Skip to main content

raja-pedang-47-kho-ping-hoo

Kwee Sin lalu menceritakan semua pengalamannya dahulu ketika dia mem-bantu kedua suhengnya mencari seorang bernama'" Thio San yang mereka anggap sebagai seorang penipu. Seperti telah ki-ta ketahui, Thio San seorang tokoh Pek-lian-pai hendak niembeli kuda dari Bun Si Teng dan minta agar supaya rombong-an kuda itu diantar ke sebuah hutan. Akan tetapi setibanya di tengah hutan, dua orang saudara Bun itu diserang oieh lima orang anggauta Pek-lian-pai yang dibantu oleh seorang wanita tak dikenal. Bun Si Liong terluka dan Kwee Sin yang mendengar hal ini menjadi niarah lalu pergi mencari Thio San di Hek-siong san. Dianggapnya bahwa Thio San adalai seorang yang menipu kedua suhengnyc, tidak saja merampas dua puluh eko kuda, malah telah melukai Bun Si Liong. Akhirnya di dalam hutan pohon siong itu , Kwee Sin bertemu dengan Thio San dan dalam pertempuran ini tiba-tiba muncul Kim-thouw Thian-li yang merobohkan Thio San dengan saputangan merahnya.

"Aku sendiri terluka oleh Pek-liar-ting yang dilepas oleh Thio San di leher-ku, sehingga aku roboh pingsan lalu di-bawa pergi oleh Kim-thouw Thian-li dan mungkin ketika itu Thio San telah tewas dan ditinggalkan di dalam hutan itu. Nah, demikianlah cerita yang sebenarnya. Mendiang Bun-suheng keduanya sama sekali tidak bertanggung jawab dan tidak 'tahu menahu tentang kematian ayahmu, Nona Thio. Ayahmu dahulu bertempur melawan aku dan roboh oieh Kim-thouw Thian-li."

Dengan mata merah karena menahan turunnya air matanya, Thio Eng memandang kepada Bun Lim Kwi yang kelihatan lega dan kebetulan pemuda ini pun memandang kepadanya dengan sayu tapi mulutnya tersenyum. Thio Eng menjadi fnerah wajahnya, merasa telah berlaku keterlaluan terhadap Bun Lim Kwi, teringat olehnya sikap Lim Kwi kepadanya dan betapa ia sudah merobohkan Lim Kwi atas bantuan Giam Kin.

"Kalau..... kalau begitu..... aku telah salah tangan....."

"Hampir saja, Nona. Hampir tamat I Ndupku di tanganmu, sayang bagimu, aku masih hidup berkat pertolongan saudara Beng San yang budiman ini....." jawab Lim Kwi.

Thio Eng menoleh kepada Beng San, terheran lalu mengangguk-angguk. "Hemm kiranya kau yang telah menolongnya, Tan-ko?"

”Aku mendapatkan dia menggeletak dengan luka berbisa, aku hanya membawanya dan minta tolong lain orang untuk menyembuhkannya. Eh, adikku yang baik, apakah kau telah menyerangnya dengan senjata beracun yang keji itu?"

Makin merah muka Thio Eng. "Jangan menuduh sembarangan! Aku adalah murid suhu Thai-lek-sin Swi Lek Hosiang, mana sudi sudi menggunakan racun? Ini gara-gara si Giam Kin iblis cilik itu yang menyerang dengan mendadak. Syukur kau telah menolongnya, Tan-ko, kalau tidak..... ah aku tentu berdosa membunuh orang tak berdosa. Siapa duga kalau bukan ayahnya yang membunuh ayahku? Ketika itu aku masih kecil..... aku melihat mayat ayat menggeletak di hutan, aku menangis dai ditolong oleh suhu dan aku melihat ayah nya di hutan itu pula....." Mendadak ga dis itu menudingkan ujung pedangnya kearah Kwee Sin sambil membentak.

"Kiranya kau manusia she Kwee yang menyebabkan kematian ayahku. Kau me nyerangnya dengan bantuan si iblis wanita dari Ngo-lian-kauw!" la hendak menyerang Kwee Sin, akan tetapi Beng San memegang lengannya.

"Nanti dulu, adik Eng, jangan keburu nafsu. Kau sudah mendengar sendiri tadi. Kwee-enghiong ini mencari ayahmu un-tuk membela keadilan karena suhengnya dilukai dan sejumlah kuda dirampas. Aku telah mendengar bahwa sebetulnya ayahmu, Thio San itu, adalah seorang patriot sejati, seorang tokoh Pek-lian-pai mana dia mau merampas kuda? Semua ini adalah fitnah fihak Ngo-lian-kauw belakci yang .berusaha atau bahkan bertugas untuk mengadu domba antara Pek-lian-pai dengan fihak Kun-lun atau fihak Kun- lun dengan fihak Hoa-san dan lain-lain."

"Orang muda, bagaimana kau bisa tahu akan hal itu?" tiba-tiba suara Kwee Sin terdengar keras penuh selidik, se-pasang matanya memandang tajam se'per-ti ingin menjenguk isi hati Beng San.

Beng San mengangkat pundak, "Kwee enghiong, tentu saja orang sebodoh aku mana bisa tahu akan itu semua? Tentu ada yang memberi tahu, yaitu orang-orang Pek-lian-pai sendiri."

Thio Eng kelihatan kurang puas. "Tan ko biarpun dia kena fitnah, tapi sudah terang bahwa orang ini tidak baik, buktinya dia membantu Ngo-lian-kauw dan membantu fihak jahat."

"Adik Eng, banyak di dunia ini terjadi kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja sebelumnya. Buktinya kau sendiri, kau mengejar-ngejar saudara Bun Lim Kwi, hendak membunuhnya bahkan sudah hampir membunuhnya karena bantuan serangan curang dari Giam Kin. Bukankah keadaan Kwee-enghiong dahulu juga hampir sepupa? Karena salah faham, mengira ayahmu menipu suheng-suhengnya, dia mencari dan menantangnya, akan tetapi di dalam pertempuran, ayahmu diroboh-kan secara pengecut oleh ketua Ngo lian-kauw. Nah, kalau kau sekarang menumpahkan semua kesalahan kepadanya, apakah orang lain juga tidak akan me-nimpakan semua kesalahan kepadamu tentang urusanmu dengan saudara Bun Lim Kwi? Ingatlah, dendam-mendendam bukanlah sifat yang baik. Urusan pembunuhan tak mungkin dapat diselesaikari dengan lain pembunuhan, karena hal itu akan berekor panjang, tali-temali dan akhirnya beberapa keturunan akan terus saling bermusuhan. Justeru untuk menjaga agar jangan terjadi demikian itulah maka aku di Hoa-san-pai tempo hari berjanji akan mencari Kwee-enghiong. Sekarang Kwee-enghiong sudah berada disini, tentu sebagai seorang jantan Kwee-enghiong akan berani mempertanggung-jawabkan kesemuanya kepada Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai."

Thio Eng kalah bicara, dengan bersungut-sungut menyimpan kembali pedangnya. Kwee Sin menjadi kagum. Kalau tadinya dia hendak menguji kepandaian Beng San, sekarang terbuka pikirannya dan dia merasa bahwa dia akan membuat diri sendiri tidak berharga sebagai seorang jantan kalau dia tidak berani pergi ke Hoa-san. Akan tetapi kalau dia pergi ke Hoa-san, tentu dia akan menemui kesulitan besar. Dalam keraguannya dia menoleh kepada Bun Lim Kwi.

"Lim Kwi, bagaimana pendapatmu" Biarlah kau mewakili .ayahmu dan pamanmu dalam hal ini, berilah pendapatmu bagaimana aku harus bertindak?" Suara Kwee Sin gemetar, tanda bahwa di dalam hatinya dia merasa menyesal bukan main.

"Kwee-susiok, segala perbuatan sudah terlanjur, menyesal pun takkan ada gunanya tanpa bukti penyesalanmu itu. Kalau, Susiok suka mendengarkan pendapat keponakanmu, marilah kita pergi menghadap suhu di Kun-lun-pai, menyerahkan semua kesalahan dan selanjutnya men-taati semua perintahnya. Biarlah saya, akan menemani Susiok andaikata Susiok harus menghadap ke Hoa-san-pai. Ingatlah, Susiok, semua ini demi kebaikan bukan hanya kebaikan Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai agar jangan bermusuhan terus, akan tetapi pada hakekatnya untuk kebaikan perjuangan bangsa kita yang sedang berusaha merobohkan pemerintah penjajah." Kata-kata Bun Lim Kwi bersemangat, kemudian pemuda ini menuturkan secara singkat tentang pertemuan di Hoa-san-pai tempo hari yang hampir saja mengakibatkan pertempuran besar-besaran kalau saja tidak dilerai oleh Beng San.

Kwee Sin mendengarkan dengan kagum. Juga Beng San girang sekati mendengar ini. "Bagus sekali kalau begitu, saudaraku Bun Lim Kwi! Aku percaya sepenuhnya kepadamu. Kau pergilah ber-sama Kwee-enghiong ke Hoa-san-pai. Terserah kalau kau hendak singgah ke Kun-lun-pai lebih dulu, pokpknya Kwee-enghiong harus dapat mengakhiri per-musuhan antara dua partai besar ini. Aku sendiri masih banyak urusan yang harus diselesaikan." Ucapan Beng San ini keluar dari hati yang jujur. Karena memang dia merasa girang sekali akan hasil usahanya. Mencari Kwee Sin dan membawanya ke Hoa-san-pai sudah berhasil dan dia pecaya bahwa Bun Lim Kwi pasti akan menjaga nama baik Kun-lun-pai dan membawa bekas paman gurunya itu ke Hoa-san. Soal ke dua, yaitu tentang permusuhan antara Lim Kwi dan Thio Eng, juga sudah selesai dengan adanya penjelasan dari Kwee Sin bahwa pembunuh ayah Thio Eng ternyata adalah Kim-thouw Thian-li. Tinggal dua soal lagi yang tak kalah pentingnya, bahkah amat penting baginya, yaitu, mencari nona Cia yang nyata-nyata telah memegang Liong-cu Siang-kiam, ke dua mencari Tan Beng Kui yang dia yakin adalah kakak kandungnya.

Bun Lim Kwi menyanggupi permintaan Beng San dan bersama Kwee Sin dia lalu meninggalkan tempat itu setelah lebih dulu menjura kepada Thio Eng dan ber-kata, "Nona Thio, aku bersyukur kepada Thian bahwa kau telah insyaf sekarang bahwa aku bukanlah musuh besarmu dan..... dan..... semoga kita akan dapat saling bertemu kembali dalam keadaan yang lebih..... baik....."

Kwee Sin sebelum pergi sempat berkata kepada Beng San, "Orang muda, sebetulnya aku masih penasaran. Kau ini..... murid siapakah? Dan sampai di manakah kepandaianmu....."



Beng San buru-buru menjawab, "Ah, Kwee-enghiong jangan main-main. Mana aku memiliki kepandaian apa segala? Sudahlah, selamat jalan, Kwee-enghiong, dan kalau ada jodoh kelak kita pasti akan bertemu kembali."

Thio Eng, hanya memandang saja ketika paman dan keponakan itu pergi, kemudian ia menoleh kepada Beng San "Tan-ko, aku sendiri heran....."

"Hemmm, heran apa lagi? Sudah terang pemuda she Bun itu amat gagah perkasa, tampan, lagi bukan musuh besarmu dan dia..... hemmrn, dia suka kepadamu, apalagi yang diherankan?"

Wajah Thio Eng menjadi merah sekali, lalu berubah pucat. "Tan-ko, jangan kau main-main. Siapa pedulikan dia? Yang aku herankan adalah kau. Kau ini seorang sastrawan muda, nampak lemah dan memang aku tahu kau tidak becus apa-apa. Kenapa kau berani mati mencampuri urusan Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai, urusan tokoh-tokoh persilatan? Pula, bagaimana kau sampai dapat berhasil membawa Kwee Sin pergi dari kota raja?"

"Aku pernah bekerja sebagai kacung di Hoa-san-pai, tentu saja aku tidak senang melihat Hoa-san-pai bermusuhan dengan Kun-lun-pai. Tentang Kwee Sin, agaknya dia sudah insyaf akan kesalahannya dan dengan suka rela dia ikut aku ke Hoa-san, apa anehnya? Adik Erig, se-telah kau sekarang mendengar bahwa pembunuh ayahmu bukan Bun Lim Kwi, melainkan Kim-thouw Thian-li ketua Ngo-lian-kauw, apa yang hendak kaulakukan?"

"Tentu saja aku akan mencari siluman betina itu dari membunuhnya!" jawab Thio Eng dengan gemas. . -

Beng San teringat betapa gadis ini pernah menyerangnya ketika dahulu dia menolong Tan Hok di luar tahu gadis ini, dan teringat pula dia betapa gadis ini adalah murid Thai-lek Swi Lek Hosiang yang dahulu pernah dia lihat membantu 'Pangeran Mongol Souw Kian Bi. Pula ketika Thio Eng bertempur melawan Lim Kwi, bukankah gadis ini dibantu pula oleh Giam Kin? Untuk mengetahui hati-nya, Beng San sengaja memancing.

"Adik Eng, kurasa kau sembrono se-kali kalau hendak mencari Kim-thouw Thian-li. Aku mendengar bahwa dia ada-lah ketua Ngo-lian-kauw yang berada 'di kota raja, kedudukannya tinggi dan ber-pengaruh besar. Bagaimana kau bisa masuk kota raja dengan selamat?, Kurasa tidak baiklah kalau kau menurutkan hati dendam dan nafsu membalas. Kiranya akan lebih baik kalau kau menyalurkan dendarn hatimu itu, dengan jalan yang lebih baik lagi."

"Hem, hemmm, kau memang tukang meniberi kuliah. Kuliah apalagi yang akan kauberikan sekarang? jalan lebih baik apa yang kaumaksudkan?" Thio Eng memandang dengan tajam, tapi mulutnya tersenyum manis dan kembali Beng San merasa jantungnya berdetak-detak menyaksikan sikap dan senyurn ini, teringat dia akan pengalamannya dahulu dengan Thio Eng di atas perahu.

"Begini, Eng-moi. Afeu mend^ngar bahwa mendiang ayahmu, Thio 5an, ada-lah seorang tokoh Pek-lian-pat, seorang pejuang yang rela mengorbankan nyawa demi perjuangan bangsanya. Karena itu, sudah selayaknya kalau kau sebagai pu- i ^.terinya melanjutkan jejak langkah ayah-mu, ikut merabantu para pejuang yang sedang berusaha membebaskan tanah air Man, bangsa darippda cengkeraman penjajah ." Kalau pada waktu sekarang ini musuhmu, Kim-thouw Thian-li merupakan kaki tangan pemerintah Mongol, maka jika kau membantu para pejuang, bukan-kah itu sama halnya dengan kau memusuhinya? Nah, kaupikirlah baik-baik, daripada mengantarkan nyawa sia-sia ke kota raja dan usahamu membalas dendam belum tentu berhasil, lebih baik kau membantu Pek-lian-pai dan para pejuang lainnya."

Berkerut kening yang halus itu. Mu-dah s'aja kau bicara. Suhu takkan mem-biarkan aku terbawa-bawa dalam pepe» rangan. Orang-orang yang berfihak pada pemerintah banyak yang jahat, tetapi juga para pejuang itu bukan orang baik-baik. Demikiankata suhu. Mendiang ayah-ku apakah akan tewas kalau dia tidak wenjadi tokoh Pek-lian-pai? Hemmm, Tan-ko, aku tidak mau terseret dalam 'urusan perang dan pemberontakan."

Beng San merasa kecewa. Tahulah dia sekarang. Kiranya Thio Eng tidak mau berfihak dalam urusan perjuangan ini, sesuai dengan perintah suhunya. Agaknya Swi Lek Hosiang sudah terkena bu)ukan orang-orang licin seperti Souw Kian Bi sehingga tidak mau membantu para pejuang.

”Jadi kau hendak nekat pergi ke kota raja?" tanyanya, khawatir.

"Aku hendak mencari dan membunuh musuh besarku, kemudian kalau masih panjang umurku, aku akan mengikuti perebutan gelar Raja Pedang di Thai-san. Tan-ko, terutama sekali aku mengharapkan akan dapat bertemu kembali dengan kau." la melangkah maju dan memegang lengan Beng San, menekannya dengan jari-jari gemetar, lalu lan cepat meninggalkan tempat itu. Beng San menarik napas panjang. la pun lalu berlari cepat menuju ke arah yang sama dengan padis itu. Memang dia harus kembali ke kota raja untuk mencari orang yang dianggap kakaknya, dan sekarang dia masih harus menjaga agar Thio Eng tidak sampai tertimpa malapetaka di tempat berbahaya itu.

Ilmu lari cepat Beng San sudah tentu lebih tinggi tingkatnya daripada kepandaian Thio Eng, maka sebentar saja dia sudah dapat menyusul gadis itu. Diamn-diam dia mengikuti dari belakang dalam jarak yang tidak terlalu jauh, akan tetapi juga tidak terlalu dekat sehingga gadis itu takkan dapat melihatnya. Ternyata olehnya bahwa Thio Eng mengambii jalan lain dan yang lebih dekat ke kota raja» 3alan yang melalui hutan dan gunung yang sunyi lagi sukar. Di kaki sebuah gunufig kecil, di pinggir jalan yang sunyi sekali, dengan heran dia melihat sebuah rumah yang membuka warung arak. Di-lihatnya gadis itu berhenti, memasukt warung ini dan terdengar memesan arak dan makanan. Beng San menelan ludah karena dia pun merasa dahaga ingin minum. Akan tetapi oleh karena dia tidak ingin gadis itu melihatnya, terpaksa dia hanya bersembunyi di bawah sebuah pohon besar tak jauh dari situ dan mengambil keputusan akan singgah di warung ini setelah Thio Eng selesai makan dan meninggalkan tempat itu.

Akan tetapi, sudah dua jam dia menunggu belun juga tampak Thio Eng keluar dari warung itu. Masa makan sampai sedemikian lamanya? la memang tidak berani dekat-dekat karena khawatir terlihat oleh Thio Eng, akan tetapi karena diang-gapnya terlalu lama sehingga tidak sewajarnya lagi, dia lalu bangkit berdiri dan berjalan perlahan-lahan menuju ke warung itu.

Ternyata warung itu kosong, tidak kelihatan Thio Eng maupun penjaga wa-rung. la menjadi curiga dan pada saat dia hendak membuka mulut, dia mendengar suara orang dari dalam.

"Celaka sekali kau ini! Apa matamu sudah buta? Dia ini kan murid Thai-lek-sin Swi Lek Hosiang?" Suara ini suara seorang wanita. Beng San menjadi tak sabar lagi karena kegelisahannya akan keselamatan Thio Eckg. Segera dia berseru.

"Dimana tukang warung?" Sambil berkata demikian, dia melangkah masuk dan hendak terus memasuki ruangan da-lam dari mana dia mendengar suara tadi, Hampir saja dia bertumbukan dengan dua orang yang ke luar dari pintu dalam, seorang laki-laki dan seorang wanita. Tiga pasang mata berpandangan dan ke« tiga orang ini berubah mukanya.

"Hemmm, kiranya kalian ini.....?" Beng San berkata dengan senyum pahit, teringat akan pengalamannya dahulu ketika dua orang irurnengaku-aku dia sebagai anak!

Dua orang itu memang suami isteri yang dahulu pernah mengakui Beng San sebagai anak, yaitu adalah Hui-sin-liong Ouw Kiu yang tinggi besar dengan muka pucat dan kumis melintang bersama Bi-sin-kiam Bhe Kit Nio si pesolek cantik genit Suami isteri penjahat ini segera mengenal Beng San. Keduanya kaget bukan main, akan tetapi Bhe Kit Nio masih sempat berseru sambil menubruk Beng San.

"Aduh, anakku..... ke mana saja kau pergi selama-ini?"

"Ah, Beng San anakku. Akhirnya kau pulang juga.....!" Ouw Kiu segera menyambung seruan isterinya.

Akan tetapi Beng San merigelak dari tubrukan-tubrukan itu dan berkata marah.

”Aku bukan anak kalian Tak perlu bermain sandiwara lagi, karena aku sudah tahu bahwa kalian bersama Hek-hwa Kui bo sengaja dahulu hendak menipuku. Hayo katakan, di mana adanya nona baju hijau yang tadi makan di sini?"

Ouw Kiu dan Bhe Kit Nio saling pan-dang kemudian Ouw Kiu membentak marah, "Anak durhaka kau'" Kepalan tangannya yang besar dan berat itu me-layang ke arah kepala Beng San. Tapi dengan amat mudahnya Beng San miring kan kepala mengelak.

"Kita lenyapkan dulu bedebah ini. Tiba-tiba Bhe Kit Nio kehilangan kemesraannya dan mencabut pedang, terus menyerang Beng San dengan hebat. Lihai juga kiranya perempuan yang berjuluk Bi-sin-kiam (Pendekar Sakti Yang Cantik) ini, sekalipun pedangnya sudah melakukan serangan tiga jurus banyaknya, mengarah leher, dada, dan pusar! Pada saat yang sama, Ouw Kiu sudah mengirim serangkaian serangan lagi yang amat diandalkan, yaitu tendangan berantai yang dia beri nama Ban-liong-twi (Tendangan Selaksa Naga)! Kedua kakinya bergerak susul-menyusuli dalam tendangan yang cepat dan kuat. Entah sudah berapa banyaknya lawan roboh oleh ilmu tendangan yang amat dibanggakan dan diandalkan oleh Ouw Kiu ini.

Pengeroyokan dua orang suami isteri ini yang mengeluarkan kepandaian masing-masing sudah terang dimaksudkan untuk membunuh Beng San yang dulu diaku sebagai anak kandung ini! Beng San men-jadi gemas dan marah. la anggap se-pasang suami isteri ini amat jahat dan palsu, apalagi kalau dia ingat bahwa mereka sudah menangkap Thio Eng, mung-kin dengan maksud keji pula. Betapapun juga, sebelum mempelajari ilmu silat, Beng San adalah seorang anak yang te-fcun mempelajari ilmu kebatinan dan fijsafat dari kitab-kitab suci, semenjak kecil menerima petuah dan pelajaran batin, dari para hwesio, maka membunuh reanusia baginya merupakan pantangan besar. Ketika dia melihat datangnya Serangan-serangan dua orang itu yang Mnat hebat mengancam jiwanya, dia menggunakan Ilnnu Silat Khong-ji-ciang (Tangan Kosong) yang dulu dia warisi dari kakek Phoa Ti, digabung de-ngan Ilmu Silat Pat-hong-ciang yang dia warisi dari kakek The Bok Nam. Dalan-i beberapa gebrakan saja dia sudah berhasil mengetuk pergelangan tangan Bhe Kit Nio sehingga pedangnya terlepas, mencelat dan menyambar ke arah suaminya sendiri. Pada saat itu, Ouw Kiu sedang sibuk dengan ilmu tendangannya, maka pedang isterinya itu dengan keras menyambar lengan kanannya sehingga hampir putus bagian atas sikunya. Ouw Kiu berteriak kesakitan, akan tetapi melanjutkan tendangannya ke arah perut Beng San. Pemuda ini menggeser kaki ke kiri, tangannya bergerak dan sekali sampok tendangan Ouw Kiu itu menyele-weng dan..... mengenai perut isterinya sendiri. Bhe Kit Nio menjerit dan tubuh-nya terlempar ke belakang, lalu terban-ting dengan napas empas-empis! Ouw Kiu kaget bukan niain, tapi juga gentar menghadapi pemuda yang lihai itu. Sekali melompat dia telah mendekati isterinya, dengan sebelah tangan membangunkannya, kemudian dua orang suami isteri yang sudah terluka itu tergesa-gesa lari pergi sambil saling bantu, terhuyung-huyung.

Beng San tidak pedulikan mereka lagi, ' cepat dia berlari masuk. Dalam ruangan yang agak gelap itu dia melihat tubuh I seorang gadis menggeletak di atas sebuah dipan dalam keadaan pingsan.

"Eng-moi...,.!" serunya sambil meloncat maju. 'Alangkah kaget dan herannya ketika dia sudah dekat dengan gadis itu, dia mendapat kenyataan bahwa gadis itu Sama sekali bukan Thio Eng si gadis baju hijau, melainkan seorang gadis cantik lain yang berbaju merah!

"Hong-moi.. tak terasa lagi Beng San berseru kaget. Gadis ini adaiah Kwa Hong yang entah sejak kapan dan bagai-mana tahu-tahu bisa berada di tempat itu dalam keadaan pingsan. Ketika men-dapat kenyataan bahwa Kwa Hong ping-san karena tertotok, cepat Beng San membebaskannya. Setelah jalan darahnya bebas dan kepalanya dibasahi air, Kwa Hong siuman kembali.

"Kau..... kau.....?" teriaknya, kaget, heran dan juga girang.

"Benar aku Beng San. Hong-moi, kenapa kau bisa berada di sini dan mengapa pula pingsan?"

Ditanya begini tiba-tiba Kwa Hong menangis dan segera Beng San merangkulnya karena tubuh gadis itu masih lemas sehingga tiba-tiba terguling, tentu akan jatuh ke bawah dipan kalau tidak dipeluknya. Setelah merasa dipeluk pemuda itu makin keras tangisnya dan Kwa Hong menyembunyikan mukanya di dada Beng San. Tentu saja Beng San menjadi bingung, hatinya berdebar-debar. la me-rasa betapa canggung dan "tidak beres" adegan ini, akan tetapi untuk memisahkan diri dia pun tidak tega. Semenjak kecil dahulu dia memang merasa amat suka kepada Kwa Hong, sekarang iara itu tanpa malu-malu menangis di cada-nya, siapa orangnya tidak berdebar jan-tungnya? Hati kasihan bercampur sayang mendorong Beng San untuk mengelus elus dan membelai rambut yang hitam halus itu.

"Sudahlah, Hong-moi, kenapa menangis? Lebih baik kauceritakan pengalamanmu, ia menghibur.

"Semua orang membenci aku ,,,,ah, semua orang nnembenciku....."

Beng San makin heran. "Eh, apa yang kaukatakan ini, Hong-moi? Siapa bilang semua orang membencimu? Yang terang aku tidak membencimu, aku..... aku.... suka dan sayang kepadamu." Ucapan inlt biarpun keluar dari kejujuran hatinya, akan tetapi kiranya takkan diucapkan kalau saja keadaan Kwa Hong tidak seperti itu dan memang dia hendak meng-hiburnya. Akan tetapi ucapari ini mendatangkan perubahan hebat pada diri Kwa Hong. Gadis ini merenggutkan kepalanya dari dada Beng San, matanya yang masih basah dan indah itu memandang tajam, berkedip-kedip lalu bertanya, "Betulkah itu? Coba katakan lagi, betulkah kau suka dan sayang kepadaku?"

Mendadak wajah Beng San menjadi merah sekali. Ah, pikirnya, mengapa ragu-ragu dan malu-malu? Bukankah memang dia suka dan sayang kepada Kwa Hong?

"Tentu saja, Hong-moi. Tentu saja aku suka dan sayang kepadamu."

Aneh! Tiba-tiba Kwa Hong tersenyum lebar, sehingga tampak giginya yang putih dan rapi biarpun matanya masih merah dan basah. "Kalau begitu aku tidak sedih lagi, San-ko. Lihat aku bisa tertawa! Orang sedunia boleh benci kepadaku, asal kau suka dan cinta. Hi-hi-hi, San-ko, lucu, ya? Semenjak dulu aku.... aku suka sekali kepadamu, aku cinta seorang yang lemah, tolol tapi gagah perkasa. Eh, siapa tahu, kiranya kau..... kau pun mencintaku." Sampai di sini Kwa Hong menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali.

Kagetlah Beng San. Ketika tadi dia mengatakan suka dan sayang, sama sekali dia tidak berpikir tentang cinta, tentang cintanya pemuda-pemudi yang diakhir dengan perjodohan.

"Ini..... ini....." ia tergagap.

"San-ko, kau mau bilang apa?" Kwa Hong sudah turun dari dipan, tubuhnya sudah tidak selemas tadi, tenaganya sudah hampir pulih. Dengan mesra gadis ini memegang tangan Beng San.

"Kau..... kau belum menceritakan pengalamanmu, Hong-moi."

Gadis itu cemberut ketika diingatkan kepada ini. "Sesudah perayaan di Hoa-san, ayah hendak memaksaku supaya aku suka dengan Thio-suheng. Aku tidak mau, biarpun suhu juga mendesakku. Kemudian ketika ayah membentak-bentak dan menanyakan mengapa aku menolak, dengan marah pula akn berterus terang bahwa aku suka kepadamu, San ko!"



Celaka, pikir Beng San. Bisa runyam nih! Masa di depan semua orang gadis ini terang-terangan mengaku kepadanya? "Lalu bagaimana, Hong-moi?"

"Melihat semua orang marah dan benci kepadaku, malam harinya aku lalu minggat dari Hoa-san, dan aku hendak menyusul ke kota raja. Aku tahu bahwa untuk mencari Kwee Sin, kau tentu pergi ke kota raja."

"Kenapa kau menyusul aku?"

"Ah, tidak senang di Hoa-san kalau semua orang marah kepadaku, di samping itu, aku..... ah, aku tidak tega mem-j biarkan kau sendiri mencari Kwee Sin di kota raja. Kau tentu akan menemui bahaya, maka aku menyusul untuk membantu." Gadis itu memandang mesra, kemudian melanjutkan, "Siapa duga, sesampainya di sini, suami isteri iblis tukang warung itu, ketika aku membeli makanan dan minuman, agaknya dalam minuman diberi racun yang memabukkan. Aku pingsan tak ingat apa-apa lagi, dan tahu-tahu kau telah berada di sini menolongku. Ah, Beng San-ko..... benar-benar aneh. Lagi-lagi kau yang lemah tidak berkepandaian apa-apa muncul sebagai penolong, menolong orang-orang yang memiliki kepandaian. Aneh dan ajaib....."

"Hong-moi, selain kau, masih ada lagi seorang gadis lain masuk perangkap penjahat-penjahat itu. Tadi kulihat nona Thio Eng memasuki warung ini dan tidak keluar lagi. Biarlah aku mencari dan menolongnya." la lalu melangkah ke dalam sebuah kamar tak jauh dari ruangan itu dan benar saja, di dalam kamar ini dia melihat Thio Eng rebah di lantai tidak pingsan lagi, akan tetapi kaki ta-ngannya diikat tali kuat-kuat dan mulutnya disumpal kain!

Cepat-cepat Beng San melepaskan tali pengikat kaki tangan gadis itu dan membuang pula kain penyumbat mulut. Akan tetapi, siapa kira, begitu terbebas Thio Eng melompat bangun dan "plak! plak!" dua kali pipi Beng San ditampar dari kanan kiri! Selagi Beng San melongo saking herannya, gadis itu sambil menudingkan telunjuknya berteriak.

"Tak usah tolong aku! Tak usah kau peduli keadaanku lagi, biarkan aku mampus dan teruskan kau berkasih-kasihan dengan siluman itu!" Kebetulan sekali Kwa Hong juga sudah masuk ke kamar ini dan dengan kemarahan meluap-luap Thio Eng menudingkan telunjuknya ke arah Kwa Hong. Gadis Hoa-san-pai ini menjadi merah sekali mukanya, merah karena malu dan juga karena marah. Kiranya semua yang ia ucapkan tadi telah didengar oleh gadis baju hijau ini! Yang repot adalah Beng San. Wah, celaka nih, pikirnya.

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Silat Indonesia Download

Silahkan download Cerita Halaman ke 1 Serial Putri Hatum dan Kaisar Putri Harum dan Kaisar Jilid 1 Putri Harum dan Kaisar Jilid 2 dan 3 Putri Harum dan Kaisar Jilid 4 dan 5 Putri Harum dan Kaisar Jilid 6 dan 7 Putri Harum dan Kaisar Jilid 8 dan 9 Putri Harum dan Kaisar Jilid 10 dan 11 Putri Harum dan Kaisar Jilid 12 dan 13 Putri Harum dan Kaisar Jilid 14 dan 15 Putri Harum dan Kaisar Jilid 16 dan 17 Putri Harum dan Kaisar Jilid 18 dan 19 Putri Harum dan Kaisar Jilid 20 dan 21 Putri Harum dan Kaisar Jilid 22 dan 23 Putri Harum dan Kaisar Jilid 24 dan 25 Putri Harum dan Kaisar Jilid 26 dan 27 Putri Harum dan Kaisar Jilid 28 dan 29 Putri Harum dan Kaisar Jilid 30 dan 31 Putri Harum dan Kaisar Jilid 32 dan 33 Putri Harum dan Kaisar Jilid 34 dan 35 Putri Harum dan Kaisar Jilid 36 dan 37 Serial Pedang Kayu Harum Lengkap PedangKayuHarum.txt PKH02-Petualang_Asmara.pdf PKH03-DewiMaut.pdf PKH04-PendekarLembahNaga.pdf PKH05-PendekarSadis.pdf PKH06-HartaKarunJenghisKhan.pdf PKH07-SilumanGoaTengkor...

Komunikasi Data

Link ini juga saya letakkan di ebook campuran http://www.ziddu.com/download/3344575/Komdat1.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344576/Komdat5.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344577/Komdat4.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344578/Komdat3.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344579/Komdat2.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344815/Komdat9.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344816/Komdat6.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344817/Komdat7.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344818/Komdat8.pdf.html

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau!...