Skip to main content

Raja Pedang 14 (kho Ping Hoo)

"Hemmm, saudara Bun. Urusan sumoiku yang ayahnya dibunuh mati orang ini kiranya takkan puas kalau hanya kau beri keyakinan bahwa sutemu tidak mungkin melakukannya.

Habis, karena hal ini menyangkut nama baik sutemu, apa yang hendak kaulakukan selanjutnya? Kami masih memandang muka Kun-lun Sam-hengte, memandang muka Kun-lun-pai ciangbunjin (ketua Kun-lun-pai) maka kami tidak tergesa-gesa dan secara sembrono mencari dan mengadili sendiri kepada Kwee Sin."

Bun Si Teng mengangguk-angguk. "Baiklah. Kami akan mencari Kwee-sute dan dalam waktu lima bulan karm bertiga Kun-lun Sam-hengte akan menghadap ke Hoa-san. Kami harus membersihkan nama baik Kwee-sute di depan ketua Hoa-san-pai sendiri."

"Bagus. Lirha bulan sesudah hari ini, Hoa-san Sie-eng akan menanti kedatangan Kun-lun Sam-hengte di puncak Hoa-san," kata Kwa Tin Siong yang segera mengajak pergi tiga orang adik seperguruannya, meninggalkan tempat itu.

Bun Si Teng dan Bun Si Liong setelah ditinggal pergi para tamunya, duduk dengan hati berat. "Heran sekali mengapa ada peristiwa seperti ini," kata Bun Si Teng. "Kita harus menyusul Kwee-sute ke Kun-lun.''

"Memang urusan ini harus dibikin terang, karena menyangkut nama dan kehormatan Kwee Sin," kata Bun Si Liong, mukanya yang hitam makin hitam karena kemarahannya.

“Kau tinggallah di rumah menigurus pekerjaan kita, Liong-te. Biar aku yang pergi ke Kun-lun. Lim Kwi akan kuajak agar anak itu berdiam dan belajar di sana, dipimpin langsung oleh suhu. Aku akan segera kembali bersama Kwee-sute."

Demikianlah, pada keesokan harinya, Bun Si Teng dan puteranya, Bun Lim Kwi, berangkat ke Kun-lun-san untuk mencari Kwee Sin dan menitipkan Lim Kwi di Kun-lun-san supaya menerima gemblengan ilmu silat dari ketua Kun-lun-pai sendiri, yaitu Pek Gan Siansu.

* * *

Minggir, jembel-jembel busuk, menggir!”

Suara kaki banyak kuda berdetakan, didahului bentakan-bentakan dan teriakan-tenakan kasar dari para penungganenya. Orang-orang dusun yang sedang berj-alan menuju ke sawah ladang, cepat-cepat berlan minggir agar jangan sampai di seruduk kuda yang berlari cepat di jalan dusun-yang kecil itu. Ternyata barisan kuda ini adalah sepasukan berkuda ten-tara negeri yang berpakaian perane dan bersenjata lengkap. Tinggi besar kuda-kuda itu, gagah dan tinggi besar pula para penunggangnya. Sambil tertawa-tawa para serdadu Mongol ini memper-gunakan cambuk untuk secara main-main mencambuk kanan kiri kepada orang-orang desa yang sudah menjauhkan diri sampai ada yang kesakitan dan ketakutan sehingga terjatuh ke dalam selokan sawah! Seorang kakek kena didorong kaki seorang penunggang kuda dan kakek itu terjengkang roboh ke dalam tanah berlumpur. Ketika dia merangkak bangun, tubuhnya yang kurus terbungkus lumpur, menakutkan. Semua kejadian ini disambut gelak terbahak dari pada serdadu itu.

Seorang wanita muda menjerit-jerit ketika ia disarnbar oleh tangan yang kuat dan tahu-tahu ia telah berada di atas kuda, dipeluk oleh seorang serdadu yang kurang ajar. Wanita itu meronta-ronta, menjerit-jerit sedangkan serdadu yang menangkapnya itu tertawa-tawa menggoda, sikapnya kurang ajar dan tidak ada kesopanan sama sekali. Di depan dan belakang, para serdadu lainnya tertawa-tawa gembira.

Saking takut dan jijiknya, wanita muda itu akhirnya pingsan di atas pang-kuan serdadu. itu. Setelah wanita itu pingsan, agaknya tidak ada kegembiraan lagi bagi serdadu itu maka tubuh wanita itu lalu didorong turun dari atas kuda, jatuh berdebuk di atas tanah berdebu.

"Setan! Iblis kejam!" Seorang anak laki-laki berlari menolong wanita itu.

"Jembel cilik, minggir kau!" Seorang serdadu mengayun cambuknya.

"Tar! Tar!" Cambitk menghantam nrwi-ka anak itu yang berdiri dengan berani dan matanya melotot. Cambukan dua kali itu seperti tak dirasainya dan dia me-mandang serdadu-serdadu yang melarikan kuda sambil mengepal-ngepalkan tinjunya yang kecil. Wanita itu masih menangis terisak-isak di depannya. Akhirnya debu tebal saja yang ditinggalkan serdadu-ser-dadu itu yang jumlahnya tiga puluh orang lebih.

"Keparat.....!” Anak berpakaian jembel itu, Beng San memaki dan membangunkan wanita tadi, "Sudahlah, Cici, jangan menangis dan pulanglah. Masih baik kau tidak mereka culik tadi."

Para penduduk yang melihat sikap Beng San, merasa heran dan juga kagum. "Anak, kau berani sekali," seorang kakek berkata sambil mengangguk-angguk. "Ka-lau saja pemuda-pemuda kita seperti kau ini, takkan sukar membebaskan tanah air daripada penjajah-penjajah keji seperti mereka....." Sambil terbungkuk-bungkuk kakek itu berjalan melanjutkan tujuannya ke sawah ladang.

Beng San masih terengah-engah saking marahnya. B'aru seRali jipji; dia menyaksikan keganasan "serdadu-serdadu Mongol kalau beraksi di dusun-dusun. Seorang petani lain berjalan di sisinya dan bercerita betapa serdadu-serdadu itu lebih kejam lagi kalau bermalam di suatu dusun. Mereka merampoki bahan makan," merampas segala benda berharga, men-culik gadis-gadis dusun dan isteri orang, membunuh pemuda-pemuda yang berani melawan. Pendeknya, rakyat kecil meng-alami neraka dunia kalau kedatangan serdadu-serdadu ini. Apalagi mereka itu biasanya lalu disambut oleh pembesar setempat dan tuan-tuan tanah setempat yang mempergunakan kekuasaan mereka untuk rnemeras para petani yang sudah amat miskin.

"Keparat," pikir Beng San. "Kalau aku sudah kuat, kuhajar mereka itu."

Setelah meninggalkan perkampungan ini, Beng San berlari cepat, mengejar ke arah perginya barisan berkuda tadi. Ia sudah berada dekat kaki Gunung Hoa-san dan kebetulan sekali barisan berkuday itusejurusan dengan dia. Menjelang te-ngah hari dia memasuki sebuah hutaa besar di kaki Gunung Hoa-san.

Ia mendengar suara berisik dari dalam hutan. Ketika dia mendekat, jelas terdengar pekik kesakitan bercampur te-riak kemarahan diseling suara senjata tajam beradu. Jelas bahwa terjadi pertempuran besar-besaran di tengah hutan itu. Beng San cepat menyelinap di antara pohon-pohon yang besar, mendekati tem-pat pertempuran sambil mengintai. Ring-kik banyak kuda mengingatkan dia akan barisan serdadu-serdadu Mongol. Celaka, pikirnya, tentu setan-setan Mongol itu kembali mengganggu penduduk dekat hutan sini. Akan tetapi, mengapa pen-duduk berada di dalam hutan besar? Ah, mungkin pemburu-pemburu. la cepat berindap ke tengah hutan dan akhirnya ter-lihatlah olehnya pertempuran hebat terjadi di tempat terbuka. Benar saja duga-annya. Para serdadu Mongol itu tengah bertempur melawan sekumpulan orang-orang yang bersikap gagah dan rata-rata pandai, ilmu silat. jumlah orang-orang gagah itu hanya belasan orang sehingga setiap orang dikeroyok oleh dua atau tiga orang serdadu Mongol.

Perang tanding itu hebat sekali. Ba-nyak serdadu Mongol sudah roboh rnandi darah. Akan tetapi mereka adalah ser-dadu-serdadu yang terlatih dan ratrf-rata amat kuat sehingga belasan orang gagah itu terdesak juga, malah di antaranya ada yang terluka. Tiba-tiba terdengar aba-aba keras dan para serdadu Ntongol itu mengeluarkan panah tangan dan serentak menyerang den^an anak-anak panah mereka yang terkenai berbahaya. Serangan mendadak ini membikin para orang gagah menjadi kacau-balau dan tiga orang terjungkal roboh.

"Anjing-anjing Mongol rasakan pembalasan kami!" Tiba-tiba terdengar bentakan keras dan muncullah seorang pe-muda tinggi besar bersama enarrt orang lain dari jurusan selatan. Mereka Jatang dah terus menyerbu. Hebat sekali serbuan pemuda tinggi besar dan teman-teman-nya ini. Sisa orang-orang gagah yang dikeroyok tadi timbul kembali semangat mereka melihat datangnya baJla bantuan. Perang tanding makin berkobar dan sekarang para serdadu Mongol yang kocar-kacir dihantam dari kanan kiri. Mereka sudah mulai ketakutan dan mencoba-coba untuk melarikan diri. Akan tetapi, tiap seorang serdadu Mongol berhasil meloncat ke punggung kuda dan melarikan kuda itu, tentu dia disambar oleh be-berapa buah senjata rahasia paku dan j robohlah dia dari atas punggung kuda.

Beng San yang mengintai dan menonton semua pertandingan ini, menjadi girang dan berdebar hatinya ketika melihat pemuda tinggi besar itu. "Dia adalah Tan Hok," pikirnya gembira. "Benar-benar dia gagah perkasa."

Memang hebat sepak terjang Tan Hok. Dia paling besar diantara teman-temannya dan golok ditangannya mengamuk seperti seekor naga. Mayat serdadu-serdadu Mongol roboh bergelimpangan dan sebentar saja, setelah datang Tan Hok dan teman-temannya ini, serdadu-serdadu itu dapat dirobohkan semua. Beberapa orang serdadu dapat melarikan diri dengan kuda mereka yang kuat dan tepat, biarpun mereka tidak terluput daripada luka-luka, namun mereka tidak mengalami nasib seperti kawan-kawan mereka yang bergelimpangan tak bernyawa lagi di hutan itu.

"Pasukan besar musuh tentu akan menyusul ke sini, kita harus cepat-cepat pergi. Kumpulkan teman-teman yang tewas. Cepat, saudara-saudara!" Tan Hok memberi aba-aba dan dari tempat sembunyinya, Beng San rnemandang Jengan | kagum. Sekarang pemuda raksasa ttu tidak kelihatan bodoh lagi, me'ainkan tangkas dan dihormati teman-tenrannya. Semua orang gagah itu bekerja. Ada yang mengubur mayat teman-temannya, ada yang merawat teman-teman yang teriuka, ada yang mengumpulkan senjata-senjata rampasan, ada yang mengumpul-kan kuda-kuda tinggi besar tunggangan para serdadu tadi. Adapun Tain Hok sendiri memasang sebuah bendera kecil di batang pohon, bendera tanda perkumpulan Pek-lian-pai, bendera kecil bergambar teratai putih!

"Tan-twako.....!" Beng San meloncat keluar dan memanggil.

Semua orang terkejut. Seorang anggauta Pek-lian-pai cepat melompat mendekati Beng San dan membentak, "Mata-mata Mongol, tangkap!"

Akan tetapi Tan Hok segera berseru, "Ah, bukankah kau Adik Beng San?" la berlari menghampiri dan mencegah teman-temannya menangkap Beng San, malah segera memperkenalkan, "Inilah anak ajaib Beng San, adikku yang amat gagah berani. Eh, Adik Beng San, kau dari mana tiba-tiba muncul di tempat ini?"

"Tan-twako, aku tadi melihat semua kejadian ini. Aku tidak tahu kenapa kau dan teman-temanmu mencegat dan membunuh serdadu-serdadu ini biarpun aku ketahui betapa kejam dan jahatnya mereka. Akan tetapi..... kalau kau dan teman-temanmu, hanya mengubur mayat kawan sendiri ini di sini, kau telah melakukan dua macam kesalahan.

Semua anggauta Pek-lian-pai melengak mendengar ini. Masa seorang anak kecil hendak menasehati orang-orang Pek-lian-pai? Akan tetapi Tan Hok yang sudah banyak melihat keanehan pada diri anak ini, dengan sabar berkata, "Kau-jelaskanlah, Adik Beng San. Kesalahan-kesalahan apakah itu?"

"Pertama, kau melanggar perikemanu-siaan kalau kau tidak mau mengubur mayat para serdadu ini. Bukankah dahulu kau mengubur semua mayat orang-orang kelaparan yang menggeletak di pinggir jalan?"

Tan Hok menarik napas parijang. "Lain lagi. Mereka itu adalah mayat-mayat bangsaku yang sengsara, yang kelaparan karena pemerasan kaum penjajah seperti anjing-anjing Mongol ini. Sebaliknya, mereka ini adalah musuh-musuh besar rakyat, untuk apa aku harus mengubur mereka?"

"Tan-twako, kau keliru. Yang kau-benci adalah perbuatan mereka. Sekarang mereka sudah mati, tidak bisa berbuat apa-apa lagi, apakah mayat-mayat itu pun masih dibenci?"

"Kau memang aneh. Di dalam perang, kalau orang harus mengubur mayat musuh, bisa kehabiasan waktu unti k mengubur saja! Dalam perang memang begitu, adikku, jangankan mayat musuh, mayat teman-teman sendiri kadang-kadang ? tidak ada waktu untuk mengurusnya. Dan apakah kesalahanku yang ke dua?"

"Kalau kau tidak mengubur mayat-mayat ini dan rnembiarkan mereka ber-serakan di sini, kau akan membikin celaka Hoa-san-pai. Bukankah mayat-mayat serdadu -ini berada di kaki Gunung Hoa-san? Kalau sampai terlihat oleh pasukan negeri, sudah tentu mereka akan mengira t bahwa Hoa-san-pai yang melakukannya....."

"Kan sudah kuberi tanda bendera kecil di sini," bantah Tan Hok.

"Betapapun juga, kejadiannya di kaki Gunung Hoa-san, tentu Hoa-san-pai akan terlibat. Kalau mereka ini dikubur, tidak akan ada bekasnya lagi dan Hoa-san-pai akan terbebas daripada sangkaan." Sambil berkata demikian Beng San lalu mulai menggali lubang untuk mengubur mayat dua puluh orang lebih banyaknya itu.

Adapun Tan Hok dan kawan-kawannya , dengan kagum sekali mendengar ucapan Beng San tadi. Akhirnya mereka harus pula membenarkan ucapan itu. Bukankah ada golongan yang memang sengaja hendak memburukkan nama Pek-lian-pai dan mengadu Pek-lian-pai dengan lain-lain perkumpulani? Memang tidak baik sekali kalau kelak pemerintah penjajah memusuhi Hoa-san-pai karena urusan perang di kaki Gunung Hoa-san kali ini, membuat Hoa-san-pai mengarami bencana karena perbuatan Pek-lian-pai.

"Saudara-saudara, hayo bantu Adik Beng San mengubur bangkai-bangkai an-jing penjajah ini!" kata Tan Hok dengan suaranya yang keras. Mereka segera tu-run tangan dan sebentar saja mayat-mayat itu sudah dikubur semua. Tiba-tiba seorang diantara mereka berlari datang dan berkata.

"Sepasukan anjing Mongol sud'ah da-tang!"

Mereka semua mendengarkan dan betul saja, dari jauh terdengar derap kaki kuda yang banyak sekali. Tan Hok segera berunding dengan teman-temannya.

"Kita pancing mereka memasuki Lembah Pek-tiok-kok (Lembah Gunung Bam-bu Putih). Cepat kumpulkan kuda!" Akhir-nya keputusan ini diambil dan beramai-ramai mereka meninggalkan tempat itu.

"Adik Beng San, kau harus ikut kami kali ini!" kata Tan Hok sambil menggandeng tangan anak itu. Karena Beng San amat tertarik dan kagum kepada rombongan orang-orang gagah ini dan ingin melihat apa yang hendak mereka j lakukan terhadap para pengejar, pasukan j musuh itu, maka dia menurut saja dan | ikut berlari-lari dengan yang lain.

Hati Beng San lega melihat orang-orang gagah ini larinya meninggalkan Gunung Hoa-san dan mendaki gunung kecil yang gundul dan banyak batu-batu karangnya tinggi meruncing. Derap kaki kuda dari belakang makin lama makin 1 terdengar dekat dan ketika mereka sudah mulai mendaki bukit, dari atas terlihat-lah oleh mereka pasukan berkuda terdiri dari sedikitnya enam puluh orang menge-jar mereka dari belakang! Melihat ini, diam-diam Beng San berkhawatir. Sisa teman-teman Tan- Hok termasuk pemuda raksasa itu sendiri hanya ada dua belas orang. Bagaimana akan dapat melawan enam pujuh orang serdadu musuh?

Jalan yang dilalui rombongan Tan Hok amat sukar, banyak lubang-lubang dan tak mungkin dilalui kuda. Tan Hok memimpin teman-temannya berloncatan melalui jalan ini dan setelah sarrpai di tempat yang agak tinggi, baru Beng San tahu bahwa kuda-kuda rampasan tadi tidak ikut dibawa ke tempat itu, entah disembunyikan di mana oleh teman-teman Tan Hok. Dan anak ini sekarang mengerti, atau demikian dia mengira, bahwa Tan Hok dan teman-temannya me-milih jalan ini agar lawan yang berkuda tidak dapat mengejar mereka.

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…