"Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li, kalau kalian tidak membantu sekarang, tunggu kapan lagi?" tiba-tiba Beng Kui berseru kepada dua orang wanita itu. "Bukankah kalian menjadi pembantu-pembantu Ho-hai Sam-ong?"
Sebetulnya Hek-hwa Kui-bo, apalagi Kim-thouw Thian-li, merasa enggan untuk bertempur melawan Beng San yang begitu lihai. Akan tetapi seruan ini mendesak mereka ke pojok. Tentu Ho-hai Sam-ong akan mendapat kesan buruk kalau mereka tinggal diam saja. Sambil melotot ke arah Beng Kui kedua orang ini mencabut senjata masing-masing dan meloncat ke gelanggang pertempuran, mengeroyok Beng San, yang disambut oleh orang muda ini dengan tenang saja.
"Kau hanya bisa menyuruh orang lain saja maju, apakah kau sendiri takut terhadap adikmu ini?" Hek-hwa Kui-bo sambil menyerang Beng San berseru kepada Beng Kui dengan suara keras dengan maksud agar semua orang mendengarnya.
Memang Beng Kui sudah bertekad bulat untuk membunuh saja adik kandungnya yang ia anggap selalu membikin malu dan membikin kacau rencana. Adiknya itu telah merusak kehidupan seorang gadis, yaitu Kwa Hong. Sekarang setelah mengacau Thai-san dan menikah dengan puteri seorang penjahat seperti Song-bun-kwi, tahu-tahu muncul dan mencampuri urusannya, malah hendak membela Li Cu. Tentu dengan maksud rendah pula. Daripada mempunyai adik kandung seperti ini, bukankah lebih aman dan baik kalau dibinasakan saja? Setelah ber pikir demikian, Beng Kui lalu mencabut pedang Liong-cu- kiam yang panjang dengan tangan kanan, sedangkan Liong-cu-kiam pendek milik Li Cu memang sudah ia pegang di tangan kiri. Dengan sepasang pedang ampuh ini ia lalu menyerbu sambil berseru nyaring,
"Beng San, kau tidak mentaati perintahku untuk pergi, agaknya memang sudah bosan hidup."
Serbuannya hebat sekali, apalagi ia segera mainkan Sian-li Kiam-sut yang lihai dan lebih- lebih hebat lagi karena yang ia pergunakan adalah sepasang Liong-cu-kiam. Sepasang pedang itu berubah rnenjadi dua gulung sinar yang berkeredepan menyambar-nyambar ke arah Beng San dan menyerang dari segala jurusan.
Beng San terkejut dan diam-diam mengakui kelihaian kakak kandungnya ini, akan tetapi berbareng hatinya perih dan juga marah. Ia dahulu amat merindukan kakak kandungnya, lalu setelah bertemu ia merasa kagum sekali melihat kakak kandungnya sebagai seorang patriot yang gagah. Tapi
....sekarang kakaknya itu dengan sepasang pedang pusaka menerjang untuk membunuhnya. Dari perih hati ia menjadi marah dan cepat ia menghadapi serbuan ini. Sekarang Beng San dikeroyok lima orang lagi setelah Ho-hai Sam-ong mengundurkan diri untuk mengatur napas dan memulihkan tenaga, Akan tetapi, di antara lima orang itu, yang paling hebat serangannya adalah Beng Kui. Andaikata hanya menghadapi Beng Kui seorang, biarpun pemuda ini menggunakan sepasang Liong- cu-kiam dan dia sendiri hanya bersenjata kipas, kiranya Beng San takkan dapat terdesak. Akan tetapi sekarang di situ ada Hek-hwa Kui-bo yang mainkan Im-sin Kiam-sut bersama muridnya yang juga cukup lihai, ditambah pula dengan Koai-sin-kiam Oh Tojin dan Lu Khek Jin maka penyerbuan Beng Kui benar-benar telah mendesak Beng San dan membuat ia meloncat ke sana ke mari dan menggerakkan kipas untuk melindungi dirinya.
Pedang pendek di tangan kiri Beng Kui bergerak setengah lingkaran ke arah leher, lalu disusul dengan tusukan pedang panjang dari bawah ke atas. Gerakan ini selain aneh juga tidak terduga, cepat bukan main mengejutkan Beng San. Cepat pemuda ini menangkis dengan kipasnya dan... "brettt" kipas itu terobek oleh ujung pedang panjang. Baiknya Beng San cepat melompat sambil berjungkir balik, tangan kirinya dari jauh memukul ke arah dada kakaknya itu. Beng Kui merasai adanya sambaran angin yang mengandung hawa panas sekali, membuat ia kaget dan menarik kembali pedangnya sambil mundur dua langkah, Kesempatan ini dipergunakan oleh Beng San untuk melompat turun lagi dan mainkan kipasnya yang sudah robek untuk melindungi tubuh dari datangnya banyak senjata yang menyerangnya. Akan tetapi sekarang ia mulai tampak terdesak. Sayangnya bahwa yang berada di tangannya bukanlah pedang, melainkan sebuah kipas mainan yang kecil, maka ilmu pedangnya Im-yang Sin-kiam-sut tidak dapat dimainkan sehebat- hebatnya.
Hal terdesaknya Beng San ini memang tidak aneh. Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut adalah ilmu pedang ajaib yang dahulu menjadi milik pendekar wanita Ang I Niocu, hebatnya bukan kepalang dan tidak dapat diketahui rahasianya oleh orang luar. Adapun Beng San sendiri, biarpun dia telah memiliki tenaga ajaib dan mempunyai ilmu pedang yang lebih tinggi tingkatnya, namun ia masih muda dan kurang pengalaman. Sekarang menghadapi Beng Kui yang dibantu oleh empat orang lain yang semuanya adalah ahli-ahli tingkat tinggi, tentu saja ia merasa repot juga.
"Brettt!" kembali kipasnya pecah, kali ini terkena tusukan pedang pendek di tangan kiri Beng Kui. Beng San marah bukan main, cepat ia menggerakkan kipas dengan tangan kanannya, diputar setengah lingkaran sedangkan tangan kirinya menyelonong ke belakang, tepat menghantam pundak kiri Koai-sin-kiam Oh Tojin yang sedang lengah.
!!" Oh Tojin menjerit kesakitan, tulang pundak kirinya terlepas sambungannya. Akan tetapi dengan marah ia malah makin maju menerjang ganas dengan pedangnya. "Aduh ....
Sementara itu, ketika Beng San memusatkan perhatian menyerang Oh Tojin dengan maksud merobohkan lawannya seorang, tiba-tiba sinar pedang di tangan Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li meluncur, satu ke arah kepala dan yang ke dua ke arah perutnya. Baiknya pemuda ini sudah mahir sekali akan gerakan-gerakan Im-sin Kiam-sut, maka cepat ia menggeser kaki ke kiri sekali dua kali sehingga terhindarlah ia dari ancaman ini. Tidak disangkanya sama sekali bahwa pada saat ia terdesak itu, Beng Kui sudah menerjangnya lagi dengan sepasang pedangnya yang dahsyat dan pada saat yang hampir berbareng, dari kanan kiri Oh Tojin dan Lu Khek Jin menerjang pula.
"Digunting" oleh empat buah pedang yang hebat ini benar-benar keadaan Beng San kepepet sekali. Gerakan pedang Oh Tojin dan Lu Khek Jin ia ikuti dan dapat ia duga ke mana arahnya, maka dengan mudah ia segera dapat mengambil keputusan bagaimana harus mengelak, akan tetapi serangan sepasang pedang Beng Kui yang belum ia kenal betul gerakan-gerakannya, ia benar-benar menjadi bingung. Dua kali menggerakkan pundak dan kaki ia menghindarkan diri dari serangan Oh Tojin dan Lu Khek Jin, akan
tetapi penerjangan Beng Kui sukar ia hindarkan karena tidak tahu bagaimana perkembangannya. Ia hanya menggunakan kipasnya menangkis.
"Brettt!" Kini bajunya, di pundak terbabat, berikut sedikit kulit dan dagingnya. Darah mengucur banyak sekali membasahi bajunya. Baiknya ia tadi masih berlaku cepat dan menggerakkan pundak, kalau tidak tentu sebelah pundak berikut lengan kirinya akan terbabat putus. Keringat dingin keluar dari jidat pemuda ini, bukan karena sakitnya, melainkan saking kaget melihat kehebatan ilmu pedang lawannya ini. Sementara itu, saking gembiranya melihat hasil serangan tadi, Beng Kui menyerang makin hebat, dibantu oleh empat orang kawannya. Malah sekarang Ho-hai Sam-ong juga sudah siap untuk mengeroyok pula. Sayangnya senjata mereka adalah senjata-senjata panjang dan berat, sehingga untuk pengeroyokan begitu banyak orang kurang praktis dan mereka hanya melihat-lihat untuk mencari lowongan baik. Sepasang pedang Beng Kui menyambar-nyambar, berkilauan dan amat ganasnya. Sedangkan Beng San masih terus terdesak sambil mulai menaruh perhatian untuk memecahkan gerakan penyerangan kakak kandungnya yang menghendaki kematiannya ini.
"Awas Beng San! Pedang pendek dari kiri berbalik ke kanan, pedang panjang menyerang ke atas. Kemudian yang pendek mengancam lambung kanan, yang panjang berbalik ke bawah membabat kaki." Suara ini mengagetkan Beng Kui, tapi menggirangkan hati Beng San. Itulah suara Li Cu yang masih terbelenggu di kursi, akan tetapi gadis ini yang tentu saja mengenal baik pergerakan ilmu pedang yang dimainkan Beng Kui, sekarang memberi petunjuk kepada Beng San. Tadinya Li Cu memang tidak pedulikan Beng San karena pengaruh ucapan Beng Kui yang menjelek-jelekkan Beng San sebagai pengrusak wanita. Akan tetapi melihat kagagahan Beng San yang dikeroyok terus-menerus oleh sekian banyaknya musuh tangguh, kemudian melihat Beng San terluka oleh pedang Beng Kui tanpa bersambat, timbul perasaan kasihan dalam dada Li Cu. Betapapun juga, sudah pasti bahwa Beng San datang untuk menolongnya. Sedangkan berita tentang "kebusukan" Beng San masih belum terbukti. Mana bisa ia membiarkan Beng San tewas? Lagipula, kalau Beng San tewas, nasibnya sendiri sudah pasti akan celaka di tangan kakak seperguruan atau bekas tunangannya itu. Kalau Beng San dapat menolongnya keluar dari situ, kiranya belum tentu ia celaka di tangan Beng San.
"Li Cu, tutup mulutmu!" Beng Kui membentak marah dan tentu saja ia segera merubah gerakan penyerangannya yang sudah. "didahului": oleh teriakan Li Cu tadi. Kembali Beng San bingung menghadapi perkembangan jurus-jurus penyerangan baru ini sementara dia sedang sibuk menghadapi pengeroyokan empat orang yang lain. Yang pendek hanya pura-pura mengancam kepala, yang bergerak yang panjang. Awas ujung siku kiri yang hendak dibabat pedang panjang. Kemudian pendek dan panjang akan menyerang dari atas bawah bergantian, itu pun jebakan saja, yang harus dijaga babatan pedang pendek ke leher dibarengi babatan pedang panjang ke pinggang."
"Li Cu, kau hendak mengkhianati suhengmu sendiri?" Beng Kui membentak marah sekali.
"Aku tidak punya suheng macammu!" Li Cu berteriak kembali sambil terus memberi petunjuk-petunjuk.
Sekarang Beng San tidak terdesak lagi. Ia tidak begitu menguatirkan penyerangan Beng Kui setelah mendapat penjelasan dari Li Cu, malah sebelum penyerangan datang ia sudah tahu lebih dulu ke mana serangan musuh akan dilancarkan. Oleh karena ini, perhatiannya lebih banyak ditujukan kepada empat orang lawannya yang lain. Begitu mendapat kesempatan, gagang kipasnya berhasil menotok roboh Kim-thouw Thian-li yang tepat tertotok jalan darah di pundaknya, kemudian sebuah tendangan kilat berhasil merobohkan Oh Tojin yang terlempar sampai tiga meter dan tidak mampu bangun kembali karena tulang lututnya patah. Tosu yang terlepas sambungan tulang pundak dan patah tulang lututnya itu hanya mengeluh dan menangis seperti anak kecil.
Melihat keadaan yang tidak menguntungkan ini, Ho-hai Sam-ong segera menyerbu lagi. Beng San juga sudah lelah, terutama sekali darah yang mengucur dari pundaknya mulai mengering dan mendatangkan rasa nyeri dan perih. Akan tetapi ia mengamuk terus dengan nekat karena robohnya dua orang itu malah mendatangkan tambahan tiga tenaga lagi, yaitu Ho-hai Sam-ong yang malah lebih lihai.
Sementara itu, melihat keadaan yang tidak menguntungkan bagi pihaknya, padahal tadinya sudah berhasil baik sekali, Beng Kui menjadi marah. Semua gara-gara Li Cu yang sengaja memecahkan jurus-jurusnya dan membantu Beng San. Beng Kui adalah seorang pemuda yang mempunyai ambisi (cita-cita) besar sekali. Dahulu di masa perjuangan, Ia rela berkorban apa saja untuk mencapai cita-citanya, yaitu menduduki tempat yang tinggal dalam pemerintahan baru. Siapa kira, kedudukan tinggi itu tidak bisa ia dapatkan karena ia kurang mendapat penghargaan dari Ciu Goan Ciang. Oleh karena ini ia terpaksa bersekutu dengan Raja Muda Lu, menjadi mantunya dan hendak mengadakan pemberontakan. Ini pun dldasari ambisinya yang besar. Dan yang paling ia benci adalah orang yang hendak menghalang-halangi ambisinya ini, atau yang hendak mempersukar perjalanan ke arah tercapainya cita-citanya. Ia menganggap Beng San seorang yang demikian itu, maka ia tidak ragu-ragu untuk mencoba membinasakannya. Sekarang melihat sikap Li Cu, timbul marahnya. Sekali meloncat ketika mendapat kesempatan, Ia sudah berada di dekat kursi yang diduduki Li Cu. Pedangnya berkelebat dan Li Cu sudah meramkan mata menerima kematian. Akan tetapi melihat wajah Li Cu yang cantik jelita, agaknya timbul kembali cinta dan nafsunya. Beng Kui tidak jadi membunuh Li Cu, melainkan gadis ini malah ia lepaskan dari kursi, kemudian ia pondong dan ia bawa lari keluar dari tempat itu.
Bukan main kagetnya hati Li Cu. Tadi ketika ia melihat Beng Kui menghampirinya dengan pedang diangkat, ia hanya meramkan mata menanti maut tanpa mengeluarkan suara, sedikit pun tidak gentar. Akan tetapi sekarang merasa dirinya dipondong pergi dalam keadaan masih terbelenggu, wajahnya berubah pucat sekali dan jantungnya berdebar-debar ketakutan.
"Beng San... tolong .... !!" teriaknya berulang-ulang dengan sekuat tenaga jeritnya.
Beng San bukanlah seorang pemuda yang suka berkelahi atau suka menang. Ia pun tidak suka menaruh hati dendam. Maka begitu mendengar jerit suara Li Cu, ia cepat menengok. Alangkah kaget dan marahnya ketika ia melihat Li Cu dipondong oleh Beng Kui dan dibawa lari. Kedatangannya di tempat itu sama sekali bukan untuk bertanding dengan Ho-hai Sam-ong dengan Hek-hwa Kui-bo atau dengan yang lain-lain. Kedatangannya khusus untuk menolong Li Cu. Sekarang Li Cu dibawa lari oleh Beng Kui dan hal ini terang sekali terjadi di luar kehendak Li Cu yang menjerit-jerit minta tolong kepadanya. Bagaimana ia bisa tinggal diam saja? Sekali ia menggerakkan tangan dan kaki, ia telah memukul runtuh pedang dari tangan Hek-hwa Kui-bo, kemudian tubuhnya berkelebat dan ia sudah meloncat untuk mengejar Beng Kui.
Matanya terasa sakit ketika dari ruangan yang terang itu ia kini tiba di luar rumah yang amat gelap. Tidak kelihatan bayangan Beng Kui, tapi ia melihat beberapa orang penjaga dengan tombak di tangan menjaga ternpat itu. Bagaikan seekor burung saja ia melayang dan setelah dekat, sekaligus ia menotok roboh dua orang penjaga dan mengempit seorang di antaranya dibawa pergi ke tempat gelap. Gegerlah para penjaga ketika melihat seorang kawan roboh dan yang seorang lagi lenyap tak berbekas.
"Katakan ke mana perginya Tan Beng Kui ciangkun yang membawa wanita tawanan tadi." Dengan suara ditekan Beng San memaksa tawanannya sambil meraba jalan darah yang menimbulkan rasa nyeri tak tertahankan. Penjaga itu meringis-ringis, lalu dengan suara terputus-putus memberitahukan bahwa orang yang dimaksudkan itu telah pergi menunggang seekor kuda menuju ke arah selatan.
Beng San melepaskan korbannya dan cepat ia berlari-lari dalam gelap mengejar ke selatan. Ia maklum bahwa kakak kandungnya itu tentulah bertempat tinggal di Nan King, di kota raja yang baru bersama ayah mertuanya, raja muda she Lu itu. Maka ia mengambil jalan ini dan mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian ginkangnya untuk berlari cepat, tanpa mempedulikan tubuhnya yang amat lelah dan darah segar yang mengucur keluar lagi dari luka di pundaknya karena gerakah-gerakannya ini.
Usahanya mati-matian ini ternyata tidak sia-sia. Menjelang pagi ia sudah mendengar suara kaki kuda di sebelah depan, mulai memasuki hutan terakhir dalam perjalanan jauh ke kota raja itu. Hatinya masih ragu-ragu. Betulkah suara kaki kuda itu adalah kuda yang ditung-gangi oleh Beng Kui? Tiba-tiba semangat nya bangkit ketika lapat-lapat ia mendengar jeritan. "Beng San .... !l"
Dipercepatnya larinya dan tak lama kemudian benar saja ia melihat Beng Kui membalapkan kudanya sambil memangku Li Cu yang masih tak berdaya karena terbelenggu kaki tangannya. Sambil meringankan kakinya sehingga tidak terdengar suara larinya, Beng San makin mendekati dan akhirnya ia mendengar suara Beng Kui mentertawakan, bahkan menghina.
"Li Cu, kau sekarang tergila-gila kepada Beng San? Heh-heh, benar-benar lucu. Tadinya kau marah-marah melihat aku kawin dengan puteri Raja Muda Lu dengan dasar politik, karena aku ingin merebut kedudukan tinggi kelak. Tapi cintaku masih kepada dirimu, Li
Cu. Kalau kelak aku menjadi kaisar, atau setidaknya menjadi raja muda, apa salahnya kalau aku beristeri dua? Kau tetap akan menjadi isteriku yang tercinta. Kenapa kau tidak sabar dan tidak mau mengerti, lalu marah-marah? Kenapa kau sekarang malah kelihatan lebih mencinta adikku yang gila itu?"
"Dia seribu kali lebih baik dari padamu, kau laki-laki palsu, kau pengkhianat, awas kau Ayah pasti akan membalaskan sakit hatiku." Li Cu berteriak-teriak
Beng Kui tertawa mengejek, "Kau bilang Beng San lebih baik daripadaku? Ha-ha, Li Cu, kau tidak mengerti. Dia itu seorang iblis pengrusak wanita. Tak tahukah kau betapa murid Hoa-san-pai yang bernama Kwa Hong itu telah dirusaknya, kemudian ditinggalkannya pergi, malah dia menikah dengan anak seorang penjahat yang terkenal Song-bun-kwi? Tentang ayahmu... hemm, suhu tentu akan memaklumi pendirianku .... "
Tiba-tiba suaranya berhenti karena pada saat itu kuda yang ditungganginya terjungkal sehingga dua orang itu terlempar dari atas punggung kuda. Beng Kui terkejut sekali dan cepat melompat bangun sambil mencabut sepasang pedangnya, membalikkan tubuh dan berhadapan dengan Beng San.
"Kau... lagi .... ?? Seperti iblis saja kau, kenapa selalu mengikuti aku?" teriak Beng Kui
marah.
Beng San tersenyum mengejek. "Bukan aku yang mengikuti kau, tapi kejahatanmu yang memaksa aku datang. Tidak boleh kau menculik seorang gadis, biarpun dia itu sumoimu sendiri." Sambil berkata demikian, Beng San lalu melangkahkan kaki menghampiri Li Cu yang rebah di atas tanah. Ketika terjatuh dari punggung kuda tadi, gadis ini masih dalam keadaan terbelenggu, maka jatuhnya lebih parah dan pakaiannya sampai robek-robek. Ia benar-benar dalam keadaan setengah pingsan, akan tetapi cukup sadar untuk dapat menangkap percakapan antara kakak beradik itu.
Selagi Beng San melangkah menghampiri Li Cu, Beng Kui yang sudah tak kuat menahan kemarahannya itu serentak menerjang dari belakang, menggerakkan sepasang pedang Liong-cu-kiam secepat kilat.
!" Li Cu yang melihat ini menjerit. Akan tetapi gerakan Beng San malah mendahului jeritannya, karena pemuda ini sudah membalik, kedua tangannya bergerak, kakinya bergeser dengah langkah-langkah aneh. Secara otomatis tubuhnya menyelinap di antara sambaran dua pedang, tahu-tahu kedua tangannya sudah "memasuki" celah-celah. pedang dan mendorong ke arah sepasang pundak lawan. Terdengar Beng Kui mengeluh sebelum tangan Beng San menyentuh pundaknya, sepasang pedangnya hampir terlepas dan di lain saat kedua pedang itu sudah berpindah ke tangan Beng San. Hebat sekali gerakan ini dan dari kedua tangan Beng San itu samar- samar tampak mengebulnya uap putih. Inilah sebuah gerakan dari ilmu silat mujijat yang dahulu di jaman-nya Pendekar Sakti Bu Pun Su disebut Ilmu Silat Pek-in-hoat-sut (Ilmu Sihir Awan Putih). Karena kemahirannya dalam Im-yang-sin-kun, otomatis Beng San dapat mewarisi sebuah gerakan dari ilmu itu dan ternyata hasilnya hebat luar biasa. "Awas... Beng San... belakang ....
Beng Kui memandang dengan muka pucat dan mata melotot. Beng San untuk sesaat juga memandang dengan muka marah dan mata berkilat, tapi ia lalu menyerahkan pedang yang panjang itu kembali sambil berkata,
"Aku sudah berjanji meminjamkan Liong-cu-kiam sepasang ini kepada kau dan Nona Cia Li Cu selama tiga tahun. Janji itu tetap berlaku. Tiga tahun setelah janjiku aku pasti akan mengambil kembali Liong-cu-kiam jantan ini dari tanganmu."
Masih, tertegun oleh kehebatan adik kandungnya yang secara mujijat dapat merampas sepasang pedangnya, Beng Kui mengeluarkan tangan menerima pedangnya kembali, kemudian setelah memandang, dengan mata melotot beberapa saat lamanya, ia menoleh ke arah Li Cu sejenak lalu membalikkan tubuh dan berlari cepat meninggalkan tempat itu.
Beng San menarik napas panjang, menghampiri Li Cu, dan sekali pedang Liong-cu-kiam pendek itu bergerak di tangannya, kilat menyambar dan sekaligus belenggu yang mengikat kaki dan tangan Li Cu putus semua tanpa terasa sedikit pun oleh gadis itu, Li Cu meloncat bangun, mengeluh dan terhuyung-huyung ke belakang. Baiknya Beng San cepat mengejarnya dan menyambar pundaknya. Alangkah kagetnya ketika pemuda ini melihat Li Cu sudah meramkan mata, tak ingat orang lagi, pingsan dalam pelukannya.
Beng San bingung. Ia meraba pergelangan lengan gadis itu dan maklumlah ia bahwa gadis ini tidak apa-apa. Hanya karena banyak mengalami ketegangan, kemarahan dan kekuatiran, ditambah lagi terlalu lama tadinya ia tertotok dan terbelenggu, maka begitu ia dibebaskan, dalam batin dan pikirannya terjadi pukulan yang tak kuat ia menahannya sehingga membuatnya pingsan. Terpaksa Beng San memondongnya dan membawanya berlari keluar dari hutan itu. Ia merasa kuatir kalau-kalau Beng Kui akan datang bersama kawan-kawannya. Akan payah juga kalau ia dikeroyok lagi orang-orang pandai sementara Li Cu masih pingsan. Lebih baik cepat-cepat meninggalkan tempat itu.
Belum juga ia berlari, ia melihat kuda yang tadi ditunggangi Beng Kui, sekarang sudah sembuh dan sedang makan rumput. Memang tadi ketika merobohkan kuda itu, Beng San tidak mempergunakan serangan mematikan, melainkan menotok dengan lemparan kerikil ke arah lutut kuda sehingga kuda itu terjungkal saja. Dengan girang kini Beng San menghampiri kuda yang masih lengkap dengan pelana dan kendali itu, lalu ia melompat ke atasnya sambil merangkul Li Cu. Dengan perlahan ia lalu menjalankan kudanya ke arah utara.
Matahari telah naik tinggi ketika kuda yang ditunggangi Beng San sampai di tepi Sungai Huang-ho sebelah barat, Beng San membelokkan kudanya ke barat, menyusur sepanjang pantai sungai memasuki sebuah hutan yang segar kehijauan dan teduh. Hari itu panasnya bukan kepalang. Kudanya biarpun tidak dibalapkan telah berpeluh dan napasnya terengah-engah. Beng San merasa kasihan dan menghentikan kuda itu di bawah sebatang pohon besar di mana air Sungai Huang-ho tampak kehijauan indah.
Li Cu baru saja siuman dari pingsan Gadis ini merasa pening sekali, matanya berputar- putar. Mulai membuka sedikit kedua matanya, kembali karena sinar matahan yang menerobos, dari celah-celah daun memasuki matanya. Lalu ia teringat betapa indahnya daun-daun pohon di atas tadi, maka dibukanya kembah matanya. Memang indah. Daun- daun pohon yang kecil dengan bentuk sempurna ditimpa matahari, bersusun-susun rnenimbulkan warna hijau yang dihias sinar kuning emas dan kehitaman bayangan. Bagaikan benang-benang sutera kuning emas sinar matahari meluncur turun di antara celah-celah daun, kadang-kadang berubah kedudukan karena daun-daun itu bergerak oleh angin.
Sampai lama Li Cu terpesona oleh keindahan pemandangan yang belum pernah diperhatikan sebelumnya itu. Kemudian terasa olehnya pergerakan napas dan bunyi berdetik di pinggir telinganya. Makin lebar matanya dibuka dan yang mula-mula tampak adalah sebuah hidung dan sebuah mulut dari muka yang putih. Yang paling jelas adalah bentuk dagu yang keras. Ia makin mengerahkan perhatian, memandang kepada muka itu. Tahulah sekarang ia bahwa yang berdetik-detik itu adalah bunyi jantung dalam dada di mana ia bersandar. Ia dipangku orang, di atas sebuah pelana kuda. Dan muka itu... muka Beng Kui.
"Bedebah kurang ajar kau!" Li Cu seketika timbul tenaganya, kedua tangannya meraih ke atas lalu dipukulkan dua kali ke muka itu, muka yang dibencinya, muka yang dahulu pernah dicintainya Muka Beng Kui.
Potongan tubuhnya yang terlatih semenjak kecil. Li Cu sudah berhasil memukul sambil terus meloncat menjatuhkan diri ke pinggir, lalu berjungkir-balik dan di lain saat ia sudah berdiri tegak di depan kuda, siap untuk menyerang lagi. Ia melihat orang yang dipukul mukanya tadi meloncat turun terus duduk di atas akar pohon sambil menutupi mukanya.
Beng San tak dapat mengelak ketika tadi. Memang dia pun seperti Li Cu terpesona oleh cahaya matahari yang secara indah menghias hutan itu dengan sinar benang emas, akan tetapi warna kuning emas itu mengingatkan ia akan burung rajawali emas dan sekaligus mengingatkan ia kembali kepada Kwa Hong. Terngiang di telinganya kata-kata tuduhan Beng Kui bahwa ia telah merusak kehidupan Kwa Hong. Beng Kui tidak tahu keadaan yang sebenarnya, akan tetapi memang tuduhannya itu tak dapat disangkal pula. Memang ia telah merusak kehidupan Kwa Hong. la telah berdosa besar, besar sekali. Pada saat itulah Li Cu memaki dan memukul mukanya dua kali, yang pertama mengenai pinggir jidatnya dan yang ke dua mengenai pinggir mulutnya. Darah mengucur dari kedua tempat itu, sakit rasanya. Akan tetapi hati Beng San lebih sakit oleh makian tadi. Ia dapat menahan pukulan itu, lalu meloncat turun dan menjatuhkan diri duduk di atas akar pohon, menutupi mukanya dengan kedua tangan untuk menyembunyikan dua butir air mata yang berloncatan keluar. Akan tetapi tanpa disengaja kedua tangannya itu pun menyembunyikan jidat dan bibir yang mengucurkan darah.
Setelah kini agak reda peningnya, pandang mata Li Cu makin terang. Ia memandang terbelalak kepada orang yang duduk menutupi muka di bawah pohon itu. Sejenak Li Cu
bingung. Ia teringat betul bahwa yang dipukulnya tadi adalah Beng Kui. Tapi orang itu... pakaian itu dan... dan pundak yang terluka itu .....
"Beng SanLi Cu menahan jeritnya, tangan kirinya menutupi mulut, lalu ia melangkah maju tiga tindak mendekat. .....
Beng San menurunkan kedua tangannya yang menutupi muka. Darah mengucur deras dari luka di jidatnya. Memang bagian tubuh yang teratas ini paling banyak rnengeluarkan darah kalau terluka. Pandang mata Beng San kabur dan ia melihat seakan-akan Kwa Hong yang berdiri di depannya sekarang ini.
"Kau... kau boleh pukul aku lagi kalau kau suka... bunuh pun boleh .... " katanya perlahan.
Meremang bulu tengkuk Li Cu melihat muka yang berlumuran darah dan mendengar suara yang tak berirama ini, seperti suara dari balik kubur. Ia menyesal bukan main. Kenapa ia malah memukul Beng San yang telah menolongnya dari bahaya yang lebih ngeri dari pada maut? Timbul penyesalan dan kasihannya.
"Ah, jadi kaukah yang kupukul tadi?" tanyanya dengan penuh sesal sambil cepat maju menghampiri. Setelah dekat barulah Beng San ingat kembali bahwa gadis ini sama sekali bukan Kwa Hong biarpun pakaiannya serba merah, melainkan Cia Li Cu.
" katanya lemah. Pedang Liong-cu-kiam pendek itu telah ia selipkan di belakang punggung. "Nona Cia, ini pedangmu... ambil... ambil... ambillah sendiri ....
"Siapa bicara tentang pedang? Mukamu itu... harus diurus dulu," kata Li Cu dan dengan cepat gadis ini sudah berlutut di depan Beng San, lalu dengan cekatan ia membersihkan darah dari luka di bibir dan jidat itu.Tanpa ragu-ragu lagi dan sama sekali tidak jijik Li Cu mempergunakan saputangannya dari sutera yang harum untuk mengusap darah. Saputangan itu sudah penuh darah, dan luka di kening masih terus mengucurkan darah.
"Tunggu sebentar kumencari air," kata Li Cu dan cepat gadis ini lari ke tepi sungai dan mengambil air dengan mempergunakan daun yang lebar. Kemudian ia datang lagi dan dicucinya luka-luka itu. Cekatan sekali ia bekerja tanpa ragu-ragu dan jari-jari tangannya dengan mesra membersihkan luka yang diakibat kan pukulannya sendiri tadi.
"Wah, darahnya mengucur terus. Jidatmu harus dibungkus," bisik Li Cu perlahan dan agak bingung karena tidak ada obat penghenti darah di situ. Ia mencuci saputangannya dan mempergunakannya untuk membalut jidat Beng San.
Tentu saja untuk pekerjaan ini ia harus mengangkat kedua lengannya dan seakan-akan memeluk kepala Beng San.
Selama itu, jantung Beng San berdebar tidak karuan. Lenyaplah bayangan Kwa Hong yang selama ini mengikutinya dan membuat ia merasa berdosa hebat. Malah bayangan isterinya, Kwee Bi Goat, isterinya yang tercinta yang selama ini dirindukannya, tidak tak
tampak pada saat itu. Bukan main cantik jelitanya gadis ini, demikian ia mendengar bisikan-bisikan di belakang telinganya, seakan-akan batang pohon yang ia sandari itulah yang berbisik-bisik. Cantik bagai bidadari. Mata yang bening redup itu, mulut kecil mungil dengan hidung yang mancung. Rambut yang panjang hitam awut-awutan. Kadang-kadang memperlihatkan kulit leher yang putih kuning. Ketika gadis itu membalutkan saputangan ke belakang lehernya ia merasa seakan-akan dipeluk dan Beng San meramkan matanya. Ganda sedap mengharum membuat ia seperti mabok dan ketika ia membuka matanya, ternyata pekerjaan gadis itu sudah selesai.
Li Cu masih berlutut di depannya, mukanya amat dekat, terlalu dekat seakan-akan ia dapat merasai tiupan napas gadis itu. Dua pasang mata bertemu, saling pandang, saling terkam dan sukar terlepas lagi. Mulut Li Cu agak terbuka, matanya redup dan bulu mata yang panjang itu bergerak-gerak. Bisikan di belakang telinga Beng San makin mendesak. Dia cantik bukan main. Dan agaknya suka kepadamu.Hemm... tunggu apa lagi?
Li Cu menierit kecil sambil melompat mundur. Hampir berbareng di saat itu juga Beng San sambil duduk membalikkan tubuhnya dan tangan kanannya yang terkepal memukul batang pohon besar di belakangnya. Blukk! Saking kerasnya ia menghantam, kepalan tangan itu melesak ke dalam batang pohon sampai ke pergelangan tangannya. "Eh... ah... kenapa .... ? Kenapa kau memukul pohon .... ??" Li Cu yang kini sudah berdiri,
memandang dengan mata terbelalak terheran-heran.
Beng San perlahan-lahan bangkit berdiri, menarik napas berkali-kali. Ia masih sempat mendengar suara yang berbisik-bisik tadi seperti mentertawakannya dari jauh. Setelah ia dengarkan betul-betul, itu sebenarnya adalah suara daun-daun pohon tertiup angin. Ia bergidik. Alangkah bahayanya bisikan-bisikan tadi. Bisikan iblis yang setiap saat menggoda manusia. Untung ia dapat mengalahkannya tadi dan biarpun kepalan tangannya terasa sakit, ia merasa lega hatinya. Kini tanpa ragu-ragu ia dapat mengangkat muka memandang wajah Li Cu.
"Beng San... kenapa kau memukul pohon .... ?" tanyanya sekali lagi.
"Ah, tidak... tidak apa-apa, Nona." "Mukamu tadi menakutkan sekali .... " "Bukan salahku.
Mukaku memang bu-ruk .... "
"Sekarang tidak lagi," buru-buru Li Cu memotong. "Tadi, sedetik sebelum kau memukul pohon. Aku sampai kaget dan menjerit. Beng San, kenapa mukamu bisa berubah-ubah?"
"Sudah nasibku, Nona. Ketika kecil aku dipaksa makan racun. Apakah sekarang mukaku masih menakutkanmu?"
Li Cu memaksa senyum, matanya bersinar-sinar lagi. "Tidak lagi. Sekarang tidak. Hanya tadi sebentar... ah, membikin aku teringat akan kata-kata Beng Kui tadi. Kau disebut iblis pengrusak wanita."
"Memang aku iblis... bukan hanya iblis malah kau tadi pun menyebutku bedebah dan
" Beng San menunduk dan menarik napas, merasa betapa memang ia tepat sekali disebut demikian setelah apa yang ia akibatkan pada diri Kwa Hong. Ia berdosa kepada Kwa Hong dan lebih-lebih lagi kepada Bi Goat. "Aku tadi mengira kau Beng Kui, maka aku memaki demikian." kurang ajar... memang demikianlah aku ....
Kembali Beng San menarik napas panjang. "Memang tidak banyak selisihnya, Nona Cia. Kami berdua... ahh, kami bukan orang baik .... "
Li Cu memandang dan menjadi terharu. Muka itu kurus benar, tapi kulitnya sekarang putih dan... hemm, tampan sekali. Apalagi alis yang berbentuk golok itu, dan sepasang mata yang tajam luar biasa. Rambutnya tidak terpelihara, pakaiannya pun hampir menyerupai pakaian jembel. Memang jauh bedanya telihat lahirnya saja dengan Beng Kui yang mentereng dan rapi. Tapi jauh nian bedanya.
" katanya setelah mereka berdua tercekam oleh suasana hening. "Malam tadi di atas genteng, kenapa kau menangis?" "Beng San ....
"Apakah aku menangis? Aku sudah lupa...
"Sebelum kau muncul untuk menolongku, kau menangis. Tangismu memilukan sekali biarpun hanya terdengar sebentar."
"Boleh jadi. Aku menangisi keadaanku, keadaan dia yang dulu kuagungkan, kukagumi sebagai kakakku yang mulia dan perkasa. Kiranya ia sama dengan aku
...." "Kau kenapa? Kau... kau baik sekali, Beng San." Ucapan ini terdengar lantang dan terus terang. Ketika Beng San mengangkat muka memandang, kembali dua pasang mata bertemu dan Beng San melihat pandang mata yang jujur dan tahu bahwa pernyataan nona ini keluar dari hatinya. Ia menarik napas.
"Bukan, sayang sekali. Benar seperti yang dikatakan olehnya, aku seorang jahat, perusak hati wanita, aku seorang penuh dosa .... "
“Tak-percaya. Aku tidak percaya." Suara Li Cu makin keras penuh kesungguhan. Gadis
ini diam-diam merasa aneh. Sesuatu yang aneh terjadi dalam dirinya. Biarpun sudah lama sekali ia bertunangan secara resmi dengan Beng Kui, namun hubungannya sama saja dengan hubungan kakak beradik, seorang suheng dan sumoi. Belum pernah jantungnya menggetar, seperti tadi ketika ia membalut kepala Beng San. Malah belum pernah berdekatan seperti tadi dengan Beng San. Apakah artinya semua ini? Dan ia sama sekali tidak mau percaya kalau Beng San seorang jahat, seorang perusak wanita.
Beng San memandang dengan melongo dan tiba-tiba ia merasa jantungnya berdebar keras. Penuh keharuan dan kengerian ia memandang kepada wajah jelita itu. Sudah terlalu sering ia melihat wajah gadis-gadis yang mencintanya, terutama sekali wajah Kwa Hong dan isterinya Kwee Bi Goat. Sinar mata dan wajah mereka itu seperti wajah Li Cu sekarang ini, demikian mesra, demikian jelas cinta kasih terbayang pada sepasang mata yang bening itu. Tak boleh ini. Sekali-kali tidak boleh. Ia tidak mau berlaku sembrono
seperti dulu. Tak mau melukai hati gadis, apalagi gadis seperti Li Cu. Dulu sudah banyak gadis-gadis terluka hatinya olehnya.
"Nona Cia, aku harus berterus terang kepadamu. Memang aku seorang laki-laki penuh dosa dan apa yang dikatakan suhengmu tadi semua betul belaka." Kemudian dengan suara tegas jelas, sama sekali tidak ragu-ragu dengan pengakuannya itu ia hendak meringankan dosanya yang menindih isi dada, ia menceritakan, kepada Li Cu telah melakukan perhubungan dengan Kwa Hong kemudian meninggalkannya karena ia sudah jatuh cinta dengan Kwee Bi Goat dan kemudian ia ikut bersama Bi Goat ke Min-san dan menjadi suami isteri di sana. Diceritakannya pula betapa Kwa Hong menjadi rusak hatinya dan seperti gila, apalagi setelah ternyata bahwa perhubungan mereka itu telah mengakibatkan Kwa Hong mengandung.
"Aku telah berdosa besar kepada Kwa Hong, aku telah merusak hidupnya. Dan aku lebih berdosa lagi kepada isteriku yang belum tahu akan hal itu. Seharusnya dahulu aku mengaku di depan Bi Goat, tapi aku pengecut... aku takut kehilangan dia, jadi aku seakan-akan menipunya. Ah, dosaku bertumpuk-tumpuk, Nona Cia. Sudah sepatutnya kalau orang semulia engkau membenciku, menganggap rendah kepadaku seperti dikatakan oleh suhengmu itu .... " Demikian Beng San menutup ceritanya.
Li Cu sejak tadi mendengarkan dengan mata terbelalak dan muka sebentar pucat sebentar merah. Entah mengapa dia sendiri tidak tahu, mendengar akan penuturan Beng San tentang pengalaman dengan beberapa orang gadis cantik ini, dadanya terasa panas dan ingin sekali ia marah-marah. Ingin sekali ia menampar muka Beng San. Tapi juga ingin sekali ia menangis.
"Kau... kau... laki-laki mata keranjang!" makinya dengan suara serak sambil berdiri dan berlari pergi dari tempat itu.
! Beng San juga berdiri dan sekali ia meloncat, ia telah berada di depan Li Cu, pedang pendek Liong-cu-kiam telah ia cabut dan ia angsurkan kepada gadis itu. Herannya bukan main ketika ia melihat muka yang jelita itu basah oleh air mata yang bercucuran. "Nona Cia .... ! Ini pedangmu, bawalah ....
Li Cu menggunakan tangan kiri mengusapi air matanya, tanpa mengeluarkan kata-kata dan tanpa memandangi muka Beng San ia menyambar pedang itu lalu berlari pergi lagi. Isaknya terdengar memilukan ketika tubuhnya berkelebat di depan Beng San. Pemuda ini berdiri bengong memandang ke arah tubuh berpakaian merah yang berlari cepat itu. Berkali-kali ia menarik napas panjang dan seperti patung ia memandang ke depan sampai bayangan merah itu lenyap ditelan kejauhan.
"Ha-ha-ha-ha, puteri Bu-tek Kiam-ong itu cinta kepadamu, Adikku!" tiba-tiba suara itu terdengar di belakang. Beng San kaget sekali, cepat berputar dan... ia berhadapan dengan seorang laki-laki bertubuh raksasa yang gagah sekali dan yang berdiri sambil tersenyum lebar dan bertolak pinggang.
"Twako .... !" Beng San berseru girang dan maju merangkul laki-laki gagah perkasa itu.
"Ha-ha-ha, Beng San adikku. Di mana-mana kau selalu menghadapi keruwetan dengan wanita. Ah, kau bikin aku mengiri saja." "Tan-twako, jangan menggoda aku. Bagaimana keadaanmu? Ke mana saja selama ini kau pergi?" Beng San menjadi gembira kembali setelah bertemu dengan laki-laki tinggi besar itu. Siapakah dia? Bukan seorang biasa, melainkan seorang bekas pejuang yang sudah terkenal namanya sebagai pemimpin dari perkumpulan Pek-lian-pai yang banyak jasanya dalam perjuangan menumbangkan kekuasaan pemerintah Mongol. Namanya adalah Tan Hok dan semenjak dahulu menjadi sahabat baik Beng San, malah Tan Hok menganggap Beng San sebagai adik angkatnya sendiri (baca kisah Raja Pedang). Tan Hok juga seorang gagah yang memiliki ilmu silat tinggi. Sebetulnya yang membuat ia amat dikagumi Beng San bukanlah ilmu silatnya, melainkan jiwa kepatriotannya yang luar biasa besarnya. Dalam hal perjuangan, Tan Hok tak dapat disamakan dengan orang seperti Beng Kui yang berjuang karena ada pamrih memetik buah dari hasil perjuangannya itu untuk keperluan dan kesenangan diri pribadi. Perjuangan yang dilakukan Tan Hok dengap perkumpulan rahasianya adalah perjuangan suci tanpa pamrih. Kalaupun ada pamrih, maka pamrih itu hanya ingin melihat rakyatnya terbebas daripada belenggu penjajahan. Jadi pamrihnya bukan untuk kepentingan diri pribadi, melainkan demi kesejahteraan rakyat. Oleh karena inilah setelah pemerintah Mongol tumbang, Tan Hok dan teman-temannya tidak termasuk bekas-bekas pejuang yang ikut gontok-gontokan untuk memperebutkan kedudukan dan kemuliaan di kota raja.
"Tan-twako, kau hendak pergi ke manakah?" Kembali Beng San bertanya, untuk sejenak ia lupa akan penderitaan batin yang sedang mengamuk di hatinya ketika bertemu dengan orang yang amat disayangnya ini.
"San-te (Adik San), sebetulnya tidak sengaja aku dapat bertemu dengan kau di sini. Pagi
tadi aku melihat kau naik kuda sambil memangku seorang nona yang tampaknya sakit atau pingsan. Tadinya aku curiga melihat keadaan Nona itu maka aku tidak menegurmu dan diam-diam mengikutimu. Maafkan kecurigaanku ini. Kemudian aku melihat bahwa dia adalah Nona Cia Li Cu puteri Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan." Tan Hok ber henti sebentar, kemudian dengan muka sungguh-sungguh ia berkata lagi, "San-te, sebetuinya pertemuan ini amat menggembirakan hatiku dan kebetulan sekali. Andaikata kita tidak bertemu di sini, agaknya aku pun akan mencarimu di Min-san untuk minta bantuanmu."
Girang hati Beng San bahwa teman baiknya ini tidak melanjutkan bicaranya tentang Li
Cu. Ia sudah merasa malu sekali kalau orang bicara tentang gadis-gadis yang pernah membuat hidupnya kacau-balau. Dengan penuh gairah ia lalu berkata,
"Katakanlah, Twako. Apakah urusan yang mengganggumu? Tentu adikmu ini dengan hati lapang siap sedia membantumu."
"Kalau hanya menghadapi urusan pribadi, mana aku berani mengganggumu, Adik Beng San? Hanya ada satu macam urusan yang memaksaku minta bantuan siapapun juga."
"Urusan negara?" Beng San menduga, tahu akan watak laki-laki raksasa itu. Tan Hok mengangguk. "Patriot-patriot palsu itu benar-benar menjemukan. Mereka kini mengacau dan berusaha merampas kedudukan Kaisar Thai Cu, merasa bahwa mereka lebih berhak daripada bekas pahlawan Giu Goan Ciang. Hemm, benar-benar tidak ubahnya dengan anjing-anjing yang memperebutkan bangkai srigala yang tadinya mereka keroyok."
"Aku sudah mendengar juga tentang itu, Twako. Malah sudah bertemu dengan Ho-hai Sam-ong yang bersekongkol dengan Raja Muda Lu Siauw Ong. Aku mendengar tentang rencana mereka yang akan bergerak dari luar dan dari dalam."
"Bagus!" Tan Hok melompat bangun, lalu duduk kembali di atas akar pohon. "Jadi mereka sudah bersekongkol pula? Lebih mudah kalau begitu untuk sekaligus menghancurkan mereka. Adikku, karena inilah maka aku minta bantuanmu. Aku dan teman-temanku dari Pek-lian-pai sudah siap dan malah Kaisar telah memberi pula bantuan pasukan untuk merampas para pemberontak tak tahu malu itu. Sin-te, dengan kau di sampingku, aku akan merasa kuat untuk menghadapi mereka yang tak boleh dipandang ringan itu. Dan...perlu kuberitahukan kepadamu, yang kausebut Lu Siauw Ong tadi, dia itu adalah mertua dari kakak kandungmu Tang Beng Kui. Jadi... kalau kau membantuku, kau tentu akan berhadapan dengan Tan Beng Kui sebagai musuh."
Beng San mengangguk. "Hal itu pun aku sudah tahu, Twako." Kemudian secara singkat Beng San menuturkan pertemuannya dengan kakak kandungnya itu di rumah Ho-hai Sam-ong. Hanya soai Li Cu tidak ia ceritakan.
Tan Hok senang mendengar ini. "Kalau begitu, mari kau ikut denganku. Kita akan bergerak dari utara, membersihkan pemberontak-pemberontak yang datang dari sana. Ho- hai Sam-ong takkan berani sembarangan bergerak kalau komplotan-komplotannya dari utara belum kuat benar membantunya."
"Aku bersedia membantumu, Twako. Hanya saja... aku masih belum tahu pasti, belum yakin akan tujuan pergerakanmu sekarang ini. Orang-orang itu saling memperebutkan kedudukan dan semua yang kudengar menyatakan bahwa Kaisar sekarang ini, bekas pemimpin pejuang Ciu Goan Ciang adalah seorang yang tidak adil. Sekarang ternyata kau membantu Kaisar, Apakah menurut pendapatmu Kaisar Thai Cu yang betul dan mereka yang tidak puas itu salah?"
"Adikku Beng San, kau tidak mengerti tentang keadaan negara, memang hal ini tidak aneh karena kau tidak mempedulikannya. Akan tetapi aku yang selalu mengikuti perkembangannya, dapat melihat dengan nyata. Dengarlah kata-kataku ini, Adikku. Sudah jelas bahwa dalam perjuangan menumbangkan kekuasaan Mongol, pemimpin besar Ciu Goan Ciang membuktikan bahwa dialah seorang pemimpin yang pandai dan hanya dia yang akan dapat memimpin rakyat dan memajukan negara yang baru saja terbebas dari belenggu penjajahan. Andaikata bukan Ciu Goan Ciang yang dalam
perjuangan dapat menyatukan semua unsur kekuatan rakyat, mana perjuangan melawan Mongol bisa tercapai?"
Tan Hok berhenti sebentar untuk meredakan gelora dalam dadanya, lalu disambungnya perlahan dan tenang,
"Bahaya yang mengancam keadaan negara masih belum lenyap. Bangsa Mongol yang melarikan diri ke utara setiap waktu tentu hendak mencoba merampas kembali tanah jajahannya. Belum lagi bangsa-bangsa lain yang hendak mengambil keuntungan dari keadaan kacau-balau sehabis perang. Kita semua membutuhkan bimbingan seorang yang kuat lahir batin, sedangkan perjuangan membuktikan bahwa hanya Ciu Goan Ciang yang mempunyai kemampuan untuk tugas berat itu. Pengangkatan dirinya sebagai Kaisar sudah disetujui oleh semua pemimpin para pejuang." Kembali ia berhenti.
Akan tetapi Beng San mengemukakan pendapatnya. "Mengapa kalau begitu, masih banyak orang merasa kurang puas dan menganggap dia kurang adil karena tidak memberi kedudukan kepada para bekas pejuang?"
"Memang kalau menurutkan pendapat setiap orang yang selalu mementingkan dirinya sendiri, di dunia ini tidak akan pernah ada keadilan. Mana bisa timbul keadilan kalau semua orang menghendaki bahwa yang enak-enak dan yang baik-baik itu seyogianya diberikan kepadanya saja? Soal kedudukan bukanlah hal semudah orang bicarakan. Tentu saja Kaisar harus memilih orang dengan hati-hati untuk didudukkan atas suatu pangkat, disesuaikan dengan kecakapan orang itu. Bagaimana nanti jadinya kalau seorang bekas kepala perampok diangkat menjadi menteri yang mengurus kekayaan negara? Bagaimana akan jadinya kalau seorang yang hampir tak pandai menulis diangkat menjadi menteri kebudayaan? Seorang yang buta akan urusan pemerintah diangkat menjadi menteri urusan negara? Tentu akan menjadi makin kacau kalau hal-hal semacam itu dilakukan hanya untuk memenuhi pamrih bekas-bekas pejuang yang menganggap diri sendiri paling berjasa itu." Kembali Tan Hok bicara penuh semangat.
"Kalau begitu, menurut anggapan Twako, Kaisar Thai Cu atau bekas pejuang Ciu Goan Ciang itu adalah seorang yang sempurna dan semua rakyat harus saja mentaati apa yang ia kehendaki?"
Tan Hok tertawa. "Adikku. Tidak ada seorang manusia yang sempurna sama sekali di dunia ini. Para dewa sekalipun masih belum sempurna karena masih tak luput dari kesalahan. Tentu saja Kaisar tidak terkecuali. Aku takkan membantah kalau ada orang yang dapat mengemukakan kesalahan-kesalahan, cacad-cacad atau kekurangan- kekurangan Kaisar. Setiap manusia sudah pasti mempunyai kekurangan-kekurangan dan cacad-cacadnya, Akan tetapi dalam hal kenegaraan, adalah keliru kalau menilai kedudukan seseorang dari tabiat pribadinya. Seharusnya dilihat pelaksanaan dari tugasnya, hasil dari pekerjaannya, dan kemampuan dari dirinya. Kiraku tidak ada orang yang lebih pandai dan lebih bijaksana dan lebih tepat untuk menduduki singgasana daripada Kaisar yang sekarang ini. Oleh karena mengingat bahwa dia adaiah pusat dari kekuatan kerajaan yang baru, pusat dari pemerintahan sesudah kaum penjajah jatuh,
maka sudah seharusnyalah kalau kita mendukung dan membantunya. Bukan semata-mata membela pribadi Ciu Goan Ciang yang sekarang sudah menjadi Kaisar Thai Cu, melainkan mendukung dan membela pemimpin dari bangsa kita. Kalau tidak kita bela, lalu pimpinan terjatuh ke dalam tangan orang yang tidak bijaksana, tidak mampu, apalagi yang jahat seperti bekas-bekas kepala rampok macam Ho-hai Sam-ong, ah, akan bagaimanakah jadinya dengan negara kita?"
Setelah mendengarkan penjelasan dan penuturan Tan Hok secara panjang lebar, akhirnya Tan Beng San menyatakan suka ikut dan membantu Tan Hok untuk menggempur dan menghalau para pemberontak yang hendak mendatangkan kekacauan itu. Hal ini bukan semata-mata karena bangkitnya semangat oleh uraian Tan Hok, melainkan untuk melupakan atau menghibur kehancuran hatinya. Ia merasa malu untuk pulang ke Min- san, untuk berhadapan muka dengan Bi Goat, isterinya yang tercinta itu. Memang kadang-kadang hatinya penuh rindu, perasaannya hancur kalau ia teringat betapa Bi Goat sudah mengandung ketika ia tinggalkan ke Hoa-san. Sudah mengandung beberapa bulan. Inilah sebabnya mengapa ia melarang ketika Bi Goat menyatakan keinginan hatinya hendak ikut pergi dengan suaminya itu ke Hoa-san.
Di puncak sebuah bukit kecil yang ditumbuhi beberapa batang pohon raksasa terdapat sebuah rumah papan yang kecil menyendiri. Tak ada rumah lain dari puncak sampai ke kaki bukit kecuali pondok kecil itu. Sunyi sepi Sekelilingnya, namun harus diakui bahwa hawa udara amat sejuk dan pemandangan alam amat indahnya dari puncak itu. Di lereng dan kaki bukit tampak pohon-pohon kecil menghijau. Hanya di puncak itulah adanya beberapa pohon raksasa yang sudah tua dan amat besar lagi tinggi.
Seperti biasanya setiap hari, pada pagi hari itu pun sunyi, seakan-akan tidak ada penghuninya. Akan tetapi kesunyian pagi itu tidak lama karena segera terdengar lapat- lapat suara tangisan seorang wanita, tangisan yang amat memilukan. Terisak-isak wanita itu menangis, kemudian terdengar keluhannya.
"Kaubunuhlah aku... bunuhlah aku... ah, alangkah keji hatimu, kau melebihi segala iblis... kaubunuhlah aku ..... "
Lalu disusul suara laki-laki, suaranya halus tapi penuh ejekan.
"Kau selalu minta mati saja, sudah sebulan lebih permintaanmu tak lain hanya itu saja. Bosan aku mendengarnya. Bukankah sudah jelas bahwa aku amat sayang kepadamu, bahwa aku cinta kepadamu? Manis, apakah kau bosan tinggal di tempat sunyi ini? Apakah kau ingin ikut denganku merantau ke utara? Di sana indah sekali. Pernah kau menyaksikan gurun pasir?"
"Aku tidak inginkan apa-apa kecuali mati. Kau bunuh sajalah aku." lagi-lagi suara wanita itu memohon.
"Sudahlah, mari kau ikut ke utara. Tentu kau senang dan kau akan melihat betapa besar cintaku kepadamu." Laki-laki itu tertawa dan tak lama kemudian tampaklah seorang laki-
laki muda yang tampan keluar dari pondok itu, memondong seorang wanita muda cantik yang lemas tak berdaya, agaknya telah tertotok jalan darahnya.
Laki-laki muda itu bukan lain adalah Siauw-coa-ong Giam Kin, pemuda raja ular yang jahat itu. Adapun wanita yang bukan lain adalah Lee Giok atau Nyonya Thio Ki yang telah ditawan dan dilarikannya sebulan yang lalu, Lee Giok kelihatan pucat dan berduka sekali, akan tetapi ia tidak berdaya karena memang kalah kuat dan kalah tinggi kepandaiannya.
Setelah tiba di luar pondok, Lee Giok berkata sambil menarik napas panjang, "Giam Kin, agaknya Thian sudah menakdirkan aku menjadi teman hidupmu. Sudahlah aku tidak akan membantah lagi dan aku mau ikut denganmu ke utara. Asal selama hidupku aku tidak akan bertemu dengan, suamiku dan kau membawa ku ke tempat yang jauh, aku menurut."
Giam Kin girang sekali dan memeluknya. "Betulkah kata-katamu ini? Aha, bagus sekali, adikku yang tercinta. Mari kubawa kau ke sorga di utara dan kita hidup bahagia. Ha-ha- ha." Seperti orang gila Giam Kin memeluk nyonya muda itu sambil menari-nari.
"Hush, gila kau! Tak usah aku kau gendong-gendong terus seperti orang lumpuh, hayo lepaskan totokan pada tubuhku dan aku akan jalan sendiri di sisimu selama hidupku."
Giam Kin sambil tersenyum-senyum dan menggoda-goda dengan ceriwis sekali lalu menurunkan Lee Giok dan menotok beberapa jalan darahnya lalu mengurut punggung nyonya muda yang cantik itu. Ia tidak takut membebaskan Lee Giok karena kalau Lee Giok melawan, dengan mudah ia akan dapat mengatasinya kembali.
Setelah terbebas dari totokan Lee Giok terhuyung-huyung lemas. Memang tubuhnya lemas sekali, terbawa oleh perihnya perasaannya yang ditahan-tahan. Ketika Giam Kim maju memeluknya untuk mencegahnya jatuh, ia berkata, suaranya halus mesra,
"Biarkan aku mengaso di bawah pohon ini dulu, aku... aku pening dan lesu sekali."
Sambil memeluknya Giam Kin membawa Lee Giok ke bawah pohon raksasa dan mendudukkannya di atas akar pohon itu yang keluar dari dalam tanah seperti tubuh ular besar, Lee Giok menjatuhkan diri duduk di situ, ia lalu meramkan matanya mengumpulkan tenaga. Ketika ia meramkan mata, terbayanglah wajah suaminya dan terbayang pula pengalamannya, ketika ia tertawan oleh Giam Kin. Hatinya seperti ditusuk-tusuk pisau rasanya dan tak tertahankan lagi kembali air matanya be bercucuran turun.
"Ah, kekasihku, lagi-lagi kau menangis .... " Giam Kin mendekat dan hendak merangkul
leher Lee Giok.
Tiba-tiba Lee Giok menggerakkan kedua tangannya memukul ke depan sekuat tenaganya. Giam Kin memang sudah siap sedia karena orang yang cerdik ini mana mau percaya begitu saja akan sikap menyerah dari nyonya muda yang selalu berkeras
membencinya ini? Cepat ia melompat mundur untuk menghindarkan diri dari penyerangan tiba-tiba ini. Lee Giok juga melompat berdiri dan memandang kepada Giam Kin penuh kebencian.
"Manusia iblis! Aku Lee Giok bersumpah takkan mau hidup sebelum menghancurkan kepalamu, membelah dadamu dan mencabut keluar isi dadamu." teriaknya penuh kemarahan yang meluap-luap.
"Heh-heh, galaknya tapi malah lebih manis." Giam Kim mengejek. "Kau perempuan tak tahu disayang orang. Aku ingin membikin kau bahagia dan ingin mencintamu selamanya. Kiranya kau seorang yang tidak punya jantung. Baiklah, aku akan menjadikan kau barang permainanku, kalau sudah bosan akan kulempar ke jurang biar menjadi makanan serigala."
Lee Giok tidak sudi mendengarkan lagi, terus saja ia menerjang dengan kaki tangannya, mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk membunuh manusia yang dibencinya ini, yang telah merusak hidupnya. Namun, seperti beberapa kali yang sudah- sudah, kali ini pun ia tidak berhasil mengalahkan Giam Kin yang memang amat lihai itu. Ia malah dipermainkan oleh Giam Kin yang mengelak ke sana ke mari, berloncatan sambil mengejek dan menggoda. Ia ingin membuat Lee Giok kelelahan lebih dulu untuk kemudian ditawan lagi dan dipermainkan. Memang pada dasarnya hati Giam Kin memiliki kekejaman yang luar biasa, sudah bukan seperti manusia lagi. Hal ini tidak aneh kalau dipikir bahwa dia adalah murid tunggal dari manusia iblis Siauw-ong-kwi dan semenjak kecil sudah banyak melakukan kekejaman-kekejaman.
Tubuh Lee Giok masih amat lesu, maka dipermainkan oleh Giam Kin ia menjadi makin payah dan lemas. Namun dengan nekat nyonya muda ini menyerang terus mati-matian dengan tekad membunuh atau mati dalam pertempuran ini.
Tiba-tiba terdengar suara aneh di atas, suara melengking yang amat nyaring menggetarkan jantung. Kemudian dari puncak pohon raksasa di bawah mana dua orang itu sedang bertempur, melayang turun seekor burung raksasa yang
....berbulu kuning emas. Di punggung burung itu duduk seorang wanita muda cantik yang sinar matanya tajam dan liar. Sebelah tangannya memegang sebuah cambuk berekor lima di mana terikat lima batang anak panah hijau. Di punggungnya tergantung sebuah pedang pusaka. Inilah Kwa Hong yang menunggang burung rajawali emas yang sakti itu.
"Hi-hi-hik, Giam Kin, kebetulan sekali. Tak usah aku mencarimu kau sekarang mengantar nyawa kepadaku." kata Kwa Hong ketika ia mengenal isteri dari suhengnya, Thio Ki. Akan tetapi ia tidak menegur Lee Giok yang tadi amat terdesak hebat oleh Giam Kin itu. Sinar kuning emas menyambar turun dan burung itu telah menerkam ke arah kepala Giam Kin.
Bukan main kagetnya Giam Kin melihat penyerangan ini. Cepat ia melompat mundur dan membentak, "Siapa kau?"
Bergidik juga ia melihat wanita cantik menunggang burung rajawali yang bermata liar itu, sementara itu Lee Giok segera mengenal Kwa Hong. Ia girang mendapat bala bantuan, akan tetapi juga heran dan kaget sekali menyaksikan keadaan Kwa Hong yang tidak wajar ini.
"Adik Hong .... !" serunya.
Burung itu masih beterbangan berputar-putar di atas mereka. Kwa Hong berkata dengan suara mengejek,
"Lee Giok, tidak lekas lari menanti apalagi? Apa kau mengharapkan tertawan oleh lawanmu yang tampan ini? Heh-heh-heh, kau mau main gila di belakang suamimu, ya?"
Kalau ada halilintar menyambar kepalanya, kiranya Lee Giok takkan begitu kaget seperti ketika ia mendengar ejekan ini. Sejenak ia memandang dengan mata terbelalak kepada Kwa Hong yang duduk di punggung burung. Lalu terlihat olehnya, sepasang mata yang mengerikan itu. Lee Giok tertusuk hatinya, sambil terisak-isak ia lalu lari pergi dari situ, diikuti suara ketawa yang mengerikan dari Kwa Hong. Dasar watak Giam Kin mata keranjang dan keji. Melihat nona cantik jelita di punggung burung itu, ia segera tertarik sekali hatinya. Ia sudah mengenal sekarang wanita muda yang duduk di punggung burung itu. Kwa Hong murid Hoa-san-pai yang cantik itu, yang dulu pernah membuat ia tergila-gila juga (baca Raja Pedang). Karena dia sendiri seorang berwatak keji, maka sinar ganas dan liar pada sepasang mata Kwa Hong itu baginya malah mendatangkan perasaan menyenangkan, malah menjadikan Kwa Hong makin manis dalam pandang matanya. Pula ia memandang rendah kepada Kwa Hong, karena murid Hoa-san-pai saja sampai di mana sih kelihaiannya?
"Aha, kukira tadi siapa. Tidak tahunya adik manis dari Hoa-san-pai. Turunlah Nona manis dan mari bersenang-senang dengan aku. Boleh aku membonceng di punggung burungmu yang indah itu?"
Tiba-tiba sinar hijau menyambar, sebagai jawaban. Giam Kin tertawa mengejek akan tetapi segera ketawanya berubah seruan kaget ketika lima batang anak panah itu menyambar kepadanya dengan kecepatan yang amat luar biasa, seperti kilat menyambar, Ia menjatuhkan diri di atas tanah dan hanya dengan cara begini ia dapat menyelamatkan dirinya.
Celaka baginya, wanita yang duduk di punggung rajawali emas itu lihai bukan main. Burungnya menyambar-nyambar rendah dan anak panah-anak panah di ujung cambuk itu terus menyambar-nyambar dengan pukulan dahsyat sekali. Giam Kin mencabut suling ularnya dan berusaha menangkis, akan tetapi baru dua kali menangkis saja sulingnya itu terlepas dari tangannya dan mencelat entah ke mana. Demikian hebatnya tenaga pukulan Kwa Hong sampai-sampai dia sendiri tidak mampu menangkisnya. Mulailah pengejaran yang mengerikan. Giam Kin lari ke sana ke mari, namun burung itu terus mengejar dan sinar hijau bersuitan di atas kepalanya. Giam Kin menjadi pucat sekali, keringat dingin
bercucuran keluar. Ia menjatuhkan diri, bergulingan, tapi ke manapun juga ia selalu dikejar sinar hijau itu yang diikuti suara ketawa. Baru sekarang telinga Giam Kin mendengar suara ketawa yang mengerikan sekali, tidak semerdu tadi.
"Mampus kau ..... hi-hi-hik, mampus kau...!"
Akibatnya Giam Kin yang belum sekali juga terkena anak panah itu, menjadi lemas saking lelah dan ketakutan. Gerakannya lambat dan tiba-tiba sepasang cakar burung yang kuat sekali mencengkeram tubuhnya bagian dada dan kepala. Terdengar suara daging dan kulit dirobek-robek diiringi suara ketawa melengking tinggi dari Kwa Hong. Beberapa kali Giam Kin mengeluarkan pekik kesakitan dan ketakutan, kemudian hening kembali di situ.
Ketika burung rajawali yang ditunggangi Kwa Hong itu terbang lagi ke atas, di bawah pohon raksasa itu tertinggal tubuh Giam Kin yang tak bergerak dan dalam keadaan mengerikan sekali. Pakaiannya robek-robek, dan penuh darah yang bercucuran dari dada dan mukanya yang juga sudah terobek-robek oleh cakar cakar tajam tadi. Matanya sebelah kiri hancur, telinga kirinya juga lenyap, mulutnya robek lebar, dadanya terbeset kulitnya dan lengan kirinya dicengkeram sedemikian rupa oleh cakar rajawali sehingga semua urat-urat besarnya terputus dan lengan itu kiri kaku dengan jari-jari mencengkeram saking menahan sakit. Matikah Giam Kin? Pada saat itu masih belum, karena terdengar rintihan perlahan dari dadanya. Tapi kalau orang menyaksikan keadaannya, tentu takkan dapat mengharapkan dia dapat hidup lagi. Sementara itu, Lee Giok terus berlari cepat sambil menangis terisak-isak. Ia telah terlepas dari cengkeraman tangan Giam Kin. Akan tetapi apa gunanya? Lebih baik ia mati saja. Mana mungkin ia dapat menentang wajah suaminya lagi. Lebih baik dia mati daripada menanggung aib yang hebat. Lebih baik ia terjun ke dalam jurang yang curam. Akan tetapi, apa pula artinya kalau ia mati tanpa ada yang mengetahuinya kelak? Tetap saja ia akan mati dalam keadaan menanggung malu. Lebih baik dia ke Hoa-san dan mati di sana agar suaminya kelak tahu bahwa ia telah menebus aib itu dengan nyawanya. Di Hoa-san ia harus mati, agar suaminya tahu bahwa sampai detik terakhir ia masih teringat kepada suaminya, masih ingin mendekatinya biarpun hanya dengan maksud mendekatkan arwahnya dengan Hoa-san. Selain itu, alangkah akan besar dosanya kalau ia mati membawa anak dalam kandungannya. Bukankah jtu berarti ia akan membunuh anak itu?, Anaknya? Anak suaminya? Tidak, ia harus menanti, biarpun hatinya akan remuk-redarm Harus menanti sampai anak dalam kandungannya yang sudah tiga bulan itu lahir.
Lee Giok berlari terus sampai akhirnya tubuhnya terguling menggeletak di tengah hutan saking tidak kuat lagi, saking lelahnya. Sambil merintih-rintih ia merangkak ke bawah pohon yang bersih, lalu membaringkan tubuh dan pikirannya melayang-layang. Hidupnya rusak oleh Giam Kin.Yang menjadi biang keladi adalah Kim-thouw Thian-li dan Hek- hwa Kui-bo. Semangatnya sebagai seorang gagah dalam diri Lee Giok bangkit ketika ia mengingat akan tiga orang ini. Akan sia-sia belaka kalau ia mati sebelum ia mampu membalas, sebelum ia mampu melenyapkan tiga manusia iblis itu dari permukaan bumi. Kepandaiannya memang masih belum begitu tinggi untuk mengalahkan mereka, akan tetapi ia dapat memperdalam kepandaiannya.
Setelah tidur semalam di hutan itu, pada keesokan harinya Lee Giok melanjutkan perjalanannya dengan hati yang sudah mengambil dua buah keputusan, yaitu sebelum ia membunuh diri untuk mencuci noda pada dirinya, ia harus lebih dulu melahirkan anak dalam kandungannya, kemudian tugasnya yang kedua ialah membunuh tiga orang musuh besarnya itu. Ia tidak boleh mati sekarang, ia malah harus kuat dan harus dapat memperdalam ilmunya. Pikiran inilah yang menyelamatkan nyawa Lee Giok dan dengan hati teguh nyonya muda ini melanjutkan perjalanannya menuju Hoa-san. Gunung Min-san berada di tapal batas antara Propinsi Se-cuan, Cing-hai, dan Kan-su. Gunung ini amat indah pemandangannya dan merupakan pegunungan yang subur. Sungai-sungai besar yang amat terkenal seperti Sungai Kuning dan Sungai Yang-ce- kiang, boleh dibilang mendapatkan sumber mata airnya dari Pegunungan Min-san ini, sungguhpun masih banyak pegunungan lain yang menjadi sumbernya pula.
Di antara puncak-puncak Pegunungan Min-san inilah menjadi tempat tinggal Song-bun- kwi Kwee Lun yang dahulunya amat terkenal di dunia kang-ouw dengan julukan Song- bun-kwi. Ia dijuluki Song-bun-kwi (Setan Berkabung) karena selalu memakai pakaian putih berkabung semenjak isterinya meninggal dan ia hidup merantau dengan puteri tunggalnya, Kwee Bi Goat.
Setelah sekarang Kwee Bi Goat menikah dengan Tan Beng San dan hidup bahagia di Min-san, Kwee Lun ini tidak patut lagi dijuluki Song-bun-kwi karena ia tidak lagi berpakaian berkabung, juga tidak lagi hidup seperti yang sudah-sudah, yaitu seperti manusia iblis yang ditakuti orang. Kakek ini sekarang hidup tenang dan tenteram di Pegunungan Min-san ini, malah setiap hari bertani atau samadhi memperdalam ilmu batinnya.
Adapun Kwee Bi Goat yang dahulunya gagu (baca cerita Raja Pedang), tapi sekarang telah sembuh, menjadi isteri yang cantik jelita dan penuh kasih sayang bagi Beng San. Suami isteri ini bersama Kakek Kwee hidup aman dan damai di Min-san. Namun, nasib manusia memang tidak menentu seperti air laut, kadang-kadang surut. Baru beberapa bulan saja mereka hidup penuh madu kasih dan kebahagiaan di Min-san, datanglah seorang tosu dari Hoa-San-pai yang minta bantuan Beng San untuk menolong Hoa-san- pai yang sedang ditimpa malapetaka karena pengamukan Kwa Hong. Dan seperti telah diceritakan di bagian depan, Beng San yang mengingat akan hubungannya dengan Hoa- san-pai dahulu, terpaksa pergi meninggalkan isterinya yang tercinta yang diakhiri dengan kehancuran hatinya se hingga membuat ia tidak berani pulang dan tidak berani bertemu muka dengan isterinya.
Berbulan-bulan Bi Goat menanti kembalinya suaminya dengan hati penuh rindu dan kekuatiran. Akhirnya ia tidak dapat menahan lagi hatinya yang penuh rasa kegelisahan. Ia takut kalau-kalau suaminya tertimpa bencana karena sudah terlalu lama meninggalkan rumah tanpa ada kabar beritanya dan juga tidak kelihatan pulang. Bi Goat lalu minta pertolongah ayahnya untuk pergi menyusul Beng San ke Hoa-san dan mencarinya sampai dapat.
"Hemmm, baru ditinggal beberapa bulan saja kau sudah rewel." Kwee Lun mengomel. "Sudah lama aku tidak meninggalkan gunung, kalau turun gunung kutakut akan kumat penyakitku yang lama." Kakek yang dulu dijuluki setan berkabung itu mula-mula menolak permintaan puterinya. Ia sudah mulai senang dengan hidup bersunyi di puncak yang indah itu, menikmati ketenteraman hidup di hari tua.
"Ayah, jangan salah mengerti. Bukan sekali-kali karena aku terlalu manja dan tidak bisa ditinggalkan suami yang pergi menjalankan tugas sebagai orang gagah. Tetapi, harap Ayah ketahui bahwa sekarang kandunganku sudah lima bulan. Bagaimana kalau sampai tiba saatnya melahirkan tidak ada ayahnya di sini? Ayah, apa kau tidak kasihan kepadaku?" Suara Bi Goat menggetar dan hati kakek yang dulu dianggap manusia iblis itu mencair.
"Baiklah... baiklah... dasar bocah yang jadi mantuku itu tidak tahu diri. Akan kucari dia dan kuseret pulang." Sambil mengomel panjang pendek, kakek yang pernah menjadi tokoh nomor satu di dunia kang-ouw sebelah barat itu akhirnya turun gunung meninggalkan Min-san untuk menyusul dan mencari anak mantunya, Tang Beng San.
Sebulan sudah Song-bun-kwi Kwee Lun meninggalkan Min-san. Pada suatu sore Bi Goat duduk seorang diri di pekarangan depan rumahnya. Dengan penuh harapan, seperti setiap sore yang lalu, ia duduk menanti kalau-kalau ayah dan suaminya pulang. Para pelayan yang tidak kurang enam orang banyaknya, sudah selesai bekerja dan sedang asyik mengobrol di belakang rumah. Bi Goat duduk seorang diri menghadapi cangkir teh dan makanan yang mengandung daya penguat badan. Ayahnya banyak memberikan makanan seperti ini untuknya.
Mendadak ia.mendengar suara aneh di udara. Ketika ia mengangkat muka, Bi Goat terheran-heran melihat seekor burung yang besar dan indah sekali terbang berputaran di atas puncak itu. Cahaya matahari senja yang merah membuat bulu burung itu kelihatan kuning kemerahan, amat indahnya seperti emas.
" kata Bi Goat kagum sekali. Mendadak wajahnya berubah dan nyonya muda ini cepat barigkit berdiri dari kursinya. Ia melihat sesuatu yang aneh, sesuatu yang ajaib. Ada seorang wanita menunggang burung rajawali itu. "Ah, burung rajawali kalau aku tidak salah ....
"Mimpikah aku?" gumamnya seorang diri sambil menggosok-gosok matanya. Tidak, ia tidak mimpi. Malah kini burung itu menukik turun dan tak lama kemudian burung itu sudah sampai di atas tanah, hanya belasan meter jauhnya dari tempat Bi Goat berdiri. Wanita muda dan cantik itu melompat turun dari punggung rajawali dan dengan hati berdebar Bi Goat mendapat kenyataan bahwa wanita itu sedang mengandung. Malah perutnya lebih besar daripada perutnya sendiri. Kandungannya sudah tua. Wanita itu melangkah maju, agak terhuyung-Huyung.
Bi Goat adalah seorang yang pada dasarnya memiliki budi yang halus. Melihat wanita
yang mengandung tua ini terhuyung-huyung dan nampak letih, mukanya pucat, ia cepat lari menghampiri dan merangkul pundaknya.
"Hati-hatilah, Cici .... " katanya halus.
Wanita itu bukan lain adalah Kwa Hong. Kemarahannya ketika tadi turun dan menduga bahwa wanita cantik yang juga sudah mengandung di depannya itu tentulah isteri Beng San, agak mereda oleh sikap halus Bi Goat. Pernah ia melihat Bi Goat, akan tetapi hanya seben tar maka ia sudah lupa lagi (baca cerita Raja Pedang). Demlkian pula Bi Goat, biarpun pernah bertemu dengan Kwa Hong, tapi karena baru sekali dan hanya sebentar, ia pun sudah lupa lagi.
"Di mana Beng San? Aku ingin bicara padanya," kata Kwa Hong menahan marah, suaranya agak ketus dan sama sekali ia tidak menyambut baik sikap halus dari Bi Goat tadi.
Bi Goat terkejut, tapi ia menjawab juga. "Suamiku sudah beberapa bulan turun gunung, sampai sekarang belum pulang," jawabnya masih halus dan hati-hati ia bertanya, "Tidak tahu siapakah Cici ini dan ada keperluan apalah mencari suamiku?"
"Hemm, jadi kau ini Bi Goat, dara baju merah yang dulu gagu itu?" tanya Kwa Hong, suaranya mengejek dan pandang matanya menyapu Bi Goat dari atas ke bawah.
Kini Bi Goat mulai curiga. Pandang matanya tajam menyelidik. "Kau siapakah dan apa keperluanmu datang ke Puncak Min-san ini?"
"Heh, kau sudah lupa kepadaku. Aku Kwa Hong .... "
"Ohhh, murid Hoa-san-pai?"
"Bodoh! Ketua Hoa-san-pai, bukan murid! Aku datang mencari Beng San. Mana dia?"
"Sudah kukatakan tadi, dia sedang pergi." Bi Goat mulai tak senang hatinya. "Aku mencari Beng San, bukan suamimu."
"Ben-San adalah suamiku!" jawabnya Bi Goat sekarang agak ketus.
Kwa Hong tersenyum mengejek, lalu melirik ke arah perut Bi Goat. Tanyanya penuh ejekan, "Berapa bulan kau mengandung?"
??" Wajah Bi Goat menjadi merah sekaii. Kalau ia tidak ingat bahwa yang mengajukan pertanyaan ini pun sedang mengandung, tentu ia akan menjadi marah. "Sudah enam bulan mengapa?" "Heee?? Kenapa ....
Kembali Kwa Hong tersenyum mengejek. "Seharusnya kau bilang baru enam bulan, bukannya sudah enam bulan. Jadi baru enam bulan, kan? Lihat kandunganku ini sudah
sembilan bulan. Mana lebih dulu? Sebelum menjadi suamimu, Beng San sudah menjadi ayah anak yang kukandung ini, tahu??"
Seketika wajah Bi Goat menjadi pucat sekali. Ucapan Kwa Hong itu betul-betul merupakan pedang yang menusuk tembus jantungnya. Gemetar seluruh tubuhnya dan suaranya menggigil ketika ia berseru, "Kau... kau bohong .... !!"
Kwa Hong memperlebar senyumnya. "Kalau tidak percaya kautanyakan saja kepada Beng San. Hayo, mana dia? Panggil dia keluar, dia harus menyaksikan kelahiran anaknya .... " Tiba-tiba Kwa Hong mengeluh sambil memegangi perutnya.
?" Bingung juga Bi Goat melihat Kwa Hong tiba-tiba terhuyung dan tentu sudah roboh kalau tidak cepat ia tangkap lengannya. Ia melihat wajah Kwa Hong pucat sekali, mulutnya merintih-rintih dan keadaannya hampir pingsan. "Dia sedang pergi... hee, bagaimana ini?? Kau kenapa, Cici ....
Memang pada dasarnya Bi Goat seorang yang berhati mulia. Biarpun ia tadi marah sekali dan perasaannya seperti ditusuk-tusuk mendengar ucapan Kwa Hong, namun melihat keadaan nyonya muda yang akan melahirkan itu ia menjadi tidak tega dan cepat-cepat menolong.
" demikian Kwa Hong mengeluh perlahan ketika siuman. Sementara itu, Bi Goat sudah berseru memanggil para pelayannya dan Kwa Hong lalu digotong masuk ke dalam rumah. Karena dia sendiri sedang mengandung, maka Bi Goat memang sudah mengundang seorang wanita tua yang ahli menolong orang beranak dan yang disuruh tinggal di rumahnya. Maka Kwa Hong dapat menerima pertolongan yang cepat. "Biarlah... aku... aku harus melahirkan... di tempat tinggal... Beng San ....
Dalam keadaan setengah sadar saking menahan sakit, Kwa Hong mengigau dan bercerita Bi Goat tentang perhubungannya dengan Beng San dahulu, juga tentang pertemuannya yang terakhir. Semua diceritakan oleh Kwa Hong sehingga Bi Goat yang mendengarkan ini hanya dapat menangis dengan hati hancur. Dia amat mencinta Beng San, sejak dahulu ia mencinta Beng San dengan seluruh jiwa raganya. Ia tidak rela kalau Beng San membagi cintanya dengan wanita lain, maka dapat dibayangkan betapa hebat dan parah luka yang ditimbulkan oleh penuturan Kwa Hong ini di dalam hatinya.
Pada tengah malam hari itu, dari dalam rumah Bi Goat terdengarlah suara pertama dari seorang bayi yang terlahir. Tangisnnya memecahkan kesunyian malam, nyaring melengking. Tangis seorang bayi laki-laki yang montok dan sehat. Tak lama kemudian terdengar lengking lain susul-menyusul menjawab tangis bayi ini, suara lengking tinggi yang datangnya dari atas rumah. Itulah suara lengking rajawali emas yang menanti munculnya Kwa Hong sambil mendekam dl atas wuwungan genteng rumah itu. Entah mengapa binatang itu melengking, mungkin karena tangis bayi itu hampir sama dengan suaranya sendiri.
Biarpun hatinya hancur, Bi Goat siang malam menunggu Kwa Hong dan merawatnya
dengan baik. Sepekan kemudian Kwa Hong sudah sembuh, Ia menggendong anaknya dengan penuh kasih sayang, lalu ia keluar dari rumah itu memanggil rajawali emas. Burung itu yang mulai tak sabar dan setiap hari berkaok-kaok di depan rumah, menjadi girang sekali dan menyambar turun, Bi Goat yang berwajah pucat sekali mengikuti Kwa Hong dari belakang.
"Cici Hong, kau baru sepekan melahirkan, jangan pergi dulu .... " katanya menahan.
Akan tetapi Kwa Hong tidak peduli, membawa anaknya melompat ke arah punggung rajawaii, lalu berkata,
"Katakan kepada Beng San kalau dia pulang, bahwa aku tidak bisa membunuhnya karena kalah kuat, dan aku tidak bisa membunuhmu karena kau telah menolongku ketika aku melahirkan. Akan tetapi kelak anak inilah yang akan membunuh Beng San, kau dan semua anak anak dan keluargamu!" Setelah berkata demikian, Kwa Hong menepuk leher rajawali emas yang segera melengking tinggi dan melesat, terbang ke atas dengan cepat sekali.
Untuk beberapa lama Bi Goat berdiri bengong kemudian ia mengeluh dan tubuhnya menjadi lemas. Ia roboh pingsan di depan pintu rumahnya. Para pelayan segera mengejar keluar dan sibuk menolong nyonya muda yang menderita kehancuran hati ini. Bie Goat jatuh sakit dan semenjak hari itu ia tidak kuat lagi bangun dari tempat tidurnya. Badannya panas dan setiap kali panasnya naik, ia mengigau menyebut-nyebut nama suaminya dan Kwa Hong. Setiap kali ia berusaha untuk tidak mempercayai semua omongan Kwa Hong, namun hal itu amat sukar baginya. Diharap-harapkan kedatangan suaminya agar dapat ia bertanya tentang Kwa Hong. Pengharapan bahwa suaminya akan menyangkal semua itu merupakan sinar kecil yang masih menerangi hatinya, penuh harapan. Akan tetapi, suaminya tak kunjung pulang, malah ayahnya juga yang mencari dan menyusul suaminya itu, belum juga pulang.
Dua bulan ia jatuh sakit itu, sementara kandungannya makin besar, sudah delapan bulan ia mengandung. Pada suatu sore, datanglah Song-bun-kwi Kwee Lun, Bi Goat yang sudah agak kuat segera turun dari tempat tidurnya dan keluar meyambut.
"Ayah, mana dia? Mana Beng San .... ?" tanyanya dengan nada suara penuh harapan.
Kwee Lun kaget sekali melihat puterinya menjadi begini kurus dan wajahnya begini pucat. "Bi Goat, kau kenapakah? Sakitkah kau? tanyanya gugup sambil melangkah maju. "Ayah, mana suamiku? Mana Beng San?" Bi Goat tidak mempedulikan pertanyaan ayahnya, tapi mendesak menanyakan suaminya.
Terpaksa Kwee Lun menjawab, "Aku tidak dapat menjumpai dia. Kabarnya dia ke utara, mungkin terlibat lagi dalam urusan pemberontakan terhadap kaisar baru. Ah, anak itu memang tak tahu diri."
Kekecewaan hebat merupakan palu godam yang menghantam pertahanan terakhir di hati
Bi Goat. Matanya terbelalak, lalu tertutup dan tubuhnya limbung. Cepat Kwee Lun merangkul dan ayah yang gelisah dan keheranan ini segera memondong tubuh puterinya, dibawa masuk ke dalam kamar Bi Goat. Dengan suara parau Kwee Lun memanggil pelayan-pelayan yang segera berlari mendatangi, memaki-maki mereka yang dikatakan tidak melayani Bi Goat sebaiknya.
Setelah siuman kembali Bi Goat menangis terus, tidak mau menjawab pertanyaan ayahnya. Dan pada malam itu juga Bi Goat melahirkan kandungannya yang belum penuh sembilan bulan itu. Kelahiran yang sukar sekali, membuat nenek yang membantunya bermandi peluh, para pelayan kebingungan dan semua ini membuat Kwee Lun yang menjaga di luar kamar menjadi makin gelisah.
Beberapa kali Bi Goat pingsan dan kalau sudah siuman ia memanggil-manggil nama Beng San, mengeluh tak kuat lagi. Akhirnya menjelang pagi lahirlah bayi dalam kandungannya. Tangisnya keras sekali membuat Kwee Lun melonjak kaget dari tempat duduknya. Bagaikan gila kakek ini lalu mendorong pintu kamar untuk segera melihat wajah cucunya. Apa yang ia lihat?
Ia berdiri tegak seperti patung raksasa, mukanya pucat, matanya melotot bukan memandang kepada bayi laki-laki yang bergerak-gerak dan menangis hebat itu, melainkan ke atas ranjang, memandang kepada Bi Goat yang telentang tak bergerak, dengan mata setengah terbuka dan mulut menyeringai kesakitan, wajah yang putih dan mata yang tak bersinar lagi karena berbareng dengan lahirnya bayinya ibu muda yang malang ini telah ditinggalkan nyawanya.
Untuk beberapa lama Song-bun-kwi Kwee Lun berdiri tegak dengan muka pucat, telinga seperti tuli tidak mendengar suara tangis bayi yang bercampur dengan tangis para pelayan, tidak melihat betapa nenek pembantu kelahiran itu sibuk membersihkan bayi kemudian membungkusnya dengan kain putih bersih.
Akhirnya tampak air mata berkumpul di pelupuk mata tua itu, kemudian setetes demi setetes air mata mengalir turun. Bibir kakek itu bergerak-gerak, lalu terdengar suaranya parau, "Bi Goat... kenapa kau mati .... ? Habis aku bagaimana ....
" Berulang-ulang kalimat ini keluar dari mulutnya, kemudian ia menubruk maju dan kakek ini menangis menggerung-gerung sambil memeluki mayat Bi Goat.
Sampai lama ia menangis seperti anak kecil. Ketika ia mengangkat kembali mukanya yang menjadi basah air mata, matanya merah dan mengerikan. Ia sudah berhenti menangis secara tiba-tiba, lalu ia memandang ke sana ke mari, menyapu ruangan itu dengan sinar matanya yang beringas. Ketika ia melihat nenek pembantu kelahiran yang duduk di pojok dengan ketakutan, ia melompat maju dan sekali terkam nenek itu sudah diangkatnya lalu dibantingnya ke lantai. Sekali banting saja nenek itu tidak berkutik lagi, kepalanya pecah dan nenek yang malang itu tewas tanpa dapat bersambat lagi, Song-bun- kwi Kwee Lun makin beringas, matanya liar.
"Ampun, Lo-ya (Tuan Tua)... ampun hamba semua tidak berdosa. Nyonya muda jatuh
sakit setelah kedatangan seorang nyonya yang mengaku bernama Kwa Hong dan yang melahirkan anak di rumah ini. Menurut pengakuannya, Nyonya Kwa Hong itu adalah isteri pertama Siauw-ya (Tuan Muda)... eh, bukan isteri... hubungan di luar nikah... datangnya menunggang rajawali emas, mengerikan sekali, Lo-ya... semenjak itulah Nyonya Muda lalu jatuh sakit .... "
Mendengar ini, Kwee Lun mengeluarkan suara/ menggereng seperti seekor binatang buas, lalu terdengar suaranya, "Beng San, keparat kau... mampus kau olehku ....
!" Dan tubuhnya yang tinggi besar itu bergerak lagi, kini sekali sambar ia telah mencengkeram buntalan kain yang terisi bayi yang masih menangis nyaring itu. Bukan main tangis bayi itu, seakan-akan dalam kelahirannya ia me nangisi kematian ibunya. Begitu lahir anak ini sudah harus menghadapi kematian ibunya. Betapa memilukan.
!" Kwee Lun mengangkat buntalan itu tinggi-tinggi seperti hendak membantingnya. "Mampus kau ....
"Lo-ya..., ampunkan anak itu yang tidak berdosa .... "
"Lo-yaaaa, ampun .... !"
"Jangan, Lo-ya, jangan .... !" Para pelayan itu menjerit-jerit.
Jerit tangis pelayan ini seakan-akan menyadarkan Kwee Lun, matanya tidak lagi menatap buntalan, melainkan liar menyapu ke kanan kiri, kemudian terdengar ia menggereng dan tubuhnya berkelebat lenyap dari situ. Kakek itu lari keluar dan turun gunung membawa buntalan bayi, cucunya yang baru saja lahir.
Tak ada jalan lain bagi para pelayan itu kecuali mengurus jenazah Bi Goat dan nenek bidan itu. Dengan bantuan penduduk kampung di kaki bukit yang mereka mintai bantuan, dua jenazah itu dikuburkan di belakang rumah dengan upacara sederhana. Para pelayan itu hanya dua yang tinggal untuk mengurus rumah dan menanti kembalinya Beng San.
Rencana yang masih dirundingkan oleh utusan Raja Muda Lu Siauw Ong dan Ho-hai Sam-ong, benar-benar dilaksanakan oleh dua golongan yang haus akan kedudukan dan berusaha menggulingkan kekuasaan kaisar baru, Thai Cu. Mereka ini benar-benar terlalu percaya kepada kekuatan sendiri sehingga biarpun rahasia mereka itu telah diketahui oleh Li Cu dan Beng San yang sudah berhasil meloloskan diri, namun tetap saja mereka melanjutkan rencana itu. Mereka berhasil mengumpulkan banyak sekali pasukan bajak dan perampok, juga pihak Raja Muda Lu Siauw Ong yang bertugas merampas tahta selagi Kaisar pergi, berhasil menghasut pasukan besar tentara.
Pada hari yang sudah ditentukan, rombongan Kaisar Thai Cu berangkat dari kota raja menuju ke utara, yaitu ke kota raja lama di Peking. Rombongan ini dikawal oleh sepasukan tentara pilihan, yaitu para pengawal pribadi kaisar. Sebagai seorang bekas panglima perang, Kaisar Thai Cu tidak gentar melakukan perjalanan jauh ini walaupun ia sudah tahu akan adanya banyak golongan yang tidak suka kepadanya karena tidak diberi
kedudukan tinggi seperti yang mereka inginkan. Akan tetapi sama sekali Kaisar ini belum tahu akan siasat busuk yang direncanakan Ho-hai Sam-ong dan Raja Muda Lu Siauw Ong yang sudah bersekongkol itu.
Di sepanjang jalan rakyat dusun menyambut Kaisar baru itu dengan meriah. Agaknya rakyat amat mengagumi Kaisar yang telah berhasil membebaskan negara dari penjajahan bangsa Mongol itu. Orang-orang bersorak dan memberi hormat, di mana-mana rombongan Kaisar disambut tari-tarian daerah. Malah setiap dusun tentu mengutus orang- orang muda yang gagah perkasa untuk mengiring rombongan ini sampai di dusun lain, lalu diganti oleh para muda dusun ini, demikian seterusnya.
Kaisar amat gembira dengan ini semua. Disangkanya bahwa hal itu memang sudah semestinya karena rakyat merasa gembira dapat terbebas daripada penjajahan. Sama sekali Kaisar ini tidak tahu bahwa biarpun sudah terbebas daripada penjajahan Mongol, sesungguhnya rakyat kecil apalagi para petani masih sama sekali belum bebas daripada belenggu penjajahan para tuan tanah yang kadang-kadang malah lebih keras dan kejam daripada penjajah Mongol sendiri. Juga Kaisar ini tidak tahu bahwa sebagian sebagian besar dari para pengiring ini, yang sebagai orang-orang kampung, adalah orang-orang gagah dari Pek-lian-pai dan para bekas pejuang yang setia kepadanya. Mereka ini anak buah dari Tan Hok yang sudah mengatur sedemikian rupa sehingga rombongan Kaisar selalu terkawal anak buahnya. Malah yang mengawal secara sembunyi masih banyak lagi, ada yang mendahului rombongan ada yang mengiring dari jauh di belakangnya.
Tan Hok memang hebat. Raksasa ini semenjak berkecimpung dalam perjuangan ternyata telah makin matang sebagai seorang pemimpin dan pengatur siasat yang ulung. Secara cepat sekali ia mendengar penjelasan dari Beng San tentang persekongkoian antara Beng Kui dan Ho-hai Sam-ong, ia pergi ke kota raja dan bersama para panglima pasukan yang setia kepada Kaisar itu lalu berunding dan membuat rencana.
Cepat pula ia menyiapkan pasukan Pek-lian-pai dan teman-teman seperjuangan yang terpilih, yaitu orang-orang yang memiliki kepandaian cukup, untuk secara diam- diam mengiringi, mengawal atau melindungi rombongan Kaisar yang hendak pergi ke utara. Juga Beng San sendiri ia serahi tugas yang paling berat, yaitu mengawal Kaisar secara sembunyi. Tan Hok maklum akan kelihaian Beng San, maka tugas penting ini ia serahkan kepada Beng San, sedangkan ia sendiri perlu mengatur pasukan gabungan di kota raja untuk menindas dan mengempur pemberontakan dari dalam yang hendak dilakukan oleh Raja Muda Lu Siauw Ong.
Ketika Kaisar menggunakan perahu naga menyeberangi Sungai Huang-ho, keadaan di sungai juga ramai bukan main.
Para nelayan seakan-akan datang segenap penjuru untuk mengelu-elukan kaisar baru ini. Juga di sini Kaisar tidak tahu bahwa para nelayan ini sebagian besar adalah anggauta- anggauta Pek-lian-pai, malah ada pula beberapa orang anak buah Ho-hai Sam-ong menyelinap, dan ada beberapa orang pembunuh datang untuk mencari kesempatan baik menghabiskan nyawa Kaisar Thai Cu. Maka, amat kagetlah Kaisar dan para pengiringnya
ketika perahu sampai di tengah sungai di kanan kiri perahu tiba-tiba timbul enam mayat
di permukaan air. Mayat-mayat ini adalah mayat orang-orang yang tadinya berusaha melubangi perahu dengan jalan menyelam di bawahnya. Namun anak buah Tan Hok yang waspada dan memang sudah dipilih ahli-ahli dalam air, telah mengetahui akan hal ini dan cepat mereka itu pun menyelam. Terjadi pertandingan di bawah perahu, di dalam air yang amat hebat tanpa diketahui oleh mereka yang berada di permukaan air. Tahu- tahu mayat para penjahat itu timbul di permukaan air mengagetkan semua orang. Kaisar buru-buru memerintahkan agar perahu dipercepat penyeberangannya.
Setelah tiba di seberang Sungai Huang-ho sebelah utara dan rombongan memasuki sebuah hutan yang lebat, mulailah terjadi penyerangan yang dilakukan oleh Ho-hai Sam- ong dan pasukannya yang sudah beberapa hari menghadang di tempat ini. Mendadak terdengar sorak-sorai bergemuruh dan pasukan bajak dibantu oleh pasukan mereka yang tidak puas melihat Cu Goan Ciang menjadi Kaisar, berserabutan keluar dari tempat persembunyian dengan senjata di tangan.
"Bunuh Ciu Goan Ciang!"
"Seret Kaisar lalim!"
Demikianlah ucapan-ucapan yang ditujukan kepada Kaisar dan mulailah terjadi pertempuran hebat antara para penyerbu dan para pengawal Kaisar. Makin lama makin banyaklah penyerbu. Kaisar sendiri agaknya tenang-tenang saja karena semenjak penyeberangan tadi tidak memperlihatkan diri, bersembunyi saja di dalam tandunya yang sekarang terpaksa diturunkan dan dilindungi oleh beberapa orang pengawal pribadi.
Tiba-tiba Ho-hai Sam-ong sendiri, tiga orang kepala bajak yang lihai itu, meloncat ke dekat tandu Kaisar ini. Mereka memang sengaja mencari Kaisar dan hendak turun tangan sendiri. Melihat tandu dengan tanda pangkat Kaisar, dan bendera berkibar di atasnya, Ho- hai Sam-ong girang sekali. Mereka mengeluarkan tanda suitan. Bermunculan Hek-hwa Kui-bo, Kim-thouw Thian-li, dan banyak lagi kepala rampok dan orang-orang dari golongan hek-to (jalan hitam) datang menyerbu ke tempat itu.
Para pengawal pribadi dengan gigih menyambut serbuan orang-orang ini, namun dalam beberapa gebrakan saja robohlah belasan orang pengawal dan Lui Cai Si Bajul Besi sendiri dengan sebuah loncatan meninggalkan kawan-kawannya yang sedang menandingi para pengawal pribadi itu, langsung mendekati tandu. Senjatanya berupa dayung baja yang besar berat itu sudah diayunnya, mulutnya berseru,
"Ha-ha-ha, Ciu Goan Ciang. Lihat baik-baik, ini Lui Cai datang menghancurkan kepalamu."
Tiba-tiba kain tenda dari joli itu terbuka dan keluarlah seorang laki-laki tua dengan tubuh menggigll dan muka pucat. Tangan Lui Cai yang memegang dayung gemetar, ia berteriak sambll melangkah mundur. Kiranya orang yang berada di dalam joli bukanlah Kaisar, melainkan seorang yang menyamar sebagai Kaisar dan memakai pakaian kaisar.
"Celaka .... !" serunya dengan muka pucat. "Kita telah terjebak... dia bukan Kaisar!"
Sementara itu, para pengawai pribadi Kaisar amat repot menghadapi amukan kepala- kepala bajak itu yang dibantu oleh Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li yang ganas. Akan tetapi tiba-tiba terdengar seruan marah berkelebat cepat didahului sinar pedang yang gemilang. Robohlah beberapa orang penjahat bagaikan alang-alang dibabat dan dalam waktu singkat saja pengamuk ini sudah berhadapan dengan Ho-hai Sam-ong dan dua orang pembantunya yang paling dahsyat bersama sepuluh orang lagi kepala rampok.
"Ho-hai Sam-ong, kalian benar-benar ingin mampus!" teriakan yang nyaring tapi merdu terdengar lantang. Kiranya yang muncul ini bukan lain adalah Cia Li Cu yang sebetulnya sudah sejak tadi mengamuk di sebelah luar hutan untuk menerjang masuk. Seperti diceritakan di bagian depan, Li Cu juga mendengar semua rencana busuk yang diatur oleh Beng Kui dan Ho-hai Sam-ong, maka cepat-cepat gadis ini pulang menemui ayahnya dan menceritakan semua yang ia alami, kecuali pengalamannya dengan Beng San. Sebagai seorang patriot berjiwa besar, Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan marah bukan main mendengar bahwa muridnya yang pertama, murid yang dicintanya dan malah yang akan menjadi mantunya, telah menyia-nyiakan Li Cu. Hal ini masih belum berapa hebat seperti ketika ia mendengar bahwa Beng Kui hendak berkhianat. Wajahnya menjadi merah, matanya berkilat-kilat lalu ia menyuruh Li Cu berangkat lagi untuk diam-diam melindungi Kaisar sementara dia sendiri menuju ke kota raja untuk berhadapan dengan Beng Kui, muridnya.
Demikianlah, Li Cu segera melakukan perjalanan cepat dan kedatangannya tepat sekali pada saat para pemberontak itu menyerbu ke dalam peperangan dan mengamuk dengan pedang pendek Liong-cu-kiam yang tajam dan ampuh.
Ketika Ho-hai Sam-ong melihat Li Cu mereka menjadi marah sekali. Lui Cai melompat maju dan memaki, "Siluman cilik! Tentu kau yang telah membuka rahasia dan Kaisar sengaja bersembunyi. Kaulah yang bosan hidup, sekarang kami takkan mau mengampunimu lagi." Dayungnya menyambar dahsyat, akan tetapi segera ia tarik kembali ketika pedang Liong-cu-kiam sengaja dibabatkan oleh Li Cu sambil tersenyum. Lui Cai sudah mengenal ketajaman pedang itu dan kelihaian gadis ini, maka untuk bertempur seorang melawan seorang kiranya dia takkan dapat menang.
"Ji-te, Sam-te, hayo kita binasakan bocah ini dulu." teriaknya sambil memutar dayung. Kiang Hun dan Thio Ek Sui yang juga merasa amat kecewa melihat bahwa yang duduk di dalam joli itu bukan Kaisar segera memutar senjata dan mengeroyok Li Cu. Sebentar saja Li Cu sudah sibuk dikeroyok tiga oleh Ho-hai Sam-ong, seperti ketika ia dikeroyok di atas perahu dahulu itu. Akan tetapi ia tidak gentar dan pedangnya diputar cepat untuk melayani orang musuhnya yang benar-benar tangguh
tiga itu. Sementara itu, Hek-hwa Kui-bo dan muridnya, juga para kepala rampok yang tadinya menyerbu ke situ untuk bersama-sama membinasakan Kaisar, sekarang sudah mulai bertempur kembali menghadapi para pengawal yang kini dibantu oleh orang-orang Pek- lian-pai yang tadinya menyamar sebagai petani dan nelayan. Makin banyaklah anggauta-
anggauta Pek-lian-pai berdatangan, malah yang mendahului rombongan Kaisar sudah pula diberi tahu dan sekarang mereka datang menyerbu dari utara. Hal ini membuat para pemberontak terdesak hebat, apalagi karena di pihak Pek-lian-pai terdapat banyak orang- orang gagah yang tinggi kepandaiannya.
Melihat pihaknya terdesak hebat, Ho-hai Sam-ong menjadi gelisah. Bagaimana dapat muncul demikian banyaknya yang membantu Kaisar? Tak salah lagi, ini tentu jebakan yang sengaja diatur oleh Kaisar yang dulunya juga seorang panglima perang yang pandai. Dan tentu karena rahasia mereka sudah dibocorkan oleh gadis puteri Bu-tek Kiam-ong ini. Kemarahan Ho-hai Sam-ong terhadap Li Cu makin menjadi.
"Hek-hwa Kui-bo, harap bantu kami menangkap gadis liar ini." seru Lui Cai. Mendengar ini, Hek-hwa Kui-bo yang tadinya sibuk menghadapi pengeroyokan banyak orang Pek- lian-pai, bersuit keras. Inilah tanda bagi para anggauta perampok untuk menahan penyerbuan musuh agar dia dan Ho-hai Sam-ong tidak terganggu dalam usaha mereka menangkap Li Cu. Sebentar saja Li Cu terdesak makin hebat setelah Hek-hwa Kui-bo datang mengeroyoknya. Gadis ini dengan gigih mempertahankan dirinya.
"Ho-hai Sam-ong dan Hek-hwa Kui-bo jangan banyak bertingkah!" tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan tahu-tahu di situ sudah muncul Beng San dengan tangan kosong.
Diam-diam Li Cu girang bukan main, akan tetapi melirik pun ia tidak mau ke arah Beng
San. Adapun Ho-hai Sam-ong ketika melihat kedatangan pemuda yang amat lihai itu, seketika menjadi pucat. Serentak mereka menyerang pemuda yang bertangan kosong itu. Yang paling cepat menyambar tubuh Beng San adalah tambang di tangan Kiang Hun. Beng San menggerakkan tangan menangkap ujung tambang dan sekali membetot tambang itu putus menjadi dua, tepat di tengah-tengah sehingga separoh tambang itu berada di tangan Beng San dan menjadi senjatanya. Ketika Beng San menggerak-kan tambang itu, kiranya ia tidak kalah hebat memainkan senjata aneh ini dari pada Kiang Hun.
Li Cu mendapat angin. Pedangnya bergerak cepat dan robohlah Thio Ek Sui sambil menjerit keras. Dadanya tertembus Liong-cu-kiam, Kiang Hun menjadi gugup sehingga kembali pedang Liong-cu-kiam menyerempet pundaknya. Ia memekik dan meloncat hendak lari, tetapi dari belakangnya menyambar dua batang tombak anggauta Pek-lian- pai sehingga Kiang Hun juga roboh binasa. Dengan tambangnya Beng San menghadapi Lui Cai yang mengamuk mati-matian, dibantu oleh Hek-hwa Kui-bo. Sedikit saja Lui Cai terlambat bergerak, jalan darahnya di dada telah disentuh oleh ujung tambang itu. Ia roboh lemas dan kembali pedang Liong-cu-kiam di tangan Li Cu bekerja, menamatkan riwayat kepala Ho-hai Sam-ong ini.
!" Beng San cepat meniup dengan mulutnya ke depan, malah mengebut-ngebutkan kedua tangan untuk mengusir asap beracun berwarna merah. Namun terlambat, Hek-hwa Kui-bo tadi dengan cepatnya mengebutkan saputangannya dan asap kemerahan menyambar ke depan, ke arah Li Cu. Gadis ini baru saja menewaskan Lui Cai dan kurang waspada. Biarpun ia sudah mengelak karena seruan "Nona Cia, awas ....
Beng San, namun masih ada asap yang memasuki hidungnya. Ia mengeluh, terhuyung- huyung dan pedangnya terlepas dari pegangan. Beng San cepat memeluk dan memondongnya sambil menyambar Liong-cu-kiam. Ia masih melihat Hek-hwa Kui-bo menyambar tangan muridnya melarikan dirl di antara banyak orang yang bertempur. Ia tidak peduli lagi. Yang paling perlu Li Cu harus dibawa pergi dari tempat berbahaya itu. Sekali meloncat ia sudah lolos dari kepungan musuh, lalu mengerjakan kakinya untuk merobohkan setiap orang penghalang, langsung ia membawa Li Cu ke tempat sunyi di lain bagian dari hutan itu.
Di bawah sebatang pohon besar yang amat sunyi di dalam hutan itu, Beng San cepat menurunkan Li Cu dan memeriksanya. Sedikit banyak dia telah mempelajari ilmu pengobatan dari mertuanya, Song-bun-kwi Kwee Lun, terutama mengenai akibat senjata beracun. Ketika ia menurunkan tubuh Li Cu dan melihat muka gadis itu, ia kaget bukan main. Wajah Li Cu sepucat salju dan napasnya sesak hampir berhenti. Dari mulut yang terengah-engah itu tercium bau wangi yang memuakkan, yaitu bau racun asap kemerahan yang tadi kena tersedot oleh gadis ini.
Beng San memutar otak. Menurut keterangan dari mertuanya, mengobati akibat dari keracunan hanya dua macam, pertama memasukkan racun yang berlawanan atau obat penawar ke dalam tubuh si sakit untuk memerangi racun itu. Ke dua, mengeluarkan racun dari tubuh si sakit. Kalau Li Cu terluka oleh senjata beracun, ia dapat mengeluarkan racun itu dengan menyedot lukanya sehingga racun yang sudah bercampur dengan darah itu dapat tersedot keluar. Adapun Li Cu terserang racun bukan melalui luka, melainkan racun itu langsung memasuki paru-parunya melalui mulut, bagaimana ia akan dapat mengeluarkan racun dari dalam paru-paru?
Dalam bingungnya karena baru pertama kali ini menghadapi orang keracunan oleh racun asap, Beng San dapat mengambil keputusan. Ia merasa yakin bahwa satu-satunya jalan untuk menolong gadis itu adalah mengeluarkan asap yang masuk ke dalam paru-parunya. Ia maklum pula atau dapat menduga bahwa cara pertolongan ini amat berbahaya bagi dirinya sendiri. Akan tetapi pada saat itu ia tidak mempedulikan keselamatan diri sendiri. Untuk menolong orang, terutama orang seperti Li Cu ini, ia tidak perlu takut-takut mengorbankan diri sendiri.
Ketika ia sudah mengambii keputusan ini dan hendak mulai dengan usaha pertolongannya, tiba-tiba mukanya menjadi kehijauan karena ia merasa jengah dan malu. Akan tetapi ia mengeraskan hatinya. Pada saat nyawa Li Cu terancam bahaya seperti itu, ia tidak perlu ingat lagi akan tata susila kosong dan akan hukum adat yang berlaku mengenai kesopanan antara pria dan wanita.
Cepat ia mengangkat kepala Li Cu, lalu tanpa ragu-ragu ia membuka mulut gadis itu dengan jari tangannya. Kemudian ia menunduk dan menempelkan mulutnya sendiri pada mulut Li Cu lalu ia menyedot dengan pengerahan tenaga khi-kang sekuatnya. ia merasa betapa hawa yang dingin seperti es memasuki rongga dadanya. Tubuhnya menggigil dan cepat ia melepaskan mulutnya, perlahan-lahan menurunkan kepala gadis itu dan ia lalu duduk bersila, mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya, menyalurkan Iwee-kang nya
untuk melawan hawa dingin di rongga dada itu. Hawa Thai-yang di dalam tubuhnya segera bekerja. Dari pusarnya naik hawa panas seperti api membara, terus hawa panas ini ia desak ke atas, menyerbu ke rongga dada dan menghan-tam hawa dingin yang tadi memasuki dadanya melalui mulut Li Cu. Terjadinya perang tanding antara kedua hawa ini, akan tetapi tenaga dalam dan hawa Thai-yang di tubuh Beng San memang mujijat sekali. Dengan hati lega orang muda itu merasa betapa perlahan-lahan tapi tentu hawa dingin itu buyar dan lenyap.
Setelah hawa dingin di dalam rongga dadanya itu lenyap, ia membuka mata. Li Cu masih belum sadar dan napasnya masih terengah-engah biarpun tidak seberat tadi. Ia kembali menempelkan mulutnya pada mulut Li Cu dan menyedot lagi. Seperti tadi, hawa dingin memasuki dadanya, tapi sebentar saja buyar dihantam tenaga Thai-yang. Girang hati Beng San. Tubuh gadis yang tadinya sudah dingin itu sekarang agak hangat dan ketika ia menyedot untuk ke empat kalinya, ia merasa betapa tubuh Li Gu ber-gerak sedikit.
Kalau saja Beng San tahu bahwa pada saat itu Li Cu sudah setengah sadar, sudah pasti ia akan cepat-cepat melepaskan mulutnya yang menyedot. Di lain pihak, Li Cu yang mulai sadar, seolah-olah dalam mimpi. Hampir ia tak dapat percaya akan pandangan mata dan perasaan tubuhnya sendiri. Benarkah orang itu Beng San? Dan benarkah Beng San melakukan perbuatan seperti ini terhadap dirinya? Saking kaget, malu, ngeri dan marah, Li Cu pingsan kembali, bukan pingsan karena pengaruh racun asap, melainkan pingsan karena hantaman perasaannya melihat perbuatan Beng San terhadap dirinya.
Ketika Li Cu siuman kembali, ia membelalakkan kedua matanya. Ia melihat betapa muka Beng San sudah mendekati mukanya dan dalam anggapannya, Beng San sedang berbuat kurang ajar dan hendak "menciumnya" lagi. Di samping pemandangan yang mengagetkan ini, ia melihat hal lain yang membuat ia cepat menjerit sambil mendorong tubuh Beng San sekuat tenaga. Tubuh Beng San terpental dan Li Cu merasa betapa tenaga dorongannya tadi mendatangkan rasa dingin yang menyakitkan di dadanya. Dan pada saat itu juga, ia mencoba untuk mengelak dengan menggulingkan tubuhnya, namun tetap saja pukulan yang datang itu mengenai pundaknya, membuat tubuhnya terpental lebih jauh daripada Beng San. Terdengar suara orang menggereng seperti binatang buas, gerengan orang yang tadi memukul. Pukulan itu sebetulnya ditujukan ke arah punggung Beng San. Baiknya pada saat itu Li Cu siuman dan pukulan orang inilah yang membuat ia menjerit dan mendorong tubuh Beng San, malah pukulan itu setelah tidak mengenai tubuh Beng San, malah mengenai dirinya sendiri.
Beng San melompat bangun dengan kaget sekali. Tadi seluruh perhatiannya ia tujukan untuk mengobati Li Cu sehingga kesadaran gadis itu pun tidak diketahuinya. Maka kedatangan orang yang menyerangnya secara diam-diam itu pun sama sekali tidak ia ketahui. Kini ia merasa kaget sekali setelah tadi tubuhnya didorong ke pinggir oleh Li Cu, kaget bukan main karena ia melihat ayah mertuanya, Song-bun-kwi Kwee Lun sudah berdiri di depannya seperti seorang iblis mengerikan. Pakaian ayah mertuanya yang semenjak ia ikut ke Min-san dahulu sudah menjadi biasa seperti seorang kakek petani, sekarang ia lihat kembali seperti dulu lagi, yaitu pakaian putih, pakaian berkabung.
Anehnya lagi di dada kakek ini tergantung seorang bayi dalam gendongannya, bayi yang nampaknya tidur nyenyak.
"Gak-hu (Ayah Mertua) .... "
"Bangsat! Laki-laki mata keranjang, kau meninggalkan isteri untuk main gila dengan perempuan lain?" bentak Song-bun-kwi Kwee Lun dengan kemarahan meluap-luap.
! Dia telah menyedot racun Ngo-hwa dari Hek-hwa Kui-bo... aku berusaha menyedot keluar racun itu dan“Tidak... tidak demikian .... Gak-hu, harap jangan salah sangka ....
.... ”
Song-bun-kwi menggereng lagi. "Apapun juga alasanmu, anakku tak dapat hidup lagi!"
Mendadak ia menyerang dengan hebatnya, menghantam kepala mantunya itu.
Semenjak dahulu Beng San memang tidak suka kepada Song-bun-kwi yang memang pernah hidup sebagai seorang yang keji. Malah beberapa kali sudah Beng San hampir dibunuhnya di waktu pemuda ini masih kecil (baca Raja Pedang). Sekarang pun ia menjadi marah karena disangka yang bukan-bukan oleh mertuanya ini dan malah sekarang ia diserang dengan pukulan maut. Akan tetapi ketika ia mendengar kalimat terakhir "anakku tak dapat hidup lagi", ia merasa matanya gelap dan serasa jantungnya berhenti berdetik.
"Apa katamu?" bentaknya dan tangannya menangkis tangkisan ini hebat, membuat tubuh Song-bun-kwi seketika terpental ke belakang dan hampir roboh. Teringat kepandalan Beng San memang sudah hebat sekali dan Sons-bun-kwi maklum bahwa ia tidak akan mampu mengalahkan mantunya. Maka ia menyeringai keji dan berkata penuh geram
"Kau pembunuh anakku, lain kali aku pasti akan mencarimu mengadu nyawa!" setelah berkata demikian kakek ini menggereng dan lari cepat sekali membawa bayi dalam gendongannya.
Untuk sesaat Beng San berdiri dengan muka berubah hijau karena hatinya gelisah bukan main. Kemudian ia teringat akan bayi di gendongan mertuanya itu. Ia menghitung-hitung dalam benaknya dan teringat bahwa sudah lewat beberapa bulan sejak waktu kandungan isterinya tiba saatnya dilahirkan. Anak itu tadi ..... ? Apa yang terjadi? Tiba-tiba seperti
orang gila Beng San memekik.
"Bi Goat .... !" Dan tubuhnya melesat seperti seekor burung terbang, pergi dari tempat itu.
Sementara itu, terjadi keanehan pada diri Li Cu. Seperti dituturkan di atas tadi, setelah mendorong tubuh Beng San ke samping, pukulan yang dilakukan oleh Song-bun-kwi mengenai pundak Li Cu yang membuat tubuh Li Cu terlempar. Pukulan itu bukan pukulan biasa, karena tadi Song-bun-kwi sengaja melakukan pukulan dari Ilmu Yang-sin- hoat untuk membunuh Beng San. Pukulan itu mengandung hawa Yang-kang yang amat kuat. Dan biarpun sudah dielakkan oleh Li Cu, pukulan itu mengenai pundaknya dan
terasalah hawa yang luar biasa panasnya menjalari tubuhnya. Dan hawa panas ini lalu bertemu dengan sisa hawa dingin yang masih mengeram di tubuhnya, yang masih belum disedot keluar oleh Beng San. Dua hawa dahsyat ini bertemu dan... buyarlah keduanya. Pukulan maut dari Song-bun-kwi tadi malah menyembuhkan sama sekali penderitaan Li Cu akibat racun asap Hek-hwa Kui-bo.
Tadinya hati Li Cu penuh dengan kemarahan dan ia menganggap bahwa Beng San sudah berlaku jahat dan kurang ajar kepadanya, sudah menciuminya di waktu ia pingsan. Bukan main sakit hatinya pada saat itu. Akan tetapi setelah ia mendengar pengakuan Beng San kepada Song-bun-kwi tadi bahwa perbuatannya itu adalah usaha menolongnya dari bahaya maut, tak terasa pula air matanya jatuh berderai dan ia terisak-isak. Hatinya terharu bukan main. Sudah terlalu sering ia menyangka Beng San sebagai orang jahat, sebagai laki-laki kurang ajar, laki-laki mata keranjang. Dan ternyata ia telah menuduh yang bukan-bukan, telah memasukkan fitnah terhadap diri Beng San ke dalam pikirannya. Padahal sudah berkali-kali Beng San menolongnya, menolong keselamatan nyawanya dengan hati tulus iklas. Apalagi ketika ia melihat keadaan Beng San hatinya ikut hancur.
Li Cu menyambar pedangnya yang ditinggalkan Beng San di dekatnya, lalu melompat dan lari mengejar Beng San yang sudah lari jauh dengan kecepatan laksana terbang itu. Tak dapat ia menyusul Beng San, akan tetapi ia dapat menduga bahwa orang muda itu tentulah pergi ke Min-san. Sebetulnya ia boleh tak usah pedulikan Beng San. Akan tetapi ada sesuatu yang terjadi di dalam hatinya. Ia setengah dapat menduga bahwa telah terjadi sesuatu yang mengerikan pada diri isteri Beng San. Ia seperti melihat awan gelap di atas mengancam Beng San. Di samping ini, ia merasa bahwai ia harus selalu berdekatan dengan orang itu. Tak dapat lagi ia ditinggalkan, tak dapat lagi ia berpisah. Ia merasa kasihan kepada Beng San, juga kasihan kepda... diri sendiri karena ia pasti akan merana dan sunyi hidupnya kalau berjauhan dengan Beng San.
" rintihnya sambil mengusap air matanya yang berderai turun membasahi pipinya. "Ya Tuhan... mengapa aku menjadi begini"Beng San ....
?" ia mengeluh bingung. Tidak semestinya ia mengejar Beng San. Ia seharusnya kembali, seharusnya malah meninggalkan Beng San jauh-jauh. Setanlah yang menggodanya ini, setan yang membisikkan hal-hal yang tak boleh ia lakukan. Tapi... ah, mengapa hatinya bulat-bulat menyerah? Mengapa kakinya seperti tidak mau disuruh pergi ke lain jurusan? Ia teringat ayahnya, lalu bersambat lirih, ....
" Dan sementara itu kedua kakinya terus berlari cepat, menuju Min-san. Di dunia ini, apakah yang lebih berkuasa dan aneh daripada cinta? Apakah yang lebih gila daripada orang muda yang sudah mabok madu asmara? Cinta kasih atau asmara telah banyak sekali menimbulkan cerita dan peristiwa yang lebih aneh daripada dongengan. "Ayah... anakmu telah gila... telah gila ....
Dengan muka pucat kurus dan mata merah rambut awut-awutan pakaian compang- camping, setelah melakukan perjalanan terus-menerus, akhirnya Beng San sampai juga di puncak Min-san. Ketika ia memasuki halaman rumahnya, dua orang pelayan wanita yang
masih tinggal di situ hampir-hampir tidak mengenalnya. Sampai lama mereka memandang dengan bengong dan curiga, karena laki-laki muda yang berdiri di depan mereka itu lebih patut menjadi seorang pengemis yang liar daripada tuan muda mereka yang tampan.
?" Suara Beng San serak, entah sudah berapa ribu kali kalimat pertanyaan ini keluar dari mulutnya di sepanjang perjalanan pulang. "Mana nyonya muda"Bi Goat... mana Bi Goat ....
.... ?"
Setelah mendengar pertanyaan ini barulah dua orang pelayan tua itu merasa yakin bahwa yang berdiri di depan mereka sekarang ini adaiah "tuan muda" mereka.
"Siauw-ya (Tuan Muda) .... !" keduanya lalu menjatuhkan diri berlutut dan menangis
bersaing keras,
"Apa yang terjadi? Mana nyonya muda. Dia kenapa?" Akan tetapi dua orang pelayan itu menangis makin keras. Beng San tak sabar lagi. Sekali melompat ia telah memasuki rumah dan berlari-lari di dalam semua ruangan dan kamar, membuka dan menutup pintu seperti orang mengejar sesuatu. Seluruh bagian rumah, sampai ke kamar mandi, ia masuki namun sunyi sepi, tidak ada seorang pun manusia lagi kecuali dua orang pelayan wanita yang sedang menangis tersedu-sedu itu. Akhirnya terpaksa Beng San kembali ke ruangan depan di mana dua orang pelayan itu menangis. Tubuh Beng San menggigil, matanya berputaran, jantungnya serasa berhenti berdetik.
"Mana dia? Mana Bi Goat? Katakanlah, mana Bi Goat? Ahh... kuhancurkan kepalamu kalau tidak bicara." ia mengguncang-guncang pundak seorang pelayan yang menjadi ketakutan. Dengan muka pucat keduanya berhenti menangis, lalu dengan suara terputus- putus mereka bercerita,
"Mula-mula datang seorang nyonya bernama Kwa Hong... dia naik burung menakutkan... dia melahirkan anak di sini ditolong oleh Nyonya Muda... setelah dia dan anaknya pergi, Nyonya Muda jatuh sakit... tak pernah sehat lagi, lalu minta minta kepada Lo-ya (Tuan Tua) pergi menyusul Siauw-ya... tapi pulang tanpa Siauw-ya. Nyonya Muda makin sedih... lalu melahirkan dan... dan... tidak kuat... Nyonya Muda meninggal dunia .... " Tak
dapat tertahan lagi dua orang pelayan itu menangis terisak-isak.
Beng San meramkan mata, meringis kesakitan. Dadanya sebelah kiri serasa tertusuk, ubun-ubun kepalanya berdenyut-denyut. Ia tidak bisa menangis lagi, lehernya seperti dicekik dan bibirnya yang putih seperti kertas itu bergerak-gerak perlahan, lalu berhenti bergerak, ternganga dan pandang matanya jauh ke depan tak bersinar, seakan-akan ia sudah menjadi tubuh tak bernyawa, kehilangan semangatnya.
" Pelayan yang tertua menubruk kaki Beng San tak tahan melihat majikannya berhal demkian itu, Beng San bergerak perlahan lalu terdengar suara dari mulutnya, suara yang terdengar seperti suara dari jauh. "Siauw-ya... Siauw-ya ....
"Di mana makamnya... di mana dikuburnya .... ?"
"Maafkan hamba, Siau-ya... karena Lo-ya membawa anak bayi itu, hamba sekalian terpaksa mengajak saudara-saudara dari kaki. gunung untuk mengubur jenazah Nyonya Muda di pekarangan belakang rumah secara sederhana .... "
Beng San lalu melangkah perlahan dan lemas, menuju ke pekarangan belakang, diikuti dua orang pelayan yang masih menangis terisak-isak. Akhirnya ia berdiri tegak di depan sebuah kuburan yang masih baru, kuburan sederhana yang tidak diberi batu nisan, hanya ditanami bunga mawar gunung kesukaan Bi Goat dan pohon kembang itu sudah mulai berbunga.
"Bi Goat... ampun... isteriku... ampun..." Beng San roboh ke depan, mukanya terbanting dan terbenam pada gundukan tanah kuburan.
Dua orang pelayan itu cepat menolong Beng San yang sudah pingsan sambil turut menangis. Akan tetapi setelah siuman kembali Beng San menyuruh dua orang pelayan itu pergi meninggalkannya seorang diri di kuburan isterinya. Malam itu hujan turun deras, namun Beng San tidak beralih dari tempatnya, tidak bergerak dan terus-menerus terdengar suaranya memanggil-manggil nama Bi Goat dan minta ampun. Semenjak saat ia roboh pingsan di kuburan isterinya, sampai berhari-hari ia tidak pernah pergi meninggalkan tempat itu, tak pernah makan tak pernah tidur. Beberapa kali dua orang pelayan yang setia itu datang menangis dan membujuk-bujuknya, namun Beng San malah marah-marah dan mengusir mereka pergi dari depannya.
Sepuluh hari kemudian tubuh Beng San telah menjadi kurus dan wajahnya pucat kehijauan, matanya makin liar. Hanya karena tubuhnya yang terlatih dan mengandung tenaga luar biasa itu saja yang membuat ia masih dapat menahan. Dua orang pelayan itu sudah tak berdaya lagi, tidak berani mendekati Beng San karena tuan muda ini marah- marah kalau di "ganggu". Mereka menjadi putus asa dan merasa ngeri kalau membayangkan betapa pada suatu pagi mereka akan melihat tuan muda itu menggeletak dalam keadaan tak bernyawa karena kelaparan di kuburan itu.
Akan tetapi, seperti juga kelahiran takkan ada, kematian takkan menimpa diri seorang manusia kalau Tuhan belum menghendakinya. Demikian pula dengan Beng San. Orang muda ini bukannya sengaja bermaksud membunuh diri, akan tetapi ia sudah tidak mempedulikan keadaan sekelilingnya, ingatannya sudah berubah karena tekanan batin yang amat hebat. Kedukaan yang hebat, penyesalan yang bertubi-tubi menghantam batinnya, tak kuat ia menahannya sehingga ia seperti orang yang sudah tidak waras lagi otaknya. Namun agaknya Tuhan Maha Pengasih suka mengampunkan dosanya.
Malam hari itu hujan turun rintik-rintik. Dinginnya bukan main di Puncak Min-san. Di kuburan Bi Goat, Beng San duduk bersila menghadap kembang mawar yang sudah rontok dari tangkainya, mengeluh dan bersambat dengan suara lirih,
"Bi Goat, isteriku. Kau begitu mulia, begitu suci cintamu kepadaku... dahulu kau sampai rela Hendak mengorbankan nyawamu untukku ...., ah, Bi Goat, tidak kelirukah kau memilih aku? Aku tidak berharga mendapatkan cintamu... aku seorang yang rendah. Aku telah mengadakan hubungan dengan Hong-moi... menjadi ayah dari anak Hong-moi, tapi aku tidak berterus terang kepadamu... Bi Goat... aku laki-laki mata keranjang, laki-laki berhati lemah, mudah runtuh menghadapi wanita cantik. Ia berhenti sebentar dan terdengar isaknya tertahan.
"Bi Goat, kenapa kau belum juga datang? Marahkah kau kepadaku? Sudah sepatutnya kau marah... aku minta ampun, Goat-moi... aku berdosa kepadamu. Sekarang kuakui semua dosaku... betul, aku telah berlaku serong... aku merusak hidup Hong-moi, malah sebelum itu... aku pernah mencinta Thio Eng. Ah, aku laki-laki mata keranjang, dan aku hampir runtuh pula ketika bertemu dengan Nona Cia Li Cu... hatiku mencinta mereka semua itu, ah... padahal kau begitu suci cintamu... aku berdosa, ampunkan aku
...." Sesosok bayangan muncul di belakang kuburan itu. Bayangan seorang wanita cantik berbaju merah. Perlahan-lahan bayangan ini melangkah maju dan terdengar suaranya lirih menggetar ditimpa suara hujan gerimis di malam gelap
"Beng San .... "
Beng San mengangkat kepala perlahan. Matanya yang pedas dan merah itu ia gosok- gosok, kemudian ia menubruk maju, berlutut dan merangkul kaki wanita itu.
"Ah, Bi Goat... akhirnya kau datang juga .... ? Bi Goat, ampunkan aku... ampunkan
aku ..... "
Wanita itu mengucurkan air mata sehingga air mata itu bercampur dengan air hujan gerimis yang menimpanya, mengalir di sepanjang pipinya. Jari tangannya mengelus-elus rambut kepala Beng San dan ia berkata terharu.
"Bi Goat sejak dulu mengampunimu... Beng San .... "
"... ah, betulkah? Betulkah kau sudi mengampuni dosaku? Aku telah gila... aku telah gila... aku... aku menyakiti hatimu... sudikah kau mengampuniku?"
"Aku mengampuni semua kesalahanmu .... " jawab wanita itu, "... asal saja... asal saja kau
suka menurut segala kata-kataku."
"Aku akan taat, akan kuturut semua, demi Tuhan. Aku bersumpah akan mentaati segala perintahmu, biar kausuruh masuk ke lautan api sekalipun."
"Kalau begitu, bangunlah dan mari kita masuk ke rumah, tak baik berhujan-hujan di sini, hayo kauikuti aku, Beng San."
Beng San bangun berdiri, tersenyum-senyum dan wanita itu makin terharu ketika melihat
betapa wajah laki-laki itu berubah seperti wajah seorang anak kecil yang diampuni orang tuanya karena kenakalannya.
" kata Beng San yang berjalan terhuyung-huyung saking lemas badannya di belakang wanita itu. Wanita baju merah itu segera memegang lengannya dan membantunya berjalan menuju ke rumah itu. "Aku ikut... aku ikut ....
Dua orang pelayan sudah menyambut di pintu belakang, wajah mereka tampak lega. "Ah, syukur, Nona. Syukur kau berhasil .... " kata mereka.
"Sttt" Wanita itu mencegah mereka bicara. "Lekas sediakan air panas dan pakaian Siauw-ya, kemudian sediakan makanan yang lunak... jangan lupa hangatkan arak ....
.... "
Dengan tersenyum gembira dua orang pelayan itu pergi mempersiapkan permintaan wanita itu. Beng San benar-benar menurut sekali terhadap wanita yang dianggapnya Bi Goat itu. Disuruh membersihkan tubuh dan menukar pakaian, ia menurut seperti anak kecil, disuruh makan bubur panas ia pun menurut saja. Kemudian ia pun tidak membantah ketika disuruh tidur di kamarnya sendiri, diselimuti oleh wanita itu yang duduk di pinggir ranjang dan yang melayaninya dengan penuh perhatian.
Siapakah wanita baju merah itu? Benarkah dia Bi Goat? Tidak mungkin, Bi Goat sudah mati, sudah dikubur. Ia bukan lain adalah Li Cu. Seperti dituturkan di bagian depan, Li Cu tak dapat menahan hati dan kakinya sendiri menyusul Beng San di Min-san. Ia kalah cepat oleh Beng San, maka baru sepuluh hari kemudian ia tiba di puncak Min-san. Bukah main sedih dan terharu hatinya ketika ia mendengar penuturan dua orang pelayan itu tentang keadaan Beng San. Ia mengaku menjadi sahabat baik Beng San dan Bi Goat. Setelah ia mendengar penuturan dua orang pelayan itu, serta-merta pada hari itu juga ia menyusul Beng San ke kuburan dan akhirnya ia berhasil membujuk Beng San pulang, sungguhpun perih hatinya karena Beng San mau menuruti permintaannya setelah mengira bahwa dia adalah Bi Goat.
Bulan-bulan mendatang merupakan masa yang amat sulit bagi Li Cu. Beng San benar- benar telah berubah ingatannya, atau telah kehilangan ingatannya sehingga ia menjadi seperti anak kecil saja, anak kecil yang amat manja. Akan tetapi kemanjaan ini tertuju kepada ......
isterinya, kepada Bi Goat. Dia telah lupa segalanya, keinginannya hanya berdekatan dengan Bi Goat, tak boleh ditinggalkan sebentar juga. Lebih hebat lagi, dia agaknya telah lupa akan semua kepandaiannya. Beberapa kali Li Cu mencobanya, namun benar-benar Beng San tidak ingat lagi bagaimana untuk bersilat sungguhpun tenaga murni dalam tubuhnya masih tetap kuat dan tidak ikut lenyap.
Cia Li Cu adalah keturunan orang-orang yang terkenal keras hati. Agaknya watak ini diwariskan oleh nenek moyangnya, yaitu Ang I Niocu, pendekar wanita sakti yang terkenal keras hati. Sekali mengambil keputusan takkan dapat diubah lagi, sekali menjatuhkan hati takkan dapat pula diubah. Setelah hatinya dikecewakan Beng Kui dan
membuat ia benci sekali kepada suhengnya itu, barulah ia sadar bahwa semenjak dahulu sebetulnya ia tidak pernah mencinta Beng Kui. Perasaannya dahulu terhadap Beng Kui hanyalah kagum saja karena semenjak kecil suhengnya itu selalu lebih tinggi segala- galanya daripada dirinya sendiri, juga dalam ilmu silat. Maka begitu ia melihat watak yang buruk dalam diri Beng Kui, apalagi karena ia dikesampingkan dan suhengnya itu menikah dengan wanita lain, kekagumannya sekaligus buyar dan otomatis ia pun tidak ada rasa suka kepada kakak seperguruan itu.
Terhadap Beng San lain lagi perasaannya. Sebetulnya lebih banyak perasaan terharu dan iba akan nasib orang muda itu daripada kekaguman. Malah sering kali ia merasa gemas kepada Beng San, anehnya, bukan gemas karena perlakuan pemuda itu kepadanya melainkan gemas karena Beng San begitu banyak kekasihnya. Memang cinta itu aneh sekali. Mendatangkan cemburu, kadang-kadang mendatangkan benci. Semua ini hanya dapat terasa oleh mereka yang menjadi korban panah asmara. Demikian hebat kekerasan asmara sehingga mampu menundukkan seorang gadis seperti Li Cu yang terkenal keras hati, berubah menjadi demikian jinak, demikian telaten dan sabar dalam merawat orang yang dicintanya.
Benar-benar bukan ringan pekerjaan Li Cu ini. Terutama sekali tekanan batin yang dideritanya. Bayangkan betapa beratnya bagi perasaan seorang gadis yang jatuh cinta untuk merawat orang yang dicintanya itu dan mendengarkan kekasihnya itu setiap saat memuji-muji dan menyatakan cinta kasihnya kepada seorang wanita lain. Lebih hebat lagi bagi Li Cu, Beng San menyatakan cinta kasih kepadanya karena menganggap dia Bi Goat. Seringkali ia harus menahan-nahan air matanya karena hatinya seperti ditusuk- tusuk rasanya. Kadang-kadang terbayang pula senyum di bibirnya yang manis dan cahaya harapan di matanya yang indah itu manakala Beng San dalam ketidaksadarannya "mengaku" kepada Bi Goat bahwa dia tertarik kepada Li Cu. Sungguhpun hanya sedikit sekali pengakuan cinta ini, namun sudah merupakan setetes embun menyegari bunga yang kekeringan di dalam hati Li Cu.
Betapapun juga, Li Cu adalah seorang gadis yang patut dipuji kebersihan dan kekuatan batinnya. Biarpun ia jatuh cinta kepada Beng San dan berbulan-bulan tinggal serumah dengan pemuda itu, namun gadis itu tetap dapat mempertahankan garis pemisah, tetap ia dapat mencegah terjadinya pelanggaran susila yang terdorong oleh iblis nafsu yang memabokkan. Bagi Li Cu, cintanya murni dan timbul dari hati nurani yang bersih. Ia hanya mempunyai sebuah keinginan, yaitu merawat orang yang dicintanya, melihatnya sembuh dan harapan terakhir adalah harapan semua wanita yang mencintanya, yaitu, berhasil merebut hati kekasihnya, berhasil membuat dirinya dicinta kembali berlipat ganda dan akhirnya dapat menjadi seorang isteri yang terkasih. Hal ini mudah saja ia pertahankan oleh karena kini Beng San benar-benar amat penurut dan mentaati segala kehendaknya.
Dua orang pelayan setia itu masih merasa bersyukur dan berterima kasih sekali kepada Li Cu yang sekarang mereka anggap sebagai pengganti nyonya muda, sungguhpun diam- diam mereka terheran mengapa seorang nona cantik dan muda suka bersikap demikian baiknya terhadap Beng San. Namun sebagai orang-orang yang sudah berpengalaman
akhirnya mereka dapat menarik kesimpulan bahwa semua itu adalah akibat daripada asmara yang mendalam dan suci. Maka tanpa ragu-ragu lagi mereka pun lalu bercerita kepada Li Cu akan segala yang mereka ketahui tentang diri Beng San dan Bi Goat. Malah mereka memperingatkan nona itu agar hati-hati karena mereka berdua itu takut sekaii kalau-kalau lo-ya-cu, yaitu Song-bun-kwi Kwee Lun kembali dan mengamuk lagi.
"Entah bagaimana nasib bayi puteri Siauw-ya yang belum diberi nama itu," pelayan tertua menutup kisahnya. "Semoga saja ia tidak menjadi korban keganasan Lo-ya yang sudah demikian kalap. Hamba benar-benar kuatir, ah... kalau Lo-ya pulang... apa yang terjadi?"
"Tenangiah, tak perlu kuatir. Kematian Bi Goat bukanlah karena kesalahan Beng San. Pula andaikata dia datang dan mau menang sendiri, ada aku di sini untuk melindungi Beng San," kata Li Cu dengan suara yang gagah. Akan tetapi sesungguhnya hatinya kecut-kecut kalau ia memikirkan kakek itu. Ia maklum bahwa kata-katanya di depan para pelayan itu hanya omong besar saja, karena kalau disuruh sungguh-sungguh menghadapi kakek Song-bun-kwi yang sakti itu, sedikit sekali harapan dia akan menang.
Oleh karena inilah pedang Liong-cu-kiam tak pernah terpisah dari tubuhnya, selalu terpasang di belakang punggung untuk menjaga segala kemungkinan. Sampai tiga bulan lebih Li Cu dengan tekun dan sabar merawat Beng San. Kesehatan Beng San sebetulnya sudah pulih, akan tetapi hanya kesehatan jasmani saja, Ingatannya masih belum sembuh sama sekali.
Pagi hari itu, seperti biasa Li Cu mengajak Beng San duduk di taman bunga di sebelah kiri rumah. Setiap pagi gadis ini mengajak Beng San berjemur matahari pagi di tempat itu. Dan seperti biasa, dengan sikap manja sekali Beng San merebahkan diri di atas bangku panjang dan kepalanya telentang di atas pangkuan Li Cu. Gadis ini dengan kasih mesra mengusap-usap rambut Beng San sambil memandangi wajah yang nampak bodoh itu.
"Beng San, masih belum ingatkah kau? Masih belum ingat benarkah bahwa aku adalah Li Cu?" perlahan Li Cu bertanya dengan suara lirih dan hati-hati sekali.
Beng San tersenyum, "Bi Goat, jangan kau menggoda aku. Kau tahu bahwa aku suka kepada Nona Cia Li Cu, bahwa aku tertarik dan kagum sekali kepadanya, lalu kau sekarang meggodaku, ya?"
Seperti biasa kalau mendengar kata-kata ini, Li Cu merasa tertusuk jantungnya. Ia menggigit bibir, matanya menjadi sayu, tapi ia menguatkan hatinya dan berkata lemah- lembut.
"Beng San, aku sungguh bukan Bi Goat. Aku Cia Li Cu, Beng San, aku pun suka kepadamu, tapi... tapi jangan kau menyangka aku Bi Goat. Bi Goat sudah... sudah mati
...." hati-hati sekali ia mengucapkan ini sambil menatap tajam-tajam muka orang di atas pangkuannya itu dan tangannya membelai dengan halus.
Beng San serentak bangkit dan duduk, kedua tangan Li Cu dipegangnya lalu ia berlutut di atas tanah. "Bi Goat, isteriku, jangan kau mempermainkan aku. Kalau Bi Goat sudah mati bagaimana kau bisa berada di sini? Bi Goat, aku memang berdosa kepadamu, ampunkanlah aku... aku menurut segala kehendakmu, tapi... tapi jangan kau marah, jangan tinggalkan aku .... "
Li Cu menarik napas panjang dan menggoyang-goyang kepalanya. Tidak ada kemajuan sama sekali. Kalau sudah merengek-rengek minta ampun begini Beng San tidak mau sudah kalau belum ia ampunkan. Terpaksa berkata,
"Sudahlah, aku ampunkan kau."
Dengan girang Beng San rebah lagi dengan kepala di atas pangkuan Li Cu. Ia tersenyum- senyum dengan wajah berseri girang. Li Cu makin terharu melihat ini. Selama berbulan- bulan ini Beng San memasuki kamarnya yang terpisah, dan hal ini pun selalu diturut oleh Beng San biarpun dengan wajah kelihatan berduka sekali. Li Cu sendiri mulai merasa ragu-ragu akan kekuatan pertahanan hatinya sendiri. Ia makin kasihan kepada Beng San. Selama berbulan-bulan menggantikan kedudukan Bi Goat ini, tampaklah jelas olehnya bahwa Beng San sama sekali bukanlah laki-laki mata keranjang perusak wanita seperti yang telah ia dengar dari suhengnya. Buktinya, terhadap isteri sendiri saja Beng San begini lemah lembut, menaruh hormat dan tidak mau bersikap menang sendiri. Apalagi terhadap wanita lain? Peristiwa yang terjadi antara Beng San dan Kwa Hong tentu terdorong oleh sesuatu, tidak sewajarnya. Beng San pernah bercerita kepadanya tentang itu, dikatakannya bahwa Beng San dan Kwa-Hong lupa karena pengaruh racun yang sengaja ditaruh dalam makanan oleh musuh dalam ketentaraan Mongol. Tapi Beng San hanya menyebut nama Pangeran Souw Kian Bu. Adapun tentang pengalaman Beng San dalam asmara dengan Thio Eng, dengan dia sendiri, ah, ia tidak percaya bahwa Beng San sengaja berlaku sebagai seorang pemuda mata keranjang. Ia sama sekali tidak mau percaya bahwa Beng San berwatak kotor, rendah atau cabul.
"Beng San, cobalah kauingat-ingat, apakah kau benar-benar lupa akan kepandaian ilmu silatmu?"
Beng San tertawa, matanya berseri jenaka. "Bi Goat, jangan kaugoda aku seperti itu. Kau tahu bahwa aku adalah seorang kutu buku, seorang yang sejak kecil hanya mempelajari kitab-kitab filsafat. Kitab To-tik-keng aku hafal di luar kepala. Kau boleh tanya tentang Su-si Ngo-keng, tentang filsafat hidup dan pelajaran agama. Akan tetapi ilmu silat? Huh, untuk apa ilmu silat itu? Hanya untuk menakut-nakuti orang, menyombongkan diri dan paling banyak hanya menjadi kepandaian tukang-tukang pukul dan buaya-buaya darat, tukang-tukang berkelahi saja."
Sekali lagi Li Cu menarik napas kecewa. Ia tadinya tidak percaya dan pernah ia menyerang Beng San dan ternyata menghadapi sebuah pukulan biasa saja Beng San tidak mampu menghindarkan diri. Akan tetapi Iwee-kang di tubuhnya masih tetap ada dan kuat sungguhpun agaknya Beng San lupa pula bagaimana untuk menyalurkan hawa murni di
tubuhnya itu. Tadinya ada pikiran padanya untuk melatih Beng San, akan tetapi pikiran ini ia buang lagi ketika ia teringat betapa tingkat kepandaian Beng San sebetulnya sudah jauh melampauinya sehingga kalau sekarang Beng San menerima pendidikan mulai pertama daripadanya, apakah akan jadinya? Jangan-jangan malah pelajaran itu menyeleweng dan tidak cocok dengan hawa murni di tubuh Beng San.
Ia menunduk dan memandang wajah yang tampan itu. Ah, kalau ia teringat betapa dahulu Beng San dengan berani mati menyerbu ke sarang Ho-hai Sam-ong, mati-matian datang untuk menolongnya. Kalau ia teringat akhir-akhir ini betapa Beng San tanpa mempedulikan diri sendiri telah menyedot asap beracun yang berada di dadanya, menyedot begitu saja dari mulut ke mulut. Ah, ia tidak saja berhutang budi, juga berhutang nyawa. Hanya dapat ia balas dengan cinta kasih. Kalau sudah mengenangkan itu semua, ingin ia mendekap kepala itu, ingin membelainya dan menunjukkan kasih sayangnya. Akan tetapi Li Cu menahan hatinya, hanya memandang dengan wajah sayu dan mata redup setengah dikatupkan.
Gadis ini sama sekali tidak tahu bahwa sudah semenjak ia keluar bersama Beng San dari dalam rumah tadi, sepasang mata menyaksikan semua yang terjadi antara dia dan Beng San. Sepasang mata yang tajam, dilindungi alis tebal yang kadang-kadang mengerut, kadang bergerak-gerak. Sepasang mata itu kadang-kadang menjadi redup terharu, kadang-kadang menyorotkan api kemarahan. Sepasang mata milik seorang laki-laki tua yang tampan dan gagah perkasa, seorang pendekar yang bukan lain adalah Bu-tek Kiam- ong (Raja Pedang Tanpa Tandingan) Cia Hui Gan, ayah dari Cia Li Cu.
Dan baru saja, dari lain jurusan, datang pula seorang tokoh lain yang gerakannya demikian ringan sehingga tidak terdengar oleh Si Raja Pedang sekalipun. Orang ini pun mengintai dan matanya yang liar menjadi makin berputaran marah ketika ia melihat adegan mesra itu, yaitu Beng San rebah telentang di bangku dengan kepala di atas pangkuan seorang dara cantik jelita yang mengelus-elus rambutnya. Orang ini bukan lain adalah Song-bun-kwi Kwee Lun Si Setan Berkabung. Song-bun-kwi Kwee Lun masih dapat mendengar tanya jawab antara Li Cu dan Beng San tentang ilmu silat tadi dan kegirangan hatinya bukan main ketika ia mendengar bahwa Beng San telah hilang ingatannya dan telah hilang atau terlupa pula ilmu silatnya.
"Si keparat Beng San! Kau telah kehilangan kepandaianmu, sekarang kau akan kehilangan nyawamu yang harus menghadap Bi Goat untuk menebus dosa," demikian katanya dalam hati. Tiba-tiba ia melompat keluar sambil tertawa bergelak. Tanpa berkata apa-apa serentak maju menubruk dan menghantam dada Beng San yang rebah telentang di atas bangku.
Li Cu berseru panjang. Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi tubuhnya otomatis bergerak dan ia mendorong tubuh Beng San sekuat tenaga sambil ia sendiri melompat ke belakang dan mencabut pedangnya. Biarpun tubuhnya sudah terdorong dan terlempar dari bangku, tetap saja punggung Beng San keserempet pukulan Song-bun-kwi. Beng San terpelanting dan terguling-guling sambil muntahkan darah segar dari mulutnya. Baiknya Iwee-kang di tubuhnya masih ada dan otomatis tenaga dalam ini bekerja untuk menahan
atau melindungi tempat yang terpukul, maka Beng San hanya, mengalami luka ringan di sebelah dalam saja dan nyawanya selamat. Di dalam tubuh Beng San terkandung dua hawa yang amat besar, hawa Im dan Yang, dua hawa yang bertentangan akan tetapi telah teratur kedudukannya. Berbeda dengan orang lain apabila terpukul dan menderita luka dalam, muntah darah berarti membahayakan. Sebaliknya Beng San dengan muntah darah ini malah menyatakan bahwa tenaga di dalam tubuhnya bekerja dan darah yang dimuntahkan itu sajalah yang menjadi akibat pukulan tadi.
Melihat Beng San muntah darah, Li Cu kaget setengah mati dan mengira bahwa Beng San pasti terluka parah. Ia marah bukan main dan pedangnya lalu diputar ke depan.
"Song-bun-kwi manusia iblis! Kau keji dan curang. Kalau memang ada kepandaian, mengapa menyerang orang sakit? Majulah, aku musuhmu!" Pedangnya menyambar- nyambar ke depan dan sekejap mata saja gulungan sinar pedang mengurung Song-bun- kwi dengan hebatnya.
Song-bun-kwi tertawa bergelak, pedangnya cepat menangkis dari samping lalu ia berkata,
"Perempuan tak tahu malu! Aku hendak membunuh mantuku sendiri yang telah menyebabkan kematian anakku, yang telah meninggalkan anakku untuk bermain gila dengan segala perempuan busuk, kau menghalangi ada hubungan apakah? Apakah kau kekasihnya yang baru?"
Kemarahan Li Cu membuat ia hampir menangis mendengar caci-maki kotor ini. Akan tetapi ia harus membela Beng San, membela nyawanya juga membela nama baiknya.
"Song-bun-kwi, kau seorang kakek tua bangka yang sudah mau mati tapi ucapanmu seperti orang gila atau seperti anak kecil saja. Beng San bukan menjadi sebab kematian Bi Goat. Selama ini dia pergi karena dia membantu Kaisar untuk membasmi orang-orang jahat yang hendak memberontak. Dia dimintai bantuan oleh Pek-lian-pai dalam tugas yang mulia. Yang menyebabkan kematian anakmu adalah ibiis wanita Kwa Hong. Kalau kau memang mendendam, mengapa kau tidak mencari dan membalas kepada Kwa Hong? Andaikata kau hendak membalas kepada Beng San, sebagai orang gagah kau pun harus menanti sampai dia sembuh agar dia dapat melayanimu. Apakah kau sudah berubah menjadi pengecut?"
Song-bun-kwi mengeluarkan suara menggereng hebat, matanya liar. "Kwa Hong akan kubunuh, Beng San akan kubunuh, dan kau yang membelanya akan kubunuh lebih dulu." Setelah berkata demikian ia menubruk maju dan menyerang dengan pedangnya. Pedangnya ber gerak menusuk kemudian ditarik ke bawah. Kalau serangan ini berhasil tentu korbannya akan terbelah dada dan perutnya, Namun dengan gerakan lincah dan indah sekali Li Cu sudah mengelak ke kanan, tubuhnya berputar seperti orang menari kemudian membabat dengan pedangnya ke arah pedang lawan. Ia hendak mengandalkan ketajaman Liong-cu-kiam untuk mematahkan senjata lawannya.
Akan tetapi Song-bun-kwi bukanlah seorang tokoh yang masih hijau. Ia cukup mengenal
Liong-cu-kiam. Biarpun yang ia pegang juga sebatang pedang yang baik dan kuat, namun ia tidak berani mengadukan pedangnya secara langsung dengan Liong-cu-kiam. Ia hanya menyampok pedang lawan yang ampuh bukan main itu dari samping dengan pedangnya sehingga terhindar peraduan. kedua pe-dang pada bagian tajamnya.
Serang-menyerang terjadi dengan amat serunya, dan mati-matian. Ilmu kepandaian Song- bun-kwi hebat bukan main, dia adalah tokoh besar dalam dunia persilatan. Biarpun Li Cu juga telah mewarisi ilmu pedang yang sakti, namun ia kalah pengalaman bertempur biarpun di tangannya ada pedang pusaka Liong-cu-kiam. Song-bun-kwi tidak mengenal ampun, mendesak terus sambil mengeluarkan jurus-jurus yang paling hebat karena ia maklum bahwa lawannya biarpun hanya merupakan seorang gadis muda namun cukup lihai dan berbahaya. Malah kakek ini di samping pedangnya yang dimainkan dengan Ilmu Pedang Yang-sin Kiam-sut dicampur ilmu pedangnya Sendiri, juga mulai melancarkan pukulan-pukulan maut dengan tangan kirinya, menggunakan pukulan jarak jauh yang bukan main dahsyatnya. Tiap kali pukulan ini datang, Li Cu merasa sambaran angin yang hebat ke arahnya. Ia kaget sekali dan maklum bahwa biarpun kepadaian lawan tidak mengenai tubuhnya, hawa pukulan itu kalau tepat mengenai bagian berbahaya, bisa mendatangkan celaka. Maka ia selalu mengelak kalau diserang pukulan ini. Kali ini membuat keadaannya terhimpit.
"Heeei, jangan serang isteriku. Eh, kakek yang baik, orang setua engkau seharusnya memberi contoh baik kepada yang muda, mengapa malah suka berkelahi? Heee! Hati- hati, jangan main-main dengan pedang yang begitu tajam, jangan-jangan kau nanti mencelakai isteriku." Beng San berteriak-teriak penuh kekuatiran. Tadi ia agak nanar maka ia setengah pingsan oleh pukulan yang membuat ia muntah darah. Akan tetapi setelah ia dapat bangun, ia segera berteriak-teriak melarang Song-bun-kwi menyerang "isterinya".
Mana Song-bun-kwi mau pedulikan dia? Makin hebat Song-bun-kwi mendesak sehingga pada suatu saat Li Cu terhuyung-huyung ke belakang, hampir saja menjadi korban pukulan mautnya. Beng San tak dapat menahan kesabarannya lagi, ia melangkah maju dan menudingkan telunjuknya.
"Orang tua, kenapa kau begini nekat? Isteriku pandai main pedang, kalau sampai dia marah... hemmm, apakah kau sudah bosan hidup?"
Song-bun-kwi kaget juga menyaksikan sikap Beng San ini. Dilihat sikapnya yang begitu berani, agaknya pemuda ini masih memiliki kepandaiannya sejenak ia tertegun dan ini membuat gerakannya agak kalut dan terlambat sehingga Li Cu dapat memperbaiki kedudukannya dan berbalik gadis yang tadinya terdesak itu sekarang dapat balas menyerang.
"Bagus, Beng San. Kau majulah, pukul dia mampus dengan ilmu saktimu." Li Cu berseru keras. Song-bun-kwi makin bingung dan kaget, dikiranya betul-betul Beng San hendak menyerangnya. Kembali kesempatan ini dipergunakan oleh Li Cu untuk mainkan
pedangnya dan... "brett" ujung baju kakek itu terbabat putus. Song-bun-kwi kaget sekali dan cepat ia melompat ke arah Beng San sambil mengayun pedangnya.
Girang hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa sama sekali Beng San tidak dapat mengelak, malah Li Cu yang menangkisnya serangan ini.
"Aha, kalian mau menipu aku? Ha-ha-ha, kalian harus mampus sekarang juga." Dengan ucapan ini Song-bun-kwi mendesak makin, hebat sehingga Li Cu menjadi sibuk menangkis dan mengelak. Sekali pundaknya terkenal pukulan tangan kiri Song-bun-kwi sehingga gadis itu terpaksa menggulingkan diri dan bergulingan menjauhkan diri dari Song-bun-kwi. Namun sambii tertawa-tawa kakek ini mengejar terus dengan pedang diangkat, siap untuk membacok.
"Tranggg!" Pedang Song-bun-kwi terpental dan biarpun pedang itu tidak terlepas dari pegangannya dan ia cepat dapat melompat mundur, namun lengannya agak di atas pergelangan telah tergores pedang di tangan Bu-tek Kiam-ong. Cia Hui Gan yang sudah berdiri dengan gagah di situ. Pendekar pedang inilah yang tadi menangkis bacokan Song- bun-kwi untuk menolong nyawa puterinya.
Melihat datangnya Raja Pedang ini, Song-bun-kwi mendengus marah, "Huh, kau juga ikut-ikut urusanku?"
"Song-bun-kwi iblis tua! Seorang ayah melihat puterinya hendak dibunuh orang bagaimana bisa diam saja?"
Sejenak Song-bun-kwi tertegun. Ia maklum akan kehebatan ilmu pedang Cia Hui Gan, maka tidak berani berlaku sembrono. Kemudian ia menoleh ke arah Beng San yang berdiri bengong di pinggiran.
"Bagus, kau betul sekali, Kiam-ong. Anakku dibunuh orang, mana aku bisa diam saja?" Sambil berkata demikian ia menubruk ke depan dan menyerang Beng San dengan pedangnya.
Melihat itu Li Cu kembali menggerakkan senjatanya menangkis serangan kakek itu. Kali ini Song-bun-kwi terlalu bernafsu dalam penyerangannya maka pedangnya bertemu dengan telak sekali dengan pedang di tangan Li Cu. Dengan mengeluarkan bunyi nyaring, pedang di tangan Song-bun-kwi terbabat putus menjadi dua potong oleh Liong- cu-kiam.
"Li Cu, jangan mencampuri urusan mereka!" Cia Hui Gan membentak anaknya, mukanya menjadi merah dan malu melihat sikap puterinya itu.
Akan tetapi, Li Cu dengan pedang di tangan berdiri memandang ayahnya dengan mata bersinar. "Ayah, Beng San tidak pernah membunuh anak Song-bun-kwi yang mati karena melahirkan. Beng San bahkan amat mencintanya. Mana bisa aku membiarkan orang membunuhnya? Kalau Song-bun-kwi menantang Beng San dalam keadaan seperti biasa,
aku pun tidak peduli. Akan tetapi Beng San sedang sakit, sama sekali tidak dapat melawan."
SONG-BUN-KWI marah sekali akan tetapi juga gentar. Menghadapi gadis itu saja sudah payah untuk mencapai kemenangan, apalagi sekarang muncul ayahnya yang tentu saja tidak membiarkan ia mengganggu Li Cu. Pada saat itu terdengar tangis seorang anak tak jauh dari situ. Mendengar ini Song-bun-kwi mengeluarkan gerengan-gerengan marah lalu ia melompat pergi ke arah suara tangisan anak kecil itu. Dari jauh terdengar suaranya, "Bu-tek Kiam-ong, kau mengandalkan nama besarmu bersikap sewenang-wenang. Tunggulah, kelak aku mencarimu di Thai-san."
Sejenak hening. Ayah dan anak itu saling berpandangan. Si ayah dengan sinar mata penuh kemarahan, Si anak tenang-tenang saja namun tarikan mukanya jelas membayangkan keteguhan hatinya.
"Li Cu, apa artinya semua ini?" akhirnya suara si ayah terdengar memecah kesunyian.
"Artinya, Ayah, bahwa aku cinta kepada Beng San dan sisa hidupku akan kuhabiskan di sampingnya," jawab gadis itu dengan suara penuh ketetapan hati.
Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan mengerutkan keningnya. "Tapi... tapi ia seorang gila .... "
"Dia tidak gila, Ayah. Hanya kehancuran hati membuat ia demikian. Ia kematian isterinya yang tercinta dan ia merasa berdosa besar terhadap isterinya sehingga kesedihan membuat ia kehilangan ingatan. Akan tetapi... dia seorang berbatin mulia, Ayah, telah beberapa kali menyelamatkan nyawaku tanpa mempedulikan keselamatan diri sendiri. Aku ingin membalas budinya dan .... "
"Tapi dia tidak menganggapmu sebagai Cia Li Cu .... "
"Memang dia menganggap aku sebagai isterinya yang sudah meninggal dunia. Dan ini lebih mempertebal keyakinanku betapa setia hatinya, penuh cinta kasih murni. Aku tak dapat meninggalkannya, Ayah karena hal itu berarti dia akan celaka."
"Li Cu, apa kau juga sudah menjadi gila? Anakku hendak mengorbankan sisa hidupnya untuk seorang gila? Tak mungkin! Kakak kandungnya seorang berwatak durhaka dan busuk, adiknya takkan jauh bedanya. Dia harus mampus saja daripada merusak hidupmu." Tiba-tiba sinar terang berkelebat dan tahu-tahu kakek ini sudah menerjang ke arah Beng San yang berdiri melongo melihat perdebatan antara ayah dan anak itu.
!!" Li Cu bergerak dan "trangg!" bunga api berpijar, pedang Liong-cu-kiam di tangan Li Cu terlepas menancap di atas tanah, akan tetapi pedang di tangan Cia Hui Gan sudah patah menjadi dua potong. "Ayah ....
Kembali ayah dan anak berpandangan, bertentangan mengadu kekuatan kemauan yang sama kerasnya. "Aku mendengar ejekan si bangsat Beng Kui .... " kata Cia Hui Gan,
suaranya perlahan penuh penyesalan, "bahwa anakku tergila-gila kepada seorang laki-laki pengrusak wanita. Bahwa Beng San ini sudah merusak penghidupan seorang gadis murid Hoa-san-pai yang ditinggalkannya untuk menikah dengan anak Song-bun-kwi. Sekarang agaknya ia menjadi sebab kematian isterinya itu dan dia sekarang menempel engkau."
! Semua itu bohong belaka! Semua itu terjadi bukan karena kesalahan Beng San. Tentang aku..., bukan dia yang menempel, melainkan aku sendiri yang tidak dapat berpisah lagi daripadanya." "Ayah ....
Bergerak-gerak alis mata Cia Hui Gan. "Hemm, pendapat seorang bocah masih hijau. Cintamu mudah berubah dan berganti-ganti. Orang ini lebih baik mati daripada merusak hidupmu." Dengan pedang yang tinggal sepotong itu Cia Hui Gan melompat ke depan dan menyerang Beng San lagi.
"Ayah, kalau kau hendak membunuhnya, kau boleh melihat anakmu menggeletak tanpa nyawa lebih dulu." Li Cu berseru keras dan cepat ia menyambar" Liong-cu-kiam dari atas tanah, langsung ia bacokkan ke lehernya sendiri.
"Anak gila!" Pedang buntung di tangan Cia Hui Gan terlepas meluncur ke arah Li Cu dan menghantam Liong-cu-kiam di tangan gadis itu. Hebat sekali sambitan ini yang merupakan kepandaian istimewa dari Si Raja Pedang, sehingga Li Cu sendiri tidak sanggup mempertahankan pedangnya yang runtuh terlepas dari tangannya. Gadis ini menangis dan menutupi mukanya. ....
"Ayah..., kau boleh bunuh dia... tapi aku pun tidak sudi lagi hidup di dunia ini .... "
tangisnya.
Cia Hui Gan menarik napas panjang. Ia amat sayang kepada puteri tunggalnya ini. Ia hidup hanya berdua dengan puterinya karena ibu Li Cu sudah sejak dahulu meninggal dunia. Bagaimana ia dapat merelakan anaknya mati? Tadi pun ia hanya ingin menyelami hati Li Cu sampai di mana perasaan yang dianggapnya cinta kasih oleh anaknya itu terhadap Beng San. Kakek ini maklum betapa sakit dan hancurnya hati Li Cu karena sikap dan perlakuan Beng Kui kepadanya. Dan kakek ini maklum pula bahwa biarpun di mulutnya tidak pernah menyatakan sesuatu, namun di dalam hatinya gadisnya itu tentu menaruh penyesalan kepada ayahnya sendiri, karena sesungguhnya dialah yang dahulu menjodohkan anaknya itu dengan Beng Kui. Beng Kui adalah pemuda pilihan Cia Hui Gan untuk anaknya yang hanya mentaati kehendak ayah. Setelah pilihan itu ternyata keliru, sekarang anaknya mencari pilihan hatinya sendiri, bagaimana dia tega untuk menghalanginya? Sebetulnya, sejak dahulu ketika untuk pertama kali bertemu dengan Beng San (baca Raja Pedang), memang Cia Hui Gan menaruh rasa simpati yang besar terhadap pemuda ini dan diam-diam ia mengakui bahwa Beng San sebetulnya lebih cocok untuk menjadi jodoh puterinya. Akan tetapi sekarang pemuda itu selain sudah menjadi duda yang ditinggali anak, juga keadaannya tidak normal lagi, kehilangan ingatan dan lupa akan kepandaiannya sama sekali.
"Kau memang bandel .... " akhirnya ia berkata. "Baiklah kalau kau memang sudah yakin
akan cinta kasihmu kepada Beng San, akan tetapi kelak jangan kau salahkan ayahmu kalau kau kecewa."
"Ayah... terima kasih, Ayah .... " Li Cu menubruk dan merangkul ayahnya sambil
menangis.
"Sudahlah, kita harus segera pergi dari sini, tak boleh mengacau di tempat orang lain. Hemm, bocah itu hanya akan memancing datangnya banyak musuh ke Thai-san .... "
Li Cu tidak memberi komentar apa-apa atas ucapan ayahnya ini, melainkan dengan girang ia lalu menggandeng tangan Beng San sambil menariknya dan berkata,
"Beng San, hayo kau ikut aku ke Thai-san."
"Bi Goat, kenapa kita ke Thai-san?" Beng San bertanya seperti orang bingung.
"Mulai sekarang kita akan tinggal di sana, kau ikutlah saja dengan aku dan jangan banyak bertanya."
Beng San mengangguk-angguk. "Baiklah...baiklah, kita ke Thai-san...aku menurut dan takkan membantah asal selalu berada di dekatmu."
Melihat dan mendengar ini Cia Hui Gan menggeleng kepalanya dan diam-diam ia berdoa kepada Tuhan semoga keputusan yang diambil oleh anaknya itu tidak keliru dan tidak akan merusak penghidupan anaknya dikelak kemudian hari.
Dalam perjalanan menuju ke Thai-san itu, atas pertanyaan Li Cu, Cia Hui Gan menceritakan apa yang telah terjadi di kota raja. Seperti telah diceritakan di bagian depan, orang-orang gagah berusaha untuk menggagalkan rencana jahat yang diatur oleh Pangeran Lu Siauw-Ong dan Ho-hai Sam-ong. Di antara mereka itu terdapat Cia Hui Gan dan anaknyai Li Cu sendiri pergi menyusul rombongan Kaisar untuk melindunginya, adapun Cia Hui Gan pergi ke kota raja untuk hukum muridnya yang murtad dan durhaka. Telah dituturkan di bagian depan betapa Kaisar telah terhindar dari malapetaka pencegatan Ho-hai Sam-ong dan anak buahnya dan teman-temannya. Sebagian besar adalah jasa Beng San yang lebih dahulu secara sembunyi telah menjumpai Kaisar di tengah perjalanan dan mengajukan usul agar supaya Kaisar diam-diam kembali ke kota Raja, dan menyuruh orang lain menggantikan Kaisar di dalam joli, Seperti telah kita ketahui, Ho-Hai Sam-ong tertipu dan usaha mereka tidak saja hancur berantakan, malah mereka tewas.
Adapun Cia Hui Gan yang mencari muridnya, Tan Beng Kui di kota saja, datang dalam saat yang kebetulan pula. Pemberontakan telah pecah, terjadi penyerbuan para pemberontak ke dalam istana. Akan tetapi, alangkah kaget hati mereka ketika tiba-tiba, tidak saja muncul para pengawal yang serba lengkap dan kuat, juga muncul banyak sekali anggota Pek-lian-pai di bawah pimpinan Tan-Hok yang gagah perkasa. Lebih hebat lagi kekagetan para pemberontak ketika tiba-tiba muncul pula Kaisar sendiri yang memimpin
tentaranya untuk menghancurkan barisan pemberontak yang menyerbu. Sudah terang bahwa Kaisar pergi ke utara dengan rombongannya, mengapa tiba-tiba bisa berada di situ? Keadaan menjadi kacau-balau dan para pemberontak itu berkurang semangatnya. Apalagi di pihak Kaisar terdapat orang-orang gagah, terutama sekali Cia Hui Gan yang mengamuk seperti seekor naga terbang dan masih ada lagi raksasa muda Tan Hok yang mengamuk dengan anak buahnya yang gagah.
Cia Hui Gan yang sengaja mencari muridnya, akhirnya dapat berhadapan muka dengan Beng Kui yang berpakaian seperti seorang jenderal besar dan mengamuk dengan pedangnya, Liong-cu-kiam. Alangkah kagetnya ketika tiba-tiba ia melihat gurunya. Akan tetapi Beng Kui malah menegur,
"Suhu, mengapa Suhu menghalangi cita-cita teecu yang tinggi?"
"Keparat, kau membikin malu gurumu saja dengan perbuatanmu yang hina. Mulai saat ini aku bukan gurumu lagi."
"Aha, jadi Suhu juga berpandangan picik seperti Li Cu dan merasa sakit hati karena teecu menjadi mantu Lu Siauw Ong? Apakah Suhu tidak melihat bahwa kalau teecu kelak menjadi mantu Kaisar dan calon kaisar, masih belum terlambat menikah dengan sumoi dan Suhu sendiri tentu memperoleh kedudukan tinggi?"
"Bangsat, tutup mulutmu!" dengan amarah meluap-luap Cia Hui Gan menyerang.
Beng Kui menangkis dan melakukan perlawanan. Namun, betapapun juga, pedang pusaka Liong-cu-kiam di tangannya tak dapat membantu banyak terhadap serangan- serangan gurunya yang lihai bukan main itu. Apalagi ketika ia melihat betapa barisan yang dipimpinnya itu mulai berantakan dan cerai-berai karena memang kalah kuat, hatinya menjadi risau dan permainan pedangnya kacau-balau. Kesempatan, ini dipergunakan oleh Cia Hui Gan untuk mendesaknya dan pada saat yang baik pundak kiri Beng Kui tertusuk oleh pedang gurunya. Ia menjerit dan melompat ke belakang, menghilang di antara anak buahnya yang mulai berlarian ke sana ke mari mencari jalan keluar. Cia Hui Gan mengejar karena ia bermaksud membunuh bekas muridnya itu, namun Beng Kui sudah mendapatkan seekor kuda dan sudah lari jauh.
Demikianlah pengalaman Cia Hui Gan di kota raja. Kaisar sendiri menyatakan terima kasih kepadanya, akan tetapi Cia Hui Gan tidak lama berdiam di kota raja, melainkan terus menyusul puterinya. Ia mendengar bahwa pencegatan rombongan Kaisar dapat digagalkan dan dihancurkan pula, akan tetapi dengan hati kecut ia mendengar bahwa puterinya telah terluka dan ditolong oleh Beng San. Hal ini ia dengar daripada anggota Pek-lian-pai yang masih tertinggal di tempat itu karena terluka.
Cia Hui Gan tidak percaya lagi kepada Beng San setelah kekecewaannya pada Beng Kui. Kalau kakaknya seperti itu, mana bisa adiknya baik pula? Dengan hati kuatir ia lalu cepat-cepat melakukan perjalanan menyusal ke Min-san dan akhirnya ia menyaksikan
semua kejadian yang membuat hatinya menjadi penuh kegelisahan akan hari depan puterinya.
Setahun lebih Li Cu merawat Beng San dengan penuh kesabaran dan penuh cinta kasih. Melihat keadaan puterinya itu yang rela mengorbankan segala untuk Beng San yang masih saja belum kemball ingatannya, Cia Hui Gan merasa terharu dan kasihan sekali. Karena keadaan Beng San yang boleh dibilang telah berubah menjadi seorang yang lemah, maka Raja Pedang ini lalu menggembleng puterinya dengan ilmu yang lebih tinggi agar kelak sepeninggalannya Li Cu dapat mempertahankan diri dari segala bahaya yang menimpanya.
Memang Cia Li Cu seorang gadis yang hebat, jarang bandingannya di dunia ini. Cintanya terhadap Beng San benar-benar cinta yang murni dan suci, cinta yang tidak dikotori nafsu, tidak tercemar oleh keinginan menyenangkan diri sendiri. Oleh karena sifat cintanya yang mulus inilah maka ia tahan menderita segala tekanan batin. Beng San masih saja menganggap dia sebagai Bi Goat dan masih saja belum mendapatkan kembali ilmu-ilmu silatnya.
Seringkali Cia Hui Gan menyatakan kekuatirannya kepada puterinya itu dengan kata-kata nasihat,
"Li Cu, keputusan hatimu untuk mengorbankan diri demi cintamu kepada Beng San, aku orang tua tidak akan mengganggu-gugat lagi. Akan tetapi kau harus mengerti bahwa keputusan ini memancing datangnya banyak musuh. Sudah pasti Song-bun-kwi akan membalaskan anaknya yang ia anggap mati karena kesalahan Beng San. Juga wanita yang bernama Kwa Hong, murid Hoa-san-pai itu... hemm, kiraku dia juga merupakan ancaman bahaya dalam hidupmu. Belum kalau kita ingat kepada musuh-musuh Beng San yang amat banyak dan yang semuanya terdiri dari orang-orang sakti."
"Aku tidak takut, Ayah," jawab Li Cu gagah. "Biarkan mereka datang, orang-orang jahat itu. Aku akan membeia Beng San mati-matian. Pula, Ayah berada di sini, aku takut apa lagi?" Ucapan terakhir ini bernada manja.
Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan menggeleng-gelengkan kepalanya yang sudah mulai penuh rambut putih. "Tentu saja aku akan melindungimu selama aku masih hidup, Li Cu. Akan tetapi, kau harus mengerti bahwa usia manusia ada batasnya, demikian pula kepandaian. Menghadapi musuh-musuh Beng San itu, kiranya biar aku sendiri maju masih belum cukup kuat. Oleh karena itu, mari bantulah aku dalam pembuatan rencanaku yang sudah lama kupikir dan kuciptakan."
"Rencana apakah, Ayah?"
"Kita harus dapat membuat tempat kita ini menjadi tempat yang tidak mudah dikunjungi orang luar. Aku sudah mempunyai rencananya lengkap. Kita minta bantuan penduduk di kaki gunung dan kurasa dalam waktu setahun tempat kita ini akan menjadi tempat
persembunyian yang takkan gampang-gampang dimasuki orang luar, biarpun mereka memiliki kepandaian tinggi."
Semenjak terjadi percakapan ini, Cia Hui Gan lalu mencari bantuan tenaga para penduduk di kaki gunung dan mulailah rencananya itu dibuat. Ia memilih sebuah puncak yang amat indah pemandangannya dan nyaman pula hawa udaranya, pula puncak ini dikelilingi jurang yang terjal dan tak mungkin dilalui manusia. Bagian-bagian yang dapat dipergunakan orang untuk mendaki puncak, sengaja digugurkan sehingga bagi orang luar tampaknya tempat itu tak mungkin didatangi. Menurut rencana kakek ini mereka akan membuat jalan rahasia ke puncak, melalui terowongan buatan dibawah tanah. Terowongan ini selain tak tampak dari luar, juga di dalamnya penuh alat-alat rahasia sehingga bagi orang-orang luar, amat berbahayalah untuk melaluinya, andaikata dia dapat menemukan pintu terowongan juga. Selain alat-alat rahasia juga terowongan ini dibuat berliku-liku, banyak cabangnya dan mudah sekali menyesatkan orang.
Akan tetapi untuk membuat semua ini membutuhkan tenaga dan waktu. Dan kekhawatiran Cia Hui Gan tentang musuh-musuh besar Beng San ternyata terbukti ketika pembuatan jalan terowongan itu baru mulai dibuat.
Pada waktu itu matahari baru saja terbit dan penduduk kaki gunung sudah berkumpul dan mulai bekerja mengangkuti batu-batu yang dibutuhkan untuk pembuatan terowongan. Cia Hui Gan dan Cia Li Cu sedang mengatur pekerjaan dan berada di puncak, di tempat terbuka yang akan dibangun menjadi tempat tinggal mereka. Beng San juga berada di situ, duduk di bawah sebatang pohon besar. Orang muda ini sekarang nampak sehat, wajahnya segar dan agak gemuk malah, akan tetapi sepasaing matanya kehilangan cahaya yang biasanya bersinar tajam dan aneh. Sekarang malah kelihatan seperti orang bodoh. Pakaiannya bersih dan ia nampak tersenyum-senyum gembira memandang ke arah Li Cu. Ia merasa heran sekali mengapa orang-orang itu sibuk hendak membuat rumah, akan tetapi seperti biasa ia tidak mengganggu "isterinya".
Di pagi hari yang sejuk ini timbul bermacam-macam pertanyaan di dalam otaknya yang tidak sehat. Kenapa isterinya menyebut "ayah" kepada orang tua yang katanya seorang ahli pedang berjuluk Bu-tek Kiam-ong bernama Cia Hui Gan? Ia sekarang sudah ingat bahwa ayah dari isterinya adalah Song-bun-kwi. Tapi kenapa Song-bun-kwi malah tidak kelihatan? Memang aneh isterinya sekarang. kelihatannya begitu mencinta padanya, akan tetapi kenapa amat berubah sehingga tidur pun mereka berpisah? Diam-diam ia merasa kecewa dan berduka, akan tetapi ia tidak berani membantah. Kalau isterinya marah dan meninggalkan dia, celaka.
Tiba-tiba terdengar kegaduhan hebat. Orang-orang berteriak-teriak dan ada yang memekik kesakitan, disusul gerengan seperti binatang buas mengamuk. Ada pula yang menjerit-jerit ketakutan disusul ketawa melengking. Cia Hui Gan dan Li Cu kaget sekali dan cepat mereka memandang. Apa yang mereka lihat membuat keduanya berubah mukanya. Para pekerja lari cerai-berai dan malah ada yang sudah roboh karena amukan dua orang yang bukan lain adalah Song-bun-kwi Kwee Lun dan Kwa Hong. Dengan gerakan-gerakannya yang luar biasa, kakek tua berpakaian putih ini menggereng-gereng
dan kadang-kadang melengking seperti orang menangis sambil menghantam ke kanan kiri merobohkan para pekerja yang tidak sempat lari menjatukan diri. Lebih hebat mengerikan lagi adalah sepak terjang Kwa Hong yang duduk di atas rajawali emasnya dan menyambar-nyambar dari atas menyebar maut kepada para pekerja. Kasihan sekali para penduduk kampung yang tidak memiliki ilmu kepandaian silat itu. Mereka berusaha lari menyelamatkan diri, namun hanya sedikit saja yang berhasil. Sebagiaan besar tak mampu lagi menyelamatkan diri dan terpaksa menjadi korban keganasan dua orang itu. Apalagi mereka hanyalah petani-petani yang tidak berkepandaian, andaikata mereka memiliki ilmu silat sekalipun belum tentu mereka akan dapat menghindarkan diri dari dua orang yang memiliki kepandaian dahsyat dan keganasan seperti iblis itu.
Melihat kejadian ini, tentu saja Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan seperti dibakar dadanya. Kemarahannya tak dapat ia tahan lagi dan serentak ia lalu mencabut pedang dari belakang punggung, meloncat ke depan dari membentak keras,
"Iblis jahat Song-bun-kwi dan kau tentu siluman betina she Kwa murid Hoa-san-pai. Hari ini kalian berani datang ke Thai-san membunuhi orang-orang tak berdosa, aku Cia Hui Gan bersumpah akan membasmi kalian." Pedangnya lalu digerakkan dan secepat kilat ia menerjang kepada Song-bun-kwi. Kakek ini pun sudah siap sedia cepat mengelak daripada sambaran sinar pedang yang luar biasa itu sambil memutar pedangnya sendiri untuk balas menyerang. Sementara itu Li Cu juga sudah melompat maju dan menggerakkan Liong-cu-kiam membantu ayahnya.
Akan tetapi dari atas terdengar suara ketawa mengikik dan menyambarlah sinar kehijauan lima buah banyaknya ke arah ayah dan anak itu. Cia Hui Gan dan Li Cu melompat ke samping sambil menggerakkan pedang menangkis. Terdengar suara keras dan bunga api muncrat menyilaukan mata. Li Cu merasa betapa telapak tangannya tergetar maka diam- diam ia kaget bukan main. Alangkah kuatnya wanita yang naik burung rajawaii itu. Sambil tertawa-tawa Kwa Hong juga sudah meloncat turun dari atas punggung rajawali yang segera terbang dan hinggap di atas puncak pohon besar sambil mengeluarkan bunyi melengking nyaring. Empat orang musuh besar itu kini saling berhadapan, masih belum bergerak lagi setelah gebrakan pertama tadi.
Bagaimanakah Kwa Hong bisa datang bersama Song-bun-kwi di Puncak Thai-san? Hanya kebetulan saja. Ternyata bahwa Song-bun-kwi yang merasa sakit hati terhadap bekas mantunya itu tidak jauh meninggalkan Thai-san. Ia selalu menanti saat baik untuk menculik dan membunuh Beng San. Akhirnya pada pagi hari itu ia melihat Kwa Hong menunggang burung rajawali naik ke Thai-san, Giranglah hatinya karena ia dapat menduga bahwa kedatangan tokoh baru yang menggemparkan ini pasti akan memusuhi Beng San, maka ia segera menyusul naik dan melihat Kwa Hong menghajar para pekerja, ia pun lalu turun tangan menyerbu. Yang amat berat dihadapi bagi Song-bun-kwi hanya Bu-tek Kiam-ong, maka kalau ia mendapat kawan yang kosen, ia tidak takut. Sementara itu Kwa Hong sengaja datang ke Thai-san karena ia sudah mendengar tentang keadaan Beng San yang kehilangan kepandaiannya. Ia ingin sekali menyaksikan dan kalau betul demikian berarti ia akan dapat membalas sakit hatinya. Ketika, ia melihat Song-bun-kwi membantunya, ia tidak berkata apa-apa, malah tidak peduli sama sekali.
"Cia Hui Gan, kenapa kau begini tak tahu malu? Anak perempuanmu yang bermuka tebal itu telah melindunginya? Hemm, apakah begini saja orang yang berjuluk Kiam-ong? Ternyata hanya orang rendah...!" Kwa Hong memaki kalang-kabut.
Wajah Cia Hui Gan menjadi merah sekali, matanya bersinar-sinar memancarkan api kemarahan, "Iblis wanita kau sebenarnya siapa dan apa maksudmu ke sini?" bentaknya.
"He, perempuan muda, jangan kau sembarangan bicara!" Song-bun-kwi juga kaget mendengar ucapan Kwa Hong dan cepat memaki. "Beng San suami anakku, sekarang dirampas oleh anak orang she Cia, Kenapa kau berani mengakunya sebagai suami? Apakah kau orang yang dulu melahirkan anak di tempatku, ditolong oleh Bi Goat?"
Kwa Hong mengeluarkan suara ketawa mengejek. "Kalian orang-orang tua tahu apa? Dengarlah baik-baik. Manusia bernama Tan Beng San itu, yang sekarang duduk di sana seperti patung hidup, sebelum dia menikah dengah Kwee Bi Goat, dia sudah lebih dahulu menjadi ayah dari anakku. Akulah orang yang paling berhak atas dirinya, siapa pun hendak menghalangi akan kubunuh mampus. Hee, Beng San! Hayo kau ikut denganku. Apakah kau tidak ingin menengok anakmu?"
Beng San hanya melongo, sama sekali ia tidak ingat lagi siapa adanya wanita yang bicara tidak karuan itu. Suara dan wajahnya serasa ia kenal baik, akan tetapi ia sudah lupa lagi kapan dan di mana. Beng San memijit-mijit keningnya, mengingat-ingat.
"Ho-ho, nanti dulu!" Song-bun-kwi berseru sambil tertawa mengejek. "Bukankah kau yang bernama Kwa Hong, anak murid Hoa-san-pai? Aku banyak mendengar tentang kau. Orang bilang bahwa kau telah menjadi isteri Koai Atong Si Bocah Tua gila. Kalau kau punya anak, tentulah anakmu dengan Koai Atong itulah. Kau murid Hoa-san-pai jangan banyak membohong di sini."
"Tutup mulutmu, tua bangka gila!" Kwa Hong membentak sambil mencabut pedang pusaka Hoa-san-pai. "Buka matamu dan lihat ini. Aku Ketua Hoa-san-pai, bukan murid lagi, tahu? Inilah pusaka Hoa-san-pai, berada di tangan Ketua Hoa-san-pai. Pedang pusaka ini kelak akan memenggal batang lehermu karena kau sudah berani berkurang ajar kepadaku. Sekarang hendak kupakai membasmi orang-orang yang berani merampas Beng San."
"Ha-ha-ha, bagus, bagus! Keluarga Cia memang patut dibasmi. Mari kubantu kau!" kata Song-bun-kwi yang cerdik dan licin.
Semenjak tadi Cia Hui Gan hanya berdiri dengan muka sebentar pucat sebentar merah. Ia merasa susah dan malu sekali. Sebagai seorang tokoh kang-ouw yang kenamaan tentu saja ia tahu akan peraturan kang-ouw. Dua orang yang datang ini memang berhak atas diri Beng San, yang seorang bekas kekasih Beng San, yang seorang lagi mertuanya malah. Memang dia dan puterinya berada di pihak yang salah. Akan tetapi mana bisa ia tidak membela Li Cu?
Tentu saja Li Cu maklum pula apa yang dipikirkan ayahnya, maka dengan gagah ia melangkah maju dan berkata lantang,
"Kalian bicara mau menang sendiri saja. Song-bun-kwi, sudah jelas bahwa kematian puterimu bukan karena kesalahan Beng San, melainkan karena Kwa-Hong yang merupakan kenyataan yang menghancurkan hatinya. Malah Beng San demikian mencinta puterimu itu sehingga kematiannya membuat Beng San kehilangan ingatannya. Dan kau, Kwa Hong, kau sungguh tak tahu malu, perbuatanmu dengan Beng San itu sudah menunjukkan betapa rendah watakmu. Hubunganmu dengan Beng San terjadi karena pengaruh racun, akan tetapi kau begitu tak bermalu untuk menyatakan Beng San adaiah suamimu."
"Setan betina tutup mulutmu!" Kwa-Hong menjadi marah, mukanya menjadi merah dan matanya liar. "Suami atau bukan dia adalah ayah anakku. Sebaliknya engkau ini bukan apa-apanya mengapa membela mati-matian? Bukankah kau yang tergila-gila kepada Beng San?"
"Memang, aku mencinta Beng San! jawab Li Cu dengan suara tegas dan sikap gagah sambil mengedikkan kepala. "Aku mencinta Beng San dan aku berhutang budi kepadanya. Sebaliknya, dia menganggap bahwa aku adalah isterinya yang sudab meninggal. Demi cintaku, dan demi untuk membalas budi, aku hendak melindunginya dengan taruhan nyawa dan ragaku. Kalau kalian berdua manusia-manusia berhati iblis bermaksud membunuh atau menculiknya, kalian harus lebih dulu dapat membunuh aku."
"Bagus, memang aku hendak membunuhmu!" Kwa Hong menjerit dan anak panah-anak panah pada ujung cambuknya menyambar.
"Trang-trang-trang!" Li Cu menangkis dengan Liong-cu-kiam. Ujung tiga batang anak panah itu patah semua sedangkan yang duah buah tidak mengenai pedang pusaka sehingga terhindar daripada kerusakan. Bukan main marahnya Kwa Hong melihat betapa dalam segebrakan saja senjatanya telah rusak oleh pedang lawan yang ternyata amat kuat itu. Ia mencabut Hoa-san Po-kiam dan menerjang lagi. Li Cu menangkis lagi dan kali ini ia terhuyung mundur dengan tangan sakit-sakit. Pedang di tangan Kwa Hong sama sekali tidak rusak. Hal ini tidak aneh karena Hoa-san Po-kiam juga, sebatang pedang pusaka yang ampuh.
Sementara itu Kwa Hong sudah menyerang lagi. Gerakannya dalam penyerangan amat aneh, menyambar-nyambar seperti gerakan seekor burung. Pedang Hoa-san Po-kiam meluncur ke arah tenggorokan Li Cu. Baru saja gadis ini hendak mengelak, ujung pedang itu sudah menyambar ke bawah membelah dada. Li Cu kaget dan cepat menggunakan Liong-cu-kiam menangkis, akan tetapi lagi-lagi ujung pedang lawan tidak melanjutkan serangannya dan tahu-tahu tangan kiri Kwa Hong yang memukul dengan gerakan pukulan Jing-tok-ciang. Li Cu benar-benar kaget sekali ketika tiba-tiba ada angin dingin, menyambar dari sebelah kanannya. Cepat ia mengelak namun karena serangan ini memang tidak tersangka-sangka olehnya, ia terdorong hawa pukulan Jing-tok-ciang dan
kembali ia terhuyung-huyung. Pada saat itu pedang Kwa Hong sudah mengejar pula dengan tusukan-tusukan dan bacokan-bacokan maut yang amat sukar diketahui perubahannya.
"Li Cu, mundurlah!" kata Cia Hui Gan sambil meloncat maju. Pedangnya menyambar mengeluarkan sinar kilat dan sekaligus ia telah berhasil mengancam pergelangan tangan Kwa Hong dengan gulungan sinar pedangnya yang hebat.
!" Kwa Hong berjengit sambil menarik tangannya ke belakang, juga melangkah mundur setindak, tidak melanjutkan desakannya kepada Li Cu. "Ayaaaa ....
"Ha-ha-ha, Raja Pedang tak tahu malu, mengeroyok seorang perempuan muda." kata Song-bun-kwi sambil terjun ke dalam kalangan pertempuran. Dengan Ilmu Pedang Yang- sin Kiam-sut ia segera menerjang Cia Hui Gan. Sementara itu, karena tadi kaget ketika pergelangan tangannya hampir putus oleh pedang Cia Hui Gan, Kwa Hong marah bukan main. Sambil mengeluarkan pekik melengking ia kini menerjang orang tua dari Thai-san itu sehingga dalam sekejap mata saja Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan sudah dikeroyok dua oleb Kwa Hong dan Song-bun-kwi.
Cia- Hui Gan berjuluk Bu-tek Kiam-Ong (Raja Pedang Tanpa Tanding), ilmu pedang Sian-li Kiam-sut adalah ilmu pedang keturunan yang aseli dari pendekar sakti Ang I Niocu ratusan tahun yang lalu. Semenjak ratusan tahun itu, Sian-li Kiam-sut boleh dibilang menjagoi diantara segala ilmu pedang. Sebetulnya, ilmu pedang ini masih bersumber dengan Im-yang Sin-kiam-sut atau boleh dikatakan cabangnya. Karena memiliki ilmu pedang ini yang sudah dilatihnya secara sempurna maka tidak heran apabila Cia Hui Gan merupakan jago pedang yang sukar dilawan.
Akan tetapi sekarang ia dikeroyok dua oleh dua orang lawan yang bukan orang sembarangan. Song-bun-kwi Kwee Lun adalah seorang tokoh kenamaan, malah tokoh nomor satu dari barat yang selain memiliki ilmu silat yang tinggi dan sakti, juga telah mendapatkan ilmu silat pedang Yang-sin Kiam-sut. Di dunia kang-ouw jarang ada yang dapat menandinginya. Adapun orang ke dua biarpun tidak ternama dan hanya merupakan murid Hoa-san-pai, akan tetapi Kwa Hong sekarang sama sekali tidak boleh disamakan dengan Kwa Hong dahulu ketika menjadi murid Hoa-san-pai. Kwa Hong telah mempelajari ilmu dari Koai Atong, terutama Jing-tok-ciang dan di samping ini, yang membuat ia sekarang sekaligus berubah menjadi seorang yang luar biasa adalah ilmu silat yang ia petik bersama Koai Atong dari gerakan-gerakan rajawali emas yang sekarang menjadi teman dan binatang tunggangannya.
Li Cu maklum bahwa kepandaian dua orang ini hebat sekali. Ketika ia ingat bahwa pedang di tangan Kwa Hong ternyata sebatang pedang pusaka yang ampuh, ia kuatir kalau-kalau ayahnya akan terdesak dan rusak pedangnya. Maka ia segera berseru,
"Ayah, kaupergunakan Liong-cu-kiam ini!"
Karena Cia Hui Gan juga seorang yang bermata awas dan tadi dapat melihat betapa
pedang Kwa Hong dapat menandingi Liong-cu-kiam, ia tidak mau banyak sungkan lagi. Diterimanya pedang Liong-cu-kiam pendek itu dengan tangan kirinya, lalu ia berseru,
"Li Cu, bawa Beng San pergi dari sini. Biar aku menandingi dua iblis jahat ini."
Akan tetapi Li Cu sendiri adalah seorang pendekar yang berhati baja, mana dia sudi meninggalkan ayahnya terancam bahaya dan melarikan diri?
"Tidak, Ayah. Mati hidup aku harus bersamamu, aku harus membantumu. Berikan pedangmu kepadaku."
"Jangan, Li Cu. Untuk menghadapi dua ekor manusia binatang ini aku sendirian sanggup. Kaubawa pergi Beng San, selamatkan dia lebih dulu."
Li Cu ragu-ragu dan sejenak ia berdiri memandang betul saja, biarpun dikeroyok dua, sepasang pedang di tangan ayahnya itu benar-benar hebat, merupakan dua gulung sinar pedang yang berlainan warna, menyambar-nyambar laksana naga di angkasa raya. Ilmu pedang ayahnya benar-benar sudah sampai di puncaknya. Hebat bukan main sampai Li Cu dalam suasana tegang itu menjadi kagum akan keindahan Ilmu Pedang Sian-li Kiam- sut yang dimainkan ayahnya.
Andaikata Song-bun-kwi dan Kwa Hong mengeroyoknya tidak menggunakan pedang, kiranya takkan mungkin Cia Hui Gan kuat mempertahankan diri. Tingkat kepandaian Song-bun-kwi tidak lebih bawah daripada tingkatnya sendiri, adapun wanita muda itu benar-benar memiliki ilmu silat yang aneh dan mujijat sekali. Baiknya kedua orang itu pun bermain pedang, sedangkan senjata pedang adalah permainan Cia Hui Gan semenjak kecil, yang menjadi keahliannya sehingga ia dijuluki Raja Pedang, maka menghadapi permainan pedang kedua lawannya, Hui Gan merasa lebih mudah untuk tidak saja mempertahankan diri, malah mendesak dengan jurus-jurus yang lihai.
Selagi Li Cu berdiam bimbang, tiba-tiba terdengar suara bentakan orang,
"Li Cu, kau benar-benar membikin malu aku yang menjadi kekasihmu."
Li Cu kaget sekali karena tiba-tiba muncul Tan Beng Kui bersama Hek-hwa Kui-bo. Hek-hwa Kui-bo segera menghunus pedang dan menyerbu ke dalam pertempuran sambil berseru kepada Song-bun-kwi, "Hi-hi-hi, tua bangka keparat, jangan kauperlihatkan sendiri kelihaian Yang-sin-kiam. Mana lebih hebat dengan Im-sin-kiam ilmuku?" Seperti kita ketahui dalam cerita Raja Pedang, kalau Song-bun-kwi dapat merampas kitab pelajaran Ilmu Pedang Yang-sin-kiam, adalah Hek-hwa Kui-bo ini berhasil merarnpas kitab pasangannya, yaitu yang mengandung pelajaran Ilmu Pedang Im-sin-kiam. Dengan munculnya ahli Im-sin-kiam ini, boleh dibilang Cia Hui Gan menghadapi pasangan ilmu Pedang Im-yang Sin-kiam-Sut yang hebat bukan main. Tentu saja ilmu pedang ini tidak sehebat kalau dimainkan oleh satu orang seperti Beng San sebelum ia kehilangan ingatannya. Betapapun juga, dalam gebrakan-gebrakan pertama saja sudah terlihat betapa
Cia Hui Gan menjadi sibuk menghadapi serangan-serangan pasangan dari dua orang tokoh ilmu silat kelas tinggi itu.
Li Cu kaget bukan main melihat kedatangan bekas suheng dan tunangannya beserta Hek- hwa Kui-bo itu. Ini berarti bertambahnya pihak lawan yang amat tangguh. Juga di samping kekuatirannya, ia menjadi marah sekali kepada Beng Kui. Tanpa banyak cakap lagi ia segera menerjang bekas tunangannya itu dengan pukulan-pukulan maut. Ia merasa menyesal sekali bahwa ia masih belum sempat mengambil pedang lain setelah Liong-cu- kiam dipinjamkan kepada ayahnya.
"Ha-ha, Li Cu. Kau tak tahu malu, melarikan laki-laki. Hah, perbuatan rendah dan hina,"
"Tutup mulut dan jangan mencampuri urusanku!" bentak Li Cu makin marah dan memperhebat serangannya. Akan tetapi dengan mudah Beng Kui dapat mengelak. Memang tingkat kepandaian Beng Kui lebih tinggi daripada kepandaian Li Cu, apalagi memang dahulu seringkali ia melatih ilmu silat kepada bekas sumoinya ini, maka gerakan-gerakan Li Cu ia sudah hafal benar.
Tiba-tiba Beng San datang berlari-lari dengan maksud hendak melerai mereka berdua yang sedang bertanding. Sejak tadi ia mendengarkan semua percekcokan dengan pikiran bingung dan hati berdebar. Ia menganggap mereka semua itu juga "isterinya", bicara tidak karuan. Selagi ia mengerahkan pikirannya untuk menyelami maksud semua percakapan yang ganjil itu, tiba-tiba muncul Tan Beng Kui dan di dalam kebingungannya ternyata ia masih dapat ingat dan kenal kepada kakak kandungnya ini. Sekarang kakak kandungnya itu bertempur melawan isterinya, tentu saja ia menjadi makin bingung dan cepat lari menghampiri untuk mencegah.
"Kui-ko... jangan berkelahi dengan dia. Dia itu isteriku!" tegurnya sambil menggerakkan kedua tangan ke atas untuk mencegah.
"Aha, sudah menjadi isterinya, ya? Sejak kapan?" Beng Kui mengejek sambil memandang kepada Li Cu, gadis ini menjadi merah mukanya, akan tetapi ia mengedikkan kepala dan menjawab lantang,
"Kalau betul kau mau apa? Bukan urusanmu!"
"Bi Goat, dia ini adalah kakak kandungku, jangan kau bertengkar kepadanya," kata pula Beng San, suaranya penuh permohonan."
“Ha-ha-ha-ha, menjadi isteri seorang gila Beng Kui tertawa dan mengejek lagi, kemudian tiba-tiba tangannya menghantam ke depan, tepat mengeriai dada Beng San, "Blukk!" Tubuh Beng San terlempar sampai beberapa meter jauhnya dan jatuh terguling. Akah tetapi ia segera bangun kembali dan bertanya dengan mata terbelalak heran.
"Kui-ko, kenapa kau memukulku?" tanyanya berulang-ulang sambil melangkah maju lagi.
Beng Kui tadinya girang karena kini mendapat kenyataan bahwa adik kandungnya yang dahulu lihai itu sekarang benar-benar telah kehilangan kepandaiannya. Tadinya ketika mendengar berita ini ia masih ragu-ragu. Ketika tadi ia mendengar Beng San mengaku Li Cu sebagai isteri dan menyebutnya "Bi Goat", ia tahu bahwa adiknya benar-benar telah kehilangan ingatan. Akan tetapi hal ini belum berarti kehilangan kepandaian, maka untuk mencobanya ia cepat memukul. Pukulan ini cepat dan tak terduga-duga sehingga Li Cu sendiri tidak sempat mencegah. Giranglah hati Beng Kui melihat pukulannya tepat dan membuat adik yang ditakuti itu terlempar dan bergulingan, akan tetapi ia kaget bukan main melihat Beng San bangun lagi dan tidak apa-apa. Padahal pukulannya tadi ia lakukan dengan pengerahan tenaga Iwee-kang. Ia tidak tahu bahwa tenaga Iwee-kang dan hawa murni di tubuh Beng San masih ada dan secara otomatis bergerak melindungi bagian yang terpukul. Ia mengira bahwa Beng San masih lihai seperti dulu. Akan tetapi melihat sikap Beng San dan mendengar pertanyaan yang berkali-kali itu ia dapat menduga bahwa Beng San masih dilindungi oleh hawa murni di tubuhnya, tapi takkan dapat mempergunakan hawa dan tenaganya untuk menyerang karena semua ilmu telah dilupakannya.
Sementara itu Li Cu marah bukan main melihat Beng San dipukul tadi. Juga ia merasa kuatir kalau-kalau Beng San terluka parah, biarpun ia melihat Beng San sudah bangkit kembali dan malah mendekati Beng Kui. Karena kuatir kalau Beng Kui memukul lagi, Li Cu mendahuluinya dan menyerang hebat. Beng Kui tertawa-tawa dan segera melayaninya. Adapun Beng San berteriak-teriak mencegah mereka bertempur.
Hati Li Cu gelisah bukan main. Biar pun ia sedang berhantam dengan Beng Kui, namun ia dapat menangkap dengan pendengaran telinganya yang tajam bahwa keadaan ayahnya mulai terdesak hebat. Hal ini mengguncangkan hatinya dan mengacaukan gerakan kaki tangannya.
"Beng Kui anak durhaka! Lepaskan Li Cu!" tiba-tiba Gia Hui Gan berteriak keras. "Li Cu, bawa Beng San pergi jauh-jauh!"
Akan tetapi kata-katanya itu disambut dengan ketawa mengejek oleh Beng Kui, Cia Hui Gan tidak berdaya menolong puterinya karena tiga orang lawannya makin hebat mendesaknya. Rupanya karena maklum bahwa mereka menghadapi lawan yang amat tangguh, Hek-hwa Kui-bo dan Song-bun-kwi dapat bekerja sama dan mempergunakan Yang-sin Kiam-sut dan Im-sin Kiam-sut untuk mengeroyok jago pedang itu. Sedangkan Kwa Hong dengan ilmu silatnya yang tidak karuan namun dahsyat sekali, terus melancarkan serangan-serangan maut.
Li Cu makin gelisah dan kesempatan ini dipergunakan dengan baik oleh Beng Kui. Sebuah tendangan pada sambungan lutut membuat Li Cu roboh dan susulan totokah membuat gadis itu 'tidak dapat bergerak pula,
!" Beng San berseru dan menubruk Li Cu, akan tetapi ia pun segera lemas tak dapat bergerak karena ditotok oieh Beng Kui pada dua jalan darahnya "Jangan pukul isteriku ....
yang penting. Kemudian sambil tertawa-tawa Beng Kui mengempit tubuh Li Cu dan Beng San, lalu di bawa pergi lari cepat dari tempat itu.
!" Cia Hui Gan membentak dan pedang di tangan kanannya meluncur cepat mengejar bayangan Beng Kui. Orang muda ini maklum akan kehebatan ilmu melempar pedang dari gururnya, ia menjadi pucat dan kaget sekali. Cepat ia mengelak dan merendahkan tubuh, namun tetap saja pundaknya tertusuk pedang dari belakang dan Beng Kui sambil menjerit kesaktian mempercepat larinya. Tubuh Li Cu dan Beng San masih dikempitnya dan pedang itu pun masih menancap di pundaknya. "Beng Kui... keparat .... ! Lepaskan Li Cu ....
Masih untung bagi Beng Kui bahwa pada saat itu Kwa Hong, Hek-hwa Kui-bo dan Song- bun-kwi mendesak Cia Hui Gan sehingga Raja Pedang ini tidak sempat lagi untuk mengejarnya. Malah kini keadaan Cia Hui Gan terdesak hebat karena di tangannya hanya terdapat sebatang pedang pendek, yaitu pedang Liong-cu-kiam karena pedangnya sendiri tadi telah disambitkan ke arah Beng Kui dalam usaha mencegah bekas murid itu menculik puterinya. Hai ini ditambah lagi oleh hatinya yang risau memikirkan puterinya, maka permainan pedang Cia Hui Gan menjadi agak kalut dan kurang kuat bagian pertahanannya. Kesempatan yang baik ini dipergunakan oleh tiga orang pengeroyoknya untuk menghujankan serangan pedang. Raja Pedang itu kurang cepat dan kulit lambungnya tergores pedang di tangan Kwa Hong. Darah mengucur dan membasahi bajunya.
Rasa perih menimbulkan kemarahan hebat dan mengobarkan semangat perlawanan Cia Hui Gan. Kakek yang gagah perkasa ini mengeluarkan seruan panjang dan pedangnya yang hanya pendek saja itu berubah menjadi sinar bergulung-gulung, dahsyat sekali. Bunyi nyaring beradunya pedang-pedang pusaka makin sering dibarengi berpijarnya bunga-bunga api. Namun tiga orang pengeroyoknya juga makin memperhebat tekanan karena mereka merasa penasaran sekali. Sambil mengerahkan tenaganya yang mujijat Kwa Hong memutar pedang tiga kali, lalu membalikkan arah pedang menusuk ke arah perut Raja Pedang itu. Pada saat yang sama Hek-hwa Kui-bo dengan gerakan lemas membabat kakinya. Dua penyerangan sekaligus dari dua jurusan ini benar-benar berbahaya dan hebat. Cia Hui Gan membentak nyaring, pedangnya berkelebat ketika menangkis tusukan Kwa Hong dan pada saat itu ia harus pula meloncat tinggi-tinggi untuk menghindarkan diri dari babatan pedang Hek-hwa Kui-bo. Detik berikutnya pedang di tangan Song-bun-kwi sudah menyambar datang, menusuk punggung. Cepat ia menurunkan lagi kakinya setelah babatan lewat, tubuhnya agak miring karena pedangnya masih tergetar dalam menangkis tusukan Kwa Hong, ia tidak sempat lagi mengelak atau menangkis. Namun dengan gerakan tiba-tiba, lengan kirinya yang ditekuk itu digerakkan sedemikian rupa sehingga sikunya membentur pinggir pedang Song-bun-kwi. Tepat dan cepat sekali gerakan ini dan pedang Song-bun-kwi meluncur lewat pinggir tubuhnya, merobek pakaian dan melukai kulit, tapi ia selamat.
"Bagus!" Song-bun-kwi memuji dan kagum sekali melihat betapa dalam cengkeraman maut itu lawannya masih mampu menyelamatkan diri. Selanjutnya dengan penuh penasaran hati ia mendesak terus, mainkan Yang-sin Kiam-sut yang bersifat keras itu.
Tekanan makin hebat, Cia Hui Gan sudah mengerahkan seluruh tenaga, kegesitan dan mengeluarkan seluruh kemahiran bermain pedang. Namun tetap saja ia didesak terus dan tidak ada jalan keluar lagi baginya kecuali melawan mati-matian. Ia sudah menderita beberapa luka ringan. Darah membasahi seluruh pakaiannya. Ia sudah terluka di pundak, di pangkal lengan, di kedua paha, malah sebuah tusukan yang agak dalam di punggung membuat gerakannya makin lemah dan lambat. Namun semangatnya tak kunjung padam, sambil mengeluarkan bentakan-bentakan hebat kakek ini mengamuk terus seperti banteng terluka.
Tiba-tiba Kwa Hong mengeluarkan suara melengking yang aneh dan ternyata kemudian bahwa suara ini adalah suara panggilan untuk burung rajawali emas yang sejak tadi bertengger di cabang pohon besar yang tak jauh dari situ. Segulung sinar kuning emas meluncur turun dibarengi lengking yang seperti tadi keluar dari mulut Kwa Hong.
"Tiauw-heng (Kakak Rajawali), bantulah aku!" seru Kwa Hong sambil memperhebat desakannya kepada Cia Hui Gan.
Burung itu agaknya sudah hafal akan suara dan perintah Kwa Hong. Melihat bahwa nonanya itu bertempur melawan Gia Hui Gan, ia cepat menukik ke bawah menerjang Raja Pedang itu. Tiba-tiba burung itu terbang membalik, berputaran di atas sambii memekik-mekik nyaring. Agaknya ia ragu-ragu dan bingung, kemudian ia menukik lagi dengan kedua kakinya bergerak-gerak menyerang. Cia Hui Gan memang sudah terdesak dan terkurung hebat, sekarang mendadak ia melihat gerakan kedua kaki burung itu. Ia tidak dapat menangkis lagi dan... secara aneh sekali tahu-tahu pedang di tangannya sudah dicengkeram oleh burung itu dan dibetot terlepas dari tangannya. Cia Hui Gan ia kenal, kemudian teringatlah ia bahwa gerakan itu mirip, bahkan tidak ada bedanya dengan gerakan Sian-li-teng-liong (Bidadari Menunggang Naga), sebuah gerakan yang terahasia dari ilmu silatnya Sian-li Kiam-sut.
" serunya terheran-heran, akan tetapi ia tidak dapat melanjutkan kata- katanya karena pada saat itu tiga batang pedang sudah ambles memasuki tubuhnya. Cia Hui Gan tidak me-ngeluarkan suara lagi, roboh dan tewas di saat itu juga. Sungguh patut disesalkan nasib seorang Raja Pedang yang namanya sudah puluhan tahun gemilang dikagumi orang, ternyata sekarang harus mengorbankan nyawa gara-gara asmara yang telah menguasai hati puterinya. "Kau... kau ....
"Berikan Liong-cu-kiam itu kepadaku!" bentak Song-bun-kwi sambil melotot kepada Kwa Hong yang sudah menerima pedang pusaka itu dari burung rajawalinya.
"Tidak, harus kauberikan kepadaku!" bentak Hek-hwa Kui-bo sambil menerjang maju hendak merampas Liong-cu-kiam yang amat diinginkan itu. Akan tetapi sekali menggerakkan kaki secara aneh usaha Hek-hwa Kui-bo untuk merampas pedang itu gagal dan ia hanya menangkap angin. Diam-diam nenek ini kaget sekali. Biarpun tadi dalam pengeroyokan atas diri Raja Pedang ia sudah mendapat kenyataan betapa lihainya
wanita muda ini, namun tak pernah disangkanya akan demikian hebat sehingga serangannya merampas pedang dapat digagalkan hanya dengan menggerakkan kaki saja.
"Kalian ini tua bangka tak tahu diri. Bukalah matamu baik-baik dan lihat kepada siapa kalian bicara. Kalau tidak ada aku dan rajawali emasku, mana bisa kalian mengalahkan Bu-tek Kiam-ong? Sekarang masih berlagak hendak merampas pedang? Lihat, yang di tangan kananku ini adalah Hoa-san Po-kiam pedang pusaka Hoa-san-pai yang menandakan bahwa aku adalah Ketua Hoa-san-pai. Dan di tangan kiriku ini adalah Liong-cu-kiam yang menandakan bahwa aku lebih lihai daripada Bu-tek Kiam-ong dan tentu saja lebih lihai daripada kalian tua bangka. Mau pedang? Hi-hi-hi, kalau kalian sudah mengidam kuburan, boleh, majulah untuk kutebas batang leher kalian, seorang satu." Ia meyodorkan kedua pedang itu ke depan sambil tersenyum-senyum penuh ejekan.
Hek-hwa Kui-bo dan Song-bun-kwi saling pandang. Baru satu kali selama hidup mereka itu mereka menerima hinaan dan kekalahan dari seorang muda, yaitu dari Beng San. Dan sekarang ada seorang gadis muda lagi yang mengejek dari menantang mereka. Tanpa mengeluarkan suara, saling pandang ini cukup bagi dua orang tokoh itu bersepakat mencoba kepandaian mereka yang sebetulnya berpasangan itu kepada gadis aneh ini. Serentak keduanya bergerak menyerang Kwa Hong.
Kwa Hong mengeluarkan suara ketawa sambil menangkis dengan sepasang pedangnya. Akan tetapi suara ketawanya tidak berlangsung lama karena ia segera menjadi repot sekali oleh pengeroyokan dua orang itu. Hek-hwa Kui-bo mainkan Ilmu Pedang Im-sin Kiam-sut sedangkan Song-bun-kwi mainkan Yang-sin Kiam-sut dan mereka dapat bekerja sama secara baik sekali. Menghadapi pasangan ilmu pedang sakti ini, Kwa Hong segera terdesak hebat dan untung baginya ia sudah paham betul akan gerakan dan perubahan geseran kaki menurut gerakan rajawali emas, sehingga biarpun terdesak hebat ia masih dapat menyelamatkan diri secara aneh. Akhirnya ia melengking keras minta bantuan rajawali.
Rajawali emas menyambar-nyambar di atas kepala dua orang itu Song-bun-kwi dan Hek- hwa Kui-bo tadi sudah menyaksikan ketika rajawali itu merampas pedang dari tangan Cia Hui Gan, maka mereka kaget dan cepat meloncat dan menjatuhkan diri. Kesempatan ini dipergunakan Kwa Hong untuk meloncat ke atas punggung burungnya, sambil tertawa- tawa berkata,
"Aku tidak ada waktu untuk main-main dengan kaiian dua orang tua bangka." cepat burungnya terbang meninggalkan dua orang itu yang menyumpah-nyumpah saking mendongkol dan marahnya.
"Ah, kenapa begini tolol? Aku harus menangkap Beng San keparat!" tiba-tiba Song-bun- kwi teringat akan urusannya dan tanpa menoleh lagi kepada Hek-hwa Kui-bo ia berlari cepat mengejar ke arah larinya Beng San dan Li Cu tadi.
Hek-hwa Kui-bo datang bersama Beng Kui. Memang ia dimintai tolong oleh orang muda
itu setelah Beng Kui mendengar bahwa Beng San telah kehilangan ingatan dan kepandaiannya. Seperti telah dituturkan di bagian atas, antara Hek-hwa Kui-bo dan Beng Kui terdapat kerja sama lagi ketika mereka membantu pemberontak-pemberontak yang hendak menggulingkan kedudukan Kaisar pertama dari Kerajaan Beng. Kini Beng Kui berhasil dengan usahanya, yaitu menculik Beng San dan Li Gu. Akan tetapi, di belakang orang muda itu mengejar Song-bun-kwi dan mungkin juga Kwa Hong, siapa tahu? Sudah menjadi tugasnya untuk membantu Beng Kui, maka ia pun lalu meninggalkan tempat itu dan menyusul Beng Kui karena ia tahu ke mana pemuda itu membawa pergi dua orang korbannya itu.
Dalam kempitan Beng Kui, Beng San tak berdaya. Akan tetapi diam-diam ia memutar terus otaknya yang sejak pertempuran di Thai-san tadi mengalami guncangan-guncangan hebat. Banyak hal yang membingungkannya. Sekarang kakak kandungnya menangkap dia dan isterinya. Apakah kesalahannya? Apa pula kesalahan isterinya? Dan ke mana mereka berdua hendak dibawa? Hendak diapakan?
Seingatnya, isterinya adalah seorang yang memiliki ilmu silat tinggi, puteri dari Song- bun-kwi. Kenapa tadi Song-bun-kwi, teringat ia sekarang, tidak menolongnya dan menolong isterinya?
" akhirnya hatinya memutuskan karena kepalanya serasa pecah karena kepeningan ketika ia mencoba memecahkan semua rahasia itu. ""Aku tidak peduli itu semua ....
.... asal saja
" Ia merasa kuatir sekali kalau-kalau isterinya diganggu orang. Kalau sampai terjadi demikian biarpun yang mengganggunya itu kakak kandungnya, biarpun dia sendiri tidak bisa silat, hemm... dia akan mencegahnya dan melawan mati-matian mempertaruhkan nyawanya sendiri. Bi Goat jangan diganggu ....
"Kui-ko, kenapa kau menangkap kami suami isteri dan ke mana kau hendak membawa kami?" Beng San akhirnya bertanya. Akan tetapi yang ditanya tidak menjawab, melainkan berlari makin cepat lagi. Beng San mengulang-ulang pertanyaannya, namun Beng Kui tetap tidak menjawab sedangkan Li Cu tidak dapat bersuara karena jalan darah di lehernya telah tertotok.
Semenjak Beng Kui gagal dalam rencana pemberontakannya dahulu, hatinya menjadi lebih sakit dan menaruh dendam kepada Beng San. Ia sudah mendengar betapa adik kandungnya itulah yang telah menggagalkan pencegatan terhadap Kaisar, malah ia mendengar betapa dengan kerja sama antara Beng San dan Li Cu,
Ho-hai Sam-ong tewas pula dalam pertempuran. Semua ini ditambah lagi dengan kenyataan betapa gurunya sendiri pun turun tangan di kota raja menghadapinya, maka ia menaruh sakit hati terhadap bekas gurunya, terhadap Li Cu dan terutama sekali terhadap Beng San. Inilah yang menyebabkan mengapa ia sengaja datang ke Thai-san bersama Hek-hwa Kui-bo ketika ia mendengar berita bahwa Beng San yang ia takuti itu telah kehilangan kepandaiannya dan menjadi orang gila.
Sebagai seorang bekas pemberontak, tentu saja Beng Kui tidak dapat bebas. Ia
menyembunyikan diri sambil menunggu saat baik, malah membuat tempat persembunyian tak jauh dari Puncak Thai-san. Di sebuah hutan ia telah mendirikan rumah besar dan ia mempunyai banyak kaki tangan yang masih setia kepadanya dan Beng Kui kalau berada di tempatnya ini menganggap diri sendiri seolah-olah telah menjadi seorang "raja kecil". Isterinya, puteri pangeran yang bertubuh lemah, tidak ia ajak dalam perantauan dan persembunyiannya ini, melainkan ia tinggalkan di tempat persembunyiannya dekat kota raja.
Menjelang senja. Beng Kui memasuki sebuah hutan besar di kaki Gunung Thai-san sebelah utara. Hutan itu gelap dan amat liar, tak pernah didatangi manusia. Akan tetapi ternyata di tengah-tengah hutan besar itu terdapat sebuah rumah besar dikelilingi rumah- rumah agak kecil. Inilah "perkampungan" kecil yang dijadikan tempat persembunyian Beng Kui bersama pengikut-pengikutnya. Kedatangannya disambut oleh beberapa orang kaki tangannya. Beng Kui langsung memasuki rumahnya dan membanting tubuh Beng san ke atas lantai. Pemuda ini terbanting dan bergulingan dan terdengar beberapa orang anak buah Beng Kui tertawa mengejek.
"Kui-ko, di manakah ini? Rumah siapa dan apa yang hendak kaulakukan terhadap kami? Kaulepaskan isteriku!" Beng San tidak pedulikan tubuhnya yang sakit-sakit lalu merangkak bangun. Andaikata Beng Kui tidak semarah itu, kiranya hal ini akan menimbulkan, keheranannya.
Akan tetapi ia lupa bahwa tadi ia telah menotok jalan darah di tubuh Beng San yang membuat adiknya itu lumpuh.
"Kau mau tahu apa yang hendak kulakukan? Ha-ha-ha, aku takkan membunuhmu sekarang. Kau harus melihat dulu apa yang akan kulakukan terhadap perempuan tak tahu malu ini." ia melempar Li Cu ke atas sebuah dipan diruangan itu. Gadis itu jatuh lemas dan tak dapat bergerak, hanya sepasang matanya yang memandang tajam penuh kemarahan dan kebencian, Beng Kui mengejar maju dan sekali tangannya bergerak ia telah membebaskan totokan pada leher gadis itu sehingga Li Cu dapat bicara kembali. Saking marahnya sampai gadis itu tidak mampu mengeluarkan perkataan apa-apa.
"Kui-ko, kau tahu bahwa aku tidak takut mati. Kau mau bunuh aku, boleh bunuh. Akan tetapi kau harus bebaskan Bi Goat, dia itu tidak mempunyai dosa apa-apa terhadap dirimu. Kalau kau benci kepadaku, kalau kau marah kepadaku, boleh kauperlakukan aku sesukamu, tapi jangan, ganggu Bi Goat." kembali Beng San memohon kepada kakaknya. Beng Kui tertawa mengejek, "Sudah kukatakan tadi, kau tidak kubunuh sekarang. Kau perlu hidup untuk menyaksikan betapa aku akan membuat wanita tak tahu malu ini sebagai barang permainanku. Ya, aku harus membalas, dia harus menjadi permainanku, ha-ha... dan di depan matamu, Beng San. Kalau aku sudah bosan, baru kurusak mukanya dan kubebaskan dia dan kaupun akan kulempar ke dalam jurang di belakang rumah. Sudah terlalu sering kau merusak rencanaku, sudah terlalu banyak kau menggagalkan usahaku." Ia ketawa lagi dan berpaling kepada beberapa orang anak buahnya yang berada di situ, berdiri seperti patung.
"Sediakan hidangan untukku!" Orang-orang itu memberi hormat sambil berlutut lalu mengundurkan diri. Beng Kui tertawa lagi. "Lihat Beng San, lihat baik-baik. Biarpun kau sudah menggagalkan semua rencanaku, namun aku tetap dapat hidup sebagai raja. Dan kau akan kujadikan anjing, manusia bukan binatang pun bukan, hidup tidak mati pun belum. Dan dia... ha-ha, perempuan yang mencintamu ini yang melempar aku memilih kau, dia akan melihat bahwa aku jauh iebih berharga daripadamu."
Beng San sukar menangkap arti semua ucapan itu, ia berusaha mengingat-ingat dan memeras otaknya maka ia berdiri bengong seperti patung batu. Adapun Li Cu saking marahnya sampai seperti gagu tak dapat bicara, hanya pancaran matanya yang berapi-api seperti hendak membakar tubuh Beng Kui dengan api kebencian yang berkobar-kobar. Akan tetapi di samping kebencian dan kemarahannya ini, diam-dian Li Cu menjadi terheran-heran. Belum pernah ia melihat suhengnya itu seperti sekarang ini. Alangkah jauh bedanya dengan dahulu. Makin memuncak herannya ketika hidangan yang mewah disediakan di atas meja. Beng Kui makan minum seorang diri dengan sikap berlebihan. Orang-orang yang melayaninya kelihatan amat menghormat seakan-akan melayani seorang kaisar saja. Dilihat keadaannya sekarang dan dibandingkan dengan dahulu, agaknya lebih pantas kalau dikatakan bahwa Beng Kui telah berubah pikirannya atau tidak waras lagi pikirannya.
Setelah selesai makan, Beng Kui melemparkan beberapa potong tulang kepada Beng San sambil tertawa dan berkata, "He, anjing... nih kuberi tulang, makanlah! Ha-ha-ha!"
Beng San berdiri tak bergerak, hanya memandang kepada kakak kandungnya yang seperti orang gila itu. "Kui-ko ingatlah... kenapa kau menjadi begini .... ? kau seperti orang
gila .... "
"Keparat!" Tubuh Beng Kui bergerak tangannya kiri kanan menampar dan "plak-plak- plak!" muka Beng San sudah dihujani tamaparan yang keras sehingga Beng San terhuyung-huyung dan kedua pipinya menjadi merah.
"Bersihkan meja dan tinggalkan kami. Tutup pintu depan, jaga baik-baik!" Beng Kui memberi perintah kepada orang-orangnya yang dengan sigap lalu mengerjakan perintah orang muda itu. Tak lama kemudian mereka bertiga sudah ditinggalkan pergi oleh para pelayan.
Beng San masih berdiri tegak, bekas tamparan kakaknya masih tampak di kedua pipinya. Setelah semua pelayan pergi, Beng Kui mencabut pedang Liong-cu-kiam dari pinggangnya, lalu menghampiri Beng San yang berdiri dengan sikap tegak, sama sekali tidak kelihatan takut. Kiranya biarpun kehllangan ingatan dan kepandaian, namun Beng San tidak pernah kehilangan keberanian dan ketabahannya.
"Hemm, kau hendak bunuh aku, Kui-ko? Mau bunuh boleh bunuh, aku tidak takut. Akan tetapi jangan sekali-kali kau mengganggu isteriku. Dia... tidak berdosa, kenapa kau menawannya? Lekas kaubebaskan dia!"
"Beng San keparat, hayo kau lekas berlutut! Hayo!"
Akan tetapi Beng San berdiri tegak dan memandang dengan matanya yang kini bersinar tenang dan bodoh. Teringat ia akan segala pelajaran filsafatnya dan ia menjawab, "Kui- ko, aku hanya dapat berlutut kepada Tuhan, kepada nenek moyang, kepada ayah bunda, kepada guru, kepada pemimpin dan kepada orang yang telah kuperlakukan dengan keliru sehingga aku patut minta ampun kepadanya. Padamu aku tidak salah apa-apa, kenapa harus berlutut."
"Keparat!" Kaki Beng Kui bergerak dan lutut Beng San keduanya telah kena ditendang dengan cepat. Beng San tak dapat mempertahankan diri lagi dan jatuh berlutut.
Beng Kui tertawa bergelak-gelak, "Ha-ha-ha, akhirnya kau berlutut juga di depanku. Hemm, kau mengaku adik kandungku, akan tetapi semenjak pertemuan kita kau selalu menjadi perintang, selalu menjadi penghalang dan selalu menjadi pengacau hidupku. Sudah sepatutnya kalau kau kubunuh."
"Beng Kui, kau ini manusia apakah? Cih, tak tahu malu, curang, dan benar-benar pengecut besar. Kau berani bertingkah setelah melihat Beng San kehilangan ingatannya. Coba kalau dia masih seperti biasa, aku berani bertaruh kau akan lari tunggang-langgang kalau ber-temu dengan dia. Huh, muak perutku melihat mukamu." Ucapan ini keluar dari mulut Li Cu yang marah bukan main menyaksikan betapa Beng Kui memperlakukan Beng San seperti itu.
Pucat muka Beng Kui mendengar cacian yang luar biasa menghinanya ini. Selama hidupnya belum pernah Li Cu berani bicara seperti ini kepadanya, kepada dia yang menjadi kakak seperguruannya, juga menjadi bekas tunangan. Benar-benar penghinaan yang melampaui batas. Sekali melompat ia telah berada di pinggir dipan, memandang kepada Li Cu yang rebah miring di atas dipan karena masih tertotok, namun sepasang matanya memandang tajam penuh kebencian.
"Kau berani menghinaku? Apa kaukira aku pun tak dapat mempermainkan dan menghinamu?" Pedangnya berkelebat dan "brettt" robeklah baju Li Cu. Baju luar berwarna merah itu robek lebar sekali sehingga tampak baju dalamnya yang berwarna merah muda, Beng Kui tertawa terbahak-bahak sedangkan Li Cu menjadi pucat sekail, tak berani mengeluarkan kata-kata lagi saking ngerinya melihat perbuatan bekas suhengnya yang seperti kemasukan iblis itu,
"Kui-ko, jangan kauganggu isteriku!" Beng San lari menghampiri dan mengangkat tangan hendak mencegah kakaknya bertindak lebih jauh.
Akan tetapi sambil membalikkan tubuh Beng Kui menendang lagi dengan kerasnya sehingga tubuh Beng San terlempar dan terbanting pada dinding. Namun Beng San sudah nekat. Ia bangun lagi, menghampiri dan berseru.
"Tak boleh kau menghina isteriku... Tak boleh..."
Sekali lagi ia terjungkal karena tendangan Beng kui pada perutnya. Kali ini agak sukar Beng San untuk bangkit. Tendangan itu membuat napasnya menjadi sesak. Akan tetapi sambil merangkak mendekati kakaknya lagi dan merangkul kedua kakinya "Kui-ko, jangan...jangan kau menggangu isterku..., bunuhlah aku kalau kau kehendaki, tapi bebaskan dia .... "
Beng Kui mehjadi gemas sekali, Pedang di tangannya berkelebat ke arah Beng San. Li Cu menjerit dan... rambut di kepala Beng San terbabat putus. Li Cu terisak-isak saking kuatirnya, akan tetapi Beng San sama sekali tidak kelihatan gentar biarpun tadi pedang itu hampir saja membabat putus batang lehernya.
"Kui-ko, sekali lagi kuminta, jangan kauganggu isteriku."
"Bangsat, kalau aku mengganggunya kau mau apa? Hayo kau mau apa? Beng Kui menantang.
"Biarpun aku tidak pandai silat, aku akan melawanmu!" kata Beng San sambil berusaha untuk berdiri.
"Ha-ha-ha-ha, kau hendak melawan? Nah, terimalah bacokan ini!" Pedang di tangannya berkelebat dan kini benar-benar melayang ke arah batang leher Beng San dengan cepat dan kuat.
!!" Li Cu menjerit lagi dengan sekuat tenaga dan ia hampir pingsan melihat pedang itu menyambar leher kekasihnya. "Beng San ....
Beng San terjungkal dan tak bergerak. Akan tetapi lehernya tidak putus dan tidak ada setetes pun darah keluar. Kiranya tadi Beng Kui hanya menakut-nakuti saja dan membalik pedangnya sehingga punggung pedangnya yang menghantam belakang kepala Beng San, bukan mata pedangnya. Pukulan ini keras sekali dan Beng San tersungkur, tak mampu bangun kembali. Ia merasa seperti melayang-layang dari tempat yang amat tinggi penuh bintang beraneka warna beterbangan di sekelilingnya. Ia jatuh terus ke bawah, makin lama makin cepat. Mula-mula melalui ruangan yang putih seperti salju, lalu ruangan merah seperti darah, Kemudian setelah melalui beberapa ruangan yang beraneka warna ia tidak melihat apa-apa lagi. Hanya perasaannya masih menyatakan bahwa ia terus melayang-layang ke bawah. Telinganya mendengar suara yang mengerikan, mengiang-ngiang dan mendengung-dengung, kadang-kadang rendah, lalu disusul suara ketawa terbahak-bahak yang bergema di sekelilingnya, disusul suara tangis yang memilukan.
Apakah aku sudah mati? Di mana aku berada? Bukan aku yang mati, melainkan Bi Goat. Ah, Bi Goat sudah mati dan ia mengunjungi kuburannya. Bi Goat isterinya yang tercinta, telah mati. Apakah aku juga sudah menyusulnya dan sekarang terseret?
"Bi Goat... Bi Goat .... " Ia mencoba untuk memanggil, namun tidak terdengar suaranya.
!!" Teriakan ini seperti terdengar dari tempat yang amat jauh dan Beng San merasa seakan-akan ia berhenti melayang. Tahu-tahu ia merasa telah berada di atas bumi. Mimpikah aku? Siapa yang memanggilku tadi? Apakah Bi Goat? Ia merasa kini bahwa tubuhnya sedang rebah tertelungkup. Ah, tentu ia mimpi, tapi"Beng San ....
....
"Beng San!!" Makin keras panggilan ini, suara wanita dan jerit itu menyayat hati benar. Ia membuka mata. Benar saja, ia sedang rebah tertelungkup. Akan tetapi mengapa di atas lantai? Kedua kakinya sakit dan lehernya juga sakit. Ia menoleh ke atas. Apa yang dilihatnya membuat ia bengong dan terbelalak. Gilakah dia? Kenapa dia melihat semua ini? Ia melihat Beng Kui kakaknya dan LiCu yang tidak dapat bergerak di atas dipan dan Beng Kui yang berdiri di dekat dipan sambil tertawa-tawa. "Beng San...!!" Kembali Li Cu memekik dan kembali Beng Kui tertawa, ....
"Ha-ha-ha, kau boleh seribu kali memanggilnya. Dia tak dapat bangun lagi, anjing lemah itu. Ha-ha, Li Cu, benar-benar aku masih hampir tak dapat percaya kalau kau dapat jatuh cinta kepada orang gila!"
Beng Kui, kenapa kau begini kejam? Apakah kau hendak membunuh adik kandungmu sendiri? Apakah kesalahannya? Kalau begitu, kau bunuh aku juga, Beng kui."
"Tidak, kau takkan kubunuh. Sayang kecantikanmu. Aku masih cinta kepadamu, Li Cu. Dan kau, mau tidak mau, harus menemaniku di dalam hutan ini."
"Tidak! Aku lebih baik mati! Beng Kui ingatlah. Aku... aku hanya cinta kepada Beng San. Aku mau mati atau tidak bersama dia. Kalau kau sudah membunuhnya, kaubunuhlah aku. Kalau kaulakukan itu, aku bersumpah takkan menaruh dendam kepadamu. Bunuhlah aku." Li Cu terisak-isak menangis.
"Benar-benar aneh kau ini, Li Cu. Beng San sudah gila, dia selain gila juga menjadi orang lemah. Kau dianggapnya isterinya yang bernama Bi Goat, yang sudah mati. Terang bahwa ia tidak mencintamu sebagai Li Cu, melainkan mencintamu sebagai Bi Goat. Kenapa kau bisa membalas cinta kasih orang gila macam itu? Aku belum membunuhnya, Li Cu. Akan tetapi, kalau kau dengan suka rela mau menjadi isteriku, aku akan bebaskan dia. Sebaliknya, kalau kau tetap keras kepala, aku akan membunuhnya setelah menyiksanya seperti anjing gila, dan kau tetap akan kujadikan isteriku!"
Sepasang mata Li Cu terbelalak lebar dan kemarahahnya tak dapat ditahannya lagi. "Keparat, kau! Iblis kau! Tuhan akan mengutukmu, jahanam."
"Ha-ha-ha, kau hendak mengamuk lagi? Ha-ha, Li Cu, mati hidupmu di tanganku, tahu?" "Aku tidak takut! Kau iblis bermuka manusia. Terkutuklah kau!"
"Ha-ha-ha, makin manis saja kalau kau marah-marah." Pedangnya bergerak perlahan dan
"brettt!" sekarang pakaian dalam yang menempel di tubuh Li Cu robek pula oleh ujung pedang. Li Cu menjerit ngeri dan menutupkan matanya yang penuh air mata. Akan tetapi apa dayanya? Tubuhnya tak mampu bergerak. Tiba-tiba tubuh Beng Kui terlempar ke belakang, menimpa meja yang tadi ia pakai makan minum sampai meja itu patah-patah kakinya. Kaget bukan main Beng Kui yang tadi merasa seakan-akan tubuhnya bisa terbang melayang begitu saja. Cepat ia meloncat bangun sambil mempersiapkan pedang yang masih terpegang olehnya. Ketika ia membalikkan tubuh memandang, matanya terbelalak lebar seakan-akan hendak meloncat keluar dari tempatnya. Ia melihat Beng San sudah berdiri di depannya dengan sepasang.mata yang bersinar-sinar penuh api kemarahan, dan sepasang mata itu sekarang bercahaya ganjil dan menyeramkan seperti dahulu.
Ia masih belum mau percaya kalau , Beng San yang tadi melemparkannya. Tak mungkin. Bukankah tadi setelah ia hantam belakang kepala Beng San dengan punggung pedangnya, adiknya itu roboh dan pingsan? Tentu saja manusia yang sudah mabok kemenangan dan mabok pangkat ini tidak sadar bahwa di dunia ini kekuasaan manusia sama sekali tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan kekuasaan Tuhan. Manusia yang merasa dirinya menang, yang merasa dirinya kuat sendiri, yang merasa dirinya benar sendiri, menyatakan bahwa manusia seperti ini adalah manusia yang berjiwa rendah. Atau setidaknya, pada saat itu hati nuraninya dikuasai oleh iblis. Segala kemenangan, kekuatan dan kebenaran seluruhnya terletak di tangan Tuhan Yang Maha Kuasa. Merupakan rahmat-Nya bagi manusia. Oleh karena itu, segala rahmat dari Tuhan harus dipersembahkan kemudian kepada-Nya dengan jalan mengakui dengan segala kerendahan hati bahwa sanya kesemuanya itu datang dari pada-Nya. Pengakuan yang tulus akan hal ini akan menjauhkan manusia dari mabok kemenangan serta kekuasaan.
Pada saat punggung pedang di tangan Beng Kui tadi menghantam belakang kepala Beng San, Tuhan memperlihatkan kekuasaan-Nya. Hantaman itu tepat mengenai jalan darah yang menjurus ke kepala, menggetarkan urat saraf di kepala Beng San yang terganggu ketika dia dahulu terpukul oleh kedukaan karena kematian isterinya. Bagaikan air yang mengalir kembali setelah bendungannya dibuka, ingatan Beng San kembali perlahan- lahan dan semua ini ditambah oleh pendengarannya ketika Beng Kui dan Li Cu berdebat. Terbukalah semua ingatan dan pengertiannya dan sekaligus membuat ia marah bukan main. Baiknya ia dapat cepat sadar kembali dan dapat mencegah sebelum Beng Kui melakukan perbuatan yang lebih biadab lagi.
!" Li Cu berseru lirih, namun di dalam seruan lirih.ini terkandung jerit yang memecahkan kesunyian angkasa, penuh kekagetan, penuh keheranan, penuh gairah dan harapan. "Beng San ....
Beng San melirik ke arah Li Cu, akan tetapi cepat-cepat ia membuang muka ketika melihat keadaan nona itu yang tubuhnya bagian atas tidak tertutup lagi baik-baik karena bajunya yang koyak-koyak lebar itu. Tanpa banyak cakap ia lalu meloloskan bajunya sendiri dan melemparkan bajunya ini di atas tubuh Li Cu yang tidak tertutup. Barulah ia berani berpaling. Mereka berpandangan sejenak, keduanya dengan mata berlinang air
mata. Beng San sudah tahu semua ketika tadi ia mendengar percakapan antara Li Cu dan Beng Kui.
"Nona, biarlah kubebaskan kau dari totokan .... "
"Beng San, awas!" teriak Li Cu.
Beng San dengan tenang tapi cepat menggeser kakinya dan tangannya bergerak ke kiri Pedang Liong-cu-kiam menyambar lewat di pinggir kepalanya.
" ia mencela sambil melompat ke tengah ruangan, terpaksa belum dapat membuka totokan atas diri Li Cu. "Beng Kui, kau benar-benar tak tahu diri ....
Namun kemarahan Beng Kui sudah memuncak. Sepasang matanya menjadi merah dan berputar-putar liar.
"Kau orang gila banyak tingkah... mampuslah!" bentaknya dan pedangnya kembali menyambar-nyambar. Banyak orang bilang bahwa orang gila menganggap diri sendiri waras dan menganggap orang waras sebagai orang gila. Kiranya keadaan Beng Kui cocok dengan pendapat ini. Dia memaki gila akan tetapi dia sendirilah yang mengamuk seperti orang gila. Pedangnya mengeluarkan suara dan berubah menjadi segulung sinar panjang yang melayang-layang dan menyambar-nyambar hebat ke arah Beng San. Namun, sekaligus Beng San sudah mendapatkan kembali semua kepandaiannya yang memang tak pernah hilang, hanya "terlupa" oleh ingatannya. Secara otomatis kakinya bergerak-gerak dan semua serangan pedang itu dapat ia hindarkan dengan amat mudahnya.
"Beng Kui, kau orang tua yang tidak mau dihormati adiknya. Sekali lagi sekarang aku beri kesempatan kepadamu untuk pergi dari sini dengan aman. Pergilah tapi tinggalkan Liong-cu-kiam."
"Jangan banyak cakap!" Beng Kui malah memaki dan pedangnya terus menyerang. Tiga kali Beng San minta kepada kakaknya untuk pergi dengan aman, namun jawabannya selalu serangan maut yang ditujukan kepadanya secara nekat. "Kau memang keras kepala." seru Beng San kemudian. Pada saat itu pedang di tangan Beng Kui menusuk dadanya. Beng San tiba-tiba menggunakan gerakan merendahkan tubuh, kemudian dari bawah tangannya bergerak ke atas, yang kanan merampas gagang pedang yang kiri memukul dengan pukulan Pek-in Hoat-sut. Hawa pukulan yang mengandung uap putih itu melumpuhkan seluruh tenaga Beng Kui dan dengan mudah pedang di tangannya berpindah tempat. Ia masih hendak menerjang dengan tangan kosong, namun kaki kiri Beng San menendangnya sehingga ia tepental keluar ruangan itu dan bergulingan sampai jauh.
Beberapa orang anak buah Beng Kui menyerbu ke dalam. "Pergilah kalian!" seruan Beng San ini demikian berpengaruh, apalagi disertai dorongan tangan kiri ke depan yang membuat tiga orang sekaligus terjengkang tanpa tersentuh tubuhnya, sehingga merekat
semua menjadi kaget dan jerih. Pada saat itu, terdengar hiruk pikuk di luar dan terdengar suara banyak orang berlari-lari pergi meninggalkan tempat itu, seakan-akan takut menghadapi sesuatu yang hebat.
"Song-bun-kwi setan tua jangan ganggu orang-orang ini! Nona Kwa Hong, orang-orang ini adalah teman-teman Tan Beng Kui-enghiong, jangan ganggu!" Terdengar suara Hek- hwa Kui-bo.
Beng San terheran-heran dan hanya berdiri di tengah ruangan itu, pedang Liong-cu-kiam di tangan celananya robek-robek dibagian yang ditendang Beng Kui tadi, sedangkan tubuhnya bagian atas telanjang karena bajunya tadi ia lemparkan kepada Li Cu. Ia kelihatan seperti seorang bajak sungai.
Berturut-turut mereka meloncat masuk. Mula-mula Song-bun-kwi, disusul Kwa Hong dan kemudian sekali Hek-hwa Kui-bo. Tiga orang itu begitu memasuki ruangan berdiri tertegun seperti melihat setan di tengahari. Adapun Beng San begitu , melihat Song-bun- kwi, segera menjura dengan hormat dan berkata,
"Gak-hu (Ayah Mertua) .... "
Song-bun-kwi masih mengira bahwa Beng San kehilangan kepandaiannya, maka ia membentak, "Aku bukan ayah mertuamu! Keparat, kau pembunuh anakku Bi Goat dan karenanya sekarang akan kupatahkan batang lehermu!" Ia menerjang ke depan. Tapi sinar hijau menyambar dan menghalangi gerakan kakek ini. Sinar itu tidak lain adalah panah- panah hijau dari Kwa Hong.
"Perlahan dulu Song-bun-kwi!" Memang Kwa Hong tidak ingin melihat Beng San terbunuh oleh orang lain. Mati atau hidupnya Beng San dialah sendiri yang berhak memutuskan pikirnya.
"Hong-moi kau juga di sini?" tegur Beng San dengan suara halus.
Kwa Hong seketika menjadi pucat, apalagi ketika melihat pedang Liong-cu-kiam di tangan pemuda itu. "Kau...sudah ingatkah .... ?"
"Bangsat, kau sudah membunuh anak perempuanku. Kalau kau sudah ingat, tentu kau takkan mungkir lagi!" Song-bun-kwi membentak sambil melangkah maju.
Beng San tersenyum sedih, "Gak-hu, aku amat mencinta Bi Goat. Bagaimana aku dapat membunuhnya? Bi Goat meninggal karena berduka dan marah yang ditimbulkan oleh Hong-moi. Memang aku lama meninggalkan Bi Goat, akan tetapi hal itu adalah karena aku merasa amat berduka dan menyesal serta malu karena perbuatanku bersama Kwa Hong dahulu. Kemudian aku membantu orang-orang gagah melindungi Kaisar dari pengkhianatan beberapa orang, maka pulangku terlambat. Aku menyesal sekali, Gak-hu, tapi sesungguhnya bukan aku yang menyebabkan kematian isteriku. Dia tahu bahwa aku
mencintanya. Tapi Tuhan lebih kuasa dari segala di dunia ini .... " Beng San nampak
sangat berduka.
"Keparat, kau bisa saja memutar omongan. Isteri melahirkan anak sampai mati tapi kau sebagai suami tidak menjaganya!" "Ah, Gak-hu. Memang aku merasa berdosa besar. Sekarang di manakah anakku itu, Gak-hu? Biarlah aku akan merawatnya penuh kasih sayang, sebagai pengganti Bi Goat dan .... "
"Tutup mulut! Kau laki-laki mata keranjang, kau laki-laki hina-dina, kau... kau sudah main gila dengan perempuan lain. Hemmm hendak menyangkal, kau?" Kakek ini menudingkan telunjuknya ke arah Li Cu yang masih rebah terselimut baju luar Beng San, rebah miring tak bergerak di atas dipan. Semua mata memandang dan Hek-hwa Kui-bo mengeluarkan suara ketawa genit penuh arti ketika meliht baju Beng San menyelimuti tubuh Li Cu. Wajah Li Cu sebentar pucat sebentar merah sekali. Namun Beng San tetap tenang.
"Aku tidak main gila dengan siapapun juga. Mungkin karena kehilangan ingatan aku menjadi seperti gila dan syukurlah... berkat pertolongan Nona Cia yang berbudi mulia sampai sekarang aku masih terlindung. Gak-hu, kauberikanlah puteraku."
"Putera apa? Pedang inilah yang akan menghabisi nyawamu!"
"Nanti dulu, Song-bun-kwi. Aku pun hendak bicara dengan Beng San!" Kwa Hong menghadang di depan dan terpaksa Song-bun-kwi menunda penyerangannya Kwa Hong kini menghadapi Beng San. Orang muda itu menjadi agak pucat. Baginya jauh lebih berat menghadapi Kwa Hong daripada menghadapi musuh yang manapun juga.
"Adik Hong, apakah selama ini kau baik-baik saja?" tanyanya, suaranya halus sewajarnya karena di lubuk hatinya orang muda ini benar-benar merasa kasihan sekali kepada gadis itu.
Tersedu kerongkongan Kwa Hong mendengar pertanyaan yang halus ini. Akan tetapi ia segera menjawab, "Baik-baik saja, San-ko, aku sengaja mencarimu dan syukurlah kalau kau hendak sembuh kembali. Marilah kauikut dengan aku, San-ko. Mari kita pelihara anak kita baik-baik. Tentang musuh-musuhmu ini, jangan kuatir, San-ko, Hong-moimu ini sanggup membunuh mereka seperti orang membunuh anjing!" Setelah berkata demikian, Kwa Hong tertawa, suara ketawanya melengking menyeramkan sekali. Ucapan terakhir dan suara ketawa Kwa Hong itu menusuk jantung Beng San, karena ia maklum bahwa Kwa Hong sekarang sudah bukan Kwa Hong yang dulu lagi. Wajahnya jelas membayangkan watak yang sombong, kejam, dan tidak wajar.
"Hong-moi, kau tahu bahwa tak mungkin aku memenuhi permintaanmu ini. Kau dan aku telah melakukan perbuatan terkutuk, itu memang benar. Akan tetapi hal itu terjadi di luar kesadaran kita, Hong-moi. Tentang anak itu kau sendiri hendak mendidiknya syukurlah. Kalau kau keberatan, boleh kauberikan kepadaku karena juga menjadi tanggung jawabku."
"Kau... kau...! Kwa Hong tak dapat melanjutkan kata-katanya karena ia sudah menangis terisak-isak. Hatinya sedih bukan kepalang. tadinya ia mengharapkan akan dapat membawa Beng San dengan secara paksa karena Beng San sudah kehilangan kepandaiannya dan ia sanggup merampas Beng San dari tangan siapapun juga. Akan tetapi sekarang Beng San kelihatannya sudah sembuh kembali, bagaimana mungkin?
"Beng San, katakan di mana adanya Beng Kui? Pedangnya kaupegang, kau apakan dia?"
"Dia sudah pergi..." jawab Beng San acuh tak acuh, kemudian ia menoleh ke arah Li Cu
dan berkata "Nona Cia, agaknya lebih baik kita segera pergi dari tempat ini. Tapi aku harus membebaskan kau dari totokan lebih dulu..." ia melangkah maju, tapi sebelum ia sempat meyembuhkan Li Cu, tiga bayangan orang berkelebat dan angin-angin pukulan dahsyat, datang menyambar dari tiga jurusan disusul berkelebatnya senjata-senjata tajam. Beng san maklum bahwa tiga orang sakti itu "sudah turun tangan". Ia menarik napas panjang dengan sedih, akan tetapi tubuhnya bergerak didahului sinar pedang Liong-cu- kiam tangannya.
Tiga orang itu menyerang dengan sungguh-sungguh, mengerahkan seluruh kepandaian mereka. Namun Beng San sekarang memegang Liong-cu-kiam panjang. Kalau ia boleh diumpamakan seekor harimau, sekarang harimau itu tumbuh sayap dan pandai terbang. Memang ilmu silatnya yang paling hebat adalah ilmu Im-yang Sin-kiam-sut, sekarang ilnu pedang ini dimainkan dengan sebatang pedang seperti Liong-cu-kiam yang panjang, sudah tentu hebatnya bukan kepalang. Tiga orang itu, biarpun masing-masing memiliki kepandaian luar biasa, namun menghadapi Beng San mereka tak dapat berdaya banyak, seakan-akan menghadapi benteng baja yang tidak saja sukar tembus, malah dari dalam benteng menyambar ujung-ujung pedang runcing dan ampuh, setiap saat mengancam nyawa mereka.
Beng San bukanlah orang yang suka membunuh orang. Sebetulnya dia menpunyai watak yang pantang membunuh orang. Apalagi sekarang yang ia hadapi adalah orang-orang yang sedikit banyak sudah ada hubungan dengannya, yang sudah dikenalnya baik. Tak mungkin ia mau membunuh mereka.
Kelihaiannya bermain pedang memungkinkannya menggoreskan luka ringan pada pundak Hek-hwa Kui-bo dan Song-bun-kwi. Dua orang tua ini menjadi malu dan jerih. Sambil mengeluh mereka berturut-turut lalu melompat pergi meninggalkan tempat itu. Kwa Hong yang seorang diri menghadapi Beng San, tadinya menjadi nekat. Pedang Hoa- san Po-kiam di tangan kiri sedangkan di tangan kanannya memegang pedang Liong-cu- kiam yang pendek. Permainan pedangnya hebat dan liar, dahsyat bukan main sehingga diam-diam Beng San terkejut juga. Namun ilmu pedang itu dimainkan dengan cara yang masih mentah.
Lebih-lebih terhadap Kwa Hong, Beng San, sama sekali tidak mau melukainya. Setelah ia menindih pedang Hoa-san Po-kiam dengan pedangnya sendiri, tangan bergerak
mencengkeram ke depan dan di lain saat pedang Liong-cu-kiam yang pendek telah berpindah ke tangan kirinya.
"Kembalikan pedang itu!" teriak Kwa Hong sambil menangis.
"Yang ini bukan pedangmu, Hong-moi. Tak boleh kau merampasnya," jawab Beng San.
Dengan pekik panjang Kwa Hong memanggil burungnya. Terdengar suara genteng hancur berantakan, langit-langit di atas ruangan itu tiba-tiba menjadi rusak dan berlubang besar di mana menerobos masuk seekor burung rajawali emas. Beng San pernah melihat burung ini dan kembali ia menjadi kagum bukan main. Kwa Hong terisak lalu meloncat ke punggung burung, kemudian burung itu terbang menerobos melalui pintu depan dan sebentar saja menghilang dari situ. Sampai beberapa lama Beng San berdiri bengong. Pedang Liong-cu-kiam berada di kedua tangannya. Kemudian ia membalikkan tubuh menghampiri Li Cu yang masih rebah tak bergerak dan tadi menonton semua itu dengan hati terharu. Ternyata bahwa pengorbanannya terhadap diri Beng San tidak sia-sia. Buktinya baru saja sembuh Beng San lagi-lagi telah melindungi dan membebaskannya dari ancaman bahaya maut.
"Nona Cia, maafkan kelancanganku!" kata Beng San. Tangannya bergerak cepat menotok dua jalan darah di tubuh Li Cu, lalu mengurut punggungnya sebentar. Setelah itu ia membalikkan tubuh dan berkata,
"Nona, setelah kau dapat bergerak, harap bajuku itu kaupakai dulu."
Li Cu menjadi merah mukanya. Ia bergerak perlahan, tubuhnya masih sakit semua rasanya. Ketika ia bangun, baju yang menyelimuti tubuhnya itu jatuh dan cepat-cepat ia menutupi dadanya. Akan tetapi usahanya Ini sebetulnya tak perlu karena Beng San berdiri membelakanginya. Karena terpaksa dan tak mungkin hanya memakai bajunya yang sudah dikoyak-koyak pedang Beng Kui tadi, ia mengenakan baju Beng San yang terlalu besar itu. Setelah selesai, ia berkata,
"Kenapa... kau tidak membunuh mereka?",
"Membunuh siapa?" tanya Beng San tanpa menoleh.
"Beng Kui jahanam itu .... "
"Dia itu jelek-jelek kakak kandungku, bagaimana aku tega membunuhnya?" jawab Beng San cepat.
" desak pula Li Cu yang merasa penasaran mengapa semua orang yang jahat itu dibiarkan pergi oleh Beng San. "Hek-hwa Kui-bo yang pernah melukaiku dengan racun dan hampir membunuhku ....
"Dia itu dahulu pernah menurunkan ilmu silat kepadaku, secara tidak resmi dia adalah
guruku pula. Bagaimana aku dapat membunuhnya? Dan pula, Nona, bukankah kau selamat terhindar dari racunnya itu?" Jantung Beng San berdebar ketika ia teringat cara ia menolong gadis itu dari pengaruh racun di paru-parunya.
Di belakangnya, wajah Li Cu juga tiba-tiba menjadi merah. Gadis ini merasa heran bukan kepalang. Hampir dua tahun ia merawat Beng San, otomatis ia sudah merasa menjadi isteri Beng San biarpun hanya dalam sebutan. Akan tetapi kenapa sekarang ia menjadi begini canggung, sungkan dan malu-malu kepada Beng San? Diam-diam rasa kuatir dan gelisah menggerogoti hatinya. Beng San yang kehilangan ingatannya, mau saja hidup di sampingnya, malah menganggap dia sebagai isterinya yang bernama Bi Goat. Akan tetapi setelah sekarang sadar dan mendapatkan kembali ingatannya, apakah masih mau hidup seperti itu? Apakah ini bukan berarti saat perpisahan?
"Kwa Hong itu... kenapa tidak kau-bunuh .... ?" Ia berusaha menekan hatinya dengan
melanjutkan pertanyaan ini.
"Tak mungkin, Nona. Dia itu... secara tidak sadar... telah menjadi ibu anakku... perbuatan terkutuk di luar kesadaran kami berdua... dia sudah amat menderita... karena aku, mana bisa aku membunuhnya? Biarpun dia akan membunuhku, agaknya aku tetap akan mengalah .... "
" suara Li Cu terdengar kaku dan kalau Beng San melihat sinar matanya ia akan tahu-bahwa gadis itu marah. "Dan Song-bun-kwi,...?" "Hemm ....
"Apalagi dia. Dia itu ayah mertuaku, sama juga dengan ayahku. Mana boleh aku membunuh ayah Bi Goat?"
Sudah jelas. Beng San sekarang sudah kembali ingatannya. Beng San yang terlalu mencinta isterinya, Bi Goat. Sampai-sampai mengorbankan Kwa Hong. Mana sudi hidup bersama dia? Teringat akan ini, tak tertahankan lagi Li Cu terisak menangis.
Beng San cepat membalikkan tubuh. "Eh, kenapa kau menangis, Nona?" Suara ini mengandung penuh perhatian sehingga tangis Li Cu makin menghebat. Beng San sampai menjadi bingung, lalu menyerahkan pedang Liong-cu-kiam pendek.
"Ini... ini pedangmu... jangan kau menangis .... "
Li Cu menerima pedang tanpa berkata apa-apa.
"Nona Cia, setelah semua pertanyaanmu kujawab, kenapa kau menangis?" Beng San bertanya, matanya yang tajam memandang penuh selidik.
Li Cu yang sekarang menjadi gugup. Tentu saja ia tidak sudi menyatakan isi hatinya. Ia mencari alasan dan pada saat itu ia teringat akan ayahnya. Wajahnya menjadi pucat dan serentak ia meloncat sampai Beng San menjadi kaget.
! Mereka tadi mengeroyoknya... tak mungkin bisa sampai ke sini kalau tidak... ah, Ayah"Celaka! Ayahku ....
....!" Li Cu menjerit lalu melompat keluar dan berlari cepat sekali. Beng San baru saja kembali ingatannya, maka yang diketahui olehnya hanyalah semenjak saat ia sembuh tadi. Sebelum itu gelap baginya maka ia tidak ingat betapa Bu-tek Kiam- ong untuk melindunginya telah dikeroyok oleh tiga orang tokoh sakti tadi. Meiihat Li Cu yang berlari-lari sambil menjerit memanggil-manggil ayahnya dan menangis, ia pun ikut pula berlari dan sebentar saja ia dapat menyusul gadis itu, lalu lari di sebelahnya tanpa banyak bertanya.
Setibanya di puncak Gunung Thai-san, dua orang muda ini melihat betapa penduduk perkampungan di kaki gunung sedang sibuk mengurus dan menangisi jenazah Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan.
"Ayaaaahhh .... !!" Li Cu menubruk mayat ayahnya dan roboh pingsan.
Li Cu jatuh sakit. Demam panas menyerang tubuhnya setelah berkali-kali ia pingsan. Sampai sepekan ia rebah di pembaringan dalam keadaan setengah sadar.
Selama itu Beng San merawat dan melayaninya dengan penuh perhatian. Beng San mengalami hal-hal aneh ketika ia berhadapan derigan para penduduk yang dulu membantu Cia Hui Gan merampungkan rencana tempat tinggalnya. Mereka itu menyebutnya "tuan muda" yang dianggapnya sebagai suami dari "nyonya muda" yang sekarang sakit. Kemudian, setelah mereka semua menyatakan kegembiraan hati bahwa nyonya muda dan suaminya dapat kembali dengan selamat, mereka menyatakan kegirangan pula bahwa tuan muda sudah sembuh dari sakitnya lupa ingatan. Mereka pulalah yang menceritakan tentang pertempuran itu sehingga terbuka mata Beng San akan segala yang telah terjadi kepada dirinya selama hampir dua tahun ini. Tahulah ia bahwa ia sebagai seorang gila menganggap Li Cu sebagai isterinya, sebagai Bi Goat dan betapa selama hampir dua tahun ini Li Cu merawatnya penuh kecintaan. Juga ia tahu sekarang bahwa Cia Hui Gan tewas dalam membela dia.
Semua ini ditambah lagi dengan keadaan Li Cu yang mengigau ketika demam panas menyerangnya. Li Cu mengigau tentang masa lalu, tentang cinta kasihnya kepada Beng San. Semua ini membuat Beng San demikian terharu sehingga ia menitikkan air mata ketika duduk di pinggir pembaringan gadis itu. Dengan amat tekun ia merawat Li Cu dan siang malam tidak pernah meninggalkan kamar itu.
Sembilan hari kemudian demam meninggalkan tubuh Li Cu dan gadis ini pada pagi hari itu sadar. Dilihatnya Beng San duduk di kursi tertidur. Namun suara gerakan Li Cu cukup untuk membangun-kannya. Mereka berpandangan sejenak.
"Kau... kau masih di sini .... ?"
"Di mana lagi kalau tidak di sini .... ?" jawab Beng San halus, sinar matanya gembira
sekali.
?" Matanya meragu dan ia memandang ke arah pintu kamarnya, agaknya ingin menjenguk keluar. "Ayah... bagaimana ....
"Sudah beres, sudah kuurus pemakamannya."
Li Cu menarik napas panjang, hatinya menjerit-jerit namun air matanya sudah kering. "Berapa lama aku rebah di sini...?"
"Kau terserang demam, Nona. Sembilan hari sembilan malam kau dalam keadaan tidak sadar. Karena itulah aku lancang mewakilimu mengurus pemakaman ayahmu."
Li Cu bergerak hendak duduk. Melihat kelemahan gadis itu, Beng San cepat membantunya. Ia merasa kasihan sekali dan cepat ia menghibur, "Harap kaukuatkan hatimu. Nona. Ingatlah bahwa mati hidup seorang manusia berada di tangan Tuhan. Apabila Tuhan menghendaki kematian seseorang, ada saja yang menjadi lantarannya. Ayahmu tewas sebagai seorang gagah perkasa, mati dikeroyok tokoh-tokoh besar dalam melindungi... aku yang tak berharga .... "
"Tidak! Bukan melindungi kau, melainkan membela aku!" Cepat Li Cu membantah.
"Apa bedanya, Nona? Membela engkau karena kau berusaha melindungi aku."
"Kau merawatku terus-menerus selama aku sakit?" cepat Li Cu memotong omongan Beng San, mukanya yang tadinya pucat menjadi agak merah.
Beng San mengangguk dan memandang dengan mata penuh perasaan. "Nona Cia, apa artinya perawatan sembilan hari kalau dibandingkan dengan perawatanmu selama hampir dua tahun? Kau amat mulia, kau mengorbankan .... "
"Kau dalam sakit, kau kehilangan ingatan!" Li Cu cepat memotong, mukanya kini menjadi merah sekali. "Siapa lagi kalau bukan aku yang akan merawatmu? Kaupun sudah beberapa kali menyelamatkan nyawaku, sudah sepatutnya aku membalas kebaikanmu."
Dengan keras kepala Beng San melanjutkan setelah menggeleng kepala untuk menyangkal alasan Li Cu yang lemah itu. "Kau mengorbankan dirimu, mengorbankan nama baik ayahmu. Dalam gilaku aku menganggap kau isteriku, menganggap kau Bi Goat. Namun... kau menerima semua itu, kau malah memaksa ayahmu membawaku ke sini mengorbankan segalanya untuk aku, malah berusaha membuat tempat perlindungan yang aman untukku. Li Cu... Nona Cia... mengapa kaulakukan semua itu?"
Li Cu menunduk, menyembunyikan mukanya di belakang bantal yang diangkatnya. Suaranya terdengar lirih bertanya, "Semua itu bohong. Kau yang kehilangan ingatan bagaimana kau bisa tahu itu semua? Bohong .... "
"Aku mendengar percakapanmu dengan Beng Kui pada saat aku sadar. Kemudian aku
mendengar penuturan saudara-saudara yang berada di sini, dan ketika kau sakit, kau mengigau .... "
Cepat bantal itu diturunkan dan sepasang mata itu memandangnya penuh pertanyaan. Wajah itu merah dan tidak tampak lagi bahwa gadis ini habis sakit kecuali tubuhnya yang agak kurus itu.
" terhenti kata-kata Li Cu ketika ia teringat betapa janggal panggilan ini yang begitu saja keluar dari bibirnya dengan suara mesra. "Beng San ....
"Ya .... ? Kau hendak bilang apakah, Nona .... ?"
Makin gugup Li Cu. Biasanya, ketika belum sembuh, Beng San selalu menyebutnya "isteriku" sehingga ia sudah biasa benar dengan sebutan itu. Sekarang, orang yang telah ia anggap sebagai suaminya dalam batin itu, menyebutnya nona.
"... andaikata benar semua itu..., tapi waktu itu keadaanmu dalam lupa ingatan. Kau mau tinggal di sini karena... karena kau mengira bahwa aku Bi Goat. kau mengira bahwa aku isterimu yang sudah meninggal dunia itu .... " ia berhenti lagi.
"Betul, Nona. Lalu bagaimana?" Beng San bertanya tenang dan sabar,
sekarang kau sudah sembuh..., kau sudah mendapatkan kembali ingatanmu... kau tahu bahwa aku bukan isterimu Bi Goat... kau tahu bahwa aku hanya seorang gadis yatim piatu sebatang kara..." Sampai di sini ia terisak dan menutup mukanya dengan bantal. Beng San tidak berkata apa-apa hanya menanti dengan sabar. " ....
aku... aku bukan apa-apamu... tak berhak menahanmu... kau tentu akan pergi dari sini." Tiba-tiba ia menurunkan bantalnya dan dengan mata basah ia bertanya, "Mengapa kau masih belum juga pergi dari sini? Aku bukan Bi Goat!" " ....
Wajah Beng San tiba-tiba menjadi pucat dan matanya membayangkan kegelisahan besar. "Tapi... tapi kau... isteriku..."
Li Cu menggigit bibirnya, bukan main jengahnya. Ia merasa malu sekali kalau teringat
akan semua perbuatannya itu. Tapi ia harus rnembela diri, tak mungkin ia mengaku begitu saja bahwa ia mencinta Beng San. Ia harus mencari alasan mengapa ia berbuat demikian, untuk membela diri.
"Isterimu adalah Bi Goat .... "
"Tapi ..... bukankah hampir dua tahun kau mengaku sebagai isteriku .... ?"
Li Cu membuang muka. "Karena kau menganggap aku Bi Goat. Aku harus merawatmu dan karenanya tiada lain jalan kecuali membiarkan kau menganggap aku isterimu Bi Goat. Sekarang kau sudah sembuh, sudah sadar dan ingat bahwa aku bukanlah isterimu
Bi Goat, bahwa aku bukan apa-apamu dan kau boleh pergi meninggalkanku sekarang juga!" Beng San merasa tubuhnya lemas, seakan-akan dilolos semua urat-urat dari tubuhnya. Jantungnya terasa ringan kosong, perasaannya hampa. Ah, mengapa aku tidak tahu diri, pikirnya. Sudah terang bahwa Li Cu Melakukan semua itu karena hanya hendak membalas budi pertolongannya karena kasihan, apa lagi? Tak mungkin gadis seperti Li Cu bisa cinta kepadanya, seorang laki-laki yang menjadi hina namanya karena urusannya dengan Kwa Hong, seorang duda yang sudah mempunyai anak. Dua malah anaknya, satu anak Kwa Hong, ke dua anak Bi Goat. Mana sudi Li Cu kepadanya?
"...ah... maaf... maaf" bagaikan mimpi kedua kakinya bergerak menuju ke pintu kamar, dengan langkah limbung seperti orang mabuk arak ia keluar dari kamar itu. Jiwanya menjerit-jerit, musnah semua harapannya untuk dapat hidup mengenyam kebahagiaan. Hanya sekelumit harapan untuk hidup baru setelah ditinggal Bi Goat. Li Cu, Li Cu .... sungguh aku tak tahu diri ....
..... Jerit hatinya, tak kuat aku berpisah dari sisimu.
Ia tidak melihat betapa dari atas pembaringan Li Cu memandangnya dengan wajah pucat pula dan sepasang mata itu mengucurkan air mata yang jatuh berderai membasahi kedua pipinya. Tak tahu ia betapa gadis itu turun perlahan-lahan dari pembaringan dan berjalan pula mengikutinya keluar dari kamar itu. Tak tahu pula betapa jiwa Li Cu menjerit-jerit minta ia kembali pula. Jeritan jiwa mengetar-getar penuh kekuatan gaib. Seakan-akan terasa oleh kedua orang muda itu. Dalam detik itu juga terjadilah peluapan rasa melalui bibir dan gerakan masing-masing. Pada saat itu pula Li Cu menjatuhkan diri berlutut. Berbareng pula jerit mereka keluar dari lubuk hati melalui bibir-bibir yang bergetar.
"Li Cu, tak kuat aku berpisah dari sisimu .... !"
!" Keduanya terpaku kaget oleh suara masing-masing dan setelah pengertian mereka dapat menangkap apa yang diucapkan oleh yang lain, Beng San segera berlari maju dengan kedua lengan terbuka diterima oleh Li Cu dengan kedua lengan terbuka pula. Beng San menjatuhkan diri berlutut dan kedua orang itu saling berdekapan sambil berlutut, tak kuasa mengeluarkan suara kecuali isak dan sedu. "Beng San, kembalilah Beng San ....
Sunyi senyap saat itu, sunyi yang membahagiakan hati masing-masing yang merasa seakan-akan baru saja mereka mendapatkan kembali semangat mereka yang hampir hilang. Sampai lama mereka berpelukan tanpa mengeluarkan suara. Akhirnya terdengar Li Cu berkata tanpa mengangkat mukanya yang bersembunyi di dada Beng San.
"Tapi... kau hanya mencinta Bi Goat..."
"Itu dahulu, Li Cu. Setelah ia meninggal... kaulah orang yang menggantikannya... lebih daripada itu malah... kau mulia, setia, penuh pengorbanan. Ah... alangkah mulianya engkau... aku cinta kepadamu, Li Cu dan aku tidak kuat untuk berpisah dari sisimu."
"Beng San .... " Li Cu menangis penuh kebahagiaan dan keharuan.
"Li Cu... cintakah kau kepadaku? Dan bersediakah kau menjadi isteriku?"
"Masih perlukah kau bertanya, Beng San? Di waktu kau sakit dan hilang ingatan, aku sudah suka menjadi isterimu walaupun hanya sebutan belaka. Apalagi sekarang setelah engkau sembuh. Tentang cinta... belum pernah selama hidupku aku mencinta orang seperti cintaku kepadamu."
"Li Cu, dewiku sayang .... "
Hening lagi sejenak dan keduanya terbenam dalam lautan madu, mabok oleh kemesraan asmara yang bergelora dalam hati masing-masing.
"Beng San, orang bilang kau mata keranjang. Betulkah?"
Beng San tersenyum ditahan. "Memang aku mata keranjang. Akan tetapi, bidadari dari kahyangan sekalipun belum tentu dapat menggerakkan hatiku. Hanya engkaulah yang membuat aku lupa segala, melihat engkau aku jadi mata keranjang. Ah, andaikata ada seribu engkau, aku akan sanggup untuk mencinta semua."
"Ah, kau memang mata keranjang." tegur Li Cu manja.
"Bertemu dengan seorang dewi seperti engkau, Li Cu, siapa orangnya takkan mencinta? Siapa orangnya takkan jatuh hati? Kau cantik jelita melebihi bidadari kahyangan, kau setia dan gagah perkasa, pendekar wanita sejati, kau berbudi mulia seperti Kwan Im, kau dewi pujaan hatiku, cinta kasihmu suci murni semoga aku dapat mengimbanginya .... "
Beng San merayu.
"iihh, kau selain mata keranjang juga .... ceriwis!"
Hati siapa takkan ikut merasa bahagia menyaksikan kebahagiaan sepasang orang muda seperti Li Cu dan Beng San? Hati siapa takkan ikut merasa senang melihat orang lain bahagia? Hanya hati yang dikotori iblis iri cemburu jua yang tak tahan menyaksikan orang lain berbahagia. Untung, di dunia ini tak banyak orang demikian. Kita merasa berbahagia melihat orang lain seperti sepasang orang muda itu berbahagia dalam pertemuan dua hati menjadi satu, diikat dan dikekalkan oleh cinta kasih nan suci.
Sayang, di samping mereka yang berbahagia oleh asmara, banyak pula yang sengsara oleh asmara yang sama. Memang asmara mendatangkan bahagia dan sengsara silih berganti, menimbulkan banyak cerita yang aneh-aneh. Beng San sendiri hampir saja binasa karena asmara kandas, baiknya ia bertemu dengan Li Cu dan sebaliknya malah menemukan kembali kebahagiaan hidup.
Memang demikianlah hidup di dunia ini. Kebahagiaan duniawi takkan kekal, berubah- ubah dan hal yang demikian ini memang berlaku bagi segala benda, mati atau hidup, di dunia ini. Ada siang ada malam, ada dingin ada panas, adakalanya hujan adakalanya terang, adakalanya sengsara adakalanya bahagia. Kebahagiaan datang tak terduga-duga seperti halnya kebahagiaan Beng San. Demikian pula kesengsaraan datang tanpa disadari
seperti halnya penderitaan Bi Goat yang telah tiada. Kenyataan ini merupakan pelajaran hidup yang amat penting, yaitu bahwa manusia tak perlu berputus asa di waktu menghadapi kegagalan, juga tidak semestinya bangga dan tidak mabok dikala mendapatkan kemenangan. Tidak membanjir di waktu pasang, tidak kering di waktu surut, seperti air laut yang tenang teguh sehingga dapat menerima perubahan keadaannya tanpa rnenderita kerusakan.
Di antara sekian banyaknya orang yang sedang "surut" nasibnya, adalah Thio Ki. Telah diceritakan di depan betapa Thio Ki dan isterinya, Lee Giok, diserbu oleh Kim-thouw Thian-li yang dibantu oleh Hek-hwa Kui-bo dan Giam Kin sehingga akhirnya Lee Giok terculik oleh Siauw-coa-ong Giam Kin. Seperti kita ketahui, Thio Ki terbebas daripada kematian karena mendapat bantuan Li Cu dan kemudian Beng San dan atas permintaan Beng San, Thio Ki pergi ke Hoa-san untuk berobat dan membereskan urusan Hoa-san-pai yang dikacau oleh Kwa Hong.
Besarlah hati para tosu di Hoa-san-pai ketika mereka melihat munculnya Thio Ki, karena pada waktu itu Hoa-san-pai benar-benar sudah kacau-balau, tidak ada yang mengurusnya semenjak Lian Bu Tojin tewas di tangan Kwa Hong. Bukan main sedihnya hati Thio Ki ketika mendengar dari para tosu tentang nasib Lian Bu Tojin dan Hoa-san-pai. Ia merasa amat marah dan gemas kepada Kwa Hong, juga terheran-heran mengapa Kwa Hong sekarang berubah seperti iblis dan juga amat lihai?
Para tosu tadinya hendak mengangkatnya sebagai Ketua Hoa-san-pai, namun Thio Ki menolak keras. "Mana bisa aku menjadi Ketua Hoa-san-pai?" teriaknya kaget. "Tingkatku di Hoa-san-pai amat rendah, pula aku masih muda. Banyak para susiok dan supek di sini, bagaimana aku berani mengangkat diri menjadi Ketua? Pula, orang dengan kepandaian seperti Sukong Lian Bu Tojin sendiri masih tidak kuat menjaga keselamatan Hoa-san-pai, apalagi orang seperti aku? Tidak, aku tidak berani menjadi ketua, akan tetapi aku sanggup untuk sementara berada di sini untuk mempertanggung-jawabkan Hoa-san-pai. Biarlah kita menanti sampai kembalinya Tan Beng San Tai-hiap, karena kiranya hanya dia yang akan dapat menolong kita."
Akan tetapi sampai berbulan-bulan Thio Ki dan para tosu Hoa-san-pai menanti dengan sia-sia. Malah akhirnya dia minta bantuan para tosu yang disebarnya ke segenap penjuru untuk melakukan penyelidikan, kemudian dia sendiri lalu pergi mencari isterinya atau Beng San. Hasilnya juga nihil. Sama sekali Thio Ki tidak tahu apa yang terjadi atas diri isterinya, juga tidak tahu bahwa pada waktu itu Beng San sendiri juga menghadapi malapetaka yang hebat. Hatinya makin risau dan ia mendapat firasat tidak enak dalam hatinya bahwa isterinya tentu mengalami malapetaka besar. Ia berduka sekali, terutama kalau teringat bahwa isterinya itu sedang mengandung.
Beberapa bulan kemudian pada suatu hari selagi Thio Ki berlatih silat membimbing para tosu di belakang kuil, tiba-tiba terdengar suara melengking aneh. Para tosu menjadi pucat mendengar ini. Mereka pernah dahulu mendengar suara ini, yaitu suara burung rajawali emas yang menjadi binatang tunggangan Kwa Hong. Bagaikan anak-anak kelinci takut mendengar auman harimau, mereka berlari ke belakang Thio Ki dengan wajah pucat dan
tubuh gemetar, jantung berdebar keras. Thio Ki sendiri terkejut dan menengok ke atas di mana ia melihat seekor burung yang besar dan indah terbang berkeliling.
"Eh, burung apakah itu? Besar sekali!" katanya.
" .... celaka... dia datang kembali .... !" seorang tosu tua berkata.
Seketika Thio Ki teringat akan cerita yang ia dengar tentang Kwa Hong dan rajawalinya, maka ia pun terkejut dan menanti penuh perhatian. Ketika ia menengok, ia melihat dengan heran dan kaget bahwa semua tosu yang berada di belakangnya sudah pada berlutut. Burung itu terbang makin dekat, menukik ke bawah dan terdengarlah bentakan nyaring.
"Siapa ini berani menyambut Ketua Hoa-san-pai tanpa berlutut? Apa kau sudah bosan hidup?" Ucapan ini disusul menyambarnya sinar hijau ke arah kepala Thio Ki.
"Hong-moi!" Thio Ki berteriak dan inilah yang menyelamatkan nyawanya karena sinar itu tiba-tiba menyeleweng tidak jadi mengenai kepalanya akan tetapi ada hawa pukulan yang demikian dahsyatnya sehingga tanpa dapat ia pertahankan lagi Thio Ki terguling dan terbanting ke atas tanah. ....
!" Thio Ki memanggil lagi sambil merangkak bangun. Kiranya Kwa Hong sudah berdiri di atas tanah, burung raksasa itu telah terbang ke atas sambil bercuitan. Thio Ki cepat bangun, akan tetapi kaki kiri Kwa Hong bergerak ke arah lututnya dan... untuk kedua kalinya Thio Ki roboh lagi. Ia mengangkat muka dengan heran. Bukan main terkejutnya ketika ia melihat Kwa Hong. Jelas bahwa wanita ini adalah Kwa Hong, masih semanis dan secantik dahulu. Akan tetapi tarikan mulut itu benar-benar menimbulkan kengerian padanya. "Sumoi ....
"Heh, kiranya engkau? Thio Ki, biarpun engkau sendiri juga harus berlutut di depanku, di depan Ketua Hoa-san-pai!"
"Sumoi, apakah kau sudah gila?" Thio Ki melompat bangun. "Betulkah kau telah membunuh Sukong, mengangkat diri menjadi Ketua Hoa-san-pai? Sumoi, kenapa begitu? Kau yang dulu berjiwa gagah ....
" Kata-kata Thio Ki terhenti karena ia sudah roboh lagi, kini agak parah karena ia kena ditampar pundaknya oleh tangan kiri Kwa Hong yang memiliki hawa pukulan luar biasa dahsyatnya. Mata Kwa Hong berkilat marah.
"Memang aku bunuh dia. Kau pun akan kubunuh karena kau berani bersikap kurang ajar kepadaku. Kau bicara tentang kegagahan? Hi-hi-hik, kau sendiri gagah apanya? Isteri dibawa lari orang lain, dipermainkan, kau enak saja di sini. Huh, laki-laki apa kau ini? Lebih baik mampus."
Thio Ki seketika bangun lagi, lupa akan rasa nyeri luar biasa pada pundaknya. Mukanya pucat. "Sumoi... kau melihat Lee Giok? Di mana dia? Bagaimana dengan dia .... ? Apakah
si bangsat Giam Kin .... " Ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya, napasnya sesak karena
gelisah dan marah.
"Hi-hi-hik, isterimu dibawa lari orang, dipermainkan orang. Syukur, baru senang ya rasanya terpisah dari orang yang kau kasihi? Hu-hu-hu
...." Tiba-tiba Kwa Hong menangis tersedu-sedu karena ia teringat akan dirinya sendiri yang juga tak dapat berkumpul dengan orang yang ia cinta.
Thio Ki kaget dan juga bingung, akan tetapi berita itu terlalu mengguncangkan hatinya sehingga ia tidak pedulikan lagi yang lain. Ia bangun dan memegang tangan Kwa Hong. "Sumoi... demi Tuhan... katakanlah, di mana Giam Kin yang menculik isteriku .... ?"
Kwa Hong menghentikan tangisnya, lalu matanya liar lagi, penuh kebengisan. "Kau mau mencari dia? Boleh kuantar kau menyusul dia ke akhirat. Dia sudah kubunuh!"
"Dan Lee Giok bagaimana .... ? Ah, sumoi .... " mata Thio Ki terbelalak dan sikapnya
mengancam, "apakah kau juga membunuh dia .... ?"
Kwa Hong tertawa lagi, tertawa menyeramkan. "Kalau betul, kau mau apa?"
!" Dengan nekat Thio Ki menerjang bekas adik seperguruannya itu. Akan tetapi pada waktu itu tingkat kepandaiannya tidak berarti apa- apa kalau dibandingkan dengan tingkat kepandaian Kwa Hong. Sekali menangkis dan sekali mendorong saja kembali Kwa Hong berhasil merobohkannya. Kwa Hong tertawa lagi sambil mengeluarkan pedang Hoa-san Po-kiam. "Kau... kau... iblis kejam .....
"Hi-hik, kau manusia rendah berani melawan Ketua Hoa-san-pai? Mampuslah kau!" Pedang Hoa-san Po-kiam itu diangkat tinggi-tinggi untuk ditebaskan ke arah leher Thio Ki.
Pada saat itu sebutir batu kecil menyambar ke arah pedang itu sehingga gerakan pedang tertahan di udara, disusul bentakan nyaring, "Hong Hong!!"
Kwa Hong kaget bukan main. Sambaran batu itu hebat sekali akan tetapi baginya tidaklah terlalu mengagetkan. Yang membuat ia kaget adalah suara bentakan tadi. Cepat ia memandang dan ... tubuhnya tiba-tiba gemetar dan pedang yang dipegangnya itu terlepas, jatuh ke atas tanah. Ia berdiri terpaku seperti patung, matanya terbelalak memandang laki-laki yang melangkah lebar menghampirinya, laki-laki setengah tua yang berwajah keren dan gagah perkasa, yang tangan kirinya putus sebatas pergelangan tangan.
"Ayah .... !" Hati Kwa Hong menjerit akan tetapi bibirnya hanya mengeluarkan suara yang
serak.
Di lain saat laki-laki itu sudah berdiri di hadapannya dengan mata berapi-api dan alisnya terangkat naik, wajahnya membayangkan kemarahan, kedukaan dan sesal yang amat besar. Laki-laki itu memang ayah Kwa Hong, yaitu Hoa-san It-kiam Kwa Tin Siong. Di
dalam cerita Raja Pedang telah dituturkan betapa murid pertama dari mendiang Lian Bu Tojin ini melarikan diri dari Hoa-san bersama sumoinya, Kiam-eng-cu Liem Sian Hwa setelah tangan kirinya buntung oleh pedang gurunya sendiri dalam usahanya menolong nyawa sumoinya dari serangan pedang Lian Bu Tojin.
Kwa Tin Siong tak dapat menyangkal bahwa ia memang jatuh cinta kepada Liem Sian Hwa, sumoinya sendiri itu dan sebaliknya Sian Hwa juga diam-diam mencinta suhengnya ini setelah hatinya hancur lebur oleh kelakuan tunangannya, yaitu mendiang Kwee Sin murid Kun-lun-pai. Setelah melarikan diri dari Hoa-san, keduanya lalu mengasingkan diri, hidup berdua di sebuah puncak gunung. Mereka merasa malu untuk turun gunung dan karena senasib, pula karena mereka memang saling mencinta, maka keduanya lalu bersumpah saling setia dan menjadi suami isteri. Dengan tekun kedua orang ini lalu memperdalam ilmu silat mereka dan karena keduanya memang telah mewarisi ilmu silat tinggi dari Hoa-san-pai, memiliki dasar-dasar yang amat kuat, maka ketekunan mereka berhasil baik sehingga ilmu kepandaian mereka maju pesat sekali.
Betapapun juga, ketika Kwa Tin Siong mendengar akan sepak terjang puterinya terhadap Hoa-san-pai, malah sudah membunuh Lian Bu Tojin, ia tidak dapat terus tinggal diam berpeluk tangan mendengar Hoa-san-pai dirusak dan dikacau oleh puterinya sendiri yang terkasih. Setelah bermufakat dengan isterinya, ia lalu turun dari gunung dan menuju ke Hoa-san-pai. Kedatangannya tepat pada saat Kwa Hong hendak membunuh Thio Ki sehingga ia dapat mencegahnya.
Di belakang Kwa Tin Siong terlihat seorang wanita cantik dan gagah, menggendong seorang anak kecil. Inilah Liem Sian Hwa dan anak itu adalah Kun Hong, anak suami isteri ini.
Kita kembali ke pertemuan antara ayah dan anak yang menegangkan ini. Para tosu yang segera mengenal Kwa Tin Siong segera bangkit dari berlutut dan memandang penuh ketegangan, juga kelegaan hati.
"Hong Hong, jadi benarkah semua berita yang kudengar? Benarkah kau berubah menjadi iblis, membunuh Lian Bu Tojin sukongmu sendiri, merampas kedudukan ketua Hoa-san- pai, membunuh banyak orang tosu Hoa-san-pai, dan sekarang kulihat kau malah hendak membunuh Thio Ki? Hong Hong..., bagaimana kau bisa berubah begini .... ?"
Naik sedu-sedan dari dada Kwa Hong. Dua butir air mata menitik turun dan ia hanya dapat berbisik, "Ayah .... "
"Kau membunuh Suhu, malah membunuh Supek Lian Ti Tojin, mengusir Kui Lok dan
Thio Bwee, melakukan perbuatan gila-gilaan di luar. Aku mendengar bahwa kau telah memiliki kepandaian yang luar biasa. Hemmm, sekarang aku, Kwa Tin Siong ayahmu telah berada di sini. Coba kaukeluarkan kepandaianmu itu untuk membunuh ayahmu sendiri. Hayo, kau tunggu apa lagi?" Suara Kwa Tin Siong yang tadinya bengis sekarang berubah serak mengandung penyesalan besar yang menusuk hatinya.
"Ayah .... "
"Tak usah kau ragu-ragu. Lawanlah aku. Kau boleh mencoba membunuh ayahmu ini, kalau tidak akulah yang akan membunuhmu."
"Ayah .... !"
"Kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya takkan luntur selama dunia belum kiamat, akan tetapi kasih sayang seorang gagah selalu berdasarkan kebenaran dan keadilan. Demi kasih sayangnya, seorang ayah yang gagah takkan segan-segan menghukum anaknya sendiri yang menyeleweng dari keadilan dan kebenaran. Perbuatan-perbuatanmu melampaui segala garis, hukumannya hanyalah mati. Kalau aku tidak mampu menghukum mati kepadamu, lebih baik aku mati dalam tanganmu. Majulah."
"Ayah .... !"
Kemarahan Kwa Tin Siong memuncak. Keraguan anaknya ini dianggapnya sebagai sifat pengecut. "Terimalah hukuman dariku!" Ia membentak dan menerjang maju dengan tangan kanannya. Pukulan yang ia lakukan adalah pukulan Hoa-san-pai yang hebat, pukulan penuh tenaga Iwee-kang yang akan dapat membikin pecah sebuah batu besar. Maksudnya hendak membunuh anaknya dengan sekali pukul agar lekas selesai urusan yang menghancurkan hatinya itu. Juga pukuian ini adalah jurus yang disebut Pukulan Dewa Mabuk yang biasa dipergunakan kalau keadaan sudah amat terdesak sehingga tak ada jalan keluar lagi. Biarpun amat hebat dan berbahaya bagi yang diserang, namun tidak kurang berbahayanya bagi yang menyerang sendiri karena sekali dapat dielakkan atau ditangkis, kedudukan Si Penyerang menjadi lemah dan tidak terjaga sehingga mudah dirobohkan lawan yang mampu menghindarkan pukulan ini.
Akan tetapi, alangkah kaget hati Kwa Tin Siong ketika melihat betapa puterinya itu sama sekali tidak mengelak. Betapapun marahnya terhadap anaknya ini, tadi Kwa Tin Siong sengaja melakukan pukulan ini karena ia sudah mendengar betapa lihai Kwa Hong sehingga gurunya sendiri, Lian Bu Tojin, tak mampu melawannya. Tentu ia sudah memperhitungkan bahwa Kwa Hong pasti akan dapat menghindarkan serangan ini dan berbalik akan merobohkannya. Ia rela mati di tangan anaknya untuk menebus dosa yang diperbuat oleh Kwa Hong. Demikian sucinya kasih sayang orang tua ini terhadap puterinya. Oleh karena inilah maka ia kaget sekali ketika pukulannya sama sekali tidak ditangkis maupun dielakkan oleh Kwa Hong yang menerimanya dengan mata meram. Untuk menarik kembali pukulan itu tidak mungkin lagi.
Tiba-tiba bayangan kuning emas menyambar dan tepat pada saat pukulan Kwa Tin Siong mengenai tubuh Kwa Hong, jago Hoa-san-pai ini terlempar ke belakang karena dipukul sayap rajawali emas. Kwa Hong terjengkang roboh dan nyawanya tertolong oleh serbuan rajawali emas itu sehingga pukulan ayahnya hanya mempunyai kekuatan setengahnya saja. Sambil melengking keras rajawali itu mengamuk, menerjang dengan marah ke arah Kwa Tin Siong yang terlempar empat meter lebih jauhnya. Akan tetapi sambil
membentak marah Liem Sian Hwa sudah menerjang maju dengan pedang di tangan. Wanita muda ini berjuluk Kiam-eng-cu (Bayangan Pedang), gerakannya gesit bukan main dan permainan pedangnya lihai sekali. Biarpun serangannya dapat dielakkan oieh burung itu, namun ia berhasii menyelamatkan suaminya dari cengkeraman kim-tiauw. Sementara itu, para tosu serentak bangkit dan mengeroyok dengan pedang mereka. Juga Kwa Tin Siong yang tidak terluka berat, sudah bangun dan menyambar pedang Hoa-san Po-kiam yang jatuh dari tangan Kwa Hong. Sekarang burung itu dikeroyok oleh Kwa Tin Siong, Liem Sian Hwa dan puluhan orang tosu Hoa-san-pai.
Hujan pedang menyambar ke arah tubuh kim-tiauw yang melawan dengan hebat sekali. Setiap kali sayapnya menampar, sedikitnya ada dua orang tosu roboh, patuk dan cakarnya sudah membinasakan banyak lawan. Namun jumlah pengeroyoknya terlampau banyak sehingga setiap kali ada pedang mengenai tubuhnya, beberapa helai bulu rontok beterbangan. Juga pedang di tangan Liem Sian Hwa telah berhasil melukai kakinya sehingga mengeluarkan darah. Namun burung itu terus mengamuk dan sekali lagi Kwa Tin Siong yang agaknya paling ia benci itu terpukul roboh oleh kibasan sayapnya yang lihai.
Tiba-tiba Kwa Hong yang sudah siuman kembali mengeluarkan bunyi melengking panjang. Rajawali itu cepat menyambar tubuh Kwa Hong, dicengkeramnya baju di bagian punggung dan membawa nonanya itu terbang pergi dengan kecepatan yang luar biasa. Kwa Tin Siong, Liem Sian Hwa dan para tosu hanya dapat berdongak memandang dengan penuh kengerian dan kekaguman sampai burung itu lenyap dari pandangan mata. Kwa Tin Siong menarik napas panjang ketika melihat betapa dalam pertempuran yang hanya sebentar itu ada delapan orang tosu yang tewas dan banyak yang terluka.
Pertemuan ini mendatangkan banjir air mata dan Kwa Tin Siong tak dapat menolak ketika para tosu mengangkatnya sebagai ketua Hoa-san-pai. Ketika Kwa Tin Siong mendengar tentang Lee Giok yang katanya pun terbunuh oleh Kwa Hong, ia menggigit bibirnya dan menghibur Thio Ki. "Dia terlampau lihai," katanya. "Baru burungnya saja tak terlawan oleh kita, untungnya tadi dia tidak berani melawanku. Andaikata dia turun tangan, kita semua kiranya takkan dapat hidup lagi." Semenjak saat itu Kwa Tin Siong memimpin para tosu dan memperhebat latihan ilmu silat di antara para murid Hoa-san- pai untuk menjaga kalau-kalau kelak terjadi penyerbuan ke Hoa-san-pai. Juga Thio Ki tekun memperdalanm ilmu silatnya.
Kwa Tin Siong berusaha menyelidiki dengan menyebar para tosu untuk menyatakan kebenaran berita tentang Lee Giok, lupa berusaha mencari Li Cu dan Beng San yang mereka harapkan akan dapat memberi keterangan tentang isteri Thio Ki itu. Akan tetapi semua usahanya sia-sia belaka. Akhirnya karena putus asa, Thio Ki malah meninggalkan keduniaan dan masuk menjadi seorang tosu. Ia sekarang tekun mempelajari Agama To sambil memperdalam ilmu silatnya di bawah pimpinan Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa. Di bawah pimpinan suami isteri perkasa ini, lambat laun Hoa-san-pai mendapatkan kembali keangkerannya dan merupakan partai persilatan yang kuat. Hanya terdapat satu hal yang aneh, yaitu pada diri Kwa Kun Hong, putera Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa. Kiranya semua orang akan menduga bahwa suami isteri ini tentu akan memberi
gemblengan istimewa kepada putera mereka agar kelak menjadi seorang yang berkepandaian tinggi dan gagah perkasa. Namun dugaan ini keliru. Mungkin sekali karena melihat akibat pada diri puterinya, Kwa Hong, maka ketua Hoa-san-pai itu agaknya merasa kuatir kalau-kalau puteranya kelak pun akan mengalami nasib buruk karena pandai ilmu silat. Ia sama sekali tidak melatih ilmu silat kepada Kun Hong, sebaliknya melatih bun (ilmu kesusastraan) dan tentang agama.
Kakek waktu mempunyai kekuasaan yang amat mengherankan dan tak dapat dilawan oleh siapa dan apapun juga. Segala yang berada di dalam dunia ini ditelan oleh waktu, tidak pengecualian, mempergunakan daya keampuhannya yang berupa usia tua. Benda paling keras macam besi pun akhirnya menyerah kepada waktu, diganyang hancur oleh usia tua. Manusia yang paling pandai, yang paling gagah perkasa dengan kedudukan tertinggi, kekuasaan terbesar, akhirnya akan menyerah kepada Kakek Waktu. Semua akan musnah sedangkan waktu akan berjalan terus, menelan segala apa yang dihadapannya.
Yang, sudah lampau hanya merupakan kenangan sepintas lalu saja, seakan-akan masa puluhan tahun hanya terjadi dalam sekejap mata. Sebaliknya, yang akan datang merupakan dugaan dan teka-teki yang takkan diketahui oleh seorang pun manusia. Hanya Tuhan Yang Maha Kuasa saja yang dapat menguasai Kakek Waktu, karena Tuhahlah pengatur dan pengisi waktu dengan segala macam peristiwa di dunia seperti yang dikehendaki-Nya.
Waktu memang amat aneh. Kalau diperhatikan dan diikuti jalannya, amat-lah lambat ia merayap, lebih lambat daripada jalannya siput. Akan tetapi kalau tidak diperhatikan, amat cepatlah ia melewat, lebih cepat daripada terbangnya pesawat jet atau roket sekalipun.
Demikian pula dengan keadaan waktu di dalam cerita ini. Tanpa kita sadari lagi, tahu-
tahu kita sudah dibawa oleh waktu terbang cepat tujuh belas tahun lamanya semenjak Kwa Tin Siong datang kembali ke Hoa-san-pai dan menjadi Ketua Hoa-san-pai sebagai pengganti gurunya, Lian Bu Tojin yang telah tewas oleh Kwa Hong dan Koai Atong. Tujuh belas tahun telah lewat bagaikan dalam sekejap mata saja.
Selama itu, tidak terjadi hal-hal penting. Memang harus diakui bahwa setelah Kaisar yang baru berhasil menghalau dan membasmi semua bekas teman seperjuangan yang hendak memberontak, keadaan pada umumnya menjadi aman tenteram.
Di Puncak Hoa-san-pai juga kelihatan aman dan damai semenjak terjadi keributan belasan tahun yang lalu, akibat sepak terjang Kwa Hong. Sekarang banyak kelihatan para tosu Hoa-san-pai bekerja di sawah ladang, memikuli kaleng-kaleng air dari sumber. Bahkan dengan gembira selalu mereka kelihatan berlatih ilmu silat Hoa-san-pai di pelataran belakang kuil Hoa-san-pai yang besar itu.
Sebetulnya Hek-hwa Kui-bo, apalagi Kim-thouw Thian-li, merasa enggan untuk bertempur melawan Beng San yang begitu lihai. Akan tetapi seruan ini mendesak mereka ke pojok. Tentu Ho-hai Sam-ong akan mendapat kesan buruk kalau mereka tinggal diam saja. Sambil melotot ke arah Beng Kui kedua orang ini mencabut senjata masing-masing dan meloncat ke gelanggang pertempuran, mengeroyok Beng San, yang disambut oleh orang muda ini dengan tenang saja.
"Kau hanya bisa menyuruh orang lain saja maju, apakah kau sendiri takut terhadap adikmu ini?" Hek-hwa Kui-bo sambil menyerang Beng San berseru kepada Beng Kui dengan suara keras dengan maksud agar semua orang mendengarnya.
Memang Beng Kui sudah bertekad bulat untuk membunuh saja adik kandungnya yang ia anggap selalu membikin malu dan membikin kacau rencana. Adiknya itu telah merusak kehidupan seorang gadis, yaitu Kwa Hong. Sekarang setelah mengacau Thai-san dan menikah dengan puteri seorang penjahat seperti Song-bun-kwi, tahu-tahu muncul dan mencampuri urusannya, malah hendak membela Li Cu. Tentu dengan maksud rendah pula. Daripada mempunyai adik kandung seperti ini, bukankah lebih aman dan baik kalau dibinasakan saja? Setelah ber pikir demikian, Beng Kui lalu mencabut pedang Liong-cu- kiam yang panjang dengan tangan kanan, sedangkan Liong-cu-kiam pendek milik Li Cu memang sudah ia pegang di tangan kiri. Dengan sepasang pedang ampuh ini ia lalu menyerbu sambil berseru nyaring,
"Beng San, kau tidak mentaati perintahku untuk pergi, agaknya memang sudah bosan hidup."
Serbuannya hebat sekali, apalagi ia segera mainkan Sian-li Kiam-sut yang lihai dan lebih- lebih hebat lagi karena yang ia pergunakan adalah sepasang Liong-cu-kiam. Sepasang pedang itu berubah rnenjadi dua gulung sinar yang berkeredepan menyambar-nyambar ke arah Beng San dan menyerang dari segala jurusan.
Beng San terkejut dan diam-diam mengakui kelihaian kakak kandungnya ini, akan tetapi berbareng hatinya perih dan juga marah. Ia dahulu amat merindukan kakak kandungnya, lalu setelah bertemu ia merasa kagum sekali melihat kakak kandungnya sebagai seorang patriot yang gagah. Tapi
....sekarang kakaknya itu dengan sepasang pedang pusaka menerjang untuk membunuhnya. Dari perih hati ia menjadi marah dan cepat ia menghadapi serbuan ini. Sekarang Beng San dikeroyok lima orang lagi setelah Ho-hai Sam-ong mengundurkan diri untuk mengatur napas dan memulihkan tenaga, Akan tetapi, di antara lima orang itu, yang paling hebat serangannya adalah Beng Kui. Andaikata hanya menghadapi Beng Kui seorang, biarpun pemuda ini menggunakan sepasang Liong- cu-kiam dan dia sendiri hanya bersenjata kipas, kiranya Beng San takkan dapat terdesak. Akan tetapi sekarang di situ ada Hek-hwa Kui-bo yang mainkan Im-sin Kiam-sut bersama muridnya yang juga cukup lihai, ditambah pula dengan Koai-sin-kiam Oh Tojin dan Lu Khek Jin maka penyerbuan Beng Kui benar-benar telah mendesak Beng San dan membuat ia meloncat ke sana ke mari dan menggerakkan kipas untuk melindungi dirinya.
Pedang pendek di tangan kiri Beng Kui bergerak setengah lingkaran ke arah leher, lalu disusul dengan tusukan pedang panjang dari bawah ke atas. Gerakan ini selain aneh juga tidak terduga, cepat bukan main mengejutkan Beng San. Cepat pemuda ini menangkis dengan kipasnya dan... "brettt" kipas itu terobek oleh ujung pedang panjang. Baiknya Beng San cepat melompat sambil berjungkir balik, tangan kirinya dari jauh memukul ke arah dada kakaknya itu. Beng Kui merasai adanya sambaran angin yang mengandung hawa panas sekali, membuat ia kaget dan menarik kembali pedangnya sambil mundur dua langkah, Kesempatan ini dipergunakan oleh Beng San untuk melompat turun lagi dan mainkan kipasnya yang sudah robek untuk melindungi tubuh dari datangnya banyak senjata yang menyerangnya. Akan tetapi sekarang ia mulai tampak terdesak. Sayangnya bahwa yang berada di tangannya bukanlah pedang, melainkan sebuah kipas mainan yang kecil, maka ilmu pedangnya Im-yang Sin-kiam-sut tidak dapat dimainkan sehebat- hebatnya.
Hal terdesaknya Beng San ini memang tidak aneh. Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut adalah ilmu pedang ajaib yang dahulu menjadi milik pendekar wanita Ang I Niocu, hebatnya bukan kepalang dan tidak dapat diketahui rahasianya oleh orang luar. Adapun Beng San sendiri, biarpun dia telah memiliki tenaga ajaib dan mempunyai ilmu pedang yang lebih tinggi tingkatnya, namun ia masih muda dan kurang pengalaman. Sekarang menghadapi Beng Kui yang dibantu oleh empat orang lain yang semuanya adalah ahli-ahli tingkat tinggi, tentu saja ia merasa repot juga.
"Brettt!" kembali kipasnya pecah, kali ini terkena tusukan pedang pendek di tangan kiri Beng Kui. Beng San marah bukan main, cepat ia menggerakkan kipas dengan tangan kanannya, diputar setengah lingkaran sedangkan tangan kirinya menyelonong ke belakang, tepat menghantam pundak kiri Koai-sin-kiam Oh Tojin yang sedang lengah.
!!" Oh Tojin menjerit kesakitan, tulang pundak kirinya terlepas sambungannya. Akan tetapi dengan marah ia malah makin maju menerjang ganas dengan pedangnya. "Aduh ....
Sementara itu, ketika Beng San memusatkan perhatian menyerang Oh Tojin dengan maksud merobohkan lawannya seorang, tiba-tiba sinar pedang di tangan Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li meluncur, satu ke arah kepala dan yang ke dua ke arah perutnya. Baiknya pemuda ini sudah mahir sekali akan gerakan-gerakan Im-sin Kiam-sut, maka cepat ia menggeser kaki ke kiri sekali dua kali sehingga terhindarlah ia dari ancaman ini. Tidak disangkanya sama sekali bahwa pada saat ia terdesak itu, Beng Kui sudah menerjangnya lagi dengan sepasang pedangnya yang dahsyat dan pada saat yang hampir berbareng, dari kanan kiri Oh Tojin dan Lu Khek Jin menerjang pula.
"Digunting" oleh empat buah pedang yang hebat ini benar-benar keadaan Beng San kepepet sekali. Gerakan pedang Oh Tojin dan Lu Khek Jin ia ikuti dan dapat ia duga ke mana arahnya, maka dengan mudah ia segera dapat mengambil keputusan bagaimana harus mengelak, akan tetapi serangan sepasang pedang Beng Kui yang belum ia kenal betul gerakan-gerakannya, ia benar-benar menjadi bingung. Dua kali menggerakkan pundak dan kaki ia menghindarkan diri dari serangan Oh Tojin dan Lu Khek Jin, akan
tetapi penerjangan Beng Kui sukar ia hindarkan karena tidak tahu bagaimana perkembangannya. Ia hanya menggunakan kipasnya menangkis.
"Brettt!" Kini bajunya, di pundak terbabat, berikut sedikit kulit dan dagingnya. Darah mengucur banyak sekali membasahi bajunya. Baiknya ia tadi masih berlaku cepat dan menggerakkan pundak, kalau tidak tentu sebelah pundak berikut lengan kirinya akan terbabat putus. Keringat dingin keluar dari jidat pemuda ini, bukan karena sakitnya, melainkan saking kaget melihat kehebatan ilmu pedang lawannya ini. Sementara itu, saking gembiranya melihat hasil serangan tadi, Beng Kui menyerang makin hebat, dibantu oleh empat orang kawannya. Malah sekarang Ho-hai Sam-ong juga sudah siap untuk mengeroyok pula. Sayangnya senjata mereka adalah senjata-senjata panjang dan berat, sehingga untuk pengeroyokan begitu banyak orang kurang praktis dan mereka hanya melihat-lihat untuk mencari lowongan baik. Sepasang pedang Beng Kui menyambar-nyambar, berkilauan dan amat ganasnya. Sedangkan Beng San masih terus terdesak sambil mulai menaruh perhatian untuk memecahkan gerakan penyerangan kakak kandungnya yang menghendaki kematiannya ini.
"Awas Beng San! Pedang pendek dari kiri berbalik ke kanan, pedang panjang menyerang ke atas. Kemudian yang pendek mengancam lambung kanan, yang panjang berbalik ke bawah membabat kaki." Suara ini mengagetkan Beng Kui, tapi menggirangkan hati Beng San. Itulah suara Li Cu yang masih terbelenggu di kursi, akan tetapi gadis ini yang tentu saja mengenal baik pergerakan ilmu pedang yang dimainkan Beng Kui, sekarang memberi petunjuk kepada Beng San. Tadinya Li Cu memang tidak pedulikan Beng San karena pengaruh ucapan Beng Kui yang menjelek-jelekkan Beng San sebagai pengrusak wanita. Akan tetapi melihat kagagahan Beng San yang dikeroyok terus-menerus oleh sekian banyaknya musuh tangguh, kemudian melihat Beng San terluka oleh pedang Beng Kui tanpa bersambat, timbul perasaan kasihan dalam dada Li Cu. Betapapun juga, sudah pasti bahwa Beng San datang untuk menolongnya. Sedangkan berita tentang "kebusukan" Beng San masih belum terbukti. Mana bisa ia membiarkan Beng San tewas? Lagipula, kalau Beng San tewas, nasibnya sendiri sudah pasti akan celaka di tangan kakak seperguruan atau bekas tunangannya itu. Kalau Beng San dapat menolongnya keluar dari situ, kiranya belum tentu ia celaka di tangan Beng San.
"Li Cu, tutup mulutmu!" Beng Kui membentak marah dan tentu saja ia segera merubah gerakan penyerangannya yang sudah. "didahului": oleh teriakan Li Cu tadi. Kembali Beng San bingung menghadapi perkembangan jurus-jurus penyerangan baru ini sementara dia sedang sibuk menghadapi pengeroyokan empat orang yang lain. Yang pendek hanya pura-pura mengancam kepala, yang bergerak yang panjang. Awas ujung siku kiri yang hendak dibabat pedang panjang. Kemudian pendek dan panjang akan menyerang dari atas bawah bergantian, itu pun jebakan saja, yang harus dijaga babatan pedang pendek ke leher dibarengi babatan pedang panjang ke pinggang."
"Li Cu, kau hendak mengkhianati suhengmu sendiri?" Beng Kui membentak marah sekali.
"Aku tidak punya suheng macammu!" Li Cu berteriak kembali sambil terus memberi petunjuk-petunjuk.
Sekarang Beng San tidak terdesak lagi. Ia tidak begitu menguatirkan penyerangan Beng Kui setelah mendapat penjelasan dari Li Cu, malah sebelum penyerangan datang ia sudah tahu lebih dulu ke mana serangan musuh akan dilancarkan. Oleh karena ini, perhatiannya lebih banyak ditujukan kepada empat orang lawannya yang lain. Begitu mendapat kesempatan, gagang kipasnya berhasil menotok roboh Kim-thouw Thian-li yang tepat tertotok jalan darah di pundaknya, kemudian sebuah tendangan kilat berhasil merobohkan Oh Tojin yang terlempar sampai tiga meter dan tidak mampu bangun kembali karena tulang lututnya patah. Tosu yang terlepas sambungan tulang pundak dan patah tulang lututnya itu hanya mengeluh dan menangis seperti anak kecil.
Melihat keadaan yang tidak menguntungkan ini, Ho-hai Sam-ong segera menyerbu lagi. Beng San juga sudah lelah, terutama sekali darah yang mengucur dari pundaknya mulai mengering dan mendatangkan rasa nyeri dan perih. Akan tetapi ia mengamuk terus dengan nekat karena robohnya dua orang itu malah mendatangkan tambahan tiga tenaga lagi, yaitu Ho-hai Sam-ong yang malah lebih lihai.
Sementara itu, melihat keadaan yang tidak menguntungkan bagi pihaknya, padahal tadinya sudah berhasil baik sekali, Beng Kui menjadi marah. Semua gara-gara Li Cu yang sengaja memecahkan jurus-jurusnya dan membantu Beng San. Beng Kui adalah seorang pemuda yang mempunyai ambisi (cita-cita) besar sekali. Dahulu di masa perjuangan, Ia rela berkorban apa saja untuk mencapai cita-citanya, yaitu menduduki tempat yang tinggal dalam pemerintahan baru. Siapa kira, kedudukan tinggi itu tidak bisa ia dapatkan karena ia kurang mendapat penghargaan dari Ciu Goan Ciang. Oleh karena ini ia terpaksa bersekutu dengan Raja Muda Lu, menjadi mantunya dan hendak mengadakan pemberontakan. Ini pun dldasari ambisinya yang besar. Dan yang paling ia benci adalah orang yang hendak menghalang-halangi ambisinya ini, atau yang hendak mempersukar perjalanan ke arah tercapainya cita-citanya. Ia menganggap Beng San seorang yang demikian itu, maka ia tidak ragu-ragu untuk mencoba membinasakannya. Sekarang melihat sikap Li Cu, timbul marahnya. Sekali meloncat ketika mendapat kesempatan, Ia sudah berada di dekat kursi yang diduduki Li Cu. Pedangnya berkelebat dan Li Cu sudah meramkan mata menerima kematian. Akan tetapi melihat wajah Li Cu yang cantik jelita, agaknya timbul kembali cinta dan nafsunya. Beng Kui tidak jadi membunuh Li Cu, melainkan gadis ini malah ia lepaskan dari kursi, kemudian ia pondong dan ia bawa lari keluar dari tempat itu.
Bukan main kagetnya hati Li Cu. Tadi ketika ia melihat Beng Kui menghampirinya dengan pedang diangkat, ia hanya meramkan mata menanti maut tanpa mengeluarkan suara, sedikit pun tidak gentar. Akan tetapi sekarang merasa dirinya dipondong pergi dalam keadaan masih terbelenggu, wajahnya berubah pucat sekali dan jantungnya berdebar-debar ketakutan.
"Beng San... tolong .... !!" teriaknya berulang-ulang dengan sekuat tenaga jeritnya.
Beng San bukanlah seorang pemuda yang suka berkelahi atau suka menang. Ia pun tidak suka menaruh hati dendam. Maka begitu mendengar jerit suara Li Cu, ia cepat menengok. Alangkah kaget dan marahnya ketika ia melihat Li Cu dipondong oleh Beng Kui dan dibawa lari. Kedatangannya di tempat itu sama sekali bukan untuk bertanding dengan Ho-hai Sam-ong dengan Hek-hwa Kui-bo atau dengan yang lain-lain. Kedatangannya khusus untuk menolong Li Cu. Sekarang Li Cu dibawa lari oleh Beng Kui dan hal ini terang sekali terjadi di luar kehendak Li Cu yang menjerit-jerit minta tolong kepadanya. Bagaimana ia bisa tinggal diam saja? Sekali ia menggerakkan tangan dan kaki, ia telah memukul runtuh pedang dari tangan Hek-hwa Kui-bo, kemudian tubuhnya berkelebat dan ia sudah meloncat untuk mengejar Beng Kui.
Matanya terasa sakit ketika dari ruangan yang terang itu ia kini tiba di luar rumah yang amat gelap. Tidak kelihatan bayangan Beng Kui, tapi ia melihat beberapa orang penjaga dengan tombak di tangan menjaga ternpat itu. Bagaikan seekor burung saja ia melayang dan setelah dekat, sekaligus ia menotok roboh dua orang penjaga dan mengempit seorang di antaranya dibawa pergi ke tempat gelap. Gegerlah para penjaga ketika melihat seorang kawan roboh dan yang seorang lagi lenyap tak berbekas.
"Katakan ke mana perginya Tan Beng Kui ciangkun yang membawa wanita tawanan tadi." Dengan suara ditekan Beng San memaksa tawanannya sambil meraba jalan darah yang menimbulkan rasa nyeri tak tertahankan. Penjaga itu meringis-ringis, lalu dengan suara terputus-putus memberitahukan bahwa orang yang dimaksudkan itu telah pergi menunggang seekor kuda menuju ke arah selatan.
Beng San melepaskan korbannya dan cepat ia berlari-lari dalam gelap mengejar ke selatan. Ia maklum bahwa kakak kandungnya itu tentulah bertempat tinggal di Nan King, di kota raja yang baru bersama ayah mertuanya, raja muda she Lu itu. Maka ia mengambil jalan ini dan mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian ginkangnya untuk berlari cepat, tanpa mempedulikan tubuhnya yang amat lelah dan darah segar yang mengucur keluar lagi dari luka di pundaknya karena gerakah-gerakannya ini.
Usahanya mati-matian ini ternyata tidak sia-sia. Menjelang pagi ia sudah mendengar suara kaki kuda di sebelah depan, mulai memasuki hutan terakhir dalam perjalanan jauh ke kota raja itu. Hatinya masih ragu-ragu. Betulkah suara kaki kuda itu adalah kuda yang ditung-gangi oleh Beng Kui? Tiba-tiba semangat nya bangkit ketika lapat-lapat ia mendengar jeritan. "Beng San .... !l"
Dipercepatnya larinya dan tak lama kemudian benar saja ia melihat Beng Kui membalapkan kudanya sambil memangku Li Cu yang masih tak berdaya karena terbelenggu kaki tangannya. Sambil meringankan kakinya sehingga tidak terdengar suara larinya, Beng San makin mendekati dan akhirnya ia mendengar suara Beng Kui mentertawakan, bahkan menghina.
"Li Cu, kau sekarang tergila-gila kepada Beng San? Heh-heh, benar-benar lucu. Tadinya kau marah-marah melihat aku kawin dengan puteri Raja Muda Lu dengan dasar politik, karena aku ingin merebut kedudukan tinggi kelak. Tapi cintaku masih kepada dirimu, Li
Cu. Kalau kelak aku menjadi kaisar, atau setidaknya menjadi raja muda, apa salahnya kalau aku beristeri dua? Kau tetap akan menjadi isteriku yang tercinta. Kenapa kau tidak sabar dan tidak mau mengerti, lalu marah-marah? Kenapa kau sekarang malah kelihatan lebih mencinta adikku yang gila itu?"
"Dia seribu kali lebih baik dari padamu, kau laki-laki palsu, kau pengkhianat, awas kau Ayah pasti akan membalaskan sakit hatiku." Li Cu berteriak-teriak
Beng Kui tertawa mengejek, "Kau bilang Beng San lebih baik daripadaku? Ha-ha, Li Cu, kau tidak mengerti. Dia itu seorang iblis pengrusak wanita. Tak tahukah kau betapa murid Hoa-san-pai yang bernama Kwa Hong itu telah dirusaknya, kemudian ditinggalkannya pergi, malah dia menikah dengan anak seorang penjahat yang terkenal Song-bun-kwi? Tentang ayahmu... hemm, suhu tentu akan memaklumi pendirianku .... "
Tiba-tiba suaranya berhenti karena pada saat itu kuda yang ditungganginya terjungkal sehingga dua orang itu terlempar dari atas punggung kuda. Beng Kui terkejut sekali dan cepat melompat bangun sambil mencabut sepasang pedangnya, membalikkan tubuh dan berhadapan dengan Beng San.
"Kau... lagi .... ?? Seperti iblis saja kau, kenapa selalu mengikuti aku?" teriak Beng Kui
marah.
Beng San tersenyum mengejek. "Bukan aku yang mengikuti kau, tapi kejahatanmu yang memaksa aku datang. Tidak boleh kau menculik seorang gadis, biarpun dia itu sumoimu sendiri." Sambil berkata demikian, Beng San lalu melangkahkan kaki menghampiri Li Cu yang rebah di atas tanah. Ketika terjatuh dari punggung kuda tadi, gadis ini masih dalam keadaan terbelenggu, maka jatuhnya lebih parah dan pakaiannya sampai robek-robek. Ia benar-benar dalam keadaan setengah pingsan, akan tetapi cukup sadar untuk dapat menangkap percakapan antara kakak beradik itu.
Selagi Beng San melangkah menghampiri Li Cu, Beng Kui yang sudah tak kuat menahan kemarahannya itu serentak menerjang dari belakang, menggerakkan sepasang pedang Liong-cu-kiam secepat kilat.
!" Li Cu yang melihat ini menjerit. Akan tetapi gerakan Beng San malah mendahului jeritannya, karena pemuda ini sudah membalik, kedua tangannya bergerak, kakinya bergeser dengah langkah-langkah aneh. Secara otomatis tubuhnya menyelinap di antara sambaran dua pedang, tahu-tahu kedua tangannya sudah "memasuki" celah-celah. pedang dan mendorong ke arah sepasang pundak lawan. Terdengar Beng Kui mengeluh sebelum tangan Beng San menyentuh pundaknya, sepasang pedangnya hampir terlepas dan di lain saat kedua pedang itu sudah berpindah ke tangan Beng San. Hebat sekali gerakan ini dan dari kedua tangan Beng San itu samar- samar tampak mengebulnya uap putih. Inilah sebuah gerakan dari ilmu silat mujijat yang dahulu di jaman-nya Pendekar Sakti Bu Pun Su disebut Ilmu Silat Pek-in-hoat-sut (Ilmu Sihir Awan Putih). Karena kemahirannya dalam Im-yang-sin-kun, otomatis Beng San dapat mewarisi sebuah gerakan dari ilmu itu dan ternyata hasilnya hebat luar biasa. "Awas... Beng San... belakang ....
Beng Kui memandang dengan muka pucat dan mata melotot. Beng San untuk sesaat juga memandang dengan muka marah dan mata berkilat, tapi ia lalu menyerahkan pedang yang panjang itu kembali sambil berkata,
"Aku sudah berjanji meminjamkan Liong-cu-kiam sepasang ini kepada kau dan Nona Cia Li Cu selama tiga tahun. Janji itu tetap berlaku. Tiga tahun setelah janjiku aku pasti akan mengambil kembali Liong-cu-kiam jantan ini dari tanganmu."
Masih, tertegun oleh kehebatan adik kandungnya yang secara mujijat dapat merampas sepasang pedangnya, Beng Kui mengeluarkan tangan menerima pedangnya kembali, kemudian setelah memandang, dengan mata melotot beberapa saat lamanya, ia menoleh ke arah Li Cu sejenak lalu membalikkan tubuh dan berlari cepat meninggalkan tempat itu.
Beng San menarik napas panjang, menghampiri Li Cu, dan sekali pedang Liong-cu-kiam pendek itu bergerak di tangannya, kilat menyambar dan sekaligus belenggu yang mengikat kaki dan tangan Li Cu putus semua tanpa terasa sedikit pun oleh gadis itu, Li Cu meloncat bangun, mengeluh dan terhuyung-huyung ke belakang. Baiknya Beng San cepat mengejarnya dan menyambar pundaknya. Alangkah kagetnya ketika pemuda ini melihat Li Cu sudah meramkan mata, tak ingat orang lagi, pingsan dalam pelukannya.
Beng San bingung. Ia meraba pergelangan lengan gadis itu dan maklumlah ia bahwa gadis ini tidak apa-apa. Hanya karena banyak mengalami ketegangan, kemarahan dan kekuatiran, ditambah lagi terlalu lama tadinya ia tertotok dan terbelenggu, maka begitu ia dibebaskan, dalam batin dan pikirannya terjadi pukulan yang tak kuat ia menahannya sehingga membuatnya pingsan. Terpaksa Beng San memondongnya dan membawanya berlari keluar dari hutan itu. Ia merasa kuatir kalau-kalau Beng Kui akan datang bersama kawan-kawannya. Akan payah juga kalau ia dikeroyok lagi orang-orang pandai sementara Li Cu masih pingsan. Lebih baik cepat-cepat meninggalkan tempat itu.
Belum juga ia berlari, ia melihat kuda yang tadi ditunggangi Beng Kui, sekarang sudah sembuh dan sedang makan rumput. Memang tadi ketika merobohkan kuda itu, Beng San tidak mempergunakan serangan mematikan, melainkan menotok dengan lemparan kerikil ke arah lutut kuda sehingga kuda itu terjungkal saja. Dengan girang kini Beng San menghampiri kuda yang masih lengkap dengan pelana dan kendali itu, lalu ia melompat ke atasnya sambil merangkul Li Cu. Dengan perlahan ia lalu menjalankan kudanya ke arah utara.
Matahari telah naik tinggi ketika kuda yang ditunggangi Beng San sampai di tepi Sungai Huang-ho sebelah barat, Beng San membelokkan kudanya ke barat, menyusur sepanjang pantai sungai memasuki sebuah hutan yang segar kehijauan dan teduh. Hari itu panasnya bukan kepalang. Kudanya biarpun tidak dibalapkan telah berpeluh dan napasnya terengah-engah. Beng San merasa kasihan dan menghentikan kuda itu di bawah sebatang pohon besar di mana air Sungai Huang-ho tampak kehijauan indah.
Li Cu baru saja siuman dari pingsan Gadis ini merasa pening sekali, matanya berputar- putar. Mulai membuka sedikit kedua matanya, kembali karena sinar matahan yang menerobos, dari celah-celah daun memasuki matanya. Lalu ia teringat betapa indahnya daun-daun pohon di atas tadi, maka dibukanya kembah matanya. Memang indah. Daun- daun pohon yang kecil dengan bentuk sempurna ditimpa matahari, bersusun-susun rnenimbulkan warna hijau yang dihias sinar kuning emas dan kehitaman bayangan. Bagaikan benang-benang sutera kuning emas sinar matahari meluncur turun di antara celah-celah daun, kadang-kadang berubah kedudukan karena daun-daun itu bergerak oleh angin.
Sampai lama Li Cu terpesona oleh keindahan pemandangan yang belum pernah diperhatikan sebelumnya itu. Kemudian terasa olehnya pergerakan napas dan bunyi berdetik di pinggir telinganya. Makin lebar matanya dibuka dan yang mula-mula tampak adalah sebuah hidung dan sebuah mulut dari muka yang putih. Yang paling jelas adalah bentuk dagu yang keras. Ia makin mengerahkan perhatian, memandang kepada muka itu. Tahulah sekarang ia bahwa yang berdetik-detik itu adalah bunyi jantung dalam dada di mana ia bersandar. Ia dipangku orang, di atas sebuah pelana kuda. Dan muka itu... muka Beng Kui.
"Bedebah kurang ajar kau!" Li Cu seketika timbul tenaganya, kedua tangannya meraih ke atas lalu dipukulkan dua kali ke muka itu, muka yang dibencinya, muka yang dahulu pernah dicintainya Muka Beng Kui.
Potongan tubuhnya yang terlatih semenjak kecil. Li Cu sudah berhasil memukul sambil terus meloncat menjatuhkan diri ke pinggir, lalu berjungkir-balik dan di lain saat ia sudah berdiri tegak di depan kuda, siap untuk menyerang lagi. Ia melihat orang yang dipukul mukanya tadi meloncat turun terus duduk di atas akar pohon sambil menutupi mukanya.
Beng San tak dapat mengelak ketika tadi. Memang dia pun seperti Li Cu terpesona oleh cahaya matahari yang secara indah menghias hutan itu dengan sinar benang emas, akan tetapi warna kuning emas itu mengingatkan ia akan burung rajawali emas dan sekaligus mengingatkan ia kembali kepada Kwa Hong. Terngiang di telinganya kata-kata tuduhan Beng Kui bahwa ia telah merusak kehidupan Kwa Hong. Beng Kui tidak tahu keadaan yang sebenarnya, akan tetapi memang tuduhannya itu tak dapat disangkal pula. Memang ia telah merusak kehidupan Kwa Hong. la telah berdosa besar, besar sekali. Pada saat itulah Li Cu memaki dan memukul mukanya dua kali, yang pertama mengenai pinggir jidatnya dan yang ke dua mengenai pinggir mulutnya. Darah mengucur dari kedua tempat itu, sakit rasanya. Akan tetapi hati Beng San lebih sakit oleh makian tadi. Ia dapat menahan pukulan itu, lalu meloncat turun dan menjatuhkan diri duduk di atas akar pohon, menutupi mukanya dengan kedua tangan untuk menyembunyikan dua butir air mata yang berloncatan keluar. Akan tetapi tanpa disengaja kedua tangannya itu pun menyembunyikan jidat dan bibir yang mengucurkan darah.
Setelah kini agak reda peningnya, pandang mata Li Cu makin terang. Ia memandang terbelalak kepada orang yang duduk menutupi muka di bawah pohon itu. Sejenak Li Cu
bingung. Ia teringat betul bahwa yang dipukulnya tadi adalah Beng Kui. Tapi orang itu... pakaian itu dan... dan pundak yang terluka itu .....
"Beng SanLi Cu menahan jeritnya, tangan kirinya menutupi mulut, lalu ia melangkah maju tiga tindak mendekat. .....
Beng San menurunkan kedua tangannya yang menutupi muka. Darah mengucur deras dari luka di jidatnya. Memang bagian tubuh yang teratas ini paling banyak rnengeluarkan darah kalau terluka. Pandang mata Beng San kabur dan ia melihat seakan-akan Kwa Hong yang berdiri di depannya sekarang ini.
"Kau... kau boleh pukul aku lagi kalau kau suka... bunuh pun boleh .... " katanya perlahan.
Meremang bulu tengkuk Li Cu melihat muka yang berlumuran darah dan mendengar suara yang tak berirama ini, seperti suara dari balik kubur. Ia menyesal bukan main. Kenapa ia malah memukul Beng San yang telah menolongnya dari bahaya yang lebih ngeri dari pada maut? Timbul penyesalan dan kasihannya.
"Ah, jadi kaukah yang kupukul tadi?" tanyanya dengan penuh sesal sambil cepat maju menghampiri. Setelah dekat barulah Beng San ingat kembali bahwa gadis ini sama sekali bukan Kwa Hong biarpun pakaiannya serba merah, melainkan Cia Li Cu.
" katanya lemah. Pedang Liong-cu-kiam pendek itu telah ia selipkan di belakang punggung. "Nona Cia, ini pedangmu... ambil... ambil... ambillah sendiri ....
"Siapa bicara tentang pedang? Mukamu itu... harus diurus dulu," kata Li Cu dan dengan cepat gadis ini sudah berlutut di depan Beng San, lalu dengan cekatan ia membersihkan darah dari luka di bibir dan jidat itu.Tanpa ragu-ragu lagi dan sama sekali tidak jijik Li Cu mempergunakan saputangannya dari sutera yang harum untuk mengusap darah. Saputangan itu sudah penuh darah, dan luka di kening masih terus mengucurkan darah.
"Tunggu sebentar kumencari air," kata Li Cu dan cepat gadis ini lari ke tepi sungai dan mengambil air dengan mempergunakan daun yang lebar. Kemudian ia datang lagi dan dicucinya luka-luka itu. Cekatan sekali ia bekerja tanpa ragu-ragu dan jari-jari tangannya dengan mesra membersihkan luka yang diakibat kan pukulannya sendiri tadi.
"Wah, darahnya mengucur terus. Jidatmu harus dibungkus," bisik Li Cu perlahan dan agak bingung karena tidak ada obat penghenti darah di situ. Ia mencuci saputangannya dan mempergunakannya untuk membalut jidat Beng San.
Tentu saja untuk pekerjaan ini ia harus mengangkat kedua lengannya dan seakan-akan memeluk kepala Beng San.
Selama itu, jantung Beng San berdebar tidak karuan. Lenyaplah bayangan Kwa Hong yang selama ini mengikutinya dan membuat ia merasa berdosa hebat. Malah bayangan isterinya, Kwee Bi Goat, isterinya yang tercinta yang selama ini dirindukannya, tidak tak
tampak pada saat itu. Bukan main cantik jelitanya gadis ini, demikian ia mendengar bisikan-bisikan di belakang telinganya, seakan-akan batang pohon yang ia sandari itulah yang berbisik-bisik. Cantik bagai bidadari. Mata yang bening redup itu, mulut kecil mungil dengan hidung yang mancung. Rambut yang panjang hitam awut-awutan. Kadang-kadang memperlihatkan kulit leher yang putih kuning. Ketika gadis itu membalutkan saputangan ke belakang lehernya ia merasa seakan-akan dipeluk dan Beng San meramkan matanya. Ganda sedap mengharum membuat ia seperti mabok dan ketika ia membuka matanya, ternyata pekerjaan gadis itu sudah selesai.
Li Cu masih berlutut di depannya, mukanya amat dekat, terlalu dekat seakan-akan ia dapat merasai tiupan napas gadis itu. Dua pasang mata bertemu, saling pandang, saling terkam dan sukar terlepas lagi. Mulut Li Cu agak terbuka, matanya redup dan bulu mata yang panjang itu bergerak-gerak. Bisikan di belakang telinga Beng San makin mendesak. Dia cantik bukan main. Dan agaknya suka kepadamu.Hemm... tunggu apa lagi?
Li Cu menierit kecil sambil melompat mundur. Hampir berbareng di saat itu juga Beng San sambil duduk membalikkan tubuhnya dan tangan kanannya yang terkepal memukul batang pohon besar di belakangnya. Blukk! Saking kerasnya ia menghantam, kepalan tangan itu melesak ke dalam batang pohon sampai ke pergelangan tangannya. "Eh... ah... kenapa .... ? Kenapa kau memukul pohon .... ??" Li Cu yang kini sudah berdiri,
memandang dengan mata terbelalak terheran-heran.
Beng San perlahan-lahan bangkit berdiri, menarik napas berkali-kali. Ia masih sempat mendengar suara yang berbisik-bisik tadi seperti mentertawakannya dari jauh. Setelah ia dengarkan betul-betul, itu sebenarnya adalah suara daun-daun pohon tertiup angin. Ia bergidik. Alangkah bahayanya bisikan-bisikan tadi. Bisikan iblis yang setiap saat menggoda manusia. Untung ia dapat mengalahkannya tadi dan biarpun kepalan tangannya terasa sakit, ia merasa lega hatinya. Kini tanpa ragu-ragu ia dapat mengangkat muka memandang wajah Li Cu.
"Beng San... kenapa kau memukul pohon .... ?" tanyanya sekali lagi.
"Ah, tidak... tidak apa-apa, Nona." "Mukamu tadi menakutkan sekali .... " "Bukan salahku.
Mukaku memang bu-ruk .... "
"Sekarang tidak lagi," buru-buru Li Cu memotong. "Tadi, sedetik sebelum kau memukul pohon. Aku sampai kaget dan menjerit. Beng San, kenapa mukamu bisa berubah-ubah?"
"Sudah nasibku, Nona. Ketika kecil aku dipaksa makan racun. Apakah sekarang mukaku masih menakutkanmu?"
Li Cu memaksa senyum, matanya bersinar-sinar lagi. "Tidak lagi. Sekarang tidak. Hanya tadi sebentar... ah, membikin aku teringat akan kata-kata Beng Kui tadi. Kau disebut iblis pengrusak wanita."
"Memang aku iblis... bukan hanya iblis malah kau tadi pun menyebutku bedebah dan
" Beng San menunduk dan menarik napas, merasa betapa memang ia tepat sekali disebut demikian setelah apa yang ia akibatkan pada diri Kwa Hong. Ia berdosa kepada Kwa Hong dan lebih-lebih lagi kepada Bi Goat. "Aku tadi mengira kau Beng Kui, maka aku memaki demikian." kurang ajar... memang demikianlah aku ....
Kembali Beng San menarik napas panjang. "Memang tidak banyak selisihnya, Nona Cia. Kami berdua... ahh, kami bukan orang baik .... "
Li Cu memandang dan menjadi terharu. Muka itu kurus benar, tapi kulitnya sekarang putih dan... hemm, tampan sekali. Apalagi alis yang berbentuk golok itu, dan sepasang mata yang tajam luar biasa. Rambutnya tidak terpelihara, pakaiannya pun hampir menyerupai pakaian jembel. Memang jauh bedanya telihat lahirnya saja dengan Beng Kui yang mentereng dan rapi. Tapi jauh nian bedanya.
" katanya setelah mereka berdua tercekam oleh suasana hening. "Malam tadi di atas genteng, kenapa kau menangis?" "Beng San ....
"Apakah aku menangis? Aku sudah lupa...
"Sebelum kau muncul untuk menolongku, kau menangis. Tangismu memilukan sekali biarpun hanya terdengar sebentar."
"Boleh jadi. Aku menangisi keadaanku, keadaan dia yang dulu kuagungkan, kukagumi sebagai kakakku yang mulia dan perkasa. Kiranya ia sama dengan aku
...." "Kau kenapa? Kau... kau baik sekali, Beng San." Ucapan ini terdengar lantang dan terus terang. Ketika Beng San mengangkat muka memandang, kembali dua pasang mata bertemu dan Beng San melihat pandang mata yang jujur dan tahu bahwa pernyataan nona ini keluar dari hatinya. Ia menarik napas.
"Bukan, sayang sekali. Benar seperti yang dikatakan olehnya, aku seorang jahat, perusak hati wanita, aku seorang penuh dosa .... "
“Tak-percaya. Aku tidak percaya." Suara Li Cu makin keras penuh kesungguhan. Gadis
ini diam-diam merasa aneh. Sesuatu yang aneh terjadi dalam dirinya. Biarpun sudah lama sekali ia bertunangan secara resmi dengan Beng Kui, namun hubungannya sama saja dengan hubungan kakak beradik, seorang suheng dan sumoi. Belum pernah jantungnya menggetar, seperti tadi ketika ia membalut kepala Beng San. Malah belum pernah berdekatan seperti tadi dengan Beng San. Apakah artinya semua ini? Dan ia sama sekali tidak mau percaya kalau Beng San seorang jahat, seorang perusak wanita.
Beng San memandang dengan melongo dan tiba-tiba ia merasa jantungnya berdebar keras. Penuh keharuan dan kengerian ia memandang kepada wajah jelita itu. Sudah terlalu sering ia melihat wajah gadis-gadis yang mencintanya, terutama sekali wajah Kwa Hong dan isterinya Kwee Bi Goat. Sinar mata dan wajah mereka itu seperti wajah Li Cu sekarang ini, demikian mesra, demikian jelas cinta kasih terbayang pada sepasang mata yang bening itu. Tak boleh ini. Sekali-kali tidak boleh. Ia tidak mau berlaku sembrono
seperti dulu. Tak mau melukai hati gadis, apalagi gadis seperti Li Cu. Dulu sudah banyak gadis-gadis terluka hatinya olehnya.
"Nona Cia, aku harus berterus terang kepadamu. Memang aku seorang laki-laki penuh dosa dan apa yang dikatakan suhengmu tadi semua betul belaka." Kemudian dengan suara tegas jelas, sama sekali tidak ragu-ragu dengan pengakuannya itu ia hendak meringankan dosanya yang menindih isi dada, ia menceritakan, kepada Li Cu telah melakukan perhubungan dengan Kwa Hong kemudian meninggalkannya karena ia sudah jatuh cinta dengan Kwee Bi Goat dan kemudian ia ikut bersama Bi Goat ke Min-san dan menjadi suami isteri di sana. Diceritakannya pula betapa Kwa Hong menjadi rusak hatinya dan seperti gila, apalagi setelah ternyata bahwa perhubungan mereka itu telah mengakibatkan Kwa Hong mengandung.
"Aku telah berdosa besar kepada Kwa Hong, aku telah merusak hidupnya. Dan aku lebih berdosa lagi kepada isteriku yang belum tahu akan hal itu. Seharusnya dahulu aku mengaku di depan Bi Goat, tapi aku pengecut... aku takut kehilangan dia, jadi aku seakan-akan menipunya. Ah, dosaku bertumpuk-tumpuk, Nona Cia. Sudah sepatutnya kalau orang semulia engkau membenciku, menganggap rendah kepadaku seperti dikatakan oleh suhengmu itu .... " Demikian Beng San menutup ceritanya.
Li Cu sejak tadi mendengarkan dengan mata terbelalak dan muka sebentar pucat sebentar merah. Entah mengapa dia sendiri tidak tahu, mendengar akan penuturan Beng San tentang pengalaman dengan beberapa orang gadis cantik ini, dadanya terasa panas dan ingin sekali ia marah-marah. Ingin sekali ia menampar muka Beng San. Tapi juga ingin sekali ia menangis.
"Kau... kau... laki-laki mata keranjang!" makinya dengan suara serak sambil berdiri dan berlari pergi dari tempat itu.
! Beng San juga berdiri dan sekali ia meloncat, ia telah berada di depan Li Cu, pedang pendek Liong-cu-kiam telah ia cabut dan ia angsurkan kepada gadis itu. Herannya bukan main ketika ia melihat muka yang jelita itu basah oleh air mata yang bercucuran. "Nona Cia .... ! Ini pedangmu, bawalah ....
Li Cu menggunakan tangan kiri mengusapi air matanya, tanpa mengeluarkan kata-kata dan tanpa memandangi muka Beng San ia menyambar pedang itu lalu berlari pergi lagi. Isaknya terdengar memilukan ketika tubuhnya berkelebat di depan Beng San. Pemuda ini berdiri bengong memandang ke arah tubuh berpakaian merah yang berlari cepat itu. Berkali-kali ia menarik napas panjang dan seperti patung ia memandang ke depan sampai bayangan merah itu lenyap ditelan kejauhan.
"Ha-ha-ha-ha, puteri Bu-tek Kiam-ong itu cinta kepadamu, Adikku!" tiba-tiba suara itu terdengar di belakang. Beng San kaget sekali, cepat berputar dan... ia berhadapan dengan seorang laki-laki bertubuh raksasa yang gagah sekali dan yang berdiri sambil tersenyum lebar dan bertolak pinggang.
"Twako .... !" Beng San berseru girang dan maju merangkul laki-laki gagah perkasa itu.
"Ha-ha-ha, Beng San adikku. Di mana-mana kau selalu menghadapi keruwetan dengan wanita. Ah, kau bikin aku mengiri saja." "Tan-twako, jangan menggoda aku. Bagaimana keadaanmu? Ke mana saja selama ini kau pergi?" Beng San menjadi gembira kembali setelah bertemu dengan laki-laki tinggi besar itu. Siapakah dia? Bukan seorang biasa, melainkan seorang bekas pejuang yang sudah terkenal namanya sebagai pemimpin dari perkumpulan Pek-lian-pai yang banyak jasanya dalam perjuangan menumbangkan kekuasaan pemerintah Mongol. Namanya adalah Tan Hok dan semenjak dahulu menjadi sahabat baik Beng San, malah Tan Hok menganggap Beng San sebagai adik angkatnya sendiri (baca kisah Raja Pedang). Tan Hok juga seorang gagah yang memiliki ilmu silat tinggi. Sebetulnya yang membuat ia amat dikagumi Beng San bukanlah ilmu silatnya, melainkan jiwa kepatriotannya yang luar biasa besarnya. Dalam hal perjuangan, Tan Hok tak dapat disamakan dengan orang seperti Beng Kui yang berjuang karena ada pamrih memetik buah dari hasil perjuangannya itu untuk keperluan dan kesenangan diri pribadi. Perjuangan yang dilakukan Tan Hok dengap perkumpulan rahasianya adalah perjuangan suci tanpa pamrih. Kalaupun ada pamrih, maka pamrih itu hanya ingin melihat rakyatnya terbebas daripada belenggu penjajahan. Jadi pamrihnya bukan untuk kepentingan diri pribadi, melainkan demi kesejahteraan rakyat. Oleh karena inilah setelah pemerintah Mongol tumbang, Tan Hok dan teman-temannya tidak termasuk bekas-bekas pejuang yang ikut gontok-gontokan untuk memperebutkan kedudukan dan kemuliaan di kota raja.
"Tan-twako, kau hendak pergi ke manakah?" Kembali Beng San bertanya, untuk sejenak ia lupa akan penderitaan batin yang sedang mengamuk di hatinya ketika bertemu dengan orang yang amat disayangnya ini.
"San-te (Adik San), sebetulnya tidak sengaja aku dapat bertemu dengan kau di sini. Pagi
tadi aku melihat kau naik kuda sambil memangku seorang nona yang tampaknya sakit atau pingsan. Tadinya aku curiga melihat keadaan Nona itu maka aku tidak menegurmu dan diam-diam mengikutimu. Maafkan kecurigaanku ini. Kemudian aku melihat bahwa dia adalah Nona Cia Li Cu puteri Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan." Tan Hok ber henti sebentar, kemudian dengan muka sungguh-sungguh ia berkata lagi, "San-te, sebetuinya pertemuan ini amat menggembirakan hatiku dan kebetulan sekali. Andaikata kita tidak bertemu di sini, agaknya aku pun akan mencarimu di Min-san untuk minta bantuanmu."
Girang hati Beng San bahwa teman baiknya ini tidak melanjutkan bicaranya tentang Li
Cu. Ia sudah merasa malu sekali kalau orang bicara tentang gadis-gadis yang pernah membuat hidupnya kacau-balau. Dengan penuh gairah ia lalu berkata,
"Katakanlah, Twako. Apakah urusan yang mengganggumu? Tentu adikmu ini dengan hati lapang siap sedia membantumu."
"Kalau hanya menghadapi urusan pribadi, mana aku berani mengganggumu, Adik Beng San? Hanya ada satu macam urusan yang memaksaku minta bantuan siapapun juga."
"Urusan negara?" Beng San menduga, tahu akan watak laki-laki raksasa itu. Tan Hok mengangguk. "Patriot-patriot palsu itu benar-benar menjemukan. Mereka kini mengacau dan berusaha merampas kedudukan Kaisar Thai Cu, merasa bahwa mereka lebih berhak daripada bekas pahlawan Giu Goan Ciang. Hemm, benar-benar tidak ubahnya dengan anjing-anjing yang memperebutkan bangkai srigala yang tadinya mereka keroyok."
"Aku sudah mendengar juga tentang itu, Twako. Malah sudah bertemu dengan Ho-hai Sam-ong yang bersekongkol dengan Raja Muda Lu Siauw Ong. Aku mendengar tentang rencana mereka yang akan bergerak dari luar dan dari dalam."
"Bagus!" Tan Hok melompat bangun, lalu duduk kembali di atas akar pohon. "Jadi mereka sudah bersekongkol pula? Lebih mudah kalau begitu untuk sekaligus menghancurkan mereka. Adikku, karena inilah maka aku minta bantuanmu. Aku dan teman-temanku dari Pek-lian-pai sudah siap dan malah Kaisar telah memberi pula bantuan pasukan untuk merampas para pemberontak tak tahu malu itu. Sin-te, dengan kau di sampingku, aku akan merasa kuat untuk menghadapi mereka yang tak boleh dipandang ringan itu. Dan...perlu kuberitahukan kepadamu, yang kausebut Lu Siauw Ong tadi, dia itu adalah mertua dari kakak kandungmu Tang Beng Kui. Jadi... kalau kau membantuku, kau tentu akan berhadapan dengan Tan Beng Kui sebagai musuh."
Beng San mengangguk. "Hal itu pun aku sudah tahu, Twako." Kemudian secara singkat Beng San menuturkan pertemuannya dengan kakak kandungnya itu di rumah Ho-hai Sam-ong. Hanya soai Li Cu tidak ia ceritakan.
Tan Hok senang mendengar ini. "Kalau begitu, mari kau ikut denganku. Kita akan bergerak dari utara, membersihkan pemberontak-pemberontak yang datang dari sana. Ho- hai Sam-ong takkan berani sembarangan bergerak kalau komplotan-komplotannya dari utara belum kuat benar membantunya."
"Aku bersedia membantumu, Twako. Hanya saja... aku masih belum tahu pasti, belum yakin akan tujuan pergerakanmu sekarang ini. Orang-orang itu saling memperebutkan kedudukan dan semua yang kudengar menyatakan bahwa Kaisar sekarang ini, bekas pemimpin pejuang Ciu Goan Ciang adalah seorang yang tidak adil. Sekarang ternyata kau membantu Kaisar, Apakah menurut pendapatmu Kaisar Thai Cu yang betul dan mereka yang tidak puas itu salah?"
"Adikku Beng San, kau tidak mengerti tentang keadaan negara, memang hal ini tidak aneh karena kau tidak mempedulikannya. Akan tetapi aku yang selalu mengikuti perkembangannya, dapat melihat dengan nyata. Dengarlah kata-kataku ini, Adikku. Sudah jelas bahwa dalam perjuangan menumbangkan kekuasaan Mongol, pemimpin besar Ciu Goan Ciang membuktikan bahwa dialah seorang pemimpin yang pandai dan hanya dia yang akan dapat memimpin rakyat dan memajukan negara yang baru saja terbebas dari belenggu penjajahan. Andaikata bukan Ciu Goan Ciang yang dalam
perjuangan dapat menyatukan semua unsur kekuatan rakyat, mana perjuangan melawan Mongol bisa tercapai?"
Tan Hok berhenti sebentar untuk meredakan gelora dalam dadanya, lalu disambungnya perlahan dan tenang,
"Bahaya yang mengancam keadaan negara masih belum lenyap. Bangsa Mongol yang melarikan diri ke utara setiap waktu tentu hendak mencoba merampas kembali tanah jajahannya. Belum lagi bangsa-bangsa lain yang hendak mengambil keuntungan dari keadaan kacau-balau sehabis perang. Kita semua membutuhkan bimbingan seorang yang kuat lahir batin, sedangkan perjuangan membuktikan bahwa hanya Ciu Goan Ciang yang mempunyai kemampuan untuk tugas berat itu. Pengangkatan dirinya sebagai Kaisar sudah disetujui oleh semua pemimpin para pejuang." Kembali ia berhenti.
Akan tetapi Beng San mengemukakan pendapatnya. "Mengapa kalau begitu, masih banyak orang merasa kurang puas dan menganggap dia kurang adil karena tidak memberi kedudukan kepada para bekas pejuang?"
"Memang kalau menurutkan pendapat setiap orang yang selalu mementingkan dirinya sendiri, di dunia ini tidak akan pernah ada keadilan. Mana bisa timbul keadilan kalau semua orang menghendaki bahwa yang enak-enak dan yang baik-baik itu seyogianya diberikan kepadanya saja? Soal kedudukan bukanlah hal semudah orang bicarakan. Tentu saja Kaisar harus memilih orang dengan hati-hati untuk didudukkan atas suatu pangkat, disesuaikan dengan kecakapan orang itu. Bagaimana nanti jadinya kalau seorang bekas kepala perampok diangkat menjadi menteri yang mengurus kekayaan negara? Bagaimana akan jadinya kalau seorang yang hampir tak pandai menulis diangkat menjadi menteri kebudayaan? Seorang yang buta akan urusan pemerintah diangkat menjadi menteri urusan negara? Tentu akan menjadi makin kacau kalau hal-hal semacam itu dilakukan hanya untuk memenuhi pamrih bekas-bekas pejuang yang menganggap diri sendiri paling berjasa itu." Kembali Tan Hok bicara penuh semangat.
"Kalau begitu, menurut anggapan Twako, Kaisar Thai Cu atau bekas pejuang Ciu Goan Ciang itu adalah seorang yang sempurna dan semua rakyat harus saja mentaati apa yang ia kehendaki?"
Tan Hok tertawa. "Adikku. Tidak ada seorang manusia yang sempurna sama sekali di dunia ini. Para dewa sekalipun masih belum sempurna karena masih tak luput dari kesalahan. Tentu saja Kaisar tidak terkecuali. Aku takkan membantah kalau ada orang yang dapat mengemukakan kesalahan-kesalahan, cacad-cacad atau kekurangan- kekurangan Kaisar. Setiap manusia sudah pasti mempunyai kekurangan-kekurangan dan cacad-cacadnya, Akan tetapi dalam hal kenegaraan, adalah keliru kalau menilai kedudukan seseorang dari tabiat pribadinya. Seharusnya dilihat pelaksanaan dari tugasnya, hasil dari pekerjaannya, dan kemampuan dari dirinya. Kiraku tidak ada orang yang lebih pandai dan lebih bijaksana dan lebih tepat untuk menduduki singgasana daripada Kaisar yang sekarang ini. Oleh karena mengingat bahwa dia adaiah pusat dari kekuatan kerajaan yang baru, pusat dari pemerintahan sesudah kaum penjajah jatuh,
maka sudah seharusnyalah kalau kita mendukung dan membantunya. Bukan semata-mata membela pribadi Ciu Goan Ciang yang sekarang sudah menjadi Kaisar Thai Cu, melainkan mendukung dan membela pemimpin dari bangsa kita. Kalau tidak kita bela, lalu pimpinan terjatuh ke dalam tangan orang yang tidak bijaksana, tidak mampu, apalagi yang jahat seperti bekas-bekas kepala rampok macam Ho-hai Sam-ong, ah, akan bagaimanakah jadinya dengan negara kita?"
Setelah mendengarkan penjelasan dan penuturan Tan Hok secara panjang lebar, akhirnya Tan Beng San menyatakan suka ikut dan membantu Tan Hok untuk menggempur dan menghalau para pemberontak yang hendak mendatangkan kekacauan itu. Hal ini bukan semata-mata karena bangkitnya semangat oleh uraian Tan Hok, melainkan untuk melupakan atau menghibur kehancuran hatinya. Ia merasa malu untuk pulang ke Min- san, untuk berhadapan muka dengan Bi Goat, isterinya yang tercinta itu. Memang kadang-kadang hatinya penuh rindu, perasaannya hancur kalau ia teringat betapa Bi Goat sudah mengandung ketika ia tinggalkan ke Hoa-san. Sudah mengandung beberapa bulan. Inilah sebabnya mengapa ia melarang ketika Bi Goat menyatakan keinginan hatinya hendak ikut pergi dengan suaminya itu ke Hoa-san.
Di puncak sebuah bukit kecil yang ditumbuhi beberapa batang pohon raksasa terdapat sebuah rumah papan yang kecil menyendiri. Tak ada rumah lain dari puncak sampai ke kaki bukit kecuali pondok kecil itu. Sunyi sepi Sekelilingnya, namun harus diakui bahwa hawa udara amat sejuk dan pemandangan alam amat indahnya dari puncak itu. Di lereng dan kaki bukit tampak pohon-pohon kecil menghijau. Hanya di puncak itulah adanya beberapa pohon raksasa yang sudah tua dan amat besar lagi tinggi.
Seperti biasanya setiap hari, pada pagi hari itu pun sunyi, seakan-akan tidak ada penghuninya. Akan tetapi kesunyian pagi itu tidak lama karena segera terdengar lapat- lapat suara tangisan seorang wanita, tangisan yang amat memilukan. Terisak-isak wanita itu menangis, kemudian terdengar keluhannya.
"Kaubunuhlah aku... bunuhlah aku... ah, alangkah keji hatimu, kau melebihi segala iblis... kaubunuhlah aku ..... "
Lalu disusul suara laki-laki, suaranya halus tapi penuh ejekan.
"Kau selalu minta mati saja, sudah sebulan lebih permintaanmu tak lain hanya itu saja. Bosan aku mendengarnya. Bukankah sudah jelas bahwa aku amat sayang kepadamu, bahwa aku cinta kepadamu? Manis, apakah kau bosan tinggal di tempat sunyi ini? Apakah kau ingin ikut denganku merantau ke utara? Di sana indah sekali. Pernah kau menyaksikan gurun pasir?"
"Aku tidak inginkan apa-apa kecuali mati. Kau bunuh sajalah aku." lagi-lagi suara wanita itu memohon.
"Sudahlah, mari kau ikut ke utara. Tentu kau senang dan kau akan melihat betapa besar cintaku kepadamu." Laki-laki itu tertawa dan tak lama kemudian tampaklah seorang laki-
laki muda yang tampan keluar dari pondok itu, memondong seorang wanita muda cantik yang lemas tak berdaya, agaknya telah tertotok jalan darahnya.
Laki-laki muda itu bukan lain adalah Siauw-coa-ong Giam Kin, pemuda raja ular yang jahat itu. Adapun wanita yang bukan lain adalah Lee Giok atau Nyonya Thio Ki yang telah ditawan dan dilarikannya sebulan yang lalu, Lee Giok kelihatan pucat dan berduka sekali, akan tetapi ia tidak berdaya karena memang kalah kuat dan kalah tinggi kepandaiannya.
Setelah tiba di luar pondok, Lee Giok berkata sambil menarik napas panjang, "Giam Kin, agaknya Thian sudah menakdirkan aku menjadi teman hidupmu. Sudahlah aku tidak akan membantah lagi dan aku mau ikut denganmu ke utara. Asal selama hidupku aku tidak akan bertemu dengan, suamiku dan kau membawa ku ke tempat yang jauh, aku menurut."
Giam Kin girang sekali dan memeluknya. "Betulkah kata-katamu ini? Aha, bagus sekali, adikku yang tercinta. Mari kubawa kau ke sorga di utara dan kita hidup bahagia. Ha-ha- ha." Seperti orang gila Giam Kin memeluk nyonya muda itu sambil menari-nari.
"Hush, gila kau! Tak usah aku kau gendong-gendong terus seperti orang lumpuh, hayo lepaskan totokan pada tubuhku dan aku akan jalan sendiri di sisimu selama hidupku."
Giam Kin sambil tersenyum-senyum dan menggoda-goda dengan ceriwis sekali lalu menurunkan Lee Giok dan menotok beberapa jalan darahnya lalu mengurut punggung nyonya muda yang cantik itu. Ia tidak takut membebaskan Lee Giok karena kalau Lee Giok melawan, dengan mudah ia akan dapat mengatasinya kembali.
Setelah terbebas dari totokan Lee Giok terhuyung-huyung lemas. Memang tubuhnya lemas sekali, terbawa oleh perihnya perasaannya yang ditahan-tahan. Ketika Giam Kim maju memeluknya untuk mencegahnya jatuh, ia berkata, suaranya halus mesra,
"Biarkan aku mengaso di bawah pohon ini dulu, aku... aku pening dan lesu sekali."
Sambil memeluknya Giam Kin membawa Lee Giok ke bawah pohon raksasa dan mendudukkannya di atas akar pohon itu yang keluar dari dalam tanah seperti tubuh ular besar, Lee Giok menjatuhkan diri duduk di situ, ia lalu meramkan matanya mengumpulkan tenaga. Ketika ia meramkan mata, terbayanglah wajah suaminya dan terbayang pula pengalamannya, ketika ia tertawan oleh Giam Kin. Hatinya seperti ditusuk-tusuk pisau rasanya dan tak tertahankan lagi kembali air matanya be bercucuran turun.
"Ah, kekasihku, lagi-lagi kau menangis .... " Giam Kin mendekat dan hendak merangkul
leher Lee Giok.
Tiba-tiba Lee Giok menggerakkan kedua tangannya memukul ke depan sekuat tenaganya. Giam Kin memang sudah siap sedia karena orang yang cerdik ini mana mau percaya begitu saja akan sikap menyerah dari nyonya muda yang selalu berkeras
membencinya ini? Cepat ia melompat mundur untuk menghindarkan diri dari penyerangan tiba-tiba ini. Lee Giok juga melompat berdiri dan memandang kepada Giam Kin penuh kebencian.
"Manusia iblis! Aku Lee Giok bersumpah takkan mau hidup sebelum menghancurkan kepalamu, membelah dadamu dan mencabut keluar isi dadamu." teriaknya penuh kemarahan yang meluap-luap.
"Heh-heh, galaknya tapi malah lebih manis." Giam Kim mengejek. "Kau perempuan tak tahu disayang orang. Aku ingin membikin kau bahagia dan ingin mencintamu selamanya. Kiranya kau seorang yang tidak punya jantung. Baiklah, aku akan menjadikan kau barang permainanku, kalau sudah bosan akan kulempar ke jurang biar menjadi makanan serigala."
Lee Giok tidak sudi mendengarkan lagi, terus saja ia menerjang dengan kaki tangannya, mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk membunuh manusia yang dibencinya ini, yang telah merusak hidupnya. Namun, seperti beberapa kali yang sudah- sudah, kali ini pun ia tidak berhasil mengalahkan Giam Kin yang memang amat lihai itu. Ia malah dipermainkan oleh Giam Kin yang mengelak ke sana ke mari, berloncatan sambil mengejek dan menggoda. Ia ingin membuat Lee Giok kelelahan lebih dulu untuk kemudian ditawan lagi dan dipermainkan. Memang pada dasarnya hati Giam Kin memiliki kekejaman yang luar biasa, sudah bukan seperti manusia lagi. Hal ini tidak aneh kalau dipikir bahwa dia adalah murid tunggal dari manusia iblis Siauw-ong-kwi dan semenjak kecil sudah banyak melakukan kekejaman-kekejaman.
Tubuh Lee Giok masih amat lesu, maka dipermainkan oleh Giam Kin ia menjadi makin payah dan lemas. Namun dengan nekat nyonya muda ini menyerang terus mati-matian dengan tekad membunuh atau mati dalam pertempuran ini.
Tiba-tiba terdengar suara aneh di atas, suara melengking yang amat nyaring menggetarkan jantung. Kemudian dari puncak pohon raksasa di bawah mana dua orang itu sedang bertempur, melayang turun seekor burung raksasa yang
....berbulu kuning emas. Di punggung burung itu duduk seorang wanita muda cantik yang sinar matanya tajam dan liar. Sebelah tangannya memegang sebuah cambuk berekor lima di mana terikat lima batang anak panah hijau. Di punggungnya tergantung sebuah pedang pusaka. Inilah Kwa Hong yang menunggang burung rajawali emas yang sakti itu.
"Hi-hi-hik, Giam Kin, kebetulan sekali. Tak usah aku mencarimu kau sekarang mengantar nyawa kepadaku." kata Kwa Hong ketika ia mengenal isteri dari suhengnya, Thio Ki. Akan tetapi ia tidak menegur Lee Giok yang tadi amat terdesak hebat oleh Giam Kin itu. Sinar kuning emas menyambar turun dan burung itu telah menerkam ke arah kepala Giam Kin.
Bukan main kagetnya Giam Kin melihat penyerangan ini. Cepat ia melompat mundur dan membentak, "Siapa kau?"
Bergidik juga ia melihat wanita cantik menunggang burung rajawali yang bermata liar itu, sementara itu Lee Giok segera mengenal Kwa Hong. Ia girang mendapat bala bantuan, akan tetapi juga heran dan kaget sekali menyaksikan keadaan Kwa Hong yang tidak wajar ini.
"Adik Hong .... !" serunya.
Burung itu masih beterbangan berputar-putar di atas mereka. Kwa Hong berkata dengan suara mengejek,
"Lee Giok, tidak lekas lari menanti apalagi? Apa kau mengharapkan tertawan oleh lawanmu yang tampan ini? Heh-heh-heh, kau mau main gila di belakang suamimu, ya?"
Kalau ada halilintar menyambar kepalanya, kiranya Lee Giok takkan begitu kaget seperti ketika ia mendengar ejekan ini. Sejenak ia memandang dengan mata terbelalak kepada Kwa Hong yang duduk di punggung burung. Lalu terlihat olehnya, sepasang mata yang mengerikan itu. Lee Giok tertusuk hatinya, sambil terisak-isak ia lalu lari pergi dari situ, diikuti suara ketawa yang mengerikan dari Kwa Hong. Dasar watak Giam Kin mata keranjang dan keji. Melihat nona cantik jelita di punggung burung itu, ia segera tertarik sekali hatinya. Ia sudah mengenal sekarang wanita muda yang duduk di punggung burung itu. Kwa Hong murid Hoa-san-pai yang cantik itu, yang dulu pernah membuat ia tergila-gila juga (baca Raja Pedang). Karena dia sendiri seorang berwatak keji, maka sinar ganas dan liar pada sepasang mata Kwa Hong itu baginya malah mendatangkan perasaan menyenangkan, malah menjadikan Kwa Hong makin manis dalam pandang matanya. Pula ia memandang rendah kepada Kwa Hong, karena murid Hoa-san-pai saja sampai di mana sih kelihaiannya?
"Aha, kukira tadi siapa. Tidak tahunya adik manis dari Hoa-san-pai. Turunlah Nona manis dan mari bersenang-senang dengan aku. Boleh aku membonceng di punggung burungmu yang indah itu?"
Tiba-tiba sinar hijau menyambar, sebagai jawaban. Giam Kin tertawa mengejek akan tetapi segera ketawanya berubah seruan kaget ketika lima batang anak panah itu menyambar kepadanya dengan kecepatan yang amat luar biasa, seperti kilat menyambar, Ia menjatuhkan diri di atas tanah dan hanya dengan cara begini ia dapat menyelamatkan dirinya.
Celaka baginya, wanita yang duduk di punggung rajawali emas itu lihai bukan main. Burungnya menyambar-nyambar rendah dan anak panah-anak panah di ujung cambuk itu terus menyambar-nyambar dengan pukulan dahsyat sekali. Giam Kin mencabut suling ularnya dan berusaha menangkis, akan tetapi baru dua kali menangkis saja sulingnya itu terlepas dari tangannya dan mencelat entah ke mana. Demikian hebatnya tenaga pukulan Kwa Hong sampai-sampai dia sendiri tidak mampu menangkisnya. Mulailah pengejaran yang mengerikan. Giam Kin lari ke sana ke mari, namun burung itu terus mengejar dan sinar hijau bersuitan di atas kepalanya. Giam Kin menjadi pucat sekali, keringat dingin
bercucuran keluar. Ia menjatuhkan diri, bergulingan, tapi ke manapun juga ia selalu dikejar sinar hijau itu yang diikuti suara ketawa. Baru sekarang telinga Giam Kin mendengar suara ketawa yang mengerikan sekali, tidak semerdu tadi.
"Mampus kau ..... hi-hi-hik, mampus kau...!"
Akibatnya Giam Kin yang belum sekali juga terkena anak panah itu, menjadi lemas saking lelah dan ketakutan. Gerakannya lambat dan tiba-tiba sepasang cakar burung yang kuat sekali mencengkeram tubuhnya bagian dada dan kepala. Terdengar suara daging dan kulit dirobek-robek diiringi suara ketawa melengking tinggi dari Kwa Hong. Beberapa kali Giam Kin mengeluarkan pekik kesakitan dan ketakutan, kemudian hening kembali di situ.
Ketika burung rajawali yang ditunggangi Kwa Hong itu terbang lagi ke atas, di bawah pohon raksasa itu tertinggal tubuh Giam Kin yang tak bergerak dan dalam keadaan mengerikan sekali. Pakaiannya robek-robek, dan penuh darah yang bercucuran dari dada dan mukanya yang juga sudah terobek-robek oleh cakar cakar tajam tadi. Matanya sebelah kiri hancur, telinga kirinya juga lenyap, mulutnya robek lebar, dadanya terbeset kulitnya dan lengan kirinya dicengkeram sedemikian rupa oleh cakar rajawali sehingga semua urat-urat besarnya terputus dan lengan itu kiri kaku dengan jari-jari mencengkeram saking menahan sakit. Matikah Giam Kin? Pada saat itu masih belum, karena terdengar rintihan perlahan dari dadanya. Tapi kalau orang menyaksikan keadaannya, tentu takkan dapat mengharapkan dia dapat hidup lagi. Sementara itu, Lee Giok terus berlari cepat sambil menangis terisak-isak. Ia telah terlepas dari cengkeraman tangan Giam Kin. Akan tetapi apa gunanya? Lebih baik ia mati saja. Mana mungkin ia dapat menentang wajah suaminya lagi. Lebih baik dia mati daripada menanggung aib yang hebat. Lebih baik ia terjun ke dalam jurang yang curam. Akan tetapi, apa pula artinya kalau ia mati tanpa ada yang mengetahuinya kelak? Tetap saja ia akan mati dalam keadaan menanggung malu. Lebih baik dia ke Hoa-san dan mati di sana agar suaminya kelak tahu bahwa ia telah menebus aib itu dengan nyawanya. Di Hoa-san ia harus mati, agar suaminya tahu bahwa sampai detik terakhir ia masih teringat kepada suaminya, masih ingin mendekatinya biarpun hanya dengan maksud mendekatkan arwahnya dengan Hoa-san. Selain itu, alangkah akan besar dosanya kalau ia mati membawa anak dalam kandungannya. Bukankah jtu berarti ia akan membunuh anak itu?, Anaknya? Anak suaminya? Tidak, ia harus menanti, biarpun hatinya akan remuk-redarm Harus menanti sampai anak dalam kandungannya yang sudah tiga bulan itu lahir.
Lee Giok berlari terus sampai akhirnya tubuhnya terguling menggeletak di tengah hutan saking tidak kuat lagi, saking lelahnya. Sambil merintih-rintih ia merangkak ke bawah pohon yang bersih, lalu membaringkan tubuh dan pikirannya melayang-layang. Hidupnya rusak oleh Giam Kin.Yang menjadi biang keladi adalah Kim-thouw Thian-li dan Hek- hwa Kui-bo. Semangatnya sebagai seorang gagah dalam diri Lee Giok bangkit ketika ia mengingat akan tiga orang ini. Akan sia-sia belaka kalau ia mati sebelum ia mampu membalas, sebelum ia mampu melenyapkan tiga manusia iblis itu dari permukaan bumi. Kepandaiannya memang masih belum begitu tinggi untuk mengalahkan mereka, akan tetapi ia dapat memperdalam kepandaiannya.
Setelah tidur semalam di hutan itu, pada keesokan harinya Lee Giok melanjutkan perjalanannya dengan hati yang sudah mengambil dua buah keputusan, yaitu sebelum ia membunuh diri untuk mencuci noda pada dirinya, ia harus lebih dulu melahirkan anak dalam kandungannya, kemudian tugasnya yang kedua ialah membunuh tiga orang musuh besarnya itu. Ia tidak boleh mati sekarang, ia malah harus kuat dan harus dapat memperdalam ilmunya. Pikiran inilah yang menyelamatkan nyawa Lee Giok dan dengan hati teguh nyonya muda ini melanjutkan perjalanannya menuju Hoa-san. Gunung Min-san berada di tapal batas antara Propinsi Se-cuan, Cing-hai, dan Kan-su. Gunung ini amat indah pemandangannya dan merupakan pegunungan yang subur. Sungai-sungai besar yang amat terkenal seperti Sungai Kuning dan Sungai Yang-ce- kiang, boleh dibilang mendapatkan sumber mata airnya dari Pegunungan Min-san ini, sungguhpun masih banyak pegunungan lain yang menjadi sumbernya pula.
Di antara puncak-puncak Pegunungan Min-san inilah menjadi tempat tinggal Song-bun- kwi Kwee Lun yang dahulunya amat terkenal di dunia kang-ouw dengan julukan Song- bun-kwi. Ia dijuluki Song-bun-kwi (Setan Berkabung) karena selalu memakai pakaian putih berkabung semenjak isterinya meninggal dan ia hidup merantau dengan puteri tunggalnya, Kwee Bi Goat.
Setelah sekarang Kwee Bi Goat menikah dengan Tan Beng San dan hidup bahagia di Min-san, Kwee Lun ini tidak patut lagi dijuluki Song-bun-kwi karena ia tidak lagi berpakaian berkabung, juga tidak lagi hidup seperti yang sudah-sudah, yaitu seperti manusia iblis yang ditakuti orang. Kakek ini sekarang hidup tenang dan tenteram di Pegunungan Min-san ini, malah setiap hari bertani atau samadhi memperdalam ilmu batinnya.
Adapun Kwee Bi Goat yang dahulunya gagu (baca cerita Raja Pedang), tapi sekarang telah sembuh, menjadi isteri yang cantik jelita dan penuh kasih sayang bagi Beng San. Suami isteri ini bersama Kakek Kwee hidup aman dan damai di Min-san. Namun, nasib manusia memang tidak menentu seperti air laut, kadang-kadang surut. Baru beberapa bulan saja mereka hidup penuh madu kasih dan kebahagiaan di Min-san, datanglah seorang tosu dari Hoa-San-pai yang minta bantuan Beng San untuk menolong Hoa-san- pai yang sedang ditimpa malapetaka karena pengamukan Kwa Hong. Dan seperti telah diceritakan di bagian depan, Beng San yang mengingat akan hubungannya dengan Hoa- san-pai dahulu, terpaksa pergi meninggalkan isterinya yang tercinta yang diakhiri dengan kehancuran hatinya se hingga membuat ia tidak berani pulang dan tidak berani bertemu muka dengan isterinya.
Berbulan-bulan Bi Goat menanti kembalinya suaminya dengan hati penuh rindu dan kekuatiran. Akhirnya ia tidak dapat menahan lagi hatinya yang penuh rasa kegelisahan. Ia takut kalau-kalau suaminya tertimpa bencana karena sudah terlalu lama meninggalkan rumah tanpa ada kabar beritanya dan juga tidak kelihatan pulang. Bi Goat lalu minta pertolongah ayahnya untuk pergi menyusul Beng San ke Hoa-san dan mencarinya sampai dapat.
"Hemmm, baru ditinggal beberapa bulan saja kau sudah rewel." Kwee Lun mengomel. "Sudah lama aku tidak meninggalkan gunung, kalau turun gunung kutakut akan kumat penyakitku yang lama." Kakek yang dulu dijuluki setan berkabung itu mula-mula menolak permintaan puterinya. Ia sudah mulai senang dengan hidup bersunyi di puncak yang indah itu, menikmati ketenteraman hidup di hari tua.
"Ayah, jangan salah mengerti. Bukan sekali-kali karena aku terlalu manja dan tidak bisa ditinggalkan suami yang pergi menjalankan tugas sebagai orang gagah. Tetapi, harap Ayah ketahui bahwa sekarang kandunganku sudah lima bulan. Bagaimana kalau sampai tiba saatnya melahirkan tidak ada ayahnya di sini? Ayah, apa kau tidak kasihan kepadaku?" Suara Bi Goat menggetar dan hati kakek yang dulu dianggap manusia iblis itu mencair.
"Baiklah... baiklah... dasar bocah yang jadi mantuku itu tidak tahu diri. Akan kucari dia dan kuseret pulang." Sambil mengomel panjang pendek, kakek yang pernah menjadi tokoh nomor satu di dunia kang-ouw sebelah barat itu akhirnya turun gunung meninggalkan Min-san untuk menyusul dan mencari anak mantunya, Tang Beng San.
Sebulan sudah Song-bun-kwi Kwee Lun meninggalkan Min-san. Pada suatu sore Bi Goat duduk seorang diri di pekarangan depan rumahnya. Dengan penuh harapan, seperti setiap sore yang lalu, ia duduk menanti kalau-kalau ayah dan suaminya pulang. Para pelayan yang tidak kurang enam orang banyaknya, sudah selesai bekerja dan sedang asyik mengobrol di belakang rumah. Bi Goat duduk seorang diri menghadapi cangkir teh dan makanan yang mengandung daya penguat badan. Ayahnya banyak memberikan makanan seperti ini untuknya.
Mendadak ia.mendengar suara aneh di udara. Ketika ia mengangkat muka, Bi Goat terheran-heran melihat seekor burung yang besar dan indah sekali terbang berputaran di atas puncak itu. Cahaya matahari senja yang merah membuat bulu burung itu kelihatan kuning kemerahan, amat indahnya seperti emas.
" kata Bi Goat kagum sekali. Mendadak wajahnya berubah dan nyonya muda ini cepat barigkit berdiri dari kursinya. Ia melihat sesuatu yang aneh, sesuatu yang ajaib. Ada seorang wanita menunggang burung rajawali itu. "Ah, burung rajawali kalau aku tidak salah ....
"Mimpikah aku?" gumamnya seorang diri sambil menggosok-gosok matanya. Tidak, ia tidak mimpi. Malah kini burung itu menukik turun dan tak lama kemudian burung itu sudah sampai di atas tanah, hanya belasan meter jauhnya dari tempat Bi Goat berdiri. Wanita muda dan cantik itu melompat turun dari punggung rajawali dan dengan hati berdebar Bi Goat mendapat kenyataan bahwa wanita itu sedang mengandung. Malah perutnya lebih besar daripada perutnya sendiri. Kandungannya sudah tua. Wanita itu melangkah maju, agak terhuyung-Huyung.
Bi Goat adalah seorang yang pada dasarnya memiliki budi yang halus. Melihat wanita
yang mengandung tua ini terhuyung-huyung dan nampak letih, mukanya pucat, ia cepat lari menghampiri dan merangkul pundaknya.
"Hati-hatilah, Cici .... " katanya halus.
Wanita itu bukan lain adalah Kwa Hong. Kemarahannya ketika tadi turun dan menduga bahwa wanita cantik yang juga sudah mengandung di depannya itu tentulah isteri Beng San, agak mereda oleh sikap halus Bi Goat. Pernah ia melihat Bi Goat, akan tetapi hanya seben tar maka ia sudah lupa lagi (baca cerita Raja Pedang). Demlkian pula Bi Goat, biarpun pernah bertemu dengan Kwa Hong, tapi karena baru sekali dan hanya sebentar, ia pun sudah lupa lagi.
"Di mana Beng San? Aku ingin bicara padanya," kata Kwa Hong menahan marah, suaranya agak ketus dan sama sekali ia tidak menyambut baik sikap halus dari Bi Goat tadi.
Bi Goat terkejut, tapi ia menjawab juga. "Suamiku sudah beberapa bulan turun gunung, sampai sekarang belum pulang," jawabnya masih halus dan hati-hati ia bertanya, "Tidak tahu siapakah Cici ini dan ada keperluan apalah mencari suamiku?"
"Hemm, jadi kau ini Bi Goat, dara baju merah yang dulu gagu itu?" tanya Kwa Hong, suaranya mengejek dan pandang matanya menyapu Bi Goat dari atas ke bawah.
Kini Bi Goat mulai curiga. Pandang matanya tajam menyelidik. "Kau siapakah dan apa keperluanmu datang ke Puncak Min-san ini?"
"Heh, kau sudah lupa kepadaku. Aku Kwa Hong .... "
"Ohhh, murid Hoa-san-pai?"
"Bodoh! Ketua Hoa-san-pai, bukan murid! Aku datang mencari Beng San. Mana dia?"
"Sudah kukatakan tadi, dia sedang pergi." Bi Goat mulai tak senang hatinya. "Aku mencari Beng San, bukan suamimu."
"Ben-San adalah suamiku!" jawabnya Bi Goat sekarang agak ketus.
Kwa Hong tersenyum mengejek, lalu melirik ke arah perut Bi Goat. Tanyanya penuh ejekan, "Berapa bulan kau mengandung?"
??" Wajah Bi Goat menjadi merah sekaii. Kalau ia tidak ingat bahwa yang mengajukan pertanyaan ini pun sedang mengandung, tentu ia akan menjadi marah. "Sudah enam bulan mengapa?" "Heee?? Kenapa ....
Kembali Kwa Hong tersenyum mengejek. "Seharusnya kau bilang baru enam bulan, bukannya sudah enam bulan. Jadi baru enam bulan, kan? Lihat kandunganku ini sudah
sembilan bulan. Mana lebih dulu? Sebelum menjadi suamimu, Beng San sudah menjadi ayah anak yang kukandung ini, tahu??"
Seketika wajah Bi Goat menjadi pucat sekali. Ucapan Kwa Hong itu betul-betul merupakan pedang yang menusuk tembus jantungnya. Gemetar seluruh tubuhnya dan suaranya menggigil ketika ia berseru, "Kau... kau bohong .... !!"
Kwa Hong memperlebar senyumnya. "Kalau tidak percaya kautanyakan saja kepada Beng San. Hayo, mana dia? Panggil dia keluar, dia harus menyaksikan kelahiran anaknya .... " Tiba-tiba Kwa Hong mengeluh sambil memegangi perutnya.
?" Bingung juga Bi Goat melihat Kwa Hong tiba-tiba terhuyung dan tentu sudah roboh kalau tidak cepat ia tangkap lengannya. Ia melihat wajah Kwa Hong pucat sekali, mulutnya merintih-rintih dan keadaannya hampir pingsan. "Dia sedang pergi... hee, bagaimana ini?? Kau kenapa, Cici ....
Memang pada dasarnya Bi Goat seorang yang berhati mulia. Biarpun ia tadi marah sekali dan perasaannya seperti ditusuk-tusuk mendengar ucapan Kwa Hong, namun melihat keadaan nyonya muda yang akan melahirkan itu ia menjadi tidak tega dan cepat-cepat menolong.
" demikian Kwa Hong mengeluh perlahan ketika siuman. Sementara itu, Bi Goat sudah berseru memanggil para pelayannya dan Kwa Hong lalu digotong masuk ke dalam rumah. Karena dia sendiri sedang mengandung, maka Bi Goat memang sudah mengundang seorang wanita tua yang ahli menolong orang beranak dan yang disuruh tinggal di rumahnya. Maka Kwa Hong dapat menerima pertolongan yang cepat. "Biarlah... aku... aku harus melahirkan... di tempat tinggal... Beng San ....
Dalam keadaan setengah sadar saking menahan sakit, Kwa Hong mengigau dan bercerita Bi Goat tentang perhubungannya dengan Beng San dahulu, juga tentang pertemuannya yang terakhir. Semua diceritakan oleh Kwa Hong sehingga Bi Goat yang mendengarkan ini hanya dapat menangis dengan hati hancur. Dia amat mencinta Beng San, sejak dahulu ia mencinta Beng San dengan seluruh jiwa raganya. Ia tidak rela kalau Beng San membagi cintanya dengan wanita lain, maka dapat dibayangkan betapa hebat dan parah luka yang ditimbulkan oleh penuturan Kwa Hong ini di dalam hatinya.
Pada tengah malam hari itu, dari dalam rumah Bi Goat terdengarlah suara pertama dari seorang bayi yang terlahir. Tangisnnya memecahkan kesunyian malam, nyaring melengking. Tangis seorang bayi laki-laki yang montok dan sehat. Tak lama kemudian terdengar lengking lain susul-menyusul menjawab tangis bayi ini, suara lengking tinggi yang datangnya dari atas rumah. Itulah suara lengking rajawali emas yang menanti munculnya Kwa Hong sambil mendekam dl atas wuwungan genteng rumah itu. Entah mengapa binatang itu melengking, mungkin karena tangis bayi itu hampir sama dengan suaranya sendiri.
Biarpun hatinya hancur, Bi Goat siang malam menunggu Kwa Hong dan merawatnya
dengan baik. Sepekan kemudian Kwa Hong sudah sembuh, Ia menggendong anaknya dengan penuh kasih sayang, lalu ia keluar dari rumah itu memanggil rajawali emas. Burung itu yang mulai tak sabar dan setiap hari berkaok-kaok di depan rumah, menjadi girang sekali dan menyambar turun, Bi Goat yang berwajah pucat sekali mengikuti Kwa Hong dari belakang.
"Cici Hong, kau baru sepekan melahirkan, jangan pergi dulu .... " katanya menahan.
Akan tetapi Kwa Hong tidak peduli, membawa anaknya melompat ke arah punggung rajawaii, lalu berkata,
"Katakan kepada Beng San kalau dia pulang, bahwa aku tidak bisa membunuhnya karena kalah kuat, dan aku tidak bisa membunuhmu karena kau telah menolongku ketika aku melahirkan. Akan tetapi kelak anak inilah yang akan membunuh Beng San, kau dan semua anak anak dan keluargamu!" Setelah berkata demikian, Kwa Hong menepuk leher rajawali emas yang segera melengking tinggi dan melesat, terbang ke atas dengan cepat sekali.
Untuk beberapa lama Bi Goat berdiri bengong kemudian ia mengeluh dan tubuhnya menjadi lemas. Ia roboh pingsan di depan pintu rumahnya. Para pelayan segera mengejar keluar dan sibuk menolong nyonya muda yang menderita kehancuran hati ini. Bie Goat jatuh sakit dan semenjak hari itu ia tidak kuat lagi bangun dari tempat tidurnya. Badannya panas dan setiap kali panasnya naik, ia mengigau menyebut-nyebut nama suaminya dan Kwa Hong. Setiap kali ia berusaha untuk tidak mempercayai semua omongan Kwa Hong, namun hal itu amat sukar baginya. Diharap-harapkan kedatangan suaminya agar dapat ia bertanya tentang Kwa Hong. Pengharapan bahwa suaminya akan menyangkal semua itu merupakan sinar kecil yang masih menerangi hatinya, penuh harapan. Akan tetapi, suaminya tak kunjung pulang, malah ayahnya juga yang mencari dan menyusul suaminya itu, belum juga pulang.
Dua bulan ia jatuh sakit itu, sementara kandungannya makin besar, sudah delapan bulan ia mengandung. Pada suatu sore, datanglah Song-bun-kwi Kwee Lun, Bi Goat yang sudah agak kuat segera turun dari tempat tidurnya dan keluar meyambut.
"Ayah, mana dia? Mana Beng San .... ?" tanyanya dengan nada suara penuh harapan.
Kwee Lun kaget sekali melihat puterinya menjadi begini kurus dan wajahnya begini pucat. "Bi Goat, kau kenapakah? Sakitkah kau? tanyanya gugup sambil melangkah maju. "Ayah, mana suamiku? Mana Beng San?" Bi Goat tidak mempedulikan pertanyaan ayahnya, tapi mendesak menanyakan suaminya.
Terpaksa Kwee Lun menjawab, "Aku tidak dapat menjumpai dia. Kabarnya dia ke utara, mungkin terlibat lagi dalam urusan pemberontakan terhadap kaisar baru. Ah, anak itu memang tak tahu diri."
Kekecewaan hebat merupakan palu godam yang menghantam pertahanan terakhir di hati
Bi Goat. Matanya terbelalak, lalu tertutup dan tubuhnya limbung. Cepat Kwee Lun merangkul dan ayah yang gelisah dan keheranan ini segera memondong tubuh puterinya, dibawa masuk ke dalam kamar Bi Goat. Dengan suara parau Kwee Lun memanggil pelayan-pelayan yang segera berlari mendatangi, memaki-maki mereka yang dikatakan tidak melayani Bi Goat sebaiknya.
Setelah siuman kembali Bi Goat menangis terus, tidak mau menjawab pertanyaan ayahnya. Dan pada malam itu juga Bi Goat melahirkan kandungannya yang belum penuh sembilan bulan itu. Kelahiran yang sukar sekali, membuat nenek yang membantunya bermandi peluh, para pelayan kebingungan dan semua ini membuat Kwee Lun yang menjaga di luar kamar menjadi makin gelisah.
Beberapa kali Bi Goat pingsan dan kalau sudah siuman ia memanggil-manggil nama Beng San, mengeluh tak kuat lagi. Akhirnya menjelang pagi lahirlah bayi dalam kandungannya. Tangisnya keras sekali membuat Kwee Lun melonjak kaget dari tempat duduknya. Bagaikan gila kakek ini lalu mendorong pintu kamar untuk segera melihat wajah cucunya. Apa yang ia lihat?
Ia berdiri tegak seperti patung raksasa, mukanya pucat, matanya melotot bukan memandang kepada bayi laki-laki yang bergerak-gerak dan menangis hebat itu, melainkan ke atas ranjang, memandang kepada Bi Goat yang telentang tak bergerak, dengan mata setengah terbuka dan mulut menyeringai kesakitan, wajah yang putih dan mata yang tak bersinar lagi karena berbareng dengan lahirnya bayinya ibu muda yang malang ini telah ditinggalkan nyawanya.
Untuk beberapa lama Song-bun-kwi Kwee Lun berdiri tegak dengan muka pucat, telinga seperti tuli tidak mendengar suara tangis bayi yang bercampur dengan tangis para pelayan, tidak melihat betapa nenek pembantu kelahiran itu sibuk membersihkan bayi kemudian membungkusnya dengan kain putih bersih.
Akhirnya tampak air mata berkumpul di pelupuk mata tua itu, kemudian setetes demi setetes air mata mengalir turun. Bibir kakek itu bergerak-gerak, lalu terdengar suaranya parau, "Bi Goat... kenapa kau mati .... ? Habis aku bagaimana ....
" Berulang-ulang kalimat ini keluar dari mulutnya, kemudian ia menubruk maju dan kakek ini menangis menggerung-gerung sambil memeluki mayat Bi Goat.
Sampai lama ia menangis seperti anak kecil. Ketika ia mengangkat kembali mukanya yang menjadi basah air mata, matanya merah dan mengerikan. Ia sudah berhenti menangis secara tiba-tiba, lalu ia memandang ke sana ke mari, menyapu ruangan itu dengan sinar matanya yang beringas. Ketika ia melihat nenek pembantu kelahiran yang duduk di pojok dengan ketakutan, ia melompat maju dan sekali terkam nenek itu sudah diangkatnya lalu dibantingnya ke lantai. Sekali banting saja nenek itu tidak berkutik lagi, kepalanya pecah dan nenek yang malang itu tewas tanpa dapat bersambat lagi, Song-bun- kwi Kwee Lun makin beringas, matanya liar.
"Ampun, Lo-ya (Tuan Tua)... ampun hamba semua tidak berdosa. Nyonya muda jatuh
sakit setelah kedatangan seorang nyonya yang mengaku bernama Kwa Hong dan yang melahirkan anak di rumah ini. Menurut pengakuannya, Nyonya Kwa Hong itu adalah isteri pertama Siauw-ya (Tuan Muda)... eh, bukan isteri... hubungan di luar nikah... datangnya menunggang rajawali emas, mengerikan sekali, Lo-ya... semenjak itulah Nyonya Muda lalu jatuh sakit .... "
Mendengar ini, Kwee Lun mengeluarkan suara/ menggereng seperti seekor binatang buas, lalu terdengar suaranya, "Beng San, keparat kau... mampus kau olehku ....
!" Dan tubuhnya yang tinggi besar itu bergerak lagi, kini sekali sambar ia telah mencengkeram buntalan kain yang terisi bayi yang masih menangis nyaring itu. Bukan main tangis bayi itu, seakan-akan dalam kelahirannya ia me nangisi kematian ibunya. Begitu lahir anak ini sudah harus menghadapi kematian ibunya. Betapa memilukan.
!" Kwee Lun mengangkat buntalan itu tinggi-tinggi seperti hendak membantingnya. "Mampus kau ....
"Lo-ya..., ampunkan anak itu yang tidak berdosa .... "
"Lo-yaaaa, ampun .... !"
"Jangan, Lo-ya, jangan .... !" Para pelayan itu menjerit-jerit.
Jerit tangis pelayan ini seakan-akan menyadarkan Kwee Lun, matanya tidak lagi menatap buntalan, melainkan liar menyapu ke kanan kiri, kemudian terdengar ia menggereng dan tubuhnya berkelebat lenyap dari situ. Kakek itu lari keluar dan turun gunung membawa buntalan bayi, cucunya yang baru saja lahir.
Tak ada jalan lain bagi para pelayan itu kecuali mengurus jenazah Bi Goat dan nenek bidan itu. Dengan bantuan penduduk kampung di kaki bukit yang mereka mintai bantuan, dua jenazah itu dikuburkan di belakang rumah dengan upacara sederhana. Para pelayan itu hanya dua yang tinggal untuk mengurus rumah dan menanti kembalinya Beng San.
Rencana yang masih dirundingkan oleh utusan Raja Muda Lu Siauw Ong dan Ho-hai Sam-ong, benar-benar dilaksanakan oleh dua golongan yang haus akan kedudukan dan berusaha menggulingkan kekuasaan kaisar baru, Thai Cu. Mereka ini benar-benar terlalu percaya kepada kekuatan sendiri sehingga biarpun rahasia mereka itu telah diketahui oleh Li Cu dan Beng San yang sudah berhasil meloloskan diri, namun tetap saja mereka melanjutkan rencana itu. Mereka berhasil mengumpulkan banyak sekali pasukan bajak dan perampok, juga pihak Raja Muda Lu Siauw Ong yang bertugas merampas tahta selagi Kaisar pergi, berhasil menghasut pasukan besar tentara.
Pada hari yang sudah ditentukan, rombongan Kaisar Thai Cu berangkat dari kota raja menuju ke utara, yaitu ke kota raja lama di Peking. Rombongan ini dikawal oleh sepasukan tentara pilihan, yaitu para pengawal pribadi kaisar. Sebagai seorang bekas panglima perang, Kaisar Thai Cu tidak gentar melakukan perjalanan jauh ini walaupun ia sudah tahu akan adanya banyak golongan yang tidak suka kepadanya karena tidak diberi
kedudukan tinggi seperti yang mereka inginkan. Akan tetapi sama sekali Kaisar ini belum tahu akan siasat busuk yang direncanakan Ho-hai Sam-ong dan Raja Muda Lu Siauw Ong yang sudah bersekongkol itu.
Di sepanjang jalan rakyat dusun menyambut Kaisar baru itu dengan meriah. Agaknya rakyat amat mengagumi Kaisar yang telah berhasil membebaskan negara dari penjajahan bangsa Mongol itu. Orang-orang bersorak dan memberi hormat, di mana-mana rombongan Kaisar disambut tari-tarian daerah. Malah setiap dusun tentu mengutus orang- orang muda yang gagah perkasa untuk mengiring rombongan ini sampai di dusun lain, lalu diganti oleh para muda dusun ini, demikian seterusnya.
Kaisar amat gembira dengan ini semua. Disangkanya bahwa hal itu memang sudah semestinya karena rakyat merasa gembira dapat terbebas daripada penjajahan. Sama sekali Kaisar ini tidak tahu bahwa biarpun sudah terbebas daripada penjajahan Mongol, sesungguhnya rakyat kecil apalagi para petani masih sama sekali belum bebas daripada belenggu penjajahan para tuan tanah yang kadang-kadang malah lebih keras dan kejam daripada penjajah Mongol sendiri. Juga Kaisar ini tidak tahu bahwa sebagian sebagian besar dari para pengiring ini, yang sebagai orang-orang kampung, adalah orang-orang gagah dari Pek-lian-pai dan para bekas pejuang yang setia kepadanya. Mereka ini anak buah dari Tan Hok yang sudah mengatur sedemikian rupa sehingga rombongan Kaisar selalu terkawal anak buahnya. Malah yang mengawal secara sembunyi masih banyak lagi, ada yang mendahului rombongan ada yang mengiring dari jauh di belakangnya.
Tan Hok memang hebat. Raksasa ini semenjak berkecimpung dalam perjuangan ternyata telah makin matang sebagai seorang pemimpin dan pengatur siasat yang ulung. Secara cepat sekali ia mendengar penjelasan dari Beng San tentang persekongkoian antara Beng Kui dan Ho-hai Sam-ong, ia pergi ke kota raja dan bersama para panglima pasukan yang setia kepada Kaisar itu lalu berunding dan membuat rencana.
Cepat pula ia menyiapkan pasukan Pek-lian-pai dan teman-teman seperjuangan yang terpilih, yaitu orang-orang yang memiliki kepandaian cukup, untuk secara diam- diam mengiringi, mengawal atau melindungi rombongan Kaisar yang hendak pergi ke utara. Juga Beng San sendiri ia serahi tugas yang paling berat, yaitu mengawal Kaisar secara sembunyi. Tan Hok maklum akan kelihaian Beng San, maka tugas penting ini ia serahkan kepada Beng San, sedangkan ia sendiri perlu mengatur pasukan gabungan di kota raja untuk menindas dan mengempur pemberontakan dari dalam yang hendak dilakukan oleh Raja Muda Lu Siauw Ong.
Ketika Kaisar menggunakan perahu naga menyeberangi Sungai Huang-ho, keadaan di sungai juga ramai bukan main.
Para nelayan seakan-akan datang segenap penjuru untuk mengelu-elukan kaisar baru ini. Juga di sini Kaisar tidak tahu bahwa para nelayan ini sebagian besar adalah anggauta- anggauta Pek-lian-pai, malah ada pula beberapa orang anak buah Ho-hai Sam-ong menyelinap, dan ada beberapa orang pembunuh datang untuk mencari kesempatan baik menghabiskan nyawa Kaisar Thai Cu. Maka, amat kagetlah Kaisar dan para pengiringnya
ketika perahu sampai di tengah sungai di kanan kiri perahu tiba-tiba timbul enam mayat
di permukaan air. Mayat-mayat ini adalah mayat orang-orang yang tadinya berusaha melubangi perahu dengan jalan menyelam di bawahnya. Namun anak buah Tan Hok yang waspada dan memang sudah dipilih ahli-ahli dalam air, telah mengetahui akan hal ini dan cepat mereka itu pun menyelam. Terjadi pertandingan di bawah perahu, di dalam air yang amat hebat tanpa diketahui oleh mereka yang berada di permukaan air. Tahu- tahu mayat para penjahat itu timbul di permukaan air mengagetkan semua orang. Kaisar buru-buru memerintahkan agar perahu dipercepat penyeberangannya.
Setelah tiba di seberang Sungai Huang-ho sebelah utara dan rombongan memasuki sebuah hutan yang lebat, mulailah terjadi penyerangan yang dilakukan oleh Ho-hai Sam- ong dan pasukannya yang sudah beberapa hari menghadang di tempat ini. Mendadak terdengar sorak-sorai bergemuruh dan pasukan bajak dibantu oleh pasukan mereka yang tidak puas melihat Cu Goan Ciang menjadi Kaisar, berserabutan keluar dari tempat persembunyian dengan senjata di tangan.
"Bunuh Ciu Goan Ciang!"
"Seret Kaisar lalim!"
Demikianlah ucapan-ucapan yang ditujukan kepada Kaisar dan mulailah terjadi pertempuran hebat antara para penyerbu dan para pengawal Kaisar. Makin lama makin banyaklah penyerbu. Kaisar sendiri agaknya tenang-tenang saja karena semenjak penyeberangan tadi tidak memperlihatkan diri, bersembunyi saja di dalam tandunya yang sekarang terpaksa diturunkan dan dilindungi oleh beberapa orang pengawal pribadi.
Tiba-tiba Ho-hai Sam-ong sendiri, tiga orang kepala bajak yang lihai itu, meloncat ke dekat tandu Kaisar ini. Mereka memang sengaja mencari Kaisar dan hendak turun tangan sendiri. Melihat tandu dengan tanda pangkat Kaisar, dan bendera berkibar di atasnya, Ho- hai Sam-ong girang sekali. Mereka mengeluarkan tanda suitan. Bermunculan Hek-hwa Kui-bo, Kim-thouw Thian-li, dan banyak lagi kepala rampok dan orang-orang dari golongan hek-to (jalan hitam) datang menyerbu ke tempat itu.
Para pengawal pribadi dengan gigih menyambut serbuan orang-orang ini, namun dalam beberapa gebrakan saja robohlah belasan orang pengawal dan Lui Cai Si Bajul Besi sendiri dengan sebuah loncatan meninggalkan kawan-kawannya yang sedang menandingi para pengawal pribadi itu, langsung mendekati tandu. Senjatanya berupa dayung baja yang besar berat itu sudah diayunnya, mulutnya berseru,
"Ha-ha-ha, Ciu Goan Ciang. Lihat baik-baik, ini Lui Cai datang menghancurkan kepalamu."
Tiba-tiba kain tenda dari joli itu terbuka dan keluarlah seorang laki-laki tua dengan tubuh menggigll dan muka pucat. Tangan Lui Cai yang memegang dayung gemetar, ia berteriak sambll melangkah mundur. Kiranya orang yang berada di dalam joli bukanlah Kaisar, melainkan seorang yang menyamar sebagai Kaisar dan memakai pakaian kaisar.
"Celaka .... !" serunya dengan muka pucat. "Kita telah terjebak... dia bukan Kaisar!"
Sementara itu, para pengawai pribadi Kaisar amat repot menghadapi amukan kepala- kepala bajak itu yang dibantu oleh Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li yang ganas. Akan tetapi tiba-tiba terdengar seruan marah berkelebat cepat didahului sinar pedang yang gemilang. Robohlah beberapa orang penjahat bagaikan alang-alang dibabat dan dalam waktu singkat saja pengamuk ini sudah berhadapan dengan Ho-hai Sam-ong dan dua orang pembantunya yang paling dahsyat bersama sepuluh orang lagi kepala rampok.
"Ho-hai Sam-ong, kalian benar-benar ingin mampus!" teriakan yang nyaring tapi merdu terdengar lantang. Kiranya yang muncul ini bukan lain adalah Cia Li Cu yang sebetulnya sudah sejak tadi mengamuk di sebelah luar hutan untuk menerjang masuk. Seperti diceritakan di bagian depan, Li Cu juga mendengar semua rencana busuk yang diatur oleh Beng Kui dan Ho-hai Sam-ong, maka cepat-cepat gadis ini pulang menemui ayahnya dan menceritakan semua yang ia alami, kecuali pengalamannya dengan Beng San. Sebagai seorang patriot berjiwa besar, Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan marah bukan main mendengar bahwa muridnya yang pertama, murid yang dicintanya dan malah yang akan menjadi mantunya, telah menyia-nyiakan Li Cu. Hal ini masih belum berapa hebat seperti ketika ia mendengar bahwa Beng Kui hendak berkhianat. Wajahnya menjadi merah, matanya berkilat-kilat lalu ia menyuruh Li Cu berangkat lagi untuk diam-diam melindungi Kaisar sementara dia sendiri menuju ke kota raja untuk berhadapan dengan Beng Kui, muridnya.
Demikianlah, Li Cu segera melakukan perjalanan cepat dan kedatangannya tepat sekali pada saat para pemberontak itu menyerbu ke dalam peperangan dan mengamuk dengan pedang pendek Liong-cu-kiam yang tajam dan ampuh.
Ketika Ho-hai Sam-ong melihat Li Cu mereka menjadi marah sekali. Lui Cai melompat maju dan memaki, "Siluman cilik! Tentu kau yang telah membuka rahasia dan Kaisar sengaja bersembunyi. Kaulah yang bosan hidup, sekarang kami takkan mau mengampunimu lagi." Dayungnya menyambar dahsyat, akan tetapi segera ia tarik kembali ketika pedang Liong-cu-kiam sengaja dibabatkan oleh Li Cu sambil tersenyum. Lui Cai sudah mengenal ketajaman pedang itu dan kelihaian gadis ini, maka untuk bertempur seorang melawan seorang kiranya dia takkan dapat menang.
"Ji-te, Sam-te, hayo kita binasakan bocah ini dulu." teriaknya sambil memutar dayung. Kiang Hun dan Thio Ek Sui yang juga merasa amat kecewa melihat bahwa yang duduk di dalam joli itu bukan Kaisar segera memutar senjata dan mengeroyok Li Cu. Sebentar saja Li Cu sudah sibuk dikeroyok tiga oleh Ho-hai Sam-ong, seperti ketika ia dikeroyok di atas perahu dahulu itu. Akan tetapi ia tidak gentar dan pedangnya diputar cepat untuk melayani orang musuhnya yang benar-benar tangguh
tiga itu. Sementara itu, Hek-hwa Kui-bo dan muridnya, juga para kepala rampok yang tadinya menyerbu ke situ untuk bersama-sama membinasakan Kaisar, sekarang sudah mulai bertempur kembali menghadapi para pengawal yang kini dibantu oleh orang-orang Pek- lian-pai yang tadinya menyamar sebagai petani dan nelayan. Makin banyaklah anggauta-
anggauta Pek-lian-pai berdatangan, malah yang mendahului rombongan Kaisar sudah pula diberi tahu dan sekarang mereka datang menyerbu dari utara. Hal ini membuat para pemberontak terdesak hebat, apalagi karena di pihak Pek-lian-pai terdapat banyak orang- orang gagah yang tinggi kepandaiannya.
Melihat pihaknya terdesak hebat, Ho-hai Sam-ong menjadi gelisah. Bagaimana dapat muncul demikian banyaknya yang membantu Kaisar? Tak salah lagi, ini tentu jebakan yang sengaja diatur oleh Kaisar yang dulunya juga seorang panglima perang yang pandai. Dan tentu karena rahasia mereka sudah dibocorkan oleh gadis puteri Bu-tek Kiam-ong ini. Kemarahan Ho-hai Sam-ong terhadap Li Cu makin menjadi.
"Hek-hwa Kui-bo, harap bantu kami menangkap gadis liar ini." seru Lui Cai. Mendengar ini, Hek-hwa Kui-bo yang tadinya sibuk menghadapi pengeroyokan banyak orang Pek- lian-pai, bersuit keras. Inilah tanda bagi para anggauta perampok untuk menahan penyerbuan musuh agar dia dan Ho-hai Sam-ong tidak terganggu dalam usaha mereka menangkap Li Cu. Sebentar saja Li Cu terdesak makin hebat setelah Hek-hwa Kui-bo datang mengeroyoknya. Gadis ini dengan gigih mempertahankan dirinya.
"Ho-hai Sam-ong dan Hek-hwa Kui-bo jangan banyak bertingkah!" tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan tahu-tahu di situ sudah muncul Beng San dengan tangan kosong.
Diam-diam Li Cu girang bukan main, akan tetapi melirik pun ia tidak mau ke arah Beng
San. Adapun Ho-hai Sam-ong ketika melihat kedatangan pemuda yang amat lihai itu, seketika menjadi pucat. Serentak mereka menyerang pemuda yang bertangan kosong itu. Yang paling cepat menyambar tubuh Beng San adalah tambang di tangan Kiang Hun. Beng San menggerakkan tangan menangkap ujung tambang dan sekali membetot tambang itu putus menjadi dua, tepat di tengah-tengah sehingga separoh tambang itu berada di tangan Beng San dan menjadi senjatanya. Ketika Beng San menggerak-kan tambang itu, kiranya ia tidak kalah hebat memainkan senjata aneh ini dari pada Kiang Hun.
Li Cu mendapat angin. Pedangnya bergerak cepat dan robohlah Thio Ek Sui sambil menjerit keras. Dadanya tertembus Liong-cu-kiam, Kiang Hun menjadi gugup sehingga kembali pedang Liong-cu-kiam menyerempet pundaknya. Ia memekik dan meloncat hendak lari, tetapi dari belakangnya menyambar dua batang tombak anggauta Pek-lian- pai sehingga Kiang Hun juga roboh binasa. Dengan tambangnya Beng San menghadapi Lui Cai yang mengamuk mati-matian, dibantu oleh Hek-hwa Kui-bo. Sedikit saja Lui Cai terlambat bergerak, jalan darahnya di dada telah disentuh oleh ujung tambang itu. Ia roboh lemas dan kembali pedang Liong-cu-kiam di tangan Li Cu bekerja, menamatkan riwayat kepala Ho-hai Sam-ong ini.
!" Beng San cepat meniup dengan mulutnya ke depan, malah mengebut-ngebutkan kedua tangan untuk mengusir asap beracun berwarna merah. Namun terlambat, Hek-hwa Kui-bo tadi dengan cepatnya mengebutkan saputangannya dan asap kemerahan menyambar ke depan, ke arah Li Cu. Gadis ini baru saja menewaskan Lui Cai dan kurang waspada. Biarpun ia sudah mengelak karena seruan "Nona Cia, awas ....
Beng San, namun masih ada asap yang memasuki hidungnya. Ia mengeluh, terhuyung- huyung dan pedangnya terlepas dari pegangan. Beng San cepat memeluk dan memondongnya sambil menyambar Liong-cu-kiam. Ia masih melihat Hek-hwa Kui-bo menyambar tangan muridnya melarikan dirl di antara banyak orang yang bertempur. Ia tidak peduli lagi. Yang paling perlu Li Cu harus dibawa pergi dari tempat berbahaya itu. Sekali meloncat ia sudah lolos dari kepungan musuh, lalu mengerjakan kakinya untuk merobohkan setiap orang penghalang, langsung ia membawa Li Cu ke tempat sunyi di lain bagian dari hutan itu.
Di bawah sebatang pohon besar yang amat sunyi di dalam hutan itu, Beng San cepat menurunkan Li Cu dan memeriksanya. Sedikit banyak dia telah mempelajari ilmu pengobatan dari mertuanya, Song-bun-kwi Kwee Lun, terutama mengenai akibat senjata beracun. Ketika ia menurunkan tubuh Li Cu dan melihat muka gadis itu, ia kaget bukan main. Wajah Li Cu sepucat salju dan napasnya sesak hampir berhenti. Dari mulut yang terengah-engah itu tercium bau wangi yang memuakkan, yaitu bau racun asap kemerahan yang tadi kena tersedot oleh gadis ini.
Beng San memutar otak. Menurut keterangan dari mertuanya, mengobati akibat dari keracunan hanya dua macam, pertama memasukkan racun yang berlawanan atau obat penawar ke dalam tubuh si sakit untuk memerangi racun itu. Ke dua, mengeluarkan racun dari tubuh si sakit. Kalau Li Cu terluka oleh senjata beracun, ia dapat mengeluarkan racun itu dengan menyedot lukanya sehingga racun yang sudah bercampur dengan darah itu dapat tersedot keluar. Adapun Li Cu terserang racun bukan melalui luka, melainkan racun itu langsung memasuki paru-parunya melalui mulut, bagaimana ia akan dapat mengeluarkan racun dari dalam paru-paru?
Dalam bingungnya karena baru pertama kali ini menghadapi orang keracunan oleh racun asap, Beng San dapat mengambil keputusan. Ia merasa yakin bahwa satu-satunya jalan untuk menolong gadis itu adalah mengeluarkan asap yang masuk ke dalam paru-parunya. Ia maklum pula atau dapat menduga bahwa cara pertolongan ini amat berbahaya bagi dirinya sendiri. Akan tetapi pada saat itu ia tidak mempedulikan keselamatan diri sendiri. Untuk menolong orang, terutama orang seperti Li Cu ini, ia tidak perlu takut-takut mengorbankan diri sendiri.
Ketika ia sudah mengambii keputusan ini dan hendak mulai dengan usaha pertolongannya, tiba-tiba mukanya menjadi kehijauan karena ia merasa jengah dan malu. Akan tetapi ia mengeraskan hatinya. Pada saat nyawa Li Cu terancam bahaya seperti itu, ia tidak perlu ingat lagi akan tata susila kosong dan akan hukum adat yang berlaku mengenai kesopanan antara pria dan wanita.
Cepat ia mengangkat kepala Li Cu, lalu tanpa ragu-ragu ia membuka mulut gadis itu dengan jari tangannya. Kemudian ia menunduk dan menempelkan mulutnya sendiri pada mulut Li Cu lalu ia menyedot dengan pengerahan tenaga khi-kang sekuatnya. ia merasa betapa hawa yang dingin seperti es memasuki rongga dadanya. Tubuhnya menggigil dan cepat ia melepaskan mulutnya, perlahan-lahan menurunkan kepala gadis itu dan ia lalu duduk bersila, mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya, menyalurkan Iwee-kang nya
untuk melawan hawa dingin di rongga dada itu. Hawa Thai-yang di dalam tubuhnya segera bekerja. Dari pusarnya naik hawa panas seperti api membara, terus hawa panas ini ia desak ke atas, menyerbu ke rongga dada dan menghan-tam hawa dingin yang tadi memasuki dadanya melalui mulut Li Cu. Terjadinya perang tanding antara kedua hawa ini, akan tetapi tenaga dalam dan hawa Thai-yang di tubuh Beng San memang mujijat sekali. Dengan hati lega orang muda itu merasa betapa perlahan-lahan tapi tentu hawa dingin itu buyar dan lenyap.
Setelah hawa dingin di dalam rongga dadanya itu lenyap, ia membuka mata. Li Cu masih belum sadar dan napasnya masih terengah-engah biarpun tidak seberat tadi. Ia kembali menempelkan mulutnya pada mulut Li Cu dan menyedot lagi. Seperti tadi, hawa dingin memasuki dadanya, tapi sebentar saja buyar dihantam tenaga Thai-yang. Girang hati Beng San. Tubuh gadis yang tadinya sudah dingin itu sekarang agak hangat dan ketika ia menyedot untuk ke empat kalinya, ia merasa betapa tubuh Li Gu ber-gerak sedikit.
Kalau saja Beng San tahu bahwa pada saat itu Li Cu sudah setengah sadar, sudah pasti ia akan cepat-cepat melepaskan mulutnya yang menyedot. Di lain pihak, Li Cu yang mulai sadar, seolah-olah dalam mimpi. Hampir ia tak dapat percaya akan pandangan mata dan perasaan tubuhnya sendiri. Benarkah orang itu Beng San? Dan benarkah Beng San melakukan perbuatan seperti ini terhadap dirinya? Saking kaget, malu, ngeri dan marah, Li Cu pingsan kembali, bukan pingsan karena pengaruh racun asap, melainkan pingsan karena hantaman perasaannya melihat perbuatan Beng San terhadap dirinya.
Ketika Li Cu siuman kembali, ia membelalakkan kedua matanya. Ia melihat betapa muka Beng San sudah mendekati mukanya dan dalam anggapannya, Beng San sedang berbuat kurang ajar dan hendak "menciumnya" lagi. Di samping pemandangan yang mengagetkan ini, ia melihat hal lain yang membuat ia cepat menjerit sambil mendorong tubuh Beng San sekuat tenaga. Tubuh Beng San terpental dan Li Cu merasa betapa tenaga dorongannya tadi mendatangkan rasa dingin yang menyakitkan di dadanya. Dan pada saat itu juga, ia mencoba untuk mengelak dengan menggulingkan tubuhnya, namun tetap saja pukulan yang datang itu mengenai pundaknya, membuat tubuhnya terpental lebih jauh daripada Beng San. Terdengar suara orang menggereng seperti binatang buas, gerengan orang yang tadi memukul. Pukulan itu sebetulnya ditujukan ke arah punggung Beng San. Baiknya pada saat itu Li Cu siuman dan pukulan orang inilah yang membuat ia menjerit dan mendorong tubuh Beng San, malah pukulan itu setelah tidak mengenai tubuh Beng San, malah mengenai dirinya sendiri.
Beng San melompat bangun dengan kaget sekali. Tadi seluruh perhatiannya ia tujukan untuk mengobati Li Cu sehingga kesadaran gadis itu pun tidak diketahuinya. Maka kedatangan orang yang menyerangnya secara diam-diam itu pun sama sekali tidak ia ketahui. Kini ia merasa kaget sekali setelah tadi tubuhnya didorong ke pinggir oleh Li Cu, kaget bukan main karena ia melihat ayah mertuanya, Song-bun-kwi Kwee Lun sudah berdiri di depannya seperti seorang iblis mengerikan. Pakaian ayah mertuanya yang semenjak ia ikut ke Min-san dahulu sudah menjadi biasa seperti seorang kakek petani, sekarang ia lihat kembali seperti dulu lagi, yaitu pakaian putih, pakaian berkabung.
Anehnya lagi di dada kakek ini tergantung seorang bayi dalam gendongannya, bayi yang nampaknya tidur nyenyak.
"Gak-hu (Ayah Mertua) .... "
"Bangsat! Laki-laki mata keranjang, kau meninggalkan isteri untuk main gila dengan perempuan lain?" bentak Song-bun-kwi Kwee Lun dengan kemarahan meluap-luap.
! Dia telah menyedot racun Ngo-hwa dari Hek-hwa Kui-bo... aku berusaha menyedot keluar racun itu dan“Tidak... tidak demikian .... Gak-hu, harap jangan salah sangka ....
.... ”
Song-bun-kwi menggereng lagi. "Apapun juga alasanmu, anakku tak dapat hidup lagi!"
Mendadak ia menyerang dengan hebatnya, menghantam kepala mantunya itu.
Semenjak dahulu Beng San memang tidak suka kepada Song-bun-kwi yang memang pernah hidup sebagai seorang yang keji. Malah beberapa kali sudah Beng San hampir dibunuhnya di waktu pemuda ini masih kecil (baca Raja Pedang). Sekarang pun ia menjadi marah karena disangka yang bukan-bukan oleh mertuanya ini dan malah sekarang ia diserang dengan pukulan maut. Akan tetapi ketika ia mendengar kalimat terakhir "anakku tak dapat hidup lagi", ia merasa matanya gelap dan serasa jantungnya berhenti berdetik.
"Apa katamu?" bentaknya dan tangannya menangkis tangkisan ini hebat, membuat tubuh Song-bun-kwi seketika terpental ke belakang dan hampir roboh. Teringat kepandalan Beng San memang sudah hebat sekali dan Sons-bun-kwi maklum bahwa ia tidak akan mampu mengalahkan mantunya. Maka ia menyeringai keji dan berkata penuh geram
"Kau pembunuh anakku, lain kali aku pasti akan mencarimu mengadu nyawa!" setelah berkata demikian kakek ini menggereng dan lari cepat sekali membawa bayi dalam gendongannya.
Untuk sesaat Beng San berdiri dengan muka berubah hijau karena hatinya gelisah bukan main. Kemudian ia teringat akan bayi di gendongan mertuanya itu. Ia menghitung-hitung dalam benaknya dan teringat bahwa sudah lewat beberapa bulan sejak waktu kandungan isterinya tiba saatnya dilahirkan. Anak itu tadi ..... ? Apa yang terjadi? Tiba-tiba seperti
orang gila Beng San memekik.
"Bi Goat .... !" Dan tubuhnya melesat seperti seekor burung terbang, pergi dari tempat itu.
Sementara itu, terjadi keanehan pada diri Li Cu. Seperti dituturkan di atas tadi, setelah mendorong tubuh Beng San ke samping, pukulan yang dilakukan oleh Song-bun-kwi mengenai pundak Li Cu yang membuat tubuh Li Cu terlempar. Pukulan itu bukan pukulan biasa, karena tadi Song-bun-kwi sengaja melakukan pukulan dari Ilmu Yang-sin- hoat untuk membunuh Beng San. Pukulan itu mengandung hawa Yang-kang yang amat kuat. Dan biarpun sudah dielakkan oleh Li Cu, pukulan itu mengenai pundaknya dan
terasalah hawa yang luar biasa panasnya menjalari tubuhnya. Dan hawa panas ini lalu bertemu dengan sisa hawa dingin yang masih mengeram di tubuhnya, yang masih belum disedot keluar oleh Beng San. Dua hawa dahsyat ini bertemu dan... buyarlah keduanya. Pukulan maut dari Song-bun-kwi tadi malah menyembuhkan sama sekali penderitaan Li Cu akibat racun asap Hek-hwa Kui-bo.
Tadinya hati Li Cu penuh dengan kemarahan dan ia menganggap bahwa Beng San sudah berlaku jahat dan kurang ajar kepadanya, sudah menciuminya di waktu ia pingsan. Bukan main sakit hatinya pada saat itu. Akan tetapi setelah ia mendengar pengakuan Beng San kepada Song-bun-kwi tadi bahwa perbuatannya itu adalah usaha menolongnya dari bahaya maut, tak terasa pula air matanya jatuh berderai dan ia terisak-isak. Hatinya terharu bukan main. Sudah terlalu sering ia menyangka Beng San sebagai orang jahat, sebagai laki-laki kurang ajar, laki-laki mata keranjang. Dan ternyata ia telah menuduh yang bukan-bukan, telah memasukkan fitnah terhadap diri Beng San ke dalam pikirannya. Padahal sudah berkali-kali Beng San menolongnya, menolong keselamatan nyawanya dengan hati tulus iklas. Apalagi ketika ia melihat keadaan Beng San hatinya ikut hancur.
Li Cu menyambar pedangnya yang ditinggalkan Beng San di dekatnya, lalu melompat dan lari mengejar Beng San yang sudah lari jauh dengan kecepatan laksana terbang itu. Tak dapat ia menyusul Beng San, akan tetapi ia dapat menduga bahwa orang muda itu tentulah pergi ke Min-san. Sebetulnya ia boleh tak usah pedulikan Beng San. Akan tetapi ada sesuatu yang terjadi di dalam hatinya. Ia setengah dapat menduga bahwa telah terjadi sesuatu yang mengerikan pada diri isteri Beng San. Ia seperti melihat awan gelap di atas mengancam Beng San. Di samping ini, ia merasa bahwai ia harus selalu berdekatan dengan orang itu. Tak dapat lagi ia ditinggalkan, tak dapat lagi ia berpisah. Ia merasa kasihan kepada Beng San, juga kasihan kepda... diri sendiri karena ia pasti akan merana dan sunyi hidupnya kalau berjauhan dengan Beng San.
" rintihnya sambil mengusap air matanya yang berderai turun membasahi pipinya. "Ya Tuhan... mengapa aku menjadi begini"Beng San ....
?" ia mengeluh bingung. Tidak semestinya ia mengejar Beng San. Ia seharusnya kembali, seharusnya malah meninggalkan Beng San jauh-jauh. Setanlah yang menggodanya ini, setan yang membisikkan hal-hal yang tak boleh ia lakukan. Tapi... ah, mengapa hatinya bulat-bulat menyerah? Mengapa kakinya seperti tidak mau disuruh pergi ke lain jurusan? Ia teringat ayahnya, lalu bersambat lirih, ....
" Dan sementara itu kedua kakinya terus berlari cepat, menuju Min-san. Di dunia ini, apakah yang lebih berkuasa dan aneh daripada cinta? Apakah yang lebih gila daripada orang muda yang sudah mabok madu asmara? Cinta kasih atau asmara telah banyak sekali menimbulkan cerita dan peristiwa yang lebih aneh daripada dongengan. "Ayah... anakmu telah gila... telah gila ....
Dengan muka pucat kurus dan mata merah rambut awut-awutan pakaian compang- camping, setelah melakukan perjalanan terus-menerus, akhirnya Beng San sampai juga di puncak Min-san. Ketika ia memasuki halaman rumahnya, dua orang pelayan wanita yang
masih tinggal di situ hampir-hampir tidak mengenalnya. Sampai lama mereka memandang dengan bengong dan curiga, karena laki-laki muda yang berdiri di depan mereka itu lebih patut menjadi seorang pengemis yang liar daripada tuan muda mereka yang tampan.
?" Suara Beng San serak, entah sudah berapa ribu kali kalimat pertanyaan ini keluar dari mulutnya di sepanjang perjalanan pulang. "Mana nyonya muda"Bi Goat... mana Bi Goat ....
.... ?"
Setelah mendengar pertanyaan ini barulah dua orang pelayan tua itu merasa yakin bahwa yang berdiri di depan mereka sekarang ini adaiah "tuan muda" mereka.
"Siauw-ya (Tuan Muda) .... !" keduanya lalu menjatuhkan diri berlutut dan menangis
bersaing keras,
"Apa yang terjadi? Mana nyonya muda. Dia kenapa?" Akan tetapi dua orang pelayan itu menangis makin keras. Beng San tak sabar lagi. Sekali melompat ia telah memasuki rumah dan berlari-lari di dalam semua ruangan dan kamar, membuka dan menutup pintu seperti orang mengejar sesuatu. Seluruh bagian rumah, sampai ke kamar mandi, ia masuki namun sunyi sepi, tidak ada seorang pun manusia lagi kecuali dua orang pelayan wanita yang sedang menangis tersedu-sedu itu. Akhirnya terpaksa Beng San kembali ke ruangan depan di mana dua orang pelayan itu menangis. Tubuh Beng San menggigil, matanya berputaran, jantungnya serasa berhenti berdetik.
"Mana dia? Mana Bi Goat? Katakanlah, mana Bi Goat? Ahh... kuhancurkan kepalamu kalau tidak bicara." ia mengguncang-guncang pundak seorang pelayan yang menjadi ketakutan. Dengan muka pucat keduanya berhenti menangis, lalu dengan suara terputus- putus mereka bercerita,
"Mula-mula datang seorang nyonya bernama Kwa Hong... dia naik burung menakutkan... dia melahirkan anak di sini ditolong oleh Nyonya Muda... setelah dia dan anaknya pergi, Nyonya Muda jatuh sakit... tak pernah sehat lagi, lalu minta minta kepada Lo-ya (Tuan Tua) pergi menyusul Siauw-ya... tapi pulang tanpa Siauw-ya. Nyonya Muda makin sedih... lalu melahirkan dan... dan... tidak kuat... Nyonya Muda meninggal dunia .... " Tak
dapat tertahan lagi dua orang pelayan itu menangis terisak-isak.
Beng San meramkan mata, meringis kesakitan. Dadanya sebelah kiri serasa tertusuk, ubun-ubun kepalanya berdenyut-denyut. Ia tidak bisa menangis lagi, lehernya seperti dicekik dan bibirnya yang putih seperti kertas itu bergerak-gerak perlahan, lalu berhenti bergerak, ternganga dan pandang matanya jauh ke depan tak bersinar, seakan-akan ia sudah menjadi tubuh tak bernyawa, kehilangan semangatnya.
" Pelayan yang tertua menubruk kaki Beng San tak tahan melihat majikannya berhal demkian itu, Beng San bergerak perlahan lalu terdengar suara dari mulutnya, suara yang terdengar seperti suara dari jauh. "Siauw-ya... Siauw-ya ....
"Di mana makamnya... di mana dikuburnya .... ?"
"Maafkan hamba, Siau-ya... karena Lo-ya membawa anak bayi itu, hamba sekalian terpaksa mengajak saudara-saudara dari kaki. gunung untuk mengubur jenazah Nyonya Muda di pekarangan belakang rumah secara sederhana .... "
Beng San lalu melangkah perlahan dan lemas, menuju ke pekarangan belakang, diikuti dua orang pelayan yang masih menangis terisak-isak. Akhirnya ia berdiri tegak di depan sebuah kuburan yang masih baru, kuburan sederhana yang tidak diberi batu nisan, hanya ditanami bunga mawar gunung kesukaan Bi Goat dan pohon kembang itu sudah mulai berbunga.
"Bi Goat... ampun... isteriku... ampun..." Beng San roboh ke depan, mukanya terbanting dan terbenam pada gundukan tanah kuburan.
Dua orang pelayan itu cepat menolong Beng San yang sudah pingsan sambil turut menangis. Akan tetapi setelah siuman kembali Beng San menyuruh dua orang pelayan itu pergi meninggalkannya seorang diri di kuburan isterinya. Malam itu hujan turun deras, namun Beng San tidak beralih dari tempatnya, tidak bergerak dan terus-menerus terdengar suaranya memanggil-manggil nama Bi Goat dan minta ampun. Semenjak saat ia roboh pingsan di kuburan isterinya, sampai berhari-hari ia tidak pernah pergi meninggalkan tempat itu, tak pernah makan tak pernah tidur. Beberapa kali dua orang pelayan yang setia itu datang menangis dan membujuk-bujuknya, namun Beng San malah marah-marah dan mengusir mereka pergi dari depannya.
Sepuluh hari kemudian tubuh Beng San telah menjadi kurus dan wajahnya pucat kehijauan, matanya makin liar. Hanya karena tubuhnya yang terlatih dan mengandung tenaga luar biasa itu saja yang membuat ia masih dapat menahan. Dua orang pelayan itu sudah tak berdaya lagi, tidak berani mendekati Beng San karena tuan muda ini marah- marah kalau di "ganggu". Mereka menjadi putus asa dan merasa ngeri kalau membayangkan betapa pada suatu pagi mereka akan melihat tuan muda itu menggeletak dalam keadaan tak bernyawa karena kelaparan di kuburan itu.
Akan tetapi, seperti juga kelahiran takkan ada, kematian takkan menimpa diri seorang manusia kalau Tuhan belum menghendakinya. Demikian pula dengan Beng San. Orang muda ini bukannya sengaja bermaksud membunuh diri, akan tetapi ia sudah tidak mempedulikan keadaan sekelilingnya, ingatannya sudah berubah karena tekanan batin yang amat hebat. Kedukaan yang hebat, penyesalan yang bertubi-tubi menghantam batinnya, tak kuat ia menahannya sehingga ia seperti orang yang sudah tidak waras lagi otaknya. Namun agaknya Tuhan Maha Pengasih suka mengampunkan dosanya.
Malam hari itu hujan turun rintik-rintik. Dinginnya bukan main di Puncak Min-san. Di kuburan Bi Goat, Beng San duduk bersila menghadap kembang mawar yang sudah rontok dari tangkainya, mengeluh dan bersambat dengan suara lirih,
"Bi Goat, isteriku. Kau begitu mulia, begitu suci cintamu kepadaku... dahulu kau sampai rela Hendak mengorbankan nyawamu untukku ...., ah, Bi Goat, tidak kelirukah kau memilih aku? Aku tidak berharga mendapatkan cintamu... aku seorang yang rendah. Aku telah mengadakan hubungan dengan Hong-moi... menjadi ayah dari anak Hong-moi, tapi aku tidak berterus terang kepadamu... Bi Goat... aku laki-laki mata keranjang, laki-laki berhati lemah, mudah runtuh menghadapi wanita cantik. Ia berhenti sebentar dan terdengar isaknya tertahan.
"Bi Goat, kenapa kau belum juga datang? Marahkah kau kepadaku? Sudah sepatutnya kau marah... aku minta ampun, Goat-moi... aku berdosa kepadamu. Sekarang kuakui semua dosaku... betul, aku telah berlaku serong... aku merusak hidup Hong-moi, malah sebelum itu... aku pernah mencinta Thio Eng. Ah, aku laki-laki mata keranjang, dan aku hampir runtuh pula ketika bertemu dengan Nona Cia Li Cu... hatiku mencinta mereka semua itu, ah... padahal kau begitu suci cintamu... aku berdosa, ampunkan aku
...." Sesosok bayangan muncul di belakang kuburan itu. Bayangan seorang wanita cantik berbaju merah. Perlahan-lahan bayangan ini melangkah maju dan terdengar suaranya lirih menggetar ditimpa suara hujan gerimis di malam gelap
"Beng San .... "
Beng San mengangkat kepala perlahan. Matanya yang pedas dan merah itu ia gosok- gosok, kemudian ia menubruk maju, berlutut dan merangkul kaki wanita itu.
"Ah, Bi Goat... akhirnya kau datang juga .... ? Bi Goat, ampunkan aku... ampunkan
aku ..... "
Wanita itu mengucurkan air mata sehingga air mata itu bercampur dengan air hujan gerimis yang menimpanya, mengalir di sepanjang pipinya. Jari tangannya mengelus-elus rambut kepala Beng San dan ia berkata terharu.
"Bi Goat sejak dulu mengampunimu... Beng San .... "
"... ah, betulkah? Betulkah kau sudi mengampuni dosaku? Aku telah gila... aku telah gila... aku... aku menyakiti hatimu... sudikah kau mengampuniku?"
"Aku mengampuni semua kesalahanmu .... " jawab wanita itu, "... asal saja... asal saja kau
suka menurut segala kata-kataku."
"Aku akan taat, akan kuturut semua, demi Tuhan. Aku bersumpah akan mentaati segala perintahmu, biar kausuruh masuk ke lautan api sekalipun."
"Kalau begitu, bangunlah dan mari kita masuk ke rumah, tak baik berhujan-hujan di sini, hayo kauikuti aku, Beng San."
Beng San bangun berdiri, tersenyum-senyum dan wanita itu makin terharu ketika melihat
betapa wajah laki-laki itu berubah seperti wajah seorang anak kecil yang diampuni orang tuanya karena kenakalannya.
" kata Beng San yang berjalan terhuyung-huyung saking lemas badannya di belakang wanita itu. Wanita baju merah itu segera memegang lengannya dan membantunya berjalan menuju ke rumah itu. "Aku ikut... aku ikut ....
Dua orang pelayan sudah menyambut di pintu belakang, wajah mereka tampak lega. "Ah, syukur, Nona. Syukur kau berhasil .... " kata mereka.
"Sttt" Wanita itu mencegah mereka bicara. "Lekas sediakan air panas dan pakaian Siauw-ya, kemudian sediakan makanan yang lunak... jangan lupa hangatkan arak ....
.... "
Dengan tersenyum gembira dua orang pelayan itu pergi mempersiapkan permintaan wanita itu. Beng San benar-benar menurut sekali terhadap wanita yang dianggapnya Bi Goat itu. Disuruh membersihkan tubuh dan menukar pakaian, ia menurut seperti anak kecil, disuruh makan bubur panas ia pun menurut saja. Kemudian ia pun tidak membantah ketika disuruh tidur di kamarnya sendiri, diselimuti oleh wanita itu yang duduk di pinggir ranjang dan yang melayaninya dengan penuh perhatian.
Siapakah wanita baju merah itu? Benarkah dia Bi Goat? Tidak mungkin, Bi Goat sudah mati, sudah dikubur. Ia bukan lain adalah Li Cu. Seperti dituturkan di bagian depan, Li Cu tak dapat menahan hati dan kakinya sendiri menyusul Beng San di Min-san. Ia kalah cepat oleh Beng San, maka baru sepuluh hari kemudian ia tiba di puncak Min-san. Bukah main sedih dan terharu hatinya ketika ia mendengar penuturan dua orang pelayan itu tentang keadaan Beng San. Ia mengaku menjadi sahabat baik Beng San dan Bi Goat. Setelah ia mendengar penuturan dua orang pelayan itu, serta-merta pada hari itu juga ia menyusul Beng San ke kuburan dan akhirnya ia berhasil membujuk Beng San pulang, sungguhpun perih hatinya karena Beng San mau menuruti permintaannya setelah mengira bahwa dia adalah Bi Goat.
Bulan-bulan mendatang merupakan masa yang amat sulit bagi Li Cu. Beng San benar- benar telah berubah ingatannya, atau telah kehilangan ingatannya sehingga ia menjadi seperti anak kecil saja, anak kecil yang amat manja. Akan tetapi kemanjaan ini tertuju kepada ......
isterinya, kepada Bi Goat. Dia telah lupa segalanya, keinginannya hanya berdekatan dengan Bi Goat, tak boleh ditinggalkan sebentar juga. Lebih hebat lagi, dia agaknya telah lupa akan semua kepandaiannya. Beberapa kali Li Cu mencobanya, namun benar-benar Beng San tidak ingat lagi bagaimana untuk bersilat sungguhpun tenaga murni dalam tubuhnya masih tetap kuat dan tidak ikut lenyap.
Cia Li Cu adalah keturunan orang-orang yang terkenal keras hati. Agaknya watak ini diwariskan oleh nenek moyangnya, yaitu Ang I Niocu, pendekar wanita sakti yang terkenal keras hati. Sekali mengambil keputusan takkan dapat diubah lagi, sekali menjatuhkan hati takkan dapat pula diubah. Setelah hatinya dikecewakan Beng Kui dan
membuat ia benci sekali kepada suhengnya itu, barulah ia sadar bahwa semenjak dahulu sebetulnya ia tidak pernah mencinta Beng Kui. Perasaannya dahulu terhadap Beng Kui hanyalah kagum saja karena semenjak kecil suhengnya itu selalu lebih tinggi segala- galanya daripada dirinya sendiri, juga dalam ilmu silat. Maka begitu ia melihat watak yang buruk dalam diri Beng Kui, apalagi karena ia dikesampingkan dan suhengnya itu menikah dengan wanita lain, kekagumannya sekaligus buyar dan otomatis ia pun tidak ada rasa suka kepada kakak seperguruan itu.
Terhadap Beng San lain lagi perasaannya. Sebetulnya lebih banyak perasaan terharu dan iba akan nasib orang muda itu daripada kekaguman. Malah sering kali ia merasa gemas kepada Beng San, anehnya, bukan gemas karena perlakuan pemuda itu kepadanya melainkan gemas karena Beng San begitu banyak kekasihnya. Memang cinta itu aneh sekali. Mendatangkan cemburu, kadang-kadang mendatangkan benci. Semua ini hanya dapat terasa oleh mereka yang menjadi korban panah asmara. Demikian hebat kekerasan asmara sehingga mampu menundukkan seorang gadis seperti Li Cu yang terkenal keras hati, berubah menjadi demikian jinak, demikian telaten dan sabar dalam merawat orang yang dicintanya.
Benar-benar bukan ringan pekerjaan Li Cu ini. Terutama sekali tekanan batin yang dideritanya. Bayangkan betapa beratnya bagi perasaan seorang gadis yang jatuh cinta untuk merawat orang yang dicintanya itu dan mendengarkan kekasihnya itu setiap saat memuji-muji dan menyatakan cinta kasihnya kepada seorang wanita lain. Lebih hebat lagi bagi Li Cu, Beng San menyatakan cinta kasih kepadanya karena menganggap dia Bi Goat. Seringkali ia harus menahan-nahan air matanya karena hatinya seperti ditusuk- tusuk rasanya. Kadang-kadang terbayang pula senyum di bibirnya yang manis dan cahaya harapan di matanya yang indah itu manakala Beng San dalam ketidaksadarannya "mengaku" kepada Bi Goat bahwa dia tertarik kepada Li Cu. Sungguhpun hanya sedikit sekali pengakuan cinta ini, namun sudah merupakan setetes embun menyegari bunga yang kekeringan di dalam hati Li Cu.
Betapapun juga, Li Cu adalah seorang gadis yang patut dipuji kebersihan dan kekuatan batinnya. Biarpun ia jatuh cinta kepada Beng San dan berbulan-bulan tinggal serumah dengan pemuda itu, namun gadis itu tetap dapat mempertahankan garis pemisah, tetap ia dapat mencegah terjadinya pelanggaran susila yang terdorong oleh iblis nafsu yang memabokkan. Bagi Li Cu, cintanya murni dan timbul dari hati nurani yang bersih. Ia hanya mempunyai sebuah keinginan, yaitu merawat orang yang dicintanya, melihatnya sembuh dan harapan terakhir adalah harapan semua wanita yang mencintanya, yaitu, berhasil merebut hati kekasihnya, berhasil membuat dirinya dicinta kembali berlipat ganda dan akhirnya dapat menjadi seorang isteri yang terkasih. Hal ini mudah saja ia pertahankan oleh karena kini Beng San benar-benar amat penurut dan mentaati segala kehendaknya.
Dua orang pelayan setia itu masih merasa bersyukur dan berterima kasih sekali kepada Li Cu yang sekarang mereka anggap sebagai pengganti nyonya muda, sungguhpun diam- diam mereka terheran mengapa seorang nona cantik dan muda suka bersikap demikian baiknya terhadap Beng San. Namun sebagai orang-orang yang sudah berpengalaman
akhirnya mereka dapat menarik kesimpulan bahwa semua itu adalah akibat daripada asmara yang mendalam dan suci. Maka tanpa ragu-ragu lagi mereka pun lalu bercerita kepada Li Cu akan segala yang mereka ketahui tentang diri Beng San dan Bi Goat. Malah mereka memperingatkan nona itu agar hati-hati karena mereka berdua itu takut sekaii kalau-kalau lo-ya-cu, yaitu Song-bun-kwi Kwee Lun kembali dan mengamuk lagi.
"Entah bagaimana nasib bayi puteri Siauw-ya yang belum diberi nama itu," pelayan tertua menutup kisahnya. "Semoga saja ia tidak menjadi korban keganasan Lo-ya yang sudah demikian kalap. Hamba benar-benar kuatir, ah... kalau Lo-ya pulang... apa yang terjadi?"
"Tenangiah, tak perlu kuatir. Kematian Bi Goat bukanlah karena kesalahan Beng San. Pula andaikata dia datang dan mau menang sendiri, ada aku di sini untuk melindungi Beng San," kata Li Cu dengan suara yang gagah. Akan tetapi sesungguhnya hatinya kecut-kecut kalau ia memikirkan kakek itu. Ia maklum bahwa kata-katanya di depan para pelayan itu hanya omong besar saja, karena kalau disuruh sungguh-sungguh menghadapi kakek Song-bun-kwi yang sakti itu, sedikit sekali harapan dia akan menang.
Oleh karena inilah pedang Liong-cu-kiam tak pernah terpisah dari tubuhnya, selalu terpasang di belakang punggung untuk menjaga segala kemungkinan. Sampai tiga bulan lebih Li Cu dengan tekun dan sabar merawat Beng San. Kesehatan Beng San sebetulnya sudah pulih, akan tetapi hanya kesehatan jasmani saja, Ingatannya masih belum sembuh sama sekali.
Pagi hari itu, seperti biasa Li Cu mengajak Beng San duduk di taman bunga di sebelah kiri rumah. Setiap pagi gadis ini mengajak Beng San berjemur matahari pagi di tempat itu. Dan seperti biasa, dengan sikap manja sekali Beng San merebahkan diri di atas bangku panjang dan kepalanya telentang di atas pangkuan Li Cu. Gadis ini dengan kasih mesra mengusap-usap rambut Beng San sambil memandangi wajah yang nampak bodoh itu.
"Beng San, masih belum ingatkah kau? Masih belum ingat benarkah bahwa aku adalah Li Cu?" perlahan Li Cu bertanya dengan suara lirih dan hati-hati sekali.
Beng San tersenyum, "Bi Goat, jangan kau menggoda aku. Kau tahu bahwa aku suka kepada Nona Cia Li Cu, bahwa aku tertarik dan kagum sekali kepadanya, lalu kau sekarang meggodaku, ya?"
Seperti biasa kalau mendengar kata-kata ini, Li Cu merasa tertusuk jantungnya. Ia menggigit bibir, matanya menjadi sayu, tapi ia menguatkan hatinya dan berkata lemah- lembut.
"Beng San, aku sungguh bukan Bi Goat. Aku Cia Li Cu, Beng San, aku pun suka kepadamu, tapi... tapi jangan kau menyangka aku Bi Goat. Bi Goat sudah... sudah mati
...." hati-hati sekali ia mengucapkan ini sambil menatap tajam-tajam muka orang di atas pangkuannya itu dan tangannya membelai dengan halus.
Beng San serentak bangkit dan duduk, kedua tangan Li Cu dipegangnya lalu ia berlutut di atas tanah. "Bi Goat, isteriku, jangan kau mempermainkan aku. Kalau Bi Goat sudah mati bagaimana kau bisa berada di sini? Bi Goat, aku memang berdosa kepadamu, ampunkanlah aku... aku menurut segala kehendakmu, tapi... tapi jangan kau marah, jangan tinggalkan aku .... "
Li Cu menarik napas panjang dan menggoyang-goyang kepalanya. Tidak ada kemajuan sama sekali. Kalau sudah merengek-rengek minta ampun begini Beng San tidak mau sudah kalau belum ia ampunkan. Terpaksa berkata,
"Sudahlah, aku ampunkan kau."
Dengan girang Beng San rebah lagi dengan kepala di atas pangkuan Li Cu. Ia tersenyum- senyum dengan wajah berseri girang. Li Cu makin terharu melihat ini. Selama berbulan- bulan ini Beng San memasuki kamarnya yang terpisah, dan hal ini pun selalu diturut oleh Beng San biarpun dengan wajah kelihatan berduka sekali. Li Cu sendiri mulai merasa ragu-ragu akan kekuatan pertahanan hatinya sendiri. Ia makin kasihan kepada Beng San. Selama berbulan-bulan menggantikan kedudukan Bi Goat ini, tampaklah jelas olehnya bahwa Beng San sama sekali bukanlah laki-laki mata keranjang perusak wanita seperti yang telah ia dengar dari suhengnya. Buktinya, terhadap isteri sendiri saja Beng San begini lemah lembut, menaruh hormat dan tidak mau bersikap menang sendiri. Apalagi terhadap wanita lain? Peristiwa yang terjadi antara Beng San dan Kwa Hong tentu terdorong oleh sesuatu, tidak sewajarnya. Beng San pernah bercerita kepadanya tentang itu, dikatakannya bahwa Beng San dan Kwa-Hong lupa karena pengaruh racun yang sengaja ditaruh dalam makanan oleh musuh dalam ketentaraan Mongol. Tapi Beng San hanya menyebut nama Pangeran Souw Kian Bu. Adapun tentang pengalaman Beng San dalam asmara dengan Thio Eng, dengan dia sendiri, ah, ia tidak percaya bahwa Beng San sengaja berlaku sebagai seorang pemuda mata keranjang. Ia sama sekali tidak mau percaya bahwa Beng San berwatak kotor, rendah atau cabul.
"Beng San, cobalah kauingat-ingat, apakah kau benar-benar lupa akan kepandaian ilmu silatmu?"
Beng San tertawa, matanya berseri jenaka. "Bi Goat, jangan kaugoda aku seperti itu. Kau tahu bahwa aku adalah seorang kutu buku, seorang yang sejak kecil hanya mempelajari kitab-kitab filsafat. Kitab To-tik-keng aku hafal di luar kepala. Kau boleh tanya tentang Su-si Ngo-keng, tentang filsafat hidup dan pelajaran agama. Akan tetapi ilmu silat? Huh, untuk apa ilmu silat itu? Hanya untuk menakut-nakuti orang, menyombongkan diri dan paling banyak hanya menjadi kepandaian tukang-tukang pukul dan buaya-buaya darat, tukang-tukang berkelahi saja."
Sekali lagi Li Cu menarik napas kecewa. Ia tadinya tidak percaya dan pernah ia menyerang Beng San dan ternyata menghadapi sebuah pukulan biasa saja Beng San tidak mampu menghindarkan diri. Akan tetapi Iwee-kang di tubuhnya masih tetap ada dan kuat sungguhpun agaknya Beng San lupa pula bagaimana untuk menyalurkan hawa murni di
tubuhnya itu. Tadinya ada pikiran padanya untuk melatih Beng San, akan tetapi pikiran ini ia buang lagi ketika ia teringat betapa tingkat kepandaian Beng San sebetulnya sudah jauh melampauinya sehingga kalau sekarang Beng San menerima pendidikan mulai pertama daripadanya, apakah akan jadinya? Jangan-jangan malah pelajaran itu menyeleweng dan tidak cocok dengan hawa murni di tubuh Beng San.
Ia menunduk dan memandang wajah yang tampan itu. Ah, kalau ia teringat betapa dahulu Beng San dengan berani mati menyerbu ke sarang Ho-hai Sam-ong, mati-matian datang untuk menolongnya. Kalau ia teringat akhir-akhir ini betapa Beng San tanpa mempedulikan diri sendiri telah menyedot asap beracun yang berada di dadanya, menyedot begitu saja dari mulut ke mulut. Ah, ia tidak saja berhutang budi, juga berhutang nyawa. Hanya dapat ia balas dengan cinta kasih. Kalau sudah mengenangkan itu semua, ingin ia mendekap kepala itu, ingin membelainya dan menunjukkan kasih sayangnya. Akan tetapi Li Cu menahan hatinya, hanya memandang dengan wajah sayu dan mata redup setengah dikatupkan.
Gadis ini sama sekali tidak tahu bahwa sudah semenjak ia keluar bersama Beng San dari dalam rumah tadi, sepasang mata menyaksikan semua yang terjadi antara dia dan Beng San. Sepasang mata yang tajam, dilindungi alis tebal yang kadang-kadang mengerut, kadang bergerak-gerak. Sepasang mata itu kadang-kadang menjadi redup terharu, kadang-kadang menyorotkan api kemarahan. Sepasang mata milik seorang laki-laki tua yang tampan dan gagah perkasa, seorang pendekar yang bukan lain adalah Bu-tek Kiam- ong (Raja Pedang Tanpa Tandingan) Cia Hui Gan, ayah dari Cia Li Cu.
Dan baru saja, dari lain jurusan, datang pula seorang tokoh lain yang gerakannya demikian ringan sehingga tidak terdengar oleh Si Raja Pedang sekalipun. Orang ini pun mengintai dan matanya yang liar menjadi makin berputaran marah ketika ia melihat adegan mesra itu, yaitu Beng San rebah telentang di bangku dengan kepala di atas pangkuan seorang dara cantik jelita yang mengelus-elus rambutnya. Orang ini bukan lain adalah Song-bun-kwi Kwee Lun Si Setan Berkabung. Song-bun-kwi Kwee Lun masih dapat mendengar tanya jawab antara Li Cu dan Beng San tentang ilmu silat tadi dan kegirangan hatinya bukan main ketika ia mendengar bahwa Beng San telah hilang ingatannya dan telah hilang atau terlupa pula ilmu silatnya.
"Si keparat Beng San! Kau telah kehilangan kepandaianmu, sekarang kau akan kehilangan nyawamu yang harus menghadap Bi Goat untuk menebus dosa," demikian katanya dalam hati. Tiba-tiba ia melompat keluar sambil tertawa bergelak. Tanpa berkata apa-apa serentak maju menubruk dan menghantam dada Beng San yang rebah telentang di atas bangku.
Li Cu berseru panjang. Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi tubuhnya otomatis bergerak dan ia mendorong tubuh Beng San sekuat tenaga sambil ia sendiri melompat ke belakang dan mencabut pedangnya. Biarpun tubuhnya sudah terdorong dan terlempar dari bangku, tetap saja punggung Beng San keserempet pukulan Song-bun-kwi. Beng San terpelanting dan terguling-guling sambil muntahkan darah segar dari mulutnya. Baiknya Iwee-kang di tubuhnya masih ada dan otomatis tenaga dalam ini bekerja untuk menahan
atau melindungi tempat yang terpukul, maka Beng San hanya, mengalami luka ringan di sebelah dalam saja dan nyawanya selamat. Di dalam tubuh Beng San terkandung dua hawa yang amat besar, hawa Im dan Yang, dua hawa yang bertentangan akan tetapi telah teratur kedudukannya. Berbeda dengan orang lain apabila terpukul dan menderita luka dalam, muntah darah berarti membahayakan. Sebaliknya Beng San dengan muntah darah ini malah menyatakan bahwa tenaga di dalam tubuhnya bekerja dan darah yang dimuntahkan itu sajalah yang menjadi akibat pukulan tadi.
Melihat Beng San muntah darah, Li Cu kaget setengah mati dan mengira bahwa Beng San pasti terluka parah. Ia marah bukan main dan pedangnya lalu diputar ke depan.
"Song-bun-kwi manusia iblis! Kau keji dan curang. Kalau memang ada kepandaian, mengapa menyerang orang sakit? Majulah, aku musuhmu!" Pedangnya menyambar- nyambar ke depan dan sekejap mata saja gulungan sinar pedang mengurung Song-bun- kwi dengan hebatnya.
Song-bun-kwi tertawa bergelak, pedangnya cepat menangkis dari samping lalu ia berkata,
"Perempuan tak tahu malu! Aku hendak membunuh mantuku sendiri yang telah menyebabkan kematian anakku, yang telah meninggalkan anakku untuk bermain gila dengan segala perempuan busuk, kau menghalangi ada hubungan apakah? Apakah kau kekasihnya yang baru?"
Kemarahan Li Cu membuat ia hampir menangis mendengar caci-maki kotor ini. Akan tetapi ia harus membela Beng San, membela nyawanya juga membela nama baiknya.
"Song-bun-kwi, kau seorang kakek tua bangka yang sudah mau mati tapi ucapanmu seperti orang gila atau seperti anak kecil saja. Beng San bukan menjadi sebab kematian Bi Goat. Selama ini dia pergi karena dia membantu Kaisar untuk membasmi orang-orang jahat yang hendak memberontak. Dia dimintai bantuan oleh Pek-lian-pai dalam tugas yang mulia. Yang menyebabkan kematian anakmu adalah ibiis wanita Kwa Hong. Kalau kau memang mendendam, mengapa kau tidak mencari dan membalas kepada Kwa Hong? Andaikata kau hendak membalas kepada Beng San, sebagai orang gagah kau pun harus menanti sampai dia sembuh agar dia dapat melayanimu. Apakah kau sudah berubah menjadi pengecut?"
Song-bun-kwi mengeluarkan suara menggereng hebat, matanya liar. "Kwa Hong akan kubunuh, Beng San akan kubunuh, dan kau yang membelanya akan kubunuh lebih dulu." Setelah berkata demikian ia menubruk maju dan menyerang dengan pedangnya. Pedangnya ber gerak menusuk kemudian ditarik ke bawah. Kalau serangan ini berhasil tentu korbannya akan terbelah dada dan perutnya, Namun dengan gerakan lincah dan indah sekali Li Cu sudah mengelak ke kanan, tubuhnya berputar seperti orang menari kemudian membabat dengan pedangnya ke arah pedang lawan. Ia hendak mengandalkan ketajaman Liong-cu-kiam untuk mematahkan senjata lawannya.
Akan tetapi Song-bun-kwi bukanlah seorang tokoh yang masih hijau. Ia cukup mengenal
Liong-cu-kiam. Biarpun yang ia pegang juga sebatang pedang yang baik dan kuat, namun ia tidak berani mengadukan pedangnya secara langsung dengan Liong-cu-kiam. Ia hanya menyampok pedang lawan yang ampuh bukan main itu dari samping dengan pedangnya sehingga terhindar peraduan. kedua pe-dang pada bagian tajamnya.
Serang-menyerang terjadi dengan amat serunya, dan mati-matian. Ilmu kepandaian Song- bun-kwi hebat bukan main, dia adalah tokoh besar dalam dunia persilatan. Biarpun Li Cu juga telah mewarisi ilmu pedang yang sakti, namun ia kalah pengalaman bertempur biarpun di tangannya ada pedang pusaka Liong-cu-kiam. Song-bun-kwi tidak mengenal ampun, mendesak terus sambil mengeluarkan jurus-jurus yang paling hebat karena ia maklum bahwa lawannya biarpun hanya merupakan seorang gadis muda namun cukup lihai dan berbahaya. Malah kakek ini di samping pedangnya yang dimainkan dengan Ilmu Pedang Yang-sin Kiam-sut dicampur ilmu pedangnya Sendiri, juga mulai melancarkan pukulan-pukulan maut dengan tangan kirinya, menggunakan pukulan jarak jauh yang bukan main dahsyatnya. Tiap kali pukulan ini datang, Li Cu merasa sambaran angin yang hebat ke arahnya. Ia kaget sekali dan maklum bahwa biarpun kepadaian lawan tidak mengenai tubuhnya, hawa pukulan itu kalau tepat mengenai bagian berbahaya, bisa mendatangkan celaka. Maka ia selalu mengelak kalau diserang pukulan ini. Kali ini membuat keadaannya terhimpit.
"Heeei, jangan serang isteriku. Eh, kakek yang baik, orang setua engkau seharusnya memberi contoh baik kepada yang muda, mengapa malah suka berkelahi? Heee! Hati- hati, jangan main-main dengan pedang yang begitu tajam, jangan-jangan kau nanti mencelakai isteriku." Beng San berteriak-teriak penuh kekuatiran. Tadi ia agak nanar maka ia setengah pingsan oleh pukulan yang membuat ia muntah darah. Akan tetapi setelah ia dapat bangun, ia segera berteriak-teriak melarang Song-bun-kwi menyerang "isterinya".
Mana Song-bun-kwi mau pedulikan dia? Makin hebat Song-bun-kwi mendesak sehingga pada suatu saat Li Cu terhuyung-huyung ke belakang, hampir saja menjadi korban pukulan mautnya. Beng San tak dapat menahan kesabarannya lagi, ia melangkah maju dan menudingkan telunjuknya.
"Orang tua, kenapa kau begini nekat? Isteriku pandai main pedang, kalau sampai dia marah... hemmm, apakah kau sudah bosan hidup?"
Song-bun-kwi kaget juga menyaksikan sikap Beng San ini. Dilihat sikapnya yang begitu berani, agaknya pemuda ini masih memiliki kepandaiannya sejenak ia tertegun dan ini membuat gerakannya agak kalut dan terlambat sehingga Li Cu dapat memperbaiki kedudukannya dan berbalik gadis yang tadinya terdesak itu sekarang dapat balas menyerang.
"Bagus, Beng San. Kau majulah, pukul dia mampus dengan ilmu saktimu." Li Cu berseru keras. Song-bun-kwi makin bingung dan kaget, dikiranya betul-betul Beng San hendak menyerangnya. Kembali kesempatan ini dipergunakan oleh Li Cu untuk mainkan
pedangnya dan... "brett" ujung baju kakek itu terbabat putus. Song-bun-kwi kaget sekali dan cepat ia melompat ke arah Beng San sambil mengayun pedangnya.
Girang hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa sama sekali Beng San tidak dapat mengelak, malah Li Cu yang menangkisnya serangan ini.
"Aha, kalian mau menipu aku? Ha-ha-ha, kalian harus mampus sekarang juga." Dengan ucapan ini Song-bun-kwi mendesak makin, hebat sehingga Li Cu menjadi sibuk menangkis dan mengelak. Sekali pundaknya terkenal pukulan tangan kiri Song-bun-kwi sehingga gadis itu terpaksa menggulingkan diri dan bergulingan menjauhkan diri dari Song-bun-kwi. Namun sambii tertawa-tawa kakek ini mengejar terus dengan pedang diangkat, siap untuk membacok.
"Tranggg!" Pedang Song-bun-kwi terpental dan biarpun pedang itu tidak terlepas dari pegangannya dan ia cepat dapat melompat mundur, namun lengannya agak di atas pergelangan telah tergores pedang di tangan Bu-tek Kiam-ong. Cia Hui Gan yang sudah berdiri dengan gagah di situ. Pendekar pedang inilah yang tadi menangkis bacokan Song- bun-kwi untuk menolong nyawa puterinya.
Melihat datangnya Raja Pedang ini, Song-bun-kwi mendengus marah, "Huh, kau juga ikut-ikut urusanku?"
"Song-bun-kwi iblis tua! Seorang ayah melihat puterinya hendak dibunuh orang bagaimana bisa diam saja?"
Sejenak Song-bun-kwi tertegun. Ia maklum akan kehebatan ilmu pedang Cia Hui Gan, maka tidak berani berlaku sembrono. Kemudian ia menoleh ke arah Beng San yang berdiri bengong di pinggiran.
"Bagus, kau betul sekali, Kiam-ong. Anakku dibunuh orang, mana aku bisa diam saja?" Sambil berkata demikian ia menubruk ke depan dan menyerang Beng San dengan pedangnya.
Melihat itu Li Cu kembali menggerakkan senjatanya menangkis serangan kakek itu. Kali ini Song-bun-kwi terlalu bernafsu dalam penyerangannya maka pedangnya bertemu dengan telak sekali dengan pedang di tangan Li Cu. Dengan mengeluarkan bunyi nyaring, pedang di tangan Song-bun-kwi terbabat putus menjadi dua potong oleh Liong- cu-kiam.
"Li Cu, jangan mencampuri urusan mereka!" Cia Hui Gan membentak anaknya, mukanya menjadi merah dan malu melihat sikap puterinya itu.
Akan tetapi, Li Cu dengan pedang di tangan berdiri memandang ayahnya dengan mata bersinar. "Ayah, Beng San tidak pernah membunuh anak Song-bun-kwi yang mati karena melahirkan. Beng San bahkan amat mencintanya. Mana bisa aku membiarkan orang membunuhnya? Kalau Song-bun-kwi menantang Beng San dalam keadaan seperti biasa,
aku pun tidak peduli. Akan tetapi Beng San sedang sakit, sama sekali tidak dapat melawan."
SONG-BUN-KWI marah sekali akan tetapi juga gentar. Menghadapi gadis itu saja sudah payah untuk mencapai kemenangan, apalagi sekarang muncul ayahnya yang tentu saja tidak membiarkan ia mengganggu Li Cu. Pada saat itu terdengar tangis seorang anak tak jauh dari situ. Mendengar ini Song-bun-kwi mengeluarkan gerengan-gerengan marah lalu ia melompat pergi ke arah suara tangisan anak kecil itu. Dari jauh terdengar suaranya, "Bu-tek Kiam-ong, kau mengandalkan nama besarmu bersikap sewenang-wenang. Tunggulah, kelak aku mencarimu di Thai-san."
Sejenak hening. Ayah dan anak itu saling berpandangan. Si ayah dengan sinar mata penuh kemarahan, Si anak tenang-tenang saja namun tarikan mukanya jelas membayangkan keteguhan hatinya.
"Li Cu, apa artinya semua ini?" akhirnya suara si ayah terdengar memecah kesunyian.
"Artinya, Ayah, bahwa aku cinta kepada Beng San dan sisa hidupku akan kuhabiskan di sampingnya," jawab gadis itu dengan suara penuh ketetapan hati.
Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan mengerutkan keningnya. "Tapi... tapi ia seorang gila .... "
"Dia tidak gila, Ayah. Hanya kehancuran hati membuat ia demikian. Ia kematian isterinya yang tercinta dan ia merasa berdosa besar terhadap isterinya sehingga kesedihan membuat ia kehilangan ingatan. Akan tetapi... dia seorang berbatin mulia, Ayah, telah beberapa kali menyelamatkan nyawaku tanpa mempedulikan keselamatan diri sendiri. Aku ingin membalas budinya dan .... "
"Tapi dia tidak menganggapmu sebagai Cia Li Cu .... "
"Memang dia menganggap aku sebagai isterinya yang sudah meninggal dunia. Dan ini lebih mempertebal keyakinanku betapa setia hatinya, penuh cinta kasih murni. Aku tak dapat meninggalkannya, Ayah karena hal itu berarti dia akan celaka."
"Li Cu, apa kau juga sudah menjadi gila? Anakku hendak mengorbankan sisa hidupnya untuk seorang gila? Tak mungkin! Kakak kandungnya seorang berwatak durhaka dan busuk, adiknya takkan jauh bedanya. Dia harus mampus saja daripada merusak hidupmu." Tiba-tiba sinar terang berkelebat dan tahu-tahu kakek ini sudah menerjang ke arah Beng San yang berdiri melongo melihat perdebatan antara ayah dan anak itu.
!!" Li Cu bergerak dan "trangg!" bunga api berpijar, pedang Liong-cu-kiam di tangan Li Cu terlepas menancap di atas tanah, akan tetapi pedang di tangan Cia Hui Gan sudah patah menjadi dua potong. "Ayah ....
Kembali ayah dan anak berpandangan, bertentangan mengadu kekuatan kemauan yang sama kerasnya. "Aku mendengar ejekan si bangsat Beng Kui .... " kata Cia Hui Gan,
suaranya perlahan penuh penyesalan, "bahwa anakku tergila-gila kepada seorang laki-laki pengrusak wanita. Bahwa Beng San ini sudah merusak penghidupan seorang gadis murid Hoa-san-pai yang ditinggalkannya untuk menikah dengan anak Song-bun-kwi. Sekarang agaknya ia menjadi sebab kematian isterinya itu dan dia sekarang menempel engkau."
! Semua itu bohong belaka! Semua itu terjadi bukan karena kesalahan Beng San. Tentang aku..., bukan dia yang menempel, melainkan aku sendiri yang tidak dapat berpisah lagi daripadanya." "Ayah ....
Bergerak-gerak alis mata Cia Hui Gan. "Hemm, pendapat seorang bocah masih hijau. Cintamu mudah berubah dan berganti-ganti. Orang ini lebih baik mati daripada merusak hidupmu." Dengan pedang yang tinggal sepotong itu Cia Hui Gan melompat ke depan dan menyerang Beng San lagi.
"Ayah, kalau kau hendak membunuhnya, kau boleh melihat anakmu menggeletak tanpa nyawa lebih dulu." Li Cu berseru keras dan cepat ia menyambar" Liong-cu-kiam dari atas tanah, langsung ia bacokkan ke lehernya sendiri.
"Anak gila!" Pedang buntung di tangan Cia Hui Gan terlepas meluncur ke arah Li Cu dan menghantam Liong-cu-kiam di tangan gadis itu. Hebat sekali sambitan ini yang merupakan kepandaian istimewa dari Si Raja Pedang, sehingga Li Cu sendiri tidak sanggup mempertahankan pedangnya yang runtuh terlepas dari tangannya. Gadis ini menangis dan menutupi mukanya. ....
"Ayah..., kau boleh bunuh dia... tapi aku pun tidak sudi lagi hidup di dunia ini .... "
tangisnya.
Cia Hui Gan menarik napas panjang. Ia amat sayang kepada puteri tunggalnya ini. Ia hidup hanya berdua dengan puterinya karena ibu Li Cu sudah sejak dahulu meninggal dunia. Bagaimana ia dapat merelakan anaknya mati? Tadi pun ia hanya ingin menyelami hati Li Cu sampai di mana perasaan yang dianggapnya cinta kasih oleh anaknya itu terhadap Beng San. Kakek ini maklum betapa sakit dan hancurnya hati Li Cu karena sikap dan perlakuan Beng Kui kepadanya. Dan kakek ini maklum pula bahwa biarpun di mulutnya tidak pernah menyatakan sesuatu, namun di dalam hatinya gadisnya itu tentu menaruh penyesalan kepada ayahnya sendiri, karena sesungguhnya dialah yang dahulu menjodohkan anaknya itu dengan Beng Kui. Beng Kui adalah pemuda pilihan Cia Hui Gan untuk anaknya yang hanya mentaati kehendak ayah. Setelah pilihan itu ternyata keliru, sekarang anaknya mencari pilihan hatinya sendiri, bagaimana dia tega untuk menghalanginya? Sebetulnya, sejak dahulu ketika untuk pertama kali bertemu dengan Beng San (baca Raja Pedang), memang Cia Hui Gan menaruh rasa simpati yang besar terhadap pemuda ini dan diam-diam ia mengakui bahwa Beng San sebetulnya lebih cocok untuk menjadi jodoh puterinya. Akan tetapi sekarang pemuda itu selain sudah menjadi duda yang ditinggali anak, juga keadaannya tidak normal lagi, kehilangan ingatan dan lupa akan kepandaiannya sama sekali.
"Kau memang bandel .... " akhirnya ia berkata. "Baiklah kalau kau memang sudah yakin
akan cinta kasihmu kepada Beng San, akan tetapi kelak jangan kau salahkan ayahmu kalau kau kecewa."
"Ayah... terima kasih, Ayah .... " Li Cu menubruk dan merangkul ayahnya sambil
menangis.
"Sudahlah, kita harus segera pergi dari sini, tak boleh mengacau di tempat orang lain. Hemm, bocah itu hanya akan memancing datangnya banyak musuh ke Thai-san .... "
Li Cu tidak memberi komentar apa-apa atas ucapan ayahnya ini, melainkan dengan girang ia lalu menggandeng tangan Beng San sambil menariknya dan berkata,
"Beng San, hayo kau ikut aku ke Thai-san."
"Bi Goat, kenapa kita ke Thai-san?" Beng San bertanya seperti orang bingung.
"Mulai sekarang kita akan tinggal di sana, kau ikutlah saja dengan aku dan jangan banyak bertanya."
Beng San mengangguk-angguk. "Baiklah...baiklah, kita ke Thai-san...aku menurut dan takkan membantah asal selalu berada di dekatmu."
Melihat dan mendengar ini Cia Hui Gan menggeleng kepalanya dan diam-diam ia berdoa kepada Tuhan semoga keputusan yang diambil oleh anaknya itu tidak keliru dan tidak akan merusak penghidupan anaknya dikelak kemudian hari.
Dalam perjalanan menuju ke Thai-san itu, atas pertanyaan Li Cu, Cia Hui Gan menceritakan apa yang telah terjadi di kota raja. Seperti telah diceritakan di bagian depan, orang-orang gagah berusaha untuk menggagalkan rencana jahat yang diatur oleh Pangeran Lu Siauw-Ong dan Ho-hai Sam-ong. Di antara mereka itu terdapat Cia Hui Gan dan anaknyai Li Cu sendiri pergi menyusul rombongan Kaisar untuk melindunginya, adapun Cia Hui Gan pergi ke kota raja untuk hukum muridnya yang murtad dan durhaka. Telah dituturkan di bagian depan betapa Kaisar telah terhindar dari malapetaka pencegatan Ho-hai Sam-ong dan anak buahnya dan teman-temannya. Sebagian besar adalah jasa Beng San yang lebih dahulu secara sembunyi telah menjumpai Kaisar di tengah perjalanan dan mengajukan usul agar supaya Kaisar diam-diam kembali ke kota Raja, dan menyuruh orang lain menggantikan Kaisar di dalam joli, Seperti telah kita ketahui, Ho-Hai Sam-ong tertipu dan usaha mereka tidak saja hancur berantakan, malah mereka tewas.
Adapun Cia Hui Gan yang mencari muridnya, Tan Beng Kui di kota saja, datang dalam saat yang kebetulan pula. Pemberontakan telah pecah, terjadi penyerbuan para pemberontak ke dalam istana. Akan tetapi, alangkah kaget hati mereka ketika tiba-tiba, tidak saja muncul para pengawal yang serba lengkap dan kuat, juga muncul banyak sekali anggota Pek-lian-pai di bawah pimpinan Tan-Hok yang gagah perkasa. Lebih hebat lagi kekagetan para pemberontak ketika tiba-tiba muncul pula Kaisar sendiri yang memimpin
tentaranya untuk menghancurkan barisan pemberontak yang menyerbu. Sudah terang bahwa Kaisar pergi ke utara dengan rombongannya, mengapa tiba-tiba bisa berada di situ? Keadaan menjadi kacau-balau dan para pemberontak itu berkurang semangatnya. Apalagi di pihak Kaisar terdapat orang-orang gagah, terutama sekali Cia Hui Gan yang mengamuk seperti seekor naga terbang dan masih ada lagi raksasa muda Tan Hok yang mengamuk dengan anak buahnya yang gagah.
Cia Hui Gan yang sengaja mencari muridnya, akhirnya dapat berhadapan muka dengan Beng Kui yang berpakaian seperti seorang jenderal besar dan mengamuk dengan pedangnya, Liong-cu-kiam. Alangkah kagetnya ketika tiba-tiba ia melihat gurunya. Akan tetapi Beng Kui malah menegur,
"Suhu, mengapa Suhu menghalangi cita-cita teecu yang tinggi?"
"Keparat, kau membikin malu gurumu saja dengan perbuatanmu yang hina. Mulai saat ini aku bukan gurumu lagi."
"Aha, jadi Suhu juga berpandangan picik seperti Li Cu dan merasa sakit hati karena teecu menjadi mantu Lu Siauw Ong? Apakah Suhu tidak melihat bahwa kalau teecu kelak menjadi mantu Kaisar dan calon kaisar, masih belum terlambat menikah dengan sumoi dan Suhu sendiri tentu memperoleh kedudukan tinggi?"
"Bangsat, tutup mulutmu!" dengan amarah meluap-luap Cia Hui Gan menyerang.
Beng Kui menangkis dan melakukan perlawanan. Namun, betapapun juga, pedang pusaka Liong-cu-kiam di tangannya tak dapat membantu banyak terhadap serangan- serangan gurunya yang lihai bukan main itu. Apalagi ketika ia melihat betapa barisan yang dipimpinnya itu mulai berantakan dan cerai-berai karena memang kalah kuat, hatinya menjadi risau dan permainan pedangnya kacau-balau. Kesempatan, ini dipergunakan oleh Cia Hui Gan untuk mendesaknya dan pada saat yang baik pundak kiri Beng Kui tertusuk oleh pedang gurunya. Ia menjerit dan melompat ke belakang, menghilang di antara anak buahnya yang mulai berlarian ke sana ke mari mencari jalan keluar. Cia Hui Gan mengejar karena ia bermaksud membunuh bekas muridnya itu, namun Beng Kui sudah mendapatkan seekor kuda dan sudah lari jauh.
Demikianlah pengalaman Cia Hui Gan di kota raja. Kaisar sendiri menyatakan terima kasih kepadanya, akan tetapi Cia Hui Gan tidak lama berdiam di kota raja, melainkan terus menyusul puterinya. Ia mendengar bahwa pencegatan rombongan Kaisar dapat digagalkan dan dihancurkan pula, akan tetapi dengan hati kecut ia mendengar bahwa puterinya telah terluka dan ditolong oleh Beng San. Hal ini ia dengar daripada anggota Pek-lian-pai yang masih tertinggal di tempat itu karena terluka.
Cia Hui Gan tidak percaya lagi kepada Beng San setelah kekecewaannya pada Beng Kui. Kalau kakaknya seperti itu, mana bisa adiknya baik pula? Dengan hati kuatir ia lalu cepat-cepat melakukan perjalanan menyusal ke Min-san dan akhirnya ia menyaksikan
semua kejadian yang membuat hatinya menjadi penuh kegelisahan akan hari depan puterinya.
Setahun lebih Li Cu merawat Beng San dengan penuh kesabaran dan penuh cinta kasih. Melihat keadaan puterinya itu yang rela mengorbankan segala untuk Beng San yang masih saja belum kemball ingatannya, Cia Hui Gan merasa terharu dan kasihan sekali. Karena keadaan Beng San yang boleh dibilang telah berubah menjadi seorang yang lemah, maka Raja Pedang ini lalu menggembleng puterinya dengan ilmu yang lebih tinggi agar kelak sepeninggalannya Li Cu dapat mempertahankan diri dari segala bahaya yang menimpanya.
Memang Cia Li Cu seorang gadis yang hebat, jarang bandingannya di dunia ini. Cintanya terhadap Beng San benar-benar cinta yang murni dan suci, cinta yang tidak dikotori nafsu, tidak tercemar oleh keinginan menyenangkan diri sendiri. Oleh karena sifat cintanya yang mulus inilah maka ia tahan menderita segala tekanan batin. Beng San masih saja menganggap dia sebagai Bi Goat dan masih saja belum mendapatkan kembali ilmu-ilmu silatnya.
Seringkali Cia Hui Gan menyatakan kekuatirannya kepada puterinya itu dengan kata-kata nasihat,
"Li Cu, keputusan hatimu untuk mengorbankan diri demi cintamu kepada Beng San, aku orang tua tidak akan mengganggu-gugat lagi. Akan tetapi kau harus mengerti bahwa keputusan ini memancing datangnya banyak musuh. Sudah pasti Song-bun-kwi akan membalaskan anaknya yang ia anggap mati karena kesalahan Beng San. Juga wanita yang bernama Kwa Hong, murid Hoa-san-pai itu... hemm, kiraku dia juga merupakan ancaman bahaya dalam hidupmu. Belum kalau kita ingat kepada musuh-musuh Beng San yang amat banyak dan yang semuanya terdiri dari orang-orang sakti."
"Aku tidak takut, Ayah," jawab Li Cu gagah. "Biarkan mereka datang, orang-orang jahat itu. Aku akan membeia Beng San mati-matian. Pula, Ayah berada di sini, aku takut apa lagi?" Ucapan terakhir ini bernada manja.
Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan menggeleng-gelengkan kepalanya yang sudah mulai penuh rambut putih. "Tentu saja aku akan melindungimu selama aku masih hidup, Li Cu. Akan tetapi, kau harus mengerti bahwa usia manusia ada batasnya, demikian pula kepandaian. Menghadapi musuh-musuh Beng San itu, kiranya biar aku sendiri maju masih belum cukup kuat. Oleh karena itu, mari bantulah aku dalam pembuatan rencanaku yang sudah lama kupikir dan kuciptakan."
"Rencana apakah, Ayah?"
"Kita harus dapat membuat tempat kita ini menjadi tempat yang tidak mudah dikunjungi orang luar. Aku sudah mempunyai rencananya lengkap. Kita minta bantuan penduduk di kaki gunung dan kurasa dalam waktu setahun tempat kita ini akan menjadi tempat
persembunyian yang takkan gampang-gampang dimasuki orang luar, biarpun mereka memiliki kepandaian tinggi."
Semenjak terjadi percakapan ini, Cia Hui Gan lalu mencari bantuan tenaga para penduduk di kaki gunung dan mulailah rencananya itu dibuat. Ia memilih sebuah puncak yang amat indah pemandangannya dan nyaman pula hawa udaranya, pula puncak ini dikelilingi jurang yang terjal dan tak mungkin dilalui manusia. Bagian-bagian yang dapat dipergunakan orang untuk mendaki puncak, sengaja digugurkan sehingga bagi orang luar tampaknya tempat itu tak mungkin didatangi. Menurut rencana kakek ini mereka akan membuat jalan rahasia ke puncak, melalui terowongan buatan dibawah tanah. Terowongan ini selain tak tampak dari luar, juga di dalamnya penuh alat-alat rahasia sehingga bagi orang-orang luar, amat berbahayalah untuk melaluinya, andaikata dia dapat menemukan pintu terowongan juga. Selain alat-alat rahasia juga terowongan ini dibuat berliku-liku, banyak cabangnya dan mudah sekali menyesatkan orang.
Akan tetapi untuk membuat semua ini membutuhkan tenaga dan waktu. Dan kekhawatiran Cia Hui Gan tentang musuh-musuh besar Beng San ternyata terbukti ketika pembuatan jalan terowongan itu baru mulai dibuat.
Pada waktu itu matahari baru saja terbit dan penduduk kaki gunung sudah berkumpul dan mulai bekerja mengangkuti batu-batu yang dibutuhkan untuk pembuatan terowongan. Cia Hui Gan dan Cia Li Cu sedang mengatur pekerjaan dan berada di puncak, di tempat terbuka yang akan dibangun menjadi tempat tinggal mereka. Beng San juga berada di situ, duduk di bawah sebatang pohon besar. Orang muda ini sekarang nampak sehat, wajahnya segar dan agak gemuk malah, akan tetapi sepasaing matanya kehilangan cahaya yang biasanya bersinar tajam dan aneh. Sekarang malah kelihatan seperti orang bodoh. Pakaiannya bersih dan ia nampak tersenyum-senyum gembira memandang ke arah Li Cu. Ia merasa heran sekali mengapa orang-orang itu sibuk hendak membuat rumah, akan tetapi seperti biasa ia tidak mengganggu "isterinya".
Di pagi hari yang sejuk ini timbul bermacam-macam pertanyaan di dalam otaknya yang tidak sehat. Kenapa isterinya menyebut "ayah" kepada orang tua yang katanya seorang ahli pedang berjuluk Bu-tek Kiam-ong bernama Cia Hui Gan? Ia sekarang sudah ingat bahwa ayah dari isterinya adalah Song-bun-kwi. Tapi kenapa Song-bun-kwi malah tidak kelihatan? Memang aneh isterinya sekarang. kelihatannya begitu mencinta padanya, akan tetapi kenapa amat berubah sehingga tidur pun mereka berpisah? Diam-diam ia merasa kecewa dan berduka, akan tetapi ia tidak berani membantah. Kalau isterinya marah dan meninggalkan dia, celaka.
Tiba-tiba terdengar kegaduhan hebat. Orang-orang berteriak-teriak dan ada yang memekik kesakitan, disusul gerengan seperti binatang buas mengamuk. Ada pula yang menjerit-jerit ketakutan disusul ketawa melengking. Cia Hui Gan dan Li Cu kaget sekali dan cepat mereka memandang. Apa yang mereka lihat membuat keduanya berubah mukanya. Para pekerja lari cerai-berai dan malah ada yang sudah roboh karena amukan dua orang yang bukan lain adalah Song-bun-kwi Kwee Lun dan Kwa Hong. Dengan gerakan-gerakannya yang luar biasa, kakek tua berpakaian putih ini menggereng-gereng
dan kadang-kadang melengking seperti orang menangis sambil menghantam ke kanan kiri merobohkan para pekerja yang tidak sempat lari menjatukan diri. Lebih hebat mengerikan lagi adalah sepak terjang Kwa Hong yang duduk di atas rajawali emasnya dan menyambar-nyambar dari atas menyebar maut kepada para pekerja. Kasihan sekali para penduduk kampung yang tidak memiliki ilmu kepandaian silat itu. Mereka berusaha lari menyelamatkan diri, namun hanya sedikit saja yang berhasil. Sebagiaan besar tak mampu lagi menyelamatkan diri dan terpaksa menjadi korban keganasan dua orang itu. Apalagi mereka hanyalah petani-petani yang tidak berkepandaian, andaikata mereka memiliki ilmu silat sekalipun belum tentu mereka akan dapat menghindarkan diri dari dua orang yang memiliki kepandaian dahsyat dan keganasan seperti iblis itu.
Melihat kejadian ini, tentu saja Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan seperti dibakar dadanya. Kemarahannya tak dapat ia tahan lagi dan serentak ia lalu mencabut pedang dari belakang punggung, meloncat ke depan dari membentak keras,
"Iblis jahat Song-bun-kwi dan kau tentu siluman betina she Kwa murid Hoa-san-pai. Hari ini kalian berani datang ke Thai-san membunuhi orang-orang tak berdosa, aku Cia Hui Gan bersumpah akan membasmi kalian." Pedangnya lalu digerakkan dan secepat kilat ia menerjang kepada Song-bun-kwi. Kakek ini pun sudah siap sedia cepat mengelak daripada sambaran sinar pedang yang luar biasa itu sambil memutar pedangnya sendiri untuk balas menyerang. Sementara itu Li Cu juga sudah melompat maju dan menggerakkan Liong-cu-kiam membantu ayahnya.
Akan tetapi dari atas terdengar suara ketawa mengikik dan menyambarlah sinar kehijauan lima buah banyaknya ke arah ayah dan anak itu. Cia Hui Gan dan Li Cu melompat ke samping sambil menggerakkan pedang menangkis. Terdengar suara keras dan bunga api muncrat menyilaukan mata. Li Cu merasa betapa telapak tangannya tergetar maka diam- diam ia kaget bukan main. Alangkah kuatnya wanita yang naik burung rajawaii itu. Sambil tertawa-tawa Kwa Hong juga sudah meloncat turun dari atas punggung rajawali yang segera terbang dan hinggap di atas puncak pohon besar sambil mengeluarkan bunyi melengking nyaring. Empat orang musuh besar itu kini saling berhadapan, masih belum bergerak lagi setelah gebrakan pertama tadi.
Bagaimanakah Kwa Hong bisa datang bersama Song-bun-kwi di Puncak Thai-san? Hanya kebetulan saja. Ternyata bahwa Song-bun-kwi yang merasa sakit hati terhadap bekas mantunya itu tidak jauh meninggalkan Thai-san. Ia selalu menanti saat baik untuk menculik dan membunuh Beng San. Akhirnya pada pagi hari itu ia melihat Kwa Hong menunggang burung rajawali naik ke Thai-san, Giranglah hatinya karena ia dapat menduga bahwa kedatangan tokoh baru yang menggemparkan ini pasti akan memusuhi Beng San, maka ia segera menyusul naik dan melihat Kwa Hong menghajar para pekerja, ia pun lalu turun tangan menyerbu. Yang amat berat dihadapi bagi Song-bun-kwi hanya Bu-tek Kiam-ong, maka kalau ia mendapat kawan yang kosen, ia tidak takut. Sementara itu Kwa Hong sengaja datang ke Thai-san karena ia sudah mendengar tentang keadaan Beng San yang kehilangan kepandaiannya. Ia ingin sekali menyaksikan dan kalau betul demikian berarti ia akan dapat membalas sakit hatinya. Ketika, ia melihat Song-bun-kwi membantunya, ia tidak berkata apa-apa, malah tidak peduli sama sekali.
"Cia Hui Gan, kenapa kau begini tak tahu malu? Anak perempuanmu yang bermuka tebal itu telah melindunginya? Hemm, apakah begini saja orang yang berjuluk Kiam-ong? Ternyata hanya orang rendah...!" Kwa Hong memaki kalang-kabut.
Wajah Cia Hui Gan menjadi merah sekali, matanya bersinar-sinar memancarkan api kemarahan, "Iblis wanita kau sebenarnya siapa dan apa maksudmu ke sini?" bentaknya.
"He, perempuan muda, jangan kau sembarangan bicara!" Song-bun-kwi juga kaget mendengar ucapan Kwa Hong dan cepat memaki. "Beng San suami anakku, sekarang dirampas oleh anak orang she Cia, Kenapa kau berani mengakunya sebagai suami? Apakah kau orang yang dulu melahirkan anak di tempatku, ditolong oleh Bi Goat?"
Kwa Hong mengeluarkan suara ketawa mengejek. "Kalian orang-orang tua tahu apa? Dengarlah baik-baik. Manusia bernama Tan Beng San itu, yang sekarang duduk di sana seperti patung hidup, sebelum dia menikah dengah Kwee Bi Goat, dia sudah lebih dahulu menjadi ayah dari anakku. Akulah orang yang paling berhak atas dirinya, siapa pun hendak menghalangi akan kubunuh mampus. Hee, Beng San! Hayo kau ikut denganku. Apakah kau tidak ingin menengok anakmu?"
Beng San hanya melongo, sama sekali ia tidak ingat lagi siapa adanya wanita yang bicara tidak karuan itu. Suara dan wajahnya serasa ia kenal baik, akan tetapi ia sudah lupa lagi kapan dan di mana. Beng San memijit-mijit keningnya, mengingat-ingat.
"Ho-ho, nanti dulu!" Song-bun-kwi berseru sambil tertawa mengejek. "Bukankah kau yang bernama Kwa Hong, anak murid Hoa-san-pai? Aku banyak mendengar tentang kau. Orang bilang bahwa kau telah menjadi isteri Koai Atong Si Bocah Tua gila. Kalau kau punya anak, tentulah anakmu dengan Koai Atong itulah. Kau murid Hoa-san-pai jangan banyak membohong di sini."
"Tutup mulutmu, tua bangka gila!" Kwa Hong membentak sambil mencabut pedang pusaka Hoa-san-pai. "Buka matamu dan lihat ini. Aku Ketua Hoa-san-pai, bukan murid lagi, tahu? Inilah pusaka Hoa-san-pai, berada di tangan Ketua Hoa-san-pai. Pedang pusaka ini kelak akan memenggal batang lehermu karena kau sudah berani berkurang ajar kepadaku. Sekarang hendak kupakai membasmi orang-orang yang berani merampas Beng San."
"Ha-ha-ha, bagus, bagus! Keluarga Cia memang patut dibasmi. Mari kubantu kau!" kata Song-bun-kwi yang cerdik dan licin.
Semenjak tadi Cia Hui Gan hanya berdiri dengan muka sebentar pucat sebentar merah. Ia merasa susah dan malu sekali. Sebagai seorang tokoh kang-ouw yang kenamaan tentu saja ia tahu akan peraturan kang-ouw. Dua orang yang datang ini memang berhak atas diri Beng San, yang seorang bekas kekasih Beng San, yang seorang lagi mertuanya malah. Memang dia dan puterinya berada di pihak yang salah. Akan tetapi mana bisa ia tidak membela Li Cu?
Tentu saja Li Cu maklum pula apa yang dipikirkan ayahnya, maka dengan gagah ia melangkah maju dan berkata lantang,
"Kalian bicara mau menang sendiri saja. Song-bun-kwi, sudah jelas bahwa kematian puterimu bukan karena kesalahan Beng San, melainkan karena Kwa-Hong yang merupakan kenyataan yang menghancurkan hatinya. Malah Beng San demikian mencinta puterimu itu sehingga kematiannya membuat Beng San kehilangan ingatannya. Dan kau, Kwa Hong, kau sungguh tak tahu malu, perbuatanmu dengan Beng San itu sudah menunjukkan betapa rendah watakmu. Hubunganmu dengan Beng San terjadi karena pengaruh racun, akan tetapi kau begitu tak bermalu untuk menyatakan Beng San adaiah suamimu."
"Setan betina tutup mulutmu!" Kwa-Hong menjadi marah, mukanya menjadi merah dan matanya liar. "Suami atau bukan dia adalah ayah anakku. Sebaliknya engkau ini bukan apa-apanya mengapa membela mati-matian? Bukankah kau yang tergila-gila kepada Beng San?"
"Memang, aku mencinta Beng San! jawab Li Cu dengan suara tegas dan sikap gagah sambil mengedikkan kepala. "Aku mencinta Beng San dan aku berhutang budi kepadanya. Sebaliknya, dia menganggap bahwa aku adalah isterinya yang sudab meninggal. Demi cintaku, dan demi untuk membalas budi, aku hendak melindunginya dengan taruhan nyawa dan ragaku. Kalau kalian berdua manusia-manusia berhati iblis bermaksud membunuh atau menculiknya, kalian harus lebih dulu dapat membunuh aku."
"Bagus, memang aku hendak membunuhmu!" Kwa Hong menjerit dan anak panah-anak panah pada ujung cambuknya menyambar.
"Trang-trang-trang!" Li Cu menangkis dengan Liong-cu-kiam. Ujung tiga batang anak panah itu patah semua sedangkan yang duah buah tidak mengenai pedang pusaka sehingga terhindar daripada kerusakan. Bukan main marahnya Kwa Hong melihat betapa dalam segebrakan saja senjatanya telah rusak oleh pedang lawan yang ternyata amat kuat itu. Ia mencabut Hoa-san Po-kiam dan menerjang lagi. Li Cu menangkis lagi dan kali ini ia terhuyung mundur dengan tangan sakit-sakit. Pedang di tangan Kwa Hong sama sekali tidak rusak. Hal ini tidak aneh karena Hoa-san Po-kiam juga, sebatang pedang pusaka yang ampuh.
Sementara itu Kwa Hong sudah menyerang lagi. Gerakannya dalam penyerangan amat aneh, menyambar-nyambar seperti gerakan seekor burung. Pedang Hoa-san Po-kiam meluncur ke arah tenggorokan Li Cu. Baru saja gadis ini hendak mengelak, ujung pedang itu sudah menyambar ke bawah membelah dada. Li Cu kaget dan cepat menggunakan Liong-cu-kiam menangkis, akan tetapi lagi-lagi ujung pedang lawan tidak melanjutkan serangannya dan tahu-tahu tangan kiri Kwa Hong yang memukul dengan gerakan pukulan Jing-tok-ciang. Li Cu benar-benar kaget sekali ketika tiba-tiba ada angin dingin, menyambar dari sebelah kanannya. Cepat ia mengelak namun karena serangan ini memang tidak tersangka-sangka olehnya, ia terdorong hawa pukulan Jing-tok-ciang dan
kembali ia terhuyung-huyung. Pada saat itu pedang Kwa Hong sudah mengejar pula dengan tusukan-tusukan dan bacokan-bacokan maut yang amat sukar diketahui perubahannya.
"Li Cu, mundurlah!" kata Cia Hui Gan sambil meloncat maju. Pedangnya menyambar mengeluarkan sinar kilat dan sekaligus ia telah berhasil mengancam pergelangan tangan Kwa Hong dengan gulungan sinar pedangnya yang hebat.
!" Kwa Hong berjengit sambil menarik tangannya ke belakang, juga melangkah mundur setindak, tidak melanjutkan desakannya kepada Li Cu. "Ayaaaa ....
"Ha-ha-ha, Raja Pedang tak tahu malu, mengeroyok seorang perempuan muda." kata Song-bun-kwi sambil terjun ke dalam kalangan pertempuran. Dengan Ilmu Pedang Yang- sin Kiam-sut ia segera menerjang Cia Hui Gan. Sementara itu, karena tadi kaget ketika pergelangan tangannya hampir putus oleh pedang Cia Hui Gan, Kwa Hong marah bukan main. Sambil mengeluarkan pekik melengking ia kini menerjang orang tua dari Thai-san itu sehingga dalam sekejap mata saja Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan sudah dikeroyok dua oleb Kwa Hong dan Song-bun-kwi.
Cia- Hui Gan berjuluk Bu-tek Kiam-Ong (Raja Pedang Tanpa Tanding), ilmu pedang Sian-li Kiam-sut adalah ilmu pedang keturunan yang aseli dari pendekar sakti Ang I Niocu ratusan tahun yang lalu. Semenjak ratusan tahun itu, Sian-li Kiam-sut boleh dibilang menjagoi diantara segala ilmu pedang. Sebetulnya, ilmu pedang ini masih bersumber dengan Im-yang Sin-kiam-sut atau boleh dikatakan cabangnya. Karena memiliki ilmu pedang ini yang sudah dilatihnya secara sempurna maka tidak heran apabila Cia Hui Gan merupakan jago pedang yang sukar dilawan.
Akan tetapi sekarang ia dikeroyok dua oleh dua orang lawan yang bukan orang sembarangan. Song-bun-kwi Kwee Lun adalah seorang tokoh kenamaan, malah tokoh nomor satu dari barat yang selain memiliki ilmu silat yang tinggi dan sakti, juga telah mendapatkan ilmu silat pedang Yang-sin Kiam-sut. Di dunia kang-ouw jarang ada yang dapat menandinginya. Adapun orang ke dua biarpun tidak ternama dan hanya merupakan murid Hoa-san-pai, akan tetapi Kwa Hong sekarang sama sekali tidak boleh disamakan dengan Kwa Hong dahulu ketika menjadi murid Hoa-san-pai. Kwa Hong telah mempelajari ilmu dari Koai Atong, terutama Jing-tok-ciang dan di samping ini, yang membuat ia sekarang sekaligus berubah menjadi seorang yang luar biasa adalah ilmu silat yang ia petik bersama Koai Atong dari gerakan-gerakan rajawali emas yang sekarang menjadi teman dan binatang tunggangannya.
Li Cu maklum bahwa kepandaian dua orang ini hebat sekali. Ketika ia ingat bahwa pedang di tangan Kwa Hong ternyata sebatang pedang pusaka yang ampuh, ia kuatir kalau-kalau ayahnya akan terdesak dan rusak pedangnya. Maka ia segera berseru,
"Ayah, kaupergunakan Liong-cu-kiam ini!"
Karena Cia Hui Gan juga seorang yang bermata awas dan tadi dapat melihat betapa
pedang Kwa Hong dapat menandingi Liong-cu-kiam, ia tidak mau banyak sungkan lagi. Diterimanya pedang Liong-cu-kiam pendek itu dengan tangan kirinya, lalu ia berseru,
"Li Cu, bawa Beng San pergi dari sini. Biar aku menandingi dua iblis jahat ini."
Akan tetapi Li Cu sendiri adalah seorang pendekar yang berhati baja, mana dia sudi meninggalkan ayahnya terancam bahaya dan melarikan diri?
"Tidak, Ayah. Mati hidup aku harus bersamamu, aku harus membantumu. Berikan pedangmu kepadaku."
"Jangan, Li Cu. Untuk menghadapi dua ekor manusia binatang ini aku sendirian sanggup. Kaubawa pergi Beng San, selamatkan dia lebih dulu."
Li Cu ragu-ragu dan sejenak ia berdiri memandang betul saja, biarpun dikeroyok dua, sepasang pedang di tangan ayahnya itu benar-benar hebat, merupakan dua gulung sinar pedang yang berlainan warna, menyambar-nyambar laksana naga di angkasa raya. Ilmu pedang ayahnya benar-benar sudah sampai di puncaknya. Hebat bukan main sampai Li Cu dalam suasana tegang itu menjadi kagum akan keindahan Ilmu Pedang Sian-li Kiam- sut yang dimainkan ayahnya.
Andaikata Song-bun-kwi dan Kwa Hong mengeroyoknya tidak menggunakan pedang, kiranya takkan mungkin Cia Hui Gan kuat mempertahankan diri. Tingkat kepandaian Song-bun-kwi tidak lebih bawah daripada tingkatnya sendiri, adapun wanita muda itu benar-benar memiliki ilmu silat yang aneh dan mujijat sekali. Baiknya kedua orang itu pun bermain pedang, sedangkan senjata pedang adalah permainan Cia Hui Gan semenjak kecil, yang menjadi keahliannya sehingga ia dijuluki Raja Pedang, maka menghadapi permainan pedang kedua lawannya, Hui Gan merasa lebih mudah untuk tidak saja mempertahankan diri, malah mendesak dengan jurus-jurus yang lihai.
Selagi Li Cu berdiam bimbang, tiba-tiba terdengar suara bentakan orang,
"Li Cu, kau benar-benar membikin malu aku yang menjadi kekasihmu."
Li Cu kaget sekali karena tiba-tiba muncul Tan Beng Kui bersama Hek-hwa Kui-bo. Hek-hwa Kui-bo segera menghunus pedang dan menyerbu ke dalam pertempuran sambil berseru kepada Song-bun-kwi, "Hi-hi-hi, tua bangka keparat, jangan kauperlihatkan sendiri kelihaian Yang-sin-kiam. Mana lebih hebat dengan Im-sin-kiam ilmuku?" Seperti kita ketahui dalam cerita Raja Pedang, kalau Song-bun-kwi dapat merampas kitab pelajaran Ilmu Pedang Yang-sin-kiam, adalah Hek-hwa Kui-bo ini berhasil merarnpas kitab pasangannya, yaitu yang mengandung pelajaran Ilmu Pedang Im-sin-kiam. Dengan munculnya ahli Im-sin-kiam ini, boleh dibilang Cia Hui Gan menghadapi pasangan ilmu Pedang Im-yang Sin-kiam-Sut yang hebat bukan main. Tentu saja ilmu pedang ini tidak sehebat kalau dimainkan oleh satu orang seperti Beng San sebelum ia kehilangan ingatannya. Betapapun juga, dalam gebrakan-gebrakan pertama saja sudah terlihat betapa
Cia Hui Gan menjadi sibuk menghadapi serangan-serangan pasangan dari dua orang tokoh ilmu silat kelas tinggi itu.
Li Cu kaget bukan main melihat kedatangan bekas suheng dan tunangannya beserta Hek- hwa Kui-bo itu. Ini berarti bertambahnya pihak lawan yang amat tangguh. Juga di samping kekuatirannya, ia menjadi marah sekali kepada Beng Kui. Tanpa banyak cakap lagi ia segera menerjang bekas tunangannya itu dengan pukulan-pukulan maut. Ia merasa menyesal sekali bahwa ia masih belum sempat mengambil pedang lain setelah Liong-cu- kiam dipinjamkan kepada ayahnya.
"Ha-ha, Li Cu. Kau tak tahu malu, melarikan laki-laki. Hah, perbuatan rendah dan hina,"
"Tutup mulut dan jangan mencampuri urusanku!" bentak Li Cu makin marah dan memperhebat serangannya. Akan tetapi dengan mudah Beng Kui dapat mengelak. Memang tingkat kepandaian Beng Kui lebih tinggi daripada kepandaian Li Cu, apalagi memang dahulu seringkali ia melatih ilmu silat kepada bekas sumoinya ini, maka gerakan-gerakan Li Cu ia sudah hafal benar.
Tiba-tiba Beng San datang berlari-lari dengan maksud hendak melerai mereka berdua yang sedang bertanding. Sejak tadi ia mendengarkan semua percekcokan dengan pikiran bingung dan hati berdebar. Ia menganggap mereka semua itu juga "isterinya", bicara tidak karuan. Selagi ia mengerahkan pikirannya untuk menyelami maksud semua percakapan yang ganjil itu, tiba-tiba muncul Tan Beng Kui dan di dalam kebingungannya ternyata ia masih dapat ingat dan kenal kepada kakak kandungnya ini. Sekarang kakak kandungnya itu bertempur melawan isterinya, tentu saja ia menjadi makin bingung dan cepat lari menghampiri untuk mencegah.
"Kui-ko... jangan berkelahi dengan dia. Dia itu isteriku!" tegurnya sambil menggerakkan kedua tangan ke atas untuk mencegah.
"Aha, sudah menjadi isterinya, ya? Sejak kapan?" Beng Kui mengejek sambil memandang kepada Li Cu, gadis ini menjadi merah mukanya, akan tetapi ia mengedikkan kepala dan menjawab lantang,
"Kalau betul kau mau apa? Bukan urusanmu!"
"Bi Goat, dia ini adalah kakak kandungku, jangan kau bertengkar kepadanya," kata pula Beng San, suaranya penuh permohonan."
“Ha-ha-ha-ha, menjadi isteri seorang gila Beng Kui tertawa dan mengejek lagi, kemudian tiba-tiba tangannya menghantam ke depan, tepat mengeriai dada Beng San, "Blukk!" Tubuh Beng San terlempar sampai beberapa meter jauhnya dan jatuh terguling. Akah tetapi ia segera bangun kembali dan bertanya dengan mata terbelalak heran.
"Kui-ko, kenapa kau memukulku?" tanyanya berulang-ulang sambil melangkah maju lagi.
Beng Kui tadinya girang karena kini mendapat kenyataan bahwa adik kandungnya yang dahulu lihai itu sekarang benar-benar telah kehilangan kepandaiannya. Tadinya ketika mendengar berita ini ia masih ragu-ragu. Ketika tadi ia mendengar Beng San mengaku Li Cu sebagai isteri dan menyebutnya "Bi Goat", ia tahu bahwa adiknya benar-benar telah kehilangan ingatan. Akan tetapi hal ini belum berarti kehilangan kepandaian, maka untuk mencobanya ia cepat memukul. Pukulan ini cepat dan tak terduga-duga sehingga Li Cu sendiri tidak sempat mencegah. Giranglah hati Beng Kui melihat pukulannya tepat dan membuat adik yang ditakuti itu terlempar dan bergulingan, akan tetapi ia kaget bukan main melihat Beng San bangun lagi dan tidak apa-apa. Padahal pukulannya tadi ia lakukan dengan pengerahan tenaga Iwee-kang. Ia tidak tahu bahwa tenaga Iwee-kang dan hawa murni di tubuh Beng San masih ada dan secara otomatis bergerak melindungi bagian yang terpukul. Ia mengira bahwa Beng San masih lihai seperti dulu. Akan tetapi melihat sikap Beng San dan mendengar pertanyaan yang berkali-kali itu ia dapat menduga bahwa Beng San masih dilindungi oleh hawa murni di tubuhnya, tapi takkan dapat mempergunakan hawa dan tenaganya untuk menyerang karena semua ilmu telah dilupakannya.
Sementara itu Li Cu marah bukan main melihat Beng San dipukul tadi. Juga ia merasa kuatir kalau-kalau Beng San terluka parah, biarpun ia melihat Beng San sudah bangkit kembali dan malah mendekati Beng Kui. Karena kuatir kalau Beng Kui memukul lagi, Li Cu mendahuluinya dan menyerang hebat. Beng Kui tertawa-tawa dan segera melayaninya. Adapun Beng San berteriak-teriak mencegah mereka bertempur.
Hati Li Cu gelisah bukan main. Biar pun ia sedang berhantam dengan Beng Kui, namun ia dapat menangkap dengan pendengaran telinganya yang tajam bahwa keadaan ayahnya mulai terdesak hebat. Hal ini mengguncangkan hatinya dan mengacaukan gerakan kaki tangannya.
"Beng Kui anak durhaka! Lepaskan Li Cu!" tiba-tiba Gia Hui Gan berteriak keras. "Li Cu, bawa Beng San pergi jauh-jauh!"
Akan tetapi kata-katanya itu disambut dengan ketawa mengejek oleh Beng Kui, Cia Hui Gan tidak berdaya menolong puterinya karena tiga orang lawannya makin hebat mendesaknya. Rupanya karena maklum bahwa mereka menghadapi lawan yang amat tangguh, Hek-hwa Kui-bo dan Song-bun-kwi dapat bekerja sama dan mempergunakan Yang-sin Kiam-sut dan Im-sin Kiam-sut untuk mengeroyok jago pedang itu. Sedangkan Kwa Hong dengan ilmu silatnya yang tidak karuan namun dahsyat sekali, terus melancarkan serangan-serangan maut.
Li Cu makin gelisah dan kesempatan ini dipergunakan dengan baik oleh Beng Kui. Sebuah tendangan pada sambungan lutut membuat Li Cu roboh dan susulan totokah membuat gadis itu 'tidak dapat bergerak pula,
!" Beng San berseru dan menubruk Li Cu, akan tetapi ia pun segera lemas tak dapat bergerak karena ditotok oieh Beng Kui pada dua jalan darahnya "Jangan pukul isteriku ....
yang penting. Kemudian sambil tertawa-tawa Beng Kui mengempit tubuh Li Cu dan Beng San, lalu di bawa pergi lari cepat dari tempat itu.
!" Cia Hui Gan membentak dan pedang di tangan kanannya meluncur cepat mengejar bayangan Beng Kui. Orang muda ini maklum akan kehebatan ilmu melempar pedang dari gururnya, ia menjadi pucat dan kaget sekali. Cepat ia mengelak dan merendahkan tubuh, namun tetap saja pundaknya tertusuk pedang dari belakang dan Beng Kui sambil menjerit kesaktian mempercepat larinya. Tubuh Li Cu dan Beng San masih dikempitnya dan pedang itu pun masih menancap di pundaknya. "Beng Kui... keparat .... ! Lepaskan Li Cu ....
Masih untung bagi Beng Kui bahwa pada saat itu Kwa Hong, Hek-hwa Kui-bo dan Song- bun-kwi mendesak Cia Hui Gan sehingga Raja Pedang ini tidak sempat lagi untuk mengejarnya. Malah kini keadaan Cia Hui Gan terdesak hebat karena di tangannya hanya terdapat sebatang pedang pendek, yaitu pedang Liong-cu-kiam karena pedangnya sendiri tadi telah disambitkan ke arah Beng Kui dalam usaha mencegah bekas murid itu menculik puterinya. Hai ini ditambah lagi oleh hatinya yang risau memikirkan puterinya, maka permainan pedang Cia Hui Gan menjadi agak kalut dan kurang kuat bagian pertahanannya. Kesempatan yang baik ini dipergunakan oleh tiga orang pengeroyoknya untuk menghujankan serangan pedang. Raja Pedang itu kurang cepat dan kulit lambungnya tergores pedang di tangan Kwa Hong. Darah mengucur dan membasahi bajunya.
Rasa perih menimbulkan kemarahan hebat dan mengobarkan semangat perlawanan Cia Hui Gan. Kakek yang gagah perkasa ini mengeluarkan seruan panjang dan pedangnya yang hanya pendek saja itu berubah menjadi sinar bergulung-gulung, dahsyat sekali. Bunyi nyaring beradunya pedang-pedang pusaka makin sering dibarengi berpijarnya bunga-bunga api. Namun tiga orang pengeroyoknya juga makin memperhebat tekanan karena mereka merasa penasaran sekali. Sambil mengerahkan tenaganya yang mujijat Kwa Hong memutar pedang tiga kali, lalu membalikkan arah pedang menusuk ke arah perut Raja Pedang itu. Pada saat yang sama Hek-hwa Kui-bo dengan gerakan lemas membabat kakinya. Dua penyerangan sekaligus dari dua jurusan ini benar-benar berbahaya dan hebat. Cia Hui Gan membentak nyaring, pedangnya berkelebat ketika menangkis tusukan Kwa Hong dan pada saat itu ia harus pula meloncat tinggi-tinggi untuk menghindarkan diri dari babatan pedang Hek-hwa Kui-bo. Detik berikutnya pedang di tangan Song-bun-kwi sudah menyambar datang, menusuk punggung. Cepat ia menurunkan lagi kakinya setelah babatan lewat, tubuhnya agak miring karena pedangnya masih tergetar dalam menangkis tusukan Kwa Hong, ia tidak sempat lagi mengelak atau menangkis. Namun dengan gerakan tiba-tiba, lengan kirinya yang ditekuk itu digerakkan sedemikian rupa sehingga sikunya membentur pinggir pedang Song-bun-kwi. Tepat dan cepat sekali gerakan ini dan pedang Song-bun-kwi meluncur lewat pinggir tubuhnya, merobek pakaian dan melukai kulit, tapi ia selamat.
"Bagus!" Song-bun-kwi memuji dan kagum sekali melihat betapa dalam cengkeraman maut itu lawannya masih mampu menyelamatkan diri. Selanjutnya dengan penuh penasaran hati ia mendesak terus, mainkan Yang-sin Kiam-sut yang bersifat keras itu.
Tekanan makin hebat, Cia Hui Gan sudah mengerahkan seluruh tenaga, kegesitan dan mengeluarkan seluruh kemahiran bermain pedang. Namun tetap saja ia didesak terus dan tidak ada jalan keluar lagi baginya kecuali melawan mati-matian. Ia sudah menderita beberapa luka ringan. Darah membasahi seluruh pakaiannya. Ia sudah terluka di pundak, di pangkal lengan, di kedua paha, malah sebuah tusukan yang agak dalam di punggung membuat gerakannya makin lemah dan lambat. Namun semangatnya tak kunjung padam, sambil mengeluarkan bentakan-bentakan hebat kakek ini mengamuk terus seperti banteng terluka.
Tiba-tiba Kwa Hong mengeluarkan suara melengking yang aneh dan ternyata kemudian bahwa suara ini adalah suara panggilan untuk burung rajawali emas yang sejak tadi bertengger di cabang pohon besar yang tak jauh dari situ. Segulung sinar kuning emas meluncur turun dibarengi lengking yang seperti tadi keluar dari mulut Kwa Hong.
"Tiauw-heng (Kakak Rajawali), bantulah aku!" seru Kwa Hong sambil memperhebat desakannya kepada Cia Hui Gan.
Burung itu agaknya sudah hafal akan suara dan perintah Kwa Hong. Melihat bahwa nonanya itu bertempur melawan Gia Hui Gan, ia cepat menukik ke bawah menerjang Raja Pedang itu. Tiba-tiba burung itu terbang membalik, berputaran di atas sambii memekik-mekik nyaring. Agaknya ia ragu-ragu dan bingung, kemudian ia menukik lagi dengan kedua kakinya bergerak-gerak menyerang. Cia Hui Gan memang sudah terdesak dan terkurung hebat, sekarang mendadak ia melihat gerakan kedua kaki burung itu. Ia tidak dapat menangkis lagi dan... secara aneh sekali tahu-tahu pedang di tangannya sudah dicengkeram oleh burung itu dan dibetot terlepas dari tangannya. Cia Hui Gan ia kenal, kemudian teringatlah ia bahwa gerakan itu mirip, bahkan tidak ada bedanya dengan gerakan Sian-li-teng-liong (Bidadari Menunggang Naga), sebuah gerakan yang terahasia dari ilmu silatnya Sian-li Kiam-sut.
" serunya terheran-heran, akan tetapi ia tidak dapat melanjutkan kata- katanya karena pada saat itu tiga batang pedang sudah ambles memasuki tubuhnya. Cia Hui Gan tidak me-ngeluarkan suara lagi, roboh dan tewas di saat itu juga. Sungguh patut disesalkan nasib seorang Raja Pedang yang namanya sudah puluhan tahun gemilang dikagumi orang, ternyata sekarang harus mengorbankan nyawa gara-gara asmara yang telah menguasai hati puterinya. "Kau... kau ....
"Berikan Liong-cu-kiam itu kepadaku!" bentak Song-bun-kwi sambil melotot kepada Kwa Hong yang sudah menerima pedang pusaka itu dari burung rajawalinya.
"Tidak, harus kauberikan kepadaku!" bentak Hek-hwa Kui-bo sambil menerjang maju hendak merampas Liong-cu-kiam yang amat diinginkan itu. Akan tetapi sekali menggerakkan kaki secara aneh usaha Hek-hwa Kui-bo untuk merampas pedang itu gagal dan ia hanya menangkap angin. Diam-diam nenek ini kaget sekali. Biarpun tadi dalam pengeroyokan atas diri Raja Pedang ia sudah mendapat kenyataan betapa lihainya
wanita muda ini, namun tak pernah disangkanya akan demikian hebat sehingga serangannya merampas pedang dapat digagalkan hanya dengan menggerakkan kaki saja.
"Kalian ini tua bangka tak tahu diri. Bukalah matamu baik-baik dan lihat kepada siapa kalian bicara. Kalau tidak ada aku dan rajawali emasku, mana bisa kalian mengalahkan Bu-tek Kiam-ong? Sekarang masih berlagak hendak merampas pedang? Lihat, yang di tangan kananku ini adalah Hoa-san Po-kiam pedang pusaka Hoa-san-pai yang menandakan bahwa aku adalah Ketua Hoa-san-pai. Dan di tangan kiriku ini adalah Liong-cu-kiam yang menandakan bahwa aku lebih lihai daripada Bu-tek Kiam-ong dan tentu saja lebih lihai daripada kalian tua bangka. Mau pedang? Hi-hi-hi, kalau kalian sudah mengidam kuburan, boleh, majulah untuk kutebas batang leher kalian, seorang satu." Ia meyodorkan kedua pedang itu ke depan sambil tersenyum-senyum penuh ejekan.
Hek-hwa Kui-bo dan Song-bun-kwi saling pandang. Baru satu kali selama hidup mereka itu mereka menerima hinaan dan kekalahan dari seorang muda, yaitu dari Beng San. Dan sekarang ada seorang gadis muda lagi yang mengejek dari menantang mereka. Tanpa mengeluarkan suara, saling pandang ini cukup bagi dua orang tokoh itu bersepakat mencoba kepandaian mereka yang sebetulnya berpasangan itu kepada gadis aneh ini. Serentak keduanya bergerak menyerang Kwa Hong.
Kwa Hong mengeluarkan suara ketawa sambil menangkis dengan sepasang pedangnya. Akan tetapi suara ketawanya tidak berlangsung lama karena ia segera menjadi repot sekali oleh pengeroyokan dua orang itu. Hek-hwa Kui-bo mainkan Ilmu Pedang Im-sin Kiam-sut sedangkan Song-bun-kwi mainkan Yang-sin Kiam-sut dan mereka dapat bekerja sama secara baik sekali. Menghadapi pasangan ilmu pedang sakti ini, Kwa Hong segera terdesak hebat dan untung baginya ia sudah paham betul akan gerakan dan perubahan geseran kaki menurut gerakan rajawali emas, sehingga biarpun terdesak hebat ia masih dapat menyelamatkan diri secara aneh. Akhirnya ia melengking keras minta bantuan rajawali.
Rajawali emas menyambar-nyambar di atas kepala dua orang itu Song-bun-kwi dan Hek- hwa Kui-bo tadi sudah menyaksikan ketika rajawali itu merampas pedang dari tangan Cia Hui Gan, maka mereka kaget dan cepat meloncat dan menjatuhkan diri. Kesempatan ini dipergunakan Kwa Hong untuk meloncat ke atas punggung burungnya, sambil tertawa- tawa berkata,
"Aku tidak ada waktu untuk main-main dengan kaiian dua orang tua bangka." cepat burungnya terbang meninggalkan dua orang itu yang menyumpah-nyumpah saking mendongkol dan marahnya.
"Ah, kenapa begini tolol? Aku harus menangkap Beng San keparat!" tiba-tiba Song-bun- kwi teringat akan urusannya dan tanpa menoleh lagi kepada Hek-hwa Kui-bo ia berlari cepat mengejar ke arah larinya Beng San dan Li Cu tadi.
Hek-hwa Kui-bo datang bersama Beng Kui. Memang ia dimintai tolong oleh orang muda
itu setelah Beng Kui mendengar bahwa Beng San telah kehilangan ingatan dan kepandaiannya. Seperti telah dituturkan di bagian atas, antara Hek-hwa Kui-bo dan Beng Kui terdapat kerja sama lagi ketika mereka membantu pemberontak-pemberontak yang hendak menggulingkan kedudukan Kaisar pertama dari Kerajaan Beng. Kini Beng Kui berhasil dengan usahanya, yaitu menculik Beng San dan Li Gu. Akan tetapi, di belakang orang muda itu mengejar Song-bun-kwi dan mungkin juga Kwa Hong, siapa tahu? Sudah menjadi tugasnya untuk membantu Beng Kui, maka ia pun lalu meninggalkan tempat itu dan menyusul Beng Kui karena ia tahu ke mana pemuda itu membawa pergi dua orang korbannya itu.
Dalam kempitan Beng Kui, Beng San tak berdaya. Akan tetapi diam-diam ia memutar terus otaknya yang sejak pertempuran di Thai-san tadi mengalami guncangan-guncangan hebat. Banyak hal yang membingungkannya. Sekarang kakak kandungnya menangkap dia dan isterinya. Apakah kesalahannya? Apa pula kesalahan isterinya? Dan ke mana mereka berdua hendak dibawa? Hendak diapakan?
Seingatnya, isterinya adalah seorang yang memiliki ilmu silat tinggi, puteri dari Song- bun-kwi. Kenapa tadi Song-bun-kwi, teringat ia sekarang, tidak menolongnya dan menolong isterinya?
" akhirnya hatinya memutuskan karena kepalanya serasa pecah karena kepeningan ketika ia mencoba memecahkan semua rahasia itu. ""Aku tidak peduli itu semua ....
.... asal saja
" Ia merasa kuatir sekali kalau-kalau isterinya diganggu orang. Kalau sampai terjadi demikian biarpun yang mengganggunya itu kakak kandungnya, biarpun dia sendiri tidak bisa silat, hemm... dia akan mencegahnya dan melawan mati-matian mempertaruhkan nyawanya sendiri. Bi Goat jangan diganggu ....
"Kui-ko, kenapa kau menangkap kami suami isteri dan ke mana kau hendak membawa kami?" Beng San akhirnya bertanya. Akan tetapi yang ditanya tidak menjawab, melainkan berlari makin cepat lagi. Beng San mengulang-ulang pertanyaannya, namun Beng Kui tetap tidak menjawab sedangkan Li Cu tidak dapat bersuara karena jalan darah di lehernya telah tertotok.
Semenjak Beng Kui gagal dalam rencana pemberontakannya dahulu, hatinya menjadi lebih sakit dan menaruh dendam kepada Beng San. Ia sudah mendengar betapa adik kandungnya itulah yang telah menggagalkan pencegatan terhadap Kaisar, malah ia mendengar betapa dengan kerja sama antara Beng San dan Li Cu,
Ho-hai Sam-ong tewas pula dalam pertempuran. Semua ini ditambah lagi dengan kenyataan betapa gurunya sendiri pun turun tangan di kota raja menghadapinya, maka ia menaruh sakit hati terhadap bekas gurunya, terhadap Li Cu dan terutama sekali terhadap Beng San. Inilah yang menyebabkan mengapa ia sengaja datang ke Thai-san bersama Hek-hwa Kui-bo ketika ia mendengar berita bahwa Beng San yang ia takuti itu telah kehilangan kepandaiannya dan menjadi orang gila.
Sebagai seorang bekas pemberontak, tentu saja Beng Kui tidak dapat bebas. Ia
menyembunyikan diri sambil menunggu saat baik, malah membuat tempat persembunyian tak jauh dari Puncak Thai-san. Di sebuah hutan ia telah mendirikan rumah besar dan ia mempunyai banyak kaki tangan yang masih setia kepadanya dan Beng Kui kalau berada di tempatnya ini menganggap diri sendiri seolah-olah telah menjadi seorang "raja kecil". Isterinya, puteri pangeran yang bertubuh lemah, tidak ia ajak dalam perantauan dan persembunyiannya ini, melainkan ia tinggalkan di tempat persembunyiannya dekat kota raja.
Menjelang senja. Beng Kui memasuki sebuah hutan besar di kaki Gunung Thai-san sebelah utara. Hutan itu gelap dan amat liar, tak pernah didatangi manusia. Akan tetapi ternyata di tengah-tengah hutan besar itu terdapat sebuah rumah besar dikelilingi rumah- rumah agak kecil. Inilah "perkampungan" kecil yang dijadikan tempat persembunyian Beng Kui bersama pengikut-pengikutnya. Kedatangannya disambut oleh beberapa orang kaki tangannya. Beng Kui langsung memasuki rumahnya dan membanting tubuh Beng san ke atas lantai. Pemuda ini terbanting dan bergulingan dan terdengar beberapa orang anak buah Beng Kui tertawa mengejek.
"Kui-ko, di manakah ini? Rumah siapa dan apa yang hendak kaulakukan terhadap kami? Kaulepaskan isteriku!" Beng San tidak pedulikan tubuhnya yang sakit-sakit lalu merangkak bangun. Andaikata Beng Kui tidak semarah itu, kiranya hal ini akan menimbulkan, keheranannya.
Akan tetapi ia lupa bahwa tadi ia telah menotok jalan darah di tubuh Beng San yang membuat adiknya itu lumpuh.
"Kau mau tahu apa yang hendak kulakukan? Ha-ha-ha, aku takkan membunuhmu sekarang. Kau harus melihat dulu apa yang akan kulakukan terhadap perempuan tak tahu malu ini." ia melempar Li Cu ke atas sebuah dipan diruangan itu. Gadis itu jatuh lemas dan tak dapat bergerak, hanya sepasang matanya yang memandang tajam penuh kemarahan dan kebencian, Beng Kui mengejar maju dan sekali tangannya bergerak ia telah membebaskan totokan pada leher gadis itu sehingga Li Cu dapat bicara kembali. Saking marahnya sampai gadis itu tidak mampu mengeluarkan perkataan apa-apa.
"Kui-ko, kau tahu bahwa aku tidak takut mati. Kau mau bunuh aku, boleh bunuh. Akan tetapi kau harus bebaskan Bi Goat, dia itu tidak mempunyai dosa apa-apa terhadap dirimu. Kalau kau benci kepadaku, kalau kau marah kepadaku, boleh kauperlakukan aku sesukamu, tapi jangan, ganggu Bi Goat." kembali Beng San memohon kepada kakaknya. Beng Kui tertawa mengejek, "Sudah kukatakan tadi, kau tidak kubunuh sekarang. Kau perlu hidup untuk menyaksikan betapa aku akan membuat wanita tak tahu malu ini sebagai barang permainanku. Ya, aku harus membalas, dia harus menjadi permainanku, ha-ha... dan di depan matamu, Beng San. Kalau aku sudah bosan, baru kurusak mukanya dan kubebaskan dia dan kaupun akan kulempar ke dalam jurang di belakang rumah. Sudah terlalu sering kau merusak rencanaku, sudah terlalu banyak kau menggagalkan usahaku." Ia ketawa lagi dan berpaling kepada beberapa orang anak buahnya yang berada di situ, berdiri seperti patung.
"Sediakan hidangan untukku!" Orang-orang itu memberi hormat sambil berlutut lalu mengundurkan diri. Beng Kui tertawa lagi. "Lihat Beng San, lihat baik-baik. Biarpun kau sudah menggagalkan semua rencanaku, namun aku tetap dapat hidup sebagai raja. Dan kau akan kujadikan anjing, manusia bukan binatang pun bukan, hidup tidak mati pun belum. Dan dia... ha-ha, perempuan yang mencintamu ini yang melempar aku memilih kau, dia akan melihat bahwa aku jauh iebih berharga daripadamu."
Beng San sukar menangkap arti semua ucapan itu, ia berusaha mengingat-ingat dan memeras otaknya maka ia berdiri bengong seperti patung batu. Adapun Li Cu saking marahnya sampai seperti gagu tak dapat bicara, hanya pancaran matanya yang berapi-api seperti hendak membakar tubuh Beng Kui dengan api kebencian yang berkobar-kobar. Akan tetapi di samping kebencian dan kemarahannya ini, diam-dian Li Cu menjadi terheran-heran. Belum pernah ia melihat suhengnya itu seperti sekarang ini. Alangkah jauh bedanya dengan dahulu. Makin memuncak herannya ketika hidangan yang mewah disediakan di atas meja. Beng Kui makan minum seorang diri dengan sikap berlebihan. Orang-orang yang melayaninya kelihatan amat menghormat seakan-akan melayani seorang kaisar saja. Dilihat keadaannya sekarang dan dibandingkan dengan dahulu, agaknya lebih pantas kalau dikatakan bahwa Beng Kui telah berubah pikirannya atau tidak waras lagi pikirannya.
Setelah selesai makan, Beng Kui melemparkan beberapa potong tulang kepada Beng San sambil tertawa dan berkata, "He, anjing... nih kuberi tulang, makanlah! Ha-ha-ha!"
Beng San berdiri tak bergerak, hanya memandang kepada kakak kandungnya yang seperti orang gila itu. "Kui-ko ingatlah... kenapa kau menjadi begini .... ? kau seperti orang
gila .... "
"Keparat!" Tubuh Beng Kui bergerak tangannya kiri kanan menampar dan "plak-plak- plak!" muka Beng San sudah dihujani tamaparan yang keras sehingga Beng San terhuyung-huyung dan kedua pipinya menjadi merah.
"Bersihkan meja dan tinggalkan kami. Tutup pintu depan, jaga baik-baik!" Beng Kui memberi perintah kepada orang-orangnya yang dengan sigap lalu mengerjakan perintah orang muda itu. Tak lama kemudian mereka bertiga sudah ditinggalkan pergi oleh para pelayan.
Beng San masih berdiri tegak, bekas tamparan kakaknya masih tampak di kedua pipinya. Setelah semua pelayan pergi, Beng Kui mencabut pedang Liong-cu-kiam dari pinggangnya, lalu menghampiri Beng San yang berdiri dengan sikap tegak, sama sekali tidak kelihatan takut. Kiranya biarpun kehllangan ingatan dan kepandaian, namun Beng San tidak pernah kehilangan keberanian dan ketabahannya.
"Hemm, kau hendak bunuh aku, Kui-ko? Mau bunuh boleh bunuh, aku tidak takut. Akan tetapi jangan sekali-kali kau mengganggu isteriku. Dia... tidak berdosa, kenapa kau menawannya? Lekas kaubebaskan dia!"
"Beng San keparat, hayo kau lekas berlutut! Hayo!"
Akan tetapi Beng San berdiri tegak dan memandang dengan matanya yang kini bersinar tenang dan bodoh. Teringat ia akan segala pelajaran filsafatnya dan ia menjawab, "Kui- ko, aku hanya dapat berlutut kepada Tuhan, kepada nenek moyang, kepada ayah bunda, kepada guru, kepada pemimpin dan kepada orang yang telah kuperlakukan dengan keliru sehingga aku patut minta ampun kepadanya. Padamu aku tidak salah apa-apa, kenapa harus berlutut."
"Keparat!" Kaki Beng Kui bergerak dan lutut Beng San keduanya telah kena ditendang dengan cepat. Beng San tak dapat mempertahankan diri lagi dan jatuh berlutut.
Beng Kui tertawa bergelak-gelak, "Ha-ha-ha, akhirnya kau berlutut juga di depanku. Hemm, kau mengaku adik kandungku, akan tetapi semenjak pertemuan kita kau selalu menjadi perintang, selalu menjadi penghalang dan selalu menjadi pengacau hidupku. Sudah sepatutnya kalau kau kubunuh."
"Beng Kui, kau ini manusia apakah? Cih, tak tahu malu, curang, dan benar-benar pengecut besar. Kau berani bertingkah setelah melihat Beng San kehilangan ingatannya. Coba kalau dia masih seperti biasa, aku berani bertaruh kau akan lari tunggang-langgang kalau ber-temu dengan dia. Huh, muak perutku melihat mukamu." Ucapan ini keluar dari mulut Li Cu yang marah bukan main menyaksikan betapa Beng Kui memperlakukan Beng San seperti itu.
Pucat muka Beng Kui mendengar cacian yang luar biasa menghinanya ini. Selama hidupnya belum pernah Li Cu berani bicara seperti ini kepadanya, kepada dia yang menjadi kakak seperguruannya, juga menjadi bekas tunangan. Benar-benar penghinaan yang melampaui batas. Sekali melompat ia telah berada di pinggir dipan, memandang kepada Li Cu yang rebah miring di atas dipan karena masih tertotok, namun sepasang matanya memandang tajam penuh kebencian.
"Kau berani menghinaku? Apa kaukira aku pun tak dapat mempermainkan dan menghinamu?" Pedangnya berkelebat dan "brettt" robeklah baju Li Cu. Baju luar berwarna merah itu robek lebar sekali sehingga tampak baju dalamnya yang berwarna merah muda, Beng Kui tertawa terbahak-bahak sedangkan Li Cu menjadi pucat sekail, tak berani mengeluarkan kata-kata lagi saking ngerinya melihat perbuatan bekas suhengnya yang seperti kemasukan iblis itu,
"Kui-ko, jangan kauganggu isteriku!" Beng San lari menghampiri dan mengangkat tangan hendak mencegah kakaknya bertindak lebih jauh.
Akan tetapi sambil membalikkan tubuh Beng Kui menendang lagi dengan kerasnya sehingga tubuh Beng San terlempar dan terbanting pada dinding. Namun Beng San sudah nekat. Ia bangun lagi, menghampiri dan berseru.
"Tak boleh kau menghina isteriku... Tak boleh..."
Sekali lagi ia terjungkal karena tendangan Beng kui pada perutnya. Kali ini agak sukar Beng San untuk bangkit. Tendangan itu membuat napasnya menjadi sesak. Akan tetapi sambil merangkak mendekati kakaknya lagi dan merangkul kedua kakinya "Kui-ko, jangan...jangan kau menggangu isterku..., bunuhlah aku kalau kau kehendaki, tapi bebaskan dia .... "
Beng Kui mehjadi gemas sekali, Pedang di tangannya berkelebat ke arah Beng San. Li Cu menjerit dan... rambut di kepala Beng San terbabat putus. Li Cu terisak-isak saking kuatirnya, akan tetapi Beng San sama sekali tidak kelihatan gentar biarpun tadi pedang itu hampir saja membabat putus batang lehernya.
"Kui-ko, sekali lagi kuminta, jangan kauganggu isteriku."
"Bangsat, kalau aku mengganggunya kau mau apa? Hayo kau mau apa? Beng Kui menantang.
"Biarpun aku tidak pandai silat, aku akan melawanmu!" kata Beng San sambil berusaha untuk berdiri.
"Ha-ha-ha-ha, kau hendak melawan? Nah, terimalah bacokan ini!" Pedang di tangannya berkelebat dan kini benar-benar melayang ke arah batang leher Beng San dengan cepat dan kuat.
!!" Li Cu menjerit lagi dengan sekuat tenaga dan ia hampir pingsan melihat pedang itu menyambar leher kekasihnya. "Beng San ....
Beng San terjungkal dan tak bergerak. Akan tetapi lehernya tidak putus dan tidak ada setetes pun darah keluar. Kiranya tadi Beng Kui hanya menakut-nakuti saja dan membalik pedangnya sehingga punggung pedangnya yang menghantam belakang kepala Beng San, bukan mata pedangnya. Pukulan ini keras sekali dan Beng San tersungkur, tak mampu bangun kembali. Ia merasa seperti melayang-layang dari tempat yang amat tinggi penuh bintang beraneka warna beterbangan di sekelilingnya. Ia jatuh terus ke bawah, makin lama makin cepat. Mula-mula melalui ruangan yang putih seperti salju, lalu ruangan merah seperti darah, Kemudian setelah melalui beberapa ruangan yang beraneka warna ia tidak melihat apa-apa lagi. Hanya perasaannya masih menyatakan bahwa ia terus melayang-layang ke bawah. Telinganya mendengar suara yang mengerikan, mengiang-ngiang dan mendengung-dengung, kadang-kadang rendah, lalu disusul suara ketawa terbahak-bahak yang bergema di sekelilingnya, disusul suara tangis yang memilukan.
Apakah aku sudah mati? Di mana aku berada? Bukan aku yang mati, melainkan Bi Goat. Ah, Bi Goat sudah mati dan ia mengunjungi kuburannya. Bi Goat isterinya yang tercinta, telah mati. Apakah aku juga sudah menyusulnya dan sekarang terseret?
"Bi Goat... Bi Goat .... " Ia mencoba untuk memanggil, namun tidak terdengar suaranya.
!!" Teriakan ini seperti terdengar dari tempat yang amat jauh dan Beng San merasa seakan-akan ia berhenti melayang. Tahu-tahu ia merasa telah berada di atas bumi. Mimpikah aku? Siapa yang memanggilku tadi? Apakah Bi Goat? Ia merasa kini bahwa tubuhnya sedang rebah tertelungkup. Ah, tentu ia mimpi, tapi"Beng San ....
....
"Beng San!!" Makin keras panggilan ini, suara wanita dan jerit itu menyayat hati benar. Ia membuka mata. Benar saja, ia sedang rebah tertelungkup. Akan tetapi mengapa di atas lantai? Kedua kakinya sakit dan lehernya juga sakit. Ia menoleh ke atas. Apa yang dilihatnya membuat ia bengong dan terbelalak. Gilakah dia? Kenapa dia melihat semua ini? Ia melihat Beng Kui kakaknya dan LiCu yang tidak dapat bergerak di atas dipan dan Beng Kui yang berdiri di dekat dipan sambil tertawa-tawa. "Beng San...!!" Kembali Li Cu memekik dan kembali Beng Kui tertawa, ....
"Ha-ha-ha, kau boleh seribu kali memanggilnya. Dia tak dapat bangun lagi, anjing lemah itu. Ha-ha, Li Cu, benar-benar aku masih hampir tak dapat percaya kalau kau dapat jatuh cinta kepada orang gila!"
Beng Kui, kenapa kau begini kejam? Apakah kau hendak membunuh adik kandungmu sendiri? Apakah kesalahannya? Kalau begitu, kau bunuh aku juga, Beng kui."
"Tidak, kau takkan kubunuh. Sayang kecantikanmu. Aku masih cinta kepadamu, Li Cu. Dan kau, mau tidak mau, harus menemaniku di dalam hutan ini."
"Tidak! Aku lebih baik mati! Beng Kui ingatlah. Aku... aku hanya cinta kepada Beng San. Aku mau mati atau tidak bersama dia. Kalau kau sudah membunuhnya, kaubunuhlah aku. Kalau kaulakukan itu, aku bersumpah takkan menaruh dendam kepadamu. Bunuhlah aku." Li Cu terisak-isak menangis.
"Benar-benar aneh kau ini, Li Cu. Beng San sudah gila, dia selain gila juga menjadi orang lemah. Kau dianggapnya isterinya yang bernama Bi Goat, yang sudah mati. Terang bahwa ia tidak mencintamu sebagai Li Cu, melainkan mencintamu sebagai Bi Goat. Kenapa kau bisa membalas cinta kasih orang gila macam itu? Aku belum membunuhnya, Li Cu. Akan tetapi, kalau kau dengan suka rela mau menjadi isteriku, aku akan bebaskan dia. Sebaliknya, kalau kau tetap keras kepala, aku akan membunuhnya setelah menyiksanya seperti anjing gila, dan kau tetap akan kujadikan isteriku!"
Sepasang mata Li Cu terbelalak lebar dan kemarahahnya tak dapat ditahannya lagi. "Keparat, kau! Iblis kau! Tuhan akan mengutukmu, jahanam."
"Ha-ha-ha, kau hendak mengamuk lagi? Ha-ha, Li Cu, mati hidupmu di tanganku, tahu?" "Aku tidak takut! Kau iblis bermuka manusia. Terkutuklah kau!"
"Ha-ha-ha, makin manis saja kalau kau marah-marah." Pedangnya bergerak perlahan dan
"brettt!" sekarang pakaian dalam yang menempel di tubuh Li Cu robek pula oleh ujung pedang. Li Cu menjerit ngeri dan menutupkan matanya yang penuh air mata. Akan tetapi apa dayanya? Tubuhnya tak mampu bergerak. Tiba-tiba tubuh Beng Kui terlempar ke belakang, menimpa meja yang tadi ia pakai makan minum sampai meja itu patah-patah kakinya. Kaget bukan main Beng Kui yang tadi merasa seakan-akan tubuhnya bisa terbang melayang begitu saja. Cepat ia meloncat bangun sambil mempersiapkan pedang yang masih terpegang olehnya. Ketika ia membalikkan tubuh memandang, matanya terbelalak lebar seakan-akan hendak meloncat keluar dari tempatnya. Ia melihat Beng San sudah berdiri di depannya dengan sepasang.mata yang bersinar-sinar penuh api kemarahan, dan sepasang mata itu sekarang bercahaya ganjil dan menyeramkan seperti dahulu.
Ia masih belum mau percaya kalau , Beng San yang tadi melemparkannya. Tak mungkin. Bukankah tadi setelah ia hantam belakang kepala Beng San dengan punggung pedangnya, adiknya itu roboh dan pingsan? Tentu saja manusia yang sudah mabok kemenangan dan mabok pangkat ini tidak sadar bahwa di dunia ini kekuasaan manusia sama sekali tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan kekuasaan Tuhan. Manusia yang merasa dirinya menang, yang merasa dirinya kuat sendiri, yang merasa dirinya benar sendiri, menyatakan bahwa manusia seperti ini adalah manusia yang berjiwa rendah. Atau setidaknya, pada saat itu hati nuraninya dikuasai oleh iblis. Segala kemenangan, kekuatan dan kebenaran seluruhnya terletak di tangan Tuhan Yang Maha Kuasa. Merupakan rahmat-Nya bagi manusia. Oleh karena itu, segala rahmat dari Tuhan harus dipersembahkan kemudian kepada-Nya dengan jalan mengakui dengan segala kerendahan hati bahwa sanya kesemuanya itu datang dari pada-Nya. Pengakuan yang tulus akan hal ini akan menjauhkan manusia dari mabok kemenangan serta kekuasaan.
Pada saat punggung pedang di tangan Beng Kui tadi menghantam belakang kepala Beng San, Tuhan memperlihatkan kekuasaan-Nya. Hantaman itu tepat mengenai jalan darah yang menjurus ke kepala, menggetarkan urat saraf di kepala Beng San yang terganggu ketika dia dahulu terpukul oleh kedukaan karena kematian isterinya. Bagaikan air yang mengalir kembali setelah bendungannya dibuka, ingatan Beng San kembali perlahan- lahan dan semua ini ditambah oleh pendengarannya ketika Beng Kui dan Li Cu berdebat. Terbukalah semua ingatan dan pengertiannya dan sekaligus membuat ia marah bukan main. Baiknya ia dapat cepat sadar kembali dan dapat mencegah sebelum Beng Kui melakukan perbuatan yang lebih biadab lagi.
!" Li Cu berseru lirih, namun di dalam seruan lirih.ini terkandung jerit yang memecahkan kesunyian angkasa, penuh kekagetan, penuh keheranan, penuh gairah dan harapan. "Beng San ....
Beng San melirik ke arah Li Cu, akan tetapi cepat-cepat ia membuang muka ketika melihat keadaan nona itu yang tubuhnya bagian atas tidak tertutup lagi baik-baik karena bajunya yang koyak-koyak lebar itu. Tanpa banyak cakap ia lalu meloloskan bajunya sendiri dan melemparkan bajunya ini di atas tubuh Li Cu yang tidak tertutup. Barulah ia berani berpaling. Mereka berpandangan sejenak, keduanya dengan mata berlinang air
mata. Beng San sudah tahu semua ketika tadi ia mendengar percakapan antara Li Cu dan Beng Kui.
"Nona, biarlah kubebaskan kau dari totokan .... "
"Beng San, awas!" teriak Li Cu.
Beng San dengan tenang tapi cepat menggeser kakinya dan tangannya bergerak ke kiri Pedang Liong-cu-kiam menyambar lewat di pinggir kepalanya.
" ia mencela sambil melompat ke tengah ruangan, terpaksa belum dapat membuka totokan atas diri Li Cu. "Beng Kui, kau benar-benar tak tahu diri ....
Namun kemarahan Beng Kui sudah memuncak. Sepasang matanya menjadi merah dan berputar-putar liar.
"Kau orang gila banyak tingkah... mampuslah!" bentaknya dan pedangnya kembali menyambar-nyambar. Banyak orang bilang bahwa orang gila menganggap diri sendiri waras dan menganggap orang waras sebagai orang gila. Kiranya keadaan Beng Kui cocok dengan pendapat ini. Dia memaki gila akan tetapi dia sendirilah yang mengamuk seperti orang gila. Pedangnya mengeluarkan suara dan berubah menjadi segulung sinar panjang yang melayang-layang dan menyambar-nyambar hebat ke arah Beng San. Namun, sekaligus Beng San sudah mendapatkan kembali semua kepandaiannya yang memang tak pernah hilang, hanya "terlupa" oleh ingatannya. Secara otomatis kakinya bergerak-gerak dan semua serangan pedang itu dapat ia hindarkan dengan amat mudahnya.
"Beng Kui, kau orang tua yang tidak mau dihormati adiknya. Sekali lagi sekarang aku beri kesempatan kepadamu untuk pergi dari sini dengan aman. Pergilah tapi tinggalkan Liong-cu-kiam."
"Jangan banyak cakap!" Beng Kui malah memaki dan pedangnya terus menyerang. Tiga kali Beng San minta kepada kakaknya untuk pergi dengan aman, namun jawabannya selalu serangan maut yang ditujukan kepadanya secara nekat. "Kau memang keras kepala." seru Beng San kemudian. Pada saat itu pedang di tangan Beng Kui menusuk dadanya. Beng San tiba-tiba menggunakan gerakan merendahkan tubuh, kemudian dari bawah tangannya bergerak ke atas, yang kanan merampas gagang pedang yang kiri memukul dengan pukulan Pek-in Hoat-sut. Hawa pukulan yang mengandung uap putih itu melumpuhkan seluruh tenaga Beng Kui dan dengan mudah pedang di tangannya berpindah tempat. Ia masih hendak menerjang dengan tangan kosong, namun kaki kiri Beng San menendangnya sehingga ia tepental keluar ruangan itu dan bergulingan sampai jauh.
Beberapa orang anak buah Beng Kui menyerbu ke dalam. "Pergilah kalian!" seruan Beng San ini demikian berpengaruh, apalagi disertai dorongan tangan kiri ke depan yang membuat tiga orang sekaligus terjengkang tanpa tersentuh tubuhnya, sehingga merekat
semua menjadi kaget dan jerih. Pada saat itu, terdengar hiruk pikuk di luar dan terdengar suara banyak orang berlari-lari pergi meninggalkan tempat itu, seakan-akan takut menghadapi sesuatu yang hebat.
"Song-bun-kwi setan tua jangan ganggu orang-orang ini! Nona Kwa Hong, orang-orang ini adalah teman-teman Tan Beng Kui-enghiong, jangan ganggu!" Terdengar suara Hek- hwa Kui-bo.
Beng San terheran-heran dan hanya berdiri di tengah ruangan itu, pedang Liong-cu-kiam di tangan celananya robek-robek dibagian yang ditendang Beng Kui tadi, sedangkan tubuhnya bagian atas telanjang karena bajunya tadi ia lemparkan kepada Li Cu. Ia kelihatan seperti seorang bajak sungai.
Berturut-turut mereka meloncat masuk. Mula-mula Song-bun-kwi, disusul Kwa Hong dan kemudian sekali Hek-hwa Kui-bo. Tiga orang itu begitu memasuki ruangan berdiri tertegun seperti melihat setan di tengahari. Adapun Beng San begitu , melihat Song-bun- kwi, segera menjura dengan hormat dan berkata,
"Gak-hu (Ayah Mertua) .... "
Song-bun-kwi masih mengira bahwa Beng San kehilangan kepandaiannya, maka ia membentak, "Aku bukan ayah mertuamu! Keparat, kau pembunuh anakku Bi Goat dan karenanya sekarang akan kupatahkan batang lehermu!" Ia menerjang ke depan. Tapi sinar hijau menyambar dan menghalangi gerakan kakek ini. Sinar itu tidak lain adalah panah- panah hijau dari Kwa Hong.
"Perlahan dulu Song-bun-kwi!" Memang Kwa Hong tidak ingin melihat Beng San terbunuh oleh orang lain. Mati atau hidupnya Beng San dialah sendiri yang berhak memutuskan pikirnya.
"Hong-moi kau juga di sini?" tegur Beng San dengan suara halus.
Kwa Hong seketika menjadi pucat, apalagi ketika melihat pedang Liong-cu-kiam di tangan pemuda itu. "Kau...sudah ingatkah .... ?"
"Bangsat, kau sudah membunuh anak perempuanku. Kalau kau sudah ingat, tentu kau takkan mungkir lagi!" Song-bun-kwi membentak sambil melangkah maju.
Beng San tersenyum sedih, "Gak-hu, aku amat mencinta Bi Goat. Bagaimana aku dapat membunuhnya? Bi Goat meninggal karena berduka dan marah yang ditimbulkan oleh Hong-moi. Memang aku lama meninggalkan Bi Goat, akan tetapi hal itu adalah karena aku merasa amat berduka dan menyesal serta malu karena perbuatanku bersama Kwa Hong dahulu. Kemudian aku membantu orang-orang gagah melindungi Kaisar dari pengkhianatan beberapa orang, maka pulangku terlambat. Aku menyesal sekali, Gak-hu, tapi sesungguhnya bukan aku yang menyebabkan kematian isteriku. Dia tahu bahwa aku
mencintanya. Tapi Tuhan lebih kuasa dari segala di dunia ini .... " Beng San nampak
sangat berduka.
"Keparat, kau bisa saja memutar omongan. Isteri melahirkan anak sampai mati tapi kau sebagai suami tidak menjaganya!" "Ah, Gak-hu. Memang aku merasa berdosa besar. Sekarang di manakah anakku itu, Gak-hu? Biarlah aku akan merawatnya penuh kasih sayang, sebagai pengganti Bi Goat dan .... "
"Tutup mulut! Kau laki-laki mata keranjang, kau laki-laki hina-dina, kau... kau sudah main gila dengan perempuan lain. Hemmm hendak menyangkal, kau?" Kakek ini menudingkan telunjuknya ke arah Li Cu yang masih rebah terselimut baju luar Beng San, rebah miring tak bergerak di atas dipan. Semua mata memandang dan Hek-hwa Kui-bo mengeluarkan suara ketawa genit penuh arti ketika meliht baju Beng San menyelimuti tubuh Li Cu. Wajah Li Cu sebentar pucat sebentar merah sekali. Namun Beng San tetap tenang.
"Aku tidak main gila dengan siapapun juga. Mungkin karena kehilangan ingatan aku menjadi seperti gila dan syukurlah... berkat pertolongan Nona Cia yang berbudi mulia sampai sekarang aku masih terlindung. Gak-hu, kauberikanlah puteraku."
"Putera apa? Pedang inilah yang akan menghabisi nyawamu!"
"Nanti dulu, Song-bun-kwi. Aku pun hendak bicara dengan Beng San!" Kwa Hong menghadang di depan dan terpaksa Song-bun-kwi menunda penyerangannya Kwa Hong kini menghadapi Beng San. Orang muda itu menjadi agak pucat. Baginya jauh lebih berat menghadapi Kwa Hong daripada menghadapi musuh yang manapun juga.
"Adik Hong, apakah selama ini kau baik-baik saja?" tanyanya, suaranya halus sewajarnya karena di lubuk hatinya orang muda ini benar-benar merasa kasihan sekali kepada gadis itu.
Tersedu kerongkongan Kwa Hong mendengar pertanyaan yang halus ini. Akan tetapi ia segera menjawab, "Baik-baik saja, San-ko, aku sengaja mencarimu dan syukurlah kalau kau hendak sembuh kembali. Marilah kauikut dengan aku, San-ko. Mari kita pelihara anak kita baik-baik. Tentang musuh-musuhmu ini, jangan kuatir, San-ko, Hong-moimu ini sanggup membunuh mereka seperti orang membunuh anjing!" Setelah berkata demikian, Kwa Hong tertawa, suara ketawanya melengking menyeramkan sekali. Ucapan terakhir dan suara ketawa Kwa Hong itu menusuk jantung Beng San, karena ia maklum bahwa Kwa Hong sekarang sudah bukan Kwa Hong yang dulu lagi. Wajahnya jelas membayangkan watak yang sombong, kejam, dan tidak wajar.
"Hong-moi, kau tahu bahwa tak mungkin aku memenuhi permintaanmu ini. Kau dan aku telah melakukan perbuatan terkutuk, itu memang benar. Akan tetapi hal itu terjadi di luar kesadaran kita, Hong-moi. Tentang anak itu kau sendiri hendak mendidiknya syukurlah. Kalau kau keberatan, boleh kauberikan kepadaku karena juga menjadi tanggung jawabku."
"Kau... kau...! Kwa Hong tak dapat melanjutkan kata-katanya karena ia sudah menangis terisak-isak. Hatinya sedih bukan kepalang. tadinya ia mengharapkan akan dapat membawa Beng San dengan secara paksa karena Beng San sudah kehilangan kepandaiannya dan ia sanggup merampas Beng San dari tangan siapapun juga. Akan tetapi sekarang Beng San kelihatannya sudah sembuh kembali, bagaimana mungkin?
"Beng San, katakan di mana adanya Beng Kui? Pedangnya kaupegang, kau apakan dia?"
"Dia sudah pergi..." jawab Beng San acuh tak acuh, kemudian ia menoleh ke arah Li Cu
dan berkata "Nona Cia, agaknya lebih baik kita segera pergi dari tempat ini. Tapi aku harus membebaskan kau dari totokan lebih dulu..." ia melangkah maju, tapi sebelum ia sempat meyembuhkan Li Cu, tiga bayangan orang berkelebat dan angin-angin pukulan dahsyat, datang menyambar dari tiga jurusan disusul berkelebatnya senjata-senjata tajam. Beng san maklum bahwa tiga orang sakti itu "sudah turun tangan". Ia menarik napas panjang dengan sedih, akan tetapi tubuhnya bergerak didahului sinar pedang Liong-cu- kiam tangannya.
Tiga orang itu menyerang dengan sungguh-sungguh, mengerahkan seluruh kepandaian mereka. Namun Beng San sekarang memegang Liong-cu-kiam panjang. Kalau ia boleh diumpamakan seekor harimau, sekarang harimau itu tumbuh sayap dan pandai terbang. Memang ilmu silatnya yang paling hebat adalah ilmu Im-yang Sin-kiam-sut, sekarang ilnu pedang ini dimainkan dengan sebatang pedang seperti Liong-cu-kiam yang panjang, sudah tentu hebatnya bukan kepalang. Tiga orang itu, biarpun masing-masing memiliki kepandaian luar biasa, namun menghadapi Beng San mereka tak dapat berdaya banyak, seakan-akan menghadapi benteng baja yang tidak saja sukar tembus, malah dari dalam benteng menyambar ujung-ujung pedang runcing dan ampuh, setiap saat mengancam nyawa mereka.
Beng San bukanlah orang yang suka membunuh orang. Sebetulnya dia menpunyai watak yang pantang membunuh orang. Apalagi sekarang yang ia hadapi adalah orang-orang yang sedikit banyak sudah ada hubungan dengannya, yang sudah dikenalnya baik. Tak mungkin ia mau membunuh mereka.
Kelihaiannya bermain pedang memungkinkannya menggoreskan luka ringan pada pundak Hek-hwa Kui-bo dan Song-bun-kwi. Dua orang tua ini menjadi malu dan jerih. Sambil mengeluh mereka berturut-turut lalu melompat pergi meninggalkan tempat itu. Kwa Hong yang seorang diri menghadapi Beng San, tadinya menjadi nekat. Pedang Hoa- san Po-kiam di tangan kiri sedangkan di tangan kanannya memegang pedang Liong-cu- kiam yang pendek. Permainan pedangnya hebat dan liar, dahsyat bukan main sehingga diam-diam Beng San terkejut juga. Namun ilmu pedang itu dimainkan dengan cara yang masih mentah.
Lebih-lebih terhadap Kwa Hong, Beng San, sama sekali tidak mau melukainya. Setelah ia menindih pedang Hoa-san Po-kiam dengan pedangnya sendiri, tangan bergerak
mencengkeram ke depan dan di lain saat pedang Liong-cu-kiam yang pendek telah berpindah ke tangan kirinya.
"Kembalikan pedang itu!" teriak Kwa Hong sambil menangis.
"Yang ini bukan pedangmu, Hong-moi. Tak boleh kau merampasnya," jawab Beng San.
Dengan pekik panjang Kwa Hong memanggil burungnya. Terdengar suara genteng hancur berantakan, langit-langit di atas ruangan itu tiba-tiba menjadi rusak dan berlubang besar di mana menerobos masuk seekor burung rajawali emas. Beng San pernah melihat burung ini dan kembali ia menjadi kagum bukan main. Kwa Hong terisak lalu meloncat ke punggung burung, kemudian burung itu terbang menerobos melalui pintu depan dan sebentar saja menghilang dari situ. Sampai beberapa lama Beng San berdiri bengong. Pedang Liong-cu-kiam berada di kedua tangannya. Kemudian ia membalikkan tubuh menghampiri Li Cu yang masih rebah tak bergerak dan tadi menonton semua itu dengan hati terharu. Ternyata bahwa pengorbanannya terhadap diri Beng San tidak sia-sia. Buktinya baru saja sembuh Beng San lagi-lagi telah melindungi dan membebaskannya dari ancaman bahaya maut.
"Nona Cia, maafkan kelancanganku!" kata Beng San. Tangannya bergerak cepat menotok dua jalan darah di tubuh Li Cu, lalu mengurut punggungnya sebentar. Setelah itu ia membalikkan tubuh dan berkata,
"Nona, setelah kau dapat bergerak, harap bajuku itu kaupakai dulu."
Li Cu menjadi merah mukanya. Ia bergerak perlahan, tubuhnya masih sakit semua rasanya. Ketika ia bangun, baju yang menyelimuti tubuhnya itu jatuh dan cepat-cepat ia menutupi dadanya. Akan tetapi usahanya Ini sebetulnya tak perlu karena Beng San berdiri membelakanginya. Karena terpaksa dan tak mungkin hanya memakai bajunya yang sudah dikoyak-koyak pedang Beng Kui tadi, ia mengenakan baju Beng San yang terlalu besar itu. Setelah selesai, ia berkata,
"Kenapa... kau tidak membunuh mereka?",
"Membunuh siapa?" tanya Beng San tanpa menoleh.
"Beng Kui jahanam itu .... "
"Dia itu jelek-jelek kakak kandungku, bagaimana aku tega membunuhnya?" jawab Beng San cepat.
" desak pula Li Cu yang merasa penasaran mengapa semua orang yang jahat itu dibiarkan pergi oleh Beng San. "Hek-hwa Kui-bo yang pernah melukaiku dengan racun dan hampir membunuhku ....
"Dia itu dahulu pernah menurunkan ilmu silat kepadaku, secara tidak resmi dia adalah
guruku pula. Bagaimana aku dapat membunuhnya? Dan pula, Nona, bukankah kau selamat terhindar dari racunnya itu?" Jantung Beng San berdebar ketika ia teringat cara ia menolong gadis itu dari pengaruh racun di paru-parunya.
Di belakangnya, wajah Li Cu juga tiba-tiba menjadi merah. Gadis ini merasa heran bukan kepalang. Hampir dua tahun ia merawat Beng San, otomatis ia sudah merasa menjadi isteri Beng San biarpun hanya dalam sebutan. Akan tetapi kenapa sekarang ia menjadi begini canggung, sungkan dan malu-malu kepada Beng San? Diam-diam rasa kuatir dan gelisah menggerogoti hatinya. Beng San yang kehilangan ingatannya, mau saja hidup di sampingnya, malah menganggap dia sebagai isterinya yang bernama Bi Goat. Akan tetapi setelah sekarang sadar dan mendapatkan kembali ingatannya, apakah masih mau hidup seperti itu? Apakah ini bukan berarti saat perpisahan?
"Kwa Hong itu... kenapa tidak kau-bunuh .... ?" Ia berusaha menekan hatinya dengan
melanjutkan pertanyaan ini.
"Tak mungkin, Nona. Dia itu... secara tidak sadar... telah menjadi ibu anakku... perbuatan terkutuk di luar kesadaran kami berdua... dia sudah amat menderita... karena aku, mana bisa aku membunuhnya? Biarpun dia akan membunuhku, agaknya aku tetap akan mengalah .... "
" suara Li Cu terdengar kaku dan kalau Beng San melihat sinar matanya ia akan tahu-bahwa gadis itu marah. "Dan Song-bun-kwi,...?" "Hemm ....
"Apalagi dia. Dia itu ayah mertuaku, sama juga dengan ayahku. Mana boleh aku membunuh ayah Bi Goat?"
Sudah jelas. Beng San sekarang sudah kembali ingatannya. Beng San yang terlalu mencinta isterinya, Bi Goat. Sampai-sampai mengorbankan Kwa Hong. Mana sudi hidup bersama dia? Teringat akan ini, tak tertahankan lagi Li Cu terisak menangis.
Beng San cepat membalikkan tubuh. "Eh, kenapa kau menangis, Nona?" Suara ini mengandung penuh perhatian sehingga tangis Li Cu makin menghebat. Beng San sampai menjadi bingung, lalu menyerahkan pedang Liong-cu-kiam pendek.
"Ini... ini pedangmu... jangan kau menangis .... "
Li Cu menerima pedang tanpa berkata apa-apa.
"Nona Cia, setelah semua pertanyaanmu kujawab, kenapa kau menangis?" Beng San bertanya, matanya yang tajam memandang penuh selidik.
Li Cu yang sekarang menjadi gugup. Tentu saja ia tidak sudi menyatakan isi hatinya. Ia mencari alasan dan pada saat itu ia teringat akan ayahnya. Wajahnya menjadi pucat dan serentak ia meloncat sampai Beng San menjadi kaget.
! Mereka tadi mengeroyoknya... tak mungkin bisa sampai ke sini kalau tidak... ah, Ayah"Celaka! Ayahku ....
....!" Li Cu menjerit lalu melompat keluar dan berlari cepat sekali. Beng San baru saja kembali ingatannya, maka yang diketahui olehnya hanyalah semenjak saat ia sembuh tadi. Sebelum itu gelap baginya maka ia tidak ingat betapa Bu-tek Kiam- ong untuk melindunginya telah dikeroyok oleh tiga orang tokoh sakti tadi. Meiihat Li Cu yang berlari-lari sambil menjerit memanggil-manggil ayahnya dan menangis, ia pun ikut pula berlari dan sebentar saja ia dapat menyusul gadis itu, lalu lari di sebelahnya tanpa banyak bertanya.
Setibanya di puncak Gunung Thai-san, dua orang muda ini melihat betapa penduduk perkampungan di kaki gunung sedang sibuk mengurus dan menangisi jenazah Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan.
"Ayaaaahhh .... !!" Li Cu menubruk mayat ayahnya dan roboh pingsan.
Li Cu jatuh sakit. Demam panas menyerang tubuhnya setelah berkali-kali ia pingsan. Sampai sepekan ia rebah di pembaringan dalam keadaan setengah sadar.
Selama itu Beng San merawat dan melayaninya dengan penuh perhatian. Beng San mengalami hal-hal aneh ketika ia berhadapan derigan para penduduk yang dulu membantu Cia Hui Gan merampungkan rencana tempat tinggalnya. Mereka itu menyebutnya "tuan muda" yang dianggapnya sebagai suami dari "nyonya muda" yang sekarang sakit. Kemudian, setelah mereka semua menyatakan kegembiraan hati bahwa nyonya muda dan suaminya dapat kembali dengan selamat, mereka menyatakan kegirangan pula bahwa tuan muda sudah sembuh dari sakitnya lupa ingatan. Mereka pulalah yang menceritakan tentang pertempuran itu sehingga terbuka mata Beng San akan segala yang telah terjadi kepada dirinya selama hampir dua tahun ini. Tahulah ia bahwa ia sebagai seorang gila menganggap Li Cu sebagai isterinya, sebagai Bi Goat dan betapa selama hampir dua tahun ini Li Cu merawatnya penuh kecintaan. Juga ia tahu sekarang bahwa Cia Hui Gan tewas dalam membela dia.
Semua ini ditambah lagi dengan keadaan Li Cu yang mengigau ketika demam panas menyerangnya. Li Cu mengigau tentang masa lalu, tentang cinta kasihnya kepada Beng San. Semua ini membuat Beng San demikian terharu sehingga ia menitikkan air mata ketika duduk di pinggir pembaringan gadis itu. Dengan amat tekun ia merawat Li Cu dan siang malam tidak pernah meninggalkan kamar itu.
Sembilan hari kemudian demam meninggalkan tubuh Li Cu dan gadis ini pada pagi hari itu sadar. Dilihatnya Beng San duduk di kursi tertidur. Namun suara gerakan Li Cu cukup untuk membangun-kannya. Mereka berpandangan sejenak.
"Kau... kau masih di sini .... ?"
"Di mana lagi kalau tidak di sini .... ?" jawab Beng San halus, sinar matanya gembira
sekali.
?" Matanya meragu dan ia memandang ke arah pintu kamarnya, agaknya ingin menjenguk keluar. "Ayah... bagaimana ....
"Sudah beres, sudah kuurus pemakamannya."
Li Cu menarik napas panjang, hatinya menjerit-jerit namun air matanya sudah kering. "Berapa lama aku rebah di sini...?"
"Kau terserang demam, Nona. Sembilan hari sembilan malam kau dalam keadaan tidak sadar. Karena itulah aku lancang mewakilimu mengurus pemakaman ayahmu."
Li Cu bergerak hendak duduk. Melihat kelemahan gadis itu, Beng San cepat membantunya. Ia merasa kasihan sekali dan cepat ia menghibur, "Harap kaukuatkan hatimu. Nona. Ingatlah bahwa mati hidup seorang manusia berada di tangan Tuhan. Apabila Tuhan menghendaki kematian seseorang, ada saja yang menjadi lantarannya. Ayahmu tewas sebagai seorang gagah perkasa, mati dikeroyok tokoh-tokoh besar dalam melindungi... aku yang tak berharga .... "
"Tidak! Bukan melindungi kau, melainkan membela aku!" Cepat Li Cu membantah.
"Apa bedanya, Nona? Membela engkau karena kau berusaha melindungi aku."
"Kau merawatku terus-menerus selama aku sakit?" cepat Li Cu memotong omongan Beng San, mukanya yang tadinya pucat menjadi agak merah.
Beng San mengangguk dan memandang dengan mata penuh perasaan. "Nona Cia, apa artinya perawatan sembilan hari kalau dibandingkan dengan perawatanmu selama hampir dua tahun? Kau amat mulia, kau mengorbankan .... "
"Kau dalam sakit, kau kehilangan ingatan!" Li Cu cepat memotong, mukanya kini menjadi merah sekali. "Siapa lagi kalau bukan aku yang akan merawatmu? Kaupun sudah beberapa kali menyelamatkan nyawaku, sudah sepatutnya aku membalas kebaikanmu."
Dengan keras kepala Beng San melanjutkan setelah menggeleng kepala untuk menyangkal alasan Li Cu yang lemah itu. "Kau mengorbankan dirimu, mengorbankan nama baik ayahmu. Dalam gilaku aku menganggap kau isteriku, menganggap kau Bi Goat. Namun... kau menerima semua itu, kau malah memaksa ayahmu membawaku ke sini mengorbankan segalanya untuk aku, malah berusaha membuat tempat perlindungan yang aman untukku. Li Cu... Nona Cia... mengapa kaulakukan semua itu?"
Li Cu menunduk, menyembunyikan mukanya di belakang bantal yang diangkatnya. Suaranya terdengar lirih bertanya, "Semua itu bohong. Kau yang kehilangan ingatan bagaimana kau bisa tahu itu semua? Bohong .... "
"Aku mendengar percakapanmu dengan Beng Kui pada saat aku sadar. Kemudian aku
mendengar penuturan saudara-saudara yang berada di sini, dan ketika kau sakit, kau mengigau .... "
Cepat bantal itu diturunkan dan sepasang mata itu memandangnya penuh pertanyaan. Wajah itu merah dan tidak tampak lagi bahwa gadis ini habis sakit kecuali tubuhnya yang agak kurus itu.
" terhenti kata-kata Li Cu ketika ia teringat betapa janggal panggilan ini yang begitu saja keluar dari bibirnya dengan suara mesra. "Beng San ....
"Ya .... ? Kau hendak bilang apakah, Nona .... ?"
Makin gugup Li Cu. Biasanya, ketika belum sembuh, Beng San selalu menyebutnya "isteriku" sehingga ia sudah biasa benar dengan sebutan itu. Sekarang, orang yang telah ia anggap sebagai suaminya dalam batin itu, menyebutnya nona.
"... andaikata benar semua itu..., tapi waktu itu keadaanmu dalam lupa ingatan. Kau mau tinggal di sini karena... karena kau mengira bahwa aku Bi Goat. kau mengira bahwa aku isterimu yang sudah meninggal dunia itu .... " ia berhenti lagi.
"Betul, Nona. Lalu bagaimana?" Beng San bertanya tenang dan sabar,
sekarang kau sudah sembuh..., kau sudah mendapatkan kembali ingatanmu... kau tahu bahwa aku bukan isterimu Bi Goat... kau tahu bahwa aku hanya seorang gadis yatim piatu sebatang kara..." Sampai di sini ia terisak dan menutup mukanya dengan bantal. Beng San tidak berkata apa-apa hanya menanti dengan sabar. " ....
aku... aku bukan apa-apamu... tak berhak menahanmu... kau tentu akan pergi dari sini." Tiba-tiba ia menurunkan bantalnya dan dengan mata basah ia bertanya, "Mengapa kau masih belum juga pergi dari sini? Aku bukan Bi Goat!" " ....
Wajah Beng San tiba-tiba menjadi pucat dan matanya membayangkan kegelisahan besar. "Tapi... tapi kau... isteriku..."
Li Cu menggigit bibirnya, bukan main jengahnya. Ia merasa malu sekali kalau teringat
akan semua perbuatannya itu. Tapi ia harus rnembela diri, tak mungkin ia mengaku begitu saja bahwa ia mencinta Beng San. Ia harus mencari alasan mengapa ia berbuat demikian, untuk membela diri.
"Isterimu adalah Bi Goat .... "
"Tapi ..... bukankah hampir dua tahun kau mengaku sebagai isteriku .... ?"
Li Cu membuang muka. "Karena kau menganggap aku Bi Goat. Aku harus merawatmu dan karenanya tiada lain jalan kecuali membiarkan kau menganggap aku isterimu Bi Goat. Sekarang kau sudah sembuh, sudah sadar dan ingat bahwa aku bukanlah isterimu
Bi Goat, bahwa aku bukan apa-apamu dan kau boleh pergi meninggalkanku sekarang juga!" Beng San merasa tubuhnya lemas, seakan-akan dilolos semua urat-urat dari tubuhnya. Jantungnya terasa ringan kosong, perasaannya hampa. Ah, mengapa aku tidak tahu diri, pikirnya. Sudah terang bahwa Li Cu Melakukan semua itu karena hanya hendak membalas budi pertolongannya karena kasihan, apa lagi? Tak mungkin gadis seperti Li Cu bisa cinta kepadanya, seorang laki-laki yang menjadi hina namanya karena urusannya dengan Kwa Hong, seorang duda yang sudah mempunyai anak. Dua malah anaknya, satu anak Kwa Hong, ke dua anak Bi Goat. Mana sudi Li Cu kepadanya?
"...ah... maaf... maaf" bagaikan mimpi kedua kakinya bergerak menuju ke pintu kamar, dengan langkah limbung seperti orang mabuk arak ia keluar dari kamar itu. Jiwanya menjerit-jerit, musnah semua harapannya untuk dapat hidup mengenyam kebahagiaan. Hanya sekelumit harapan untuk hidup baru setelah ditinggal Bi Goat. Li Cu, Li Cu .... sungguh aku tak tahu diri ....
..... Jerit hatinya, tak kuat aku berpisah dari sisimu.
Ia tidak melihat betapa dari atas pembaringan Li Cu memandangnya dengan wajah pucat pula dan sepasang mata itu mengucurkan air mata yang jatuh berderai membasahi kedua pipinya. Tak tahu ia betapa gadis itu turun perlahan-lahan dari pembaringan dan berjalan pula mengikutinya keluar dari kamar itu. Tak tahu pula betapa jiwa Li Cu menjerit-jerit minta ia kembali pula. Jeritan jiwa mengetar-getar penuh kekuatan gaib. Seakan-akan terasa oleh kedua orang muda itu. Dalam detik itu juga terjadilah peluapan rasa melalui bibir dan gerakan masing-masing. Pada saat itu pula Li Cu menjatuhkan diri berlutut. Berbareng pula jerit mereka keluar dari lubuk hati melalui bibir-bibir yang bergetar.
"Li Cu, tak kuat aku berpisah dari sisimu .... !"
!" Keduanya terpaku kaget oleh suara masing-masing dan setelah pengertian mereka dapat menangkap apa yang diucapkan oleh yang lain, Beng San segera berlari maju dengan kedua lengan terbuka diterima oleh Li Cu dengan kedua lengan terbuka pula. Beng San menjatuhkan diri berlutut dan kedua orang itu saling berdekapan sambil berlutut, tak kuasa mengeluarkan suara kecuali isak dan sedu. "Beng San, kembalilah Beng San ....
Sunyi senyap saat itu, sunyi yang membahagiakan hati masing-masing yang merasa seakan-akan baru saja mereka mendapatkan kembali semangat mereka yang hampir hilang. Sampai lama mereka berpelukan tanpa mengeluarkan suara. Akhirnya terdengar Li Cu berkata tanpa mengangkat mukanya yang bersembunyi di dada Beng San.
"Tapi... kau hanya mencinta Bi Goat..."
"Itu dahulu, Li Cu. Setelah ia meninggal... kaulah orang yang menggantikannya... lebih daripada itu malah... kau mulia, setia, penuh pengorbanan. Ah... alangkah mulianya engkau... aku cinta kepadamu, Li Cu dan aku tidak kuat untuk berpisah dari sisimu."
"Beng San .... " Li Cu menangis penuh kebahagiaan dan keharuan.
"Li Cu... cintakah kau kepadaku? Dan bersediakah kau menjadi isteriku?"
"Masih perlukah kau bertanya, Beng San? Di waktu kau sakit dan hilang ingatan, aku sudah suka menjadi isterimu walaupun hanya sebutan belaka. Apalagi sekarang setelah engkau sembuh. Tentang cinta... belum pernah selama hidupku aku mencinta orang seperti cintaku kepadamu."
"Li Cu, dewiku sayang .... "
Hening lagi sejenak dan keduanya terbenam dalam lautan madu, mabok oleh kemesraan asmara yang bergelora dalam hati masing-masing.
"Beng San, orang bilang kau mata keranjang. Betulkah?"
Beng San tersenyum ditahan. "Memang aku mata keranjang. Akan tetapi, bidadari dari kahyangan sekalipun belum tentu dapat menggerakkan hatiku. Hanya engkaulah yang membuat aku lupa segala, melihat engkau aku jadi mata keranjang. Ah, andaikata ada seribu engkau, aku akan sanggup untuk mencinta semua."
"Ah, kau memang mata keranjang." tegur Li Cu manja.
"Bertemu dengan seorang dewi seperti engkau, Li Cu, siapa orangnya takkan mencinta? Siapa orangnya takkan jatuh hati? Kau cantik jelita melebihi bidadari kahyangan, kau setia dan gagah perkasa, pendekar wanita sejati, kau berbudi mulia seperti Kwan Im, kau dewi pujaan hatiku, cinta kasihmu suci murni semoga aku dapat mengimbanginya .... "
Beng San merayu.
"iihh, kau selain mata keranjang juga .... ceriwis!"
Hati siapa takkan ikut merasa bahagia menyaksikan kebahagiaan sepasang orang muda seperti Li Cu dan Beng San? Hati siapa takkan ikut merasa senang melihat orang lain bahagia? Hanya hati yang dikotori iblis iri cemburu jua yang tak tahan menyaksikan orang lain berbahagia. Untung, di dunia ini tak banyak orang demikian. Kita merasa berbahagia melihat orang lain seperti sepasang orang muda itu berbahagia dalam pertemuan dua hati menjadi satu, diikat dan dikekalkan oleh cinta kasih nan suci.
Sayang, di samping mereka yang berbahagia oleh asmara, banyak pula yang sengsara oleh asmara yang sama. Memang asmara mendatangkan bahagia dan sengsara silih berganti, menimbulkan banyak cerita yang aneh-aneh. Beng San sendiri hampir saja binasa karena asmara kandas, baiknya ia bertemu dengan Li Cu dan sebaliknya malah menemukan kembali kebahagiaan hidup.
Memang demikianlah hidup di dunia ini. Kebahagiaan duniawi takkan kekal, berubah- ubah dan hal yang demikian ini memang berlaku bagi segala benda, mati atau hidup, di dunia ini. Ada siang ada malam, ada dingin ada panas, adakalanya hujan adakalanya terang, adakalanya sengsara adakalanya bahagia. Kebahagiaan datang tak terduga-duga seperti halnya kebahagiaan Beng San. Demikian pula kesengsaraan datang tanpa disadari
seperti halnya penderitaan Bi Goat yang telah tiada. Kenyataan ini merupakan pelajaran hidup yang amat penting, yaitu bahwa manusia tak perlu berputus asa di waktu menghadapi kegagalan, juga tidak semestinya bangga dan tidak mabok dikala mendapatkan kemenangan. Tidak membanjir di waktu pasang, tidak kering di waktu surut, seperti air laut yang tenang teguh sehingga dapat menerima perubahan keadaannya tanpa rnenderita kerusakan.
Di antara sekian banyaknya orang yang sedang "surut" nasibnya, adalah Thio Ki. Telah diceritakan di depan betapa Thio Ki dan isterinya, Lee Giok, diserbu oleh Kim-thouw Thian-li yang dibantu oleh Hek-hwa Kui-bo dan Giam Kin sehingga akhirnya Lee Giok terculik oleh Siauw-coa-ong Giam Kin. Seperti kita ketahui, Thio Ki terbebas daripada kematian karena mendapat bantuan Li Cu dan kemudian Beng San dan atas permintaan Beng San, Thio Ki pergi ke Hoa-san untuk berobat dan membereskan urusan Hoa-san-pai yang dikacau oleh Kwa Hong.
Besarlah hati para tosu di Hoa-san-pai ketika mereka melihat munculnya Thio Ki, karena pada waktu itu Hoa-san-pai benar-benar sudah kacau-balau, tidak ada yang mengurusnya semenjak Lian Bu Tojin tewas di tangan Kwa Hong. Bukan main sedihnya hati Thio Ki ketika mendengar dari para tosu tentang nasib Lian Bu Tojin dan Hoa-san-pai. Ia merasa amat marah dan gemas kepada Kwa Hong, juga terheran-heran mengapa Kwa Hong sekarang berubah seperti iblis dan juga amat lihai?
Para tosu tadinya hendak mengangkatnya sebagai Ketua Hoa-san-pai, namun Thio Ki menolak keras. "Mana bisa aku menjadi Ketua Hoa-san-pai?" teriaknya kaget. "Tingkatku di Hoa-san-pai amat rendah, pula aku masih muda. Banyak para susiok dan supek di sini, bagaimana aku berani mengangkat diri menjadi Ketua? Pula, orang dengan kepandaian seperti Sukong Lian Bu Tojin sendiri masih tidak kuat menjaga keselamatan Hoa-san-pai, apalagi orang seperti aku? Tidak, aku tidak berani menjadi ketua, akan tetapi aku sanggup untuk sementara berada di sini untuk mempertanggung-jawabkan Hoa-san-pai. Biarlah kita menanti sampai kembalinya Tan Beng San Tai-hiap, karena kiranya hanya dia yang akan dapat menolong kita."
Akan tetapi sampai berbulan-bulan Thio Ki dan para tosu Hoa-san-pai menanti dengan sia-sia. Malah akhirnya dia minta bantuan para tosu yang disebarnya ke segenap penjuru untuk melakukan penyelidikan, kemudian dia sendiri lalu pergi mencari isterinya atau Beng San. Hasilnya juga nihil. Sama sekali Thio Ki tidak tahu apa yang terjadi atas diri isterinya, juga tidak tahu bahwa pada waktu itu Beng San sendiri juga menghadapi malapetaka yang hebat. Hatinya makin risau dan ia mendapat firasat tidak enak dalam hatinya bahwa isterinya tentu mengalami malapetaka besar. Ia berduka sekali, terutama kalau teringat bahwa isterinya itu sedang mengandung.
Beberapa bulan kemudian pada suatu hari selagi Thio Ki berlatih silat membimbing para tosu di belakang kuil, tiba-tiba terdengar suara melengking aneh. Para tosu menjadi pucat mendengar ini. Mereka pernah dahulu mendengar suara ini, yaitu suara burung rajawali emas yang menjadi binatang tunggangan Kwa Hong. Bagaikan anak-anak kelinci takut mendengar auman harimau, mereka berlari ke belakang Thio Ki dengan wajah pucat dan
tubuh gemetar, jantung berdebar keras. Thio Ki sendiri terkejut dan menengok ke atas di mana ia melihat seekor burung yang besar dan indah terbang berkeliling.
"Eh, burung apakah itu? Besar sekali!" katanya.
" .... celaka... dia datang kembali .... !" seorang tosu tua berkata.
Seketika Thio Ki teringat akan cerita yang ia dengar tentang Kwa Hong dan rajawalinya, maka ia pun terkejut dan menanti penuh perhatian. Ketika ia menengok, ia melihat dengan heran dan kaget bahwa semua tosu yang berada di belakangnya sudah pada berlutut. Burung itu terbang makin dekat, menukik ke bawah dan terdengarlah bentakan nyaring.
"Siapa ini berani menyambut Ketua Hoa-san-pai tanpa berlutut? Apa kau sudah bosan hidup?" Ucapan ini disusul menyambarnya sinar hijau ke arah kepala Thio Ki.
"Hong-moi!" Thio Ki berteriak dan inilah yang menyelamatkan nyawanya karena sinar itu tiba-tiba menyeleweng tidak jadi mengenai kepalanya akan tetapi ada hawa pukulan yang demikian dahsyatnya sehingga tanpa dapat ia pertahankan lagi Thio Ki terguling dan terbanting ke atas tanah. ....
!" Thio Ki memanggil lagi sambil merangkak bangun. Kiranya Kwa Hong sudah berdiri di atas tanah, burung raksasa itu telah terbang ke atas sambil bercuitan. Thio Ki cepat bangun, akan tetapi kaki kiri Kwa Hong bergerak ke arah lututnya dan... untuk kedua kalinya Thio Ki roboh lagi. Ia mengangkat muka dengan heran. Bukan main terkejutnya ketika ia melihat Kwa Hong. Jelas bahwa wanita ini adalah Kwa Hong, masih semanis dan secantik dahulu. Akan tetapi tarikan mulut itu benar-benar menimbulkan kengerian padanya. "Sumoi ....
"Heh, kiranya engkau? Thio Ki, biarpun engkau sendiri juga harus berlutut di depanku, di depan Ketua Hoa-san-pai!"
"Sumoi, apakah kau sudah gila?" Thio Ki melompat bangun. "Betulkah kau telah membunuh Sukong, mengangkat diri menjadi Ketua Hoa-san-pai? Sumoi, kenapa begitu? Kau yang dulu berjiwa gagah ....
" Kata-kata Thio Ki terhenti karena ia sudah roboh lagi, kini agak parah karena ia kena ditampar pundaknya oleh tangan kiri Kwa Hong yang memiliki hawa pukulan luar biasa dahsyatnya. Mata Kwa Hong berkilat marah.
"Memang aku bunuh dia. Kau pun akan kubunuh karena kau berani bersikap kurang ajar kepadaku. Kau bicara tentang kegagahan? Hi-hi-hik, kau sendiri gagah apanya? Isteri dibawa lari orang lain, dipermainkan, kau enak saja di sini. Huh, laki-laki apa kau ini? Lebih baik mampus."
Thio Ki seketika bangun lagi, lupa akan rasa nyeri luar biasa pada pundaknya. Mukanya pucat. "Sumoi... kau melihat Lee Giok? Di mana dia? Bagaimana dengan dia .... ? Apakah
si bangsat Giam Kin .... " Ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya, napasnya sesak karena
gelisah dan marah.
"Hi-hi-hik, isterimu dibawa lari orang, dipermainkan orang. Syukur, baru senang ya rasanya terpisah dari orang yang kau kasihi? Hu-hu-hu
...." Tiba-tiba Kwa Hong menangis tersedu-sedu karena ia teringat akan dirinya sendiri yang juga tak dapat berkumpul dengan orang yang ia cinta.
Thio Ki kaget dan juga bingung, akan tetapi berita itu terlalu mengguncangkan hatinya sehingga ia tidak pedulikan lagi yang lain. Ia bangun dan memegang tangan Kwa Hong. "Sumoi... demi Tuhan... katakanlah, di mana Giam Kin yang menculik isteriku .... ?"
Kwa Hong menghentikan tangisnya, lalu matanya liar lagi, penuh kebengisan. "Kau mau mencari dia? Boleh kuantar kau menyusul dia ke akhirat. Dia sudah kubunuh!"
"Dan Lee Giok bagaimana .... ? Ah, sumoi .... " mata Thio Ki terbelalak dan sikapnya
mengancam, "apakah kau juga membunuh dia .... ?"
Kwa Hong tertawa lagi, tertawa menyeramkan. "Kalau betul, kau mau apa?"
!" Dengan nekat Thio Ki menerjang bekas adik seperguruannya itu. Akan tetapi pada waktu itu tingkat kepandaiannya tidak berarti apa- apa kalau dibandingkan dengan tingkat kepandaian Kwa Hong. Sekali menangkis dan sekali mendorong saja kembali Kwa Hong berhasil merobohkannya. Kwa Hong tertawa lagi sambil mengeluarkan pedang Hoa-san Po-kiam. "Kau... kau... iblis kejam .....
"Hi-hik, kau manusia rendah berani melawan Ketua Hoa-san-pai? Mampuslah kau!" Pedang Hoa-san Po-kiam itu diangkat tinggi-tinggi untuk ditebaskan ke arah leher Thio Ki.
Pada saat itu sebutir batu kecil menyambar ke arah pedang itu sehingga gerakan pedang tertahan di udara, disusul bentakan nyaring, "Hong Hong!!"
Kwa Hong kaget bukan main. Sambaran batu itu hebat sekali akan tetapi baginya tidaklah terlalu mengagetkan. Yang membuat ia kaget adalah suara bentakan tadi. Cepat ia memandang dan ... tubuhnya tiba-tiba gemetar dan pedang yang dipegangnya itu terlepas, jatuh ke atas tanah. Ia berdiri terpaku seperti patung, matanya terbelalak memandang laki-laki yang melangkah lebar menghampirinya, laki-laki setengah tua yang berwajah keren dan gagah perkasa, yang tangan kirinya putus sebatas pergelangan tangan.
"Ayah .... !" Hati Kwa Hong menjerit akan tetapi bibirnya hanya mengeluarkan suara yang
serak.
Di lain saat laki-laki itu sudah berdiri di hadapannya dengan mata berapi-api dan alisnya terangkat naik, wajahnya membayangkan kemarahan, kedukaan dan sesal yang amat besar. Laki-laki itu memang ayah Kwa Hong, yaitu Hoa-san It-kiam Kwa Tin Siong. Di
dalam cerita Raja Pedang telah dituturkan betapa murid pertama dari mendiang Lian Bu Tojin ini melarikan diri dari Hoa-san bersama sumoinya, Kiam-eng-cu Liem Sian Hwa setelah tangan kirinya buntung oleh pedang gurunya sendiri dalam usahanya menolong nyawa sumoinya dari serangan pedang Lian Bu Tojin.
Kwa Tin Siong tak dapat menyangkal bahwa ia memang jatuh cinta kepada Liem Sian Hwa, sumoinya sendiri itu dan sebaliknya Sian Hwa juga diam-diam mencinta suhengnya ini setelah hatinya hancur lebur oleh kelakuan tunangannya, yaitu mendiang Kwee Sin murid Kun-lun-pai. Setelah melarikan diri dari Hoa-san, keduanya lalu mengasingkan diri, hidup berdua di sebuah puncak gunung. Mereka merasa malu untuk turun gunung dan karena senasib, pula karena mereka memang saling mencinta, maka keduanya lalu bersumpah saling setia dan menjadi suami isteri. Dengan tekun kedua orang ini lalu memperdalam ilmu silat mereka dan karena keduanya memang telah mewarisi ilmu silat tinggi dari Hoa-san-pai, memiliki dasar-dasar yang amat kuat, maka ketekunan mereka berhasil baik sehingga ilmu kepandaian mereka maju pesat sekali.
Betapapun juga, ketika Kwa Tin Siong mendengar akan sepak terjang puterinya terhadap Hoa-san-pai, malah sudah membunuh Lian Bu Tojin, ia tidak dapat terus tinggal diam berpeluk tangan mendengar Hoa-san-pai dirusak dan dikacau oleh puterinya sendiri yang terkasih. Setelah bermufakat dengan isterinya, ia lalu turun dari gunung dan menuju ke Hoa-san-pai. Kedatangannya tepat pada saat Kwa Hong hendak membunuh Thio Ki sehingga ia dapat mencegahnya.
Di belakang Kwa Tin Siong terlihat seorang wanita cantik dan gagah, menggendong seorang anak kecil. Inilah Liem Sian Hwa dan anak itu adalah Kun Hong, anak suami isteri ini.
Kita kembali ke pertemuan antara ayah dan anak yang menegangkan ini. Para tosu yang segera mengenal Kwa Tin Siong segera bangkit dari berlutut dan memandang penuh ketegangan, juga kelegaan hati.
"Hong Hong, jadi benarkah semua berita yang kudengar? Benarkah kau berubah menjadi iblis, membunuh Lian Bu Tojin sukongmu sendiri, merampas kedudukan ketua Hoa-san- pai, membunuh banyak orang tosu Hoa-san-pai, dan sekarang kulihat kau malah hendak membunuh Thio Ki? Hong Hong..., bagaimana kau bisa berubah begini .... ?"
Naik sedu-sedan dari dada Kwa Hong. Dua butir air mata menitik turun dan ia hanya dapat berbisik, "Ayah .... "
"Kau membunuh Suhu, malah membunuh Supek Lian Ti Tojin, mengusir Kui Lok dan
Thio Bwee, melakukan perbuatan gila-gilaan di luar. Aku mendengar bahwa kau telah memiliki kepandaian yang luar biasa. Hemmm, sekarang aku, Kwa Tin Siong ayahmu telah berada di sini. Coba kaukeluarkan kepandaianmu itu untuk membunuh ayahmu sendiri. Hayo, kau tunggu apa lagi?" Suara Kwa Tin Siong yang tadinya bengis sekarang berubah serak mengandung penyesalan besar yang menusuk hatinya.
"Ayah .... "
"Tak usah kau ragu-ragu. Lawanlah aku. Kau boleh mencoba membunuh ayahmu ini, kalau tidak akulah yang akan membunuhmu."
"Ayah .... !"
"Kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya takkan luntur selama dunia belum kiamat, akan tetapi kasih sayang seorang gagah selalu berdasarkan kebenaran dan keadilan. Demi kasih sayangnya, seorang ayah yang gagah takkan segan-segan menghukum anaknya sendiri yang menyeleweng dari keadilan dan kebenaran. Perbuatan-perbuatanmu melampaui segala garis, hukumannya hanyalah mati. Kalau aku tidak mampu menghukum mati kepadamu, lebih baik aku mati dalam tanganmu. Majulah."
"Ayah .... !"
Kemarahan Kwa Tin Siong memuncak. Keraguan anaknya ini dianggapnya sebagai sifat pengecut. "Terimalah hukuman dariku!" Ia membentak dan menerjang maju dengan tangan kanannya. Pukulan yang ia lakukan adalah pukulan Hoa-san-pai yang hebat, pukulan penuh tenaga Iwee-kang yang akan dapat membikin pecah sebuah batu besar. Maksudnya hendak membunuh anaknya dengan sekali pukul agar lekas selesai urusan yang menghancurkan hatinya itu. Juga pukuian ini adalah jurus yang disebut Pukulan Dewa Mabuk yang biasa dipergunakan kalau keadaan sudah amat terdesak sehingga tak ada jalan keluar lagi. Biarpun amat hebat dan berbahaya bagi yang diserang, namun tidak kurang berbahayanya bagi yang menyerang sendiri karena sekali dapat dielakkan atau ditangkis, kedudukan Si Penyerang menjadi lemah dan tidak terjaga sehingga mudah dirobohkan lawan yang mampu menghindarkan pukulan ini.
Akan tetapi, alangkah kaget hati Kwa Tin Siong ketika melihat betapa puterinya itu sama sekali tidak mengelak. Betapapun marahnya terhadap anaknya ini, tadi Kwa Tin Siong sengaja melakukan pukulan ini karena ia sudah mendengar betapa lihai Kwa Hong sehingga gurunya sendiri, Lian Bu Tojin, tak mampu melawannya. Tentu ia sudah memperhitungkan bahwa Kwa Hong pasti akan dapat menghindarkan serangan ini dan berbalik akan merobohkannya. Ia rela mati di tangan anaknya untuk menebus dosa yang diperbuat oleh Kwa Hong. Demikian sucinya kasih sayang orang tua ini terhadap puterinya. Oleh karena inilah maka ia kaget sekali ketika pukulannya sama sekali tidak ditangkis maupun dielakkan oleh Kwa Hong yang menerimanya dengan mata meram. Untuk menarik kembali pukulan itu tidak mungkin lagi.
Tiba-tiba bayangan kuning emas menyambar dan tepat pada saat pukulan Kwa Tin Siong mengenai tubuh Kwa Hong, jago Hoa-san-pai ini terlempar ke belakang karena dipukul sayap rajawali emas. Kwa Hong terjengkang roboh dan nyawanya tertolong oleh serbuan rajawali emas itu sehingga pukulan ayahnya hanya mempunyai kekuatan setengahnya saja. Sambil melengking keras rajawali itu mengamuk, menerjang dengan marah ke arah Kwa Tin Siong yang terlempar empat meter lebih jauhnya. Akan tetapi sambil
membentak marah Liem Sian Hwa sudah menerjang maju dengan pedang di tangan. Wanita muda ini berjuluk Kiam-eng-cu (Bayangan Pedang), gerakannya gesit bukan main dan permainan pedangnya lihai sekali. Biarpun serangannya dapat dielakkan oieh burung itu, namun ia berhasii menyelamatkan suaminya dari cengkeraman kim-tiauw. Sementara itu, para tosu serentak bangkit dan mengeroyok dengan pedang mereka. Juga Kwa Tin Siong yang tidak terluka berat, sudah bangun dan menyambar pedang Hoa-san Po-kiam yang jatuh dari tangan Kwa Hong. Sekarang burung itu dikeroyok oleh Kwa Tin Siong, Liem Sian Hwa dan puluhan orang tosu Hoa-san-pai.
Hujan pedang menyambar ke arah tubuh kim-tiauw yang melawan dengan hebat sekali. Setiap kali sayapnya menampar, sedikitnya ada dua orang tosu roboh, patuk dan cakarnya sudah membinasakan banyak lawan. Namun jumlah pengeroyoknya terlampau banyak sehingga setiap kali ada pedang mengenai tubuhnya, beberapa helai bulu rontok beterbangan. Juga pedang di tangan Liem Sian Hwa telah berhasil melukai kakinya sehingga mengeluarkan darah. Namun burung itu terus mengamuk dan sekali lagi Kwa Tin Siong yang agaknya paling ia benci itu terpukul roboh oleh kibasan sayapnya yang lihai.
Tiba-tiba Kwa Hong yang sudah siuman kembali mengeluarkan bunyi melengking panjang. Rajawali itu cepat menyambar tubuh Kwa Hong, dicengkeramnya baju di bagian punggung dan membawa nonanya itu terbang pergi dengan kecepatan yang luar biasa. Kwa Tin Siong, Liem Sian Hwa dan para tosu hanya dapat berdongak memandang dengan penuh kengerian dan kekaguman sampai burung itu lenyap dari pandangan mata. Kwa Tin Siong menarik napas panjang ketika melihat betapa dalam pertempuran yang hanya sebentar itu ada delapan orang tosu yang tewas dan banyak yang terluka.
Pertemuan ini mendatangkan banjir air mata dan Kwa Tin Siong tak dapat menolak ketika para tosu mengangkatnya sebagai ketua Hoa-san-pai. Ketika Kwa Tin Siong mendengar tentang Lee Giok yang katanya pun terbunuh oleh Kwa Hong, ia menggigit bibirnya dan menghibur Thio Ki. "Dia terlampau lihai," katanya. "Baru burungnya saja tak terlawan oleh kita, untungnya tadi dia tidak berani melawanku. Andaikata dia turun tangan, kita semua kiranya takkan dapat hidup lagi." Semenjak saat itu Kwa Tin Siong memimpin para tosu dan memperhebat latihan ilmu silat di antara para murid Hoa-san- pai untuk menjaga kalau-kalau kelak terjadi penyerbuan ke Hoa-san-pai. Juga Thio Ki tekun memperdalanm ilmu silatnya.
Kwa Tin Siong berusaha menyelidiki dengan menyebar para tosu untuk menyatakan kebenaran berita tentang Lee Giok, lupa berusaha mencari Li Cu dan Beng San yang mereka harapkan akan dapat memberi keterangan tentang isteri Thio Ki itu. Akan tetapi semua usahanya sia-sia belaka. Akhirnya karena putus asa, Thio Ki malah meninggalkan keduniaan dan masuk menjadi seorang tosu. Ia sekarang tekun mempelajari Agama To sambil memperdalam ilmu silatnya di bawah pimpinan Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa. Di bawah pimpinan suami isteri perkasa ini, lambat laun Hoa-san-pai mendapatkan kembali keangkerannya dan merupakan partai persilatan yang kuat. Hanya terdapat satu hal yang aneh, yaitu pada diri Kwa Kun Hong, putera Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa. Kiranya semua orang akan menduga bahwa suami isteri ini tentu akan memberi
gemblengan istimewa kepada putera mereka agar kelak menjadi seorang yang berkepandaian tinggi dan gagah perkasa. Namun dugaan ini keliru. Mungkin sekali karena melihat akibat pada diri puterinya, Kwa Hong, maka ketua Hoa-san-pai itu agaknya merasa kuatir kalau-kalau puteranya kelak pun akan mengalami nasib buruk karena pandai ilmu silat. Ia sama sekali tidak melatih ilmu silat kepada Kun Hong, sebaliknya melatih bun (ilmu kesusastraan) dan tentang agama.
Kakek waktu mempunyai kekuasaan yang amat mengherankan dan tak dapat dilawan oleh siapa dan apapun juga. Segala yang berada di dalam dunia ini ditelan oleh waktu, tidak pengecualian, mempergunakan daya keampuhannya yang berupa usia tua. Benda paling keras macam besi pun akhirnya menyerah kepada waktu, diganyang hancur oleh usia tua. Manusia yang paling pandai, yang paling gagah perkasa dengan kedudukan tertinggi, kekuasaan terbesar, akhirnya akan menyerah kepada Kakek Waktu. Semua akan musnah sedangkan waktu akan berjalan terus, menelan segala apa yang dihadapannya.
Yang, sudah lampau hanya merupakan kenangan sepintas lalu saja, seakan-akan masa puluhan tahun hanya terjadi dalam sekejap mata. Sebaliknya, yang akan datang merupakan dugaan dan teka-teki yang takkan diketahui oleh seorang pun manusia. Hanya Tuhan Yang Maha Kuasa saja yang dapat menguasai Kakek Waktu, karena Tuhahlah pengatur dan pengisi waktu dengan segala macam peristiwa di dunia seperti yang dikehendaki-Nya.
Waktu memang amat aneh. Kalau diperhatikan dan diikuti jalannya, amat-lah lambat ia merayap, lebih lambat daripada jalannya siput. Akan tetapi kalau tidak diperhatikan, amat cepatlah ia melewat, lebih cepat daripada terbangnya pesawat jet atau roket sekalipun.
Demikian pula dengan keadaan waktu di dalam cerita ini. Tanpa kita sadari lagi, tahu-
tahu kita sudah dibawa oleh waktu terbang cepat tujuh belas tahun lamanya semenjak Kwa Tin Siong datang kembali ke Hoa-san-pai dan menjadi Ketua Hoa-san-pai sebagai pengganti gurunya, Lian Bu Tojin yang telah tewas oleh Kwa Hong dan Koai Atong. Tujuh belas tahun telah lewat bagaikan dalam sekejap mata saja.
Selama itu, tidak terjadi hal-hal penting. Memang harus diakui bahwa setelah Kaisar yang baru berhasil menghalau dan membasmi semua bekas teman seperjuangan yang hendak memberontak, keadaan pada umumnya menjadi aman tenteram.
Di Puncak Hoa-san-pai juga kelihatan aman dan damai semenjak terjadi keributan belasan tahun yang lalu, akibat sepak terjang Kwa Hong. Sekarang banyak kelihatan para tosu Hoa-san-pai bekerja di sawah ladang, memikuli kaleng-kaleng air dari sumber. Bahkan dengan gembira selalu mereka kelihatan berlatih ilmu silat Hoa-san-pai di pelataran belakang kuil Hoa-san-pai yang besar itu.
Comments