Skip to main content

Raja Pedang 5 (Kho Ping Hoo)

“Pedangmu yang buruk dan ilmu silat Hoa san pai yang rendah mau bisa apakah terhadapku?”

“Hemmmm, sombong amat. Kalau begitu lihat pedangku!” Kwa Tin Siong memutar pedangnya dan langsung menyerang dengan gerak tipu yang lihai dari Hoa san Kiam hoat, yaitu gerakan Tian mo po in (payung kilat sapu awan). Pedangnya berputar sampai merupakan payung yang berkilauan dan berkelebatan menyambar kearah wanita itu.


“Hi hi hi hi hi, kiam hoat (ilmu pedang) buruk!” Wanita itu dengan mudahnya miringkan tubuh menundukkan kepala untuk menghindari sabetan pedang. Akan tetapi Kwa Tin Siong adalah seorang jago tangguh dari Hoa san pai. Gerakan-gerakannya amat mahir, sudah masak dan cepat sekali. Melihat bahwa serangan pertamanya takkan berhasil ia cepat sekali merubah gerakannya tanpa menarik kembali pedangnya. Kini pedangnya itu meluncur dengan gerakan yang disebut Kwan kong sia ciok (Kwan kong memanah batu). Cepat sekali pedangnya sudah meluncur menusuk kearah ulu hati lawan.



Kwa Tin Siong sudah mulai merasa kaget dan menyesal melihat agaknya lawannya tak mampu mengelak. Bukan maksudnya untuk membunuh orang maka gerakannya ia tahan dan perlambat sedapatnya. Akan tetapi sebelum ujung pedangnya menyentuh lawan, tepat seperti dikatakan Kwa Hong tadi, tiba-tiba menyambar sinar terang dari saputangan itu menyambar kearah pedang dan tangan.



“Krakkk!” Semacam tenaga mujijat menghantam patah pedang di tangan Kwa Tin Siong. Orang she Kwa ini mempertahankan getaran hebat, tidak mau melepaskan pedangnya yang buntung. Akibatnya ia terpental mundur lima langkah dan muntahkan darah segar.



“Hi hi hi hi hi...., Hoa san pai.... belum kubalas menyerang kau sudah mundur, orang she Kwa. Sekarang terimalah seranganku!” wanita itu melangkah maju dan menggerakkan saputangannya. Kwa Tin Siong merasa bahwa ia berhadapan dengan orang sakti luar biasa atau sebangsa siluman maka dia menerima nasib, tak kuat melawan.



“Hek Hwa Kui Bo, jangan ganggu mereka!” tiba-tiba Beng San melompat dan menarik pakaian belakang wanita itu.



Hek hwa Kui bo menoleh, tersenyum dan mengejek, “Mereka itu apamu sih, kau bela mati-matian.”



“Jangan bunuh, jangan ganggu.... kalau tidak aku takkan suka lagi kepadamu!”



Ancaman ini agaknya berpengaruh juga, buktinya wanita itu menurunkan saputangannya. Yang kaget setengah mati adalah Kwa Tin Siong ketika dia mendengar disebutnya nama Hek hwa Kui bo oleh Beng San tadi. Hek hwa Kui bo adalah nama seorang diantara empat orang tokoh terbesar di dunia persilatan! Menurut cerita gurunya, yang bernama Hek hwa Kui bo ini adalah serang wanita yang cantik luar biasa dan usianya sudah lima puluh tahun lebih. Akan tetapi wanita ini.... melihat bentuk tubuh dan wajahnya, kiranya takkan lebih dari tiga puluh tahun! Ia memandang lebih tegas dan melihat setangkai bunga hitam yang tadi tidak dia lihat tertancap di rambut kepala wanita itu!



“Jangan bunuh, jangan bunuh.....” Hek hwa Kui bo mengulang. “Ah, anak bagus, lain kali mereka mungkin yang akan menggangu dan membunuhmu. Hayo ikut!”



Tiba-tiba wanita itu menggerakkan saputangannya yang meluncur kearah Beng San. Tahu-tahu ujung saputangan telah melibat pergelangan tangan anak itu dan Beng San merasa tubuhnya melayang di udara. Ia meramkan mata dan mendengar angin mendesir-desir di pinggir kedua telinganya.



Kwa Tin Siong menarik napas panjang ketika melihat perempuan itu berkelebat pergi membawa Beng San, lalu ia menyalurkan pernapasannya untuk memulihkan kekuatannya. Baiknya tadi ia mengurangi tenaga tusukannya, kalau dilakukan dengan sekuat tenaga, tentu sekarang dia telah menggeletak dengan jantung putus! Setelah lukanya yang tidak parah di dalam dada itu mendingan, baru dia berdiri dan membuka totokan pada diri anaknya.



“Ayah, siapakah perempuan siluman itu?”



“Hushhh, jangan kau sombong, Hong ji. Dia adalah seorang tokoh kang ouw yang malah lebih tinggi kedudukannya daripada sukongmu (kakek gurumu). Hayo kita melanjutkan perjalanan dan jangan banyak bertanya lagi.”



Pendekar yang amat gagah dan jarang menemui tandingannya ini segera mengajak anaknya pergi nampaknya gelisah sekali. Memang dia merasa gelisah dan juga aneh. Kenapa seorang tokoh seperti Hek hwa Kui bo yang sudah bertahun-tahun tidak pernah muncul di dunia kang ouw itu sekarang tiba-tiba turun gunung dan mengganggunya? Ia harus cepat-cepat kembali ke Hoa san pai dan menceritakan hal ini kepada suhunya.



**********



Pada masa itu, keadaan pemerintahan yan dipegang oleh kerajaan Goan (Mongol) sedang dikacau oleh pelbagai pemberontakan rakyat yang sudah tak kuat lagi atas penindasan penjajah Mongol. Dimana-mana muncul perkumpulan rahasia yang menghimpun tenaga-tenaga untuk melakukan pemberontakan dan rongrongan terhadap pemerintah penjajah. Diantara puluhan macam perkumpulan rahasia ini, murid-murid Hoa san pai juga termasuk anggota sebuah perkumpulan yang terbesar, yaitu Pek lian pai (perkumpulan Teratai Putih) yang tujuannya merobohkan pemerintah Mongol.



Kwa Tin Siong yang mempelopori kegiatan adik-adik seperguruannya, pada waktu itu sedang pergi mencari sute-sute dan sumoi-sumoinya yang berpencaran dimana-mana, malah ia sedang mencari untuk mengumpulkan tiga orang adik seperguruannya karena Hoa san Sie eng (Empat Pendekar Hoa san) harus mengadakan pertemuan di Hoa san untuk membicarakan soal pemasukan menjadi anggota perkumpulan anti penjajah ini.



Ketika tiba di hutan dan mengalami peristiwa hebat ini, Kwa Tin Siong baru saja pulang dari Kwi nam hu bertemu dengan sutenya, Thio Wan It, yang sudah berjanji akan menghadap ke Hoa san bulan depan tanggal lima. Juga dia sudah bertemu dengan Toat beng kiam Kui Teng sutenya yang ketiga dan sudah mendapat janji pula. Sekarang ia sedang menuju kearah dusun Lam bi chung tempat tinggal orang tua sumoinya (adik seperguruan) yaitu Kiam eng cu Liem Sian Hwa. Setelah mengalami peristiwa hebat ini, Kwa Tin Siong mempercepat perjalanannya untuk segera kembali ke Hoa san setelah memberi tahu sumoinya tentang pertemuan Hoa san Sie eng di Hoa san.



Dalam waktu tiga hari saja Kwa Tin Siong dan anak perempuannya telah tiba di dusun Lam bi chung. Tapi apa yang mereka dapati di dusun tempat tinggal jago keempat dari Hoa san Sie eng ini? mereka dapati Liem Sian Hwa sedang berkabung atas kematian ayahnya yang dibunuh orang seminggu yang lalu. Begitu melihat kedatangan Kwa Tin Siong, gadis itu segera menubruk dan berlutut di depan twa suheng (kakak seperguruan tertua) ini dan menangis tersedu-sedu.



Seperti telah disebutkan di bagian depan, Kwa Tin Siong merupakan jago pertama dari keempat Hoa san Sie eng yang selama ini mengharumkan nama Hoa san pai sebagai pendekar-pendekar budiman. Liem Sian Hwa adalah tokoh keempat dan yang termuda. Akan tetapi biarpun ia termuda, baru dua puluh tahun usianya dan satu-satu wanita di antara empat pendekar Hoa san pai itu, kepandaiannya hanya kalah setingkat oleh twa suhengnya ini. Dia seorang gadis yang cantik, manis, dan sederhana sekali, maklum karena Sian Hwa adalah anak seorang miskin. Ayahnya, Liem Ta, juga seorang guru silat yang semenjak mudanya menjadi penjual obat keliling sambil mendemontrasikan ilmu silatnya hanya untuk menarik perhatian pembeli. Ilmu silatnya adalah warisan dari ilmu silat Siauw lim, akan tetapi tidak begitu tinggi, hanya sekedar untuk ilmu pembela diri belaka.



Bertahun-tahun Sian Hwa tinggal di Hoa san setelah ia diantar oleh ayahnya dan diterima menjadi murid oleh ketua Hoa san pai, Lian Bu Tojin yang melihat bahwa anak perempuan itu bertulang baik sekali, bersemangat dan cerdik. Ayahnya tetap berkeliling jual obat karena sudah menjadi kebiasaan seorang yang suka merantau, tentu takkan senang kalau harus berdiam di suatu tempat. Memangg benar bahwa Liem Ta sudah mempunyai sebuah rumah kecil di dusun Lam bi chung tempat kelahiran Sian Hwa, namun karena istri Liem Ta sudah lama meninggal, ia tidak tahan hidup seorang diri dan seringkali melakukan perjalanan merantau.



Ketika Sian Hwa berusia lima belas tahun, datanglah ketua Kun lun pai, yaitu Pek Gan Siansu, berkunjung ke Hoa san bersama muridnya yang bernama Kwa Sin dan yang berusia tujuh belas tahun pada waktu itu. Pertemuan antara dua orang ketua ini menghasilkan ikatan jodoh antara Sian Hwa dan Kwee Sin yang sudah yatim piatu. Tentu saja Liem Ta diberi tahu dan duda perantau ini setelah melihat Kwee Sin yang tampan dan gagah, apalagi anak murid Kun lun pai, segera memberi persetujuannya.



Lima tahun kemudian mereka telah tamat belajar. Sian Hwa menjadi seorang pendekar gagah, menjadi seorang termuda dari Hoa san Sie eng yang terkenal di seluruh dunia kang ouw. Adapun Kwee Sin juga menjadi seorang jago muda Kun lun pai yang tak kalah tersohornya. Dia adalah seorang termuda pula dari Kun lun Sam hengte (Tiga saudara dari Kun lun), yaitu bersama dua orang suheng yang bernama Bun Si Teng dan Bu Si Liong.



Demikianlah keadaan Sian Hwa sepintas lalu, dan sebagai pendekar-pendekar gagah, baik Sian Hwa maupun Kwee Sin tidak tergesa-gesa melangsungkan pernikahan, malah bertemu muka pun jarang sekali kedua tunangan ini. Betapapun juga tiap kali keduanya bertemu muka, mungkin setengah tahun sekali, jalinan cinta kasih diantara mereka makin erat. Dan pada waktu cerita ini terjadi, Liem Sian Hwa sudah kembali ke rumahnya di Lam bi chung, sedangkan Kwee Sin seperti biasanya pergi merantau sebagai seorang pendekar muda yang bercita-cita melepaskan tanah air dan bangsa daripada penindasan penjajah Mongol.



Pada suatu hari Liem Ta pulang dari merantaunya. Kali ini dia tidak pergi terlalu jauh maka dalam waktu setengah bulan dia sudah pulang. Begitu datang ke rumah, dia sudah marah-marah dan memanggil Sian Hwa. Gadis ini segera menghampiri ayahnya yang nampak tak senang dan marah-marah itu, penuh keheranan karena biasanya ayahnya amat sayang kepadanya dan tidak pernah marah.



“Sian Hwa mulai sekarang hubunganmu dengan manusia she Kwee itu putus sampai disini saja! Biar besok aku pergi naik ke Hoa san untuk memberi tahu gurumu. Pertunanganmu dengan manusia she Kwee itu harus putus!”



Kalau ada halilintar menyambarnya di saat itu, kiranya Sian Hwa takkan sekaget ketika mendengar perkataan ayahnya ini. Kedua pipinya yang biasanya kemerahan itu kini menjadi pucat. Akan tetapi sebagai seorang pendekar wanita yang gagah ia bersikap tenang ketika bertanya,



“Apakah sebabnya ayah menjadi marah-marah seperti ini? tentu telah terjadi sesuatu yang membuat ayah menjadi marah.”



“Terjadi sesuatu?” Liem Ta membentak. “Sudah terlalu lama terjadinya, sudah terlalu lama orang itu menipu kita, menipumu! Pantas saja sampai sekarang belum juga ada ketentuan tentang hari baikmu. Huh, kiranya manusia itu bermain gila!”

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…