Skip to main content

raja-pedang-39-kho-ping-hoo

Di antara ramainya para tamu yang saling bicara seperti bunyi tawon madu diganggu, para tamu mulai menyerahkan sumbangan-sumbangan dan barang-barang tanda mata untuk memberi selamat ^-pada Hoa-san-pai. Riuh rendah suara Sfthg tertawa karena gembira ketika Lian Bu Tojin berkenan menerima sendiri barang-barang hadiah yang diberikan para 'tamu kepada Hoa-san-pai. Kakek ini berdiri di tengah ruangan di mana di-sediakan meja kosong yang panjang, di-apit di kanan kiri oleh Kwa Tin Siong dan Liem Sian. Adapun Kwa Hong dan tiga orang saudara seperguruannya mem-bantu untuk menerima barang-barang hadiah dan mengaturnya di atas meja. Hampir semua tamu membawa sebuah barang had-iah. Karenanya kini mereka berdiri dalam antrian panjang. Setiap orang yang sudah sempat di meja itu, menghormat kepada Lian Bu Tojin, meng-ucapkan selamat dan menyerahkan barang sumbangannya. Lian Bu Tojin dan dua orang muridnya menghaturkan terima kasih dan barang itu diterima oleh Kwa Hong dan saudara-saudara seperguruannya untuk diatur di atas meja panjang tadi.



 



Kwa Hong menjadi heran dari juga geli hatinya ketika ia melihat Beng San juga ikut-ikutan berdiri di dalam antrian. Pemuda ini mengenakan pakaiannya yang paling bersih, wajahnya yang berseri kelihatan gagah dan tampan sekali, yakni dalam pandangan Kwa Hong.



Tadi pemuda ini duduk di ruang kelas kambing, yaitu tempat luas di mana terdapat bangku-bangku panjang di mana berkumpul tamu-tamu yang menjadi pengikut rombongan. Eh, sekarang tahu-tahu dia ikut dalam antrian membawa sebuah bungkusan besar! Kwa Hong dengan heran dan geli hati menduga-duga apakah gerangan hadiah yang dibawa orang muda itu untuk Hoa-san-pai? Juga Thio Bwee melihat pemuda ini dan di bibir gadis ini pun tampak senyum geli. Dalam pandang mata Thio Bwee, biarpun Beng San merupakan seorang pemuda yang ia suka karena sikapnya selalu sopan dan baik, apalagi dahulu di waktu kecil pernah menolongnya, namun tetap saja Thio Bwee memandangnya sebagai seorang pemuda yang tidak punya guna, seorang pemuda yang lemah dan tidak tahu akan itmu silat.



 



Berbeda dengan dua orang gadis itu yang melihat Beng San berdiri di dalam antrian para pemberi hadiah merasa lucu dan ingin sekali tahu apakah gerangan barang hadiah yang dibawanya dalam bungkusan besar itu, adalah Thio Kt dan Kui Lok memandang dengan mata penuh curiga, iri hati dan cemburu. Dua orang pemuda ini dalam beberapa hari saja telah tahu betapa Kwa Hong amat suka bergaul dengan Beng San, betapa wajah gadis itu selalu berseri-seri kalau bercakap-cakap dengan "bocah dusun" itu. Betapa Kwa Hong agaknya lebih suka bercakap-cakap dengan Beng San dari-pada dengan mereka. Kalau saja tidak berada di tempat perjamuan dan kalau saja tidak takut kepada sukong mereka, agaknya dua orang pemuda ini sudah akan mengusir Beng San dari situ. Me-nurut pendapat mereka, Beng San tidak patut hadir di dalam ruangan mi, yang sekarang penuh dengan para tamu ahlt silat belaka.



 



Akan tetapi Beng San sendiri agaknya tidak peduli akan cucu-cucu mund Hoa-san-pai, tidak peduli bagaimana mereka memandangnya. Dia sendiri tersenyum dan berseri-seri wajahnya melihat ke kanan kiri kepada para tokoh kang-ouw yang sekarang sebagian besar berkumpul di situ. Baru sekarang dia mendapat kesempatan bertemu dengan mereka, siapa tidak akan girang? Dari seorang di dekatnya, dia tadi mendapat keterangan satu demi satu tentang para tamu yang dianggap tamu kehormatan. Malah teman di dekatnya tadi, seorang anak murid Bu-tong-pai, agaknya senang sekali bercerita sehingga membocorkan rahasia partainya bahwa Bu-tong-pai membantu Hoa-san-pai, sebaliknya menceritakan pula betapa Khong-tong-pai dan Bu-eng-pai selalu membantu Kun-lun dalam memusuhi Hoa-san-pai. Juga dia menceritakan kehebatan setiap orang tokoh yang dia anggap memiliki kesaktian seperti dewa-dewa! " Selain gembira karena mendapat kesempatan melihat orang-orang kang-ouw, juga hatinya gembira ketika mendengar bahwa fihak Kun-lun-pai tidak hadir. Bukankah dengan demikian maka kenbutan takkan terjadi dan dia tidak usah ber-susah payah untuk mencegahnya?



 



Setelah tiba giliran Beng San menyerahkan sumbangannya, pemuda ini dengan wajah sungguh-sungguh memberi hormat dengan menjura dalam di depan Lian Bu Tojin sambil berkata, "Dengan hati tulus dan hormat saya menghaturkan selamat kepada Hoa-san-pai yang mencapai usia seratus tahun. Semoga Hoa-san-pai akan melewati ratusan tahun lagi dan melahirkan patriot-patriot yang ga-gah perkasa, pembela-pembela rakyat yang adil dan bijaksana. Harap Totiang sudi menerima kenang-kenangan tidak berharga ini." la membuka bungkusannya dan terdengar sedak tertahan dari Kwa Hong ketika gadis ini melihat isi bung-kusan besar. Ternyata isinya..... kulit harimau yang besar dan amat indahnya. Harimau yang kemarin dulu .ia bunuh di hutan!



 



Muka ketua Hoa-san-pai berseri gembira. "Terima kasih, terima kasih....." Sebagai layaknya seorang, tuari rumah, dia niembalas penghormatan tamu bersama Kwa Tin Siong, sedangkan Thio Bwee menerima kulit harimau itu, diletakkan dl atas meja. Ketika Beng San kembali ke tempat duduknya, telinganya yang tajam pendengarannya itu menang-kap seruan-seruan heran dan kagum dari para tamu.



 



"Siapa dia itu? Dapat mengambil kulit harimau sebesar itu tanpa melukainya..,., hemmm, agaknya pandai juga dia....."' Diam-diam Beng San tersenyum dan me-rasa lucu. Harimau itu yang membunuh-nya adalah Kwa Hong dan dia dengan hati-hati telah menutup luka-luka bekas tusukan pedang Kwa Hong sehingga dilihat sepintas lalu saja seakan-akan tidak ada bekas luka, seakan-akan dia telah menangkapnya dengan tangan kosong, atau membunuhnya dengan kepalan saja!



 



Tiba-tiba terdengar suara gaduh di bagian depan. Orang-orang memandang dan membelalak kaget. Seorang pemuda yang bukan lain adalah Giam Kin, berlenggang masuk. Orangnya sih tidak mendatangkan kaget pada para tamu, hanya apa yang di bawanya yang mendatangkan heboh. Pemuda ini datang nriembawa seekor ular besar yang melilit-lilit tubuhnya. Ular sebesar paha yang kelihatan galak! Beng San memandang dengan pe-rasaan mendongkol. Terang sekali bahwa pemuda itu sengaja berlagak untuk menarik perhatian orang. Sambil tersenyum-senyum pemuda itu menghampiri meja dan menjura kepada Lian Bu Tojin.



 



"Lian Bu-totiang, saya mewakili suhu datang untuk mengucapkan selamat dan terimalah semacam hadiah saya ini." Semua orang kaget dan mengira bahwa pemuda, ini akan menghadiahkan ular besar itu. Akan tetapi Lian Bu Tojin dengan wajah tenang membalas penghor-matannya dan berkata.



 



"Ah, saudara Giam terlalu sungkan. Terima kasih atas pemberian selamat."



 



Giam Kin merogoh saku jubahnya dan Tnengeluarkan dua buah tabung bambu yang tersumbat. Tercium bau yang amat amis ketika dia membuka sumbat dari-pada sebuah di antaranya, "Agar Totiang tahu apa isinya, baik saya buka dan perlihatkan." la mengetuk bambu itu dan keluarlah..... seekor ular bersisik merah yang kecil dan liar. Dengan gerakan seorane ahli ditangkapnya leher ular itu dan diangkatnya ke atas, tinggi-tinggi. la berkata, jelas kata-katanya ditujukan kepada semua tamu seperti seorang pen-jual obat rnempropagandakan obatnya.



 



"Harap Lian Bu totiang tidak mengainggap saya memberi tanda mata yang tidak ada harganya. Sungguhpun hanya merupakan dua ekor ular kecil dalam tabung bambu, namun kurasa dibanding-kan dengan semua barang sumbangan yang berada di atas meja ini, hadiahku adalah yang paling berharga. Sepasang ular ini adalah yang disebut Ngo-tok-fcoa (Ular Lima Racun), dapat digunakan untuk menyembuhkan lima macam bahaya akibat terkena racun. Biarpun hanya tnerupakan dua ekor ular kecil, namun sewaktu-waktu dapat berjasa dan me-nyambung nyawa, benda-benda yang lain ini hanya indah dipandang tapi tidak ada gunanya, mana dapat dibandingkan dengan ular-ular pemberianku ini?"



 



Dengan bangga dia menyerahkan dua tabung itu kepada Kwa Hong dan Thio Bwee seorang satu. Gerak-gerikny. bebas dan tak tahu malu, akan tetapi karena dia merupakan seorang tamu yang memT | beri hadiah ulang tahun Hoa-san-pai ter-paksa biarpun dengan muka merah dan mulut cemberut, Kwa Hong dan Thio Bwee menerimanya juga. Adapun Kwa Tin Siong mewakili suhunya menjura dan mengucapkan terinia kasih.



 



Giam Kin lalu menoleh ke kanan kiri, agaknya mencari tempat duduk yang sudah penuh. Seorang tosu Hoa-san-pai segera menghanipiri dan sambil mem-bungkuk-bungkuk tosu itu berkata.



 



"Tuan muda, silakan duduk di sebelah sana masih ada tempat kosong." la hen-dak mengantar Giam Kin duduk di ruang-an sebelah kanan di mana berkumpul tamu-tamu muda. Akan tetapi Giam Kin mengerutkan hidungnya ketika melihat betapa tempat itu adalah tempat duduk orang-orang yang bukan "orang atas". la menggelengkan kepala dan berkata sambil tertawa.



 



"Biarlah aku di sana saja, sudah membawa tempat duduk sendiri." la lalu melangkah lebar menuju ke ruangan tamu kehormatan!



 



Liu Ta pemimpin rombongan Kho-tong-pai agaknya mengenal pemuda ini karena dia segera berdiri dan tersenyum rnemberi hormat. Akan tetapi yang pa-littg menyolok adalah sikap Ang Kim Seng dan Ang Kim Nio, dua orang jago Bu-eng-pai. Ang Kim Nio melirik-lirik dengan senyum genit sedangkan Ang Kim Seng bahkan cepat berdiri dan menyila-kan Giam Kin menduduki tempat duduknya.



 



"Duduklah Ang-twako. Duduklah, biar aku duduk di tempat yang sudah kubawa sendiri. la lalu melepaskan lilitan ular di pinggang kemudian ular besar dan panjang itu dia gulung dan lingkar-lingkar sehingga merupakan gundukan yang lebih tinggi daripada bangku-bangku yang berada di situ. Di atas gundukan atau lingkaran tubuh ular inilah dia duduk, nampak bangga dan jelas sengaja melakukan semua ini untuk menarik perhatian dan memancing pujian!



 



Bukan main mendongkolnya hati orang-orang Hoa-san-pai menyaksikan sikap pemuda itu. Thio Ki dan Kui Lok sudah mengepal tinju dan mereka ini diam-diam berjanji bahwa kalau pemuda setan itu berani main gila, mereka akan menghadapinya lebih dahulu. Kwa Hong dan Thio Bwee juga marah sekali, dengan kerling tajam menyambar mereka diam-diam mernaki pemuda itu. Namun Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa kelihatan tenang-tenang saja, apalagi Lian Bu Tojin, kakek ini malah tersenyum-senyum nampak gembira. Padahal di dalam hatinya, guru dan dua orang muridnya ini selalu terheran mengapa fihak Kun-lun-pai be-lum juga muncul. Tidak hanya fihak tuan rumah yang terheran, juga para tamu terheran-heran, rnalah para tamu rnuda menjadi kecewa sekali. Sesungguhnya, mereka naik ke Hoa san bukan semata-mata untuk memberi penghormatan kepada Hoa-san-pai, melainkan terutama sekali tertarik akad harapan melihat pertandingan hebat antara Hoa-san-pai dan Kun lun-pai. Mereka semua sudah tahu bahwa antara dua partai persilatan ini terdapat permusuhan, maka sekali ini dalam pertemuan terbuka, tentu akan diadakan pertandingan terbuka pula untuk menentukan siapa yang lebih kuat.



 



Giam Kin menoleh ke kanan kiri seperti orang mencari-cari. Diam-diam dia memperhatikan para tamu dan mencari seorang pemuda muka hitam. la bernapas lega ketika tidak dapat menemukan orang bermuka hitam itu, akan tetapi dia masih merasa gelisah yang ditutup-tutupinya dengan sikap yang jumawa. Sebetulnya dia merasa khawatir kalau-kalau "setan muka hitani" itu akan muncul di sini.



 



"Ah, kenapa aku tidak melihat ?e-orang pun dari Kun-lun-pai?" tiba-tiba Giam Kin berkata, suaranya nyaring dan terdengar banyak orang, terutanria oleh para tamu kehormatan yang hadir di situ. Semua mata memandangnya karena memang pertanyaan ini sudah sejak tadi berada dalam benak semua tamu berikut tuan rumah, hanya tak seorang pun be-rani lancang mulut bertanya seperti yang dilakukan Giam Kin.



 



Ang Kim Seng tertawa, lalu menjawab, juga dia sengaja mengerahkan tenaga sehingga suaranya terdengar nya-ring, "Giam-taihiap, apakah kau juga ingin sekali menonton keraniaian? Tentu | niereka akan datang!"



 



"Kabarnya ketua Kun-lun-pai juga mau datang memberi selamat? Betulkah berita ini?" Giam Kin bertanya lagi, tidak peduli akan pandang mata tak se-nang dari seorang tosu yang tinggi bes»ar dan duduk di dekatnya.



 



"Memang ada berita itu," jawab Ang Kim Seng, "dan malah murid-murid Kun-lun-pai sudah memberi tahu kepadaku sendiri. Aku pun sudah tama tidak ber-jumpa dengan Pek Gan Siansu, ingin aku menyampaikan hormat."



 



"Ha-ha-ha, Ang-twako. Agaknya kau ini sahabat karib Kun-lun-pai!" Giam Kin terang-terangan menegur tertawa.



 



Ang Kim Seng juga tertawa. "Kun-lun-pai adalah partai terbesar di dunia ini, partai terbesar dan terkuat, juga terkenal sebagai tempat pendekar-pendekar gagah perkasa. Siapa orangnya yang tidak bersahabat dengan mereka?



 



Sudah jelas bahwa percakapan antara Giam Kin dan Ang Kim Seng ini adalah percakapan yang menyerempet-nyerempet ketepangan dan para tamu serentak meng-hentikan percakapan mereka dan men. dengarkan dengan hati tegang. Kwa Tin f Siong sendiri mulai melirik-link ke arah tempat duduk para tamu kehormatan. Adapun Thio Ki, Thio Bwee, Kui Lok, dan Kwa Hong sudah terang-terangan memandang ke arah Ang Kim Seng dengan mata tajam.



Tiba-tiba Beng Tek Cu, tosu dan Bu-tong-pai yang sejak tadi merasa muak melihat lagak Gian. Kin, berdin dan bangkunya. la memang seorang yang galak dan jujur, di dalam hatinya dia pro kepada Hoa-san-pai. Kini mendengar percakapan yang menyinggung-nyinggung urusan Kun-lun-pai, dia tak dapat me-nahan lagi kesabarannya. Seperti orang bicara kepada diri sendiri, tosu tinggi besar yane sudah tua tapi masih kelihat-an muda ini menengadahkan kepalanya dan berkata keras.



.



"Siapa yang rnenjilat dan bermuka-muka pada yang besar dan kuat, tiada bedanya dengan kutu anjing yang hidup-nya hanya mengandalkan tubuh anjing yang ditumpanginya!"



 



Mendengar ucapan yang keras ini, Semua tamu diam dan semua memandang ke arah ruangan tamu kehormatan itu. Tak seorang pun mengira bahwa dari ruang ini akan disulut api yang akan membakar perayaan itu. Giam Kin ter-tawa-tawa geli seakan-akan dia rnerasa betapa lucunya kata-kata tadi. Ang Kim Seng melompat bangun dari bangkunya, memandang ke arah Beng Tek Cu sambil bertanya.



"Kau berahi menyamaka aku dengan kutu anjing?"



Beng Tek Cu menoleh kepadanya, seakan-akan tak peduli, lalu balas ber-tanya, "Kau nierasa menjadi kutu anjing atan tidak?"



"Tentu saja tidak!" Ang Kim Seng marah, mukanya sudah menjadi inerah sekali, matanya melotot.



”Kalau tidak ya sudah! Aku tidak memaki siapa-siapa, hanya mengatakan bahwa kalau ada yang menjilat dan ber-muka-muka pada yang besar dan kuat, dia itu seperti kutu anjing. Kalau kau Kukan kutu anjing, ya sudahlah, kenapa ribut-ribut?" Terdengar suara ketawa dt sana-sini.



 



"Hi-hi-hi... ” Kwa Hong menutupi mulutnya dengan tangan untuk menahan ketawanya. Tentu saja gadis ini sudah niaklum bahwa fihak Bu-eng-pai inemang selaln menangkan Kun-lun, adapun fihak Bu-tong-pai membantu fihaknya. Apalagi ia mengenal Beng Tek Cu sebagai saha-bat karib ayahnya, maka ia girang dan geli melihat betapa tosu yang memang berwatak berangasan, kasar dan jujur tapi pandai berdebat itu mempermainkan Ang Kim Seng.



 



"Satu nol....." kata Beng San. Pemuda ini sejak tadi telah memperlihatkan ke-ringanan tangannya, tanpa diminta telah membantu ke sana ke sini, kadang-kadang membantu para tosu yang menghidangkan makan minum kepada para tamu, kadang-kadang membantu memberes-bereskan barang-barang sumbangan di atas meja panjang itu ketika dia mendengar Kw» Hong tertawa. Ia sendiri juga merasa geli maka tanpa disengaja dia tadi ber kata, "Satu nol....."



"Apanya yang satu nol?" Kwa Hong' bertanya lirih tanpa pedulikan lirikan ayahnya yang hendak mencegah ia bicara tentang hal yang meributkan.



 



"Tosu hitam tinggi besar itu menang satu, si tinggi kurus itu kalah dan belurrf menangkan apa-apa, maka kedudukan mereka menjadi satu nol untuk si tos» tinggi besar," jawab Beng San.



 



Sementara itu, mendengar ucapaB Beng Tek Cu, Ang Kim Seng makin ma-rah, akan tetapi tentu saja dia akari berada di fihak salah kalau dia nulai memaki. Ia menahan kemarahanny& daf^^ pura-pura bersikap tenang, bertanya.



 



"Eh, tosu yang bersikap kasar. Tidak" tahu siapakah kau?"



 



"Ang Kim Seng sicu (orang gagah) sebagai jagoan besar Bu-eng-pai, tentu saja tidak menRenal pinto (aku) Beng Tek Cu dari Bu-tong-pai."



 



Ang Kim Seng nampak kaget sekali dan dia merasa menyesal mengapa tadi-nya dia tidak mencari keterangan lebih dulu siapa sebenarnya tosu tinggi besar yang kasar ini. Kiranya tokoh Bu-tong-pai! Jawaban Beng Tek Cu tadi sekaligus menriukul lawannya karena jawaban itu juga merupakan sindiran tajam sekali. Dengan mengenal nama Ang Kim Seng dan partainya merupakan tanda betapa tajam pandangan dan luas pengetahuan Beng Tek Cu, sebaliknya kalau orang sampai tidak mengenal tokoh Bu-tong-pai, hal itu boleh dikatakan keterlaluan dan picik pengetahuannya.



 



"Dua nol....." kata pula Beng San, tapi sebelum Kwa Hong sempat bicara, pemuda ini sudah pergi untuk membantu para tosu mengisi lagi arak bagi para tamu.



 



Sementara itu, Ang Kim Seng berusaha menyembunyikan perasaan malunya.



 



"Ah, kiranya Bu-tong-pai....." Sambil berkata demikian, dia pun duduk kembali dan mengajak Giam Kin bercakap-cakap. Sikapnya ini jeias sekali hendak membalas, kelihatan rneniaiidcing rendah kepada Bu-tong-pai. Beng Tek Cu sentu saja merasai ini, mukanya sudah merah, hatinya sudah panas, akan tetapi oleh karena tidak ada alasan, dia pun tidak dapat berbuat apa-apa. Ketegangan an-tara dua orang ini makin terasa, dan semua orang tahu bahwa apabila ada se-dikit .saja dasar dan alasannya, tentu kedua orang ini akan saling tantang.



 



Pada saat itu, ketegangan yang ditimbulkan oleh tokoh Bu-eng-pai dan Bu-tong-pai ini seketika lenyap dengan rna-suknya seorang gadis berpakaian serba hijau yang cantik dan gagah. Dara ini masih remaja sekali, memakai pakaian serba hijau yang sederhana potongannya tapi ringkas, gagang pedang tersembul! di balik punggungnya. la memasuki ruacgan itu seorang diri saja dan inilah yang menarik perhatian orang, terutama sekali perhatian para tanriu rnuda. Tanpa menoleh ke kanan kiri gadis itu segera menghampiri Lian Bu Tojin dan memberi hormat dengan sopan.



 



 



"Totiang yang mulia, teecu mewakili suhu Swi Lek Hosiang mengucapkan se-lamat kepada Hoa-san-pai dan menyam-paikan tanda mata ini." Ternyata gadis itu membawa barang sumbangan berupa sebuah mainan burung dara terbuat dari-pada perak yang diukir indah sekali, bermata kumala.



 



Lian Bu Tojin tersenyum lebar, nam-pak gembira sekali dan menerima benda sumbangan itu. "Ha-ha-ha, benar-benar pinto yang sudah tua ini menerima peng-hormatan besar yang amat membangga-kan hati. Thai-lek-sin Swi Lek Hosiang sampai sudi mengingat hari ulang tahun Hoa-san-pai, benar-benar menggirangkan sekali. Terima kasih, anak yang baik. Bahagialah Swi Lek Hosiang mempunyai murid seperti engkau. Hong Hong dan Bwee-ji, ajak nona ini duduk bersama." Sebagai murid Swi Lek Hosiang, kiranya sudah sepantasnya kalau nona ini diberi tempat duduk bagian tamu kehormatan, akan tetapi Lian Bu Tojin melihat betapa tak pantasnya kalau nona muda jelita ini harus duduk dalam satu ruangan dengan orang-orang laki-laki terutama di ,situ terdapat Giam Kin. Oleh karena inilah maka dia sengaja menyuruh Kwa Hong dan Thio Bwee mengajak nona itu duduk bersama, dengan demikian dia dapat menjaga nama besar Thai-lek-sin Swi, Lek Hosiang, juga di samping itu dapat menjaga nona muda ini dari pandani' mata atau ucapan yang kasar mengandung kekurangajaran. Diam-diam kakek ini sudah dapat menilai watak daripada orang mur da semacam Giam Kin.



 



Kwa Hong dan Thio Bwee sudah pernah mendengar nama besar Thai-lek-sin Swi Lek Hosiang, maka sekarang bertemu dengan muridnya yang begini cantik dan sebaya dengan mereka, tentu saja mereka dapat menerimanya dengan girang dan sebentar saja tiga orang nona ini bercakap-cakap dengan ramah dan akrab. Hanya menjadi keheranan hati du.i orang nona Hoa-san-pai itu ketika melihat be-tapa nona berbaju hijau ini sering kali memandang ke arah para tamu, sinar matanya menyanibar-nyambar penuh seli-dik seakan-akan dia mencari seseorang antara para tamu.



 



Mendadak terdengar teriakan tosu penjaga pintu gerbang depan.



 



Pek Gan Siansn dari Kun-lun-pai datang.....!"



 



Serentak suara berisik dart para tainu terhenti. Muka-muka menjadi tegang, mata menatap keluar penuh perhatian, dada berdebar-debar. Terutama sekali murid-murid Hoa-san-pai, mereka siap untuk menghadapi segala kemungkinan. Mereka mengira bahwa tentu Pek Gan Siansu, ketua Kun-lun-pai ini datang membawa banyak anak muridnya dari Kun-lun-pai. A\kan tetapi mereka semua itu kecele ketika melihat bahwa yang muncul hanya seorang kakek tua sekali, usianya hampir delapan puluh tahun, jenggotnya putih panjang sampai ke perut, sepasang matanya juga kelihatan putihnya saja seperti mata yang sudah lamur, tubuhnya tinggi kurus, mulutnya tersung-ging senyuman ramah dan tenang, tangan kanannya membawa sebatang tongkat ! bambu yang panjang. Di belakangnya, sambil menundukkah mukanya, berjalan seorang pemuda bertubuh tinggi tegap, bermuka tampan gagah. Usia pemuda ini takkan lebih dari dua pulnh empat tahun. la berjalan di belakang kakek itu mem-bawa sebatang pedang yang diletakkan di fttas kedua lengannya yang ditelentangkan, seperti orang membawa baki, Di pinggangnya sendiri tergantung puja sebatang pedang. Dapat diduga bahwa pedang yang dibawanya itu tentulah pedang pusaka Kun-lun-pai, dan agaknyo kakek tua itu sudah menyuruh pemuda ini se-bagai tukang membawanya.



 



Dengan sikap yang amat manis, Pek Gan Siansu berjalan mernasuki ruangan itu, mengangguk ke kanan kiri kepada tokoh-tokoh yang dia kenal, kemudian dengan langkah halus dia terus masuk menghampiri Lian Bu Tojin yang siang-siang sudah bei-diri dari tempat duduk-nya, berdiri tegak menyambut, sikapnya halus wajahnya berseri ramah akan tetapi sepasang matanya memandang penuh keangkeran seorang ketua partai besar.



 



"Pek Gan Siansii, selamat datang di Hoa-san -pai. Kedatanganmu benar-benar amat melegakan hati pinto," kata Lian Bu Tojin sambil mengangkat kedua tangan ke dada dan membungkuk.



 



"Ah, kau baik sekali, Lian Bu toyu," kata kakek tua itu sanibil tersenyum dan balas niemberi hormat. "Tidak hanya engkau, aku pun rnerasa lapang dadaku dapat bertemu muka dengan ketua Hoa-san-pai. Perkenankanlah aku mengucapkan selamat kepada Hoa-san-pai."



 



"Terima kasih...... terima kasih..... dan silakan duduk, Siansu. Silakan duduk dan pengiringmu itu juga. Dan suruhlah anak-anak muridmu masuk semua, pinto persilakan mereka duduk dan menerima jamuan sederhana dan seadanya dari Hoa-san-pai."



 



Akan tetapi, biarpun masih tersenyum-senyum kakek Kun-lun-pai itu tidak mau duduk, tetap berdiri di situ dan pemuda yang gagah tampan tadi masih berdiri pula di belakangnya, tunduk membawa pedang pusaka.



 



"Terima kasih, Lian Bu toyu. Aku datang hanya dengan muridku yang paling muda ini. Aku datang tidak membawa maksud buruk, mengapa harus datang n-iembawa anak-anak Kun-lun-pai? Lian Bu toyu, sudah terlalu lama kau dan aku diani-diam saja melihat kebodohan anak-anak kita. Kurasa sekaranglah saatnya kita harus bertindak.

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Silat Indonesia Download

Silahkan download Cerita Halaman ke 1 Serial Putri Hatum dan Kaisar Putri Harum dan Kaisar Jilid 1 Putri Harum dan Kaisar Jilid 2 dan 3 Putri Harum dan Kaisar Jilid 4 dan 5 Putri Harum dan Kaisar Jilid 6 dan 7 Putri Harum dan Kaisar Jilid 8 dan 9 Putri Harum dan Kaisar Jilid 10 dan 11 Putri Harum dan Kaisar Jilid 12 dan 13 Putri Harum dan Kaisar Jilid 14 dan 15 Putri Harum dan Kaisar Jilid 16 dan 17 Putri Harum dan Kaisar Jilid 18 dan 19 Putri Harum dan Kaisar Jilid 20 dan 21 Putri Harum dan Kaisar Jilid 22 dan 23 Putri Harum dan Kaisar Jilid 24 dan 25 Putri Harum dan Kaisar Jilid 26 dan 27 Putri Harum dan Kaisar Jilid 28 dan 29 Putri Harum dan Kaisar Jilid 30 dan 31 Putri Harum dan Kaisar Jilid 32 dan 33 Putri Harum dan Kaisar Jilid 34 dan 35 Putri Harum dan Kaisar Jilid 36 dan 37 Serial Pedang Kayu Harum Lengkap PedangKayuHarum.txt PKH02-Petualang_Asmara.pdf PKH03-DewiMaut.pdf PKH04-PendekarLembahNaga.pdf PKH05-PendekarSadis.pdf PKH06-HartaKarunJenghisKhan.pdf PKH07-SilumanGoaTengkor...

Komunikasi Data

Link ini juga saya letakkan di ebook campuran http://www.ziddu.com/download/3344575/Komdat1.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344576/Komdat5.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344577/Komdat4.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344578/Komdat3.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344579/Komdat2.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344815/Komdat9.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344816/Komdat6.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344817/Komdat7.pdf.html http://www.ziddu.com/download/3344818/Komdat8.pdf.html

Jaka Lola 23 -> karya : kho ping hoo

"Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio. Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar. Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh. Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang. Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang. Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang. Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya. Wajahnya seketika berubah pucat. Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau!...