Skip to main content

raja-pedang-52-kho-ping-hoo

Dua orang muda itu narnpak ragu-ragu mendengar ucapan gadis yang mere-ka cinta ini. Akan tetapi mereka jerih untuk menyerang musuh yang begitu banyaknya, pula, mereka dapat berbuat apakah dengan adanya lawan yang selain banyak juga sakti-sakti itu? Setelah Pangeran Mongol ini sekarang menjanjikan kebebasan dan diri Kwa Hong kepada pemenang, bukankah ini jalan satu-satu-nya untuk dapat bebas bagi mereka, setidak-tidaknya bagi dua orang di antara mereka?

"Sumoi, urusan dirimu di antara kami memang tak pernah akan beres tanpa ada keputusan terakhir. Salah seorang di antara kami harus mati lebih dulu agar yang hidup dapat memperoleh dirimu," kata Thio Ki dengan suara tegas. "Kui Lok, kau mulailah!"

Kui Lok meragu sejenak, akan tetapi segera dia memandang kepada Kwa Hong dan berkata, "Adik Hong, kalau aku yang kaJah dan mati, biarlah kau hidup bahagia dengan Suheng." Setelah berkata demikian pedangnya menyambar dan dia sudah mulai membuka serangan. Thio Ki cepat menangkis dan segera dua orang pemuda murid Hoa-san-pai ini sudah saling serang dengan hebat dan seru.

Dengan air mata berlinang Kwa Hong melihat pertempuran ini. la merasa amat menyesal dan kecewa akan kebodohan tiga orang suhengnya itu yang begitu tolol sehingga mau dipermainkan oleh Pangeran Mongol, kecewa melihat suheng-suhengnya itu di dalam tahanan musuh masih meributkan soal cinta dan masih saling memperebutkan dirinya. Dahulu, ketika masih berada di Hoa-san, ia kadang-kadang merasa bangga dan senang melihat dua orang pemuda ini bersaing untuk merebut hatinya, akan tetapi sekarang ia merasa malu sekali akan sikap mereka. la anggap mereka itu berwatak rendah. Air matanya makin deras meng-alir keluar dan terbayanglah wajah Beng San. Alangkah jauh bedanya dua orang suhengnya ini dengan Beng San. Kalau saja ia tertawan musuh bersama Beng San, kiranya takkan begini jadinya. Tak-kan begini sikap Beng San yang tak pernah meninggalkan lubuk hatinya. Teringat akan Beng San air matanya makin deras mengucur. Alangkah rindu hatinya untuk bertemu sekali lagi dengan pemuda itu sebelum ia tewas di tangan musuh, se-bentar saja untuk menyatakan perasaan cinta kasihnya.

Pertempuran antara Thio Ki dan Kui Lok berjalan makin seru dan ramai. Memang kedua orang muda ini setingkat kepandaiannya, apalagi mereka memang terdidik semenjak kecil dalam satu perguruan, tentu saja sudah saling mengenal gerakan masing-masing. Bagi orang yacig mengenal ilmu pedang Hoa-san-pai, tentu menyangka mereka itu main-main saja atau sedang berlatih, akan tetapi bagi orang luar mereka kelihatan sedang bertempur dengan hebat, karena memang ilmu pedang Hoa-san-pai kelihatan amat cepat dan bergaya indah. Sesungguhnya mereka ini sama sekali tidak main-main, melainkan saling serang dengan menge-luarkan gerakan-gerakan mematikan. Tiada lagi pilihan bagi Thio Ki dan Kui Lok. Mereka harus memilih satu antcira dua, membunuh lawan untuk bebas ber-sama Kwa Hong, atau terbunuh. Sudah tentu saja tak seorang diantara mereka sudi mengalah, bukan persoalan matl hidup yang penting bagi mereka, melain-kan persoalan mendapatkan atau kehilangan diri Kwa Hong, yang mereka cinta!

'Thio-suheng! Kui-suheng! Dengarkan aku baik-baik!" tiba-tiba Kwa Hong ber-seru nyaring dengan suara terisak. "Dengar sumpahku ini, siapapun juga di an-tara kalian yang menang dalam pertandingan ini, aku tidak sudi menjadi isterimu! Nah, dengar! Siapa pun juga yang menang, takkan menjadi suamiku malah akan menjadi musuh besarku selama hidup karena telah membunuh seorang saudara seperguruan!"

Seketika wajah dua orang pemuda Hoa-san itu menjadi pucat dan pedang mereka tertahan. Peluh memenuhi leher dan muka, mata mereka memandang ke arah Kwa Hong dengan sedih, kaget dan bingung.

"Sumoi..... kalau begitu..... siapakah yang kau..... kaucinta?" tanya Thio Ki dengan suara serak.

"Ya, katakan siapa orangnya yang kaucinta, Hong-moi, agar kami tidak penasaran dan tidak menganggap kau membohong untuk mencegah kami saling bertempur," kata Kui Lok dengan wajah pucat.

Kwa Hong bingung mendengar kata-kata mereka itu. la makiurtr bahwa katari ia tidak bisa menjawab, keduanya tentu akan bertanding lagi karena menganggap bahwa dia hanya membohong untuk mencegah mereka saling serang. Kalau ia mengaku,ah, bukankah hal itu amat memalukan? Akan tetapi, keadaan sudah mendesak, daripada kedua suhengnya mati saling serang, lebih baik mereka itu tewas sebagai orang-orang gagah. Pula, dia sendiri sudah tidak mempunyai harapan untuk hidup lebih lama iagi atau keluar dari tempat ini dengan selamat, rnaka apa salahnya kalau ia mengeluar-kan isi hatinya? Dengan muka merah, air mata mengalir di kedua pipinya, tapi sambil mengangkat dada dan dengan suara yang nyaring ia berkata.

"Aku mencinta kanda Beng San"

Pada saat itu terdengar suara ketawa keras. "Ha-ha-ha-ha-ha! Kiranya nona manis ini tidak suka menjadi isteri seorang di antara suhengnya." Dan cepal sekali seperti terbang saja tahu-tahu tubuh Giam Kin sudah berada di tengah ruangan itu. la menoleh ke arah Souw Kian Bi dan menjura sambil berkata.

"Taijin tadi nnenyatakan bahwa siapa yang nnenang akan mendapatkan diri nona Kwa Hong yang manis ini. Sekarang dua orang Hoa-san ini tidak mau lagi saling serang agaknya, biarlah hamba merobohkan mereka berdua dan hadiahnya tentu saja diri nona manis ini. Mengharapkatf perkenan Taijin."

"Giam Kin, bukankah nona yang satu lagi dari Hoa-san-pai yang kau cinta?" tanya Souw Kian Bi sambil tersenyum. Giam Kin tertawa lagi memandang ke arah Kwa Hong sambil menyeringai.

"Yang itu juga cinta, yang ini juga suka. Kalau bisa kedua-duanya pun boleh. Ha-ha-ha!"

"Dasar mata keranjang. Nah, kau-hadapi dua orang itu, kalau kau menang, boleh kauambil nona ini," kata Souw Kian Bi pula sambil tertawa geli.

Sementara itu, pengakuan Kwa Hong bahwa dia mencinta Beng San tadi me-mang sudah dapat diduga lebih dulu oleh-Thio Ki dan Kui Lok. Dahulu, di puncak Hoa-san, ketika Kwa Tin Siong hendak memaksa Kwa Hong nnenikah dengari Thio Ki, gadis ini pun memberontak dan menolak, malah berani mengaku di depan ayahnya bahwa dia suka kepada Beng San. Akan tetapi dahulu itu mereka se-mua mengira bahwa Kwa Hong yang ter-kenal keras hati, keras kepala itu meng-aku demikian hanya untuk mencari alasan penolakannya belaka. Pada waktu itu, siapa bisa percaya bahwa Kwa Hong mencinta seorang pemuda tolol seperti Beng San? Tapi pengakuan sekarang ini lain lagi, tak mungkin Kwa Hong main-main di depan jurang kematian. Dua orang saudara seperguruan ini saling pandang dan rnata mereka menjadi basah. Sungguh mereka senasib sependeritaan. Keduanya kehilangan ayah, dan keduanya sekarang kehijangan kekasih. Dalam pcrtemuan pandang mata ini sekaligus le-nyap semua kebencian, lenyap semua persaingan, dan timbullah kasih sayang antara saudara seperguruan yang mesra. Timbul kasih sayang dan kesetiakawanan. Baru terbuka mata hati mereka betapa rriereka tadi bersikap pengecut dan amat mementingkan diri sendiri saja. Baru teringat bahwa sebagai murid-murid Hoa-san-pai seharusnya mereka bersikap gagah perkasa, menghadapi kematian di tangan musuh dengan pedang di tangan, siap mati demi membela kebenaran, apa-lagi dalam tial mi l-nembela tanah air dan bangsa.

"Lok-te, mari kita basmi anjing-anjing penjajah'" bisik Thio Ki.

"Ki-suheng, aku sehidup semati denganmu!" Keduanya melangkah maju, saling peluk dengan air mata bercucuran. Kemudian keduanya membalik menghadapi Giam Kin dengan pedang di tangan. Kini pedang itu tetap dan kokoh dalam geng-gaman tangan orang-orang yang sudah siap mempertahankan diri sampai titik darah terakhir!

Sambil tertawa-tawa Giam Kin mencabut pedang di tangan kanan dan suling di tangan kiri, kemudian membentak keras dan tubuhnya berkelebat ke depan. Dengan gerakan cepat sekali dia telah mengirim serangan bertubi-tubi ke arah Thio Ki dan Kui Lok. Tentu saja dua orang pemuda Hoa-san ihi segera menangkis dan balas menyerang. Namun segera dapat diketahui bahwa tingkat kepandaian mereka masih jauh di bawah Giam Kin karena biarpun mengeroyok dua, segera sinar pedang Giam Kin men-desak dan menindih kedua pedang me-reka. Betapapun juga, karena dua orang pemuda ini sekarang bertempur dengan semangat menyala-nyala dan nekat, tidak mudah bagi Giam Kin untuk merobohkan mereka dalam waktu singkat.

Tadinya ketika melihat dua orang murid Hoa-san-pai itu saling serang un-tuk rnemperebutkan diri Kwa Hong, Beng San merasa amat kecewa dan muak se-kali sehingga dia tidak ambil peduli. Bahkan kiranya dia akan mendiamkan saja andaikata melihat dua orang pemuda itu tewas di tangan musuh. Akan tetapi sekarang, melihat perubahan sikap mere-ka, dia menjadi terharu dan girang serta kasihan juga. Melihat betapa mereka^ -berdua sekarang mati-matian memper-tahankan diri dari serangan Giam Kin yang ganas dan keji serta maklum bahwa tak lama lagi mereka tentu akan roboh, Beng San lalu mengambil keputusan un-tuk turun tangan sekarang juga. Betapapun juga akhirnya dia harus turun menolong Kwa Hong.

"Saudara Thio Ki dan Kui Lok, beri-kan iblis ular ini kepadaku!" Sambi] me-ngeluarkan seruan nyaring ini Beng San sudah melayang turun dan tahu-tahu dua orang seperguruan dari Hoa-san-pai itu tertolak mundur sampai beberapa tindak ke belakang sedangkan Giam Kin yang mendesak maju merasa tangannya sakit sekali. Alangkah kagetnya ketika dia melihat betapa pedangnya di tangan ka-nan sudah pindah tangan, sekarang dipegang oleh pemuda yang bukan lain adalah Tan Beng San si pemuda sastrawan yang lemah dan tolol! Giam Kin yang mukanya kepucat-pucatan itu men-jadi makin pucat, sejenak dia berdiri terlongong. Geger di tempat itu ketika tahu-tahu muncul Beng San. Bukan saja para penjaga yang kaget, juga orang-orang sakti seperti Siauw-ong-kwi dan Hek-hwa Kui-bo terkejut bukan main, juga malu karena mereka sebagai orang-orang sakti sampai tidak tahu bahwa di atas genteng bersembunyi seorang muda yang agaknya telah mengintai semenjak tadi.

Adapun Thio Ki dan Kui Lok yang melihat munculnya Beng San dan menyaksikan kehebatan pemuda ini yangg sekaligus dapat merampas pedang Giam Kin, menjadi girang dan kagum bukan main. Mereka memutar pedang dan berteriaklah Thio Ki.



"Saudara Beng. San lekas kau selamatkan Sumoi!"

"Betul! Kau larikan Hong-moi, biar kami berdya menahan mati-matian!" teriak pula Kui Lok sambil siap-siap menahan penyerbuan para musuh yang amat banyak itu.

Yang paling girang adalah Kwa Hong. Seperti telah diceritakan di bagian de-pan, gadis ini sudah maklum akan ke-lihaian Beng San, malah sudah secara berterang mengaku cinta, akan tetapi ta kecewa mendengar pengakuan Beng San yang ternyata hanya suka kepadanya sebagai seorang kakak, membuat, ia patah hati dan lari pergi. Tadinya ia sudah merasa kecewa dan benci kepada Beng San, akan tetapi sekarang melihat mun-culnya pemuda yang sudah berhasil menguasai cinta kasihnya itu, timbul pula perasaan mesra dan dia berseru girang. "San-ko, akhirnya kau datang juga menolongku!"

Akan tetapi Beng San tak dapat atau tak sempat menjawab semua seruan ini karena pada saat itu melayang beberapa orang yang segera menyerangnya dengan hebat. Mereka ini adalah Siauw-ong-kwi, Hek-hwa Kui-bo dan Giam Kin yang tidak malu-malu lagi lalu mengeroyok-nya. Beng San memutar pedang rampas-annya dan melayani mereka mainkan Ilmu Pedang Im-yang Sin-kiam-sut yang sekaligus merupakan gundukan sinar pe-dang yang amat hebat bagaikan nyala api berkobar-kobar dahsyat menghantam tiga orang lawannya. Hek-hwa Kui-bo sudah tahu bahwa pemuda ini merriiliki Im-yang Sin-kiam-sut maka dia tidak amat heran, yang amat kaget dan heran adalah Siauw-ong-kwi dan Giam Kin.

Sementara itu, Thio Ki dan Kui Lok maju menyerbu Pangeran Souw Kian Bi yang mereka anggap adalah pemimpin fihak musuh. Akan tetapi sebelum sen-jata mereka dapat mendekati pangeran itu, beberapa orang perwira telah me-loncatmaju dan menghadapi mereka. Sebentar saja Thio Ki dan Kui Lok telah dikeroyok oleh empat orang perwira yang berilmu tinggi dan mereka berdua kembali terdesak hebat. Kwa Hong yang masih terbelenggu tangannya dapat me-nonton dengan hati berdebar, akan tetapi pandang matanya selalu diarahkan keparia Beng San. Hatinya gelisah akan tetapi juga lega, tidak penasaran seperti tadi. Sekarang ia mempunyai keyakinan bahwa andaikata ia mati, Beng San juga tewas di tangan musuh, kalau Beng San ber-hasil, tentu ia akan diselamatkan pemuda pujaan hatinya itu. Mati hidup bersama Beng San, dan ia takkan penasaran lagi Wajah yang tadinya pucat menjadi agak kemerahan, air matanya berhenti menitiK dan pandang matanya berseri-seri.

Kalau dua orang murid Hoa-san-pai itu sudah nekat dan tidak mengenal ta-kut lagi sedangkan Kwa Hong juga dalam kegembiraannya melihat Beng San tidak gentar menghadapi 'kematian, adalah B
"Souw Kian Bi! Tan Beng Kui! apakah kalian tidak malu? Lepaskan tiga orang anak murid Hoa-san-pai. Bukankah dahulu kalian sudah berjanji dengan Lian Bu Tojin takkan memusuhi Hoa-san-pai?" Beng San berteriak-teriak. Tanpa ragu-ragu dia menyebut nama kakaknya begitu saja karena sudah timbul kebencian dalam hatinya terhadap kakak kandungnya jitu yang dianggapnya terlalu keji.

Kelihatan Tan Beng Kui berbisik-bisik kepada Souw Kian Bi. Bukan main lihai-nya Beng San, biarpun sedang menghadapi pengeroyokan orang-orang sakti, dia masih dapat mendengar percakapan mereka.

"Taijin, kalau kita ampunkan mereka, banyak keuntungan yang akan kita dapat bisik Tan Beng Kui.

Pangeran itu mengerutkan keningnya. "Hemmm, Tan-ciangkun, apakah kau kasihan melihat adik kandungmu?"

Tan Beng Kui tertawa. "Ha, kiranya Pangeran sudah tahu akan hal itu. Me-mang, dia itu adik kandungku yang dulu lenyap ditelan air bah. Akan tetapi se-telah dia menjadi pembantu pemberontak, mana ada hubungan darah lagi antara dia dan aku? Usulku hanya untuk kebaikan kita, bukan untuk aku pribadi. Pertama, dengan mengampunkan murid-murid Hoa-san-pai, tentu Lian Bu Tojin akan ber-terima kasih dan akan melupakan per-musuhan dengan kita, takkan suka mem-bantu para pemberontak. Kedua kalinya, kulihat bocah itu lihai sekali ilmu silatnya. Kalau dia mau berjanji takkan memusuhi kita, apalagi kalau mau membantu, bukankah dia akan merupakan tenaga bantuan yang malah lebih hebat daripada para locianpwe itu? Dan lebih baik lagi kalau dapat mengikatkan dia dengan Hoa-san-pai, misalnya dengan....,' mengawinkan dia dengan gadis Hoa-san-pai ini, sehingga mau tak mau dia tentu takkan mengingkari perjanjian Hoa-san-pai dengan kita. Lalu diatur begini.....' Suara Tan Beng Kui menjadi bisik-bisik dan Beng San yang didesak hebat oleh Hek-hwa Kui-bo dan Siauw-ong-kwi, tak dapat menangkap lagi apa yang diucapkan kakak kandungnya itu. Diam-diam dia mendongkol sekali dan lebih hati-hati terhadap kelincikan orang.

Tiba-tiba Pangeran Souw Kian Bi berdiri dari kursinya dan berseru menyuruh orang-orangnya berhenti menyerang. Thio Ki dan Kui Lok yang ditinggalkan para pengeroyoknya menjadi lemas dan setelah berhenti bersilat mereka mereka pening dan roboh tak bertenaga lagi. Beng San juga melorrtpat ke bela-kang ketika Hek-hwa Kui-bo dan Siauw-ong-kwi menunda penyerangan mereka. Dengan tenang dan penuh tantangan Beng San berpaling kepada Souw Kian Bi.

"Hemmm, permainan apalagi yang hendak kaukeluarkan, Pangeran?" tanyanya.

"Orang muda, kau hebat sekali. Sa-yang kalau orang seperti kau dan teman-temanmu ini sampai tewas di sini."

"Hemmm, mudah saja kau bicara. Siapa bilang kami akan tewas? Mungkin kau yang akan mati lebih dulu!" jawab Beng San.

"Ha, orang i-nuda, selain hebat kau pun sombong dan berani sekali! Tidak perlu lagi kau membuka mulut besar di sini karena kau pun tentu maklum bahwa andaikata kepandaianmu berlipat sepuluh kali, belum tentu kau dan teman-temanmu akan dapat lolos dari tempat ini. Apa kau hendak berkukuh bahwa kau dapat melawan ribuan orang tentara kami? Masukmu ke sini mungkin dapat kaulakukan karena kurang telitinya penjagaan, akan tetapi bagainriana kau akan dapat lari pergi? Lihat!" Telunjuk pangeran ini menuding ke sekelilingnya dan Beng San dengan lirikan matanya men-dapat kenyataan bahwa tempat itu sudah terkurung rapat oleh ribuan orang ten-tara. Bahkan di atas genteng sekarang telah siap menanti banyak sekali tentara dengan anak panah terpasang di busur. Jangankan seorang manusia, seekor burung yang pandai terbang sekalipun kiranya takkan mungkin meloloskan diri dari tempat itu. Akan tetapi dia masih bersikap tenang-tenang saja, malah sekali meloncat dia telah berada di dekat Kwa Hong, sekali renggut dan sekali tepuk dia telah berhasil memutuskan tali belenggu lengan gadis itu dan membebaskannya daripada totokan.

"San-ko, biarlah kita mati bersama....." Kwa Hong berkata mesra dan tanpa ragu-ragu atau malu-malu lagi ia merangkul lengan tangan Beng San. Melihat ini, Thio Ki dan Kui Lok yang sudah lemas itu menjadi pucat dan mengeluh dalam hati. Mereka berebut mati-matian, kiranya gadis itu memilih orang lain!

"Pangeran Souw Kian Bi, sekarang apa yang menjadi maksud kehendakmu?" dengan tenang Beng San bertanya. Jangan kaukira bahwa kami berempat takut akan kematian. Orang-orang gagah rela berkorban nyawa demi kebenaran daft keadilan."

"Bagus, kau benar-benar gagah perkasa, Beng San. Dan kami amat suka melihat orang-orang gagah seperti kalian itu, sayang kalau sampai tewas. Kalian masih muda, berkepandaian tinggi."

"Apa maksudmu? Berterusteranglah!" kata Beng San tak sabar Jagi mendengar musuh'memuji-muji itu.

Souw Kian Bi tertawa. "Beng San, sebetulnya Hoa-san-pai bukanlah musuh kami selama Hoa-san-pai tidak mem-bantu kaum pemberontak. Permusuhan kecil ini hanya terjadi karena salah faham. Sekarang, melihat bahwa tidak ada kaum pemberontak berusaha menolong tniyid-murid Hoa-san-pai yang tertawan, ka.itii anggap tiada perlunya permusuhan diteruskan. Kami bebaskan kalian berempat dan sebagai tanda persahabatan, marilah kita makan minum bersama.

Bukan main girangnya hati Thio Ki dan Kui Lok mendengar ini. Juga Kwa Hong girang sekali, dipeluknya lengan Beng San lebih erat lagi sambil berbisik, "San-ko, semenjak sekarang, jangan kau-tinggalkan aku lagi....."

"Tenanglah, Hong-moi, tenanglah kau....." Beng San berkata sambil mengelus-elus pundak gadis itu, dalam hatinya bingung sekali menyaksikan sikap Kwa Hong seperti ini. Tentu saja di tempat itu, disaksikan oleh banyak orang, dia merasa amat malu melihat sikap Kwa Hong, akan tetapi juga tidak berani me-negurnya karena khawatir akan menying-gung perasaan orang. Pikirannya masih penuh oleh ucapan Tan Beng Kui kepada Pangeran Souw Kian Bi tadi dan otaknya diputar untuk mencari jalan keluar dari tempat itu. Terang bahwa kalau dia nekat mengamuk, tiga orang murid Hoa-san-pai ini akan celaka. Bahkan dia sendiri sedikit sekali ada harapan untuk dapat lolos dari kepungan ribuan orang tentara itu. Lebih baik sekarang menerima uluran tangan pangeran itu untuk menjauhi pertempuran, apa salahnya? Ini hanya siasat untuk menyelamatkan murid-murid Hoa-san-pai, terutama Kwa Hong. Maka dia tidak membantah lagi dan dengan tenang dia mengajak Kwa Hong menerima tawaran Pangeran Souw Kian Bi.

Atas perintah pangeran itu, ruangan yang tadinya menjadi medan pertempur-an, sekarang cepat dibersihkan dan diatur menjadi ruang pesta. Seperti sulapan sftja, sebentar meja-meja diatur dan hi-dangan yang mewah dikeluarkan. Biarpun lemas, Thio Ki dan Kui Lok yang sudah mendapat pengobatan, dapat pula duduk menghadapi meja hidangan. Arak wangi menyegarkan tubuh mereka dan mem-bangkitkan semangat lagi, biarpun mere-ka tidak mau bicara dan muka mereka masih membayangkan penderitaan batin karena melihdt sikap Kwa Hong yang demikian nnesra terhadap Beng San.

Tan Beng Kui juga berubah sikapnya. Sambil berdiri dia mengangkat eawan aFak dan berkata kepada Beng San, "Se-teslah bertemu dalam keadaan dewasa, aku mengucapkan selamat kepadamu, adik Beng San. Kau telah memperoleh kepandaian tinggi dan memperoleh..... hemmmmm.,..." ia melirik ke arah Kwa Hong, "seorang calon isteri yang gagah dan cantik. Kionghi-kionghi (selamat-selamat)!"

Girang juga hati Beng San. la menahan air matanya yang hendak menitik turun. Betapapun juga, Beng Kui adalah orang yang selama ini dia rindu dan ke-nangkan. Kakak kandungnya yang dahulu amat menyayangnya, akhirnya sekarang mau mengakuinya. Akan tetapi di balik keharuan dan kegirangan hatinya ini ter-kandung kepahitan dan kenyataan bahwa sikap kakak kandungnya ini hanya siasat belaka. Siasat untuk menarik dia, mem-pergunakan tenaganya untuk mengabdi kepada pemerintah penjajah.

la pun berdiri dan mengangkat cawannya pula. "Kakak Beng Kui, alangkah bahagianya hatiku karena kau mau meng-aku adikmu ini. Sayang seribu kali sayang, jalan kehidupan kita bersimpang. Betapapun juga, adikmu seialu memujikan agar kau selamat dan akhirnya dapat memilih jalan baik. Adapun tentang nona Kwa Hong ini, harap jangan salah sangka. Tak berani aku menganggap dia sebagai..... sebagai calon isteri....."

Pangeran Souw Kian Bi dan Tan Beng Kui tertawa bergelak-gelak sehingga dalam suasana riuh rendah itu orang tidak memperhatikan betapa dua titik iir mata merigalir turun dari sepasang m. 'a Kwa Hong, namun cepat diusapnya.

"Ha-ha-ha, adikku yang baik. Orang gagah seperti engkau ini, mana bol^h bersikap malu-malu kucing? Siapa orar»g-nya yang tidak tahu bahwa antara kau dan nona ini terjalin kasih sayang yang amat besar? Jangan kau khawatir, karena kita tidak mempunyai orang tua lagi, ai 11 boleh dibilang mewakili orang tuamu. Akulah yang akan melamarkan diri nona ini dari tangan Lian Bu Tojin untukmu. Kutanggung pasti akan diterima. Ji-wi Locianpwe, bagaimana pendapat Ji-wi (kalian)?" Beng Kui berpaling kepada H^k-hwa Kui-bo dan Siauw-ong-k^i yang dudyk di situ pula bersama Kim-thow Thian-Ii dan Giam Kin.

"Hemmm, baik-baik....." kata Hek-hwa Kui-bo sambil menenggak araknya dan nampak kaget karena semenjak tadi nenek ini menatap wajah Beng San tiada sudahnya. Sukar untuk membaca isi hati nenek ini, hanya Beng San yang tahu betapa inginnya nenek ini merampas kepandaian Yang-sin Kiam-sut dari pada-nya untuk memperlengkapi Ilmu Im-sin Kiam-sut yang dahulu dicuri oleh Hek-hwa Kui-bo dari tangan kakek Phoa Ti.

Siauw-ong-kwi sebaliknya tertawa terkekeh-kekeh. "Orang muda saling cinta, menunggu apalagi kalau tidak cepat-cepat dirangkapkan? Asal saja tidak mengulang penyakit-penyakit lama, kalau sudah berjodoh dan punya anak, lalu bosan dan mencari yang lain. Heh-heh-heh! Kebetulan sekali Tan-ciangkun hen-dak pergi meminang ke Hoa-san, karena aku pun hendak melamarkan nona hitam manis dari Hoa-san-pai untuk muridku, si gila Giam Kin. Ha-ha-ha!"

Giam Kin juga tertawa dan pemuda ini semenjak tadi hanya tersenyum-senyum saja sambil menyikat hidangan-hidangan yang paling enak, tiada hentinya minum arak seakan-akan semua arak itu dituang ke dalam gentong yang tak berdasar. Thio Ki dan Kui Lok ternyata tidak kuat minum banyak. Setelah menerima peng-hormatan Pangeran Souw Kian Bi dar» Tan Beng Kui sebanyak lima cawan saja nriereka sudah menjadi pening dan tate dapat ditahan lagi keduanya tertidur dt atas kursi masing-masing. Hal ini ter-utama sekali karena tubuh mereka yang masih lemah akibat pertempuran hebat tadi yang menghabiskan sebagian besar tenaga mereka.

"Ha-ha-ha, dua orang ini agaknya belum dapat merasakan kesenangan berpacaran, maka kesenangan satu-satunya hanya tidur saja!" kata Pangeran Souw Kian Bi yang segera memanggil pelayan dan menyuruh beberapa orang pelayan menidurkan dua orang tamu ini ke dalam sebuah kamar yang bersih. Ketika melihat Beng San mengerutkan kening atas kejadian ini, Beng Kui segera berkata.

”Adik Beng San, tak usah kau berkhawatir. Biarlah dua orang saudara itu melepaskan lelah lebih dulu. Nanti se-telah mereka bangun, kami akan antar-kan kalian semua keluar dari tempat ini dan memberi kuda yang terbagus." Ke-mudian dia bertepuk tangan tiga kali. Tiga orang yang berpakaian seragam kemerahan keluar dari tempat sembunyi. Mereka ini adalah pengawal-pengawal pribadi dari pangeran dan perwira itu.

"Ambii Arak Pengantin Merah," kata Tan Beng Kui sambil tertawa-tawa riang.



Tak lama kemudian orang-orang itu kembali membawa seguci arak merah yang harum sekali baunya. Wajah Kwa Hong dan Beng San menjadi kemerahan, akan tetapi diam-diam Beng San menjadi amat curiga hatinya. Namun apa yang dapat dia katakan? la hanya melihat saja betapa pangeran dan kakak kandungnya itu menuangkan arak rnerah ke dalam cawan-cawan mereka, juga cawan-cawan Hek-hwa Kui-bo, Siauw-ong-kwi, Kim-thouw Thian-li, Giam Kin dan beberapa orang perwira tinggi yang ik'ut mengawani mereka dalam pesta ini.

"Adik Beng San, arak int namanya Arak Pengantin Merah. Biarpun kalian belum menjadi pengantin, akan tetapi hatiku sudah amat kegirangan dan mari kita minum tiga cawan untuk kebahagia-an calon sepasang mempelai!"

"Beng Kui-koko, aku..... aku dan Hong-moi ini..... eh....." gugup sekali Beng San, akan tetapi ketika dia melirik ke arah Kwa Hong, dia melihat nona ini biarpun mukanya merah sekali, namun sudah mengangkat pula cawan araknya dan sepasang mata bintang itu kelihatan mem-basah. la tidak tega untuk menolak lagi, dan pula, bukankah semua ini hanya siasat yang mereka pergunakan untuk dapat meloloskan diri dari situ? Tanpa banyak cakap lagi dia lalu mengangkat cawan araknya dan menenggak araknya perlahan. Ia menaruh perhatian dan waspada, akan tetapi ketika merasa bahwa arak itu hanya wangi dan enak, dan tidak ada reaksi apa-apa dari tubuhnya yang penuh hawa Im dan Yang itu, dia menelan terus dan tidak menolak ketika kakaknya menuangkan arak merah itu sampai tiga kali dalam cawanhya. Juga Kwa Hong minum tiga cawan penuh.

Kembali Tan Beng Kui bertepuk tangan dan kini memerintahkan pelayan supaya mengeluarkan hidangan yang di-sebut masakan "anak naga". Ternyata hidangan ini berupa masakan ikan laut yang amat aneh bentuknya, benar-benar hampir menyerupai naga kecil.

"Ikan macam ini hanya dapat ditemu-kan di laut sebelah utara," kata Pangeran Souw Kian Bi. "Baik sekali untuk kesehatan, terutania untuk..... calon pengantin baru, ha-ha-ha!" Semua orang tertawa gembira kecuali Beng San yang menundukkan mukanya dengan hati tidak enak sekali, sedangkan Kwa Hong juga menundukkan mukanya yang kemerah-merahan. Akan tetapi bagi gadis ini ke-adaan itu amat membahagiakan hatinya. la merasa seolah-olah memang sedang menghadiri pesta pernikahannya sendiri bersama Beng San! .

Biarpun malu-malu, Beng San dan Kwa Hong tak dapat menolak ketika dipersilakan makan daging "anak naga" yang ternyata sedap dan lezat rasanya. Tiba-tiba Beng San meramkan matanya. la merasa kepalanya agak terputar dan sepasang matanya berat. Dikerahkannya tenaganya, akan tetapi, ternyata makin dia mengerahkan tenaga Iweekangnya makin pusing kepalanya!

"Celaka....." ia mengeluh dan tak dapat ditahan lagi dia menjatuhkan kepalanya di atas kedua lengannya di meja. Sepasang sumpitnya jatuh.

"San-ko...... kau kenapa.....?''

Hong segera memegang pundaknya.

"Ha-ha-ha, tidak apa-apa dia, Nona. Mungkin karena tidak biasa minum arak maka dia menjadi mabuk seperti dua orang saudara tadi.".

"Tidak.....! Kalian tentu bermain cu-rang! Kalian sengaja meracuni dia.....!" i Kwa Hong serentak berdiri dan nrienjadi marah sekali, siap hendak mengamuk.

"Jangan salah sangka yang bukan-bukan. Bukankah kau calon adik iparku. Dia ini adalah adik kandungku, dan sekarang bukan musuh kami lagi, untuk apa kami berlaku curang? Kalau kau tidak percaya biarlah dia disuruh mengaso dalam kamar, dan kau boleh mengawani dan mengurusnya." Beberapa pelayan diberi perintah dan tubuh Beng San yang sudah lemas itu diangkat orang menuju ke sebuah kamar. Kwa Hong dengan siap sedia dan waspada mengikuti dari belakang.

Begitu memasuki kamar, wajah Kwa Hong berubah makin merah. Bukan main indahnya kamar itu dan diatur amat mewah seperti kamar pengantin saja. Tempat tidurnya, kelambu, perabot-perabotnya semua baru. Seprei dan sarung bantalnya semua berkembang indah, menggambarkan sepasang burung hong yang sedang bercumbuan, daun jendela dan daun-daun pintu menggambarkan pasangan-pasangan burung yang amat rukun dan penuh kasih mesra. Hatinya berdebar tidak karuan ketika para pelayan itu segera meninggalkan kamar dan membiarkan dia berdua saja dengan Beng San. Malah pelayan terakhir dengan perlahan menutupkan daun pintu dari luar.

Dengan amat susah- payah Kwa Hong melawan perasaan aneh dan debar jantung yang menyesakkan dadanya itu lalu ia memeriksa keadaan Beng San dengan hati khawatir. Pemuda itu mengeluh perlahan, nampak gelisah dan kepalanya bergerak ke kanan kiri. Wajahnya menjadi merah seperti udang direbus dan perlahan-lahan berganti menjadi pucat kehijauan. Diam-diam Kwa Hong gelisah dan terheran-heran. Teringatlah ia akan muka pemuda ini yang semenjak dahulu sering kali berubah-ubah warnanya sehingga ia menyebutnya dahulu sebagai "bunglon".

"San-ko..... San-ko..... bagaimana rasanya badanmu.....?" tanyanya khawatir sambil menyentuh jidat pemuda itu. Ce-pat ia menarik kembali tangannya karena jidat itu terasa dingin seperti es! Dan ketika perlahan-lahan muka itu berubah kemerah-merahan lagi, jidatnya pun berubah panas seperti api.

"San-ko..... ah, San-ko, kau diracun orang....." Kwa Hong saking bingung dan khawatirnya lalu memeluk Beng San dan menangis sedih. Sementara itu, ia sendiri merasa betapa ada sesuatu yang aneh terjadi dalam tubuhnya. Darahnya mengalir cepat dan panas, napasnya sesak dan mukanya menjadi merah sekali.

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Silat Indonesia Download

Silahkan download Cerita Halaman ke 1 Serial Putri Hatum dan Kaisar Putri Harum dan Kaisar Jilid 1 Putri Harum dan Kaisar Jilid 2 dan 3 Putri Harum dan Kaisar Jilid 4 dan 5 Putri Harum dan Kaisar Jilid 6 dan 7 Putri Harum dan Kaisar Jilid 8 dan 9 Putri Harum dan Kaisar Jilid 10 dan 11 Putri Harum dan Kaisar Jilid 12 dan 13 Putri Harum dan Kaisar Jilid 14 dan 15 Putri Harum dan Kaisar Jilid 16 dan 17 Putri Harum dan Kaisar Jilid 18 dan 19 Putri Harum dan Kaisar Jilid 20 dan 21 Putri Harum dan Kaisar Jilid 22 dan 23 Putri Harum dan Kaisar Jilid 24 dan 25 Putri Harum dan Kaisar Jilid 26 dan 27 Putri Harum dan Kaisar Jilid 28 dan 29 Putri Harum dan Kaisar Jilid 30 dan 31 Putri Harum dan Kaisar Jilid 32 dan 33 Putri Harum dan Kaisar Jilid 34 dan 35 Putri Harum dan Kaisar Jilid 36 dan 37 Serial Pedang Kayu Harum Lengkap PedangKayuHarum.txt PKH02-Petualang_Asmara.pdf PKH03-DewiMaut.pdf PKH04-PendekarLembahNaga.pdf PKH05-PendekarSadis.pdf PKH06-HartaKarunJenghisKhan.pdf PKH07-SilumanGoaTengkor...

Komunikasi Data

Link ini juga saya letakkan di ebook campuran http://www.ziddu.com/download/3344575/Komdat1.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344576/Komdat5.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344577/Komdat4.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344578/Komdat3.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344579/Komdat2.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344815/Komdat9.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344816/Komdat6.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344817/Komdat7.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344818/Komdat8.pdf.html

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau!...