Skip to main content

Raja Pedang 28 (Kho Ping Hoo)


"Eh, eh, malam-malam kau hendak mengajakku ke manakah?" Beng San ter-heran dan menolak.


Kembali Bi Goat menuding-nuding kebelakangnya dan pada saat itu terdengar suara melengking tinggi seperti orang menangis dari jauh. Seketika pucat muka Beng San. Celaka, kiranya Song-bun-kwi berada dekat situ. Kiranya Bi Goat ini tadi memberi isyarat bahwa Song-bun-kwi berada dekat dan menyuruh dia pergi bersembunyi. Tentu gadis cilik ini tadi hendak menyatakan bahwa karena auman harimau tadi, Song-bun-kwi akan me-nyusul ke situ dan Beng San akan celaka.



Sebelum Beng San meyakinkan dugaannya, Bi Goat sudah menarik tangannya diajak lari cepat sekali ke arah utara.


"Betul, ke utara. Tiga puluh li dari sini ada kelenteng besar, kita bisa sembunyi di sana," katanya sambil ikut berlari cepat. Akan tetapi tiba-tiba Bi Goat menyeretnya meloncat ke dalam..... sungai'. Gadis cilik itu tentu saja sudah hafal akan gerak-gerik ayahnya yang luar biasa, ia gagu tapi cerdik sekali. Setelah kedua orang anak itu terjun ke dalam Sungai Huang-ho, baru Beng San tahu akan maksud hati Bi Goat. Gadis ini mengajaknya bersembunyi di bawah alang-alang yang tumbuh di pinggir sungai itu. Untung sekali Bi Goat tidak terlambat dalam tindakannya ini karena baru saja mereka bersembunyi di balik alang-alang dan merendam diri ke dalam air sungai, di situ sudah berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu Song-bun-kwi sudah berdiri seperti patung memandangi bangkai harimau dan bekas tempat tidur Beng San. Kakek sakti ini terdengar menggerutu seorang diri.


"Hemmm, membunuh harimau dengan ? timpukan sia-san (panah gunung). Bagus Bi Goat. Tapi kenapa lari pergi? Hemmm, ada orang lain di sini, siapa.....?" Dengar langkah lebar kakek itu lalu berjalanmengejar ke utara, langkahnya lebar jalannya kelihatan perlahan saja akan tetapi sebentar saja lenyap dari situ.


Beng San hendak keluar dari belakang rumput alang-alang, akan tetapi tiba-tiba leher baj'unya ada yang mencengkeram dan dia ditarik kembali ke balik alang-alang. Ternyata yang mencengke-ramnya adalah Bi Goat yang sebelum dia memprotes, telapak tangan yang kecil dari tangan kanan gadis itu sudah mem-bungkam mulutnya. Beng San terheran-heran, juga merasa geli. la merasa seperti anak kecil dihadapan gadis ini. Akan tetapi, segera dia mendapat ke-nyataan betapa cerdik gadis ini dan betapa gegabah dan bodohnya dia sendiri. Seperti seorang iblis, tahu-tahu Song-bun-kwi telah datang lagi di tempat tadi, berdiri seperti patung memandangi hari-mau. la bergidik dan merasa bulu teng-kuknya meremang! Seandainya dia me-ngeluarkan suara dan mulutnya tidak dibungkam oleh tangan gadis gagu itu, ah, tentu Si Iblis Berkabung itu sudah akan mendapatkannya. la menoleh untuk me-mandang Bi Goat dengan terima kasih, akan tetapi alangkah kaget dan herannya ketika dia sudah kehilangan gadis cilik itu. Entah ke mana perginya Bi Goat yang tadi berada di sebelahnya! Selagi dia kebingungan, mendadak sekali pundak-nya ditarik orang ke bawah sampai ke-palanya terbenam ke dalam air. la gelagapan, akan tetapi kembali ada tangan kecil yang menyusupkan setangkai alang-alang yang berlubang ke mulutnya. Baik-nya Beng San juga tergolong anak cerdik, maka seketika dia dapat menangkap mak-sud perbuatan aneh dari Bi Goat ini. Tentu dia disuruh bersembunyi dengan seluruh tubuhnya di dalam air dan tang-kai alang-alang itu dapat dipergunakan untuk bernapas. Maka dia pun mengisap hawa dari tangkai itu yang menyembul ke atas bersembunyi di antara rumpun alang-alang. Dengan girang dan berterima kasih dia memegang tangan kiri Bi Goat. Dua orang anak itu sambil berendam ke dalam air saling berpegang tangan, hati mereka berdebar penuh ketegangan dan kekhawatiran. Di dalam air Beng San tidak tahu apa yang terjadi di atas, an-daikata tahu dia pasti akan bergidik ke-ngerian karena beberapa detik setelah kepalanya terbenam air, Si Iblis Berkabung itu menggunakan tangannya mencengkeram remuk sebuah batu, kemudian menyambitkan pecahan batu ini ke se» kelilingnya, juga ke permukaan air dan ke dalam alang-alang! Andaikata kepala dua orang anak tadi masih bersembunyi di dalam alang-alang, tentu akan terkena sambitan pecahan batu yang cukup ampuh untuk menembus kulit kepala!


Setelah berendam kurang lebih satu jam, barulah Bi Goat berani muncul kem-bali ke permukaan air. la lalu memberl isyarat kepada Beng San untuk meloncat keluar dari air. Segera mereka berdiri di tepi sungai, basah kuyup dan saling ber-i pandangan. Tiba-tiba gadis cilik itu ter-senyum lega. Bukan main manisnya se-telah tersenyum. Hati Beng San serasa diremas-remas. Ingin dia memeluk Bi Goat, ingin dia memondongnya, meng-gendongnya seperti anak kecil. Gadis cilik gagu yang sudah menolong nyawa-nya, yang biarpun gagu tapi luar biasa cerdiknya dan sekarang tersenyum-senyum begitu manisnya. Tiba-tiba dia inelihat Bi Goat menggigil kedinginan.


"Kasihan kau, Bi Goat. Kau dingin? Biar kubuatkan api unggun."


Bi Goat segera memegang lengannya dan mengguncang-guncangnya. Alisnya berkerut dan kepalanya digeleng-gelengkan. Beng San teringat dan dia merasa malu sendiri. Ah, bagaimana dia sampai kalah oleh anak perempuan yang jauh lebih muda ini dan gagu pula lagi? Ke-napa dia begini kurang hati-hati? Kalau dia membuat api unggun, sama saja se-perti memberitahukan tempatnya kepada Song-bun-kwi. Biarpun kakek itu sudah jauh, ada tanda sedikit saja pasti cukup untuk memanggil kembali kakek yang lihai sekali itu.


"Bagaimana baiknya?; Kaukedinginan, Bi Goat."


Gadis cilik itu hanya menggeleng kepala, lalumemberi isyarat kepada Beng San untuk melanjutkan perjalanan ke utara. "Kau tentu ikut denganku, bukan? Bi Goat, kau ikut bersamaku, ya?"


Bi Goat mengangguk, meloncat ke dekat sungai yang ada pasirnya, ialu ujung sepatunya bergerak-gerak seperti menari. Beng San memandang dan alang-kah herannya ketika dia melihat huruf-huruf besar yang indah dibuat oleh gerak-an ujung sepatu itu. Huruf-huruf itu ber-bunyi: Harus sampai di kelenteng se-belum matahari terbit.


Beng San memegang kedua pundak Bi Goat, dipandangnya wajah itu penuh kekaguman. "Kau hebat! Biar gagu, kau pandai menulis dengan kakimalah! He-bat, Bi Goat, kau hebat.....!"


Gadis cilik itu hanya tersenyum, lalu menggandeng tangan Beng San diajak lan cepat. Di waktu dua orang anak ini berlari, Beng San merasa betapa dinginnya telapak tangan Bi Goat dan anak itu nampak kedinginan betul. Tidak heran karena pakaian basah kuyup ditamba? berian-larian di dalam udara yang begitu dinginnya lewat tengah malam itu. Beng San mendapat akal. Dia sendiri tidak bisa menderita dingin karena dengan hawa ditubuhnya dia bisa menyalurkan hawa panas membuat tubuhnya hangat. Diam-diam dia mengerahkan tenaga dalamnya, melalui telapak tangan Bi Goat dia menyalurkan hawa panas ke tubuh Bi Goat untuk mengusir hawa dingin.


Mendadak Bi Goat mengeluarkan su-ara "Uhhh!" dan melepaskan pegangan-nya, malah meloncat mundur dengan muka kaget. Melihat gerak kaki tangan-nya, gadis cilik ini sudah siap menghadapi pertempuran, matanya yang bening me-natap wajah Beng San penuh kecurigaan. Beng San maklum bahwa gadis cilik ini salah sangka. Diarr.-diam dia kagum se-kali. Ternyata penyaluran hawa panas tadi terasa pula oleh Bi Goat. Ternyata bocah ini sudah mahir tentang hawa di dalam tubuh, dapat merasai serangan

tenaga dalam!


"Bi Goat, aku tidak apa-apa, hanya ingin membantumu menghangatkan tubuh," Beng San berkata. Bi Goat memandang terus, mengangguk-angguk dan nampaknya kagum sekali. Agaknya baru sekarang gadis cilik ini mendapat kenyataan bahwa Beng San memiliki ilmu kepandaian. la lalu menggandeng tangan Beng San lagi dan sama sekali tidak melawan ketika pemuda itu sambil berjalan menyalurkan hawa panas yang diterimanya dengan gembira karena tak lama kemudian gadis cilik itu merasa hangat tubuhnya, tidak menderita kedinginan lagi.


Hari telah menjadi terang ketikaduaorang anak ini sambil bergandengan ta-ngan tiba di perbatasan Shan-si. Kelen-teng Hok-thian-tong berdiri di luar sebuah dusun, hanya dua li jauhnya dari Sungai Huang-ho. Dengan gembira dan penuh harapan Beng San mengajak Bi Goat lari menuju ke tempat itu.


Betapa kagetnya ketika akhirnya sampai di tempat yang dituju, ia melihat bahwa apa yang dulunya merupakan ba-ngunan-bangunan kelenteng yang besar, tua dan kuat, sekarang hanya tinggal tumpukan puing-puing belaka. Bangunan-bangunan itu ternyata telah menjadi abu, telah habis dimakan api! Sekelilingnya sunyi, tak kelihatan seorang pun manusia. Melihat keadaan tempat itu, agaknya baru beberapa pekan saja Kelenteng Hok-thian-tong kebakaran. Beng San berdiri bengong.


Bi Goat yang semenjak tadi sudah nampak gelisah karena belum juga mereka mendapatkan tempat berlindung, kini memandang kepada Beng San yang kelihatan sedih. la segera menarik-narik tangan Beng San dan menunjuk ke arah puing, seolah-olah bertanya.


"Celaka sekali, Bi Goat," kata Beng San perlahan. "Agaknya terjadi sesuatu yang hebat dengan Kelenteng Hok-thian-tong. Ah, bagaimana nasibnya para hwesio dan ke mana perginya mereka itu?" Dasar Beng San memang seorang yang memiliki hati penuh pribudi, sebentar saja dia sudah lupa akan keadaan diri sendiri, lupa akan ancaman yang menge-lilingi dirinya dan menaruh kasihan serta memperhatikan nasib lain orang.


Dengan suara ah-ah-uh-uh-uh, Bi Goat menudingkan telunjuknya ke arah dada Beng San dan dada sendiri, lalu menuding ke arah belakang. Jelas ia kelihatan memperingatkan Beng San akan bahaya yang mengancam mereka. Barulah dia sadar akan ancaman bahaya hebat berupa Song-bun-kwi yang setelah malam terganti pagi tentu akan lebih memudahkan kakek itu mencari mereka. la ingat bahwa tak jauh dari kelenteng itu terdapat sebuah dusun dan dia sudah kenal dengan beberapa orang tua di dusun itu yaitu ketika dia dahulu menjadi kacung Kelenteng Hok-thian-tong. Tentu mereka itu akan suka memberi tempat kepadanya untuk bersembunyi. Setelah berpikir demikian Beng San lalu menarik tangati Bl Goat, diajak berlari menuju ke dusun itu.


Hari masih pagi dan dusun itu sunyi sekali. Hal ini mengherankan hati Beng San karena dahulu para petani di dusun itu sudah pada bangun, malah sudah berangkat ke sawah sebelum matahari terbit. Sekarang kenapa sebuah rumah pun belum membiika pintunya? Sambil menggandeng tangan Bi Goat, Beng San ber-lari-lari di sepanjang jalan kampung yang sunyi itu. Jangankan nrianusia, seekor anjing pun tak tampak di situ. Keadaan sunyi menyeramkan. Beng San seperti mendapat firasat bahwa tentu terjadi hal-hal yang mengerikan di dusun ini, seperti yang telah menimpa Kelenteng Hok-thian-tong. la segera menuju ke rumah kakek Sam, pemilik warung kecil di sudut kampung yang sudah dikenalnya. Kakek Sam seorang duda tua, amat pe-ramah dan baik kepadanya. la dapat mempercayai penuh kakek itudan kiranya tidak ada tempat persembunyian yang lebih baik dan aman kecuali rumah kakek Sam itu.


Diketuknya pintu rumah yang masih tertutup itu. Biasanya pagi-pagi sekali kakek Sam sudah membuka warungnya, sekarang pintu rumahnya pun masih tertutup. Beng San tak sabar lagi, ingin dia segera bertemu dengan kakek Sam untuk minta keterangan tentang keadaan kam-pung yang sunyi ini, dan tentang ke-bakaran Kelenteng Hok-thian-tong.


"Tok-tok-tok!" Untuk ke empat kalinya dia mengetuk, kini agak keras


Belum juga ada jawaban dari dalam dan tiba-tiba terdengar lengking tinggi dari jauh, Beng San menjadi pucat mukanya, Bi Goat memegang tangannya dan cepat dia mendorong pergi Beng San sehingga anak ini terhuyung. Bi Goat dengan muka gelisah menuding-nudingkan telunjuknya seperti mengusir pergi Beng San dan pada saat itu pintu rumah ter-buka dan..... Beng San meloncat mundur dengan mata terbelalak. Ratusan ekor ular menyerbu keluar dari pintu rumah yang baru terbuka itu!


"Celaka! Bi Goat, mundur....." teriaknya sambil meloncat lagi menjauhkan diri. Pengalaman dengan ular-ular ini pernah dia alami bersama Tan Hok da-hulu ini dan dia masih bergidik kalau mengenangkannya. Sekarang kembali dia berhadapan dengan ratusan ekor ular yang menjijikkan.


Bi Goat membalikkan tubuh, sama sekali tidak kelihatan takut kepada barisan ular itu. la mengeluarkan suara ah-uh-ah-uh-ah dan menudingkan telunjuknya kepada Beng San, lalu ke arah belakangnya dari mana masih terdengar lengking tangis sayup sampai.


Celaka betul, pikir Beng San. Dafl belakang mengejar Song-bun-kwi, dan depan menghadang barisan ular ini. Bagaimana dia bisa lari lagi pergi meninggalkan Bi Goat? Mungkin Bi Goat takkan diganggu Song-bun-kwi, akan tetapi ular-ular ini? Sekali lagi Bi Goat memberi isyarat supaya dia bersembunyi dan gadis ini mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Dengan benda yang diambilnya itu di tangan, Bi Goat melangkah maju dan..... dengan enaknya ia berjalan diantara barisan ular itu yang begitu gadis ini mendekat lalu diam tak bergerak, malah yang di depan cepat-cepat menyingkir, agaknya merasa takut sekali. Beng San terheran-heran dan dia hanya melihat sebuah benda mengkilap di ta-ngan Bi Goat. Agaknya benda itulah yang membikin takut barisan ular itu.


Suara lengking tinggi makin jelas terdengar dan kini Beng San tak perlu mengkhawatirkan diri Bi Goat lagi. Selain gadis cilik itu memiliki benda yang irielindunginya dari ular-ular itu, juga Bi Goat memiliki kepandaian yang cukup tinggi sehingga tak usah khawatir akan dicelakai orang. Apalagi Song-bun-kwi sudah datang dekat, siapa berani mengganggunya? Berpikir demikian, Beng San lalu berkata.


"Bi Goat, selamat tinggal!" Dan dia talu lari terus ke utara menjauhkan diri dari tempat itu. Setelah keluar dari dusun itu, dia melihat beberapa orang serdadu Mongol di belakang rumah yang paling pinggir. Anehnya, serdadu itu segera; menyelinap dan menyembunyikan diri ketika melihat Beng San lari lewat. Beng San tidak peduli dan lari terus Sampai ke pinggir Sungai Huang-ho, ke-mudian lari di sepanjang tepi sungai menuju ke barat.


Setelah dia berlari belasan li jauhnya dan mulai mengendorkan larinya karena mengira bahwa dia sudah selamat terhindlar daripada ancaman Song-bun-kwi, tiba-tiba dia mendengar lengking itu sudah dekat di belakangnya! Beng San menjadi kaget setengah mati dan dia mempercepat lagi larinya. Napasnya sampai hampir putus dan dia terengah-engah ketika di sebuah tikungan dia melihat iringan-iringan gerobak. Ada tujuh buah gerobak banyaknya. gerobak mengangkut karung-karung gandum. Iring-inngan gerobak gandum ini adalah gandum-gandum yang merupakan "pajak" dari para petani, dipungut oleh pembesar setempat untuk dikirimkan ke kota, disetorkan kepada pembesar atasan. Para petani biasnya menangis apabila melihat pawai gerobak ini karena di situlah adanya hasil jerih payah mereka selama setengah tahun , hasil cucuran keringat mereka setiap hari. Boleh dibilang mereka tidak ke bagian apa-apa lagi kecuali sedikit yang mereka makan untuk menyambung hidup.


Beng San melihat belasan orang tentara Mongol mengawal tujuh gerobak gandum ini dan disetiap gerobak terdapat seorang kusirnya. Karena lengking tangis d! belakangnya sudah makin keras tanda bahwa Song bun-kwi makin dekat Beng San tidak berpikir panjang lagi. Diam diam dia menyelinap di antara gerobak-gerobak itu dan tanpa diketahui para pengawal, dia meloncat ke dalam gerobak bersembunyi di antara karung-karung gandum yang hampir sebesar dia, penuh dengan gandum yang baik dan basih. Ia mengintai dari dalam gerobak dan melihat bahwa gerobak itu dikusiri seorang bocah seumur dengannya, yang memakai caping (topi tani) lebar menutupi mukanya. Bocah ini nampak melenggut saking ngantuknya. Memang mudah untuk mengusiri gerobaknya karena gerobak yang dikusirinya ini adalah ge-robak ke tiga sehingga kuda yang menarik gerobak itu tak usah dikendalikan lagi, hanya tinggal mengikuti yang depan.


Tiba-tiba setelah iring-iringan iini berjalan dua tiga li jauhnya, terdengar bentakan-bentakan di luar dan gerobak-gerobak itu berhenti. Terdengar suara Song-bun-kwi yang galak berpengaruh.


"Aku mencari seorang anak laki-laki -bermuka hitam, kadang-kadang putih, kadang-kadang hijau., Apakah dia turut dengan kalian?"


Terdengar suara makian kotor sebagai jawaban dan seorang diantara para pengawal membentak, "Tua bangka gila, hayo pergi jangan ganggu kami'"


Akan tetapi ucapan ini disusul pekik mengerikan, disusul pekik ke dua dan ke tiga. Kemudian terdengar orang-orang minta ampun disusul suara ketawa kakek Song-bun-kwi, ketawa yang seperti orang menangis.


"Anjing-anjing Mongol berani kurang ajar terhadapku? Mau tahu siapa aku? Song-bun-kwi inilah aku!" Kembali ter-dengar seruan-seruan ketakutan dan minta ampun.


"Ampun, Locianpwe, ampunkan kami ..... di sini tidak ada anak laki-laki yang Locianpwe maksudkan tadi....."


"Hah, siapa percaya mulut anjlng Mongol? Biar kuperiksa sendiri!" Song-bun-kwi menyingkap tenda gerobak satu demi satu, tapi tidak melihat adanya Beng San. Tujuh buah gerobak itu hanya berisi gandum belaka berkarung-karung banyaknya, bertumpuk-tumpuk memenuhi gerobak-gerobak itu. Dengan marah dankecewa Song-bun-kwi pergi dari situ sambil mengeluarkan bunyi lengkingnya yang meninggi seperti orang menangis.


Buru-buru para pengawal gerobak-gerobak gandum ini menolong tiga orang teman mereka yang mati oleh pukulan Song-bun-kwi, dimasukkan ke dalam gerobak dan iring-iringan itu segera melanjutkan perjalanannya. Kemanakah perginya Beng San? Bagaimana Song-bun-kwi tidak bisa menemukannya? Kalau saja Song-bun-kwi tidak begitu tergesa-gesa, kiranya di gerobak ke tiga dia akan melihat sebuah karung gandum yang agak lain daripada yang lain karena di dalam karung ini bukan berisi gandum, melainkan berisi seorang manusia, Beng San! Anak yang amat cerdik ini telah lebih dulu bersembunyi. Ia mendapatkan karung kosong di situ, maka segera dimasukinya dan ditutup dari dalam. Di antara puluhan karung gandum itu sepintas lalu memang takkan dapat terlihat perbedaannya. la bernapas lega ketika Song-bun-kwi sudah pergi dan gerobak-gerobak itu sudah berjalan kembali. Akan tetapi dia tidak berani segera meninggalkan rombongan ini, maklum bahwa, watak Song-bun-kwi takkan putus asa begitu saja. la segera mencari akal dan keluar dari karung gandum.


Benar saja dugaan Beng San. Belum tiga li gerobak-gerobak itu berjalan, mendadak terdengar lagi lengking tangis, dan tak lama kemudian rombongan ini berhenti.


"Apakah yang dapat kami lakukan untuk Locianpwe? Ada keperluan apa gerangan Locianpwe kembali?" terdengar kepala penjaga bertanya dengan suara gemetar.


"Buka semua tenda gerobak, hendak kuperiksa lagi!"


Para pengawal sibuk membukai tenda gerobak. Song-bun-kwi meneliti dengan penuh perhatian. Di gerobak ke tiga dia berhenti dan tiba-tiba dia menyambar sebuah karung gandum. Begitu dia mengangkat karung gandum ini, jelas kelihatan bahwa di dalam karung bukanlah gandum, melainkan seorang manusia yang bergerak-gerak!


"Ha-ha-ha-hi-hi! Beng San bocah setan, kau hendak lari ke mana?" Sambil tertawa-tawa gembira Song-bun-kwi meng-gendong karung berisi manusia itu dan berlari cepat sekali seperti terbang meninggalkan rombongan itu.


Para pengawal saling pandang dengan heran. Bagaimana di antara gandum berkarung-karung itu terdapat manusianya? Tergesa-gesa mereka melanjutkan perjalanan dan sebentar-sebentar para pengawal menengok ke belakang dengan perasaan ngeri dan takut. Nama besar Song-bun-kwi memang membikin takut semua orang dari golongan manapun juga.


Tiba-tiba gerobak ke tiga menyeleweng dari iring-iringan. Kudanya membelok ke kiri dan melintang di tengah jalan.


"Keparat, kusirnya tertidur agaknya!" bentak kepala pengawal sambil berlari menghampiri dan menahan kuda yang hendak binal ini. Ketika dia memandang, dia kaget sekali melihat bahwa gerobak ke tiga ini memang tidak ada kusirnya! Ke mana perginya kusir yang masih muda itu? Tadi masih nampak melenggut, melindungi mukanya dari sinar matahari.


Semua pengawal menjadi bingung dan bertanya-tanya, kemudian mereka menjadi pucat ketika kepala pengawal berseru, "Celaka, jangan-jangan yang dibawa pergi Song-bun-kwi adalah dia!"


Kekhawatiran mereka terbukti. Pada saat itu terdengar lcngking panjang. Sebelum mereka sempat berunding apa yang harus mereka lakukan, Song-bun-kwi sudah datang membawa karuns?, yang tadi, dilemparkannya karung yang sekarang berisi mayat manusia itu ke arah para pengawal, kemudian tubuh Song-bun-kwi berkelebatan ke sana ke mari. Beberapa belas menit keniudian ketika kakek ini pergi, di situ sudah tidak ada lagi manusia hidup. Semua pengawal dan kusir, bahkan semua kuda yang menarik gerobak, rebah tak bernyawa lagi. Beginilah kejamnya hati Song-bun-kwi si Iblis Berkabung!


Apakah yang terjadi? Ke mana perginya Beng San? Kalaii saja Beng San tahu apalagi melihat apa yang menjadi akibat, daripada perbuatannya, kiranya dia tak-kan suka melakukan akalnya itu. Tadi setelah selamat tidak dapat ditemukan Song-bun-kwi ketika dia bersembunyi di dalam karung gandum, dia merasa pasti bahwa kakek iblis itu akan kembali. Maka cepat dia mengambil keputusan menggunakan siasat. Dari dalam gerobak dia merayap ke depan dan sekali terkam dia dapat menangkap kusir gerobak yang masih muda itu, menyumpal mulutnya dan mengikat kaki tangannya. Kemudian dia memasukkan kusir ini ke dalam karung dan dia sendiri duduk di tempat kusir, memakai topi caping lebar menutupi mukanya. Dengan hati berdebar tidak karuan Beng San menyaksikan sendiri dari balik topinya ketika Song-bun-kwi datang lagi dan membawa pergi karung gandum berisi kusir tadi. la merasa beruntung sekali bahwa kakek iblis itu tidak membuka karung di tempat itu. Setelah kakek itu pergi, cepat Beng San mencari kesempatan dan diam-diam menyelinap turun dari gerobak, lalu lari memasuki sebuah hutan yang lebat dan liar di tepi Sungai Huang-ho.


Karena takut kalau-kalau dapat dikejar dan ditangkap Song-bun-kwi, Beng San berlari terus menyusup-nyusup hutan liar itu. Setelah hari menjadi sore, barulah dia berhenti. la telah sekali, lelah dan lapar. Agaknya malapetaka masih banyak mengelilingi dirinya. Baru saja dia terlelap hendak tidur, dia mendengar suara berisik dan ketika dia membuka matanya, dia telah dikurung oleh belasan orang laki-laki tinggi besar yang kelihatan bengis dan jahat. Semua orang itu memegang golok yang besar dan tajam berkilau!


"Eh, eh..... ada apa..... mau apa.....?"! Beng San berseru gagap dan merayap hendak bangun.


"Heh-heh-heh!" Seorang di antara mereka, yang bermulut lebar dan berkumis lebat, tertawa bergelak, dari mulutnya menitik keluar air liur, menjijikkan sekali. "Kawan-kawan, daging bocah kurus ini kiranya lumayan juga untuk teman gandum dan arak. Heh-heh-heh!"


"Apa.....??" Beng San meloncat ke belakang, mukanya pucat. "Kalian im manusia hendak makan daging manusia? Apakah kalian ini iblis?"


"Sekarang ini jamannya orang makan orang, heh-heh-heh, apa anehnya kalau kami hendak makan engkau, bocah? be-tiap hari di kota, di dusun, kau melihat, orang makan orang, ha-ha-ha, orang digerogoti habis dagingnya oleh orang lain. Heh-heh-heh!"


Para pengurung itu yang wajahnya liar dan bengis-bengis merapat maju. Beng San menengok ke kanan kiri dan mendapatkan dirinya sudah terkurung betul-betul, tidak ada jalan keluar atau lari lagi. la menjadi bingung dan akhir-nya timbul amarahnya. Masa dia harus menyerah meptah-mentah saja untuk dijadikan mangsa orang-orang liar ini? Tidak, dia harus melawan! Latihannya ilmu silat telah banyak maju, setiap saat terluang tak pernah dia lupa melatih diri. Kiranya sekarang inilah ujian bagi-nya apakah dia selama ini melatih diri cukup keras atau tidak.


Mendadak terdengar bentakan-bentakan keras. Sinar putih berkelebatan dari kanan kiri. Di antara orang-orang liar itu ada beberapa orang terjungkal dan beberapa batang senjata rahasia menancap pada batang pohon.


"Ah, Pek-lian-pai yang datang.....! Kawan-kawan, lari.....!" seru kepala gerombolan liar itu, Mereka lari cerai-berai sambil menyeret mereka yang tadi terjungkal roboh. Sebentar saja di situ tidak kelihatan lagi seorang pun orang jahat, hanya di sana-sini kelihatan paku-paku yang kepalanya berbentuk bunga teratai putih. Itulah Pek-lian-ting (Paku Teratai Putih), senjata rahasia dan tanda ang-gauta perkumpulan Pek-lian-pai. Beng San girang sekali. Tentu Tan Hok dan teman-temannya yang datang menolongnya. la celingukan ke kanan kiri, lalu memanggil.


"Tan-twako»...., aku Beng San disini .....!"


Dari dalam hutan yang sudah mulai gelap itu bermunculan belasan orang. Ada laki-laki, ada pula wanita dan pakaian mereka serba ringkas. Yang laki-laki kelihatan gagah, ada juga yang menakutkan. Tiga orang wanita di antara niereka cantik dan gagah, sudah setengoh tna akan tetapi masih cantik dan gesit gerak-geriknya. Mereka ini segera mendekati Beng San, seorarig di antaranya bertanya ramah.


"Kau tadi memanggil Tan-twako, siapakah yang kaumaksudkan?"


Beng San melihat bahwa penanyanya seorang laki-laki berusia empat puluh tahun, gagah dan keren. "Kumaksudkan pemimpin rombongan Pek-lian-pai yang bernama Tan Hok, dia adalah sahabat baikku."


Terdengar seruan-seruan heran dan kaget di antara belasan orang Pek-lian-pai itu. Si pemimpin sendiri segera mengeluarkan seruan girang. "Aha, kiranya kau yang bernama Beng San? Tentu saja kami mengenal baik Tan Hok yang memimpin rombongan Pek-lian-pai dari selatan itu. Sudah kuduga bahwa kau tentu Beng San seperti pernah diceritakan oteh saudara Tan Hok, maka tadi kami tidak ragu-ragu untuk mengusir perampok-perampok pemakan manusia itu”.


Beng San segera mernberi hormat dan berkata, "Banyak terima kasih kuucapkan kepada kakak-kakak yang gagah perkasa. Makin yakinlah hatiku sekarang bahwa Pek-lian-pai memang perkumpulan orang-orang gagah. Akan tetapi, Twako, kenapa kalian yang belum mengenalku telah menolongku dan begini baik kepadaku?" Beng San merasa sungkan sekali karena beberapa orang Pek-lian-pai itu sudah mengeluar^an roti dan air minum untuknya.


"Kaumakanlah dulu, nanti akan kami ceritakan sejelasnya. Bukan hanya karena kau kenalan saudara Tan Hok saja mengapa kami menolongmu, akan tetapi ada hal yang lebih penting lagi. Makanlah dulu, Adik Beng San."

Comments

Popular posts from this blog

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…