Skip to main content

Raja Pedang 4 (Kho Ping Hoo)

“Kau seperti Kui bo!” Beng san membalas.

“Bunglon”.

“Kui Bo!”

“Bunglon, bunglon, bunglon”.

“Kui Bo, Kui Bo, Kui Bo!”



Dua orang anak-anak itu, seperti lazimnya semua anak-anak di dunia ini kalau cekcok, balas membalas dengan poyokan. Kwa Hong kalah keras suaranya dan melihat Beng San memoyokinya sambil tertawa-tawa, menjadi makin marah.



“Bunglon, katak, monyet! Kau bilang aku seperti kuntilanak, apa sih sebabnya?”



“Kau berlagak dan sombong sekali. Anak perempuan bernyali kecil masih pura-pura membawa pedang ke mana-mana. Kurasa dengan pedang itu kau tidak mampu menyembelih seekor katak sekalipun! Huh, sombong.”



“Sraatt” tahu-tahu pedang sudah berada di tangan Kwa Hong yang memuncak kemarahannya.



“Menyembelih katak? Menyembelih bunglon macammu pun aku sanggup!”



Pedang digerakkan. “Syeettt … syeeettt!” dua kali pedang berkelebat dan.... selongsong kulit ular yang membungkus tubuh Beng San terbelah dari atas kebawah dan jatuh ke bawah, dalam sekejap mata saja Beng San berdiri.... telanjang bulat di depan Kwa Hong!. Memang ketika mempergunakan selimut istimewa itu, Beng san menanggalkan pakaiannya yang basah oleh peluh dan sekarang pakaian itu digantungkannya pada batang pohon. Pada masa itu, usia sembilan tahun bagi seorang anak perempuan sudah cukup besar untuk membuat Kwa Hong menjerit dan membalikkan tubuh dan membelakangi Beng San, mulutnya memaki-maki.



“Kadal! Bunglon! Monyet.... tak tahu malu kau....”



Beng San juga kaget dan malu sekali. Ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa dengan pedangnya bocah itu mampu membelah selongsong ular sedemikian rupa sehingga ujung pedang tadi hampir saja menggurat kulit perutnya. Cepat dia lari menyambar pakaiannya dan segera memakainya.



“Kau yang tak tahu malu, kau yang kurang ajar!” Beng San marah marah. “Main-main dengan pedang,. Kalau kena perutku tadi, apa aku tidak mati?”



“Mampus juga salahmu sendiri,” Kwa Hong menjawab sambil memutar tubuh. Sekarang ia melihat Beng san dalam pakaian yang kotor butut dan tambal-tambalan. “Huh,” ia menjebi, “kiranya hanya pengemis.”



“Kuntilanak! Aku tak pernah mengemis apa-apa padamu.”



Pada saat itu, Kwa Tin Siong sudah berlari-lari sampai di tempat itu. Dia mendengar percekcokan terakhir ini dan datang-datang ia menegur puterinya.



“Hong ji, tak boleh kau menghina orang, tak boleh bercekcok. Pengemis adalah saudara kita.”



Datang-datang jago Hoa san pai yang pikirannya selalu penuh dengan ujar-ujar pelajaran Khong Cu telah menasehati puterinya dengan sebuah ujar-ujar yang lengkap berbunyi : “Di seluruh penjuru lautan, semua manusia adalah saudara.”



Beng San yang memang berwatak nakal dan berani, tertawa-tawa dan bertepuk-tepuk tangan. “Bagus, bagus! Puas, puas! Maka harus ingat selalu bahwa kalau tidak mau dihina orang lain janganlah menghina orang lain.”



Seperti sudah diceritakan dibagian depan, semenjak kecilnya Beng San dijejali kitab-kitab kuno oleh para hwesio di Kelenteng Hok thian tong, di antaranya juga kitab-kitab Su si Ngo keng yang sudah dihafalkannya, maka dia pun masih banyak hafal akan ujar-ujar nabi Khong Cu. Yang dia ucapkan tadi pun merupakan sebuah ujar-ujar yang lengkapnya berbunyi : “Jangan lakukan kepada orang lain apa yang kau tidak suka orang lain melakukannya kepadamu.”



Melihat sikap Beng san, Kwa Tin Siong mengerutkan kening, kemudian terheran-heran. Apalagi melihat pakaian Beng san yang buruk dan melihat pula selongsong kulit ular disitu, ia mengira bahwa beng San tentulah murid seorang pandai. Ia sedang terburu-buru dan ada urusan besar, tidak baik kalau sampai terjadi hal-hal tidak enak dengan tokoh lain. Maka ia lalu menarik tangan Kwa Hong dan berkata.



“Mari, Hong ji. Mari kita pergi. Aku tadi membunuh seekor ular besar, kita boleh makan dagingnya sebelum melanjutkan perjalanan.”



Kwa Hong tak berani membantah, hanya memandang kepada Beng San dengan mata berapi dan mulut cemberut. Kwa Tin Siong tersenyum, sebelum pergi menoleh kearah Beng San yang berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar. Kembali Kwa Tin Siong terheran-heran melihat betapa kulit muka yang bengkak-bengkak itu menjadi agak kehijauan, padahal tadinya merah sekali. Ia merasa heran dan karena tidak melihat hawa beracun keluar dari tubuh pemuda cilik itu, maka ia tidak menduga bahwa anak ini telah mempelajari semacam ilmu mujijat yang memang pada waktu itu banyak dimiliki tokoh-tokoh kang ouw.



Mendengar orang bicara tentang “daging” dan tentang “makan”, seketika perut Beng San memberontak lagi. Perutnya melilit-lilit dan ia tak dapat menahan lagi kedua kakinya yang berjalan mengikuti ayah dan anak itu dari jauh. Berindap-indap ia menghampiri ketika mencium bau asap yang amat wangi dan gurih. Setelah dekat dia melihat betapa Kwa Tin Siong dibantu oleh anak perempuan yang galak tadi sedang membakari potongan-potongan daging ular. Ularnya kelihatan menggeletak tak jauh dari situ, ular besar sekali yang tentu banyak dagingnya. Beng San beberapa kali menelan ludahnya. Ketika ayah dan anak itu ramai-ramai makan panggang daging ular, Beng San membalikkan tubuhnya, tak mau melihat.



“Ayah, lihat itu pengemis yang tadi datang lagi.” Tiba-tiba terdengar Kwa Hong berkata nyaring.



Dengan perut panas Beng San menoleh dan memandang dengan mata mendelik.



Kwa Tin Siong tersenyum dan berkata kepada Beng San, “Anak baik, apakah kau lapar?”



Beng san berwatak angkuh tapi jujur. Ia mengangguk mendengar pertanyaan yang dikeluarkan dengan sikap ramah dan halus itu.



“Kau mau mengemis daging ular?” Kwa Hong mengejek.



“Tidak!” Beng San membentak dan membalikkan mukanya lagi.



Kwa Tin Siong diam-diam kagum juga melihat anak jembel yang berwatak angkuh itu. Itulah sikap jantan yang jarang terdapat pada diri anak-anak, apalagi anak jembel. Dengan halus ia bertanya.



“Anak baik, apakah kau mau minta daging ular?”



Beng San menoleh sebentar dan dengan mengeraskan hatinya ia menjawab, halus tidak membentak seperti ketika menjawab Kwa Hong tadi.



“Tidak, lopek (paman tua), aku tidak minta.”



Kembali Kwa Tin Siong tertegun. Jawaban kali ini adalah jawaban seorang anak baik-baik yang mengerti akan tata susila dan kesopanan. Ia dapat menjenguk isi hati anak itu yang agaknya memiliki keangkuhan besar, biarpun hampir kelaparan tidak mau minta-minta. Anak luar biasa, pikirnya.



“Anak baik, boleh aku mengetahui namamu?”



“Namaku Beng San, anak korban banjir, tiada orang tua, tidak tahu lagi she apa.” Sekaligus ia menjawab karena tidak suka kalau dihujani pertanyaan selanjutnya. Kembali Kwa Tin Siong tertegun. Kasihan sekali anak ini, agaknya semenjak kecil terpaksa harus hidup terlunta-lunta seorang diri.



“Beng San, aku Kwa Tin Siong dan ini anakku Kwa Hong. Kau tidak minta makanan, akan tetapi aku memberi kepadamu, kau mau, bukan?” orang tua itu mengambil dua potong panggang daging ular dan memberikannya kepada Beng San. Anak itu menerima tanpa menyatakan terima kasihnya karena ia melihat Kwa Hong memandang dengan senyum mengejek. Begitu menerimanya ia mengembalikannya kepada Kwa Hong.



“Tak pernah aku menerima pemberian yang tak rela,” katanya singkat.



“Hong ji” Kwa Tin Siong membentak anaknya. “Jangan kau kurang ajar. Daging ini ayah yang dapat, bukan kau!” ia membujuk supaya Beng San suka menerimanya dan Kwa Hong tidak berani lagi senyum-senyum mengejek seperti tadi.



Setelah yakin bahwa pemberian itu rela, Beng San segera makan daging ular itu. Aduh lezatnya, sedapnya, gurihnya. Dengan lahap Beng san makan dan sekejap mata saja habislah dua potong daging itu. Kwa Tin Siong yang diam-diam melirik menjadi terharu. Ia tahu bahwa kalau ia memberi terus menerus, anak itu akan tersinggung kehormatannya, maka karena ia dan Kwa Hong sudah merasa kenyang, ia lalu berdiri dan berkata kepada Kwa Hong.



“Hong ji, mari kita lanjutkan perjalanan. Kita harus mencari kudaku yang tadi melarikan diri.” Kemudian kepada Beng San ia berkata.



“Beng San, karena kami sudah tidak memerlukan lagi daging ular, maka kuberikan sisa daging ular ini kepadamu, juga sisa garam dan bumbu ini. kau pangganglah sendiri. Nah, selamat tinggal anak baik.”



Melihat sikap ini Beng San segera menjatuhkan diri berlutut. “Kwa Tin Siong lopek, kau benar-benar seorang mulia. Aku Beng San tak kan mudah melupakan kau dan mudah-mudahan saja kelak aku mendapatkan kesempatan untuk membalas kebaikanmu ini.”



Sekali lagi Kwa Tin Siong terkesiap. Bukan main anak ini, memiliki pribudi pula. Ia mengangguk angguk dan diam-diam ia mencatat nama Beng San di dalam hatinya. Dan sebelum mereka berpisah antara Beng San dan Kwa Hong kembali terjadi “adu sinar mata” keduanya berapi dan gemas.!



**********



Setelah ayah dan anak itu pergi, Beng San berpesta pora. Ia memegang daging ular sebanyaknya dan masih panas-panas dia sudah tak sabar menanti, terus saja dimakannya. Sambil makan ia tersenyum-senyum kalau teringat akan kebaikan sikap Kwa Tin Siong, akan tetapi ia menggerutu kalau teringat akan Kwa Hong.



“Kui bo.....“ makinya keras-keras. “Kuntilanak..... Cantik manis, genit dan galak. Kui bo, Kui Bo, Kui bo! Nah, kumaki kau sampai puas, mau apa sekarang Kui bo!”



Tiba-tiba dari atas puncak pohon besar terdengar suara orang perempuan tertawa mengikik, “Hi hi hi hi!”



Beng San meloncat berdiri, menoleh ke kanan kiri. Disangkanya Kwa Hong datang kembali. Akan tetapi ia tidak melihat bayangan orang. Ia menjadi gemas, dikiranya Kwa Hong datang lagi dan mengganggunya atau bersembunyi.



“Kuntilanak kau! Kui bo, perlu apa datang menggangguku?”



Kembali terdengar suara ketawa seperti tadi, kini tepat diatas kepala Beng San. Anak itu cepat mendongak, memandang ke pohon diatasnya, diantara daun-daun dan cabang-cabang pohon. Namun, seekor burungpun tak tampak dan suara ketawa itu masih terdengar disitu. Tiba-tiba suara itu pindah ke lain pohon, juga terdengar di puncak sambung menyambung, “Hi hi hi hi!”



Beng San adalah seorang anak pemberani. Akan tetapi setidaknya ia pernah tinggal di kelenteng dan pernah mendengar cerita-cerita tahyul dari beberapa orang hwesio, maka sekarang ia mulai merasa bulu tengkuknya meremang. Betapapun juga, ia mengeraskan hatinya. Masa di siang hari terang benderang ada setan? Kata seorang hwesio, kuntilanak hanya muncul di waktu malam!.

Comments

Popular posts from this blog

Jaka Lola 19 -> karya : kho ping hoo

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?"

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangka…

Cerita Silat Indonesia Download

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau…