Skip to main content

raja-pedang-44-kho-ping-hoo

"Tapi akulah yang sudah berjanji un-ttjk mencari Kwee Sin....."



 



"Tidak, saudara Beng San. Kau sudah terlalu banyak melakukan kebaikan ter-hadap Kun-lun-pai dan kami berterima kasih sekali. Akan tetapi untuk rnencari Kwee Sin adalah tanggung jawabku kare-na dia adalah bekas murid Kun-lun-pai juga. Akuhanya mohon peiunjuK-petunjuk-mu."



 



Beng San tertegun. la tidak tahu bahwa Lim Kwi teringat akan pesan suhunya agar supaya mendengarkan nasi-hat Beng San. Dia sendiri menganggap Beng San hanya seorang sastrawan muda yang berhati mulia dan yang sudah memberi pertolongan kepadanya dengan taruh-an nyawa. Tentu saja Beng San terheran mengapa seorang pemuda segagah Lim Kwi sampai tidak malu-malu minta petunjuknya.



 



"Saudara Bun, aku seorang lemah dan bodoh dapat memberi petunjuk apakah? Hanya kuharap saja kau berlaku halii-hati. Penyerangan gelap atas dirimu su-dah mesnbuktikan bahwa kau diincar oleh inusuh-musuh gelap. Kwee Sin menurut kabar telah memihak pemerintah pen-jajah yang sedang hendak digulingkan oleh para pejuang, maka mencari dia sama artinya dengan memasuki gua hari-mau dan lubang naga. Apalagi kalau diketahui bahwa kau anak murid Kun»-lun-pai yang hendak menangkap Kwee Sin, tentu kau dikurung bahaya."



 



Bun Lim Kwi menjura dan memberi hormat. "Nasihat-nasihatmu akan kuingat selalu. Semoga saja kelak Thian memberi kesempatan kepadaku untuk membdlas semua budi kebaikanmu, saudara Beng San. Perkenankan sekarang aku ,roelan}ut-kan perjalanan."



 



Beng San menjadi makin suka kepada pemuda Kun-lun-pai yang amat sopan dan merendah ini. Diam-diam dia membenarr kan diri sendiri yang hendak memenuhi pesan terakhir dari ayah pemuda ini. Mereka berpisah dan Beng San tidak menahannya lebih lama lagi karena pe-muda ini masih selalu gelisah kalau me-mikirkan perginya Bi Goat yang mengejar Toat-beng Yok-mo. la sendiri menghadapi bar.yak urusan penting. Di samping dia harus mencari Kwee Sin, juga dia ber-kewajiban merampas kembali Liong-cu Siang-kiam dan di sana masih ada orang yang dia duga adalah kakaknya dan yang sekarang agaknya menjadi kaki tangan Mongol pula. Apalagi sekarang muncul Bi Goat yang melakukan pengejaran ter-hadap seorang berbahaya seperti Toat-beng Yok-mo, dia harus membantu dan melindungi gadis gagu itu.



 



Dengan cepat Beng San lari mengejar untuk menyusul Bi Goat. Akan tetapi sampai berjam-jam dia tidak melihat ba-yangan gadis itu maupun bayangan Toat-bepg Yok-mo. Tentu dua orang yang berkejaran itu telah mengambil jalan lain. Beng San kecewa. Rindu hatinya terhadap Bi Goat inasih menebal, pertemuan yang hanya sebentar itu tldak mencukupi baginya. Aku harus ke sana pikirnya. Harus ke Min-san. la teringat akan Song-bun-kwi dan menjadi ragu-ragu. Bukankah orang sakti itu selalu memusuhinya? Malah bermaksud mern-bunuhnya kalau tidak dapat merampas Im-sin Kiam-sut? Akan tetapi, dia se-karang bukanlah dia dahulu. Dia tidak takut, kalau perlu dia akan melawan Song-bun-kwi, asal dia bisa dapat ber-temu dengan Bi Goat!



 



"Ah, tugasku masih banyak. Kenapa aku selalu teringat dia? Setelah semua tugas selesai dikerjakan, baru aku akan mencan Bi Goat," Setelah mencela diri sendiri Beng San menghentikan usahanya men-cari dan mengejar Bi Goat. Urusan merampas kembali Liong-cu Siang-Kiam bukanlah urusan yang terlalu mencu'sak, tidak perlu dia tergesa-gesa. Akan etapi urusan mencari Kwee Sin adalah yang paling mendesak, kemudian urusan ten-tang kakakfiya, Tan Beng Kui. Dan di^ maklum bahwa untuk mencari dua orang ini dia harus berani memasuki kota raja.



 



Kwee Sin kabarnya bekerja sama mem-bantu Ngo-lian-kauw, yang menjadi kaki tangan Mongol, adapun orang yang dia duga kakaknya itu datang ke Hoa-san-pai bersama Pangeran Mongol Souw Kian Bi. Setelah menetapkan hatinya, Beng San lalu mulai melakukan penyelidikan untuk mencari Kwee Sin.



 



* * *



Perjuangan rakyat yang befupa pem-berontakan-pemberontakan di sana-sini terhadap pemerintah penjajah makin lama makin berkembang luas. Pemerintah Goan yang didirikan oleh bangsa Mongol mulai goyah kedudukannya. Di seluruh daerah pedalarnan selalu terjadi perang gerilya yang dilakukan oleh para petani di bawah pimpinan orang-orang gagah. Pemberon-takan-pemberontakan ini bagaikan api yang makin lama makin besar, rnakm lama makin menjalar dekat kota raja;. Oieh karena ini maka keluarga Kerajaan Goan berkhawatir sekali dan tak dapat enak makan nyenyak tidur. Penjagaan di sekitar wilayah kota raja diperketat, mata-mata pun disebar di seluruh kota dan desa. Orang-orang dengan kepandaian tinggi yang dapat ditarik di fihak pemerintah Mongol dengan pancingan harta benda dan kedudukan tinggi, dikumpulkan di kota raja sebagai pelindung keselamat-an keluarga Kerajaan Goan.



 



Sunyi malam itu di sebuah dusurt yang letaknya di pinggir kota raja sebelah selatan. Malam belum larut benar, belum pukul sembilan. Akan tetapi keadaan sudah amat sunyi dan ketegangan seperti biasanya menyelubungi semua tempat yang berada dekat kota raja. Hal ini tidak mengherankan oleh karena semenjak ter-jadinya pemberontakan-pemberontakan, di sekitar kota raja selalu terjadi hal-hal yang hebat. Seakan-akan terjadi perten-tangan antara petugas-petugas keamanan dan para pejuang yang keduanya secara rahasia melakukan tugas masing-masing. Semacam perang rahasia antara para mata-mata pemerintah kontra para mata-mata pejuang. Fara pejuang yang be-rahasia itu amat gagah berani dan entah sudah berapa banyaknya pembesar Mongol dan perwira yang tahu-tahu telah ke-dapatan mati di dalam kamar masing-masing. Akan tetapi tidak sedikit pu-la mata-mata pejuang stu tertangkap dan diseret ke depan pcngadilan yang cepat nnemutusken hukuman mati bagi mereka ini.



 



Dua bayangan manusia berkelebat cepat sekali dalam kegelapan malam itu< Dengan ginkang yang tinggi kedua orang ini berlompatan menuju ke sebuah rumah yang tua dan buruk, tapi cukup besar. Kiranya rumah ini adalah sebuah rumah penginapan merangkap warung nasi yang sederhana, sebagai tempat menginap para saudagar dan pelancong yang hendak me-masuki kota raja. Dua bayangan itu me-masuki rumah dengan jalan aneh, yaitu melalui belakang dengan melompati pagar tembok. Di luar sebuah jendela mereka Jberhenti dan mengetuk jendela itu per-;lahan tiga kali. Dari dalam ada jawaban ketukan dua kali lalu jendela terbuka. Dua orang itu sekali melompat sudah melayang masuk.



 



Kamar itu cukup luas. Di dalamnya sudah duduk tiga orang, yaitu seo'ang berpakaian tentara berusia empat puluh tahun, seorang laki-laki pengemis yang berpakaian jembel bertubuh kurus dan pucat berusia kurang lebih lima puluh tahun dan yang seorang adalah seorang nenek tua bongkok berambut putih.



 



Adapun dua orang yang baru datang ini ternyata adalah dua orang kakek ber-pakaian seperti petani bercaping topi tani lebar. Yang hebat adalah ba'ang yang dibawa oleh dua orang itu. Ter-nyata sekarang di bawah penerangan lampu bahwa dua orang kakek petani ini masing-masing menjambak rambut sebuah kepala manusia! Begitu masuk, keduanya tertawa dan melemparkan dua byah ke-pala orang di atas meja.



 



Tiga orang itu segera bangkit dah memandang ke arah dua buah kepal itu penuh perhatian. Mereka mengenal dua buah kepala itu sebagai kepala dua orang perwira pemerintah Mongol yang kuasa di kota tak jauh dan situ. segera nenek itu bangkit dan menyambar dua buah kepala tadi, dimasukkan ke daJam keranjang lalu dia berkata, "Lebih dulu kusingkirkan kepala anjing ini." Setelah berkata demikian dia menyelinap ke belakang dan menghilang.



 



Tentara dan pengemis i'iu menjura kepada dua orang petani yang baru da-tang. "Tentulah ji-wi (saudara berdua) ini dua saudara Phang dari Hun-lam, bukan?" tanya pengemis itu.



 



Dua orang kakek petani itu menjura dan yang tertua menjawab, "Benar, siauwte adalah Phang Khai dan ini adikku Phang Tui. Karena tergesa-gesa, kami tak dapat memilih tanda pengenal yang lebih beberharga, harap maafkan."



 



Nenek yang tadi pergi ke belakang tnembawa dua buah kepala, kini sudah datang kembali ia mengomel, "Kepala perwira atau kepala pembesar sama saja, dapat mengurangi jumJah musuh cukup baik. Sayangnya ji-wi terlampan sembrono. Ji-wi adalah tokoh-tokoh terkenal di Hun Lam, mengapa datang ke sini tidak menyamar?"



 



Phang Khai tersenyum memandang nenek itu, lalu berkala, "Aku sudah lama mendengar bahwa orang kepercayaan Si-enghiorig (pendekar ke empat) adalah seorang wanita muda yang gagah dad lihai. Kau menyamar sebagai nenel, ba-gus sekali, akan tetapi bagaiman, se-orang nenek dapat memiliki sepasang mata sejeli ini?"



 



Nenek itu kelihatan terkejut. "Ah, Phang-lohiap benar-benar berrnata tajami sekali. Apakah penyantaranku kurang sempLirna?" Suara nenek itu yang tadiny^ parau dan gemetar seperti suara orang tua, sekarang berubah menjadi nyaring dan seperti suara wanita muda.



 



Phang Khai tertawa. "Ah, tidak, sama sekali tidak, Nona. Hanya aku mau me-nyatakan bahwa jika menyamar nialah lebih berbahaya dan mencurigakan karena tidak sewajarnya. Bentuk dan suara dapat disamar, akan tetapi bagaimana dengan warna dan sinar mata? Sudahlah, andai-kata anjing-anjing Mongol rnengetahui kedatangan kanii, apa sih yang kamitakuti? Paling-paling kalau tidak bisa membasmi mereka, kita yang akan ke-hilangan nyawa! Bukankah sudah lama kita riienyerahkan nyawa kita yang tak berharga ini kepada tanah air dan bang-sa? Ha-ha-ha!"



 



Tentara itu yang sejak tadi diam saja sekc.rang mencela, "Ucapan Phang-twako tak dapat kuterima. Memang bagi se-orang pejuang, mati hidupnya tidak ber-arti lagi asal demi perjuangan. Akan tetapi Phang-twako harus ingat bahwa tugas kita dalam perjuangan ini agak berbeda dengan tugas pejuang yang ber-tempur melawan musuh. Kalau kita se-dang bertugas di bidang itu, tentu saja aku yang bodoh takkan ragu-ragu untuk mempertaruhkan nyawa. Akan tetapi dalam kedudukan kita sekarang yang ber-tugas sebagai mata-mata, mengumpulkan keterangan dan .dalam hal ini, mengabdi kepada Si-enghiong, tentu saja segala hal harus kita lakukan dengan rahasia agar jangan sampai gerakan kita ini terbong-kar. Seorang saja tertangkap bisa mem-bahayakan seluruh anggauta gerakan. Bukankah celaka kalau begini?'



 



Phang Khai dan Phang Tui memandang tajam kepada "tentara Mongol" itu, lalu Phang Tui menjura. "Betul sekali ucapan ini," katanya kagum.



 



Phang Khai tiba-tiba berkata, "Sau-dara, maafkan aku!" Dan tahu-tahu dia telah mengirim serangan, tiga pukulan bertubi menyerang leher, dada dan perut . orang berpakaian tentara Mongo8 itu. Orang itu kaget |uga karena dia nriaklum betapa lihainya petani tua ini, akan te-tapi secepat kilat kedua tangannya di-putar dalam lingkaran untuk menangkis, malah dia segera dapat mencengkeram pergelangan tangan kanan Phang Khai sambil berseru, "Phang-twako harap jangan main-main!"



 



Phang Khai menarik tangannya sambil tertawa bergelak. "Aha, kiranya Bouw-enghiong yang menyamar sebagai tentara. Aduh, penyamaranmu benar-benar hebat, tentu dapat mengelabuhi musuh!"



 



Orang itu tertawa. Memang dia ada" tah Bouw Hin jago Bi-nam yang berjuluk Kang-jiu (Tangan Baia). Kiranya tadi Phang Khai menyerangnya untuk me-mancmg iJmunya Kang-jiauw-ciang (Ta-ngan Cakar Baja) tadi dikeluarkan, se-gera Phang Khai dapat mengenaJ siapa sebetulnya teman seperjuangan yang me-nyamar sebagai tentara musuh ini.



 



"Bagus, Phang-twako memang cerdik”, kata Bouw Hin sambil tertawa. "Tapi Phang-twako tentu belum mengenal dia ini.” Ia menuding kepada pengemis tadi. ”Biarlah kuperkenalkan dia kepada ji-wi Phang-twako. Dia ini adalah she Lim."



 



"Aha, bukankah Lim Seng yang berjuluk Kim-mouw-sai (Singa Bulu Emas) dan Kwi-bun?" kata Phang Tui



 



Pengemis itu berdiri dan menjura. Ji-wi Phang-enghiong benar-benar ber-mata tajam."



 



Nona yang menyamar sebagai nenek itu berkata, "Maaf, aku sendiri tidak boleh memperkenalkan diri. Tidak tahu urusan penting apakah yang hendak ji-wi sampaikan kepada Si-enghiong?"



 



"Hemmm, urusan ini penting sekali. Kami harus berjump sendiri dengan Si-enghiong," kata Phang Khai.



 



"Nenek" itu mengerutkan kening, lalu menggeleng kepalanya. "Phang-lopek apakah tidak pernah mendengar dari teman-teman bahwa ada hal yang amat tidak mungkin orang menemui Si-enghiong? Si-enghiong, seperti juga Sam-enghiong (pendekar ke tiga) adalah tokoh-tokoh rahasia yang tak boleh bertemu teman seperjuangan di kota raja ini, karena hal itu amat berbahaya. Sekali saja musuh mem-bongkar rahasia pribadi Sam-enghiong dan Si-enghiong, akan rusak binasalah semua usaha kita yang berjuang di bawah tanah di kota raja ini. Segala kepentingan harap Lopek beritahukan aku saja karena akulah satu-satunya orang yang dapat menghubungi Si-enghiong."



 



Phang Khai menghela napas. "Aku sudah mendengar akan hal itu, tapi ini adalah urusan yang amat penting." la tampak ragu-ragu.



 



Melihat keraguan ini, Kang-jiu Bouw, Hin yang berpakaian tentara Mongol itu herkata, nada suaranya tegas, "Siapa pun juga jangan harap dapat bertemu dengan Si-enghiong, malah aku sendlri pun tidak pernah bertemu dengannya, apalagi melihatnya atau mengenal siapa dia. Kalau ada urusan yang menyangkut kepentingan perjuangan, lekas ji-wi Twako memberi tahu kepada Nyonya Liong ini. Kalau berkeras hendak menemui Si-enghiong, lebih baik berita itu kalian bawa pergi lagi saja." Biarpun kata-katanya keras, akan tetapi lucu juga rienek yang nyata-nyata adalah penyamaran seorang nona muda ini disebut sebagai "nyonya Liong".



 



Phang Khai menjad! merah rr.ukahya. "Maaf kalau tadi aku iagu-ragu. Sesung-guhnya banyak hal yang akan kusampai-kan. Pertama-tama tentang pertemuan antara Hoa-san-pai dan Kun-iun-pai di puncak Hoa-san. Karni ^erdua menghadirii pertemuan itu dan....."



 



Nyonya Liong tersenyum, aneh kalau tersenyum karena seorang nenek setua itu giginya putih berjajar rapi. "Phang" lopek tak perlu menceritakan hal ini. Ketahuilah bahwa Si-enghiong sendiri juga hadir dalam pcrtemuan itu."



 



Dua orang saudara Phang ini tertegun dan saling pandang. Mereka adalah dua orang petani yang ketika dalam pertemu-an itu mendapat tempat sebagai tamu kehormatan, akan tetapi tidak melihat adanya orang yang patut menjadi Si-enghiong, pemimpin ke empat dari pasukan mata-mata di kota raja. Mungkin dia bersembunyi di antara rombongan para tamu yang tidak penting sehingga sukar dikenal, pikir mereka.



 



"Ah, kalau begitu hal itu tak perlu kami kemukakan lagi," kata Phang Khai. "Sekarang soal ke dua. Aku ingin mem-beritahukan tentang kedudukan teman-teman seperjuangan kita. Saudara-saudara kita Su Souw Hwee dan Tan Yu Liang sekarang sudah mendapat kemajuan memperluas gerakan pemberontakan di sepan-jang Sungai Huang-ho. Thio Si Cen sudah menyeberang Sungai Hui dan pasukan saudara Tan Hok sudah mendekati kota raja dari pergerakannya sepanjang Sungai Yang-ce. Akan tetapi, aku mendapat berita bahwa gerakan Pek-lian-pai di sebelah barat kota raja mendapat pukul-an hebat dari bala tentara musuh dan membutuhkan bantuan segera."



 



Nyonya Liong mengangguk-angguk. "Sebagian besar beritamu sudah kami ketahui. Gerakan Pek-lian-pai di sebelah barat kota raja memang sengaja dijadi-kan umpan agar musuh mengerahkan tenaga ke sebelah sana. Kalau sudah tiba saatnya, pasukan-pasukan kita dari sela-tan dan timur akan menyerbu."



 



Phang Khai kagum sekali. "Ah, sama sekali tak pernah kusangka bahwa kalian dapat bekerja sesempurna itu. Benar-benar menggembirakan sekali. Akhirnya, harap kausampaikan kepada Si-enghiong bahwa kedatangan kami berdua ini selain menyannpaikan berita dan menerima tu-gas baru, juga bahwa kanrii mengambil keputusan untuk mencari tahu tempat tinggal Kwee Sin murid Kun-lun-pai yang menyeleweng itu. Harap saudara-saudara memberi tahu di mana kami dapat me-nemukannya. Kami percaya bahwa Sam wi (saudara bertiga) sudah pasti akan dapat memberi petunjuk."



 



Nyonya tersenyum dan memandang tajam. "Tentu saja kami tahu di mana murid Kun-lun-pai itu yang sekarang sudah menjadi pembantu pemerintah dan bekerja sama dengan orang-orang Ngo-lian-kauw. Akan tetapi, pada saat seperti sekarang ini, di mana tenaga semua rak-yat dibutuhkan untuk perjuangan meng-halau penjajah, bagaimana 3i-wi masih ada kesempatan untuk mencampuri sggala urusan pribadi?'



 



"Keliru...... keliru pendapat seperti itu!" Phang Tui yang sejak tadi memt ar-kan kakaknya bicara mewakili mereka berdua, sekarang berkata dengan sung-guh-sungguh. "Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai bertengkar terus sampai-sampai tidak ada waktu membantu kita. Semua ini gara-gara si Kwee Sin seorang. Kami berdua berpendapat bahwa apabila kami dapat menangkap Kwee Sin, mati atau hidup dan membawanya ke Hoa-san, ten-1 tu fihak Hoa-san maupun fihak Kun-lun akan menghabisi permusuhan mereka dan apabila dua golongan itu sudah berdamai lalu suka membantu kita, bukankah pe-kerjaan ini juga merupakan pekerjaan yang aoraat berguna bagi perjuangan?"



 



Nyonya Liong mengangguk-angguk sedangkan dua orang temannya juga menyatakan kebenaran ucapan Phang Tui. Jadi ji-wi berkeras hendak menangkap KweeSin lebih dulu?"



 



Ketika dua orang kakek petani itu mengangguk, Nyonya Liong lalu berkata, "Baikiah kalau begitu. Tempat tinggal Kwee Sin adaJah di gedung ke lima se-belah barat perempatan jembatan Naga, rumah yang di atasnya ada hiasan ukiran naga. Harap ji-wi berhati-hati karena selalu dia bersama dengan ketua Ngo-lian-kauw yang berkepandaian tinggi. ji-wi kerjakan dulu maksud hati ji-wi, se-telah itu baru kita mengadakan pertemu-an lagi, tiga hari kemudian pada waktu seperti ini dan bertempat di sini pula dan pada waktu itulah saya akan menyampaikan tugas-tugas baru bagi ji-wi. Nah, selamat berpisah."



 



Mereka berpisah dan keluar dari rumah secara diam-diam. Hanya nyonya Liong dan Kang-jiu Bouw Hin yang berpakaian tentara itu keluar secara biasa saja, dari pintu depan tanpa ada yang menaruh curiga. Ketika dua orang saudara Phang itu melompat ke dalam gelap keluar dari tembok yang mengelUingi rumah, mereka melihat bayangan hitaro berkelebat di dekat mereka. Mereka kaget, akan tetapi bayangan itu berbisik, "Selamat sampai bertemu kembali, ji-wi Phang-twako." Ternyata bayangan itu adalah si pengemis tadi, yaitu Kim-mouw-sai Lim Seng yang cepat meloncat ke kiri dan menghilang di dalam gelap. Dua orang saudara Phang itu kagum karena ginkang dari orang she Lim itu ternyata hebat juga.



 



* * *



 



Lima orang rahasia yang berkumpul dan mengadakan pertemuan rahasia di malam hari itu sama sekali tidak tahu bahwa semenjak tadi gerak-gerik mereka telah diintai oleh Beng San. Pemuda ini dalam usahanya untuk mencari Kwee Sin, telah pula sampai di kota raja dan ke-betulan sekali bermalam dl rumah penginapan sederhana itu. Malam tadi secara kebetulan dia yang berada di kamarnya mendengar desir angin yang hanya ter-dengar oleh seorang yang memiliki Iwee-kang setinggi dia. la kaget dan tahu bahwa ada orang mempergunakan ilmu ginkang bergerak di luar rumah, maka cepat dia keiuar dari kamarnya secara diam-diam dan melihat dua bayangan berkelebat, yaitu bayangan dua orang saudara Phang. Demikianlah, secara diam-diam dia mengintai dan mendengar segala percakapan yang dilakukan oleh lima orang itu. Hatinya kagum bukan rriain ketika mendapat kenyataan bahwa lima orang' itu adalah pejuang-pejuang, orang-orang gagah seperti Tan Hok yang rela mengorbankan nyawa demi perjuangan bangsa menghalau penjajah. Akan tetapi, jebih girang lagi hatinya karena tanpa sengaja dia mendapat petunjuk di mana dia bisa mencari Kwee Sin.



 



Malam berikutnya Beng San sudah mengikuti lagi perjalanan dua orang sau-dara Phang yang menuju ke rumah ge-dunR'Kwee Sin seperti yang telah ditunjuk oleh nyonya Liong pada kemarm malam. la rnengenal dua orang ini sebagai tamu terhornriat di Hoa-san-pai, maka diam-diam dia tidak mau mengganggu mereka.



 



"Betapapun juga, mengajak Kwee Sin ke Hoa-san-pai adalah tugasku," pikimya. "Aku yang sudah berjanji dan akulah yang harus memenuhi janji itu."



 



Dengan ginkang mereka yang sudah tinggi, dua orang saudara Phang itu dapat meniasukt halariian rumah gedung itu dengan mudah. Mereka melompati pagar tembok dan merasa girang karena ternyata rumah gedung ini tidak ada yang menjaga. Di lain saat mereka sudatf mengintai ke sebuah kamar di mana duduk seorang laki-laki yang tampan dan gagah, berusia tiga puluh tahun lebih, wajah yang tampan itu angker dan agung, se-dang menulis sesuatu di atas meja. Tak jauh dari situ duduk pula seorang perempuan cantik berpakaian mewah, memandang kepada laki-laki itu sambil tersenyum dan mengebut-ngebut tubuhnya dengan sebuah kipas. Laki-laki itu bukan lain adalah Pek-jiu Kwee Sin, orang termuda dari Kun-lun Sam-hengte, ]ago muda Kun-lun-pai yang telah mengakibatkan keributan antara Hoa-san dan Kun-lun. Adapun perempuan cantik yang pesolek dan bersikap genit itu bukan lain! adalah Ngo-lian-kauwcu (ketua Ngo-Lian kauw) yang berjuluk Kim-thouw Thian li (Dewi Kepala Emas) dan yang oleh Kwee Sin dikenal dengan nama Coa Kim Li gadis yang telah merayu dan merobohkan hatinya



”Sin-ko (kanda Sin), Kim-thouw Thian-li berkata dengan suara merdu, "malam ini kau harus menemani aku. Di rumah amat sunyi, jangan kau sibuk dengan pekerjaanmu. Tak usah kau membanting tulang, para pembesar sampai hong-siang (kaisar) sendiri cukup maklum betapa besarnya jasamu kepada pemerintah."



 



"Aku banyak pekerjaan, Li-moi (adik Li). Biarlah besok siang kalau aku pulang dari kantor, aku akan mengunjungi rumahmu. Kau seorang ketua perkumpulan besar seperti Ngo-lian-kauw, bagaimana bisa kesepian?" Kwee Sin tertawa dan menunda tulisannya.



 



"Biarpnn ada seribu orang teman, mana bisa dibandingkan dengan kau?" Coa Kim Li berkata genit lalu menarik bangkunya mendekat.



 



Pintu kamar terketok dafi tuar. Cepat-cepat Kim-thouw Thian-li menjauhkan lagi bangkunya. Ketika pelayan masuk Kwee Sin sudah bersikap keren seperti tadi.



 



"Kwee-ciangkun, di luar ada Lee-siocia (nona Lee) mohon menghadap Ciangkun (Panglima)," pelayan itu dengan sikap horinat dan tanpa niengangkat muka memberi laporan.



 



"Baik, minta nona Lee masuk ke ruangan ini," jawab Kwee Sin. Pelayan itu memberi hormat dan mengundurkan diri keluar dari ruangan.



 



"Huh, Sin-ko, awas kau kalau di belakangku kau berani main gila dengan nona muda itu!" tiba-tiba Kim-thouw Thian-li berkata lirih, matanya bersinar penuh cemburu.



 



Kwee Sin tersenyum pahit. "Kim Li-moi apa-apaan cemburu ini? Kau tahu aku bukan..... bukan mata keranjang dan kau tahu pula bahwa Lee-siocia adalah seorang yang mendapat kepercayaan se-mua panglima di kota raja, juga lihai ilmu silatnya. Pertemuanku dengan dia tentu hanya berhubung pekerjaan, mengapa kau menyangka yang bukan-bukan? Dia datang, kau pun di sini, boleh kau-saksikan sendiri apa yang hendak dia sampaikan kepadaku!"



 



"Huh, biar dia lihai, siapa takut pada-nya? Dan siapa sudi bertemu dengannya? Melihat mukanya yang muda, jangan-jangan timbul seleraku untuk mencakar mukanya! Aku akan bersembunyi di belakang pintu, awas kau, sekali saja kau dan dia main gila, kalian akan kubunuh! Dengan gerakan cepat sekali tubuhnya berkelebat menghilang di balik pintu samping. Kwee Sin menarik napas lega, wajahnya nampak girang dan tersenyum ketika pintu depan terbuka dan seorang nona berpakaian kuning berjalan masuk.



 



"Nona Lee, kau membawa kabar penting apakah?" Kwee Sin menyambut kedatangan nona ini dengan suara nyaring. "Apakah kali ini kau diutus oleh Pangeran Souw? Ataukah Tan-ciangkun yang mengutusmu?"



 



Nona berpakaian kuning itu amat dikenal di kalangan atas kota raja. Dia bernama Lee Giok, puteri seorang bangsawan di kota raja. Usianya baru sembilan belas tahun, wajahnya yang antik itu nampak murarn dan seperti diliputi kesedihan, matanya tajam dan gagang pedang menonjol di pinggangnya. Biarpun ia masih rriuda, namun ia sudah terkenal sebagai seorang yang amat berjasa dalam menindas kanm pemberontak berkat ilmu silatnya yang tinggi dan otaknya yang cemerlang.



 



Menghadapi pertanyaan Kwee Sin, nona itu menghela napas, memandang kepada Kwee Sin dengan matanya yang tajam, lalu katanya perlahan, "Kwee ciangkun, kalau memang Kim-thouw Thian-li sudah berada di sini, mengapa ia bersembunyi dan mengintai? Kuharap Ciangkun suka menipersilakan dia keluar karena kedatanganku ini toh bukas; hendak mengadakan pertemuan yang bukan-bukanl"



 



Tentu saja Kim-thouw Thian-li kaget sekali. Akan tetapi dia pun seorang wanita yang cerdik. Dengan tenang ia muncul dari balik pintu dan tertawa. "Hebat benar kecerdikan nona Lee! Tadi memang saudara Kwee dan aku sengaja hendak menguji kecerdikanmu yang sudah lama kudengar dibicarakan orang, kiranya benar-benar kau cerdik. Hanya aku yang tolol, tidak ingat bahwa kepergianku dari sini meninggalkan ganda harum. Ehm, benar lihai!"



 



Diam-diam nona itu, Lee Giok ter-kejut juga. la dipuji cerdik, akan tetapi ketua Ngo-lian-kauw itu dengan sendiri-nya telah pula membuktikan bahwa otak-nya tidak kalah cerdiknya. Memang tepat sekali kata-katanya tadi, dia dapat me-ngetahui bahwa Kim-thouw Thian-li barn saja meninggalkan ruangan itu karena tercium olehnya ganda harum seperti yang biasa ia cium kalau ia bertemu dengan ketua Ngo-lian-kauw itu. Setiap orang wanita sudah tentu memiliki ke-sukaan masing-masing tentang wangi-wangian yang dipakainya dan wangi-wangi-an yang dipakai oleh Kim-thouw Thian-li mempunyai ganda yang khas.



 



"Kwee-ciangkun, kedatanganku tidak lain hanya untuk menyampaikan peringatan kepadamu. Ada berita sampai kepadaku bahwa pada waktu ini di kota raja datang dua orang saudara Phang dari Hun-lam yang sengaja mencari Kwee-ciangkun dan hendak memaksa Kwee-ciangkun, mati atau hidup, ikut pergi ke Hoa-san."



 



Berubah wajah Kwee Sin mendengar berita ini. "Nona, apakah kaumaksudkan Phang Khai dan Phang Tui Sepasang Naga dari Hun-lam?" katanya setengah berbisik. Nona itu mengangguk, wajahnya nampak makin murung lalu ia membalik" kan tubuh berkata.



 



"Tugasku sudah selesai, Ciangkun. Aku tak dapat lama-lama di sini, khawatir kalau-kalau membuat orang lain men-dongkol saja." Tanpa melirik kepada Kim-thouw Thian-li yang disindirnya itu, nona ini segera keluar dari ruangan itu deogan langkah ringan dan cepat sekali.



 



"Hi-hi-hi, baru mendengar ada dua orang tua bangka dari Hun-lam datang saja, kan kelihatan gelisah?" kata Kim-thouw Thian-li.



 



''Li Moi, jangan kauanggap ringan dua orang kakek itu. Nama besar Phang-hengte (kakak beradik Phang) dari Hun-lam sudah lama kudengar. Aku memang tidak takut, hanya sebab-sebab merigapa mereka hendak menangkapku inilah yang menggelisahkan hati."



 



"Sin-ko, mengapa kau begini bodoh? Mudah sekali diduga. Mereka tentulah bergabung dengan para pemberontak maka hendak memusuhimu, atau mungkin sekali mereka itu disuruh oleh perempuan she Liem yang tak tahu malu itu untuk ....”.



 



"Li-moi, kau berjanji takkan menyebut-nyebut namanya!" Tiba-tiba Kwee Sin berkata, jidatnya berkerut tak senang.



 



"Hi-hi-hi, sudahlah. Hanya dua ekor anjing tua dari Hun-lam itu untuk apa diributkan? Biarkan mereka datang, masih ada aku di sini, mereka bisa berbuat apa terhadap dirimu?"



 



Phang Khai dan Phang tui adalah dua orang kakek ternama di Hun-lam. Tentii saja mendengar mereka dimaki anjing-anjing tua oleh wanita itu, mereka tak dapat menahan kemarahan mereka, lagi. Serentak mereka meloncat dan menerobos masuk ke dalam ruangan itu.



 



"Kwee Sin, kami dua saudara Phang dari Hun-lam datang untuk menjemput kau ke Hoa-san!" kata Phang Khai sambil melirik penuh kemarahan ke arah Kim-thouw Thian-li yang sudah berdiri dengan alis berkerut marah.

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Silat Indonesia Download

Silahkan download Cerita Halaman ke 1 Serial Putri Hatum dan Kaisar Putri Harum dan Kaisar Jilid 1 Putri Harum dan Kaisar Jilid 2 dan 3 Putri Harum dan Kaisar Jilid 4 dan 5 Putri Harum dan Kaisar Jilid 6 dan 7 Putri Harum dan Kaisar Jilid 8 dan 9 Putri Harum dan Kaisar Jilid 10 dan 11 Putri Harum dan Kaisar Jilid 12 dan 13 Putri Harum dan Kaisar Jilid 14 dan 15 Putri Harum dan Kaisar Jilid 16 dan 17 Putri Harum dan Kaisar Jilid 18 dan 19 Putri Harum dan Kaisar Jilid 20 dan 21 Putri Harum dan Kaisar Jilid 22 dan 23 Putri Harum dan Kaisar Jilid 24 dan 25 Putri Harum dan Kaisar Jilid 26 dan 27 Putri Harum dan Kaisar Jilid 28 dan 29 Putri Harum dan Kaisar Jilid 30 dan 31 Putri Harum dan Kaisar Jilid 32 dan 33 Putri Harum dan Kaisar Jilid 34 dan 35 Putri Harum dan Kaisar Jilid 36 dan 37 Serial Pedang Kayu Harum Lengkap PedangKayuHarum.txt PKH02-Petualang_Asmara.pdf PKH03-DewiMaut.pdf PKH04-PendekarLembahNaga.pdf PKH05-PendekarSadis.pdf PKH06-HartaKarunJenghisKhan.pdf PKH07-SilumanGoaTengkor...

Komunikasi Data

Link ini juga saya letakkan di ebook campuran http://www.ziddu.com/download/3344575/Komdat1.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344576/Komdat5.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344577/Komdat4.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344578/Komdat3.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344579/Komdat2.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344815/Komdat9.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344816/Komdat6.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344817/Komdat7.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344818/Komdat8.pdf.html

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau!...