Demikian pula dengan suami isteri, karena mereka hanya manusia-manusia yang bertubuh, dengan sendirinya mereka pun membutuhkan hal-hal yang baru untuk mempertahankan kebahagiaan rumah tangganya. Mereka sendirilah yang harus menciptakan hal-hal baru ini, harus pandai mencari suasana yang baru karena hal ini akan membangkitkan gairah hidup, akan menambah terang cahaya kebahagiaan rumah tangga, akan memperbaru atau mempertebal kasih mesra di antara mereka sendiri (dalam bahasa Jawa disebut ambangun trisno). Suami isteri harus pandai memilih saat-saat di mana mereka dapat memisahkan diri daripada keseragaman tiap hari itu, berdua saja untuk sementara memisahkan diri daripada suasana sehari-hari yang selalu begitu-begitu saja sehingga membosankan. Demikianlah, tanpa disengaja, Kong Bu dan Li Eng telah menciptakan suasana baru dengan kepergian mereka turun gunung. Tidak mengherankan apabila mereka merasakan kebahagiaan dan kegembiraan luar biasa dalam perjalanan ini, seakan-akan mereka memasuki hidup baru yang jauh berbeda daripada kehidupan sehari-hari yang begitu-begitu saja di puncak Min-san. Biasanya setiap hari mereka hanya mengenal hal seperti ini, yaitu bangun pagi-pagi, melatih para murid, bekerja di ladang, melatih murid-murid lagi, malamnya berlatih sendiri, mengaso, tidur. Demikianlah acara tunggal tiap hari. Pemandangan alam yang dilihat pun itu-itu juga.
Kini, begitu turun gunung, mereka memasuki suasana baru. Hawa baru, pemandangan baru, pendengaran baru dan kesemuanya ini menyiram bunga kebahagiaan yang tadinya agak melayu oleh kebosanan. Bersinar-sinar mata mereka, tersenyum-senyum bibir mereka, kemerahan pipi Li Eng kalau memandang suaminya, amat mesra pandang mata Kong Bu kalau menatap wajah isterinya, dan keduanya mendapatkan kebagiaan baru dalam perjalanan ini.
Seperti juga yang telah dilakukan oteh kakek mereka, juga oleh suami isteri Thai-san-pai dan oleh Sin Lee dan isterinya, suami isteri Min-san ini pun melakukan penyelidikan di dunia kang-ouw. Banyak sudah tokoh kang-ouw yang mereka datangi untuk dimintai keterangan, kalau-kalau ada di antara mereka yang mendengar siapa-siapa yang telah menyerbu Thai-san. Akan 'tetapi tidak seorang pun di antara mereka yang mengetahui akan peristiwa itu dan karenanya juga tidak dapat menduga siapa yang memusuhi Thai-san. Malah berita ini mengejutkan dan menggegerkan dunia kang-ouw, karena peristiwa itu sudah pasti akan berekor panjang. Siapakah mereka yang begitu berani mati mengganggu Thai-san-pai ? Dengan hati berdebar dan tegang, para tokoh kang-ouw menanti-nanti datangnya ledakan dahsyat akibat kejadian ini, karena tidak boleh tidak tentu fihak Thai- san-pai akan melakukan pembalasan !
"Tidak ada lain jalan, isteriku," kata Kong Bu ketika mereka berdua sedang mengaso pada tengah hari yang terik di bawah pohon besar, "kita harus mendatangi tempat tinggal para musuh Ayah. Penyerbuan di Thai-san itu agaknya dilakukan penuh rahasia sehingga tidak ada yang tahu. Menurut pendapatku, mereka yang menyerbu Thai-san-pai tentulah keluarga atau handai-taulan daripada musuh-musuh ayah, tanpa dasar dendam sakit hati siapakah orangnya berani dan mau menyerbu Thai-san-pai sedangkan ayah terkenal sebagai seorang pendekar besar?"
Li Eng sedang duduk melonjorkan kedua kakinya dan tubuhnya bersandar pada batang pohon itu, kedua matanya dimeramkan. Agaknya ia nampak lelah sekali dan mengantuk. Mendengar ucapan suaminya, ia menjawab,
"Memang agaknya begitu, akan tetapi yang lebih jelas lagi adalah bahwa mereka yang menyerbu itu tentu orang-orang yang memiliki ilrnu kepandaian tinggi. Kalau tidak, mana mampu mereka mengganggu Thai-san-pai ?"
Kong Bu setuju dengan pendapat isterinya ini. Ayahnya adalah Raja Pedang yang sukar dicari bandingannya di dunia kang-ouw, ibu tirinya juga seorang pendekar pedang wanita yang berilmu tinggi. Kalau bukan orang-orang yang sakti, takkan mungkin berani mengganggu kesana, apa lagi sampai berhasil merusak binasakan dan menculik Cui Sian. Ia mengingat-ingat mereka yang dahulu memusuhi ayahnya Siauw-ong-kwi tokoh utama dan muridnya, Siauw-coa-ong Giam Kin, keduanya sudah tewas dalam pertemuan di Thai-san. Toat-beng Yok-mo juga sudah tewas, begitupun Pak Thian Locu dan Hek Hwa Kui-bo. Tokoh-tokoh utama dunia persilatan sudah banyak yang tewas dan di antara empat besar yaitu Song-bun-kwi dari barat, Swi Lek Hosiang dari timur, Siauw-ong-kwi dari utara dan Hek Hwa Kui-bo dari selatan, kini yang masih hidup hanya kakeknya, Song-bun-kwi dan Swi Lek Hosiang. Akan tetapi Tai-lek-Sin Swi Lek Hosiang bukanlah orang yang termasuk menjadi musuh ayahnya. Adapun kakeknya, biarpun dahulu memusuhi ayahnya, akan tetapi sekarang tidak mungkin lagi, malah membantu. siapakah pula orang sakti yang dapat menyerbu ke Thai-san? Terbayang wajah Hek Hwa Kui-bo yang jahat dan dia mengingat- ingat siapa sanak keluarga nenek iblis ini. Tiba-tiba dia meloncat bangun dan menepuk- nepuk pahanya.
"Wah, kalau bukan mereka siapa lagi ?"
Mendengar suara suaminya ini, Li Eng membuka kedua matanya yang mengantuk, terheran- heran melihat sikap suaminya yang seperti keranjingan itu. "Eh, kau teringat siapakah ?" tanyanya, terganggu karena tadi ia hampir pulas saking nikmatnya mengaso di bawah pohon yang teduh dan dikipasi angin semilir.
"Ketemu sekarang, Eng-moi! Tentu mereka, wah, siapa lagi kalau bukan mereka?"
Li Eng kini melemparkan punggungnya, duduk tidak bersandar lagi, matanya sudah terbuka lebar menatap wajah suaminya. "Duduklah yang baik bicara yang benar ! Siapa yang kau maksudkan? Kau seperti sedang teringat kepada kekasihmu yang dulu saja."
"Eh, eh, tiada hujan tiada angin tiba-tiba saja kau cemburu?" Kong Bu segera duduk di dekat isterinya dan merangkul lehernya.
"Sejak dahulu kekasihku hanya kau, ada siapa lagi? Aku bukan sedang teringat akan kekasih, melainkan teringat akan murid mendiang Hek Hwa Kui-bo, yaitu ketua Ngo-lian-kauw yang berjuluk Kim-thouw Thian-li. Kau tentu masih ingat akan dia, bukan? Nah, dia sudah tewas tetapi Ngo-lian-kauw masih berdiri, kabarnya malah makin kuat. Orang-orang Ngo-lian-kauw lihai, juga licin dan curang sekali. Mereka patut dicurigai. Kurasa, setidak-tidaknya mereka tentu bercampur tangan dalam penyerbuan Thai-san-pai."
Li Eng mengerutkan keningnya yang hitam panjang, lalu mengangguk-angguk.
"Betul juga katamu, kalau mengingat mereka, aku pun curiga. Perkumpulan iblis itu dapat melakukan kejahatan yang bagaimanapun juga."
"Aku tahu sarangnya!" Kong Bu berkata cepat. "Ngo-lian-kauw (Perkumpulan Agama Lima Teratai) berpusat di lembah Sungai Huai, di sebelah barat kota raja dan sebelah utara kota Ho-pei. Li Eng, hayo kita berangkat sekarang juga."
Kong Bu melompat berdiri lagi, akan tetapi dia memandang heran kepada isterinya yang masih saja duduk bermalas-malasan, malah sambil menguap dan mengulet isterinya kembali bersandar kepada batang pohon. Kong Bu memegang tangan Li Eng, menarik- nariknya mengajak bangun "Hayo, bangunlah.......!"
Tetapi dia menjadi keheranan. ketika melihat Li Eng sama sekali tidak mau bangun berdiri, malah merenggut tangannya.
"Ihhh, kau kenapakah ?" Kong Bu cepat berlutut lagi dekat isterinya.
"Kenapa malas benar ? Atau....... tidak enakkah badanmu ?"
"Entah, aku malas....... ngantuk. Kita mengaso dulu, biarlah aku tidur, hari masih amat panas, aku ogah melakukan perjalanan. Di sini enak sekali, sejuk dan nyaman. Nanti saja kalau sudah teduh kita melanjutkan perjalanan, mengapa sih buru-buru amat?
Kong Bu memandang terheran-heran. Ini bukan watak Li Eng sehari-hari, pikirnya. Biasanya, isterinya adalah seorang wanita yang lincah, yang selalu bergerak seperti burung walet, tidak mau diam apalagi bermalas-malasan seperti ini. Apakah yang terjadi? Mengapa isterinya mengalami prerubahan watak begini aneh?
"Eng-moi, sakitkah kau....... ?" Dengan penuh kasih sayang Kong Bu meraba jidat isterinya. Akan tetapi Li Eng mengipatkan tangan itu dan berkata, suaranya agak kaku,
"Jangan ganggu aku ! Aku mau tidur, aku tidak sakit apa-apa!" Dan ia tidak mau perdulikan lagi pada suaminya karena matanya sudah meram dan ia benar-benar berusaha untuk tidur.
Kong Bu tercengang, lalu duduk termenung menatapi wajah isterinya. Benar-benar luar biasa. Kenapa Li Eng jadi berangasan seperti ini? Tampaknya hendak marah-marah, akan tetapi anehnya, sebentar saja isterinya itu telah pulas, dari pernapasannya yang panjang Kong Bu terpaksa menahan sabar, menunda keberangkatannya ke sarang Ngo-lian-kauw untuk menyelidiki perkumpulan itu yang dia duga tentu mempunyai saham besar dalam peristiwa penyerbuan Thai-san-pai. Memang panas hawa pada tengah hari amat teriknya, biarpun sinarnya ditangkis oleh dahan-dahan pohon, namun sinar yang menerobos dari celah-celah daun menyilaukan mata. Nyaman berlindung di bawah pohon itu dan Kong Bu perlahan-lahan mengantuk juga setelah lama memandang wajah isterinya yang sudah tidur pulas dengan aman tenteramnya. Akan tetapi selagi dia layap-layap hendak pulas, dia bangun lagi. Cepat dia duduk dan memperhatikan. Tidak salah, ada orang bernyanyi-nyanyi di tengah hutan. Suara orang itu makin lama makin jelas, tanda bahwa orang yang bernyanyi itu sedang berjalan menuju ke mari. Suaranya parau dan keras, akan tetapi kata-kata lagu yang dinyanyikan itu menarik perhatian Kong Bu. Dia memperhatikan dan diam-diam mendengar suara nyaring itu dia dapat menduga bahwa orang yang lewat di hutan dan bernyanyi ini tentulah seorang berkepandaian.
"Kemenangan melahirkan kesombongan menimbulkan benci permusuhan hidup tak tenteram lagi. Kekalahan melahirkan? penasaran menimbulkan dendam memupuk pembalasan hidup tak tenteram lagi. Yang melempar jauh-jauh kemenangan maupun kekalahan dialah orang bahagia. Yang dikagumi dan dikehendaki para bijak budiman adalah kemenangan batin!"
Suara orang yang bernyanyi itu kini tidak makin dekat, tanda bahwa orang itu agaknya juga berhenti, tetapi terus bernyanyi. Sehabis bernyanyi dengan suara parau seperti kaleng diseret, terdengar dia terbahak-bahak dan, terkekeh-kekeh tertawa,
"Ha-ha-ha-he-he-he, pendeta-pendeta palsu, hwesio-hwesio menggelikan! Indah-indah bunyi sajaknya, bagus-bagus pitutur dan ayat-ayat sucinya. Apa yang lebih suci di antara segala ayat daripada yang terdapat dalam kitab-kitabnya? Tetapi, ayat-ayat tetap suci, pelaku-pelakunya yang kotor, heh-heh-heh, mulut menghambur ayat-ayat suci tangan melakukan perbuatan-perbuatan kotor!"
Diam-diam Kong Bu terkejut. Ingin sekali dia melihat macam apa orangnya yang dapat menyanyikan kata-kata sehebat itu lalu bicara seorang diri yang agaknya ditujukan untuk mengejek para hwesio yang biasa melakukan sembahyang dan berdoa dengan lagu seperti itu. Akan tetapi dia menunda maksud hatinya karena takut kalau-kalau akan membikin orang itu tidak senang, apalagi pada saat itu dia bernyanyi pula dengan suaranya yang parau dan kacau seperti suara katak buduk di hari hujan,
"Mengenal keadaan orang lain memang bijaksana mengenal diri sendiri barulah waspada. Mengalahkan orang lain memang kuat badannya mengalahkan diri sendiri barulah kuat batinnya."
"Heh-heh-heh, segala tosu bau, bisa saja menyanyikan ayat-ayat To-tik-keng. Tetapi hanya mulut....... mulut.......!
Lidah tidak bertulang, orang tampak manis pada mulutnya, gigi tampak putih berkilat. Tetapi lihat di baliknya! Kotor........ kotor....... palsu! Ha-ha-ha-heh-heh-heh, hwesio- hwesio dan tosu-tosu sama saja, setali tiga uang. Mulut dan hati seperti bumi dengan langit, kata-kata dan perbuatan seperti terang dengan gelap!"
Terdengar suara orang itu mendekat lagi. Entah bagaimana, Kong Bu mendapat perasaan aneh seperti membisikinya bahwa terhadap orang ini dia tidak boleh main-main. Lebih baik menjauhinya atau lebih baik tidak mengenalnya. Dia sudah banyak mengenal tokoh aneh, kakeknya sendiri pun seorang yang dijuluki iblis. Akan tetapi orang ini mencaci dan mengejek para pendeta, baik pendeta hwesio (Buddha) maupun pendeta tosu (Agama To) sambil menyanyikan ayat-ayat suci mereka. Orang yang sudah membenci semua pendeta, biarpun mengejek kepalsuan mereka, pastilah bukan orang sembarangan dan dia mendapat firasat bahwa orang ini amatlah berbahaya. Celakanya agaknya orang itu melangkahkan kaki menuju ke tempat dia dan isterinya mengaso. Kong Bu bukanlah seorang penakut, jauh daripada itu. Dia seorang pendekar gagah perkasa yang tidak pernah mengenal arti takut. Dia seorang asuhan kakek iblis Song-bun-kwi. Akan tetapi pada saat itu dia lalu membaringkan diri di dekat isterinya dan pura-pura tidur pulas ketika orang yang bernyanyi-nyanyi itu sudah makin dekat. Dia sengaja berbaring miring, matanya mengintai dari balik bulu mata.
Orang ini herhenti dekat tempat suami isteri itu tidur. Dengan kaget Kong Bu melihat seorang kakek tua yang berpakaian serba kuning, seorang kakek yang kepalanya gundul dan kulitnya hitam seluruhnya ! Sambil menyeret sebatang tongkat panjang berwarna hitam pula, kakek itu tadi melangkah datang dengan langkah lebar dengan kakinya yang telanjang dan hitam sampai ke telapak-telapaknya, sejenak kakek itu berdiri termangu, memandang suami isteri yang masih tidur pulas. Lama dia menatap wajah Li Eng yang cantik jelita dan tampak manis dalam tidurnya. Kemudian dia tertawa berkakakan.
"Ha-ha-ha-he-he-heh! Wah, aku benar-benar sudah tua bangka, sudah hampir mati nafsu- nafsu badan yang reyot ini. Kalau dulu, dua puluh tahun yang lalu, tentu takkan kulewatkan saja mereka ini. Yang jantan kubikin mampus, yang betina kuambil. Ha-ha-ha!" Dia mengamat-amati lagi sambil tertawa ha-ha-he-he, amat menyeramkan.
"Wah-wah, bawa-bawa pedang segala. Jangan-jangan anggauta pemberontak? Hee, bocah, enak saja tidur bermesra-mesraan, mabuk yang-yangan (bercintaan), hayo bangun!" ujung kakinya bergerak mencongkel tanah dan bukan main kagetnya hati Kong Bu ketika segumpal tanah melayang dengan kekuatan dahsyat ke arah kepalanya! Tentu saja dia tidak mau dilukai, tidak sudi dihina seperti itu. Tubuhnya bergerak melenjit dan tahu-tahu dia sudah berdiri dengan tegak dan gagah, gumpalan tanah itu sama sekali tidak menyentuhnya.
"Ha-ha-he-heh, benar juga! Kiranya memiliki sedikit kepandaian yang jantan ini. Entah bagaimana yang betina!" Kembali ibu jari kaki kanannya mencokel tanah dan segumpal tanah melayang ke arah muka Li Eng. Kong Bu marah sekali, tubuhnya terayun dan dia hendak menyambar tanah yang mengancam muka isterinya itu. Akan tetapi tiba-tiba Li Eng sudah pula mengulur tangan, tanpa membuka matanya ia telah dapat menangkap gumpalan tanah itu dengan tangan kanannya, kemudian seperti tidak sengaja tangannya bergerak dan....... gumpalan tanah itu melayang cepat ke arah muka kakek itu, senjata makan tuan!
"Ah, lihai.......!" Kakek itu berseru, kaget juga menyaksikan demonstrasi kepandaian wanita muda itu dan cepat dia menundukkan muka untuk membiarkan tanah itu lewat di atas kepalanya. Tentu saja kakek ini kaget dan heran karena dia tidak tahu bahwa Kui Li Eng adalah puteri tunggal Kui Lok dan Thio Bwee, dua orang tokoh Hoa-san-pai yang sudah mewarisi ilmu kepandaian aseli dari Hoa-san termasuk ilmu mempergunakan senjata rahasia !
Li Eng memang sudah sadar ketika mendengar suara kakek itu tadi, akan tetapi ia pura- pura masih tidur. Sekarang ia melompat bangun dan berdiri di samping suaminya, matanya yang jeli dan tajam menatap kakek itu, menaksir-naksir dan mengingat-ingat. Akan tetapi, seperti juga suaminya, belum pernah ia bertemu atau mendengar akan adanya seorang tokoh kang-ouw seperti kakek ini. Ia juga tidak berani memandang rendah karena tenaga cokelan ibu jari kaki kakek itu saja tadi telah menggetarkan tangannya yang menerima tanah, tanda bahwa kakek ini memiliki Iweekang yang tinggi tingkatnya.
"Locianpwe ini siapakah dan mengapa mengganggu kami berdua suami isteri yang sedang beristirahat?" kata Kong Bu sambil menjura. Sikapnya cukup sopan akan tetapi tidak terlalu merendah.
Kakek itu tidak menjawab, malah matanya tidak berkedip memandang kepada Li Eng bukan memandang wajahnya, melainkan memandang ke arah....... perutnya! Tentu saja Li Eng merasa mendongkol bukan main berbareng juga ngeri. Mata dengan manik mata kelihatan terlalu putih di balik wajah hitam itu seakan-akan menelanjanginya dengan pandangannya itu.
"He, Kakek! Kau melihat apa?" bentaknya marah.
"Heh-heh-heh, melihat perutmu. Ha-ha-ha, suami isteri yang aneh! Isteri mengandung maiah diajak berkeliaran di hutan liar, apakah mengidam binatang hutan?"
"Kakek tua bangka, sudah tua makin kurang ajar! Tutup mulutmu yang kotor itu!" Li Eng makin marah, memaki-maki.
"Heh-heh-heh, memang begitulah. Kalau belum sebulan, hawanya ingin marah saja, tanda anak perempuan! Ha-ha-ha !"
Li Eng sudah bergerak hendak menyerang kakek ini, akan tetapi Kong Bu memegang lengannya. Diam-diam ada perasaan aneh menyelinap di hati Kong Bu. Memang sikap Li Eng aneh, aneh bukan main. Tadi pun ia sudah terheran-heran menyaksikan perubahan pada sikap isterinya. Jadi inilah rahasianya? Benar-benarkah isterinya mengidam, mulai mengandung? Wah, kalau betul begitu, jangankan harus memarahi kakek itu, malah mau rasanya dia merangkul dan mencium muka tua yang hitam itu! Perasaan girang luar biasa menyelubungi hati Kong Bu, tanpa terasa lagi dia telah melingkarkan lengan kirinya pada pinggang isterinya dengan mesra, kemudian bertanya
"Locianpwe, siapakah nama Locianpwe yang mulia? Dan ada keperluan apakah Locianpwe dengan kami suami isteri?"
"Kau beruntung, orang muda. Isterimu Cantik jelita, kepandaiannya lumayan, lincah gembira dan sekarang sudah dapat diharapkan akan menghadiahimu seorang bocah perempuan. Ha-ha-ha, kau mau tahu siapa aku? Tua bangka, ini orang tidak terkenal, disebut Hek Lojin dari Go-bi,"
Kong Bu belum pernah mendengar nama ini, akan tetapi dia cepat menjura dengan hormat lalu memperkenalkan diri. "Saya bernama Tan Kong Bu dan ini isteri saya. Tidak tahu ada keperluan apakah Locianpwe menemui kami ?"
"Tidak ada apa-apa....... kebetulan saja....... ah, barangkali kau tadi melihat adanya seorang pemberontak muda yang matanya buta. Aku sedang mencari-cari dia itu. Apakah kalian melihatnya?"
Diam-diam Kong Bu dan juga Li Eng terkejut. Tidak salah lagi, tentu Kun Hong yang dimaksudkan. Tetapi mengapa pemberontak? Ah, jangan-jangan orang lain, di dunia ini banyak orang muda yang buta. Dengan menekan debaran jantungnya, Kong Bu bertanya,
"Kami tidak melihatnya. Siapakah dia itu, Locianpwe ? Mana ada orang muda buta bisa jadi pemberontak ?"
Kakek itu terkekeh-kekeh, "Ha-ha-ha, memang lucu. Ini tanda bahwa mereka di kota raja tidak becus apa-apa.
Katanya pemberontak buta itu mengacau kota raja, hampir tertawan lalu dapat lolos ditolong seekor burung rajawali emas. Dasar goblok semua yang di kota raja. Termasuk hwesio gundul Siauw-lim itu hanya lagaknya saja besar. Buktinya dengan mengeroyok pun tidak dapat menangkap seorang muda buta. Padahal...... heh-heh-heh, ketika bertemu dengan aku, pemuda buta dan burungnya itu....... ha-ha-heh-he-heh, dia berlutut dan mengangguk-angguk tujuh kali, di depanku, malah kulangkahi kepalanya dengan sebelah kakiku. Hah, sayang sekali, kalau aku tahu dia itu seorang pemberontak, sudah tentu tidak akan dapat kulepas dan kuampuni begitu saja!"
Sekarang yakinlah hati Kong Bu dan Li Eng bahwa yang dimaksudkan oleh kakek aneh ini tentulah Kun Hong. Di dunia ini siapa lagi kalau bukan Kun Hong yang biarpun matanya buta dapat mengacau kota raja ? Siapa lagi kalau bukan Kun Hong yang ditolong oleh rajawali emas? Hati Li Eng sudah panas bukan main, namun ia masih menekan suaranya ketika berkata,
"Kau mencari dia mau apakah, Kakek?" Tidak bisa ia harus mencontoh suaminya yang menyebut Locianpwe kepada kakek hitam yang dianggapnya kurang ajar ini.
"Ha-ha-ha-heh-heh, mau apa tanyamu? Matanya sudah buta, tinggal telinganya yang harus dibikin tuli, hidungnya kuhancurkan, mulutnya kurobek, benci aku kepada pemberontak, benci......."
"Keparat jahanam!" Li Eng tidak dapat menahan kesabarannya lagi dan sekali bergerak, pedangnya sudah berada di tangan. "Enak saja mulutmu yang busuk itu mengoceh. Bukankah kau maksudkan orang itu bernama Kwa Kun Hong ?"
"Heh, benar....... kau tahu........?"
"Tentu saja kakek jahanam! Dia adalah pamanku dan tidak usah kau mencari dia, pedang di tanganku sudah sanggup mengirim kau pulang ke neraka jahanam!" Li Eng tidak memberi kesempatan lagi, cepat ia menerjang dengan pedangnya. Sinar putih bergulung-gulung melayang ke arah kakek itu.
"Ayaaaaaaa, kiranya kalian juga pemberontak-pemberontak, ha-ha-ha-heh-heh-heh!" Kakek itu cepat mengelak dan diam-diam dia terkesiap juga menyaksikan kilatan sinar pedang yang demikian hebatnya.
"Benar, isteriku, kakek iblis ini harus dibasmi!" bentak pula Kong Bu dan kembali sinar pedang yang panjang menyambar. Kakek ini makin kaget dan tahulah dia bahwa dua orang ini biarpun masih muda-muda, namun ternyata telah memiliki ilmu pedang yang jempolan dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan.
Kakek ini memang Hek Lojin adanya, orang tua lihai dari Go-bi, guru The-kongcu atau The Sun. Sudah kita ketahui bahwa kakek ini pernah bertemu dengan Kun Hong dan rajawali emas, dan hampir terjadi peristiwa kalau saja Kun Hong tidak bersabar dan mengalah. Ketika Hek Lojin ini memasuki kota raja, dia disambut dengan segala kehormatan oleh The Sun. Akan tetapi ketika kakek aneh ini mendengar tentang Kun Hong dan rajawali emas, dia mengejek dan menceritakan pengalamannya menghina pemuda buta itu kepada The Sun dan para jagoan istana yang ikut menyambutnya.
"Heh-heh-heh, A Sun, muridku, kenapa kalian begitu goblok? Menangkap pemberontak buta seperti dia saja tidak becus, padahal di kota raja ini terdapat banyak orang? Heh-heh, percuma saja kalau begitu. Habis, Thian Te Cu ini apa saja kerjanya?" Dia menuding adik seperguruannya yang hadir pula di situ, dan mengerling kepada semua yang hadir.
"Suheng, biarpun dia masih muda, si buta itu benar-benar lihai sekali," bantah Thian Te Cu dengan muka merah karena ditegur dan diketawai suhengnya di depan banyak orang.
"Uuaaah, lihai apanya? Kalau dia lihai kenapa mau berlutut dan mengangguk tujuh kali di depan kakiku, kepalanya kulangkahi kaki dia tidak berani apa-apa. Dasar kalian yang tiada gunanya. Uhh!" Kakek hitam ini memang sudah terlalu lama meninggalkan dunia ramai, bertapa di dalam hutan di atas gunung sehingga wataknya sudah berubah seperti orang hutan saja.
Dia tidak perduli lagi akan sopan santun dunia ramai, bicara asal membuka mulut saja, tidak perduli apakah kata-katanya menyinggung orang ataukah tidak. Karena terlalu tua, agaknya dia sudah pikun atau sudah lupa akan tata susila atau tata cara pergaulan. Bhok Hwesio sebaliknya adalah seorang hwesio yang menjaga keras peraturan, seperti biasanya hwesio-hwesio dari Siauw-lim-pai. Sejak tadi dia sudah mendelik-mendelik memandang kepada kakek hitam itu. Akan tetapi karena dia tersinggung tidak secara langsung dan kakek hitam itu hanya menegur sutenya sendiri, dia pun menahan kesabaran dengan muka merah. Sekarang, mendengar betapa kakek hitam itu berkali-kali menyebut "kalian" goblok, tiada gunanya dan lain-lain, dia menjadi marah sekali. Terdengar dia mendengus satu kali dan tiba-tiba meja di depannya amblas ke bawah sampai dua puluh senti lebih. Empat kaki meja itu amblas menembus lantai yang keras dari ruangan itu, amblas tanpa mengeluarkan bunyi seakan-akan empat kaki meja itu menembus agar-agar saja. Dalam kemarahannya, hwesio Siauw-lim ini ternyata telah menggunakan Iweekangnya yang memang amat mengagumkan dan sudah mencapai tingkat tinggi sekali. Semua orang kaget dan diam-diam merasa tidak enak, maklum bahwa hwesio ini marah kepada kakek hitam itu.
"Hemmm, sudah pernah pinceng mendengar nama besar Hek Lojin dari Go-bi yang tinggi menyundul langit. Dengan adanya Hek Lojin di sini orang-orang macam pinceng ini apa gunanya lagi? Lebih baik pergi dan membaca doa di kelenteng! Tapi, biasanya kalau geledek menyambar-nyambar hebat, belum tentu hujannya lebat."
Hek Lojin pelototkan matanya. Tentu saja dia maklum apa artinya ucapan "geledek menyambar-nyambar hebat, belum tentu hujannya lebat" itu yang boleh diartikan, bicara besar, belum tentu kepandaiannya tinggi. Melihat hwesio Siauw-lim itu sudah bangkit dari tempat duduknya, dia pun berdiri dan berkata, "He-heh-heh, hwesio tukang berdoa. Boleh kita coba-coba!"
"Omitohud, pinceng ingin sekali menerima petunjuk!"
The Sun menjadi sibuk. Cepat-cepat dia bangkit dan berdiri di antara kedua jago tua yang sudah hendak saling terjang ini. "Suhu........ Losuhu....... harap ji-wi sudi duduk kembali. Harap suka melihat muka teecu....... yang dalam hal ini mewakili kaisar. Ji-wi dipersilahkan datang untuk menghadapi para pemberontak, bukan untuk saling bermusuhan. Harap suka ingat bahwa para pemberontak belum tertumpas."
Bhok Hwesio menarik napas panjang dan duduk kembali. "Maaf, pinceng sampai lupa diri, omitohud......."
Hek Lojin nampak uring-uringan. "Apa sih hebatnya si pemberontak buta? Kalian semua lihat saja, aku akan pergi menangkapnya dan menyeretnya ke hadapan kalian!" Setelah berkata demikian, kakek hitam ini melesat lenyap dari situ tanpa dapat dicegah lagi.
Kini, begitu turun gunung, mereka memasuki suasana baru. Hawa baru, pemandangan baru, pendengaran baru dan kesemuanya ini menyiram bunga kebahagiaan yang tadinya agak melayu oleh kebosanan. Bersinar-sinar mata mereka, tersenyum-senyum bibir mereka, kemerahan pipi Li Eng kalau memandang suaminya, amat mesra pandang mata Kong Bu kalau menatap wajah isterinya, dan keduanya mendapatkan kebagiaan baru dalam perjalanan ini.
Seperti juga yang telah dilakukan oteh kakek mereka, juga oleh suami isteri Thai-san-pai dan oleh Sin Lee dan isterinya, suami isteri Min-san ini pun melakukan penyelidikan di dunia kang-ouw. Banyak sudah tokoh kang-ouw yang mereka datangi untuk dimintai keterangan, kalau-kalau ada di antara mereka yang mendengar siapa-siapa yang telah menyerbu Thai-san. Akan 'tetapi tidak seorang pun di antara mereka yang mengetahui akan peristiwa itu dan karenanya juga tidak dapat menduga siapa yang memusuhi Thai-san. Malah berita ini mengejutkan dan menggegerkan dunia kang-ouw, karena peristiwa itu sudah pasti akan berekor panjang. Siapakah mereka yang begitu berani mati mengganggu Thai-san-pai ? Dengan hati berdebar dan tegang, para tokoh kang-ouw menanti-nanti datangnya ledakan dahsyat akibat kejadian ini, karena tidak boleh tidak tentu fihak Thai- san-pai akan melakukan pembalasan !
"Tidak ada lain jalan, isteriku," kata Kong Bu ketika mereka berdua sedang mengaso pada tengah hari yang terik di bawah pohon besar, "kita harus mendatangi tempat tinggal para musuh Ayah. Penyerbuan di Thai-san itu agaknya dilakukan penuh rahasia sehingga tidak ada yang tahu. Menurut pendapatku, mereka yang menyerbu Thai-san-pai tentulah keluarga atau handai-taulan daripada musuh-musuh ayah, tanpa dasar dendam sakit hati siapakah orangnya berani dan mau menyerbu Thai-san-pai sedangkan ayah terkenal sebagai seorang pendekar besar?"
Li Eng sedang duduk melonjorkan kedua kakinya dan tubuhnya bersandar pada batang pohon itu, kedua matanya dimeramkan. Agaknya ia nampak lelah sekali dan mengantuk. Mendengar ucapan suaminya, ia menjawab,
"Memang agaknya begitu, akan tetapi yang lebih jelas lagi adalah bahwa mereka yang menyerbu itu tentu orang-orang yang memiliki ilrnu kepandaian tinggi. Kalau tidak, mana mampu mereka mengganggu Thai-san-pai ?"
Kong Bu setuju dengan pendapat isterinya ini. Ayahnya adalah Raja Pedang yang sukar dicari bandingannya di dunia kang-ouw, ibu tirinya juga seorang pendekar pedang wanita yang berilmu tinggi. Kalau bukan orang-orang yang sakti, takkan mungkin berani mengganggu kesana, apa lagi sampai berhasil merusak binasakan dan menculik Cui Sian. Ia mengingat-ingat mereka yang dahulu memusuhi ayahnya Siauw-ong-kwi tokoh utama dan muridnya, Siauw-coa-ong Giam Kin, keduanya sudah tewas dalam pertemuan di Thai-san. Toat-beng Yok-mo juga sudah tewas, begitupun Pak Thian Locu dan Hek Hwa Kui-bo. Tokoh-tokoh utama dunia persilatan sudah banyak yang tewas dan di antara empat besar yaitu Song-bun-kwi dari barat, Swi Lek Hosiang dari timur, Siauw-ong-kwi dari utara dan Hek Hwa Kui-bo dari selatan, kini yang masih hidup hanya kakeknya, Song-bun-kwi dan Swi Lek Hosiang. Akan tetapi Tai-lek-Sin Swi Lek Hosiang bukanlah orang yang termasuk menjadi musuh ayahnya. Adapun kakeknya, biarpun dahulu memusuhi ayahnya, akan tetapi sekarang tidak mungkin lagi, malah membantu. siapakah pula orang sakti yang dapat menyerbu ke Thai-san? Terbayang wajah Hek Hwa Kui-bo yang jahat dan dia mengingat- ingat siapa sanak keluarga nenek iblis ini. Tiba-tiba dia meloncat bangun dan menepuk- nepuk pahanya.
"Wah, kalau bukan mereka siapa lagi ?"
Mendengar suara suaminya ini, Li Eng membuka kedua matanya yang mengantuk, terheran- heran melihat sikap suaminya yang seperti keranjingan itu. "Eh, kau teringat siapakah ?" tanyanya, terganggu karena tadi ia hampir pulas saking nikmatnya mengaso di bawah pohon yang teduh dan dikipasi angin semilir.
"Ketemu sekarang, Eng-moi! Tentu mereka, wah, siapa lagi kalau bukan mereka?"
Li Eng kini melemparkan punggungnya, duduk tidak bersandar lagi, matanya sudah terbuka lebar menatap wajah suaminya. "Duduklah yang baik bicara yang benar ! Siapa yang kau maksudkan? Kau seperti sedang teringat kepada kekasihmu yang dulu saja."
"Eh, eh, tiada hujan tiada angin tiba-tiba saja kau cemburu?" Kong Bu segera duduk di dekat isterinya dan merangkul lehernya.
"Sejak dahulu kekasihku hanya kau, ada siapa lagi? Aku bukan sedang teringat akan kekasih, melainkan teringat akan murid mendiang Hek Hwa Kui-bo, yaitu ketua Ngo-lian-kauw yang berjuluk Kim-thouw Thian-li. Kau tentu masih ingat akan dia, bukan? Nah, dia sudah tewas tetapi Ngo-lian-kauw masih berdiri, kabarnya malah makin kuat. Orang-orang Ngo-lian-kauw lihai, juga licin dan curang sekali. Mereka patut dicurigai. Kurasa, setidak-tidaknya mereka tentu bercampur tangan dalam penyerbuan Thai-san-pai."
Li Eng mengerutkan keningnya yang hitam panjang, lalu mengangguk-angguk.
"Betul juga katamu, kalau mengingat mereka, aku pun curiga. Perkumpulan iblis itu dapat melakukan kejahatan yang bagaimanapun juga."
"Aku tahu sarangnya!" Kong Bu berkata cepat. "Ngo-lian-kauw (Perkumpulan Agama Lima Teratai) berpusat di lembah Sungai Huai, di sebelah barat kota raja dan sebelah utara kota Ho-pei. Li Eng, hayo kita berangkat sekarang juga."
Kong Bu melompat berdiri lagi, akan tetapi dia memandang heran kepada isterinya yang masih saja duduk bermalas-malasan, malah sambil menguap dan mengulet isterinya kembali bersandar kepada batang pohon. Kong Bu memegang tangan Li Eng, menarik- nariknya mengajak bangun "Hayo, bangunlah.......!"
Tetapi dia menjadi keheranan. ketika melihat Li Eng sama sekali tidak mau bangun berdiri, malah merenggut tangannya.
"Ihhh, kau kenapakah ?" Kong Bu cepat berlutut lagi dekat isterinya.
"Kenapa malas benar ? Atau....... tidak enakkah badanmu ?"
"Entah, aku malas....... ngantuk. Kita mengaso dulu, biarlah aku tidur, hari masih amat panas, aku ogah melakukan perjalanan. Di sini enak sekali, sejuk dan nyaman. Nanti saja kalau sudah teduh kita melanjutkan perjalanan, mengapa sih buru-buru amat?
Kong Bu memandang terheran-heran. Ini bukan watak Li Eng sehari-hari, pikirnya. Biasanya, isterinya adalah seorang wanita yang lincah, yang selalu bergerak seperti burung walet, tidak mau diam apalagi bermalas-malasan seperti ini. Apakah yang terjadi? Mengapa isterinya mengalami prerubahan watak begini aneh?
"Eng-moi, sakitkah kau....... ?" Dengan penuh kasih sayang Kong Bu meraba jidat isterinya. Akan tetapi Li Eng mengipatkan tangan itu dan berkata, suaranya agak kaku,
"Jangan ganggu aku ! Aku mau tidur, aku tidak sakit apa-apa!" Dan ia tidak mau perdulikan lagi pada suaminya karena matanya sudah meram dan ia benar-benar berusaha untuk tidur.
Kong Bu tercengang, lalu duduk termenung menatapi wajah isterinya. Benar-benar luar biasa. Kenapa Li Eng jadi berangasan seperti ini? Tampaknya hendak marah-marah, akan tetapi anehnya, sebentar saja isterinya itu telah pulas, dari pernapasannya yang panjang Kong Bu terpaksa menahan sabar, menunda keberangkatannya ke sarang Ngo-lian-kauw untuk menyelidiki perkumpulan itu yang dia duga tentu mempunyai saham besar dalam peristiwa penyerbuan Thai-san-pai. Memang panas hawa pada tengah hari amat teriknya, biarpun sinarnya ditangkis oleh dahan-dahan pohon, namun sinar yang menerobos dari celah-celah daun menyilaukan mata. Nyaman berlindung di bawah pohon itu dan Kong Bu perlahan-lahan mengantuk juga setelah lama memandang wajah isterinya yang sudah tidur pulas dengan aman tenteramnya. Akan tetapi selagi dia layap-layap hendak pulas, dia bangun lagi. Cepat dia duduk dan memperhatikan. Tidak salah, ada orang bernyanyi-nyanyi di tengah hutan. Suara orang itu makin lama makin jelas, tanda bahwa orang yang bernyanyi itu sedang berjalan menuju ke mari. Suaranya parau dan keras, akan tetapi kata-kata lagu yang dinyanyikan itu menarik perhatian Kong Bu. Dia memperhatikan dan diam-diam mendengar suara nyaring itu dia dapat menduga bahwa orang yang lewat di hutan dan bernyanyi ini tentulah seorang berkepandaian.
"Kemenangan melahirkan kesombongan menimbulkan benci permusuhan hidup tak tenteram lagi. Kekalahan melahirkan? penasaran menimbulkan dendam memupuk pembalasan hidup tak tenteram lagi. Yang melempar jauh-jauh kemenangan maupun kekalahan dialah orang bahagia. Yang dikagumi dan dikehendaki para bijak budiman adalah kemenangan batin!"
Suara orang yang bernyanyi itu kini tidak makin dekat, tanda bahwa orang itu agaknya juga berhenti, tetapi terus bernyanyi. Sehabis bernyanyi dengan suara parau seperti kaleng diseret, terdengar dia terbahak-bahak dan, terkekeh-kekeh tertawa,
"Ha-ha-ha-he-he-he, pendeta-pendeta palsu, hwesio-hwesio menggelikan! Indah-indah bunyi sajaknya, bagus-bagus pitutur dan ayat-ayat sucinya. Apa yang lebih suci di antara segala ayat daripada yang terdapat dalam kitab-kitabnya? Tetapi, ayat-ayat tetap suci, pelaku-pelakunya yang kotor, heh-heh-heh, mulut menghambur ayat-ayat suci tangan melakukan perbuatan-perbuatan kotor!"
Diam-diam Kong Bu terkejut. Ingin sekali dia melihat macam apa orangnya yang dapat menyanyikan kata-kata sehebat itu lalu bicara seorang diri yang agaknya ditujukan untuk mengejek para hwesio yang biasa melakukan sembahyang dan berdoa dengan lagu seperti itu. Akan tetapi dia menunda maksud hatinya karena takut kalau-kalau akan membikin orang itu tidak senang, apalagi pada saat itu dia bernyanyi pula dengan suaranya yang parau dan kacau seperti suara katak buduk di hari hujan,
"Mengenal keadaan orang lain memang bijaksana mengenal diri sendiri barulah waspada. Mengalahkan orang lain memang kuat badannya mengalahkan diri sendiri barulah kuat batinnya."
"Heh-heh-heh, segala tosu bau, bisa saja menyanyikan ayat-ayat To-tik-keng. Tetapi hanya mulut....... mulut.......!
Lidah tidak bertulang, orang tampak manis pada mulutnya, gigi tampak putih berkilat. Tetapi lihat di baliknya! Kotor........ kotor....... palsu! Ha-ha-ha-heh-heh-heh, hwesio- hwesio dan tosu-tosu sama saja, setali tiga uang. Mulut dan hati seperti bumi dengan langit, kata-kata dan perbuatan seperti terang dengan gelap!"
Terdengar suara orang itu mendekat lagi. Entah bagaimana, Kong Bu mendapat perasaan aneh seperti membisikinya bahwa terhadap orang ini dia tidak boleh main-main. Lebih baik menjauhinya atau lebih baik tidak mengenalnya. Dia sudah banyak mengenal tokoh aneh, kakeknya sendiri pun seorang yang dijuluki iblis. Akan tetapi orang ini mencaci dan mengejek para pendeta, baik pendeta hwesio (Buddha) maupun pendeta tosu (Agama To) sambil menyanyikan ayat-ayat suci mereka. Orang yang sudah membenci semua pendeta, biarpun mengejek kepalsuan mereka, pastilah bukan orang sembarangan dan dia mendapat firasat bahwa orang ini amatlah berbahaya. Celakanya agaknya orang itu melangkahkan kaki menuju ke tempat dia dan isterinya mengaso. Kong Bu bukanlah seorang penakut, jauh daripada itu. Dia seorang pendekar gagah perkasa yang tidak pernah mengenal arti takut. Dia seorang asuhan kakek iblis Song-bun-kwi. Akan tetapi pada saat itu dia lalu membaringkan diri di dekat isterinya dan pura-pura tidur pulas ketika orang yang bernyanyi-nyanyi itu sudah makin dekat. Dia sengaja berbaring miring, matanya mengintai dari balik bulu mata.
Orang ini herhenti dekat tempat suami isteri itu tidur. Dengan kaget Kong Bu melihat seorang kakek tua yang berpakaian serba kuning, seorang kakek yang kepalanya gundul dan kulitnya hitam seluruhnya ! Sambil menyeret sebatang tongkat panjang berwarna hitam pula, kakek itu tadi melangkah datang dengan langkah lebar dengan kakinya yang telanjang dan hitam sampai ke telapak-telapaknya, sejenak kakek itu berdiri termangu, memandang suami isteri yang masih tidur pulas. Lama dia menatap wajah Li Eng yang cantik jelita dan tampak manis dalam tidurnya. Kemudian dia tertawa berkakakan.
"Ha-ha-ha-he-he-heh! Wah, aku benar-benar sudah tua bangka, sudah hampir mati nafsu- nafsu badan yang reyot ini. Kalau dulu, dua puluh tahun yang lalu, tentu takkan kulewatkan saja mereka ini. Yang jantan kubikin mampus, yang betina kuambil. Ha-ha-ha!" Dia mengamat-amati lagi sambil tertawa ha-ha-he-he, amat menyeramkan.
"Wah-wah, bawa-bawa pedang segala. Jangan-jangan anggauta pemberontak? Hee, bocah, enak saja tidur bermesra-mesraan, mabuk yang-yangan (bercintaan), hayo bangun!" ujung kakinya bergerak mencongkel tanah dan bukan main kagetnya hati Kong Bu ketika segumpal tanah melayang dengan kekuatan dahsyat ke arah kepalanya! Tentu saja dia tidak mau dilukai, tidak sudi dihina seperti itu. Tubuhnya bergerak melenjit dan tahu-tahu dia sudah berdiri dengan tegak dan gagah, gumpalan tanah itu sama sekali tidak menyentuhnya.
"Ha-ha-he-heh, benar juga! Kiranya memiliki sedikit kepandaian yang jantan ini. Entah bagaimana yang betina!" Kembali ibu jari kaki kanannya mencokel tanah dan segumpal tanah melayang ke arah muka Li Eng. Kong Bu marah sekali, tubuhnya terayun dan dia hendak menyambar tanah yang mengancam muka isterinya itu. Akan tetapi tiba-tiba Li Eng sudah pula mengulur tangan, tanpa membuka matanya ia telah dapat menangkap gumpalan tanah itu dengan tangan kanannya, kemudian seperti tidak sengaja tangannya bergerak dan....... gumpalan tanah itu melayang cepat ke arah muka kakek itu, senjata makan tuan!
"Ah, lihai.......!" Kakek itu berseru, kaget juga menyaksikan demonstrasi kepandaian wanita muda itu dan cepat dia menundukkan muka untuk membiarkan tanah itu lewat di atas kepalanya. Tentu saja kakek ini kaget dan heran karena dia tidak tahu bahwa Kui Li Eng adalah puteri tunggal Kui Lok dan Thio Bwee, dua orang tokoh Hoa-san-pai yang sudah mewarisi ilmu kepandaian aseli dari Hoa-san termasuk ilmu mempergunakan senjata rahasia !
Li Eng memang sudah sadar ketika mendengar suara kakek itu tadi, akan tetapi ia pura- pura masih tidur. Sekarang ia melompat bangun dan berdiri di samping suaminya, matanya yang jeli dan tajam menatap kakek itu, menaksir-naksir dan mengingat-ingat. Akan tetapi, seperti juga suaminya, belum pernah ia bertemu atau mendengar akan adanya seorang tokoh kang-ouw seperti kakek ini. Ia juga tidak berani memandang rendah karena tenaga cokelan ibu jari kaki kakek itu saja tadi telah menggetarkan tangannya yang menerima tanah, tanda bahwa kakek ini memiliki Iweekang yang tinggi tingkatnya.
"Locianpwe ini siapakah dan mengapa mengganggu kami berdua suami isteri yang sedang beristirahat?" kata Kong Bu sambil menjura. Sikapnya cukup sopan akan tetapi tidak terlalu merendah.
Kakek itu tidak menjawab, malah matanya tidak berkedip memandang kepada Li Eng bukan memandang wajahnya, melainkan memandang ke arah....... perutnya! Tentu saja Li Eng merasa mendongkol bukan main berbareng juga ngeri. Mata dengan manik mata kelihatan terlalu putih di balik wajah hitam itu seakan-akan menelanjanginya dengan pandangannya itu.
"He, Kakek! Kau melihat apa?" bentaknya marah.
"Heh-heh-heh, melihat perutmu. Ha-ha-ha, suami isteri yang aneh! Isteri mengandung maiah diajak berkeliaran di hutan liar, apakah mengidam binatang hutan?"
"Kakek tua bangka, sudah tua makin kurang ajar! Tutup mulutmu yang kotor itu!" Li Eng makin marah, memaki-maki.
"Heh-heh-heh, memang begitulah. Kalau belum sebulan, hawanya ingin marah saja, tanda anak perempuan! Ha-ha-ha !"
Li Eng sudah bergerak hendak menyerang kakek ini, akan tetapi Kong Bu memegang lengannya. Diam-diam ada perasaan aneh menyelinap di hati Kong Bu. Memang sikap Li Eng aneh, aneh bukan main. Tadi pun ia sudah terheran-heran menyaksikan perubahan pada sikap isterinya. Jadi inilah rahasianya? Benar-benarkah isterinya mengidam, mulai mengandung? Wah, kalau betul begitu, jangankan harus memarahi kakek itu, malah mau rasanya dia merangkul dan mencium muka tua yang hitam itu! Perasaan girang luar biasa menyelubungi hati Kong Bu, tanpa terasa lagi dia telah melingkarkan lengan kirinya pada pinggang isterinya dengan mesra, kemudian bertanya
"Locianpwe, siapakah nama Locianpwe yang mulia? Dan ada keperluan apakah Locianpwe dengan kami suami isteri?"
"Kau beruntung, orang muda. Isterimu Cantik jelita, kepandaiannya lumayan, lincah gembira dan sekarang sudah dapat diharapkan akan menghadiahimu seorang bocah perempuan. Ha-ha-ha, kau mau tahu siapa aku? Tua bangka, ini orang tidak terkenal, disebut Hek Lojin dari Go-bi,"
Kong Bu belum pernah mendengar nama ini, akan tetapi dia cepat menjura dengan hormat lalu memperkenalkan diri. "Saya bernama Tan Kong Bu dan ini isteri saya. Tidak tahu ada keperluan apakah Locianpwe menemui kami ?"
"Tidak ada apa-apa....... kebetulan saja....... ah, barangkali kau tadi melihat adanya seorang pemberontak muda yang matanya buta. Aku sedang mencari-cari dia itu. Apakah kalian melihatnya?"
Diam-diam Kong Bu dan juga Li Eng terkejut. Tidak salah lagi, tentu Kun Hong yang dimaksudkan. Tetapi mengapa pemberontak? Ah, jangan-jangan orang lain, di dunia ini banyak orang muda yang buta. Dengan menekan debaran jantungnya, Kong Bu bertanya,
"Kami tidak melihatnya. Siapakah dia itu, Locianpwe ? Mana ada orang muda buta bisa jadi pemberontak ?"
Kakek itu terkekeh-kekeh, "Ha-ha-ha, memang lucu. Ini tanda bahwa mereka di kota raja tidak becus apa-apa.
Katanya pemberontak buta itu mengacau kota raja, hampir tertawan lalu dapat lolos ditolong seekor burung rajawali emas. Dasar goblok semua yang di kota raja. Termasuk hwesio gundul Siauw-lim itu hanya lagaknya saja besar. Buktinya dengan mengeroyok pun tidak dapat menangkap seorang muda buta. Padahal...... heh-heh-heh, ketika bertemu dengan aku, pemuda buta dan burungnya itu....... ha-ha-heh-he-heh, dia berlutut dan mengangguk-angguk tujuh kali, di depanku, malah kulangkahi kepalanya dengan sebelah kakiku. Hah, sayang sekali, kalau aku tahu dia itu seorang pemberontak, sudah tentu tidak akan dapat kulepas dan kuampuni begitu saja!"
Sekarang yakinlah hati Kong Bu dan Li Eng bahwa yang dimaksudkan oleh kakek aneh ini tentulah Kun Hong. Di dunia ini siapa lagi kalau bukan Kun Hong yang biarpun matanya buta dapat mengacau kota raja ? Siapa lagi kalau bukan Kun Hong yang ditolong oleh rajawali emas? Hati Li Eng sudah panas bukan main, namun ia masih menekan suaranya ketika berkata,
"Kau mencari dia mau apakah, Kakek?" Tidak bisa ia harus mencontoh suaminya yang menyebut Locianpwe kepada kakek hitam yang dianggapnya kurang ajar ini.
"Ha-ha-ha-heh-heh, mau apa tanyamu? Matanya sudah buta, tinggal telinganya yang harus dibikin tuli, hidungnya kuhancurkan, mulutnya kurobek, benci aku kepada pemberontak, benci......."
"Keparat jahanam!" Li Eng tidak dapat menahan kesabarannya lagi dan sekali bergerak, pedangnya sudah berada di tangan. "Enak saja mulutmu yang busuk itu mengoceh. Bukankah kau maksudkan orang itu bernama Kwa Kun Hong ?"
"Heh, benar....... kau tahu........?"
"Tentu saja kakek jahanam! Dia adalah pamanku dan tidak usah kau mencari dia, pedang di tanganku sudah sanggup mengirim kau pulang ke neraka jahanam!" Li Eng tidak memberi kesempatan lagi, cepat ia menerjang dengan pedangnya. Sinar putih bergulung-gulung melayang ke arah kakek itu.
"Ayaaaaaaa, kiranya kalian juga pemberontak-pemberontak, ha-ha-ha-heh-heh-heh!" Kakek itu cepat mengelak dan diam-diam dia terkesiap juga menyaksikan kilatan sinar pedang yang demikian hebatnya.
"Benar, isteriku, kakek iblis ini harus dibasmi!" bentak pula Kong Bu dan kembali sinar pedang yang panjang menyambar. Kakek ini makin kaget dan tahulah dia bahwa dua orang ini biarpun masih muda-muda, namun ternyata telah memiliki ilmu pedang yang jempolan dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan.
Kakek ini memang Hek Lojin adanya, orang tua lihai dari Go-bi, guru The-kongcu atau The Sun. Sudah kita ketahui bahwa kakek ini pernah bertemu dengan Kun Hong dan rajawali emas, dan hampir terjadi peristiwa kalau saja Kun Hong tidak bersabar dan mengalah. Ketika Hek Lojin ini memasuki kota raja, dia disambut dengan segala kehormatan oleh The Sun. Akan tetapi ketika kakek aneh ini mendengar tentang Kun Hong dan rajawali emas, dia mengejek dan menceritakan pengalamannya menghina pemuda buta itu kepada The Sun dan para jagoan istana yang ikut menyambutnya.
"Heh-heh-heh, A Sun, muridku, kenapa kalian begitu goblok? Menangkap pemberontak buta seperti dia saja tidak becus, padahal di kota raja ini terdapat banyak orang? Heh-heh, percuma saja kalau begitu. Habis, Thian Te Cu ini apa saja kerjanya?" Dia menuding adik seperguruannya yang hadir pula di situ, dan mengerling kepada semua yang hadir.
"Suheng, biarpun dia masih muda, si buta itu benar-benar lihai sekali," bantah Thian Te Cu dengan muka merah karena ditegur dan diketawai suhengnya di depan banyak orang.
"Uuaaah, lihai apanya? Kalau dia lihai kenapa mau berlutut dan mengangguk tujuh kali di depan kakiku, kepalanya kulangkahi kaki dia tidak berani apa-apa. Dasar kalian yang tiada gunanya. Uhh!" Kakek hitam ini memang sudah terlalu lama meninggalkan dunia ramai, bertapa di dalam hutan di atas gunung sehingga wataknya sudah berubah seperti orang hutan saja.
Dia tidak perduli lagi akan sopan santun dunia ramai, bicara asal membuka mulut saja, tidak perduli apakah kata-katanya menyinggung orang ataukah tidak. Karena terlalu tua, agaknya dia sudah pikun atau sudah lupa akan tata susila atau tata cara pergaulan. Bhok Hwesio sebaliknya adalah seorang hwesio yang menjaga keras peraturan, seperti biasanya hwesio-hwesio dari Siauw-lim-pai. Sejak tadi dia sudah mendelik-mendelik memandang kepada kakek hitam itu. Akan tetapi karena dia tersinggung tidak secara langsung dan kakek hitam itu hanya menegur sutenya sendiri, dia pun menahan kesabaran dengan muka merah. Sekarang, mendengar betapa kakek hitam itu berkali-kali menyebut "kalian" goblok, tiada gunanya dan lain-lain, dia menjadi marah sekali. Terdengar dia mendengus satu kali dan tiba-tiba meja di depannya amblas ke bawah sampai dua puluh senti lebih. Empat kaki meja itu amblas menembus lantai yang keras dari ruangan itu, amblas tanpa mengeluarkan bunyi seakan-akan empat kaki meja itu menembus agar-agar saja. Dalam kemarahannya, hwesio Siauw-lim ini ternyata telah menggunakan Iweekangnya yang memang amat mengagumkan dan sudah mencapai tingkat tinggi sekali. Semua orang kaget dan diam-diam merasa tidak enak, maklum bahwa hwesio ini marah kepada kakek hitam itu.
"Hemmm, sudah pernah pinceng mendengar nama besar Hek Lojin dari Go-bi yang tinggi menyundul langit. Dengan adanya Hek Lojin di sini orang-orang macam pinceng ini apa gunanya lagi? Lebih baik pergi dan membaca doa di kelenteng! Tapi, biasanya kalau geledek menyambar-nyambar hebat, belum tentu hujannya lebat."
Hek Lojin pelototkan matanya. Tentu saja dia maklum apa artinya ucapan "geledek menyambar-nyambar hebat, belum tentu hujannya lebat" itu yang boleh diartikan, bicara besar, belum tentu kepandaiannya tinggi. Melihat hwesio Siauw-lim itu sudah bangkit dari tempat duduknya, dia pun berdiri dan berkata, "He-heh-heh, hwesio tukang berdoa. Boleh kita coba-coba!"
"Omitohud, pinceng ingin sekali menerima petunjuk!"
The Sun menjadi sibuk. Cepat-cepat dia bangkit dan berdiri di antara kedua jago tua yang sudah hendak saling terjang ini. "Suhu........ Losuhu....... harap ji-wi sudi duduk kembali. Harap suka melihat muka teecu....... yang dalam hal ini mewakili kaisar. Ji-wi dipersilahkan datang untuk menghadapi para pemberontak, bukan untuk saling bermusuhan. Harap suka ingat bahwa para pemberontak belum tertumpas."
Bhok Hwesio menarik napas panjang dan duduk kembali. "Maaf, pinceng sampai lupa diri, omitohud......."
Hek Lojin nampak uring-uringan. "Apa sih hebatnya si pemberontak buta? Kalian semua lihat saja, aku akan pergi menangkapnya dan menyeretnya ke hadapan kalian!" Setelah berkata demikian, kakek hitam ini melesat lenyap dari situ tanpa dapat dicegah lagi.
Comments