"Nona Lee..... eh, Siok-moi..... aku....? Mendengar suara ini Lee Giok tidak pedulikan semua orang dan cepat berlutut, kau hati-hatilah..... mereka sudah tahu..... sudah mulai curiga..... kita sudah mereka ketahui..... awas..... lekas peringatkan dia....."
"Siapa?" Lee Giok bertanya, suaranyaa tergetar, air matanya mengucur deras.
"Ji-enghiong...,."
"Siapa dia? Siapakah Ji-enghiong? Kau lekas katakan, aku sendiri sampai sekarang belum tahu siapa Ji-enghiong. Lekas katakan....."
"Dia..... dia..... ahhhhh....;11' Kwett Sin tak dapat melanjutkan kata-katanya karena sudah kehilangan nyawanya. Lee Giok memeluk dan menangis tersedu-sedu, tak peduli bahwa darah dari ieher Kwee Sin membasahi muka dan pakaian-nya. Semua orang terharu juga melihat ini dan tak terasa air mata Sian Hwa juga menjadi basah.
Pek Gan Siansu tidak tega hatinya. "Lim Kwi, kaurawatlah baik-baik jenazah Kwee Sin. Biarpun dia bukan muridku lagi tapi....." Lim Kwi yang pada dasarnya berwatak penuh welas asih dan dia memang suka kepada Kwee Sin, segera, melangkah maju hendak mengangkat jenazah Kwee Sin. Akan tetapi Lee Giok membentak.
"Jangan sentuh dia!" la lalu bangkit berdiri, dadanya turun naik", napasnya memburu, matanya berkilat-kilat, wajahnya pucat dan menjadi mengerikan karena berlepotan darah Kwee Sin.
"Kalian tak berharga untuk menyentuhnya! Kalian ini pengecut-pengecut tak tahu malu. Bermata dua tapi buta tak melihat, tak dapat membedakan mana yang palsu mana yang tulen, tidak tahu mana yang baik mana yang buruk. Kalian tidak tahu siapa dia yang kalian paksa bunuh diri ini? Dia adalah orang ke dua di kota raja yang memimpin para pejuang melakukan gerakan di bawah tanah. Dia adalah orang kepercayaan Ciu-taihiap. Kalian tahu mengapa dia melakukan hubungan dengan Kim-thouw Thian-li? Hal itu disengaja, karena merupakan rencana dari atasan. Kalau dia tidak mendekati Kim-thouw Thian-li, mana dia bisa memasuki kotaraja, dapat kepercayaan orang-orang yang berkuasa di kota raja? Dia sengaja mengorbankan perasaannya, sengaja menghubungi Kim-thouw Thian-li sehingga para pembesar di kota raja percaya kepadanya, sehingga dengan aman dan mudah dia dapat mengorek rahasia-rahasia ketentaraan dan dapat membantu dan memberi petunjuk kepada saudara-saudara seperjuangan yang bergerak di luar kota raja! Jasa-jasanya untuk perjuangan sudah banyak sekali, dia seorang patriot sejati yang tidak segan-segan mengorbankan perasaan, mengorbankan kekasih, me-ngorbankan segalanya untuk tanah air dan bangsa. Dan kalian ini..... orang-orang yang hanya ingat akan kepentingan diri sendiri, tidak peduli akan perjuangan bangsa malah ribut saling gontok-gontokan antara saudara sendiri, orang-orang ma-cam kalian ini sekarang memaksa dia membunuh diri? Celaka..... celaka..... semoga Thian mengutuk kalian semua!" Lee Giok menangis lagi dan semua orahg yang berada di situ terpaku dengan muka pucat dan sinar mata bingung. Tak tekecuali Pek Gan Siansu dan Lian Bu Tojin yang saling pandang dengan muka pucat dan sedih. Mereka masih ragu-ragu akan kebenaran semua keterangan nona yang tidak mereka kenal itu. Keterangan ini terlalu aneh, terlalu asing sehingga kelihatan agak mustahil. Kwee Sin menjadi pemimpin peju'ang di kota raja? Dan semua kelakuannya yang di-pandang rendah itu adalah siasat untuk perjuangan?
Akan tetapi keterangan mereka itu lenyap seketika setelah terjadi hal berikutnya. Tiba-tiba terdengar suara teriakan-teriakan, "Tangkap pemberontak! Tangkap mata-mata pemberontak!" Dan muncullah rombongan pasukan tentara pemerintah yang bersenjata lengkap, jumlahnya seratus orang lebih! Bukan main kaget hati Pek Gan Sjansu dan Lian Bu Tojin ketika melihat bahwa di antara pasukan ittl terdapat seorang wanita yang cantik berusia empat puluh tahun lebih, membawa saputangan sutera beraneka warna dan seorang kakek berbaju kuning. Betapa tidak akan kaget hati mereka karena wanita yang sebenarnya sudah berusia enam puluh tahun itu adalah Hek-hwa Kui-bo, sedangkan kakek itu adalah tokoh utara yang paling terkenal, yaitu Siauw-ong-kwi Si Raja Setan Cilik, guru dari Giam Kin pemuda pemelihara ular. Pemuda itu sendiri juga tampak terse-nyum-senyum, matanya liar menyambar-nyambar ke arah Kwa Hong dan Thio Bwee. Di sampingnya terlihat seorang wanita cantik yang bersikap genit, berpakaian indah dan pesolek. Kim-thouw Thian-li!
Begitu melihat tubuh Kwee Sin yang menggeletak mandi darah di atas tanah, Kim-thouw Thian-li melompat mendekati. Tadinya orang mengira bahwa ia tentu akan menangis menggerung-gerung me-nyedihi kematian kekasihnya itu, akan tetapi siapa kira, setelah melihat bahwa Kwee Sin betul-betul sudah i-nati, ia lalu meludah ke arah tubuh itu sambil berkata.
"Cih, keparat keji! Bertahun-tahun kau menipuku, kusangka betul-betul setia, kiranya kau pemimpin mata-mata anjing pemberontak!" Kakinya diangkat dan menendang muka mayat itu.
"Kim-thouw Thian-li situman betina, langan kauhina dia!" Lee Giok marah sekali, melompat dan memukul kepada ketua Ngo-lian-kauw itu. Kim-thouw Thian-li menangkis. "Plak!" Dua lengan halus bertemu dan keduanya terhuyung rnundur. Diam-diam Kim-thouw Thian-li kaget, sama sekali tidak menyangka bahwa nona yang bisa menjadi pembantu Pangeran Souw Kian Bi ini ternyata memiliki kepandaian yang tinggi juga, Pantas Ia 'menjadi pemimpin mata-mata seperti yang disangka oleh Pangeran Souw Kian Bi, pikirnya.
"Hemmm, kau inikah yang selama ini diam-diam menjadi Ji-enghiong?" ejek Kim-thouw Thian-li dengan suara dingin.
Lee Giok nampak terkejut sekali.
"Apa kau bilang ba..... bagaimana kaiji bisa tahu tentang Ji-enghiong?"
"Hi-hi-hi, mata-mata hina! Kami sudah tahu bahwa Kwee Sin si keparat itu adalah Si-enghiong, dan kau adalah Ji-enghiong? Kalian memimpin mata-mata pemberontak di kota raja."
Tiba-tiba Lee Giok tertawa girang. "Bagus, bagus! Jadi kau sudah tahu sekarang? Memang betul, Kim-thouw Thian-li, Kwee-enghiong ini adalah permimpin mata-mata pejuang yang memang bernama Si-enghiong. Jadi selama ini dia bekerja untuk kepentingan para pejuang. Pembesar-pembesar di kota raja diper-mainkan termasuk kau. Kaukira dia betul-betul cinta kepada siluman macammu? Cih, tak tahu malu. Dan aku..... aku memang Ji-enghiong. Nah, kau mau apa?"
Bukan main marahnya hati Kim-thouw Thian-li mendengar ejekan-ejekar ini. Jangan gerak mata cerdik Kirn-thouw Tllian-li memandang kepada fihak Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai. "Cuwi sekalian dari Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai, perempuan ini adalah seorang pemimpin pem-berontak, terpaksa aku dan teman-teman hendak menangkapnya hidup-hidup untuk kubawa ke kota raja."
Akan tetapi sementara itu Liem Sian Hwa sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi. Inilah Kim-thouw Thian-li, perempuan yang tidak saja merenggut nyawa ayahnya, akan tetapi bahkan yang merampas tunangannya. Sekarang mendengar wanita ini hendak membujuk gurunya dan Pek Gan Siansu.
Ia menerjang dan memaki.
"Siluman keji, kau telah membunuh ayahku. Rasakan pembalasanku!" Pedangnya berkelebat menusuk. Kim-thouw Thian-li tertawa dan mengelak, cepat mengeluarkan golok dan membalas serangan Sian Hwa.
Sementara itu, Pek Gan Siansu dar» Lian Bu Tojin terbangun semangat mereka setelah mendengar dan melihat sendiri kenyataan bahwa Kwee Sin benar-benar seorang pemimpin pejuang, ditambah oleh sikap Lee Giok yang gagah perkasa dan patriotik. Dua orang kakek ini begitu bertukar pandang sudah nengambil keputusan yang sama, yaitu membela Lee Giok demi penghargaan mereka terhadap perjuangan Kwee Sin. Sekarang melihat bahwa Sian Hwa telah bertempur melawan Kim-thouw Thian-li dan hal ini tak mungkin mereka hentikan atau cegah mengingat bahwa Sian Hwa tentu akan nekat membalas dendam, melihat pula bahwa bentrokan antara mereka dan fihak pemerintah tak dapat dicegah lagi, lalu keduanya melangkah maju, siap menghadapi segala kemungkinan. Thio Ki dan Kui Lok juga meloncat maju membantu bibi guru mereka.
"Siluman Ngo-lian-kauw, kau pem-bunuh ayah kami!" teriak mereka sambil menerjang maju. Kim-thouw Thian-li masih tertawa-tawa dan menghadapi tiga orang itu dengan mainkan goloknya.
"Lian Bu Totiang, apa kau membiarkan saja anak-anak muridmu memberontak?" Hek-hwa Kui-bo meloncat niaju ke depan ketua Hoa-san-pai. Loncatannya luar biasa sekali, seperti tidak bergerak kedua kakinya tapi tahu-tahu tubuhnya sudah berkelebat ke depan kakek Hoa-san-pai itu. Semua orang yang melihat ini menjadi kagum dan juga keder. Akan tetapi Lian Bu Tojin dengan sikapnya yang keren dan pedang pusaka yang tadi dipergunakan Kwee Sin membunuh diri di tangan kanannya, memandang nenek yang kelihatannya muda itu sambil berkata.
"Hek-hwa Kui-bo, enak saja kau me-mutarbalikkan fakta. Adalah kau yang membiarkan muridmu Kim-thouw Thian-li itu untuk melakukan perbuatan fitnah dan mengadu domba antara Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai, membiarkan muridmu membunuh murid-murid Hoa-san-pai dan kau selalu malah membantunya. Sekarangt kau datang pura-pura mencela kepadat pinto. Heh, biarpun kau lihai, namun kejahatanmu pasti takkan membawa kau kepada kebahagiaan dan keselamatan."
"Hi-hi-hi, tosu bau. Kaulah yang akan? mampus, masih banyak tingkah lagi. Dengan mengeluarkan suara melengking aneh, Hek-hwa Kui-bo menggerakkan tangan. Tahu-tahu sebatang pedang telah berada di tangannya dan cepat ia me-nyerang ketua Hoa-san-pai itu. Lian Bu Tojin maklum akan kelihaian wanita ini, maka dia tidak berani berayal, cepat-cepat menangkis dan balas menyerang. Seperti juga ketika ketua Hoa-san-pai ini mengejar Hek-hwa Kui-bo pada waktui nenek ini menculik Kwee Sin, sekarang Lian Bun Tojin mendapat kenyataan bahwa ilmu pedang darl nenek ini hebat bukan main, kelihatan tidak mengandung tenaga besar akan tetapi hawa pedangnya dingin dan cepat. Inilah Ilmu Pedang Im-sin-kiam yang dipelajari nenek ini dari kitab yang ia curi atau rampas dari Phoa Ti. Biarpun Lian Bu Tojin sudah menge-luarkan seluruh ilmu pedangnya, namun tetap saja semua kekuatan Ilmu Pedang Hoa-san Kiam-sut seakan-akan ditelan oleh hawa dingin ilmu pedang Hek-hwa Kui-bo. Betapapun juga, Lian Bu Tojin adalah seorang pendeta yang mengutama-kan kehidupan suci dan bersih, maka daya tahan dalam tubuhnya amat kuat dan tidak mudah bagi Hek-hwa Kui-bo untuk merobohkannya secara cepat.
"Heh-heh-heh, nona-nona manis, mari Nta "main-main sebentar!" Giam Kin ternyata sudah melompat maju dan de-ngan sikap ceriwis sekali mengulur kedua tangannya untuk menangkap Kwa Hong dan Thio Bwee. Dua orang gadis ini mem-bentak dan memaki, sambij mengelak dan mencabut pedang lalu dengan gemas mereka mengeroyok Giam Kin.
Sementara itu, Bun Lim Kwi sejak tadi memandang ke arah Giam Kin, ma-ka ketika mendengar Kwa Hong dan Thio Bwee memaki-maki dan menyebut nama pemuda muka pucat itu, darahnya segera naik. Jadi inikah orang yang bernama Giam Kin, yang secara pengecut pernatt menyerang dan merobohkannya ketika dia bertempur melawan Thio Eng dahulu itu? Hampir saja nyawanya melayang karena pemuda muka pucat yang jahat itu.
"Suhu, dialah orangnya yang hampir saja menewaskan teecu dengan penyerangannya yang curang. Teecu hendak membalas," bisiknya kepada Pek Gan Siansu Ketua Kun-lun-pai ini mengangguk, berkata perlahan.
"Sudah sepatutnya sekarang kita membantu Hoa-san-pai menghadapi orang-orang jahat itu."
Dengan girang Bun Lim Kwi men-cabut pedangnya dan menerjang Giam Kin yang sedang melayani dua orang gadis Hoa-san-pai dengan enak sambil menggoda mereka dengan omongan kasar dan kotor itu.
"Nona berdua harap mundur, biarkan aku memberi hajaran kepada manusia bermulut kotor ini!" bentak Bun Lim Kwi sambil memutar pedangnya. Akan tetapi karena amat marah kepada Giam Kin, Kwa Hong dan Thio Bwee mana mau meninggalkannya? Dengan demikian Giam Kin segera terkepung dan dikeroyok tiga. Giam Kin sibuk sekali. Biarpun dia amat lihai namun dikeroyok oleh tiga orang ini, apalagi ilmu silat Bun Lim Kwi me-mang hebat, segera dia terdesak dan sibuk menangkis ke sana kemari.
"Hemmm, curang..... curang.....! Ku-lihat ilmu pedang Kun-lun-pai ikut mem-bela Hoa-san-pai?" Suara ini keluar dari mulut Siauw-ong-kwi yang melangkah maju hendak menolong muridnya. Akan . tetapi tiba-tiba bayangan putih berkelebat dan Pek Gan Siansu sudah berdiri di depannya dengan pedang pusaka Kun-lun-pai di tangan.
"Perlahan dulu, Siauw-ong-kwi. Biar-kan bocah sama bocah, tua bangka se-. perti kau lawannya juga tua bangka seperti aku!"
Siauw-og-kwi membelalakkan matanya dan tertawa. "Ha-ha-ha, sejak kapan Kun-lun-pai menjadi pembantu para pemberontak?"
"Sejak orang-orang seperti engkau membantu penjajah menindas rakyat," jawab ketua Kun-lun-pai tenang.
"0-ho, Pek Gan Siansu, artinya kau -menantang Siauw-ong-kwi?"
"Pinto tidak menantang siapapun suga. Akan tetapi, Siauw-ong-kwi, sejak du^^& pinto mengenal nama Siauw-ong-kwi sebagai seorang aneh yang tidak suka melanggar kepantasan, seorang tokoh utama di utara yang tidak berlepotan lumpur, kejahatan. Kiranya sekarang kau terseret ke dalam perangkap penjajah, malah kau membiarkan muridmu berlaku keji dan jahat tanpa menghukumnya. Muridmu secara curang pernah berusaha membunuh muridku, sekarang kau hendak membantunya pula. Mana pinto dapat diamkan saja?"
"Bagus Pek Gan Siansu, antara kita terdapat perbedaan faham, kau sebagai antek pemberontak dan aku sebagai antek pemerintah. Mari, mari..... kita ber-main-main sebentar, sudah lama tanganku gatal-gatal untuk merasai lihainya pedang Kun-lun-pai!" Dua orang ini segera bergerak dan bertandinglah kedua-nya. Pedang Pek Gan Siansu tak usah disangsikan lagi amat hebat gerakannya, kuat dan biarpun digerakkan secara lam-bat, namun sinar pedangnya saja cukup untuk merobohkan lawan yang kuat. Di lain fihak, Siauw-ong-kwi adalah seorang tokoh paling lihai dari utara. Ilmu silatnya aneh, berinti ilmu tangkap yang, menjadi dasar ilmu gulat Mongol, seka-rang dia mainkan dengan kedua ujung tangan bajunya yang panjang sehingga sekelebatan tampaknya seolah-olah Siauw-ong-kwi mainkan sepasang pedang. Ja-ngan dipandang rendah sepasang ujung lengan baju ini. Biarpun terbuat daripada kain lemas biasa, namun mengandung tenaga Iweekang yang hebat, kuat untuk menangkis pedang, kadang-kadang lemas mengancam lawan dengan jiratan maut, fcadang-kadang kaku seperti pedang baja
atau seperti toya besi!
Kim-thouw Thian-li yang melihat betapa kedua fihak sudah saling gempur segera bersuit keras dan pasukan pemerintah itu serentak bergerak menyerbu keatas sambil berteriak-teriak hiruk-pikuk. Para tosu Hoa-san-pai melihat hal ini tanpa menanti perintah lagi segera memapaki dan terjadilah perang kecil yang cukup hebat di puncak Hoa-san-pai itu. Akan tetapi ternyata keadaan amat tidak menguntungkan fihak Hoa-san-pai. jumlah pasukan pemerintah tidak saja lebih besar, juga mereka ini memang pasukan pilihan yang sengaja dikirim oleh Pangeran Souw Kian Bi, pasukan yang terjadi dari serdadu-serdadu yang kosen dan ahli golok, lebih terkenal disebut Barisan Golok Maut. Sebentar saja belasan orang tosu Hoa-san-pai roboh terbacok golok dan keadaannya amat terdesak.
Keadaan pertempuran yang dihadapi para jago Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai itu juga amat buruk. Menghadapi Sian Hwa yang dibantu dua orang murid keponakannya, Thio Ki dan Kui Lok, ketua Ngo-lian-kauw, Kim-thouw Thian-Ii ternyata jauh lebih lihai. Permainan golok-nya biarpun lihai dan aneh, masih belum mampu menindih ilmu pedang tiga orang murid Hoa-san-pai ini, akan tetapi setelah Kim-thouw Thian-li mengeluarkan selendang merahnya yang mengandung hawa beracun, pada saat yang amat tak terduga-duga ia mengebutkan selendang merah. Bau harum semerbak menyambar. Thio Ki dan Kui Lok yang masih kurang pengalaman, kurang cepat menghindar dan robohlah mereka bergulingan dalam keadaan pingsan. Liem Sian Hwa yang menjadi marah sekali inempergunakan kesempatan itu, selagi Kim-thouw Thian-li tertawa-tawa kegirangan dan memerin-tahkan beberapa serdadu untuk menawan dua orang pemuda ini, cepat melompat tinggi setelah tadi berhasil mengguling-kan tubuh menghindarkan hawa beracun, kemudian dari atas ia menggunakan, ge-rak tipu Hui-liong-jip-hai (Naga Terbang Memasuki Lautan), pedangnya bergerak cepat menyerang lawannya. Tidak percuma nona ini dijuluki Kiam-eng-cu (Bayangan Pedang), gerakannya cepat sekali, sehingga bayangan tubuhnya dan sinar pedang menjadi satu. Kim-thouw Thian-li kaget bukan main, cepat menangkis dengan golok dan miringkan tubuh ber-usaha menyelamatkan diri. Akan tetapi tetap saja ujung pedang Sian Hwa secara kilat sudah menyerempet pundaknya sehingga baju di bagian pundak terbabat robek berikut kulitnya yang putih halus? dan darah bercucuran keluar.
"Keparat, rasakan pembalasanku1'' Kim-thouw Thian-li berseru keras, cepat memberi bubuk obat kepada pundaknya yang terluka, kemudian dengan kemarah-an yang meluap-luap ia menerjang Liem Sian Hwa dengan nafsu membunuh. Sian Hwa memutar pedang mempertahankan, diri, namun maklum bahwa ia kalah tenaga dan bingung menghadapi ilmu golok yang aneh dan ganas itu. Betapapun juga, dengan mengertakkan giginya nona pen-dekar ini melakukan perlawanan nekat. Hatinya gelisah sekali melihat betapgt dua orang murid keponakannya, Thio Ki dan Kui Lok, sudah rnenjadi orang-orang tawanan, diikat kaki tangan niereka dan dibawa mundur oleh beberapa orang ser-dadu musuh.
Kwa Tin Siong juga melihat betapa dua orang murid keponakannya ini ter-tawan. Akan tetapi dia pun hanya dapat bergelisah saja karena semenja.k pertempuran .hebat itu dimulai, Hoa-san It-kiam Kwa tin Siong ini sudah menerjang maju dan dikeroyok oleh lima orang perwira pasukan musuh secara berganti-ganti. Sudah banyak lawan roboh oleh pedang-nya yang lihai, namun dikeroyok begi.tu banyak lawan tangguh, dia menjadi terdesak juga dan tidak berdaya menolong dua orang keponakan yang tertawan itu.
Kini melihat betapa sumoinya didesak hebat oleh Kim-thouw Thian-li yang ga-nas, dia berkhawatir sekali. Sambil ber-seru keras pedangnya diputar seperti ombak menggelora, dua orang pengeroyok-nya roboh dan yang lain terpaksa mundur dengan gentar. Kesempatan ini diper-gunakan oleh Kwa Tin Siong untuk me-lompat dan menprjang Kim-thouw Thian-li.
"Sumoi, jangan khawatir, mari kita bunuh siluman betina ini!" serunya dan pedangnya yang masih berlepotan darah itu menerjang kuat.
"Hi-hi-hi, seorang sumoi dan suheng-nya yang tak bermalu!" Sambil menangkis Kim-thouw Thian-li mentertawakan me-reka. "Di luar mengaku sumoi dan suheng, di mulut memaki-maki Kwee Sin yang serong, tapi ini bagaimana? Ha-ha-hi-hi-hi, tak bermaJu, muka tebal? Siapa tidak tahu bahwa kalian sudah bertahun-tahun main gila? Di depan guru bersikap alim, katanya saudara seperguruan, tapj) di belakang guru? Hi-hi-hi, hanya kamar kosong menjadi saksi percintaan kotor sumoi dan suheng!" Kata-kata yang di-keluarkan Kim-thouw Thian-li ini keras dan nyaring sehingga terdengar oleh se-mua orang di situ. Wajah Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa menjadi pucat saking marah mereka. Liem Sian Hwa hampir pingsan saking marahnya sehingga gerakan pedangnya malah menjadi lambat dan akhirnya ia terhuyung-huyung dan roboh pingsan, Kwa Tin Siong membentak, "Siluman betina, mampuslah!" Pedangnya menyambar, akan tetapi dengan enak Kim-thouw Thian-li dapat menangkisnya.
"Ha-ha-ha, malu kan? Kalian saling cinta, siapa tidak tahu akan hal ini? Haiii.....! Lian Bu Tojin, kau tosu tua bangka sudah buta, tidak tahu dua orang muridmu main gila di belakangmu?" Tapi ia terpaksa menghentikan kata-katanya karena serangan hebat yang dilakukan Kwa Tin Siong.
Ucapan Kim-thouw Thian-li yang nyaring ini hebat akibatnya. Lian Bu Tojin yang ketika itu sedang bertanding mati-matian melawan Hek-hwa Kui-bo, seketika tergetar tubuhnya dan ketika dia me-nengok ke arah Kwa Tin Siong, dia ku-rang keras menangkis serangan kebutan saputangan sutera yang digerakkan oleh Hek-hwa Kui-bo. "Plakkk!" Ujung saputangan menghantam dadanya dan Lian Bu Tojin terhuyung mundur dengan muka pucat, akan tetapi sambil menahan napas kakek ini masih dapat terus melompat ke dekat Kim-thouw Thian-li yarig masih mendesak Kwa Tin Siong dengan golok dan dengan mulut yang melontarkan kata-kata menghina tentang dia.dan sumoinya.
Lian Bu Tojin menggerakkan tangan kirinya memukul ke depan. Kim-thouw Thian-li berusaha mengelak, namun ter-lambat "Dukkk!" Punggungnya kena digempur, tubuhnya mencelat tergulmg-guling dan roboh tak bergerak. Darah merah mengalir dari mulut perempuan ini. Lian Bu Tojin dengan mata mendelik menghadapi Kwa Tin Siong.
"Tin Siong, betulkah kau..... kau..... betulkah apa yang diucapkan siluman tadi? Betul kau..... kau mencinta Sian Hwa?" tanyanya, suaranya yang biasanya lemah lembut itu kini kaku parau dan kemarahannya memuncak.
Kwa Tin Siong selama hidupnya tak pernah membohong kepada suhunya. Dengan kepala tunduk dia menjawab, "Teecu memang cinta kepada Sumoi, Suhu. Akan tetapi cinta yang bersih..... tidak seperti yang dimaksud oleh siluman itu....."
Tiba-tiba terdengar suara ketawa mengejek. "Ha-ha-ha, cinta kasih antara laki-laki gagah dan perempuan caritik, mana bisa bersih-bersihan? Ha-ha-ha-ha-ha, piritar juga Kwa Tin Siong! Dari pada sumoinya tidak laku menjadi perawan tua..... ha-ha-ha-ha-ha duda dan perawan tua, sudah cocok!" Bukan main hebatnya penghinaan ini yang keluar dari mulut Giam Kin. "Blukkk!" Dalam ke-rnarahannya, Bun Lim Kwi memperguna-kan kesempatan Giam Kin memecah perhatiannya untuk melontarkan penghinaan ini, berhasil memukul pundak Giam Kin dengan tangan kirinya. Inilah pukulan Pek-lek-jiu dan andaikata orang |ain yang terpukul pasti akan roboh bina-sa. Akan tetapi Giam Kin adalah orang yang sudah meniiliki kepandaian tinggi. Pukulan ini benar merobohkannya, akan tetapi sambil roboh dia sempat menyam-bitkan segenggam jarum-jarum halus ke arah Bun Lim Kwi. Jago muda Kun-lun-pai ini dahulu ketika bertempur melawan Thio Eng pernah roboh dan hampir tewas oleh jarum-jarum berbisa ini, maka dengan kaget dia melompat jauh untuk menghindar sambil berseru kepada Thio Bwee dan Kwa Hong.
"Jiwi Lihiap, awas!" Baiknya jarum-jarum itu memang tidak disambitkan ke arah dua orang nona yang ikut mengeroyok Giam Kin ini maka mereka tidak terancam oleh senjata rahasia yang jahat itu. Sementara itu Kwa Hong yang juga niendengar ucapan-ucapan keji dari Kim thouw Thian-li tadi, sekarang berdiri dengan muka pucat dan mernandang ke arah ayahnya yang ditegur oleh Lian Bu Tojin dan ke arah bibi gurunya yang niasih rebah pingsan,
Adapun Lian 'Bu Tojin ketika dengar pengakuan dari Kwa Tin Siong dan kemudian mendengar ucapan Giam Kin, tubuhnya menjadi limbung. "Huaaak? Dari mulutnya tersembur darah segar, inilah akibat pukulan selendang sutera Hek-hwa Kui-bo tadi. Kemudian orang tua ini menggerakkan pedang pusaka Hoa-san-paj lalu dibacokkan ke arah tubuh Liem Sian Hwa yang menggeletak di atas tanah.
"Suhu..,..! Ampunkan Sumoi...." Kwa tin Siong menubruk maju, menghalangi tubuh sumoinya. Lian Bu Tojin kaget dan menahan pedangnya, namun karena dia sudah terluka gerakannya kurang kuat dan pedang itu tetap masih membacok ke arah lehernya. Terpaksa Kwa Tin Siong menangkis dengan tangan kirinya. "Crakkk!" Pedang pusaka Hoa-san-pai yang amat tajam dan ampuh itu tanpa ampun lagi membabat putus lengan kiri Kwa Tin Siong sebatas pergelangan tangan! Kwa Tin Siong masih terus berjongkok, memondong tubuh Liem Sian Hwa dengan tangan kanannya, berdiri lalu berjalan pergi terhuyung-huyung dengan langkah limbung. Tapi cepat sekali dia sudah lari turun gunung.
"Ayah.....!" Kwa Hong menjerit dan hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba ia pun roboh terguling. Ternyata dalam | keadaan kacau itu, selagi semua orang mencurahkan perhatian ke arah peristiwa itu, Giam Kin sudah meloncat maju dan menotoknya roboh. Kejadian ini seperti, menjadi tanda bahwa pertempuran di-1 mulai lagi. Bun Lim Kwi menggerakkan pedang menyerang Giam Kin, dibantu Thio Bwee dan kembali mereka bertempur.
"Berani kau melukai muridku!" Hek-hwa Kui-bo yang tadi maju menolong Kim-thouw Thian-li yang terluka oleh pukulan Lian Bu Tojin, sekarang melayang maju menyerang ketua Hoa-san-pai itu. Akan tetapi Lian Bu Tojin sudah men-derita luka batin yang hebat, sekarang kakek ini malah duduk bersila dan meramkan matanya. Agaknya kakek Hoa-san-pai ini sudah menderita kesedihan terlalu besar karena persoalan murid-muridnya sehingga kini dia sengaja menanti pukulan maut lawannya tanpa mau membela diri.
Pada saat itu, terdengar sorak-sorak gemuruh di sekeliling tempat pertempur-an dan tiba-tiba muncullah ratusan orang gaeah perkasa yang dipimpin oleh seorang tinggi besar. Semua orang menjadi kaget sekali bahkan Hek-hwa Kui-bo sendiri sampai menahan pukulannya. Akan tetapi setelah menengok dan melihat bahwa yang datang adalah orang-orang yang biasanya disebut pejuang atau yang oleh pemerintah dianggap pemberontak, Hek-hwa Kui-bo mengeluarkan dengus gJnenghina dan ia melanjutkan pukulannya.
"Lian Bu Tojin, bersiaplah untuk mampus!" Pedangnya menusuk ke arah dada sedangkan ujung selendang sutera menotok ke arah ubun-ubun kepala Lian Bu Tojin. Dua serangan mematikan yang agaknya akan menamatkan nyawa ketua Hoa-san-pai. Akan tetapi pada saat itu dua sinar hitam menyambar. "Trang!" Pedang di tangan Hek-hwa Kui-bo terpukul ke samping sedangkan sinar hitam kedua menyambar kearah siku kirinya, membuat tangan kirinya menjadi lemas dan hawa Iweekang yang tersalur ke arah seJenaang itu lenyap dan seiendangnya berubah lemas seperti kain biasa. Sekali-gus sambaran dua benda hitam yang ternyata hanya dua buah kerikil itu telah melumpuhkan serangan maut Hek-hwa Kui-bo dan menolong nyawa Lian Bu Tojin!
Hek-hwa Kui-bo kaget dan marah sekali, cepat memutar tubuh dan ia berhadapan dengan seorang pemuda yang bukan lain adalah Beng San. Pemuda ini tersenyum kepadanya.
"Apakah selama ini kau baik-baik saja, Hek-hwa Kui-bo?"
Hek-hwa Kui-bo tertegun dan meragu. Serasa ia mengenal muka pemuda ini, akan tetapi kalau diingat akan kepandaian pemuda ini yang luar biasa tadi ia ragu-ragu dan merasa tidak pernah mengenal seorang pemuda dengan kepandaian demikian hebatnya.
”Kau siapakah?"
"Hek-hwa Kui-bo, lupakah kau kepadaku? Ingatlah akan pelajaran Thai-hwee, Siu-hwee dan Ci-hwee....."
"Ah, kau Beng San siluman cilik....." dengan marah Hek-hwa Kui-bo teringat akan kitab Im-yang Sin-kiam. "Bagus, kauserahkan Yang-sin Kiam-sut kepada-ku!" Berbareng dengan bentakan ini ia lalu menyerang dengan pedangnya. Beng San mengelak dan melihat bahwa nenek itu menyerangnya dengan Ilmu Pedang Im-sin-kiam, tentu saja dengan mydah dia dapat menghindarkan diri. Akah tetapi karena dia sendiri tidak bersenjata, sukar juga baginya untuk balas nienye-rang nenek yang hebat kepandaiannya itu sehingga dia hanya main mundur, meng-elak ke kanan kiri, meloncat ke sana kemari.
Sementara itu, rombongan orang gagah yang ternyata dipimpin oleh Tan Hok itu sudah menggempur pasukan pemerintah sehingga perang tanding menjadi makin ramai. Akan tetapi keadaannya sekarang berubah sama sekali. Kalau tadi para tosu Hoa-san-pai melakukan per-lawanan sia-sia dan banyak di antara mereka roboh binasa, sekarang keadaannya berbalik. Tidak saja para anggauta Pek-lian-pai yang datang ini rata-rata memiliki kegagahan dan kepandaian, juga jumlah mereka jauh lebih besar dan pasukan pemerintah ditekan hebat dan ter-desak betul-betu!. Sebentar saja banyak serdadu Mongol roboh dan yang lainnya mulai lemah semangat.
Pertempuran yang hebat dan seru adalah pertempuran antara Pek Gan Sian-su dan Siauw-ong-kwi. Dua orang tokoh besar ini benar-benar memiliki kepandaian hebat. Mereka tidak mempunyai per-musuhan pribadi, akan tetapi seperti su-dah sering kali terjadi, apabila dua orang tokoh besar bertempur dan saling me-ngeluarkan kepandaian, mereka tidak mau saling mengalah. Mereka bertempur sejak permulaan tadi sampai sekarang, tak pernah berhenti dan sudah mengeluarkan kepandaian masing-masing sampai dua ratus jurus lebih. Betapapun juga, ilmu kepandaian Pek Gan Siansu adalah ilmu yang bersumber pada ilmu bersih dan aseli keturunan Kun-lun-pai, maka dasar-nya amat kuat. Sebaliknya, Siauw-ong-kwi mendapatkan kepandaiannya dari kumpulan bermacam ilmu silat dan bagi-nya tidak ada pilihan apakah ilmu silat itu kotor maupun bersih sifatnya, semua dipelajari sejak muda dan dari kumpulan ilmu-ilmu silat inilah dia menciptakan iirnu silatnya sendiri yang ganas dan lihai, yaitu dengan senjata kedua ujung lengan bajunya yang panjang. Mungkin karena kalah murni sumber ilmu kepan-daiannya, maka setelah lewat dua ratus jurus, perlahan-lahan Siauw-ong-kwi mulai terdesak oleh sinar pedang Pek Gan Sian-su yang' hebat itu. Terpaksa dia diam-diam harus mengakui bahwa Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-sut benar lihai sekali.
"Ha-ha-ha, Pek Gan Siansu, ilmu pe-dang Kun-lun benar-benar bukan omong kosong saja. Kulihat barisan pemberontak sudah menyerbu, terpaksa aku tidak suka melayanimu lebih lama lagi. Nanti saja di pertemuan mendatang kita lanjutkan untuk menentukan siapa sebenarnya Raja Pedang!"
"Siauw-ong-kwi, kau terlalu memuji. Kepandaianmu juga pinto lihat banyak lebih lihai daripada dulu. Dalam per-temuan di Thai-san nanti kiranya pinto takkan kuat menghadapimu." Ucapan kakek Kun-lun-pai ini memang dengan sejujurnya. Tadi dia dapat menindih la-wannya dengan ilmu pedangnya yang lebih murni dan lebih kuat, akan tetapi dalam hal tenaga dan keuletan, kalau pertempuran dilanjutkan, dia pasti akan kalah oleh Siauw-ong-kwi yang belasan tahun Jebih muda itu.
Siauw-ong-kwi lalu melesat ke arah muridnya. Giam Kin yang pada saat itu sudah terdesak hebat oleh Bun Lim Kwi yang dibantr oleh Thio Bwee. Sekali kebutkan ujung lengan bajunya, Siauw-ong-kwi telah membuat pedang Lim Kwi dan Thio Bwee terpental ke belakang, malah Thio Bwee terhuyung beberapa» tindak sedangkan Lim Kwi yang lebih tinggi ilmunya hanya tergetar tangannya. Namun sudah cukup untuk memberi kesempatan kepada Giam Kin untuk meloncat ke belakang dan menyusul.gurunya lari pergi.
Hek-hwa Kui-bo masih mengejar-ngejar Beng San dengan Ilmu Pedang Im sin-kiam. Makin penasaran hatinya karena belum juga ia dapat merobohkan pernuda? ini. Sebetulnya, jangankan merobohkan, ujung pedangnya malah belum pernah mencium ujung baju pemuda itu yang dengan gesit melompat ke sana ke mari dengan gerakan tidak karuan seperti orang ketakutan, namun setiap lompatan-nya merupakan kelitan yang amat sem-purna dan tepat untuk menghindarkcrig serangan-serangan jurus Im-sin Kiam hoat. Orang-orang yang berada di situ tadinya sedang sibuk menghadapi lawan masing-masing, maka tidak ada yang menarik perhatian akan kedatangannya Beng San. Sekarang mereka mendapat kesempatan menonton, mereka heran dan juga khawatir menyaksikan pemuda itu dikejar-kejar Hek-hwa Kui-bo.
Pek Gan Siansu adalah seorang tokoh besar yang tajam penglihatannya. Melihat keadaan Beng San, sama sekali dia tidak ragu-ragu lagi bahwa tentu pemuda aneh ini memiliki kepandaian hebat, akan tetapi karena dia pun maklum akan keganasan Hek-hwa Kui-bo, maka dia segera berkata, "Ha-ha-ha, sungguh lucu sekali. Hek-hwa Kui-bo dengan pedangnya mengejar-ngejar seorang pemuda. Me-malukan betul!"
"Siapa?" Lee Giok bertanya, suaranyaa tergetar, air matanya mengucur deras.
"Ji-enghiong...,."
"Siapa dia? Siapakah Ji-enghiong? Kau lekas katakan, aku sendiri sampai sekarang belum tahu siapa Ji-enghiong. Lekas katakan....."
"Dia..... dia..... ahhhhh....;11' Kwett Sin tak dapat melanjutkan kata-katanya karena sudah kehilangan nyawanya. Lee Giok memeluk dan menangis tersedu-sedu, tak peduli bahwa darah dari ieher Kwee Sin membasahi muka dan pakaian-nya. Semua orang terharu juga melihat ini dan tak terasa air mata Sian Hwa juga menjadi basah.
Pek Gan Siansu tidak tega hatinya. "Lim Kwi, kaurawatlah baik-baik jenazah Kwee Sin. Biarpun dia bukan muridku lagi tapi....." Lim Kwi yang pada dasarnya berwatak penuh welas asih dan dia memang suka kepada Kwee Sin, segera, melangkah maju hendak mengangkat jenazah Kwee Sin. Akan tetapi Lee Giok membentak.
"Jangan sentuh dia!" la lalu bangkit berdiri, dadanya turun naik", napasnya memburu, matanya berkilat-kilat, wajahnya pucat dan menjadi mengerikan karena berlepotan darah Kwee Sin.
"Kalian tak berharga untuk menyentuhnya! Kalian ini pengecut-pengecut tak tahu malu. Bermata dua tapi buta tak melihat, tak dapat membedakan mana yang palsu mana yang tulen, tidak tahu mana yang baik mana yang buruk. Kalian tidak tahu siapa dia yang kalian paksa bunuh diri ini? Dia adalah orang ke dua di kota raja yang memimpin para pejuang melakukan gerakan di bawah tanah. Dia adalah orang kepercayaan Ciu-taihiap. Kalian tahu mengapa dia melakukan hubungan dengan Kim-thouw Thian-li? Hal itu disengaja, karena merupakan rencana dari atasan. Kalau dia tidak mendekati Kim-thouw Thian-li, mana dia bisa memasuki kotaraja, dapat kepercayaan orang-orang yang berkuasa di kota raja? Dia sengaja mengorbankan perasaannya, sengaja menghubungi Kim-thouw Thian-li sehingga para pembesar di kota raja percaya kepadanya, sehingga dengan aman dan mudah dia dapat mengorek rahasia-rahasia ketentaraan dan dapat membantu dan memberi petunjuk kepada saudara-saudara seperjuangan yang bergerak di luar kota raja! Jasa-jasanya untuk perjuangan sudah banyak sekali, dia seorang patriot sejati yang tidak segan-segan mengorbankan perasaan, mengorbankan kekasih, me-ngorbankan segalanya untuk tanah air dan bangsa. Dan kalian ini..... orang-orang yang hanya ingat akan kepentingan diri sendiri, tidak peduli akan perjuangan bangsa malah ribut saling gontok-gontokan antara saudara sendiri, orang-orang ma-cam kalian ini sekarang memaksa dia membunuh diri? Celaka..... celaka..... semoga Thian mengutuk kalian semua!" Lee Giok menangis lagi dan semua orahg yang berada di situ terpaku dengan muka pucat dan sinar mata bingung. Tak tekecuali Pek Gan Siansu dan Lian Bu Tojin yang saling pandang dengan muka pucat dan sedih. Mereka masih ragu-ragu akan kebenaran semua keterangan nona yang tidak mereka kenal itu. Keterangan ini terlalu aneh, terlalu asing sehingga kelihatan agak mustahil. Kwee Sin menjadi pemimpin peju'ang di kota raja? Dan semua kelakuannya yang di-pandang rendah itu adalah siasat untuk perjuangan?
Akan tetapi keterangan mereka itu lenyap seketika setelah terjadi hal berikutnya. Tiba-tiba terdengar suara teriakan-teriakan, "Tangkap pemberontak! Tangkap mata-mata pemberontak!" Dan muncullah rombongan pasukan tentara pemerintah yang bersenjata lengkap, jumlahnya seratus orang lebih! Bukan main kaget hati Pek Gan Sjansu dan Lian Bu Tojin ketika melihat bahwa di antara pasukan ittl terdapat seorang wanita yang cantik berusia empat puluh tahun lebih, membawa saputangan sutera beraneka warna dan seorang kakek berbaju kuning. Betapa tidak akan kaget hati mereka karena wanita yang sebenarnya sudah berusia enam puluh tahun itu adalah Hek-hwa Kui-bo, sedangkan kakek itu adalah tokoh utara yang paling terkenal, yaitu Siauw-ong-kwi Si Raja Setan Cilik, guru dari Giam Kin pemuda pemelihara ular. Pemuda itu sendiri juga tampak terse-nyum-senyum, matanya liar menyambar-nyambar ke arah Kwa Hong dan Thio Bwee. Di sampingnya terlihat seorang wanita cantik yang bersikap genit, berpakaian indah dan pesolek. Kim-thouw Thian-li!
Begitu melihat tubuh Kwee Sin yang menggeletak mandi darah di atas tanah, Kim-thouw Thian-li melompat mendekati. Tadinya orang mengira bahwa ia tentu akan menangis menggerung-gerung me-nyedihi kematian kekasihnya itu, akan tetapi siapa kira, setelah melihat bahwa Kwee Sin betul-betul sudah i-nati, ia lalu meludah ke arah tubuh itu sambil berkata.
"Cih, keparat keji! Bertahun-tahun kau menipuku, kusangka betul-betul setia, kiranya kau pemimpin mata-mata anjing pemberontak!" Kakinya diangkat dan menendang muka mayat itu.
"Kim-thouw Thian-li situman betina, langan kauhina dia!" Lee Giok marah sekali, melompat dan memukul kepada ketua Ngo-lian-kauw itu. Kim-thouw Thian-li menangkis. "Plak!" Dua lengan halus bertemu dan keduanya terhuyung rnundur. Diam-diam Kim-thouw Thian-li kaget, sama sekali tidak menyangka bahwa nona yang bisa menjadi pembantu Pangeran Souw Kian Bi ini ternyata memiliki kepandaian yang tinggi juga, Pantas Ia 'menjadi pemimpin mata-mata seperti yang disangka oleh Pangeran Souw Kian Bi, pikirnya.
"Hemmm, kau inikah yang selama ini diam-diam menjadi Ji-enghiong?" ejek Kim-thouw Thian-li dengan suara dingin.
Lee Giok nampak terkejut sekali.
"Apa kau bilang ba..... bagaimana kaiji bisa tahu tentang Ji-enghiong?"
"Hi-hi-hi, mata-mata hina! Kami sudah tahu bahwa Kwee Sin si keparat itu adalah Si-enghiong, dan kau adalah Ji-enghiong? Kalian memimpin mata-mata pemberontak di kota raja."
Tiba-tiba Lee Giok tertawa girang. "Bagus, bagus! Jadi kau sudah tahu sekarang? Memang betul, Kim-thouw Thian-li, Kwee-enghiong ini adalah permimpin mata-mata pejuang yang memang bernama Si-enghiong. Jadi selama ini dia bekerja untuk kepentingan para pejuang. Pembesar-pembesar di kota raja diper-mainkan termasuk kau. Kaukira dia betul-betul cinta kepada siluman macammu? Cih, tak tahu malu. Dan aku..... aku memang Ji-enghiong. Nah, kau mau apa?"
Bukan main marahnya hati Kim-thouw Thian-li mendengar ejekan-ejekar ini. Jangan gerak mata cerdik Kirn-thouw Tllian-li memandang kepada fihak Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai. "Cuwi sekalian dari Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai, perempuan ini adalah seorang pemimpin pem-berontak, terpaksa aku dan teman-teman hendak menangkapnya hidup-hidup untuk kubawa ke kota raja."
Akan tetapi sementara itu Liem Sian Hwa sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi. Inilah Kim-thouw Thian-li, perempuan yang tidak saja merenggut nyawa ayahnya, akan tetapi bahkan yang merampas tunangannya. Sekarang mendengar wanita ini hendak membujuk gurunya dan Pek Gan Siansu.
Ia menerjang dan memaki.
"Siluman keji, kau telah membunuh ayahku. Rasakan pembalasanku!" Pedangnya berkelebat menusuk. Kim-thouw Thian-li tertawa dan mengelak, cepat mengeluarkan golok dan membalas serangan Sian Hwa.
Sementara itu, Pek Gan Siansu dar» Lian Bu Tojin terbangun semangat mereka setelah mendengar dan melihat sendiri kenyataan bahwa Kwee Sin benar-benar seorang pemimpin pejuang, ditambah oleh sikap Lee Giok yang gagah perkasa dan patriotik. Dua orang kakek ini begitu bertukar pandang sudah nengambil keputusan yang sama, yaitu membela Lee Giok demi penghargaan mereka terhadap perjuangan Kwee Sin. Sekarang melihat bahwa Sian Hwa telah bertempur melawan Kim-thouw Thian-li dan hal ini tak mungkin mereka hentikan atau cegah mengingat bahwa Sian Hwa tentu akan nekat membalas dendam, melihat pula bahwa bentrokan antara mereka dan fihak pemerintah tak dapat dicegah lagi, lalu keduanya melangkah maju, siap menghadapi segala kemungkinan. Thio Ki dan Kui Lok juga meloncat maju membantu bibi guru mereka.
"Siluman Ngo-lian-kauw, kau pem-bunuh ayah kami!" teriak mereka sambil menerjang maju. Kim-thouw Thian-li masih tertawa-tawa dan menghadapi tiga orang itu dengan mainkan goloknya.
"Lian Bu Totiang, apa kau membiarkan saja anak-anak muridmu memberontak?" Hek-hwa Kui-bo meloncat niaju ke depan ketua Hoa-san-pai. Loncatannya luar biasa sekali, seperti tidak bergerak kedua kakinya tapi tahu-tahu tubuhnya sudah berkelebat ke depan kakek Hoa-san-pai itu. Semua orang yang melihat ini menjadi kagum dan juga keder. Akan tetapi Lian Bu Tojin dengan sikapnya yang keren dan pedang pusaka yang tadi dipergunakan Kwee Sin membunuh diri di tangan kanannya, memandang nenek yang kelihatannya muda itu sambil berkata.
"Hek-hwa Kui-bo, enak saja kau me-mutarbalikkan fakta. Adalah kau yang membiarkan muridmu Kim-thouw Thian-li itu untuk melakukan perbuatan fitnah dan mengadu domba antara Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai, membiarkan muridmu membunuh murid-murid Hoa-san-pai dan kau selalu malah membantunya. Sekarangt kau datang pura-pura mencela kepadat pinto. Heh, biarpun kau lihai, namun kejahatanmu pasti takkan membawa kau kepada kebahagiaan dan keselamatan."
"Hi-hi-hi, tosu bau. Kaulah yang akan? mampus, masih banyak tingkah lagi. Dengan mengeluarkan suara melengking aneh, Hek-hwa Kui-bo menggerakkan tangan. Tahu-tahu sebatang pedang telah berada di tangannya dan cepat ia me-nyerang ketua Hoa-san-pai itu. Lian Bu Tojin maklum akan kelihaian wanita ini, maka dia tidak berani berayal, cepat-cepat menangkis dan balas menyerang. Seperti juga ketika ketua Hoa-san-pai ini mengejar Hek-hwa Kui-bo pada waktui nenek ini menculik Kwee Sin, sekarang Lian Bun Tojin mendapat kenyataan bahwa ilmu pedang darl nenek ini hebat bukan main, kelihatan tidak mengandung tenaga besar akan tetapi hawa pedangnya dingin dan cepat. Inilah Ilmu Pedang Im-sin-kiam yang dipelajari nenek ini dari kitab yang ia curi atau rampas dari Phoa Ti. Biarpun Lian Bu Tojin sudah menge-luarkan seluruh ilmu pedangnya, namun tetap saja semua kekuatan Ilmu Pedang Hoa-san Kiam-sut seakan-akan ditelan oleh hawa dingin ilmu pedang Hek-hwa Kui-bo. Betapapun juga, Lian Bu Tojin adalah seorang pendeta yang mengutama-kan kehidupan suci dan bersih, maka daya tahan dalam tubuhnya amat kuat dan tidak mudah bagi Hek-hwa Kui-bo untuk merobohkannya secara cepat.
"Heh-heh-heh, nona-nona manis, mari Nta "main-main sebentar!" Giam Kin ternyata sudah melompat maju dan de-ngan sikap ceriwis sekali mengulur kedua tangannya untuk menangkap Kwa Hong dan Thio Bwee. Dua orang gadis ini mem-bentak dan memaki, sambij mengelak dan mencabut pedang lalu dengan gemas mereka mengeroyok Giam Kin.
Sementara itu, Bun Lim Kwi sejak tadi memandang ke arah Giam Kin, ma-ka ketika mendengar Kwa Hong dan Thio Bwee memaki-maki dan menyebut nama pemuda muka pucat itu, darahnya segera naik. Jadi inikah orang yang bernama Giam Kin, yang secara pengecut pernatt menyerang dan merobohkannya ketika dia bertempur melawan Thio Eng dahulu itu? Hampir saja nyawanya melayang karena pemuda muka pucat yang jahat itu.
"Suhu, dialah orangnya yang hampir saja menewaskan teecu dengan penyerangannya yang curang. Teecu hendak membalas," bisiknya kepada Pek Gan Siansu Ketua Kun-lun-pai ini mengangguk, berkata perlahan.
"Sudah sepatutnya sekarang kita membantu Hoa-san-pai menghadapi orang-orang jahat itu."
Dengan girang Bun Lim Kwi men-cabut pedangnya dan menerjang Giam Kin yang sedang melayani dua orang gadis Hoa-san-pai dengan enak sambil menggoda mereka dengan omongan kasar dan kotor itu.
"Nona berdua harap mundur, biarkan aku memberi hajaran kepada manusia bermulut kotor ini!" bentak Bun Lim Kwi sambil memutar pedangnya. Akan tetapi karena amat marah kepada Giam Kin, Kwa Hong dan Thio Bwee mana mau meninggalkannya? Dengan demikian Giam Kin segera terkepung dan dikeroyok tiga. Giam Kin sibuk sekali. Biarpun dia amat lihai namun dikeroyok oleh tiga orang ini, apalagi ilmu silat Bun Lim Kwi me-mang hebat, segera dia terdesak dan sibuk menangkis ke sana kemari.
"Hemmm, curang..... curang.....! Ku-lihat ilmu pedang Kun-lun-pai ikut mem-bela Hoa-san-pai?" Suara ini keluar dari mulut Siauw-ong-kwi yang melangkah maju hendak menolong muridnya. Akan . tetapi tiba-tiba bayangan putih berkelebat dan Pek Gan Siansu sudah berdiri di depannya dengan pedang pusaka Kun-lun-pai di tangan.
"Perlahan dulu, Siauw-ong-kwi. Biar-kan bocah sama bocah, tua bangka se-. perti kau lawannya juga tua bangka seperti aku!"
Siauw-og-kwi membelalakkan matanya dan tertawa. "Ha-ha-ha, sejak kapan Kun-lun-pai menjadi pembantu para pemberontak?"
"Sejak orang-orang seperti engkau membantu penjajah menindas rakyat," jawab ketua Kun-lun-pai tenang.
"0-ho, Pek Gan Siansu, artinya kau -menantang Siauw-ong-kwi?"
"Pinto tidak menantang siapapun suga. Akan tetapi, Siauw-ong-kwi, sejak du^^& pinto mengenal nama Siauw-ong-kwi sebagai seorang aneh yang tidak suka melanggar kepantasan, seorang tokoh utama di utara yang tidak berlepotan lumpur, kejahatan. Kiranya sekarang kau terseret ke dalam perangkap penjajah, malah kau membiarkan muridmu berlaku keji dan jahat tanpa menghukumnya. Muridmu secara curang pernah berusaha membunuh muridku, sekarang kau hendak membantunya pula. Mana pinto dapat diamkan saja?"
"Bagus Pek Gan Siansu, antara kita terdapat perbedaan faham, kau sebagai antek pemberontak dan aku sebagai antek pemerintah. Mari, mari..... kita ber-main-main sebentar, sudah lama tanganku gatal-gatal untuk merasai lihainya pedang Kun-lun-pai!" Dua orang ini segera bergerak dan bertandinglah kedua-nya. Pedang Pek Gan Siansu tak usah disangsikan lagi amat hebat gerakannya, kuat dan biarpun digerakkan secara lam-bat, namun sinar pedangnya saja cukup untuk merobohkan lawan yang kuat. Di lain fihak, Siauw-ong-kwi adalah seorang tokoh paling lihai dari utara. Ilmu silatnya aneh, berinti ilmu tangkap yang, menjadi dasar ilmu gulat Mongol, seka-rang dia mainkan dengan kedua ujung tangan bajunya yang panjang sehingga sekelebatan tampaknya seolah-olah Siauw-ong-kwi mainkan sepasang pedang. Ja-ngan dipandang rendah sepasang ujung lengan baju ini. Biarpun terbuat daripada kain lemas biasa, namun mengandung tenaga Iweekang yang hebat, kuat untuk menangkis pedang, kadang-kadang lemas mengancam lawan dengan jiratan maut, fcadang-kadang kaku seperti pedang baja
atau seperti toya besi!
Kim-thouw Thian-li yang melihat betapa kedua fihak sudah saling gempur segera bersuit keras dan pasukan pemerintah itu serentak bergerak menyerbu keatas sambil berteriak-teriak hiruk-pikuk. Para tosu Hoa-san-pai melihat hal ini tanpa menanti perintah lagi segera memapaki dan terjadilah perang kecil yang cukup hebat di puncak Hoa-san-pai itu. Akan tetapi ternyata keadaan amat tidak menguntungkan fihak Hoa-san-pai. jumlah pasukan pemerintah tidak saja lebih besar, juga mereka ini memang pasukan pilihan yang sengaja dikirim oleh Pangeran Souw Kian Bi, pasukan yang terjadi dari serdadu-serdadu yang kosen dan ahli golok, lebih terkenal disebut Barisan Golok Maut. Sebentar saja belasan orang tosu Hoa-san-pai roboh terbacok golok dan keadaannya amat terdesak.
Keadaan pertempuran yang dihadapi para jago Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai itu juga amat buruk. Menghadapi Sian Hwa yang dibantu dua orang murid keponakannya, Thio Ki dan Kui Lok, ketua Ngo-lian-kauw, Kim-thouw Thian-Ii ternyata jauh lebih lihai. Permainan golok-nya biarpun lihai dan aneh, masih belum mampu menindih ilmu pedang tiga orang murid Hoa-san-pai ini, akan tetapi setelah Kim-thouw Thian-li mengeluarkan selendang merahnya yang mengandung hawa beracun, pada saat yang amat tak terduga-duga ia mengebutkan selendang merah. Bau harum semerbak menyambar. Thio Ki dan Kui Lok yang masih kurang pengalaman, kurang cepat menghindar dan robohlah mereka bergulingan dalam keadaan pingsan. Liem Sian Hwa yang menjadi marah sekali inempergunakan kesempatan itu, selagi Kim-thouw Thian-li tertawa-tawa kegirangan dan memerin-tahkan beberapa serdadu untuk menawan dua orang pemuda ini, cepat melompat tinggi setelah tadi berhasil mengguling-kan tubuh menghindarkan hawa beracun, kemudian dari atas ia menggunakan, ge-rak tipu Hui-liong-jip-hai (Naga Terbang Memasuki Lautan), pedangnya bergerak cepat menyerang lawannya. Tidak percuma nona ini dijuluki Kiam-eng-cu (Bayangan Pedang), gerakannya cepat sekali, sehingga bayangan tubuhnya dan sinar pedang menjadi satu. Kim-thouw Thian-li kaget bukan main, cepat menangkis dengan golok dan miringkan tubuh ber-usaha menyelamatkan diri. Akan tetapi tetap saja ujung pedang Sian Hwa secara kilat sudah menyerempet pundaknya sehingga baju di bagian pundak terbabat robek berikut kulitnya yang putih halus? dan darah bercucuran keluar.
"Keparat, rasakan pembalasanku1'' Kim-thouw Thian-li berseru keras, cepat memberi bubuk obat kepada pundaknya yang terluka, kemudian dengan kemarah-an yang meluap-luap ia menerjang Liem Sian Hwa dengan nafsu membunuh. Sian Hwa memutar pedang mempertahankan, diri, namun maklum bahwa ia kalah tenaga dan bingung menghadapi ilmu golok yang aneh dan ganas itu. Betapapun juga, dengan mengertakkan giginya nona pen-dekar ini melakukan perlawanan nekat. Hatinya gelisah sekali melihat betapgt dua orang murid keponakannya, Thio Ki dan Kui Lok, sudah rnenjadi orang-orang tawanan, diikat kaki tangan niereka dan dibawa mundur oleh beberapa orang ser-dadu musuh.
Kwa Tin Siong juga melihat betapa dua orang murid keponakannya ini ter-tawan. Akan tetapi dia pun hanya dapat bergelisah saja karena semenja.k pertempuran .hebat itu dimulai, Hoa-san It-kiam Kwa tin Siong ini sudah menerjang maju dan dikeroyok oleh lima orang perwira pasukan musuh secara berganti-ganti. Sudah banyak lawan roboh oleh pedang-nya yang lihai, namun dikeroyok begi.tu banyak lawan tangguh, dia menjadi terdesak juga dan tidak berdaya menolong dua orang keponakan yang tertawan itu.
Kini melihat betapa sumoinya didesak hebat oleh Kim-thouw Thian-li yang ga-nas, dia berkhawatir sekali. Sambil ber-seru keras pedangnya diputar seperti ombak menggelora, dua orang pengeroyok-nya roboh dan yang lain terpaksa mundur dengan gentar. Kesempatan ini diper-gunakan oleh Kwa Tin Siong untuk me-lompat dan menprjang Kim-thouw Thian-li.
"Sumoi, jangan khawatir, mari kita bunuh siluman betina ini!" serunya dan pedangnya yang masih berlepotan darah itu menerjang kuat.
"Hi-hi-hi, seorang sumoi dan suheng-nya yang tak bermalu!" Sambil menangkis Kim-thouw Thian-li mentertawakan me-reka. "Di luar mengaku sumoi dan suheng, di mulut memaki-maki Kwee Sin yang serong, tapi ini bagaimana? Ha-ha-hi-hi-hi, tak bermaJu, muka tebal? Siapa tidak tahu bahwa kalian sudah bertahun-tahun main gila? Di depan guru bersikap alim, katanya saudara seperguruan, tapj) di belakang guru? Hi-hi-hi, hanya kamar kosong menjadi saksi percintaan kotor sumoi dan suheng!" Kata-kata yang di-keluarkan Kim-thouw Thian-li ini keras dan nyaring sehingga terdengar oleh se-mua orang di situ. Wajah Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa menjadi pucat saking marah mereka. Liem Sian Hwa hampir pingsan saking marahnya sehingga gerakan pedangnya malah menjadi lambat dan akhirnya ia terhuyung-huyung dan roboh pingsan, Kwa Tin Siong membentak, "Siluman betina, mampuslah!" Pedangnya menyambar, akan tetapi dengan enak Kim-thouw Thian-li dapat menangkisnya.
"Ha-ha-ha, malu kan? Kalian saling cinta, siapa tidak tahu akan hal ini? Haiii.....! Lian Bu Tojin, kau tosu tua bangka sudah buta, tidak tahu dua orang muridmu main gila di belakangmu?" Tapi ia terpaksa menghentikan kata-katanya karena serangan hebat yang dilakukan Kwa Tin Siong.
Ucapan Kim-thouw Thian-li yang nyaring ini hebat akibatnya. Lian Bu Tojin yang ketika itu sedang bertanding mati-matian melawan Hek-hwa Kui-bo, seketika tergetar tubuhnya dan ketika dia me-nengok ke arah Kwa Tin Siong, dia ku-rang keras menangkis serangan kebutan saputangan sutera yang digerakkan oleh Hek-hwa Kui-bo. "Plakkk!" Ujung saputangan menghantam dadanya dan Lian Bu Tojin terhuyung mundur dengan muka pucat, akan tetapi sambil menahan napas kakek ini masih dapat terus melompat ke dekat Kim-thouw Thian-li yarig masih mendesak Kwa Tin Siong dengan golok dan dengan mulut yang melontarkan kata-kata menghina tentang dia.dan sumoinya.
Lian Bu Tojin menggerakkan tangan kirinya memukul ke depan. Kim-thouw Thian-li berusaha mengelak, namun ter-lambat "Dukkk!" Punggungnya kena digempur, tubuhnya mencelat tergulmg-guling dan roboh tak bergerak. Darah merah mengalir dari mulut perempuan ini. Lian Bu Tojin dengan mata mendelik menghadapi Kwa Tin Siong.
"Tin Siong, betulkah kau..... kau..... betulkah apa yang diucapkan siluman tadi? Betul kau..... kau mencinta Sian Hwa?" tanyanya, suaranya yang biasanya lemah lembut itu kini kaku parau dan kemarahannya memuncak.
Kwa Tin Siong selama hidupnya tak pernah membohong kepada suhunya. Dengan kepala tunduk dia menjawab, "Teecu memang cinta kepada Sumoi, Suhu. Akan tetapi cinta yang bersih..... tidak seperti yang dimaksud oleh siluman itu....."
Tiba-tiba terdengar suara ketawa mengejek. "Ha-ha-ha, cinta kasih antara laki-laki gagah dan perempuan caritik, mana bisa bersih-bersihan? Ha-ha-ha-ha-ha, piritar juga Kwa Tin Siong! Dari pada sumoinya tidak laku menjadi perawan tua..... ha-ha-ha-ha-ha duda dan perawan tua, sudah cocok!" Bukan main hebatnya penghinaan ini yang keluar dari mulut Giam Kin. "Blukkk!" Dalam ke-rnarahannya, Bun Lim Kwi memperguna-kan kesempatan Giam Kin memecah perhatiannya untuk melontarkan penghinaan ini, berhasil memukul pundak Giam Kin dengan tangan kirinya. Inilah pukulan Pek-lek-jiu dan andaikata orang |ain yang terpukul pasti akan roboh bina-sa. Akan tetapi Giam Kin adalah orang yang sudah meniiliki kepandaian tinggi. Pukulan ini benar merobohkannya, akan tetapi sambil roboh dia sempat menyam-bitkan segenggam jarum-jarum halus ke arah Bun Lim Kwi. Jago muda Kun-lun-pai ini dahulu ketika bertempur melawan Thio Eng pernah roboh dan hampir tewas oleh jarum-jarum berbisa ini, maka dengan kaget dia melompat jauh untuk menghindar sambil berseru kepada Thio Bwee dan Kwa Hong.
"Jiwi Lihiap, awas!" Baiknya jarum-jarum itu memang tidak disambitkan ke arah dua orang nona yang ikut mengeroyok Giam Kin ini maka mereka tidak terancam oleh senjata rahasia yang jahat itu. Sementara itu Kwa Hong yang juga niendengar ucapan-ucapan keji dari Kim thouw Thian-li tadi, sekarang berdiri dengan muka pucat dan mernandang ke arah ayahnya yang ditegur oleh Lian Bu Tojin dan ke arah bibi gurunya yang niasih rebah pingsan,
Adapun Lian 'Bu Tojin ketika dengar pengakuan dari Kwa Tin Siong dan kemudian mendengar ucapan Giam Kin, tubuhnya menjadi limbung. "Huaaak? Dari mulutnya tersembur darah segar, inilah akibat pukulan selendang sutera Hek-hwa Kui-bo tadi. Kemudian orang tua ini menggerakkan pedang pusaka Hoa-san-paj lalu dibacokkan ke arah tubuh Liem Sian Hwa yang menggeletak di atas tanah.
"Suhu..,..! Ampunkan Sumoi...." Kwa tin Siong menubruk maju, menghalangi tubuh sumoinya. Lian Bu Tojin kaget dan menahan pedangnya, namun karena dia sudah terluka gerakannya kurang kuat dan pedang itu tetap masih membacok ke arah lehernya. Terpaksa Kwa Tin Siong menangkis dengan tangan kirinya. "Crakkk!" Pedang pusaka Hoa-san-pai yang amat tajam dan ampuh itu tanpa ampun lagi membabat putus lengan kiri Kwa Tin Siong sebatas pergelangan tangan! Kwa Tin Siong masih terus berjongkok, memondong tubuh Liem Sian Hwa dengan tangan kanannya, berdiri lalu berjalan pergi terhuyung-huyung dengan langkah limbung. Tapi cepat sekali dia sudah lari turun gunung.
"Ayah.....!" Kwa Hong menjerit dan hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba ia pun roboh terguling. Ternyata dalam | keadaan kacau itu, selagi semua orang mencurahkan perhatian ke arah peristiwa itu, Giam Kin sudah meloncat maju dan menotoknya roboh. Kejadian ini seperti, menjadi tanda bahwa pertempuran di-1 mulai lagi. Bun Lim Kwi menggerakkan pedang menyerang Giam Kin, dibantu Thio Bwee dan kembali mereka bertempur.
"Berani kau melukai muridku!" Hek-hwa Kui-bo yang tadi maju menolong Kim-thouw Thian-li yang terluka oleh pukulan Lian Bu Tojin, sekarang melayang maju menyerang ketua Hoa-san-pai itu. Akan tetapi Lian Bu Tojin sudah men-derita luka batin yang hebat, sekarang kakek ini malah duduk bersila dan meramkan matanya. Agaknya kakek Hoa-san-pai ini sudah menderita kesedihan terlalu besar karena persoalan murid-muridnya sehingga kini dia sengaja menanti pukulan maut lawannya tanpa mau membela diri.
Pada saat itu, terdengar sorak-sorak gemuruh di sekeliling tempat pertempur-an dan tiba-tiba muncullah ratusan orang gaeah perkasa yang dipimpin oleh seorang tinggi besar. Semua orang menjadi kaget sekali bahkan Hek-hwa Kui-bo sendiri sampai menahan pukulannya. Akan tetapi setelah menengok dan melihat bahwa yang datang adalah orang-orang yang biasanya disebut pejuang atau yang oleh pemerintah dianggap pemberontak, Hek-hwa Kui-bo mengeluarkan dengus gJnenghina dan ia melanjutkan pukulannya.
"Lian Bu Tojin, bersiaplah untuk mampus!" Pedangnya menusuk ke arah dada sedangkan ujung selendang sutera menotok ke arah ubun-ubun kepala Lian Bu Tojin. Dua serangan mematikan yang agaknya akan menamatkan nyawa ketua Hoa-san-pai. Akan tetapi pada saat itu dua sinar hitam menyambar. "Trang!" Pedang di tangan Hek-hwa Kui-bo terpukul ke samping sedangkan sinar hitam kedua menyambar kearah siku kirinya, membuat tangan kirinya menjadi lemas dan hawa Iweekang yang tersalur ke arah seJenaang itu lenyap dan seiendangnya berubah lemas seperti kain biasa. Sekali-gus sambaran dua benda hitam yang ternyata hanya dua buah kerikil itu telah melumpuhkan serangan maut Hek-hwa Kui-bo dan menolong nyawa Lian Bu Tojin!
Hek-hwa Kui-bo kaget dan marah sekali, cepat memutar tubuh dan ia berhadapan dengan seorang pemuda yang bukan lain adalah Beng San. Pemuda ini tersenyum kepadanya.
"Apakah selama ini kau baik-baik saja, Hek-hwa Kui-bo?"
Hek-hwa Kui-bo tertegun dan meragu. Serasa ia mengenal muka pemuda ini, akan tetapi kalau diingat akan kepandaian pemuda ini yang luar biasa tadi ia ragu-ragu dan merasa tidak pernah mengenal seorang pemuda dengan kepandaian demikian hebatnya.
”Kau siapakah?"
"Hek-hwa Kui-bo, lupakah kau kepadaku? Ingatlah akan pelajaran Thai-hwee, Siu-hwee dan Ci-hwee....."
"Ah, kau Beng San siluman cilik....." dengan marah Hek-hwa Kui-bo teringat akan kitab Im-yang Sin-kiam. "Bagus, kauserahkan Yang-sin Kiam-sut kepada-ku!" Berbareng dengan bentakan ini ia lalu menyerang dengan pedangnya. Beng San mengelak dan melihat bahwa nenek itu menyerangnya dengan Ilmu Pedang Im-sin-kiam, tentu saja dengan mydah dia dapat menghindarkan diri. Akah tetapi karena dia sendiri tidak bersenjata, sukar juga baginya untuk balas nienye-rang nenek yang hebat kepandaiannya itu sehingga dia hanya main mundur, meng-elak ke kanan kiri, meloncat ke sana kemari.
Sementara itu, rombongan orang gagah yang ternyata dipimpin oleh Tan Hok itu sudah menggempur pasukan pemerintah sehingga perang tanding menjadi makin ramai. Akan tetapi keadaannya sekarang berubah sama sekali. Kalau tadi para tosu Hoa-san-pai melakukan per-lawanan sia-sia dan banyak di antara mereka roboh binasa, sekarang keadaannya berbalik. Tidak saja para anggauta Pek-lian-pai yang datang ini rata-rata memiliki kegagahan dan kepandaian, juga jumlah mereka jauh lebih besar dan pasukan pemerintah ditekan hebat dan ter-desak betul-betu!. Sebentar saja banyak serdadu Mongol roboh dan yang lainnya mulai lemah semangat.
Pertempuran yang hebat dan seru adalah pertempuran antara Pek Gan Sian-su dan Siauw-ong-kwi. Dua orang tokoh besar ini benar-benar memiliki kepandaian hebat. Mereka tidak mempunyai per-musuhan pribadi, akan tetapi seperti su-dah sering kali terjadi, apabila dua orang tokoh besar bertempur dan saling me-ngeluarkan kepandaian, mereka tidak mau saling mengalah. Mereka bertempur sejak permulaan tadi sampai sekarang, tak pernah berhenti dan sudah mengeluarkan kepandaian masing-masing sampai dua ratus jurus lebih. Betapapun juga, ilmu kepandaian Pek Gan Siansu adalah ilmu yang bersumber pada ilmu bersih dan aseli keturunan Kun-lun-pai, maka dasar-nya amat kuat. Sebaliknya, Siauw-ong-kwi mendapatkan kepandaiannya dari kumpulan bermacam ilmu silat dan bagi-nya tidak ada pilihan apakah ilmu silat itu kotor maupun bersih sifatnya, semua dipelajari sejak muda dan dari kumpulan ilmu-ilmu silat inilah dia menciptakan iirnu silatnya sendiri yang ganas dan lihai, yaitu dengan senjata kedua ujung lengan bajunya yang panjang. Mungkin karena kalah murni sumber ilmu kepan-daiannya, maka setelah lewat dua ratus jurus, perlahan-lahan Siauw-ong-kwi mulai terdesak oleh sinar pedang Pek Gan Sian-su yang' hebat itu. Terpaksa dia diam-diam harus mengakui bahwa Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-sut benar lihai sekali.
"Ha-ha-ha, Pek Gan Siansu, ilmu pe-dang Kun-lun benar-benar bukan omong kosong saja. Kulihat barisan pemberontak sudah menyerbu, terpaksa aku tidak suka melayanimu lebih lama lagi. Nanti saja di pertemuan mendatang kita lanjutkan untuk menentukan siapa sebenarnya Raja Pedang!"
"Siauw-ong-kwi, kau terlalu memuji. Kepandaianmu juga pinto lihat banyak lebih lihai daripada dulu. Dalam per-temuan di Thai-san nanti kiranya pinto takkan kuat menghadapimu." Ucapan kakek Kun-lun-pai ini memang dengan sejujurnya. Tadi dia dapat menindih la-wannya dengan ilmu pedangnya yang lebih murni dan lebih kuat, akan tetapi dalam hal tenaga dan keuletan, kalau pertempuran dilanjutkan, dia pasti akan kalah oleh Siauw-ong-kwi yang belasan tahun Jebih muda itu.
Siauw-ong-kwi lalu melesat ke arah muridnya. Giam Kin yang pada saat itu sudah terdesak hebat oleh Bun Lim Kwi yang dibantr oleh Thio Bwee. Sekali kebutkan ujung lengan bajunya, Siauw-ong-kwi telah membuat pedang Lim Kwi dan Thio Bwee terpental ke belakang, malah Thio Bwee terhuyung beberapa» tindak sedangkan Lim Kwi yang lebih tinggi ilmunya hanya tergetar tangannya. Namun sudah cukup untuk memberi kesempatan kepada Giam Kin untuk meloncat ke belakang dan menyusul.gurunya lari pergi.
Hek-hwa Kui-bo masih mengejar-ngejar Beng San dengan Ilmu Pedang Im sin-kiam. Makin penasaran hatinya karena belum juga ia dapat merobohkan pernuda? ini. Sebetulnya, jangankan merobohkan, ujung pedangnya malah belum pernah mencium ujung baju pemuda itu yang dengan gesit melompat ke sana ke mari dengan gerakan tidak karuan seperti orang ketakutan, namun setiap lompatan-nya merupakan kelitan yang amat sem-purna dan tepat untuk menghindarkcrig serangan-serangan jurus Im-sin Kiam hoat. Orang-orang yang berada di situ tadinya sedang sibuk menghadapi lawan masing-masing, maka tidak ada yang menarik perhatian akan kedatangannya Beng San. Sekarang mereka mendapat kesempatan menonton, mereka heran dan juga khawatir menyaksikan pemuda itu dikejar-kejar Hek-hwa Kui-bo.
Pek Gan Siansu adalah seorang tokoh besar yang tajam penglihatannya. Melihat keadaan Beng San, sama sekali dia tidak ragu-ragu lagi bahwa tentu pemuda aneh ini memiliki kepandaian hebat, akan tetapi karena dia pun maklum akan keganasan Hek-hwa Kui-bo, maka dia segera berkata, "Ha-ha-ha, sungguh lucu sekali. Hek-hwa Kui-bo dengan pedangnya mengejar-ngejar seorang pemuda. Me-malukan betul!"
Comments