Skip to main content

Raja Pedang 17 (Kho Ping Hoo)

Tiga orang tua menghampiri Kwa Hong sambil tersenyum, "Ayahmu dan bibi gurumu tidak berada di sini, belum kembali. Kau baik segera pergi menghadap kakek gurumu, Hong Hong." Para tosu itu biasa memanggil Kwa Hong dengan sebutan Hong Hong dan mer6ka-amat menyayang bocah yang mungil selalu gembira ini. Memang, di antcr'a para cucu murid Lian Bu Tojin, hanya Kwa Hong yang paling sering berdiam di puncak itu karena ia amat dimanja1 ayahnya dan sering kali ikut pergi mengembara dengan ayahnya. Sambil berlari dan tertawa-tawa Kwa Hong hendak memasuki bangunan besar yang berbentuk kelenteng untuk menghadap sukongnya (kakek gurunya).

 

"Enci Hong, jangan tinggalkan aku! Aku ikut!" Koai Atong juga lari mengejar.

"Hong Hong, kenapa kaubawa-bawa orang tolol ini? Eh, orang gila, jangan kurang ajar kau. Tidak boleh masuk!" Tiga orang tosu itu tentu saja hendak melarang Koai Atong yang seenaknya saja hendak memasuki kelenteng itu. Mereka melangkah maju menghadang dan inemberytang kedua lengan menghalangi-nya.

"Aku mau ikut Enci Hong..... melihat-lihat kelenteng!" Koai Atong membantah dan lari terus. Tiga orang tosu itu menggerakkan tangan untuk memegangnya. Koai Atong bergerak aneh dan..... tahu-tahu dia telah dapat menyelinap masuk, lolos dari tangkapan tiga orang tosu itu. Tentu saja tiga orang tosu ini saling pandang dengan mulut melongo. Mereka tidak dapat mengikuti gerakan Koai Atong, tidak tahu bagaimana orang iiu dapat meluputkan diri dari cengkeraman tiga orang dan tahu-tahu sudah menyelonong imasuk. Dari heran mereka menjadi malu dan marah.

"Otak miring, perlahan jalan. Kaut, tidak boleh masuk!" bentak mereka sambil lari mengejar. Sekarang mereka meng-ambil keputusan untuk tidak bersikap lemah lagi, kalau perlu orang gila itu harus dipukul. Akan tetapi ketika mereka maju untuk mencengkeram dan memuKil, tanpa menoleh Koai Atong menggerakan kedua lengannya ke belakang. Sekaligus dia menangkis tangan tiga orang tosu itu dan..... tiga orang tosu itu terjengkartg dan roboh! Hal ini terlihat oleh beberapa orang tosu lain. Mereka menjadi marah dan bersama tiga orang tosu pertama yang sudah banguh lagi, sekarang ada tujuh orang tosu mengejar Koai Atong dengan marah-marah.

Tosu-tosu ini serentak berhenti mengejar ketika mendengar suara hafus dari dalam kelenteng, "3angar> ganggu dia. Biarkan Koai Atong masuk ke dalam!"

Itulah suara Lian Bu Tojin ketua Hoa-san-pai. Tentu saja para tosu itu tak berani membantah, apalagi setelah men-dengar bahwa orang tua yang seperti berotak rniring itu adalah Koai Atong seorang kang-ouw yang sudah pernah mereka dengar namanya sebagai seorang yang berilmu tinggi akan tetapi yang berwatak seperti bocah! Mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela napas ketika Koai Atong yang mendengar suara Lian Bu Tojin itu kini menoleh kepada mereka, menyeringai dan meleletkan lidah seperti seorang anak nakal mengejek anak-anak lain!

Satu-satunya orang yang agak ditakuti oleh Kwa Hong adalah Lian Bu Tojin. Kakek gurunya ini orangnya sabar sekali, bicaranya halus dan tidak pernah ber-sikap galak. Akan tetapi bagi Kwa Hong, pandang mata kakek gurunya itu amat tajam dan langsung menjenguk isi hati orang, kadang-kadang berkilat dan mem-buat hatinya mengkeret. Maka sekarang ia berlutut dengan hormat di depan ka-kek gurunya yang duduk bersila di atas lantai bertilam kasur tipis. Koai Atong yang memasuki ruangan itu sambil ce-lingukan dan pringas-pringis, setelah me-lihat kakek yang berjenggot panjang itu, segera pula menjatuhkan diri berlutut.di sebelah Kwa Hong.

Lian Bu Tojin mengelus-elus jenggot-nya yang panjang, tubuhnya yang tinggi kurus itu duduk bersila tegak, tongkdt bambunya yang membuat namanya amat terkenal itu terletak di sebelah kirinya. Bibirnya tersenyum dan dia mengangguk-angguk senang.

"Bagus, Hong Hong, kau Sudah datang^ Eh, Koai Atong, terima kasih atas jerih payahmu mengantar dia ke sini. Bag&i-mana dengan gurumu?"

Koai Atong mengangkat muka mandang. "Suhu..... entah di mana sekarang. Teecu mohon Totiang suka minta-kan maaf kepada suhu kalau kelak suhu marah dan menghajar teecu. Tidak mestinya teecu sampai ke Hoa-san."

Dengan sabar Lian Bu Tojih mengf angguk-angguk. "Tentu saja, jangan kau khawatir. Gurumu Giam Kong Hwesio takkan marah apabila dia tahu bahwa kau mengantar cucu muridku ke sini, Kalau kau kembali dan bertemu padanya, sampaikan salamku kepadanya." Koai Atong hanya mengangguk-angguk. Kwa Hong ingin sekali bertanya tentang ayah-nya kepada kakek gurunya itu, akan te-tapi di depan kakek itu, entah mengapa, mulutnya sukar dibuka. Kakek yang sudah kenyang makan asam garam penghidupan itu, sekali pandang saja dapat menduga apa yang dipikirkan Kwa Hong.

"Hong Hong, ayahmu bersama kedua stisiok dan sukouwmu pergi turun gunung. Kurasa tak lama lagi, dalam beberapa hari ini akan datang. Di belakang sana ada seorang saudara-saudaramu, anak-anak dari kedua susiokmu. Kau ke sana-lah bermain dengan mereka."

Wajah Kwa Hong tiba-tiba berseri gembira. "Enci Bwee di situ?" Ketika kakek itu mengangguk, Kwa Hong lalu bangkit dan lari ke belakang nnelalui pintu samping. Koai Atong yang masih berlutut, memandang ke arah larinya Kwa Hong, kemudian ia berkata.

"Totiang, perkenankan teecu bermain-main di sini selama beberapa hari dengan Enci Hong."

Lian Bu Tojin tersenyum akan tetapi suaranya tefias ketika berkata.

"Atong, kau boleh bermain-main dengan anak-anak itu di sini selama tiga hari. Tak boleh lebih dari tiga hari. Suhu-mu tentu akan menanti-nati kembalimu."

Sambil mengangguk-angguk Koai Atong lalu berlari gembira mengejar Kwa Hong yang pergi menuju ke taman bunga di belakang kelenteng. Setibanya di taman , bunga yang luas dan indah itu, Koai Atong melihat Kwa Hong sedang ber-cakap-cakap gembira dengan tiga orang anak lain, yaitu dua orang anak laki-laki yang tampan dan seorang anak pe-rempuan yang cantik seperti Kwa Hong. Biarpun Kwa Hong tampak yang paHng muda di antara mereka, namun jelas bahwa tiga orang anak-anak lain itu mengagumi dan menghormatnya, terlihat dari cara mereka itu mendengarkan kata-kata Kwa Hong yang sedang menyombong-kan semua pengalamannya yang hebat1 hebat, tentu saja dengan tambahan di sana-sini, agar lebih serem dan menarik.

Seperti kita telah ketahui, tiga ordng anak itu bukan lain adalah Thio Ki dan Thio Bwee, putera-puteri Thio Wan It, dan yang seorang lagi adalah Kui Lok putera tunggal Kui Teng. Tiga orang anak itu masih berada di Hoa-san me-nanti orang tua mereka sambil mem-perdalam ilmu silat di bawah asuhan Lian Bu Tojin sendiri. Oleh karena Kwa Hong adalah puteri dari orang pertama dari Hoa-san Sie-eng, apalagi karena memang Kwa Hong lebih sering dan lebih banyak merantau daripada mereka, ditambah lagi sifat yang lincah gembira, membuat tiga orang anak ity amat me-ngagumi Kwa Hong.

Tiba-tiba Kui Lok menudingkan te-lunjuknya ke arah seorang yang berlari-lari memasuki taman. "Eh, dari mana datangnya orang gila?" Semua anak menoleh dan melihat seorang laki-laki ting-gi besar berlari datang sambil tertawa-tawa. Pakaian dan sepatu laki-laki tinggi besar ini berkembang-kembang seperti .yang biasa dipakai wanita. Tentu saja dia ini adalah Koai Atong yang amat gembira mellhat taman bunga begitu indah dan di situ terdapat banyak teman ber-Jnain pula.

Kwa Hong tertawa. "Dia bukan orang gila. Dia itulah Koai Atong yang baru saja kuceritakan tadi. Dia lihai bukan main, orangnya lucu dan pandai bermain-main. He, Koai Atong, ke sinilah. Banyak teman di sini!"

Sambil berloncat-loncatan Koai Atong mempercepat larinya, congklang seperti seekor kuda besar. "Wah, Enci Hong. Aku senang di sini, banyak bunga indah. Tosu tua itu sudah memberi ijin kepadaku tinggal di sini selama tiga hari. Hore, kita bisa bermain-main sepuasnya!"

Thio Ki dan Kui Lok memandang dengan kening berkerut, sedangkan Thlo Bwee memandang dengan perasaan agak ngeri dan jijik. Bagaimana mereka bisa bermain-main dengan seorang gila seperti ini?

Tanpa mempedulikan sikap tiga orang anak yang lain itu, Kwa Hong berkata gembira kepada Koai Atong, "Eh, Atong, kau berkenalan dulu dengan teman-teman ini yang semua adalah orang-orang sen-diri." Dia menyebut nama tiga orang 'Wtak itu 'seorang demi seorang. Dengan sepasang matanya yang berputaran, Koai Atong memandang tiga orang anak itu seorang demi seorang. Thio Bwee sampai melangkah mundur setindak saking ngeri-nya.

"Masa orang tua bermain-main dengan anak-anak?" Thio Ki mencela sambij memandang tajam kepada Koai Atong. la'. tidak percaya kepada orang tinggi besar ini yang menurut pandangannya tentu bukan orang baik-baik.

"Benar, Ki-ko (Kakak Ki). Aku pun tidak sudi bermain-main dengan dia. Iiihhh, kakek-kakek mau bermain dengan anak kecil!" Thio Bwee memperkuat pendapat kakaknya.

Akan tetapi Kui Lok tiba-tiba berkata Sambil memandang Kwa Hong, "Kalau Adik Hong sudah menjadi temannya, mengapa kita tidak? Koai Atong, aku suka bermain-main denganmu."

Thio Bwee menoleh kepada Kui Lok. Sepasang matanya berapi. Biasanya anak ini pendiam, akan tetapi entah mengapa, ia agaknya marah sekali kepada Kui Lok."Kau memang selalu lan^ daripada orang lain. ( Tidak hanya tangan, juga pikiran-mu!" Wajah Kui Lok menjadi merah men-dengar sindiran ini. la maklum bahwa Thio Bwee menyindir tangannya yang kidal.

Kwa Hong tertawa, sama sekali tidak marah karena temannya dicela. "Dulu pun aku tidak suka, akan tetapi setelah melihat betapa lihainya Koai Atong, dan betapa dia baik hati dan penurut, aku menjadi suka padanya. Hemmm, kalian ini bertiga menghadapi tangan kirinya saja takkan mampu mengalahkannya. Dia r lihai sekali, mungkin tidak kalah oleh ayah kalian."

"Bohong..,..!" seru Thio Bwee marah;

"Aku tidak percaya.....!" kata Thio Ki penasaran.

Kui Lok juga terpukul oleh ucapan Kwa Hong itu. la ragu-ragu, mengerutkan kerting dan menggeleng-geleng kepala. "Ah, agaknya tak mungkin....." akhirnya dia berkata.

"Kalian tidak percaya? Kurasa, dua orang ayah kalian maju bersama masih tidak marppu melawan Koai Atong. Kalian tahu? Dia pernah menolong ayah dan bibi guru. Hebat sekali. Penjahat-penjahat Jihai dia kalahkan hanya dengan me-nnutar-mutar tangan kiri seperti ini....." Dengan lincah dan Jucu Kwa Hong lalu memutar-mutar tangan kiri beberapa lama sambil menggigit bibir, kemudian sambil berseru, "mati.....!" tangan kirinya itu mendorong ke depan ke arah batang pohon besar yang tumbuh di situ. Beberapa helai daun pohon gugur dari tangkainya.

"Ah, Enci Hong, kurang tenaga..... kurang tenaga.....! Gerakanmu sudah cu-kup indah, tapi pukulan itu belum mengandung tenaga. Lihat begini Iho!" Koai Atong lalu memutar-mutar tangan kirinya seperti yang dilakukan Kwa Hong tadi, menggerakkan tangan itu perlahan kedepan, ke arah pohon yang tadi. Hebat sekali akibatnya. Pohon yang jaraknya antara dua meter dari tempat dia ber-diri, tidak kelihatan goyang akan tetapi tiba-tiba semua daunnya rontok dari atas seperti hujan. Ketika semua anak memandang, ternyata bahwa pohon itu tiba-tiba menjadi gundul tak berdaun lagi! Kwa Hong tersenyum girang dan bangga ketika melihat betapa Thio Ki, Thio Bwee, dan Kui Lok memandang dengan muka pucat. Bahkan Kui Lok meleletkan lidahnya saking heran dan kagumnya!

"Nah, bukankah dia hebat dan lucu? , Kalau kalian berbaik kepadanya, kalian juga bisa mempelajari ilmunya, seperti aku. Kelak kita akan menjadi orang-orang yang lebih lihai daripada ayah. Bukankah hebat?" kata pula Kwa Hong.

"Heee, siapa bikin rontok semua daun pohon itu? Celaka, pohon itu akan mati!" Seruan ini dibarengi munculnya tiga orang tosu dari pintu taman. Ketika tiga orang tosu itu melihat Koai Atong, mereka makin marah. Mereka ini bukan lain adalah tosu-tosu yang tadi telah dirobohkan Koai Atong. Seorang diantara mereka, yang matanya juling, melangkah maju dan menudingkan jari telunjuknya ke arah Koai Atong sambil membentak.

"Orang gila ini berada di sini? Hong Hong, jangan biarkan dia di sini. Tentu dia yang merusak pohon itu. Ah, celaka, Hoa-san-pai kedatangan iblis gila!"

Kwa Hong melihat Koai Atong cengar-cengir dan mengejek ke arah tiga orang tosu itu dengan mulut dan mata dimain-mainkan, matanya melotot plerak-plerok dan mulutnya kadang-kadang dipencas-penceskan atau lidahnya dikeluarkan dan diulur ke arah tiga orang tosu itu. Sam-bil menahan ketawanya melihat "kenakal-an" Koai Atong, Kwa Hong cepat ber-kata, "Sam-wi Supek (Uwa Guru Ber-tiga) harap jangan marah. Koai Atong sudah mendapat perkenan sukong (kakek guru) untuk bermain-main di sini selama tiga hari."

Tiga orang tosu itu cemberut dan . bersungut-sungut, "Orang gila diperboleh-kan mengacau taman, merusak bunga dan merusak watak anak-anak. Celaka.....! Biarlah, pinto (aku) akan berdoa selama tiga hari kepada para dewa agar supaya dia dikutuk.....!" kata tosu bermata ju-ling sambil mengajak teman-temannya . pergi.

Setelah menyaksikan ketihaian Koai Atong, di dalam hati tiga orang anak itu timbul keinginan hendak mempelajari ilmu pukulan tadi. "Koai Atong, kau memang lihai. Ajarkan ilmu pukulan tadi kepadaku!" kata Kui Lok mendekati.

”Kami pnn ingin mempelajarinya," kata Thio Ki dengan sikapnya yang masih angkuh. Thio Bwee diam saja akan tetapi diam-diam ia mengambil keputusan bahwa kalau semua orang mempelajari, iapun takkan ketinggalan.

Melihat betapa anak-anak rfu semua sekarang suka kepadanya, Koai Atong menjadi gembira sekali. Memang dia sudah tua, namun jiwanya memang tidak normal, sifatnya seperti kanak-kahak yang tentu saja/merasa bangga dan suka apabila anak-anak lain kagum kepadaiwa, Ia tertawa-tawa dan berkata.

"Mau beiajar? Boleh, boleh, akan tetapi tidak mudah. Biarlah kita pergunakan pohon-pohon di taman ini sebagai lawan dalam latihan. Lihatlah baik-;baik bagaimana gerakan tangan kiri, di mana letaknya tangan kanan dan bagai-mana kedudukannya kedua kaki. Begini." Koai Atong lalu memberi petunjuk yang diturut oleh tiga orang anak itu. Mula— mula Thio Bwee masih malu-malu, akan tetapi kemudian melihat betapa Kwa Hong juga memberi petunjuk-petunjuk, ia menjadi tertarik dan ikut-ikut juga.

"Sudah bagus, sudah baik. Kalian cucu-cucu murid Hoa-san-pai memang ber-bakat," kata Koai Atong senang. "Seka-rang rinari coba memukul pohon-pohon itu. Kalian Jihat baik-baik." Koai Atong menghampiri sebatang pohon besar dan dengan sepenuh tenaga dia mendorong dengan gerakan pukulan Jing-tok-ciang. Akan tetapi pada saat itu, dari belakang pohon berkelebat bayangan orang dan di situ telah berdiri Lian Bu Tojin, tangan kiri memegang tongkat bambunya sedangkan tangan kanannya diluruskan untuk menyambut dorongan tangan kiri Koai Atong.

"Atong, jangan merusak pohon...^" kata .tosu tua itu.

Koai Atong yang berwatak kanak-kanak itu pada dasarnya bukanlah dari kalangan baik-baik, maka setiap kali dia dilawan, dia tentu akan mempergunakan kepandaiannya urituk mencapai kemenang-an. Maka begitu dia merasa betapa pU-kulannya Jing-tok-ciang disambut oleh tangan kakek itu, dia mengerahkan te-naga dan melanjutkan pukulan itu dengan dorongan maut yang penuh hawa 3ing-tok-ciang (Racun Hijau). Kedua tangan itu bertemu dan lengket. Tangan kiri Koai Atong berubah kehijauan. Akan tetapi Lian Bu Tojin hanya berdiri ter-senyum sambil memandang tajam. la maklum akan watak seorang seperti Koai Atong yang tentu tidak jauh dengan wa-tak guru anak tua ini, teman baiknya, Ban-tok-sim Giam Kong. Dari julukahnya saja, Ban-tok-sim berarti Hati Selaksa Racun. Dapat dibayangkan bagaimana watak guru Koai Atong.

Kwa Hong dan teman-temannya ada-lah anak-anak dari para ahli silat Hoa-san-pai. Sebagai anak-anak yang semen-jak kecil kenal akan seluk-beluk persilat-an tingkat tinggi, tentu saja mereka tahu apa yang sedang terjadi antara Koai Atong dan sukong (kakek guru) mereka, yakni adu kepandaian atau lebih tepat adu tenaga dalam. Mereka memandang dengan muka berubah dan mata bersinar-sinar.

Ada dua menit Koai Atong dan ketua Hoa-san-pai itu berdiri tegak sambil meluruskan tangan. Akhirnya Lian Bu Tojin berkata perlahan.

"Koai Atong, kau sudah maju ba-nyak." Begitu ucapan ini habis dikeluar-kan, tiba-tiba tubuh Koai Atong terdorong ke belakang sampai lima langkah tanpa dapat dicegahnya Jagi. Mukanya menjadi merah sekali dan tiba-tiba Koai Atong mengeluarkan anak panahnya yang berwarna hijau. Inilah senjatanya yang am-i puh dan hebat.

Lian Bu Tojin melihat ini lalu ter-tawa. Tentu saja dia tidak bisa menganggap murid temannya ini sebagai mu-suh atau lawan yang seimbang. "Aha, Atong, kau hendak memperlihatkan ilmu Silat anak panah? Silakan, silakan, biar kau nanti dapat melapor kepada gurumu bahwa ketua Hoa-san-pai biarpun sudah tua belum lemah benar....."

Ucapan ini merupakan perkenan bagi Koai Atong yang tadinya masih ragu-ragu untuk menyerang kakek itu. Tiba-tiba dia berseru keras dan tubuhnya berkelebat ke depan. Sekaligus anak panah di tangannya sudah melakukan serangan susul-menyusul sampai delapan kali banyaknya. Anak panah itu berubah menjadi segulung sinar hijau menyambar-nyambar ke arah diri kakek itu. Kwa Hong dan teman-temannya memandang penuh kekhawatiran.

Akan tetapi Lian Bu Tojin dengan tenang menggerakkan tongkat bambunya. Terdengar bunyi keras delapar kali ketika anak panah itu selalu terbentur tongkat bambu ke manapun juga digerakkan. Memang ilmu pedang Hoa-san-pai amat hebat. Jelas kelihatan oleh Kwa Hong dan teman-temannya bahwa kakek gurunya itu hanya mainkan jurus Tian-mo-po-in (Payung Kilat Sapu Awan) dari Ilmu Pedang Hoa-san Kiam-hoat. Akan tetapi cara pergerakannya sedemikian sempurnanya sehingga delapan macam serangan dari Koai Atong dapat digagalkan! Kemudian terdengar seruan perlahan dari kakek itu "Koai Atong, jagalah Jurus dari Hoa-san ini." Tongkat bambu bergerak perlahan dan..... anak panah terlepas dari tangan Koai Atong, terlempar keatas.

Namun Koai Atong memperlihatkan "kelihaiannya. la dapat menggulingkan tubuh melepaskan diri daripada lingkaran tongkat bambu, kemudian tubuhnya melesat ke atas dan tahu-tahu anak panah sudah dipegangnya lagi. la mengeluarkan i.suara seperti orang menangis kemudian...,,. dia lari tunggang-langgang meninggalkan taman seperti seorang anak kecil nakal melarikan diri karena takut mendapat hukuman. Lian Bu Tojin tertawa dan mengerahkan khikang berkata ke arah larinya Koai Atong, "Atong, sampaikan salamku kepada gurumu Giam Kong!"

Setelah Koai Atong pergi, kakek ini berubah mukanya. Kini keren dan sungguh-sungguh. la menghadapi Kwa Hong dan teman-temannya, lalu terdengar kakek ini berkata, suaranya menahan kemarahan.

Comments

Popular posts from this blog

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…