Skip to main content

Pendekar Buta 39 -> karya : kho ping hoo

Ilmu pedang Sin-kiam-eng Tan Beng Kui memang hebat bukan main. Dia, adalah murid kepala dari mendiang Bu-Tek-kiam-ong Cia Hui Gan ayah Cia Li Cu yang sekarang menjadi Nyonya Tan Beng San. Nyonya ini saja ilmu pedangnya sudah hebat luar biasa, apalagi ilmu pedang Sin-kiam-eng yang menjadi kakak seperguruannya. Memang dahulu ketika masih muda, Tan Beng Kui menjadi harapan mendiang gurunya, karena itu semua kepandaiannya diturunkan kepadanya. Ilmu Pedang Sian-Ii Kiam-sut adalah ilmu pedang turunan yang sesumber dengan Im-yang-sin-kiam, apalagi dimainkan oleh seorang pendekar besar yang sudah matang dalam pengalaman seperti Tan Beng Kui, benar-benar membuat Kun Hong kelabakan ketika dia diterjang dengan dahsyat oleh Sin-kiam-eng.
Dengan langkah-langkah Hui-thian-jip-te, Kun Hong berusaha menghindarkan diri dari kurungan sinar pedang lawan. Dia merasa segan untuk balas menyerang setelah kini dia tahu bahwa orang ini adalah ayah dari Loan Ki. Tidak sampai hatinya, kalau dia teringat akan suara ketawa dan celoteh Loan Ki yang nakal dan lincah itu. Betapa dia ada hati untuk melawan ayah gadis jenaka itu. Dia merasa menyesal bukan main, menyesal mengapa justeru ayah dara lincah itu yang kini menghalangi jalan larinya, mengapa ayah Loan Ki justeru menjadi, pembantu kaisar baru? Selain kebimbangan ini, ditambah lagi luka di pangkal pahanya yang parah membuat Kun Hong kurang gesit menghadapi ilmu pedang yang hebat dari Tan Beng Kui. Betapapun lihai dan aneh langkah-langkahnya, namun menghadapi seorang jago kawakan seperti Tan Beng Kui, tanpa melakukan perlawanan sungguh-sungguh, akhirnya dia celaka juga.
"Lo-enghiong, aku tidak mau bertempur melawanmu......." katanya dan kesempatan ini dipergunakan oleh lawannya untuk mendesak, mainkan jurus yang paling sulit dihadapi. Kun Hong kaget dan masih berusaha menjatuhkan diri ke belakang, namun ujung pedang lawannya masih sempat menggores dagunya, terus merobek baju di dada dan merobek pula kulit dadanya sehingga darah bercucuran membasahi bajunya. Kun Hong kaget juga karena baru saja dia terhindar dari bahaya maut, karena ujung pedang itu sebenarnya tadi mengarah leher dilanjutkan ke ulu hatinya.
Lebih hebat lagi, pada saat itu dari belakang menyambar gerakan pedang yang amat cepat membabat ke arah lehernya. Inilah pedang di tangan The Sun yang membentak pula, "Mampuslah engkau, jembel buta!"
Akan tetapi The Sun terlalu memandang rendah kepada Kun Hong kalau mengira bahwa sekali babat akan berhasil memenggal leher Pendekar Buta, Tongkat di tangan Kun Hong bergerak cepat. "Tranggg.......!" The Sun kaget setengah mati karena begitu bertemu, tongkat itu terus menyekong melalui bawah lengannya, menusuk ke arah tenggorokannya secara amat aneh dan tidak disangka-sangka olehnya.
"Celaka...........!" Dia berseru keras dan cepat tubuhnya mencelat ke belakang dalam usahanya menghindarkan diri dari bahaya maut ini. Kun Hong yang sudah marah sekali kepada The Sun juga melesat dalam pengejarannya tanpa menghentikan ancaman tongkatnya ke arah tenggorokan lawan.
"Penjahat buta jangan sombong!" tiba-tiba terdengar seruan yang amat berpengaruh, dibarengi melayangnya lengan baju yang membawa serta angin pukulan dahsyat sekali.
"Plakk!" Tanpa dapat ditangkis atau dihindarkan lagi oleh Kun Hong yang tubuhnya sedang melayang dalam usahanya mengejar The Sun, ujung lengan baju itu telah menghantam punggungnya. Kun Hong cepat mengerahkan tenaga Iwee-kangnya untuk menahan pukulan, akan tetapi pukulan itu hebat bukan main sehingga dia merasa seolah-olah terpukul benda keras yang ribuan kati beratnya. Tubuhnya terlempar dan terbanting ke atas tanah sampai bergulingan!
Dua batang pedang lain mengejarnya dan langsung menyambar dari kanan kiri. "Wuuuttt! Singgg!" Kun Hong melenting ke atas, begitu kedua kakinya menginjak tanah, otomatis dia telah membuat gerakan jurus Sakit Hati.
"Tranggg! Wesss!" Tongkat dan tangan kirinya telah bergerak tanpa dapat dicegah lagi. Dua orang perwira yang tadi berlomba untuk membunuhnya setelah melihat dia terluka dan bergulingan, kini berdiri tegak seperti patung, kemudian perlahan-lahan roboh terguling dan......... pinggang mereka ternyata telah putus dan kepala mereka remuk-remuk? Bukan main ngerinya hati para perwira menyaksikan ini. Malah orang-orang sakti yang kini sudah berada di situ melengak heran.
"Penjahat keji!" Terdengar Sin-kiam-eng Tan Beng Kui berseru marah dan pedangnya menyambar dengan suara mendesing-desing. Kun Hong merasa seluruh tubuhnya sakit-sakit. Luka di pangkal paha makin panas dan perih, gatal sukar ditahan nyerinya. Luka di dagu dan dada terus mengucurkan darah sedangkan punggungnya terasa patah-patah tulangnya oleh hantaman ujung lengan baju yang amat hebat tadi. Dia terheran-heran siapakah gerangan si pemukul ini. Melihat hebatnya hantaman itu, dia taksir orangnya tidak di bawah. Song bun-kwi tingkat kepandaiannya. Celaka, kiranya di kota raja telah berkumpul begini banyak orang sakti!! Karena ini, dengan pikiran sudah pening, Kun Hong berlaku nekat dan menanti setiap lawan dengan jurus Sakit Hati!
Sambaran pedang yang datang cepat laksana kilat dari Sin-kiam-eng itu sudah ditunggu oleh Kun Hong. Dia tidak ingat lagi siapa lawannya, yang teringat olehnya hanya bahwa dia harus melindungi surat rahasia dalam mahkota dan harus mengalahkan tiap orang musuhnya untuk dapat melarikan diri dari kepungan. Setelah serangan itu tiba, tubuhnya bergerak, tongkatnya menyambar berbareng dengan tangan kirinya mencengkeram.
"Ayaaaa!!" Sin-kiam-eng berteriak keras dan tubuhnya melayang sampai lima enan meter jauhnya, lalu dia terbanting ke atas tanah dan terengah napasnya, mukanya pucat. Nyaris dia menjadi korban jurus Sakit Hati yang amat mujijat itu dan biarpun dia tidak menjadi korban, namun tetap saja hawa pukulan tangan kiri Kun Hong yang mengandung hawa Yang-kang itu telah membuat dadanya serasa panas terbakar. Cepat-cepat Sin-kiam-eng duduk bersila mengatur napas memulihkan tenaga agar jangan sampai isi dadanya terluka.
"Omitohud, ilmu siluman apakah ini?" terdengar suara berpengaruh yang tadi dan segumpal hawa dingin menyambar ke arah Kun Hong. Pemuda buta ini maklum bahwa lawannya yang bersenjata ujung lengan baju, yang tadi berhasil menghantam punggungnya, ternyata adalah seorang hwesio. Maklumlah dia bahwa semakin lama dia berada di tempat ini, makin besar bahayanya. Hantaman kali ini yang mendatangkan segumpal hawa dingin menandakan bahwa dalam hal ilmu tenaga dalam hwesio ini sudah mencapai tingkat tinggi sehingga sukar dilawan. Namun dia sudah nekat. Tiada artinya kalau dia hanya mengelak ke sana ke mari, akhirnya tentu celaka juga, lebih baik mengadu tenaga, tinggal pilih satu antara dua. Menang dan lolos, atau kalah dan tewas! Dengan pikiran ini, sambaran dingin itu dia sambut dengan jurus Sakit Hati.
"Dess! Bakkk!!" Tubuh Kun Hong serasa didorong oleh tenaga yang maha kuat, sehingga kuda-kuda jurus Sakit Hati itu biarpun masih tetap, namun sudah tidak di tempatnya lagi karena kedua kakinya itu bergeser sejauh dua meter lebih, membuat garis di tanah yang dalamnya sampai dua dim lebih! Dari tempat lima enam meter jauhnya terdengar hwesio itu berseru heran,
"Omitohud....... hebat....... hebat"
Diam-diam Kun Hong mengeluh. Tadi tongkat yang dia gerakkan bertemu dengan benda lemas, agaknya ujung lengan baju, sedangkan tangan kirinya bertemu dengan lengan hwesio itu yang mengandung getaran tenaga dalam yang hebat pula. Biarpun berkat dua ilmu sakti Kim-tiauw-kun dan Im-yang-sin-kiam, dia tadi menggunakan tenaga mujijat sehingga kalau diukur dia tidak kalah tenaga, namun hwesio yang dapat menyambut jurus Sakit Hati ini sudah terang merupakan lawan yang paling berat! Dia sudah memasang kuda-kuda lagi dan bersiap sedia mengadu nyawa.
Tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk, di atas suara bentakan nyaring.
"Jago-jago kawakan yang mengaku para tokoh istana, kiranya hanya cacing-cacing busukyang beraninya mengeroyok pemuda buta! Pada saat itu terdengar sorak-sorai, disusul suara senjata saling beradu, tanda terjadi pertempuran besar di tempat itu antara para perwira dan banyak orang yang baru datang dipimpin oleh orang yang membentak tadi. Kun Hong mengerutkan kening mengingat ingat, dia merasa kenal suara tadi. Pada saat itu, suara tadi berkata perlahan kepadanya,
"Pangcu (ketua), silakan pergi mengaso."
"Hwa I Lokai...........!" Kun Hong berseru kaget. Memang benar. Yang datang adalah Hwa I Lokai bersama anak buahnya yang dengan nekat sekarang bertanding melawan para jagoan istana itu. Karena tidak ada kesempatan untuk bicara lagi setelah Hwa I Lokai kini bertanding melawan tokoh-tokoh istana, Kun Hong lalu mengamuk, menggunakan jurus Sakit Hati sambil melompat ke sana ke mari. Para perwira yang lancang berani menyambut atau menghadangnya pasti roboh tak bernyawa lagi. Dengan jalan membuka jalan darah ini, akhirnya Kun Hong berhasil keluar dari kepungan yang ketat itu dan mulailah dia melarikan diri karena merasa betapa tubuhnya sudah makin lemas dan gemetar. Ia mengerahkan tenaga terakhir dan lari sekuatnya di malam gelap, lari secara ngawur karena tidak dapat melihat. Dia hanya menyerahkan nasibnya ke tangan Thian Yang Maha Kuasa.
Agaknya Thian memang masih melindunginya karena secara aneh sekali Kun Hong dapat berlari jauh meninggalkan tempat itu. Akan tetapi akhirnya, di tenpat yang sunyi, agaknya daerah penduduk kota yang miskin, dia menabrak pohon besar yang berdiri di belakang sebuah pondok kecil. Karena dia tertumbuk pada batang pohon itu dengan dahi di depan, pendekar buta ini roboh terguling dalam keadaan pingsan!
Hening sejenak setelah suara beradunya kepala dengan batang pohon dan robohnya tubuh Kun Hong. Pintu pondok berderit terbuka dan sinar lampu menyorot keluar mengantar bayangan seorang anak laki-laki yang agaknya kaget mendengar suara tadi. Anak ini melangkah ke luar pintu belakang dan memandang ke kanan kiri. Seorang anak laki-laki yang tabah. Biasanya anak sebesar itu, berusia enam tujuh tahun, suka takut-takut akan tempat gelap. Akan tetapi anak ini biarpun tadi mendengar suara gedebukan aneh, masih berani membuka pintu belakang dan keluar di tempat gelap. Tak lama kemudian dia sudah menghampiri tubuh yang menggeletak miring di bawah pohon itu dan terdengar teriakan.
"Ibu......! Ibu....... mari ke sini, ada orang jatuh....... mari bantu aku.......!"
Dan tanpa ragu-ragu sedikit pun anak itu sudah mulai berusaha membangunkan Kun Hong yang masih pingsan. Kali ini kembali membayangkan ketabahan hati anak itu, bahkan membayangkan wataknya yang baik dan suka menolong orang lain.
Seorang wanita muda muncul dari pintu belakang, ragu-ragu sejenak, ngeri melihat kesunyian dan kegelapan malam. "A-wan.......! Kau di mana? Siapa yang jatuh?"
"Di sini, Bu. Lekas, jangan-jangan dia mati."
Ibu muda itu datang mengharnpiri, tersentak kaget mendengar ucapan terakhir.
"Apa.......? Ma....... mati.......??"
"Mungkin juga belum. Aduh beratnya, lekas bantu, Bu. Mari kita bawa masuk dan beri pertolongan."
Ibu muda itu membulatkan hatinya dan melangkah maju. Dengan susah payah Kun Hong diangkat dan setengah diseret oleh ibu dan anak itu, dibawa masuk ke dalarn rumah melalui pintu belakang yang segera ditutup kembali. "Inkong.......!"
"Paman buta.....! Betul dia paman buta.......!"
Ibu dan anaknya itu terbelalak memandang wajah Kun Hong yang kini sudah direbahkan di atas tempat tidur bambu yang sederhana. Keduanya menubruk, memeluk dan mengguncang-guncang tubuh Kun Hong.
Terdengar Kun Kong mengeluh, bibirnya bergerak perlahan.
"....... terlalu banyak musuh....... terlalu banyak......." Kemudian dia menjadi lemas dan mengigau tidak karuan.
"Inkong, ingatlah....... Inkong, ini aku janda Yo......"
"Paman, aku A Wan....."
Kun Hong mendengar suara ini, nampak terheran-heran, lalu berkata lirih,
"Yo-twaso.......? A Wan.......? Bagaimana....... ahhhhh......." Dia menjadi lemas dan pingsan lagi.
"Celaka! Inkong terluka hebat. Lihat darahnya begini banyak. Wah, bagaimana ini? A Wan lekas kau buka pakaiannya, bersihkan luka-lukanya, aku akan memasak air......." janda itu dengan gugup sekali lalu lari ke sana ke mari mempersiapkan segala keperluan, akan tetapi sesungguhnya tidak tahu betul bagaimana ia harus menolong Kun Hong yang mandi darah itu.
A Wan adalah seorang anak yang tabah. Biarpun ngeri juga dia melihat semua baju Kun Kong penuh darah, akan tetapi dengan cepat dia membuka pakaian, menurunkan buntalan dari punggung Kun Hong. Ketika dia membuka buntalan itu untuk mencari pengganti baju, dia melihat mahkota kecil dari emas yang mencorong terkena sinar lampu. Terkejutlah dia dan diambilnya mahkota itu, diamat-amatinya penuh perhatian. A Wan adalah anak yang cerdik, otaknya lalu bekerja. Tadi paman buta bicara tentang musuh banyak, tentu habis berkelahi dikeroyok banyak musuh, pikirnya. Mengapa berkelahi? Paman buta ini adalah seorang miskin, pendekar berbudi yang miskin, dari mana bisa mempunyai benda begini indah? Tak salah lagi, tentu paman buta berebutan benda ini dengan banyak orang jahat, akhirnya dikeroyok dan luka-luka. Pikiran ini membuat A Wan cepat membawa lari mahkata itu keluar kamar. Agak lama dia pergi ke belakang rumah di luar tahu ibunya yang sibuk memasak air. Setelah dia kembali menyelinap ke dalam kamar, dia sudah tidak membawa mahkota tadi. Dengan cepat A Wan membersihkan luka-luka di badan Kun Hong, menggunakan sehelai kain bersih.

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…