Skip to main content

Rajawali Emas 13 - Kho Ping Hoo

"Brettt!" Baju yang menempel di tubuh Li Eng bagian atas hancur berkeping-keping dan bertaburan seperti daun-daun kering tertiup angin, Li Eng menjerit dan cepat menggunakan kaki menggulingkan tubuh sehingga yang hancur hanya pakaian bagian pundak dan leher saja, akan tetapi cukup banyak sehingga membuat tubuh atasnya setengah telanjang. Mula-mula ia memaki-maki marah, akan tetapi makiannya berubah menjadi jerit mengerikan ketika ia melihat kakek itu mendekatinya dengan muka seperti iblis dan dari pandangan matanya jelas tampak nafsu untuk menghina, untuk membikin malu dan merendahkan dua orang gadis itu. Sementara itu, Hui Cu sudah bangkit berdiri dan memandang dengan muka pucat. Gadis ini belum diganggu, mungkin karena sejak tadi ia diam saja, tidak seperti Li Eng yang memaki-maki sehingga agaknya kemarahan kakek aneh itu ditumpahkan kepada Li Eng semua.

Melihat kakek itu seperti gila, Li Eng menjadi nekat. Ia maklum bahwa akan sia-sia membujuk kakek ini agar tidak melakukan hal-hal yang tidak patut. Ketika kakek itu bergerak maju hendak mencengkeramnya, Li Eng secepat kilat mengangkat kaki kanan menendang. Tendangannya hebat dan cepat, yang diarah adalah pusar tempat yang paling berbahaya. Namun, sambil terkekeh-kekeh kakek itu menangkis ke bawah dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya menjangkau ke depan.

Li Eng membuang dirinya ke belakang, bergulingan untuk menghindarkan diri dari serangan kakek itu. "Heh-heh-heh, anak murid Hoa-san-pai, kau hendak lari ke mana?" katanya sambil mengejar terus. Pada saat itu, dari belakangnya menyanbar angin tendangan Hui Cu yang tidak bisa berdiam diri saja melihat Li Eng terancam. Namun tubuh Hui Cu malah terpental dan gadis ini roboh terguling ketika tangan yang amat kuat menangkis kakinya.

!" tiba-tiba lilin di atas meja padam, ternyata Li Eng telah mempergunakan kesempatan ketika Hui Cu menyerang kakek itu tadi untuk melompat ke dekat meja dan meniup padam lilin di atas meja, kemudian ia berteriak mengajak Hui Cu lari. Hui Cu maklum bahwa usaha itu tidak banyak harapannya, namun itulah jalan satu- satunya, yakni mencoba untuk melarikan dir ke dalam hutan yang lebat itu. Ia pun lalu meloncat berdiri dan secepat kilat ia lari menerobos pintu, keluar kelenteng. Dua orang gadis itu lari tersaruk-saruk, dan jatuh bangun di dalam gelap, akan tetapi akhirnya mereka sampai juga di luar kelenteng dan ternyata keadaan di situ tidak segelap di dalam karena bulan sudah muncul. "Enci Cu, lari ....

Namun, alangkah mendongkol, gelisah dan kecewanya mereka ketika mereka tiba di luar kelenteng, kakek tadi sudah berada di situ pula, berdiri tegak sambil terkekeh-kekeh mengejek. Entah kapan kakek itu keluar, dan hal ini saja menambah bukti betapa saktinya kakek aneh yang seperti orang gila ini.

"Locianpwe, harap kau jangan menganggu kami," tiba-tiba Hui Cu yang sejak tadi diam

saja kini mengeluarkan suara, menurutkan pikirannya yang mendapatkan sebuah akal. "Kami sedang dalam perjalanan menuju ke Thai-san untuk memberi hormat kepada paman kami Raja Pedang Tan Beng San. Harap kau orang tua memandang muka Paman Tan Beng San dan suka membebaskan kami berdua!" Hui Cu mendapatkan akal ini untuk membawa nama Tan Beng San yang tentu saja dikenal semua tokoh persilatan, agar kakek itu menjadi sungkan dan mundur. Siapa kira, mendengar kata-kata ini kakek itu menjadi makin menggila. Ia membanting-banting kakinya dan berteriak,

"Tan Beng San si keparat jahanam? Mana dia biar kuhancurkan kepalanya, seperti ini!"

Ia menghantam ke kiri dan sebatang pohon sebesar paha orang segera tumbang dengan sekali pukul.

Kemudian ia terkekeh-kekeh lebih menyeramkan. "Kau keponakan Tan Beng San? Heh- heh-heh kebetulan sekali, kau harus merasai bagaimana dihina dan disakiti orang!" kalau tadi ia menumpahkan kemarahannya kepada Li Eng yang memaki-makinya kini ia mulai menubruk ke arah Hui Cu. Gadis ini terkejut dan mengelak ke kiri, akan tetapi karena kedua tangannya terbelenggu, ia terhuyyng-huyung, dan cengkeraman kakek itu mengenai tali rambutnya sehingga rambutnya terlepas, terurai ke atas pundaknya.

Sambil terkekeh-kekeh kakek itu menubruk lagi namun kini Li Eng maju menolong Hui Cu, mengirim tendangan berantai dari belakang. Betapapun lihainya gadis ini, dengan kedua tangan terbelenggu ke belakang, keseimbangan tubuhnya sukar diatur maka tendangan berantai yang mestinya cepat dan dahsyat itu menjadi kurang daya serangan. Apalagi yang diserang adalah seorang kakek yang sakti. Dengan sedikit miringkan tubuhnya dan membabat dengan tangan kiri, tubuh Li Eng kena dibikin terpelanting dan untuk sekian kalinya gadis ini rebah mencium tanah.

Kakek itu kini melangkah perlahan mendekati Hui Cu yang sudah berdiri dengan tubuh gemetar saking lelah dan gelisahnya. Ia sudah mengambil keputusan nekat, kalau tidak dapat menghindarkan diri dari kakek gila ini, ia akan menyerang dengan kepalanya untuk membunuh atau terbunuh! Pada saat yang amat berbahaya bagi Hui Cu ini, tiba-tiba berkelebat bayangan hitam disusul bentakan keras. "Kakek jahat, pergilah!" Bayangan itu menyambar ke arah kakek itu. "Dukk!" dua tangan bertemu dan keduanya terhuyung ke belakang, disusul seruan kaget bayangan itu dan seruan heran Si Kakek tadi. Agaknya pertemuan kedua tangan itu membuat mereka kaget karena ternyata bahwa lawan amatlah tangguh. Kembali bayangan itu dengan gerakan yang cepat sekali menyambar, tangan kiri menghantam akan tetapi segera disusul tangan kanan yang memukul sedangkan tangan kanan kiri ditarik pulang.

"Plak! Plak!" Kembali keduanya terhuyung hampir roboh karena telah saling bertukar pukulan. Pukulan bayangan itu mengenai sasaran tetapi pada saat yang sama Si Kakek berhasil pula memukulnya! Bayangan itu di samping kekagetannya, marah. Terdengar ia mengeluarkan bunyi melengking keras lalu tubuhnya berkelebat menyerang kakek itu dengan dahsyat sekali. Kakek itu pun tidak tinggal diam, menggereng dan menyambut serangan ini, malah kemudian kakek ini mengeluarkan suara melengking juga seperti orang menangis. Dua lengkingan aneh bercampur menjadi satu dan Hui Cu cepat mengerahkan Iwee-kangnya untuk menahan guncangan pada jantungnya. Demikian pula Li Eng segera maklum bahwa dua orang itu adalah ahli-ahli Iwee-keh yang amat tinggi kepandaiannya.

Tiba-tiba terdengar bunyi melengking dari jauh, lengking meninggi seperti tangisan, persis lengking yang keluar dari tenggorokan kakek itu.

"Ha, anak baik, lekas datang!" kakek itu berseru girang.

Bayangan yang melawan kakek itu tampak gelisah, lalu menyerang dahsyat lagi. Serangan yang amat aneh, kedua lengan memukul, tubuh menerjang seperti terbang dan kedua kakinya menendang di udara. Kakek itu berteriak keras dan menghadapi terjangan ini dengan keempat kaki tangannya pula. Akibatnyar kakek ini terguling karena ia terkena sebuah pukulan dan sebuah tendangan, sebaliknya bayangan itu pun terhuyung karena pukulan keras Si Kakek. Namun bayangan itu tidak memberi kesempatan lagi, cepat ia menyambut Hui Cu. pada pinggangnya dan membawa pergi gadis ini seperti burung terbang cepatnya.

Kakek itu yang agaknya maklum pula akan kelihaian lawan yang telah menculik atau merampas seorang tawanannya, tidak mengejar, sebaliknya, ia lalu menangkap Li Eng dan menyeret gadis ini kembali ke dalam kelenteng. Setelah melempar gadis itu ke atas lantai, ia menyalakan lilin yang tadi padam. Kemudian ia berbalik memandang Li Eng yang sudah bangkit berdiri kembali, sikapnya mengancam dan katanya dengan suara parau,

"Kau anak murid Hoa-san-pai sekarang kau akan merasai penghinaan sebesarnya, setelah itu kau mampus!" Ia melangkah mendekat, Li Eng melejit dan hendak lari namun sekali sambar tangan gadis itu telah dipegangnya, Li Eng mengangkat kaki menendang, namun tidak mengenai sasaran. Gadis ini tak dapat melepaskan diri lagi, menjerit dan meronta.

"Kong-kong (Kakek), apa yang kau lakukan ini??" tiba-tiba terdengar suara nyaring sekali dan tahu-tahu seorang pemuda gagah telah berdiri di dalam kamar itu. Kakek itu melepaskan tubuh Li Eng yang menjadi lemas dan terpelanting saking lelah dan ngerinya tadi, kemudian kakek itu tertawa dan berkata,

"Aku pun muak dan sebal karena terpaksa harus melakukan perbuatan ini. Kalau saja dia bukan anak murid Hoa-san-pai, tentu sekali pukul kubikin remuk kepalanya, habis perkara. Tapi dia anak murid Hoa-san-pai. Ha-ha-ha, Kong Bu, kau tahu apa artinya itu. Anak murid Hoa-san-pai, terutama yang perempuan, semua adalah orang-orang hina. Pembunuh ibumu! Uh-uh, satu persatu harus dibasmi, dihina lebih dulu baru dibelek dadanya dikeluarkan jantungnya."

Pemuda itu melangkah maju, memandang kepada Li Eng lebih tajam penuh perhatian, kemudian ia mendengus penuh kebencian. "Hemm, Kong-kong, seperti dia inikah anak murid Hoa-san-pai pembunuh mendiang ibuku?"

"Ya ya, seperti ini. Cantik menarik, muda belia, lihai ilmu silatnya, tapi berhati palsu dan berwatak hina. Kong Bu, kau sudah datang, kebetulan sekali. Kuserahkan dia kepadamu, lakukanlah sesukamu terhadap dia, kau boleh hina dia, permainkan dia, kemudian bunuhlah. Aku akan mengejar yang seorang lagi, yang tadi dirampas orang lain. Nah, aku pergi... heh-heh, kebetulan kau datang, aku... aku muak dan sebal kalau harus menyentuh wanita... aku sudah tua." Sekali berkelebat kakek itu sudah meluncur lewat dan lenyap.

"Kong-kong di mana kita dapat bertemu kembali?"

Dari jauh terdengar jawaban sayup-sayup,"...di Thai-san .... "

Siapakah kakek aneh dan sakti ini dan siapa pula pemuda yang menjadi cucunya bernama Kong Bu? Kiranya pembaca yang sudah dapat menduga siapa adanya kakek itu. Dia bukan lain adalah Song-bun-kwi Kwee Lun Si Setan Berkabung, tokoh nomor satu di dunia barat, seorang sakti yang berwatak aneh sekali dan kadang-kadang bisa bersikap kejam melebihi iblis. Adapun pemuda gagah dan tampan bernama Kong Bu itu bukan lain adalah anak dari Kwee Bi Goat dan Tan Beng San. Seperti telah diceritakan di bagian depan dari cerita ini, bayi itu dibawa lari Song-bun-kwi dan dipeliharanya baik- baik, diajar ilmu silat sehingga menjadi seorang pemuda yang tinggi ilmu silatnya.

Tentu saja mudah diketahui sebabnya mengapa Song-bun-kwi bersikap sedemikian kejamnya terhadap Li Eng dan Hui Cu. Secara kebetulan sekali Song-bun-kwi sedang berada di kota raja dan ia mendengar dari para pengemis bahwa ada dua orang gadis anak murid Hoa-san-pai diundang oleh Pangeran Mahkota. Di dalam hati Song-bun-kwi, semenjak ia kematian anaknya, timbul dendam yang hebat terhadap Hoa-san-pai. Bukankah Kwa Hong yang menyebabkan kematian anaknya itu anak murid Hoa-san-pai.

Oleh karena inilah, begltu mendengar tentang dua orang gadis anak murid Hoa-san-pai di kota raja, ia menggunakan kesempatan ini untuk menawan dua orang gadis itu untuk dihina dan dibunuh sebagai pembalasan dendamnya terhadap Hoa-san-pai.

Memang jalan pikiran seorang seperti Song-bun-kwi amat aneh dan kadang-kadang lebih ganas dari iblis sendiri.

Kong Bu semenjak kecil hidup bersama Song-bun-kwi, tentu saja ia pun mempunyai watak aneh seperti kakeknya. Namun pada dasarnya ia tidak mempunyai watak kejam seperti Song-bun-kwi, malah agak pendiam seperti ibunya, keras hati pula. Semenjak kecil pemuda ini dijejali rasa dendam oleh kakeknya, diceritakan bahwa ibunya yang tercinta mati karena kekejian anak murid Hoa-san-pai. Diceritai pula bahwa ayahnya bernama Tan Beng San telah meninggalkan ibunya, karena tergoda oleh siluman cantik murid Hoa-san-pai, sehingga ibunya "makan hati" dan meninggal dunia. Ditanamkan bibit kebencian dan dendam sejak kecil sehingga pemuda ini mau tidak mau membenci apa-apa yang "berbau" Hoa-san-pai, malah selalu ditekan oleh kong-kongnya, bahwa kelak ia harus dapat membalaskan sakit hati ibunya dengan jalan membunuh ayahnya yang berdosa terhadap ibunya.

Demikianlah, kini Kong Bu dihadapkan dengan seorang gadis Hoa-san-pai. Di bawah penerangan api lilin, dia menatap wajah Li Eng yang kini perlahan-lahan bangkit berdiri dan balas memandangnya. Bukan main cantik jelitanya gadis ini. Pakaian sebelah atas yang koyak-koyak sebagian itu menambah hebatnya daya tarik sehingga Kong Bu tak kuat memandang lebih lama lagi. Kong Bu membuang muka dan merasa betapa bulu tengkuknya berdiri, meremang dan terasa dingin pada tulang punggungnya.

Cantik jelita, muda belia, lihai ilmu silatnya, tapi berhati palsu dan berwatak hina. Kata-

kata kakeknya ini berkumandang dalam telinganya dan kembali Kong Bu bergidik. Sifat siluman betina, iblis dalam tubuh seorang wanita cantik. Banyak sudah ia melihat wanita cantik, terutama kalau ia diajak kakeknya menyusup ke dalam istana untuk sekedar melihat-lihat atau mencuri makanan. Akan tetapi harus diakui bahwa belum pernah selama hidupnya ia berhadapan atau melihat seorang gadis seperti ini! Dan kakeknya sudah menahan gadis ini, sekarang memberikan kepada dia. Dia boleh membuat sesuka hatinya terhadap gadis ini dan kemudian membunuhnya. Dia boleh menghinanya, mempermainkannya, hemm, apakah maksud kakeknya? Sungguhpun pikiran Kong Bu tidak sampat ke situ, namun perasaannya membuat ia dapat menduga, penghinaan apakah yang paling hebat bagi seorang gadis. Melihat baju yang koyak-koyak itu, yang memperlihatkan sebagian dari kulit yang halus, jantungnya berdebar tidak karuan membuat ia membuang muka dan tidak berani lagi memandang kulit di balik baju koyak itu.

Di lain pihak, Li Eng merasa agak lega karena ia terlepas dari ancaman yang lebih mengerikan daripada maut dl. tangan kakek gila tadi. Malah ia mendapatkan harapan untuk terlepas pula dari tangan pemuda ini. Tak mungkin pemuda ini selihai kakek tadi. Kalau saja ada kesempatan bagiku, pikir Li Eng dan pandang matanya mengukur-ukur sementara kedua kakinya menegang, siap mengirim tendangan yang mematikan. Tapi bagaimana kalau tendangannya tak berhasil? Li Eng ragu-ragu. Kalau saja kedua tanganku bebas. Ataukah lebih baik ia merayu pemuda ini dan membujuknya agar suka membuka belenggunya? Kalau sudah bebas kedua tangannya, kiranya takkan sukar membunuhnya! Tapi pikiran ini membuat mukanya menjadi merah dan jantungnya berdebar. Sampai mati sekalipun tak mungkin ia dapat melakukan pekerjaan itu, membujuk rayu seorang laki-laki! Ia teringat kepada pamannya, Kwa Kun Hong. Biarpun lemah, pamannya itu cerdik. Apa yang akan dilakukan pamannya dalam keadaan begini? Apakah masih terus hendak mengalah saja? Ah, bagaimana nasib pamannya? Bagaimana pula nasib Hui Cu yang tadi dilarikan oleh seorang laki-laki yang luar biasa pula? Aku harus bebas dulu, baru dapat menolong Enci Cu dan Paman Hong, pikirnya.

Tiba-tiba Li Eng berseru keras dan kaki kanannya melayang menendang pusar pemuda yang sedang berdiri bengong, Li Eng menahan seruannya ketika kakinya bertemu dengan benda yang keras sekali, tapi tubuh Kong Bu terlempar seperti tertiup angin, terbanting pada dinding dan terpelanting jatuh. Akan tetapi seperti karet saja, ia sudah berdiri lagi dan memandang kepada Li Eng dengan alis terangkat. Ia tidak apa-apa. Celaka, Li Eng mengeluh dalam batin, kiranya pemuda ini tidak kalah lihainya dari kakek tadi. Tendangannya tepat sekali, akan tetapi pemuda itu hanya terlempar, luka sedikit pun tidak, malah kelihatannya tidak merasa sakit. Kini pemuda itu berjalan lambat-lambat menghampiri, dengan mata memandang tajam dan alisnya yang tebal itu bergerak-gerak.

"Kenapa kau menendangku? Benar-benar kau berhati curang, kenapa kau menendangku?"

Li Eng tertegun. Biarpun sama lihai, pemuda itu agaknya tidak seliar kakek tadi, sungguhpun sama pula anehnya. Pertanyaan yang aneh pula, bagaimana ia bisa menjawab? "Hemmm," katanya dengan nada mengejek dan mengumpulkan semangat

agar jangan kelihatan rasa takut dan gelisahnya, "kenapa aku menendangmu? jawab dulu, kenapa kau menawanku?"

Kening pemuda itu makin berkerut "Karena kau anak murid Hoa-san-pai, yang cantik, muda belia, lihai, tapi berhati palsu dan berwatak hina. Orang yang membikin celaka ibuku adalah anak murid Hoa-san-pai seperti kau. Maka sekarang kau harus mati setelah mengalami siksaan dan hinaan lebih dulu."

Terbelalak mata Li Eng. Ancaman penghinaan lebih hebat dari maut baginya. Biarpun ia sendiri belum mengerti benar penghinaan apa yang dimaksudkan, namun seperti juga keadaan pemuda itu sendiri, gadis ini dengan perasaannya dapat menduga-duga yang membuat ia ketakutan dan ngeri setengah mati.

"Kau... kau pengecut besar!" tiba-tlba Li Eng berteriak dalam kengerian dan kebingungannya. Makiannya ini ternyata tepat mengenai sasaran, memukul kelemahan pemuda itu. Mendengar makian pengecut, Kong Bu meloncat dengan kedua tangan dikepal keras dan matanya seakan-akan hendak membakar diri Li Eng. Ia akan menerima dan dapat menahan dimaki apa saja, akan tetapi makian pengecut merupakan pantangan baginya. Dalam anggapannya, tidak ada sifat yang lebih rendah dari sifat pengecut.

"Apa kau bilang? Pengecut? Aku...pengecut?" Suaranya gemetar saking marahnya. "Buktikan... setan kau, hayo buktikan kalau aku...

pengecut!" Li Eng yang cerdik itu menahan gejolak hatinya yang girang karena akalnya berhasil. Ia sengaja menjebirkan bibirnya dengan lagak mengejek dan menghina.

"Seorang laki-laki yang mengganggap diri sendiri gagah, beraninya berlagak hanya kalau menghadapi lawan wanita yang dibelenggu kedua tangannya. Huh andaikata aku tidak terbelenggu, kiranya kau sudah lari jatuh bangun ketakutan. Apalagi namanya kalau bukan pengecut paling rendah!"

Kong Bu tak dapat menahan kemarahannya lagi. Ia mengeluarkan suara melengking tinggi yang membuat Li Eng kaget dan serem. Tiba-tiba pemuda ini mendekatinya, menggerakkan kedua tangan dan... belenggu yang mengikat Li Eng putus menjadi beberapa potong.

"Nah, putus sudah! Kau tidak terbelenggu lagi. Hayo, kau mau apa sekarang? Setan betina, tarik kembali makianmu pengecut tadi. Setan, kau menghinaku, ya? Hayo tarik kembali kata-kata pengecut tadi!"

Saking girangnya bebas, Li Eng untuk sejenak tak dapat menjawab, hanya menggosok- gosok pergelangan kedua tangan yang masih kaku-kaku untuk memulihkan jalan darahnya. Matanya bersinar-sinar, mulutnya tersenyum manis, timbul kembali keberaniannya dan kepercayaan kepada diri sendiri.

"Sudah bebas kedua tanganku! Eh, kau belum juga lari jatuh bangun?"

"Tidak sudi! Mengapa harus lari? Aku bukan pengecut! Hayo katakan, aku bukan pengecut!" teriak Kong Bu makin marah.

Li Eng memandang dengan senyum ejekan yang amat menyakitkan hati pemuda itu.

"Apa? Kau tidak mau lari? Larilah, aku takkan mengejarmu sebagai upahmu sudah membebaskan tanganku dari belenggu."

"Tidak sudi!!"

"Ah, kalau begitu ternyata kau sudah bosan hidup. Terpaksa kedua tanganku mengantar nyawamu ke neraka!" Li Eng cepat sekali menerjang maju dengan kedua tangannya memukul, susul-menyusul ke arah pelipis dan lambung.

Kong Bu yang marah sekali cepat menangkis kedua pukulan itu dan balas menyerang dengan sama keras dan dahsyatnya. Tadinya Li Eng memandang rendah dan mengejek sedangkan Kong Bu juga memandang rendah dan marah-marah. Akan tetapi makin lama mereka bertempur, makin lenyaplah perasaan merendahkan lawan, lenyap pula rasa mengejek dan marah, terganti oleh rasa keheranan besar dan sedikit kekaguman. Ternyata bahwa keduanya sama tangguhnya, atau hanya sedikit selisihnya! Kong Bu sama sekali tak pernah menyangka bahwa gadis ini demikian hebat ilmu silatnya, memiliki gerakan yang cepat bukan makin seperti burung walet saja sehingga kadang-kadang matanya berkunang. Di lain pihak, biarpun maklum bahwa pemuda itu bukan orang lemah, namun sama sekali di luar sangkaan Li Eng bahwa ternyata pemuda itu memiliki ilmu silat yang aneh, yang dapat mengimbangi Hoa-san Kun-hoat, malah memiliki tenaga dahsyat sehingga lengannya sakit-sakit dan panas tiap kali mereka beradu tangan. Mulailah ia merasa menyesal mengapa ia tidak bersenjata. Dengan pedang di tangan, kiranya ia takkan terdesak seperti ini. Mulailah nona yang cerdik ini mencari akal.

Ketika terdapat kesempatan baik, Li Eng berseru keras dan kedua kakinya bergerak dengan Ilmu Tendangan Soan-hong-tui (Tendangan Angin Puyuh), yang merupakan tendangan berantai dengan kedua kaki seperti kitiran angin. Yang dijadikan sasaran adalah pusar lawan. Menghadapi tendangan berantai yang amat berbahaya ini, Kong Bu berseru keras dan melompat mundur. Kesempatan inilah yang dipergunakan oleh Li Eng untuk melompat ke dekat meja dan menendang meja itu terbalik. Seketika keadaan menjadi gelap pekat karena lilin di atas meja itu terlempar dan apinya padam. Inilah yang dihendaki oleh Li Eng. Ia memiliki pendengaran tajam dan Iwee-kang yang sudah tinggi maka ia hendak mengandalkan dua kelebihan ini untuk melawan Kong Bu di dalam gelap.

Akan tetapi, sekali lagi ia kecele. Pemuda ini berseru keras, "Kau hendak lari ke mana?" Dan dari angin gerakannya tahulah Li Eng bahwa pemuda itu menerjang ke arahnya seakan-akan memiliki mata yang dapat menembus kegelapan. Terpaksa ia mengerahkan ketajaman pendengarannya untuk menghadapi serbuan malam gelap ini. Kembali mereka bertempur, kini di dalam gelap dan ternyata malah makin seru dari tadi. Karena keadaan

gelap sama sekali, kedua orang muda yang berilmu tinggi itu bertempur hanya mengandalkan ketajaman pendengaran dan kegesitan gerakan saja. Makin lama makin terasa oleh Kong Bu akan kelihaian dara itu dan diam-diam ia merasa heran bagaimana kakeknya dapat menangkap gadis selihai ini dengan mudah. Apalagi berdua dengan gadis lain yang tidak ia ketahui sampai di mana tinggi kepandaiannya. Kalau dilihat keadaannya sekarang agaknya biarpun kakeknya sendiri, belum tentu dapat mengalahkan gadis ini dengan mudah.

Dengan penasaran sekali Kong Bu menggereng dan mengeluarkan ilmu yang paling ia andalkan, yaitu Yang-sin-hoat. Ilmu ini adalah inti ilmu Yang-sin Kiam-sut yang dahulu didapatkan oleh Song-bun-kwi dan telah diturunkan kepada pemuda ini. Yang-sin-hoat mengandalkan tenaga kasar dan ketika pemuda ini mainkan Yang-sin-hoat, Li Eng menjadi kewalahan. Sebagai seorang wanita, oleh kedua orang tuanya Li Eng dilatih ilmu-ilmu yang berdasarkan kehalusan, disesuaikan dengan keadaan tubuh dan sifat wanita. Maka ketika tadi lawannya menggunakan Iwee-kang, ia masih dapat melayani dengan baik. Sekarang, begitu lawannya berkelahi secara kasar dan keras, di mana pertemuan tenaga, mungkin dapat mematahkan tulang dan melecetkan kulit, Li Eng menjadi sibuk sekali. Ia mencari kesempatan dan begitu terdapat lowongan gadis ini melompat keluar dari kamar terus lari keluar dari kelenteng.

"He, kau hendak lari ke mana?" Kong Bu mengejar dengan lompatan keras sekali sehingga sekaligus ia dapat menyusul Li Eng. Dengan lompatan yang cepat sekali ini ia telah menubruk tubuh Li Eng dari belakang. Segera ia menggunakan kedua lengan untuk menangkapnya dan dua orang itu terguling roboh di luar kelenteng, bergumul di atas tanah. Namun Li Eng kalah tenaga, juga ia disikap dari belakang dengan mendadak, maka ia tidak berdaya dan Kong Bu berhasil menotok punggungnya, membuat gadis itu lemas tak dapat menggerakkan kaki tangannya lagi.

Kong Bu melepaskan Li Eng dan bangkit berdiri, mengatur napas. Ia terengah-engah dan lelah, juga tubuhnya sakit di sana-sini. Harus diakui bahwa baru kali inilah ia betul-betul berkelahi melawan seorang yang amat tangguh, Sekali lagi ia memandang ke arah di mana Li Eng rebah miring tak bergerak, di bawah sinar bulan seperti seorang gadis sedang tidur saja, ataukah seekor harimau betina sedang mendekam.

"Gadis liar!" gerutunya sambil mengelus lehernya yang mengeluarkan darah, terluka oleh kuku-kuku tangan Li Eng ketika bergumul tadi. Ia lari mengambil tali pengikat tangan Li Eng, keluar lagi dan setelah menyambung-nyambung tali yang kuat itu, ia membelenggu lagi kedua tangan Li Eng. Setelah itu ia membebaskan totokannya dan membentak,

"Hayo bangun berdiri!"

Begitu terbebas dari totokan, dengan marah, meluap-luap Li Eng meloncat bangun dan langsung kedua kakinya yang bebas itu mengirim tendangan berantai.

Kong Bu kaget dan dengan gugup ia mengelak ke sana ke mari karena tendangan- tendangan itu betul-betul mengarah bagian tubuh yang berbahaya dan mematikan.

Akhirnya ia dapat menyambar kaki kiri Li Eng dan sekali dorong tubuh Li Eng roboh lagi.

"Gadis liar!" lagi-lagi ia memaki.

Li Eng sudah meloncat bangun lagi, berdiri tegak, kepala dikedikkan, mata berapi-api, gigi digeget, marah memenuhi dadanya.

"Hayo jalan, ikut denganku!" kata Kong Bu lagi.

"Tidak sudi! Mau bunuh boleh bunuh!" balas Li Eng, tak kalah ketus.

"Kepala batu!" Kong Bu memaki lagi dan tiba-tiba sebelum Li Eng sampai menduga apa yang akan dilakukannya, pemuda ini menubruk ke depan, langsung menangkap kedua kaki gadis itu dan mengangkat tubuhnya, terus dipanggul di atas pundaknya. Li Eng meronta-ronta, menendang-nendang, akan tetapi karena kedua tangannya diikat dan kedua kakinya dipeluk keras-keras oleh pemuda yang besar sekali tenaganya itu, ia tidak berhasil melepaskan dirinya. Akan tetapi, dengan menggerak-gerakkan tubuhnya bagian atas, mulutnya berhasil mendekati pundak dan dengan gemas ia menggigit pundak pemuda itu.

"Aduh... perempuan liar!" Kong Bu terpaksa melepaskan tubuh Li Eng yang terpelanting ke atas tanah. Pemuda ini memegangi dan mengusap-usap pundaknya yang luka berdarah dan bajunya robek tertembus gigi yang kecil-kecil putih akan tetapi kuat bukan main itu. Sakit sekali pundaknya, perih dan panas. Dengan marah ia maju lagi, mengangkat tangan hendak memukul pecah kepala Li Eng, akan tetapi entah bagaimana, ketika bertemu pandang dengan sepasang mata yang berapi-api dan penuh keberanian itu, kepalannya berubah menjadi totokan dan kembali Li Eng telah tertotok jalan darahnya, lemas dan tak dapat bergerak lagi.

"Hemmm, perempuan liar. Anak murid Hoa-san-pai, cantik jelita, muda belia, lihai tapi berhati palsu dan berwatak hina. Kau harus disiksa dulu sebelum dibiarkan mati. Keparat, rasakan kau nanti!" Ia lalu mengangkat tubuh Li Eng yang sekarang tidak mampu meronta lagi itu, lalu memanggulnya.

Tiba-tiba ia berseru, "Ihhhh!" dan melepaskan tubuh Li Eng yang untuk kesekian kalinya lagi-lagi terbanting di atas tanah. Apa yang membuat pemuda itu berseru kegelian dan melepaskan tubuh gadis itu? Li Eng sendiri tidak mengerti. Sebetulnya adalah karena ketika memanggul, kebetulan sekali sebagian pundak Li Eng yang tak tertutup bajunya yang sudah koyak-koyak itu menumpang pada pundak dan leher Kong Bu, tepat di bagian baju yang robek oleh gigitan Li Eng tadi. Sentuhan kulit halus hangat pada kulit leher dan pundaknya itulah yang membuat Kong Bu kaget dan geli tubuhnya serasa dimasuki aliran listrik yang membuat ia menggigil dan seketika membanting tubuh Li Eng ke atas tanah. Pemuda itu kini berdiri dengan leher terasa tebal dan tengkuknya berdiri semua. Akan tetapi mukanya terasa panas dan jantungnya berdebar keras. Perlahan-lahan dilepasnya baju luarnya, lalu diselimutkan pada tubuh atas Li Eng.

Setelah melihat bahwa pundak gadis itu yang telanjang telah tertutup rapat, barulah ia membungkuk dan memanggul gadis itu kembali, dibawa lari secepatnya dari tempat itu, memasuki hutan.

"Kau boleh bunuh aku. Memang aku patut dibunuh karena kebodohanku, bisa saja diakall oleh seorang gadis liar macam kau. Hemmm, betul Kakek, gadis Hoa-san-pai mana boleh dipercaya? Aku kurang hati-hati. Bunuhlah."

"Enak saja dibunuh! Pemuda sombong dan gila seperti kau harus mengalami siksaan dan penghinaan lebih dulu sebelum dibunuh!"

Kong Bu tak dapat berkata apa-apa lagi karena ia maklum bahwa gadis ini tentu akan terus meniru kata-katanya, ketika masih menjadi tawanannya. "Sudahlah, kau boleh lempar aku ke lembah itu biar dikeroyok anjing gila," katanya.

Li Eng menjebirkan bibirnya, luar biasa manisnya dalam pandangan Kong Bu. "Huh, kau mau akali aku, ya? Biar digigit kakimu lalu biar aku menolongmu?"

"Habis, apa yang hendak kaulakukan dengan diriku?"

Li Eng meloncat bangun. "Hayo, bangun berdiri, dan ikut aku!"

Kini tiba-tiba giliran Kong Bu untuk mempermainkan gadis itu, seperti ia dipermainkan ketika menawannya. "Aku tidak sudi!" jawabnya dan baru kali ini pemuda itu memperlihatkan senyumnya, senyum mengejek dan menggoda. Wajah yang tampan itu kelihatan berseri terang ketika tersenyum, lenyap sama sekali bayangan watak keras dan aneh. Li Eng menggigit bibir dan membanting kaki.

"Kau tidak mau turut perintahku?"

Kong Bu menggeleng kepala. "Aku tidak sudi ikut kau, hendak kulihat kau mau apa?"

Celaka, pikir Li Eng dan wajahnya tiba-tiba menjadi merah sekali ketika pandang matanya bertemu dengan mata pemuda itu. Dari sinar mata pemuda itu ia dapat membaca pikiran orang. Kiranya pemuda itu hendak melihat apakah dia juga akan memanggulnya.

"Awas, aku pun bisa menggigit pundakmu!" Kong Bu sengaja mengejek sambil tersenyum. Li Eng makin merah mukanya. Setan alas, sudah menjadi tawanan masih bisa mempermainkannya. Ia lupa betapa ketika ia sendiri menjadi tawanan, ia pun tiada sudahnya mengejek dan memaki pemuda itu.

"Kau kira aku akan sudi memanggulmu? Cih, tak punya malu!" Li Eng lalu menggunakan akar yang panjang dan kuat, diikatkan pada pinggang pemuda itu dan... ia menyeret pemuda itu pergi dari situ.

Kong Bu adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi. Diseret seperti itu ia enak- enak saja telentang dengan mata merem-melek, kelihatan keenakan sekali.

"Kau akan membawaku ke mana?" beberapa kali ia mengajukan pertanyaan ini karena pertanyaan itu diulang-ulang, akhirnya Li Eng dengan gemas menjawab,

"Aku bukan seorang gila seperti engkau dan kakekmu. Karena kau menghina dan memusuhi Hoa-san-pai, aku akan membawamu sebagai tawanan ke Hoa-san-pai, biar Supek yang akan memberi keputusan apakah kau harus dilempar ke jurang ataukah digantung di pohon pek!"

"Ha-ha-ha-ha, bocah sombong, jangan kau hendak membodohi aku," kata Kong Bu yang masih diseret-seret. "Hoa-san-pai bukan di sebelah sana letaknya, kau mengambil arah yang bertentangan."

"Huh, aku bukan pembohong seperti kau. Aku mempunyai urusan ke Thai-san lebih dulu, mungkin di Thai-san kau sudah bisa mendapat pengadilan dari Paman Tan Beng San."

Pemuda itu nampak terkejut sekali. "Ke... ke Thai-san .... ?"

"Sudahlah, jangan banyak cerewet! Pendeknya kau sekarang menjadi tawananku, kalau kakekmu atau teman-temanmu tidak melepaskan Enci Hui Cu yang tertawan, kau pun takkan kulepaskan. Kalau kalian mengganggu Enci Hui Cu, awas kau, takkan kuampuni lagi!"

Kali ini Kong Bu benar-benar kelihataan gelisah. Ia tidak tahu siapakah itu Hui Cu dan siapa pula yang menawannya, menurut kakeknya, seorang gadis lain dirampas orang dan kakeknya sedang mengejar orang itu. Maka ia diam saja dan membiarkan dirinya diseret- seret sepanjang jalan.





Kita tinggalkan dulu Li Eng dan Kong Bu, dua orang muda yang sama-sama berwatak aneh dan berhati keras itu bersitegang di sepanjang jalan, saling mengejek, saling menawan dan marilah kita mengikuti kisah Hui Cu yang pada malam hari itu dirampas oleh seorang tak terkenal, sesosok bayangan yang amat lihai sehingga mampu merampas gadis ini dari tangan Kakek Song-bun-kwi yang sakti.

Bayangan lihai yang sanggup menggempur Song-bun-kwi dan merampas Hui Cu itu ternyata adalah seorang pemuda tampan yang selalu tersenyum-senyum bibirnya, matanya lebar dan tajam pandangannya, hidungnya mancung dan membayangkan kejujuran dan kekerasan hati. Tubuhnya tinggi semampai, gerak-geriknya gagah membayangkan tenaga yang kuat. Siapakah dia? Kita sudah mengenalnya. Dia ini bukan lain adalah Tan Sin Lee, putera dari Kwa Hong.

Seperti kita ketahui, Sin Lee turun dari puncak Lu-liang-san, turun gunung untuk

melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya oleh ibunya. Ia disuruh mencari musuh- musuh ibunya, disuruh membunuh mereka itu dan disuruh pula menangkap dan menyeret Tan Beng San ke Lu-liang-san, ke depan kaki ibunya. Dan di dalam hatinya Sin Lee tidak dapat menerima tugas membunuh-bunuhi orang yang tidak bermusuhan dengannya itu, akan tetapi ia berjanji untuk memenuhi permintaan ibunya dan menyeret Tang Beng San ke Lu-liang-san.

Dalam perjalanannya, orang muda ini tertarik pula untuk melihat keadaan kota raja selatan yang tersohor indah dan ramai. Dan kebetulan sekali pada malam hari itu, dia melihat seorang kakek tinggi besar berlari secepat terbang sambil mengempit tubuh dua orang wanita muda. Kakek ini adalah Song-bun-kwi yang berhasil merampas Hui Cu dan Li Eng dari dalam Istana Kembang. Diam-diam Sin Lee menjadi penasaran dan mengikuti dari belakang. Ia kaget sekali ketika melihat betapa larinya kakek itu cepat sekali, tanda bahwa kakek itu memiliki kepandaian tinggi. Ia tidak berani gegabah turun tangan karena selain maklum bahwa kakek itu tentu seorang berilmu tinggi, juga ia tidak tahu urusan mereka, tidak tahu siapa salah siapa benar. Oleh karena inilah maka ia terus secara diam-diam mengikuti dari jauh dan mengintai ketika kakek itu masuk ke dalam kelenteng. Ketika ia mendengar kata-kata kakek itu bahwa dua orang gadis ini adalah anak murid Hoa-san-pai, Sin Lee makin kaget dan menaruh perhatian. Kata ibunya, kong-kongnya kakeknya adalah ketua dari Hoa-san-pai! Jadi dua orang gadis ini adalah anak murid dari kakeknya! Kagum dia ketika menyaksikan keberanian dua orang gadis itu menghadapi kakek ini yang ia tidak tahu siapa adanya.

Keheranan Sin Lee makin meningkat ketika ia melihat dua orang itu nekat melarikan diri keluar kelenteng dikejar oleh kakek itu dan mendengar ucapan Hui Cu yang hendak membujuk kakek itu agar jangan mengganggu mereka karena mereka adalah keponakan- keponakan dari Tan Beng San dan hendak pergi ke Thai-san! Mendengar ini, Sin Lee mendapat pikiran baik sekali. Ia harus menolong dua orang gadis itu karena mereka adalah anak murid Hoa-san-pai, berarti anak murid kakeknya pula, dan selain itu, mereka itu bisa menjadi perantara agar ia dapat naik ke Thai-san tanpa banyak rintangan, mencari Tan Beng San dan menangkapnya! Inikah sebabnya maka tanpa ragu-ragu lagi Sin Lee menyerang kakek itu dan alangkah heran dan kagetnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa kakek itu ternyata memiliki kepandaian yang hebat sekali. Ia menjadi gembira dan sekiranya ia tidak mempunyai maksud menolong dua orang gadis itu, ingin ia menguji kepandaiannya dan melawan kakek itu sampai puas. Akan tetapi keinginannya ini buyar ketika ia mendengar suara melengking dari jauh dan tahu bahwa kakek ini mempunyai pembantu yang sama lihainya, maka cepat ia menyambar Hui Cu dan dibawa lari dari tempat itu. Daripada tidak menolong sama sekali, lumayan juga dapat menolong seorang di antara kedua murid Hoa-san-pai itu.

Hui Cu mengalami kekagetannya ketika tahu-tahu ia dibawa lari seperti terbang oleh seorang laki-laki yang tidak ia lihat mukanya karena keadaan gelap. Ia tidak tahu apakah orang ini lawan ataukah kawan, namun dalam pondongan orang ini ia sama sekali tak dapat bergerak. Sin Lee berlari terus cepat-cepat karena ia tidak ingin kakek itu bersama pembantunya mengejarnya. Andaikata ia tidak hendak menolong orang, tentu saja ia

tidak takut, akan tetapi dengan adanya gadis yang ditolongnya ini, tentu takkan leluasa ia bergerak dan akhirnya gadis ini pun akan tertawan pula.

Sampai malam terganti pagi Sin Lee masih terus berlari keluar hutan. Ketika Hui Cu mendapat kesempatan memandang wajah pemondongnya di antara kesuraman cuaca fajar, gadis ini melihat wajah seorang pemuda yang gagah dan tampan. Hatinya berdebar penuh kekuatiran, terutama sekali kalau ia teringat akan nasib Li Eng di tengah kakek yang menyeramkan itu.

"Kau siapakah. Kawan ataukah lawan? Ke mana kau membawaku pergi?" akhirnya ia tak dapat menguasai hatinya, bertanya.

Sin Lee juga kaget. Ia tadi berlari sambil termenung memikirkan apa yang telah ia lakukan. Selama hidup baru kali ini ia memondong wanita, jangankan memondong, biasanya bercakap-cakap atau berdekatan pun belum pernah! Benar-benar pengalaman yang membikin ia bingung dan mendebarkan jantungnya. Ia sampai kaget mendengar suara halus di pinggir kepalanya itu yang menyeret ia kembali kepada kesadarannya. Segera ia, berhenti berlari dan menurunkan gadis itu dari pondongannya, lalu memandang dengan muka merah. Dadanya makin berdebar tidak karuan ketika ia menatap wajah yang cantik manis, penuh ketenangan dan keberanian, apalagi ketika ia bertemu pandang dengan sepasang mata bening yang memandang kepadanya penuh selidik, seakan-akan sinar mata gadis itu mampu menembus dada menjenguk isi hati.

"Eh... maaf... aku bukanlah kawan bukan pula lawan. Tapi... aku harus menyelamatkan Nona dari tangan kakek iblis itu," katanya agak gugup.

Hui Cu cepat mengangkat kedua tangan memberi hormat. "Banyak terima kasih atas pertolongan Saudara, akan tetapi... ah, mengapa Saudara kepalang-tanggung menolong kami? Apa artinya aku dapat bebas kalau adikku masih di sana? Sekali lagi terima kasih dan selamat tinggal." Hui Cu lalu membalikkan tubuhnya dan lari kembali ke arah hutan.

"Eh, Nona... mau ke manakah kau?"

"Ke mana lagi kalau tidak kembali ke sana? Aku harus menolong adikku!" jawab Hui Cu tanpa mengurangi kecepatannya berlari. Pemuda itu melompat dan cepat mengejarnya. Mereka kini lari berendeng.

"Apa kau gila? Kakek itu lihai sekali, kau akan ditawannya kembali."

"Jangankan ditawan, biar harus berkorban nyawa, aku rela untuk menolong adikku. Kami berdua berangkat bersama, harus pulang bersama atau mati bersama."

Sinar mata pemuda itu membayangkan kekaguman besar. "Kau hebat, Nona. Inilah namanya setia kawan. Dan ilmu lari cepatmu pun boleh juga."

Senang hati Hui Cu dipuji oleh pemuda penolongnya yang ia tahu amat tinggi

kepandaiannya itu. "Ah, mana bisa dibandingkan dengan kau?" Ia melirik, justeru Sin Lee pun mengerling. Dua pasang mata bertemu dalam kerlingan, dua buah mulut tersenyum dan sekaligus dua buah muka para remaja itu menjadi merah, jantung mereka berdetak liar. Mereka berlari terus tanpa mengeluarkan kata-kata lagi.

" kata Hui Cu. Malam tadi ia dipondong, tentu saja tidak tahu jalan. Pemuda itu tersenyum lalu berkata singkat, "Eh, kemana jalannya? Aku bingung, tidak ingat lagi ....

"Kau ikutilah aku!" lalu ia membelok dan memasuki hutan. Sin Lee sengaja tidak mau mengambil jalan semalam karena ia masih kuatir kalau-kalau bertemu dengan para pengejarnya. Ia kuatir kalau-kalau gadis yang luar biasa ini akan tertawan pula oleh lawan-lawan yang amat sakti itu. Namun ia mengambil jalan yang terdekat menuju ke tengah hutan di mana terdapat kelenteng tua itu,

Ketika kelenteng itu sudah tampak, Sin Lee menahan Hui Cu. "Nona, kau bersembunyilah di sini. Biar aku pergi menyelidiki ke sana dan kalau ada kesempatan, akan kucoba rampas adikmu itu."

Hui Cu maklum bahwa kepandaiannya masih jauh untuk dapat membantu penolongnya

ini melawan kakek yang sakti itu, maka ia mengangguk dan memandang kepada Sin Lee dengan mesra, penuh pernyataan syukur dan terima kasih. Jantung pemuda ini serasa berloncatan ketika ia melihat pandang mata itu, dan dengan hati senang sekali mulailah ia menyelinap dan menyusup ke dalam semak-semak, berloncatan di antara pohon-pohon mendekati kelenteng. Dari jauh Hui Cu memandang dengan kagum karena gerakan Sin Lee memang luar biasa sekali gesitnya, kadang-kadang pemuda itu melayang ke atas pohon seperti seekor burung garuda saja sikapnya.

Tak lama kemudian, Sin Lee sudah kembali ke depan Hui Cu. Wajah pemuda ini kelihatan kecewa dan suaranya membayangkan kekecewaan pula ketika ia berkata,

"Nona, aku tidak melihat seorang pun di antara mereka di sana. Kelenteng itu kosong sama sekali."

Wajah Hui Cu seketika menjadi pucat dan dengan isak tertahan gadis ini melompat dan lari menuju kelenteng itu, diikuti dari belakang oleh Sin Lee. Hui Cu menyerbu ke dalam kelenteng, mencari ke depan, ke belakang sambil memanggil-manggil nama Li Eng, namun sia-sia belaka, di situ sunyi tidak terdapat orang yang dicarinya, bahkan bekasnya pun tidak nampak.

?" Hui Cu menjatuhkan diri terduduk di atas lantai dan menutupi muka. Ia tidak menangis keras-keras, namun dari pundaknya yang bergoyang-goyang dan dari celah-celah jari tangan yang membasah tahulah Sin Lee bahwa gadis ini menangis sedih sekali. Akhirnya Hui Cu dapat menguasai perasaannya dan ia bangun berdiri, mengeringkan air mata yang membasahi pipinya, memandang kepada Sin Lee dengan sedih lalu berkata sambil membanting kaki, "Eng-moi... aduh Eng-moi .... bagaimana nasibmu ....

"Celaka sekali, kemana aku harus mencari Eng-moi? Ah, kalau dia sampai kena celaka, bagaimana aku harus bicara dengan Paman dan Bibi?"

Sin Lee mengerutkan keningnya tanda bahwa ia ikut berpikir keras. Ia mengandung maksud hati hendak mempergunakan anak murid Hoa-san-pai yang mengaku sebagai keponakan Tan Beng San ini untuk memaksa musuh besar ibunya itu memenuhi permintaannya, yaitu pergi menghadap ibunya di Lu-liang-san. Diam-diam ia tadinya hendak menjadikan gadis ini sebagai tawanannya untuk memaksa Tan Beng San. Akan tetapi satelah ia melihat wajah Hui Cu dan melihat keadaan gadis ini, entah bagaimana timbul perasaan kasihan dalam hatinya.

"Nona, menyesal sekali malam tadi aku tidak mampu menolong adikmu. Jadi dia itu anak pamanmu? Hemm, agaknya dia dibawa pergi oleh kakek siluman itu. Kalau kau bisa beritahukan kepadaku siapa adanya kakek iblis itu, kiranya aku suka untuk membantumu mengejarnya dan merampas kembali adik misanmu. Siapakah kakek itu?"

"Aku sendiri tidak tahu." Hui Cu menarik napas panjang, bingung sekali tampaknya. "Ah... benar-benar nasib kami buruk Paman Hong masih belum kuketahui bagaimana nasibnya di tangan Pangeran jahat itu, sekarang Adik Eng terculik oleh kakek iblis pula .... "

"Paman Hong siapakah?"

Karena Sin Lee, dianggapnya satu-satunya orang yang pada saat itu boleh ia ajak bicara, dengan singkat Hui Cu lalu menceritakan pengalamannya, yaitu semenjak ia dan Li Eng turun dari Hoa-san dengan tujuan pergi ke Thai-san menghadiri pesta upacara pendirian partai Thai-san-pai, mewakili Hoa-san-pai. Kemudian di tengah jalan bertemu dengan Kwa Kun Hong, paman seperguruan mereka dan melanjutkan perjalanan dengan singgah ke kota raja. Diceritakannya pula undangan Pangeran Kian Bun Ti yang mengakibatkan mereka ditahan karena menolak pemberian anugerah.

"Aku dan Adik Eng dipisahkan dari Paman Hong, kemudian pada malam hari itu kakek iblis merampas kami dari tempat tahanan di Istana Kembang, lalu kakek itu membawa kami ke kelenteng ini. kemudian kau datang menolongku."

Sin Lee tertarik sekali, terutama mendengar tentang maksud gadis ini pergi ke Thai-san untuk memberi selamat kepada Tan Beng San. Ingin ia bertanya lebih jelas tentang ini, akan tetapi Sin Lee adalah seorang yang cerdik. Ia tidak mau mengutarakan rahasia hatinya dan ia berkata heran,

"Aneh sekali kakek iblis itu. Mengapa dia begitu benci kepada kau dan adik misanmu, Nona? Apakah di antara dia dan kalian ada permusuhan?"

Hui Cu menggeleng kepalanya, akan tetapi entah bagaimana, ia menaruh kepercayaan besar kepada pemuda yang telah menolongnya ini, maka ia berkata secara terus terang, "Melihat sikap dan mendengar bicaranya, dia amat membenci Hoa-san-pai, apalagi anak

murid Hoa-san-pai yang wanita. Agaknya kakek itu mengandung sakit hati yang hebat sekali terhadap seorang wanita anak murid Hoa-san-pai." Ia mengangguk-angguk untuk meyakinkan dugaannya.

Jantung Sin Lee berdebar. "Siapakah dia anak murid wanita Hoa-san-pai yang dapat membuat sakit hati seorang kakek begitu lihai?"

"Aku sendiri pun tidak tahu, akan tetapi aku dapat menduga... hemmm, tidak bisa lain, kalau ada tokoh kang-ouw seperti kakek itu bisa sakit hati terhadap murid wanita Hoa- san-pai, tentulah... dia siapa lagi?"

"Dia... siapakah, Nona? Atau... barangkali sebagai orang luar aku tidak berhak mengetahui?"

Mendengar suara pemuda itu mengandung kekecewaan, hati Hui Cu menjadi tak enak. Tidak apa diberi tahu, pikirnya. "Menurut dugaanku, murid wanita yang banyak musuhnya dari Hoa-san-pai adalah bibi guruku sendiri, namanya Hong, she Kwa, entah di mana sekarang .... "

Sin Lee menjadi pucat sekali mukanya, cepat-cepat ia membungkuk dan pura-pura membersihkan sepatunya yang penuh lumpur. Ketika ia mengangkat lagi tubuhnya, mukanya menjadi merah sekali.

"Apakah... apakah bibi gurumu itu... dahulunya amat jahat maka banyak musuhnya?" ia bertanya, suaranya biasa akan tetapi perlahan sekali.

"Banyak orang bilang, begitu, tapi ibuku tidak! Kata Ibu, Bibi Kwa Hong itulah yang telah menyelamatkan nyawa Ibu dan aku ketika dalam kandungannya, dan kata Ibu, Bibi Kwa Hong jadi berubah perangainya karena patah hati, entah apa maksudnya Ibu tidak mau menceritakan kepadaku."

Sunyi sesaat, dan suara Sin Lee makin perlahan ketika ia bertanya, sambil lalu saja, "Jadi kau tidak membencinya?"

! Malah aku kasihan kepada Bibi Kwa Hong dan ingin sekali aku bertemu dengannya. Kata Ibu, Bibi Kwa Hong orangnya lincah gembira seperti Adik Eng dan cantik sekali." "Ah, tidak ....

Gadis itu tidak tahu bahwa ucapannya ini membuat hati Sin Lee girang bukan main! Mana dia tahu bahwa orang yang dibicarakan itu, Kwa Hong, adalah ibu dari pemuda yang sekarang berada di depannya.

"Nona, percayalah, aku Sin Lee akan berusaha menemukan kembali adik misanmu Nona Li Eng itu dan aku... aku sekarang dapat menduga siapa adanya kakek iblis itu. Hemmm, kalau saja aku tahu sebelumnya bahwa dia adalah iblis itu, takkan kutinggalkan dia sebelum berhasil membunuhnya. Kiranya ia benar-benar jahat sekali."

"Kau... kau tahu siapa kakek itu?"

"Aku dapat menduga, kalau tidak salah dialah yang berjuluk Song-bun-kwi."

?" Wajah Hui Cu menjadi pucat. "Pernah Ibu bercerita kepadaku tentang dia... dia tokoh besar puluhan tahun yang lalu. Benarkah dia itu Song-bun-kwi?" "Ah, dia ....

"Kiraku tidak keliru dugaanku. Nona, bolehkah aku mengetahui namamu?"

Pandang mata Hui Cu menunduk. Pemuda ini benar-benar amat baik, sopan dan ramah, tapi juga agak aneh sikapnya. "Aku Hui Cu, she Thio. Kau sendiri she apakah?"

"Aku she Tiauw, Tiauw Sin Lee." Ia sengaja menggunakan she (nama keturunan) Tiauw yang berarti rajawali karena setelah gadis ini tahu soal ibunya, ia tidak berani memakai she Kwa atau she Tan agar gadis ini tidak mencurigainya.

"Sekarang apa yang hendak kaulakukan, Nona? Apakah kau hendak melanjutkan perjalananmu ke Thai-san?"

Hui Cu menggeleng kepala. "Mana bisa aku pergi ke sana kalau Paman Hong masih ditahan di kota raja? Aku harus berusaha membebaskan Paman Hong dari tahanan." "Dalam ceritamu tadi kau bilang bahwa pamanmu Kwa Kun Hong itu adalah putera tunggal Ketua Hoa-san-pai, Kakek gurumu. Tentu ia lihai sekali, bagaimana ia bisa tertawan?"

Hui Cu menarik napas panjang. "Kau tidak tahu tentang Paman Hong. Dia itu orang aneh sekali, biarpun dia itu putera Ketua Hoa-san-pai, namun sedikit pun ia tidak pandai ilmu silat, malah tidak pernah belajar ilmu silat. Ia adalah ahli dalam ilmu kesusastraan, akan tetapi keberaniannya luar biasa melebihi jago silat yang manapun juga." Lalu ia menceritakan betapa Kun Hong berani menolak anugerah Pangeran, malah menceritakan betapa pemuda yang tidak pandai ilmu silat itu menggegerkan pemilihan ketua Hwa-i Kai-pang dan malah diangkat menjadi ketua perkumpulan pengemis yang berpengaruh itu.

Sin Lee mendengarkan dengan penuh keheranan dan kekaguman. "Hebat pamanmu itu, ingin sekali aku bertemu dan bercakap-cakap dengan dia. Marilah kita tolong dia keluar dari tahanan, Nona. Akan tetapi karena kau sudah banyak dikenal, tentu munculmu di kota raja akan mendatangkan keributan dan kesukaran, maka kurasa lebih baik kau bersembunyi di luar tembok kota dan biarlah aku seorang diri pergi menyelidiki keadaan pamanmu itu. Kalau mungkin aku akan turun tangan, kalau sekiranya sukar, kita berdua bisa bergerak malam nanti.

Hui Cu girang sekali. "Saudara Tiauw, kau benar-benar telah melepas budi banyak kepadaku. Kau baik hati sekali dan ilmu silatmu amat lihai. Tidak tahu kau ini murid siapa dan dari golongan manakah?"

Sin Lee tersenyum. "Tak usah sungkan, Nona. Sudah semestisnya manusia saling menolong dalam kesukaran dan sudah menjadi kewajibanku untuk menentang yang jahat membela yang tertindas. Adapun ilmu silatku yang masih dangkal ini kupelajari dari ibuku sendiri, bukan dari golongan manapun juga. Harap kau jangan memuji terlalu tinggi."

Demikianlah keduanya lalu meninggalkan kelenteng rtu menuju ke kota raja. Inilah sebabnya Song-bun-kwi tidak dapat mengejar mereka karena kakek itu tentu saja sama sekali tak pernah mengira bahwa dua orang itu malah kembali ke kelenteng mengambil jalan lain kemudian malah pergi kota raja.

Ditemani Sin Lee yang gagah perkasa sopan terhadap dirinya. Hui Cu menjadi besar hati dan ia hampir merasa yakin bahwa kalau pemuda ini mau membantunya, pasti pamannya akan dapat dibebaskannya dan agaknya soal Li Eng juga akan dapat dibereskan. Pada saat itu Hui Cu sedang diliputi kekuatiran hebat, kuatir memikirkan nasib Kun Hong. Oleh karena inilah maka ia tidak dapat merasa terlalu sungkan berduaan dengan Sin Lee pemuda kenalan baru itu. Andaikata ia tidak sedang menghadapi dua perkara yang menggerogoti hatinya ini, kiranya ia akan merasa sungkan dan malu mengadakan perjalanan berdua saja dengan seorang pemuda asing.

Setibanya di luar tembok kota raja, Hui Cu lalu bersembunyi di suatu tempat dan Sin Lee meninggalkannya, masuk seorang diri ke kota raja. Segera ia mencari keterangan dan kabar untuk mengetahui di mana ditahannya pemuda Hoa-san-pai bernama Kwa Kun Hong itu. Akan tetapi keterangan yang ia dapatkan membuat ia terkejut dan juga bingung.

Keterangan apakah yang ia dapat? Tidak hanya dari satu dua orang. Malah ia sengaja menangkap seorang pengawal istana dan dl tempat tersembunyi ia mengancam pengawal itu untuk mengaku dan memberi keterangan tentang Kwa Kun Hong. Dan keterangan pengawal ini sama dengan keterangan yang ia dapat di luaran, yaitu bahwa pemuda Hoa- san-pai yang ditahan karena berani membangkang terhadap perintah Pangeran Mahkota itu telah ditolong oleh... setan dan lenyap tak berbekas.

"Hanya setan yang dapat menolong dia secara itu," demikian keterangan yang ia dapat. "Pemuda itu tahu-tahu lenyap dari dalam kamar tahananan dan sebagai gantinya Pangeran Mahkota sendiri yang berada di situ, yang marah-marah kepada penjaga minta dibebaskan. Setelah para penjaga membuka pintu, Pangeran Mahkota keluar dan memerintahkan semua penjaga masuk dalam kamar tahanan lalu dikunci dari luar. Nah, bukankah itu aneh? Padahal Pangeran Mahkota berada di dalam istananya, tak pernah keluar, apalagi ke kamar tahanan. Masa pemuda itu bisa berubah menjadi Pangeran? Hanya setan yang dapat menolongnya seperti itu."

Hui Cu juga bengong terlongong mendengar cerita Sin Lee atas hasil penyelidikahnya ini. "Heran sekali, mana bisa terjadi begitu? Paman Hong memang aneh dan berani, akan tetapi ia sama sekali tidak mempunyai kepandaian silat. Siapa gerangan yang telah

menolongnya? Kalau memang ada seorang sakti menolongnya, mengapa caranya seaneh itu?"

Sin Lee tersenyum. "Berita ini tidak bohong, aku malah mendapatkan keterangan dari seorang pengawal istana yang kutangkap. Setan atau bukan, sudah terang pamanmu ditolong dan sudah tidak ditahan lagi. Sekarang, apa kehendakmu, Nona?"

"Semua ini aneh sekali. Adik Eng berada di tangan seorang sakti, juga Paman Hong kalau dibawa oleh penolongnya, berarti dia berada di tangan orang yang sakti dan aneh. Kupikir lebih baik aku ke Thai-san menjumpai Paman Tan Beng San yang oleh ayah ibuku dianggap orang terpandai di dunia ini. Kalau tidak Paman Tan Beng San yang menolong, siapa lagi?"

Ucapan gadis ini menimbulkan perasaan campur aduk di hati Sin Lee. Ia girang karena memang itulah kehendaknya, dapat pergi ke Thai-san bersama gadis ini yang hendak ia pergunakan sebagai alat untuk memaksa agar Tan Beng San mau menghadap ibunya. Akan tetapi ia juga tak senang mendengar betapa gadis ini memuji Tan Beng San musuh besar ibunya itu sebagai "orang terpandai di dunia". Huh, ingin ia membuktikan sendiri sampai di mana kelihaian Tan Beng San itu.

"Baiklah kalau begitu, Nona Thio. Mari kuantar kau ke Thai-san."

Merah wajah Hui Cu. Kalau begini sudah keterlaluan, pikirnya. "Ah, Saudara Tiauw, mana aku berani membikin kau repot? Budimu sudah terlalu besar bagiku, tak usah kau tambah lagi dengan mengantar aku ke Thai-san. Kau membikin aku menjadi malu saja."

Sin Lee tersenyum, diam-diam ia makin kagum akan sikap gadis ini. Sederhana, tenang, tabah, dan bicaranya sungguh-sungguh tanpa dibuat-buat serta memiliki pandangan jauh.

"Nona, sama sekali bukan begitu. Mana kau merepotkan aku kalau aku sendiri pun hendak pergi ke sana? Aku memang hendak mengunjungi Thai-san, hendak melihat upacara dan hendak bertemu dengan Bu-tek Kiam-ong Tan Beng San yang namanya malah lebih tinggi daripada puncak Gunung Thai-san itu." Dalam kata-kata terakhir ini terkandung ejekan.

"Betulkah begitu?" Hui Cu berkata girang, "Kalau memang begitu, tentu saja aku... senang sekali dapat melakukan perjalanan bersama denganmu, Saudar Tiauw." Sin Lee menjura dan tersenyum "Syukur sekali kau sudi, Nona. inilah jawaban yang amat kuharapkan."

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Silat Indonesia Download

Silahkan download Cerita Halaman ke 1 Serial Putri Hatum dan Kaisar Putri Harum dan Kaisar Jilid 1 Putri Harum dan Kaisar Jilid 2 dan 3 Putri Harum dan Kaisar Jilid 4 dan 5 Putri Harum dan Kaisar Jilid 6 dan 7 Putri Harum dan Kaisar Jilid 8 dan 9 Putri Harum dan Kaisar Jilid 10 dan 11 Putri Harum dan Kaisar Jilid 12 dan 13 Putri Harum dan Kaisar Jilid 14 dan 15 Putri Harum dan Kaisar Jilid 16 dan 17 Putri Harum dan Kaisar Jilid 18 dan 19 Putri Harum dan Kaisar Jilid 20 dan 21 Putri Harum dan Kaisar Jilid 22 dan 23 Putri Harum dan Kaisar Jilid 24 dan 25 Putri Harum dan Kaisar Jilid 26 dan 27 Putri Harum dan Kaisar Jilid 28 dan 29 Putri Harum dan Kaisar Jilid 30 dan 31 Putri Harum dan Kaisar Jilid 32 dan 33 Putri Harum dan Kaisar Jilid 34 dan 35 Putri Harum dan Kaisar Jilid 36 dan 37 Serial Pedang Kayu Harum Lengkap PedangKayuHarum.txt PKH02-Petualang_Asmara.pdf PKH03-DewiMaut.pdf PKH04-PendekarLembahNaga.pdf PKH05-PendekarSadis.pdf PKH06-HartaKarunJenghisKhan.pdf PKH07-SilumanGoaTengkor...

Komunikasi Data

Link ini juga saya letakkan di ebook campuran http://www.ziddu.com/download/3344575/Komdat1.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344576/Komdat5.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344577/Komdat4.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344578/Komdat3.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344579/Komdat2.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344815/Komdat9.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344816/Komdat6.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344817/Komdat7.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344818/Komdat8.pdf.html

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau!...