Akan tetapi Coa-lokai yang amat setia kepada Hwa-i Lo-kai, ketika mendengar bahwa kakek tua renta yang kelihatan kurus kering itu adalah musuh besar ketuanya, segera membentak marah, "Kau tua bangka berani menghina pangcu kami. Rasakan tanganku!" Coa-lokai menerjang dan langsung menyerang.
!" Sin-chio The Kok atau Hwa-i Lo-kai mencegah, namun terlambat sudah. Coa-lokal sudah menyerang dengan hebat, malah mempergunakan pedangnya. Semua orang melihat betapa pedang di tangan Coa-lokai itu menyambar ganas dan agaknya kakek yang diserangnya itu sama sekali tidak bergerak, akan tetapi entah bagaimana, tahu-tahu terdengar pedang berkerontangan di atas lantai dan tubuh Coa-lokai terlempar ke belakang. Padahal kakek itu hanya mengangkat sedikit tongkatnya yang butut. Ketika dilihat ternyata Coa-lokai yang merintih-rintih itu patah tulang lengannya. "Coa-lokai, jangan ....
Sin-chio The Kok terkejut sekali. Bukan main hebatnya kepandaian dari Sin-eng-cu Lui Bok ini. Ia cepat menjura dan berkata,
"Pembantuku telah tak tahu diri menyerangmu, akulah yang mintakan maaf dan harap Sin-eng-cu suka bersabar menanti sampai aku selesai mengadakan pemilihan ketua."
Sin-eng-cu Lui Bok tertawa dan hanya berkata, "Silakan..., silakan .... "
Kun Hong melangkah maju dan menjura kepada Ketua Hwa-i Kai-pang itu.
"Tidak tahunya Locianpwe ini yang bernama Sin-chio The Kok dan sekarang menjadi Ketua Hwa-i Kai-pang. Pangcu, aku kebetulan datang bersama Susiok Sin-eng-cu mendengar bahwa di sini hendak diadakan pemilihan ketua baru. Kenapa kau membiarkan saja orang-orangmu berebutan kedudukan ketua? Kalau kau sendiri yang menjadi ketuanya, perlu apa diganti lagi? Kulihat kau seorang yang berjiwa gagah, kenapa hendak mundur? Kalau perkumpulan yang bertujuan memperbaiki nasib orang- orang jembel yang sengsara ini terjatuh ke dalam tangan ketua tukang berkelahi, bukankah akan celaka?"
"Ha, betul sekali omonganmu, Siauw-kongcu!" Tiba-tiba Coa-lokai yang sudah berdiri lagi dengan tangan dibalut berkata keras. "Memang Pangcu tidak perlu diganti lagi!"
"Pangcu, kalau terpaksa dilakukan penggantian ketua, kurasa satu-satunya orang yang patut menggantimu adalah orang tua tinggi besar ini," Kun Hong menudingkan telunjuknya ke arah Coa-lokai. "Dia jujur dan setia sekali kepadamu."
Memang biarpun masih muda, pandangan mata Kun Hong amat mendalam dan sekali melihat saja ia tahu bahwa Coa-lokai adalah seorang yang setia dan jujur, sama sekali tidak memiliki pamrih untuk memperebutkan kedudukan, terbukti dari pembelaannya kepada ketuanya dan menyerang Sin-eng-cu tadi, kemudian kata-katanya sekarang.
Diam-diam Hwa-i Lo-kai kagum memandang Kun Hong. Bocah ini benar-benar luar biasa dan ucapannya seperti orang yang sudah matang pengalamannya saja. Kalau bocah ini menyebut susiok (paman guru) kepada Sin-eng-cu, tentulah dia memiliki kepandaian hebat pula.
Pada saat itu, Sun-lokai dan Beng-lokai sudah siap mendekati Kun Hong. Sun-lokai berseru marah, "Untuk apa mendengarkan omongan bocah gila itu? Usir saja dia dari sini, mengacaukan pemilihan ketua!"
"Betul, Pangcu. Bocah ini mencampuri urusan kita. He, bocah tak tahu aturan, lebih baik kau tutup mulutmu dan pergi dari sini. Kalau tidak, mulutmu akan kuhancurkan dengan kepalanku."
"Ji-wi Lo-kai jangan kurang ajar terhadap tamu!" Hwa-i Lo-kai cepat mencegah karena ia merasa tidak enak sekali terhadap Sin-eng-cu.
Kun Hong tersenyum dan Sin-eng-cu hanya tersenyum-senyum saja. "Pang-cu, apakah dua orang ini juga pembantu-pembantumu? Alangkah jauh bedanya dengan Coa-lokai."
"Eh, orang muda, kau tadi datang-datang melawan kami bertempur untuk menentukan kemenangan. Ada hak apakah kau mencampuri urusan Hwa-i Kai-pang?" bentak, Sun- lokai.
Kini Kun Hong bicara dengan muka sungguh-sunggu,"Lo-kai, aku mendengar bahwa perkumpulan ini adalah perkumpulan Hwa-i Kai-pang dan perkumpulan pengemis tentu
bertujuan untuk menolong para pengemis dan memperbaiki nasib mereka. Akan tetapi mengapa untuk menentukan seorang ketua harus memilih yang pandai ilmu silat dan kalian tadi saling gempur sendiri? Apakah Hwa-i Kai-pang mau dijadikan perkumpulan tukang pukul?"
"Kau mengaku keponakan Sin-eng-cu, tapi omongan apa yang kau keluarkan ini?" Sun- lokai membentak, makin marah, "Kalau ketua kita seorang yang lemah, mana bisa memimpin Hwa-i Kai-pang?"
"Ah, salah sama sekali!" Kun Hong berseru penasaran, "Apakah hanya seorang tukang pukul saja yang dapat memimpin? Memimpin dengan cara ,kekerasan dan kekuatan sama sekali tidak baik."
Kini Beng-lokai juga mendekati Kun Hong. "Kau anak kecil bicara besar. Kalau seorang pemimpin tidak memiliki ilmu silat tinggi dan menggunakan kekerasan, mana bisa para anggauta dipimpin dan mana mereka bisa menaati ketuanya?"
KunHong mengalihkan pandangnya kepada pengemis tua gemuk pendek ini.
"Inilah sebabnya kukatakan salah. Memimpin dengan kekerasan mengandalkan kepandaian silat memang bisa membikin anggautanya taat, akan tetapi taat karena terpaksa. Bukan taat yang timbul dari hati sejujurnya, melainkan taat untuk menjilat. Seharusnya kalian mempunyai seorang ketua yang bijaksana, yang betul-betul dapat mengatur sehingga di antara para pengemis tidak saling gempur, dapat menuntun mereka ke arah kejujuran, kesetiaan dan jalan benar sehingga mereka dapat menemukan kembali lapangan pekerjaan yang terhormat."
Tiba-tiba terdengar suara ketawa yang membuat semua orang menengok karena yang tertawa terkekeh-kekeh ini adalah Sin-eng-cu Lui Bok yang kini semua orang di situ tahu sebagai musuh besar Ketua Hwa-i Kai-pang. "Heh-heh-heh, Sin-chio The Kok, kalau benar-benar sayang kepada perkumpulanmu, kalau kau ingin melihat perkumpulanmu menjadi maju dan sempurna, kau angkatlah Kwa Kun Hong ini menjadi ketua menggantikanmu."
Merah muka Ketua Hwa-i Kai-pang itu dan ia memandang tajam. "Sin-eng-cu, apakah selain datang hendak mengambil nyawaku kau pun bermaksud merampas kedudukan kai- pang untuk murid keponakanmu?" Pertanyaan ini keras dan pedas dan para anggauta Hwa-i Kai-pang juga menjadi berisik.
"Ho-ho-ho, setelah berkumpul dengan orang-orang jahat kau makin tersesat, Sin-chio The Kok. Memang tadinya ketika aku mengabarkan kedatanganku kepadamu, sudah bulat dalam hatiku untuk membunuhmu, membalaskan muridku yang kaubunuh dahulu. Akan tetapi ketahuilah, setelah aku bertemu dengan murid keponakanku yang hebat ini, sekaligus dia bisa mengusir niatku itu dari otakku. Aku tidak ingin membunuhmu lagi, The Kok. Ha-ha-ha, benar dia ini, kau sudah cukup tersiksa akibat perbuatanmu sendiri. Biarpun dia ini murid keponakanku, dalam hal kebijaksanaan aku boleh berguru
kepadanya. Karena itu, kalau dia yang menjadi ketua, aku tanggung Hwa-i Kai-pang akan menjadi perkumpulan yang besar dan maju, dan anak buahmu ini sebentar saja akan berubah menjadi manusia-manusia benar. Tidak seperti kalau kau atau pengemis- pengemis bangkotan ini yang menjadi ketua, para pengemis diajar silat, kelak dari pengemis berubah menjadi perampok. Heh-heh-heh."
Kaget bukan main hati The Kok mendengar ini. Ada perasaan lega, girang, terharu dan
juga malu. Ia menoleh dan memandang kepada Kun Hong yang masih berdiri tegak dengan sikap tenang sekali. Jadi bocah yang sikapnya aneh ini malah telah menolong nyawanya dari ancaman Sin-eng-cu. Ia tadinya sudah maklum bahwa ia pasti akan tewas di tangan Sin-eng-cu karena dalam hal ilmu silat, ia jauh di bawah tingkat kakek itu. Sekarang Sin-eng-cu malah mengusulkan supaya pemuda yang bernama Kwa Kun Hong ini menjadi ketua Hwa-i Kai-pang.
"Sin-eng-cu, kau mengaku dia sebagai murid keponakanmu, sebetulnya pemuda ini murid siapakah?" tanyanya, agak meragu.
Kakek kurus itu tertawa lagi, "Ha-ha-ha, jangan bicara tentang ilmu silat dengan Kun Hong, karena mungkin dia tidak akan mampu dan suka membunuh seekor kucing pun, akan tetapi dia ini murid suhengku, gurunya adalah mendiang Bu Beng Cu."
Tidak ada yang mengenal Bu Beng Cu, juga Sin-chio The Kok tak pernah mendengarnya. Akan tetapi kalau pemuda ini murid suheng dari Sin-eng-cu, sudah dapat dipastikan kepandaiannya tinggi juga. Persoalan Ketua Hwa-i Kai-pang bukanlah hal yang remeh, untuk memilih ketua harus dipilih orang yang betul-betul tepat. Bagaimana ia bisa menerima seorang pemuda yang sama sekali belum ia ketahui keadaannya ini untuk memimpin anggauta. Hwa-i Kai-pang yang ratusan orang jumlahnya.
Selagi ia ragu-ragu, Beng-lokai dan Sun-lokai sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi. Beng-lokai berkata kepada Kun Hong,
"Bocah ini mau menjadi ketua kami? Ha-ha-ha, boleh saja asalkan dia mampu mengalahkan aku."
"Juga harus bisa merobohkan aku, baru berhak menjadi ketua." kata Sun-lokai sambil menggeser kaki mendekati.
Melihat ini, tiba-tiba Sin-chio The Kok mendapatkan pikiran amat bagus. Dua orang pembantunya ini memang tepat untuk menguji kepandaian pemuda itu. Maka ia berkata kepada Sin-eng-cu, "Kalau pemuda ini berani menghadapi Beng-lokai dan Sun-lokai serta mengalahkan mereka, aku menerimanya menjadi ketua Hwa-i Kai-pang menggantikan aku. Memang betul bahwa untuk membimbing para anggauta tak perlu dipergunakan ilmu silat, akan tetapi tanpa memiliki kepandaian tinggi, mana mampu menjaga keamanan perkumpulan dan mana bisa menghalau segala orang-orang jahat?"
"Orang muda, kau dengar sendiri. Ketua kami sudah mengijinkan kami berdua
menghadapimu. Hayo kau robohkanlah kami." kata Beng-lokai dengan sikap mengejek dan terdengarlah suara tertawa para pengemis pengikut kedua orang pembantu ini.
Kun Hong mengerutkan alisnya dan menggelengkan kepala. "Aku tidak pernah berkelahi dan aku pun tidak mau berkelahi. Aku bukanlah tukang pukul!" Ucapan ini memancing datangnya tertawaan lagi di kalangan anggauta Hwa-i Kai-pang. Perkumpulan ini mengutamakan ilmu silat dan kegagahan, malah semua orang anggautanya mempelajari ilmu silat. Bagaimana sekarang hendak mengangkat seorang pemuda lemah seperti itu sebagai ketua.
Kun Hong tidak peduli akan suara tertawa dan ejekan yang dilontarkan kepadanya, akan tetapi Sin-eng-cu menjadi merah mukanya. "Eh, Kun Hong, kau memalukan aku saja. Apakah kau takut menghadapi dua orang pengemis busuk ini?"
Sepasang mata Kun Hong berkilat dia adalah keturunan seorang pendekar besar, ibunya pun seorang pendekar wanita, darah kesatria mengalir di tubuhnya dan bagi keluarganya, kata-kata takut tidak terdapat dalam kamus,
"Aku tidak takut kepada siapapun juga, aku hanya takut kalau-kalau aku akan menyimpang dari kebenaran." Jawaban Kun Hon ini adalah ucapan kuno yang pernah ia baca dalam kitab-kitabnya.
"Ha-ha-ha, bocah sombong, kalau kau tidak takut, hayo lawan kami berdua." Beng-lokai berkata lagi.
Karena maklum bahwa Kun Hong tak mungkin mau menyerang orang, Sin-eng-cu lalu berkata kepada dua orang pembantu ketua itu, "Heh, dua orang jembel busuk, terhadap dua orang badut seperti kalian yang jauh lebih rendah tingkatnya, murid keponakanku mana mau turun tangan? Jangan kalian hanya petentang-petenteng menjual lagak, kalau ada kepandaian, hayo kalian boleh menyerang.
Sun-lokai orangnya cerdik. Kalau kakek ini mencampuri dan turun tangan tentu mereka akan kalah. Tadi sudah terbukti betapa hebatnya kepandaian kakek ini ketika merobohkan Coa-lokai. Malah Hwa-i Lo-kai sendiri kelihatan takut kepada kakek ini. Ia lalu tertawa dan berkata,
"Sin-eng-cu Lui Bok adalah seorang Locianpwe yang tingkatnya lebih tinggi dari kami yang bodoh. Kalau Locianpwe maju membantu bocah ini nanti, kami tentu akan kalah akan tetapi bukan kami yang akan menjadi buah tertawaan dunia kang-ouw."
Sin-eng-cu memandang dengan mata melotot. "Monyet kau. Kalau aku memang berkehendak merobohkan manusia-manusia monyet macam kau, perlu apa aku banyak cerewet lagi? Kalian boleh serang dia, biarpun dia sampai terpukul mampus oleh kalian, aku tidak akan membantunya. Dengar janjiku ini!"
Lega dan girang hati Sun-lokai mendengar ini. Ia sudah berhasll membakar hati kakek itu dan sekarang ia dan Beng-lokai tidak usah takut akan turun tangannya kakek yang lihai itu. Mereka berdua memberi isyarat dengan pandang mata, lalu berbareng mereka menyerang Kun Hong sambil berkata, "Bocah sombong, awas, kalau sakit atau mati jangan persalahkan kami."
Selama hidupnya Kun Hong belum pernah berkelahi. Kini menghadapi dua orang yang tiba-tiba menyerangnya dengan pukulan-pukulan hebat, ia menjadi kaget dan gugup. Akan tetapi dengan beberapa langkah saja ia sudah dapat menghindarkan diri dari penyerangan dua orang itu. Dalam pandangannya, penyerangan dua orang ini amat lambat dan mudah dikelit. Rajawali Emas kalau sedang melatihnya jauh lebih gesit dan berbahaya. Oleh karena itu, dengan tenang-tenang dan mudah Kun Hong berhasil mengelakkan semua serangan yang datang bertubi-tubi dari dua orang pengemis lihai tadi.
Bagi semua orang, kecuali Sin-eng-cua lui Bok, gerakan-gerakan Kun Hong tidak karuan dan kacau-balau, kelihatan seperti orang ketakutan dan beberapa kali hendak roboh, terhuyung-huyung, kadang-kadang berjongkok, berdiri, berlari kecil, malah kadang- kadang merangkak. Akan tetapi semua serangan selalu mengenai tempat kosong, menyentuh ujung bajunya pun tidak dapat. Makin lama para pengemis yang menonton menjadi makin tegang dan kemudian bersorak-sorak karena perkelahian yang tidak seimbang itu memang amat lucu. Kun Hong seperti seekor tikus yang dikejar dan diperebutkan dua ekor kucing, ditubruk sini nyelinap sana, diterkam sana mengelak ke sini. Tak seorang pun menganggap bahwa pemuda itu pandai ilmu silat karena gerakan- gerakan yang kacau balau dan tidak teratur itu mana bisa disebut. ilmu silat? Bagi mereka, dianggapnya bahwa Kun Hong ketakutan dan kebingungan dan bahwa dua orang lokai itu memang sengaja tidak mau melukainya atau hendak mempermainkannya terlebih dulu. Tak seorang pun tahu bahwa diam-diam dua kakek pengemis itu kaget dan heran bukan main, tengkuk mereka terasa dingin dan bulunya pada berdiri. Hampir mereka itu tak dapat mempercayai kalau tidak mereka hadapi sendiri. Siapa tidak menjadi seram kalau sudah mengeluarkan seluruh kepandaian untuk memukul roboh pemuda lemah ini, akan tetapi tak perah mengenai sasaran? Padahal tampaknya pukulan-pukulan, dan tendangan-tendangan sudah tepat, namun heran sekali, begitu tiba pada sasaran, mendadak yang dijadikan sasaran sudah berpindah tempat. Maka kedua orang pengemis ini setelah lewat lima puluh jurus, menjadi pucat dan penuh keringat.
Selain Sin-eng-cu yang diam-diam mengagumi Kim-tiauw-kun ciptaan suhengnya, juga Sin-chio The Kok memandang dengan mata terbelalak. Ia pun bingung dan merasa heran, apalagi kalau melihat gerakan Kun Hong begitu kacau-balau seperti orang mabuk. Akan tetapi karena memang tingkat kepandaian The Kok sudah tinggi, makin lama makin teranglah baginya bahwa gerakan atau langkah-langkah kaki Kun Hong itu biarpun kelihatan kacau, sebenarnya adalah langkah-langkah ajaib yang luar biasa sekali. Begitu ia memperhatikan langkah-langkah itu, terasa matanya berkunang dan kepalanya pening. Ia terkejut dan cepat mengumpulkan Iwee-kang untuk menahan kepusingan. Ia mengerahkan tenaga untuk memperhatikan terus, akan tetapi akhirnya ia harus mengalah,
harus mengalihkah perhatiannya. Langkah itu demikian ajaib dan luar biasa sehingga kalau ia paksa, mungkin akan membuat ia jatuh pingsan.
Ketua Hwa-i Kai-pang ini maklum bahwa pemuda aneh itu benar-benar telah mewarisi ilmu yang ajaib dan tahu bahwa kedua orang pembantunya tentu akan menderita celaka kalau dilanjutlkan, maka ia bermaksud nnenghentikan pertempuran itu. Akan tetapi sebelum ia membuka mulut, tiba-tiba berkelebat bayangan orang yang gesit sekali dibarengi bentakan halus.
"Dua orang tua bangka tak tahu malu berani kau menghina pamanku?" Gerakan bayangan ini gesit sekali, berbareng menyambar sinar hitam dan tahu-tahu Beng-lokai dan Sun-lokai terhuyung-huyung ke belakang.
Ketika semua orang memperhatikan, bayangan itu adalah seorang gadis yang cantik dan gagah, yang memegang sehclai sabuk hitam yang tadi ia pergunakan untuk menyerang dua orang itu sehingga mereka terhuyung-huyung kebelakang. Pada saat berikutnya, kembali berkelebat bayangan orang dan seorang gadis lain yang juga cantik manis sudah berdiri disitu dengan sikap gagah.
Beng-lokai dan Sun-lokai kaget sekali, akan tetapi mereka menjadi marah ketika mendapat kenyataan bahwa yang menyerang mereka tadi hanyalah seorang gadis muda. Berbareng mereka mencabut pedang dan siap menerjang dua orang gadis itu. Gadis yang memegang sutera hitam itu tersenyum mengejek, sedangkan gadis kedua juga tiba-tiba menggerakkan tangan dan tahu-tahu sebatang pedang tipis tajam telah berada di tangannya.
"Hi-hik, kalian ini dua ekor keledai tua apakah sudah bosan hidup? Cu-cici (Kakak Cu), mari kita basmi dua ekor keledai yang sudah berani kurang ajar terhadap Paman Hong ini."
Kun Hong segera mengenal gadis pertama, seorang gadis lincah jenaka dan cantik yang bermata seperti bintang pagi. Teringatlah ia ketika ia dahulu dikerek oleh gadis ini ke atas pohon mempergunakan sabuk sutera hitam itu. "Eh... eh... kau... anak nakal... jangan berkelahi!" katanya mencegah.
Sementara itu, Hwa-i Lo-kai juga mernbentak kedua orang pembantunya,
"Beng-lokai dan Sun-lokai, harap kalian mundur dan simpan senjata!" Suaranya berpengaruh dan tegas sehingga dua orang pembantunya yang masih penasaran itu tidak berani membantah lagi, dengan muka keruh mereka segera mundur.
Sementara itu, Kun Hong memandang kepada gadis-gadis itu, memandang heran dan keningnya berkerut. Ia mengenal gadis pertama yang dalam anggapannya adalah seorang gadis yang berwatak nakal dan jahat, suka berkelahi dan kejam. Ia merasa kuatir kalau- kalau kedatangan gadis ini lagi-lagi akan mendatangkan bencana, bunuh membunuh
antara sesama manusia seperti yang ia saksikan di Hoa-san dahulu itu. Akan tetapi ia jaga heran mengapa gadis itu tadi menyebutnya sebagai pamannya.
"Eh, Nona yang nakal, bagaimana kau sampai tersesat ke tempat ini dan sejak kapan aku menjadi pamanmu?" tegurnya dengan suara galak.
Gadis itu yang bukan lain adalah Kui Li Eng, berseri mukanya, matanya bercahaya jenaka dan ia tidak menjawab, melainkan ia menoleh kepada gadis ke dua yang bukan lain adalah Thio Hui Cu. "Cu-cici, benar tidak ceritaku? Paman Hong ini orangnya lucu, aneh dan keberaniannya membuat aku terheran-heran. Seorang yang tidak memiliki kepandaian silat, berani merantau sampai ke sini, malah baru saja kita lihat tadi dia dikejar-kejar dua ekor keledai, tapi sedikit pun tidak takut. Agaknya disamping kelucuan dan keanehannya, dia pun memiliki nyawa rangkap."
Hui Cu yang alim dan pendiam menyembunyikan senyumnya, hanya sekilas berani menatap wajah Kun Hong, lalu mengalihkan pandangnya.
"Hee, jangan kau memperolok aku. Kau belum menjawab pertanyaanku. Sejak kapan dan berdasarkan apa kau mengaku sebagai, keponakanku?"
Senyum Li Eng melebar, membuat wajahnya yang jelita itu makin manis dan ramah. Akan tetapi di balik keramahan dan kejenakaannya tersembunyi sifat nakal yang terpancar keluar dari sepasang matanya.
"Paman Hong yang tercinta .... "
"Hush .... !" Merah muka Kun Hong. "Bicara yang benar jangan berolok-olok!"
"Kau memang pamanku sejak aku lahir dan berdasarkan kenyataan bahwa ayahmu adalah kakek guruku. Kau anaknya, kalau bukan pamanku habis apaku? Bukan hanya aku, malah Cici Hui Cu ini pun keponakanmu, karena dia adalah anak tunggal dari Supek (Uwa Guru) Thio Ki."
Kun Hong sampai meloncat-loncat saking kaget, heran, dan bingungnya. "Apa kaubilang? Mana bisa Suko (kakak Seperguruan) Thian Beng Tosu mempunyai anak?"
Li Eng terkikik sambil menutupi mulutnya. "Tentu saja yang beranak bukan Supek melainkan isterinya, hi-hi-hik."
Hui Cu tak dapat menahan geli hatinya, ditutupnya mulutnya yang kecil dengan tangan kanan. "Ih, Eng-moi, jangan bicara tidak karuan."
Juga muka Kun Hong tampak bodoh, matanya terbelalak lebar. Ia benar-benar tidak mengerti. Memang banyak hal yang tidak ia mengerti, di antaranya adalah tentang riwayat sukonya itu, tidak tahu sama sekali bahwa sukonya yang dahulu bernama Thio Ki itu pernah punya isteri.
"Jangan kau main-main! Apakah sepeninggalku dari Hoa-san Suko telah menikah?"
Kembali Li Eng menoleh kepada Hui Cu, "Kaulihat, Cici. Alangkah lucunya. Di samping lucu aneh dan berani, juga ininya... kurang sekali." Ia menunjuk ke arah dahinya yang halus untuk menyindirkan tentang kebodohan Kun Hong. "Paman Hong, nanti kalau sudah pulang, kau akan mendengar sendiri semuanya. Pendeknya, Cici Cu ini adalah anak tunggal dari Supek Thian Beng Tosu."
Bukan main girangnya hati Kun Hong. Dia memang masih mempunyai sifat kekanak- kanakan di samping pengetahuannya yang mendalam tentang iimu kebatinan dan filsafat yang membuatnya kadang-kadang bicara seperti seorang kakek-kakek. Mendengar ini, saking girangnya ia melompat ke depan memegang pundak Hui Cu. Dipandangnya muka nona itu dan berkatalah dia kegirangan.
! Aku mempunyai keponakan dan tahu-tahu sudah begini besar, begini... eh, cantik dan manisnya, Kau bernama Hui Cu? Tentu namamu Hui Cu... tapi kenapa kau tidak mirip Suko? Ah? tentu mirip ibumu." "Aduh senangnya ....
Memang watak Kun Hong aneh bukan main. Dalam keadaan seperti itu, tentu orang- orang akan menganggap ia gendeng atau setidaknya kurang ajar, padahal semua itu timbul dari lubuk hatinya yang benar-benar menjadi girang bukan main. Karuan saja Hui Cu yang alim, pendiam dan pemalu menjadi merah mukanya, dan ia hanya tersenyum sedikit, memandang sekilas lalu tunduk dengan telinga merah, apalagi diketawai oleh Li Eng dan malah mendengar suara ketawa dari banyak pengemis yang hadir di situ.
"Iih, Paman Hong. Kau bikin aku mengiri. Aku bisa marah, lho! Bukan hanya Enci Cu keponakanmu, aku pun keponakanmu, apa kau lupa?"
Kun Hong melepaskan pegangannya pada kedua pundak Hui Cu, lalu memandang Li Eng, keningnya berkerut. "Dia ini puteri Suko, tentu saja seperti keponakanku sendiri. Tapi kau ini, kau bocah nakal, kau anak siapa berani mengaku sebagai keponakanku?"
Li Eng cemberut. "Sudahlah, kalau kau tidak mau mengakui ayah bundaku, sudahlah .... !
Memang orang macam aku mana patut menjadi keponakanmu?"
Hui Cu merangkul Li Eng. "Adik Eng, jangan ngambek. Eh, Paman Hong, sesungguhnya Eng-moi adalah keponakanmu karena dia adalah puteri tunggal dari Bibi Thio Bwee dan Paman Kui Lok yang sekarang sudah berkumpul di Hoa-san-pai."
"Begitukah?" Kun Hong sampai berteriak keras saking girangnya, lalu ia menyambar tangan Li Eng, ditariknya dan seperti gila ia menari-nari sambil menggandeng tangan gadis itu mengelilingi lapangan. "Bagus, kau puteri mereka? Ha, ha, mereka jadinya masih hidup dan sudah kembali ke Hoa-san-pai? Aduh senangnya!"
"Hish... apa-apaan kau ini, Paman Hong?" Li Eng menjadi malu juga karena ia dipaksa
menari-nari tidak karuan, "Dilihat banyak orang, apa tidak malu? Hayo kita pergi dari sini, kembali ke Hoa-san. Sukong mengharap-harap kembalimu."
Kun Hong melepaskan gandengannya. "Aku pun hendak kembali, apalagi sekarang setelah semua berada di sana." Kun Hong lalu menoleh kepada Sin-eng-cu Lui Bok yang sejak tadi hanya melihat dan mendengarkan sambil tersenyum-senyum gembira.
Terhadap kakek ini Kun Hong menjura dan berkata, "Susiok, perkenankan teecu pergi, karena teecu harus kembali ke Hoa-san."
Sin-eng-cu Lui Bok tersenyum dan berkata, "Pulanglah, Kun Hong dan berbahagialah kau. Aku pun akan mencapai kebahagiaan di puncak Bukit Kepala Naga, mendekati mendiang Suheng yang bijaksana." Setelah berkata demikian, Sin-eng-cu Lui Bok berjalan membungkuk-bungkuk sambii memutar-mutar tongkatnya, biarpun kelihatannya jalan seenaknya, namun sebentar saja ia sudah lenyap dari pandangan mata.
Kun Hong berpaling kepada Hwa-i Lo-kai dan menjura.
"Pangcu, harap maafkan kalau kedatanganku ini mengganggu urusanmu. Setelah Susiok pergi, urusan antara dia dan Pangcu sudah habis, perkara pemilihan ketua terserah kepadamu." Ia menoleh kepada Li Eng dan Hui Cu dan berkata gembira,
"Hayo, anak-anak! Hui Cu dan... eh, kau yang nakal siapa namamu?"
Dua orang gadis itu menutupi mulut dengan geli melihat sikap Kun Hong yang lucu dan tolol ini. "Paman Hong, namaku Kui Li Eng, jangan lupa lagi!"
"Hayo kita pergi dari sini!" kata lagi Kun Hong.
Akan tetapi Hwa-i Lo-kai segera melangkah maju dan menjura sambil berkata, "Nanti dulu, Siauw-sicu. Aku atas nama Hwa-i Kai-pang menerima usul Locianpwe Lui Bok tadi untuk menyerahkan Hwa-i Kai-pang ke dalam bimbinganmu. Aku mengangkat kau sebagai ketua baru dari Hwa-i Kai-pang!" Sin-cio The Kok atau Hwa-i Lokai adalah seorang yang amat luas pandangannya.
Memang ia bercita-cita membuat perkumpulan Hwa-i Kai-pang menjadi perkumpulan yang kuat dan sekarang ia melihat ke sempatan yang amat baik untuk memperkuat perkumpulannya itu. Pemuda ini terang adalah seorang luar biasa, sungguhpun kelihatannya tidak memiliki kepandaian ilmu silat, namun memiliki pribadi tinggi dan pengetahuan luas. Apalagi yang mengusulkan supaya pemuda ini diangkat menjadi ketua adalah seorang tokoh besar, yaitu Sin-eng-cu Lui Bok yang ternyata masih susiok pemuda ini. Sekarang, melihat sepak terjang dua orang gadis itu, jelas bahwa pemuda ini selain murid keponakan Sin-eng-cu Lui Bok, kiranya masih mempunyai hubungan erat dengan Hoa-san-pai. Kalau Hwa-i Kai-pang dapat mengangkat pemuda ini menjadi ketua, bukankah berarti bersekutu dengan Sin-eng-cu dan Hoa-san-pai sehingga menjadi amat kuat.
Di lain pihak, Kun Hong gelagapan dan bingung setengah mati mendengar ucapan kakek itu. Ia mengangkat tangan dan menggerak-gerakkan tangannya tanda menolak. "Tidak bisa... tidak bisa, Pangcu. Aku yang bodoh mana bisa menjadi Ketua Hwa-i Kai-pang?"
Pada saat itu terdengar suara Coa-lokai yang keras dan kasar, "Saudara-saudara para anggauta Hwa-i Kai-pang yang masih setia kepada Hwa-i Lo-kai, hayo kita lekas berlutut memberi hormat kepada pangcu yang baru!" Pengemis tinggi besar itu segera menjatuhkan diri berlutut di depan Kun Hong, di belakangnya banyak sekali para pengemis ikut berlutut. Hanya beberapa orang pengemis yang berpihak kepada Beng- lokai dan Sun-lokai tidak mau berlutut, hanya memandang kepada dua orang pemimpin mereka yang berdiri dengan muka merah. Kun Hong makin gugup, apalagi ketika melihat Hwa-i Lo-kai sendiri menjura dan mengangguk-angguk berkali-kali. Ketika ia memandang kepada Coa-lokai yang memelopori para anggauta itu, ia melihat wajah pengemis tua ini berpeluh, dan jelas, kelihatan ia menderita rasa sakit yang hebat, sedangkan lengan pergelangan membengkak. Teringatlah ia betapa dalam membela ketuanya, pengemis ini tadi terluka oleh Sin-eng-cu Lui Bok. Ia segera memberi isyarat dengan tangannya, berkata,
"Lo-kai, kau ke sinilah!"
Dengan sikap hormat dan juga terheran-heran Coa-lokai bangkit dan menghampiri Kun Hong, Pemuda ini tanpa ragu-ragu lagi lalu memegang lengan kanan Coa-lokai. Beberapa kali memijat saja tahulah Kun Hong bahwa tulang lengan itu tidak patah, melainkan terlepas sambungannya. Memang semenjak ia membaca kitab pelajaran ilmu pengobatan dari Toat-beng Yok-mo, pengetahuannya tentang luka dalam dari segala macam penyakit menjadi luar biasa sekali.
"Untung Susiok tadi masih menaruh kasihan kepadamu," katanya perlahan. "Lain kali jangan kau memandang rendah orang seperti dia, Lo-kai." Ia memijat sana menotok sini dan sebentar saja sambungan tulang pergelangan itu telah baik kembali dan lengan itu mengempis lagi. "Masukkan tanganmu yang ini ke dalam saku dan jangan digerak- gerakkan selama sehari semalam. Tentu akan sembuh kembali."
Tidak hanya Coa-lokai yang kegirangan dan terheran-heran, namun semua orang di situ terheran-heran, termasuk Li Eng dan Hui Cu.
"Terima kasih banyak atas pertolongan Pangcu," kata Coa-lokai sambil melangkah mundur.
"Aku bukan ketuamu, ketuamu adalah Hwa-i Lo-kai itulah," kata Kun Hong.
"Tidak, kaulah Pangcu yang baru, Siauw-sicu. Dan inilah tanda ketua, harap kau sudi menerimanya dariku." Hwa-i Lo-kai lalu mengeluarkan sebatang tongkat kecil yang berlukiskan kembang-kembang indah, diangsurkan kepada Kun Hong.
Tentu saja Kun Hong tidak mau menerimanya. "Jangan, Pangcu. Aku tidak berani menerimanya. Kau tetaplah menjadi Pangcu atau pilihlah di antara pembantumu. Aku akan pulang ke Hoa-san."
Berkerut kening Hwa-i Lo-kai dan wajah kakek ini menjadi pucat. "Sicu, ada satu peraturan yang kami pegang keras, yaitu apabila kami dihina, kami harus mempertahankan nyawa untuk menebus hinaan. Penolakanmu terhadap pemilihan ketua merupakan penghinaan bagi kami. Akan tetapi, karena kau adalah seorang mulia dan budiman yang telah menolong nyawaku dari ancaman mati di tangan Sin-eng-cu, bagaimana aku dapat berbuat dosa terhadapmu? Karena itu, apabila kau tetap menolak untuk menerima tawaran kami menjadi Pangcu dari Hwa-i Kai-pang, aku tua bangka akan membunuh diri di depan kakimu untuk menebus penghinaan ini dan selanjutnya tentang Hwa-i Kai-pang kuserahkan kepadamu!" Setelah berkata demikian, kakek itu mencabut pedangnya, siap untuk melakukan pembunuhan diri.
"Heeiii, jangan...!" Kun Hong maju dan memegang lengan Ketua itu yang memegang pedang, "Sabarlah, Pangcu... wah, bagaimana ini baiknya? Kau tidak boleh membunuh diri!"
"Kalau Sicu menolak, terpaksa aku membunuh diri menebus penghinaan."
Kun Hong memutar otaknya dan pemuda yang cerdik ini sudah mendapat jalan.
"Baiklah... baiklah, kausimpan dulu pedangmu."
Dengan muka girang Hwa-i Kai-pang menyimpan pedangnya dan memberikan tongkat kecil itu. Terpaksa Kun Hong menerimanya dan para pengemis anggauta Hwa-i Kai-pang bersorak girang, kecuali mereka yang tidak setuju.
"Begini Hwa-i Lo-kai. Setelah aku menjadi ketua, tentu semua anggauta Hwa-i Kai-pang, termasuk kau sendiri, akan taat dan menurut perintahku, bukan?"
"Tentu saja, biarpun disuruh menyerbu ke dalam lautan api, kami akan taat terhadap perintah pangcu" kata Hwa-i Lo-kai penuh semangat.
"Nah, bagus! Sekarang perintahku yang pertama. Aku mengangkat kau menjadi Ji- pangcu (ketua ke dua) yang mewakili aku memimpin Hwa-i Kai-pang jika aku tidak berada di sini. Kau boleh memilih pembantu sendiri , dan selama aku tidak berada di sini, kaulah yang menjadi wakilku dengan kuasa sepenuhnya. Sekarang aku mempunyai keperluan penting sekali, harus kembali ke Hoa-san, maka kaulah yang menjadi wakilku untuk sementara."
Semua orang tahu belaka bahwa ini adalah akal pemuda itu, akan tetapi karena merupakan perintah, tentu saja tidak ada yang berani membantah.
"Tentu saja Lo-kai taat terhadap perintah Pangcu, akan tetapi harap saja Pangcu tidak menganggap ini sebagai main-main dan jangan menegakan kami Hwa-i Kai-pang," kata kakek itu.
Li Eng adalah seorang gadis yang banyak pengertiannya tentang kang-ouw, maka ia segera berkata kepada Hwa-i Lo-kai, "Lo-kai, harap kaumaklumi keadaan Pamanku ini. Ketahuilah, dia adalah putera tunggal dari Ketua Hoa-san-pai, sebelum menerima ijin ayahnya, mana dia berani berdiam di sini menjadi ketua Hwa-i Kai-pang?"
Hwa-i Lo-kai nampak terkejut. Memang sama sekali ia tidak menduga bahwa pemuda ini adalah putera Ketua Hoa-san-pai! Akan tetapi Kun Hong sudah menerima tongkat dan sudah menjadi Ketua Hwa-i Kai-pang, maka diam-diam ia menjadi makin girang.
"Ah, kiranya Pangcu kita yang baru adalah putera Hoa-san-pai Ciang-bunjin. Tentu saja perintah Pangcu kami taati dan kami harap saja setelah tiba di Hoa-san dengan selamat, lain kali Pangcu memerlukan membuang waktu untuk menengok keadaan kami."
Kun Hong girang. Ia menganggap bahwa akalnya berhasil. Hanya namanya saja menjadi ketua, apa salahnya? Ia mengangguk-angguk dan tersenyum.
Akan tetapi dengan marah Beng-lokai dan Sun-lokai melompat maju. Beng-lokai dan Sun-lokai ini tadinya masih tidak berani banyak tingkah ketika Sin-eng-cu Lui Bok masih berada di situ karena maklum akan kelihaian kakek itu. Akan tetapi sekarang setelah kakek itu pergi, mereka tidak takut lagi, lebih-lebih karena memang mereka ini mempunyai pendukung-pendukung di belakang mereka.
"Tidak adil sekali keputusan ini!" seru Sun-lokai.
"Aku tidak setuju kalau ketua baru dipilih orang luar!" seru Beng-lokai.
"Kalau Pangcu hendak mengundurkan diri, seharusnya yang menjadi calon adalah kami bertiga lo-kai, dan di antara kami bertiga dipilih yang paling cakap untuk menjadi ketua baru. Kenapa sekarang memilih seorang bocah luar yang masih ingusan? Aku tidak setuju akan keputusan ini!" kata pula Sun-lokai.
"Betul sekali ucapan Sun-lokai. Aku pun tidak mau terima, kalau bocah tolol ini dapat memecahkan dadaku, baru aku mau mengakui Ketua Hwa-i Kai-pang.
Eh, bocah sombong, hayo maju dan lawanlah aku!" Beng-lokai menantang.
"Hayo, perlihatkan kegagahanmu, kalau kau memang laki-laki!" tantang pula Sun-lokai dan dua orang kakek itu sudah mencabut pedang masing-masing.
"Aku tidak bisa berkelahi, juga tidak mau berkelahi, Ji-wi Lo-kai harap sabar dan mundur karena mulai sekarang Ji-wi kuanggap bukan pengurus Hwa-i Kai-pang lagi. Aku tidak
mau melihat pengurus atau anggauta Hwa-i Kai-pang yang suka berkelahi dan kelihatan sekali hasratnya untuk memperebutkan pangkat dan kedudukan. Ji-wi akan memberi contoh yang buruk kepada para anggauta. Harap Ji-wi mundur."
Bukan main marahnya Beng-lokai. Terang-terangan mereka dipecat! "Kau... kau...!" Beng-lokai hendak memaki akan tetapi saking marahnya tidak ada kata-kata keluar dari mulutnya, sedangkan Sun-lokai maju dengan sikap mengancam.
Hwa-i Lo-kai membentak, "Beng-lokai dan Sun-lokai, kalian sudah mendengar perintah Pangcu. Mulai saat ini kalian bukan pembantu pengurus dan dikeluarkan dari keanggautaan. Lepaskan tali-tali putih dari pinggang kalian."
Muka dua orang pengemis itu menjadi pucat saking marahnya, tanpa berkata sesuatu mereka melepaskan ikat pinggang putih tujuh helai dari pinggang masing-masing, kemudian dengan suara lantang mereka berkata kepada Kun Hong,
"Kami sekarang sebagai orang luar menantang kepada ketua baru dari Hwa-i Kai-pang untuk mengadu kepandaian. Kalau tidak berani, maka ketua baru dari Hwa-i Kai-pang hanyalah seorang pengecut hina
...." Yang mengeluarkan kata-kata ini adalah Beng-lokai dan terpaksa ia berhenti karena tiba-tiba Hui Cu sudah berdiri di depannya dengan pedang di tangan.
"Keparat bermulut kotor!" gadis ini membentak dengan suara nyaring dan mata berapi-
api, "Manusia, tak tahu diri, pamanku sengaja mengalah kepadamu akan tetapi malah membuat kepalamu membesar dan mulutmu melebar. Siapa sih yang takut kepada manusia macammu? Biar ada sepuluh orang macam kau, majulah semua dan tidak usah Paman Hong menggerakkan tangan biar yang sepuluh itu dilawan oleh aku seorang."
"Hi-hik!" Li Eng mengeluarkan suara ketawa ditahan. "Biasanya Enci Cu pendiam dan penyabar, sekarang mendadak pintar memaki dan mudah marah!"
Kun Hong yang kuatir kalau-kalau keponakannya mencari gara-gara, segera maju dan berkata kepada Hui Cu, "Hui Cu, jangan kau sembarangan membunuh orang. Aku larang kau membunuh orang!!"
Hui Cu mengerling sekilas ke arah Kun Hong sambil menjawab, "Paman Hong, yang begini ini sebetulnya tak patut disebut orang dan kalau tidak dibunuh hanya akan mengotori dunia. Akan tetapi karena kau melarang, baiklah, aku takkan membunuhnya, cukup membikin dia bertobat."
Tentu saja Beng-lokai menjadi makin marah. Orang bicara seenaknya saja tentang dirinya, seakan-akan dia ini seekor tikus saja. Dan yang bicara hanya seorang gadis muda yang lebih patut disebut kanak-kanak. Ia mengeluarkan suara menggereng,
"Ketua baru benar pengecut! Tidak berani maju sendiri mengandalkan wanita .... "
"Plakk!" Entah bagaimana, tahu-tahu tangan kiri Hui Cu telah menampar pipi kanan Beng-lokai, membuat kakek ini sempoyongan dan meraba pipinya yang sudah menjadi bengkak. Matanya melotot, mukanya merah dan napasnya berat, tanda bahwa kemarahannya sudah memuncak. Saking marahnya ia sampai tidak memperhitungkan bahwa dengan gerakannya tadi Hui Cu sudah memperlihatkan kelihaiannya.
"Hi-hik, Enci Cu. Kalau kau nanti tidak mencuci tanganmu dengan air panas, aku tidak
mau menyentuh tangan kirimu yang berbau keledai!" Li Eng berkata dan terdengarlah suara ketawa di sana-sini, terutama dari pihak para anggauta yang tldak suka kepada Beng-lokai. Memang Li Eng seorang gadis yang berwatak nakal dan pandai bicara.
Beng-lokai yang sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi itu, sudah menerjang Hui
Cu dengan serangan pedangnya. Hui Cu cepat meloncat ke tengah pelataran dan kakek itu mengejarnya. Di sinilah Hui Cu memperlihatkan kepandaiannya. Dengan gerakan yang amat indah ia mainkan pedangnya sehingga Kun Hong yang melihat menjadi melongo. Sebagai putera pendekar, tentu saja ia seringkali melihat orang bermain pedang, akan tetapi belum pernah ia melihat permainan pedang yang begini indahnya, seperti orang menari saja. Beng-lokai juga bermain pedang, akan tetapi dibandingkan dengan permainan Hui Cu, permainan pedangnya jelek sekali sehingga mereka merupakan pasangan penari pedang yang tidak seimbang. Hampir lupa Kun Hong bahwa dua orang itu sama sekali bukannya sedang menari, melainkan sedang saling serang dan bahwa dua pedang yang berkelebat itu sebetulnya sedang mengarah
nyawa! Memang indah gerakan pedang Hui Cu. Hal ini tidak aneh kalau diingat bahwa ibunya, Lee Giok, adalah murid dari Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan dan biarpun ia belum mewarisi seluruhnya ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut yang hebat dan indah, sedikit banyak ia telah mewarisi gayanya yang indah seperti orang menari. Dan tentu saja Lee Giok menurunkan seluruh ilmu pedang dan kepandaiannya kepada puterinya ini.
Begitu bergerak, Li Eng yang jauh lebih tinggi tingkat ilmu pedangnya itu maklum bahwa Hui Cu takkan kalah maka ia pun lalu menghampiri Sun-lokai dan menudingkan telunjuknya ke arah hidung pengemis yang agak bongkok itu.
"Apa kau juga ingin menantang pamanku? Kalau betul, kau boleh keluarkan pedangmu dan menyerangku. Aku akan melayanimu dengan sabuk suteraku ini. Berani tidak kau?" Kata-katanya bernada mengejek sekali sehingga pengemis tua yang bongkok itu menjadi marah. Biarpun tua dan bongkok, Sun-lokai mempunyai watak mata keranjang. Menghadapi seorang gadis muda yang cantik jelita seperti Li Eng, belum apa-apa hatinya sudah berdebar tidak karuan.
"Li Eng, kau pun tidak boleh membunuh orang!" Dengan hati kecut dan penuh kekuatiran Kun Hong membentak ke arah Li Eng. Ia sudah tahu akan kenakalan dan keganasan gadis itu, maka ia benar-benar kuatir kalau-kalau "keponakan" ini akan menimbulkan kekacauan dan membunuh orang.
Li Eng membalikkan tubuhnya dan membungkuk ke arah Kun Hong dengan lagak seperti
seorang hamba terhadap rajanya sambil berkata, "Hamba mentaati perintah Paduka Paman Raja!"
Akan tetapi Kun Hong tidak dapat menerima kelakar ini, malah membelalakkan matanya dan berseru kaget, "Li Eng, awas belakangmu!"
Pada saat Li Eng membelakanginya, Sun-lokai sudah menerjang maju menusukkan pedangnya ke punggung gadis itu. Hwa-i Lo-kai membentak marah dan kaget menyaksikan ini, juga semua orang kaget sekali dan mengira bahwa tusukan yang cepat dan hebat ini pasti ,akan menewaskan Li Eng.
Tapi orang yang dikuatirkan enak saja. Tanpa menoleh Li Eng ,menggerakkan tangannya dan seperti ada mata tajam di belakang tubuhnya, sabuk sutera hitam di tangannya menyambar ke belakang dan menangkis tusukan pedang itu. Para pengemis bersorak gembira menyaksikan kehebatan gadis lincah ini. Apalagi ketika Li Eng dengan gerakan yang amat lincahnya telah berputar dan kini sabuk sutera hitam itu berkelebat, mengeluarkan bunyi seperti cambuk dan bertubi-tubi menyerang semua bagian tubuh yang berbahaya dari Sun-lokai!
Pertempuran terbagi menjadi dua bagian. Akan tetapi baik Beng-lokai maupun Sun-lokai berada di pihak yang terdesak hebat. Juga Beng-lokai amat payah menghadapi permainan pedang Hui Cu, yang indah namun mempunyai daya serang yang amat ganas itu. Yang paling celaka adalah Sun-lokai karena semenjak Li Eng menghadapinya, ia sama sekali ,tidak dapat balas menyerang, melainkan harus menangkis dan mengelak karena kedua ujung sabuk hitam itu bagaikan ular-ular hidup menyambar-nyambar cepat sekali. Akhirnya sabuk itu membelit jari-jari tangan kanannya dan sekali renggut pedangnya terlepas dari tangannya, jatuh ke atas tanah. Tidak berhenti sampai di situ saja, ujung- ujung sabuk itu terus memecutinya ke muka, leher, dan dadanya. Sun-lokai berteriak- teriak kesakitan dan berloncatan sambil mundur, akan tetapi sabuk itu mengejarnya terus. Bahkan ketika ia membalikkan tubuh hendak keluar dari lapangan pertempuran, ujung sabuk itu mengeluarkan bunyi "tar-tar-tar!" melecuti pantatnya, membuat ia berjingkrak- jingkrak kesakitan! Dan pada saat itu pun Beng-lokai terluka lengan kanannya sehingga pedangnya terlempar pula.
!" Sin-chio The Kok atau Hwa-i Lo-kai mencegah, namun terlambat sudah. Coa-lokal sudah menyerang dengan hebat, malah mempergunakan pedangnya. Semua orang melihat betapa pedang di tangan Coa-lokai itu menyambar ganas dan agaknya kakek yang diserangnya itu sama sekali tidak bergerak, akan tetapi entah bagaimana, tahu-tahu terdengar pedang berkerontangan di atas lantai dan tubuh Coa-lokai terlempar ke belakang. Padahal kakek itu hanya mengangkat sedikit tongkatnya yang butut. Ketika dilihat ternyata Coa-lokai yang merintih-rintih itu patah tulang lengannya. "Coa-lokai, jangan ....
Sin-chio The Kok terkejut sekali. Bukan main hebatnya kepandaian dari Sin-eng-cu Lui Bok ini. Ia cepat menjura dan berkata,
"Pembantuku telah tak tahu diri menyerangmu, akulah yang mintakan maaf dan harap Sin-eng-cu suka bersabar menanti sampai aku selesai mengadakan pemilihan ketua."
Sin-eng-cu Lui Bok tertawa dan hanya berkata, "Silakan..., silakan .... "
Kun Hong melangkah maju dan menjura kepada Ketua Hwa-i Kai-pang itu.
"Tidak tahunya Locianpwe ini yang bernama Sin-chio The Kok dan sekarang menjadi Ketua Hwa-i Kai-pang. Pangcu, aku kebetulan datang bersama Susiok Sin-eng-cu mendengar bahwa di sini hendak diadakan pemilihan ketua baru. Kenapa kau membiarkan saja orang-orangmu berebutan kedudukan ketua? Kalau kau sendiri yang menjadi ketuanya, perlu apa diganti lagi? Kulihat kau seorang yang berjiwa gagah, kenapa hendak mundur? Kalau perkumpulan yang bertujuan memperbaiki nasib orang- orang jembel yang sengsara ini terjatuh ke dalam tangan ketua tukang berkelahi, bukankah akan celaka?"
"Ha, betul sekali omonganmu, Siauw-kongcu!" Tiba-tiba Coa-lokai yang sudah berdiri lagi dengan tangan dibalut berkata keras. "Memang Pangcu tidak perlu diganti lagi!"
"Pangcu, kalau terpaksa dilakukan penggantian ketua, kurasa satu-satunya orang yang patut menggantimu adalah orang tua tinggi besar ini," Kun Hong menudingkan telunjuknya ke arah Coa-lokai. "Dia jujur dan setia sekali kepadamu."
Memang biarpun masih muda, pandangan mata Kun Hong amat mendalam dan sekali melihat saja ia tahu bahwa Coa-lokai adalah seorang yang setia dan jujur, sama sekali tidak memiliki pamrih untuk memperebutkan kedudukan, terbukti dari pembelaannya kepada ketuanya dan menyerang Sin-eng-cu tadi, kemudian kata-katanya sekarang.
Diam-diam Hwa-i Lo-kai kagum memandang Kun Hong. Bocah ini benar-benar luar biasa dan ucapannya seperti orang yang sudah matang pengalamannya saja. Kalau bocah ini menyebut susiok (paman guru) kepada Sin-eng-cu, tentulah dia memiliki kepandaian hebat pula.
Pada saat itu, Sun-lokai dan Beng-lokai sudah siap mendekati Kun Hong. Sun-lokai berseru marah, "Untuk apa mendengarkan omongan bocah gila itu? Usir saja dia dari sini, mengacaukan pemilihan ketua!"
"Betul, Pangcu. Bocah ini mencampuri urusan kita. He, bocah tak tahu aturan, lebih baik kau tutup mulutmu dan pergi dari sini. Kalau tidak, mulutmu akan kuhancurkan dengan kepalanku."
"Ji-wi Lo-kai jangan kurang ajar terhadap tamu!" Hwa-i Lo-kai cepat mencegah karena ia merasa tidak enak sekali terhadap Sin-eng-cu.
Kun Hong tersenyum dan Sin-eng-cu hanya tersenyum-senyum saja. "Pang-cu, apakah dua orang ini juga pembantu-pembantumu? Alangkah jauh bedanya dengan Coa-lokai."
"Eh, orang muda, kau tadi datang-datang melawan kami bertempur untuk menentukan kemenangan. Ada hak apakah kau mencampuri urusan Hwa-i Kai-pang?" bentak, Sun- lokai.
Kini Kun Hong bicara dengan muka sungguh-sunggu,"Lo-kai, aku mendengar bahwa perkumpulan ini adalah perkumpulan Hwa-i Kai-pang dan perkumpulan pengemis tentu
bertujuan untuk menolong para pengemis dan memperbaiki nasib mereka. Akan tetapi mengapa untuk menentukan seorang ketua harus memilih yang pandai ilmu silat dan kalian tadi saling gempur sendiri? Apakah Hwa-i Kai-pang mau dijadikan perkumpulan tukang pukul?"
"Kau mengaku keponakan Sin-eng-cu, tapi omongan apa yang kau keluarkan ini?" Sun- lokai membentak, makin marah, "Kalau ketua kita seorang yang lemah, mana bisa memimpin Hwa-i Kai-pang?"
"Ah, salah sama sekali!" Kun Hong berseru penasaran, "Apakah hanya seorang tukang pukul saja yang dapat memimpin? Memimpin dengan cara ,kekerasan dan kekuatan sama sekali tidak baik."
Kini Beng-lokai juga mendekati Kun Hong. "Kau anak kecil bicara besar. Kalau seorang pemimpin tidak memiliki ilmu silat tinggi dan menggunakan kekerasan, mana bisa para anggauta dipimpin dan mana mereka bisa menaati ketuanya?"
KunHong mengalihkan pandangnya kepada pengemis tua gemuk pendek ini.
"Inilah sebabnya kukatakan salah. Memimpin dengan kekerasan mengandalkan kepandaian silat memang bisa membikin anggautanya taat, akan tetapi taat karena terpaksa. Bukan taat yang timbul dari hati sejujurnya, melainkan taat untuk menjilat. Seharusnya kalian mempunyai seorang ketua yang bijaksana, yang betul-betul dapat mengatur sehingga di antara para pengemis tidak saling gempur, dapat menuntun mereka ke arah kejujuran, kesetiaan dan jalan benar sehingga mereka dapat menemukan kembali lapangan pekerjaan yang terhormat."
Tiba-tiba terdengar suara ketawa yang membuat semua orang menengok karena yang tertawa terkekeh-kekeh ini adalah Sin-eng-cu Lui Bok yang kini semua orang di situ tahu sebagai musuh besar Ketua Hwa-i Kai-pang. "Heh-heh-heh, Sin-chio The Kok, kalau benar-benar sayang kepada perkumpulanmu, kalau kau ingin melihat perkumpulanmu menjadi maju dan sempurna, kau angkatlah Kwa Kun Hong ini menjadi ketua menggantikanmu."
Merah muka Ketua Hwa-i Kai-pang itu dan ia memandang tajam. "Sin-eng-cu, apakah selain datang hendak mengambil nyawaku kau pun bermaksud merampas kedudukan kai- pang untuk murid keponakanmu?" Pertanyaan ini keras dan pedas dan para anggauta Hwa-i Kai-pang juga menjadi berisik.
"Ho-ho-ho, setelah berkumpul dengan orang-orang jahat kau makin tersesat, Sin-chio The Kok. Memang tadinya ketika aku mengabarkan kedatanganku kepadamu, sudah bulat dalam hatiku untuk membunuhmu, membalaskan muridku yang kaubunuh dahulu. Akan tetapi ketahuilah, setelah aku bertemu dengan murid keponakanku yang hebat ini, sekaligus dia bisa mengusir niatku itu dari otakku. Aku tidak ingin membunuhmu lagi, The Kok. Ha-ha-ha, benar dia ini, kau sudah cukup tersiksa akibat perbuatanmu sendiri. Biarpun dia ini murid keponakanku, dalam hal kebijaksanaan aku boleh berguru
kepadanya. Karena itu, kalau dia yang menjadi ketua, aku tanggung Hwa-i Kai-pang akan menjadi perkumpulan yang besar dan maju, dan anak buahmu ini sebentar saja akan berubah menjadi manusia-manusia benar. Tidak seperti kalau kau atau pengemis- pengemis bangkotan ini yang menjadi ketua, para pengemis diajar silat, kelak dari pengemis berubah menjadi perampok. Heh-heh-heh."
Kaget bukan main hati The Kok mendengar ini. Ada perasaan lega, girang, terharu dan
juga malu. Ia menoleh dan memandang kepada Kun Hong yang masih berdiri tegak dengan sikap tenang sekali. Jadi bocah yang sikapnya aneh ini malah telah menolong nyawanya dari ancaman Sin-eng-cu. Ia tadinya sudah maklum bahwa ia pasti akan tewas di tangan Sin-eng-cu karena dalam hal ilmu silat, ia jauh di bawah tingkat kakek itu. Sekarang Sin-eng-cu malah mengusulkan supaya pemuda yang bernama Kwa Kun Hong ini menjadi ketua Hwa-i Kai-pang.
"Sin-eng-cu, kau mengaku dia sebagai murid keponakanmu, sebetulnya pemuda ini murid siapakah?" tanyanya, agak meragu.
Kakek kurus itu tertawa lagi, "Ha-ha-ha, jangan bicara tentang ilmu silat dengan Kun Hong, karena mungkin dia tidak akan mampu dan suka membunuh seekor kucing pun, akan tetapi dia ini murid suhengku, gurunya adalah mendiang Bu Beng Cu."
Tidak ada yang mengenal Bu Beng Cu, juga Sin-chio The Kok tak pernah mendengarnya. Akan tetapi kalau pemuda ini murid suheng dari Sin-eng-cu, sudah dapat dipastikan kepandaiannya tinggi juga. Persoalan Ketua Hwa-i Kai-pang bukanlah hal yang remeh, untuk memilih ketua harus dipilih orang yang betul-betul tepat. Bagaimana ia bisa menerima seorang pemuda yang sama sekali belum ia ketahui keadaannya ini untuk memimpin anggauta. Hwa-i Kai-pang yang ratusan orang jumlahnya.
Selagi ia ragu-ragu, Beng-lokai dan Sun-lokai sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi. Beng-lokai berkata kepada Kun Hong,
"Bocah ini mau menjadi ketua kami? Ha-ha-ha, boleh saja asalkan dia mampu mengalahkan aku."
"Juga harus bisa merobohkan aku, baru berhak menjadi ketua." kata Sun-lokai sambil menggeser kaki mendekati.
Melihat ini, tiba-tiba Sin-chio The Kok mendapatkan pikiran amat bagus. Dua orang pembantunya ini memang tepat untuk menguji kepandaian pemuda itu. Maka ia berkata kepada Sin-eng-cu, "Kalau pemuda ini berani menghadapi Beng-lokai dan Sun-lokai serta mengalahkan mereka, aku menerimanya menjadi ketua Hwa-i Kai-pang menggantikan aku. Memang betul bahwa untuk membimbing para anggauta tak perlu dipergunakan ilmu silat, akan tetapi tanpa memiliki kepandaian tinggi, mana mampu menjaga keamanan perkumpulan dan mana bisa menghalau segala orang-orang jahat?"
"Orang muda, kau dengar sendiri. Ketua kami sudah mengijinkan kami berdua
menghadapimu. Hayo kau robohkanlah kami." kata Beng-lokai dengan sikap mengejek dan terdengarlah suara tertawa para pengemis pengikut kedua orang pembantu ini.
Kun Hong mengerutkan alisnya dan menggelengkan kepala. "Aku tidak pernah berkelahi dan aku pun tidak mau berkelahi. Aku bukanlah tukang pukul!" Ucapan ini memancing datangnya tertawaan lagi di kalangan anggauta Hwa-i Kai-pang. Perkumpulan ini mengutamakan ilmu silat dan kegagahan, malah semua orang anggautanya mempelajari ilmu silat. Bagaimana sekarang hendak mengangkat seorang pemuda lemah seperti itu sebagai ketua.
Kun Hong tidak peduli akan suara tertawa dan ejekan yang dilontarkan kepadanya, akan tetapi Sin-eng-cu menjadi merah mukanya. "Eh, Kun Hong, kau memalukan aku saja. Apakah kau takut menghadapi dua orang pengemis busuk ini?"
Sepasang mata Kun Hong berkilat dia adalah keturunan seorang pendekar besar, ibunya pun seorang pendekar wanita, darah kesatria mengalir di tubuhnya dan bagi keluarganya, kata-kata takut tidak terdapat dalam kamus,
"Aku tidak takut kepada siapapun juga, aku hanya takut kalau-kalau aku akan menyimpang dari kebenaran." Jawaban Kun Hon ini adalah ucapan kuno yang pernah ia baca dalam kitab-kitabnya.
"Ha-ha-ha, bocah sombong, kalau kau tidak takut, hayo lawan kami berdua." Beng-lokai berkata lagi.
Karena maklum bahwa Kun Hong tak mungkin mau menyerang orang, Sin-eng-cu lalu berkata kepada dua orang pembantu ketua itu, "Heh, dua orang jembel busuk, terhadap dua orang badut seperti kalian yang jauh lebih rendah tingkatnya, murid keponakanku mana mau turun tangan? Jangan kalian hanya petentang-petenteng menjual lagak, kalau ada kepandaian, hayo kalian boleh menyerang.
Sun-lokai orangnya cerdik. Kalau kakek ini mencampuri dan turun tangan tentu mereka akan kalah. Tadi sudah terbukti betapa hebatnya kepandaian kakek ini ketika merobohkan Coa-lokai. Malah Hwa-i Lo-kai sendiri kelihatan takut kepada kakek ini. Ia lalu tertawa dan berkata,
"Sin-eng-cu Lui Bok adalah seorang Locianpwe yang tingkatnya lebih tinggi dari kami yang bodoh. Kalau Locianpwe maju membantu bocah ini nanti, kami tentu akan kalah akan tetapi bukan kami yang akan menjadi buah tertawaan dunia kang-ouw."
Sin-eng-cu memandang dengan mata melotot. "Monyet kau. Kalau aku memang berkehendak merobohkan manusia-manusia monyet macam kau, perlu apa aku banyak cerewet lagi? Kalian boleh serang dia, biarpun dia sampai terpukul mampus oleh kalian, aku tidak akan membantunya. Dengar janjiku ini!"
Lega dan girang hati Sun-lokai mendengar ini. Ia sudah berhasll membakar hati kakek itu dan sekarang ia dan Beng-lokai tidak usah takut akan turun tangannya kakek yang lihai itu. Mereka berdua memberi isyarat dengan pandang mata, lalu berbareng mereka menyerang Kun Hong sambil berkata, "Bocah sombong, awas, kalau sakit atau mati jangan persalahkan kami."
Selama hidupnya Kun Hong belum pernah berkelahi. Kini menghadapi dua orang yang tiba-tiba menyerangnya dengan pukulan-pukulan hebat, ia menjadi kaget dan gugup. Akan tetapi dengan beberapa langkah saja ia sudah dapat menghindarkan diri dari penyerangan dua orang itu. Dalam pandangannya, penyerangan dua orang ini amat lambat dan mudah dikelit. Rajawali Emas kalau sedang melatihnya jauh lebih gesit dan berbahaya. Oleh karena itu, dengan tenang-tenang dan mudah Kun Hong berhasil mengelakkan semua serangan yang datang bertubi-tubi dari dua orang pengemis lihai tadi.
Bagi semua orang, kecuali Sin-eng-cua lui Bok, gerakan-gerakan Kun Hong tidak karuan dan kacau-balau, kelihatan seperti orang ketakutan dan beberapa kali hendak roboh, terhuyung-huyung, kadang-kadang berjongkok, berdiri, berlari kecil, malah kadang- kadang merangkak. Akan tetapi semua serangan selalu mengenai tempat kosong, menyentuh ujung bajunya pun tidak dapat. Makin lama para pengemis yang menonton menjadi makin tegang dan kemudian bersorak-sorak karena perkelahian yang tidak seimbang itu memang amat lucu. Kun Hong seperti seekor tikus yang dikejar dan diperebutkan dua ekor kucing, ditubruk sini nyelinap sana, diterkam sana mengelak ke sini. Tak seorang pun menganggap bahwa pemuda itu pandai ilmu silat karena gerakan- gerakan yang kacau balau dan tidak teratur itu mana bisa disebut. ilmu silat? Bagi mereka, dianggapnya bahwa Kun Hong ketakutan dan kebingungan dan bahwa dua orang lokai itu memang sengaja tidak mau melukainya atau hendak mempermainkannya terlebih dulu. Tak seorang pun tahu bahwa diam-diam dua kakek pengemis itu kaget dan heran bukan main, tengkuk mereka terasa dingin dan bulunya pada berdiri. Hampir mereka itu tak dapat mempercayai kalau tidak mereka hadapi sendiri. Siapa tidak menjadi seram kalau sudah mengeluarkan seluruh kepandaian untuk memukul roboh pemuda lemah ini, akan tetapi tak perah mengenai sasaran? Padahal tampaknya pukulan-pukulan, dan tendangan-tendangan sudah tepat, namun heran sekali, begitu tiba pada sasaran, mendadak yang dijadikan sasaran sudah berpindah tempat. Maka kedua orang pengemis ini setelah lewat lima puluh jurus, menjadi pucat dan penuh keringat.
Selain Sin-eng-cu yang diam-diam mengagumi Kim-tiauw-kun ciptaan suhengnya, juga Sin-chio The Kok memandang dengan mata terbelalak. Ia pun bingung dan merasa heran, apalagi kalau melihat gerakan Kun Hong begitu kacau-balau seperti orang mabuk. Akan tetapi karena memang tingkat kepandaian The Kok sudah tinggi, makin lama makin teranglah baginya bahwa gerakan atau langkah-langkah kaki Kun Hong itu biarpun kelihatan kacau, sebenarnya adalah langkah-langkah ajaib yang luar biasa sekali. Begitu ia memperhatikan langkah-langkah itu, terasa matanya berkunang dan kepalanya pening. Ia terkejut dan cepat mengumpulkan Iwee-kang untuk menahan kepusingan. Ia mengerahkan tenaga untuk memperhatikan terus, akan tetapi akhirnya ia harus mengalah,
harus mengalihkah perhatiannya. Langkah itu demikian ajaib dan luar biasa sehingga kalau ia paksa, mungkin akan membuat ia jatuh pingsan.
Ketua Hwa-i Kai-pang ini maklum bahwa pemuda aneh itu benar-benar telah mewarisi ilmu yang ajaib dan tahu bahwa kedua orang pembantunya tentu akan menderita celaka kalau dilanjutlkan, maka ia bermaksud nnenghentikan pertempuran itu. Akan tetapi sebelum ia membuka mulut, tiba-tiba berkelebat bayangan orang yang gesit sekali dibarengi bentakan halus.
"Dua orang tua bangka tak tahu malu berani kau menghina pamanku?" Gerakan bayangan ini gesit sekali, berbareng menyambar sinar hitam dan tahu-tahu Beng-lokai dan Sun-lokai terhuyung-huyung ke belakang.
Ketika semua orang memperhatikan, bayangan itu adalah seorang gadis yang cantik dan gagah, yang memegang sehclai sabuk hitam yang tadi ia pergunakan untuk menyerang dua orang itu sehingga mereka terhuyung-huyung kebelakang. Pada saat berikutnya, kembali berkelebat bayangan orang dan seorang gadis lain yang juga cantik manis sudah berdiri disitu dengan sikap gagah.
Beng-lokai dan Sun-lokai kaget sekali, akan tetapi mereka menjadi marah ketika mendapat kenyataan bahwa yang menyerang mereka tadi hanyalah seorang gadis muda. Berbareng mereka mencabut pedang dan siap menerjang dua orang gadis itu. Gadis yang memegang sutera hitam itu tersenyum mengejek, sedangkan gadis kedua juga tiba-tiba menggerakkan tangan dan tahu-tahu sebatang pedang tipis tajam telah berada di tangannya.
"Hi-hik, kalian ini dua ekor keledai tua apakah sudah bosan hidup? Cu-cici (Kakak Cu), mari kita basmi dua ekor keledai yang sudah berani kurang ajar terhadap Paman Hong ini."
Kun Hong segera mengenal gadis pertama, seorang gadis lincah jenaka dan cantik yang bermata seperti bintang pagi. Teringatlah ia ketika ia dahulu dikerek oleh gadis ini ke atas pohon mempergunakan sabuk sutera hitam itu. "Eh... eh... kau... anak nakal... jangan berkelahi!" katanya mencegah.
Sementara itu, Hwa-i Lo-kai juga mernbentak kedua orang pembantunya,
"Beng-lokai dan Sun-lokai, harap kalian mundur dan simpan senjata!" Suaranya berpengaruh dan tegas sehingga dua orang pembantunya yang masih penasaran itu tidak berani membantah lagi, dengan muka keruh mereka segera mundur.
Sementara itu, Kun Hong memandang kepada gadis-gadis itu, memandang heran dan keningnya berkerut. Ia mengenal gadis pertama yang dalam anggapannya adalah seorang gadis yang berwatak nakal dan jahat, suka berkelahi dan kejam. Ia merasa kuatir kalau- kalau kedatangan gadis ini lagi-lagi akan mendatangkan bencana, bunuh membunuh
antara sesama manusia seperti yang ia saksikan di Hoa-san dahulu itu. Akan tetapi ia jaga heran mengapa gadis itu tadi menyebutnya sebagai pamannya.
"Eh, Nona yang nakal, bagaimana kau sampai tersesat ke tempat ini dan sejak kapan aku menjadi pamanmu?" tegurnya dengan suara galak.
Gadis itu yang bukan lain adalah Kui Li Eng, berseri mukanya, matanya bercahaya jenaka dan ia tidak menjawab, melainkan ia menoleh kepada gadis ke dua yang bukan lain adalah Thio Hui Cu. "Cu-cici, benar tidak ceritaku? Paman Hong ini orangnya lucu, aneh dan keberaniannya membuat aku terheran-heran. Seorang yang tidak memiliki kepandaian silat, berani merantau sampai ke sini, malah baru saja kita lihat tadi dia dikejar-kejar dua ekor keledai, tapi sedikit pun tidak takut. Agaknya disamping kelucuan dan keanehannya, dia pun memiliki nyawa rangkap."
Hui Cu yang alim dan pendiam menyembunyikan senyumnya, hanya sekilas berani menatap wajah Kun Hong, lalu mengalihkan pandangnya.
"Hee, jangan kau memperolok aku. Kau belum menjawab pertanyaanku. Sejak kapan dan berdasarkan apa kau mengaku sebagai, keponakanku?"
Senyum Li Eng melebar, membuat wajahnya yang jelita itu makin manis dan ramah. Akan tetapi di balik keramahan dan kejenakaannya tersembunyi sifat nakal yang terpancar keluar dari sepasang matanya.
"Paman Hong yang tercinta .... "
"Hush .... !" Merah muka Kun Hong. "Bicara yang benar jangan berolok-olok!"
"Kau memang pamanku sejak aku lahir dan berdasarkan kenyataan bahwa ayahmu adalah kakek guruku. Kau anaknya, kalau bukan pamanku habis apaku? Bukan hanya aku, malah Cici Hui Cu ini pun keponakanmu, karena dia adalah anak tunggal dari Supek (Uwa Guru) Thio Ki."
Kun Hong sampai meloncat-loncat saking kaget, heran, dan bingungnya. "Apa kaubilang? Mana bisa Suko (kakak Seperguruan) Thian Beng Tosu mempunyai anak?"
Li Eng terkikik sambil menutupi mulutnya. "Tentu saja yang beranak bukan Supek melainkan isterinya, hi-hi-hik."
Hui Cu tak dapat menahan geli hatinya, ditutupnya mulutnya yang kecil dengan tangan kanan. "Ih, Eng-moi, jangan bicara tidak karuan."
Juga muka Kun Hong tampak bodoh, matanya terbelalak lebar. Ia benar-benar tidak mengerti. Memang banyak hal yang tidak ia mengerti, di antaranya adalah tentang riwayat sukonya itu, tidak tahu sama sekali bahwa sukonya yang dahulu bernama Thio Ki itu pernah punya isteri.
"Jangan kau main-main! Apakah sepeninggalku dari Hoa-san Suko telah menikah?"
Kembali Li Eng menoleh kepada Hui Cu, "Kaulihat, Cici. Alangkah lucunya. Di samping lucu aneh dan berani, juga ininya... kurang sekali." Ia menunjuk ke arah dahinya yang halus untuk menyindirkan tentang kebodohan Kun Hong. "Paman Hong, nanti kalau sudah pulang, kau akan mendengar sendiri semuanya. Pendeknya, Cici Cu ini adalah anak tunggal dari Supek Thian Beng Tosu."
Bukan main girangnya hati Kun Hong. Dia memang masih mempunyai sifat kekanak- kanakan di samping pengetahuannya yang mendalam tentang iimu kebatinan dan filsafat yang membuatnya kadang-kadang bicara seperti seorang kakek-kakek. Mendengar ini, saking girangnya ia melompat ke depan memegang pundak Hui Cu. Dipandangnya muka nona itu dan berkatalah dia kegirangan.
! Aku mempunyai keponakan dan tahu-tahu sudah begini besar, begini... eh, cantik dan manisnya, Kau bernama Hui Cu? Tentu namamu Hui Cu... tapi kenapa kau tidak mirip Suko? Ah? tentu mirip ibumu." "Aduh senangnya ....
Memang watak Kun Hong aneh bukan main. Dalam keadaan seperti itu, tentu orang- orang akan menganggap ia gendeng atau setidaknya kurang ajar, padahal semua itu timbul dari lubuk hatinya yang benar-benar menjadi girang bukan main. Karuan saja Hui Cu yang alim, pendiam dan pemalu menjadi merah mukanya, dan ia hanya tersenyum sedikit, memandang sekilas lalu tunduk dengan telinga merah, apalagi diketawai oleh Li Eng dan malah mendengar suara ketawa dari banyak pengemis yang hadir di situ.
"Iih, Paman Hong. Kau bikin aku mengiri. Aku bisa marah, lho! Bukan hanya Enci Cu keponakanmu, aku pun keponakanmu, apa kau lupa?"
Kun Hong melepaskan pegangannya pada kedua pundak Hui Cu, lalu memandang Li Eng, keningnya berkerut. "Dia ini puteri Suko, tentu saja seperti keponakanku sendiri. Tapi kau ini, kau bocah nakal, kau anak siapa berani mengaku sebagai keponakanku?"
Li Eng cemberut. "Sudahlah, kalau kau tidak mau mengakui ayah bundaku, sudahlah .... !
Memang orang macam aku mana patut menjadi keponakanmu?"
Hui Cu merangkul Li Eng. "Adik Eng, jangan ngambek. Eh, Paman Hong, sesungguhnya Eng-moi adalah keponakanmu karena dia adalah puteri tunggal dari Bibi Thio Bwee dan Paman Kui Lok yang sekarang sudah berkumpul di Hoa-san-pai."
"Begitukah?" Kun Hong sampai berteriak keras saking girangnya, lalu ia menyambar tangan Li Eng, ditariknya dan seperti gila ia menari-nari sambil menggandeng tangan gadis itu mengelilingi lapangan. "Bagus, kau puteri mereka? Ha, ha, mereka jadinya masih hidup dan sudah kembali ke Hoa-san-pai? Aduh senangnya!"
"Hish... apa-apaan kau ini, Paman Hong?" Li Eng menjadi malu juga karena ia dipaksa
menari-nari tidak karuan, "Dilihat banyak orang, apa tidak malu? Hayo kita pergi dari sini, kembali ke Hoa-san. Sukong mengharap-harap kembalimu."
Kun Hong melepaskan gandengannya. "Aku pun hendak kembali, apalagi sekarang setelah semua berada di sana." Kun Hong lalu menoleh kepada Sin-eng-cu Lui Bok yang sejak tadi hanya melihat dan mendengarkan sambil tersenyum-senyum gembira.
Terhadap kakek ini Kun Hong menjura dan berkata, "Susiok, perkenankan teecu pergi, karena teecu harus kembali ke Hoa-san."
Sin-eng-cu Lui Bok tersenyum dan berkata, "Pulanglah, Kun Hong dan berbahagialah kau. Aku pun akan mencapai kebahagiaan di puncak Bukit Kepala Naga, mendekati mendiang Suheng yang bijaksana." Setelah berkata demikian, Sin-eng-cu Lui Bok berjalan membungkuk-bungkuk sambii memutar-mutar tongkatnya, biarpun kelihatannya jalan seenaknya, namun sebentar saja ia sudah lenyap dari pandangan mata.
Kun Hong berpaling kepada Hwa-i Lo-kai dan menjura.
"Pangcu, harap maafkan kalau kedatanganku ini mengganggu urusanmu. Setelah Susiok pergi, urusan antara dia dan Pangcu sudah habis, perkara pemilihan ketua terserah kepadamu." Ia menoleh kepada Li Eng dan Hui Cu dan berkata gembira,
"Hayo, anak-anak! Hui Cu dan... eh, kau yang nakal siapa namamu?"
Dua orang gadis itu menutupi mulut dengan geli melihat sikap Kun Hong yang lucu dan tolol ini. "Paman Hong, namaku Kui Li Eng, jangan lupa lagi!"
"Hayo kita pergi dari sini!" kata lagi Kun Hong.
Akan tetapi Hwa-i Lo-kai segera melangkah maju dan menjura sambil berkata, "Nanti dulu, Siauw-sicu. Aku atas nama Hwa-i Kai-pang menerima usul Locianpwe Lui Bok tadi untuk menyerahkan Hwa-i Kai-pang ke dalam bimbinganmu. Aku mengangkat kau sebagai ketua baru dari Hwa-i Kai-pang!" Sin-cio The Kok atau Hwa-i Lokai adalah seorang yang amat luas pandangannya.
Memang ia bercita-cita membuat perkumpulan Hwa-i Kai-pang menjadi perkumpulan yang kuat dan sekarang ia melihat ke sempatan yang amat baik untuk memperkuat perkumpulannya itu. Pemuda ini terang adalah seorang luar biasa, sungguhpun kelihatannya tidak memiliki kepandaian ilmu silat, namun memiliki pribadi tinggi dan pengetahuan luas. Apalagi yang mengusulkan supaya pemuda ini diangkat menjadi ketua adalah seorang tokoh besar, yaitu Sin-eng-cu Lui Bok yang ternyata masih susiok pemuda ini. Sekarang, melihat sepak terjang dua orang gadis itu, jelas bahwa pemuda ini selain murid keponakan Sin-eng-cu Lui Bok, kiranya masih mempunyai hubungan erat dengan Hoa-san-pai. Kalau Hwa-i Kai-pang dapat mengangkat pemuda ini menjadi ketua, bukankah berarti bersekutu dengan Sin-eng-cu dan Hoa-san-pai sehingga menjadi amat kuat.
Di lain pihak, Kun Hong gelagapan dan bingung setengah mati mendengar ucapan kakek itu. Ia mengangkat tangan dan menggerak-gerakkan tangannya tanda menolak. "Tidak bisa... tidak bisa, Pangcu. Aku yang bodoh mana bisa menjadi Ketua Hwa-i Kai-pang?"
Pada saat itu terdengar suara Coa-lokai yang keras dan kasar, "Saudara-saudara para anggauta Hwa-i Kai-pang yang masih setia kepada Hwa-i Lo-kai, hayo kita lekas berlutut memberi hormat kepada pangcu yang baru!" Pengemis tinggi besar itu segera menjatuhkan diri berlutut di depan Kun Hong, di belakangnya banyak sekali para pengemis ikut berlutut. Hanya beberapa orang pengemis yang berpihak kepada Beng- lokai dan Sun-lokai tidak mau berlutut, hanya memandang kepada dua orang pemimpin mereka yang berdiri dengan muka merah. Kun Hong makin gugup, apalagi ketika melihat Hwa-i Lo-kai sendiri menjura dan mengangguk-angguk berkali-kali. Ketika ia memandang kepada Coa-lokai yang memelopori para anggauta itu, ia melihat wajah pengemis tua ini berpeluh, dan jelas, kelihatan ia menderita rasa sakit yang hebat, sedangkan lengan pergelangan membengkak. Teringatlah ia betapa dalam membela ketuanya, pengemis ini tadi terluka oleh Sin-eng-cu Lui Bok. Ia segera memberi isyarat dengan tangannya, berkata,
"Lo-kai, kau ke sinilah!"
Dengan sikap hormat dan juga terheran-heran Coa-lokai bangkit dan menghampiri Kun Hong, Pemuda ini tanpa ragu-ragu lagi lalu memegang lengan kanan Coa-lokai. Beberapa kali memijat saja tahulah Kun Hong bahwa tulang lengan itu tidak patah, melainkan terlepas sambungannya. Memang semenjak ia membaca kitab pelajaran ilmu pengobatan dari Toat-beng Yok-mo, pengetahuannya tentang luka dalam dari segala macam penyakit menjadi luar biasa sekali.
"Untung Susiok tadi masih menaruh kasihan kepadamu," katanya perlahan. "Lain kali jangan kau memandang rendah orang seperti dia, Lo-kai." Ia memijat sana menotok sini dan sebentar saja sambungan tulang pergelangan itu telah baik kembali dan lengan itu mengempis lagi. "Masukkan tanganmu yang ini ke dalam saku dan jangan digerak- gerakkan selama sehari semalam. Tentu akan sembuh kembali."
Tidak hanya Coa-lokai yang kegirangan dan terheran-heran, namun semua orang di situ terheran-heran, termasuk Li Eng dan Hui Cu.
"Terima kasih banyak atas pertolongan Pangcu," kata Coa-lokai sambil melangkah mundur.
"Aku bukan ketuamu, ketuamu adalah Hwa-i Lo-kai itulah," kata Kun Hong.
"Tidak, kaulah Pangcu yang baru, Siauw-sicu. Dan inilah tanda ketua, harap kau sudi menerimanya dariku." Hwa-i Lo-kai lalu mengeluarkan sebatang tongkat kecil yang berlukiskan kembang-kembang indah, diangsurkan kepada Kun Hong.
Tentu saja Kun Hong tidak mau menerimanya. "Jangan, Pangcu. Aku tidak berani menerimanya. Kau tetaplah menjadi Pangcu atau pilihlah di antara pembantumu. Aku akan pulang ke Hoa-san."
Berkerut kening Hwa-i Lo-kai dan wajah kakek ini menjadi pucat. "Sicu, ada satu peraturan yang kami pegang keras, yaitu apabila kami dihina, kami harus mempertahankan nyawa untuk menebus hinaan. Penolakanmu terhadap pemilihan ketua merupakan penghinaan bagi kami. Akan tetapi, karena kau adalah seorang mulia dan budiman yang telah menolong nyawaku dari ancaman mati di tangan Sin-eng-cu, bagaimana aku dapat berbuat dosa terhadapmu? Karena itu, apabila kau tetap menolak untuk menerima tawaran kami menjadi Pangcu dari Hwa-i Kai-pang, aku tua bangka akan membunuh diri di depan kakimu untuk menebus penghinaan ini dan selanjutnya tentang Hwa-i Kai-pang kuserahkan kepadamu!" Setelah berkata demikian, kakek itu mencabut pedangnya, siap untuk melakukan pembunuhan diri.
"Heeiii, jangan...!" Kun Hong maju dan memegang lengan Ketua itu yang memegang pedang, "Sabarlah, Pangcu... wah, bagaimana ini baiknya? Kau tidak boleh membunuh diri!"
"Kalau Sicu menolak, terpaksa aku membunuh diri menebus penghinaan."
Kun Hong memutar otaknya dan pemuda yang cerdik ini sudah mendapat jalan.
"Baiklah... baiklah, kausimpan dulu pedangmu."
Dengan muka girang Hwa-i Kai-pang menyimpan pedangnya dan memberikan tongkat kecil itu. Terpaksa Kun Hong menerimanya dan para pengemis anggauta Hwa-i Kai-pang bersorak girang, kecuali mereka yang tidak setuju.
"Begini Hwa-i Lo-kai. Setelah aku menjadi ketua, tentu semua anggauta Hwa-i Kai-pang, termasuk kau sendiri, akan taat dan menurut perintahku, bukan?"
"Tentu saja, biarpun disuruh menyerbu ke dalam lautan api, kami akan taat terhadap perintah pangcu" kata Hwa-i Lo-kai penuh semangat.
"Nah, bagus! Sekarang perintahku yang pertama. Aku mengangkat kau menjadi Ji- pangcu (ketua ke dua) yang mewakili aku memimpin Hwa-i Kai-pang jika aku tidak berada di sini. Kau boleh memilih pembantu sendiri , dan selama aku tidak berada di sini, kaulah yang menjadi wakilku dengan kuasa sepenuhnya. Sekarang aku mempunyai keperluan penting sekali, harus kembali ke Hoa-san, maka kaulah yang menjadi wakilku untuk sementara."
Semua orang tahu belaka bahwa ini adalah akal pemuda itu, akan tetapi karena merupakan perintah, tentu saja tidak ada yang berani membantah.
"Tentu saja Lo-kai taat terhadap perintah Pangcu, akan tetapi harap saja Pangcu tidak menganggap ini sebagai main-main dan jangan menegakan kami Hwa-i Kai-pang," kata kakek itu.
Li Eng adalah seorang gadis yang banyak pengertiannya tentang kang-ouw, maka ia segera berkata kepada Hwa-i Lo-kai, "Lo-kai, harap kaumaklumi keadaan Pamanku ini. Ketahuilah, dia adalah putera tunggal dari Ketua Hoa-san-pai, sebelum menerima ijin ayahnya, mana dia berani berdiam di sini menjadi ketua Hwa-i Kai-pang?"
Hwa-i Lo-kai nampak terkejut. Memang sama sekali ia tidak menduga bahwa pemuda ini adalah putera Ketua Hoa-san-pai! Akan tetapi Kun Hong sudah menerima tongkat dan sudah menjadi Ketua Hwa-i Kai-pang, maka diam-diam ia menjadi makin girang.
"Ah, kiranya Pangcu kita yang baru adalah putera Hoa-san-pai Ciang-bunjin. Tentu saja perintah Pangcu kami taati dan kami harap saja setelah tiba di Hoa-san dengan selamat, lain kali Pangcu memerlukan membuang waktu untuk menengok keadaan kami."
Kun Hong girang. Ia menganggap bahwa akalnya berhasil. Hanya namanya saja menjadi ketua, apa salahnya? Ia mengangguk-angguk dan tersenyum.
Akan tetapi dengan marah Beng-lokai dan Sun-lokai melompat maju. Beng-lokai dan Sun-lokai ini tadinya masih tidak berani banyak tingkah ketika Sin-eng-cu Lui Bok masih berada di situ karena maklum akan kelihaian kakek itu. Akan tetapi sekarang setelah kakek itu pergi, mereka tidak takut lagi, lebih-lebih karena memang mereka ini mempunyai pendukung-pendukung di belakang mereka.
"Tidak adil sekali keputusan ini!" seru Sun-lokai.
"Aku tidak setuju kalau ketua baru dipilih orang luar!" seru Beng-lokai.
"Kalau Pangcu hendak mengundurkan diri, seharusnya yang menjadi calon adalah kami bertiga lo-kai, dan di antara kami bertiga dipilih yang paling cakap untuk menjadi ketua baru. Kenapa sekarang memilih seorang bocah luar yang masih ingusan? Aku tidak setuju akan keputusan ini!" kata pula Sun-lokai.
"Betul sekali ucapan Sun-lokai. Aku pun tidak mau terima, kalau bocah tolol ini dapat memecahkan dadaku, baru aku mau mengakui Ketua Hwa-i Kai-pang.
Eh, bocah sombong, hayo maju dan lawanlah aku!" Beng-lokai menantang.
"Hayo, perlihatkan kegagahanmu, kalau kau memang laki-laki!" tantang pula Sun-lokai dan dua orang kakek itu sudah mencabut pedang masing-masing.
"Aku tidak bisa berkelahi, juga tidak mau berkelahi, Ji-wi Lo-kai harap sabar dan mundur karena mulai sekarang Ji-wi kuanggap bukan pengurus Hwa-i Kai-pang lagi. Aku tidak
mau melihat pengurus atau anggauta Hwa-i Kai-pang yang suka berkelahi dan kelihatan sekali hasratnya untuk memperebutkan pangkat dan kedudukan. Ji-wi akan memberi contoh yang buruk kepada para anggauta. Harap Ji-wi mundur."
Bukan main marahnya Beng-lokai. Terang-terangan mereka dipecat! "Kau... kau...!" Beng-lokai hendak memaki akan tetapi saking marahnya tidak ada kata-kata keluar dari mulutnya, sedangkan Sun-lokai maju dengan sikap mengancam.
Hwa-i Lo-kai membentak, "Beng-lokai dan Sun-lokai, kalian sudah mendengar perintah Pangcu. Mulai saat ini kalian bukan pembantu pengurus dan dikeluarkan dari keanggautaan. Lepaskan tali-tali putih dari pinggang kalian."
Muka dua orang pengemis itu menjadi pucat saking marahnya, tanpa berkata sesuatu mereka melepaskan ikat pinggang putih tujuh helai dari pinggang masing-masing, kemudian dengan suara lantang mereka berkata kepada Kun Hong,
"Kami sekarang sebagai orang luar menantang kepada ketua baru dari Hwa-i Kai-pang untuk mengadu kepandaian. Kalau tidak berani, maka ketua baru dari Hwa-i Kai-pang hanyalah seorang pengecut hina
...." Yang mengeluarkan kata-kata ini adalah Beng-lokai dan terpaksa ia berhenti karena tiba-tiba Hui Cu sudah berdiri di depannya dengan pedang di tangan.
"Keparat bermulut kotor!" gadis ini membentak dengan suara nyaring dan mata berapi-
api, "Manusia, tak tahu diri, pamanku sengaja mengalah kepadamu akan tetapi malah membuat kepalamu membesar dan mulutmu melebar. Siapa sih yang takut kepada manusia macammu? Biar ada sepuluh orang macam kau, majulah semua dan tidak usah Paman Hong menggerakkan tangan biar yang sepuluh itu dilawan oleh aku seorang."
"Hi-hik!" Li Eng mengeluarkan suara ketawa ditahan. "Biasanya Enci Cu pendiam dan penyabar, sekarang mendadak pintar memaki dan mudah marah!"
Kun Hong yang kuatir kalau-kalau keponakannya mencari gara-gara, segera maju dan berkata kepada Hui Cu, "Hui Cu, jangan kau sembarangan membunuh orang. Aku larang kau membunuh orang!!"
Hui Cu mengerling sekilas ke arah Kun Hong sambil menjawab, "Paman Hong, yang begini ini sebetulnya tak patut disebut orang dan kalau tidak dibunuh hanya akan mengotori dunia. Akan tetapi karena kau melarang, baiklah, aku takkan membunuhnya, cukup membikin dia bertobat."
Tentu saja Beng-lokai menjadi makin marah. Orang bicara seenaknya saja tentang dirinya, seakan-akan dia ini seekor tikus saja. Dan yang bicara hanya seorang gadis muda yang lebih patut disebut kanak-kanak. Ia mengeluarkan suara menggereng,
"Ketua baru benar pengecut! Tidak berani maju sendiri mengandalkan wanita .... "
"Plakk!" Entah bagaimana, tahu-tahu tangan kiri Hui Cu telah menampar pipi kanan Beng-lokai, membuat kakek ini sempoyongan dan meraba pipinya yang sudah menjadi bengkak. Matanya melotot, mukanya merah dan napasnya berat, tanda bahwa kemarahannya sudah memuncak. Saking marahnya ia sampai tidak memperhitungkan bahwa dengan gerakannya tadi Hui Cu sudah memperlihatkan kelihaiannya.
"Hi-hik, Enci Cu. Kalau kau nanti tidak mencuci tanganmu dengan air panas, aku tidak
mau menyentuh tangan kirimu yang berbau keledai!" Li Eng berkata dan terdengarlah suara ketawa di sana-sini, terutama dari pihak para anggauta yang tldak suka kepada Beng-lokai. Memang Li Eng seorang gadis yang berwatak nakal dan pandai bicara.
Beng-lokai yang sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi itu, sudah menerjang Hui
Cu dengan serangan pedangnya. Hui Cu cepat meloncat ke tengah pelataran dan kakek itu mengejarnya. Di sinilah Hui Cu memperlihatkan kepandaiannya. Dengan gerakan yang amat indah ia mainkan pedangnya sehingga Kun Hong yang melihat menjadi melongo. Sebagai putera pendekar, tentu saja ia seringkali melihat orang bermain pedang, akan tetapi belum pernah ia melihat permainan pedang yang begini indahnya, seperti orang menari saja. Beng-lokai juga bermain pedang, akan tetapi dibandingkan dengan permainan Hui Cu, permainan pedangnya jelek sekali sehingga mereka merupakan pasangan penari pedang yang tidak seimbang. Hampir lupa Kun Hong bahwa dua orang itu sama sekali bukannya sedang menari, melainkan sedang saling serang dan bahwa dua pedang yang berkelebat itu sebetulnya sedang mengarah
nyawa! Memang indah gerakan pedang Hui Cu. Hal ini tidak aneh kalau diingat bahwa ibunya, Lee Giok, adalah murid dari Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan dan biarpun ia belum mewarisi seluruhnya ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut yang hebat dan indah, sedikit banyak ia telah mewarisi gayanya yang indah seperti orang menari. Dan tentu saja Lee Giok menurunkan seluruh ilmu pedang dan kepandaiannya kepada puterinya ini.
Begitu bergerak, Li Eng yang jauh lebih tinggi tingkat ilmu pedangnya itu maklum bahwa Hui Cu takkan kalah maka ia pun lalu menghampiri Sun-lokai dan menudingkan telunjuknya ke arah hidung pengemis yang agak bongkok itu.
"Apa kau juga ingin menantang pamanku? Kalau betul, kau boleh keluarkan pedangmu dan menyerangku. Aku akan melayanimu dengan sabuk suteraku ini. Berani tidak kau?" Kata-katanya bernada mengejek sekali sehingga pengemis tua yang bongkok itu menjadi marah. Biarpun tua dan bongkok, Sun-lokai mempunyai watak mata keranjang. Menghadapi seorang gadis muda yang cantik jelita seperti Li Eng, belum apa-apa hatinya sudah berdebar tidak karuan.
"Li Eng, kau pun tidak boleh membunuh orang!" Dengan hati kecut dan penuh kekuatiran Kun Hong membentak ke arah Li Eng. Ia sudah tahu akan kenakalan dan keganasan gadis itu, maka ia benar-benar kuatir kalau-kalau "keponakan" ini akan menimbulkan kekacauan dan membunuh orang.
Li Eng membalikkan tubuhnya dan membungkuk ke arah Kun Hong dengan lagak seperti
seorang hamba terhadap rajanya sambil berkata, "Hamba mentaati perintah Paduka Paman Raja!"
Akan tetapi Kun Hong tidak dapat menerima kelakar ini, malah membelalakkan matanya dan berseru kaget, "Li Eng, awas belakangmu!"
Pada saat Li Eng membelakanginya, Sun-lokai sudah menerjang maju menusukkan pedangnya ke punggung gadis itu. Hwa-i Lo-kai membentak marah dan kaget menyaksikan ini, juga semua orang kaget sekali dan mengira bahwa tusukan yang cepat dan hebat ini pasti ,akan menewaskan Li Eng.
Tapi orang yang dikuatirkan enak saja. Tanpa menoleh Li Eng ,menggerakkan tangannya dan seperti ada mata tajam di belakang tubuhnya, sabuk sutera hitam di tangannya menyambar ke belakang dan menangkis tusukan pedang itu. Para pengemis bersorak gembira menyaksikan kehebatan gadis lincah ini. Apalagi ketika Li Eng dengan gerakan yang amat lincahnya telah berputar dan kini sabuk sutera hitam itu berkelebat, mengeluarkan bunyi seperti cambuk dan bertubi-tubi menyerang semua bagian tubuh yang berbahaya dari Sun-lokai!
Pertempuran terbagi menjadi dua bagian. Akan tetapi baik Beng-lokai maupun Sun-lokai berada di pihak yang terdesak hebat. Juga Beng-lokai amat payah menghadapi permainan pedang Hui Cu, yang indah namun mempunyai daya serang yang amat ganas itu. Yang paling celaka adalah Sun-lokai karena semenjak Li Eng menghadapinya, ia sama sekali ,tidak dapat balas menyerang, melainkan harus menangkis dan mengelak karena kedua ujung sabuk hitam itu bagaikan ular-ular hidup menyambar-nyambar cepat sekali. Akhirnya sabuk itu membelit jari-jari tangan kanannya dan sekali renggut pedangnya terlepas dari tangannya, jatuh ke atas tanah. Tidak berhenti sampai di situ saja, ujung- ujung sabuk itu terus memecutinya ke muka, leher, dan dadanya. Sun-lokai berteriak- teriak kesakitan dan berloncatan sambil mundur, akan tetapi sabuk itu mengejarnya terus. Bahkan ketika ia membalikkan tubuh hendak keluar dari lapangan pertempuran, ujung sabuk itu mengeluarkan bunyi "tar-tar-tar!" melecuti pantatnya, membuat ia berjingkrak- jingkrak kesakitan! Dan pada saat itu pun Beng-lokai terluka lengan kanannya sehingga pedangnya terlempar pula.
Comments