Skip to main content

raja-pedang-51-kho-ping-hoo

Karena Hek-hwa Kui-bo sendiri maklum bahwa pemuda itu adalah seorang ahli waris Im-yang Sin-kiam, sekarang melihat pertempuran sudah berhenti dan para serdadu sudah lari cerai-berai, apa-lagi Siauw-ong-kwi sudah pergi juga, ia merasa tidak ada harapan kalau harus mengamuk seorang diri. "Bocah, kalau memang kau ada kepandaian, kelak di Thai-san kita bertemu pula!" kat jnya gemas dan sekali berkelebat, nenek itu sudah pergi menyusul muridnya dan yang lain-lain, yang sudah lari lebih dahulu.

Hebat sekali akibat pertempuran itu. Banyak sekali, lebih dari empat puluh orang tosu Hoa-san-pai, menggeletak mati atau terluka. Juga ada beberapa belas orang Pek-lian-pai terluka dan serdadu-serdadu itu meninggalkan mayat dan teman-teman terluka sebanyak tujuh puluh orang lebih. Di tempat itu penuH dengan mayat dan orang-orang ter'uka, darah mewarnai rumput dan tanah, me-ngerikan sekali. Lian Bu Tojin masih duduk bersila meramkan mata, terluka hebat dan juga mendapat guncangan ba-tin yang berat. Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa ^idak kelihatan, sudah lari turun gnnung. Kwa Hong, Thio Ki, dan Kui Lok telah tertawan, dibawa lari oleh musuh. Tinggal Thio Bwee yang sekarang berlutut di depan kakek Hoa-san-pai ini sambil menangis. Hari itu benar-benar mengalami pukulan hebat, pukulan dari luar dan dari dalam. Bun Lim Kwi ber-diri di dekat gurunya, menundukkan muka ikut berduka. Pek Gan Siansu mengelus-elus jenggot dan memandang kepada Beng San yang juga berdiri bingung kare-na tidak tahu ke mana perginya para murid Hoa-san-pai yang lain.

"Adik Beng San.....!" Seruan ini adalah suara Tan Hok yang datang berlari-lari. Beng San juga girang dan dua orang ini . saling berpelukan.

"Syukur kau dan teman-temanmu keburu datang, Tan-twako, kalau tidak....."

Tan Hok memandang ke arah tubuh-tubuh yang nialang melintang di tanah itu, menarik napas panjang."Anjing-anjing Mongol itu benar-benar keji dan sayang sekali tidak dari dulu-dulu Hoa-san-pai ikut berjuang. Lebih sayang lagi semua ini gara-gara murid Kun-lun-pai yang roboh di bawah pengaruh kecantikan wa-nita....." la menuding ke arah mayat Kwee Sin.

”Jangan "kau bicara sembarangari!" Thio Bwee tiba-tiba meioncat dan memandang Tan Hok dengan marah. "Apa kaukira kau dan orang-orang Pek-lian-pai saja yang patriotik dan gagah? Paman Kwee Sin biarpun kelihatan bersalah, akan tetapi sebetulnya semua itu dia lakukan demi menjalankan tugasnya sebagai seorang pejuang. Dia adalah pe-mimpin di kota raja, terkenal dengan ajSii sebutan Si-enghiong....."

"Apa.....??" Tan Hok membelalakkan matanya. "Dia..... dia itu Si-enghiong? Si-enghiong dan Ji-enghiong adalah orang-orang yang memimpin gerakan kami dl sana..... orang-orang kepercayaan Ciu-taihiap! Betulkah ini.....?"

Pek Gan Siansu berkata, "Siancai..... siancai....." ia menarik napas panjang. "Sungguh bangga hati tua ini mendengar bahwa Kwee Sin ternyata adalah seorang pejuang besar. Bangga dan sedih serta malu bahwa dia telah begitu buta se-hingga tidak dapat mengenal murid sendiri! Ah, Kwee Sin..... Kwee Sin..... tidak berharga pinto menjadi gurumu....."

Tiba-tiba Thio Bwee berseru “Eh, rnana dia? Mana dia Ji-enghiong.....?"

Tan Hok makin kaget. "Apa? Ji-enghiong juga di sini? Mana dia?" Semua orang mencari-cari dan mengingat-ingat, akan tetapi mereka tadi tidak melihat lagi adanya nona Lee Giok atau yang disebut Ji-enghiong oleh Kim-thouw Thian-li.

"Betulkah Ji-enghiong tadi di sini? Siapakah dia?" tanya lagi Tan Hok ter-heran-heran, sedangkan Beng San juga tertegun mendengar terbukanya rahasia ini, ingin benar dia mendengar keterangannya pula.

Lian Bu Tojin berdiri perlahan, lalu memandang Tan Hok dan teman-teman-nya yang berdiri di belakangnya. Melihat tadi Beng San berpelukan dengan Tan Hok, ketua Hoa-san-pai ini bertanya, '"Beng San, siapakah tuan ini?"

Beng San menjura. "Totiang, dia ini adalah teman teecu yang gagah perkasa. Namanya Tan Hok dan dialah pemimpin pasukan gerilya Pek-lian-pai yang patriotik."

Lian Bu Tojin mengangguk-angguk, ”Ah, kiranya. Tan-enghiong. Terima kasih atas bantuanmu. Agaknya Tan-enghiong mengenal dua orang pemimpin di kota raja yang disebut Ji-enghiong dan Si enghiong."

"Tentu saja mengenal, Totiang. Hanya? mengenal nama, akan tetapi dua orang tokoh itu adalah termasuk atasan saya, Kiranya Si-enghiong adalah murid Kurw lun-pai, sungguh menggembirakan sekaii dan sekaligus pandangan kami berubah terhadap Kun-lun-pai. Akan tetapi....; siapakah yang mengatakan bahwa dia adalah Si-enghiong?"



"Tak dapat diragukan lagi, pasukani pemerintah tadi menyerbu ke sini justeru untuk menangkap Ji-enghiong dan Si-enghiong. Si-enghiong adalah.... murid Pek Gan Siansu, Kwee Sin. Adapun Ji-enghiong, menurut pengakuan tadi .adalah seorang nona muda bernama Lee Giok yang sekarang entah pergi ke mana karena agaknya tadi menghilang ketika terjadi pertempuran.

Mendengar ini, Tan Hok segera ber-sama teman-temannya dengan penuh penghormatan mengangkat jenazah Kwee Sin lalu merawat dan mengurusnya penuh penghormatan sebagaimana layaknya se-orang pemimpin. Juga para tosu Hoa-San-pai mengurus mayat-mayat dan orang-orang yang terluka. Dalam hal ini, Lian Bu Tojin membuktikan keluhuran pribudinya dengan memerintahkan anak muridnya untuk mengurus juga mayat-mayat serdadu Mongol, bahkan mengobati mere-tgRy yang luka dan membiarkan mereka pergi dengan aman.

Beng San yang tidak melihat murid-murid Hoa-san-pai, mengajukan pertanya-an kepada Thio Bwee, "Adik Bwee, kenapa aku tidak melihat Hong-moi dan dua orang saudaramu Thio Ki dan Ku.i Lok? Dan ke mana pula perginya Kwa-lo-enghiong dan bibi gurumu?" Ditanya be-gini, tiba-tiba Thio Bwee menangis lagi dan tidak dapat menjawab.

Lian Bu Tojin yang menjawab, "Beng San, hari ini Hoa-san-pai mengalami kehancuran. Kwa Hong, Thio Ki, dan Kui Lok tertawan musuh dan ditangkap. Adapun Kwa Sin Tiong dan Sian Hwa" eh, mereka juga lari dalam kekacauan tadi.'"

Mendengar ini, berubah muka Beng San. "Hong-moi tertawan musuh? Juga saudara Thio Ki dan Kui Lok? Ah, celaka biar kuusahakan pertolongan....." Beng San lari turun dari puncak.

"Lim Kwi, kaubantulah dia!" bisik Pek Gan Siansu.

"Saudara Beng San, tunggu!' Tubuh Lim Kwi melesat mengejar Beng San. Juga Tan Hok. meloncat dan mengejar. "Adik Beng San, tunggu dulu.....!"

Akan tetapi aneh sekali, biarpun Beng San kelihatannya hanya lari biasa saja sedangkan dua orang yang mengejarnya ini meloncat dan menggunakan ilmu lari cepat, sebentar saja tubuh Beng San sudah lenyap dan tidak mereka ketahui ke mana arah larinya. Terpaksa Tan Hok dan Lim Kwi kembali ke puncak.

"Lian Bu totiang," kata Tan Hok dengan suara .menghibur orang tua yang kelihatan berduka itu. "Harap Totiang jangan khawatir. Adik Beng San bukanlah orang biasa, tentu dia akan berusaha sekuat tenaga untuk menolong murid-murid Hoa-san-pai yang tertawan itu.

Andaikata dia tak berhasil, percayalah, saya akan mengerahkan teman-teman untuk pergi menolong mereka. Sekarang sudah jelas bahwa murid Kun-lun-pai telah menjadi pemimpin pejuang, yaitu mendiang Kwee-enghiong. Dan sekarang Hoa-san-pai telah dimusuhi penjajah, rnaka -tidak ada jalan lain kecuali melan-jutkan cita-cita Kwee-enghiong. Alangkah baiknya kalau mulai sekarang Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai membantu perjuangan rakyat."

Mendengar ucapan pemimpin gerilya Pek-lian-pai yang gagah bersemangat ini, Lian Bu Tojin dan Pek Gan Siansu sa-Jing pandang. Lian Bu Tojin menarik napas panjang dan berkata.

"Sebetulnya, semenjak rakyat memberontak terhadap penindasan pemerintah penjajah, kami semua anggauta Hoa-san-pai sudah merasa simpati dan bahkan pinto sendiri sudah memberi perintah kepada para anak murid supaya membantu perjuangan. Siapa kira pinto kena diakali oleh Pangeran Souw Kian Bi yang secara pengecut dahulu telah menculik dua orang cucu muridku. Akan tetapi, dengan adanya penyerbuan hari ini, jelas bahwa mereka memusuhi kami dan kami sekarang akan mengerahkan semua tenaga untuk membantu perjuangan meng-usir penjajah-penjajah Mongol dari tanah air."

"Bagus, Lian Bu toyu!" seru Pek Gan Siansu girang. "Aku sendiri harus me-nebus kesalahan dan kebodohanku karena tidak dapat mengenal Kwee Sin, mulai sekarang Kun-lun-pai juga akan meng-gabungkan diri dengan para pejuang.

Bukan main girangnya hati Tan Hok mendengar ini.. Segera dia menjura dengan hormat lalu menceritakan keadaan perjuangan, sampai di mana kemajuan gerakan barisan rakyat dan bagian mana yang kiranya membutuhkan bantuan dari dua partai persilatan itu.

* * *

Dengan melakukan perjalanan cepat dan tak mengenal lelah Beng San me-ngejar barisan pemerintah yang telah menawan Kwa Hong, Thio Ki dan Kui Lok. Akan tetapi biarpun dia sudah ber-hasil menyusul barisan yang sisanya ting-gal beberapa puluh orang saja itu, dia tidak melihat adanya tiga orang muda murid - Hoa-san-pai yang tertawan. Ja menjadi herap dan juga curiga di sam-ping merasa gelisah sekali kalau meng-ingat akan nasib mereka, apalagi kalau dia memikirkan Kwa Hong.

Malam hari itu dia terus berlari cepat, akan tetapi belum juga dia dapat menyusul mereka yang membawa tawan-an-tawanan itu. la menduga bahwa tentu Hek-hwa Kui-bo dan muridnya yang melarikan tawanan-tawanan itu', maka dapat demikian cepat larinya. Untuk melenyap-kan kpraguannya, dia menangkap seorang serdadu yang sedang berjaian bertiga dengan temannya sambil menggotong seorang teman yahg luka. Serdadu-serdadu itu terheran-heran dan ketakutan ketika dalam keadaan gelap itu berkelebat ba-yangan hitam dan tahu-tahu seorang telah lenyap tak berbekas dan tak meninggalkan suara apa-apa!

"Am..... ampunkan hamba....." Serdadu itu meratap-ratap ketika dia merasc betapa tubuhnya dibawa melompat tingg dan diletakkan di atas ranting-ranting pohon yang tingginya bukan main dan bergoyang-goyang hampir tak kuat me-nahan tubuhnya. la mengira bahwa tentu dia diculik oleh iblis karena semenjak tadi penculiknya tidak bicara, juga tidak kelihatan mukanya karena selain gelap, juga dia sudah tidak mampu menggerak-kan kepala untuk menengok dan melihat wajah orang yang mengempitnya.



"Hemmm, kau masih ingin hidup? Kau sudah membantu orang-orang berdosa, menculik tiga orang muda dari Hoa-san-pai, sekarang kau hendak kutinggalkan di sini biar jatuh dan mampus! Ha-ha-ha!" Beng San mengerahkan Iweekangnya membuat suaranya terdengar besar menyeramkan dan menusuk telinga.

"Ampunkan hamba..... hamba hanyalah tentara biasa, hanya mentaati perintah.

 



"Hayo katakan, siapa yang membawa pergi tiga orang muda itu? Cepat meng-aku, kalau tidak akan kucabut nyawamu sedikit demi sedikit!"

Orang itu makin percaya bahwa yang mengganggunya ini tentu iblis, karena sekarang suara itu terdengar tinggi nrie-.lengking, jauh bedanya dari tadi, dan terdengar suara tidak kelihatan orangnya pula.

"Mereka..... mereka dibawa oleh Giam kongcu dan rombongannya....."

"Ke mana?"

”Ke markas besar di Tiang-bun-kwi...,?.

"Di mana letaknya Tiang-bun-kwi?"

Saking takutnya serdadu itu sampai tidak dapat memikirkan bahwa kalau yang bertanya iblis kiranya akan tahu pula ke mana tawanan-tawanan itu dibawa pergi. Akan tetapi dia sudah terlampau takut sehingga tak dapat rriem-pergunakan pikiran sehat pula.

"Di sebelah barat kota raja....;" la menahan jeritnya karena merasa tubuh-nya terjatuh ke bawah. la tidak tahu bahwa Beng San menariknya dan membawanya turun. Tahu-tahu dia pada ke-esokan harinya siuman dari pingsannya dan berada di bawah sebatang pohon besar lagi tinggi. Tentu saja dia makin percaya bahwa semalam dia diganggu setan maka dia lari sipat kuping dari tempat itu!

Sementara itu, Beng San menjadi girang setelah mendengar bahwa tiga orang tawanan itu dibawa oleh rombong-an Giam Kin ke Tiang-bun-kwi. Segera dia melakukan pengejaran di malam hari itu juga. Perjalanan jauh itu tak mem-buat dia lemah semangat, dia hanya berhenti mengaso kalau lapar perutnya tak dapat dipertahankan lagi dan hanya berhenti mengaso sejenak untuk melemas-kan urat-urat kakinya. Pada keesokan harinya, menjelang malam tibalah dia di Tiang-bun-kwi.

Beng San kaget dan khawatir sekah ketika melihat keadaan Tiang-bun-kwi. Dusun di luar kota raja ini ternyata merupakan markas besar yang amat kuat, menjadi pusat penjagaan kota raja se-betah barat. Dalam penyelidikannya dia mendengar bahwa di situ berkumpul sedikitnya sepuluh ribu orang serdadu pemerintah yang setiap hari berpatroli melakukan penjagaan untuk mencegah penyerbuan lawan dari sebelah barat. Dan Kwa Hong bersama dua orang suhengnya dibawa ke markas yang kuat ini!



Betapapun hebatnya berita yang dia dengar tentang Tiang-bun-kwi, Beng San tidak takut. Untuk menolong tiga orang itu, terutama sekali Kwa Hong, dia rela berkorban nyawa. Setelah hari menjadi gelap, dia berhasil menyusup ke dalam benteng besar dan bersembunyi di balik wuwungan yang tinggi dan gelap. la men-dengar ribut-ribut dan melihat banyak tentara hilir-mudik dan sibuk sekali, seperti terjadi sesuatu yang penting. Lalu disusul suara terompet dan tambur. Lapat-lapat terdengar oleh Beng San suara mereka menyatakan bahwa ada tamu agung datang mengunjungi benteng itu. Terdengar kaki kuda dari luar dan..... berdebar jantung Beng San ketika me-lihat bahwa yang datang adalah Tan Beng Kui bersama Pangeran Souw Kian Bi, didahului pengawal membawa bendera kebesaran dan diiringkan pengawal ber-senjata lengkap. Beberapa orang perwira yang dipimpin komandan benteng itt sendiri menyambut kedatangan Souw Kiar. Bi dan Tan Beng Kui. Melihat cara me-reka memberi hormat kepada dua orang pendatang ini dapat diketahui bahwa di samping Souw Kian Bi yang kedudukan-nya sebagai Pangeran Mongol, juga Tan Beng Kui mempunyai kedudukan tinggs dan penting. Sakit hati Beng San melihat kakak kandungnya itu dihormati sebagsi seorang pembesar pemerintah Mongct yang dalam pandangan matanya malah sebaliknya, yaitu sebagai antek atau anjing pemerintah penjajah.

Melihat betapa rombongan itu memasuki ruangan setelah turun dari kuda, Beng San dengan hati-hati lalu melompat ke atas genteng di depan. Setelah mencari-cari clengan teliti dari atas, akhirnya dia tahu bahwa rombongan itu duduk dalam sebuah ruangan yang lebar dan amat terang. la membongkar genteng dan akhirnya, dapat juga pemuda itu mengintai ke bawah dengan hati-hati. Dilihatnya banyak orang di ruangan yang luas itu dan kaget juga dia melihat bahwa Hek-hwa Kui-bo dan Siauw-ong-kwi juga ber-ada di ruangan yang luas itu. Tidak ke-tinggalan Kim-thouw Thian-li dan Giam Kin yang agaknya sekarang rapat hubung-annya dengan ketua Ngo-lian-kauw itu, buktinya mereka duduk berdekatan dan Giam Kin sering kali tersenyum-senyum kepada ketua Ngo-lian-kauw yang masih cantik itu. Beberapa orahg perwira duduk pula di situ dan sekeliling ruangan ter-jaga oleh tentara yang memegang tombak.

"Saya ,menghaturkan banyak terima kasih kepada Ji-wi Locianpwe yang teJah membantu penumpasan para pemberontak sehingga berhasil dengan terbunuhnya Kwee Sin yang ternyata adalah Si-enghiong pemimpin pemberontak. Jasa Ji-wi dan para saudara tentu akan saya catat un-tuk diberi pahala," kata Pangeran Souw Kian Bi.

"Sayang sekali, Ji-enghiong yang ternyata adalah nona Lee Giok itu tak dapat tertangkap atau terbunuh," kata Beng Kui nriencela.

"Perempuan hina itu diam-diam telah lari tanpa diketahui orang selagi pertempuran hebat terjadi. Kalau tidak demikian, mana dia mampu terlepas dari tanganku?" Hek-hwa Kui-bo mendengus.

Siauw-ong-kwi tertawa bergelak. "Kui" bo, kau sendiri ketika itu repot meng-hadapi seorang pemuda sastrawan gila, mana kau ada kesempatan menangkap gadis yang diam-diam menjadi penrumpin pemberontak itu? Ha-ha-ha!"

"Iblis tua bangka, jangan sombong kau. Menghadapi seorang pemuda gila, mana aku sudi turun tangan? Sebaliknya, kau hampir tak sempat bernapas me-nahan pedang ketua Kun-lun-pai!" balas Hek-hwa Kui-bo marah.

"Sudahlah, hal yang sudah terjadi tak perlu diributkan pula," kata Tan Beng Kui, suaranya tegas. "Biarpun dia sebagai Ji-enghiong amat merugikan kita, setelah dia lari pergi, apa artinya seorang musuh seperti nona muda itu? Pula, kita dapat sekarang mengerahkan pasukan pergi menangkap orang tuanya. Dengan me-nahari orang tuanya, apakah nona itu akhirnya takkan menyerahkan diri?"

Pangeran Souw Kian Bi menggebrak meja dengan marah, mengagetkan semua orang. "Keparat betul! Siapa kira di kota raja sudah berkeliaran mata-mata pemberontak demikian banyaknya. Tan-ciang-kun, aku belum memberitahukan kepadamu. Setelah timbul dugaanku bahwa Lee Giok adalah Ji-enghiong, aku segera me-. nyuruh orang-orangku pergi menangkap orang tua she Lee itu, akan tetapi ternyata rumahnya telah kosong. Dia sekeluarga telah lari minggat dari kota raja pada malam hari itu juga."

Tan Beng Kui mengeluarkan seruan kaget. "Aihhh, kiranya begitu? Celaka betul, kalau begitu tentu ada kaki tangan pemberontak di kota raja yang telah memberitahukan lebih dahulu kepada mereka.

"Segala usaha kita digagalkan!" Pa-ngeran Souw Kian B; mengerutkan kening dan suaranya peiwh penyesalan. "Penyerbuan ke Hoa-san-pai mengorbankan banyak serdadu dan mengakibatkan ,per-musuhan baru dengan fihak Hoa-san dar Kun-lun. Ini benar-benar tak baik sekali, Apalagi kalau dilihat hasilnya hanya da-pat menawan tiga orang anak murid Hoa-san-pai yang tidak berarti."

"Selain tiga orang muda itu, kami masih menawan dua orang anggauta Pek-lian-pai," kata komandan yang memimpir» pasukan Mongol tadi, nada suaranya me-ngandung penonjolan jasa.

"Huh! Apa artinya dua orang anjihg Pek-lian-pai? Hayo gusur mereka semua ke sini! Adili mereka sekarang juga, aku sendiri hendak memeriksanya!" seru Pangeran Mongol yang mengepalai usaha pembasmian para pemberontak itu dengar suara marah. Semua orang yang beradc disitu, kecuali Hek-hwa Kui-bo dan Siauw ong-kwi bersama murid-murid mereka yang tinggal tenang-tenang saja, menjadi gugup juga melihat kemarahan pangeran yang berpengaruh tni. Aba-aba dikeluarkan dan beberapa orang serdadu pergi dari situ dengan sigapnya untuk meng-gusur para tawanan.

Yang mula-mula sekali diseret ke ruangan itu adalah seorang laki-laki setengah tua yang bertubuh kurus kecil bermata tajam. Wajahnya yang terluka parah. Kedua lengannya dibelenggu di belakang tubuhnya dan dia didorong-dorong masuk oleh empat orang serdadu.

"Berlutut kau!" Seorang serdadu mendorongnya sambil menekan tengkuknya untuk memaksa dia berlutut di depan Souw Kian Bi dan Tan Beng Kui beserta para perwira yang duduk di situ. Orang itu terhuyung-huyung hampir roboh, akan tetapi dia dapat menguasai dirinya se-hingga tidak sampai jatuh, lalu berdiri tegak menghadapi pangeran itu dan te-nian-temannya. Matanya terbuka lebar memandang penuh kebencian, tubuhnya yang kecil kurus tegak lurus, dadanya terangkat dibusungkan, sedikit pun tidak kelihatan takut-takut atau menghormat.

"Paksa jahanam ini supaya berlutut!" Tan Beng Kui membentak. Dua orang tentara melangkah rriaju dan nriulailah mereka memukul dan nienekan untuk memaksa orang itu berlutut. Akan tetapi semua usaha mereka sia-sia belaka. Sam-pai orang itu roboh karena tidak tahar akan pukulan-pukulan, tetap saja dia tidak mau berlutut!

"Ha-ha-ha, biarkan dia begitu," Pangeran Souw Kian Bi tertawa kagum. "Kau benar-benar gagah perkasa. Siapa kah namamu?"

Sambil menggigit bibir menahan sa-kit, orang itu yang sudah dapat bangkit dan kini duduk di atas lantai karen. tidak kuat berdiri lagi, menjawab dengan suara kasar dan tegas.

"Aku Gouw Bun anggauta pimpinan regu Pek-lian-pai. Sekarang sudah ter-tawan, mau bunuh boleh bunuh!"



Kembali Pangeran Souw Kian Bu ter tawa. "Orang she Gouw, kau benar-benar gagah dan patut menjadi perajurit. Usiamu paling banyak empat puluh tahur tentu kau meninggalkan keluargamu. Apakah. kau tidak ingin hidup dan mendapat kedudukan mulia dan mewah? Ingat aku, dapat mengampunimu dan malan mengangkatmu menjadi perwira kalau suka memberi keterangan tentang dua orang yang kalian sebut Si-enghiong dan J1-enghiong."

"Huh, kaukira kami orang-orang Pek-lian-pai dapat disamakan dengan orang-orang Han yang sudah suka menjadi an-jing-anjing penjilat pantat penjajah Mongol? Kami adalah laki-laki sejati, sudah berani berjuang demi tanah air dan bang-sa tidak takut mati, Kau tentu Pangeran Souw Kian Bi, Pangeran Mongol yang sudah tersohor menentang perjuangan kami. Sekarang aku Gouw Bun sudah kautawan, boleh bunuh. Ingat saja, dan antek-antek serta anjing-anjingmu, perjuangan rakyat akhirnya pasti menang dan manusia-manusia macam kalian akhirnya tentu akan terbasmi!"

Bukan main marahnya Souw Kian Bi. wajahnya yang tampan menjadi merah.

"Bawa dia keluar, robek jadi empat dengan empat ekor kuda!" perintahnya kepada para penjaga. Beng San yang mendengarkan di atas genteng merasa ngeri dan timbul keinginan hatinya untuk menolong. la sudah mendengar tentang cara-cara menghukum yang amat keji dari pangeran ini, di antaranya hukuman robek menjadi empat potong.

Hukuman ini dilakukan dengan cara mengikat dua lengan dan dua kaki orang itu pada empat ekor kuda yang kemudi-an dicambuk supaya lari ke arah empat jurusan. Dengan cara seperti ini, tubuh orang akan robek menjadi empat potong yang ditarik ke empat jurusan oleh kuda-kuda kuat itu. Bagaimana dia dapat membiarkan hal ini terjadi pada diri seorang patriot yang gagah perkasa? Harus kutolong dia, pikir Beng San dengan hati berdebar. la maklum bahwa untuk me-nolong orang itu. sama sekali tidak sukar, akan tetapi nntuk berhasil meloloskan diri dari tempat berbahaya itu masih aniat menyangsikan, apalagi kalau orang-orang sakti di dalam itu keluar semua dan menghalanginya.

Tiba-tiba dia melihat cahaya berkelebat dalam ruangan itu. Tubuh Gouw Bun yang tadinya diseret-seret oleh para penjaga itu roboh tak berkutik lagi dengan dada kiri tertembus pedang, sedangkan Tan Beng Kui nampak memamasukan lagi pedangnya yang sedikit pun tidak bernoda darah, lalu dia duduk kem-bali dengan tenang. Beng San bengong. Bukan main hebatnya gerakan kakak kandungnya itu. Mencabut pedang lang-sung menyerang dan tepat menusuk ke arah. jantung dilakukan demikian cepat dan tepatnya sehingga dia sendiri sampai silau matanya memandang, apalagi melihat betapa pedang itu sama sekali tidak bernoda darah, benar-benar merupakan gerakan ilmu pedang yang, luar biasa lihainya.

"Hebat..... hebat..... itulah ilmu pe-dang yang hebat!" terdengar Siauw-ong-kwi memuji.

"Mirip gerak tipu ilmu pedangku! Hem..... Tan-ciangkun, siapa yang meng-ajarkan gerakan itu kepadamu?" kata Hek-hwa Kui-bo. Diam-diam Beng San juga merasa heran oleh karena dia tadj pun merasa betapa gerakan ilmu pedang tadi mempunyai persamaan, setidaknya sama dasarnya dengan iJinu pedangnya, Im-yang Sin-kiam-Sut.

"Ah, ilmu pedang pungutan dari jalanan, mana ada harganya mendapat per-hatian Locianpwe?" jawab Tan Beng Kui merendah kepada Hek-hwa Kui-bo. Nenek ini masih penasaran dan hendak bertanya lagi akan tetapi ia didahului Pangeran Souw Kian Bi yang bertanya dengan suara tak senang.

"Tan-ciangkun, kenapa kau membunuhnya? Apa kau tidak suka mendengar dia kujatuhi hukuman tadi?"

Tan Beng Kui tersenyum dan menjuru kepada Souw Kian Bi. "Harap Taijin maafkan kepadaku. Aku tadi tak kuat menahan kemarahan menyaksikan kesombongan sikap setan .pemberontak itu, maka telah berani turun tangan sendiri untuk melampiaskan kemarahan. Baru puas hatiku kalau sudah membunuhnya dengan tangan sendiri."

Souw Kian Bi tersenyum juga. "Kau agaknya luar biasa bencimu kepada orang Pek-lian-pai. Ha-ha-ha....." Lalu kepada para penjaga pangeran ini memberi perintah supaya menibawa pergi mayat itu dan menyeret masuk orang kedua.

Hati Beng San panas dan perih. Ia merasa kecewa sekali melihat kenyataan betapa kakak kandungnya memusuhi para pejuang yang dianggapnya pemberontak, Melihat kakak kandungnya sendiri dengar ganas membunuh seorang Pek-lian-pai yang demikian gagah perkasa dan patriotik, sungguh membuat Beng San merasa penasaran, kecewa dan marah. Kalau kau tak dapat mengubah pendirian, agaknya aku sendiri akan nnemiisuhimu, pikirnya sambil memandang kepada kakak kandungnya yang sudah duduk di sebelah Souw Kian Bi melihat orang kedua yang sudah diseret masnk. Orang ini masih niuda, belum tiga puluh tahun usianya, tubuhnya besar dan kuat, mukanya gagah. Dilihat tubuh dan mukanya, benar-benar jauh bedanya dengan orang pertama tadi. Akan tetapi alangkah jauh pula bedanya sikap orang ini dengan yang tadi. Begitu diseret masuk, orang ini sudah mengeluh dan tanpa diperintah lagi dia menjatuh-kan diri berlutut di depan Pangeran Souw Kian Bi. Melihat sikap ini saja sudah muak perut Beng San.

"Siapa namamu dan apa yang hendak kaukatakan setelah kau tertawan?" tanya Pangeran Souw Kian Bi, agaknya gembira melihat sikap tawanan ini.

"Hamba Bhe Ti Gi, hamba..... hamba mohon pengampunan Taijin..... hamba adalah seorang bekas pedagang di Kwi-bin, hamba..... hamba hanya ikut-ikutan saja di Pek-lian-pai, bukan apa-apa..... hamba mohon ampun....." Orang itu lalu menangis ketakutan.

"Pengecut hina!" Beng San memaki dalam hatinya dan ingin sekali dia menampar muka orang itu. Akan tetapi Souw Kian Bi tertawa bergelak lalu bertanya, suaranya halus.

"Bhe Ti Gi, gampang memberi ampun. Akan tetapi kau harus memberi keterang-an tentang dua orang pemimpinmu di kota raja, yaitu Ji-enghiong dan Si-enghiong. Apa yang kauketahui tentang mereka?

Dengan muka berseri penuh harapan orang itu mengangkat muka dan berkata.

"Tentu saja hamba tahu tentang diri mereka itu, Taijin! Akan tetapi, sesudah hamba memberi keterangan, betulkahhamba akan diampuni dan dibebaskan?"

"Sraaattt!" Sinar pedang menyilaukan mata ketika Beng Kui mencabut pedangnya dan membentak, "Bedebah kau! Keparat berlidah ular! Tak usah kau memutar-mutar omongan, kalau tahu tentang mereka berdua, lekas ceritakan. Soal pengampunan tak perlu disebut-sebut!" Pedangnya tergetar di tangannya membuat tawanan itu menjadi pucat sekali.

Hemmm, Benar-benar dia benci kepada para pejuang, pikir Beng San. Akan tetapi kali ini tidak panas hatinya karena memang dia pun benci kepada Bhe Ti Gi yang berwatak khianat dan pengecut itu.

"Am..... ampun....." Bhe Ti Gi gemetar seluruh tubuhnya, "hamba..... hamba tahu tentang Ji-enghiong dan Si-enghiong ..... memang semenjak bertahun-tahun nnereka itu terkenal sebagai pemimpin-pemimpin rahasia di kota raja. Banyak mereka memberi tahu kepada kami tentang keadaan pertahanan pasukan pemerintah. Tapi tak seorang pun di antara kami semua tahu bahwa Si-enghiong adalah Kwee Sin murid Kun-lun-pai sedangkan 'Ji-enghiong adalah nona yang bernama Lee Giok itu....."



"Nah, berterus terang lebih baik," kata Tan Beng Kui sambil menyimpan pedangnya lagi.

"Katakan sekarang kemana larinya nona Lee Giok atau Ji-enghiong itu, jawab dan jangan membohong!"

"Hamba..... hamba mana tahu.....?" Hamba hanya anggauta biasa..... hamba tidak tahu dan mohon ampun....."

"Hemrnm, tikus macam ini untuk apa dilayani lagi, Taijin? Tak patut diberi ampun, lebih baik dihukum mampus agar semua anggauta Pek-lian-pai yang mendengar menjadi ketakutan," kata pula Tan Beng Kui dengan suara kejam.

Souw Kian Bi tertawa lalu memberi perintah kepada para penjaga.

"Beri hadiah seratus kali rangketan!"

Bhe Ti Gi mengeluh dan memohon ampun, akan tetapi dengan kasar para penjaga lalu meniaksa dia menelungkup, kemudian terdengar suara gebukan berkali-kali diseling Jerit kesakitan tawanan itu.

"Goblok! Kenapa memukul seperti orang ketaparan tak bertenaga lagi? Pukul yang keras, pada punggungnya!" bentak Tan Beng Kui.

Kasihan juga Bhe Ti Gi. Pukulan tadi saja kalau dilanjutkan sampai seratus kali, tentu dia takkan tahan. Sekaiang karena teguran Tan Beng Kui, algojo yang melakukan hukuman ini memperkeras pukulannya sehingga dia menjerit-jerit seperti babi disembelih diiringi suara ketawa para perwira dan serdaduj Barn empat puluh kali saja tulang pung-gungnya sudah patah-patah dan dia ber-kelojotan lalu tak berkutik lagi. Souw Kian Bi memberi perintah supaya mayat kedua ini pun disingkirkan dari situ, kemudian menyuruh para penjaga dengan suara keras.

"Bawa masuk tiga orang murid Hoa-san-pai1"'

Berdebar jantung Beng San mendengar perintah ini. Tadi melihat. penyiksaan terhadap diri Bhe Ti Gi, timbul juga perasaan kasihan dihatinya, namun ditahan-tahankannya karena dia maklum bahwa menolong Bhe Ti Gi berarti men-datangkan bahaya besar bagi dirinya sen-diri. Sedangkan tujuan kedatangannya ke tempat itu adalah untuk menolong murid-murid Hoa-san-pai terutama Kwa Hong, maka dia menahan sabar memalingkan muka -tidak mau memandang penyiksaan itu. Sekarang mendengar bahwa murid-murid Hoa-san-pai hendak dibawa masuk, dia memandang penuh perhatian dan bersiap-siap menolong. la telah memper-hitungkan bahwa kiranya di tempat seperti ini tak mungkin baginya untuk menolong tiga orang itu sekaligus, maka dia mengambil keputusan untuk menoiong Kwa Hong seorang lebih dahulu, baru kemudian merencanakan pertolongan Thifc Ki dan Kui Lok.

Tiga orang muda itu, Kwa Hong, Thio Ki dan Kui Lok, digiring masuk ruangan. Seperti juga yang lain-lain, mereka dibelenggu kedua tengan mereka ke belakang. Akan tetapi tiga orang ini bersikap gagah, melangkah maju dengan kepala dikedikkan dan dada dibiisungkan sedangkan sepasang mata mereka memandang tajam ke depan, penuh sikap menantang. Diam-diam Beng San kagum sekali melihat sikap tiga orang murid Hoa-san-pai ini. Dan jantungnya berdebar ketika dia melihat wajah Kwa Hong yang i< cantik jelita itu agak pucat, sepasang iriata yang biasanya berseri dan bening itu kini berkilat-kilat penuh kenriarahan. Kwa Hong, kau gagah dan cantik sekali, bisik hatinya dan keinginannya untuk rnenolong gadis ini makin menggelora, kalan perlu akan dia pertaruhkan nyawanya.

Agaknya karena maklum bahwa tiga orang muda ini bukanlah tergolong pem-berontak dan terdiri dari orang-orang gagah perkasa, para penjaga tidak berlaku kasar seperti terhadap yang lain tadi. Mereka bertiga berdiri tegak di depan Souw Kian Bi dengan sikap angkuh dan berani.

"Ha-ha-ha, murid-murid Hoa-san-pa? benar-benar sombong! Hemmm, hendak kulihat nanti kalau kalian sudah nienggeletak tak berkepala tagi, apakah masih dapat bersikap sonribong seperti sekararig ini," kata Pangeran Souw Kian Bi dengan suara mengejek untuk menyembunyikan perasaannya yang tersinggung oieh sikap tiga orang muda ini. "Dan hendak kulihat juga apakah tua bangka Lian Bu Tojin yang melanggar janjinya itu dapat menolong kalian. Ha-ha-ha!"

"Manusia berbatin rendah!" terdengar suara Kwa Hong memaki, suaranya nya-rlng sekali. "Siapakah yang takut akan mati? Anak murid Hoa-san-pai tidak takut mat't dan kalau kau si hina hendak membunuh kami, silakan, silakan. Tak perlu kau menyebut-nyebut nama besar guru kami. Adalah kau yang berbuat hina, dahulu kau telah menculik aku dan suciku dan kaupergunakan itu nntuk me-maksa suhu berjanji untuk tidak meni-bantu kauin pejuang. Akan tetapi, kira-nya kau yang melanggar j'anji, kau da-tang membawa anjing-anjingmu menyerbn Hoa-san. Hemmm, mati sebagai orang gagah seribu kali lebih baik daripada hidup sebagai manusia rendah macam engkau!

Hampir saja Beng San bertepuk tangan memuji mendengar ucapan dar melihat sikap Kwa Hong yang gagah perkasa ini. Souw Kian Bi memukul meja di depannya sehingga terdengar suara Keras.

"Perempuan liar. Di sini kau masih hendak bersikap gagah-gagahan? Hermm, hukuman mati masih terlampau ringan bagimu setelah kau berani mengeluarkan ucapan kurang ajar tadi. Lihat nanti, aku akan membikin kau menjadi lebih hina daripada yang paling hina. Aku akan memberikan kau sebagai barang permainan sepasukan tentaraku yang paling rendah pangkatnya. Ha-ha-ha!" Suara ketawa Pangeran Souw Kian Bi menyeramkan sekali dan Beng San melihat betapa wajah Kwa Hong menjadi makin pucat dan tubuh gadis itu menggigil, akan tetapi tetap saja gadis itu rmemandang kepada pangeran ini dengan mata mendelik.

Beng San bergidik ketika mendengar ucapan pangeran itu dan melihat betapa serdadu-serdadu yang berdiri di barisan belakang tertawa-tawa dan saling berbisik dengan sikap kurang ajar sekali. Juga dia melihat Kui Lok dan Thio. Ki menjadi pucat. Thio Ki menoleh ke arah Kwa Hong, lalu berkata.

"Sumoi, berkatalah sedikit halus, ingat bahwa kita telah berada di tangan musuh. Biarlah aku menyerahkan nyawaku untuk keselamatanmu." Kemudian pemuda ini berkata kepada Souw Kian Bi, "Taijin, kami tiga orang murid Hoa-san-pai tidak gentar menghadapi hukuman mati. Akan tetapi, demi prikemanusiaan, jangan menjatuhkan hukuman yang demikian hina dan rendah kepada sumoiku. Kalian boleh menghukum aku, boleh mencincang hancur tubuhku, akan tetapi, bebaskanlah sumoiku ini. Biarlah badanku menjadi penggantinya."'



Kui Lok cepat berkata, "Tidak! Akulah yang bersedia menggantikan hukuman Hong-moi. Taijin, aku cinta kepada Hong-moi, jangan ganggu dia, biarlah kaujatuhkan hukuman yang sehebat-hebatnya kepada diriku saja asal kaubebaskan Hong-moi!"

"Lok-te, tutup mulutmu! Hong-moi adalah tunanganku, calon isteriku. Kwa-supek sudah merencanakan untuk menjodohkan dia dengan aku. Maka sebagai tunangannya, akulah yang patut membelanya dengan pengorbanan jiwa

"Siapa bilang bertunangan? Hal itu belum resmi dan Hong-moi sendiri pun belum menerimanya. Dia tidak mencinta padamu, dan aku..... cintaku kepadanya lebih besar dan suci!"

Beng San menggeleng-geleng kepalanya. Tolol mereka berdua, pikirnya. Masa di dalam keadaan seperti itu mereka masih memperebutkan cinta kasih Kwa Hong? Juga Kwa Hong menjadi gemas sekali. "Ji-wi Suheng mengapa meributkan urusan itu? Apa pun hukumannya, akhirnya orang mesti mati, Siapa takut mati?"

Sementara itu, kelihatan Tan Beng Kui berbisik-bisik kepada Pangeran Souw Kian Bi dan pangeran itu mengangguk-angguk dan tersenyum seperti iblis. Diam-diam Beng San mendongkol sekali. Celaka, pikirnya. Kakak kandungnya itu ternyata jahat dan berbisa melebihi ular, tentu sudah mengajukan usul yang amat keji untuk menghukum tiga orang murid Hoa-san-pai ini. Akan tetapi dia merasa belum waktunya turun tangan, hendak melihat perkembangannya terlebih jauh.

Souw Kian Bi sudah tertawa lagi, suara ketawanya licik, lalu dia berkata, "Seorang di antara kalian berani rela berkorban? tanyanya jelas ditujukan kepada Thio Ki dan Kui Lok.

"Aku rela berkorban nyawa untuk sumoi!" kata Thio Ki.

"Tidak, lebih baik aku saja. Aku akan mati seribu kali untuk menolong Hong-moi yang tercinta," kata Kui Lok.

Pangeran itu tertawa lagi. "Bagus, kalian ini orang-orang muda mabuk cinta. Kalau seorang di antara kalian mati, yang lain akan bebas dan pergi bersama nona ini menjadi suaminya. Nah, sekali lagi, siapa di antara katian mau mati dan merriberikan nona ini kepada yang lain?"

Wajah dua orang saudara itu seketika menjadi pucat, mulut mereka terbuka tapi tidak ada suara keluar. Sampai lama mereka diam saja dan hanya suara ke-tawa Souw Kian Bi dan Tan Beng Kui yang terdengar. Diam-diam Beng San gemas sekali kepada dua orang muda murid Hoa-san-pai itu. Benar-benar tolol dan mau saja dijadikan bahan kelakar.

"Sekarang keputusanku begini," kata pula Souw Kian Bi setelah berkedip main mata kepada Tan Beng Kui. "Kalian berdua boleh bertanding dan nona ini akan kuberikan keoada pemenang pertandingan." Setelah berkata demikian, pangeran ini mencabut pedangnya dan dua kali tabas terbebaslah belenggu yang meng-ikat tangan kedua orang muda itu. "Ambilkan dua batang pedang," katanya lagi. Dua orang penjaga maju menyerahkan dua batang pedang kepada Thio Ki dan Kui Lok. Seperti orang dalam mimpi tanpa disadari lagi dua orang muda itu menerima pedang di tangan, sinar mata mereka penuh dendam dan nafsu mem-bunuh!

"Thio-suheng dan Kui-suheng, apakah kalian telah gila?" teriak Kwa Hong dengan gemas sekali. "Setelah bersenjata tidak segera menghancurkan musuh, malah saling gempur sendiri. Mana kegagahan kalian?"

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Silat Indonesia Download

Silahkan download Cerita Halaman ke 1 Serial Putri Hatum dan Kaisar Putri Harum dan Kaisar Jilid 1 Putri Harum dan Kaisar Jilid 2 dan 3 Putri Harum dan Kaisar Jilid 4 dan 5 Putri Harum dan Kaisar Jilid 6 dan 7 Putri Harum dan Kaisar Jilid 8 dan 9 Putri Harum dan Kaisar Jilid 10 dan 11 Putri Harum dan Kaisar Jilid 12 dan 13 Putri Harum dan Kaisar Jilid 14 dan 15 Putri Harum dan Kaisar Jilid 16 dan 17 Putri Harum dan Kaisar Jilid 18 dan 19 Putri Harum dan Kaisar Jilid 20 dan 21 Putri Harum dan Kaisar Jilid 22 dan 23 Putri Harum dan Kaisar Jilid 24 dan 25 Putri Harum dan Kaisar Jilid 26 dan 27 Putri Harum dan Kaisar Jilid 28 dan 29 Putri Harum dan Kaisar Jilid 30 dan 31 Putri Harum dan Kaisar Jilid 32 dan 33 Putri Harum dan Kaisar Jilid 34 dan 35 Putri Harum dan Kaisar Jilid 36 dan 37 Serial Pedang Kayu Harum Lengkap PedangKayuHarum.txt PKH02-Petualang_Asmara.pdf PKH03-DewiMaut.pdf PKH04-PendekarLembahNaga.pdf PKH05-PendekarSadis.pdf PKH06-HartaKarunJenghisKhan.pdf PKH07-SilumanGoaTengkor...

Komunikasi Data

Link ini juga saya letakkan di ebook campuran http://www.ziddu.com/download/3344575/Komdat1.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344576/Komdat5.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344577/Komdat4.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344578/Komdat3.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344579/Komdat2.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344815/Komdat9.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344816/Komdat6.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344817/Komdat7.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344818/Komdat8.pdf.html

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau!...