Skip to main content

raja-pedang-44-kho-ping-hoo

Kaki gunung sebelah utara itu amat indah pemandangannya. Penuh pohon berkembang dan rumiput menghijau, di situ mengalir sebuah sungai kecil yang amat jernih airnya, penuh batu-batu hi-tam yang beraneka macam bentuknya. Di pandang dari lereng, kelihatan betapa indah dan suburnya tanah kaki gunung ini, menggirangkan hati Beng San yang menuruni lereng dengan cepat sekali.



 



Akan tetapi, setelah dia tiba di kaki gunung, dia merasa bulu tengkuknya ber-diri. Keadaannya memang indah, namun amat nienyeramkan. Begitu sunyi. Sunyi melengang melebihi sunyinya kuburan. Daun-daun pohon bergoyang-goyang ter-tiup angin, kembang-kembang memenuhi ranting, rumput-rumput hijau tak pernah terinjak kaki nampak subur menggemuk» suara air gemercik seperti dendang lagu yang tak kunjung henti. Akan tetapi, kesunyian yang rnencekam amat nienyeramkan. Tak seekor pun burung kelihatan terbang, tak seekor pun binatang kelihat-an berlari, bahkan tidak ada seekor putt jengkerik berbunyi. Tempat indah, namun seakan-akan tempat yang mati, tempat yang terkutuk di mana hawa maut selalu rnengancam yang hidup!



 



Hanya sebentar saja keseraman men-cekam hati Beng San. Segera dia dapat menguasai dirinya dan melangkah maju dengan tenang dan cepat. Dari atas tadi dia sudah melihat sebuah pondok kayu diantara pohon-pohon dekat sungai dan se-karang dia tujukan langkahnya ke arah pondok itu. Makin dekat dengan pondok ia berjalan, makin banyaklah dia mendapatkan bukti yang menyebabkan keada-an daerah itu demikian sunyi. Di sepanjang jalan, banyak yang sudah tertutup oleh rumput-rumput hijau, dia melihat banyak sekali tulang-tulang berserakan, kerangka-kerangka bintang besar kecil seakan-akan semua penghuni hutan itu telah tewas karena bencana yang maha dahsyat. Makin dekat dengan pondok, dia mulai melihat kerangka-kerangka manusia yang sudah kering, sudah rusak dan ada pula yang masih baru. Beng San menekan debar jantungnya dan melangkah terus sampai ke depan pintu pondok. Dilihatnya asap keluar dari jendela pondok itu dan bau yang amat aneh menusuk hidungnya, bau yang luar hiasa, disebut wangi ada bau tak enaknya, seperti bau obat-obatan yang dimasak.



 



"Teecu Tan Beng San mohon bertemu dengan Locianpwe keturunan Yok-ong yang, budiman, Beng San berseru tanpa mengerahkan khikangnya, dengan suara biasa saja.



 



Terdengar suara cekikikan di dalam pondok itu. "Hi-hi-hik! Tidak ads ke-turunan Yok-ong (Raja Obat) yang budi-man di sini. Yang ada Setan Obat, sama sekali tidak budiman! Hi-hi-hik!"



 



Suara itu menyeramkan sekali dengar di tempat sesunyi itu.



 



"Teecu mohon pertolongan locianpwe Setan Obat untuk menolong nyawa sahabat teecu yang terluka dan terkena racun."



 



Kembali suara ketawa seperti tadi, disusui kata-kata yang parau, "Tidak ada Setan Obat penolong nyawa di sini, yang ada Setan Obat Pencabut NyawaiToat-beng Yok-mo)! Hi-hi-hik!"



 



Mendongkol hati Beng San, juga dia merasa gelisah. Terang bahwa orang di dalam itu adalah seorang yang mempunyai sifat suka mempermainkan nyawa orang pula.



 



"Kalau begitu, biarlah teecu mohon bertemu dengan Toat-beng Yok-mo untuk bicara."



 



Pintu pondok yang tertutup tiba-tiba terbuka mengeluarkan suara bergerit dan seorang kakek bongkok berkepala botak keluar sambil membawa sebuah panci yang mengebulkan uap. Panci itu dari besi dan di bawahnya sampai merah membara, namun kakek itu memegang panci begitu saja, padahal dapat dibayang-kan betapa panasnya. Dari sini saja sudah dapat diketahui betapa lihainya kakek buruk rupa ini. Matanya yang besar sebelah, sebelah lagi sipit seperti meram, memandang kepada Beng San yang masih berdiri di depan pintu sambil memondong tubuh Bun Lim Kwi yang pingsan.



 



"Hi-hi-hi, orang muda nekat. Sudah tahu aku Setan Obat Pencabut Nyawa, masih nekat hendak bertemu. Apa kau roau menyerahkan jantungmu dan jantung temanmu yang hampir mati karena racun itu untuk kutambahkao ke dalam panci ini?"



 



la menggerak-gerakkan panci sehingga isinya berlompatan ke atas. Beng Sars bergidik ketika melihat isi panci itu ada lah potongan-potongan daging berwarna merah kebiruan. Benarkah itu jantung-jantung manusia?



 



"Toat-beng Yok-mo locianpwe, aku datang untuk mohon pertolonganmu mengobati temanku yang sakit ini," kata Beng San.



 



"Goblok! Siapa mau mengobati? Aku hendak mengambii jantungmu dan jantung temanmu itu, mau lihat siapa berani menghalangi Setan Obat Pencabut Nyawa?" Orang itu tertawa-tawa.



 



Beng San memutar otaknya. Jelas baginya sudah bahwa orang ini kalau bukan orang yang luar biasa anehnya, tentulah seorang yang miring otaknya. Melihat sikap dan kata-katanya, tentu orang ini amat sombong dan mengandal-kan kepandaiannya sendiri. Maka dia lalu mengambil keputusan untuk memanaskan hatinya.



 



"Hemmm, kiranya aku salah alamat. Kau bukanlah Yok-mo seperti yang di-dengung-dengungkan orang kang-ouw. Kau hanyalah tukang membunuh, sama sekali tidak becus mengobati orang. jangan kau pura-pura menggunakan dan memalsu nama keturunan Yok-ong. Tak tahu malu.



 



Mata kanan yang lebar itu makin terbelalak sedangkan yang kiri makin sipit, mulutnya menyeringai memperlihat-kan gigi yang tinggal tiga buah atas bawah itu.



 



"Orang muda, aku memang keturunan Yok-ong dan akulah Toat-beng Yok-mo Mengobati orang ini saja apa susahnya? Dia terkena racun kelabang yang dipergunakan orang di ujung senjata rahasia. Tentu dia terluka di punggungnya. Kemudian...." la mengarahkan pandangnya kepada muka Bun Lim Kwi, kemudian ditambah lagi dengan racun Ular Merah, hebat sekali, tidak saja racun memasukt perutnya, juga memasuki tubuh melalui luka. Hih, tiga hari lagi dia bakal mampus!"



Sampai ternganga mulut Beng San mendengarkan kata-kata yang cocok ini. la mulai percaya bahwa orang di depannya ini benar-benar seorang ahli dalam pengobatan. Sekali melihat saja dia sudah dapat membuka rahasia penyakit yang diderita Lim Kwi. Tapi pemuda yang cerdik ini sengaja memperlihatkan se-nyum mengejek.



 



"Ah, kau hanya ngawur saja. Semua orang juga bisa bicara sesukanya tentang penyakit orang. Tapi aku tetap tidak percaya kalau kau bisa mengobati pe-nyakitnya. Apalagi penyakit karena ke-racunan begini hebat, sedangkan orang masuk angin biasa saja aku sangsi apa-kah kau bisa mengobati sampai sembuh!"



 



Kakek bongkok ini membanting-banting kaki, marah sekali. "Anak setan! Jangan-kan baru sakit macam ini, orang mati pun aku bisa bikin hidup lagi!"



 



"Uhhh, siapa percaya omongan ini? Kalau kau bisa buktikan, bisa menyembuh-kan temanku ini, aku mau berlutut pada-mu dan mengakui bahwa kau benar-benar keturunan Yok-ong yang pandai seperti dewa. Tapi kalau kau tidak becus, kau tidak lain hanyalah penjual lagak yang kosong melompong belaka.



 



"Bawa dia masuk, bawa dia masuk..... buka matamu dan lihat bagaimana dalam waktu singkat Toat-beng Yok-mo menyembuhkannya sama sekali!" bentak kakek itu sambil terbongkok-bongkok masuk ke dalam pondoknya membawa panci itu.



 



Diam-diam Beng San tersenyurn girang. Akalnya teiah berhasil. Segera di»' melangkah masuk ke dalam pondok tanpa ragu-ragu lagi. Pondok itu ternyata cu-kup lega dan terang karena bagian atap-nya dapatdibuka sehingga sinar matahart dapat menyinar masuk. Akan tetapi kotor sekali, penuh dengan lulang-tulang, daun kering, akar-akaran yang bertumpuk- di meja, di lantai dun di semua tempat. Di pojok terdapat sebuah dipan bambu.



 



"Letakkan di sini!" Beng San menurun-kan tubuh Lim Kwi di atas dipan itu dan berdiri agak menjauhi untuk memberi kesempatan kepada orang aneh itu me-meriksa. Akan tetapi, kakek itu sama sekali tidak melakukan pemeriksaan langsung saja dia menibuka pakaian atas pemuda itu dengan cara kasar yakni nierobek baju yang dipakai Lim Kwi begitu saja seperti orang merobek kertas tipis. Dengan kasar juga kakek ini membalikkan tubuh Lim Kwi sehingga tubuh pemuda itu menelungkup. Sebentar dia memeriksa luka-luka di punggung, kemudian mengeluarkan sebuah bungkusan dari saku bajunya yang lebar. Ternyata itu adalah bungkusan jarum-jarum panjang terbuat daripada emas dan perak. Setelah memandang sejenak penuh perhatian, kakek ini lalu menusuk-nusukkan tujuh belas batang jarum di leher, kedua pundak sepanjang punggung dan di antara tulang iga.



 



Beng San memandang penuh perhati-an dan kagum melihat cara kakek itu menusuk-nusukkan jarum yang demikian cepat, bertenaga dan tepat mengenai jalan-jalan darah tertentu.



 



Kemudian kakek bongkok itu melang-kah tiga tindak ke belakang, kemudian dari situ dia melompat ke depan meng-gunakan jari telunjuknya menotok bela-kang kepala Lim Kwi, melangkah mundur lagi, melompat menotok lagi lain jalan darah berkali-kali. Makin lama makin cepat dia bergerak sehingga dalam waktu beberapa rnenit saja dia sudah menotok hampir semua jalan darah yang tidak tertusuk jarum-jarum emas dan per ak di bagian belakang tubuh Lim Kwi. Setelah melakukan totokan-totokan selama se-tengah jam dia terengah-engah dari ubun-ubun kepalanya mengepul uap. Dengan lemas dia lalu mencabuti jarum-jarum itu, lalu membalikkan tubuh LimKwi telentang.



 



Beng San berdebar kagum. Muka Lim Kwi sudah mulai nierah, napasnya tidak lemah seperti tadi.



 



Setelah beristirahat sejenak, kakek bongkok itu menggunakan jarum-jarumnya menusuk-nusuk dan menancap-nancapkan seperti tadi di tujuh belas tempat, kini dibagian depan badan Lim Kwi. Seperti tadi pula, dia menotok terus-menerus dengan gerakan cepat.



 



Setelah selesai dan mencabuti semua jarum, kakek itu terengah-engah meng-hadapi Beng San, lalu berkata parau, "Hi-hi-hik, kau lihat? Penyakitnya ^udah sembuh, sebentar lagi semua racun di badannya keluar!"



 



Beng San, masih belum percaya, akan tetapi tiba-tiba terdengar Lim Kwi me-ngeluh dan muntah-muntah. Yang dimuntahkan hanyalah cairan racun dan seluruh tubuhnya seakan-akan mengebul panas. Anehnya, keringat yang keluar dari tubuhnya berwarna agak biru, itulah racun yang keluar bersama keringatnya!



 



Dengan tenang kakek itu lalu men-jejalkan tiga buah butir pil hijau ke da-lam mulut Lim Kwi, mendorongnya dengan jari telunjuknya sehingga tiga butir pil itu terus memasuki perut. Tak sampai sejam kemudian, Lim Kwi sudah tenang, mukanya merah dan rnembuka matanya! la nampak heran sekali, akan tetapi ketika hendak bangun duduk, dia pusing dan noeramkan mata.



 



"Saudara Bun Lim Kwi, kau rebahlah saja dulu. Baru saja kau disembuhkan oleh tabib dewa Toat-beng Yok-mo ke-turunan Yok-ong!" seru Beng San girang bukan main. Akan tetapi kegirangannya lenyap seketika terganti kekagetan ketika melihat kakek itu sudah memegang se-batang pedang yang tajam dan runcing saipbil tertawa-tawa,



 



"Eh, eh..... kau mau apa dengan pedang itu?" Beng San bertanya dan merasa seram.



 



"Hi-hi-hik! Toat-beng Yok-mo namaku. Setan Obat Pencabut Nyawa Aku mengobati untuk bertanding dengcin penyakit, bukan untuk menyembuhkan orang» Siapa yang sembuh oleh obatku, harus kucabut nyawanya dengan pedangku. Tadi aku mengobati, sekarang aku mencabut nyawa, hi-hi-hik, nyawamu dan nyawa dia."



 



"Kakek yang baik, kenapa begitu? Mengobati orang sakit membeci per-tolongan dan ini sudah menjadi kewajiban setiap manusia yang hidup di dunia int, harus saling tolong-menolong! Adapun urusan rtiencabut nyawa, kurasa ini bukanlah urusan manusia. Hanya Thian yang menitahkanGiann-lo-ong (Raja Maut) berhak mencabut nyawa manusia. Kau sudah menolong temanku dari bahaya maut, kenapa hendak membunuhnya?"



 



"Hi-hi-hik, belum pernah ada orang kusembuhkan lalu kubiarkan hidup. Tidak terkecuali dia ini."



 



"Janganlah, Locianpwe. Biarlah aku yang menjadi penggantinya. Jangan kau-bunuh dia."



 



"Hi-hi-hik! Aneh, aneh..... tapi ke-betulan. Aku membutuhkan jantung orang, dan jantung dia ini kurang bersih setelah tadi terserang racun. Jantungmu lebih bersih dan baik, bagus! Boleh diganti, boleh ditukar. Dia boleh hidup, kau peng-gantinya dan harus kauberikan kepada-ku. Eh, orang muda, selama hidupku belum pernah aku mendengar tentang brang mau menukar din mewakili orang mati. Apakah betul-betul kau mau meng-gantikan orang ini untuk kuambil jan-tungnya?" Ujung pedang itu sudah menodong dada Beng San.



 



Beng San tenang-tenang saja, ter-senyum berkata, "Ucapan seorang laki-laki tidak akan ditarik kembali, Locian-pwe. Aku sudah bersusah payah berusaha menolong dia ini, maka takkan kulakukan Setengah-setengah. Kalau memang kau membutuhkan jantung, biarlah aku me-wakilinya. Kau harus berjanji akan me-lepaskan dan tidak mengganggu orang ini dan kau boleh mengambil jantungku, yaitu kalau kau bisa."



 



Ucapan terakhir dari Beng Saft Ini rupanya tidak diperhatikan oleh kakek yang sudah terheran-heran dan juga ke-girangan itu. "Baik, boleh..... aku ber-janji takkan mengganggu orang ini. Nah, bersiaplah kau rnenghadiahkan jantungmu yang segar kepadaku!"



 



"Kauambillah sendiri kalau dapat!" jawab Beng San, seluruh urat syaraf di tubuhnya sudah menegang, siap untuk melawan kakek ini dengan seluruh tenaga dan kemampuannya.



 



"Hi-hi-hik, orang muda yang aneh, yang sinting....." Pedangnya diayun-ayun ke atas seperti orang menakut-nakuti. Tiba-tiba Bun Lim Kwi meloncat dari dipan itu dan menyerang kakek bongkok dengan pukulan-pukulan hebat.



 



"Siluman tua! Tak boleh kau mem-bunuh penolongku!" Ternyata dari gerakan-gerakannya pemuda Kun-lun-pai ini sudah sembuh sama sekali. Serangannya hebat bukan main dan terpaksa kakek bongkok itu meloncat mundur sambil terkekeh-kekeh tertawa.



 



"Hi-hi-hik, bukankah manjur sekali pengobatanku?"



 



"Saudara Bun, jangan serang dia. Dia adalah penolongmu, sudah mengobatimu tadi," kata Beng San mencegah.



 



"Aku tahu, tapi dia siluman jahat, hendak membunuhmu. Tidak bisa aku berpeluk tangan saja!"



 



"Hi-hi-hik, anak Kun-luh-pai, hi-hi-hik. Biarlah aku mencoba sampai di nria-na kehebatan latihan dari Pek Gan Sian-su si mata putih!" Sambil berkata demi-kian kakek ini menyimpan pedangnya dan melompat keluar. "Mari, nriari sini orang muda Kun-lun-pai, boleh kau coba-coba, hi-hi-hik!"



 



Bun Lim Kwi yang tadi teiah sadar dan melihat betapa kakek ini hendak membunuh Beng San, segera turun tangan menolong. Sekarang dia melompat keluar untuk melayani kakek aneh itu. Beng San berdebar dan ikut lari keluar.



 



"Siluman jahat, aku tidak rela di-wakiJi oleh saudara ini. Kalau kau hen-dak membunuh dan mengambil jantungku, kaucobalah. Mati dalam pertempuran bukanlah apa-apa dan kau baru gagah kalau membunuh seorang yang dapat melawanmu. Saudara ini tidak pandai silat, bagaimana kau punya muka untuk membunuhnya begitu saja?"



 



"Hi-hi-hik, orang muda. Kau seperti orok kemarin sore yang masih merah berani mencoba aku? Hi-hi-hik, kausambutlah ini." Biarpun bongkok dan gerak-geriknya seperti orang tua lemah, akan tetapi tiba-tiba kakek itu sudah mengirim serangan yang luar biasa cepatnya. Lim Kwi kaget, akan tetapi sebagai murid Kun-lun yang sudah matang kepandaian-nya, dia cepat mengelak dan membalas dengan serangan yang tak kalah dabsyatnya..



 



Beng San memandang cemas. la rnak-lum bahwa biarpun Lim Kwi cukup pandai, namun kiranya takkan mungkn dapat menangkan kakek itu yang ternyata adalah seorang ahli Iweekeh dan ahli totok yang lihai sekali. la sendiri merasa sangsi dan ragu-ragu apakah dia harus membantu Lim Kwi ataukah tidak. Bingung dia menghadapi penstiwa ini dan tidak dapat cepat-cepat mengambil keputusan bagaimanakah dia harus bertindak. la niemang harus menolong Lim Kwi seperti pernah dulu dipesankan oleh rnen-diang ayah pemuda itu, akan tetapi de-ngan melawan kakek bongkok ini, bukan-kah hal itu merupakan suatu perbuatan yang tidak bijaksana? Kakek itu betapapun juga sudah menolong Lim Kwi, tanpa ragu lagi dia mau mengakui bahwa kakek itu telah merenggut nyawa Lim Kwi daripada cengkeraman maut. Kalau se-karang mereka melawan kakek itu, bu-kankah itu berarti seorang rendah budi yang tidak ingat akan budi kebaikan orang? Tapi sebaliknya kalau dipikirkan lagi, kakek itu hendak membunuhnya dan Lim Kwi melawan untuk menolongnya, apakah sekarang dia harus diam saja melihat Lirn Kwi terdesak? Benar-benar Beng San menjadi bingung sekali dan pemuda ini mengambil keputusan untuk menolong Lim Kwi apabila keselamatan pemuda itu terancam.



 



Bun Lim Kwi benar-benar sudah bertekad bulat untuk membela Beng San dengan pertaruhan nyawanya. Tadi ketika dia sadar dari pingsan, dia mendengar semua pembelaan Beng San kepadanya dan dia pun segera dapat menarik ke-simpulan bahwa setelah dia roboh dalam pertandingan dengan Thio Eng di dalam hutan, tentu telah ditolong olel Beng San dan dibawa ke rumah tabib setan ini. la merasa amat terharu mendengar betapa Beng San rela mewakilinya untuk mati di tangan kakek setan itu dan diam-diam Lim Kwl kagum akan pandangan gurunya yang tepat tentang dir Beng San. Memang pemuda luar biasa. Biarpun tidak memiliki kepandaian silat, namun nyalinya besar dan budinya luhur Maka sekarang dia hendak membalas budi itu, kalau perlu dia rela berkorban, mati dalam tangan kakek bongkok untuk me-nolong Beng San. Lim Kwi maklum bah-wa lawannya ini tangguh bukan main, memiliki tenaga Iweekang yang luar biasa besarnya scdangkan ilmu silatnya juga amat aneh.



 



Pertempuran berlangsung makin hebat. Kakek itu tertawa-tawa selalu dan seakan-akan mempermainkan Lim Kwi. Dengan penasaran pemuda ini lalu me-ngeluarkan pukulan-pukulan Pek-lek-jiu (Tangan Kilat) yang dia warisi dari guru-nya. Kedua tangannya menyambar-nyam-bar, tulangnya berkerotokan dan angin pukulannya terasa panas!



 



"Hi-hi-hik! Inikah Pek-Iek-ciang-hoat dari Kun-lun-pai?" Kakek itu tertawa mengejek dan memapaki pukulan kedua tangan Lim Kwi dengan tangan terbuka. Dua pasang tangan bertemu dan saling tempel, tak dapat dilepaskan lagi. Dua orang itu, seorang pemuda dan seprang kakek bongkok, kini mengadu tenaga Iweekang. Sebentar saja Lim Kwi merasa betapa telapak tangannya tergetar dan makin lama makin dingin. Tenaga Pek-lek-ciang-hoat yang dia miliki makin lemah dan hampir buyar. Keadaannya amat berbahaya karena sebagai seorang ahli, pemuda ini maklum bahwa setelah tenaganya habis, dia akan terluka hebat di dalam tubuhnya, luka yang mungkin akan merenggut nyawanya. Akan tetap dia mengerahkan seluruh tenaganya dan berlaku nekat.



 



"Yok-mo, jangan bunuh dia.....!" Beng San menghampiri dua orang yang sedang adu tenaga secara mati-matian itu, kemudian menepuk pundak Lim Kwi dua kali sambil berkata, "Saudara Bun, dia penolongmu, jangan serang dia!"



 



Biarpun hanya merupakan dua tepukan perlahan, namun sebenarnya Beng San mengerahkan hawa tenaga Yang dari tubuhnya. Tenaga yang maha dah-syat ini tersalur melalui pundak Lift Kwi, terus ke arah kedua lengannya. Akibatnya hebat sekali. Dua pasang le»» ngan yang saling tempel itu terlepaa seperti direnggutkan tenaga yang tak tampak. Lim Kwi tak dapat memper-tahankan diri dan roboh terguling di atas lantai, pingsan! Tadi dia mengerahkan tenaga Iweekang seluruhnya dan setelah tiba-tiba tenaganya tidak mendapatkan sasaran, dia kehabisan tenaga dan ping-san. Adapun kakek bongkok itu terdorong mundur terhuyung-huyung.



 



"Ayaaa.....!" seru kakek itu terheran-heran dan kaget bukan main. Pada saat itu terdengar bunyi lengking tinggi dan tiba-tiba berkelebat bayangan putih yang menyambar ke arah Toat-beng Yok-mo! Bayangan itu ternyata adalah bayangan seorang gadis remaja berpakaian serba putih yang menggunakan sebatang pedang mengkilap laingsung menyerang kakek bongkok.



 



Toat-beng Yok-mo mengeiuarkan suara menggereng keras dan hanya dengan menggulingkan tubuh di atas tanah dia dapat menyelamatkan diri dari serangan yang luar biasa hebatnya dari gadis itu. Gadis itu melanjutkan serangannya yang membuat Beng San berdiri melongo karena gerakan-gerakan itu adalah Yang-sin Kiam-sut yang dimainkan dengan amat hebat dan mendekati kesempurnaannya!



 



Adapun Toat-beng Yok-mo yang tadi belum hilang kagetnya karena serangan tenaga yang luar biasa, sekarang makin ikaget lagi menyaksikan ilmu pedang gadis ini. la rneinang mempunyai musuh yang amat dibencinya sejak dulu, yaitu Song-bun-kwi dan sekarang melihat gadis yang menyerangnya, dia maklum bahwa kalau Song-bun-kwi muncul dia bisa celaka. Sambil berseru keras seperti binatang liar, kakek ini meloncat jauh lalu pergi dengan amat cepatnya.



 



Gadis itu berdiri tegak, tidak mengejar, menyimpan pedangnya kembali lalu membalikkan tubuh memandang ke arah Beng San. Juga pemuda ini berdiri terpaku memandang gadis baju putih itu. Keduanya seperti terpesona. Tadi Beng San tidak mengenal gadis ini karena pakaian-nya yang serba putih. Sekarang setelah mereka berhadapan, dengan jelas dia melihat sepasang mata itu, sepasang mata yang takkan pernah terlupa olehnya selama dia hidup. Hidung itu, mulut itu... Bi Goat, si bocah gagu!



 



"Bi Goat.....??" Beng Sansetengah berlari menghampiri.



Gadis itu yang tadinya masih agak ragu-ragu setelah mendengar suara ini lalu lari pula menghampiri Beng San. Kini mereka berhadapan, Beng San yang merasa terharu dan bahagia memegang kedua pundak gadis itu.



 



"Bi Goat..... benar kau Bi Goat ” katanya dengan napas memburu.



 



Gadis itu tersenyum, nampak giginya yang berderet rapi dan berkilauan, tapi kedua mata yang indah itu bercucuran air mata. Kemudian Bi Goat menubruk dan merangkul leher Beng San sambil menangis di atas dada pemuda itu!



 



"Bi Goat...... ah, tak dinyana kita bertemu di sini..... kenapa kau begini sedih? Kenapa? Dan kau..... kau berkabung? Bi Goat, apa yang terjadi.....?" Beng San bertanya dengan suara gemetar. Inilah orang yang selama ini menjadi kembang mimpi, yang tak pernah lepas dari ingatannya, orang yang sejak kecil-nya sudah mau berkorban untuknya. Melihat gadis ini menangis terisak-isak sehingga baju di bagian dadanya basah oleh air mata gadis itu, Beng San terharu sekali dan tak dapat menahan turunnya 'dua butir air mata.



 



"Bi Goat...... anak baik, sayang..... jangan menangis....." Beng San makin terharu ketika mengingat bahwa gadis ini tidak dapat bicara, maka dia lalu mengelus-elus rambut yang hitam panjang itu. Tidak karuan rasa hati Beng San. la menduga bahwa tentu terjadi sesuatu yang hebat maka gadis ini memakai pakaian berkabung. Seingatnya, Bi Goat paiing suka mengenakan pakaian ber-warna merah, kenapa sekarang berpakai-an serba putih? Apakah ayahnya, Song-bun-kwi telah mati? Teringat akan ini, makin sedih dan terharu hatinya dan di-peluknya gadis itu penuh kasih sayang.



 



Bi Goat mereda tangisnya, lalu diambilnya sehelai saputangan putih dari saku baju sebelah dalam dan diberikanrva saputangan sutera putih itu kepada Beng San. Di atas saputangan sutera putih ternyata ada tulisan, huruf-huruf memakai benang hitam yang disulam indah dan berbunyi :



 



Kau hanyut .......



sungai membawamu pergi jauh,



entah mati ataukah masih hidup.



Aku berkabung untukmu.....



sampai kita bertemu kembali,



entah di dunia ataukah di akherat.



 



Membaca tulisan ini, Beng San makin terharu. Dipeluknya Bi Goat, didekapnya kepala itu ke dadanya, dibisikkan mulut-nya ke telinganya, "Bi Goat, alangkah muha hatimu..... alangkah suci cinta kasihmu....." Sampai lama dua orang muda ini diam, kediaman penuh bahagia, menikmati kebahagiaan yang bergelora di dalam hati masing-masing. Beng San seakan-akan lupa akan diri Bun Lim Kwi yang masih pingsan di atas tanah.



 



Tiba-tiba Bi Goat melepaskan diri dari pelukan, memegang kedua tangan Beng San, tertawa-tawa dengan mata masih basah air mata, dipandangnya Beng San dari atas sampai ke bawah, berkali-kali seperti masih belum percaya bahwa ia betul-betul telah bertemu dengan Beng San! Sikap kekanak-kanakan ini makin mengharukan hati Beng San, mengingat-kan dia bahwa .gadis ini tidak dapat bi-cara. Akan tetapi, juga telah membuyarkan cekaman rasa keharuan tadi, mem-buat dia teringat akan keadaannya. Ke-mudian Bi Goat sambil tertawa-tawa memberi isyarat kepada Beng San supaya tinggal saja di situ dan dia sendiri segera lari memasuki pondok Toat-beng Yok-mo. Entah apa yang dilakukan di dalam, akan tetapi ketika ia keluar kem-bali ternyata ia telah berganti pakaian! Buntalan kecil yang tadi menempel di punggungnya ternyata adalah pakaian berwarna merah berkembang-kembang indah sekali yang kini dipakainya sebagai pernyataan bahwa perkabungannya telah berakhir! Kedua orang itu kembali saling berpegang tangan dan saling berpandangan.



 



"Kau jelita, Bi Goat..... kau hebat...., hanya demikian Beng San dapat berkata lirih. Bi Goat fidak bisa bicara, akan tetapi jari-jari tangan mereka yang sa-ling remas itu cukup mewakili kata-kata, menyatakan perasaan hati yang hanya dimengerti dan dapat dirasakan oleh mereka berdua.



 



"Bi Goat, bagaimana kau bisa datang Re sini dan mengapa kau memusnhi Toat-beng Yok-mo?" Beng San bertanya.



 



Mendengar ini, Bi Goat seperti kaget seperti baru teringat akan hal penting. Ia menarik tangannya dan menggurat-gurat dengan jari telunjuk ke atas tanah. Ter-nyata ia menulis beberapa huruf sebagai pengganti kata-katanya.



 



"Kami tinggal di lereng Min-san. Aku harus mengejar Yok-mo. Kita pasti akan bertemu kembali. Selamat berpisah!" Demikianlah bunyi tulisan itu dan se-belum Beng San sempat berkata-kata, gadis itu merangkul lehernya sekali, ter-tawa lalu berlari cepat sekali pergi dari situ. Sekejap mata saja sudah tidak ke-lihatan lagi.



 



"Bi Goat.....!" Beng San hendak me-ngejar akan tetapi tiba-tiba dia men-dengar suara orang mengeluh. Ketika dia menengok, ternyata Bun Lim Kwi telah sadar kembali dan bangkit berdiri.



 



"In-kong (Tuan Penolong), syukur bah-wa Thian masih melindungi kita....." kata Bun Lim Kwi sambil menjura dengan hormat. "Tadi ada seorang gagah me-nolongku, di manakah dia sekarang dan siapakah dia gerangan?"



 



Melihat sikap pemuda itu demikiar menghormatnya, dengan gugup Beng San membalas dan berkata, "Saudara Bun, kuharap dengan sangat jangan kau menyebutku tuan penolong. Sudah sepatutnya kalau manusia hidup di dunia ini saling tolong-menolong, maka apa artinya kita meributkan soal pertolongan? Kalau kita berbicara tentang pertolongan, tak-kan ada habisnya. Katakanlah aku menolongmu, kemudian Yok-mo menolongmu pula, lalu kau juga menolongku dari an-caman Yok-mo, yang kemudian sekali pendekar wanita murid Song-bun-kwi tadi menolong kita. Sebutlah saja aku Beng San..... eh, Tan Beng San."



 



Bun Lim Kwi nampak terheran-heran. "Murid Song-bun-kwi.....? Sungguh aneh, bagaimana muridnya mau menolongku.... "'



 



Beng San tidak suka banyak bicara tentang Bi Goat, maka dia segera mem-belokkan percakapan, "Saudara Bun, aku rnendapatkan kau menggeletak di hutan dalam keadaan teriuka hebat di punggung-ft\u. Siapakah yang melukaimu?



 



Bun Lim Kwi menghela napas pan-jang, nampak berduka sekali. "Aku sen-diri tidak tahu, tapi yang jelas bukan dia....."



 



"Dia siapakah?"



 



Kembali pemuda Kun-lun-pai itu menarik napas panjang. "Saudara Beng San yang budiman, aku benar-benar berterima kasih kepadamu dan aku tidak akan me-nyimpan rahasia terhadapmu. Setelah aku dan suhu pergi dari Hoa-san, suhu terus pulang ke Kun-lun dan aku..... hemmm, terus terang saja aku ingin mencari be-kas susiokku Kwee Sin. Tiba-tiba muncul nona baju hijau yang menyerangku di puncak Hoa-san itu. Dia menuduh men-diang ayahku dan pamanku membunuh ayahnya dan berkeras hendak membalas kepadaku. Ahhh....." Lim Kwi menghela napas, kelihatan berduka sekali. "Aku tidak ingin bermusuhan dengannya, aku sudah mengalah..... dia mendesak terus, aku lari, dia mengejar. Terpaksa aku mempertahankan diri. Setelah itu ada orang menyerangku dari belakang secara menggelap, entah siapa karena aku roboh tak ingat lagi. Tahu-tahu sudah berada di sini."



 



Beng San mengerutkan keningnya dan hatinya diam-diam lega bahwa temyata sekarang bukan Thio Eng yang melakukan penyerangan menggelap mempergunakan senjata rahasia mengandung racun yang demikian keji. Ia sayang kepada Thio Eng, kasihan kepada nona itu, rnaka dia senang mendengar bahwa bukanlah gadis itu yang melakukan penyerangan curang dan keji.



 



"Tentu ada orang ke tiga yang ber-buat curang," katanya. "Saudara Bun, aku melihat kau menggeletak di hutan itu. Kubawa kau kembali ke Hoa-san dan Lian Bu Tojin sudah berusaha keras nne-nolongmu, menggunakan ular-ular pem-berian Giam Kin. Celaka sekali, ular-ular itu sama sekali bukanlah Ngo-tok-coa yang mengandung obat pemunah racun, malah sebaliknya setelah diobati dengan ular-ular itu, kau bertambah payah. Ternyata Giam Kin yang jahat itu telah menipu Hoa-san-pai."



 



Tercengang juga Bun Linn Kwi mendengar ini. "Ah, memang tepat sekali wawasan suhu..... sebenarnya Hoa-san-pai adalah tempat orang-orang baik. Aku yang dianggap musuh masih mereka usahakan untuk menolong..... hemmm, kenyataan ini makin menguatkan hasrat hatiku hendak mencari Kwee Sin sampai dapat. Dialah yang bertanggung jawab menerangkan segala keruwetan ini, termasuk urusanku dengan nona Thio Eng....."

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Silat Indonesia Download

Silahkan download Cerita Halaman ke 1 Serial Putri Hatum dan Kaisar Putri Harum dan Kaisar Jilid 1 Putri Harum dan Kaisar Jilid 2 dan 3 Putri Harum dan Kaisar Jilid 4 dan 5 Putri Harum dan Kaisar Jilid 6 dan 7 Putri Harum dan Kaisar Jilid 8 dan 9 Putri Harum dan Kaisar Jilid 10 dan 11 Putri Harum dan Kaisar Jilid 12 dan 13 Putri Harum dan Kaisar Jilid 14 dan 15 Putri Harum dan Kaisar Jilid 16 dan 17 Putri Harum dan Kaisar Jilid 18 dan 19 Putri Harum dan Kaisar Jilid 20 dan 21 Putri Harum dan Kaisar Jilid 22 dan 23 Putri Harum dan Kaisar Jilid 24 dan 25 Putri Harum dan Kaisar Jilid 26 dan 27 Putri Harum dan Kaisar Jilid 28 dan 29 Putri Harum dan Kaisar Jilid 30 dan 31 Putri Harum dan Kaisar Jilid 32 dan 33 Putri Harum dan Kaisar Jilid 34 dan 35 Putri Harum dan Kaisar Jilid 36 dan 37 Serial Pedang Kayu Harum Lengkap PedangKayuHarum.txt PKH02-Petualang_Asmara.pdf PKH03-DewiMaut.pdf PKH04-PendekarLembahNaga.pdf PKH05-PendekarSadis.pdf PKH06-HartaKarunJenghisKhan.pdf PKH07-SilumanGoaTengkor...

Komunikasi Data

Link ini juga saya letakkan di ebook campuran http://www.ziddu.com/download/3344575/Komdat1.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344576/Komdat5.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344577/Komdat4.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344578/Komdat3.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344579/Komdat2.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344815/Komdat9.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344816/Komdat6.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344817/Komdat7.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344818/Komdat8.pdf.html

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau!...