Skip to main content

Raja Pedang 3 (Kho Ping Hoo)

Tin Siong menarik napas panjang merasa sayang bahwa ular yang seindah itu kulitnya terpaksa harus ia bunuh, Ular kembang macam ini enak dagingnya dan kulitnya akan laku mahal kalau dijual di kota, pikirnya. Ia teringat akan anaknya dan teringat akan kudanya yang sudah melarikan diri. Anaknya harus dicari lebih dahulu dan dengan pikiran ini pendekar itu lalu lari mengejar ke arah bayangan Kwa Hong tadi berkelebat.




Sementara itu, Kwa Hong yang berlari-larian gembira telah berada dibagian yang paling gelap di hutan itu. Memang anak ini semenjak kecil paling senang kalau bermain-main didalam hutan. Semenjak kecil berdiam bersama ayahnya di hoa-san dan hutan besar boleh dibilang adalah tempat ia bermain-main. Akhir-akhir ini ketika ayahnya mengajak ia turun gunung, ia seringkali rindu kepada hutan-hutan besar, rindu kepada binatang-binatang hutan yang amat disayanginya, maka sekarang melihat hutan, tentu saja ia seperti seekor burung, tentu saja gembira sekali hatinya.



Saking gembiranya ia sampai lupa diri dan lupa bahwa jauh meninggalkan ayahnya dan baru terasa lelah kedua kakinya ketika dia duduk di bawah sebatang pohon besar. Sepasang matanya berseri-seri dan bersinar-sinar, mulutnya yang kecil tertawa-tawa ketika Kwa Hong memetik dua tangkai bunga merah, dipasangnya diatas kepala di kanan kiri, menghias rambutnya yang hitam panjang.



Tiba-tiba ia berseru kaget dan cepat meloncat kesamping dan di lain saat tangan kanannya sudah menghunus pedang pendek. Inilah gerakan sin-coa-hiat-bwe (ular sakti mengulur ekornya) sebuah gerakan ilmu pedang sebagai pembukaan kalau menghadapi lawan berat. Gerakannya cepat sekali dan tangannya yang mencabut pedang hampir tidak terlihat, tahu-tahu pedang pendek yang tadinya tergantung dipunggungnya telah berada ditangan kanan, dipegang erat-erat gagangnya, sedangkan pedangnya melintang di depan dada. Apa yang menyebabkan gadis cilik ini kaget? Mukanya pucat dan ia berdiri seperti patung, lenyap semua seri gembira diwajahnya.



Bukan hanya dia, andaikan disitu ada orang lain, orang segagah ayahnya sekalipun, tentu akan kaget setengah mati melihat apa yang dilihat oleh Kwa Hong ini. Mana ada di dunia, bukan mimpi, memang nyata-nyata terlihat olehnya hal itu terjadi. Mula-mula ia tadi berseru kaget karena melihat ada seekor ular besar dibawah pohon, kurang lebih dua puluh meter jauhnya disebelah sana. dan sekarang..... tahu-tahu ular itu ”bangun” berdiri dan berloncat-loncatan menghampirinya.



Hampir saja Kwa Hong lari tunggang langgang saking takut dan ngerinya kalau saja ia tidak mendengar suara orang tertawa, akan tetapi ketika ia mendengar bahwa yang tertawa adalah “ular berdiri” itu. Kemudian timbul jiwa ksatria yang diturunkan ayahnya kepadanya. Dengan pedang dipegang erat-erat di tangan ia membentak.



“Siluman dari mana berani menggangguku”.



“Ha-ha-ha, lagaknya. Kakimu menggigil seperti orang sakit demam kok masih berlagak gagah. Ha ha ha!”



Ternyata ular itu setelah dekat tidak berkepala lagi dan..... dari leher ular itu tersembullah kepala seorang anak laki-laki, anak yang bermata lebar dan bermuka putih kehijauan. Anak ini bukan lain adalah Beng San.



Seperti telah kita ketahui, Beng San menggeletak di bawah pohon dalam keadaan yang dianggap sudah tak bernyawa lagi oleh Siok Tin Cu. Memang waktu itu anak ini sudah seperti mati, mukanya hijau kebiruan, tidak ada napasnya lagi dan tidak ada detak jantungnya lagi. Akan tetapi, ternyata Siok Tin Cu salah kira. Terjadi hal-hal yang mujijat dalam diri anak yang bernasib malang ini. atau lebih tepat kita katakan bukan bernasib malang karena secara kebetulan sekali ia terhindar dari malapetaka yang akan mencabut nyawanya akibat dari ditelannya tiga butir pil obat beracun dari Siok Tin Cu, tiga butir pil beracun yang mengandung hawa panas yang mujijat, sari dari pada hawa thai-yang. Pada saat Beng San ditemukan oleh Koai Atong, memang nyawanya sudah di bibir kematian. Kemudian secara kebetulan sekali Koai Atong yang berotak tidak beres itu memukulnya dengan tenaga Jing tok ciang, malah melukainya dengan anak panah yang ujungnya sudah dilumuri racun hijau. Hawa pukulan dan racun ini cepat sekali menjalar diseluruh tubuh melalui jalan darahnya dan terjadilah perang tanding yang hebat antara hawa thai-yang dari tiga butir obat itu dengan tenaga Im-kang dari pukulan Jing tok ciang dan racun hijau. Dalam keadaan kedua hawa yang bertentangan dan bergulat itulah Siok Tin Cu melihat Beng San seperti sudah mati.



Memang agaknya sudah dikehendaki oleh Tuhan bahwa nyawa anak itu belum tiba saatnya kembali ke alam baka. Semalam suntuk kedua hawa mujijat itu bertempur di dalam tubuhnya dan seperti biasanya kalau racun bertemu dengan racun yang berlawanan, menjadi punah. Bahkan sebaliknya daripada terancam nyawanya, tanpa disadarinya tubuh Beng San di bagian dalam mengandung kedua hawa ini yang sudah dibikin normal oleh percampuran itu, mendatangkan kekuatan yang luar biasa.



Demikianlah, pada keesokan harinya Beng San sadar, seakan-akan baru bangun dari kematian. Ia merasa tubuhnya dingin bukan main sampai giginya berketrukan. Ia teringat akan pengalamannya, ketika ia dijejali pil oleh tosu yang mengaku bernama Siok Tin Cu. Teringat akan ini ia menjadi marah dan meloncat bangun. Alangkah kagetnya dia, ketika tubuhnya mumbul sampai satu meter lebih. Rasanya tubuhnya begitu ringan seperti bulu ayam! Akan tetapi hal ini tidak diperhatikannya lagi karena segera ia terserang rasa dingin yang bukan main hebatnya. Ia teringat bahwa ketika habis dijejali pil oleh tosu itu ia merasa tubuhnya seperti dibakar, kenapa sekarang sebaliknya begini dingin? Beng San menggigil dan lari kesana kemari mencari tempat berlindung. Disangkanya bahwa hawa udara di hutan itu yang luar biasa dinginnya.



Kebetulan sekali ia melihat kulit ular atau selongsong kulit ular bergantungan di sebuah pohon besar. Tadinya ia kaget, mengira bahwa itu adalah binatang ular. Akan tetapi setelah dilihat bahwa itu hanyalah selongsong saja, ia segera memanjat pohon dan mengambil selongsong itu. Kiranya seekor ular besar sekali telah berganti kulit disitu dan selongsongnya yang kering tergantung disitu. Beng San seorang anak cerdik. Ia membutuhkan selimut dan selongsong kulit ular ini kiranya boleh dipergunakan sebagai selimut darurat. Segera ia membungkus dirinya dengan selongsong kulit ular yang panjang dan lebar itu. Benar saja, ia merasa agak hangat badannya dan perasaan ini demikian nyamannya membuat ia melupakan perut laparnya dan tertidur lagi terbungkus kulit ular. Tentu saja ia tidak tahu bahwa kehangatan yang datang kepadanya itu adalah wajar. Pertama, karena hawa pukulan Jing tok ciang itu mulai menghilang, bercampur dengan hawa thai yang, kedua kalinya secara kebetulan sekali pada kulit ular itu terdapat hawa beracun dari ular yang berganti kulit, dan hawa beracun ini mengandung hawa panas pula.



Itulah sebabnya mengapa Beng San bukan saja terhindar daripada bahaya maut, malah sebaliknya ia mendapatkan keuntungan yang luar biasa, yaitu tubuhnya terkandung hawa mujijat akibat percampuran hawa Yang dan Im yang kuat sekali. Satu-satunya hal yang sampai pada saat itu masih sering kali ganti berganti menyerangnya, namun hal itu sudah tidak begitu mengganggunya lagi karena tubuhnya menjadi biasa dan seperti kebal. Hanya kulitnya yang masih belum dapat menahan sehingga tiap kali hawa panas menyerang, kulit tubuh terutama kulit mukanya menjadi merah seperti udang direbus, akan tetapi tiap kali hawa dingin yang menyerang, mukanya berubah menjadi hijau.



Kita kembali kepada pertemuan Beng San dan Kwa Hong. Lenyap kengerian dan ketakutan hati Kwa Hong setelah mendapat kenyataan bahwa apa yang disangkanya siluman ular itu ternyata adalah seorang anak laki-laki yang hanya lebih besar sedikit daripada dirinya sendiri. Tadinya ia hendak tertawa saking geli hatinya, akan tetapi mana bisa dia tertawa kalau begitu bicara anak laki-laki itu menghinanya? ia dikatakan menggigil kakinya seperti orang sakit, tapi masih berlagak gagah. Yang menggemaskan, kata-kata itu memang..... betul. Memang tadi kedua kakinya menggigil dan tubuhnya gemetaran. Siapa orangnya tidak akan takut kalau mengira bertemu dengan siluman?



“Setan cilik, kenapa kau main-main dan menakut-nakuti orang? Kalau tidak mengira kau siluman, mana aku takut kepada orang semacam engkau?” Kwa Hong membentak, cemberut. Dengan sikap menunjukkan bahwa kini ia sama sekali tidak takut lagi Kwa Hong menyimpan kembali pedangnya di belakang punggung lalu menggerakkan kepala sehingga rambutnya yang panjang itu berjuntai ke belakang.



Melihat sikap gagah-gagahan dan galak dari nona cilik ini, Ben San tertawa cekikikan dan tampaklah deretan giginya yang kuat dan putih.



“Eh, kenapa kau tertawa-tawa?” Kwa Hong penasaran dan marah, kedua tangan dikepal, matanya bersinar-sinar karena mengira bahwa dia telah ditertawakan.



Beng San tidak menjawab, malah hatinya makin geli dan tertawanya makin keras. Biasanya ia melihat anak perempuan sebagai makhluk-makhluk yang lemah-lembut, sekarang melihat lagak Kwa Hong yang membawa-bawa pedang ia merasa lucu sekali.



“Hei, kepala keledai, kenapa kau cekikikan?” Kwa Hong membentak lagi, kini melangkah maju.



Dengan mulut masih tersenyum lebar Beng San balas bertanya, “Aku tertawa atau menangis menggunakan mulut sendiri, kenapa kau ribut-ribut?” dan ia tertawa lagi, malah sengaja ketawa keras-keras.



Kwa Hong terpukul dan makin mendongkol. “Kau kira mukamu kebagusan ya? Tertawa-tawa seperti monyet. Mukamu jelek sekali, tahu?”



Beng San makin geli, matanya bersinar-sinar biarpun masih nampak sipit karena kedua pipinya memang masih bengkak-bengkak membuat mukanya mirip muka kodok. Pada saat itu, hawa dingin sudah mulai meninggalkannya, terganti hawa panas membuat mukanya yang tadi kehijauan sekarang berubah menjadi merah.



Melihat perubahan ini Kwa Hong tertawa geli, ketawanya bebas lepas dan ia nampak makin cantik kalau tertawa karena dari kedua pipinya tiba-tiba muncul lesung pipit yang manis. “Hi hi hi, kau buruk sekali, mukamu berubah-ubah warnanya, hihi hi seperti bunglon.....!”



Panas juga perut Beng San ditertawai seperti ini, ia membalas dengan suara ketawa yang keras, mengalahkan suara ketawa Kwa Hong. “Ha ha ha, mukamu pun buruk bukan main seperti..... seperti kuntilanak.”



Kwa Hong berhenti tertawa. “Kuntilanak? Apa itu?”



Seketika Beng San juga berhenti tertawa karena dia sendiri juga tidak pernah tahu apa macamnya kuntilanak! “Kuntilanak ya kuntilanak.....“



“Seperti apa?”



“Seperti..... ah, sudahlah, buruk sekali, seperti engkau inilah!”



“Bohong!” Kwa Hong membentak. “Aku cantik manis, semua orang bilang begitu, ayah bilang begitu.”



Beng San tersenyum mengejek, “Cantik manis? Puuhhhh! Mungkin sekarang, akan tetapi dulu ketika baru lahir kau ompong dan kisut, buruk sekali dah!”



Kwa Hong membanting-banting kakinya, ia memang manja dan setiap orang yang melihatnya tentu memuji kecantikan dan kemanisannya, masa sekarang ada orang yang memburuk-burukkannya seperti ini. Mana dia mau menerimanya?



“Mulutmu berbau busuk! Aku cantik manis sekarang, dulu maupun kelak, tetap cantik.”



“Cantik manis juga, kalau galak dan berlagak sombong, siapa suka? Galak dan sombong seperti.... seperti....”



“Seperti apa?” Kwa Hong menantang.



“Seperti.... Kui bo (kuntilanak)....”



“Kuntilanak lagi. Seperti apa sih kuntilanak itu?”



“Seperti kau inilah” Beng San menjawab mengkal karena dia sendiri pun belum pernah melihat seperti apa adanya setan betina yang sering kali orang sebut-sebut.



Kwa Hong marah. “Kau seperti bunglon!”


Comments

Popular posts from this blog

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…