Skip to main content

raja-pedang-45-kho-ping-hoo

Kwee Sin juga berdiri dan menjawab, "Ji-wi Phang-enghiong, dengan maksud apakah ji-wi hendak mengajak siauwte pergi ke sana?"

"Murid Kun-lun-pai yang murtad. Kau menjadi biang keladi permusuhan antara Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai. Kau harus mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu terhadap Hoa-san-pai!" kata Phang Tui tak sabar lagi.

Kwee Sin menghela napas. Ji-wi Phang-enghiong, urusan itu adalah urusan pribadiku, harap ji-wi sebagai orang luar jangan mencampurinya. Menginga ji-wi adalah tokoh-tokoh terkemuka dan Hun-lam, maka siauwte persilakan ji-wi pergi dengan baik-baik."

"Setan, siapa takut kepadamu? Kami sudah bersumpah untuk mmbawamu ke Hoaa-san, hidup atau mati. Tui-te (adik Tui), kautangkap dia, biar aku menjaga siluman ini!"

Phang Tui maju menubruk Kwee Sin dengan Ilmu Kim-na-jiu-hoat, kedua le-ngannya bergerak-gerak dan yang kanan mencengkeram ke arah pundak kiri se-dangkan tangan kirinya menotok )alan darah di leher. Terpaksa Kwee Sin cepat Inenggeser kaki ke belakang dan me-mutar lengan untuk menangkis. Tentu saja jago muda Kun-lun-pai ini tidak mau roembiarkan dirinya ditangkap begitu saja.

Sambil mengeluarkan suara ketawa mengejek Kim-thonw Thian-li menggerakkan kedua tangannya dan tangan kanan-nya sudah memegang sebuah golok tipis kecil yang amat indah bentuk dan gagangnya, sedangkan tangan kirinya sudah meloloskan sehelai saputangan nierah yang panjang. Phang Khai maklum bahwa .menghadapi wanita ketua Ngo-lian-pai ini tak perlu dia berJaku sungkan lagi maka sekali dia.menggereng, dia telah

Melakukan penyerangan dengan pedang dl tangan. Meiihat '-inar pedang yang me-nyarribarnya dari tiga jurusan, diam-diam Kim-thouw Thian-li kaget juga dan mak-lum bahwa ilmu pedang lawannya ini sania sekali tak boleh dipandang ringan. Cepat dia menangkis dengan gojoknya

"Traaanggg.....!" Phang Khai melonipat mundnr selangkah sedangkan Kim-thouw Thian-li merasa tangannya tergetar. Bu-kan main herannya Phang Khai. Seorang wanita yong bertubuh lemah gemulai dan halus itu kenapa bisa memiliki tenaga Yang-kang demikian besarnya? Dia sen-diri adalah seorang ahlt tenaga Yang, eh, siapa kira sekarang dia menghadapi se-orang wanita yang lebih besar tenaga-nya. la berlaku hati-hati dan mengerah-kan seluruh ilmu kepandaiannya urrtuk mendesak.

Ilmu pedang dari dua orang saudara Phang itu adalah ilmu pedang keturunan warisan nenek nioyang mereka. Memang asalnya satu sumbet dengan ilrnu pe-dang Hoa-san-pa», hanya sudah banyak perubahan. Oleh karena itulah maka dalam hal urusan Hoa-san-pai, dua orang kakek ini tidak mau melupakan sumber-nya dan ingin nienibantu Hoa-san-pai. Seperti juga ilmu pedang Hoa-san-pai, ilmu pedang Phang Khai amat indah dan cepat, hanya bedanya kalau ilmu pedang Hoa-san-pai mengutaniakan tenaga Im, adalah sebaliknya ilrnu pedang keluarga Phang ini mengutamakan tenaga Yang. Ketua Ngo-lian-pai itu, Kim-thouw Thian-yi, adalah murid dari Hek-hwa Kui-bo, tentu saja kepandaiannya hebat. Sayang-nya, pada tahun-tahun terakhir ini Kim-thouw Thian-li telah hidup dalam ke-senangan, selalu rnenurutkan nafsu me-ngejar kesenangan duniawi, sehingga dia maias untuk berlatih dan memperkuat tenaga dalamnya. Sekarang menghadapi seorang tokoh ilmu pedang seperti Phang Khai, biarpun tidak akan kalah dalam waktu singkat, juga amat sukarlah untuk mencapai kemenangan. Pertempuran ini faerlangsung makin hebat di ruangan itu.

Kwee Sin juga sudah mencabut pe-aangnya ketika Phang Tui yang merasa penasaran itu menyerangnya dengan pedang puta. Tadinya Phang Tui hendak menangkap Kwee Sin hidup-hidup, maka dia bertangan kosong dan mempergui akan ilmu yang arriat dia andalkan, yaitu ilmu tangkap Kim-na-jiu. Siapa kira, Kwee Sin selalu dapat membuyarkan ilmu ini de-ngan pukulan-pukulan Pek-lek-jiu, se-macam ilmu pukulan Kun-lun-pai yang amat dahsyat. Desakan-desakan ilmu tangkap itu selalu didesak mundur oleh pukulan Pek-lek-jiu, bahkan dia sendiri yang terancam bahaya, maka dia talu mempergunakan pedang. Kwee Sin juga seorang ahli pedang Kun-lun-pai, rnaka pertempuran ini pun hebat sekali.

Tiba-tiba Kim-thouw Thian-li mengeluarkan suara bersuit panjang sekali.

"Li-moi, jangan niencelakai mereka....." Kwee Sin menegur lalu berksta nyaring, ""Ji-wi Phang-cnghiong, harap sudahi pertempuran ini dan pergilah ji-wi (kalian) dengan aman!"

Akan tetapi dua orang jago kawakan seperti dua saudara Phang itu, sekali bekerja mana mau berhenti setengah jalan? Mereka iiialah mendesak makin hebat dalam usaha mengalahkan musuh dengan segera dan dapat membawa Kwee Sin dari situ, baik dalarn keadaan hidup maupun sudah mati! Tidak seperti Kwee Sin, mereka tidak tahu apa artinya suitan yang dikeluarkan oleh Kinri-thouw Thian-li tadi. Kiranya suitan itu adalah tanda rahasia bagi ketua Ngo-lian-kauw untuk memanggil anak buahnya. Di mana ketua-nya berada di situ pasti berkeliaran ba-nyak pembantu-pentbantunya yang setia, maka pada saat itu, belasan orang tokoh Ngo-lian-kauw nriemang sudah berkeliaran di sekitar rumah gedung tempat ttnggal KweeSin, siap untuk rmenghadap sewaktu-waktu ketua mereka memanggil.

Akan tetapi kali ini biarpun Kini-thouw Thian-li bersuit sampai tiga empat kaSi, tidak seorang pun anak buahnya muncul. la menjadi marah bukan nnain akan tetapi juga gelisah. Celaka, pikirrnya, kiranya dua orang kakek itu datang iengan banyak teman dan agaknya anak lx.ahnya telah dirobohkan di luar! Cepat sua niengeluarkan sebuah saputangan yang teraneka warna, saputangan sutera yang berbau harum sekali. Pada saat itu, pedang Phang Khai sudah menyambar cepat ke arah lehernya. Kim-thouw Thian-li membuang tubuh ke kiri karena tidak sempat nrienangkis lagi sehingga pedang meluncur di atas pundaknya. Tangan kirinya yang mencabut keluar saputangan tadi bergerak cepat, serangkum bau yang amat harum menyambar, Phang Khai mencium ganda yang luar biasa harum-nya, seketika kepalanya pening, .pandang matanya berkunang.

"Celaka....." la berseru dan berusaha mengerahkan Iweekangnya untuk melawan hawa beracun itu. Namun sia-sia, tubuh-nya limbung dan kakek gagah perkasa ini roboh terguling dengan pedang masih di tangan! Kim-thouw Thian-li tidak ber-henti sampai di situ saja. Cepat dia melompat ke dekat Phang Tui yang ma-sih saling gempur dengan Kwee Sin sam-bil mengebutkan saputangannya. Phang Tui juga tidak dapat menahan, roboh terguling dan pingsan.

Kim-thouw Thian-li sudah menggerakkan pedang untuk membacok mati dua orang itu, namun Kwee Sin cepat ber-seru, "Jangan bunuh mereka!" Kiranya Kwee Sin tidak terpengaruh oleh racun itu, kenapa? Hal ini tidak aneh. Sudah bertahun-tahun Kwee Sin berhubungan dengan Kim-thouw Thian-li, tentu saja dia sudah banyak pula mengenal senjata-senjata rahasia wanita ini dan tahu bagaimana cara menolaknya.

Kim-thouw Thian-li marah. "Dua ca-cing tua ini datang hendak membunuhmu, masa sekarang kau melarangku mem-bunuh mereka?" Pedangnya masih tetap diayun hendak dibacokkan. Pada saat itu dari luar menyambar angin keras, dan dua sinar hitam melesat cepat rriengenai dua buah lampu dalam ruangan. Seketika penerangan menjadi padam dan keadaan di dalam ruangan itu gelap gulita.

"Eh, apa ini.....?" Kwee Sin berseru kaget.

"Aduh.....!" Kim-thouw Thian-li mengeluh dan roboh tak dapat bergerak lagi. Ternyata hiat-to (jalan darah) di tubuhnya sudah kena ditotok orang dalam kegelapan itu dan ia roboh tanpa bergerak lagi.

Kwee Sin merasa tangannya dipegang orang. Cepat dia mengipatkan pegangan itu, tapi mendadak kedua tangannya lemas tak bertenaga lagi. la pun sudah terkena totokan orang dalam gelap yang amat lihai itu, kemudian dia merasa tubuhnya melayang dan berada di atas pundak orang yang memanggulnya. Biar-pun tubuhnya tak mampu bergerak, pikiran Kwee Sin masih terang dan tahulah dia bahwa dia telah dibawa lari orang, telah diculik oleh seorang yang berkepandaian tinggi. Berkali-kali orang yang memanggulnya itu meloncat tinggi, melalui rumah orang dan akhirnya melompati tembok kota raja, terus lari keluar dari kota raja dengan kecepatan yang mengagumkan.

Adapun Phang Khai dan Phang Tui yang tadinya roboh pingsan dengan tangan masih mencengkeram gagang pedang masing-masing, merasa hawa dingin menyambar ke muka mereka dan Phang Khai lebih dulu siuman dari pingsannya. la terheran-heran mendapatkan dirinya telah berada di kebun belakang kelenteng tua di mana dia dan adiknya selama bertugas di kota raja bersembunyi. Dilihatnya Phang Tui juga menggeletak di rumput. Pedang mereka terietak di situ pula. Cepat Phang Khai menolong adik-nya dan mereka berdua tiada habis ter-heran-heran bagaimana mereka yang tadinya roboh oleh hawa beracun Kim-thouw Thian-li sekarang tahu-tahu sudah berada di kebun kelenteng dalain keadaan baik-baik saja.

"Ah, tentu ada orang menolong kita," Rata Phang Khai kagum.

"Twa-ko, jangan-jangan Kwee. Sin yang menolong kita! Beberapa kali dia telah mencegah Kim-thouw Thian-li membunuh kita. Kiranya orang muda itu masih memiliki watak setia kawan terhadap orang kang-ouw, tapi kenapa dia terjerumus ke dalam lumpur kehinaan membantu pemerintah dan bersekongkol de-ngan iblis macam ketua Ngo-lian-kauw itu?"

Phang Khai menggeleng kepala. "Tak mungkin kalau Kwee Sin yang menolong kita. nalam hal ini terjadi sesuatu yang aneh. Kalau Kwee Sin yang menolong kita, bagaimana dia bisa tahu bahwa kita bermalam di tempat ini? Padahal tempat kita ini adalah rahasia kita sendiri. Selain itu tidakkah kaulihat betapa Kwee-Sin itu takut kepada Kim-thouw Thian-li? Mana bisa dia menolong kita?"

"Memang aneh." Phang Tui meng-angguk-angguk mengerutkan kening. "Akan tetapi, Twako, yang membikin aku hampir mati penasaran adalah gadis yang bernama nona Lee itu. Kau tentu tahu pula apa yang kumaksud, bukan?"

"Tentu saja. Dta boleh menyamar bagaimanapun juga, mana dia bisa mengubah matanya? Nona Lee adalah si dia itulah. Hemmm, dia telah mengkhianati kita, mernberi tahu kepada Kwee Sin tentang maksud kita. Orang macam itu mana bisa dijadikan kepercayaan Si-enghiong? Terang berbahaya sekali, karena dengan pengkhianatannya ini jelas membuktikan bahwa dia adalah seorang pengkhianat, seorang antek Mongol seperti Kwee Sin. Biarlah kanlihat saja sikapku besok lusa malam kalau kita bertemu dengan mereka."

Tiba-tiba Phang Tui yang tadi termenung menepuk pahanya. "Waaah, kenapa aku sampai lupa?"

"Apa maksudmu?" kakaknya bertanya.

"Twako, terang bahwa tadi ada orang pandai menolong kita sehingga dalam keadaan pingsan di ruangan gedung Kwee Sin kita bisa terbebas dari kematian.

Siapakah kaukira yang telah menolong kita tadi?"

"Mana aku tahu? Aku pun pingsan? ^eperti kau."

"Twako, sudah lama kita mendengar bahwa dua orang pemimpin pejuang yang bertugas di kota raja, yaitu Ji-enghiong (Pendekar ke dua) dan Si-enghiong (Pendekar ke empat) memiliki ilmu yang amat tinggi. Apakah bukan mereka yang telah menolong?"

"Ah, benar juga kata-katamu ini. Yang menolong kita tentulah orang yang mengerti keadaan dan tugas kita. Siapa pula kalau bukan mereka? Tapi yang manakah di antara kedua enghiong itu? Dan siapa pula sebenarnya mereka ini yang selalu bekerja penuh rahasia?"

Dua orang kakak beradik itu ber-hadapan dengan sebuah rahasia dan betapapun mereka memutar otak menduga-duga, tetap mereka tidak dapat memecah-kannya.

* * *

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Silat Indonesia Download

Silahkan download Cerita Halaman ke 1 Serial Putri Hatum dan Kaisar Putri Harum dan Kaisar Jilid 1 Putri Harum dan Kaisar Jilid 2 dan 3 Putri Harum dan Kaisar Jilid 4 dan 5 Putri Harum dan Kaisar Jilid 6 dan 7 Putri Harum dan Kaisar Jilid 8 dan 9 Putri Harum dan Kaisar Jilid 10 dan 11 Putri Harum dan Kaisar Jilid 12 dan 13 Putri Harum dan Kaisar Jilid 14 dan 15 Putri Harum dan Kaisar Jilid 16 dan 17 Putri Harum dan Kaisar Jilid 18 dan 19 Putri Harum dan Kaisar Jilid 20 dan 21 Putri Harum dan Kaisar Jilid 22 dan 23 Putri Harum dan Kaisar Jilid 24 dan 25 Putri Harum dan Kaisar Jilid 26 dan 27 Putri Harum dan Kaisar Jilid 28 dan 29 Putri Harum dan Kaisar Jilid 30 dan 31 Putri Harum dan Kaisar Jilid 32 dan 33 Putri Harum dan Kaisar Jilid 34 dan 35 Putri Harum dan Kaisar Jilid 36 dan 37 Serial Pedang Kayu Harum Lengkap PedangKayuHarum.txt PKH02-Petualang_Asmara.pdf PKH03-DewiMaut.pdf PKH04-PendekarLembahNaga.pdf PKH05-PendekarSadis.pdf PKH06-HartaKarunJenghisKhan.pdf PKH07-SilumanGoaTengkor...

Komunikasi Data

Link ini juga saya letakkan di ebook campuran http://www.ziddu.com/download/3344575/Komdat1.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344576/Komdat5.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344577/Komdat4.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344578/Komdat3.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344579/Komdat2.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344815/Komdat9.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344816/Komdat6.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344817/Komdat7.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344818/Komdat8.pdf.html

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau!...