Skip to main content

Raja Pedang _2 (Kho Ping Hoo)

“Hayo telan ini!” Siok Tin Cu memaksakan Beng San yang setengah pingsan itu membuka mulut lalu menjejalkan pil berbau busuk itu ke dalam mulut Beng San.

Anak ini dalam kenekatannya, biarpun sudah pening dan setengah pingsan, hendak meludahkan keluar pil itu akan tetapi Siok Tin Cu menutup mulutnya dan mendorong pil itu dengan telunjuknya sampai ke tenggorokan Beng San. Akhirnya obat itu masuk ke dalam perut Beng San tanpa dapat dicegah lagi!.



“Heh-heh-heh, hendak kulihat akibatnya.....” Siok Tin Cu menggerakkan tangan membebaskan totokannya dan Beng San roboh terduduk di atas tanah, menundukkan muka karena merasa masih pening dan nanar kepalanya. Ia meramkan matanya yang menjadi sempit karena pipinya membengkak besar di kanan kiri. Kasihan sekali anak ini, mukanya sampai menjadi seperti buah labu matang.



Tiba-tiba Beng San menggerak-gerakkan kaki tangannya, kulit badannya makin lama makin merah sampai seperti udang rebus. Makin merah kulitnya makin tidak karuan tingkahnya, berkelojotan seperti ular disiram air panas.



“Panas..... panas.....!” akhirnya tak tertahankan juga, mulutnya tak pernah mengaduh, hanya bilang “panas..... panas.....” berkali-kali. Kulit badannya menjadi merah tua hampir hitam dan dari tubuhnya tampak uap tipis seakan-akan seluruh air di tubuhnya sudah mendidih. Tubuh Beng San melompat ke sana ke mari seperti orang gila, menabrak pohon, terjungkal, berdiri lagi, terhuyung-huyung, dan merangkak-rangkak sampai menabrak pohon lagi. Kemudian dia melompat berdiri dan lari!



“Heh-heh-heh, hendak kulihat sampai berapa lama kau dapat bertahan.”



Siok Tin Cu juga berlari mengikuti anak yang sedang gila kepanasan itu, meninggalkan kudanya yang diikat pada sebatang pohon. Tidak jauh Beng San berlari karena belum juga dua li, ia menabrak pohon lagi dan terguling, tak dapat bangun lagi hanya berkelojotan dan bergulingan.



Siok Tin Cu berlutut dan memeriksa dengan teliti. Diurut dan diperiksanya seluruh bagian tubuh Beng San yang sudah tak berdaya lagi itu, mulutnya tiada hentinya memuji.



“Hemmm, tubuhnya berisi penuh hawa panas mujijat. Inilah inti sari hawa yang kalau dapat dipelihara dan disalurkan dengan kekuatan Iweekang akan menjadi semacam yang-kang istimewa, kuat dan panas, bagus sekali! Hendak kulihat apa yang dirusaknya.” Ia memeriksa perut dan dada Beng San.



“Hemmm, hemmmmm..... berbahaya sekali, isi perut melepuh semua, paru-paru penuh hawa panas menguap, jantung mengeriput..... kalau anak ini tidak kosong perutnya, tidak penuh hawa murni tubuhnya dan tidak bersih tulang-tulangnya, ia sudah akan mampus dari tadi. Dengan Iweekang di tubuhku, apakah aku akan dapat menahan hawa panas seperti ini.....? Hemmm, berbahaya sekali.....” Tosu ini saking asyiknya memeriksa sampai tidak tahu dan tidak terasa bahwa kantong obatnya terlepas dan terjatuh. Ketika tubuh Beng San bergerak-gerak, tanpa disengaja kantong obat itu tertindih oleh tubuh anak itu dan tidak kelihatan dari atas.



“Hemmm....., berbahaya sekali akibatnya, apa kiranya aku akan kuat?” Tosu itu berdiri dan termenung. Ia ngeri akan akibatnya kalau sampai dirinya kemasukan obat kuat itu dan akhirnya ia tidak dapat menahan. Tanpa terasa digerayangnya pinggangnya dan ia kaget karena tidak mendapatkan kantong obat disitu. Bingung ia mencari, tetapi sia–sia saja. Ia mengingat-ngingat, tak salah lagi, tadi ia mengambil sebuah pil dari kantong obat yang segera dikantongkan kembali ke pinggangnya. Jangan-jangan ketinggalan diatas pelana kuda, pikirnya. Cepat ia berlari meninggalkan Beng San dan berlari ke tempat di mana dia tadi meninggalkan kudanya. Di sini dia mencari-cari ke sana kemari, membuka-buka rumput dan alang-alang disekitarnya, membongkar semua bekal dari atas sela kuda.



Sementara itu, Beng San masih berkelojotan. “Panas....., lapar....., panas....., lapar.....,” katanya. Tangannya menggerayang-gerayang, ia mencoba membuka matanya, akan tetapi begitu dibuka air matanya bercucuran saking panas dan perihnya. Tiba-tiba tangannya yang menggerayang itu dapat menangkap sebuah kantong kecil. Kedua tangan itu menarik dan sekali tarik saja kantong itu hancur dan dua butir pil dipegangnya. Karena pikiran Beng San sudah hampir tak dapat dipergunakan lagi saking hebatnya penderitaannya, dua butir pil itu segera dimasukkan kemulutnya terus ditelan habis!



Pada saat itu, terdengar orang bernyanyi-nyanyi kecil, nyanyian kanak-kanak. Ketika tiba di tempat itu, ternyata bahwa yang bernyanyi adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi besar akan tetapi mukanya yang hitam itu sama sekali tidak berkumis atau berjenggot, licin seperti muka kanak-kanak. Matanya juga bersinar bodoh dan jujur seperti mata kanak-kanak pula biarpun usianya sudah sudah empatpuluh tahun. Yang lucu adalah pakaiannya, berkembang-kembang dan malahan sepatunya juga sepatu berkembang seperti yang biasa dipakai wanita. Pendeknya, seorang aneh yang mempunyai sifat kanak-kanak, berpakaian seperti perempuan dan pantasnya hanya orang edan saja yang berkeadaan seperti dia ini. Ia berhenti menyanyi dan berdiri memandang Beng San yang masih bergulingan.



Setelah Beng San menelan pil yang dua butir itu, ia seperti cacing terkena abu panas. Berguling ke sana, menggelinding ke sini, berkelojotan dan mulutnya berbusa.



“Ha-ha-ho-ho-hoh, kau main menjadi trenggiling?” Orang yang baru datang itu dengan muka girang lalu rebah pula dan bergulingan, berkelojotan seperti Beng San sambil tertawa-tawa senang sekali.



“Hayo kita balapan, siapa lebih cepat menggelinding!” katanya mengajak Beng San main balapan. Tentu saja Beng san yang tidak sadar itu semua sekali tidak memperdulikan.



“Eh, kau tidak mau balapan? Kurang ajar kau, diajak bicara diam saja!” Orang itu melompat bangun dan mendekati Beng san. Ia melihat kedua mata Beng San yang sipit karena mukanya berbusa.



“Eh-eh-eh, setan. Kau malah mengejek?” orang itu marah-marah, mengira bahwa Beng San yang sudah sekarat itu mengejeknya.



“Kutendang kau”, orang tua itu menendang perlahan. Tanpa disengaja ia menendang jalan darah thi-thiat-to dipunggung Beng San. bocah ini sedang menderita, tubuhnya seakan-akan hendak meletus karena penuh hawa yang panas, seakan-akan terbuka jalan darahnya kena tendangan itu tiba-tiba ia melompat keatas, tinggi sekali dan tanpa disadarinya pula tangan kanannya menampar kepada orang itu.



“Plak!” sehabis menampar ia bergulingan pula. Yang hebat adalah orang aneh itu yang kena tampar. Tubuhnya terlempar dan roboh berguling-guling sambil mengaduh-ngaduh. Ternyata orang itu lihai bukan main. Tamparan yang dilakukan oleh anak tadi, biarpun tidak disengaja namun penuh dengan dengan tenaga Yang dan kiranya akan menghancurkan kepala seorang biasa. Namun orang aneh itu hanya terguling-guling dan cepat bangun lagi. Ia marah sekali.



“Eh, Setan, Eh Iblis, kau mengajak berkelahi? Datang-datang mengirim pukulan maut, ya? Berani kau main-main dengan Koai Atong!” Cepat seperti orang main sulap, tahu-tahu di tangan kanan ini sudah terdapat sebuah panah berwarna hijau. Ia maju menubruk Beng San yang sedang bergulingan, tangan kirinya memukul dengan telapak tangan terbuka, sedangkan tangan kanan menggunakan anak panah tadi untuk menusuk.



Dengan tepat tangan kiri Koai Atong memukul dada Beng San sedangkan ujung anak panah itu menancap di pundaknya. Melihat lawannya sama sekali tidak mengelak atau menangkis, Koai Atong kaget sekali dan cepat sekali menarik kembali anak panahnya. Hebat! Beng San yang terkena pukulan dan terluka anak panah, seketika berhenti bergerak, hanya dari mulutnya terdengar bunyi mendesis seperti seekor ular mengamuk, mukanya yang tadi merah menghitam berlahan-lahan berubah menjadi hijau, juga seluruh tubuhnya berubah menjadi kehijauan! Desis pada mulutnya tidak lama, segera terhenti seperti bola kempis kehabisan angin.



“Mati....., celaka..... aku bunuh orang yang tak melawan dengan pukulan Jing-tok-ciang (tangan racun hijau)!” setelah berkata demikian, orang aneh itu cepat berlari meninggalkan tempat itu, larinya bukan main cepatnya seperti terbang saja.



Orang aneh yang bernama Koai Atong ini sesungguhnya bukan orang biasa. Biarpun seperti kanak-kanak dan pakaiannya seperti orang gila, namun justeru keanehannya itu maka ia disebut Koai Atong (anak setan). Dia ini adalah murid tunggal dari Ban-tok-sim Giam Kong (hati selaksa Racun), seorang hwesio dari barat yang berasal dari tibet. Nama besar Giam Kong ini terkenal diseluruh dunia kang-ouw sebagai seorang tokoh yang amat ditakuti orang. Juga nama murid tunggalnya ini cukup membikin mengkeret nyali banyak ahli silat karena kehebatannya, yang paling ditakuti dari dua orang tokoh guru dan murid ini adalah ilmu pukulan mereka yang berdasarkan tenaga Im yang disebut Jing-tok-ciang. Ilmu pukulan racun hijau ini amat dahsyat, mengandung sari tenaga Im yang paling dalam sehingga jangankan pukulannya, baru hawa pukulannya saja sudah cukup mendatangkan racun yang akan mematikan orang yang tersambarnya. Sebagai seorang tokoh besar yang tinggi ilmu silatnya. Giam kong memesan kepada muridnya yang ketolol-tololan itu agar tidak sembarangan mempergunakan Jing-Tok-ciang, apalagi mempergunakan senjata anak panah yang ujungnya sudah dimasak dalam racun hijau kalau tidak amat terpaksa atau menghadapi musuh berat. Oleh karena inilah maka Koai Atong tadi ketakutan melihat akibat pukulannya, ditambah tusukan anak panah terhadap diri Beng San, dan serangannya tadi hanya terdorong oleh kemarahan karena ia dipukul secara hebat. Disangkanya bahwa Beng San anak kecil itu memiliki kepandaian tinggi, maka begitu menyerang ia mempergunakan pukulan maut dan anak panahnya. Maklum jalan pikiran Koai Atong memang masih seperti kanak-kanak maka ia tidak berpikir panjang.



Siok Tin Cu bingung sekali ketika dia mencari-cari di tempat dia meninggalkan kudanya tetap tak dapat menemukan kantong obatnya. Dia menuntun kudanya kembali ke tempat Beng San. Alangkah kagetnya ketika dia melihat anak itu sudah tidak bergerak-gerak, terlentang diatas tanah dengan muka dan tubuhnya berwarna hijau! Dia terheran-heran, melepaskan kudanya dan didekatinya anak itu, setelah memeriksa sejenak ia mengeluarkan seruan kaget!



“Ayaaaaa.....! kenapa anak ini bisa mati seperti itu??” ia benar-benar kaget sekali dan berkali-kali menggeleng-gelengkan kepalanya. Pengaruh obatnya adalah tenaga Yang. Andaikata anak ini mati karena obat itu tentu tubuhnya hangus, kenapa sekarang tubuh anak ini seperti orang mati kedinginan?



Siok Tin Cu bergidik ngeri. Untung ia mencoba obatnya itu kepada anak tak dikenal ini. Kalau ia sendiri yang menelannya. Alangkah ngerinya.



“Aku telah keliru membuatnya.....” pikirnya, ”harus segera kulaporkan kepada kauwcu.....” karena melihat akibat obatnya begini mengerikan ia tidak begitu kecewa lagi kehilangan dua butir pilnya. Kalau yang sebuah begini berbahaya, yang dua lain lagi juga tidak akan ada gunanya. Biarlah kalau ditemu orang lain dan ditelan, paling-paling orang yang menelannya akan mati seperti bocah ini. Agak ngeri oleh akibat perbuatannya sendiri, tergesa-gesa tosu itu menaiki kudanya dan membalapkan kuda kurus itu pergi dari situ, meninggalkan tubuh Beng San yang menggeletak di tengah hutan.



**********



“Hong-Ji, kau hati-hatilah. Hutan itu lebat, mungkin banyak harimaunya”.



Jawabannya hanya suara ketawa nyaring seorang anak perempuan berusia delapan sembilan tahun yang amat lincah berlari-lari cepat memasuki hutan lebat. Yang menegur juga tersenyum, senyum senyum kecil yang untuk sejenak menerangi wajahnya yang suram–muram. Dia seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, berwajah tampan dan gagah, akan tetapi wajah ini suram-suram nampak tidak ada cahaya kegembiraan hidup, wajah tampan ini menjadi gelap dan muram semenjak ia ditinggal mati isterinya yang tercinta tiga tahun yang lalu, meninggalkan dia hidup berdua saja dengan anak tunggalnya yang bernama Kwa Hong.



Kwa Tin Siong adalah seorang jago pedang murid tertua dari Hoa-san-ciang-bun-jin (ketua Hoa-san-pai) Lian Bu Tojin. Namanya di dunia kang ouw cukup terkenal sebagai seorang paling tua daripada Hoa-san Sie-eng (empat pendekar Hoa-san), tidak hanya terkenal karena memang empat orang pendekar Hoa-san ini berkepandaian tinggi, namun lebih terkenal karena perbuatan mereka yang selalu menjunjung tinggi keadilan dan kegagahan. Terkenal sebagai pelindung dari penjahat-penjahat keji.

Lian Bu Tojin, tosu ketua Hoa san pai sudah berusia enam puluh tahun lebih dan tosu ini biarpun memiliki banyak anak murid, namun kepandaian istimewanya, yakni ilmu pedang Hoa-san Kiam-hoat, hanya diturunkan seluruhnya kepada empat orang muridnya yang terkenal sebagai Hoa-san Sie-Eng ini. Yang tertua adalah Kwa Tin Siong bergelar Hoa-san-it-kian (pedang tunggal Hoa-san). Orang ke dua adalah Thio Wan It berjuluk Bu-eng-kiam (pedang tanpa bayangan). Orang ke tiga bernama Kui Keng berjuluk Toat-beng kiam (pedang pencabut nyawa) sedangkan orang keempat adalah seorang gadis berusia dua puluh tahun bernama Liem Sian Hwa dengan julukan Kiam-eng-cu (bayangan pedang).

Kwa Tin Siong sudah berusia empat puluh tahun dan sudah menjadi duda, dua orang sutenya, yaitu Thio Wan it berusia tiga puluh lima dan Kui Keng tiga puluh tahun, keduanya sudah berkeluarga pula. Hanya orang keempat dari Hoa-san Sie-eng, yaitu Liem Sian Hwa, belum berkeluarga, masih gadis berusia dua puluh tahun akan tetapi telah menjadi tunangan Kwee Sin seorang termuda dari tiga pendekar Kun-lun.

Kwa Tin Siong amat dihormati dan disegani adik-adik seperguruannya karena pandangannya yang luas dan sikapnya yang serius. Ia gagah, jujur, dan menjadi pengikut pelajaran-pelajaran filsafat Khong-cu yang setia. Sebaliknya, anak perempuannya Kwa Hong, anaknya ini merupakan matahari hidupnya dan hanya anak inilah yang kadang-kadang dapat memancing senyum di wajahnya yang selalu muram dan sungguh-sungguh.

Kwa Tin Siong terpaksa mengeprak kudanya untuk berjalan lebih cepat memasuki hutan lebat itu. Tadinya Kwa Hong membonceng di depannya, akan tetapi anak itu tiap kali merasa bosan naik kuda, pasti meloncat turun dan berlari-larian cepat. Ia tidak akan merasa khawatir akan diri anaknya, karena sungguhpun baru berusia delapan sembilan tahun, Kwa Hong telah memiliki kepandaian silat yang lumayan. Semenjak anak itu bisa berjalan, ia sudah mendidiknya sehingga sekarang Kwa Hong memiliki gerakan yang cepat dan lincah, juga mempunyai ilmu menjaga diri yang cukup kuat.

“Hong-ji (anak Hong), jangan terlalu cepat, kau nanti sesat jalan!”

Kembali anaknya berkelebat memasuki bagian yang gelap dari hutan besar itu. Ia memajukan kudanya dan tiba-tiba kudanya mengeluarkan bunyi ringkik keras lalu berdiri diatas kedua kaki belakangnya, hidungnya mendesis-desis nampak ketakutan sekali.

Kwa Tin Siong berlaku waspada, maklum bahwa ada binatang buas ditempat itu. Karena sukar untuk menenangkan kudanya, ia cepat meloncat turun dan mengikatkan kendali kuda pada sebatang pohon. Tiba-tiba kudanya meronta keras, kendali putus dan kudanya lari tunggang langgang. Hampir pada saat itu, terdengar bunyi berkeresekan dari atas dan seekor ular besar yang melilitkan ekornya pada batang pohon diatas, menyambarkan kepalanya ke arah Tin Siong.

Tidak percuma Kwa Tin Siong menjadi orang tertua dari hoa-san sie-eng. biarpun matanya belum melihat, telinganya telah menangkap sambaran angin dari atas. Cepat sekali kakinya bergerak dan ia sudah mengelak sambil mencabut pedangnya. Di lain saat pedangnya sudah berkelebat membacok ke atas.

Ular itu terluka pedang Tin Siong, darah menetes. ular itu kesakitan dan marah, cepat ia menyambar lagi bagaikan menubruk ke arah calon mengsanya.

Tin Siong terkesiap kagum menyaksikan ular yang besar sekali dan yang sisiknya nampak kuning sedikit kehijauan, berkembang indah dan bersih. Hampir ia merasa sayang untuk membunuh ular ini, akan tetapi karena ia berada dalam bahaya, terpaksa ia memapaki datangnya ular dengan sebuah tusukan ke arah leher sambil miringkan tubuh.

“Cesss”! Pedang yang ditusukkan dengan tenaga lweekang itu dapat menembus leher ular yang dilindungi kulit keras. Sebelum ular itu sempat menyerang, pedang sudah dicabut kembali dan sebuah tabasan yang dilakukan dengan tenaga sepenuhnya membuat leher itu putus! Kepalanya terlempar ke bawah sedangkan ekor yang melilit dahan pohon perlahan-lahan terlepas sehingga akhirnya tubuhnya yang panjang dan besar itu jatuh berdebuk diatas tanah pula.

Comments

Popular posts from this blog

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…