Skip to main content

raja-pedang-49-kho-ping-hoo

Tan Beng Kui mengangguk-angguk. "Bagus sekali tindakan Pangeran. Akan tetapi kenapa tidak memimpin sendiri atau setidaknya mewakilkan kepadaku untuk membereskan urusan besar itu."

Souw Kian Bi tertawa bergelak, me-nyambar cawan arak yang dibawa masuk pelayan lalu diminumnya sekali teguk. "Ha-ha-ha, untuk urusan itu sudah cukup ditangani dua cianpwe itu. Lebih pen-ting sekali adalah urusan di sini, yang terjadi di depan mata kita, Ciangkun."

"Urusan apakah itu?" ;

"Tan-ciangkun, kita benar-benar telah dipermainkan musuh. Dari surat-surat yang kudapatkan di tubuh mata-mata pemberontak itu, jelas bahwa di kota raja ini penuh dengan jaringan mata-mata yang dipimpin oleh dua orang yang disebut-sebut sebagai Ji-enghiong (Pendekar ke dua) dan Si-enghiong (Pendekar ke empat). Ternyata dua orang tokoh mata-mata yang ini sudah berada di sini bertahun-tahun lamanya."

"Aku pun sudah mengetahui tentang surat itu. Akan tetapi apakah surat-surat itu dapat dipercaya? Kenapa tidak disebutkan siapa orangnya dan di mana rumahnya? Pangeran, jangan-jangan surat itu hanyalah siasat untuk membingungkan kita saja."

Pangeran itu menggeleng-geleng ke-palanya. "Hemmm, tidak sesederhana itu wawasanku, Ciangkun. Tadinya aku sendiri pun menganggap demikian, akan tetapi setelah kurenungkan dan kuhubung-hubungkan semua kejadian yang lalu, aku malah hampir yakin bahwa aku tahu siapa adanya Ji-enghiong dan Si-enghiong pemimpin mata-rnata itu."

"Bagus sekali kalau begitu. Biappun baru dugaan, lebih baik tangkap dulu orangnya, paksa supaya mengaku. Apa sukarnya?" Tan Beng Kui berkata cepat dengan girang.

"Hemmm, kiranya kau masih belum dapat menduga siapa mereka itu? Benar-benar aku heran kalau kau yang biasanya amal cerdik ini tidak dapat menduga siapa adanya Ji-enghiong dan Si-enghiona itu?"

"Dalam hal ini aku harus mengakui kekuranganku, Pangeran. Siapakah dua orang tokoh pemberontak itu? Harap suka memberitahukan dan biarlah aku akan turun tangan sendiri menangkap mereka."

"Seorang diantaranya adalah Kwee Sin."

"Apa.....??" Wajah Beng Kui berubah sekali dan dia benar-benar terkejut mendengar ini.

"Pangeran, harap kau jangan main-main!"

"Tidak, Ciangkun. Dugaanku tak mungkin keliru, seorang di antara mereka itu, entah Ji-enghiong entah Si-enghiong, adalah Kwee Sin. Dan yang seorang lagi, sudah tentu adalah Lee Giok....."

"Tidak mungkin!" Beng Kui sampai melompat dari bangkunya, kemudian dia tertawa bergelak. "Souw-taijin benar-benar main-main kali ini. Lee-siocia adalah puteri keluarga bangsawan Lee yang sudah terkenal, juga dia membantu kita. Mana bisa dia dituduh kepala mata-mata? Ah, aku mana bisa percaya akan hal ini?"

"Tuduhanku bukan hanya serampangan saja, Tan-ciangkun, tapi berdasarkan perhitungan. Selama ini segala rahasia kita bocor sehingga gerakan para pemberontak dapat cepat dan makin mengancam kedudukan kita. Akan tetapi kejadian kali ini, coba Ciangkun pikir. Kwee Sin lenyap, katakanlah diculik musuh-musuhnya akan tetapi kenapa nona Lee Giok terlihat menyamar sebagai seorang nenek dan mengadakan pertemuan dengan dua orang kakek yang mencoba untuk menculik Kwee Sin, kemudian nona Lee Giok malah diam-diam menghilang dari kota raja? Dan menurut penyelidikan, nona Lee Giok mengejar Kwee Sin ke Hoa-san."

"Begitukah? Tapi, bisa jadi kalau nona Lee Giok bermaksud menolong Kwee Sin dari tangan para pemberontak."

Souw Kian Bi tertawa. "Betul ada kemungkinan itu, akan tetapi biarlah kita sama lihat saja. Aku sudah mengutus pasukan itu menyusul dan membawa mereka berdua kembali ke kota raja, kalau perlu menghancurkan Hoa-san-pai"

"Hoa-san-pai adalah partai yang kuat, banyak terdapat, orang pandai di sana dan Lian Bu Tojin sendiri memiliki kesaktian yang tinggi. Mana bisa dihancurkan begitu saja oleh sebuah pasukan?" tanya Tan Beng Kul.

"Ha-ha-ha, kau tidak tahu siapa adanya dua orang cianpwe itu? Seorang adalah Hek-hwa Kui-bo dan orang ke dua adalah Siauw-ong-kwi Locianpwe. Ha-ha-ha, apakah mereka itu tidak cukup kuat untuk menghancurkan Hoa-san-pai?"

"Hebat! Benar-benar aku takluk kepadamu, Pangeran. Bagaimana kau dapat menarik dua orang locianpwe itu untuk membantu kita menumpas Hoa-san-pai?"

Souw Kian Bi tertawa girang, jarang dia bisa mendapat pujian Tan Beng Kui yang biasanya amat cerdik dan banyak membuat jasa itu. "Baiklah aku berterus terang kepadamu, Hek-hwa Kui-bo dapat ditarik karena permintaan muridnya, Kim-thouw Thian-li....."

"Hemmm, tentu kekasih Kwee Sin itu, bukan? Bagus!"

"Selain kekasih Kwee Sin, Kim-thouw Thian-li dengan Ngo-lian-kauw yang dipimpinnya, harus diakui sudah amat banyak jasanya terhadap kita, apalagi dalam hal mengadu domba golongan-golongan pemberontak. Adapun Siauw-ong-kwi Locianpwe, biarpun dia orang pertapa yang aneh, namun dia berasal dari utara, tentu saja suka membantu kita, apalagi ditangisi muridnya yang ingin mendapatkan seorang gadis anak murid Hoa-san pai."

"Kau maksudkan si Raja Liar Giam Xin itu, Pangeran?"

"Siapa lagi kalau bukan dia?" Souw Kian Bi tertawa. "Siluman cilik itu telah tergila-gila kepada murid Hoa-san-pai yang bernama Thio Bwee. Ha-ha-ha!"

Tan Beng Kui juga tertawa sehingga dua orang berpangkat ini tertawa bergelak. Suara ketawa mereka memenuhi ruangan itu. Beng San dengan hati gemas dan kaget cepat pergi dari situ untuk menyusul ke Hoa-san. Hoa-san-pai terancam bahaya besar, pikirnya. Dia harus cepat pergi ke Hoa-san untuk membesa Hoa-san-pai dari kehancuran. Juga kalau betul apa yang dia dengar dari Souw Kian Bi tadi bahwa Kwee Sin adalah seorang pemimpin pasukan mata-mata pejuang, dia harus menyelamatkannya. Diam-diam Beng San bingung, juga terharu. Betulkah Kwee Sin seorang pejuang? Malah menjadi pemimpin di kota raja, di "mulut harimau"? Dan nona muda Lee Giok itu? Betulkah dia pemimpin pejuang pula? Ah, rasanya tak masuk di akal,

Biarpun mulutnya memaki-maki Kwee Sin yang berlutut di depannya bersama Bun Lim Kwi, akan tetapi di dalam hati-nya Pek Gan Siansu menjadi terharu sekali dan juga girang bahwa bekas mu-ridnya ini sekarang mau menyerahkan diri dan bersedia rnembersihkan nama baik Kun-lun-pai.

"Kau murid murtad, kembalikan pedang kami!" kata Pek Gan Siansu setelah mendengar penuturan Bun Lim Kwi dan mendengar permohonan ampun Kwee Sin yang menangis di depan suhunya. Kweg Sin dengan air mata berlinang meloloskan pedangn-ya yang dulu dia terima dari gurunya, dengan berlutut dan dengan kedua tangan dia mengembalikan pedang itu.

Pek Gan Siansu memegang pedang dengan dua tangan, mengerahkan tenaga dalamnya dan "pletakkk!" pedang itu patah menjadi dua potong. Dilemparkannya potongan pedang ke atas tanah sambil berkata, "Semenjak saat ini kau bu-kan anak murid Kun-lun-pai lagi. Karena kau sudah dianggap orang luar yang mencemarkan nama baik Kun-lun-pai dan mengadu Kun-lun-pai terhadap Hoa-san-pai, maka kau adalah tangkapan ketua dan hendak kami antarkan ke Hoa-san-pai. Gara-gara perbuatanmulah pinto kehilangan murid-murid terkasih yang dulu terkenal dengan nama Kun-lun Sam-heng-te! Karena kaulah perhubungan baik Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai menjadi pecah-belah. Lim Kwi, bersiaplah, kau dan aku sendiri akan mengantarkan orang tangkapan ini ke Hoa-san-pai untuk menebus dosa."

Bun Lim Kwi yang sudah beberapa lamanya melakukan perjalanan berdua dengan Kwee Sin, sudah mendengar penuturan bekas murid Kun-lun-pai ini, dengan suara terharu mintakan ampun dan mengingatkan gurunya bahwa se-benarnya Kwee Sin tidak melakukan se-mua perbuatan jahat itu, yang' melakukan adalah orang-orang Ngo-lian-kauw.

"Dia sudah begitu rendah untuk jatuh oleh rayuan siluman wanita Ngo-lian-kauw, dengan sendirinya semua perbuatan Ngo-lian-kauw yang tidak ditentangnya menjadi tanggung jawabnya juga." Hanya demikian jawaban Pek Gan Siansu sing-kat. Lim Kwi tak berani membantah lagi dan berangkatlah tiga orang ini ke Mi san.

Lian Bu Tojin, Kwa Tin Siong, dan Liem Sian Hwa bersama tosu Hoa-san-pai menyambut kedatangan Pek Gan Siansu, Lim Kwi, dan Kwee Sin.

"Lian Bu Tojin" kata Pek Gan Siansu setelah mereka saling memberi hormat, "bekas murid vang durhaka ini sekarang telah datang untuk mempertanggungjawabkan semua kesalahannya terhadap Hoa san-pai. Silakan kau mengambil keputusan dan mengadilinya, kau mau hukum dia atau apa saja, tidak ada hubungannya lagi dengan kami dari Kun-lun-pai. Maka, dengan datangnya dia ini, kuharap kau suka menghabiskan segala permusuhan dan suka menerima usulku untuk nnenjodohkan muridku Bun Lim Kwi dengan seorang di antara anak muridmu."

"Pek Gan Siansu, urusan perjodohan adalah urusan baik dan hal ini dapat dibicarakan lain hari. Sekarang yang penting adalah mengadili orang yang selana ini menjadi biang keladi segala keributan pinto hendak mendahulukan pengadilan ini." Ketua Hoa-san-pai itu lalu memberi tanda dengan tepukan tangan dan memerintahkan beberapa orang tosu untuk membawa Kwee Sin ke dalam "ruang pengadilan".

Ruangan pengadilan ini berada di tengah-tengah, merupakan ruang yang lebar dan biasanya di sinilah para anak murid Hoa-san-pai Yang melakukan penyelewengan diadili dan dijatuhi hukuman. Lian Bu Tojin sudah duduk di atas bangku, Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa berdiri di kanan kirinya, lalu ber-turut-turut muncul Thio Ki, Thio Bwee dan Kui Lok yang berdiri di belakang ketua Hoa-san-pai itu. Di pinggir ruangan itu berjajar murid-murid Hoa-san-pai tingkat paling tinggi dan keadaan di situ amatlah angkernya. Sebagai tamu, Pek Gan Siansu dan Bun Lim Kwi mendapat tempat duduk di samping. Wajah kakek Kun-lun-pai ini nampak muram, demi-kianpun Bun Lim Kwi. Hal ini tidak mengherankan oleh karena orang yang hendak diadili ini adalah bekas murid Kun-lun-pai.

Oleh seorang tosu penjaga, Kwee Sin dibawa masuk dan disuruh berlutut di depan ketua Hoa-san-pai. Akan tetapi Kwee Sin tidak mau, dan hanya menjura dengan memberi hormat sambil berkata,

"Saya Kwee Sin menghaturkan hormat kepada ketua Hoa-san-pai. Terhadap Hoa-san-pai saya tidak merasa mempunyai kesalahan apa-apa, oleh karena itu saya terpaksa menolak untuk berlutut sebagai seora.ng pesakitan, saya hanya suka menghadap sebagai seorang yang hendak ditanya tentang hal-hal yang menjadikan. salah faham dan menimbulkan keributan" Suara Kwee Sin tetap dan sama sekali tidak gugup, hanya pandang matanya yang berani menentang siapa saja di situ tetapi dia selalu menghindarkan pandang mata ke arah Liem Sian Hwa.

Kwa Tin Siong bertugas mewakili gurunya untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Mendengar ucapan Kwee Sin itu, dengan muka keren dia berkata, "Kwee Sin, kau dengan enak menyatakan tidak mempunyai kesalahan apa-apa terhadap Hoa-san-pai. Kalau begitu coba kaujawab dan terangkan soal-soal yang terjadi selama ini, yang sekarang hendak kami tuduhkan kepadamu. Pertama, bukankah ayah sumoi Liem Sian Hwa tewas dalam tangahmu atau setidaknya karena perbuatanmu? Ke dua, ketika kau diantar oleh dua orang suhengmu ke sini beberapa tahun yang Jalu kemudian kau ternyata bersekongkol dengan Ngo-lian-kauw dan malah menipu kami dan lari bersama Hek-hwa Kui-bo sehingga terjadi bentrok antara suheng-suhengmu dengan kami fihak Hoa-san-pai. Bukankah hal ini menjadikan permusuhan dan disebabkan oleh kecuranganmu? Ke tiga, kau lalu lari berkomplot dengan Ngo-lian-kauw, kemudian kau menyerbu ke Hoa-san-pai, berhasil membunuh dua orang suteku dan melukai kami dengan bantuan Ngo-lian-kauw dan Hek-hwa Kui-bo pula. Ke empat, kau menjadi pembesar di kota raja di samping fihak Ngo-lian-kauw, membiarkan kami dan Kun-lun-pai bermusuhan, bunuh-membunuh, sengaja kau diam dan membiarkan permusuhan berlarut-larut. Bukankah ini sesuai dengan siasat pemerintah dan memang kau sengaja bermaksud mengadu domba dan menghancurkan Hoa-san-pai? Nah, coba kau jawab empat macam tuduhan ini lalu kata-kan bagaimana kau berani bilang tidak bersalah terhadap Hoa-sah-pai?"

Wajah Kwee Sin menjadi pucat. Akan tetapi dia berdiri tegak dan matanya bersinar penuh semangat. ”Sekali penyesalan yang layak kutebus dengan nyawa. Demi keutuhan perhubungan antara Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai, biarlah pada saat ini aku Kwee Sin, bekas murid Kun-lun-pai....." sampai di sini suaranya menggetar karena terharu, "..... aku akan berterus terang. Hoa-san It-kiam Kwa Tin Siong, biarlah aku menjawab dan menerangkan pertanyaan-pertanyaan yang kauajukan itu satu demi satu. Pertanyaan pertama tentang kematian Liem Lo-enghiong, seperti juga dulu pernah kunyatakan, kematiannya sama sekali bukan sebab perbuatanku. Aku tidak membunuh-nya, bahkan tidak pernah bertemu dengannya. Hal ini berani kunyatakan dengan sumpah sebagai bekas murid Kun-lun....."

"Jangan sebut-sebut nama Kun-lun-pai," kata Pek Gan Siansu, tenang namun berwibawa.

"Maafkan teecu....." Kwee Sin cepat berkata, suaranya parau, kemudian dia menghadapi Kwa Tin Siong lagi. "Aku berani bersumpah sebagai seorang laki-laki, demi kehormatan dan namaku, aku tidak membunuh Liem Lo-enghiong."

Kwa Tin Siong dan yang lain-lain pernah mendengar dari Beng San tentang hal ini, akan tetapi karena meriurut ang-gapan mereka tetap saja Kwee Sin yang menjadi biang keladinya, Kwa Tin Siong mendesak terus, "Kalau kau begitu yakin bahwa kau bukan pembunuhnya, sudah tentu kau tahu siapa pembunuhnya yang menggunakan pukulan Pek-lek-jiu? Liem-sumoi menuduh bahwa ayahnya kaubunuh karena ada tanda luka bekas pukulan Pek-lek-jiu, diperkuat dugaan bahwa tentu kau malu dan marah terlihat oleh ayahnya ketika kau berpesiar bersama ketua-Ngo-lian-kauw."

Wajah Kwee Sin yang tadinya pucat berubah merah sebentar, lalu pucat lagi. "Tadinya aku tidak tahu siapa pembunuhnya, baru kemudian ini aku mengetahui semua bahwa memang orang menggunakan namaku dengan maksud mengadu domba antara Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai."

"Siapa orang itu?"

Kwee Sin tampak ragu-ragu namun kemudian berkata, "Pembunuh ayah nona Liem adalah Kim-thouw Thian-li ketua Ngo-lian-kauw bersama anak buahnya yang menyamar sebagai anggauta-angguta Pek-lian-pai!"

Sunyi seketika, terdengar isak tanngis Liem Sian Hwa disusul bisikannya.

"Aku , harus membasmi Ngo-lian kauw...."



Akan tetapi kesunyian itu segera dipecahkan oleh suara Kwee Sin yang melanjutkan keterangannya dan kini semua orang mendengarkannya penuh perhatian.

"Keterangan untuk menjawab tuduhan ke dua dapat kujelaskan dengan sumpah pula bahwa ketika aku datang ke sini diantar oleh kedua suhengku, aku benar-benar bermaksud hendak memberi keterangan seperti yang kulakukan pada ini hari. Akan tetapi, Cuwi sekalian di sini telah mengetahui betapa aku yang hendak mengakhiri hidupku untuk menebus dosa, tidak berdaya ketika disambar pergi oleh Hek-Hwa Kui-bo. Terhadap kepandaian nenek itu aku yang bodoh bisa berbuat apakah? Dan memang aku meng-akui bahwa sejak itu aku bekerja di kota raja sebagai perwira, adapun hal ini ada-lah rahasia pribadiku dan tak perlu kuterangkan kepada siapa pun juga."

Pek Gan Siansu mengeluarkan suara mendengus dengan hidungnya. Kakek iru merasa terpukul mendengar betapa bekas muridnya tanpa malu-malu mengaku telah bekerja sebagai perwira di kota raja, berarti bekerja sebagai anjing penjajah. Pada hal dahulu dia tahu betul betapa besar semangat Kwee Sin untuk menen-tang penjajah dan membantu perjuangan kaum patriot.

"Tentang pertanyaan ketiga, terang aku mengakui bahwa memang ada niat di hatiku untuk melakukan pembalasan dendam atas kematian dua orang suhengku di tempat ini. Pada waktu itu kupikir bahwa dua orang suhengku itu sama sekali tidak bersalah, mereka datang hanya untuk mengantar aku dan memaksa aku menjelaskan duduknya perkara. Siapa kira..... dua orang suhengku itu, orang-orang gagah perkasa yang berbudi, menemui kematian di sini secara menyedihkan. Karena itulah aku datang melakukan pembalasan, dibantu oleh fi-hak Ngo-lian-kauw. Sebagai pengganti nyawa dua orang suhengku aku berhasil merenggut nyawa dua orang murid Hoa-san-pai, bukankah itu sudah pantas?" Sampai di sini Kwee Sin tersenyum pahit, jelas dia memperlihatkan sikap menyesal bukan main.

"Sekarang pertanyaan ke empat, memang aku menjadi pembesar di kota raja. Terhadap permusuhan antara Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai, aku tak dapat ber-buat apa-apa karena kedudukanku sebagai perwira. Dan untuk hal ini pun aku memiliki rahasia pribadi yang belum dapat kujelaskan sekarang, maupun kelak karena rahasia itu akan kubawa mati. Nah, para orang gagah dari Hoa-san-pai, aku Kwee Sin sudah menjelaskan semua."

Kwa Tin Siong berbisik-bisik dengan Lian Bu Tojin, kemudian dia maju pula berkata, suaranya nyaring jelas, "Kwee Sin, kami rasa pengakuan-pengakuapnmu itu cukup jujur, kecuali tentang rahasia pribadi yang kausembunyikan. Kami kira kau akan cukup jujur pula untuk mengakui bahwa perbuatanmulah yang menjadi biang keladi semua permusuhan antara Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai. Selamanya dua partai ini menjadi sahabat-sahabat baik, malah sudah ada ikatan kekeluargaan antara kedua partai melalui sumoi dan engkau. Akan tetapi, dengan tak kenal malu kau telah melakukan perhubungan gelap yang amat hina dengan siluman betina Kim-thouw Thian-li dari Ngo-lian-kauw sehingga terlihat oleh ayah sumoi dan menyebabkan ayah sumoi dibunuh oleh Kim-thouw Thian-li. Kemudi-an kau bukannya insyaf malah melanjut-kan perhubungan itu dengan fihak Ngo-lian-kauw, ditambah lagi menduduki jabat-an perwira di kota raja. Sekarang hendak kami tanya, bagaimana pertanggungan jawabmu terhadap semua ini? Ingat, bah-wa karena perbuatanmu yang rendah itu, telah banyak jatuh korban, baik di fihak Hoa-san-pai maupun fihak Kun-lun-pai. Dan tanpa ada pertanggungan jawabmu, kiranya kedua fihak akan terus turun tangan."

Dengan sikap gagah Kwee Sin mengangkat dada dan berkata nyaring, "Semenjak kecil aku dididik oleh Kun-iun-pai untuk menjadi seorang laki-laki yang menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran." Sampai di sini suaranya menggetar terharu dan dia mengerling ke arah Pe'k Gan Siansu yang duduk tak bergerak seperti patung. "Sudah tentu saja aku rnengakui semua kesalahanku, yaitu bahwa karena perhubunganku dengan Kim-thouw Thian-li maka terjadi keributan dan permusuhan antara Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai. Para orang gagah Hoa-san-pai, aku Kwee Sin mengaku berdosa dan terserah hukuman apa yang hendak kaiian ;, jatuhkan kepadaku."

Kembali Kwa Tin Siong berbisik-bisik kepada gurunya, kemudian menerima sebatang pedang dari tangan Lian Bu Tojin, pedang pusaka Hoa-san-pai! Dengan tenang dan suara tegas Kwa Tin Siong berkata, "Kesalahanmu terhadap Hoa-san-pai menimbulkan banyak korban nyawa anak murid Hoa-san-pai, karena itu seperti keharusan hukum kang-ouw, hutang nyawa bayar nyawa. Kwee Sin, mengingaf akan hubungan antara Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai, Suhu memberi keringanan kepadamu dan mempersilakan kau menjatuhkan hukuman bayar hutang nyawa dengan tanganmu sendiri."

Kwee Sin memandang ke arah pedang itu, lalu menerimanya dan tiba-tiba men-jatuhkan diri berlutut di depan Pek Gan Siansu. "Suhu, perkenankanlah teecu mohon kemurahan hati Suhu untuk terakhir. Teecu yang banyak berdosa terhadap Suhu, mohon supaya Suhu yang menjalan-kan hukuman ihi sebagai penebus dosa teecu."

Wajah Pek Gan Siansu agak pucat. Sebetulnya di lubuk hatinya, kakek ini amat sayang kepada Kwee Sin, akan tetapi karena kenyataan membuktikan bahwa Kwee Sin telah melakukan penyelewengan, dia pun tak dapat berbuat apa-apa kecuali menyesal. "Kau bukan muridku lagi, aku tidak berhak mencam-spua urusan hukuman."

Mendengar ini, Kwee Sin bangkit berdiri dengan air mata berlinang, lalu berkata perlahan, "Kwee Sin memang sudah terlalu berdosa, patut niengakhiri hidup-nya....."

Pedang berkelebat ke arah lehernya

"Kwee-enghiong.....!" Jerit melengking ini terdengar dibarengi berkelebatnya bayangan kuning yang ternyata adalah seorang gadis cantik berbaju kuning. Namun terlambat datangnya, pedang di tangan Kwee Sin sudah membabat lehernya. Jeritan tadi hanya mengagetkan Kwee Sin sehingga gerakan pedangnya tertahan dan batang lehernya tidak putus. Akan tetapi luka di leher cukup hebat, membuat dia roboh terguling bermandi darah. Gadis itu menangis dan menubruknya, memeluk dan mengangkat tubuh bagian atas yang dipangkunya.

"Kwee-enghiong..... kau..... kau..... ah, kenapa kau menuruti kemauan orang-orang yang mau enak sendiri? Kwee-enghiong..... kaudengarkan aku, kau dengarkan aku...,. aku Lee Giok, aku cinta padamu, ah jangan kautinggalkan aku....." Nona baju kuning ini bukan lain adalah Lee Giok yang sudah kita kenal suka menyamar sebagai nyonya Liong, mendekap kepala yang berlumuran dcirah itu sambil menangis. Kemudian ia ke-lihatan beringas dan marah, diletakkan kembali Kwee Sin ke atas tanah lalu ia meloncat berdiri menghadapi orang-orang Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai yang bengong menyaksikan itu semua.

"Kalian orang-orang kejam! Kalian orang-orang buta tak mengenal orang! Kalianlah yang memaksa Kwee-enghiong membunuh diri!"

Liem Sian Hwa makin sakit hatinya melihat betapa sekarang, di samping Kim-thouw Thian-li, ada lagi seorang gadis cantik yang mencinta Kwee Sin dan datang-datang memaki-maki, maka ia membentak, "Siluman dari mana datang-datang hendak mencampuri urusan kami?" la melangkah nnaju dan mencabut pedangnya.

Lee Giok dengan mata berapi memandang Sian Hwa. "Hemmm, kau tentulah Kiam-eng-cu Liem Sian Hwa yang dulu menjadi tunangan Kwee-enghiong, bukan? Orang yang mabuk akan dendam, yang memikirkan diri sendiri, yang sempit pandangan. Orang seperti kau ini mana patut disandingkan Kwee-enghiong yang gagah perkasa?"

"Cih, asal buka mulut saja" Sian Hwa balas memaki. "Dia begitu hina untuk berhubungan dengan ketua Ngo-lian-kauw, dan merendahkan diri dengan menjadi kaki tangan penjajah, menjadi pengkhianat bangsa. Dan kau masih memuji-mujinya. Kiranya kau pun takkan jauh sifatnya dengan orang-orang macam dia dan Kim-thouw Thian-li!"

"Bodoh! Goblok orang-orang macam kalian!" Lee Giok memaki, air matanya bercucuran. "Ahhh..... buta kalian! Dia ini, adalah Si-enghiong....."

Tiba-tiba Pek Gan Siansu yang merasa curiga, akan semua adegan itu, bertanya.

"Siapa itu Si-enghiong (Pendekar keempat)?"

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Silat Indonesia Download

Silahkan download Cerita Halaman ke 1 Serial Putri Hatum dan Kaisar Putri Harum dan Kaisar Jilid 1 Putri Harum dan Kaisar Jilid 2 dan 3 Putri Harum dan Kaisar Jilid 4 dan 5 Putri Harum dan Kaisar Jilid 6 dan 7 Putri Harum dan Kaisar Jilid 8 dan 9 Putri Harum dan Kaisar Jilid 10 dan 11 Putri Harum dan Kaisar Jilid 12 dan 13 Putri Harum dan Kaisar Jilid 14 dan 15 Putri Harum dan Kaisar Jilid 16 dan 17 Putri Harum dan Kaisar Jilid 18 dan 19 Putri Harum dan Kaisar Jilid 20 dan 21 Putri Harum dan Kaisar Jilid 22 dan 23 Putri Harum dan Kaisar Jilid 24 dan 25 Putri Harum dan Kaisar Jilid 26 dan 27 Putri Harum dan Kaisar Jilid 28 dan 29 Putri Harum dan Kaisar Jilid 30 dan 31 Putri Harum dan Kaisar Jilid 32 dan 33 Putri Harum dan Kaisar Jilid 34 dan 35 Putri Harum dan Kaisar Jilid 36 dan 37 Serial Pedang Kayu Harum Lengkap PedangKayuHarum.txt PKH02-Petualang_Asmara.pdf PKH03-DewiMaut.pdf PKH04-PendekarLembahNaga.pdf PKH05-PendekarSadis.pdf PKH06-HartaKarunJenghisKhan.pdf PKH07-SilumanGoaTengkor...

Komunikasi Data

Link ini juga saya letakkan di ebook campuran http://www.ziddu.com/download/3344575/Komdat1.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344576/Komdat5.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344577/Komdat4.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344578/Komdat3.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344579/Komdat2.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344815/Komdat9.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344816/Komdat6.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344817/Komdat7.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344818/Komdat8.pdf.html

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau!...