampir pingsan. Sebelum pingsan ayah mendengar suara ketawa seorang wanita dari luar jendela, kemudian terasa sakit pada pinggangnya karena tertusuk paku itu. Ayah masih mendengar kata-kata seorang laki-laki yang mengatakan bahwa ayah tak boleh sekali-sekali menghina seorang jagoan Kun lun! Malah ayah mendengar pula ejekan wanita itu yang menyatakan bahwa partai Pek lian pai tidak mau mengampuni orang-orang yang sombong.”



Kwa Tin Siong makin terheran-heran. Bagaimana mungkin Kwee Sin melakukan hal securang itu? Apalagi dia, wanita yang katanya anggota Pek lian pai yang tersohor sebagai perkumpulan orang-orang gagah, patriot-patriot bangsa! Malah dia sendiri sekarang mencari tiga orang adik seperguruannya untuk diajak berunding tentang memasuki partai itu dan membantu perjuangan.



“Apakah ayahmu melihat pula laki-laki dan wanita itu?” desaknya.



“Tidak, twa suheng. Kamar ayah gelap sekali, tidak ada penerangan. Hal ini pun menunjukkan bahwa dua orang yang datang menyerang ayah itu berkepandaian tinggi, dapat menyerang di tempat gelap secara tepat.”



“Apakah ayahmu mengenal suara saudara Kwee Sin?”



“Tentu tidak, suheng. Jarang sekali ayah bertemu dengan dia. Ah, twa suheng, kenapa kau masih ragu-ragu? Tak bisa salah lagi anjing Kwee Sin itulah yang membunuh ayah dibantu seorang siluman dari Pek lian pai. Twa suheng, hanya para suhenglah yan kiranya dapat membantu Siauw moi menuntut balas atas kematian ayah secara penasaran ini....”



“Siapakah orangnya yang tak kan ragu-ragu, sumoi. Dua hal yang amat berlawanan dengan dugaan dan pendengaran. Jago muda Kun lun.... dan seorang anggota Pek lian pai.... ah, kalau bukan kau yang tertimpa hal ini, agaknya sukar untuk percaya....”



Tiba-tiba mereka dikejutkan suara jeritan di luar rumah. “Tidak....! Pergi....!” itulah suara Kwa Hong!



Kwa Tin Siong mencelat dari kursinya keluar pintu, diikuti Sian Hwa yang juga meloncat dengan amat lincahnya. Bagaikan terbang melayang keduanya meloncat keluar dan melihat sebuah Pek lian ting (paku teratai putih) seperti yang dipergunakan orang melukai ayah Sian Hwa tertancap pada daun pintu depan! Dan Kwa Hong sudah tidak tampak lagi, hanya terdengar derap kaki kuda lari cepat menjauhi tempat itu.



“Cepat, twa suheng, kejar....!” Kwa Tin Siong melompat keatas kudanya dan Sian Hwa berlari-lari menuju ke halaman belakang rumahnya untuk mengambil kudanya pula. Di lain saat kakak beradik seperguruan ini sudah melakukan pengejaran. Sebentar saja Kwa Tin Siong tersusul oleh kuda tunggangan Sian Hwa, seekor kuda tunggang yang amat baik dan pilihan.



Dua orang pendekar ini adalah jago tertua dan termuda dari Hoa san Sie eng. Selain ilmu silat mereka yang tinggi, juga dalam hal menunggang kuda mereka adalah ahli-ahli yang jarang bandingannya. Apalagi Sian Hwa yang memang sejak kecilnya diajak merantau ayahnya dan semenjak kecilnya gadis ini sudah suka sekali menunggang kuda. Setelah melalui kurang lebih lima li, akhirnya suara derap kuda yang mereka kejar itu makin jelas terdengar, tanda bahwa kuda itu tak jauh lagi terpisah.



“Sumoi, kau kejar terus, aku hendak mendahuluinya memotong jalan.”



Biarpun masih amat muda, baru dua puluh tahun, namun pengalaman Sian Hwa di dunia kang ouw sudah cukup luas. Maka sedikit kata-kata twa suhengnya ini cukup ia ketahui maksudnya. Ia tahu bahwa untuk menangkap seorang penculik anak-anak lebih aman dipergunakan siasat, yaitu disergap dari belakang. Kalau secara berterang, mungkin akan gagal karena si penculik dapat mempergunakan anak yang diculik untuk mengancam. Ia hanya mengangguk dan Kwa Tin Siong lalu membedal kudanya, mengambil jalan memutar hendak memotong jalan. Baiknya ia sudah mengenal betul jalan di daerah tempat tinggal sumoinya ini, maka tanpa ragu-ragu, dia tahu kemana arah jalan yang diambil oleh si penjahat di depan itu. Jalan itu menikung kekanan dan agak memutar, maka kalau dia memotongnya melalui kebun dan hutan kecil, dia akan dapat mendahului si penjahat.



Tak lama kemudian Sian Hwa sudah dapat melihat penculik itu. Kuda yang ditunggangi penculik itu bukan kuda baik, nampak sudah lelah sekali, apalagi ditunggangi dua orang seperti Kwa Hong. Anak perempuan itu tampak lemas dan tidak bergerak atau bersuara lagi.



“Bangsat rendah, hendak lari kemana kau!” Sian Hwa mencabut siang kiam (sepasang pedang) tipis dan mempercepat larinya kuda.



Penculik itu, seorang laki-laki berusia kurang lebih tiga puluh tahun bertubuh kecil bermata lebar ketika mendengar suara wanita lalu menoleh, ia tercengang melihat bahwa yang mengejarnya hanya seorang gadis cantik yang masih amat muda, lalu tiba-tiba ia menahan kudanya dan tertawa sambil mencabut goloknya.



“Aha kiranya ada nona manis ingin main-main dengan aku,” katanya dengan senyum mengejek. Suaranya menunjukkan bahwa dia seorang dari utara. Dengan gerakan yang gesit sekali orang itu meloncat turun dari kuda setelah menurunkan Kwa Hong yang dia gulingkan keatas tanah. Gadis cilik itu agaknya tertotok jalan darahnya, lemas seperti orang pingsan. Dengan tenang orang itu lalu berdiri menghadang Sian Hwa yang datang membalapkan kudanya.



“Penculik hina, hari ini pedang nonamu akan mengantar nyawamu ke neraka.” Sian Hwa berseru dan tiba-tiba tubuhnya melayang meninggalkan punggung kudanya yang masih berlari. Bagaikan seekor burung walet nona ini sudah menggerakkan pedangnya dan langsung menyerang penculik itu dengan gerakan sepasang pedang yang menyambar-nyambar! Hebat benar sepak terjang nona Liem Sian Hwa yang berjuluk Kiam eng cu (Bayangan pedang) ini dan tidak mengecewakan ia berjuluk demikian karena betul-betul sepasang pedangnya merupakan segunduk sinar yang menutupi tubuhnya ketika ia melompat sambil menyerang.



“Bagus....!” Laki-laki itu mau tak mau memuji melihat ketangkasan gerakan gadis ini. Cepat dia menangkis dengan golok yang diputar seperti payung di depan tubuhnya.



“Trang....trang....!” bunga api muncrat kesana kemari ketika sepasang pedang itu bertemu dengan golok. Dari getaran pada tangannya maklumlah Sian Hwa bahwa lawannya ini biarpun bertubuh kecil namun bertenaga besar juga. Begitu kedua kakinya berada di tanah, nona ini lalu menggenjot tanah dan tubuhnya berkelebat kesebelah kiri orang itu, pedangnya kembali berkelebat. Ia sudah sengaja mempergunakan ginkangnya untuk mengalahkan lawan dengan kecepatan gerakannya. Siapa kira, orang ini pun ternyata cepat sekali dapat memutar tubuh sambil membabatkan golok ke pinggang Sian Hwa. Terpaksa Sian Hwa menangkis dengan pedang kirinya, pedang kanan menusuk kearah dada dengan gerak tipu Kwan kong sia ciok (Kwan kong memanah batu).



Sekarang kagetlah orang itu, tidak berani lagi dia tertawa-tawa. Ternyata nona muda ini hebat ilmu pedangnya, cepat, gesit dan tak terduga serangannya. Ia cepat menjengkangkan diri ke belakang berjungkir balik lalu menghadapi lawannya dengan hati-hati.



Pertempuran seru segera terjadi dan pada saat itu muncullah Kwa Tin Siong dari belakang pohon-pohon. Girang hati pendekar ini melihat bahwa anaknya hanya tertotok dan tidak mengalami kecelakaan, maka dia cepat meloncat dan membebaskan totokan pada tubuh anaknya lebih dulu karena dia melihat bahwa sepasang pedang sumoinya ternyata mampu menahan gerakan golok yang aneh dan lihai dari penculik. Setelah Kwa Hong sembuh kembali dan ia menyuruh anaknya ini duduk bersila dan mengatur napas membereskan kembali jalan darahnya, Kwa Tin Siong melompat ke medan pertempuran sambil berseru,



“Sumoi, serahkan penjahat ini kepadaku!”



Sebetulnya Sian Hwa tidak pernah terdesak oleh lawannya, akan tetapi maklum betapa twa suhengnya marah karena orang ini telah menculik puterinya, ia meloncat keluar dan membiarkan twa suhengnya menghadapi penculik itu.



“Tahan, sobat!” Kwa Tin Siong mengulurkan pedang menahan golok lawan. Ia mengerahkan tenaganya sehingga golok lawannya itu tertahan dan tak dapat bergerak lagi. Lawannya kaget sekali dan menatap tajam.



“Kau ini siapakah dan seingatku, diantara aku Kwa Tin Siong dan kau tidak pernah ada permusuhan apa-apa. Kenapa kau datang dan menculik anakku?” Tanya pendekar itu yang tidak mau menurutkan nafsu amarah.



Orang itu tertawa mengejek. “Aku.... aku hanya ingin menguji sampai dimana nama besar Hoa san Sie eng!”



Kwa Tin Siong mengerenyitkan keningnya. “Kau sudah mengenal nama kami tentulah seorang kang ouw. Kulihat kau menggunakan Pek loan ting, apa hubunganmu dengan Pek lian pai? Sobat, harap kau jangan main-main dan mengakulah terus terang apa sebetulnya kehendakmu dan siapa namamu yang besar.”



Tiba-tiba terdengar orang itu bersuit keras sekali dan goloknya berkelebat menyerang Kwa Tin Siong. Tentu saja pedekar ini marah sekali. Tak pernah diduganya bahwa orang akan berlaku begini rendah, padahal dia sudah cukup bersikap jujur dan menghormat.



“Bagus, kiranya kau hanya sebangsa pengecut curang!” serunya dan sekali tangkisan ia dapat membikin golok orang itu terpental, kemudian desakan pedangnya yang sekaligus menyerang bertubi-tubi sampai empat lima jurus membuat orang itu mundur-mundur tak mampu balas menyerang. Memang hebat ilmu pedang Kwa Tin Siong dan tidak percuma dia menjadi orang pertama dari Hoa san Sie eng. Gerakan-gerakannya mantap dan matang, tenaga iweekangnya juga sudah tinggi sehingga baru belasan jurus saja si penculik itu sudah harus meloncat kesana kemari dan menangkis sedapatnya. Kembali ia bersuit keras dan kali ini tiba-tiba dari arah timur hutan terdengar suitan-suitan semacam yang agaknya menjawab suitan si penculik tadi.



Mendengar ini Kwa Tin Siong berseru, “Awas, sumoi, kawanan penculik datang!”



Liem Sian Hwa memang sudah siap. Ia menyuruh Kwa Hong bersembunyi di balik sebatang pohon besar, sedangkan ia sendiri lalu menjaga disitu dengan sepasang pedang di kedua tangan.



Terdengar seruan kesakitan dan penculik itu terhuyung ke belakang dengan pundak berdarah. Ternyata pundaknya kena disambar pedang sehingga terbabat kulit dan dagingnya. Namun ia masih sanggup melawan sehingga Kwa Tin Siong masih belum juga dapat merobohkannya. Pada saat itu terdengar suara banyak kuda penunggang kuda. Mereka adalah empat orang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, gerakan mereka tangkas dan begitu sampai disitu, keempatnya lalu melompat turun dan mencabut golok.



Tanpa banyak cakap lagi Sian Hwa menyambut mereka. Dua orang mengeroyoknya dan yang dua pula kini sudah membantu si penculik tadi, mengeroyok Kwa Tin Siong. Diam-diam dua orang anak murid Hoa san pai ini terkejut sekali. Ternyata empat orang yang baru datang ini malah memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari pada penculik. Ilmu golok mereka adalah ilmu golok utara, keras dan bertenaga, gerak-geriknya juga cepat.



Sian Hwa dan tin Siong memang mewarisi Ilmu Pedang Hoa san kiam hoat yang ampuh. Keduanya patut diberi julukan pendekar pedang Hoa san dan mereka dalam pertempuran keroyokan ini telah memperlihatkan ketangkasan. Akan tetapi, lawan-lawan mereka yang mengeroyok juga bukan sembarangan orang, memiliki kelihaian yang tingkatnya dengan mereka hanya kalah sedikit, namun dengan pertempuran secara pengeroyokan itu tentu saja mereka lebih unggul dan mulai mendesak. Lima puluh jurus telah lewat, Kwa Tin Siong masih dapat bertahan dan membalas serangan, akan tetapi Sian Hwa mulai lelah, mulai berkurang daya serangnya dan lebih banyak menangkis dan meloncat kesana-kemari. Gadis itu hebat sekali. Kali ini benar-benar tepat julukannya Kiam eng cu karena tubuhnya lenyap terbungkus sinar kedua pedangnya dan dua batang golok lawan yang menyambar-nyambar mengitari dirinya.



Kwa Tin Siong mengeluh dalam hatinya, celaka, pikirnya. Kali ini aku dan sumoi menghadapi bencana. Hal ini masih belum hebat, celakanya, anaknya pun menghadapi bencana yang hebat pula. Siapa akan melindunginya? Berpikir sampai disini dia mencoba untuk menggunakan daya lain. Tiba-tiba ia berseru keras.



“Bukankah cuwi (tuan-tuan sekalian) ini anggota-anggota Pek lian pai? Ketahuilah siauwte Kwa Tin Siong dari Hoa san pai tidak ada permusuhan dengan Pek lian pai, malah tadinya hendak menggabungkan diri?”



Akan tetapi tiga orang lawannya tertawa dan seorang diantara mereka berkata mengejek, “Anak murid Hoa san pai mana ada harga masuk Pek lian pai? Kalau mau mengaku kalah barulah kami melepaskan dan boleh belajar lagi. Lihat kelak, kalau sudah pandai baru boleh masuk Pek lian pai!” tiga orang itu tertawa-tawa dan menyerang.



Kwa Tin Siong adalah seorang pendekar sejati, mana dia sudi menurut kehendak tiga orang lawannya itu? Pendirian seorang pendekar, lebih baik mati daripada bertekuk lutut menerima hinaan. Dengan gemas dia mempercepat gerakan-gerakan pedangnya sehingga lawan-lawannya terpaksa berlaku hati-hati dan mundur, lalu dia berkata.



“Melihat sikap cuwi, tak patut menjadi patriot-patriot yang anti penjajah bangsa mongol!”



Tiga orang itu hanya tertawa lagi, dan si penculik yang sudah dilukai pundaknya berkata, “Jangan banyak cerewet tentang urusan perjuangan. Hoa san Sie eng bernama besar, perlihatkan kebesaran itu. Ha ha ha!”



Sekarang Kwa Tin Siong betul-betul terdesak. Apalagi setelah mendengar sumoinya berseru marah karena pedang kirinya terlepas dan terlempar, dia makin gelisah. Sumoinya kini hanya melawan dengan sebatang pedang, sedangkan dua orang lawannya itu makin mendesak sambil mengeluarkan ucapan-ucapan kotor. Memang Sian Hwa terdesak hebat dan lebih lagi gadis ini merasa marah bukan main karena selain pedangnya yang kiri terlepas, juga dua orang pengeroyoknya itu menggodanya dengan kata-kata yang tidak sopan. Ia berlaku nekat dan mati-matian dan hal ini mendatangkan celaka baginya. Karena terlalu bernafsu menyerang, ia menjadi lengah dan pada suatu saat, lutut kanannya kena ditendang seorang lawan. Sian Hwa menjerit dan roboh terduduk, namun ia masih memutar-mutar pedangnya sambil duduk bersimpuh sehingga dua orang lawannya tidak mampu mendekatinya.

Comments

Popular posts from this blog

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…