Skip to main content

Rajawali Emas 4 - Kho Ping Hoo

Sementara itu, setelah berhadapan dan melihat bahwa yang memaki-maki "isterinya" adalah lima orang tosu yang tidak dikenalnya, Koai Atong menuding dan membentak, "Tosu-tosu bau dari mana berani mampus, datang-datang memaki Enci Hong."

"Sobat yang baru datang ini apakah bukan Koai Atong?" tanya Beng Tek Cu karena masih ragu-ragu apakah betul Koai Atong yang terkenal itu hanya seperti orang gila ini.

Koai Atong membelalakkan kedua matanya yang sudah lebar itu. "Eh?? Kau tahu namaku? Siapakah kau tosu yang sudah kenal namaku?"

"Pinto Beng Tek Cu dari Bu-tong-pai dan mereka ini adalah sute-suteku. Koai Atong, pinto mendengar bahwa kau dan Kwa Hong murid murtad dari Hoa-san-pai itu telah membunuh Lian Bu Totiang, membunuh tosu-tosu Hoa-san-pai dan banyak orang-orang gagah yang datang ke sini, kemudian malah merampas kedudukan Ketua Hoa-san-pai. Benarkah semua pengacauan ini? Koai Atong, kau sebagai murid seorang sakti seperti Giam Kong Hwesio, kenapa menjadi tersesat sampai begini jauh?"

Menghadapi ucapan ini dan melihat pandang mata Beng Tek Cu yang tajam berpengaruh, Koai Atong menjadi jerih juga. la menundukkan muka dan tidak dapat menjawab, seperti anak kecil dimarahi ayahnya. Pada saat itu, terdengar suara melengking tinggi, datangnya dari udara dan amat nyaring menyakitkan anak telinga.

"Beng Tek Cu! Kau dan sute-sutemu pergilah dari sini, jangan mencampuri urusan Hoa- san-pai." Jelas bahwa itu adalah suara wanita yang merdu tapi nyaring dan melengking tinggi. Beng Tek Cu dapat menduga bahwa suara itu tentulah suara Kwa Hong, akan tetapi dia tidak mengerti bagaimana suara itu datangnya dari atas.

"Kwa Hong murid murtad, pinto datang untuk mengakhiri riwayatmu yang busuk." teriak Beng Tek Cu.

"Koai Atong, tolol! Orang memaki aku, kenapa diam saja? Serang dan bunuh mereka semua, tosu-tosu bau ini!" Suara Kwa Hong terdengar lagi dan tiba-tiba Koai Atong mengeluarkan pekik melengking seperti burung dan tahu-tahu ia telah menggerakkan kedua lengannya yang panjang untuk menyerang kalang-kabut kepada lima orang tosu itu. Beng Tek Cu dan sute-sutenya cepat mengelak, akan tetapi tetap saja dua orang tosu Bu-tong-pai itu terkena pukulan yang amat aneh gerakannya sehingga mereka roboh terguling. Beng Tek Cu marah dan juga heran bukan main. Sute-sutenya itu terhitung murid-murid Bu-tong-pai tingkat dua, memiliki ilmu kepandaian tinggi dan tenaga Iwee- kang yang sudah kuat sekali. Akan tetapi bagaimana begitu mudah roboh hanya oleh sekali serangan Koai Atong ini? la sendiri ketika mengelak tadi sengaja mengebutkan lengan baju untuk menahan pukulan, akan tetapi lengan bajunya terpukul membalik dan ujungnya sudah hancur.

"Koai Atong, kau menjadi antek siluman betina jahat. Patut dibasmi lebih dulu." Beng

Tek Cu membentak sambil mencabut pedangnya. Dua orang sutenya yang tadi roboh oleh pukulan Koai Atong, juga sudah bangun kembali dan seperti yang lain-lain, dengan marah mereka pun mencabut pedang. Baiknya dalam gebrakan pertama tadi Koai Atong hanya menggunakan gaya serangan rajawali emas tanpa mempergunakan hawa pukulan Jing-tok-ciang, maka dua orang tosu yang terpukul roboh tidak mengalami luka hebat. Sekarang lima orang tosu itu dengan pedang di tangan mengurung Koai Atong. Orang tinggi besar ini nampak kebingungan. Memang bertempur bagi Koai Atong merupakan permainan yang rnenyenangkan, maka ia tertawa-tawa ha-ha-hi-hi sambil berputaran perlahan dan melirik-lirik lima orang lawannya, kedua kakinya berjungkit, kedua lengan dikembangkan dan berge-rak-gerak seperti sayap burung hendak terbang, sikapnya lucu sekali tapi juga aneh dan membuat lima orang tosu Bu-tong-pai itu berhati-hati sekali tidak segera menyerang.

Beng Tek Cu memberi tanda isyarat kepada adik-adiknya dan lima orang tosu ini secara otomatis lalu mengambil kedudukan masing-masing dan membentuk barisan Bu-tong Ngo-heng-tin. Dengan teratur dan otomatis kelimanya lalu bergerak melangkah maju mengitari Koai Atong, tanpa menyerang akan tetapi sikap dan kedudukan mereka sering berubah-ubah, kelihatan indah sekali seperti gerakan tarian yang teratur. Pedang mereka berkelebatan berpindah-pindah pasangan kuda-kuda, ke mana pun mereka melangkah, mata mereka mengincar ke arah Koai Atong.

Biarpun pada umumnya Koai Atong amat bodoh dan sederhana pikirannya seperti kanak- kanak, namun dalam hal ilmu silat ia telah berpengalaman banyak. Selama mengikuti suhunya dahulu, ia telah merantau dari dunia barat sampai ke lautan timur, entah sudah

berapa ratus kali pertempuran ia alami. Tentu saja melihat Bu-tong Ngo-heng-tin ini, ia segera maklum bahwa ia menghadapi barisan yang amat tangguh dan berbahaya. Sama sekali ia tidak gentar, akan tetapi tak dapat disangkal lagi bahwa ia merasa bingung juga. la dan Kwa Hong hanya meniru gerakan-gerakan rajawali emas dalam menghadapi lawan seorang, belum pernah melihat bagaimana gerakan burung sakti itu kalau menghadapi keroyokan seperti sekarang ini. Maka sudah tentu saja ia takkan dapat mempergunakan gerakan yang ia pelajari dari rajawali emas dan terpaksa menggunakan kepandaiannya sendiri, terutama sekali Jing-tok-ciang.

"Hei, Koai Atong, apa kau takut menghadapi Ngo-heng-tin kami? Kalau takut, lekas berlutut dan minta ampun." ejek Beng Tek Cu dan empat orang sutenya segera pula mengeluarkan kata-kata memaki dan mengejek. Memang inilah termasuk siasat daripada Ngo-heng-tin, yaitu membuat lawan marah-marah dan memancing lawan agar supaya menyerang.

Koai Atong memang seperti anak kecil. Begitu diejek dan dimaki-maki, ia menjadi marah dan cepat ia memutar lengan kiri menyerang ke arah Beng Tek Cu. Hebat sekali serangannya karena memang semenjak berpisah dari gurunya, ia telah memperdalam Ilmu Pukulan Jing-tok-ciang ini, apalagi gerakannya sudah dicampur pula dengan gerakan rajawali.

Beng Tek Cu maklum akan kehebatan serangan ini maka cepat ia melompat mundur sambil memutar pedangnya. Koai Atong sebaliknya kaget bukan main karena pada saat ia bergerak menyerang itu, ia mendengar desir angin dari kanan kiri dan belakang, melihat pula empat sinar menyambar dan menyerang ke arah empat bagian tubuhnya yang paling lemah. Terpaksa ia menarik kembali serangannya terhadap Beng Tek Cu tadi dan menggunakan kegesitannya untuk mengelak dari empat serangan itu, lalu dalam kemarahannya ia menyerang seorang di antara empat tosu itu yang terdekat. Akan tetapi, seperti juga tadi, yang diserangnya melornpat mundur dan empat tosu yang lain berbareng menyerangnya dengan pedang dari belakang dan kanan kiri.

Inilah kehebatan Bu-tong Ngo-heng-tin. Memang kelihaiannya baru terasa kalau lawan menyerang seorang di antara lima pelakunya. Karena si Penyerang ini otomatis tentu membiarkan beberapa bagian tubuhnya terbuka kalau ia menyerang dan kesempatan inilah yang dipakai oleh empat orang tosu lain untuk menyerang, sedangkan seorang tosu yang diserang harus menjauhkan diri dan menyelamatkan diri sendiri.

Koai Atong mulai bingung dan repot sekali. Serangannya selalu gagal. Bagaimana tidak akan gagal kalau begitu menyerang seorang, ia dihantam oleh empat orang? Bukan hanya gagal, malah setiap kali menyerang berarti ia terancam bahaya maut. Ia banyak pengalaman, maka setelah beberapa kali gagal menyerang malah terdesak hebat, akhirnya Koai Atong tidak mau menyerang lagi dan berdiri saja diam menjaga diri. Dan ternyata dugaannya benar, lima orang lawannya itu pun berdiri diam menanti dia melakukan penyerangan seperti tadi.

Memang lima orang dalam bentuk barisan Bu-tong Ngo-heng-tin ini mempergunakan

tipu Memancing Ular Keluar dari Rumput. Sekarang setelah Koai Atong diam saja, dengan sendirinya tipu mereka itu gagal. Sampai lama dua pihak saling menanti agar lawan menyerang lebih dulu, akan tetapi keduanya tidak mau mengalah.

Beng Tek Cu memberi isyarat lagi dan tiba-tiba seorang tosu yang berdiri di sebelah kiri Koai Atong menyerang dengan pedangnya, menusuk ke arah lambung bocah tua itu. Belum sampai serangan ini sudah disusul oleh tosu ke dua di belakangnya, lalu disusul tosu lain dan demikianlah, dalam sekejap mata saja lima orang tosu itu susul-menyusul dalam serangan mereka. Koai Atong tadinya menanti datangnya serangan untuk merobohkan Si Penyerang itu, siapa kira serangan itu datangnya susul-menyusul secara otomatis dan teratur sekali sehingga kembali ia sibuk melayani semua serangan tanpa mendapat kesempatan sama sekali untuk balas menyerang. Malah kadang-kadang penyerangan bertubi-tubi itu tiba-tiba berubah sifatnya menjadi serangan serentak berbareng, lalu bertubi-tubi lagi. Inilah gerak tipu dalam Bu-tong Ngo-heng-tin yang disebut Serangan Angin Topan.

Andaikata para tosu itu hanya mengeroyoknya mengandalkan ilmu silat saja, kiranya tidak sukar dan tidak akan memakan waktu lama bagi Koai Atong untuk merobohkan mereka seorang demi seorang. Akan tetapi karena mereka mempergunakan gerakan teratur dalam barisan Bu-tong Ngo-heng-tin yang amat lihai, kini Koai Atong bingung sekali dan terdesak hebat.

"Curang... kalian curang .... Enci Hong bantulah aku ..... Tosu-tosu bau ini curang dan lihai

sekali .... !"

Terdengar suara melengking tinggi, makin lama. makin dekat dan lima orang tosu itu menanti dengan hati berdebar dan sikap waspada. Kemudian disusul suara wanita, "Koai Atong, kau benar-benar memalukan. Melawan lima orang keledai bau ini saja kalah? Memalukan Hoa-san-pai itu namanya!" Dan lima orang tosu itu kaget sekali ketika memandang ke atas mereka melihat Kwa Hong duduk di atas punggung seekor burung rajawali emas, bukan seperti manusia lagi, lebih patut seorang dewi atau seorang siluman. Akan tetapi mereka tidak sempat memperhatikan lebih lama lagi karena tiba-tiba burung rajawali yang indah itu sudah menukik ke bawah, menyambar ke arah mereka. Sepasang cakar yang kuat ditambah sebuah patuk yang menyerang mereka, disusul oleh lima sinar hijau. Hebat bukan main serangan ini, hebat dan tidak tersangka-sangka. Lima orang tosu itu karena diserang sekaligus, tak sempat menyusun dan mengatur barisan, otomatis mereka bergerak sendiri-sendiri untuk menyelamatkan diri, ada yang mengelak jauh dari ada yang menangkis dengan pedang. Kasihan sekali mereka yang menangkis dengan pedang, yaitu dua orang tosu. Pedang mereka patah dan leher mereka disambar sinar hijau. Mereka menjerit dan roboh terguling, tewas di saat itu juga menjadi korban panah hijau di ujung cambuk Kwa Hong.

Koai Atong tertawa bergelak lalu tubuhnya yang tinggi besar itu rnenerjang maju. Kini barisan itu sudah pecah dan buyar, maka beberapa kali serang saja Koai Atong sudah berhasil merobohkan dua orang tosu yang lain, dipukulnya tewas dengan Jing-tok- ciangnya yang lihai. Tinggal Beng Tek Cu yang sejak tadi masih sempat mengelak dan

menyelamatkan diri. Akan tetapi ia pun maklum bahwa menghadapi dua orang aneh ini ia tidak berdaya. Ilmu silat yang dimainkan Koai Atong amat dahsyat, sedangkan bantuan yang dilakukan oleh Kwa Hong di atas punggung rajawali emasnya lebih dahsyat lagi. la masih mencoba untuk melakukan serangan penghabisan dengan pedangnya, diputarnya senjata ini dan dengan jurus terlihai dari Bu-tong-pai ia menerjang Koai Atong. Namun enak saja Koai Atong menggerakkan kaki dan mengembangkan lengan, semua serangannya terhindar. Dari atas burung rajawali menyambar dan biarpun Beng Tek Cu sudah berusaha untuk mengelak, namun tetap saja tubuhnya menjadi korban sambaran dua buah panah hijau. la menjerit, pedangnya terlepas, tubuhnya terhuyung-huyung dan akhirnya ia roboh dengan kedua mata melotot.

!" Inikah iblis cilik yang mengotorkan nama Hoa-san-pai?" Suara ini pun datangnya dari atas, amat mengagetkan Kwa Hong dan Koai Atong karena terdengar parau dan menusuk telinga. Ketika mereka menengok ke kanan kiri, tidak kelihatan seorang pun manusia. Diam-diam Kwa Hong bergidik juga dan ia dapat menduga bahwa tentu ada orang sakti datang. Kalau ia teringat akan dongeng tentang Lembah Akhirat yang didengarnya dahulu ketika ia masih menjadi murid Hoa-san-pai ia merasa serem. Diperintahnya rajawali emas untuk turun dan hinggap di atas tanah. Ia meloncat turun dan mendekati Koai Atong. "Kurang ajar ....

"Koai Atong, siapa yang bicara tadi?" Koai Atong juga celingukan menoleh ke kanan kiri, lalu menggeleng kepalanya. Ia tidak pernah mendengar tentang cerita Hoa-san-pai, maka ia tidak merasa takut, hanya terheran-heran. "Jangan-jangan itu tadi suara rohnya Beng Tek Cu." katanya.

Tiba-tiba terdengar lagi suara itu, kini tidak hanya keras dan parau, malah menggetarkan jantung menusuk-nusuk anak telinga, suara menggetar yang amat hebat, membuat sebelah dalam telinga Seakan-akan hendak pecah. Inilah suara orang bernyanyi dan kata- kata yang dinyanyikanya adalah ujar-ujar dalam kitab To-tik-king:

"Orang baik adalah guru orang tidak baik, orang tidak baik adalah murid orang baik, siapa tidak menjunjung tinggi gurunya, ia akan tersesat jauh, inilah kegaiban berahasia."

Suara yang menyanyikan ujar-ujar ini demikian keras dan buruknya, amat tidak enak didengar sehingga Koai Atong dan Kwa Hong menggigil seluruh tubuh mereka, hampir tidak kuat mendengar lebih lama lagi. Dua orang ini merasa betapa suara itu memasuki telinga dan terus menusuk ke dalam jantung, seakan-akan menyerang semua isi dada dan hendak memecahkan kepala. Sebagai seorang ahli silat tinggi, Koai Atong kaget sekali dan cepat-cepat ia duduk bersila mengerahkan Iwee-kangnya untuk menahan pengaruh luar biasa dari suara nyanyian itu Kwa Hong juga maklum akan hal ini maka ia pun cepat mengerahkan Iwee-kangnya. Bahkan burung rajawali emas, biarpun tidak terpengaruh secana mutlak, juga kelihatan gelisah dan mengeluarkan suara merintih seperti orang menangis. Hebatnya, nyanyian dengan suara buruk itu diulang-ulang terus dan makin lama rnakin pucatlah muka Koai Atong dan Kwa Hong.

Bagi ahli-ahli silat yang sudah tinggi tingkatnya, melakukan serangan tanpa

menggerakkan anggauta tubuh bukanlah hal yang aneh. Jangan dikira bahwa suara itu tidak akan dapat dipergunakan sebagai senjata. Malah dapat dijadikan senjata yang lebih ampuh daripada tajamnya pedang. Bagi seorang yang tingkat Iwee-kangnya sudah tinggi, yang tenaga dalamnya sudah kuat sekali, maka di dalam suaranya dapat diisi getaran yang cukup kuat untuk merobohkan seorang pandai. Bisa melemahkan semangat, bisa menggetarkan jantung dan menghancurkan urat-urat syaraf. Orang yang bernyany-nyanyi kali ini memang agaknya sengaja hendak mempergunakan Iwee-kang dan khi-kang dalam suaranya untuk menyerang Kwa Hong dan Koai Atong, untuk membunuh mereka tanpa menggerakkan kaki tangan.

Akan tetapi, dalam saat-saat yang amat berbahaya bagi dua orang itu, tiba-tiba terdengar suara lain dari arah yang berlawanan. Juga suara ini adalah suara orang bernyanyi, akan tetapi suaranya nyaring dan gagah, enak didengar dan sekaligus mempunyai pengaruh melawan suara pertama yang buruk dan tidak enak tadi. Anehnya, juga nyanyian ini adalah nyanyian yang kata-katanya diambil dari ayat-ayat To-tik-king.

“Mengenal keadaan orang lain adalah bijaksana, mengenal keadaan diri sendiri adalah waspada. Mengalahkan orang lain adalah kuat, menaklukkan diri sendiri adalah gagah perkasa, Puas dan mengenal batas berarti kaya raya, memaksakan kehendak sendiri berarti nekat. Tahu diri dan tahu kewajiban akan berlangsung, mati tidak tersesat berarti panjang umur.”

Baru satu kali saja suara nyanyian ini terdengar, suara pertama tadi segera lenyap dan tidak terdengar lagi. Juga Kwa Hong dan Koai Atong sudah tidak lagi tersiksa oleh pengaruh suara pertama dan keduanya sekarang sudah meloncat berdiri dengan sikap waspada dan hati-hati.

"Siapa pun hendak membela si jahat, aku tidak takut. Siluman betina yang mengotorkan Hoa-san-pai harus kubasmi." Baru saja terhenti kata-kata ini, tahu-tahu di depan Kwa Hong dan Koai Atong sudah berdiri seorang kakek yang tinggi kurus, rambutnya panjang awut-awutan, mukanya persis tengkorak hidup dengan sepasang mata yang berlubang dalam.

"Setan .... ! Ada setan .... !" Otomatis Koai Atong mundur-mundur dan bersembunyi di

belakang Kwa Hong.

Kakek yang seperti tengkorak hidup itu bukan lain adalah Lian Ti Tojin, tertawa terkekeh-kekeh akan tetapi tidak memandang kepada Koai Atong, melainkan menoleh ke kanan kiri seperti mencari orang lain. Memang dia sedang mencari orang yang tadi melawan nyanyiannya yang juga seperti dia tadi telah bernyanyi tanpa memperlihatkan diri.

"Pembela Si jahat, keluarlah saja kalau memang hendak melawan aku." katanya dan tiba- tiba dari mulutnya menyembur darah segar. la terbatuk-batuk beberapa kali dan tahulah Kwa Hong dan Koai Atong bahwa kakek ini ternyata teiah menderita luka dalam yang hebat. Bagaimanakah Lian Ti Tojin dapat menderita luka seperti itu? Bukan lain karena

"adu suara" tadi. Kakek ini sudah amat tua, mungkin ia kuat bertahan hidup sampai sekian lama karena ia berada dalam gua itu. Sekarang, begitu keluar di dunia ramai, ia sudah merasa betapa kesehatan tubuhnya terganggu hebat. Apalagi ketika ia sedang menggunakan ilmunya untuk menyerang Kwa Hong dan Koai Atong dengan suaranya, ia telah mendapat perlawanan dari suara orang lain. la harus mengerahkan seluruh tenaga dalamnya dalam "adu tenaga" ini dan karena tubuhnya yang sudah terlalu tua itu memang mulai lemah, ia menderita luka dalam yang hebat. Karena kelemahannya inilah maka ia tadi tidak segera keluar, melainkan menggunakan suaranya untuk menyerang dua orang yang dianggapnya perusak nama Hoa-san-pai.

Tadinya Kwa Hong dan Koai Atong kaget dan jerih, akan tetapi setelah melihat kakek itu memuntahkan darah dan tahu bahwa dia itu luka hebat, mereka tidak takut lagi. Malah Koai Atong lalu menuding sambil memaki.

"Kakek tua bangka bikin kaget orang saja. Kukira kau tadi setan. Mau apa kau datang ke sini?" Lalu ia menuding ke arah mayat lima orang tosu Bu-tong-pai tadi. "Apa kau datang mau membeli bangkai-bangkai ini?"

Kwa Hong segera membentak, "Atong, jangan main-main!" Kwa Hong lebih tajam pandang matanya dan ia dapat menduga bahwa orang ini tentulah seorang sakti, ia malah setengah menduga bahwa kakek ini agaknya "orang aneh" dari Lembah Akhirat.

"Aku mau bertemu dengan Ketua Hoa-san-pai. Mana dia?" Lian Ti Tojin berkata sambil memandang Kwa Hong dengan sinar mata yang membuat Kwa Hong merasa ngeri, Akan tetapi Kwa Hong sekarang berbeda jauh dengan Kwa Hong dahulu. Setelah merobohkan banyak jago-jago terkenal, ia memandang rendah kepada orang lain dan mempunyai keyakinan penuh akan kelihaian diri sendiri ditambah bantuan Koai Atong dan burung rajawali emas. Dengan mengangkat dada dan mengedikkan kepalanya ia menjawab gagah.

"Orang tua, akulah Ketua Hoa-san-pai. Kau siapakah dan apa keperluanmu datang ke sini?"

Kakek itu tertegun. Diam-diam Lian Ti Tojin memang terheran sekali. Benar-benar gadis cantik jelita dan muda belia inikah yang telah mengacau Hoa-san-pai? Benarkah gadis ini yang sudah membunuh sutenya, Lian Bu Tojin? Sukar untuk dapat dipercaya.

"Kau Ketua Hoa-san-pai? Apa buktinya?" tanyanya memancing karena masih ragu-ragu. Tadi ia hanya dari jauh, malah mendengar pula betapa dua orang ini menewaskan lima tosu itu, maka biarpun ia yakin bahwa dua orang ini pengacaunya, namun sama sekali tak pernah ia sangka bahwa wanitanya demikian muda belia, masih seperti kanak-kanak. Maka setelah berhadapan muka ia malah menjadi ragu-ragu. Kwa Hong mengeluarkan suara ketawa mengejek, tangannya bergerak dan tahu-tahu pedang pusaka Hoa-san Po- kiam telah dihunusnya. "Inilah tandanya bahwa aku Ketua Hoa-san-pai."

Wajah kakek yang seperti mayat itu menjadi makin mengerikan ketika ia berdongak dan

Kwa Hong, kau murid Hoa-san-pai murtad, membunuh guru merampas pedang menduduki kursi Ketua dan aku... ha-ha-ha, akulah yang harus membasmi. Hukum karmamengeluarkan keluhan panjang. "Aahhh... hukum karma... inilah hukum karma .....

....! Dahulu aku pun melakukan perbuatan dosa seperti yang kaulakukan. Aku menyeleweng, menurutkan nafsu, mengganggu anak bini orang, membunuh jago-jago ternama. Ketika guru menegur, malah kulawan dan kubunuh, ha-ha-ha

....! Aku berdosa besar... aku menyesal... kuserahkan kedudukan ketua kepada sute Lian Bu Tojin. Aku menghukum diri di Im-kan-kok, puluhan tahun menyesali perbuatan sendiri tapi agaknya Thian masih belum sudi mengampuni dosa-dosaku. Buktinya, hari ini aku dihadapkan dengan engkau. Aku masih mempunyai tugas terakhir, menolong nama baik Hoa-san-pai. Agaknya inilah penebusan dosaku... ha-ha-ha-ha, hukum karma ..... !"

Wajahnya berubah lagi dan sepasang matanya menyambar seperti kilat ketika ia membentak, "Kwa Hong, kau berhadapan dengan supekmu. Hayo lekas berlutut minta ampun dan mengakui dosamu." Suaranya seperti halilintar menyambar dan selagi Kwa Hong terpengaruh oleh bentakan hebat ini tiba-tiba secepat kilat tangan kakek itu bergerak merampas pedang. Kwa Hong kaget dan biarpun serangan itu mendadak sekali namun kedua kakinya yang bergerak aneh seperti kaki burung dapat membuat ia mengelak. Sayang sekali, lengan tangan kakek itu setelah tidak berhasil merampas pedang masih terus bergerak mulur (me-manjang) dan tahu-tahu pedang Hoa-san-pai telah dapat dirampas oleh Lian Ti Tojin.

" Kakek itu ber gelak akan tetapi suara ketawanya berhenti ketika tiba-tiba tubuhnya terlempar ke samping dan terhuyung-huyung. Ternyata Koai Atong dengan gerakan "sayap rajawali" telah menyerangnya dan membuatnya terhuyung-huyung. Begitu hebatnya serangan Koai Atong ini. Di lain pihak, Koai Atong yang tadi marah sekali melihat orang itu berani merampas pedang dari tangan Kwa Hong, juga kaget dan kagum melihat kakek yang hampir mati saking tuanya itu hanya terhuyung-huyung dan tidak roboh terkena pukulannya Jing-tok-ciang yang ampuh. "Ha-ha-ha, po-kiam ini memang seharusnya di tanganku ....

Lian Ti Tojin marah dan cepat memasang kuda-kuda, kemudian dua orang aneh itu saling serang dengan hebat. Kwa Hong memandang dengan muka pucat, apalagi ketika Lian Ti Tojin tiba-tiba dapat memisahkan diri dari Koai Atong dan dengan pedang pusaka di tangan melakukan penyerangan hebat sekali kepadanya. Serangan ini hebat bukan main, sinar pedang sampai menjadi panjang seperti pelangi dan sepasang mata Kwa Hong silau karenanya. Bahkan Koai Atong sendiri tidak berdaya melihat Kwa Hong terancam bahaya maut.

Pedang pusaka Hoa-san-pai yang ampuh di tangan Lian Ti Tojin yang lihai itu berkelebat menyambar kearah, tenggorokan Kwa Hong, agaknya takkan dapat dihindarkan lagi oleh Kwa Hong.

"Traaaangggg!!" Bunga api muncrat menyilaukan mata. Lian Ti Tojin berteriak kaget dan heran. Pedang pusaka Hoa-san-pai itu terlepas dari pegangannya yang terasa sakit dan sebelum pedang itu jatuh ke atas tanah, Kwa Hong sudah menyambar dan memegangnya.

Di depan kakek ini berdiri seorang laki-laki muda yang tampan dan gagah yang memegang sebatang pedang.yang kini sudah buntung karena beradu dengan pedang pusaka Hoa-san-pai tadi. Kakek sakti itu kaget dan maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang yang biarpun masih muda namun memiliki kepandaian tinggi. Agaknya ia pemuda inilah yang tadi bernyanyi melawan pengaruh suaranya. Akan tetapi sebelum ia sempat menegur, Koai Atong sudah menerjangnya dengan hebat. Terpaksa Lian Ti Tojin mengelak dan melayani Koai Atong dan kembali dua orang aneh ini bertempur hebat. Pertempuran kini lebih hebat dan seru daripada tadi karena Lian Ti Tojin tidak memegang pedang lagi.

Sementara itu, Kwa Hong dengan pedang pusaka di tangan, berdiri memandang laki-laki yang telah menolongnya dari ancaman maut tadi, wajahnya pucat, air matanya mengalir turun membasahi kedua pipinya. Sinar matanya penuh kasih mesra, penuh harap bercampur kekuatiran, bibirnya menggigil tanpa dapat mengeluarkan suara. Adapun laki- laki muda itu berdiri mematung memandang Kwa Hong, sinar matanya penuh iba hati dan juga penyesalan, anehnya, wajahnya yang tampan dengan kulit muka yang tadinya putih sehat itu perlahan-lahan mulai berubah kehijauan.

Siapakah pemuda ini? Bukan lain orang, dia ini adalah Tang Beng San, pemuda yang menggemparkan dunia persilatan ketika beberapa bulan yang lalu ia secara tidak resmi merebut gelar kejuaraan ilmu pedang dan berhak disebut Raja Pedang. Tan Beng San inilah yang menjadi biang keladi sehingga timbul peristiwa hebat di Hoa-san-pai, karena sesungguhnya dia inilah yang menghancurkan kalbu dan mematahkan hati Kwa Hong. Kwa Hong mencintanya sepenuh jiwa raganya dan di antara mereka telah ada hubungan yang sungguhpun terjadi bukan atas kehendak mereka melainkan karena pengaruh racun yang hebat, namun hubungan itulah yang mengakibatkan Kwa Hong mengandung. Dan, seperti kita telah baca dalam cerita Raja Pedang Beng San tidak bersedia menjadi suami Kwa Hong karena memang dia telah mencinta orang lain yaitu, Kwee Bi Goat puteri tunggal Song-bun-kwi Kwee Lun.

Melihat adanya seorang tosu Hoa-san-pai tua yang muncul pula di belakang Beng San, dapat diduga bagaimana Raja Pedang ini bisa sampai di tempat ini. Tak lain adalah tosu Hoa-san-pai lalu lari minta bantuan kepada Beng San di Min-san. Di sana ia menuturkan segala peristiwa yang terjadi di Hoa-san-pai. Mendengar penuturan itu, Beng San menjadi marah dan berduka sekali. Hubungannya dengan Hoa-san-pai amat baik dan ia amat sayang kepada Lian Bu Tojin, maka mendengar bahwa kakek ini dibunuh oleh Kwa Hong dan Koai Atong, ia menjadi berduka sekali.

Apalagi yang membunuhnya adalah Kwa Hong. Kini begitu berhadapan dengan Kwa Hong, Beng San memandang penuh keharuan hatinya dan diam-diam ia harus mengakui bahwa sebetulnya dialah yang membuat gadis Hoa-san-pai ini menjadi begini. Dua orang muda ini saling pandang tanpa menghiraukan Koai Atong yang bertempur mati-matian melawan Lian Ti Tojin, juga tidak pedulikan para tosu Hoa-san-pai yang baru sekarang berani muncul dari tempat sembunyi mereka semenjak munculnya Lian Ti Tojin yang mereka takuti.

" akhirnya Kwa Hong dapat mengeluarkan kata-kata dengan suara setengah berbisik dan air matanya masih menitik turun, "Akhirnya kau... kau datang kepadaku"San-ko ....

....? Kau datang menyelamatkan nyawaku... dan kau hendak menerima diriku... hendak membawa aku pergi .... ? Begitukah, San-ko ....

?" Pertanyaan terakhir ini diucapkan penuh harapan, mengiris hati Beng San dan hanya dengan pengerahan batin yang amat kuat saja Beng San dapat menahan air matanya supaya tidak membasahi mata.

Beberapa kali Beng San menelan ludah menahan gelora hatinya, kemudian ia dapat mengatasi perasaannya dan menarik muka marah lalu berkata, suaranya penuh teguran. "Hong-moi, kenapa kaulakukan semua ini? kenapa kau mengajak Koai Atong membunuh Lian Bu Tojin dan mengacau Hoa-san-pai? Kenapa kau menggila dan meramipas kedudukan Ketua Hoa-san-pai, malah membunuh banyak sekali orang gagah? Kulihat lima orang tosu Bu-tong-pai yang terkenal gagah dan budiman juga sudah kaubunuh. Hong-moi, kenapa kau tersesat begini jauh? Kedatanganku ini untuk mencegah kau melanjutkan kegilaan ini."

!" Kwa Hong terhuyung mundur tiga langkah dengan muka membayangkan hati yang perih seperti ditusuk jarum beracun. Kemudian setelah menghapus air matanya, ia maju lagi, wajahnya berubah beringas dan marah. Matanya bersinar-sinar penuh api dan bentak-nya, "Ohhh ....

"Kaulah orang pertama yang ingin sekali aku membunuhnya." Secepat kilat ia menggerakkan pedang pusaka Hoa-san-pai di tangannya, sedangkan tangan kirinya juga menggerakkan cambuk dengan ilmu panah hijau itu ke arah Beng San. Gerakannya dahsyat, penuh kemarahan dan kebencian, gerakan maut mencari korban.

Namun, kali ini serangan Kwa Hong yang dahsyat dan keji itu tidak berhasil. Kali ini ia menghadapi seorang yang telah mewarisi ilmu silat sakti, seorang yang telah menguasai ilmu silat Im-yang Sin-kiam-sut ciptaan Pendekar Bu Pun Su ratusan tahun yang lalu. Apalagi karena dalam mempelajari gerakan-gerakan rajawali emas, baru beberapa bulan saja Kwa Hong melatih diri, maka boleh dibilang kepandaiannya dalam ilmu yang mujijat ini belum masak benar. Mana bisa dia menghadapi serangan raja pedang seperti Beng San? Begitu orang muda itu menggerakkan tubuh dan kedua kaki tangannya bersilat, tahu-tahu pedang pusaka Hoa-san-pai itu sudah terampas olehnya dan cambuk dengan lima anak panah itu terlepas dari pegangan Kwa Hong. Kwa Hong berdifi lemas, mukanya makin pucat ketika ia berhadapan dengan Beng San yang kini sudah berdiri di depannya memegang pedang Hoa-san Po-kiam dengan kedua kaki tegak terpentang dan pandang mata tajam penuh kemarahan.

"Hong-moi, sekali lagi kuperingatkan kau. Bertobatlah dan Jangan teruskan perbuatan- perbuatanmu yang keji dan jahat."

Tiba-tiba Kwa Hong membanting-banting kaki dan menangis tersedu-sedu. Melihat sikap itu, makin hancur hati Beng San. Kenal betul ia akan sifat Kwa Hong ini, masih sama dengan dulu, kalau jengkel membanting-banting kaki.

"Aku memang tidak kuat melawanmu. Hayo... Beng San... kau boleh bunuh aku... mari, kauteruskan pedang itu ke perutku ini... ya ke perut ini, biar mati sekalian... anak kita... uhu-hu-hu .... "

Seperti orang gila Kwa Hong menerjang ke arah pedang di tangan Beng San yang menjadi kaget sekali mendengar ucapan terakhir yang keluar dari mulut Kwa Hong. "Apa kau bilang ....

??" Ia meloncat ke samping, mukanya kini berubah hijau sekali, hijau mengerikan. Inilah sifat aneh dari Raja Pedang Tan Beng San. Di dalam tubuhnya sudah penuh dengan dua macam hawa, yaitu hawa Thai-yang dan Im-kang yang amat luar biasa sehingga tiap kali ia merasa kaget atau malu, mukanya berubah hijau, Sebaliknya kalau marah mukanya akan berubah merah sekali sampai kehitaman. Dapat dibayangkan betapa hebat rasa kagetnya ketika ia mendengar ucapan Kwa Hong yang sama sekali tak pernah disangka-sangkanya itu.

"Hayo... kaubunuh aku dan anak kita .... mahluk yang tidak tahu apa-apa di perutku ini .... "

Kwa Hong masih maju-maju sambil rnenangis terisak-isak.

! Kaumaksudkan... kau... kau mengandung... karena... dahulu itu??" Setelah berkata demikian, Beng San terhuyung-huyung pedang pusaka Hoa-san-pai terlepas dari tangannya. Ia menggunakan kedua tangan menutupi mukanya, seluruh tubuhnya gemetar lemah. " .... Hong-moi ....

Sementara itu, pertempuran antara Koai Atong dan Lian Ti Tojin berjalan amat serunya. Mereka berdua secara mati-matian bertempur, mengerahkan seluruh kepandaian mereka. Ilmu silat yang dimiliki Lian Ti Tojin adalah ilmu silat Hoa-san-pai yang aseli dan selama puluhan tahun kakek ini sudah melatih diri sehingga tingkat ilmunya benar-benar sudah jauh melampaui tingkat kepandaian aseli dari Koai Atong. Akan tetapi, biarpun baru beberapa bulan mempelajari gerakan rajawali emas, ternyata Koai Atong telah mempelajari ilmu gerakan yang hebat sekali dan kepandaian baru inilah yang menyelamatkan dia sehingga sampai sekian lamanya belum juga Lian Ti Tojin berhasil memukulnya roboh. Di samping ini, memang Lian Ti Tojin sudah terlalu tua, sudah berpuluh tahun tidak pernah bertanding dan selain ini juga telah menderita luka dalam yang hebat ketika tadi "bertanding kekuatan" dengan Beng San melalui suara. Biarpun makin lama Koai Atong makin terdesak hebat, namun tidaklah mudah bagi Lian Ti Tojin untuk merobohkannya dengan cepat.

Semenjak tadi Koai Atong kebingungan. Berkali-kali ia berteriak minta bantuan Kwa Hong, namun agaknya Kwa Hong sama sekali tidak pernah rnendengarnya. Kemudian setelah melihat Kwa Hong dikalahkan Beng San dan melihat "isterinya" itu menangis tersedu-sedu minta mati, makin kalut pikiran Koai Atong. Gerakannya makin tidak karuan dan beberapa kali ia terkena pukulan Lian Ti Tojin. Namun Begitu roboh ia bangun kembali dan menyerang lagi dengan nekat. Koai Atong sudah muntah-muntah darah dan ia maklum bahwa sebentar lagi ia pasti takkan kuat menahan. Pikiran ini membuat ia menjadi nekat. Ketika Lian Ti Tojin mendesaknya, ia malah membiarkan dirinya dipukul, akan tetapi juga kesempatan ini ia pergunakan untuk menghantam

pundak lawannya itu dengan Jing-tok-ciang, menggunakan seluruh tenaganya yang masih ada.

"Plakk-plakk-blugg!" Tubuh Koai Atong terpental dan roboh tak berkutik lagi karena nyawanya sudah melayang, akan tetapi juga tubuh Lian Ti Tojin terlempar, Ia masih dapat mengimbangi dan tidak roboh, hanya terhuyung-huyung dengan muka pucat lalu muntahkan darah segar tiga kali. Mukanya yang seperti tengkorak itu makin menakutkan ketika ia menoleh ke arah Beng San dan Kwa Hong. la melihat Beng San menutupi muka dengan kedua tangan, sedangkah Kwa Hong yang tadinya menangis ketika melihat Koai Atong tewas, cepat menyambar pedang pusaka Hoa-san-pai di atas tanah dan cambuknya. Lian Ti Tojin marah sekali kepada Kwa Hong, biarpun ia sudah terluka parah ia masih mengerahkan tenaga dan lompat menerjang. Kwa Hong juga meloncat ke atas punggung burungnya dan pada saat Lian Ti Tojin menubruk, ia disambut "tendangan" cakar burung rajawali. Tubuhnya bergulingan sampai beberapa meter jauhnya dan kakek ini bangun berdiri lagi dengan terheran-heran bukan main. Seorang jagoan ilmu silat yang bagaimanapun juga belum tentu akan dapat merobohkannya hanya dengan sekali "tendang" saja, akan tetapi burung itu ternyata benar-benar telah merobohkannya dengan tendangan yang bukan main hebatnya. Ia merasa kepalanya pening, pandang matanya berkunang dan baru sekarang ia merasa dadanya sakit sekali.

Tiba-tiba berkelebat sinar hijau di atas kepalanya. Lian Ti Tojin berusaha mengelak, namun telambat. Sambaran cambuk di tangan Kwa Hong dari atas itu amat dahsyat, apalagi rajawali emas terbang tanpa mengeluarkan bunyi. Belakang kepala Lian Ti Tojin terkena pukulan sebuah anak panah hijau dan kakek yang sudah tua renta ini roboh terjungkal, tewas tak jauh dari mayat Koai Atong.

Setelah berhasil menewaskan Lian Ti Tojin, Kwa Hong di atas punggung burungnya lalu menyerang dari atas hendak menyerang Beng San. Dengan suaranya yang melengking tinggi Kwa Hong memberi aba-aba kepada burungnya untuk menyerang Beng San yang lihai. Baru sekarang ia teringat untuk rninta bantuan rajawali emas itu.

Beng San masih berdiri membungkuk dengan kedua tangan menutupi mukanya. Ketika merasa ada angin bertiup dari atas kepalanya, secara otomatis ia menggerakkan kedua tangannya ke atas. Inilah gerakan seorang ahli silat yang sudah tinggi tingkatnya. Ilmu kepandaian ini sudah mendarah daging di tubuhnya sehingga jangankan baru dalam keadaan berduka dan masih sadar, biarpun sedang tidur andaikata ada sesuatu tentu secara otomatis ia dapat menjaga diri. Penjagaan ini dilakukan sesuai dengan datangnya serangan, maka ketika ia merasa ada angin bertiup dari atas yang mengandung tenaga dahsyat, ia segera menangkis.

Hebat sekali tenaga tangkisan Beng San ini. Burung yang menerkamnya itu terpukul kembali oleh hawa tangkisan itu sehingga terbangnya menyeleweng dan terlempar ke samping dan beberapa helai bulunya gugur. Kwa Hong malah hampir terjungkal. dari tempat duduknya.

Beng San kini memandang dan kaget melihat bahwa hampir saja ia mencelakai Kwa Hong tadi, maka katanya dengan suara lemah,

"Kwa Hong, kaubunuhlah aku yang penuh dosa, tapi pergunakan tanganmu sendiri .... "

Kwa Hong yang sudah marah itu kembali memerintah burungnya menyambar. Burung rajawali itu sudah amat patuh kepada Kwa Hong. Apalagi tadi ia tertangkis hampir saja runtuh, maka ia pun marah sekali. Sambarannya kini amat hebat, tidak hanya kedua kakinya menerkam, malah pelatuknya turut pula menyerang dan mematuk.

Namun, kini Beng San berada dalam keadaan sadar. Mana bisa burung itu mencelakainya? Dengan gerakan kaki yang ringan sekali Beng San dapat mengelak. "Aku tidak mau terbunuh oleh burung bedebah ini, Hong-moi... kalau kau mau bunuh aku, turunlah dan bunuhlah aku dengan tanganmu sendiri .... "

Kwa Hong mengeluarkan suara aneh seperti orang menangis tapi juga seperti suara ketawa, lalu disambungnya, "Tidak

....! Terlalu enak kalau kau mati... hi-hi-hik, kau harus hidup... Beng San, kau harus hidup menebus perbuatanmu yang menghancurkan hatiku ....

! Kautunggu saja, kelak anak di kandunganku inilah yang akan membunuhmu. Anakmu sendiri... hi-hi-hik... anakmu sendiri akan membunuhmu ..... "

!" teriak Beng San penuh kengerian, akan tetapi burung itu telah terbang ke atas amat cepatnya dan sebentar saja sudah membawa Kwa Hong amat jauh, hanya kelihatan sebuah titik kuning emas di angkasa raya. Beng San merasa betapa matanya berkunang dan gelap, penuh oleh air mata sehingga ia pergunakan kedua tangannya untuk menutup mukanya dan menguatkan hati untuk menahan tekanan batin yang maha berat itu. "Hong-moi..., jangan .... ! Kaubunuhlah aku sekarang ....

Entah berapa lamanya ia berada dalam keadaan seperti itu dan baru ia sadar ketika mendengar suara orang berkata,

"Tan-taihiap, kau telah menyelamatkan Hoa-san-pai kami dari tangan seorang iblis jahat. Tak lain kami semua murid Hoa-san-pai menghaturkan terima kasih, dan mohon petunjuk selanjutnya."

Beng San cepat mengeringkan air matanya dan mengangkat muka memandang. Ternyata bahwa para tosu Hoa-san-pai semua telah muncul di situ dan berlutut di depannya. Adapun yang bicara tadi adalah tosu tua yang telah datang ke Min-san dan minta pertolongannya. Tentu saja ia menjadi kaget dan sibuk sekali melihat para tosu itu berlutut memberi hormat kepadanya. Cepat-cepat ia berkata,

"Para Totiang harap bangkit dan mari kita bicara baik-baik. Janganlah memberi hormat seperti ini, aku sama sekali tidak berani terima. Bangkitlah!" Di dalam suaranya mengandung pengaruh yang tak dapat dibantah lagi, maka para tosu itu lalu bangun berdiri.

Setelah para tosu itu berdiri, terjadilah keributan. Beberapa orang tosu menuding-nuding dan. rnencela tosu-tosu lain yang tadinya mereka anggap taat dan tunduk serta membantu Kwa Hong. Para tosu itu tentu saja menjadi ketakutan dan menyangkal sehingga terjadi percekcokan dan keributan. Beng San yang memperhatikan keributan itu segera maju melerai sambil berkata,

"Para Totiang harap jangan cekcok sendiri. Tidak ada gunanya saling menyalahkan dan tidak perlu menekan mereka yang tadinya jatuh ke bawah pengaruh Kwa Hong. Di dunia ini, manusia manakah yang tak pernah menyeleweng dan bersalah? Tanpa adanya kesalahan dan dosa, manusia takkan dapat sadar dan bertobat, takkan mampu membedakan baik benar. Yang penting adalah kesadaran akan dosa itu, maka biarpun tadinya ada beberapa orang Totiang yang bertindak keliru, asal sekarang sudah sadar dan bertobat, kiraku tidak perlu ditekan terus."

Para tosu dapat menerima ucapan ini dan kembali mereka berunding, kini dengan hati rukun dan tidak saling menyalahkan seperti tadi.

"Tan-taihiap, keadaan Hoa-san-pai kami sudah morat-marit dan rusak. Mohon petunjuk Tai-hiap bagaimana supaya Hoa-san-pai dapat dibangun kembali. Kami kehilangan pimpinan," kata tosu tua.

"Aku sudah mendengar bahwa Saudara Kui Lok dan Thio Bwee diusir oleh Kwa Hong. Cucu murid yang masih ada sekarang hanyalah Thio Ki yang sekarang tinggal di Tin- yang menjadi piauwsu (pengawal barang). Para Totiang harap tinggal di sini dan mengurus semua mayat ini secara baik-baik, biarlah aku yang pergi mengabarkan ke Sin- yang dan minta kepada Saudara Thio Ki untuk datang ke sini dan mengurus pembangunan Hoa-san-pai. Kurasa hanya dia seorang yang berhak, karena dia pun murid dari mendiang Lian Bu Tojin."

Para tosu menyatakan persetujuan mereka dan berangkatlah Beng San turun gunung dengan wajah muram. Pertemuannya dengan Kwa Hong tadi benar-benar membuat ia berubah menjadi manusia lain. Ketika ia mendaki Puncak Hoa-san, Ia merupakan seorang manusia bahagia karena selama ini ia tinggal di Min-san bersama isterinya, yaitu Kwee Bi Goat, hidup dengan penuh cinta kasih dan damai, saling mencinta dan rukun. Ketika ada tosu Hoa-san-pai datang dan menceritakannya tentang malapetaka yang menimpa Hoa-san-pai dan mohon pertolongannya, Beng San tak dapat menolak karena ia mengingat akan hubungannya dengan partai itu. Isterinya mengatakan hendak ikut, akan tetapi oleh karena Beng San tahu bahwa akan buruk jadinya kalau isterinya itu bertemu dengan Kwa Hong, maka ia mencegah dan menyatakan bahwa tidak baik bagi kesehatan isterinya untuk melakukan perjalanan jauh, karena keadaan Bi Goat yang sedang mengandung itu. Demikianlah ia tinggalkan Bi Goat di Min-san bersama ayah mertuanya, yaitu Song-bun-kwi Kwee Lun. Siapa sangka bahwa pertemuannya dengan Kwa Hong akan menghancurkan hatinya seperti ini.

"Aduh... aku tidak berharga lagi mendekati Bi Goat .... " Di sepanjang perjalanan menuju

ke Sin-yang mencari Thio Ki, Beng San membayangkan isterinya dengan hati remuk redam. Setelah apa yang ia lakukan bersama Kwa Hong dan ternyata Kwa Hong mengandung keturunannya, ia merasa berdosa besar dan merasa tidak berharga untuk mendekati isterinya terkasih dan suci.

Ketika mendaki Puncak Hoa-san tadi ia masih merupakan seorang suami yang berbahagia, sekarang ia meninggalkan puncak dengan hati terjepit derita sengsara. Namun dasar seorang berwatak satria, sungguhpun diri sendiri mengalami penderitaan batin yang maha besar, namun ia terus melanjutkan usahanya untuk menolong Hoa-san- pai. la harus mencari Thio Ki dan menarik orang muda kakak Thio Bwee itu agar suka turun tangan membangun kembali Hoa-san-pai yang dikacau oleh Kwa Hong.

Mari kita mendahului perjalanan Beng San yang sedang menuju ke Sin-yang untuk mencari Thio Ki dan kita melihat apa yang terjadi di Sin-yang. Seperti telah dituturkan, Thio Ki adalah murid Hoa-san-pai juga, malah dalam tingkatnya, ia adalah cucu murid yang paling tua. Thio Ki adalah kakak kandung Thio Bwee dan pemuda Hoa-san-pai yang bertubuh tinggi kurus dan bermuka tampan ini sekarang telah bekerja membuka piauw-kiok di Sin-yang. Pada masa itu, perusahaan piauw-kiok (kantor exspedisi) amat maju karena banyaknya orang jahat sehingga para saudagar selalu mengirim barang- barangnya yang berharga di bawah perlindungan jago-jago dari piauw-kiok, Karena kepandaiannya memang tinggi dan sebagai murid Hoa-san-pai, sebentar saja Thio Ki sudah membuat nama baik, ditakuti penjahat dan dipercaya langganan pengirim barang.

Thio Ki telah menikah dengan seorang gadis bernama Lee Giok. Bukan gadis sembarangan. Selain cantik jelita juga gadis ini hebat kepandaiannya, bahkan lebih tinggi ilmu pedangnya kalau dibandingkan dengan Thio Ki sendiri. Hal ini tidak aneh karena Lee Giok adalah seorang gadis keturunan bangsawan Kerajaan Goan yang lalu, yang menjadi murid dari Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan Si Raja Pedang Tanpa Tandingan. Selain menjadi murid orang sakti, juga Lee Giok terkenal sebagai seorang gadis patriot yang dalam jaman perjuangan melawan Kerajaan Mongol telah berjasa besar (baca.Raja Pedang).

Suami isteri ini hidup rukun dan damai di Sin-yang. Thio Ki amat mencintai isterinya itu, sungguhpun sebetulnya di dalam hati kecilnya Lee Giok tidak mencinta suaminya. Bukan karena Thio Ki kurang gagah atau kurang tampan, melainkan karena cinta kasih pertamanya telah gagal, dibawa mati seorang patriot besar murid Kun-lun-pai bernama Kwee Sin. Hal ini tidak aneh karena sebagai seorang patriot tentu saja ia kagum kepada lain orang patriot dan ketika orang yang dicintanya itu Kwee Sin, meninggal dunia, hatinya menjadi hampa dan ia tidak banyak membantah ketika ia dijodohkan dengan Thio Ki, seorang pemuda yang selain gagah juga tampan. Hanya sedikit hal yang mengecewakan hati Lee Giok, yaitu bahwa suaminya ini sama sekali tidak memiliki jiwa patriotik.

Di Sin-yang mereka berdua hidup dalam keadaan cukup. Perusahaan Piauw-kiok yang didirikan Thio Ki mendatangkan hasil lumayan. Mereka dapat memberi sebuah rumah yang cukup besar dengan pekarangan yang luas juga. Karena pekerjaan suaminya itu

mengharuskan suaminya lebih sering keluar rumah daripada berada di rumah, untuk mengurangi kesepian, Lee Giok memelihara banyak ayam dan binatang ternak lain di rumahnya. Juga la menanam banyak kembang indah di pekarangannya.

Pada sore hari itu di pekarangan rumah Thio Ki nampak sunyi. Sehari itu tidak nampak

Lee Giok atau pelayannya keluar dari dalam rumah. Padahal sudah tiga hari Thio Ki berada di rumah. Dan pada hari itu pun Thio Ki tidak pergi ke perusahaannya. Akan tetapi mengapa kelihatan begitu sunyi? Malah-malah tiga orang pelayan rumah tangga sejak pagi tadi sudah disuruh pulang semua dan disuruh libur sepekan lamanya oleh Lee Giok. Para pelayan itu terheran-heran, akan tetapi tidak berani membantah kehendak nyonya rumah itu.

Apakah yang terjadi? Kalau kita menengok ke dalam rumah, keadaannya lebih aneh lagi. Thio Ki dan Lee Giok berada di ruang tengah, muka mereka agak pucat dan biarpun di dalam rumah, mereka berpakaian ringkas dan di pinggang mereka tergantung pedang seperti orang yang siap akan bertempur. Dan kedua orang suami isteri ini bersikap begini semenjak malam tadi.

Memang tidak aneh kalau diketahui sebabnya. Ada bahaya maut mengancam keselamatan mereka, bahkan keselamatan para pelayan dan malah semua yang hidup di dalam rumah itu terancam bahaya maut. Malam tadi, lewat tengah malarn, dua orang suami isteri yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi ini mendengar tindakan kaki ringan di atas genteng rumah mereka. Thio Ki adalah seorang yang biasa melakukan perjalanan dan biasa berhadapan dengan orang-orang jahat, juga Lee Giok bukanlah pendekar kemarin sore, maka mendengar suara ini mereka dapat meloncat keluar dari kamar, tanpa mengeluarkan suara ribut-ribut mereka berdua sudah mengejar, seorang lewat pintu belakang, seorang melalui pintu depan, terus meloncat ke atas genteng rumah sendiri. Akan tetapi mereka tidak melihat sesuatu dan setelah mencari-cari beberapa lama, mereka melihat berkelebatnya bayangan orang dari bawah, baru saja orang itu meloncat keluar dari ruangan dalam. Gerakan orang itu gesit dan ringan sekali. Akan tetapi Lee Giok dan Thio Ki sudah cepat menerjang ke depan menghadang dan Thio Ki membentak,

"Penjahat dari mana berani marnpus mengganggu rumahku?"

Orang itu tertawa, suara ketawanya melengking tinggi dan sekali berkelebat sudah melayang melalui atas kepala suami isteri itu. Lee Giok dan Thio Ki kaget sekali cepat mengejar. Mereka tidak sempat melihat, wajah orang itu. Ketika melihat dua orang itu mengejar, Si Penjahat lalu membalikkan tubuh di tempat yang gelap, kedua tangannya bergerak dua kali ke depan seperti orang memukul. Thio Ki dan Lee Giok dapat menduga bahwa itu tentulah serangan gelap, mungkin senjata rahasia, maka mereka cepat berhenti dan siap siaga. Tidak ada senjata rahasia melayang datang, tapi , tiba-tiba mereka merasa terdorong ke belakang dan hampir terjengkang roboh kalau tidak cepat-cepat berjungkir- balik. Mereka merasa dada mereka agak sesak sekali oleh tenaga dorongan yang tidak kelihatan itu. Pada saat mereka berdiri kembali, penjahat itu telah lenyap, hanya

rneninggalkan gema suara ketawanya yang melengking tinggi, suara ketawa wanita. Juga meninggalkan ganda yang harum semerbak.

Thio ki dan Lee Giok mengejar sampai jauh keluar rumah, namun sia-sia saja. Dengan kecewa dan lesu mereka kembali memasuki rumah dan apa yang mereka lihat membuat mereka mengertak gigi saking marah, akan tetapi juga membuat wajah mereka pucat. Di dalam kamar mereka, di atas dinding yang putih, terdapat tulisan-tulisan corat-coret merah yang berbunyi:

Sebelum lewat besok malam, semua yang bernyawa di rumah ini akan mati.

Tidak ada tanda tangan apa-apa dan tulisan dilakukan dengan darah. Ketika rnereka memeriksa ke belakang, ternyata dua ekor anjing peliharaan yang tidur di belakang telah mati dengan kepala pecah. Agaknya darah anjing ini yang dipakai untuk menulis "surat maut" itu.

"Apa kau mengenal suaranya?" akhirnya Thio Ki bertanya kepada isterinya. Lee Giok menggeleng kepala dan keningnya berkerut, "Jelas dia seorang perempuan, akan tetapi karena gelap tidak dapat mengenalnya. Suaranya pun seakan-akan pernah mendengarnya tapi entah di mana."

"Kepandaiannya hebat .... " Thio Ki menarik napas panjang. "Entah mengapa dia

melakukan ini?"

"Dia tentu tidak datang seorang diri," kata Lee Giok, sepasang matanya yang jeli itu bergerak-gerak cerdik. "Tulisan ini baru saja ditulis, darahnya masih belum beku, bangkai anjing itu pun masih hangat. Tentu hal ini dilakukan pada saat kita mengejar penjahat perempuan itu. Yang datang ke sini pada malam ini sedikitnya tentu dua orang, mungkin lebih."

Thio Ki lebih gelisah mendengar ini. la tak dapat menyangkal pendapat isterinya yang cerdik itu. "Seorang saja demikian lihainya, kalau mereka itu berkawan, benar... berbahaya .... !"

"Tak perlu gelisah. Kalau orang sudah menghendaki untuk memusuhi kita, tidak ada jalan lain kecuali melawan mati-matian. Hanya aku ingin sekali tahu siapa mereka dan apa sebabnya... Apakah selama beberapa bulan ini menjadi piauwsu kau tidak menanam bibit permusuhan yang hebat dengan golongan hitam (penjahat)."

"Tidak, tidak ada. Melihat tulisan ini, agaknya Si Penulis mempunyai dendam yang amat mendalam terhadap kita." Muka Thio Ki makin pucat.

Tiba-tiba Lee Giok mengangkat alisnya, matanya bersinar-sinar. "Ah, siapa lagi kalau bukan dia? Hemm, sejak dulu memusuhi aku, hemm... tapi... ah, kalau benar dia mengapa ilmu kepandaiannya begitu hebat?"

"Siapakah? Siapakah yang kaumaksudkan, isteriku?" Thio Ki bertanya penuh perhatian.

"Aku teringat akan Kim-thouw Thian-li ..... "

Thio Ki menahan napas, ia pun teringat sekarang. Memang agaknya kalau ada musuh besar wanita, kiranya dia itulah, Kim-thouw Thian-li (Dewi Berkepala Emas, ketua dari Ngo-lian-kauw (Agama Lima Terang)). Seorang siluman yang hebat dan kejam. Apalagi gurunya yang bernama Hek-hwa Kui-bo (Setan Betina Hitam). Bergidiklah Thio Ki teringat mereka itu dan bulu tengkuknya meremang.

"Kalau betul dia... Hek-hwa Kui-bo... ah... bagaimana baiknya?" Ia nampak ketakutan sekali dan sekali lagi di lubuk hati Lee Giok tertikam oleh kekecewaan suaminya. Ia makin kenal betul bahwa di balik keangkuhan dan kegagahan Thio Ki terdapat sifat penakut yang tidak menyenangkan hatinya.

"Orang-orang seperti kita ini apakah pantas ketakutan menghadapi ancaman musuh?" Dalam ucapan Lee Giok ini terkandung kekecewaan dan teguran yang amat terasa oleh Thio Ki. Maka ia segera berdiri dan menepuk dada sambil berkata,

"Jangan kuatir isteriku. Aku suamimu tentu saja tidak takut menghadapi musuh yang manapun juga, tidak pula takut menghadapi kematian sebagai seorang gagah. Hanya aku meragukan apakah kita mampu melawan mereka itu kalau benar-benar mereka terdiri dari Hek-wa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li?"

Agak senang juga hati Lee Giok. Memang beginilah seharusnya sikap orang yang menjadi suaminya. "Kalau betul dugaan kita bahwa mereka itu adalah Kim-thouw Thian- li dan gurunya, sudah tentu kita bukanlah lawan mereka. Akan tetapi, nyawa berada di tangan Thian. Jangankan baru mereka berdua, biarpun kita diancam oleh seratus orang macam mereka, kalau Thian belum menghendaki mati, kiranya kita pun akan selamat. Sebaliknya, kalau Thian sudah menghendaki kematian kita, biarpun andaikata kita melarikan diri, tentu musuh akan dapat mengejar dan membunuh kita juga. Sama-sama mati, bukankah lebih baik mati sebagai orang gagah?"

"Kau betul, isteriku, Seribu kali lebih baik mati sebagai harimau yang baru mati setelah melakukan perlawanan gigih daripada mati sebagai seekor babi yang tidak melakukan perlawanan malah melarikan diri."

"Bukan begitu saja, pendirian seorang gagah malah lebih tinggi lagi. Lebih baik mati sebagai seekor harimau daripada hidup sebagai seekor babi."

Thio Ki mengangguk-angguk. "Kau betul... kau betul .... "

"Kita harus berjaga-jaga," kata pula Lee Giok setelah agak lama mereka merenung, "pertama-tama besok pagi-pagi tiga orang pelayan kita harus pergi dari sini pulang ke kampung masing-masing. Biar mereka berlibur sepekan, baru me reka diperbolehkan

kembali ke sini. Aku tidak suka kalau karena permusuhan kita, orang lain yang tidak tahu apa-apa ikut terancam bahaya."

Demikianlah, pada keesokan harinya, tiga orang pelayan mereka suruh pulang, diberi bekal uang dan dipesan supaya jangan kembali sebelum sepekan, Kemudian suami isteri ini berjaga-jaga sehari penuh dengan pedang selalu di pinggang. Mereka makan sambil berjaga-jaga dan tidak pernah berpisah sebentar pun juga. Mereka maklum akan kelihaian lawan, maka biarpun siang hari, mereka tidak berani meninggalkan kewaspadaan. Apalagi setelah hari itu menjelang malam, mereka makin berhati-hati.

Pintu-pintu depan dan belakang mereka tutup dan dipalang kuat-kuat. Hanya pintu samping yang kecil mereka tutup saja tanpa dipalangi. Dengan cerdik Lee Giok memasangkan anak panah terpentang di busur yang dihubungkan dengan pintu-pintu dan jendela sehingga siapa saja berani memasuki rumah dengan jalan merusak, pasti akan disambut anak panah. Sedangkan dia sendiri dan Thio Ki selain membawa pedang juga menyediakan kantong senjata rahasia piauw secukupnya. Tidak begini saja, malah di depan pintu Lee Giok menyebar paku-paku yang sudah ditekuk sehingga merupakan perintang bagi musuh.

Setelah sore terganti malam, keadaan di rumah Thio Ki makin sunyi lagi. Memang rumah ini agak jauh dari tetangga dan mempunyai pekarangan yang luas. Apalagi suami isteri yang berjaga-jaga di ruangan dalam itu, Lampu-lampu penerangan di luar rumah dipasang semua, terang benderang, akan tetapi disebelah dalam, di ruangan itu, sengaja digelapkan. Inilah siasat Lee Giok agar mereka dapat melihat kedatangan musuh tanpa diketahui oleh musuh itu.

Waktu merayap agak keras, menggerakkan daun-daun pohon, mengeluarkan bunyi yang terdengar amat mengerikan bagi orang-orang yang berada dalam cekaman ketegangan itu. Keduanya tidak dapat melihat apa-apa, biarpun mereka mengintai dari lubang-lubang di antara pintu keluar, keadaan sunyi saja, namun mereka memasang telinga baik-baik. Setiap bunyi harus terdengar oleh mereka dan ini penting sekali bagi ahli-ahli silat. Kadang-kadang telinga dapat mendahului mata dan telingalah yang menyelamatkan nyawa, kadang-kadang. Keadaan di ruangan itu begitu sunyi sehingga andaikata ada jarum jatuh, tentu akan terdengar oleh mereka.

Beberapa kali terdengar suara orang atau kaki kuda dari jauh, hanya sayup sampai terbawa angin lalu, Thio Ki memandang bayangan isterinya di dalam gelap dan bangkitlah kasih sayangnya yang besar. Ngeri ia kalau memikirkan bagaimana mereka nanti harus menghadapi musuh yang lihai. Bagaimana kalau sampai dia atau isterinya tewas? Terharu hatinya memikirkan dan tak terasa pula ia menjamah tangan isterinya dengan mesra dan penuh kasih. Agaknya Lee Giok merasai ini, maka cepat-cepat mengibaskan tangan suaminya. Dalam keadaan seperti itu Lee Giok tidak mau memperlihatkan perasaan lemah, apalagi seluruh panca indera harus dipusatkan untuk memperhatikan keadaan di luar.

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Silat Indonesia Download

Silahkan download Cerita Halaman ke 1 Serial Putri Hatum dan Kaisar Putri Harum dan Kaisar Jilid 1 Putri Harum dan Kaisar Jilid 2 dan 3 Putri Harum dan Kaisar Jilid 4 dan 5 Putri Harum dan Kaisar Jilid 6 dan 7 Putri Harum dan Kaisar Jilid 8 dan 9 Putri Harum dan Kaisar Jilid 10 dan 11 Putri Harum dan Kaisar Jilid 12 dan 13 Putri Harum dan Kaisar Jilid 14 dan 15 Putri Harum dan Kaisar Jilid 16 dan 17 Putri Harum dan Kaisar Jilid 18 dan 19 Putri Harum dan Kaisar Jilid 20 dan 21 Putri Harum dan Kaisar Jilid 22 dan 23 Putri Harum dan Kaisar Jilid 24 dan 25 Putri Harum dan Kaisar Jilid 26 dan 27 Putri Harum dan Kaisar Jilid 28 dan 29 Putri Harum dan Kaisar Jilid 30 dan 31 Putri Harum dan Kaisar Jilid 32 dan 33 Putri Harum dan Kaisar Jilid 34 dan 35 Putri Harum dan Kaisar Jilid 36 dan 37 Serial Pedang Kayu Harum Lengkap PedangKayuHarum.txt PKH02-Petualang_Asmara.pdf PKH03-DewiMaut.pdf PKH04-PendekarLembahNaga.pdf PKH05-PendekarSadis.pdf PKH06-HartaKarunJenghisKhan.pdf PKH07-SilumanGoaTengkor...

Komunikasi Data

Link ini juga saya letakkan di ebook campuran http://www.ziddu.com/download/3344575/Komdat1.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344576/Komdat5.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344577/Komdat4.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344578/Komdat3.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344579/Komdat2.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344815/Komdat9.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344816/Komdat6.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344817/Komdat7.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344818/Komdat8.pdf.html

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau!...