Skip to main content

Raja Pedang 16 (Kho Ping Hoo)

"Kau hendak ke mana, Beng San?" tanya Tan Hok ketika melihat anak ini agak pucat dan nampak berduka.



"Aku hendak pergi ke Hoa-san," jawab Beng San singkat.

"Mari kau ikut saja denganku. Kau akan kumasukkan sebagai anggauta Pek-lian-pai....."

"Tidak.....! Tidak Aku tidak sudi menjadi pembunuh!"

Tan Hok memandang heran, akan tetapi hanya sebentar saja. la maklum bahwa anak ini tadi merasa ngeri me-nyaksikan pembunuhan terhadap musuh-musuh itu. la menggandeng tangan Beng San. "Baiklah, kalau kau belum kuat perasaanmu untuk maju berpera'ng. Mari kuantar kau ke Hoa-san. Setelah apa yang terjadi di sini, amat berbahaya melakukan perjalanan seorang diri di daerah ini. Kalau kau berjumpa dengan serdadu, kau akan ditangkap, dipukuL dan dipaksa mengaku di mana adanya orang-orang Pek-lian-pai. Mari kau ikut aku, mengambil jalan rahasia untuk menuju ke Hoa-san."

Beng San menurut saja dan wajahnya yang cemberut dan muram dapat di-mengerti oleh Tan Hok. Maka pemuda raksasa itu di sepanjang jalan lalu men-ceritakan keadaan dirinya, menceritakan keadaan Pek-lian-pai.

"Semenjak kecil oleh guruku, aku telah ikut berkecimpung dalam perjuang-an melawan pemerintah penjajah Mongol. Guruku yang sudah tidak ada lagi ber-nama Tan Sam adalah seorang tokoh ter-kenal di Pek-lian-pai. Kau tahu, Beng Sar», Pek-lian-pai merupakan perkumpulan kaum patriot yang anggautanya tersebar di seluruh negeri." Dengan panjang lebar Tan Hok lalu menceritakan sepak terjang Pek-lian-pai dan kegagahan para ang-gautanya yang pantang mundur dan rela berkorban nyawa untuk membela bangsa. Beng San yang sudah banyak membaca kitab kuno, banyak pula mendengar ten-tang riwayat para pahlawan, maka dia merasa kagum juga dan simpatinya ter" hadap Pek-lian-pai menjadi besar.

"Betapapun juga, perang bunuh-membunuh itu menyakitkan hatiku," katanya sebagai komentar. "Membunuh seorang dua orang penjahat masih dapat kuterima. Akan tetapi puluhan orang itu, biarpun mereka semua orang-orang Mongol atau kaki tangan pemerintah Mongol, apakah mungkin orang sebegitu banyaknya itu jahat-jahat semua?"

Tan Hok tertawa lebar. "Di dalam perang, tidak ada istilah jahat a aukah tidak jahat. Tidak ada permusuhan pribadi. Tentu saja aku sendiri tidak mem-benci seorang pun serdadu Mongol atas dasar perasaan pribadi karena mengapa aku membenci seorang yang sama sekali tidak kukenal? Tentu saja andaikata me-reka tadi itu bukan serdadu-serdadu Mongol, aku takkan sudi mengganggu mereka. Akan tetapi di dalam perang, rrereka itu adalah musuh-musuh kita. vlusuh rakyat yang harus dibasmi habis. Kalau tidak kita membunuh mereka, tentulah mereka yang akan membunuh kita."

Seorang anak sekecil Beng San yang belum pernah mendengar tentang politik kenegaraan, dah kebangsaan, mana bisa mengerti akan hal ini? Apa yang pernah dia pelajari hanyalah tentang prikemanu-siaan dan tentang filsafat hidup yang pada umumnya mencela kekerasan dan tidak membenarkan tentang bunuh-membunuh. Betapapun juga, semangat Tan Hok dalam. ceritanya membangkitkan rasa suka yang besar dalam hati Beng San, apalagi setelah raksasa muda itu men-jelaskan tentang penjajahan dan keseng-saraan rakyat karena diperas oleh kaum penjajah yaitu bangsa Mongol.

"Sungguh menggemaskan kalau diingat," demikian antara lain Tan Hok menceritakan, bangsa kita adalah bangsa yang besar, yang mempunyai rakyat banyak sekali. Sebaliknya bangsa Mongol adalah bangsa perantau yang tidak mempunyai tempat tinggal yang tertentu, juga rakyatnya hanya sedikit. Akan tetapi bagaimana bangsa, kita malah dijajah dan diperbudak oleh bangsa Mongol? Padahal kalau rakyat kita semua bangkit melakukan perlawanan, setiap orang Mongol sedikitnya akan berhadapan dengan tiga puluh orang kita!"

"Kenapa tidak semua rakyat mau bangkit melakukan perlawanan" tanya Beng San, mulai terbuka matanya dan dia pun merasa heran akan kenyataan ini.

Tan Hok menarik napas panjang. "Sayang diantara kita banyak yang mudah dipermainkan, masih banyak yang mabuk akan kesenangan diri sendiri tanpa mempedulikan keadaan rakyat jelata yang sengsara. Orang-orang kita yang pandai malah banyak yang menjadi kaki tangan Mongol, malah banyak pengkhianat-pekhianat seperti ini sengaja memusuhi Pek-Lian-pai untuk membantu pemerintah penjajah. Perbuatan keji dan tak tahu malu ini dilakukan hanya karena mengejar kesenangan duniawi untuk diri pribadi belaka. Tidak malu menjual bangsa sendiri kepada penjajah. Benar-benar memuakkan”.

Tan Hok latu menceritakan kepada Beng San tentang orang-orang dan golongan-golongan yang sengaja dipergur akan oieh pemenntah Mongpl yntuk menentang kaum pemberontak.

"Di antara mereka ini, yang paling menjemukan adalah kaum Ngo-lian-kauw. Ketuanya adalah Kim-thouw Thian-li. Dia itulah yang sudah membunuh guruku dan aku bersumpah demi tanah air dan ke-adilan, pada suatu hari aku pasti akan dapat membunuh siluman betina yang cabul itu!" Teringat akan perbuatan Kim-thouw Thian-li dahulu yaitu setelah mem-bunuh gurunya, lalu hendak membunuhnya pula, dia menjadi merah mukanya dan kebenciannya mendalam.

"Aku sudah mengumpulkan keterangan tentang Ngo-lian-kauw juga tentang semua perbuatan Kim-thouw Thian-li yang tak tahu malu. Perempuan cabul itu sengaja dipergunakan oleh pemerintah Mongol untuk melawan Pek-lian-pai. Dia benar-benar lihai dan jahat sekali, licin bagai j beiut dan banyak siasatnya."

"Mendengar namanya, Kim-thouw Thian-li (Bidadari Kepala Emas), tentulah dia seorang wanita yang baik. Sebutannya Thian-li (Bidadari), bagaimana bisa jahat? Pula, seorang wanita saja, apa dayanya terhadap Pek-lian-pai yang begitu banyak mempunyai anggauta terdiri dari orang-orang gagah perkasa?"

Tan Hok tersenyum pahit. "Sebetul-nya itu hanyalah nama yang dipilihnya sendiri, bagiku dia lebih patut disebut iblis betina daripada bidadari. Tidak bisa dibantah bahwa dia memang cantik je-lita. Kim-thouw Thian-li adalah murid tunggal dari Hek-hwa Kui-bo yang ter-kenal jahat dan kejam....."

"Ahhh.....!"

"Kau sudah mendengar namanya?"

"Sudah..... sudah....." jawab Beng San yang tentu saja sudah mengenal baik nenek itu.

"Jangan kaukira bahwa Kim-thouw Thian-li biarpun wanita tak berdaya ter-hadap Pek-lian-pai. Dia licik dan' selain banyak pula anggauta Ngo-lian-kauw, juga di setiap tempat dia dibantu oleh para pembesar karena ia memiliki tanda kekuasaan dari kaisar sendiri. Sepak ter-jangnya amat licin dan curang. Baru-baru ini dia berusaha keras untuk me-rusak nama baik Pek-lian-pai dengan perbuatan-perbuatan jahat yang sengaja ia lakukan sambil meninggalkan tanda-tanda Pek-lian-pai. Tentu saja maksud perbuatannya ini adalah untuk merusak nama Pek-lian-pai, untuk menjauhkan Pek-lian-pai dari rakyat dan malah ia sengaja hendak mengadu domba Pek-lian-pai dengan partai-partai besar lain. Pendeknya, segala usaha tak tahu malu ia jalankan untuk melemahkan perjuangan menentang pemerintah Mongol. Malah aku sudah mendapat keterangan dari para penyelidik Pek-lian-pai bahwa dia sudah berhasil dalam usahanya mengacau perhubungan baik antara Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai."

Beng San kaget. la sudah mendengar "lentang partai-partai besar di dunia persilatan dari Lo-tong Souw Lee, malah sekarang pun dia membawa surat Lo-tong Souw Lee untuk ketua Hoa-san-pai, "Kenapa pula dia mengganggu Hoa-san-pai. dan Kun-lun-pai?"

"Sekarang ini di seluruh negeri, para orang gagah bangkit semangatnya untuk melawan penjajah dan banyak yang menggabungkan diri dengan Pek-lian-pai. Un-tuk mencegah inilah maka Kim-thouw Thian-li merusak hubungan antara pai-tai-partai besar agar bertengkar sendir, terutama sekali agar mereka memusuhi Pek-lian-pai. Sayang sekali, seorang pen-dekar muda dari Kun-lun-pai telah kena dipikat olehnya, dijatuhkan oleh kecantik-annya." Tan Hok yang sudah mendengar dari para penyelidik Pek-lian-pai, bahka , sudah melihat dengan mata kepala sen-diri betapa penolongnya, yaitu Kwee Sin, terpikat oleh kecantikan Kim-thouw Thian-li, lalu menceritakan apa yang dia ketahui. Betapa Kim-thouw Thian-li de-ngan bantuan orang-orangnya menyama sebagai orang-orang Pek-lian-pai da-melakukan pelbagai kejahatan, di antara nya membunuh Liem Ta ayah Lie'm Sian Hwa tunangan Kwee Sin.

"Tentu saja maksudnya untuk meng-adu domba antara Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai," ia menutup ceritanya, "malah bukan itu saja maksudnya. Ia hendak mengadudombakan kedua partai besar itu dengan Pek-lian-pai, dan pernah dia melakukan penyerangan kepada dua saudara, Bun, murid-murid Kun-lun-pai dengan menyamar sebagai orang-orang Pek-lian-pai."

Beng San tertarik sekali. "Alangkah t kejam dan jahatnya wanita itu."

"Karena itulah aku dan teman-teman selalu memasang mata mencarinya. Awas dia kalau terjatuh ke dalam tangan Pek-lian-pai!" Karena berjalan sambil bercakap-cakap, tak terasa lagi mereka sudah sampai di lereng Hoa-san. Tan Hok lalu menyuruh anak itu melanjutkan perjalanannya.

"Kau terus mengikuti jalan kecil ini dan di dekat puncak sana itulah bangun-an dari Hoa-san-pai. Mulai dari sini tidak akan ada yang berani mengganggumu lagi. Aku harus kembali kepada teman- x temanku. Adik Beng San, selamat ber-pisah dan mudah-mudahan kelak ki,ta akan bertemu kembali."

Beng San memberi hormat. "Tan-twa-ko, siapa tahu kelak aku pun akan dapat membantumu." Mereka berpisah dan dengan cerita-cerita Tan Hok masih terbayang dalam benaknya, Beng San mendaki puncak Hoa-san. Akan tetapi segera bayangan ini lenyap ketika dia melihat pemandangan alam yang amat indah dari puncak Hoa-san itu. Hawa udara pun amat segarnya. la menghirup hawa se-banyaknya dan merasa bahwa dia akan betah tinggal di daerah ini.
* * *

Sudah amat lama kita meninggalkan Kwa Hong, gadis cilik putera tunggal Kwa Tin Siong, bocah mungil yang lincah gembira itu. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Kwa Hong diantar oleh Koai Atong menuju ke Hoa-san-pai me-nyusul ayahnya. Koai Atong biarpun usia-nya sudah sebaya dengan Kwa Tin Siong, kurang lebih empat puluh tahun, namun orang ini memang tidak norrnal jiwanya dan wataknya kadang-kadang atau seripg kali seperti seorang kanak-kanak sebaya Kwa Hong. Oleh karena wataknya inilah maka Kwa Hong merasa senang sekali melakukan perjalanan bersama seorang teman yang cocok dan baik lagi lucu. Di samping ini, juga kelihaian Koai Atong merupakan jaminan bagi keselamatannya.

Seperti juga di partai-partai persilat-an besar seperti Kun-lun-pai, Go-bi-pai, Siauw-lim-pai dan lain-lain, juga di pun-cak Hoa-san ini Hoa-san-pai merupakan pusat yang ditempati oleh banyak anak murid Hoa-san-pai. Mereka ini adalah tosu-tosu yang selain mempelajari ilmu silat sekedarnya, terutama sekali mem-pelajari ilmu kebatinan yang diturunkan oleh Nabi Locu. Di bawah bimbingan Lian Bu Tojin ketua Hoa-san-pai, para tosu ini rata-rata memiliki kesabaran besar dan dapat menjaga nama baik Hoa-san-pai sebagai orang-orang beribadat.

Kedatangan Kwa Hong menggirangkan para tosu yang menjaga di luar. Mereka ini tentu saja mengenal baik puteri tung-gal Kwa Tin Siong yang seringkali meng-ajak anaknya mengunjungi Hoa-san. Akan tetapi para tosu ini pun terheran-heran melihat orang yang datang bersama Kwa Hong, seorang laki-laki tinggi besar ber^ usia empat puluh tahun akan tetapi ce-ngar-cengir dan ikut berlari-larian di samping Kwa Hong seorang anak kecil!

"Supek (Uwa Guru) sekalian! Aku 1 datang menyusul ayah. Di mana ayah dan bibi guru?" Datang-datang Kwa Hong j berteriak-teriak kepada para tosu itu.

Tiga orang tua menghampiri Kwa Hong sambil tersenyum, "Ayahmu dan bibi gurumu tidak berada di sini, belum kembali. Kau baik segera pergi menghadap kakek gurumu, Hong Hong." Para tosu itu biasa memanggil Kwa Hong dengan sebutan Hong Hong dan mer6ka-amat menyayang bocah yang mungil d

Comments

Popular posts from this blog

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…